Anda di halaman 1dari 41

1

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut WHO cakupan imunisasi secara global pada anak meningkat 5% menjadi
80% dari sekitar 130 juta anak yang lahir setiap tahun sejak penetapan The
Expanded Program on Immubization (EPI). Di seluruh dunia cakupan Imunasi
polio yang di terima bayi dengan 3 dosis vaksin polio adalah 82%, hepatitis B
65%, DPT campak masing-masing sebesar 81 % dan 82% (WHO, 2008)
Dalam UU kesehatan tahun 2009, upaya kesehatan adalah setiap kegiatan atau
rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegerasi dan
berkesunambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan, kesehatan,
pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan atau
masyarakat (Anonim, Harvarindo, 2010). Pelayanan kesehatan preventif adalah
suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit. Imunisasi
adalah cara untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit. Salah satu kegiatan
pencegahan penyakit adalah dengan pemberian Imunisasi. (Depkes, 2005).
Penyakit hepatitis B adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis
B. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan
masyarakat seluruh dunia. Penyakit Hepatitis bersifat akut atau kronik termasuk
penyakit hati yang paling berbahaya dibanding penyakit hati yang lain karena
hepatitis B ini tidak menunjukkan gejala yang jelas. (Depkes, 2005)

2

Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis (Hidayat.A.A, 2009). Imunisasi hepatitis B sebaiknya
diberikan sedini mungkin setelah lahir, mengingat sekitar 33% ibu melahirkan
dinegera berkembang adalah pengidap HbsAg positif dengan perkiraan transmisi
maternal 40% (wahab, 2002).
Dari data Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara (Dinkes Sulut), Jumlah
sasaran tahun 2011 Hepatitis B 0 7 hari 43,963 bayi, hasil 29,108 bayi (66,2%)
dan tahun 2012 Hepatitis B 0 7 hari 41,298 bayi, hasil 31,257 bayi (76,6%).
Sayangnya kebanyakan masyarakat belum sadar akan hal tersebut. Mereka tidak
mengimunisasikan bayinya karena berbagai sebab, sehingga masih ada
kemungkinan bayi dapat tertular oleh penyakit yang dapat di cegah dengan
imunisasi (Dinkes Kota Manado, 2007)
Data awal yang dilakukan di dinas kesehatan kota manado cakupan imunisasi
Hepatitis B 0-7 hari tahun 2012, 4621 (58,9%) dari jumlah sasaran 7840 bayi dan
berdasarkan survey awal yang dilakukan di Puskesmas Tuminting tahun 2012
untuk pemberian hepatitis B 0-7 hari 512 (52%) dari jumlah sasarn 995 bayi. Dari
cakupan yang didapat masih sangat rendah belum tercapai targetUniversal Child
Imunization (UCI). Berdasarkan data tersebut penulis tertarik meneliti dengan
judul hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan tindakan pemberian imunasasi
Hepatitis B pada bayi 0-7 hari.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka penulis merumuskan masalah
penelitian sebagai berikut : apakah ada hubungan pengetahuan dan sikap ibu
3

dengan tindakan pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi 0-7 hari di Puskesmas
Tuminting.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan tindakan
pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi 0-7 hari di Puskesmas Tuminting.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian hepatitis
B 0-7 hari.
b. Untuk mengetahui hubungan sikap ibu dengan pemberian hepatitis B 0-7
hari.
c. Untuk menganalisa hubungan pengetahuan dan Sikap ibu dengan
pemberian hepatitis B pada 0-7 hari di Puskesmas Tuminting

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Sebagai suatu pengalaman belajar dalam kegiatan penelitian, sehingga dapat
memperoleh pengalaman dalam meningkatkan wawasan peneliti tentang pengaruh
pengetahuan dan sikap ibu dengan tindakan pemberian imunisasi hepatitis B pada
bayi umur 0-7 hari.
2. Bagi ibu
4

Sebagai bahan informasi tentang manfaat pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari
sehingga dapat memberikan pemahaman kepada ibu untuk menngubah sikap dan
menambah pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B 0-7 hari.
3. Bagi Intitusi pendidikan sebagai bahan informasi data sehingga diharapkan
dapat wacana keilmuan terutama dalam bidang keperawatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar mengenai Pengetahuan
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan hal ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,
peraba, dan perasa. sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata, telinga,
pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan (knowledge)
adalah hasil tahu dari manusia terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang
memungkinkan seseorang untuk memecahkan masalah yang
dihadapinya.(Notoatmodjo,2003:121)
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) karena dari pengalaman dan
penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng
daripada perilaku yang tidak didasari olehpengetahuan(Notoatmodjo,2003:128)
5

Tingkat pengetahuan seseorang secara rinci dibagi menjadi enam tingkatan
(Notoatmodjo, 2003: 122) yaitu:






a. Tahu(know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang
telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain menyebutkan,menguraikan,mendefinisikan,menyatakandansebagainya.
b. Memahami(Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut
secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi(Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat
6

diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip
dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain
d. .Analisis(Analysis)



Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu suatu
obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti menggambarkan,
membedakan,memisahkan,mengelompokan.

e. Sintesis(Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang ada misalnya dapat menyusun, dapat
merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap
suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi(Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri,

7





B.Tinjauan umum sikap
a. Pengertian
Sikap di definisikan sebagai reaksi atau respon yang masihtertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Di sini dapat di simpulkan bahwa manifestasi
sikap itu tidak dapat di tafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap
secaranyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus
tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat
emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau
aktifitas, akan tetapi merupakan edisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu
masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah
laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. (Notoatmodjo,
2003, p. 124)
b. Komponen sikap
Menurut Allport 1954 (dalam Notoatmodjo, 2003) menjelaskan bahwa sikap itu
mempuyai 3 komponen pokok yaitu :
1) Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap objek. Artinya
bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.
8

2) Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek. Artinya
bagaimana penilaian (terkandung didalamnya faktor emosi) orang tersebut
terhadap objek.



