Anda di halaman 1dari 21

BAB III

PROSES DAN STRUKTUR ENDAPAN MINERAL



3.1. Struktur Internal Bumi dan Tektonik Lempeng
Pembagian lapisan struktur internal bumi dapat berdasarkan sifat kimia
(ataukomposisinya) ataupun berdasarkan sifat fisiknya (Gambar 3.1).

Gambar 3.1 Penampang interior bumi

3.1.1. Komposisi Kerak Bumi
Seperti di sebutkan di atas,kerak bumi dibedakan menjadi kerak
samuderayang berkomposisi basaltic dan kerak benua yang berkomposisi
granitic. Disamping adanya perbedaan komposisi batuan, kedua tipe kerak
tersebut juga mempunyai perbedan kadar unsur-unsur yang yang terdapat di
dalamnya, walupun demikian terdapat beberapa unsur yang mempunyai proporsi
relativ sama pada kedua kerak tersebut.

Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-2
Tabel 3.1. Daftar kasar beberapa logam penting di kerak bumi

3.1.2. Tektonik Lempeng dan Mineralisasi
Continental rifting dan Mid Oceanic Spreading dibentuk pada retakan
lempeng, ketika magma bergerak naik dari mantel menuju permukaan lantai
samudra membentuk sekuen batuan ofiolit penampang tengah samudera, sebagai
lempeng baru. Lempeng baru yang terbentuk bergerak menjauhi sumbu
pemekaran, makin lama semakin dingin dan semakin tebal, hingga densitasnya
semakin besar dan kemudian tenggelam membentuk penunjaman (Subduction
Zone), sehingga lempeng akan panas, hancur, menyebabkan terbentuknya leburan
sebagian pada mantel membentuk m a g m a ,dengan densitas rendah bergerak
kembali kepermukaan menbentuk rangkaian gunungapi. Pergerakan lempeng
seringkali juga menimbulkan pergeseran membentuk sesar mendatar besar
(Transform faults), juga diikuti oleh pembentukan magma.
Litosfer bumi dibagi menjadi delapan lempeng besar serta sekitar 24
lempeng kecil, yang bergerak di atas lapisasn Astenosfer dengan kecepatan sekitar
5-10cm/tahun. Kedelapan lempeng besar tersebut terdiri dari:
Lempeng Afrika (African Plate)
Lempeng Antartik (Antarctic Plate)
Lempeng Hindia-Australia (Indian-Australian Plate)
Lempeng Pasifik (Pasific Plate)
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-3
Lempeng Amerika Utara (North American Plate)
Lempeng Amerika Selatan (South American Plate )
Lempeng Nazca (Nazca Plate)
Batas-batas lempeng tektonik tersebut di atas, membentuk lingkungan
tektonik yang beragam, secara umum dikenal sebagai
1. Mid-oceanic ridge dan back arc rifting dan transform faults, yang
membentuk batas lempeng konstruktif
2. Subduction zone, yang merupakan batas lempeng destruktif, menghasilkan
island arcs dan active continental margins
3. Oceanic intra-plate, menghasilkan oceanic island (hot spot)
4. Continental intra-plate, yang menghasilkan continental flood basalt dan
continental rift zone.

