Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Malnutrisi (gizi buruk) atau Kurang Energi Protein (KEP) dan defisiensi
mikronutrien merupakan masalah yang membutuhkan perhatian khusus terutama
dinegara-negara berkembang, yang merupakanfaktor resiko penting terjadinya
kesakitan dan kematian pada ibu hamil dan balita.
Di Indonesia Kurangnya Energi Protein dan defisiensi mikronutrien juga
menjadi masalah kesehatan penting dan darurat di masyarakat terutama anak
balita.Kasus kematian balita akibat gizi buruk kembali berulang. terjadi secara pasif
dengan wilayah yang hampir merata di seluruh tanah air.Sejauh pemantauan yang
telah dilakukan temuan kasus tersebut terjadi setelah anak-anak mengalami fase
kritis. Sementara itu, perawatan.
intensif baru dilakukan setelah anak-anak itu benar-benar tidak berdaya.
Berarti sebelum anak-anak itu memasuki fase kritis, perhatian terhadap hak hidup dan
kepentingan terbaiknya terabaikan(Yayasan Pemantau Hak Anak
(YPHA),2009).Badan kesehatan dunia WHO dan UNICEF menyatakan terjadinya
gagal tumbuh akibat kurang gizi pada masa bayi mengakibatkan terjadinya
penurunan IQ 11 point lebih rendah dibanding anak yang tidak kurang gizi.
Gizi kurang dan gizi buruk saat ini terjadi hampir di semua Kabupaten dan
Kota di Indonesia yaitu 110 Kabupaten/Kota dari 440 Kabupaten/Kota di Indonesia
dengan prevalensi di atas 30%. Kondisi gizi buruk berpotensi terhadap angka
kematian. Hal ini dilihat dari tingginya jumlah kasus gizi buruk yang meninggal di
Indonesia selama tahun 2005 yaitu 286 balita. Angka ini diperkirakan lebih tinggi
dari yang sebenarnya karena data ini berdasarkan laporan yang terdata dari 7 propinsi.
Kasus-kasus kematian balita akibat gizi buruk yang tidak dilaporkan ternyata masih
banyak.
Dinas Kesehatan (Dinkes) mempunyai peranan penting dalam masalah
gizi,seperti pengaturan dan monitoring gizi masyarakat. Selain itu Dinkes juga
mempunyai peran penting dalam pengumpulan bahan dan penyebar luasan informasi
mengenai penyelenggaraan usaha pelaksanaan dan pembinaan kesehatan anak
melalui Rumah Sakit, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas),Puskemas pembantu,
dan Poliklinik Desa (Polindes) (Dinkes, 2009).
Pemberian Makanan Tambahan adalah program intervensi bagi balita yang
menderita kurang gizi dimana tujuannya adalah untuk meningkatkan status gizi anak
serta untuk mencukupi kebutuhan zat gizi anak agar tercapainya status gizi dan
kondisi gizi yang baik sesuai dengan umur anak tersebut. Sedangkan pengertian
makanan untuk pemulihan gizi adalah makanan padat energi yang diperkaya dengan
vitamin dan mineral, diberikan kepada balita gizi buruk selama masa pemulihan
(Kemenkes RI, 2011).
Menurut Persagi (2009), pemberian tambahan makanan di samping makanan
yang dimakan sehari hari dengan tujuan memulihkan keadaan gizi dan kesehatan.
PMT dapat berupa makanan lokal atau makanan pabrik. Program Makanan
Tambahan Pemulihan (PMT P) diberikan kepada anak gizi buruk dan gizi kurang
yang jumlah harinya tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan status gizi anak. Ibu
yang memiliki anak di bawah lima tahun yang menderita gizi kurang / gizi buruk
diberikan satu paket PMT Pemulihan.
Menurut Marpaung dalam Lestrina (2009) gizi buruk dipengaruhi banyak
faktor yang saling terkait. Secara langsung dan tidak langsung.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis mengajukan rumusan
masalah yang akan diteliti : Apakah ada hubungan pengetahuan dan sikap ibu
terhadap malnutrisi
C.Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu terhadap malnutrisi
di
1.Tujuan umum
mengetahui pengetahuan dan sikap ibu terhadap malnutrisi Di
D.Manfaat Penelitian
a. Institusi Pendidikan
Penelitian ini di harapakan akan menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam
bidang keperawatan dan menjadi bahan masukan untuk penelitian lebih lanjut yang
terkait dengan pelayanan keperawatan dan tingkat pengetahuan ibu terhadap
Malnutrisi.
b. Lokasi Penelitian
Sebagai bahan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terhadap
pasien sehingg tingkat pengetahuan lebih tercapai
c. Peneliti
Penelitian ini dapat menjadi bahan informasi tentang pelayan keperawatan dengan
tingkat kepuasaanpasien,sehingga peneliti yang lain lebih tertarik lagi dalam meneliti
tentang pelayanan keperawatn dengan tingkat kepuasaan pasien institusi manapun
dan khususnya dalam bidang kesehatan




