Anda di halaman 1dari 29

1

PNEUMONIA
Aida Ayu Chandrawaty, Ruzanna binti Hassim, Muh. Taufiq, dr. Masati
Muhiddin, dr. Taufiqqulhidayat (Sp.Rad.)

LAPORAN KASUS
Identitas pasien
Nama pasien: Ny. N
No. Rekam Medik: 648369
Perawatan bagian: Interna (Lontara 1 AD RPK)
Anamnesis
Keluhan utama: Sesak napas.
Anamnesis terpimpin: Dialami sejak 2 jam SMRS, sesak tidak dipengaruhi
aktivitas. Pasien merasa nyaman tidur 1 bantal. Demam (+) dialami sejak 2
hari SMRS, tidak terus menerus, demam turun dengan obat penurun panas.
Batuk (+), riwayat batuk (+) 3 bulan yang lalu, dan mulai berlendir sejak 1
minggu yang lalu, warna putih, darah tidak ada. Mual dan muntah (+). Nyeri
dada (-). Riwayat menderita hipertensi dan DM tidak ada. Riwayat penyakit
asma (+), riwayat keluarga (-), riwayat keringat malam disangkal.
Pemeriksaan fisis
Tinggi badan: 140 cm, LLA: 22 cm
Berat badan: 40 kg
Sakit sedang /Gizi baik /GCS 15 (E4M6V5)
Tekanan darah: 140/90
2

Frekuensi Nadi: 80x/i
Pernapasan: 32x/i
Suhu: 37, 2
0
C

Kepala
- ekspresi : normal
- simetris muka : simetris kiri= kanan
- deformitas : tidak ada
- rambut : hitam, sukar dicabut
Mata
- eksoftalmus/enoftalmus: tidak ada
- gerakan : ke segala arah
- kelopak mata : edema palpebra(-)
- konjungktiva : anemi (-)
- kornea : jernih, reflex cahaya (+)
- sklera : ikterus (-)
- pupil : isokor

telinga
- pendengaran : baik
- tophi : (-)
- nyeri tekan di prosesus mastoideus : (-)
hidung
- perdarahan : (-)
- sekret : (-)


3

mulut
- bibir : tidak ada kelainan
- tonsil : tidak ada kelainan
- gigi geligi : tidak ada kelainan
- farings : tidak ada kelainan
- gusi : tidak ada kelainan
- lidah : tidak ada kelainan

leher
- kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
- JVP : R- 2 cm H20
- kelenjar gondok : tidak ada pembesaran
- pembuluh darah : tidak ada kelainan
- kaku kuduk : (-)
- tumor : (-)
dada
inspeksi:
- bentuk : simetris kiri dan kanan
- pembuluh darah : spider nevi negatif
- buah dada : tidak ada kelainan, simetris
- sela iga : tidak ada kelainan
- lain-lain : tidak ada
paru
palpasi:
- fremitus raba : vocal fremitus kiri = kanan
- nyeri tekan : negatif
perkusi:
- paru kiri : sonor
- paru kanan : sonor
4

- batas paru-hepar : ics V dextra anterior
- batas paru belakang kanan : setinggi CV Th. X
- batas paru belakang kiri :setinggi CV Th. XI
auskultasi:
- bunyi pernafasan : vesikuler
- bunyi tambahan : Rh +/+ , Wh -/-

jantung
- inspeksi : ictus cordis tidak tampak
- palpasi : ictus cordis tidak teraba
- perkusi : pekak
- auskultasi : BJ I/II murni reguler, bising (-)
perut
- inspeksi : datar, ikut gerak napas , meteorismus (+)
- palpasi : nyeri tekan (+)
hepar : 3 jari BAC , nyeri tekan (+)
lien : ttb, nyeri tekan (+)
ginjal : ttb
- perkusi :ascites (-), shifting dullness
- auskultasi : peristaltik (meningkat), kesan normal

