Anda di halaman 1dari 21

TUGAS PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PASCAPANEN

PENYAKIT PASCA PANEN PADA SEREALIA


OLEH
JESI YARDANI
240120130001

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI AGROINDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2014

I. PENDAHULUAN
Pasca panen adalah semua kegiatan yang di lakukan terhadap suatu komoditi sejak
komoditi tersebut di panen sampai penggunaan akhir, baik untuk konsumsi maupun untuk
maksud lain. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pemanenan, pemasaran, pemilihan, dan
penyimpanan.
Bahan pangan, khusus dalam bentuk biji-bijian merupakan bahan pangan yang tidak
tahan lama dan mudah menjadi busuk. Bahan pangan tersebut selain tidak tahan lama juga peka
terhadap serangan hama maupun patogen, khususnya bakteri, virus, maupun jamur.
Biji-bijian sebagai bahan utama bagi manusia dan binatang mengandung senyawasenyawa penting yaitu :
1. Karbohidrat , merupakan sumber energi
2. Lemak juga sebagai sumber energi
3. Protein, sebagai cadangan energi, untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh
4. Mineral sebagai bahan untuk memperbagai dan untuk mengatur proses kimia dalam tubuh
5. Vitamin di gunakan untuk proses kimia di dalam tumbuh dan di perlukan dalam jumlah yang
sedikit dan tidak disintesis oleh tubuh.
II. ARTI PENTING PENYAKIT PASCA PANEN DI BIDANG PERTANIAN
Produk pasca panen merupakan produk yang mudah rusak ( perishable product), yang
sering dihasilkan di daerah yang jauh dari pusat populasi. Kehilangan pascapanen selain
berpengaruh terhadap kuantitas, yaitu mengurangi jumlah atau berat produk pascapanen, juga
dapat menyebabkan berkurangnya kualitas produk, yaitu menurunnya nilai nutrisi produk. Selain
itu, akibat yang ditimbulkan pathogen pascapanen sering menyebabkan beberapa hal sebagai
berikut.
1. Kehilangan sebagian atau total dari paket konsumsi akibat dari satu atau beberapa unit
penyakit.
2. Munculnya bau tidak sedap dari produk pascapanen yang busuk akibat serangan
pathogen pascapanen.
3. Berkurangnya ketertarikan konsumen akibat terjadinya perubahan warna atau bentuk dari
produk pascapanen sakit.

4. Berkurangnya masa simpan produk tanaman yang mudah rusak akibat dari perpanjangan
pemasakan dan penuaan yang dipacu oleh etilen dari bagian buah yang sakit dalam ruang
simpan.
5. Terjadinya kontaminasi bahan pangan oleh mikotoksin yang dihasilkan oleh pathogen
tanaman.
6. Adanya metabolit toksik yang dihasilkan oleh jaringan tanaman sakit sebagai tanggap
terhadap serangan jamur atau pendedahan ke etilen.
7. Timbulnya rasa produk yang tak-terterima, yang dipertalikan dengan bahan tanaman
sakit, seperti jus jeruk yang disiapkan dari buah jeruk yang terinfeksi oleh Alternaria dan
wortel yang terdedah oleh etilen dari buah sakit.
8. Terjadinya penguraian jeruk hasil enzim pektolisis yang toleran panas dari pathogen
pascapanen, misalnya Rhizopus dan Sclerotinia.
Selain disebabkan oleh patogen biotik, penyakit pascapanen juga dapat disebabkan oleh
patogen abiotik, yaitu oleh pengaruh suhu ekstrim. Beberapa produk pascapanen, khususnya
yang berasal dari daerah tropika, sangat peka terhadap pengaruh suhu simpan. Suhu yang terlalu
rendah akan dapat merusak produk yang disimpan.
Jadi, dapat dikatakan bahwa penyakit pascapanen sangat berperan penting, antara lain
berpengaruh pada beberapa hal sebagai berikut :
1. Timbulnya mala-nutrisi penduduk dunia karena kehilangan pascapanen yang cukup besar
akibat penyakit. Kehilangan ini makin besar pada Negara-negara berkembang yang
ditandai dengan tingginya limbah pangan dan hilangnya produksi.
2. Bertambahnya biaya produksi karena penambahan anggaran untuk mengendalikan
ataupun mencegah adanya penyakit pascapanen.
3. Berkurangnya produksi tanaman yang dapat dijual atau dikonsumsi, dan hal ini akan
mengurangi pendapatan produsen atau petani.
4. Banyaknya produk yang terbuang akibat adanya perubahan warna, tekstur, atau bau yang
tidak disukai konsumen.
5. Penambahan sarana dan prasarana pengendalian pathogen pascapanen, yang secara
langsung akan menambah kegiatan untuk menyiapkan tenaga operatornya.