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan merupakan proses tahu yang terjadi setelah orang lain melakukan
penginderaan mata,hidung,telinga,dan sebagainya yang dimiliki dan dengan
sendirinya akan mengahasilkan pengetahuan seseorang yang mempunyai intensitas
yang berbeda (Notoadmodjo,2005)
Secara garis besar ada 6 tingkat pengetahuan yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah
mengamati sesuatu atau rangsangan yang telah diterima untuk mengetahui dan
mengukur bahwa orang tahu sesuatu dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan kemampuan untuk menjelaskan atau menginterprestasikan
secara benar tentang objek yang telah diketahui.
c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan kemampuan untuk menggunakan atau mengaplikasikan prinsip
yang telah diketahui tersebut pada situasi yang lain.




d. Analisa (Analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan memisahkan kemauan
mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu
masalah/objek yang diketahui.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesi diartikan kemampuan seseorang untuk merangkum.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan penilaian terhadap suatu
objek tertentu yang didasarkan pada kriteria yang telah ditentukan sendiri.
B. Tinjauan Umum Tentang Sikap
1. Definisi Sikap
Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur melalui
pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon
individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya (Widayatun, 1999).
Menurut Notoatmodjo (2003) sikap merupakan reaksi atau respon yang masih
tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak
dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku
yang tertutup. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
Beberapa batasan tentang sikap yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) antara
lain, menurut Campbell (1950) mengemukakan batasan tentang sikap yaitu tingkah
laku sosial seseorang merupakan sebuah syndrom atau gejala dari konsistensi reseptor
dengan nilai objek sosialnya. Dari batasan diatas dapat disimpulkan bahwa
manifestasi dari sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya ditafsirkan
terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap belum merupakan suatu tindakan
atau aktivitas, akan tetapi merupakan suatu predisposisi tindakan suatu perilaku.
Sikap masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah
laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek
dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo,
2003).
2. Komponen pokok Sikap
Menurut Alport (1954) yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) ada tiga
komponen pokok sikap yaitu :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).
Kecenderungan untuk bertindak laki-laki dan perempuan berbeda. Hal ini
dikarenakan, perempuan lebih banyak menggunakan intuisinya dalam bertindak
dibanding laki-laki. Perempuan lebih banyak memilih dalam setiap tindakannya dan
selalu memikirkan faktor resiko dari perbuatannya sehingga kecenderungan untuk
bertindakpun tidak seagresif kaum lelaki. Laki-laki lebih banyak menggunakan
emosionalnya dibanding intuisinya tanpa memikirkan resiko dari tindakannya,
sehingga kaum lelaki paling sering terkena resiko tindakannya dibanding perempuan
(Smartpsikologi, 2007).
Tiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude).
Dalam pembentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi
memegang peranan penting.
3. Pembentukan Sikap
Menurut Azwar (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap antara
lain :
a. Pengalaman pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi
penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Middlebrook (1974) mengatakan bahwa
tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psokologis cenderung akan
membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau
searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Keinginan ini antara lain
dimotifasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik
dengan orang yang dianggap penting tersebut. Di antara orang yang biasanya
dianggap penting oleh individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih
tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri, suami, dll.
c. Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah
karena kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan sikap kita.
d. Media massa
Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa
pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Pesan-
pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat akan memberi
dasar afektif dalam menilai sesuatu.
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Kedua lembaga ini meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam individu
sehingga kedua lembaga ini merupakan suatu sistem yang mempunyai pengaruh
dalam pembentukan sikap.
f. Pengaruh faktor emosional
Suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi
sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan
ego. Peran gender sangat mempengaruhi keadaan emosional, perempuan menekankan
pada tanggung Jawab sosial dalam emosinya. Perempuan lebih merasa bertanggung
Jawab terhadap emosi orang lain. Mereka sangat memperhatikan keadaan emosi
orang lain sehingga lebih mampu untuk memahami perubahan emosional. Oleh sebab
itu kaum perempuan biasanya jauh lebih memiliki empati terhadap penderitaan orang
lain ketimbang laki-laki. Masyarakat memiliki stereotip bahwa laki-laki kurang
mampu menghayati perasaan emosionalnya. Adapun perempuan sangat menghayati
emosinya. Laki-laki mudah menyembunyikan emosi yang dialaminya, sedangkan
perempuan sulit menyembunyikannya. Oleh sebab itu maka perempuan cenderung
dilihat lebih emosional ketimbang laki-laki. Masyarakat cenderung menganggap
bahwa perempuan lebih mudah merasakan takut, cemas dan sedih daripada laki-laki.
Sedangkan laki-laki dianggap lebih mudah untuk marah (Smartpsikologi, 2007).
4. Berbagai tingkatan Sikap
Tingkatan sikap menurut Notoatmodjo
(2003) adalah sebagai berikut :
a. Menerima (receiving)
Menerima dapat diartikan bahwa orang (subjek) mau dan mempertahankan stimulus
yang diberikan (objek).
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang
diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan
itu benar atau salah, adalah berarti orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (valuing)
Indikasi sikap ketiga adalah mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Sikap yang paling tinggi adalah bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya dengan segala resiko.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara
langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap
suatu objek. Sedangkan secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-
pertanyaan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden. Dan biasanya
jawaban berada dalam rentang antara sangat setuju sampai sangat tidak setuju.