Alat kelamin : tidak diperiksa
Anus dan rektum : tidak diperiksa
Punggung : tidak ada kelainan
- palpasi : nyeri tekan (-), sedikit dirasakan nyeri
- nyeri ketok : tidak ada nyeri ketok, normal
- auskultasi : tidak ada kelainan
- gerakan : dalam batas normal
Ekstremitas : hangat (+), edema (-)
5

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Hasil
Darah rutin
Hgb 11,0 g/dl
WBC 12 x 10
3/
mm
3
Platelet 129 x 10
3
/mm
3
RBC 3,65 x 10
6/
mm
3
LED 10 mm
Fungsi ginjal
Ureum 56 mg/dl
Kreatinin 2,9 mg/dl
Fungsi hati
Protein total 4,6 g/dl
Albumin 2,6 g/dl
Glukosa darah
Glukosa darah puasa 119 mg/dl
Glukosa darah sewaktu 32 mg/dl
Urin rutin
Protein +/30 mg/dl
Lekosit + sel/mikro/l
Mikroskopis (sedimen)
Eritrosit >70 /lpb






6


Analisa gas darah
pH 7,34
SO
2
97,9 %
PO
2
107,8 mmHg
BE -7,2 mmol/l
Elektrolit darah
Klorida (Cl) 118mmol/l
Natrium (Na) 138 mmol/l
Kalium (K) 36 mmol/l
Sputum BTA 3 x (Pewarnaan)
BTA 1 Negatif
BTA 2 Negatif
BTA 3 Negatif











7

Hasil gambaran radiologi


Jenis pemeriksaan:
Foto thoraks AP:
Tampak perselubungan inhomogen dengan gambaran air bronchogram sign
positif di dalamnya pada lobus superior paru kanan
Cor: CTI dalam batas normal, aorta dalam batas normal
Kedua sinus dan diagfragma baik
Tulang-tulang intak
Kesan: Pneumonia lobaris dextra
8

Resume
Pasien perempuan berumur 44 tahun MRS dengan keluhan sesak napas. Sesak
dialami sejak 2 jam SMRS, sesak tidak dipengaruhi aktivitas. Pasien merasa
nyaman tidur 1 bantal. Demam (+) dialami sejak 2 hari SMRS, tidak terus
menerus, demam turun dengan obat penurun panas. Batuk (+), riwayat batuk
(+) 3 bulan yang lalu, dan mulai berlendir sejak 1 minggu yang lalu, warna
putih, darah tidak ada. Mual dan muntah (+). Nyeri dada (-). Riwayat
menderita hipertensi dan DM tidak ada. Riwayat penyakit asma (+), riwayat
keluarga (-), riwayat keringat malam disangkal.
Diagnosis
Community Acquired Pneumonia (CAP)
Usulan Pemeriksaan Penunjang Lanjutan
Kultur sputum
Terapi
1. IVFD RL 28 tetes/menit
2. Ceftriaxone 2 gr/ 24 jam / drips dalam NaCl 0,9 %
3. Ranitidine 50 mg/iv/hr
4. Ambroxol 3 x 30 mg
5. Oksigen 5 liter/menit





9

PEMBAHASAN KASUS
Pasien ini didiagnosis pneumonia lobaris dextra berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Gambaran klinik
yang dikeluhkan oleh pasien sesuai dengan teori yakni pneumonia biasanya
ditandai dengan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat melebihi
40
0
C, batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang-kadang disertai darah,
sesak napas dan nyeri dada. Namun pada pasien tidak ditemukan nyeri dada
dan darah pada dahak. Pada pemeriksaan fisik ditemukan RR: 32 kali/menit,
ronkhi +/+. RR: 32 kali/menit menunjukkan usaha napas meningkat sesuai
dengan teori yang mendukung diagnosis pneumonia. Ronkhi terjadi karena
aliran udara melewati cairan. Ronki basah sering juga disebut dengan suara
krekles (crackles) atau rales. Krekels mencerminkan inflamasi atau kongesti
yang mendasarinya dan sering timbul pada kondisi seperti pneumonia,
bronchitis, gagal jantung kongestif, bronkiektasis, dan fibrosis pulmonal serta
khas pada pneumonia dan interstitial atau fibrosis. Dari pemeriksaan darah
ditemukan peningkatan WBC yang mengindikasikan sudah terjadi proses
infeksi. Pada pemeriksaan LED tidak terjadi peningkatan LED dan
pemeriksaan sputum BTA negative sehingga dapat dinyatakan menderita
infeksi paru non-spesifik.Gambaran radiologis yang ditemukan sesuai dengan
teori yakni pneumonia dapat berupa infiltrat sampai konsolidasi dengan "air
broncogram", penyebab bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti.
Gambaran Radiologis pada foto thorax pneumonia lobaris terutama pada
kasus antara lain perselubungan padat-homogen sesuai dengan lobus atau
segmen paru secara anatomis. Batasnya tegas, walaupun pada mulanya kurang
jelas.Volume paru tidak berubah, tidak seperti atelektasis dimana paru
mengecil. Tidak tampak deviasi trachea / septum / flssure / seperti pada
atelektasis. Seringkali terjadi komplikasi efusi pleura. Bila terjadinya pada
lobus inferior, maka sinus phrenicocostalis yang paling akhir terkena. Pada
10