3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave). Artinya sikap adalah
merupakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap
adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan)
c. Tingkatan sikap
Ada beberapa sikap menurut Notoatmodjo (2003) berdasarkan intensitasnya
yaitu :
1) Menerima (Receiring)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang
di berikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari ke
sediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang gizi.
2) Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas
yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari
pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
3) Menghargai (Valving)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah
adalah suatu indikasi
9



sikap tingkat tiga. Misalnya : seorang ibu yang mengajak ibu yang lain
(tetangganya, saudaranya, dan sebagainya) untuk pergi menimbangkan anaknya
keposyandu, atau mendiskusikan tentang gizi, adalah suatu bukti bahwa si ibu
tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak.
4) Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah di pilihnya dengan segala
resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Misalnya : seorang ibu mau menjadi
akseptor KB, meskipun mendapat tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri
(Notoatmodjo, 2003, p. 126).
C.Praktik atau tindakan (Practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perubahan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.
Disamping fasilitas juga di perlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain,
misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua, dan lain-lain. Praktik ini
mempunyai beberapa tingkatan : (Notoatmodjo, 2003).
1). Persepsi (Perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan
diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.



10


2) Respons terpimpin (Guided response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan
contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua.
3) Mekanisme (Mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis,
atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik
tingkat ketiga.
4) Adaptasi (Adoption)
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.
Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran
tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2003, pp. 127-128)
Sikap dipengaruhi oleh beberapa faktor yang paling utama adalah pengetahuan
tentang suatu objek. Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi juga
dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman pribadi, kebudayaan, media masa.
Remaja yang lebih tahu tentang kesehatan reproduksi akan menghadapi fenomena
seks bebas dengan positif (sikap tidak melakukan seks bebas), sikap negatif (sikap
untuk melakukan seks bebas). Sikap merupakan kecenderungan untuk bereaksi
terhadap orang lain, institusi, atau kejadian baik positif maupun negatif. Suatu
teorilain dikembangkan oleh Lawrence Green (Notoatmodjo, 2003) menyatakan
bahwa kesehatan individu atau masyarakat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu
faktor perilaku dan faktor-faktor lain dari luar perilaku (non perilaku).
Faktor perilaku ini ditentukan 3 kelompok faktor yaitu:
a. Faktor pemudah (Predisposing factors)
11

Dalam hal ini pendidikan kesehatan ditujukan untuk menggugah kesadaran,
memberikan atau meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, maupun
masyarakatnya. Disamping itu dalam konteks ini pendidikan kesehatan
memberikan pengertian-pengertian tentang tradisi, kepercayaan masyarakat dan
sebagainya, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan kesehatan.
Bentuk pendidikan ini antara lain : penyuluhan kesehatan, pameran kesehatan,
iklan-iklan layanan kesehatan, spanduk, billboard, dan sebagainya.
b. Faktor pemungkin (Enabling factors)
Karena faktor-faktor pemungkin (enabling) ini berupa fasilitas atau sarana dan
prasarana kesehatan bagi mereka. Hal ini bukan berarti memberikan kemampuan
dengan cara bantuan teknik (pelatihan dan bimbingan), memberikan arahan, dan
cara-cara mencari dana untuk pengadaan sarana dan prasarana. Pemberian fasilitas
ini dimungkinkan hanya sebagai percontohan. Sarana dan prasarana atau fasilitas
untuk terjadinya perilaku kesehatan, misalnya puskesmas, posyandu, rumah sakit,
tempat pembuangan air, tempat pembuangan sampah, tempat olah raga, makanan
bergizi, uang dan sebagainya.
c. Faktor pendorong (Reinforcing factor)
Karena faktor ini menyangkut sikap dan perilaku tokoh masyarakat dan tokoh
agama, serta petugas termasuk petugas kesehatan, maka pendidikan kesehatan
yang paling tepat adalah dalam bentuk pelatihan-pelatihan bagi tokoh masyarakat,
tokoh agama dan petugas kesehatan sendiri. Tujuan utama dari pelatihan ini
adalah agar sikap dan perilaku petugas dapat menjadi teladan, contoh, atau acuan
bagi masyarakat tentang hidup sehat (berperilaku hidup sehat). Disamping itu
12