III. PENYEBAB KERUSAKAN PASCA PANEN DAN AKIBAT YANG DI TIMBULKAN


Beberapa penyakit yang muncul setelah panen, termasuk selama pengangkutan dan
penyimpanan disebabkan terutama oleh bakteri, jamur virus dan oleh penyebab non patogen.
Patogen-patogen tersebut dapat bekerja sendiri sendiri atau bersama sama, sedang penyakit non
patogen atau fisiologi disebab kan oleh bahan bahan itu sendiri atau disebabkan aktivitas
metabolisme dari jaringan-jaringan bahan yang disimpan, dan juga disebabkan oleh fluktuasi dari
keadaan luar.
Penyebab patogen
1. Bakteri
Kebanyakan bakteri menyerang biji-bijian yang disimpan adalah suku Psedomonadaceae,
bacillaceae, micrococeae, dan enterobabacteriaceae.
2. Jamur
Penyebabab penyakit jamur dapat juga menyebabkan penyakit pada bahan-bahan yang kering,
seperti pada biji-bijian dan juga terjadi pada bahan-bahan yang berdaging. Pada biji-bijian pada
umumnya penyerangan perkembangannya lambat dan dapat terjadi pada suhu atau lengas nisbi
udara yang lebih intervalnya, sedang penyakit yang timbul pada bahan-bahan biasanya
berkembang sangat cepat, memerlukan suhu tinggi dengan lengas nisbi udara yang relative tinggi
pula.
3. Virus
Beberapa macam virus dapat menyebabkan penyakit pada sayuran yang disimpan. Gejala
biasanya berbentuk mosaik, gejala ini disebabkan oleh deskruksi kholorofil atau pigmen secara
tidak teratur. Dan juga terjadi gejala laten dan baru Nampak setelah bahan-bahan telah berada
didalam simpanan.
Penyebab Non Patogen
Penyebab pasca panen non pathogen atau umumnya disebut fisiologi adalah penyakit yang
disebabkan oleh bahan-bahan itu sendiri atau disebabkan aktivitas metabolisme dari jaringan
bahan-bahan yang disimpan, atau juga disebabkan oleh flukluasi dari keadaan luar. Gejala non
pathogen dapat berbentuk :
-

Memar

Perubahan warna

Pembusukan

IV.

FAKTOR-FAKTOR

YANG

BERPENGARUH

TERHADAP

MUNCULNYA

PENYAKIT PASCA PANEN


Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap bahan yang disimpan khususnya terhadap
perkembangan jamur simpanan adalah: kandungan air, suhu dan lengas nisbi udara, lama
penyimpanan, terdapat benda-benda asing dan aktifitas lama.
a) Kandungan air
Kandungan air sangat berpengaruh terhadap perkembangan jasad renik. Sebagai contoh beras
dan gabah dapat disimpan pada waktu tertentu, tanpa atau sedikit menurunkan kualitas bila
kandungan airnya antara 13-14 persen, sedang di atas 13-14 persen akan mempercepat
perkembangan jasad renik terutama jamur.
b) Suhu Ruang Penyimpanan
Selain kandungan air, suhu juga merupakan faktor penting dalam penyimpanan beras sebab akan
memengaruhi daya simpannya. Penyimpanan pada suhu rendah lebih aman dibandingkan dengan
suhu yang lebih rendah. Bila terjadi penurunan suhu maka pertumbuhan jamur akan menurun
begitu juga sebaliknya.
c) Lama Penyimpanan
Kandungan air, suhu dan lama penyimpanan merupakan faktor yang erat hubungannya dengan
pertumbuhan jamur simpanan, pertumbuhan jamur yang terbatas memungkinkan bahan yang di
simpan agak lebih lama.
d) Tingkat Keparahan Biji akibat Serangan Jamur
Biji yang diserang jamur pada periode sesudah panen sebelum disimpan, akan bertambah
kepekaannya terhadap serangan jamur simpanan bila disimpan.
e) Benda-benda Asing
Benda-benda asing berpengaruh negatif terhadap kualitas bahan yang disimpan. Yang termasuk
benda-benda asing adalah: biji tanaman lain, biji pecah, bagian dari tanaman atau serangan hama
atau butiran-butiran tanah yang terbawa dari lapang.
f) Kegiatan Serangan Hama
Serangan hama dan tungau mempengaruhi perkembangan jamur simpanan dengan cara:
meningkatkan kandungan air bahan, dan membawa penyebaran spora jamur ke tempat lain.
g) Faktor-faktor Lain yang Juga Berpengaruh adalah:
- Kondisi lapang

- Pemanenan dan penanganan


- Kondisi pengangkutan
V. DAMPAK KERUSAKAN, KHUSUSNYA TERBENTUKNYA TOKSIN TERHADAP
MUTU HASIL DAN KESEHATAN KONSOMEN
Kerusakan-kerusakan yang di sebabkan oleh jamur simpanan telah dimulai sejak bahan
dipungut dari lapangan sampai masuk ke gudang simpanannya. Bentuk kerusakan tersebut
meliputi penurunan daya kecambah; perubahan warna; perubahan berat; perubahan biokoimia;
dan terbentuknya toksin. Penurunan daya kecambah di sebabkan karena membusuknya bijibijian atau terjadi gejala damping off pada kecambah akibat serangan patogen.
A. Toksin
Kerusakan yang terjadi karena adanya serangan jamur simpanan adalah terbentuknya toksin yang
dikeluarkan oleh jamur. Beberapa jamur penghasil mikotoksin adalah:
a.Aspergillus Flavus dengan toksin aflatoksin
b.Paniccilium citro-viride dengan toksin citro-viridin
c.P.patulum dengan toksin citrinin
d.P.citrium dengan toksin patulun
e.P.expansum dengan toksin patulin
f.P.ochraceus dengan toksin ochratoksin
g.aspergillus ochraceus dengan toksin ochraceus
h.Versicolor dengan toksin seterigmatocystin
B. Penggolongan mikotoksin
Mikotoksin dapat didefisinikan sebagai suatu fraksi kecil dari sejumlah metabolit sekunder yang
dihasilkan jamur dalam metabolismenya. Terjadinya metabolisme sekunder sangat di pengaruhi
berbagai faktor antara lain keadaan morfogenesis jamur, keadaan jenis atau strain jamur tertentu
dan keadaan substrat tempat tumbuh jamur.
C. Mikotoksin penting pada biji serealia