C.Tinjauan Umum Malnutrisi
1. Pengertian
Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguan dalam
penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas. Malnutrisi
dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan maupun adanya gangguan
terhadap absorbsi, pencernaan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh.
Malnutrisi merupakan masalah yang menjadi perhatian internasional serta
memiliki berbagai sebab yang saling berkaitan. Penyebab malnutrisi menurut
kerangka konseptual UNICEF dapat dibedakan menjadi penyebab langsung
(immediate cause), penyebab tidak langsung (underlying cause) dan penyebab dasar
(basic cause ) kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian
makanan yang salah.
Kurangnya asupan makanan dan adanya penyakit merupakan penyebab
langsung malnutrisi yang paling penting. Penyakit, terutama penyakit infeksi,
mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh.
Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah
makanan yang diberikan kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara
pemberian makanan yang salah. Kurangnya asupan makanan dan adanya penyakit
merupakan penyebab langsung malnutrisi yang paling penting. Penyakit, terutama
penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien
oleh tubuh. Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya
jumlah makanan yang diberikan.
Di Indonesia, angka kebutuhan energi untuk kelompok umur 0-6 bulan adalah
550 kkal/hari, kelompok umur 7-12 bulan 650 kkal/hari, kelompok umur 1-3 tahun
1000 kkal/hari, dan kelompok umur 4-6 tahun 1550 kkal/hari.Pemberian makanan
tambahan sebagai pendamping ASI dimulai saat anak berusia 6 bulan dengan tetap
memberikan ASI.
Pemberian makanan tambahan ASI dinaikkan bertahap dari segi jumlah,
frekuensi pemberian, dan jenis dan konsistensi makanan yang diberikan. Untuk anak
yang mendapatkan ASI, rata-rata makanan tambahan yang harus diberikan 2-3
kali/hari untuk usia 6-8 bulan, 3-4 kali/hari untuk usia 9-11 bulan dan 4-5 kali/hari
usia 12-24 bulan. Jika densitas dalam makanan rendah atau anak tidak lagi
mendapatkan ASI mungkin diperlukan frekuensi makan yang lebih sering. Variasi
makanan diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrien. Daging, ayam, ikan atau telur
harus diberikan setiap hari atau sesering mungkin. Demikian pula buah dan sayuran,
sebaiknya diberikan setiap hari. Kegagalan untuk menyediakan asupan makanan
sesuai angka kebutuhan ini secara terus-menerus akan menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan perkembangan.
Cara pemberian makanan yang salah dapat dapat disebabkan karena ibu tidak
memiliki pengetahuan yang cukup, misalnya mengenai pemberian ASI eksklusif
maupun cara pemberian makanan pendamping ASI. Ibu seharusnya mendapatkan
informasi yang lengkap dan obyektif mengenai cara pemberian makanan yang bebas
dari pengaruh komersial. Mereka perlu mengetahui masa pemberian ASI yang
dianjurkan; waktu dimulainya pemberian makanan tambahan; jenis makanan apa
yang harus diberikan, berapa banyak dan berapa sering makanan diberikan, dan
bagaimana cara memberikan makanan dengan aman.
Kematian akibat penyakit dapat disebabkan salah satu atau kombinasi dari
