Anda di halaman 1dari 85

PROBLEM FOCUSED COPING IBU YANG MEMILIKI

ANAK CEREBRAL PALSY DITINJAU DARI SELF


EFFICACY DAN TINGKAT PENDIDIKAN




SKRIPSI





IRENE ENGELICA
04.40.0152
























FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2008
Perpustakaan Unika
ix
ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self
efficacy dan tingkat pendidikan dengan problem focused coping ibu
yang memiliki anak cerebral palsy. Penelitian dilakukan pada tanggal
23-28 J anuari 2008 dengan mengambil populasi di YPAC Cabang
Semarang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik
Purposive Sampling. Hipotesis pertama diuji dengan menggunakan
rumus Analisis Regresi Dua Prediktor dan didapatkan hasil r
12 y

=0,581
dengan p<0,01. Hal ini membuktikan bahwa terdapat hubungan yang
sangat signifikan antara problem focused coping ibu yang memiliki anak
cerebral palsy dengan self efficacy dan tingkat pendidikan sehingga
hipotesis pertama penelitian ini diterima. Sumbangan efektif self
efficacy terhadap problem focused coping adalah sebesar 26,7%,
sedangkan sumbangan efektif tingkat pendidikan terhadap problem
focused coping adalah sebesar 7,0%. Hipotesis kedua diuji dengan
rumus Product Moment dan didapatkan hasil r
xy
=0,501 dengan p<0,01
untuk hipotesis minor pertama. Hal ini menunjukkan bahwa ada
hubungan positif yang sangat signifikan antara problem focused coping
ibu yang memiliki anak cerebral palsy dengan self efficacy sehingga
hipotesis minor pertama diterima. Hipotesis minor kedua didapatkan
hasil r
xy
= 0,444 dengan p<0,01. Hal ini menunjukkan bahwa ada
hubungan positif yang sangat signifikan antara problem focused coping
ibu yang memiliki anak cerebral palsy dengan tingkat pendidikan
sehingga hipotesis minor kedua diterima.

Kata kunci : Problem Focused Coping, Self Efficacy, Tingkat
Pendidikan, Cerebral Palsy.



Perpustakaan Unika
x
DAFTAR ISI

HALAMAN J UDUL .. i
HALAMAN PENGESAHAN. ii
HALAMAN PERSEMBAHAN.. iii
HALAMAN MOTTO.. iv
UCAPAN TERIMA KASIH... v
ABSTRAKSI... vi
DAFTAR ISI... viii
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR LAMPIRAN... xiii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah.... 1
B. Tujuan Penelitian... 10
C. Manfaat Penelitian. 10
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 12
A. Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak
Cerebral Palsy 12
1. Pengertian Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki
Anak Cerebral Palsy 12
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Problem Focused
Coping...... 15
Perpustakaan Unika
xi
3. Bentuk-bentuk Problem Focused Coping... 17
4. Klasifikasi Cerebral Palsy .. 19
B. Self Efficacy... 22
1. Pengertian Self Efficacy... 22
2. Aspek-aspek Self Efficacy....24
C. Tingkat Pendidikan 26
D. Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak
Cerebral Palsy Ditinjau dari Self Efficacy.29
E. Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak
Cerebral Palsy Ditinjau dari Tingkat Pendidikan. 31
F. Hipotesis.33
BAB III METODE PENELITIAN.. 34
A. Identifikasi Variabel Penelitian. 34
B. Definisi Operasional.. 34
1. Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak
Cerebral Palsy. 34
2. Self Efficacy. 35
3. Tingkat Pendidikan.. 35
C. Subyek Penelitian . 36
1. Populasi ... 36
2. Teknik Pengambilan Sampel... 36
D. Metode Pengumpulan Data... 37
Perpustakaan Unika
xii
1. Skala Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak
Cerebral Palsy. 37
2. Skala Self Efficacy 39
E. Uji Coba Alat Ukur40
1. Uji Validitas. 40
2. Uji Reliabilitas. 41
F. Metode Analisis Data 42
BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN ... 44
A. Orientasi Kancah Penelitian.. 44
B. Persiapan Penelitian... 48
1. Penyusunan Alat Ukur (Skala) 48
2. Permohonan Ijin Penelitian.. 50
C. Pelaksanaan Pengumpulan Data 50
D. Uji Coba Alat Ukur52
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.. 55
A. Uji Asumsi..55
1. Uji Normalitas.. 55
2. Uji Linieritas 56
B. Uji Hipotesis.. 56
C. Pembahasan... 57
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. 66
A. Kesimpulan 66
B. Saran... ... 66
Perpustakaan Unika
xiii
DAFTAR PUSTAKA.......................................... 68
LAMPIRAN 72




Perpustakaan Unika




1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan salah satu anugerah yang tidak ternilai bagi
orangtua, karena kehadiran anak di dalam keluarga menimbulkan
kebahagiaan dan sukacita tersendiri. Suatu perkawinan tidak akan
lengkap tanpa hadirnya seorang anak yang sangat didambakan.
Orangtua mempunyai harapan agar anak lahir dalam keadaan sempurna
dan normal baik secara fisik maupun mental, bahkan memiliki kelebihan
dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Orangtua juga menaruh
harapan pada anak agar tumbuh menjadi dewasa sehingga nantinya akan
memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak, namun kadangkala
harapan yang diinginkan oleh orangtua tidak sepenuhnya bisa menjadi
kenyataan. Kebahagiaan untuk memiliki buah hati yang sehat kemudian
berubah menjadi kekecewaan yang sangat mendalam ketika mengetahui
bahwa buah hatinya ternyata mengalami cerebral palsy. Orangtua
merasa tidak sanggup untuk mengasuh dan membesarkan anak cerebral
palsy, karena orangtua merasa akan menghadapi tanggung jawab yang
lebih besar jika dibandingkan dengan mengasuh anak normal.
Cerebral Palsy (CP) menurut Staf Pengajar Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran UI (1985, h.884) adalah suatu keadaan
kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak progresif, terjadi pada
waktu masih muda (sejak dilahirkan) dan merintangi perkembangan
Perpustakaan Unika




2
otak normal dengan gambaran klinis dapat berubah selama hidup dan
menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan
neurologis berupa kelumpuhan spastis, gangguan ganglia basal dan
serebelum dan kelainan mental.
Cowan, dkk., menyatakan secara keseluruhan prevalensi
penderita cerebral palsy pada usia sekolah awal berkisar antara 1,2
sampai dengan 2,3 per seribu anak. Menurut Bhushan, dkk., analisa
penelitian terkini mengindikasikan bahwa prevalensi ini semakin
meningkat di Amerika sebanyak 20 % selama periode 1960 sampai
dengan 1986 (McDermott, dkk., 1995, h.448). Dr. Dwi P. Widodo, Sp.A
(K), MMed, dari divisi neurologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak,
FKUI-RSCM menyatakan jumlah anak Indonesia yang menderita
cerebral palsy mencapai seribu anak per satu juta kelahiran
(www.kompas.co.id).
Anak cerebral palsy banyak mengalami kesulitan baik dalam hal
komunikasi, persepsi, maupun kontrol gerak. Beberapa penyelidikan
menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka mengalami
keterbelakangan mental (Somantri, 2006, h.129). Hasil beberapa
penelitian juga menunjukkan bahwa gangguan bicara dapat ditemui
pada hampir setiap anak cerebral palsy. Menurut Soeharso, dari 100
anak yang mempunyai cacat cerebral palsy, umumnya sebanyak 50
anak menderita gangguan bicara. Adanya gangguan bicara pada anak
cerebral palsy mengakibatkan mereka mengalami problem psikologis
yang disebabkan kesulitan dalam mengungkapkan pikiran, keinginan
atau kehendaknya (Somantri, 2006, h.130-131).
Perpustakaan Unika




3
Anak penderita cerebral palsy yang berada di YPAC cabang
Semarang berjumlah 82 siswa. Menurut data sekolah tahun 2007/2008
siswa TK berjumlah 18 anak, siswa SD berjumlah 14 anak, siswa
mampu latih berjumlah 30 anak, siswa SMP berjumlah 12 anak, dan
siswa SMA berjumlah 8 anak. Berdasarkan wawancara dengan guru
kelas, anak-anak cerebral palsy mengalami kesulitan dalam bergerak
dan mengatur sikap tubuhnya, contohnya tangan dan kaki kaku, tremor,
serta bengkok. Selain kondisi fisiknya yang mengalami kelainan, anak-
anak cerebral palsy juga menderita retardasi mental, namun tidak semua
mengalami retardasi mental. Berkaitan dengan proses belajar mengajar,
guru memberikan pelajaran yang sama seperti sekolah formal, namun
materi yang diajarkan disesuaikan dengan kemampuan inteligensi siswa.
Penulis juga melakukan pengamatan pada anak-anak cerebral palsy.
Anak-anak cerebral palsy diantar dan dijemput oleh orangtua khususnya
ibu, bahkan beberapa ibu bersedia meluangkan waktu untuk menunggu
anak mulai dari jam masuk hingga pulang sekolah, namun ada juga anak
yang diantar dan dijemput oleh pengasuh berhubung orangtua dari anak
tersebut memiliki kesibukan dengan pekerjaan.
Peneliti melakukan wawancara dengan salah satu ibu yang
memiliki anak cerebral palsy yang bersekolah di YPAC Cabang
Semarang. Ibu tersebut menceritakan bahwa anaknya lahir dalam
keadaan normal, namun ketika berusia 2 tahun anaknya menderita sakit.
Pada awalnya hanya sakit panas dan ketika diperiksakan ke dokter,
dokter mengatakan anaknya hanya mengalami sakit panas biasa. Tetapi
kondisi anak tersebut semakin parah dan pada akhirnya dokter kembali
Perpustakaan Unika




4
mendiagnosa bahwa anaknya mengalami cerebral palsy. Reaksi pertama
dari ibu tersebut sangat kaget bahkan sempat pingsan. Ibu tersebut
menyalahkan pihak rumah sakit karena ibu tersebut merasa pihak rumah
sakit telah melakukan penanganan yang salah terhadap anaknya. Tetapi
ibu tersebut tidak dapat melakukan apa-apa untuk menuntut pihak
rumah sakit sehingga ibu tersebut hanya pasrah dan menerima kondisi
anaknya. Pada awalnya sangat sulit untuk merawat anaknya, bagaimana
cara untuk mandiri seperti makan dan mandi sendiri, cara untuk
berjalan, dan yang paling sulit adalah mengajarkan anaknya untuk
berkomunikasi. Oleh karena itu, ibu tersebut rutin untuk melakukan
terapi wicara. Ibu tersebut selalu mendampingi anaknya di sekolah
karena anaknya kesulitan untuk berjalan sendiri tanpa bantuan orang
lain dan kursi roda. Hal itu dilakukan dengan mengantarkan anaknya
pergi ke sekolah setiap hari, mulai dari anaknya masih kecil hingga
menginjak usia remaja. Kendala lain dalam mengasuh anaknya adalah
masalah ekonomi karena suaminya hanya berprofesi sebagai tukang
ojek sehingga sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Peranan orangtua khususnya ibu sangat penting terutama dalam
pertumbuhan dan perkembangan anak cerebral palsy, karena bagi anak
figur ibu dianggap sebagai objek lekat secara emosional. Anak cerebral
palsy membutuhkan perhatian, kesabaran dan bimbingan yang ekstra
dari orangtua. Orangtua harus menyediakan makanan dan minuman
yang bergizi bagi anak, menyediakan waktu untuk merawat kebersihan
anak seperti mandi dan buang air besar, mencari pendidikan yang sesuai
bagi anak, selain itu berusaha untuk menambah pengetahuan dan
Perpustakaan Unika




5
keterampilan baru yang berkaitan dengan cerebral palsy. Hal ini terlihat
mudah untuk dilakukan, tetapi kenyataan yang seringkali terjadi adalah
orangtua mengalami kesulitan dalam mengasuh anaknya. Menurut
Quine, dkk. (Mobarak, dkk., 2000, h.427) dalam perkembangannya
anak-anak cerebral palsy membutuhkan bimbingan dan bantuan dari
orangtuanya. Orangtua, anggota keluarga, teman, dan bahkan tetangga
dari anak yang mengalami ketidakmampuan tersebut dapat mengalami
stres dalam berbagai tingkat. Secara umum, permasalahan sehari-hari
dalam mengasuh anak yang mengalami ketidakmampuan, seperti
kesulitan perilaku dan kesulitan tidur, memiliki dampak yang signifikan
terhadap stres ibu.
Penelitian pada 91 orang ibu yang memiliki anak penderita
cerebral palsy yang berusia antara 1,5 sampai dengan 5 tahun di
Bangladesh menunjukkan lebih dari 41,8 % ibu-ibu tersebut beresiko
mengalami kecenderungan gangguan psikologis. Penelitian ini bertujuan
untuk mengungkap stres yang dialami oleh para ibu yang memiliki
anak-anak penderita cerebral palsy dan menentukan faktor-faktor
penyebab stres yang dialami oleh para ibu tersebut. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa faktor yang paling penting dari stres yang dialami
ibu secara signifikan berhubungan dengan faktor-faktor seperti
kemiskinan dan usia anak, dimana ibu-ibu yang tinggal dalam keluarga
dengan status sosio ekonomi yang lebih rendah cenderung mengalami
stres yang lebih tinggi dan anak-anak cerebral palsy yang berusia lebih
tua cenderung menyebabkan ibu mengalami stres yang lebih tinggi.
Faktor terkuat terhadap permasalahan maternal dalam analisa
Perpustakaan Unika