Gambar 3.2. Penampang tektonik interior bumi

Tektonik Lempeng berperan besar dalam mengontrol terjadinya
magmatisme, hidrotermal, dan volkanisme pada lapisan kerak bumi. Sebagian
besar proses pembentukan mineralisasi sangat terkait dengan proses magmatisme
dan hidrotermal atau pembentukan batuan. Oleh karena itu sangat penting
memahami lempeng tektonik, sebagai dasar untuk memahami adanya
mineralisasi.
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-4
Pada kenyataannya tektonik lempeng sangat baik dalam menjelaskan
karakteristik batuan beku dan asosiasi endapan mineral. Lebih dari 90% aktivitas
batuan beku yang sekarang ada terletak di dekat batas lempeng tektonik. Sehingga
batas lempeng merupakan tempat yang paling penting bagi penyebaran endapan
mineral.
Keberadaan endapan bijih di dunia sebagian besar tersebar pada wilayah
batas lempeng, terutama pada jalur magmatisme-vulkanisme yang disebabkan
subduksi lempeng. Sebagai contoh adalah batas wilayah lempeng pasifik, yang
membentuk busur kepulauan di bagian barat mulai dari Selandia Baru-Papua
Nuegini-Indonesia-Pilipina-Jepang dan busur magmatik kontinen di bagian timur
mulai dari Chili-Amerika Serikat hingga Kanada, yang dikenal sebagai ring of
fire, merupakan jalur mineralisasi yang sangat potensial.
Keberadaan endapan mineral yang signifikan di Indonesia, sebagian besar
berasosianya atau berada pada jalur busur magmatik, seperti endapan porfir Cu-
Au kompleks Grasberg-Ertzberg yang berada pada busur irian Jaya Tengah,
Endapan Cu-Au Batu hijau Sumbawa dan Endapan Au-Ag Epitermal Pongkor
yang berada pada busur Sunda-banda, Endapan Au Epitermal Kelian pada busur
Kalimantan Tengah, Endapan Au Sedimen Hosted Messel di busur Sulawesi Min
danau, Endapan Au epitermal Gosowong yang berada pada busur Halmahera, dan
lain sebagainya. Jenis logam yang terkonsentrasi, pada wilayah tertentu, sangat
dikontrol oleh lingkungan tektoniknya. Sn, W,Mo, F, Nb umumnya dikontrol oleh
oleh keberadaan kerak kontinen, baik pada intra-continental hotspot, intra-
continental rift zone, maupun pada continental magmatic arcs. Cr, Ni,Pt, Cu
dikontrol oleh kehadiran kerak samodera, diantaranya pada pemekaran tengah
samudera. Au, Ag,Cu paling sering hadir padalingkungan tektonik busur
kepulauan

3.2. Bentuk Endapan Biji
Secara umum parameter dimensional dari suatu badan bijih yaitu ukuran,
bentuk (pola) sebaran dan keberadaannya merupakan akibat dari variasi dan
distribusi kadar mineral bijih. Bentuk sebaran suatu badan bijih akan
mempengaruhi teknik penambangan yang akan digunakan untuk menambangnya.
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-5
Bahan galian yang tersebar luas dan berkadar rendah (low grade) yang terdapat
pada permukaan bumi dapat ditambang dengan metoda tambang terbuka,
sementara endapan bahan galian yang berbentuk urat (vein-veinlets) dengan kadar
yang relatif lebih tinggi (high grade) dapat ditambang dengan metode tambang
bawah tanah. Dalam hal bentuk (pola) sebaran, endapan bahan galian dengan
badan bijih yang teratur (terkumpul) akan lebih mudah ditambang daripada
endapan bahan galian dengan badan bijih yang mempunyai bentuk (pola) yang
tersebar (disseminated). Berdasarkan bentuk (morfologi) badan bijih dan pola
sebaran mineral bijihnya jika dihubungkan dengan batuan sekitarnya
(batuansamping/induk), tubuh endapan bijih dapat dikelompokkan atas 2, yaitu:
badan bijih berbentuk discordant dan badan bijih yang berbentuk concordant.
Discordant yaitu jika bada bijih memotong perlapisan batuan sekitarnya.
Sedangkan concordant yaitu jika badan bijih membentuk pola yang tidak
memotong perlapisan batuan sekitarnya.

3.2.1. Tubuh Biji Diskorcordon
Badan bijih diskordan dapat dijumpai mempunyai bentuk yang beraturan
(regular shapes) maupun dengan bentuk yang tidak beraturan (irregular shapes).

