Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PTERIDOLOGI

Studi Kandungan Senyawa Kimia Metabolit Sekunder pada Tumbuhan


Paku Trichomanes sp. , Adiantum philippensis L. dan Nephrolepis radicans.




Disusun oleh:
Nama : Nia Rakhmayanti Nurdin
NIM : M0411045


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ............................................................................................. 2
B. RUMUSAN MASALAH ........................................................................................ 3
C. TUJUAN PENULISAN ........................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Metabolit Sekunder .................................................................................... 4
B. Deskripsi Trichomanes sp. ...................................................................................... 5
C. Deskripsi Adiantum philippensis L. ........................................................................ 7
D. Deskripsi Nephrolepis radicans .............................................................................. 10
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN ........................................................................................................ 11
B. SARAN .................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 12










BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tumbuhan secara alamiah menghasilkan beragam jenis senyawa. Secara
umum, senyawa-senyawa tersebut dapat dibagi tiga, yaitu metabolit primer, polimer, dan
metabolit sekunder. Metabolit primer adalah senyawa-senyawa yang terdapat pada
semua sel dan memegang peranan sentral dalam metabolisme dan reproduksi sel-sel
tersebut. Contoh metabolit primer antara lain protein, karbohidrat, lipid, asam nukleat,
asam amino, dan gula. Metabolit sekunder adalah senyawa yang secara khusus terdapat
pada jenis atau spesies tertentu saja.
Senyawa metabolit sekunder merupakan sumber bahan kimia yang tidak akan
pernah habis, Hal ini terkait dengan keberadaannya di alam yang tidak terbatas
jumlahnya. Dari 250.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi seperti dikemukan di atas 54 %
diantaranya terdapat di hutan-hutan tropika dan Indonesia dengan hutan tropikanya yang
mengandung lebih dari 30.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi sangat berpotensial untuk
diteliti dan dikembangkan oleh para peneliti Indonesia.
Indonesia sebagai negara tropis memiliki beraneka ragam tumbuhan yang
dapat dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan manusia. Sejak zaman
dahulu, masyarakat Indonesia telah mengenal tanaman yang mempunyai khasiat obat
atau menyembuhkan berbagai macam penyakit. Saat ini, para peneliti semakin
berkembang untuk mengeksplorasi bahan alami yang mempunyai aktivitas biologis yang
positif bagi manusia. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dikembangkan,
senyawa-senyawa yang memiliki potensi sebagai antioksidan umumnya merupakan
senyawa flavonoid, fenol, dan alkaloid.
Diantara tumbuhan berguna ini adalah paku-pakuan, dimana terdapat sekitar
10.000 jenis paku dan 3.000 jenis diantaranya diperkirakan terdapat di kepulauan
Indonesia. Tanaman paku memiliki banyak potensi, diantara yang telah dimanfaatkan
oleh masyarakat, yaitu sebagai tanaman hias, bahan baku kerajinan, makanan dan juga
pengobatan. Namun,pemanfaatan dalam bidang pengobatan masih sangat sedikit sekali
dan terbatas pada pengetahuan masyarakat saja.
Berikut ini merupakan contoh tumbuhan paku yang berada di lingkungan yaitu
tumbuhan paku Trichomanes sp., tumbuhan paku Adiantum philippensis L. Dan
tumbuhan paku Nephrolepis radicans.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari metabolit sekunder serta fungsinya bagi kehidupan manusia?
2. Bagaimanakah senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan paku dapat bermanfaat
bagi masyarakat?
3. Kandungan apa sajakah yang terdapat pada tumbuhan paku Trichomanes sp.?
4. Kandungan apa sajakah yang terdapat pada tumbuhan paku Adiantum philippensis
L.?
5. Kandungan apa sajakah yang terdapat pada tumbuhan paku Nephrolepis radican?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui definisi dari metabolit sekunder serta fungsinya bagi kehidupan manusia
2. Mengetahui bagaimana senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan paku dapat
bermanfaat bagi masyarakat?
3. Mengetahui kandungan apa sajakah yang terdapat pada tumbuhan paku Trichomanes
sp.
4. Mengetahui kandungan apa sajakah yang terdapat pada tumbuhan paku Adiantum
philippensis L.
5. Mengetahui kandungan apa sajakah yang terdapat pada tumbuhan paku Nephrolepis
radican.














BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Metabolit Sekunder
Metabolit adalah intermediet atau molekul yang tidak stabil dengan paruh
waktu yang pendek dalam reaksi kimiawi dan produk dari metabolisme. Terbagi atas dua
yaitu metabolit primer dan metabolit sekunder. Metabolit sekunder adalah suatu zat /
senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan
dalam bentuk yang unik atau berbeda- beda antara spesies yang satu dan lainnya. Setiap
organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda.
Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan
yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik
polinator, dan sebagai molekul sinyal. Singkatnya, metabolit sekunder digunakan
organisme untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
Peranan metabolit sekunder untuk manusia biasa digunakan dalam bidang
Farmasi. Bisa digunakan dalam pembuatan obat-obatan maupun kosmetika. Sebagai zat
aktif maupun zat tambahan. Senyawa metabolit sekunder memiliki struktur yang lebih
komplek dan sulit disintesa, jarang dijumpai di pasaran karena masih sedikit (15%) yang
telah berhasil diisolasi sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi (mahal harganya).
Sebagian besar tanaman penghasil senyawa metabolit sekunder memanfaatkan
senyawa tersebut untuk mempertahankan diri dan berkompetisi dengan makhluk hidup
lain di sekitarnya. Tanaman dapat menghasilkan metabolit sekunder (seperti: quinon,
flavonoid, tanin, dll.) yang membuat tanaman lain tidak dapat tumbuh di sekitarnya. Hal
ini disebut sebagai alelopati. Berbagai senyawa metabolit sekunder telah digunakan
sebagai obat atau model untuk membuat obat baru, contohnya adalah aspirin yang dibuat
berdasarkan asam salisilat yang secara alami terdapat pada tumbuhan tertentu. Manfaat
lain dari metabolit sekunder adalah sebagai pestisida dan insektisida, contohnya adalah
rotenon dan rotenoid. Beberapa metabolit sekunder lainnya yang telah digunakan dalam
memproduksi sabun, parfum, minyak herbal, pewarna, permen karet, dan plastik alami
adalah resin, antosianin, tanin, saponin, dan minyak volatil.
SENYAWA METABOLIT SEKUNDER
1. Alkaloid
Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung atom nitrogen yang tersebar
secara terbatas pada tumbuhan. Alkaloid kebanyakan ditemukan pada Angiospermae dan
jarang pada Gymnospermae dan Cryptogamae. Senyawa ini cukup banyak jenisnya dan
terkadang memiliki struktur kimia yang sangat berbeda satu sama lain, meskipun berada
dalam satu kelompok.
2. Terpenoid
Terpenoid merupakan kelompok metabolit sekunder terbesar. Saat ini hampir
dua puluh ribu jenis terpenoid telah teridentifikasi. Kelompok ini merupakan derivat dari
asam mevalonat atau prekursor lain yang serupa dan memiliki keragaman struktur yang
sangat banyak. Struktur terpenoid merupakan satu unit isopren (C5H8) atau gabungan
lebih dari satu unit isopren, sehingga pengelompokannya didasarkan pada jumlah unit
isopren penyusunnya.
3. Fenolik
Fenolik merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik
memiliki cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksi (OH-) dan gugus-gugus
lain penyertanya. Senyawa ini diberi nama berdasarkan nama senyawa induknya, fenol.
Senyawa fenol kebanyakan memiliki gugus hidroksi lebih dari satu sehingga disebut
sebagai polifenol. Fenol biasanya dikelompokkan berdasarkan jumlah atom karbon pada
kerangka penyusunnya.
Kelompok terbesar dari senyawa fenolik adalah flavonoid, yang merupakan
senyawa yang secara umum dapat ditemukan pada semua jenis tumbuhan. Biasanya, satu
jenis tumbuhan mengandung beberapa macam flavonoid dan hampir setiap jenis
tumbuhan memiliki profil flavonoid yang khas.

B. Deskripsi Trichomanes sp.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Polypodiophyta
Kelas : Polypodiopsida
Ordo : Hymenophyllales
Famili : Hymenophyllaceae
Genus : Trichomanes
Spesies : Trichomanes sp.
(Smith, 1866)
Trichomanes sp. adalah salah satu jenis paku besar dari pada famili
Hymenophyllaceae ,yang dimasukkan kedalam jenis pakis bulu keras . Beberapa ahli
botani menempatkan ini pada familynya sendiri, yaitu Trichomanaceae. Semua pakis
pada Hymenophylloid clade adalah pakis yang sangat tipis , dengan jaringan pada daun
secara khas yaitu 2 sel yang tebal. Bentuk yang kecil ini umumnya mengharuskan satu
dari semua berda pada habitat yang lembab, dan daun palem ini sedikit banyak tembus
cahaya. Pakis bulu keras nama menunjuk ke bulu kasar kecil yang berasal dari indusia
dari pakis ini. Paling tidak jenis sesuatu sekarang diketahui untuk berada semata-mata di
dalamnya langkah gametophytic (Sowerby, 1843).
Trichomanes mempunyai akar pendek, menjalar, agak tebal, biasanya terdapat
bulu yang rapat, daun-daunnya agak tipis, terdapat senyawa pinnately, mulai dari ukuran
kecil sampai sedang; semua segmen terakhir berada pada garis tepi, biasanya
gundul,mempunyai penutup berbentuk piala, dengan panjang wadah ekstrusi (Tagawa,
1979).
Diantara manfaat dari tumbuhan paku jenis Trichomanes ini adalah banyak
skali diantaranya sebagai berikut:
Dapat digunakan sebagai tanaman hias karena bentuknya yang indah
Rimpangnya dapat digunakan sebagai obat tradisional
Daunnya juga dapat digunakan sebagai pupuk hijau
Pucuk daun yang muda juga dapat digunakan sebagai sayuran
(Smith, 1866)

Siklus hidup dari tumbuhan paku Trichomanes sp. ini termasuk jenis paku
homosfor yaitu hanya mempunyai satu macam spora (Hartini, 2005).


