Anda di halaman 1dari 19

1.

ANALISA DATA
No. Data Subyektif dan Data
Obyektif
Kemungkinan
Penyebab
Masalah
1. Data Subjektif:
Tn. C mengeluh nyeri pada luka
bekas operasi, rasanya seperti di
tusuk-tusuk, nyeri tidak menyebar,
dan skala nyeri 4-5, nyeri hanya
muncul pada saat beraktivitas atau
membalikkan badan.

Data Objektif:
- TTV: TD = 120/90 mmHg, HR
= 80 x/menit, RR = 20 x/menit.
- Klien tampak meringis.
- Pasien tampak memegang
tempat yang sakit.
- Post operasi pada hari pertama.
- Tampak luka bekas operasi
dipinggang sebelah kiri.
Batu ginjal

Pembedahan

Pascaoperatif

Efek anestesi

Nyeri pascaoperatif
meningkat sekunder

Reaksi anestesi

Perdarahan pascaoperatif

Respon tubuh

Nyeri
Nyeri














2. Data Subjektif: -
Data Objektif:
- Suhu = 38
0
C
- Postop Neprholithiasis dihari
pertama.
- Hasil laboratorium tanggal 10-
12-2012 Kreatinin 1,3 mg/dL,
Protein positip (+), darah
positip (++), Nitrit positip,
Leukosit eksterase positip
(+++), leukosit 159/LPB,
Eritrosit 18/LPB, bakteri positip
Pembentukan batu ginjal

Rencana pembedaha

Pascaoperatif

Efek anestesi

Adanya luka bedah,
adanya sistem drainase

Risiko tinggi infeksi
Risiko tinggi
infeksi


(+).
- Hasil Radiologi BNO (Blass
Nier Oversight) tampak batu
staghorn di ginjal kiri suspect
batu di pool bawah ginjal kiri.


3. Data Subjektif: -
Data Objektif:
- Hematuria
- Hasil pemeriksaan tanggal 11-
12-2012 Hemoglobin = 13,6
g/dL
- Hasil pemeriksaan urinalisa:
darah = positif (++)
- Pasien post op Neprholithiasis
dihari pertama.
- Pada urine dari pigtail warna
kuning kemerahan

Berbagai faktor yang
menimbulkan
terbentuknya batu

Pembentukan batu ginjal

Respons infeksi

Rencana pembedahan

Efek intervensi bedah

Perdarahan pascaoperatif

Risiko perdarahan
Resiko
Perdarahan
4. Data subjektif:
- Pasien mengungkapkan
sebelumnya pernah dirawat di
RS karena penyakit yang sama
(batu ginjal) dan operasi
sebanyak 3 kali.
- Air yang dkonsumsi pasien
sebagai air minum mengandung
kapur.

Data Objektif:
- Pasien tidak mengetahui tentang
penyakitnya.
Pembentukan Batu ginjal

Respons infeksi: Infeksi
akibat iritasi batu

Nyeri kolik

Rencana Pemeriksaan
diagnostik dan rencana
pembedahan

Perubahan gaya hidup dan
perilaku
Defisit
pengetahuan




Berdasarakan analisa data diatas, maka dapat diambil diagnosa keperawatan:
1. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder
akibat post operasi.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder akibat
tindakan pembedahan.
3. Risiko perdarahan berhubungan dengan efek samping terkait terapi tindakan
pembedahan.
4. Defisit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi berhubungan
dengan kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan
kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada

- Pasien tidak mengetahui tentang
diet untuk batu ginjal.

Kurangnya pengetahuan


2. Patoflowdiagram berdasarkan kasus diatas.





















Kelainan metabolik
pemecahan purin
Faktor gaya hidup.
- Air minum mengandung kapur
- Suka mengonsumsi susu, ayam goreng, dan
kacang tanah
Larutan metastabil
Hiperkalesemia
Hiperuresemia
Peningkatan absorpsi di usus
dan mobilisasi dari tulang
Paratiroid hormon
Kalsitrol


Konsentrasi zat pembentuk batu
Peningkatan filtrasi dan
ekskresi zat penghasil batu
Pemenuhan Informasi
Kecemasan
Infeksi saluran kemih
Pengendapan batu
Respons obstruksi
Proses kristalisasi
Pembentukan batu ginjal
Respons infeksi : Infeksi akibat
iritasi batu