3.2.1.1. Tubuh Biji Beraturan
1. Badan bijih yang berbentuk tabular, dengan ciri antara lain:
badan bijih dengan pola penyebaran yang menerus dalam arah 2D
(panjang dan lebar), tetapi terbatas dalam arah 3D (tipis),
berbentuk urat (vein-fissure veins- dan lodes,
urat-urat umumnya terbentuk di zona rekahan sehingga menunjukkan
bentuk yang teratur dalam orientasinya
mineralisasi pada umumnya berupa asosiasi dari beberapa kombinasi
mineral bijih dan pengotor (gangue) dengan komposisi yang sangat
bervariasi, dan
batas dari penyebaran urat ini umumnya jelas, yaitu langsung dibatasi
dengan dinding urat.
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-6

Gambar 3.3. Badan bijih yang berbentuk tabular berupa vein yang mengalami sesar normal.

Gambar 3.4 Contoh badan bijih yang berbentuk tabular berupa vein dan veinlets.

Gambar 3.5. Pembentukan vein.
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-7
2. Badan bijih yang berbentuk tubular, dengan ciri antara lain:
badan bijih dengan pola penyebaran relatif pendek (terbatas) dalam arah
2D namun relatif dalam kearah 3D (arah vertikal),
jika penyebaran badan bijih ini relatif vertikal-sub vertikal biasanya
disebut sebagai pipes atau chimneys, jika penyebarannya horizontal atau
subhorisontal disebut mantos.
Salah satu contoh badan bijih yang berbentuk tubular adalah badan bijih
yang ditemukan di timur Asutralia, sepanjang 2400 km, memanjang dari
Queensland sampai New South Wales, yang terdiri dari ratusan pipa di dalam dan
dekat dengan intrusi granit. Sebagian besar terisi mineralisasi kuarsa dan beberapa
diantaranya termineralisasi dengan bismuth, molybdenum, tungstehn dan tin.
Badan bijih berbetnuk mantos dan pipes dapat dijumpai memiliki percabangan
(Gambar 2.8). Mantos dan pipes umumnya dijumpai berasosiasi, pipes umumnya
bertindak sebagai sumber (feeders) terhadap mantos. Terkadang mantos saling
berhubungan diantara lapisan batuan dengan perantaraan pipes, namun ada pula
yang dijumpai sebagai percabangan dari pipes, contohnya pada Providencia Mine
di Mexico dijumpai sebuah badan bijih berbentuk pipa jauh di kedalaman sebagai
sumber dari duapuluh mantos yang dekat dengan permukaan. Pada beberapa
tubuh bijih yang berbentuk tubular terbentuk oleh aliran larutan mineralisasi
secara subhorisontal sehingga tubuh bijih dapat dijumpai diskontinyu membentuk
tubuh bijih yang berbentuk pod.

3.2.1.2. Badan Biji Tidak Beraturan
Badan bijih bentuknya tidak beraturan (irregular shapes) dibedakan atas:
1. Badan bijih disseminated:
Badan bijih dengan pola penyebaran mineral bijih yang tersebar di dalam
host rock
Mineral-mineral bijih tersebut tersebar merata di dalama host rock berupa
(dalam bentuk) veinlets yang saling berpotongan menyeruapai jarring-
jaring yang saling berkaitan membentuk sistem veinlets yang sering
disebut stockwork.
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-8
Stockwork dijumpai dalam bentuk tubuh endapan yang besar pada
lingkungan intrusi batuan beku asam sampai intermedit, akan tetapi
stockwork juga dapat dijumpai memotong kontak country rocks dan
beberapa dijumpai sebagian atau seluruhnya berada pada country rocks.