Bahan utana pangan biji serealia merupakan media tumbuh yang baik bagi berbagai macam
mikroorganisme termasuk jamur yang menghasilkan mikotoksin. Jamur yang menyerang biji
serealia dan legun mengeluarkan berbagai macam mikotoksin. Berikut ini di uraikan jenis
mikotoksin penting yang dapat terkandung dalam biji serealia dan legun yang di serang oleh
patogen-patogen pasca panen: aflatoksin, streigmatosistin, luteoskirin, patulin, zearalenon,
siteroviridin, trikotesena, asam aspergilat, asam penisilat, asam kojat, asam helvolat, citrinin,
okratoksin.
VI. PENYAKIT PASCA PANEN PADA TANAMAN SEREALIA, KHUSUSNYA PADI,
JAGUNG, KEDELAI, DAN KACANG TANAH
A. Penyakit-penyakit pada tanaman padi
Jamur-jamur yang terdapat pada biji padi dapat digolongkan menjadi jamur lapangan (field
fungi) dan jamur pascapanen (postharvest fungi). Jamur-jamur lapangan yang umum terdapat
pada biji padi (gabah) dalah :
1. Fusarium moniliforme
2. Fusarium spp.
3. Phoma spp.
4. Alternaria oryzae.
5. Nigrospora oryzae (Berk. Dan Br ) petch.
6. Helicoceras oryzae linder dan Tall.
7. Trichoconis caudate (Ap. DanAtr.) Clem.
8. Cladosparium herbarum Link et fr.
9. Curvularia maculans.
10. Curvalaria lunata.
11. Epiccoccum neglectum Desm.
12. Helminthosporium oryzae dreschlera oryzae.
13. Pyricularia oryzae.
14. Ustilaginoidea virens

Jamur-jamur pasca panen, khususnya jamur simpanan terdiri dari marga :

1. Aspergillus
2. Penicillium
3. Rhizopus
4. Mucor
Jamur-jamur penting pasca panen yang menginfeksi biji padi ( gabah ) yaitu :
1. Foot Rot
Terdapat pada daerah penanaman padi seperti China, Taiwan, Filipina, Uganda, Italy, India dan
juga Indonesia. Menyebabkan biji berwarna coklat muda sampai coklat tua dan biji menjadi
hampa.
2. Alternaria oryzae
Terdapat di daerah pertanaman padi di dunia, termasuk di Indonesia. Jamur ini menyerang bijibijian (gabah) sebelum panen.
1. Curvularia lunata
Jamur ini dilaporkan pada pertanaman padi atau tanaman lain sebagai penyebab bercak
daun, busuk biji, busuk akar, perubahan warna biji, bercak pada biji dan biji mengalami
deformasi.

Gambar 1. Curvularia lunata yang Menyerang Padi


2. Brown spot
Terdapat didaerah padi di dunia seprti india juga Indonesia.
infeksi terjadi pada biji dan bulir, kadang-kadang bulir kelihatan sehat, tetapi telah terjadi
infeksi panen.
3. Blast Disease
Terdapat di daerah pada pertananman padi di india ataupun Indonesia. Penyerangan
terjadi pada pasca panen dan biji-biji padi yang terdapat pada bulir yang terinfeksi.

Gambar 3. Blast Disease pada padi


B. Penyakit Pasca Panen Pada Jagung
1. PATOGEN Aspergillus Spp.
Aspergillus spp. pertama kali dilaporkan di Turki pada tahun 1960, kacang tanah
yang diimpor dari Brasil tertular berat dan menyebabkan kerugian yang besar bagi usaha
tanaman kacang tanah dan toksinnya pada waktu itu diberi nama aflatoksin (Swindale
1987). Aspergillus spp. Kemudian dilaporkan di banyak negara, dan menjadi kendala,
terutama dalam kualitas biji-bijian sebagai bahan pangan dan pakan. Christensen dan
Meronuck (1986) melaporkan bahwa dari 33 spesies yang ditemukan, A. flavus dan A.
farasiticus adalah cendawan yang mempunyai kesamaan yang erat dan menginfeksi bijibijian dan beberapa jenis tanaman lainnya.
Dari beberapa spesies Aspergillus spp., A. flavus teridentifikasi sebagai penyakit
penting yang menginfeksi biji jagung. Inang utama A. flavus adalah jagung, kacang
tanah, dan kapas. Penyakit ini mempunyai banyak inang alternatif, sekitar 25 jenis
tanaman, khususnya padi, sorgum, dan kacang tunggak (CAB International 2001). Pakki
dan Muis (2006) melaporkan bahwa A. flavus ditemukan pada fase vegetatif dan
generatif tanaman, serta pascapanen jagung.
Pada jagung, gejala Aspergillus spp. ditandai cendawan berwarna hitam, (spesies
A. niger) dan berwarna hijau (A. flavus). Infeksi A. flavus pada daun menimbulkan
gejala nekrotik, warna tidak normal, bercak melebar dan memanjang, mengikuti arah
tulang daun. Bila terinfeksi berat, dan berwarna coklat kekuningan seperti terbakar.
Gejala penularan pada biji dan tongkol jagung ditandai oleh kumpulan miselia yang
menyelimuti biji (Gambar 1A). Hasil penelitian Pakki dan Muis (2006) menunjukkan
adanya miselia berwarna hijau dan beberapa bagian agak coklat kekuningan. Pada klobot