6
multivariat berkaitan dengan permasalahan perilaku anak, khususnya
pada ibu yang merasa terbebani akan pengasuhan (Mobarak, dkk., 2000,
h.428).
Ibu yang memiliki anak cerebral palsy juga memiliki masalah
lain yang harus diperhatikan yaitu masalah keuangan, masalah
perkawinan, dan bagaimana membagi waktu dengan anggota keluarga
yang lain. Cerebral palsy merupakan kelainan yang berlangsung seumur
hidup, sehingga yang bisa diharapkan oleh orangtua adalah agar anak
dapat hidup mandiri tanpa membebani anggota keluarga yang lain.
Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan orangtua menjadi stres bahkan
pesimis terhadap masa depan dari anak cerebral palsy.
Kondisi yang menimbulkan stres tersebut menyebabkan orangtua
berusaha untuk menemukan cara-cara terbaik yang diharapkan dapat
membantu mengatasi permasalahan dalam merawat anak cerebral palsy.
Cara-cara yang dipakai oleh orangtua untuk mengatasi ketidakmampuan
dalam mengasuh anak dinamakan coping. Coping adalah suatu proses
dimana orang mencoba mengelola perasaan ketidakcocokan antara
tuntutan-tuntutan dan kemampuan yang ada dalam situasi penuh stres
(Sarafino, 1997, h.133). Kenyataan yang terjadi beberapa orangtua
seringkali melakukan upaya-upaya yang justru tidak mendukung dalam
mengatasi stres dan pada akhirnya menimbulkan dampak baik bagi
orangtua maupun anak. Orangtua yang ketika mengetahui anaknya
didiagnosis menderita cerebral palsy pada awalnya menunjukkan sikap
menolak, shock, marah, kecewa, bahkan frustrasi. Mereka juga harus
berjuang melawan rasa malu, sedih, dan putus asa, belum lagi
Perpustakaan Unika




7
lingkungan yang tidak mendukung. Banyak juga orangtua yang ternyata
tidak siap menerima kenyataan itu dan memilih menitipkan anak mereka
ke panti asuhan bahkan ada di antara mereka yang kemudian tidak
pernah lagi menengok sang anak dan memilih menghilang begitu saja.
Panti Asuhan pun tidak berhasil menemukan alamat para orangtua
tersebut (www.eepinside.com).
Menurut Cohen dan Lazarus bentuk perilaku coping stress ada
dua macam (Smet, 1994, h.144) yaitu coping yang digunakan untuk
mengatur respon emosional terhadap stres atau emotional focused
coping dan coping yang digunakan untuk mengurangi stressor atau
problem focused coping. Berdasarkan tujuan penelitian ini, jenis coping
yang akan digunakan adalah problem focused coping yang didefinisikan
oleh Garmezy dan Rutter (1983, h.313) yaitu bentuk coping yang efektif
dalam mengatasi masalah, karena di dalamnya mencakup usaha-usaha
nyata untuk mengatasi tuntutan yang ada secara langsung dan tidak
menghindarinya. Problem focused coping yang dilakukan oleh orangtua
adalah dengan mencari bantuan tenaga profesional yang memahami
kondisi anak cerebral palsy. Dalam hal ini dokter atau psikolog untuk
melakukan konsultasi dan terapi sehubungan dengan kondisi anaknya;
mencari informasi yang berhubungan dengan cerebral palsy melalui
berbagai media seperti buku, majalah dan internet; mencari pendidikan
yang tepat bagi anak; saling bertukar pengalaman dengan sesama
orangtua lain yang mempunyai anak cerebral palsy; dan yang paling
penting adalah menerima dengan lapang dada kondisi dari anak cerebral
palsy.
Perpustakaan Unika




8
Sikap orangtua khususnya ibu dalam menerima kondisi anak
cerebral palsy pada awalnya cenderung sedih, kecewa, marah,
menyalahkan pasangan dan frustrasi namun hal tersebut tidak dibiarkan
berlarut-larut. Ibu tersebut harus berusaha untuk mengatasi
permasalahan yang terjadi pada buah hatinya. Seperti yang diceritakan
oleh Irma seorang ibu yang memiliki anak cerebral palsy dalam acara
Kickandy tanggal 7 J anuari 2007. Pada saat anaknya divonis menderita
cerebral palsy oleh dokter, awalnya Irma merasa sedih dan kecewa
namun kemudian Irma sadar tidak boleh menyerah. Irma merawat
anaknya dengan penuh kesabaran sampai pada akhirnya anak tersebut
sudah bisa duduk, mengetik dan bermain game di komputer, bahkan
sudah bisa membedakan warna. Dokter sebelumnya memvonis bahwa
untuk dapat bertahan hidup saja anak tersebut sudah untung, tetapi
dengan kegigihan dan kasih sayang dari ibu maka anak tersebut dapat
berkembang seperti anak normal lainnya. Perasaan yakin untuk mampu
mengatasi masalah dan mencari jalan keluar dari permasalahan menjadi
sangat penting bagi keberhasilan problem focused coping.
Keyakinan akan kemampuan diri pada ibu dalam mengasuh anak
cerebral palsy diwakili oleh konsep self efficacy. Menurut Bandura
(Abdullah, 2003, h.5), efikasi diri adalah keyakinan seseorang bahwa
dirinya akan mampu melaksanakan perilaku yang dibutuhkan dalam
suatu tugas. Perkiraan individu terhadap efikasi dirinya menentukan
seberapa besar usaha yang akan dicurahkan dan seberapa lama individu
akan tetap bertahan dalam menghadapi hambatan atau pengalaman yang
tidak menyenangkan. Lebih lanjut dikatakan oleh Bandura (Smet, 1994,
Perpustakaan Unika




9
h.192) bahwa individu dalam hal ini ibu yang memiliki self efficacy
yang tinggi akan menumbuhkan sikap yang positif dan optimis dalam
dirinya, dimana ibu tersebut akan dapat bertahan dalam menghadapi
masalah dan dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan baik,
sedangkan ibu yang memiliki self efficacy yang rendah cenderung untuk
cepat menyerah dalam menghadapi masalah. Ibu yang memiliki self
efficacy yang tinggi berkemungkinan besar dapat melakukan problem
focused coping dengan baik.
Faktor lain yang juga mempengaruhi problem focused coping
yaitu tingkat pendidikan. Walgito (1991, h.119) mengatakan bahwa
tingkat pendidikan memiliki hubungan yang seimbang dengan sikap,
sehingga diasumsikan seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi maka
sikapnya akan lebih penuh pertimbangan. Tingkat pendidikan akan
mempengaruhi sikap yang bersangkutan terhadap sesuatu karena orang
dengan tingkat pendidikan tinggi merupakan orang yang mempunyai
pengetahuan luas, maka semakin banyak pengetahuan yang dimiliki
oleh seseorang maka akan lebih baik pula kemampuannya dalam
mempersiapkan sesuatu.
Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung untuk
memandang masalah yang terjadi lebih rasional dibandingkan dengan
ibu yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Pengaruh tingkat
pendidikan terhadap perkembangan sikap seseorang sangatlah besar,
sehingga dari tingkat pendidikan yang berbeda akan memunculkan sikap
yang berbeda pula. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin
banyak pengalaman, sehingga akan berbeda dalam cara berfikir,
Perpustakaan Unika




10
bersikap dan bertingkah laku bila dibandingkan dengan individu yang
lebih rendah tingkat pendidikannya (Hakim, 2005, h.7). Tetapi
kenyataan yang terjadi, menurut pengamatan penulis beberapa ibu
dengan tingkat pendidikan tinggi lebih banyak mempunyai harapan dan
ambisi yang tinggi pada anaknya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat
pendidikan dan self efficacy sangat besar pengaruhnya terhadap problem
focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy. Hal tersebut
menarik perhatian peneliti untuk melakukan penelitian mengenai
problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy ditinjau
dari self efficacy dan tingkat pendidikan, sehingga dapat diketahui
seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan dan self efficacy terhadap
problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy.

B. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dan
tingkat pendidikan dengan problem focused coping ibu yang memiliki
anak cerebral palsy.

C. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan
dijadikan acuan bagi ibu yang memiliki anak cerebral palsy
mengenai penggunaan problem focused coping kaitannya dengan self
Perpustakaan Unika




11
efficacy dan tingkat pendidikan dalam memecahkan masalah ketika
mengasuh anak cerebral palsy.
b. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan
sumbangan ilmiah bagi ilmu pengetahuan psikologi, khususnya
psikologi klinis dan psikologi perkembangan yang berkaitan dengan
masalah problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral
palsy ditinjau dari self efficacy dan tingkat pendidikan.

Perpustakaan Unika




12

12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak Cerebral Palsy
1. Pengertian Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak
Cerebral Palsy
Menurut pendapat Cohen dan Lazarus (Smet, 1994, h.144),
terdapat 2 jenis coping yaitu coping yang digunakan untuk mengatur
respon emosional terhadap stres atau emotional focused coping dan
coping yang digunakan untuk mengurangi stressor atau problem
focused coping. Sesuai dengan latar belakang yang telah disebutkan
pada Bab I maka peneliti memfokuskan penelitian pada problem
focused coping.
Cohen dan Lazarus mendefinisikan problem focused coping
sebagai salah satu bentuk dari coping yang berguna untuk
mengurangi stressor dengan mempelajari cara-cara atau
keterampilan-keterampilan baru. Garmezy dan Rutter (1983, h.313)
menyebutkan bahwa bentuk coping yang efektif dalam mengatasi
masalah adalah dengan problem focused coping, karena di dalamnya
mencakup usaha-usaha nyata untuk mengatasi tuntutan yang ada
secara langsung dan tidak menghindarinya. Problem focused coping
adalah merupakan salah satu usaha untuk merubah situasi dengan
cara merubah sesuatu dari lingkungan tersebut atau bagaimana
Perpustakaan Unika




13

12
individu itu berinteraksi dengan lingkungannya (Bishop, 1994,
h.154).
Suls dan Fletcher (Bishop, 1994, h.156) menyatakan bahwa
penyelesaian dengan emotional focused coping biasanya bertahan
sementara waktu saja karena sifatnya hanya menghindari dan bukan
menyelesaikan masalah, sedangkan penyelesaian dengan problem
focused coping akan bertahan untuk waktu yang lama. Lebih lanjut
Lazarus dan Folkman (Smet, 1994, h.145) berpendapat bahwa
problem focused coping lebih sering digunakan oleh individu yang
merasa yakin bahwa dirinya dapat mengubah situasi atau dalam
menghadapi tuntutan yang masih dapat dikontrol.
Selain itu, Sarafino (1997, h.135) juga menambahkan bahwa
problem focused coping merupakan jenis coping yang baik untuk
dilakukan karena bertujuan untuk mengurangi tuntutan dari situasi
penuh stres dan mengembangkan kemampuan untuk menghadapi
stres. Lebih jauh Sarafino (1997, h.146) juga berpendapat bahwa
problem focused coping sangat berguna untuk mengatasi masalah
yang timbul pada kondisi kronis atau kejadian sehari-hari.
Cerebral Palsy (CP) menurut Staf Pengajar Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran UI (1985, h.884) adalah suatu keadaan
kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak progresif, terjadi pada
waktu masih muda (sejak dilahirkan) dan merintangi perkembangan
otak normal dengan gambaran klinis dapat berubah selama hidup dan
menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan
Perpustakaan Unika




14

12
neurologis berupa kelumpuhan spastis, gangguan ganglia basal dan
serebelum dan kelainan mental.
Menurut Widayati (Pengurus YPAC Cabang Semarang, 2004,
h.46) Cerebral Palsy (CP) merupakan suatu kelainan gerak dan
sikap tubuh yang disebabkan karena adanya kerusakan pada jaringan
otak yang masih dalam masa perkembangan, yaitu semasa masih
janin sampai usia balita. Sehingga hal tersebut akan mengakibatkan
adanya kecacatan yang menetap. Seorang anak dinyatakan sebagai
penderita CP akan dapat dikenali sejak awal, dengan didapatnya
beberapa kelainan dan kesulitan. Misalnya didapatkan kelainan pada
penglihatan maupun pendengarannya, juga kesulitan dalam berbicara
dan berbahasa, selain adanya gangguan tingkat kecerdasannya.
Menurut Somantri (2006, h.121) Cerebral Palsy merupakan
salah satu brain injury, yaitu suatu kondisi yang mempengaruhi
pengendalian sistem motorik sebagai akibat lesi dalam otak
(R.S.Illingworth), atau suatu penyakit neuromuskular yang
disebabkan oleh gangguan perkembangan atau kerusakan sebagian
dari otak yang berhubungan dengan pengendalian fungsi motorik.
Cerebral Palsy adalah term yang digunakan untuk
mendeskripsikan kelompok penyakit kronik yang mengenai pusat
pengendalian pergerakan dengan menifestasi klinis yang tampak
pada beberapa tahun pertama kehidupan dan secara umum tidak akan
bertambah memburuk pada usia selanjutnya. Istilah cerebral
ditujukan pada kedua belahan otak, atau hemisphere, dan palsy
mendeskripsikan bermacam penyakit yang mengenai pusat
Perpustakaan Unika




15

12
pengendalian pergerakan tubuh. J adi, penyakit tersebut tidak
disebabkan oleh masalah pada otot atau jaringan saraf tepi,
melainkan, terjadi perkembangan yang salah atau kerusakan pada
area motorik otak yang akan mengganggu kemampuan otak untuk
mengontrol pergerakan dan postur adekuat (www.pediatrik.com).
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat
disimpulkan bahwa problem focused coping ibu yang memiliki anak
cerebral palsy adalah sebagai usaha nyata yang dilakukan oleh ibu
berupa perilaku untuk mengatasi tekanan, tantangan atau masalah
yang dialami oleh anak cerebral palsy karena gangguan
perkembangan yang sifatnya kekal dan tidak progresif dengan
mengembangkan keterampilan-keterampilan baru sehubungan
dengan masalah yang dihadapi.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Problem Focused Coping
Sarafino (1997, h.138) menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi problem focused coping adalah :
a. Usia
Orang dewasa lebih sering menggunakan coping yang
tersebut pada pemecahan masalah (problem focused coping)
sedangkan anak-anak lebih sering menggunakan coping yang
berpusat pada emosi (emotional focused coping).
b. Pendidikan
Billings dan Moos (Sarafino, 1997, h.138), mengatakan
bahwa pendidikan yang tinggi memungkinkan individu untuk
Perpustakaan Unika




16

12
menggunakan problem focused coping. Individu yang
berpendidikan tinggi cenderung mampu memandang suatu
masalah secara lebih realistis dan pemecahannya lebih efektif.
c. J enis Kelamin
Prabowo, dkk (2002, h.124) bahwa secara teoritis, wanita
lebih memperlihatkan reaksi emosional dalam menghadapi
masalah, sedangkan pria lebih mengutamakan pada tindakan
yang sesuai dengan realitas. Oleh karena itu dapat dikatakan
bahwa pria lebih sering menggunakan strategi problem focused
coping sedangkan wanita lebih sering menggunakan strategi
emotional focused coping dalam menghadapi situasi penuh stres.
d. Status sosial
Gottlieb dan Green (Sarafino, 1997, h.139) menyatakan
bahwa individu dengan status sosial dan pendapatan yang lebih
tinggi, lebih sering menggunakan coping secara efektif.