- Nyeri kolik
- Hematuria, Piuria

- Nyeri kolik
- Hematuria, Piuria

Nyeri Akut
Perubahan Pola Miksi
Pemeriksaan diagnostik
Rencana pembedahan
Respons psikologis
Respons sistemik nyeri kolik
(mual, muntah, anoreksia)
Pemenuhan Nutrisi
Kurang Dari Kebutuhan
Tubuh
Batu menahun dalam saluran
kemih
Kegagalan fungsi ginjal
Kreatinin
Penurunan laju filtrasi
glomerulus
Perubahan Pola
Eliminasi


Patoflowdiagram pasca operasi





















Pascaoperatif
Efek anestesi umum dan efek
intervensi bedah
B1 (breathing)
Respons depresi
pernapasan sekunder
Kontrol kepatenan jalan
napas
Lidah secara fisiologis
belum optimal
Jalan napas cenderung
menutup
Untuk batuk dan muntah
Jalan napas tidak efektif
Risiko tinggi pola napas
tidak efektif.
B2 (Blood)
Depresi mekanisme
regulasi sirkulasi
normal,
Perdarahan
pascaoperatif,
Penurunan curah
jantung, perubahan
kemampuan kontrol
suhu tubuh.
Perubahan elektrolit
dan metabolisme.
Risiko cedera vaskular




Risiko tinggi
penurunan perfusi
jaringan.
Risiko tinggi O
2

Hipotermi
Risiko tinggi
trombosit vena
profunda.
Ketidakseimbangan
cairan dan
elektrolit.

B3 (Brain)


Kontrol kesadaran
masih
Kemampuan orientasi
masih
Nyeri pascaoperatif
meningkat sekunder.
Penurunan reaksi
anestesi
Kecemasan
postoperatif.


Penurunan kesadaran.
Nyeri
kecemasan


B4 (Bladder)


Kontrol kemampuan
miksi

Gangguan
pemenuhan
eliminasi urine

B5 (Bowel)


Kontrol peristaltik
usus
Risiko paralisis usus
dengan desistensi dan
gejala obstruksi.
Kemampuan
pengosongan lambung


Risiko tinggi
aspirasi muntah.
Penurunan
motilitas usus.


B6 (Bone)


Respons risiko posisi
bedah (tromboembosis,
parestesia, cedera
tekan).
Adanya luka bedah,
adanya sistem drainase.
Penurunan kontrol otot
dan keseimbangan


Kerusakan
integritas jaringan.
Risiko tinggi
infeksi.
Risiko cedera
bedah.
Risiko tinggi
trauma jatuh




3. Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

SATUAN ACARA PENYULUHAN
BATU GINJAL

Pokok Bahasan : Batu Ginjal
Sub Pokok Bahasan : Pengertian Batu Ginjal, Penyebab Batu Ginjal, Tanda dan
Gejala Batu Ginjal, Pencegahan Batu Ginjal.
Sasaran : Tn. C (pasien) dan keluarga.
Hari/ Tanggal : Selasa, 6 Mei 2014
Waktu : Pukul 10.00-10.30 WIB
Tempat : Rumah Sakit
Penyuluh : Etty Rosmalinda Dewi

Tujuan Umum:
Setelah mengikuti penyuluhan selama 1x30 menit diharapkan pasien dan keluarga
dapat mengetahui dan memahami tentang Pengertian batu ginjal, penyebab batu ginjal, tanda
dan gejala batu ginjal, dan pencegahan batu ginjal.

Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 1x30 menit diharapkan pasien dapat menjelaskan
ulang tentang.
1) Pengertian batu ginjal
2) Penyebab batu ginjal
3) Tanda dan gejala batu ginjal
4) Pencegahan batu ginjal

Metode
Ceramah, dan tanya jawab.