tongkol jagung, warna hitam kecoklatan umumnya menginfeksi bagian ujung klobot,
perbedaan warna sangat jelas terlihat pada klobot tongkol yang muda.
Bentuk konidia bulat sampai agak bulat umumnya menggumpal pada ujung hipa
(Gambar 1) berdiameter 3-6 m, sklerotia gelap hitam dan kemerahan, berdiameter 400700 m. Konidia A. flavus dapat ditemukan pada lahan pertanian. Pada areal pertanaman
kapas, A. flavus ditemukan lebih dari 3.400 koloni/g tanah kering, dan pada area lahan
pertanaman jagung 1.231/g tanah kering (Shearer et al. 1992). Keadaan ini
menggambarkan bahwa populasi koloni pada media tumbuh jagung dapat menjadi
sumber inokulum awal untuk perkembangannya. Perkembangan sklerotia dari tanah
sampai mencapai rambut jagung hanya dalam tempo 8 hari (Wicklow et al. 1984).

Gambar 4. Gejala visual dan bentuk konidia A. flavus.


Dari 33 spesies yang telah dilaporkan (CAB International 2001), A. flavus
merupakan spesies dominan yang menginfeksi jagung. A. flavus merupakan patogen
utama pada pascapanen jagung dan banyak mendapat perhatian para peneliti mikotoksin
di Indonesia. Patogen ini memproduksi toksin dan menginfeksi komoditas pertanian yang
dikonsumsi manusia maupun ternak. Pada Tabel 1 disajikan beberapa spesies A. flavus
yang telah dilaporkan.
Tabel 1. Beberapa Spesies Aspergillus
Spesies
Spesies
Carbonarius
Japonicus
Clavatus
Kambarensis
Ficheri
Luchvensis
Flavifes
Niger
Flavus
Ochraceus
F. Oryzae
Parasiticus
Fumigatus
Sumber : CAB International (2001)

Spesies
Restrictus
Sydowii
Tomarii
Terreus
Ustus
Versi color

Karakter bionomi A. flavus memberi gambaran bahwa cendawan tersebut mempunyai


daya tular yang tinggi dari pertanaman ke tempattempat penyimpanan. Pakki dan Muis
(2006), menemukan bahwa bawaan dari biji tidak selamanya menampakkan gejala,
namun juga berasal dari yang tidak bergejala. Hal yang sama juga dilaporkan oleh
Christense dan Meronuck (1986) bahwa A. flavus dapat menginfeksi ke bagian internal
biji, namun tidak dapat ditularkan ke pertanaman selanjutnya. Hal ini juga memberi
petunjuk bahwa pencegahan lebih dini di areal pertanaman akan mengurangi biji
terinfeksi dan sekaligus menekan intensitas aflatoksin di tempat-tempat penyimpanan.

Toksisitas
Aflatoksin yang dihasilkan oleh metabolisme sekunder cendawan A. flavus telah banyak
dilaporkan di berbagai negara, sedangkan di Indonesia datanya masih sangat terbatas.
Hasil penelitian Stemou et al. (1997) mengindikasikan adanya korelasi positif antara
infeksi A. flavus dengan kontaminasi aflatoksin. Semakin tinggi infeksi A. flavus
semakin tinggi kontaminasi aflatoksin.
Kontaminasi aflatoksin dimulai dari infeksi dini A. flavus di pertanaman dan terbawa ke
tempat penyimpanan, kemudian menjadi sumber inoculum awal penyebab kontaminasi di
gudang-gudang penyimpanan. Peluang perkembangan A. flavus makin besar apabila
benih disimpan pada kadar air tinggi. Menurut Asevedo et al. (1993), kadar air optimum
yang tidak memberi peluang bagi cemaran aflatoksin adalah 11%, suhu media
penyimpanan 15oC dan kelembaban 61,5%. Beberapa hasil penelitian menunjukkan
bahwa jenis aflatoksin yang ditemukan pada biji jagung pada umumnya adalah aflatoksin
B1 (AFB1) dan aflatoksin B2 (AFB2).