Menurut Garmezy dan Rutter (1983, h.18-26), faktor-faktor
yang mempengaruhi problem focused coping tersebut di atas adalah :
a. Dukungan sosial
Dukungan sosial memungkinkan individu melakukan
coping yang tepat dan membantu untuk menghindari stres karena
memberikan informasi dan cara-cara yang tepat untuk
menyelesaikan masalah.


Perpustakaan Unika




17

12
b. Usia
Reaksi dan penggunaan coping tiap individu akan berbeda
untuk setiap tingkat usia.
c. Inteligensi
Inteligensi atau kecerdasan yang baik dapat membantu
individu dalam merespon penyebab stres dan mengatasi masalah
dengan baik. Inteligensi atau kecerdasan dapat melatih individu
untuk lebih tabah dalam menghadapi masalah.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi problem focused coping adalah
faktor dukungan sosial, usia, jenis kelamin, pendidikan, inteligensi
dan status sosial.

3. Bentuk-bentuk Problem Focused Coping
Menurut Sarafino (1997, h.136), bentuk-bentuk dari problem
focused coping terdiri dari :
a. Planful problem-solving yaitu menganalisis situasi untuk
mencapai solusi atas permasalahan dan kemudian mengambil
tindakan langsung untuk mengatasi masalah.
b. Confrontive coping yaitu usaha yang dilakukan untuk
menghadapi masalah secara tenang, rasional dan mengarah
kepada penyelesaian masalah.
c. Seeking social-support yaitu mencoba untuk memperoleh
informasi atau dukungan emosional.

Perpustakaan Unika




18

12
Pendapat lain juga dikemukakan oleh Carver (Bishop, 1994,
h.156) yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk problem focused
coping adalah :
a. Active Coping (koping aktif), mengambil langkah aktif untuk
memindahkan atau mengelak dari stressor atau memperbaiki
efek-efek dari stressor. Dengan kata lain bertambahnya usaha
seseorang untuk melakukan coping, misalnya dengan bertindak
langsung.
b. Planning (perencanaan), berusaha untuk membuat rencana atau
tindakan yang harus dilakukan dalam menghadapi masalah serta
memikirkan cara bagaimana mengatasi sumber stres.
c. Suppression of competing activities (penekanan pada aktivitas
utama), usaha individu untuk membatasi ruang gerak atau
aktivitas dirinya yang tidak berhubungan dengan masalah untuk
berkonsentrasi penuh pada tantangan maupun ancaman yang
sedang dihadapinya.
d. Restrain Coping (penguasaan diri), berusaha mengontrol atau
mengendalikan tindakan sampai pada kesempatan yang baik
untuk bertindak.
e. Seeking Social Support (mencari dukungan sosial), berusaha
mendapatkan informasi, nasehat, atau bantuan dari orang lain.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
bentuk-bentuk yang mempengaruhi problem focused coping adalah
planful problem-solving, confrontive coping, seeking social-support,
active coping (koping aktif), planning (perencanaan), suppression of
Perpustakaan Unika




19

12
competing activities (penekanan pada aktivitas utama), restrain
coping (penguasaan diri), seeking social support (mencari dukungan
sosial).
Pada penelitian ini bentuk yang akan digunakan adalah bentuk
problem focused coping dari Carver karena dianggap lebih lengkap
dan telah mencakup bentuk-bentuk yang dikemukakan oleh ahli lain.
Bentuk-bentuk tersebut adalah Active Coping (koping aktif),
Planning (perencanaan), Suppression of competing activities
(penekanan pada aktivitas utama), Restrain Coping (penguasaan
diri), Seeking Social Support (mencari dukungan sosial).

4. Klasifikasi Cerebral Palsy
Menurut Bakwin-Bakwin (Somantri, 2006, h.122), cerebral
palsy dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Spasticity, yaitu kerusakan pada cortex cerebri yang
menyebabkan hiperactive reflex dan stretch reflex. Spasticity
dapat dibedakan menjadi :
a. Paraplegia, apabila kelainan menyerang kedua tungkai.
b. Quadriplegia, apabila kelainan menyerang kedua lengan dan
kedua tungkai.
c. Hemiplegia, apabila kelainan menyerang satu lengan dan satu
tungkai yang terletak pada belahan tubuh yang sama.
2. Athetosis, yaitu kerusakan pada basal ganglia yang
mengakibatkan gerakan-gerakan menjadi tidak terkendali dan
tidak terarah.
Perpustakaan Unika




20

12
3. Ataxia, yaitu kerusakan pada cerebellum yang mengakibatkan
adanya gangguan pada keseimbangan.
4. Tremor, yaitu kerusakan pada basal ganglia yang berakibat
timbulnya getaran-getaran berirama, baik yang bertujuan maupun
yang tidak bertujuan.
5. Rigidity, yaitu kerusakan pada basal ganglia yang mengakibatkan
kekakuan pada otot-otot.

Cerebral Palsy (www.pediatrik.com) dapat diklasifikasikan
berdasarkan gejala dan tanda klinis neurologis. Spastik diplegia,
untuk pertama kali dideskripsikan oleh dr.Little (1860), merupakan
salah satu bentuk penyakit yang dikenal selanjutnya sebagai
Cerebral Palsy. Hingga saat ini, Cerebral Palsy diklasifikasikan
berdasarkan kerusakan gerakan yang terjadi dan dibagi dalam 4
kategori yaitu :
1. CP Spastik
Merupakan bentukan CP terbanyak (70-80%), otot
mengalami kekakuan dan secara permanen akan menjadi
kontraktur. J ika kedua tungkai mengalami spastisitas, pada saat
seseorang berjalan, kedua tungkai tampak bergerak kaku dan
lurus. CP spastik dibagi berdasarkan jumlah ekstremitas yang
terkena, yaitu :
a. Monoplegi, bila hanya mengenai 1 ekstremitas saja, biasanya
lengan.
Perpustakaan Unika




21

12
b. Diplegia, keempat ekstremitas terkena, tetapi kedua kaki lebih
berat daripada kedua lengan.
c. Triplegia, bila mengenai 3 ekstremitas, yang paling banyak
adalah mengenai kedua lengan dan 1 kaki.
d. Quadriplegia, keempat ekstremitas terkena dengan derajat
yang sama.
e. Hemiplegia, mengenai salah satu sisi dari tubuh dan lengan
terkena lebih berat.
2. CP Atetoid/Diskinetik
Bentuk CP ini mempunyai karakteristik gerakan menulis
yang tidak terkontrol dan perlahan. Gerakan abnormal ini
mengenai mengenai tangan, kaki, lengan, atau tungkai dan pada
sebagian besar kasus, otot muka dan lidah, menyebabkan anak
tampak menyeringai dan selalu mengeluarkan air liur. Gerakan
sering meningkat selama periode peningkatan stres dan hilang
pada saat tidur. Penderita juga mengalami masalah koordinasi
gerakan otot bicara (disartria). CP atetoid terjadi pada 10-20%
penderita CP.
3. CP Ataksid
J arang dijumpai, mengenai keseimbangan dan persepsi
dalam. Penderita yang terkena sering menunjukkan koordinasi
yang buruk; berjalan tidak stabil dengan gaya berjalan kaki
terbuka lebar, meletakkan kedua kaki dengan posisi yang saling
berjauhan; kesulitan dalam melakukan gerakan cepat dan tepat,
misalnya menulis atau mengancingkan baju. Mereka juga sering
Perpustakaan Unika




22

12
mengalami tremor, dimulai dengan gerakan volunter misalnya
mengambil buku, menyebabkan gerakan seperti menggigil pada
bagian tubuh yang baru digunakan dan tampak memburuk sama
dengan saat penderita akan menuju obyek yang dikehendaki.
Bentuk ataksid ini mengenai 5-10% penderita CP.
4. CP Campuran
Sering ditemukan pada seorang penderita mempunyai
lebih dari satu bentuk CP yang dijabarkan di atas. Bentuk
campuran yang sering dijumpai adalah spastik dan gerakan
atetoid tetapi kombinasi lain juga mungkin dijumpai.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
klasifikasi cerebral palsy adalah Spasticity, Athetosis, Ataxia,
Tremor, Rigidity dan Campuran.

B. Self Efficacy
1. Pengertian Self Efficacy
Menurut Bandura (Abdullah, 2003, h.5), efikasi diri adalah
keyakinan seseorang bahwa dirinya akan mampu melaksanakan
perilaku yang dibutuhkan dalam suatu tugas. Perkiraan individu
terhadap efikasi dirinya menentukan seberapa besar usaha yang akan
dicurahkan dan seberapa lama individu akan tetap bertahan dalam
menghadapi hambatan atau pengalaman yang tidak menyenangkan.
Pervin (Smet, 1994, h.80) mendefinisikan self efficacy
sebagai kemampuan yang dirasakan untuk membentuk perilaku yang
relevan pada tugas atau situasi khusus. Smet (1994, h.189)
Perpustakaan Unika




23

12
menambahkan bahwa untuk memutuskan perilaku tertentu akan
dibentuk atau tidak, seseorang tidak hanya mempertimbangkan
informasi dan keyakinan tentang kemungkinan kerugian atau
keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan sampai sejauh mana dia
dapat mengatur perilaku tersebut. Hal ini sesuai juga dengan
pernyataan Bandura (Smet, 1994, h.191) bahwa self efficacy
berkaitan dengan keyakinan seseorang bahwa individu tersebut dapat
mempergunakan kontrol pribadi pada motivasi, perilaku dan
lingkungan sosialnya.
J ohnson (dikutip Hartono, 2005, h.19) menyatakan bahwa self
efficacy adalah harapan untuk mencapai kesuksesan dengan hasil
yang bernilai sesuai dengan usaha yang dilakukan dan harapan
tersebut merupakan salah satu pendorong yang kuat, sehingga
menimbulkan usaha untuk menunjang kesuksesan seseorang. Smet
(1994, h.192) menyatakan bahwa perasaan self efficacy akan
meningkatkan kekebalan terhadap stres dan depresi dan
mengaktifkan perubahan-perubahan biokemis yang dapat
mempengaruhi berbagai macam aspek dari fungsi kekebalan.
Berdasarkan uraian pendapat-pendapat tersebut kemudian
ditarik kesimpulan bahwa self efficacy adalah keyakinan dalam diri
individu bahwa individu tersebut memiliki kemampuan dalam
mengambil keputusan untuk membentuk suatu perilaku yang tepat
pada situasi khusus agar membuahkan hasil yang nyata sesuai
dengan keinginan individu.

Perpustakaan Unika




24

12
2. Aspek-aspek Self Efficacy
Menurut Bandura (dikutip Sari, 2006, h.19-20), aspek-aspek
self efficacy adalah sebagai berikut :
a. Outcome Expectancy adalah harapan akan kemungkinan hasil
dari suatu perilaku, yaitu suatu perkiraan bahwa tingkah laku,
atau tindakan tertentu akan menyebabkan akibat tertentu yang
bersifat khusus.
b. Efficacy Expectancy adalah harapan akan dapat membentuk
perilaku secara tepat. Suatu keyakinan bahwa seseorang akan
berhasil dalam bertindak sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Aspek ini menunjukkan bahwa harapan seseorang berkaitan
dengan kesanggupan melakukan suatu perilaku yang
dikehendaki.
c. Outcome Value adalah nilai yang mempunyai arti konsekuensi-
konsekuensi yang terjadi bila suatu perilaku dilakukan dan
seseorang harus mempunyai outcome value yang tertinggi untuk
mendukung efficacy expectancy dan outcome expectancy yang
dimiliki.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Corsini (dikutip
Hartono, 2005, h.20-21) yang membagi aspek-aspek self efficacy
menjadi empat yaitu :
a. Aspek kognisi
Kemampuan seseorang memikirkan cara-cara yang
digunakan dan merancang tindakan yang akan diambil untuk
Perpustakaan Unika




25

12
mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam rangka mencapai
tujuan yang diharapkan tiap orang mempersiapkan diri dengan
pemikiran-pemikiran ke depan, sehingga dapat dilakukan
tindakan yang tepat. Fungsi utama berpikir memungkinkan
seseorang untuk memprediksi kejadian sehari-hari yang akan
berakibat pada masa depan. Asumsi timbul pada aspek kognisi
adalah semakin efektif kemampuan seseorang dalam analisis
berpikir dan dalam berlatih mengungkapkan ide-ide atau gagasan
pribadi maka akan mendukung seseorang bertindak dengan tepat
mencapai tujuan yang diharapkan.
b. Aspek motivasi
Kemampuan seseorang memotivasi diri melalui
pikirannya untuk melakukan suatu tindakan dan keputusan untuk
mencapai tujuan yang diharapkan. Motivasi seseorang timbul
dari pemikiran optimis dari dalam dirinya untuk mewujudkan
tujuan yang diharapkan. Setiap orang berusaha memotivasi diri
dengan menetapkan keyakinan pada tindakan yang akan
dilakukan dan merencanakan tindakan yang akan direalisasikan.
Motivasi dalam self efficacy digunakan untuk memprediksi
kesuksesan dan kegagalan seseorang.
c. Aspek afeksi
Kemampuan mengatasi perasaan emosi yang timbul pada
diri sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Afeksi
terjadi secara alami dalam diri sesorang dan berperan dalam
menentukan intensitas pengalaman emosional. Afeksi
Perpustakaan Unika




26

12
ditunjukkan dengan mengontrol kecemasan dan perasaan depresif
yang menghalangi pola pikir yang benar untuk mencapai tujuan.
d. Aspek seleksi
Kemampuan seseorang untuk menyeleksi tingkah laku dan
lingkungan yang tepat sehingga dapat mencapai tujuan yang
diharapkan. Seleksi tingkah laku ini dapat mempengaruhi
perkembangan personal. Asumsi yang timbul pada aspek ini yaitu
ketidakmampuan individu dalam melakukan seleksi tingkah laku
sehingga membuat perasaan tidak percaya diri, bingung dan
mudah menyerah ketika menghadapi situasi yang sulit.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa aspek-aspek yang mempengaruhi self efficacy adalah
outcome expectancy, efficacy expectancy, outcome value, aspek
kognisi, aspek motivasi, aspek afeksi dan aspek seleksi.
Pada penelitian ini, aspek self efficacy yang akan
digunakan adalah aspek self efficacy dari Corsini karena
dipandang lebih lengkap. Aspek self efficacy tersebut meliputi
aspek kognisi, aspek motivasi, aspek afeksi dan aspek seleksi.