Media
Leaflet






Proses pelaksaaan
No Kegiatan Respon peserta Waktu
1 Pendahuluan
1. Memberi salam
2. Menyampaikan pokok bahasan
3. Menyampaikan tujuan


1. Menjawab salam
2. Menyimak
3. Menyimak

5 menit
2 I si
Penyampaian materi tentang :
1. Pengertian
2. Penyebab batu ginjal
3. Tanda dan gejala batu ginjal
4. Pencegahan batu ginjal

Memperhatikan,
mendengarkan dan
memahami

25 menit
3 Penutup
1. Tanya jawab
2. Kesimpulan
3. Memberikan salam penutup

1. Tanya jawab
2. Mendengarkan
3. Menjawab salam

10 menit

Setting Tempat










Evaluasi
1. Pasien dan keluarga dapat menyebutkan pengertian dari batu ginjal.
2. Pasien dan keluarga dapat menyebutkan penyebab dari batu ginjal.
3. Pasien dan keluarga dapat menyebutkan tanda dan gejala dari batu ginjal.
Pasien lain Pasien dan
keluarga
Penyuluh
Pasien lain
Pasien lain Pasien lain Pasien lain


4. Pasien dan keluarga dapat menyebutkan pencegahan dari batu ginjal.

Materi:
1. Batu Ginjal
Menurut Muttaqin (2011;108) Batu ginjal atau nefrolitiasis merupakan suatu
keadaan terdapatnya batu (kalkuli) di ginjal.
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), batu saluran kemih dapat
diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliksginjal, pielum, ureter,
buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran
kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena
adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra
yang terbentu di dalam divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli
ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi
pelvis serta seluruh kaliks ginjal danmerupakan batu slauran kemih yang paling sering
terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69).

2. Penyebab Batu Ginjal
Menurut Leonardo (2010; 25), faktor risiko yang mempermudah terbentuknya batu
saluran kemih adalah :
1) Diet tinggi kalsium, oksalat, asam urat, dan fosfat secara rutin. contohnya antara lain
suplemen kalsium, vitamin D atau vitamin C dosis tinggi, air minum dengan
kandungan zat kapur tinggi, obat-obat maag (antasida), teh, kopi, cokelat, makanan
laut, jeroan, kacang-kacangan dan emping.
2) Kebiasaan kurang minum.
3) Kebiasaan menahan kencing.
4) Infeksi saluran kemih berulang.
5) Adanya gangguan fungsi ginjal seperti pada pasien gagal ginjal.
6) Pelepasan ADH yang menurun dan peningkatan konsentrasi, kelarutan, dan PH urine.
Batu saluran kemih merupakan tidak termasuk penyakit keturunan, batu saluran
kemi lebih terkait dengan faktor gaya hidup dan lingkungan. Tapi ada beberapa
kelompok orang yang lebih rentan mengalami batu saluran kemih karena memiliki
faktor-faktor risiko yang diturunkan dalam kelaurga, seperti kelainan metabolik tertentu
(Hiperparatiroid, Hiperoksaluria, Hiperkalsiuria, dan Hiperurisemia).


Menurut Muttaqin (2011;108), ada beberapa faktor lain yang memungkinkan
terbentuknya batu pada saluran kemih. Yaitu sebagai berikut:
1) Hiperkalsuria adalah kelainan metabolik yang paling umum. Beberapa kasus
hiperkaluria berhubungan dengan gangguan usus meningkatkan penyerapan kalsium
(dikaitkan dengan kelebihan diet kalsium dan/atau mekanisme penyerapan kalsium
terlalu aktif), beberapa kelebihan terkait dengan resorpsi kalsium dari tulang (yaitu
hiperparatiroidisme), dan beberapa yang berhubungan dengan ketidakmampuan dari
tubulus ginjal untuk merebut kembali kalsium dalam filtrat glomerulus (ginjal
kebocoran hiperkalsiuria).
2) Pelepasan ADH yang menurun dan peningkatan konsentrasi,kelarutan dan pH urine.
3) Lamanya kristal terbentuk di dalam urine, dipengaruhi mobilisasi rutin.
4) Gangguan reabsorpsi ginjal dan aliran urine.
5) Infeksi saluran kemih.
6) Kurangnya asupan air dan diet yang tinggi mengandung zzat penghasil batu.
7) Idiopatik.