Gambar 3.6. badan biji disseminated dan Stockwalk
2. Badan bijih irregular replacement
Merupakan badan bijih yang terbentuk melalui pergantian unsur-unsur
yang sudah ada sebelumnya.
Proses replacement ini umumnya terjadi pada temperatur rendah sampai
sedang (<400
o
C), contohnya endapan magnesit pada carbonate-rich
sediments.
Proses replacement lainnya dapat juga terjadi pada suhu tinggi pada
kontak intrusi batuan beku yang membentuk endapan skarn. Tubuh
endapannya dicirikan dengan pembentukan mineral-mineral calc-silicate
seperti diopside, wollastonite, andradite, garnet dan actinolite. Endapan
bahan galian ini umumnya berbentuk sangat tidak beraturan. Disebut juga
endapan metasomatisme kontak (pirometasomatik).


Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-9

Gambar 3.7. Sketsa Contoh Model Endapan

3.2.2. Tubuh Biji Konkordon
Badan bijih konkordan umumnya terbentuk pada batuan induk (host rock)
sebagai endapan hasil proses pelapukan. Endapan-endapan yang mempunyai
badan bijih berbentuk konkordan ini dikelompokkan sesuai dengan jenis batuan
induknya:
1. Sedimentary host rock:
Merupakan endapan dengan batuan induk adalah batuan sedimen
Endapan-endapan bijih yang tekonsentrasi dalam batuan sedimen cukup
penting, terutama endapan-endapan logam dasar dan besi.
Di dalam batuan sedimen, mineral-mineral bijih terbentuk (terkonsentrasi)
sebagai suatu bagian yang integral dari urutan stratigrafi, yang dapat
terbentuk secara epigenetic filling atau replacement pada rongga-rongga
(pori-pori).
Tubuh endapan umumnya menunjukkan perkembangan kearah 2D dan
kurang berkembang kearah tegak lurusnya.
Endapan-endapan seperti ini pada umumnya tersebar sejajar pada batuan
induknya dengan bidang perlapisan batuan sekitarnya.
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
10

Gambar 3.8. Bentuk endapan konkordan pada batuan sedimen

Gambar 3.9. Penampang Tubuh Biji

3.3. Proses Pembentukan Biji
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya
disebut dengan endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah
terubah melalui pelapukan atau proses-proses luar (superficial processes) disebut
dengan endapan sekunder (supergen).


Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
11
3.3.1. Tekstur I nfilling (Pengisian)
Proses pengisian umumnya terbentuk pada batuan yang getas pada daerah
dimana tekanan pada umumnya relatif rendah, sehingga rekahan atau kekar
cenderung bertahan. Tekstur pengisian dapat mencerminkan bentuk asli dari pori
serta daerah tempat pergerakan fluida serta dapat memberikan informasi struktur
geologi yang mengontrolnya. Mineral-mineral yang terbentuk dapat memberikan
informasi tentang komposisi fluida hidrotermal maupun temperatur
pembentukannya.
Pengisian dapat terbentuk dari presipitasi leburan silikat (magma) juga
dapat terbentuk dari presipitasi fluida hidrotermal. Kriteria tekstur pengisian dapat
dikenali dari kenampakan:
Adanya vug atau cavities, sebagi rongga sisa karena pengisian yang tidak
selesai
Kristal-kristal yang terbentuk pada pori terbuka pada umumnya cenderung
euhedral seperti kuarsa, fluorit, feldspar, galena, spalerit, pirit, arsenopirit,
dan karbonat. Walupun demikian mineral pirit, arsenopirit, dan karbonat
juda dapat terbentuk euhedral walaupun pada tekstur penggantian.









Gambar 3.10. Foto kiri memperlihatkan kenampakan vuggy quartz,sedangkan foto kanan
memperlihatkan tekstur crustiform-colloform, sebagai penciri tekstur pengisian.
Adanya struktur zoning pada mineral, sebagai indikasi adanya proses
pengisian, seperti mineral andradit-grosularit. Struktur zoning pada mineral
sulit dikenali dengan pengamatan megaskopis.
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
12
Tekstur berlapis, fluida akan sering akan membentuk kristal-kristal halus,
mulai dari dinding rongga secara berulang-ulang yang dikenal sebagai
crustiform atau colloform. Lapisan crustiform yang menyelimuti fragmen
dikenal sebagai tekstur cockade. Apabila terjadi pengintian kristal yang
besar maka akan terbentuk comb structure. Pada umumnya perlapisan yang
dibentuk oleh pengisian akan membentuk perlapisan yang simetri.