C. Tingkat Pendidikan
Soedjono (Idris, 1992, h.9) mendefinisikan tingkat pendidikan
sebagai jenjang pendidikan yang dicapai seseorang dalam pendidikan
formal, yaitu pendidikan yang diterima subjek melalui bangku sekolah
secara formal dengan mengabaikan jumlah kelebihan waktu dari
seharusnya.
Perpustakaan Unika




27

12
Menurut Coombs (Idris, 1992, h.58) tingkat pendidikan adalah
taraf kemampuan yang ditentukan dari hasil belajar, dari saat masuk
sekolah hingga kelas terakhir yang dicapai seseorang dengan
mengabaikan kelebihan waktu untuk jenjang di dalam pendidikannya.
Hal ini hanya dilalui oleh individu yang mengikuti jalur pendidikan
formal yang meliputi : pendidikan dasar, yakni pendidikan dasar dan
sekolah menengah pertama; pendidikan menengah, yakni sekolah
menengah atas; pendidikan tinggi yang berbentuk akademik, sekolah
tinggi, institut, politeknik maupun universitas.
Walgito (1991, h.119) mengatakan bahwa tingkat pendidikan
memiliki hubungan yang seimbang dengan sikap, sehingga diasumsikan
seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi maka sikapnya akan lebih
penuh pertimbangan. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi sikap
yang bersangkutan terhadap sesuatu karena orang dengan tingkat
pendidikan tinggi merupakan orang yang mempunyai pengetahuan luas,
maka semakin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang maka
akan lebih baik pula kemampuannya dalam mempersiapkan sesuatu.
Sears, dkk (1994, h.166) mengemukakan bahwa dengan tingkat
pendidikan yang tinggi seseorang menerima pengalaman-pengalaman
baru yang dapat mempengaruhi sikap mereka, bahkan mungkin merubah
keyakinan-keyakinan mereka.
Menurut Husain (dikutip Kusumasari, 2005, h.28) yang
dimaksud dengan tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal.
Husain membagi menjadi 3 yaitu :
Perpustakaan Unika




28

12
a. Tingkat Dasar, adalah pendidikan umum yang lamanya 6 tahun di
SD dan 3 tahun di SLTP atau satuan pendidikan yang sederajat.
Maksud diselenggarakannya pendidikan dasar ini antara lain
untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan
pengertian dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk hidup
dalam masyarakat.
b. Tingkat Menengah, adalah pendidikan yang lamanya 3 tahun
sesudah pendidikan dasar dan diselenggarakan di SLTA atau satuan
pendidikan yang sederajat.
Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk meningkatkan
pengetahuan dan mengembangkan diri sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. Di
samping itu, pendidikan menengah juga bertujuan meningkatkan
kemampuan individu sebagai anggota masyarakat dalam
mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial,
budaya dan alam sekitar.
c. Tingkat Tinggi, adalah pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi
daripada pendidikan menengah di jalur pendidikan sekolah.
Tujuan dari pendidikan tinggi adalah untuk menyiapkan
individu sebagai anggota masyarakat yang memiliki kemampuan
akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan
dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tingkat
pendidikan adalah taraf kemampuan yang ditentukan dari hasil
belajar, dari saat masuk sekolah hingga kelas terakhir yang dicapai
Perpustakaan Unika




29

12
seseorang yang diperoleh melalui jalur pendidikan formal yang
meliputi : pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan
tinggi.

D. Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak Cerebral Palsy
Ditinjau dari Self Efficacy
Setiap ibu mengharapkan anak yang dilahirkan dalam keadaan
sehat dan normal, namun tidak sepenuhnya harapan tersebut dapat
menjadi kenyataan. Individu yang menghadapi kenyataan bahwa
anaknya menderita cerebral palsy pada awalnya akan merasa sedih,
kecewa, bingung, bahkan menolak kehadiran sang anak dan pada
akhirnya akan menimbulkan stres pada ibu. Ketidakmampuan pada
seorang anak tidak hanya berpengaruh pada kehidupan anak tersebut
namun juga berpengaruh pada kehidupan keluarga. Menurut Quine, dkk.
(Mobarak, dkk. 2000, h.6 ) orangtua, anggota-anggota keluarga lain,
teman, dan bahkan tetangga dari anak yang mengalami ketidakmampuan
tersebut dapat mengalami stres dalam berbagai tingkat. Secara umum,
permasalahan sehari-hari dalam mengasuh anak yang mengalami
ketidakmampuan, seperti kesulitan perilaku dan kesulitan tidur,
memiliki dampak yang signifikan terhadap stres ibu.
Individu dalam hal ini ibu yang memiliki anak cerebral palsy
akan memberikan reaksi yang berbeda-beda dalam mengatasi
permasalahannya. Usaha untuk mengatasi stres mendorong ibu untuk
melakukan suatu tindakan dalam mengatasi stres dan beban yang
dirasakannya, tindakan tersebut disebut coping. Lazarus dan Folkman
Perpustakaan Unika




30

12
(Smet, 1984, h.143) menggambarkan coping sebagai suatu proses
dimana individu akan berusaha untuk mengelola jarak yang ada antara
tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu, maupun
tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya
yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi yang penuh stres.
Menurut Sarafino (1997, h.146) coping yang tepat digunakan
untuk situasi yang dihadapi oleh ibu yang memiliki anak cerebral palsy
adalah problem focused coping karena coping jenis ini sangat berguna
untuk mengatasi masalah yang timbul pada kondisi kronis. Individu
yang dikatakan berhasil dalam menggunakan problem focused coping
adalah individu yang dapat mengontrol situasi penuh stres karena
memiliki kemampuan untuk mengubah situasi tersebut.
Perasaan yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan mengatasi
atau mengontrol stres dan mencari jalan keluar dari situasi yang stressful
menjadi sangat penting dalam kesuksesan problem focused coping yang
dilakukan. Keyakinan tersebut terwakili oleh konsep self efficacy dari
Bandura (Smet, 1994, h.191) sebagai keyakinan seseorang bahwa
individu tersebut dapat mempergunakan kontrol pribadi pada motivasi,
perilaku dan lingkungan sosialnya.
Ibu yang memiliki self efficacy yang tinggi berkemungkinan
lebih besar untuk memilih problem focused coping dalam mengatasi
masalahnya karena merasa yakin bahwa dirinya mampu mengatasi
masalah yang dihadapi sehingga ibu tersebut akan dapat melakukan
suatu aksi untuk merubah situasi penuh stres tersebut.

Perpustakaan Unika




31

12
E. Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak Cerebral Palsy
Ditinjau dari Tingkat Pendidikan
Problem focused coping pada dasarnya melibatkan inteligensi,
tanpa adanya inteligensi yang baik individu mungkin tidak memilih
coping yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Inteligensi erat
kaitannya dengan tingkat pendidikan, karena individu dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih luas
dan yang nantinya akan dipergunakan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan pendidikan yaitu
penambahan pengetahuan atau memperbanyak jumlah informasi dengan
harapan bahwa dengan memiliki pengetahuan yang luas nantinya
individu dapat memberikan reaksi yang tepat terhadap berbagai situasi
(Witherington, 1984, h.166).
Salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan problem
focused coping pada ibu yang memiliki anak cerebral palsy adalah
tingkat pendidikan (Smet, 1994, h.131). Pengaruh tingkat pendidikan
terhadap perkembangan sikap seseorang sangatlah besar, sehingga dari
tingkat pendidikan yang berbeda akan memunculkan sikap yang berbeda
pula. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin banyak
pengalaman, sehingga akan berbeda dalam cara berfikir, bersikap dan
bertingkah laku bila dibandingkan dengan individu yang lebih rendah
tingkat pendidikannya (Hakim, 2005, h.7). Hal ini sesuai dengan
pernyataan Andayani (2002, h.626) bahwa orangtua yang berpendidikan
formal tinggi akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas
sehingga mampu bersikap lebih rasional dan kreatif, sehingga
Perpustakaan Unika




32

12
menghadapi permasalahan cenderung tidak emosional, termasuk dalam
mengasuh dan memperlakukan anak. Semakin tinggi tingkat pendidikan
individu dalam hal ini ibu yang memiliki anak cerebral palsy cenderung
akan mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi dan lebih terbuka
dalam menerima segala sesuatu yang baru, termasuk menerima cara-
cara baru dalam mendidik dan mengasuh anak.
Stres pada ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah yang
memiliki anak cerebral palsy akan semakin berat, karena ibu tersebut
kurang mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi, selain itu ibu
cenderung melihat permasalahan dengan cara pandang atau wawasan
yang terbatas. Ibu dengan tingkat pendidikan lebih rendah cenderung
memiliki keterbatasan dalam segi informasi dan keterampilan ketika
harus mendidik dan mengasuh anak secara tepat. Hal ini diperjelas oleh
Andayani (2002, h.626) yang menyatakan tingkat pendidikan formal
yang rendah menunjukkan keterbatasan pengetahuan dan wawasan yang
seringkali mendorong pengambilan keputusan yang salah terhadap
masalah-masalah yang belum dikuasai atau diketahui, termasuk masalah
pengasuhan anak.
Walgito (1991, h.119) menambahkan bahwa tingkat pendidikan
memiliki hubungan yang seimbang dengan sikap, sehingga diasumsikan
ibu dengan tingkat pendidikan tinggi maka sikapnya akan lebih penuh
pertimbangan. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi sikap yang
bersangkutan terhadap sesuatu karena orang dengan pendidikan tinggi
merupakan orang yang mempunyai pengetahuan luas, maka semakin
Perpustakaan Unika




33

12
banyak pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang maka akan lebih baik
pula kemampuan dalam mempersiapkan sesuatu.

F. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan teoritis di atas, maka peneliti mengajukan
hipotesis yang akan diuji kebenarannya melalui uji statistik. Adapun
hipotesisnya adalah :
1. Hipotesis Mayor :
Ada hubungan antara tingkat pendidikan dan self efficacy
dengan problem focused coping pada ibu yang memiliki anak
cerebral palsy.
2. Hipotesis Minor :
a. Ada hubungan positif antara self efficacy dan problem focused
coping, yang berarti semakin tinggi self efficacy maka semakin
tinggi pula problem focused coping ibu yang memiliki anak
cerebral palsy.
b. Ada hubungan positif antara tingkat pendidikan dan problem
focused coping, yang berarti semakin tinggi tingkat pendidikan
maka semakin tinggi pula problem focused coping ibu yang
memiliki anak cerebral palsy.



Perpustakaan Unika





34
34

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian
Pengidentifikasian variabel penelitian membantu dalam
menentukan alat pengumpulan data dan teknik analisis data yang
digunakan. Adapun variabel-variabel penelitian yang diperhitungkan
dalam analisis data untuk menguji hipotesis adalah :
1. Variabel Tergantung : Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki
Anak Cerebral Palsy
2. Variabel Bebas : 1. Self Efficacy
2. Tingkat Pendidikan

B. Definisi Operasional
1. Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak Cerebral Palsy
Problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral
palsy dapat diartikan sebagai usaha nyata yang dilakukan oleh ibu
berupa perilaku untuk mengatasi tekanan, tantangan atau masalah
yang dialami oleh anak cerebral palsy karena gangguan
perkembangan yang sifatnya kekal dan tidak progresif dengan
mengembangkan ketrampilan-ketrampilan baru sehubungan dengan
masalah yang dihadapi.
Problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral
palsy akan diungkapkan dengan alat ukur skala yang disusun
Perpustakaan Unika





34
35

berdasarkan bentuknya yaitu koping aktif, perencanaan, penekanan
pada aktivitas utama, penguasaan diri, dan mencari dukungan sosial.
Semakin tinggi skor total yang diperoleh maka semakin tinggi pula
problem focused coping. Sebaliknya, semakin rendah skor total yang
diperoleh maka semakin rendah pula problem focused coping.

2. Self Efficacy
Self efficacy adalah keyakinan dalam diri individu bahwa
individu tersebut memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan
untuk membentuk suatu perilaku yang tepat pada situasi khusus agar
membuahkan hasil yang nyata sesuai dengan keinginan individu.
Self efficacy seseorang akan diungkap dengan alat ukur skala
yang disusun berdasarkan empat aspek yaitu kognitif, motivasi,
afeksi dan seleksi. Semakin tinggi skor total yang diperoleh maka
semakin tinggi pula self efficacy. Sebaliknya, semakin rendah skor
total yang diperoleh maka semakin rendah pula self efficacy.

3. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah jenjang atau tingkat di dalam
pendidikan seseorang yang diperoleh melalui jalur pendidikan
formal yang meliputi : pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi.
J enjang pendidikan tersebut diukur dari pendidikan terakhir
yang ditempuh subyek dengan menuliskan pada identitas dalam
Perpustakaan Unika





34
36

lembar skala. Tingkat pendidikan subyek akan diukur berdasarkan
lama pendidikan subyek dalam tahun.

C. Subyek Penelitian
1. Populasi
Populasi penelitian merupakan faktor utama yang harus
ditentukan sebelum kegiatan penelitian dilakukan. Menurut Hadi
(2001, h.70) populasi merupakan sejumlah individu yang setidaknya
mempunyai satu ciri atau sifat yang sama, sedangkan sampel adalah
bagian dari populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu
yang memiliki anak cerebral palsy yang bersekolah di YPAC
Cabang Semarang, tanpa membedakan usia dan tingkat pendidikan
anak cerebral palsy. J umlah subyek adalah 82 orang.

2. Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Hadi (1997, h.70) sampel adalah sebagian individu
yang diselidiki. Terdapat 82 responden di YPAC, tetapi
dikhawatirkan tidak semua responden mengembalikan skala, maka
peneliti memutuskan menggunakan teknik purposive sampling.
Teknik purposive sampling yaitu pemilihan sekelompok subyek
didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui
sebelumnya (Hadi, 1997, h.82). Peneliti memilih subyek yang sesuai
dengan ciri-ciri yang sudah ditentukan dalam penelitian, yaitu ibu
yang memiliki anak cerebral palsy yang bersekolah di YPAC
Cabang Semarang.
Perpustakaan Unika





34
37

D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode skala. Metode skala adalah suatu metode penelitian yang
menggunakan daftar pernyataan atau pertanyaan yang harus dijawab dan
dikerjakan atau daftar isian yang harus diisi oleh sejumlah subyek.
Berdasarkan jawaban atau isian tersebut, peneliti mengambil
kesimpulan mengenai subyek yang diteliti (Suryabrata, 2000, h.15-16)
Dalam penelitian ini, bentuk skala yang digunakan adalah skala
langsung, yaitu skala diisi langsung oleh subyek yang diteliti. Bentuk
pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala
tertutup, yaitu skala yang jawabannya dibatasi atau sudah ditentukan
sehingga subyek tidak dapat memberikan respon atau jawaban seluas-
luasnya (Suryabrata, 2000, h.79).
Setiap pernyataan disediakan 4 (empat) kemungkinan jawaban,
yaitu : Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak
Sesuai (STS). Item skala terdiri dari dua bentuk, yaitu favourable dan
unfavourable. Pada pernyataan favourable jawaban SS bernilai 4, S
bernilai 3, TS bernilai 2, STS bernilai 1. Sebaliknya, untuk pernyataan
unfavourable jawaban SS bernilai 1, S bernilai 2, TS bernilai 3, STS
bernilai 4.
Adapun skala yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah
sebagai berikut :
1. Skala Problem Focused Coping Ibu yang Memiliki Anak
Cerebral Palsy

Perpustakaan Unika





34
38

Skala problem focused coping disusun berdasarkan lima bentuk,
yaitu
a. Koping aktif, mengambil langkah aktif untuk memindahkan atau
mengelak dari stressor atau memperbaiki efek-efek dari stressor.
Dengan kata lain bertambahnya usaha seseorang untuk
melakukan coping, misalnya dengan bertindak langsung.
b. Perencanaan, berusaha untuk membuat rencana atau tindakan
yang harus dilakukan dalam menghadapi masalah serta
memikirkan cara bagaimana mengatasi sumber stres.
c. Penekanan pada aktivitas utama, usaha individu untuk membatasi
ruang gerak atau aktivitas dirinya yang tidak berhubungan
dengan masalah untuk berkonsentrasi penuh pada tantangan
maupun ancaman yang sedang dihadapinya.
d. Penguasaan diri, berusaha mengontrol atau mengendalikan
tindakan sampai pada kesempatan yang baik untuk bertindak.
e. Mencari dukungan sosial, berusaha mendapatkan informasi,
nasehat, atau bantuan dari orang lain.

Tabel 1
Blueprint Skala Problem Focused Coping
JUMLAH ITEM
Bentuk
Favourable Unfavourable
Jumlah
Koping aktif 4 4 8
Perencanaan 4 4 8
Penekanan pada aktivitas
utama
4 4 8
Penguasaan diri 4 4 8
Mencari dukungan sosial 4 4 8
J umlah 20 20 40

Perpustakaan Unika





34
39

2. Skala Self Efficacy
Skala self efficacy disusun berdasarkan empat aspek, yaitu :
a. Aspek kognisi
Kemampuan seseorang memikirkan cara-cara yang digunakan
dan merancang tindakan yang akan diambil untuk mencapai
tujuan yang diharapkan.
b. Aspek motivasi
Kemampuan seseorang memotivasi diri melalui pikirannya untuk
melakukan suatu tindakan dan keputusan untuk mencapai tujuan
yang diharapkan.
c. Aspek afeksi
Kemampuan mengatasi perasaan emosi yang timbul pada diri
sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
d. Aspek seleksi
Kemampuan seseorang untuk menyeleksi tingkah laku dan
lingkungan yang tepat sehingga dapat mencapai tujuan yang
diharapkan.

Tabel 2
Blueprint Skala Self Efficacy
JUMLAH ITEM
Aspek
Favourable Unfavourable
Jumlah
Kognisi 4 4 8
Motivasi 4 4 8
Afeksi 4 4 8
Seleksi 4 4 8
J umlah 16 16 32


Perpustakaan Unika





34
40

E. Uji Coba Alat Ukur
Setiap penelitian selalu mengharapkan hasil yang benar-benar
objektif, artinya dapat menggambarkan keadaan yang sesungguhnya
dari masalah yang sedang diteliti. Untuk mencapai keadaan yang
diinginkan, maka perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
1. Uji Validitas
Azwar (1992, h.3) menyatakan bahwa validitas merupakan
ukuran seberapa cermat suatu alat ukur melakukan fungsi ukurnya.
Suatu alat ukur dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
hendak diukur. Untuk menguji validitas suatu alat ukur dapat
dilakukan dengan pendekatan konsitensi internal, dan menggunakan
skor total keseluruhan item sebagai kriterianya (Azwar, 1992, h.96).
Indeks validitas item dihitung dengan cara mengkorelasikan skor
total masing-masing item. Ancok (1987, h.16) juga menyatakan
bahwa cara untuk mengetahui validitas suatu alat ukur ialah dengan
cara mengkorelasikan antara skor yang diperoleh pada masing-
masing item dengan skor total keseluruhan item. Teknik korelasi
yang digunakan adalah Teknik Korelasi Product Moment Pearson,
dengan rumus :


xy
r =
} } { {
2 2 2 2
) ( ) ( ) ( ) (
) )( ( ) (
Y Y N X X N
Y X XY N




Keterangan :

xy
r : koefisien korelasi skor item dan skor total
XY : jumlah perkalian antara skor item dengan skor total
Perpustakaan Unika





34
41

X : jumlah skor masing-masing item
Y : jumlah skor total
N : jumlah subyek

Koefisien korelasi yang diperoleh dari hasil penelitian
tersebut masih perlu dikoreksi mengingat ada kelebihan bobot pada
koefisien korelasi tersebut. Kelebihan bobot ini terjadi karena nilai
butir soal yang dikorelasikan dengan nilai total masih ikut sebagai
komponen nilai total, sehingga menyebabkan koefisien menjadi
besar. Untuk koreksi koefisien yang kelebihan bobot tersebut
digunakan Teknik Korelasi part whole, dengan rumus :


) )( )( ( 2 ) ( ) (
) ( ) )( (
2 2
x y xy x y
x y xy
pq
SD SD r SD SD
SD SD r
r
+

=

Keterangan :
pq
r : koefisien korelasi butir dan total setelah dikorelasi
xy
r : koefisien korelasi butir dan total sebelum dikorelasi
y
SD : standard deviasi total
x
SD : standard deviasi item

2. Uji Reliabilitas
Menurut Ancok (1987, h.9) reliabilitas adalah indeks yang
menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya atau dapat
diandalkan. Reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dua
kali atau lebih terhadap gejala-gejala yang sama dengan alat ukur
yang sama menunjukkan hasil yang sama pula. Azwar (1992, h.6)
menyebutkan reliabilitas adalah sejauh mana pengukuran dapat
Perpustakaan Unika





34
42

memberikan hasil yang relatif sama bila dilakukan pengukuran
kembali terhadap subyek yang sama. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan Teknik Uji Reliabilitas Alpha Cronbach, dengan
rumus :

=
1 k
k

2
2
1
total
X
S
S


Keterangan :
: koefisien alpha
k : jumlah item valid
2
X
S : jumlah varians tiap item yang dikuadratkan
2
total
S : jumlah varians total
1 : bilangan konstan

F. Metode Analisis Data
Di dalam penelitian ini, metode analisis data untuk hipotesa
mayor adalah Analisis Regresi Dua Prediktor.
Rumus Analisis Regresi Dua Prediktor :


+
=
2
2 2 1 1
) 2 , 1 (
y
y x y x
R
y



Keterangan :
) 2 , 1 ( y
R : koefisien korelasi antara self efficacy dan tingkat
pendidikan dengan problem focused coping
1
: koefisien prediktor self efficacy
2
: koefisien prediktor tingkat pendidikan
Perpustakaan Unika





34
43

y x
1
: jumlah produk antara self efficacy dengan problem focused
coping

y x
2
: jumlah produk antara tingkat pendidikan dengan problem
focused coping

2
y : jumlah kriterium problem focused coping

Hipotesa minor diuji dengan metode analisis data yaitu
korelasi product moment dari Pearson.
Rumus Korelasi Product Moment :


} } { {
2 2 2 2
) ( . ) ( .
) )( ( ) .(
Y Y N X X N
Y X XY N
r
xy


=



Keterangan :
xy
r : koefisien korelasi antara self efficacy dan tingkat
pendidikan dengan problem focused coping

X Y : jumlah perkalian antara skor butir soal dengan skor total


N : jumlah subyek

X : jumlah self efficacy dan tingkat pendidikan

Y : jumlah skor problem focused coping


Perpustakaan Unika

44
44

BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Orientasi Kancah Penelitian
Sebelum penelitian dilaksanakan, tahap awal yang harus
dilakukan adalah menentukan tempat di mana penelitian akan
dilakukan serta mempersiapkan segala sesuatunya agar penelitian
dapat berjalan dengan lancar. Penelitian ini dilakukan di Yayasan
Penyandang Anak Cacat (YPAC) Cabang Semarang, yang terletak di
J alan K.H.A Dahlan No.4.
YPAC Cabang Semarang didirikan pada tanggal 19 April
1954 atas prakarsa Ibu Milono, isteri Residen Semarang waktu itu,
dengan menempati sebagian dari ruang anak-anak RSUP. Pelayanan
khusus diberikan kepada anak-anak cacat akibat polio yang
memerlukan fisioterapi.
Pada waktu ruang anak-anak RSUP dibongkar, terpaksa
YPAC harus pindah ke garasi yang dipinjami oleh PMI di Bulu, dan
mulai ditempati pada tanggal 1 J anuari 1955.
Mengingat semakin banyaknya anak cacat polio yang datang
untuk dirawat, maka sangat diperlukan tempat yang lebih luas. Pada
bulan November 1955, YPAC Cabang Semarang pindah dari PMI di
Bulu ke gedung di jalan Dr. Cipto 310 Semarang.
Setelah berulang kali pengurus menghadap kepada
Departemen Sosial, akhirnya pada tanggal 8 September 1962 YPAC
Perpustakaan Unika

44
45

Cabang Semarang mendapat bantuan gedung dari Yayasan Dana
Bantuan Jakarta. Lokasi gedung baru berada di J alan Seroja 4
(sekarang bernama J l.K.H.A Dahlan) yang dibangun di atas tanah
seluas 5.668 m
2 2
, , dengan alasan tempatnya strategis dan mudah
dicapai dengan kendaraan umum. Pada tanggal 2 J anuari 1964 mulai
dibuka Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Luar Biasa (SLB) khusus
untuk anak yang cacat akibat polio dan cacat akibat cerebral palsy
(CP).
Atas anjuran Prof. Dr. Soeharso, maka mulai tanggal 1 Mei
1969 YPAC Cabang Semarang selain menangani anak cacat polio
juga menangani anak cerebral palsy (CP), baik fisioterapi maupun
pendidikannya.
YPAC Cabang Semarang memiliki sebuah gedung untuk
memberikan pelayanan kepada anak cacat, berupa asrama dengan
kapasitas 25 tempat tidur, fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi,
terapi bermain, terapi musik, psikolog, medis, pendidikan
ketrampilan, SLB bagian D (cacat polio), SLB bagian D-1 (cacat
CP) dan gedung Kegiatan Anak (Wisma Bakti). Pada bulan April
1981 dibuka SLB bagian C (Cacat mental) pada sore hari. Pada
tahun ajaran 1992/1993 mulai dibuka SLTP-LB bagian C, sedang
pada tahun ajaran 1993/1994 mulai dibuka SLTP-LB bagian D1.
Saat ini siswa yang ada di YPAC bagian D-1 (cacat CP) berjumlah
82.
YPAC Cabang Semarang mendapatkan bantuan tenaga ahli
dari berbagai pihak, antara lain:
Perpustakaan Unika

44
46

1. Tenaga dokter dan psikolog dari FK Undip dan RS Dr Kariadi.
2. Tenaga Administrasi dari Pemerintah Provinsi J awa Tengah
3. Tenaga Fisioterapi dari Pemerintah Provinsi J awa Tengah
4. Tenaga ahli bangunan (swasta)
5. Tenaga Petugas Sosial Medis dari RS Dr Kariadi
6. Asisten Terapi Wicara, Asisten Terapi Okupasi, dan Asisten
Terapi Musik dari Departemen Sosial
7. Sebagian besar guru SLB dari Departemen P dan K
YPAC Cabang Semarang sebagai organisasi sosial yang
bergerak pada bidang pelayanan rehabilitasi anak penca mencakup:
1. Rehabilitasi Medis
2. Rehabilitasi Pendidikan
3. Rehabilitasi Sosial
4. Rehabilitasi Prevokasional
Peneliti melakukan observasi terhadap ibu-ibu yang sedang
mengantarkan anak cerebral palsy. Ada beberapa ibu yang
menunggu anaknya hingga jam pulang sekolah, namun ada beberapa
anak yang ditunggu oleh pengasuh. Selama menunggu anak cerebral
palsy, ibu-ibu tersebut terlihat menganggur ketika anak-anak sedang
belajar di kelas. Ibu-ibu tersebut saling bercakap-cakap satu sama
lain dan sesekali melihat kondisi anak di kelas. Setelah jam istirahat,
ibu-ibu tersebut akan membantu anak keluar dari kelas, ada yang
menggunakan kursi roda dan ada pula yang menggendong anak.
Kondisi anak cerebral palsy bermacam-macam, menurut
pengamatan yang dilakukan peneliti terdapat anak yang kaki dan
Perpustakaan Unika

44
47

tangannya sangat kaku sehingga sangat sulit untuk bergerak. Selain
itu, kemampuan berkomunikasi juga sangat terbatas karena otot bibir
kaku sehingga suara dari anak kurang jelas untuk didengar. Ada juga
kaki dan tangan dari anak cerebral palsy yang tremor, sehingga anak
tersebut kesulitan ketika hendak memegang sesuatu dan berjalan.
Walaupun demikian, beberapa anak menunjukkan kemandirian
dengan cara merangkak perlahan-lahan ke kursi roda dan mendorong
kursi roda sendiri ataupun menggunakan tongkat penyangga untuk
berjalan menuju lift khusus penyandang cacat. Peneliti juga
melakukan wawancara pada guru kelas, berdasarkan wawancara
tersebut peneliti mengetahui bahwa ada anak yang menunjukkan
permasalahan perilaku, dimana anak tersebut kadang-kadang sulit
untuk diatur ketika berada di kelas, senang mengganggu temannya
dan terkadang marah jika kemauannya tidak dituruti.
Berdasarkan hal di atas peneliti memutuskan menggunakan
YPAC Cabang Semarang sebagai kancah penelitian. Penentuan ini
berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu :
1. Penelitian dengan judul Problem Focused Coping Ibu yang
Memiliki Anak Cerebral Palsy Ditinjau dari Self Efficacy dan
Tingkat Pendidikan belum pernah dilakukan di YPAC Cabang
Semarang.
2. J umlah ibu yang memiliki anak cerebral palsy memenuhi syarat
penelitian.
3. YPAC Cabang Semarang bersedia untuk dijadikan tempat
penelitian.
Perpustakaan Unika