3. Tanda dan gejala Batu Ginjal
Menurut Leonardo (2010;27) gejala awal pada klien dengan batu ginjal kencing
berwarna merah atau berdarah (Hematoria) tapi biasanya gejala yang ditimbulkan sangat
bergantung pada ukuran, lokasi serta bentuk batu, umumnya gejala yang timbul
merupakan akibat dari sumbatan aliran kemih dan infeksi ikutan yang terjadi
Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah nyeri pinggang atau punggung,
rasanya seperti melilit, datangnya seperti hilang timbul, terasa hingga selangkangan dan
paha bagian dalam. Ketika nyeri datang, penderita sangat gelisah dan kesakitan. Nyeri
yang hebat biasanya disertai menggigil, mual hingga muntah. Umumnya gejala nyeri
demikian lebih khas untuk batu yang menyumbat saluran ureter. Gejala lain dapat berupa
panas pada muara kencing saat sedang berkemih, kencing keluar batu atau keruh,
kencing tersendat atau malah terhenti tiba-tiba dan mungkin juga demam.

4. Pencegahan
Menurut Leonardo (2010;36) Pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
1) Minumlah secukupnya, minimal 2 liter atau sekitar 8 gelas setiap hari.
2) Batasi makanan berlemak tinggi seperti goreng-gorengan, mentega, mayones, dan
makanan ringan berlemak tinggi.


3) Batasi konsumsi beberapa makanan kaya oksalat seperti teh, kacang-kacangan,
cokelat, kopi, bayam dan strowberi.
4) Batasi konsumsi kalsium maupun produk olahan susu.
5) Hindari mengonsumsi suplemen vitamin C, vitamin D, maupun kalsium dosis tinggi
secara harian jika memang tidak diperlukan.
6) Hindari kebiasaan menahan kencing.
7) Biasakan banyak gerak tubuh setiap harinya agar fungsi ginjal pun lancar.






4. Intervensi diagnosa keperawatan
Intervensi Diagnosa 1
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Nyeri berhubungan dengan
trauma jaringan dan refleks
spasme otot sekunder akibat
post operasi.

Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24
jam, diharapkan nyeri dapat
berkurang atau teratasi dengan
kriteria hasil.
1. Secara subjektif melaporkan
nyeri berkurang atau dapat
diadaptasi.
2. Skala nyeri 0-3.
3. Klien tidak gelisah dan
tampak rileks.
4. TTV dalam batas normal
(TD = 120/80 mmHg, S =
36-37,5
0
C, N = 60x100
x/menit, RR = 16-24
x/menit).


1. Kaji nyeri dengan
menggunakan pendekatan
PQRST.


2. Kaji tanda-tanda vital.
3. Lakukan manajemen nyeri:
Istirahatkan pasien.


4. Manajemen lingkungan :
lingkungan tenang, batasi
pengunjung.





1. Nyeri merupakan respon subjektif
yang dapat dikaji dengan
menggunakan skala nyeri. Klien
melaporkan nyeri biasanya di atas
tingkat cedera.
2. Untuk melihat keadaan umum klien.
3. Istirahat akan menurunkan kebutuhan
O
2
jaringan perifer sehingga akan
meningkatkan suplai darah ke
jaringan.
4. Lingkungan yang tenang akan
menurunkan stimulus nyeri eksternal
dan menganjurkan pasien untuk
istirahat dan pembatasan pengunjung
akan membantu meningkatkan
kondisi O
2
ruangan yang akan
berkurang apabila banyak pengunjung
di ruangan dan menjaga privasi klien.


5. Ajarkan teknik relaksasi
pernapasan dalam ketika
nyeri muncul.
6. Ajarkan teknik distraksi
pada saat nyeri.





7. Kolaborasi dengan dokter
untuk pemberian analgetik:
Ranitidin 3x1 gr/IV
5. Meningkatkan asupan O
2
sehingga
akan menurunkan nyeri sekunder.

6. Distraksi dapat menurunkan
stimuluus internal dengan mekanisme
peningkatan produksi endorfin dan
enkafelin yang dapat memblok
reseptor nyeri agar tidak dikirimkan
ke korteks serebri sehinggga
menurunkan persepsi nyeri.
7. Analgesik memblok lintasan nyeri
sehingga nyeri akan berkurang.











Intervensi diagnosa 2
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Risiko infeksi berhubungan
dengan tempat masuknya
organisme sekunder akibat
tindakan pembedahan.

Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24
jam, diharapkan tidak
terjadinya infeksi.
1. Tidak ada tanda dan gejala
infeksi.
2. Suhu 36
0
C
3. Hasil Lab normal.
1. Kaji faktor-faktor yang
memungkinkan terjadinya
infeksi.