Gambar 3.11. Gambar yang menunjukkan beberapa kenampakan tekstur pengisian. a) Vuggy atau
rongga sisa pengisian, b). Kristal euhedral, c). Kristal zoning, d). Gradasi ukuran Kristal,
e). Tekstur crustiform, f). Tekstur cockade, g). Tekstur triangular, h). Comb structure, i).
Pelapisan simetris
Kenampakan tekstur berlapis juga dapat terbentuk karena proses
penggantian (oolitik, konkresi, pisolitik pada karbonat) atau proses
evaporasi (banded ironstone), tetapi sebagain besar tekstur berlapis
terbentuk karena proses pengisian.
Tekstur triangular terbentuk apabila fluida mengendap pada pori diantara
fragmen batuan yang terbreksikan. Kalau pengisian tidak penuh, akan
mudah untuk mengenalinya. Pada banyak kasus fluida hidrotermal juga
mengubah fragmen batuan secarara menyeluruh. Problemnya apabila
mineral hasil pengisian antar fragmen sama dengan mineral hasil ubahan
pada fragmen (contoh paling banyak adalah silika pengisian disertai silika
penggantian). Walau demikian pada tekstur pengisian umumnya
memperlihatkan kenampakan berlapis (tekstur cockade).
Untuk mengenali tekstur pengendapan dibutuhkan pemahaman geologi
terkait dengan ditempat mana fokus kita diarahkan. Hal yang utama adalah
memperkirakan akses fluida dalam suatu batuan dinding yang terubah. Fluida
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
13
akan bergerak melalui daerah yang mempunyai permeabilitas yang besar yang
biasanya sebagai ruang terbuka. Dalam konteks ini dapat diartikan bahwa
perhatian pada tekstur pengisian sebaiknya difokuskan pada daerah yang
mempunyai ubahan maksimum. Daerah yang membentuk tekstur pengisian, pada
umumnya cendrung membentuk struktur urat (vein), urat halus (veinlets),
stockwork dan breksiasi.

3.3.2. Tekstur Replacement (penggantian)
Proses ubahan dibentuk oleh penggantian sebagian atau seluruhnya tubuh
mineral menjadi mineral baru, karena pergerakan larutan selalu melewati pori
rekahan atau rongga, maka tekstur penggantian selalu berpasangan dengan tekstur
pengisian, oleh karena itu mineralogi pada tekstur penggantian relatif sama
dengan mineralogi pada tekstur pengisian, akan tetapi mineralogi pengisian
cenderung berukuran lebih besar. Berikut beberapa contoh kenampakan tekstur
ubahan.
Pseudomorf, walaupun secara komposisi sudah tergantikan menjadi mineral
baru, seringkali bentuk mineral asal masih belum terubah
Rim mineral pada bagian tepi mineral yang digantikan
Melebarnya urat dengan batas yang tidak tegas
Tidak adanya pergeseran urat yang saling berpotongan
Mineral pada kedua dinding rekahan tidak sama
Adanya mineral yang tumbuh secara tidak teratur pada batas mineral lain








Gambar 3.12. Gambar yang menunjukkan beberapa kenampakan tekstur penggantian (Guilbert
dan Park, 1986). Berturut-turut dari kiri:
a) Pseudomorf, bementit mengganti sebagian Kristal karbonat
b) Bornit mengganti pada bagian tepid an rekahan kalkopirit
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
14
c) Digenit yang mengganti kovelit dan kalkopirit, memperlihatkan lebar yang berbeda