permulaan sering masih terlihat vaskuler. Pada masa resolusi sering tampk Air
Bronchogram Sign.


















11

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang
disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Peradangan paru
yang disebabkan oleh nonmikroorganisme (bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan
toksik, obat-obatan dan lain-lain) disebut Pneumonitis. Pneumonia komuniti adalah
pneumonia yang didapati di masyarakat. Pneumonia komuniti ini merupakan masalah
kesehatan yang menyebabkan angka kematian tinggi di dunia.
1,2
Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu
bakteri,virus, jamur dan protozoa. Pneumonia komuniti yang diderita oleh masyarakat
luar negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif, sedangkan pneumonia di rumah
sakit banyak disebabkan bakteri Gram negative sedangkan pneumonia aspirasi
banyak disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini laporan dari beberapa kota
di Indonesia menunjukkan bahwa bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan dahak
dari penderita pneumonia komuniti adalah bakteri Gram negative. Pada pneumonia
akut, organisme penyebab hanya mungkin ditemukan dalam 50 kasus, biasanya
karena pengobatan sebelumnya dengan antibiotik atau ketidakmampuan untuk
memberikan spesimen sputum yang memuaskan. Pneumonia bakteri umumnya
disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae tetapi jumlah kecil dapat juga disebabkan
oleh Staphylococcus aureus, Haemophilus influenza, Klebsiella pneumoniae, dan
Legionellapneumophilia. Non pneumonia bakteri paling sering disebabkan oleh
Mycoplasma pneumoniae.Penyebab non-bakteri \lain yang ditemukan dalam jumlah
kecil adalah Chlamydia psittaci (psittacosis) dan Coxiella burnetti (Q fever).
12

Pneumonia yang disebabkan oleh virus hampir semua oleh virus influenza dan cold
virus. Infeksi campuran yang ditemukan pada sekitar 10% kasus.
1, 2, 3

Pathogenesis
Dalam keadaan sehat, tidak terjadi pertumbuhan mikororganisma di paru. Keadaan
ini disebabkan oleh mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakseimbangan
antara daya tahan tubuh, mikroorganisme dapat berkembang biak dan menimbulkan
penyakit. Resiko infeksi di paru sangat tergantung pada kemampuan mikroorganisme
untuk sampai dan merusak permukaan epitel saluran napas. Ada beberapa cara
mikroorganisme mencapai permukaan:
1. Inokulasi langsung
2. Penyebaran melalui pembuluh darah
3. Inhalasi bahan aerosol
4. Kolonisasi dipermukaan mukosa
Dari keempat cara tersebut di atas yang terbanyak adalah secara kolonisasi. Secara
inhalasi terjadi pada infeksi virus, mikroorganisma tipikal, mikrobakteria atau jamur.
Kebanyakan bakteri dengan ukuran 0,5-2,0 mm melalui udara dapat mencapai
bronkus terminal atau alveoli dan selanjutnya terjadi proses infeksi. Bila terjadi
kolonisasi pada saluran napas atas (hidung, orofaring) maka akan terjadi aspirasi ke
saluran napas bawah sehingga terjadi inokulasi mikroorganisme, hal ini merupakan
permulaan infeksi dari sebagian besar infeksi paru. Aspirasi dari sebagian kecil secret
orofaring terjadi pada orang normal waktu tidur (50%) juga pada keadaan penurunan
kesadaran, peminum alcohol, dan pemakai obat (drug abuse). Sekresi orofaring
mengandung konsentrasi bakteri yang tinggi 10
8-10
/ml, sehingga aspirasi dari
sebagian kecil secret ( 0,001-1,1 ml) dapat memberikan titer inokulum bakteri yang
tinggi dan terjadi pneumonia. Pada pneumonia mikroorganisme biasanya masuk
secara inhalasi atau aspirasi. Umumnya mikroorganisme yang terdapat disaluran
13