upaya-upaya agar pemerintah, baik pusat maupun daerah (Provinsi, Kabupaten,
Kecamatan, Kelurahan), mengeluarkan undang-undang atau peraturan-peraturan
yang dapat menunjang perilaku hidup sehat bagi masyarakat. Undang-undang
perkawinan merupakan factor reinforcing terhadap para remaja untuk menunda
perkawinannya sampai umur yang cukup memenuhi persyaratan untuk kesehatan
(Notoatmodjo, 2003, p. 17-18).
D.Tinjauan Tentang Imunisasi Hepatitis B
a. Definisi Imunisasi Hepatitis B
Kata imun berasal dari bahasa latin imunitas yang berarti pembebasan (kekebalan)
yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka
terhadap kewajiban terhadap warga biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah,
istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi
perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi
terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang
terdiri dari sel sel serta produk zat zat yang dihasikannya, yang bekerja sama
secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman
kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh (Badan Litbangkes,
2008).
Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen ke dalam tubuh, maka
sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut antibodi. Pada
umumnya reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat
karena tubuh belum mempunyai pengalaman terhadap antigen yang masuk, tetapi
pada reaksi yang kedua, ketiga dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori
untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibody terjadi dalam
13

waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak, itulah sebabnya
pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya dilakukan tindakan
imunisasi atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar
tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut atau seandainya terkenapun tidak akan
menimbulkan akibat yang fatal (Badan Litbangkes, 2008).
Imunisasi adalah pemberian vaksin kepada seseorang untuk melindunginya dari
beberapa penyakit tertentu. Imunisasi merupakan upaya untuk mencegah penyakit
lewat peningkatan kekebalan tubuh seseorang (Badan Litbangkes, 2008).
Imunisasi merupakan suatu upaya pencegahan yang paling efektif untuk
mencegah penularan penyakit hepatitis B. Word Health Organization (WHO)
melalui program The Expanded Program on Immunisation (EPI)
merekomendasikan pemberian vaksinasi terhadap 7 jenis antigen penyakit sebagai
imunisasi rutin di Negara berkembang, yaitu BCG, DPT, Polio, Campak dan
Hepatitis B.
Imunisasi ada dua macam yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi
aktif adalah pemberian kuman atau racun yang sudah dilemahkan atau dimatikan
dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri contohnya
imunisasi hepatitis B, sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah
antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat contohnya peningkatan
ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan, contoh
lain adalah yang terdapat pada bayi baru lahir dimana bayi tersebut menerima
berbagai jenis antibodi dari Ibunya terhadap campak (Depkes RI, 2004).
Data statistik menunjukkan makin banyak penyakit menular bermunculan dan
senantiasa mengancam kesehatan. Setiap tahun di seluruh dunia ratusan ibu, anak
14

anak dan dewasa meninggal karena penyakit yang sebenarnya masih dapat
dicegah, hal ini dikarenakan kurangnya informasi tentang pentingnya imunisasi.
Bayi bayi yang baru lahir, anak anak usia muda yang bersekolah dan orang
dewasa sama sama memiliki resiko terserang penyakit penyakit menular yang
mematikan seperti, hepatitis B,
dipteri, tetanus, thypus, radang selaput otak dan masih banyak penyakit lainnya
yang sewaktu waktu muncul dan mematikan, untuk itu salah satunya
pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar bayi bayi tersebut terlindungi
hanya dengan melakukan imunisasi (Khalidatnnur & Masriati, 2007).
Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah
penyakit dan merupakan upaya preventif yang mendapatkan prioritas. Sampai saat
ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan
cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan kebal. Ketujuh penyakit
tersebut dimasukkan dalam program imunisasi yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis,
tetanus, polio, campak dan hepatitis B (Mirzal, 2008).
Imunisasi hepatitis B pada bayi adalah upaya memberikan stimulan kepada tubuh
agar secara efektif membentuk antibody terhadap virus hepatitis B (antiHBs).
Program imunisasi hepatitis B dapat berkontribusi menurunkan angka kesakitan
dan kematian sebesar 80 -90% (Idwar, 2000).
b. Program imunisasi Hepatitis B di Indonesia
Imunisasi hepatitis B pada individu dimaksudkan agar individu membetuk
antibodi yang ditunjukan untuk mencegah infeksi oleh virus hepatitis B. Tujuan
utama pemberian imunisasi hepatitis B yaitu untuk menurunkan angka kesakitan
dan kematian yang disebabkan oleh infeksi hepatitis B dan manifestasinya, secara
15

tidak langsung menurunkan angka kesakitan dan kematian karena kanker hati dan
pengerasan hati (Depkes RI 2000).
Pemberian imunisasi hepatitis B sesuai dengan jadwal imunisasi rekomendasi
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2000 berdasarkan status HBsAg pada
saat ibu melahirkan. Bayi yang dilahirkan dari Ibu dengan status HBsAg yang
tidak diketahui, diberikan vaksin rekombinan (HB Vax-II 5g atau engerix B 10
g) atau vaksin plasma derived 10 mg secara intra muscular dalam waktu 12 jam
setelah lahir. Dosisi kedua diberikan pada umur 1-2 bulan dosisi ketiga diberikan
pada umur 6 bulan. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya diketahui HBsAg ibu
positif diberikan segera 0,5 HBIF sebelum usia anak satu minggu. Bayi baru lahir
dari Ibu HBsAg positif dalam waktu 12 jam setelah lahir dberikan 0,5 ml BIG dan
vaksin rekombinan (HB Vax-II 5 mg atau engerix B 10 mg) intra muscular disisi
tubuh yang berlalinan. Dosisi kedua di berika 1-2 bulan sesudahnya dan dosisi
ketiga pada usia 6 bulan. Bayi yang lahir dengan HBsAg negatif diberikan vaksin
rekombinan (HB Vax-II dengan dosisi minimal 2,5 g atau engerix B 10g,
vaksin plasma derived dengan dosisi 10g intar muscular saat lahir sampai 2
bulan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan dan dosisi ketiga diberikan 6 bulan setelah
dosis pertama. Adapun jadwal pelaksanaan program imunisasi nasional adalah
sebagai berikut.