Gambar 3.13. Gambar yang menunjukkan beberapa kenampakan tekstur penggantian (Guilbert
dan Park, 1986). Berturut-turut dari arah kiri:
a) Urat kalkopirit yang saling memotong, tidak memperlihatkan pergesaran
b) Komposisi mineral yang tidak simetris pada dinding rekahan
c) Kenampakan tumbuh bersama yang tidak teratur pada bagian tepi mineral

3.3.3. Tekstur Exolution (Eksolusi)
Mineral-mineral yang terbentuk sebagai homogenous solid-solution pada
saat temperatur mengalami penurunan, komponen terlarut akan memisahkan diri
dari komponen pelarut membentuk tekstur exolution. Kenampakan komponen
(mineral) terlaut akan membentuk inklusi-inklusi halus pada mineral pelarutnya.
Inklusi-inklusi ini kadang teratur dan sejajar, kadang berlembar, kadang tidak
teratur.












Gambar 3.14. Kanan: Memperlihatkan kenampakan foto mikroskopis tekstur penggantian mineral
kovelit pada bagian tepi mineral kalkopirit. Kiri: memperlihatkan kenampakan foto mikroskopis
tekstur exolution mineral kalkopirit pada tubuh spalerit (perbesaran 40x)
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
15














Gambar 3.15. Beberapa kenampakan khas tekstur exolution pada mineral sulfida dan okksida
(Evans, 1993).
Adanya tekstur exolution menunjukkan adanya temperatur
pembentukannya yang relatit tinggi sekitar 300-600C.
Tabel 3.3. Beberapa contoh tekstur exolution mineral kalkopirit-stannit-spalerit temperatur
pembentukannya (Evans, 1993)


3.3.4. Paragenesa Mineral
Definisi dan batasan paragenesa mineral antara ahli yang satu dengan
lainnya seringkali berbeda. Guilbert dan Park (1986) mengartikan paragenesa
sebagai himpunan mineral bijih yang terbentuk pada kesetimbangan tertentu yang
melibatkan komponen tertentu. Sedangkan beberapa penulis lain mengartikan
paragenesa sebagai urutan waktu relatif pengendapan mineral berapa kali suatu
pengendapan mineral telah terbentuk (Park dan MacDiarmid, 1970; Taylor
dkk., 1996). Kronologi pengendapan mineral tersebut, oleh Guilbert dan Park
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
16
(1986) disebut sebagai sikuen paragenesa. Penulis mengartikan Paragenesa
mineral sebagai kronologi pembentukan mineral yang dibagi menjadi beberapa
stadia pembentukan. Batasan stadia sendiri juga sering menghasilkan banyak
tafsiran, secara umum dapat diartikan sebagai kumpulan mineral yang terbentuk
atau diendapkan selama aliran fluida berjalan menerus (Taylor, 1998). Jika suatu
aliran fluida berhenti dan kemudian terjadi aliran lain, maka dapat diartikan
terdapat dua stadia. Secara ilmiah tidak mungkin mengetahui atau membuktikan
secara pasti adanya ketidak-menerusan aliran fluida hidrotermal yang melewati
suatu tempat. Kenyataan dalam prakteknya pembagian stadia dihitung dari berapa
kali suatu batuan mengalami tektonik, dengan anggapan setiap rekahan hasil
tektonik yang mengandung mineralisasi merupakan satu sikuen waktu relatif.
Tujuan dapat menyusun paragenesa mineral (bijih) pada suatu tempat,
perlu dilakukan observasi overprinting pada sejumlah contoh batuan. Pengertian
overprinting dapat diartikan sebagai observasi tekstur pada sampel bijih untuk
mengetahui bahwa satu mineral terbentuk lebih awal atau lebih akhir dibanding
mineral lain. Observasi overprinting merupakan bagian dari proses untuk
menyusun paragenesa mineral yang merupakan dasar untuk mengetahui apa yang
terjadi pada suatu sistem hidrotermal.

3.2.5. Kriteria Overprinting
Secara teori kriteria overprinting cukup sederhana, akan tetapi relatif cukup
rumit dalam prakteknya. Pemahaman tekstur penggantian dan pengisian lebih
dulu harus dipahami. Secara umum ada beberapa kriteria, kriteria pertama adalah
criteria yang paling mudah dipahami dan meyakinkan.