napas bagian atas sama dengan saluran napas bagian bawah, akan tetapi pada
beberapa penelitian tidak ditemukan jenis mikroorganisme yang sama.
1
Klasifikasi pneumonia
1, 2
I. Berdasarkan klinis dan epidemiologis:
a. Pneumonia komuniti ( community acquired pneumonia)
b. Pneumonia nosokomial ( hospital acquired pneumonia /nosocomial
pneumonia )
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita immunocompromised ( pembagian ini
penting untuk memudahkan penatalaksanaan)
II. Berdasarkan bakteri penyebab
a. Pneumonia bacterial / tipikal: Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa
bakteri mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka,
misalnya Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphylococcus pada
penderita pasca infeksi influenza.
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan
Chlamydia
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi
terutama pada penderita daya tahan lemah (immunocompromised)
III. Berdasarkan predileksi infeksi
a. Pneumonia lobaris, sering pada pneumonia bacterial, jarang pada bayi
dan orang tua. Pneumonia yang terjadi apda satu lobus atau segmen
kemungkinan sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya
pada aspirasi benda asing atau proses keganasan. Lobar Penumonia
biasanya unifocal berkembang di rongga udara distal berdekatan
dengan pleura visceral dan kemudian menyebar melalui agunan rute
melayang udara untuk menghasilkan kekeruhan homogen seragam
14

segmen sebagian atau seluruh paru-paru dan kadang-kadang dan
seluruh lobus. Sebagai saluran udara tidak terutama yang terlibat dan
tetap paten, ada sedikit atau tidak ada kehilangan volume dan udara
bronchograms yang umum.
b. Bronkopneumonia ditandai dengan bercak-bercak infiltrate pada
lapangan paru. Dapat disebabkan oleh bacteria maupun virus. Sering
pada bayi dan orang tua. Jarang dihubunglan dengan obstruksi
bronkus.
c. Pneumonia interstitial
Diagnosis
1
Penegakan diagnosis dibuat dengan maksud pengarahan kepada pemberi terapi yaitu
dengan cara mencakup bentuk luas penyakit, tingkat berat penyakit, dan perkiraan
jenis kuman penyakit, sering sekali bentuk pneumonia mirip, sekalipun
mikroorganisme penyebabnya berbeda. Oleh sebab itu, diagnosis pneumonia
didasarkan kepada riwayat penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisik yang teliti dan
pemeriksaan penunjang yang baik selain itu juga diagnosis klinis pneumonia
bergantung kepada penemuan kelainan fisis atau bukti radiologis yang menunjukan
konsolidasi. Adapun pemeriksaannya meliputi

1. Anamnesis
Gambaran klinis biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat
dapat melebihi 40
o
C, batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang-kadang
disertai darah, sesak napas dan nyeri dada.