44
48

4. YPAC Cabang Semarang tempatnya strategis, mudah dicapai
dengan kendaraan umum.

B. Persiapan Penelitian
Persiapan penelitian dimulai dari penyusunan skala dan persiapan
administrasi yang menyangkut masalah perijinan tempat penelitian.
Setelah itu dilakukan uji validitas dan reliabilitas alat ukur yang akan
dipakai dalam penelitian.
1. Penyusunan Alat Ukur (Skala)
Penelitian ini menggunakan skala sebagai metode
pengumpulan data yang terdiri dari skala problem focused coping
dan self efficacy. Uraian lebih lanjut dari kedua skala tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Skala Problem Focused Coping
Skala problem focused coping terdiri dari 40 item dengan
pernyataan yang bersifat mendukung (favourable) dan
pernyataan yang bersifat tidak mendukung (unfavourable).
Bentuk-bentuk yang digunakan untuk menyusun skala ini adalah
koping aktif, perencanaan, penekanan pada aktivitas utama,
penguasaan diri, dan mencari dukungan sosial. Item-item
favourable memiliki nilai 4 untuk Sangat Sesuai, 3 untuk Sesuai,
2 untuk Tidak Sesuai, 1 untuk Sangat Tidak Sesuai. Item-item
unfavourable memiliki nilai 1 untuk Sangat Sesuai, nilai 2 untuk
Sesuai, nilai 3 untuk Tidak Sesuai, nilai 4 untuk Sangat Tidak
Perpustakaan Unika

44
49

Sesuai. Sebaran item pada skala problem focused coping dapat
dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3
Sebaran Item Skala Problem Focused Coping
Nomor Item
Bentuk
Favourable Unfavourable
Jumlah
Koping aktif 1, 11, 21, 31 6, 16, 26, 36 8
Perencanaan 2, 12, 22, 32 7, 17, 27, 37 8
Penekanan
pada aktivitas
utama
3, 13, 23, 33 8, 18, 28, 38 8
Penguasaan
diri
4, 14, 24, 34 9, 19, 29, 39 8
Mencari
dukungan
sosial
5, 15, 25, 35 10, 20, 30, 40 8
J umlah
20 20 40

b. Skala Self Efficacy
Skala self efficacy terdiri dari 32 item dengan pernyataan
yang bersifat mendukung (favourable) dan pernyataan yang
bersifat tidak mendukung (unfavourable). Aspek-aspek yang
digunakan untuk menyusun skala ini adalah kognisi, motivasi,
afeksi, dan seleksi. Item-item favourable memiliki nilai 4 untuk
Sangat Sesuai, 3 untuk Sesuai, 2 untuk Tidak Sesuai, 1 untuk
Sangat Tidak Sesuai. Item-item unfavourable memiliki nilai 1
untuk Sangat Sesuai, nilai 2 untuk Sesuai, nilai 3 untuk Tidak
Sesuai, nilai 4 untuk Sangat Tidak Sesuai. Sebaran item pada
skala self efficacy dapat dilihat pada Tabel 4.

Perpustakaan Unika

44
50

Tabel 4
Sebaran Item Skala Self Efficacy
Nomor Item
Aspek
Favourable Unfavourable
Jumlah
Kognisi 1, 9, 17, 25 5, 13, 21, 29 8
Motivasi 2, 10, 18, 26 6, 14, 22, 30 8
Afeksi 3, 11, 19, 27 7, 15, 23, 31 8
Seleksi 4, 12, 20, 28 8, 16, 24, 32 8
J umlah 16 16 32

2. Permohonan Ijin Penelitian
Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk dapat melakukan
suatu penelitian yaitu memperoleh ijin dari pihak-pihak yang terkait.
Permohonan ijin penelitian dilakukan oleh peneliti setelah mendapat
persetujuan dari dosen pembimbing utama dan dikeluarkan pada
tanggal 26 November 2007 dengan surat nomor
229./B.7.3/FP/XI/2007 yang diajukan oleh Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Katolik Soegijapranata kepada Kepala YPAC Cabang
Semarang. Pertama kali penulis menemui Bapak Munasib, selaku
Kepala Tata Usaha YPAC Cabang Semarang untuk mengetahui
prosedur perijinan uji coba dan penelitian.

C. Pelaksanaan Pengumpulan Data
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di YPAC Cabang Semarang
J l. K.H.A Dahlan No.4. Pengambilan data penelitian dilakukan pada
tanggal 23 J anuari 2008. Penelitian ini menggunakan metode try out
terpakai. Sehingga dalam penelitian ini hanya ada satu kali pengambilan
data yang akan digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas alat
ukur maupun sebagai data untuk menguji hipotesis. Peneliti
Perpustakaan Unika

44
51

menggunakan metode tersebut dengan pertimbangan keterbatasan
jumlah subyek penelitian dan efisiensi waktu.
Pada hari pertama penyebaran skala, peneliti melakukan sendiri
dengan dibantu oleh dua orang teman. Peneliti berkeliling mencari ibu-
ibu yang sedang menunggui anaknya di luar kelas. Ketika peneliti
menemukan subyek yang sesuai ciri-ciri populasi dan subyek sedang
dalam keadaan tidak sibuk maka dihampiri oleh peneliti. Peneliti
kemudian menjelaskan tentang maksud dan tujuan penelitian sebelum
meminta tolong kepada subyek untuk mengisi skala. Peneliti memberi
tahu cara pengisian skala agar subyek tidak merasa kebingungan,
kemudian peneliti menawarkan kepada subyek apakah ingin ditemani
atau tidak dalam proses pengisian skala, dengan alasan agar subyek
dapat bertanya pada peneliti apabila subyek merasa kesulitan dalam
memahami pernyataan. Subyek lebih memilih untuk tidak ditemani.
Pengisian skala langsung dilakukan ketika skala itu diberikan kepada
subyek dan peneliti berada jauh dari subyek selama proses pengisian
skala. Pada hari pertama menyebar skala peneliti berhasil
mengumpulkan 14 eksemplar. Kemudian pada hari berikutnya ketika
peneliti kembali melakukan penelitian ke YPAC, peneliti tidak
menemukan subyek baru karena ada murid yang tidak ditunggui
orangtua tetapi oleh pengasuh. Oleh karena itu, peneliti meminta
bantuan kepada Kepala Sekolah YPAC untuk menyebarkan skala pada
murid YPAC agar diberikan kepada orangtua mereka untuk diisi di
rumah. Penelitian akhirnya selesai disebarkan tanggal 28 J anuari 2008
dan skala yang kembali berjumlah 26 eksemplar.
Perpustakaan Unika

44
52

D. Uji Coba Alat Ukur
Pengujian validitas menggunakan analisis Korelasi Product
Moment yang kemudian hasilnya dikorelasi menggunakan teknik
Korelasi Part Whole. Sedangkan uji reliabilitas terhadap kedua alat ukur
digunakan teknik Alpha Cronbach. Pelaksanaan uji validitas dan
reliabilitas dilaksanakan dengan menggunakan Statistical Packages for
Social Siences (SPSS) for Windows Release 13.0.
a. Skala Problem Focused Coping
Hasil uji validitas pada skala problem focused coping ibu
yang memiliki anak cerebral palsy menunjukkan bahwa dari 40 item
skala terdapat 6 item gugur (tidak valid) dan terdapat 34 item yang
valid. Koefisien validitas yang didapat untuk item yang valid adalah
berkisar antara 0,388 0,788 dengan taraf signifikansi 5%. Rincian
item yang valid dan gugur pada skala problem focused coping ibu
yang memiliki anak cerebral palsy dapat dilihat pada tabel 5.
Hasil pengujian reliabilitas untuk skala problem focused
coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy menunjukkan bahwa
skala tersebut reliabel dengan koefisien reliabilitas 0,945. Hasil
penghitungan validitas dan reliabilitas selengkapnya dapat dilihat
pada lampiran C-1.





Perpustakaan Unika

44
53

Tabel 5
Item Valid dan Gugur Skala Problem Focused Coping Ibu
yang Memiliki Anak Cerebral Palsy
Nomor Item
Bentuk
Favourable Unfavourable
Jumlah
Koping aktif 1, 11, 21, 31 6, 16, 26, 36 8
Perencanaan 2, (12), 22, 32 7, 17, 27, (37) 8
Penekanan
pada aktivitas
utama
3, (13), 23, 33 (8), 18, 28, 38 8
Penguasaan
diri
4, 14, 24, 34 9, 19, 29, 39 8
Mencari
dukungan
sosial
5, 15, (25), 35 10, (20), 30, 40 8
J umlah
20 20 40
Keterangan :
Dengan ( ) =item gugur
Tanpa ( ) =item valid

b. Skala Self Efficacy
Hasil uji validitas pada skala self efficacy menunjukkan
bahwa dari 32 item skala terdapat 5 item gugur (tidak valid) dan
terdapat 27 item yang valid. Koefisien validitas yang didapat untuk
item yang valid adalah berkisar antara 0,302-0,691 dengan taraf
signifikansi 5%. Rincian item yang valid dan gugur pada skala self
efficacy dapat dilihat pada tabel 6.
Hasil pengujian reliabilitas untuk skala self efficacy
menunjukkan bahwa skala tersebut reliabel dengan koefisien
reliabilitas 0,876. Hasil penghitungan validitas dan reliabilitas
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C-2.

Perpustakaan Unika

44
54

Tabel 6
Item Valid dan Gugur Skala Self Efficacy
Nomor Item
Aspek
Favourable Unfavourable
Jumlah
Kognisi 1, 9, 17, (25) 5, 13, (21), 29 8
Motivasi 2, 10, 18, 26 (6), 14, (22), 30 8
Afeksi 3, 11, 19, 27 7, (15), 23, 31 8
Seleksi 4, 12, 20, 28 8, 16, 24, 32 8
J umlah 16 16 32
Keterangan :
Dengan ( ) =item gugur
Tanpa ( ) =item valid


Perpustakaan Unika

55
55


BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Uji Asumsi
Hal pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
melakukan beberapa tahapan uji asumsi untuk mengetahui normal
atau tidaknya sebaran data penelitian.
1. Uji Normalitas
Data setiap variabel diuji dengan menggunakan program
uji normalitas sebaran. Perhitungan normalitas sebaran dilakukan
dengan menggunakan komputer teknik analisis Kolgomorov-
Smirnov (K-S Z) dari SPSS (Statistical Packages for Social
Science) for windows release 13.0.
Uji normalitas pada variabel problem focused coping ibu
yang memiliki anak cerebral palsy menunjukkan hasil K-S Z =
0,627 dengan p>0,05 (p =0,826). Uji normalitas variabel self
efficacy adalah K-S Z =1,179 dengan p>0,05 (p =0,124). Uji
normalitas variabel tingkat pendidikan adalah K-S Z =1,191
dengan p>0,05 (p =0,117). Berdasarkan uji normalitas tersebut
dapat disimpulkan bahwa distribusi dari ketiga variabel tersebut
adalah normal. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran E-
1.


Perpustakaan Unika

55
56


2. Uji Linieritas
Hasil uji linearitas variabel self efficacy terhadap problem
focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy
menunjukkan hubungan yang bersifat linier, dengan F
linier
=
12,756 dan p<0,05 (p =0,001). Sedangkan uji linieritas pada
variabel tingkat pendidikan terhadap variabel problem focused
coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy menunjukkan
adanya hubungan yang linier, dengan F
linier
=9,308 dan p<0,05 (p
=0,004). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran E-2.

B. Uji Hipotesis
Setelah diketahui data yang diperoleh memenuhi syarat uji
asumsi, maka dilakukan uji hipotesis dengan bantuan komputer
program SPSS (Statistical Packages for Social Science) for windows
release 13.0. Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan
menggunakan Analisis Regresi Dua Prediktor untuk hipotesis
pertama dan Product Moment untuk hipotesis kedua.
1. Hipotesis Mayor
Hasil uji hipotesis mayor dengan menggunakan Analisis
Regresi Dua Prediktor menunjukkan nilai r
y12
=0,581 dengan
p<0,01 (p =0,000), maka hasil tersebut menunjukkan bahwa ada
hubungan yang sangat signifikan antara problem focused coping
ibu yang memiliki anak cerebral palsy dengan self efficacy dan
tingkat pendidikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis
Perpustakaan Unika

55
57


mayor yang diajukan peneliti diterima. Hasil selengkapnya dapat
dilihat pada lampiran F.
2. Hipotesis Minor
Hasil dari analisis untuk hipotesis minor yang dilakukan
dengan menggunakan teknik analisis Product Moment
menunjukkan hasil sebagai berikut :
Untuk hipotesis minor pertama diperoleh nilai r
xy
=0,501
dengan nilai p<0,01 (p =0,000), dengan demikian hasil tersebut
menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan
antara problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral
palsy dengan self efficacy. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis
minor pertama yang diajukan peneliti dapat diterima.
Sedangkan untuk hipotesis minor kedua, hasil perhitungan
menunjukkan nilai r
xy
=0,444 dengan nilai p<0,01 (p =0,002).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang
sangat signifikan antara problem focused coping ibu yang
memiliki anak cerebral palsy dengan tingkat pendidikan. Hal ini
menunjukkan bahwa hipotesis minor kedua yang diajukan
peneliti dapat diterima. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran F.