3.2.5.1 Kriteria Pertama (Confidence Building)
a) Mineral Superimposition
Fluida hidrotermal yang melewati rekahan yang terbuka, akan
mengendapkan mineral, dimana satu mineral menutup yang lain, membentuk
sikuen pengisian (sequentian infill). Tekstur pengisian memberikan informasi
yang sangat berharga terkait dengan sikuen pengendapan mineral. Dalam satu
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
17
stadia pengendapan, secara ideal mineral yang terbentuk paling awal akan
ditumpangi atau dilingkupi oleh pembentukan mineral berikutnya.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan
observasi overprinting dengan kriteria sikuen pengisian, diantaranya:
Pada rongga (cavity) yang tidak terisi seluruhnya, akan mudah untuk
mengetahui urutan sikuen pengendapannya. Tetapi apabila seluruh rongga
terisi penuh, kadang sedikit sulit untuk mengetahui mineral mana yang
terbentuk lebih dulu.
Pada urat yang membentuk perlapisan bagus, kadang terlihat suatu kristal
yang terisolasi yang tidak mengikuti perlapisan. Untuk kasus tersebut,
penyelesaian dengan hanya satu sampel akan ada banyak kemungkinan
yang bisa disimpulkan. Oleh karena itu harus dilakukan pengamatan pada
beberapa contoh lain, untuk mengetahui sikuen yang sebenarnya dari
kristal tersebut.
Rekahan atau rongga pada breksi akan diendapi mineral dalam jangka
waktu yang panjang. Tidak ada jaminan bahwa yang terlihat sebagai satu
ikuen lapisan mewakili satu stadia pengendapan. Pada prinsispnya sangat
sulit untuk menyusun overprinting dari suatu lapisan/pengendapan yang
menerus. Makin besar rongga makin terbuka kesempatan untuk
pengendapan berikutnya membentuk lapisan yang menerus. Walaupun
perekahan mungkin dapat terjadi dan memungkinkan hadir stadia baru,
tetapi kenyataannya overprinting tidak mudah teramati (rongga lebih sulit
untuk pecah)
Untuk kasus seperti poin c), perbedaan tekstur dan besar butir yang
mencolok, bisa digunakan untuk menduga adanya overprinting. Bagian
paling dalam dari suatu rongga (sikuen terakhir pengendapan) biasanya
sebagai kristal yang paling kasar. Sehingga jika terjadi perubahan ukuran
kristal dari kasar ke halus, kemungkinan merupakan stadia pengendapan
yang berbeda.
Perbedaan temperatur pembentukan dari sangat tinggi ke rendah, juga bisa
mengindikasinkan adanya stadia yang berbeda.

Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
18
b) Structural Superimposition
c) Urat-stockwork yang saling memotong
d) Breksiasi, fragmen yang termineralisasi awal di dalam komponen yang
mengalami mineralisasi baru
Cross-cutting veins-stockworks merupakan kriteria overprinting yang
paling jelas dan mudah menafsirkannya. Pada umumnya proses perekahan akan
mendukung terjadinya proses pengendapan mineral. Pengendapan stadia kedua
akan mengikuti perekahan stadia kedua, yang terlihat memotong rekahan pertama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :
Pada sistem yang didominasi oleh silika, urat-urat halus silika yang tidak
beraturan sering saling memotong. Apabila tidak terlihat adanya
pergeseran urat yang dipotong, akan sulit untuk menentukan urat mana
yang terbentuk lebih dulu.
Pada saat terjadi aliran fluida (sebelumnya sudah terbentuk lapisan), bisa
terjadi perekahan baru yang memotong dan menggeser lapisan yang telah
ada. Jadi dalam kenyataan yang kita lihat (dari tekstur cross-cutting)
terdapat dua stadia, walaupun dua-duanya dibentuk dari fluida yang
mengalir kontinyu.