15

2. Pemeriksaan fisis
Temuan pemeriksaan fisis dada tergantung dari luas lesi di paru. Pada inspeksi dapat
terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas. Pada palpasi fremitus dapat
mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler
sampai bronchial yang mungkin disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi
ronki basah kasar pada stadium resolusi.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan labolatorium terdapat peningkatan jumlah leukosit, biasanya lebih
dari 10.000/ul kadang-kadang mencapai 30.000/ul, dan pada hitungan jenis leukosit
terdapat pergeseran ke kiri serta terjadi peningkatan LED. Untuk menentukan
diagnosis etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi. Kultur
darah dapat positif pada 20-25% penderita yang tidak diobati. Analisis gas darah
menunjukkan hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis
respiratorik.
- Awitan akut misalnya S.pneurnonia, Streptococus sp, Stapilococcus. Pneumonia
virus ditandai dengan gejala seperti myalgia, malaise, batuk kering dan non-
produktif
- Sputum, contohnya red currant jelly, ciri khas dari pneumonia klebsiella.

4. Pemeriksaan bakteriologis
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakea/transtrakeal, aspirasi jarum
transtorakal, torakosintesis, bronkoskopi, atau biopsi, untuk tujuan terapi empiris
dilakukan pemeriksaan apus gram, Burri Gin, Quellung test dan Z.Nielsen. kuman
yang predominan pada sputum yang disertai PMN yang kemungkinan merupakan
penyebab infeksi. Kultur kuman merupakan pemeriksaan utama praterapi dan
bermanfaat untuk evaluasi terapi selanjutnya.

16

5. Pemeriksaan khusus :
Titer antibodi terhadap virus, legionella dan mikoplasma. Nilai diagnostik bila titer
tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai
tingakat hipoksia dan kebutuhan oksigen.

6. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis dapat berupa foto thorax dan CT Scan.
(1)
Gambaran
pneumonia akan terjadi peningkatan densitas dalam bagian paru yang terkena. Paru
yang memberi gambaran lusen, akan tampak lebih opak karena adanya proses
peradangan yang menggantikan udara. Gambaran opak yang diberikan pun berbeda-
beda, tergantung bentuk infeksi dan distribusinya. Salah satu gambaran khas
pneumonia adanya air bronkogram, yakni terperangkapnya udara dalan bronkus
karena tiadanya pertukaran udara pada alveolus. Namun, gambaran ini tidak muncul
disemua pneumonia. Berdasarkan letak anatomis dibagi menjadi 3 yaitu pneumonia
lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia) dan pneumonia interstitialis
(bronkiolitis).
(4)

1. Pneumonia Lobaris
Gambaran Radiologis pada foto thorax pneumonia lobaris terutama pada kasus antara
lain:


Tidak
tampak deviasi trachea / septum / flssure / seperti pada atelektasis.

terkena.
ak Air Bronchogram Sign.
17

Pneumonia lobaris sering dikenal juga dengan pneumonia pneumococcus karena
seiring waktu infeksi dapat menyebar dan melibatkan seluruh lobus, sering juga
menempati satu lobus penuh/konsolidasi pada seluruh lobus dimulai dalam ruang
distal dan menyebar melalui pori-pori
(4)


Gambar 1. Pneumonia lobaris pada lapangan atas paru kanan
(10)


2. Bronkopneumonia
Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunyai
pola penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam
bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada
bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. Bronkopneumonia adalah
proses multi fokal yang dimulai pada bronkiolus terminalis dan respiratorius dan
cenderung menyebar secara segmental. Dapat juga disebut pneumonia lobularis dan
menghasilkan konsolidasi yang tidak homogen. Pada foto thoraks tampak infiltrat
peribronkhial yang semiopak dan tidak homogen didaerah hillus yang menyebabkan
batas jantung menghilang, penyebab paling sering oleh S.aureus dan organisme gram
negatif.
(4)

18


Gambar 2. Gambaran radiologi bronkopneumonia tampak infiltrat peribronkhial yang
semiopak dan tidak homogen didaerah hillus
(10)


3. Pneumonia interstitial
Pneumonia interstitial dapat bersifat akut dan kronik. Pneumonia Interstitial akut
dikenal dengan istilah Pulmonari Fibrosis Idiopatik.Penyebab tersering yaitu virus
dan mikoplasma. Gambaran radiologis berupa gambaran fibrosis pada basal dan
perifer paru, sering ditemukan colume paru yang berkurang dan juga tampak
honeycomb yang berasal dari densitas retikuler yang disebabkan olehkista kecil pada
dinding interstitial. Pemeriksaan yang digunakan untuk melihat jelas kelainan yang
tampak yaitu dengan modalitas CT Scan.
(11)