Dari hasil survei yang telah dilakukan di Simanau, Solok, pada bulan Mei
2010, ditemukan tumbuhan yang memberikan reaksi positif terhadap senyawa fenolik
dan terpenoid dengan metoda Simes. Metoda yang digunakan dalam mengisolasi ini
adalah penyarian sampel secara maserasi, pemisahan awal dengan fraksinasi,
pemeriksaan dengan kromatografi lapis tipis, pemurnian dengan kromatografi kolom dan
rekristalisasi. Karakterisasi senyawa hasil isolasi meliputi pemeriksaan organoleptis,
pemeriksaan kimia, penentuan titik leleh, pemeriksaan kromatografi lapis tipis,
spektrofotometer ultraviolet-visible, spektrofotometer inframerah dan spektrum (1H dan
13C)Resonansi Magnetik Inti (RMI) (Rachmawati, 2011).
C. Deskripsi Adiantum philippensis L.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Pterydophyta
Kelas : Pterydopsida
Bangsa : Polypodiales
Suku : Adiantaceae
Marga : Adiantum
Spesies : Adiantum philippensis L.
(Mubashir & Shah, 2011)
Tumbuhan paku Adiantum philippensis L. sering disebut sebagai suplir
kamuding. Tumbuhan ini sering dicirikan dengan batangnya yang pendek. Secara
menyeluruh, terlihat pertumbuhannya yang tegak atau agak tegak. Sisiknya berwarna
coklat gelap, berbentuk sempit, yang panjangnya sampai 3mm.. Masing-masing tangkai
entalnya berukuran 8-18 cm. Anak-anak daunnya berjumlah sampai 12 pasang, yang
letaknya agak berseling pada ental yang panjangnya mencapai 30cm. Bentuk helaian
anak daun seperti kipas. Teksturnya tipis tapi kuat. Kumpulan sporanya terdapat di
sepanjang tepi daun (Joane,1989).
Rumpun Adiantum philippensis L. sering mati pada musim kemarau.Tunas-
tunas baru tumbuh kembali pada musim penghujan. Adiantum philippensis L. termasuk
paku tanah, sehingga tumbuhnya sangat dipengaruhioleh keadaan tempat tumbuhnya.
Tumbuhan ini tumbuh mulai daerah dataranrendah sampai pada ketinggian 1.000 m.
Jenis ini menyukai tanah berbatu- batu, tanah liat, dan tanah berpasir. Selain itu, jenis ini
diperbanyak melaluispora, pecahan-pecahan rumpunnya mudah sekali ditumbuhkan.
Adiantum philippensis L. umumnya ditanam sebagai tanaman hias (Joane, 1989).
Penelitian kandungan kimia dan bioaktivitas dari tumbuhan paku kamuding
belum banyak dilaporkan. Namun demikian beberapa spesies tumbuhan paku lainnya
dalam genus Adiantum menunjukkan aktivitas [3], antioksidan [4], antiinflamasi dan
antimikroba [5], analgesik [6], dan bioinsektisida [7]. Penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa dari ekstrak n-heksana tumbuhan tersebut telah berhasil diisolasi
senyawa triterpen yang berpotensi sebagai antikanker [8]. Sementara itu penelitian
terhadap kandungan kimia dan bioaktivitas ekstrak metanol tumbuhan paku Adiantum
philippensis L. belum pernah dilakukan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang kandungan senyawa metabolit sekunder tumbuhan paku
Adiantum philippensis L. dan mengevaluasi aktivitas antioksidan dan aktivitas
pendahuluannya sebagai antikanker dalam upaya memberdayakan tumbuhan tersebut
sebagai bahan antioksidan dan antikanker alami (Risky,2014)
Komponen yang terdapat dalam ekstrak metanol tumbuhan paku Adiantum
philippensis dianalisis golongan senyawanya dengan menggunakan uji warna dengan
beberapa pereaksi untuk golongan senyawa fenolik, flavonoid, alkaloid, dan saponin.
Hasil uji kualitatif ekstrak metanol disajikan dalam Tabel 1. (Risky,2014)
Tabel 1. Hasil Uji Kualitatif Kandungan Kimia
Ekstrak Metanol Tumbuhan Paku
Adiantum philippensis. No. Uji Kandungan Hasil
1. Fenolik +
2. Flavonoid +
3. Alkaloid +
4. Saponin -