Tabel 1. Jadwal pemberian imunisasi dasar lengkap
Umur Jenis Imunisasi
0-7 hari Hepatitis B (HB 0)
16

2 mgg-1 bln BCG,Polio 1
2 bln DPT/HB 1,polio 2
3 bln DPT/HB 2,Polio 3
4 bln DPT/HB 3,polio 4
9 bln Campak
Sumber; pusat promosi kesehatan kementerian kesehatan RI 2011
c. Tempat Mendapatkan Imunisasi
1. Di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
2. Di Puskesmas, RS, BKIA
3. Praktek dokter/Bidan







BAB III
17

KERANGKA KONSEP , HIPOTESIS DAN DEFINISI
OPERASIONAL

A. KERANGKA KONSEP














B.Hipotesis :
- Ho : Ada hubungan pengetahuan dan Sikap Ibu dengan tindakan
pemberian
Imunisasi hepatitis B 0-7 hari
- Ha : Tidak ada hubungan pengetahuan dan sikap Ibu dengan tindakan
pemberian

Pengetahuan




SIKAP
TINDAKAN IBU DALAM
PEMBERIAN IMUNISASI
HEPATITIS B 0-7 HARI

18

Imunisasi hepatitis B 0 7 hari


C.Definisi Opresional
- Pengetahuan adalah kemampuan ibu untuk memahami tentang Imunisasi
hepatitis B 0- 7 hari
- Sikap adalah setuju atau tidak setuju dalam melakukan imunisasi hepatitis B
0 7 hari
- Imunisasi adalah pemberian vaksin kepada seseorang untuk melindunginya
dari beberapa penyakit tertentu. Imunisasi merupakan upaya untuk mencegah
penyakit lewat peningkatan kekebalan tubuh seseorang.
D. Kriteria objektif
1.Pengetahuan
- Pengetahuan dikatakan baik apabila dari seluruh pertanyaan yang ada pada
kuesioner untuk dijawab oleh responden, responden mampu menjawab > 60
- Pengetahuan dikatakan kurang apabila dari seluruh pertanyaan yang ada pada
kuesioner untuk dijawab oleh responden ,responden hanya mampu menjawab <
60
( Menggunakan Skala Leekert )
2. Sikap
- Sikap dikatakan setuju apabila responden setuju untuk melakukan imunisasi
Hepatitis B 0 7 hari
- Sikap dikatakan kurang apabila responde kurang setuju untuk melakukan
imunisasi
19

Hepatitis B 0 - 7 hari





BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian bersifat deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Data
dianalisia dengan analisis Chi square untuk mengetahui hubungan pengetahuan
dan sikap Ibu dengan imunisasi Hepatitis B 0 7 hari.
B. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
1.Waktu
Waktu penelitian akan dilaksanakan pada tanggal 8 April 2013 sampai dengan
tanggal
8 Mei 2013
2. Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di Puskesmas Tuminting Kecamatan
Tuminting Kota Manado
C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
1.Populasi
20

Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu bayi yang berkunjung ke Puskesmas dan
Posyandu selang 1 Bulan dengan kunjungan 30 orang bayi Karena merupakan
kelompok umur yang mudah menerima inovasi baru dan mempunyai keinginan
kuat untuk menyampaikan pengetahuan dan informasi yang di terimanya kepada
orang lain (Sarwono, 1997)
2.SampeL
Pada penelitian ini diambil total sampling yaitu seluruh bayi beserta dengan
ibu yang melakukan imunisasi Hepatitis B 0 7 hati di Puskesmas Tuminting
maupun Posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tuminting Kota
Manado.

D.Kriteria inklusi dan ekslusi
1. Kriteria inklusi
- Ibu yang bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian
- Ibu yang mempunyai bayi berusia 0 7 hari yang akan di Hepatitis B
2. Kriteria ekslusi
- Ibu yang menolak berpartisipasi dalam penelitian.
- Ibu yang tidak hadir (sakit, izin, alpa)
E.TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Adapun teknik pengumpulan data yaitu melakukan pengambilan data melalui
responden dengan menggunakan questioner.
F.SUMBER DATA
1.Data primer, data yang diperoleh dari Ibu bayi yang melakukan Imunisasi
melalui pengambilan questioner.
21

2.Data sekunder, data yang diperoleh di Puskesmas,Posyandu yang ada diwilayah
kerja Puskesmas Tuminting tentang jumlah kunjungan imunisasi Hepatitis B 0 -
7 hari.
G. TEKNIK PENGOLAHAN DATA
Pengolahan data pada yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa univariat
dan analisis bivariat. Analisis univariat yang digunakan pada penelitian bertujuan
untuk mendeskripsikan sebaran tiap variabel dalam bentuk persentase dan
proporsi. Sedangkan analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan
antara dua variabel yang diteliti.
Menurut Setiadi, (2007), pengolahan data dapat digolongkan menjadi:
1. Editing atau mengedit data, adalah memeriksa daftar pertanyaan yang
telah diserahkan oleh para pengumpul data, pemeriksaan daftar pertanyaan yang
telah selesai ini dilakukan terhadap kelengkapan jawaban.
2. Coding atau mengkode data, adalah mengklasifikasikan jawaban dari para
responden ke dalam kategori. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara
memberi tanda atau kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban.
3. Coding atau mengkode data,, adalah mensortir dengan memilih atau
mengelompokan data menurut jenis yang dikehendaki (klasifikasi data).
4. Entry Data, adalah jawaban yang sudah diberi kode kategori kemudian
dimasukan dalam tabel denga cara manual atau melalui pengolahan komputer.
5. Cleaning, adalah pembersihan data, lihat variabel apakah data sudah benar
atau belum.
6. Mengeluarkan informasi, disesuaikan dengan tujuan penelitian yang
dilakukan.
22