2. PATOGEN Fusarium Spp.

Sebaran dan Gejala


Fusarium spp. adalah patogen utama yang sering dijumpai pada beberapa jenis tanaman
dan dilaporkan memiliki 31 spesies (Glenn et al. 2001). F. vertilicilliodes merupakan
sinonim dari spesies F. moniliforme, dan dominan ditemukan pada tanaman jagung dan
menginfeksi akar, batang, pelepah, dan tongkol, terutama biji (Schutless et al. 2002). Di
Sulawesi Selatan, pada berbagai cara penyimpanan jagung oleh petani ditemukan 10,6%
menginfeksi biji (Pakki et al. 2003). Fusarium spp. tergolong phylum Ascomycota dari
famili Hypocreaceae. Patogen F. moniliforme menghasilkan spora aseksual, misellia

terbagi atas 3-7 sekat dan berukuran 2,4-4,9 x 150 x 160 m. Konidia dihasilkan dari
rantai potongan hipa, berdiameter 25-50 x 3-9 m.
Daerah sebaran Fusarium spp. meliputi daerah dingin dengan suhu 5 oC sampai daerah
tropik dengan suhu 20oC, dan dapat hidup baik pada wilayah kering dengan curah hujan
tahunan < 250 mm sampai daerah basah dengan curah hujan di atas 1000 mm per tahun.
Di Indonesia baru dilaporkan enam spesies dan satu di antaranya adalah F. moniliforme
yang dominan menginfeksi jagung (Bachri 2001). Gejala khas patogen ini adalah terdapat
kumpulan miselia pada bagian permukaan batang atau tongkol dan biji jagung, berwarna
keputihan dan terdapat warna merah jambu. Infeksi pada batang jagung biasanya
menyebabkan pembusukan, invasi ke dalam biji melalui rambut jagung pada ujung
tongkol, selanjutnya menginfeksi biji pada bagian dalam tongkol, bersifat symptomless
atau dapat ditemukan pada biji yang tidak bergejala, menginfeksi ke bagian internal biji
jagung, dan dapat ditularkan melalui biji (Munclovd and Biggerstaf 2000).

Toksisitas
F. moniliforme memproduksi mikotoksin yaitu fumonisin dan bersifat toksik pada ternak
dan manusia (Oren et al. 2003). Toksin lain yang dihasilkan oleh F. graminearum adalah
zearalenone. Toksin ini belum banyak mendapat perhatian namun juga berdampak buruk
terhadap ternak. Di Jawa Barat, Okky et al. (1993) telah mengidentifikasi toksin
zearalenone pada biji jagung dan gandum. Di Amerika, toksin fumonisin dan zearalenone
telah ditemukan mengkontaminasi biji jagung dan tingkat toleransi mikotoksin
zerealeunone belum tampak teridentifikasi.

3. PATOGEN Penicillium Spp.

Sebaran dan Gejala


Patogen Penicillium spp. pada biji jagung ditemukan berupa gumpalan miselia
berwarna putih menyelimuti biji, diselingi warna kebiru-biruan (Gambar 2). Patogen ini
adalah patogen tular benih yang mempunyai inang utama jagung. Tanaman lain belum
dilaporkan dapat menjadi inangnya, namun dapat menginfeksi tanaman jagung pada fase
prapanen dan pascapanen. Bagian tanaman yang dapat terinfeksi adalah batang, daun, biji
dan telah teridentifikasi 18 spesies diantaranya : P. aurantiogriseum, P. hirsutum, P.
brevicompactum, P. italicum, P. chysogenum, P. nigricaus, P. citrinum, P. oxalicum, P.
digitatum, dan P. purpurogenum.

Gambar 5. Gejala Penicillium spp. pada biji jagung


Intensitas penularan pada biji jagung dapat mencapai lebih dari 50% (Handoo dan
Aulakh 1999). Gejalanya ditandai oleh bercak pada kulit ari biji, bila menginfeksi
tongkol secara optimal menyebabkan pembusukan (Satula 1969). Pengaruh terhadap
kualitas benih adalah penurunan daya tumbuh (Kohler 1960). Spesies P. oxalicum
memproduksi oxalid acid dan bersifat toksik terhadap biji.
Penicillium spp. dapat ditularkan melalui biji. Apabila ditanam, biji-biji yang
terinfeksi Penicillium spp. dari lokasi pertanaman dapat menularkan pada pertanaman
selanjutnya. Patogen akan berkembang baik pada suhu < 15 oC dan akan tertekan
perkembangannya pada suhu >25oC. Penyebaran dalam suatu populasi tanaman di lapang
selalu berassosiasi positif dengan populasi serangga. Semakin tinggi populasi serangga,
semakin besar intensitas biji terinfeksi Penicillium spp. karena serangga dapat menjadi
vector penyebar perkembangan patogen ini di pertanaman dan tempat penyimpanan.
Toksin hasil metabolisme sekunder dari patogen Penicillium spp. Adalah
ochratoxin dan citreoviridin, yang dapat meracuni ternak. Di Indonesia, toksin ini belum
banyak mendapat perhatian peneliti, sehingga belum ada laporan tentang pengaruh
terhadap kesehatan ternak.

PENGENDALIAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian Aspergillus spp., Fusarium
spp., dan Penicillium spp., dapat dilakukan pada fase prapanen dan pascapanen.
Prapanen
Pencegahan infeksi dini Aspergillus spp., Fusarium spp., dan Penicillium spp. dapat
dilakukan dengan rotasi pertanaman bukan inang, yang akan memutus siklus
perkembangannya. Pencegahan penularan oleh serangga dengan penyemprotan

insektisida dapat berefek ganda, yaitu meminimalisasi penyebaran patogen dalam suatu
populasi tanaman jagung karena tertekannya populasi serangga yang menjadi vektor
penyebarannya di pertanaman.
Di Indonesia, penggunaan varietas tahan untuk pengendalian Aspergillus spp. belum
banyak dilaporkan. Scoot dan Zumono (1999) menemukan varietas yang mempunyai
ketahanan yang tinggi terhadap A. flavus seperti galur-galur inbrida LB31, IH 513, dan
C12. Wakman et al. (2003) melaporkan varietas-varietas yang mempunyai ketahanan
yang tinggi antara lain adalah Bisi-1, Bisi-2, Bisi-3, Bisi-4, Bisi-5, Bisi-6, Pioneer-4,
Pioneer-5, Pioneer-7, Kalingga, Bisma-1, dan Bisma-2. Pengendalian patogen prapanen
dengan penggunaan varietas tahan dapat mengurangi sumber inokulum awal sehingga
efektif menekan perkembangan cendawan Aspergillus spp., Fusarium spp. dan
Penicillium spp. di penyimpanan.
Pengelolaan air yang baik menghindari tanaman dari stress air yang mengakibatkan
biji jagung mudah terinfeksi A. flavus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panen tepat
waktu dapat menekan kontaminasi cemaran aflatoksin (Jonis et al. 1981). Pengendalian
dengan asam propianik dapat menekan kontaminasi mikotoksin sekitar 85%, dan
menekan infeksi cendawannya di pertanaman lebih dari 90% (CAB International 2001).
Pascapanen
Cemaran Aspergillus spp., Fusarium spp., dan Penicillium spp. pada bahan
pakan dapat dikurangi dengan melakukan penyortiran antara biji jagung yang
terkontaminasi dengan biji yang sehat. Widyastuty (1998) melaporkan bahwa jagung
yang ditumbuhi jamur berwarna hijau kekuningan mempunyai kadar aflatoksin yang
tinggi dibanding biji yang tidak terkontaminasi A. flavus.
Penjemuran biji jagung pada kadar air 13% dan penyimpanan pada suhu 15 oC dan
kelembaban 61,5% merupakan kondisi ideal untuk menekan cemaran mikotoksin
(Asevedo et al. 1993). Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi kerusakan
secara fisik pada saat prosesing dan menekan infestasi serangga, terutama dalam
penyimpanan, karena serangga berperanan penting dalam penyebaran mikotoksin (Stack
2000).

Sanitasi dengan asam propianik secara reguler pada fasilitas tempat penyimpanan dengan
tujuan membersihkan sisa-sisa cendawan sebagai sumber infeksi awal dapat menghindari
terinfeksinya biji sehat.
C. PENYAKIT-PENYAKIT PADA TANAMAN KEDELAI
1. Busuk biji phomosis
Biji yang terinfeksi Phomosis spp. Akan retak dan mengkerut atau keriput, mengecil dan
terdapat bercak yang merupakan tubuh jamur berwarna coklat keabuan sampai hitam
(Koenning, 2002) dan biasanya mempunyai daya kecambah yang rendah. Jika biji
digunakna untuk kepentingan agronomis dapat menghasilkan kemunculan bercak pada
biji. Busuk biji ini seperti halnya penyakit tular benih lainnya, merupakan hasil dari
keterlambatan panen dan kondisi kelembaban selama perkembangan biji. Serangan
Phomosis spp. banyak terjadi pada lahan-lahan pertanian yang ditanami dengan kedelai
terutama pada saat pemasakan biji. Jika penen terlambat dan kondisi kelembaban tinggi
maka kemungkinan akan terjadi infeksi pada biji (Lemay, 2000).
Gejala lain dari serangan Phomosis spp. khususnya Phomosis longicolla adalah biji
tampak berwarna putih pucat serta biji yang terinfeksi tidak dapat berkecambah karena
jamur tersebut merusak embrio. Tingkat perkecambahan dari biji yang kurang dari 70%
tidak dapat digunakan lagi sebagai benih untuk perbanyakan (Smith, 1999). Penyebab
penyakit ini membentuk piknidium 120-180 x 135-240 m dan mempunyai 2 macam
konidium yaitu konidium alfa yang terdiri dari 1 sel, berukuran 4,9-9,8 m dan konidium
beta, memanjang dan ujung bengkok 20-30 x 0,5-1m. Pengendalian penyakit ini
meliputi penanaman varietas tahan, sanitasi kebun, pembersihan sisa tanaman yang telah
dipanen dan perlakuan pasca panen.
Phomopsis spp. merupakan jamur imperfect dari Diaporthe phaseolorum. Konidia jamur
Diapothe phaseolorum berbentuk pendek, hialin, satu sel berukuran 4,9 9,8 x 1,7-3,2
m.
Siklus penyakit Diporthe phaseolorum : inokulum awal untuk infeksi berasal dari
miselium, piknidia dan perisitia yang menginfeksi biji. Jamur ini menginfeksi banyak
tanaman termasuk kedelai (Phaseolis vulgaris), cowpea (vigna unguiculata), garlic