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpilkan bahwa ekstrak
metanol tumbuhan paku Adiantum philippensis mengandung suatu golongan senyawa
alkaloid dan golongan senyawa fenolik yaitu senyawa flavonoid (Risky,2014)

D. Deskripsi Nephrolepis radicans
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Pteridopsida
Ordo : Polypodiales
Famili : Lomariopsidaceae
Genus : Nephrolepis
Spesies : Nephrolepis radicans
(Anonim, 2014)
Tumbuhan paku Nephrolepis radicans (Burm.) Kuhn merupakan salah satu
tumbuhan paku famili Polypodiaceae serta telah menjadi salah satu kekayaan alam hayati
Indonesia (Piggot, 1988).
Tumbuhan paku ini tumbuh di daerah yang bersuhu sedang ( 25-30oC), di
tempat-tempat yang kelembabannya tinggi terutama pada musim hujan, sering dijumpai
pada tumpukan batu-bata yang lama tidak digunakan, tanah-tanah yang lembab, di semak
belukar, di tanah yang mengandung limbah, dan di kawasan tepi sungai (Hovenkamp &
Miyamoto, 2005).
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya
dapat disimpulkan bahwa dari batang tumbuhan paku Nephrolepis radicans telah berhasil
dipisahkan suatu senyawa flavonoid golongan flavanon yaitu 5-hidroksi-7-metoksi
flavanon (pinostrobin) serta campuran steroid kampesterol, stigmasterol, dan b-sitosterol.
Isolat flavonoid pinostrobin memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan
antioksidan (Suyatno, 2013).























BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Metabolit sekunder memiliki struktur kimia yang sangat komplek
dibandingkan dengan metabolit primer. Kegunaan metabolit sekunder pada manusia
biasa digunakan dalam bidang farmasi. Baik yang dijadikan sebagai obat maupun
kosmetika. Dengan kandungan metabolitnya sebagai zat aktif atau juga zat tambahan.
Tumbuhan paku Trichomanes sp. memberikan reaksi positif terhadap senyawa fenolik
dan terpenoid. Tumbuhan paku Adiantum philippensis L. mengandung suatu golongan
senyawa alkaloid dan golongan senyawa fenolik yaitu senyawa flavonoid. Dan tumbuhan
paku Nephrolepis radicans mengandung flavonoid.

B. SARAN
Beberapa tumbuhan paku yang dijelaskan diatas merupakan contoh tumbuhan
paku yang mengadung banyak senyawa metabolit sekunder didalamnya. Perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk mengetahui banyaknya tumbuhan paku lainnya yang
mengandung metabolit sekunder.











DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014. www.plantamor.com/index.php?plant=895 diakses tanggal 20 April 2014.
Hartini, S. 2005. Laporan Eksplorasi Flora di Cagar Alam Sago Malintang Sumatera Barat.
Bogor: Pusat Konservasi Tumbuhan-Kebun Raya Bogor, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia.
Hovenkamp, P. H. & Miyamoto, F. (2005). A Conspectus of the Native and Naturalized
Species of Nephrolepis (Nephrolepidaceae) in the World. Blumea. 50. 279-322.
Joane, Gilbert. 1989. Cryptograms: Fern and Fern Allies. Jakarta: Pustaka Utama.
Mubashir, Sofi and Shah, Wajahat A. 2011. Phytocemical and Pharmalogical Review Profile
of Adiantum VenustumI. International Journal of PharmTech Research. Vol 3(2):
827-830.
Piggot, AG. (1988). Fern of Malaya. Kualalumpur. Malaysia.
Rachmawati, Vitrilia. 2011. ISOLASI SENYAWA KIMIA UTAMA DARI TUMBUHAN PAKU
RUMAN (Trichomanes sp. Ex. Simanau. Padang: Jurusan Farmasi Universitas
Andalas.
Risky, Tika. 2014. AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIKANKER EKSTRAK
METANOL TUMBUHAN PAKU Adiantum philippensis L. UNESA Journal of
Chemistry Vol. 3 (1): 1-8.
Smith, John. 1866. Gerden Fern: or Coloured figures and descriptions.
Sowerby, James. dkk. 1843. English Botany : or, Coloured figures of British Plants. Inggris:
Universitas Harvard.
Suyatno,. Liyaningsih, Ria. 2013. METABOLIT SEKUNDER DARI TUMBUHAN PAKU
Nephrolepis radicans (Burm.) Kuhn. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri
Surabaya.
Tagawa, M. dan Iwatsuki, K. 1979. Flora of Thailand Volume Three Part One. Bangkok:
Printed in Thailand at the Tastr Press.