7. Tabulasi Langsung, sistem pengolahan data langsung yang ditabulasi
olehkuesioner. Ini juga metoda yang paling sederhana bila dibandingkan
denganmetoda lain. Tabulasi dilakukan proses perantara yang lain. Tabulasi
langsungbiasanya dikerjakan dengan system tally yaitu cra menghitung data
menurutklasifikasi yang telah ditentukan. Cara lain adalah kuesioner
dikelompokanmenurut jawaban yang diberikan, kemudian dihitung jumlahnya
lalu dimasukankedalam tabel yang sudah disiapkan. Dengan cara ini kemungkinan
salah karenalupa dapat diatasi. kelemahanya adalah pengaturan menjadi rumit bila
jumlahklasifikasi dan sampelnya benar.
8. Penyajian data:
a. Tulisan atau narasi, dibuat dalam bentuk narasi mulai dari pengambilan
data sampai kesimpulan.
b. Tabel atau daftar penyajian dalam bentuk angka yang disususun dalam
kolomdan baris dengan tujuan untuk menunjukan frekuensi kejadian dalam
katagori yang berbeda


H.Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu mendapat adanya rekomendasi dari
institusinya atau pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada institusi/
lembaga tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan
penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi :
1. Informed concent
23

Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang
memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian,
bila subjek menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak
subjek.
2. Anonimity ( tanpa nama )
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencatumkan nama responden,
tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3.Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok data tertentu
yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
I. ANALISIS DATA
Data yang diperoleh dari observasi dan wawancara langsung, diolah secara
komputerisasi dan dianalisis dengan menggunakan uji Chi- Squre pada tingkat
kepercayaan 95% atau 0,05. Hasil dari pengujian disajikan dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi dan narasi dipergunakan sebagai dasar pembahasan dan
penarikan kesimpulan.

Nilai = level signifikansi = 5% = 0,05
24

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden





Karakteristik responden menurut usia ibu menunjukkan bahwa
kebanyakan usia ibu adalah 21-25 tahun sebanyak 17 orang (45,9 %),
sedangkan menurut jumlah anak sebagian besar ibu mempunyai seorang
anak sebanyak 14 orang (37,8%), Karakteristik responden menurut
pendidikan ibu menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki pendidikan
SD sebanyak 21 orang (56,8%) (tabel 1).
Jumlah ibu yang mempunyai pengetahuan rendah sebanyak 8 orang
dari 37 (21,6%) yang berpengetahuan sedang sebanyak 12 orang dari 37
(32,4%) dan yang mempunyai pengetahuan tinggi sebanyak 17 orang dari 37
(45,9%). Berdasarkan data tersebut sebagian besar responden mempunyai
pengetahuan tinggi tentang imunisasi polio (tabel 2).
6%
27%
50%
10%
7%
USIA 15-19
USIA 20-25
USIA 26-30
USIA 31-35
USIA 36-40
25

Jumlah ibu yang mempunyai kecemasan rendah pasca imunisasi polio
sebanyak 21 orang dari 37 (56,8%), yang mempunyai kecemasansedang
pasca imunisasi polio sebanyak 15 orang dari 37 (40,5%) dan yang
mempunyai kecemasan tinggi sebanyak 1 orang dari 37 (2,7%).
Pendidikan


PEKERJAAAN


10%
27%
60%
3%
SD
SMP
SMA
SARJANA
SWASTA
IRT
GURU
26


Berdasarkan
data tersebut diketahui bahwa sebagian besar ibu mempunyai tingkat kecemasan
yang rendah pasca imunisasi polio pada anaknya (tabel3). Delapan ibu yang
berpengetahuan rendah, sebanyak dua orang ibu (5,4%) memiliki tingkat
kecemasan rendah, lima orang ibu (5,4%) memiliki kecemasan sedang dan
seorang ibu (2,7%) memiliki tingkat kecemasan tinggi pasca imunisasi polio pada
anaknya. Duabelas ibu yang berpengetahuansedang, tiga orang ibu (8,1%)
memiliki tingkat pengetahuan rendah dan 9 orang ibu (24,3%) memiliki tingkat
kecemasan sedang pasca imunisasi polio dan dari 17 ibu yang memiliki tingkat
pengetahuan tinggi, 16 ibu (43,2%) memiliki tingkat kecemasan rendah dan
seorang ibu (2,7%) memiliki tingkat kecemasan sedang pasca imunisasi polio
pada anaknya (tabel 4). Berikut ini adalah tabulasi 1 sampai dengan 4 yang
disajikan secara berurutan :