Gambar 3. .Pneumonia Interstitial dengan gambaran fibrosis pada basal dan b. perifer paru.
Tampak gambaran CT Scan pneumonia interstitial
(11)





a b
19

Gambaran radiologi pneumonia berdasarkan etiologi
1. Pneumonia bakteri
a. Pneumonia yang disebabkan oleh Klebsiella pneumoniae sering merupakan
nosokomial, namun juga bias didapatkan dari komunitas. Gambaran radiologi yang
sering ditemukan berupa kavitas dengan konsolidasi pada lobus yang sering diawali
dengan penonjolan fisura yang menandakan suatu respon yang sangat eksudatif.
(4)


Gambar 4. Pneumonia yang disebabkan oleh klebsiella pneumonia
(7)

b. Pneumonia yang disebabkan oleh staphylococcus aureus. Gambaran radiologi
tampak gambaran perselubungan homogen multifocal dan bilateral tanpa gambaran
air bronkogram. Pengurangan Volume paru kavitas, efusi maupun empiema
merupakan gambaran yang sering .Efusi pleuran terjadi pada sekitar 50% orang
dewasa namun sering terjadi pada anak-anak. Sering disertai pneumatokel dan abses
yang mungkin mengandung air fluid level.
(4)

20


Gambar 5. Pneumonia yang disebabkan oleh Staphylococcus Aureus. Tampak cavitas
pada hemitorax sinistra
(4)

c. Influenza A and B merupakan agen virus yang paling sering menyebabkan
pneumonia pada orang dewasa khususnya pada usia yang lebih tua. Gambaran
radiologi berupa infiltrate yang tidak terlalu jelas, yang tidak merata yang sering
terkena pada lobus bawah unilateral maupun bilateral (gambar.3).
(4)


Gambar 6.pneumonia yang disebabkan oleh Influenza A and B.
(4)

21

d. Herpes simplex virus (HSV) juga dapat menyebabkan pneumonia. Gambaran
radiologi berupa perselubungan homogeny dengan distribusi segmental atau
subsegmental serta efusi pleura pada sekitar 50% pasien.
(4)






Gambar 7. Gambaran radiologi pneumonia varisela
(12)


Modalitas lainnya untuk mendiagnosis pneumonia lobaris.
1. CT Scan Thorax
Dalam beberapa kasus ct-scan dapat mendeteksi pneumonia yang tidak
terlihat pada foto thoraks. Adapun indikasi CT scan Thorax yaitu:
a. Kanker paru dan penentuan stadium metastasis
b. Adenopati (Limpoma, tumor, aneurisma)
c. Tumor pericardium, efusi pericardium
d. Infeksi paru ( sarcoid, brinkiektasis, pneumoconiosis, COPD,
Tuberculosis, pneumonia).
(6)



22


Gambar. 8. Gambaran radiologi CT scan pada beberapa tipe pneumonia
(7)
Diagnosis pasti pneumonia komuniti didapatkan dari anamnesis, gejala klinis,
pemeriksaan fisis, foto toraks dan laboratorium. Diagnosis pasti pneumonia komuniti
ditegakkan jika pada foto toraks terdapat infiltrat baru atau infiltrate progresif
ditambah dengan 2 atau lebih gejala di bawah ini:

Batuk-batuk bertambah
Perubahan karateristik dahak/ purulen
Suhu tubuh 38C (aksila)/ riwayat demam
Pemeriksaan fisis ditemukan tanda-tanda konsolidasi, suara napas bronchial
dan ronki
Leukosit 10.000 atau < 4500
23

Penilaian derajat keparahan penyakit pneumonia komuniti dapat dilakukan dengan
menggunakan system skor menurut hasil penelitian Pneumonia Patient Outcome
Research Team (PORT) seperti table dibawah:
Karakteristik Penderita Jumlah Point
Faktor demografi
- Usia :
laki-laki
perempuan
- Perawatan di rumah
- Penyakit penyerta
Keganasan
Penyakit hati
Gagal jantung kongestif
Penyakit serebrovaskuler
Penyakit ginjal