berbagai penyebab lain seperti rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan,
kurangnya suplai air bersih dan fasilitas sanitasi, kurangnya kebersihan makanan serta
pengasuhan anak yang tidak memadai. Pengasuhan anak yang tidak memadai sendiri
dapat dikarenakan ibu bekerja sehingga ibu juga memiliki lebih sedikit waktu untuk
memberi makan anaknya.
Penyebab tidak langsung yang dapat menyebabkan malnutrisi kurangnya
ketahanan pangan keluarga, kualitas perawatan ibu dan anak, pelayanan kesehatan
serta sanitasi lingkungan. Ketahanan pangan dapat dijabarkan sebagai kemampuan
keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan makanan. Sebagai tambahan, perlu
diperhatikan pengaruh produksi bahan makanan keluarga terhadap beban kerja ibu
dan distribusi makanan untuk anggota keluarga. Sanitasi lingkungan berpengaruh
terhadap kesehatan, produksi serta persiapan makanan untuk dikonsumsi serta
kebersihan
Pelayanan kesehatan bukan hanya harus tersedia, namun juga harus dapat
diakses dengan mudah oleh ibu dan anak. Status pendidikan dan ekonomi perempuan
yang rendah menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memperbaiki status gizi
keluarga. Adapun penyebab dasar berupa kondisi sosial, politik dan ekonomi negara.
Malnutrisi yang dapat berupa gizi kurang atau gizi buruk, dapat
bermanifestasi bukan hanya di tingkat individual namun juga di tingkat rumah
tangga, masyarakat, nasional dan internasional sehingga upaya untuk mengatasinya
perlu dilaksanakan secara berkesinambungan di berbagai tingkatan dengan
melibatkan berbagai sektor.Dengan demikian, penting untuk mengenali penyebab gizi
kurang dan gizi buruk di tingkat individu, masyarakat, maupun negara agar
selanjutnya dapat dilakukan tindakan yang sesuai untuk mengatasinya.
UNICEF memperkenalkan pendekatan Assessment, Analysis and Action
dalam penanganan malnutrisi. Setelah adanya penilaian (assessment) mengenai
adanya malnutrisi, selanjutnya perlu dilakukan analisis mengenai penyebabnya.
Berdasarkan analisis penyebab dan penilaian sumber daya yang tersedia, tindakan
(action) dirancang dan dilaksanakan untuk mengatasi masalah. Malnutrisi merupakan
manifestasi dari serangkaian penyebab yang saling berkaitan. Namun demikian,
identifikasi penyebab langsung malnutrisi pada kasus-kasus individual ataupun pada
masyarakat dengan prevalensi malnutrisi yang tinggi tetap relevan untuk dilakukan
agar dapat dilakukan penanganan yang sesuai konteks kasus maupun masyarakat.
Secara klinis malnutrisi dinyatakan sebagai gizi kurang dan gizi buruk. Gizi
kurang belum menunjukkan gejala khas, belum ada kelainan biokimia, hanya
dijumpai gangguan pertumbuhan. Gangguan pertumbuhan dapat terjadi dalam waktu
singkat dan dapat terjadi dalam waktu yang cukup lama. Gangguan pertumbuhan
dalam waktu yang singkat sering terjadi pada perubahan berat badan sebagai akibat
menurunnya nafsu makan, sakit seperti diare dan ISPA, atau karena kurang cukupnya
makanan yang dikonsumsi. Sedangkan gangguan pertumbuhan yang berlangsung
lama dapat terlihat pada hambatan pertambahan panjang badan.
Pada gizi buruk disamping gejala klinis didapatkan pula kelainan biokimia
yang khas sesuai bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis yaitu
kwashiorkor, marasmus,dan marasmus kwashiorkor.