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden di Posyandu Tuminting

Pembahasan
Tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio di Posyandu Tuminting
Tasikmalaya :
Sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan yangbtinggi tentang
imunisasi polio yaitu sebanyak 17 orang (45,9 %), yangbmempunyai tingkat
pengetahuan sedang sebanyak 12 orang (32,4 %) ,dan yang mempunyai tingkat
pengetahuan rendah sebanyak 8 orang (21,6%) dari 37 responden. Hal tersebut
27

bisa dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya yaitu pendidikan, informasi dan
pengalaman (tabel 2 ). Pendidikan sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu
tentang imunisasi polio. Sebagai contoh ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan
SLTP maka tingkat pengetahuannya akan lebih baik daripada ibu yang memiliki
tingkat pendidikan SD. Posyandu Tuminting sebagian besar responden memiliki
tingkat pendidikan SD yaitu sebanyak 21 orang (56,8%) dari 37 responden (tabel
1). Pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu karena semakin tinggi
tingkat pendidikan ibu maka semakin banyak pula informasi yang diperoleh.
Pengetahuan ibu tentang imunisasi tersebut bisadiperoleh baik melalui pendidikan
formal maupun pendidikan non formal. Sebagai contoh pendidikan formal yaitu
dengan mengikuti pendidikan di sekolah kesehatan dan pendidikan non formal
yaitu melalui informasi yang diperoleh ibu baik secara langsung maupun tidak
lansung seperti iklan dan penyuluhan.
Informasi juga mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu tentang imunisai polio.
Informasi ini dapat diperoleh baik melalui media cetak maupun melalui media
elektronik serta informasi dari orang lain maupun kader kesehatan. Sebagai
contoh informasi yang diperoleh melalui media cetak maupun media elektronik
yaitu dengan adanya iklan PIN (Pekan Imunisasi Nasional) yang mengingatkan
tentang pentingnya imunisasi polio. Informasi dari orang lain dan kader kesehatan
yang ada di Posyandu melalui penyuluhan juga sangat mempengaruhi tingkat
pengetahuan ibu tentang imunisasi poio. Hal ini akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan ibu tentang imunisasi polio karena semakin banyak informasi yang
diperoleh maka semakin banyak pula tingkat pengetahuan ibu tentang imunsiasi
polio. Pengetahuan ibu tentang imunisasi polio juga dipengaruhi oleh pengalaman
28

ibu mengimunisasi polio anaknya selain faktor pendidikan dan informasi. Sebagai
contoh ibu yang mempunyai jumlah anak lebih dari satu dan selalu melakukan
imunisasi polio tanpa mendapatkan efek samping yang berarti pasca imunisasi
polio, maka hal tersebut akan dilakukan kembali pada anak berikutnya.
Sebaliknya, ibu yang mempunyai seorang anak pengalaman mengimunsasi polio
anaknya masih sangat kurang karena baru didapatkan pada anak pertama.
Sebagian besar responden di Posyandu Tuminting memiliki seorang anak
sebanyak 14 orang (37,3%) (tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman ibu
dapat digunakan sebagi upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang
kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang
dihadapinya pada massa lalu. Menurut Notoatmodjo (2003) pengalaman adalah
guru yang baik yang merupakan sumber pengetahuan atau suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan.


Kecemasan ibu pasca imunisasi polio di Posyandu Tuminting
Tasikmalaya
Ibu yang mempunyai kecemasan rendah pasca imunisasi polio
sebanyak 21 orang dari 37 (56,8%), yang mempunyai kecemasan sedang
pasca imunisasi polio sebanyak 15 orang dari 37 (40,5%) dan yang
mempunyai kecemasan tinggi sebanyak 1 orang dari 37 (2,7%) (tabel 3).
Data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar ibu mempunyai tingkat
kecemasan yang rendah pasca imunisasi polio pada anaknya. Rendahnya
tingkat kecemasan ibu pasca imunisasi polio ulang di Posyandu Tuminting
29

karena keaktifan responden dalan mengikuti penyuluhan tentang imunisasi
polio yang dilakukan oleh kader posyandu tersebut. Selain aktif mengikuti
kegiatan penyuluhan kesehatan, tingkat kecemasan ibu pasca imunisasi polio
ulang di Posyandu Tuminting rendah juga dikarenakan adanya sweeping
yang dilakukan oleh kader kesehatan dalam memberikan imunisasi polio
kepada ibu yang mempunyai balita sehingga dengan adanya sweeping serta
penjelasan dari kader posyandu tentang pentingnya imunisasi polio maka ibu
mau mengimunisasi polio anaknya kemudian setelah ibu memberi imunisasi
polio anaknya dan tidak mendapatkan efek samping yang berarti pasca
imunisasi polio maka ibu tersebut mau melakukan imunisasi polio ulang
berikutnya sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Menurut Judarwanto (2004) kecemasan ibu untuk tidak melakukan
imunisasi karena adanya pemberitaan miring tentang efek imunisasi. Peran
petugas kesehatan sangat diperlukan dalam memberikan informasi tentang
imunisasi polio kepada ibu karena informasi ini akan membentuk
kepercayaan ibu yang akan mempengaruhi tingkat kecemasan ibu pasca
imunisasi polio. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahmat (1998) yang
mengemukakan bahwa pengatahuan akan membentuk kepercayaan yang
selanjutnya akan memberiak perspektif pada manusia dalam mempersepsi
kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan
sikap terhadap objek tertentu.
Hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio
dengan tingkat kecemasan ibu pasca imunisasi
Hasil statistik Spearman Rho () menunjukkan bahwa korelasi antara
30

tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polo dengan tingkat kecemasan
ibu pasca imunisasi polio ulang pada balita adalah -0,658 dengan taraf
signifikan = 0,01 sedangkan hasil pengujian didapatkan p value= 0,000. Hasil
tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hitung lebih besar dari t tabel,
artinya ada hubungan yang positif antara tingkat pengetahuan ibu tentang
imunisasi polio dengan tingkat kecemasan ibu pasca imunisasi polio ulang
pada balita di Posyandu Tuminting Tasikmalaya.
Dari 8 ibu yang berpengetahuan rendah sebanyak dua ibu (5,4%)
memiliki tingkat kecemasan rendah, 5 ibu (5,4%) memiliki kecemasan sedang
dan seorang ibu (2,7%) memiliki tingkat kecemasan tinggi pasca imunisasi
polio pda anaknya. Dari 12 ibu yang berpengetahuan sedang, tiga ibu (8,1%)
memiliki tingkat pengetahuan rendah dan sembilan ibu (24,3%) memiliki
tingkat kecemasan sedang pasca imunisasi polio dan dari 17 ibu yang
memiliki tingkat pengetahuan tinggi, 16 ibu (43,2%) memiliki tingkat
kecemasan rendah dan seorang ibu (2,7%) memiliki tingkat kecemasan
sedang pasca imunisasi polio pada balita (tabel 4). Dari tabel tersebut dapat
ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu tentang
imunisasi polio maka semakin rendah tingkat kecemasan ibu pasca imunisasi
polo. Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan serta jumlah informasi yang dimilki
seseorang, semakin banyak informasi yang dimiliki maka semakin tinggi pula
tingkat pengetahuannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003)
yang menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
penting untuk terbentuknya tindakan seeorang. Dari pengalaman dan
penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahan akan
31

langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Dalam hal
ini pengalaman ibu yang telah memiliki anak sebelumnya merupakan sumber
pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran pegatahuan
tentang imunisasi polio dengan cara mengingat atau mengulang kembali
pengalaman yang diperolehnya. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan
sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Pertama,
pengetahuan ibu tentang imunisasi polio sebagian besar berkategori tinggi.
Kedua, kecemasan ibu pasca imunisasi polio sebagian besar berkategori
rendah. Ketiga, ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang
imunisasi polio dengan tingkat kecemasan ibu pasca imunisasi polio ulang
pada balita di Posyandu Tuminting Taskmalaya pada bulan Desember 2007.
Dalam hubungan tersebut kecemasan ibu pasca imunisasi polio ulang
dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio.









Jadwal Kegiatan
32


















No Kegiatan
Maret April Mei
1 Survei Data
2 Studi Perpustakaan
3 Menyusun Proposal
4 Konsultasi
5 Ujian Proposal
6 Perbaikan
7 Pengumpulan data
8 Pengolahan Data
9 Penyelesaian Laporan
10 Konsultasi
11 Perbaikan laporan
12 Ujian Seminar Hasil
13 Perbaikan
14 Ujian Komprehensif
15 Perbaikan
33
















HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN TINDAKAN
PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B PADA BAYI 0 7 HARI
DI PUSKESMAS TUMINTING



Nama Ibu/ Inisial :
34

Umur Ibu :
Nama bayi :
Anak Ke :
Umur bayi :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat :
Petunjuk pengisian
a. Jawablah pertanyaan dibawah ini berdasarkan pengetahuan anda
b. Berikan tanda () pada pertanyaan yang dianggap benar.
c. Pilih (ya) jika pertanyaan / pernyataan yang anda tahu dan pilih (tidak)
jika pertanyaan / pernyataan yang anda tidak tahu.

KUESIONER PENGETAHUAN
No Pernyataan Ya Tidak
1. Apakah Ibu tahu tentang imunisasi Hepatitis B
2. Apakah Imunisasi Hepatitis B diberikan kepada bayi baru lahir
3. Apakah Imunisasi Hepatitis B diberikan kepada bayi usia diatas 7 hari
4. Apakah Ibu tahu manfaat pemberian imunisasi Hepatitis B
5.
Apakah Imunisasi Hepatitis B bertujuan untuk mencegah penyakit Hepatitis
B

6. Adakah akibat pemberian imunisasi Hepatitis B terjadi demam pada bayi
7.
Adakah Informasi pemberian imunisasi Hepatitis B diperoleh dari tenaga
kesehatan

35

8.
Dimana ibu mendapatkan imunisasi Hepatitis B di Posyandu, Puskesmas
atau Rumah Sakit

9. Apakah Pemberian imunisasi Hepatitis B diberikan lebih dari satu kali
10.
Apakah Pemberian imunisasi Hepatitis B dapat diberikan pada bayi yang
sedang sakit



KUESIONER SIKAP
NO Pernyataan Setuju
Tidak
Setuju
1. Apakah ibu Setuju program imunisasi hepatitis B ?
2. Apakah ibu setuju manfaat imunisasi hepatitis B bagi kesehatan
bayi ?

3. Apakah Ibu setuju kuarangnya pengetahuan tentang pemberian
imunisasi hepatitis B karena kurangnya sosialisasi dari petugas
Kesehatan ?

4. Apakah ibu setuju akibat pemberian imunisasi hepatitis B membuat
ibu kuatir akan kesehatan anak ibu ?

5. Apakah ibu setuju jika anak ibu sakit tidak bisa di imunisasi
Hepatitis B ?

6. Apakah ibu setuju keraguan melakukan imunisasi hepatitis B pada
anak karena kurangnya pengetahuan tentang imunisasi hepatitis ?