Pemeriksaan fisik
- Perubahan status mental
- Pernapasan > 30 kali/menit
- Tekanan darah sistolik < 90 mmHg
- Suhu tubuh < 35
o
atau > 40
o
C
- Nadi > 125 kali/menit

Hasil laboratorium / radiologi
- Analisa gas darah arteri : pH < 7,35
- BUN > 30 mg/dL
- Natrium < 130 mEq/liter
- Glukosa > 250 mg/dL
- Hematokrit < 30%
- PO
2
< 60 mmHg
- Efusi pleura


umur (tahun)
umur (tahun) 10
+10

+30
+20
+10
+10
+10


+ 20
+ 20
+ 20
+15
+10


+ 30
+ 20
+ 20
+10
+ 10
+10
+10
Tabel 1: Pneumonia Patient Outcome Research Team (PORT)





24




Risiko Kelas
risiko
Total skor Perawatan
Rendah I Tidak diprediksi Rawat jalan
II <70 Rawat jalan
III 71-90 Rawar inap/rawat jalan
Sedang IV 91-130 Rawat inap
Berat V >130 Rawat inap
Tabel 2: Derajat Skor Risiko Pneumonia menurut PORT
Menurut ATS criteria pneumonia berat bila dijumpai salah satu atau lebih criteria
di bawah ini:
Kriteria minor:
Frekuensi napas > 30x/menit
PaO2/FiO2 kurang dari 250 mmHg
Foto toraks paru menunjukkan kelainan bilateral
Foto toraks paru melibatkan > 2 lobus
Tekanan sistolik < 90 mmHg
Tekanan diastolic < 60 mmHg
Kriteria mayor:
Membutuhkan ventilasi mekanik
Infiltrate bertambah > 50%
Membutuhkan vasopressor >4jam (septic syok)
Kreatinin serum > 2 mg/dl atau peningkatan > 2 mg/dl pada penderita
riwayat penyakit ginjal atau ginjal yang membutuhkan dialysis.
25

Berdasarkan kesepakatan PDPI, criteria yang dipakai untuk indikasi rawat
inap pneumonia komuniti adalah:
1. Skor PORT lebih dari 70
2. Bila skor PORT kurang < 70 maka penderita tetap perlu dirawat inap bila
dijumpai salah satu dari criteria di bawah ini:
Frekuensi napas > 30x/menit
PaO2/FiO2 kurang dari 250 mmHg
Foto toraks paru menunjukkan kelainan bilateral
Foto toraks paru melibatkan > 2 lobus
Tekanan sistolik < 90 mmHg
Tekanan diastolic < 60 mmHg
3. Pneumonia pada pengguna NAPZA
Kriteria perawatan intensif.
Penderita yang memerlukan perawatan di Ruang Rawat Intensif adalah
penderita yang mempunyai paling sedikit 1 dari 2 gejala mayor tertentu
membutuhkan ventilasi mekanik dan membutuhkan vasopressor 4 jam
(syok septic) atau 2 dari 3 gejala minor tertentu (PaO2/FiO2) kurang dari
250 mmHg, foto toraks paru menunjukkan kelainan bilateral dan tekanan
sistolik < 90 mmHg. Criteria minor dan mayor yg lain bukan merupakan
indikasi untuk perawatan Ruang Rawat Intensif.
Pentalakasanaan pneumonia komuniti dibagi menjadi:
a. Penderita rawat jalan
Pengobatan suportif/ simptomatik
Istirahat di tempat tidur
Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi
Bila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas
Bila perlu dapat diberikan mukolitik dan ekspektoran
26