Kwashiorkor adalah gangguan
gizi karena kekurangan protein biasa sering disebut busung lapar.

Gejala yang timbul
diantaranya adalah edema di seluruh tubuh terutama punggung kaki, wajah membulat
dan sembab, perubahan status mental: rewel kadang apatis, menolak segala jenis
makanan (anoreksia), pembesaran jaringan hati, rambut kusam dan mudah dicabut,
gangguan kulit yang disebut crazy pavement,pandangan mata tampak sayu. Pada
umumnya penderita sering rewel dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak
tampak apatis atau kesadaran yang menurun.
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang
timbul diantaranya tampak sangat kurus (tinggal tulang terbungkus kulit), muka
seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit, perut cekung,
kulit keriput, rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan pencernaan (sering
diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak
menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Pada stadium lanjut
yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.







D.Kejadian Malnutrisi




F.Ciri-Ciri Malnutrisi
Ciri-ciri dari malnutrisi yaitu antara lain :
1. Wajah seperti orang tua
2. Cengeng dan rewel
3. Tampak kurus
4. Rambut tipis
5. Wajah membulat
6. Kelaianan kulit
G.Faktor Yang Mempengaruhi Malnutrisi
Faktor mempengaruhui malnutrisi yaitu :
1. Umur
2. Jumlah anak
3. Faktor ekonomi
4. Pendapatan
5. Pekerjaan




















BAB III
KERANGKA KONSEP

A.Kerangka Konsep














Pengetahuan
Sikap
Malnutrisi

Variabel
Definisi
Operasional

Parameter Alat ukur Skala
Skor

Independen :

l

DEPENDEN :










B.Hipotesis

C.Definisi Operasional










BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A.Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yaitu untuk
memperoleh hubungan pengetahuan dan sikap terhadap Malnutrisi.
B.Lokasi Dan Waktu Penelitian
1.Lokasi :
Lokasi penelitian di Puskesmas Paniki
2.Waktu Penelitian
Waktu :
C.Populasi dan Sampel
Populasi
1. Populasi dalam penelitian adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah
ditetapkan (Nursalam,2008)
Sampel
2. Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti yang
dianggap mewakili populasi (Notoadmodjo,2002).


D.Kriteria Inklusi dan Ekslusi
1. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi
2. Kriteria ekslusi