Anda di halaman 1dari 2

komoditas hortikultura merupakan komoditas potensial untuk dikembangkan di Indonesia yang

mempunyai nilai ekonomi tinggi dan prospektif dilihat dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang
dimilikinya. Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan
yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia. Dari segi teknis, agribisnis komoditas kentang
sudah cukup berkembang dan menyebar di sebagian besar daerah di Indonesia. Dari segi produktivitas
dan mutu, komoditas kentang yang dikembangkan di Indonesia sudah tergolong cukup tinggi.
Kabupaten simalungun adalah salah satu daerah penghasil kentang di Pulau Sumatera. Jumlah produksi
kentang Provinsi sumatra rata rata menyumbang 5,95 persen terhadap produksi kentang nasional.
Kabupaten simalungun merupakan salah satu daerah yang menjadi sentra produksi komoditas kentang
di Provinsi sumatra dimana jumlah produksi kentang di Kabupaten sumatra pada tahun 2009, yaitu
58,377 ton. Kecamatan Kayu Aro termasuk salah satu daerah produksi kentang terbesar di Kabupaten
Kerinci. Kecamatan ini berada di dataran tinggi di sekeliling kaki Gunung Kerinci. Kondisi agroklimat
daerah ini cocok untuk ditanami berbagai tanaman sayuran, seperti kentang, kubis, cabai, dan bunga
kol.
Tujuan pemasaran kentang Kayu Aro tidak hanya pada pasar induk di Kabupaten Kerinci, namun juga
ditujukan pada pasar induk di berbagai daerah Sumatera bagian selatan. Penurunan harga kentang di
tingkat petani sebesar 68,4 persen dari harga rata rata pada tahun sebelumnya yang terjadi pada awal
tahun 2012 membuat resah petani kentang di Kecamatan Kayu Aro, karena dari harga yang mereka
terima tersebut, mereka hanya mendapat keuntungan yang rendah, bahkan bagi sebagian petani harga
tersebut tidak memberikan mereka keuntungan sama sekali, karena impas dengan biaya yang harus
mereka keluarkan untuk bertanam kentang. Ketidakseimbangan harga yang diterima petani dengan
harga di tingkat pedagang perantara dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti banyaknya fungsi yang
dilakukan lembaga tataniaga selain petani, tingginya biaya tataniaga yang digunakan dalam kegiatan
pemasaran kentang hingga ke tingkat konsumen akhir, dan kurangnya informasi pasar yang dibutuhkan
oleh pelaku pasar yang terlibat dalam aktivitas pemasaran. Penelitian Analisis Sistem Tataniaga Kentang
di Kecamatan Kayu Aro, Kerinci bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi dan saluran, lembaga, dan fungsi
tataniaga kentang di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, (2) menganalisis struktur, perilaku dan
keragaan pasar dari sistem tataniaga kentang di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, (3)
menganalisis margin tataniaga, farmers share, dan rasio keuntungan terhadap biaya dari setiap saluran
tataniaga kentang di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, (4) menganalisis efisiensi operasional dan
efisiensi harga dari sistem tataniaga kentang di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Pengambilan
responden petani dilakukan dengan sengaja (purposive) yang berjumlah tiga puluh orang petani
kentang. Sedangkan untuk pengambilan responden pedagang dilakukan dengan menggunakan metode
snowball sampling, yaitu dengan cara mengikuti arus pemasaran kentang. Responden pedagang
pengumpul terdiri dari tujuh orang pedagang pengumpul, sembilan orang pedagang grosir, dan dua
puluh orang pedagang pengecer. Sistem tataniaga kentang di Kecamatan Kayu Aro terdiri dari empat
saluran utama berdasarkan daerah tujuan pemasaran kentang. Saluran I merupakan saluran dengan
daerah tujuan pemasaran Pasar Induk Tanjung pedagang grosirBajurai, Sungai Penuh. Saluran ini
terdiri dari petani pedagang pengecer. Saluran II adalah saluran tataniaga yang memasarkan kentang
ke Pasar Induk Angso Duo Jambi, yang terdiri dari pedagang pengecer.pedagang grosir pedagang
pengumpul petani Saluran III terbagi atas dua saluran bagian yaitu saluran IIIa dan saluran IIIb. Saluran
IIIa adalah saluran tataniaga yang memasarkan kentang ke konsumen akhir di daerah Bukittinggi.
Saluran ini terdiri pedagang pengecer. pedagang grosir pedagang pengumpul dari petani
Sedangkan saluran IIIb adalah saluran tataniaga dengan daerah tujuan pemasaran Provinsi Riau.
Lembaga tataniaga yang terlibat pada saluran ini adalah petani, pedagang pengumpul, dan pedagang
grosir. Saluran IV, V, dan VI merupakan saluran pemasaran luar daerah. Lembaga tataniaga yang terlibat
pada ketiga saluran ini sama yaitu petani dan pedagang pengumpul, namun terdapat perbedaan pada
wilayah pemasaran kentang, dimana saluran IV ditujukan untuk pasar di daerah Riau, saluran V
ditujukan untuk pasar di daerah Sumatera Selatan, dan saluran VI untuk daerah Lampung. Lembaga
lembaga tataniaga kentang di Kecamatan Kayu Aro, pada umumnya melakukan fungsi fungsi tataniaga
yang sama. Struktur pasar yang dihadapi petani kentang di Kecamatan Kayu Aro cenderung mengarah
kepada pasar persaingan. Sedangkan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul, pedagang
grosir, dan pedagang pengecer mengarah kepada pasar tidak bersaing. Analisis perilaku pasar
menunjukkan bahwa terjadi transaksi pembayaran tunai dan pembayaran sebagian antara petani,
pedagang pengumpul, pedagang grosir, dan pedagang pengecer. Dari hasil analisis margin tataniaga,
farmers share dan nilai rasio keuntungan terhadap biaya, maka secara operasional saluran II merupakan
saluran yang tataniaga yang lebih efisien diantara saluran I, dan saluran IIIa, karena petani langsung
menjual hasil panennya ke pedagang pengumpul. Begitu juga saluran V adalah saluran yang lebih efisien
dibandingkan dengan saluran IV dan saluran VI, jika ditinjau dari farmers share, penyebaran rasio
keuntungan terhadap biaya (i/Ci ratio), dan jumlah volume kentang yang dipasarkan. Analisis
keterpaduan pasar menunjukkan nilai IMC > 1, yaitu sebesar 8,33 artinya tidak ada keterpaduan jangka
pendek dan nilai koefisien b2 memiliki nilai < 1, yaitu sebesar 0,392 menunjukkan tidak ada keterpaduan
jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa struktur pasar yang terjadi dalam tataniaga kentang ini
adalah tidak bersaing sempurna. Persaingan yang tidak sempurna dalam tataniaga kentang ini
menunjukkan bahwa sistem tataniaga kentang di lokasi penelitian belum efisien.