C. Pembahasan
Hipotesis mayor dalam penelitian ini adalah ada hubungan
antara problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral
palsy dengan self efficacy dan tingkat pendidikan. Hasil analisis data
Perpustakaan Unika

55
58


dari hipotesis mayor dengan menggunakan Analisis Regresi Dua
Prediktor menunjukkan nilai r
y12
=0,581 dengan p<0,01 (p =0,000),
maka hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat
signifikan antara problem focused coping ibu yang memiliki anak
cerebral palsy dengan self efficacy dan tingkat pendidikan. Hasil ini
menunjukkan bahwa hipotesis mayor diterima.
Kesimpulan di atas sesuai dengan pendapat Lazarus dan
Folkman (Smet, 1994, h.145) bahwa problem focused coping lebih
sering digunakan oleh individu yang merasa yakin bahwa dirinya
dapat mengubah situasi atau dalam menghadapi tuntutan yang masih
dapat dikontrol. Ibu yang memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu
mengatasi permasalahan dalam mengasuh anak cerebral palsy akan
mampu mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikan
masalahnya secara langsung. Misal, mencari informasi tentang apa
yang harus diberikan pada anak, berusaha untuk mengetahui hal-hal
baru yang berkaitan dengan perawatan anak, dll. Ketika berhadapan
dengan masalah, ibu dari anak cerebral palsy memiliki keyakinan
bahwa dirinya mampu mengubah situasi yang terjadi atau dirinya
mempunyai kekuatan untuk mengatasi masalah. Sebaliknya jika ibu
tidak yakin dapat mengubah situasi tersebut, maka bisa terjadi ibu
tersebut hanya memusatkan perhatian kepada emosinya seperti
menyalahkan diri sendiri dan orang lain, kecewa yang berlarut-larut
tanpa melakukan tindakan nyata untuk mengatasi permasalahan yang
terjadi. Akibatnya malah memperparah kondisi dari anak cerebral
palsy, karena ibu hanya menghindari masalah bukan berusaha untuk
Perpustakaan Unika

55
59


menyelesaikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Suls dan Fletcher
(Bishop, 1994, h.156) yang menyatakan bahwa penyelesaian dengan
emotional focused coping biasanya bertahan sementara waktu saja
karena sifatnya hanya menghindari dan bukan menyelesaikan
masalah, sedangkan penyelesaian dengan problem focused coping
akan bertahan untuk waktu yang lama.
Selain itu, Andayani (2002, h.626) menyatakan bahwa
orangtua yang berpendidikan formal tinggi akan memiliki
pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga mampu bersikap
lebih rasional dan kreatif, sehingga menghadapi permasalahan
cenderung tidak emosional, termasuk dalam mengasuh dan
memperlakukan anak. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang
tinggi akan mampu berpikir secara rasional dalam menghadapi
permasalahan yang terjadi dan mampu mengatasi stres dengan baik
dengan cara mencari informasi tindakan apa yang harus dilakukan
dalam merawat anak cerebral palsy. Sedangkan stres yang dialami
ibu yang memiliki anak cerebral palsy dengan tingkat pendidikan
yang lebih rendah akan menjadi semakin berat, karena ibu tersebut
kurang mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi, selain itu ibu
cenderung melihat permasalahan dengan cara pandang atau wawasan
yang terbatas. Ibu dengan tingkat pendidikan lebih rendah cenderung
memiliki keterbatasan dalam segi informasi dan keterampilan ketika
harus mendidik dan mengasuh anak secara tepat. Hal ini diperjelas
oleh Andayani (2002, h.626) yang menyatakan tingkat pendidikan
formal yang rendah menunjukkan keterbatasan pengetahuan dan
Perpustakaan Unika

55
60


wawasan yang seringkali mendorong pengambilan keputusan yang
salah terhadap masalah-masalah yang belum dikuasai atau diketahui,
termasuk masalah pengasuhan anak.
Untuk hipotesis minor pertama, setelah dilakukan analisis
Product Moment diperoleh nilai r
xy
=0,501 dengan nilai p<0,01 (p =
0,000), dengan demikian hasil tersebut menunjukkan bahwa ada
hubungan positif yang sangat signifikan antara problem focused
coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy dengan self efficacy.
Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis minor pertama yang diajukan
peneliti dapat diterima.
Perasaan yakin bahwa individu tersebut memiliki kemampuan
mengatasi atau mengontrol stres dan mencari jalan keluar dari situasi
yang stressful menjadi sangat penting dalam kesuksesan problem
focused coping yang dilakukan. Perasaan yakin bahwa dirinya
mampu memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah disebut
dengan self efficacy. Kesimpulan di atas sesuai dengan pendapat
Bandura (Abdullah, 2003, h.5), efikasi diri adalah keyakinan
seseorang bahwa dirinya akan mampu melaksanakan perilaku yang
dibutuhkan dalam suatu tugas. Perkiraan individu terhadap efikasi
dirinya menentukan seberapa besar usaha yang akan dicurahkan dan
seberapa lama individu akan tetap bertahan dalam menghadapi
hambatan atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Ibu yang
memiliki anak cerebral palsy akan menghadapi masalah yang lebih
berat dalam mengasuh anak bila dibandingkan dengan ibu yang
memiliki anak normal. Oleh karena itu, ibu yang memiliki anak
Perpustakaan Unika

55
61


cerebral palsy akan mengalami stres yang lebih besar yang
disebabkan karena pengasuhan anak. Ibu dengan self efficacy yang
tinggi berusaha untuk tetap tenang pada waktu mengalami stres. Ibu
tersebut tidak terpengaruh oleh emosi dan dapat menjalankan coping
yang efektif. Menurut Bandura (Smet, 1994, h.192), individu yang
memiliki self efficacy yang tinggi akan memiliki sikap yang positif
dan optimis dalam dirinya, sehingga individu tersebut akan dapat
bertahan dalam menghadapi masalah dan dapat menyelesaikan
masalah tersebut dengan baik, sedangkan individu yang memiliki
self efficacy rendah cenderung untuk cepat menyerah dalam
menghadapi masalah.
Sedangkan untuk hipotesis minor kedua, hasil perhitungan
menunjukkan nilai r
xy
=0,444 dengan nilai p<0,01 (p =0,002). Hasil
tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat
signifikan antara problem focused coping ibu yang memiliki anak
cerebral palsy dengan tingkat pendidikan. Hal ini menunjukkan
bahwa hipotesis minor kedua yang diajukan peneliti dapat diterima.
Kesimpulan di atas sesuai dengan pendapat yang
dikemukakan Hakim (2005, h.7) bahwa pengaruh tingkat pendidikan
terhadap perkembangan sikap seseorang sangatlah besar, sehingga
dari tingkat pendidikan yang berbeda akan memunculkan sikap yang
berbeda pula. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin
banyak pengalaman, sehingga akan berbeda dalam cara berfikir,
bersikap dan bertingkah laku bila dibandingkan dengan individu
yang lebih rendah tingkat pendidikannya. Hal ini diperjelas oleh
Perpustakaan Unika

55
62


pendapat Andayani (2002, h.626) bahwa orangtua yang
berpendidikan formal tinggi akan memiliki pengetahuan dan
wawasan yang lebih luas sehingga mampu bersikap lebih rasional
dan kreatif, sehingga menghadapi permasalahan cenderung tidak
emosional, termasuk dalam mengasuh dan memperlakukan anak.
Selain itu, Andayani (2002, h.634) juga menyatakan bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang akan cenderung lebih terbuka
dalam menerima segala sesuatu yang baru, termasuk menerima cara-
cara baru dalam pengasuhan dan pemeliharaan anak, sehingga dapat
dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan
semakin kecil kemungkinannya untuk melakukan perlakuan salah
terhadap anak. Sebaliknya orang yang berpendidikan rendah di
samping kurang bijaksana dalam mensikapi masalah, juga memiliki
cara pandang dan cara berpikir yang terbatas, sehingga kurang
menyadari dan memikirkan akibat-akibat yang dapat muncul dari
perlakuan salah terhadap anak.
Mean empirik untuk variabel self efficacy diperoleh sebesar
82,55. J ika dibandingkan dengan mean hipotetiknya yang besarnya
adalah 67,5 dengan standar deviasi hipotetik sebesar 13,5 maka
mean empirik tersebut tergolong tinggi pada kurva self efficacy yang
dibagi menjadi enam bagian. Hal ini menunjukkan kurva self
efficacy subyek penelitian termasuk dalam taraf tinggi. Sedangkan
untuk problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral
palsy, diperoleh mean empirik sebesar 112,70. J ika dibandingkan
dengan mean hipotetiknya yang besarnya adalah 85 dengan standar
Perpustakaan Unika

55
63


deviasi hipotetik sebesar 17 maka mean empirik tersebut tergolong
tinggi pada kurva problem focused coping ibu yang memiliki anak
cerebral palsy yang dibagi menjadi enam bagian. Hal ini
menunjukkan kurva problem focused coping ibu yang memiliki anak
cerebral palsy subyek penelitian termasuk dalam taraf tinggi.
Variabel self efficacy dan tingkat pendidikan memiliki
sumbangan efektif sebesar 33,7 % terhadap problem focused coping
ibu yang memiliki anak cerebral palsy, artinya variabel self efficacy
dan tingkat pendidikan tersebut mempengaruhi problem focused
coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy sebesar 33,7 %.
Sedangkan variabel self efficacy sendiri memberikan sumbangan
efektif sebesar 26,7 %, artinya variabel self efficacy mempengaruhi
problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy
sebesar 26,7 %. Sedangkan variabel tingkat pendidikan memberikan
sumbangan efektif sebesar 7,0 %, artinya variabel tingkat pendidikan
mempengaruhi problem focused coping ibu yang memiliki anak
cerebral palsy sebesar 7,0 %.
Setelah melihat keterangan di atas, dapat dilihat bahwa
problem focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy tidak
hanya dipengaruhi oleh variabel self efficacy dan tingkat pendidikan
saja. Hal ini tampak pada sedikitnya sumbangan efektif yang
diberikan oleh self efficacy dan tingkat pendidikan terhadap problem
focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor lain ternyata memberikan
sumbangan yang cukup besar yaitu sekitar 66,3 % terhadap problem
Perpustakaan Unika

55
64


focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy. Faktor-faktor
lain yang mungkin perlu dipertimbangkan adalah usia, jenis kelamin,
status sosial (Sarafino, 1997, h.138), dukungan sosial dan inteligensi
(Garmezy dan Rutter, 1983, h.18-26). Selain itu, berdasarkan
observasi yang dilakukan oleh peneliti di lapangan ibu yang
memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah juga menunjukkan
problem focused coping yang baik dalam mengasuh anak cerebral
palsy. Ibu tersebut juga memberikan perhatian, kasih sayang dan
empati yang lebih kepada anaknya. Contohnya dengan mengantar
anaknya ke sekolah, membantu anaknya jika mengalami kesulitan
ketika berjalan atau buang air selama berada di sekolah. Berarti
terdapat faktor lain yang juga mempengaruhi keberhasilan problem
focused coping yaitu penerimaan ibu terhadap anak cerebral palsy.
Hal ini didukung oleh pendapat Hurlock (1956, h.18) yang
mengatakan bahwa salah satu sikap orangtua terhadap anak adalah
menerima. Dikatakan bahwa penerimaan orangtua tersebut
merupakan salah satu dari sikap yang menunjukkan adanya perhatian
serta rasa cinta terhadap anaknya. Orangtua yang menerima anaknya
akan menempatkan diri si anak dalam suatu posisi penting di rumah
dan orangtua juga akan mengembangkan hubungan yang hangat
dengan si anak.
Hasil penelitian yang didapat oleh peneliti ini bagaimana pun
juga masih jauh dari sempurna, terdapat beberapa kelemahan pada
penelitian ini, yaitu :
Perpustakaan Unika

55
65


1. Tidak semua ibu yang memiliki anak cerebral palsy bersedia
dijadikan subyek penelitian dengan alasan subyek sibuk bekerja,
bosan karena terlalu sering mengisi skala, dan ada beberapa yang
sulit untuk dimintai mengisi skala. Padahal peneliti sudah
berusaha semaksimal mungkin melakukan pendekatan personal
tetapi karena kurang maksimal maka tidak semua bersedia
membantu mengisi skala.
2. Peneliti tidak membedakan tingkat pendidikan dari anak cerebral
palsy (TK, SD, SMP, SMA, dan mampu latih). Selain itu, peneliti
juga tidak membedakan anak cerebral palsy berdasarkan
klasifikasinya yaitu Spasticity, Athetosis, Ataxia, Tremor,
Rigidity.
3. Penelitian ini menggunakan try out terpakai yaitu penelitian yang
menggunakan data dari sampel yang sama dengan sampel
penelitian pada pengujian alat ukur dan uji hipotesis, sehingga
item-item yang tidak valid terkontaminasi oleh item-item yang
gugur, kalimat pada skala yang kurang dimengerti oleh
responden tidak bisa diperbaiki terlebih dahulu.
4. Adanya social desirability atau bukan keadaan sebenarnya
terutama pada skala problem focused coping, salah satunya
karena adanya kecenderungan untuk memenuhi harapan-harapan
sosial dalam mengisi skala dan adanya norma-norma tertentu
yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Perpustakaan Unika

66



BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
1. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dan self efficacy dengan
problem focused coping pada ibu yang memiliki anak cerebral palsy.
2. Ada hubungan positif antara self efficacy dan problem focused
coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy, yang berarti semakin
tinggi self efficacy maka semakin tinggi pula problem focused coping
ibu yang memiliki anak cerebral palsy.
3. Ada hubungan positif antara tingkat pendidikan dan problem focused
coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy, yang berarti semakin
tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula problem focused
coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan, maka
dapat dikemukakan saran sebagai berikut :
1. Bagi ibu yang memiliki anak cerebral palsy
Agar lebih mengoptimalkan tindakan-tindakan yang
dilakukan dalam mengasuh anak cerebral palsy, misalnya
membentuk kelompok ibu-ibu yang di dalamnya membicarakan
Perpustakaan Unika

66



kondisi dari anak dan penanganan yang harus dilakukan dalam
menghadapi permasalahan ketika mengasuh anak, sehingga para ibu
dapat saling bertukar informasi dan menambah pengetahuan tentang
kondisi dari anak cerebral palsy.
2. Bagi peneliti lain
Agar mengembangkan penelitian dengan mengkaitkan antara
problem focused coping dengan tingkat pendidikan anak cerebral
palsy (TK, SD, SMP, SMA, dan mampu latih) dan membedakan
anak cerebral palsy berdasarkan klasifikasinya yaitu spasticity,
athetosis, ataxia, tremor, rigidity. Selain itu, peneliti lain yang
melakukan penelitian serupa diharapkan perlu mempertimbangkan
dan melibatkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi problem
focused coping ibu yang memiliki anak cerebral palsy selain self
efficacy dan tingkat pendidikan, seperti usia, jenis kelamin, status
sosial, dukungan sosial dan inteligensi. Teknik pengumpulan data
juga dapat dilakukan secara door to door, sehingga hasil penelitian
dapat lebih maksimal. Peneliti lain juga perlu memperhatikan anak-
anak cerebral palsy yang tidak disekolahkan oleh orangtuanya
sehingga diketahui perbandingan antara problem focused coping ibu
yang menyekolahkan anaknya dan yang tidak menyekolahkan
anaknya.