Pemberian antibiotic harus diberikan ( sesuai bagan) kurang dari 8
jam.
b. Penderita rawat inap di ruang rawat biasa
Pengobatan suportif/ simptomatik
Pemberian terapi oksigen
Pemasangan infuse untuk dehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit
Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
Pemberian antibiotic harus diberikan ( sesuai bagan) kurang dari 8
jam.
c. Penderita rawat inap di Ruang Rawat Intensif
Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infuse untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit.
Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
Pengobatan antipiretik (sesuai bagan) kurang dari 8 jam
Bila ada indikasi penderita dipasang ventilasi mekanik. Penderita
pneumonia berat yang dating ke UGD diobservasi tingkat kegawatannya
bila dapat distabilkan maka penderita dirawat inap di ruang rawat biasa,
bila terjadi respiratory distress maka penderita dirawat di ruang Rawat
Intensif. Bila dengan pengobatan secara empiris tidak ada pembaikan/
memburuk maka pengobatan disesuaikan dengan bakteri penyebab
dengan uji sensitivitas




27

Diferensial diagnosis
1. Tuberkulosis Post Primer

Gambar 9. Garis fibrosis pada Lapisan Parenkim meluas ke bagian apeks dengan penarikan
kedua hilus pada kedua lobus atas.
(8)


Gambaran umum foto thorax pada Tuberkulosis Post primary
Dapat berupa aktif maupun inaktif
Terdapat kavitas, skar fokal yang paling sering pada lobus atas paru
Adenopathy and effusions jarang ditemukan pada gambaran radiologi
Infeksi jamur dapat berkembang pada kavitas yang aktif.
(8)
2. Bronkogenik karsinoma
Manifestasi klinis hamper sama dengan gejala pada pneumonia. Gambaran
radiologi dapat meliputi atelektasis lobus, dapat memberi gambaran air
bronkogram atau kavitas.
(9)


Gambar 10. Gambaran atelektasis lobus, air bronkogram atau kavitas
28

3. Atelektasis
Atelektasis memberi gambaran yang mirip dengan pneumonia tanpa air-
bronkagram. Namun terdapat penarikan jantung, trakea dan mediastinum ke arah
yang sakit karena adanya pengurangan volume. Interkostal space menjadi lebih
sempit dan pengecilan dari seluruh atau sebagian paru-paru yang sakit. sehingga
akan tampak toraks asimetris.
(4)


Gambar 11. Gambaran perselubungan homogen pada lobus atas kanan, dengan ditandai perpindahan
fisura horizontal. Tidak ada air bronkogram. kesan atelektasis lobus atas kanan.
(9)











29

DAFTAR PUSTAKA

1. Indonesia PDP. Pneumonia Komuniti Pedoman, Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. In: Indonesia PDP, editor. Pneumonia
Komuniti Pedoman, Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta;
2003. p. 2-15.
2. Padley SPG, Rubens MB. Pulmonary Infections. In: Sutton D, Robinson
PJA, P.R.Jenkins J, W.Whitehouse R, editors. Textbook of Radiology and
Imaging. 7 ed. London: Elsevier Science Limited; 2008. p. 131-36.
3. Goodman PC. Pulmonary Infection. In: Grainger RG, Allison DJ, editors.
Diagnostic Radiology A Textbook of Medical Imaging. Fifth ed.
Churchill: Elsevier Limited; 2008. p. 1-15.
4. Dahlan, Zul.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Ed 4 vol ll.Jakarta.2007.
5. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Balai Penerbit FK UI. Jakarta
2005.
6. Washington Radiology Associate (www.washingtonradiology.com)
7. www.medicinenet.com
8. Misra.Rakesh, Planner.Andrew, Uthappa,Mangerira. A-Z Of Chest
Radiology. Cambridge University. 2007
9. Ali.Juzar, R.Wareen. Chest Radiology. Mc Grow-Hill companies.2007
10. Tsuei .Betty J., Lyu .Peter E. Chest radiography. Atlas Oral Maxillofacial
Surg Clin N Am. P. 189211. 2002
11. Misumi .Shigeki, Lynch.David A. Idiopathic Pulmonary Fibrosis/Usual
Interstitial Pneumonia Imaging Diagnosis, Spectrum of Abnormalities,
and Temporal Progression. Atsjournal.vol.3. P.307-14. 2006
12. www.learningradiology.com