2. Lakukan manajemen
keperawatan.
a. Lakukan perawatan luka
steril pada hari ke-2
pasca bedah apabila kasa
terlihat kotor.


b. Lakukan perawatan luka
secara steril pada luka
pasca bedah dengan
iodin providum dan
dibersihkan dengan
alkohol 70% dengan
1. Nyeri merupakan respon subjektif
yang dapat dikaji dengan
menggunakan skala nyeri. Klien
melaporkan nyeri biasanya di atas
tingkat cedera.
2. Manajemen luka
a. Perawatan luka steril dilakukan
idealnya pada hari ke-2 dan
perawatan selanjutnya tidak setiap
hari. Biasanya dilakukan setiap 2
hari sekali atau apabila kasa
terlihat kotor dapat dilakukan
setiap hari.
b. Teknik swabbing secara steril
dapat membersihkan sisa nekrotik,
debris, dan dapat mengurangi
kontaminasi kuman.




teknik swaabbing dari
arah dalam ke luar.
c. Desinfeksi daerah
pemasangan fiksasi
eksterna dengan
providum dan bilas
dengan alkohol 70%.



d. Tutup luka dengan kasa
gulung.
e. Pantau kondisi luka.
Apabila kotor segera
lakukan pernggantian
balutan.
3. Pantau/batasi pengunjung.

4. Kolaborasi dalam
pemberian antibiotik:
Pelastin 2x1 gr/IV


c. Desinfeksi dengan iodin providum
dapat menghilangkan kuman pada
sekitar logam yang masuk ke kulit.
Pembersihan iodin providum
dengan alkohol dapat mengurangi
dampak iritasi pada kulit sehingga
dapat meningkatkan pertumbuhan
jaringan.
d. Menghindari kontak dengan udara
luar.
e. Kasa yang kotor akibat sisa
perdarahan pasca bedah merupakan
stimulus yang dapat meningkatkan
resiko infeksi.
3. Mengurangi resiko kontak infeksi dari
orang lain.
4. Antibiotik dapat menurunkan invasi
kuman yang dapat meningkatkan
resiko cedera jaringan lunak.



Intervensi diagnosa 3
Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi Rasional
Risiko perdarahan
berhubungan dengan efek
samping terkait terapi
tindakan pembedahan.

Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 7 jam,
diharapkan perdarahan
berulang tidak terjadi, dengan
kriteria hasil:
1. Tidak ada hematuria
2. Warna urine normal
3. Hemoglobin dalam batas
normal
4. Tekanan darah dalam
batas normal sistol dan
diastole
1. Monitor ketat tanda-tanda
perdarahan

2. Catat nilai Hb dan HT
sebelum dan sesudah
terjadinya perdarahan
3. Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake
makanan yang banyak
mengandung vitamin K
4. Berikan produk darah
(platelet atau fresh frozen
plasma)
5. Kolaborasi dalam
pemberian obat koagulan:
Kalnex 3x1 ampul/IV
Vitamin K 3x1
ampul/IV
Decynon 2x1 ampul/IV
1. Agar tidak terjadi perdarahan lanjut
yang bisa mengakibatkan kekurangan
darah.
2. Untuk mengetahui tingkat perdarahan
yang terjadi. Efektif atau tidak terapi
yang diberikan.
3. Vitamin K berguna untuk pembekuan
darah.



4. Untuk menambah produk darah yang
hilang

5. Untuk membantu pembekuan darah.


Intervensi diagnosa 4
Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
Defisit pengetahuan tentang
kondisi, prognosis dan
kebutuhan terapi
berhubungan dengan
kurang terpajan atau salah
interpretasi terhadap
informasi, keterbatasan
kognitif, kurang
akurat/lengkapnya informasi
yang ada









Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selam 1x24 jam
diharapkan Klien akan
memperlihatkan peningkatan
pengetahuan tentang penyakit,
pengobatan dan perawatannya
Kriteria Hasil :
1 Pasien dapat
mengulang/menyebutkan
pengertian, tanda dan
pencegahan penyakit batu
ginjal.
2 Klien mampu
mengungkapkan
pemahaman tentang kondisi
dan pengobatannya.