Perpustakaan Unika

66
66
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, S.M. 2003. Hubungan Efikasi Diri dengan Adaptive Selling pada
Agen Asuransi J iwa. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas
Wangsa Manggala. Insight. Tahun I/Nomor 2 ( 3-11).

An. 2007. Memahami Cerebral Palsy. (www.kompas.co.id). 23 Februari
2007.

Ancok, D. 1987. Teknik Penyusunan Skala Pengukuran. Yogyakarta :
Pusat Penelitian Kependudukan UGM.

Andayani, T.R. & Walgito, B. 2002. Perlakuan Salah Terhadap Anak
(Child Abuse) Ditinjau dari Nilai Anak dan Tingkat Pendidikan
Orang Tua. Sosiohumanika. Nomor 15 (h.621-638).

Azwar, S. 1992. Reliabilitas dan Validitas : Edisi Ketiga. Yogyakarta :
Pustaka Belajar.

Bishop, G.D. 1994. Health Psychology : Integrating Mind and Body.
Singapore : National University of Singapore.

Garmezy, N., and Rutter, M. 1983. Stress, Coping and Development In
Children. New York : MC Graw Hill.

Hadi, S. 1997. Metodologi Research : Jilid 1. Yogyakarta : Andi Offset.

______. 2001. Statistik : Jilid 2. Yogyakarta : Andi Offset.

Hakim, S.N & Nuryoto, S. 2005. Memori implisit dan Memori Eksplisit
Lanjut Usia Ditinjau dari Aktivitas dan Tingkat Pendidikan.
Indigenous Jurnal Berkala Ilmiah Berkala Psikologi. Vol.7. No 1 (
3-17).

Perpustakaan Unika

66
67
Hartono, Y. 2005. Stress Terhadap Tugas Akademik Ditinjau dari Self
Efficacy dan Dukungan Sosial pada Mahasiswa Fakultas Teknologi
Pertanian Program Studi Teknologi Pangan Universitas Katolik
Soegijapranata Semarang. Skripsi (Tidak diterbitkan). Semarang :
Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata.

Hurlock, E.B. 1956. Child Development. New York : McGraw-Hill Book
Company, Inc.

Idris, Z. 1992. Dasar-dasar Kependidikan. Bandung : PT.Angkasa.

Kusumasari, D. 2005. Prestasi Belajar Siswa Ditinjau dari Motivasi
Berprestasi dan Tingkat Pendidikan Orangtua. Skripsi (Tidak
diterbitkan). Semarang : Fakultas Psikologi Universitas Katolik
Soegijapranata.

Maqdir, E.S. 2007. Armando & Badut Winnie The Pooh.
(www.eepinside.com). 7 J anuari 2007.

McDermott, S., Coker, A.L., Mani, S., Krishnaswami, S., Nagle, R.J .,
Barnett-Queen, L.L., & Wuori, D.F. 1996. A Population-Based
Analysis of Behavior Problems in Children with Cerebral Palsy.
Journal of Pediatric Psychology. UK : Oxford University Press.
Vol. 21. No. 3 (447-463).

Mobarak, R., Khan, N.Z., Munir, S., Zaman, S.S., & McConachie, H. 2000.
Predictors of Stress in Mother of Children With Cerebral Palsy in
Bangladesh. Journal of Pediatric Psychology. UK : Oxford
University Press. Vol. 25. No. 6 (427-433).

Pengurus YPAC Cabang Semarang. 2004. Buku Pelayanan YPAC
Semarang. Semarang : Yayasan Pembinaan Anak Cacat Cabang
Semarang.

Prabowo, S., Setyorini, D.Th, dan Kusumawardani, A. 2002. Stres Kerja
Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional dan J enis Kelamin pada
Karyawan Bagian Produksi PT.Batam Textile Industry Ungaran.
Perpustakaan Unika

66
68
Psikodimensia Kajian Ilmiah Psikologi. Semarang : Fakultas
Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata.

Saharso, D. 2006. Naskah Lengkap Kuliah Kelompok Studi Neuro-
developmental Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unair RSU
Dr.Soetomo Surabaya : Cerebral Palsy Diagnosis dan
Tatalaksana. (www.pediatrik.com). 29-30 J uli 2006.

Sarafino, E.P. 1997. Health Psychology : Biopsychology Interaction. USA
: The College of New York.

Sari, D.R.U. 2006. Hubungan antara Self Efficacy dengan Kecemasan
dalam Menghadapi Lingkungan Baru pada Mahasiswa Baru
Kebidanan Panti Wilasa Citarum Semarang. Skripsi (Tidak
diterbitkan). Semarang : Fakultas Psikologi Universitas Katolik
Soegijapranata.

Sears, dkk. 1994. Psikologi Sosial : Jilid 1. Diterjemahkan oleh : Adryanto
M. J akarta: Erlangga.

Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan. J akarta : PT. Gramedia Widia Sarana
Indonesia.

Somantri, T.S. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung : PT. Refika
Aditama.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Ilmu Kesehatan Anak : Jilid 2.
J akarta : Penerbit Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

Suryabrata, S. 2000. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta :
Penerbit Andi.

Walgito, B. 1991. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta : Andi
Offset.

Perpustakaan Unika

66
69
Witherington, H.C. 1984. Psikologi Pendidikan. Terjemahan : M. Buchori.
J akarta : Aksara Baru.

Perpustakaan Unika
76
1. Memiliki anak cerebral palsy yang bersekolah di YPAC : YA / TIDAK
2. Pendidikan terakhir ibu, beri tanda silang (X) :
( ) SD lulus / tidak lulus, kelas
( ) SMP lulus / tidak lulus, kelas
( ) SMA lulus / tidak lulus, kelas
( ) Perguruan Tinggi lulus / tidak lulus, semester

SKALA I
NO Pernyataan Jawaban
1. Saya membaca artikel atau buku untuk
meningkatkan pengetahuan tentang
cerebral palsy.
SS S TS STS
2. Saya akan menyusun jadwal terapi untuk
anak saya.
SS S TS STS
3. Saat ini saya lebih memprioritaskan
kesehatan anak saya.
SS S TS STS
4. Saya mencari waktu yang tepat untuk
melakukan terapi pada anak saya.
SS S TS STS
5. Saya bertukar informasi mengenai cara
mengasuh anak dengan sesama ibu dari
anak cerebral palsy.
SS S TS STS
6. Saya jarang berkonsultasi dengan psikolog
mengenai kondisi psikologis anak saya.
SS S TS STS
7. Saya tidak suka merencanakan sesuatu.

SS S TS STS
Perpustakaan Unika
77
8. Ketika tidak ada kesibukan saya lebih
memilih untuk beristirahat.
SS S TS STS
9. Saya langsung mengatakan apapun yang
ingin saya katakan pada anak walaupun hal
itu tidak baik.
SS S TS STS
10. Saya mengurus anak saya seorang diri. SS S TS STS
11. Saya berusaha secepatnya mencari
penyelesaian apabila menghadapi masalah
rumah tangga.
SS S TS STS
12. Saya mencoba menerapkan sendiri terapi
yang pernah diberikan pada anak saya.
SS S TS STS
13. Saya akan terlebih dahulu mengasuh anak
daripada melakukan pekerjaan yang lain.
SS S TS STS
14. Saya tidak memarahi anak di depan umum. SS S TS STS
15. Suami saya segera menolong jika saya
meminta bantuan untuk mengasuh anak
saya yang cerebral palsy.
SS S TS STS
16. Saya jarang mendampingi anak saya belajar
di rumah.
SS S TS STS
17. Saya melakukan tindakan sesuai dengan
yang terlintas dalam pikiran saya pada saat
itu.
SS S TS STS
18. Saya menunda membawa anak saya ke
dokter jika anak saya sakit.

SS S TS STS
Perpustakaan Unika
78
19. Saya langsung memukul anak saya jika
nakal.
SS S TS STS
20. Saya tidak pernah mengeluhkan kondisi
anak saya pada teman.
SS S TS STS
21. Saya selalu membantu anak saya belajar. SS S TS STS
22. Saya membuat perencanaan aktivitas yang
harus dilakukan anak saya, misalnya jam
berapa anak saya harus mandi.
SS S TS STS
23. Sesibuk apapun saya berusaha meluangkan
waktu untuk anak saya.
SS S TS STS
24. Saya menunda untuk mengatakan sesuatu
kepada anak sebelum yakin hal itu baik
untuk anak.
SS S TS STS
25. Saya menggunakan pengasuh untuk
membantu saya merawat anak.
SS S TS STS
26. Saya tidak pernah mencari informasi
tentang cerebral palsy di majalah atau
buku.
SS S TS STS
27. Saya tidak pernah menerapkan terapi yang
pernah diberikan pada anak saya.
SS S TS STS
28. Saya lebih mengutamakan urusan rumah
tangga.
SS S TS STS
29. Saya tetap melakukan terapi pada anak saya
walaupun anak saya sedang sakit.

SS S TS STS
Perpustakaan Unika
79
30. Suami saya tidak peduli ketika saya
meminta bantuan merawat anak saya yang
cerebral palsy.
SS S TS STS
31. Saya berkonsultasi dengan psikolog untuk
mengetahui perkembangan psikologis anak
saya.
SS S TS STS
32. Apa yang akan saya kerjakan esok hari
telah saya rencanakan sebelumnya.
SS S TS STS
33. Ketika anak saya sakit saya langsung
membawa ke dokter.
SS S TS STS
34. Saya menahan diri untuk tidak mengikuti
pikiran pertama yang muncul ketika
mengatasi kenakalan anak.
SS S TS STS
35. Saya memiliki beberapa teman yang
bersedia mendengar keluhan saya.
SS S TS STS
36. Setiap menghadapi masalah rumah tangga
saya tidak berusaha secepatnya mencari
penyelesaian.
SS S TS STS
37. Saya melakukan jadwal terapi jika saya
bisa pada saat itu juga.
SS S TS STS
38. Saya akan menyelesaikan pekerjaan rumah
tangga terlebih dahulu daripada mengurus
anak saya.
SS S TS STS
39. Saya tidak bisa menahan amarah saya jika
anak saya nakal.
SS S TS STS
Perpustakaan Unika
80
40. Saya tidak pernah bertukar informasi ke
sesama ibu yang memiliki anak cerebral
palsy.
SS S TS STS


Mohon periksa lagi jawaban ibu, jangan sampai ada yang terlewati.
Terima kasih.


















Perpustakaan Unika
81
SKALA II
NO Pernyataan Jawaban
1. Berpikir positif membantu saya dalam
menghadapi masalah.
SS S TS STS
2. Saya merasa optimis akan kemampuan
saya.
SS S TS STS
3. Saya berusaha untuk tetap tenang ketika
menghadapi kesulitan.
SS S TS STS
4. Saya dapat menentukan tindakan mana
yang akan saya lakukan terlebih dahulu saat
menghadapi masalah.
SS S TS STS
5. Saya kesulitan untuk mengambil
keputusan.
SS S TS STS
6. Saya menunda untuk menyelesaikan
kesulitan yang saya hadapi.
SS S TS STS
7. Ketika sedang sedih saya tidak dapat
berkonsentrasi pada pekerjaan saya.
SS S TS STS
8. Saya tidak dapat memilih pekerjaan mana
yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
SS S TS STS
9. Saya termasuk orang yang berpikir terlebih
dahulu sebelum bertindak.
SS S TS STS
10. Saya tidak mudah menyerah ketika sedang
menghadapi masalah yang sulit.
SS S TS STS
11. Saya tidak takut menghadapi kegagalan. SS S TS STS
12. Saya selalu berhati-hati dalam bertindak. SS S TS STS
Perpustakaan Unika
82
13. Saya tidak pernah memikirkan tindakan
yang akan saya lakukan saat menghadapi
masalah.
SS S TS STS
14. Saya kehilangan semangat dalam
melakukan pekerjaan saat sedang
menghadapi kesulitan.
SS S TS STS
15. Saya marah ketika saya mengalami
kegagalan.
SS S TS STS
16. Saya sulit menyesuaikan diri ketika
berhadapan dengan lingkungan yang baru.
SS S TS STS
17. Saya memikirkan tindakan yang akan saya
lakukan untuk menyelesaikan pekerjaan-
pekerjaan saya.
SS S TS STS
18. Saya terdorong untuk segera menyelesaikan
kesulitan yang saya hadapi.
SS S TS STS
19. Perasaan sedih tidak menghalangi saya
untuk tetap bekerja.
SS S TS STS
20. Saya dapat membuat prioritas dari
serangkaian pekerjaan yang harus saya
selesaikan.
SS S TS STS
21. Saya terburu-buru dalam mengambil
tindakan.
SS S TS STS
22. Komentar orang lain membuat saya
menjadi pesimis.

SS S TS STS
Perpustakaan Unika
83
23. Saya gelisah ketika belum menyelesaikan
suatu masalah.
SS S TS STS
24. Saya tidak dapat memutuskan tindakan
yang akan saya lakukan terlebih dahulu
ketika menghadapi suatu masalah.
SS S TS STS
25. Saya tidak merasa kesulitan saat harus
mengambil keputusan.
SS S TS STS
26. Saya tetap bersemangat walaupun harus
melakukan banyak pekerjaan.
SS S TS STS
27. Setiap kegagalan saya hadapi dengan tidak
emosional.
SS S TS STS
28. Saya mudah menyesuaikan diri ketika
berhadapan dengan lingkungan yang baru.
SS S TS STS
29. Pikiran negatif terhadap resiko yang akan
terjadi menyulitkan saya untuk
menyelesaikan masalah.
SS S TS STS
30. Saya merasa putus asa ketika menghadapi
masalah.
SS S TS STS
31. Saya selalu takut merasa gagal. SS S TS STS
32. Saya tidak pernah berhati-hati dalam
mengambil tindakan.
SS S TS STS


Mohon periksa lagi jawaban ibu, jangan sampai ada yang terlewati.
Terima kasih
Perpustakaan Unika