3.2.5.2. Kriteria Kedua (Suspicion Arousing)
Struktur apapun yang telah mengalami mineralisasi, cenderung mengalami
reaktivasi selama batuan kembali mengalami perekahan. Sesar, urat, zona
breksiasi cenderung membentuk bagian yang relatif lemah, mudah rekah,
sehingga fluida akan mudah melewatinya. Sehingga sangat umum bahwa
rangkaian mineralisasi berikutnya akan berada pada bagian yang sama dari
mineralisasi berikutnya, membentuk multistadia overprinting. Situasi seperti ini
akan dicirikan oleh :
a) Ketidaksinkronan antara alterasi dan mineralisasi (proporsinya tidak
umum)
Suatu urat halus yang memotong zona ubahan yang luas
Urat di dalam suatu batuan yang membentuk zona ubahan yang tidak
simetri
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
19
Sikuen pengisian pada urat yang tidak simetri. Walaupun lapisan pada
proses pengisian tidak harus simetri, tetapi adanya perbedaan lapisan
pada satu sisi perlu dicurigai
b) Konfigurasi alterasi yang tidak konsisten
Sangat umum terjadi, bahwa suatu zona alterasi meng-overprint alterasi
yang telah ada sebelumnya. Jika pada suatu tempat, alterasi kedua
mengubah seluruh hasil alterasi pertama, sedang ditempat lain alterasi
kedua hanya mengubah sebagian alterasi pertama, maka akan terlihat
adanya perbedaan zona alterasi. Sehingga, kalau berjalan dari host rock ke
arah zona urat, akan dijumpai perbedaan zona alterasi di beberapa bagian.
c) Alterasi pada batuan yang telah teralterasi
Sangat umum terjadi bahwa hasil alterasi masih memperlihatkan tekstur
batuan yang telah teralterasi sebelumnya. Mineral alterasi awal sering
diganti sebagian oleh mineral alterasi berikutnya.

3.2.5.3 Kriteria Ketiga (I ndirect Overprinting)
Pada banyak contoh inti bor, atau contoh batuan yang di-slab, sering
memperlihatkan urat-urat halus yang terpisah dengan himpunan mineral
ubahan/pengisian yang satu sama lain sangat berbeda. Kehadiran dua atau lebih
himpunan mineral pada tempat yang berbeda, menunjukkan adanya dua atau lebih
stadia mineralisasi, tetapi sulit mengetahui mana yang lebih dulu terbentuk.
Perbedaan kristal yang mencolok pada sikuen pengisian juga dapat dijadikan
indikasi adanya stadia yang berbeda, setidaknya ada perbedaan atau perubahan
kondisi kimia dan fisik.

3.2.5.4 Kriteria Ke-empat (I ndirect Overprinting-Temperature I nference)
Sebagian besar sikuen paragenetik memperlihatkan kecenderungan adanya
penurunan temperatur. Stadia awal umumnya terbentuk pada temperatur yang
relative lebih tinggi. Himpunan mineral yang mengandung biotit secara normal
terbentuk pada temperatur lebih tinggi dengan himpunan yang mengandung
mineral lempung. Bukan berarti apabila didapati asosiasi biotit dengan mineral
lempung dapat diartikan bahwa biotit terbentuk lebih dulu dibanding mineral
Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
20
lempung. Tetapi paling tidak criteria temperatur dapat digunakan untuk membantu
memilahkan stadia satu dengan lainnya (lihat tabel kisaran temperatur).
Tabel 3.4. Kisaran temperatur mineral-mineral ubahan hidrotermal yang penting (sebagian besar
berdasarkan kisaran yang dibuat oleh Kingston Morrison, 1995; (*) oleh Edwards, 1965 ).

Muhammad Oji Endapan Mineral

Geologi 012 III-
21
Tabel 3.5. Contoh tabel paragenesa mineral