7. Apakah ibu setuju jika tidak diberi imunisasi hepatitis B dapat
berakibat gangguan kesehatan pada anak ibu ?

36

8. Apakah ibu setuju Pemberian imunisasi hepatitis B untuk
meningkatkan kekebalan tubuh ?

9. Apakah ibu setuju dengan pemberian imunisasi hepatitis B dapat
melindungi kesehatan anak ibu ?

10. Apakah ibu setuju yang memberikan imunisasi hepatitis B harus
dokter dan petugas kesehatan yang terlatih ?







KUESIONER PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B 0 7 HARI
Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0 7 hari pada bayi baru lahir

1. Apakah ibu telah membawa bayi ibu untuk dimunisasi hepatitis B
?
a. Ya b. Tidak
2. Usia berapa bayi ibu dilakukan imunisasi hepatitis B ?
a.Usia 0 - 7 hari b. diatas 1 tahun
3. Jika bayi ibu sakit bolehkah ibu membawa bayi ibu untuk di Imunisasi ?
a. Ya b. Tidak
4. Jika bayi ibu berat badan bayi baru lahir dengan berat badan < 2.500 g
dapatkah di imunisasi hepatis B ?
37

a. Ya b. Tidak
5. Jika suami ibu atau keluarga ibi melarang ibu untuk dilakukan imunisasi
Hepatitis B apakah ibu akan mengikuti anjuran mereka ?
a. Ya b. Tidak

CROSSTABS /TABLES=VAR00003 BY VAR00002 /FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ CC /CELLS=COUNT TOTAL /COUNT ROUND CELL.


Crosstabs


Notes
Output Created 09-May-2013 14:07:02
Comments

Input Active Dataset DataSet0
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 30
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each table are based on all the
cases with valid data in the specified
range(s) for all variables in each table.
Syntax CROSSTABS
/TABLES=VAR00003 BY VAR00002
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ CC
/CELLS=COUNT TOTAL
/COUNT ROUND CELL.

Resources Processor Time 0:00:00.016
Elapsed Time 0:00:00.012
Dimensions Requested 2
Cells Available 174762
38



[DataSet0]


Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent
pengetahuan * TINDAKAN
PEMBERIAN IMUNISASI
30 100.0% 0 .0% 30 100.0%


pengetahuan * TINDAKAN PEMBERIAN IMUNISASI Crosstabulation

TINDAKAN PEMBERIAN IMUNISASI
Total

BAIK KURANG
pengetahuan kurang Count 6 3 9
% of Total 20.0% 10.0% 30.0%
baik Count 3 1 4
% of Total 10.0% 3.3% 13.3%
sangat baik Count 2 15 17
% of Total 6.7% 50.0% 56.7%
Total Count 11 19 30
% of Total 36.7% 63.3% 100.0%


Chi-Square Tests

Value df
Asymp. Sig. (2-
sided)
Pearson Chi-Square 10.559
a
2 .005
Likelihood Ratio 11.158 2 .004
Linear-by-Linear Association 8.384 1 .004
N of Valid Cases 30

39

Chi-Square Tests

Value df
Asymp. Sig. (2-
sided)
Pearson Chi-Square 10.559
a
2 .005
Likelihood Ratio 11.158 2 .004
Linear-by-Linear Association 8.384 1 .004
N of Valid Cases 30

a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 1.47.


Symmetric Measures

Value Approx. Sig.
Nominal by Nominal Contingency Coefficient .510 .005
N of Valid Cases 30



Crosstabs


Notes
Output Created 09-May-2013 13:27:48
Comments

Input Active Dataset DataSet0
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 30
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each table are based on all the
cases with valid data in the specified
range(s) for all variables in each table.
40

Syntax CROSSTABS
/TABLES=VAR00001 BY VAR00002
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ CC
/CELLS=COUNT TOTAL
/COUNT ROUND CELL.

Resources Processor Time 0:00:00.000
Elapsed Time 0:00:00.011
Dimensions Requested 2
Cells Available 174762


[DataSet0]


Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent
SIKAP * TINDAKAN
PEMBERIAN IMUNISASI
30 100.0% 0 .0% 30 100.0%


SIKAP * TINDAKAN PEMBERIAN IMUNISASI Crosstabulation

TINDAKAN PEMBERIAN IMUNISASI
Total

BAIK KURANG
SIKAP KURANG BAIK Count 3 4 7
% of Total 10.0% 13.3% 23.3%
BAIK Count 7 4 11
% of Total 23.3% 13.3% 36.7%
SANGAT BAIK Count 1 11 12
% of Total 3.3% 36.7% 40.0%
Total Count 11 19 30
% of Total 36.7% 63.3% 100.0%
41



Chi-Square Tests

Value df
Asymp. Sig. (2-
sided)
Pearson Chi-Square 7.709
a
2 .021
Likelihood Ratio 8.564 2 .014
Linear-by-Linear Association 3.367 1 .067
N of Valid Cases 30

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 2.57.


Symmetric Measures

Value Approx. Sig.
Nominal by Nominal Contingency Coefficient .452 .021
N of Valid Cases 30



CROSSTABS /TABLES=VAR00001 BY VAR00002 /FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ CC /CELLS=COUNT TOTAL /COUNT ROUND CELL.