1 Observasi tingkat
pemahaman pasien setelah
diberikan informasi melalui
pendidikan kesehatan
tentang penyakit yang
dideritanya.
2 Diskusikan etiologi
individual dari nyeri kepala
bila diketahui.
3 Bantu klien dalam
mengidentifikasikan
kemungkinan faktor
predisposisi seperti stres,
emosi, suhu yang
berlebihan, alergi terhadap
makanan.
4 Diskusikan mengenai obat-
obatan dan efek
sampingnya.
1. Mengetahui sejauh mana
kemampuan pasien menerima
informasi.


2. Mempengaruhi pemilihan terhadap
penanganan dan berkembang
kearah proses penyembuhan.
3. Menghindari/membatasi faktor-
faktor lain ini seringkali dapt
mencegah berulangnya/ kambuhnya
penyakit.



4. Klien mungkin menjadi sangat
ketergantungan terhadap obat dan
tidak mengenali terapi lain.


5 Anjurkan klien/orang
terdekat untuk menyediakan
waktu agar dapat relaksasi
dan bersenang-senang.
6 Anjurkan klien untuk selalu
memperhatikan cairan yang
masuk dan keluar.

7 Berikan informasi melalui
pendidikan kesehatan
kepada pasien tentang
pengertian, penyebab, cara
pencegahan, tanda dan
gejala penyakit batu ginjal.
8 Lakukan pendidikan
kesehatan preoperatif,

5. Perasaan yang terlalu berlebihan
untuk dpat memikirkan tugas-tugas
dapat mengarah pada sikap lupa
unuk memikirkan diri sendiri.
6. Memberikan kesempatan untuk
mengidentifikasi faktor yang
mungkin menjadi pencetus
kekambuhan batu ginjal.
7. Untuk memberikan dasar
pengetahuan kepada pasien
mengenai penyakit batu ginjal,
tanda dan gejala serta pencegahan.


8. Manfaat dari instruksi preoperatif
telah dikenal sejak lama. Setiap
pasien diajarkan sebagai seorang
individu dengan
mempertimbangkan segala
keunikan ansietas, kebutuhan dan
harapan-harapannya.



5. PERAN PERAWAT

Peran perawat dalam kasus Tn.C adalah:
1) Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan.
Menurut Mubarak (2009: 77) Peran ini sebagai pemberi asuhan keperawatan
ini dapat dilakukan perawat dengan mempertahankan keadaan kebutuhan dasar
manusia melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses
keperawatan, sehingga masalah yang muncu dapat ditentukan diagnosis
keperawatannya, perencanaannya, dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai
dengan tingkat kebutuhan yang dialaminya, kemudian dapat dievaluasi tingkat
perkembangannya. Asuhan keperawatan yang diberikan mulai dari hal yang
sederhana sampai dengan masalah yang kompleks.
Pada kasus diatas, perawat telah memberikan pelayanan dalam memberikan
asuhan keperawatan, mulai dari pengakajian, menentukan diagnosa keperawatan,
merencanakan tindakan keperawatan sampai mengevaluasi dari hasil tindakan
perawat. Sebagai pemberi asuhan keperawatan perawat wajib memberikan asuhan
keperawatan secara optimal kepada klien.

2) Perawat sebagai edukator.
Menurut Mubarak (2009: 77) Peran ini dilaksanakan dengan membantu klien
dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatannya, gejala penyakit bahkan
tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah
dilakukan pemberian pendidikan kesehatan.
Pada kasus diatas, perawat telah memberikan pendidikan/penyuluhan
kesehatan kepada klien dan keluarga, guna menambah pengetahuan klien dan
keluarga tentang masalah yang dialami.

3) Perawat sebagai kolabolator.
Menurut Mubarak (2009: 78) Peran ini dilakukan karena perawat bekerja
melalui tim kesehatanb yang terdiri atas dokter, fisioterapi, ahli gizi, radiologi,
laboratotium, dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan
keperawatan yang diperlukan, termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam
penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.


Dalam kasus diatas dibuktikan perawat berkolaborasi dengan dokter dalam
mendiagnosis penyakit, bagian pemeriksaan radiologi dan laboratorium, dan tim
kesehatan lainnya dalam meningkatkan kesehatan klien.