(Allium sativum), kacang tanah (Arachis hypogea), bawang (Allium cepa) dan tomat
(Lycopersicon esculentum).
Biji-biji yang sakit merupakan sumber inokulum utama dari jamur Diphorthe
phaseolorum. Biji-biji menjadi terserang pada saat pembentukan biji dan infeksinya
meningkat pada saat panen selama cuaca hangat dan basah, selanjutnya biji mengalami
kerusakan dan busuk. Jamur mampu bertahan hidup dalam penyimpanan selama 2 (dua)
tahun dalam kondisi dingin dan kering. Infeksi pada biji menyebabkan biji gagal untuk
berkecambah (seedling blight). Miselium jamur menyerang ovul melalui funiculus dan
hilum. Didalam biji terbentuk koloni jamur pada semua jaringan, permukaan biji,
kotiledon dan juga radicle dan plumule.
Pengendalian jamur Diaporthe phaseolorum : menanam tanaman sehat, benih atau biji
bebas patogen, aplikasi potasium pada tanah untuk mengurangi infeksi pada biji dan
penggunaan jenis kedelai yang resisten.
2. Cercospora kikuchii
Penyakit hawar, bercak daun dan bercak biji ungu adalah salah satu penyakit pada
tanaman kedelai yang disebabkan oleh jamur Cercospora kikuchii yang memerlukan
pengendalian secara terpadu agar hasilnya efektif. Untuk itu perlu diketahui hal-hal
sbb: 1) gejala serangan; 2) siklus penyakit dan epidemiologi; 3) pengendalian yang
sesuai Gejala Serangan.
Jamur Cercospora kikuchii menyerang batang, polong dengan kondisi sulit dikenali,
sehingga pada polong yang normal mungkin bijinya sudah terinfeksi. Gejala awal
pada daun timbul saat pengisian biji dengan kenampakan warna ungu muda yang
selanjutnya menjadi kasar, kaku, dan berwarna ungu kemerahan. Bercak berbentuk
menyudut sampai tidak beraturan dengan ukuran yang beragam dari sebuah titik
sebesar jarum sampai 10 mm dan menyatu menjadi bercak yang lebih besar. Gejala
mudah diamati pada biji yang terserang yaitu timbul bercak berwarna ungu. Biji
mengalami diskolorasi dengan warna yang bervariasi dari merah muda atau ungu
pucat sampai ungu tua dan berbentuk titik sampai tidak beraturan dan membesar.
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
Cercospora kikuchii bersporulasi melimpah pada suhu 23-27 C dalam waktu 3-5 hari
pada jaringan terinfeksi, termasuk biji. Penyakit ini tidak menurunkan hasil secara

langsung akan tetapi mampu menurunkan kualitas biji dengan adanya bercak ungu
yang kadang-kadang mencapai 50% permukaan biji.
Inokulum pertama dari biji atau jaringan tanaman terinfeksi yang berasal dari
pertanaman sebelumnya. Di lapangan dengan temperatur 28-30 C disertai
kelembaban tinggi cukup lama akan memacu perkembangan penyakit bercak dan
hawar daun. Di ruangan dengan kelembaban tinggi, infeksi penyakit maksimum
terjadi dalam kondisi bergantian antara 12 jam terang dan gelap pada suhu 20-24 C.
Infeksi penyakit meningkat dengan bertambah panjangnya periode embun dan pada
varietas yang berumur pendek penyakit akan lebih parah.
Pengendalian :
Mengusahakan tanaman selalu sehat
Menanam benih berkualitas dan bebas patogen
Perawatan benih dengan fungisida
Aplikasi fungisida sistemik

Gambar 6. Cercospora kikuchii yang Menyerang Kedelai


3. Soybean mosaic virus
Gejala mosaic menunjukan adanya bagian daun yang menunjukan warna berbeda secara
tidak teratur, seperti warna hijau tua yang diselingi dengan hijau muda. bentuk gajala
mosaik pada tanaman yang terinfeksi virus beragam, tergantung pada jenis tanamannya.
pada tanaman dikotil, gejala mosaik berbentuk garis yang tidak beraturan, berwarna hijau
tua dan hijau kuning seperti halnya tembakau yang terinfeksi TMV. Gejala mosaik
biasanya didahului oleh pemucatan sepanjang tulang daun atau akumulasi warna hijau
sepanjang tulang daun. gajala mosaik juga dapat terjadi pada cabang dan buah yang
dihasilkan.

Pada tanaman monokotil, gajala mosaik biasanya ditandai dengan warna hijau dan terang
membentuk strip; sebagai akibat terjadinya klorosis.gejala klorosis terjadi pada daun
akibat terjadinya pengurangan klorofil, tidak normalnya bentuk kloroplas, dan kerusakan
sel daun. gajala mosaik akibat klorosis biasanya dimulai dari sepanjang tulang dauan ke
seluruh bagian daun.
Penularan penyakit SMV pada tanaman muda dapat menurunkan hasil 50- 90%
Penularan SMV ke dalam tanaman, antara lain :
-melalui luka,
-terinfeksi oleh virus Belang PolongBuncis,
- melalui benih,
- melalui vektor serangga.
Pengendalian penyakit SMV dapat dilakukan dengan cara :
-menanam benih bebas SMV,
-apabila ditemukan di areal pertanaman kedele SMV, maka segera cabut.dan bakar
tanaman yang telah terinfeksioleh SMV,
- menggunakan varietas kedele yang resisten/tahan terhadap infeksi virus,misalnya
varietas Thai-chung,
- menggunakan varietas kedele yang resisten terhadap penularan melalui benih,
- membasmi tumbuhan inang SMV terutama yang dekat dengan areal pertanaman kedele,
-mengadakan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang SMV,
- menggunakan insektisida untukmemberantas vektor.

Gambar 7. Kedelai yang Terserang Mosaic Virus

D. PENYAKIT-PENYAKIT PADA KACANG TANAH

1. Apergillus flavus
A Flavus merupakan kapang saprofit. Koloni yang sudah menghasilkan spora berwarna
cokelat kehijauan hingga kehitaman. Miselium yang semula bewarna putih tidak tampak
lagi (Dwidjoseputro 1981). Selain oleh A. flavus, biji kacang tanah sering terkontaminasi
pula oleh A. niger dan Penicillium sp. Varietas local dan varietas unggul Macan peka
terhadap A. flavus dan jamur lainnya. Bila A. flavus telah memproduksi aflatoksin, maka
biji akan terasa pahit bila dimakan. Kandungan aflatoksin yang tinggi dikenali dari warna
biji yang makin cokelat dan rasa yang makin pahit pula.

Infeksi Aspergillus flavus dan Kontaminasi Aflatoksin Pascapanen


Panen, pengeringan, kondisi penyimpangan dan lama penyimpanan berpengaruh
langsung terhadap infeksi A. flavus. Infeksi jamur A. flavus dan kontaminasi
aflatoksin terjadi pada biji dari tanaman yang mengalami cekaman kekeringan pada
fase generative, terutama pada 3-6 minggu menjelang panen (Cole et al. 1995).
Kapang akan berkembang biak pada biji bila senyawa antimikroba, (fitoaleksin) tidak
terbentuk (Basha et al. 1994). Fitoaleksin hanya terbentuk jika aktivitas air pada biji
minimum 0,95. Dengan terbentuknya senyawa antimikroba ini maka A. flavus yang
masuk kedalam biji akan berada pada kondisi dorman (istirahat). Sebaliknya, pada
kisaran K-AW 0,80-0,95 dengan suhu 250C-360C, A. flavus berkembang biak dan
membentuk aflatoksin (Wotton dan Strange 1987).

Strategi Pengendalian Aspergillus flavus Dan Pencegahan Kontaminasi Aflatoksin


Infeksi A. flavus dan kontaminasi aflatoksin pada kacang tanah melibatkan tiga faktor
agar terjadi kolonisasi A. flavus dan produksi aflatoksin. Ketiga faktor tersebut adalah
varietas kacang tanah yang peka, jamur A. flavus yang ganas dan agresif, serta
lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan, perkembangan dan produksi aflatoksi.
a.

Penggunaan Varietas Tahan Aspergillus flavus


Ketahanan merupakan tanggapan aktif dan dinamis inang terhadap pathogen yang
menyerangnya. Ketahanan hanya terjadi jika inang berintekrasi dengan patogen.
Ketahanan dan kepekaan varietas menggambarkan keadaan interaksi tanaman
kacang tanah sebagai inang dan A. flavus sebagai pathogen. Taraf penyakit yang
rendah disebabkan oleh inkompatibilitas inang dan pathogen pada kondisi
lingkungan tertentu.

b. Manipulasi Lingkungan Tumbuh


Manipulasi lingkungan tumbuh merupakan upaya untuk mencegah terjadinya
interaksi kacang tanah dengan A. flavus, dimulai sejak tanaman dilapangan hingga
penanganan pascapanen. Pengaturan waktu tanam dan pengairan agar tanaman
terhindar dari cekaman kekeringan dan suhu terbukti efektif menekan laju infeksi
A. flavus (Mehan et al. 1988 : Kasno et al. 2002). Panen tepat waktu juga dapat
menekan laju infeksi A. flavus. Tingkat kemasakan biji memperlihatkan tingkat
infeksi yang berbeda, demikian pula dengan varietas. Pemanenan pada saat biji
masak optimum dapat mencegah infeksi A. flavus. Secara visual biji masak dapat
dikenali dari warna kulit polong yang agak gelap dan bila dikupas bagian kulit
polong memperlihatkan guratan hitam dengan latar belakang putih.

Gambar 8. Kacang Tanah yang Terserang Aspergillus flavus

DAFTAR PUSTAKA

Bachri, S. 2001. Mewaspadai cemaran mikotoksin pada bahan pangan, pakan, dan produk
ternak di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 20(2):5564.
Ginting. 1986. Variasi kejadian dan kandungan aflatoksin pada jagung yang bersumber
dari Tegal, Taiwan, dan Lampung pada pabrik makanan ternak di Bogor.
Penyakit Hewan 18(31)79-81.
http://books.google.co.id/books?
id=sAQvc9GEdlcC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false
http://yogarananda.wordpress.com/2012/11/23/penyakit-penyakit-pasca-panen-tanamanpangan/
http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/p3233041.pdf