Anda di halaman 1dari 7

1.

Pengertian Keracunan Belerang


Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang
memiliki lambang S dan nomor atom 16. Bentuknya adalah non-metal yang tak
berasa, tak berbau, dan multivalent. Belerang dalam bentuk aslinya adalah sebuah
zat padat kristalin kuning. Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni
atau sebagai mineral-mineral sulfide dan sulfate. Belerang adalah unsur penting
untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino. Penggunaan
komersiilnya terutama dalam fertilizer namun juga dalam bubuk mesiu, korek api,
insektisida, dan fungisida.
Belerang di dalam tanah didapatkan dalam dua bentuk utama yaitu bentuk
organik dan bentuk anorganik, tetapi sebagian besar dalam bentuk organik
(Stevenson, 1994). Bentuk S tersebut menentukan perilakunya di dalam tanah.
Hampir semua S dalam tanah tropika yang tidak di pupuk terdapat dalam bentuk
organik. Unsur ini diserap oleh tanaman hampir seluruhnya dalam bentuk ion
sulfatdan hanya sejumlah kecil sebagai gas belerang (SO2) yang diserap langsung
dari tanah dan atmosfir. Berdasarkan bentuknya di dalam tanah, S dapat
dikelompokkan menjadi sulfat organik, sulfat terlarut, sulfat terabsorpsi, S-
elemen, dan sulfida.
Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri atas gas
SO
2
dan gas SO
3
yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO
2
berbau tajam
dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO
3
bersifat sangat reaktif. Gas
SO
3
mudah bereaksi dengan uap air yang ada diudara untuk membentuk asam
sulfat atau H
2
SO
4
. Asam sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan)
benda-benda lain yang mengakibatkan kerusakan, seperti proses perkaratan
(korosi) dan proses kimiawi lainnya. SOx mempunyai ciri bau yang tajam,
bersifat korosif (penyebab karat), beracun karena selalu mengikat oksigen untuk
mencapai kestabilan phasa gasnya. Sox menimbulkan gangguan sitem pernafasan,
jika kadar 400-500 ppm akan sangat berbahaya, 8-12 ppm menimbulkan iritasi
mata, 3-5 ppm menimbulkan bau.
2. Penyebab Keracunan Belerang
Pemakaian batu bara sebagai bahan bakar pada beberapa kegiatan industri
seperti yang terjadi di negara Eropa Barat dan Amerika, menyebabkan kadar gas
SOx diudara meningkat. Reaksi antara gas SOx dengan uap air yang terdapat di
udara akan membentuk asam sulfat maupun asam sulfit. Apabila asam sulfat dan
asam sulfit turun ke bumi bersama-sama dengan jatuhnya hujan, terjadilah apa
yang dikenal denagn Acid Rain atau hujan asam . Hujan asam sangat merugikan
karena dapat merusak tanaman maupun kesuburan tanah. Pada beberapa negara
industri, hujan asam sudah banyak menjadi persoalan yang sangat serius karena
sifatnya yang merusak. Hutan yang gundul akibat jatuhnya hujan asam akan
mengakibatkan lingkungan semakin parah.
Pencemaran SOx diudara terutama berasal dari pemakaian baru bara yang
digunakan pada kegiatan industri, transportasi, dan lain sebagainya. Belerang
dalam batu bara berupa mineral besi peritis atau FeS
2
dan dapat pula berbentuk
mineral logam sulfida lainnya seperti PbS, HgS, ZnS, CuFeS
2
dan Cu
2
S. Dalam
proses industri besi dan baja (tanur logam) banyak dihasilkan SOx karena
mineral-mineral logam banyak terikat dalam bentuk sulfida. Pada proses
peleburan sulfida logam diubah menjadi oksida logam. Proses ini juga sekaligus
menghilangkan belerang dari kandungan logam karena belerang merupakan
pengotor logam.
Apabila asam sulfat maupun asam sulfit tersebut ikut berkondensasi di udara
dan kemudian jatuh bersama-sama air hujan sehingga pencemaran berupa hujan
asam tidak dapat dihindari lagi. Hujan asam ini dapat merusak tanaman, terkecuali
tanaman hutan. Kerusakan hutan ini akan mengakibatkan terjadinya pengikisan
lapisan tanah yang subur. Walaupun konsentrasi gas SOx yang terdispersi ke
lingkungan itu berkadar rendah, namun bila waktu kontak terhadap tanaman
cukup lama maka kerusakan tanaman dapat saja terjadi. Konsentrasi sekitar 0,5
ppm sudah dapat merusakan tanaman, terlebih lagi bila konsentrasi SOx di Udara
lingkungan dapat dilihat dari timbulnya bintik-bintik pada permukaan daun. Kalau
waktu paparan lama, maka daun itu akan gugur. Hal ini akan mengakibatkan
produktivitas tanaman menurun. Udara yang telah tercemar SOx menyebabkan
manusia akan mengalami gangguan pada sistem pernapasaannya. Hal ini karena
gas SOx yang mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lendir pada
hidung, tenggorokan dan saluran napas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan
gas SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena.
SO
2
mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kesehatan yang akut dan kronis.
dalam bentuk gas, SO
2
dapat mengiritasi sistem pernapasan; pada paparan yang
tinggi (waktu singkat) mempengaruhi fungsi paru-paru. SO
2
merupakan produk
sampingan H
2
SO
4
yang mempengaruhi sistem pernapasan. Senyawanya, terdiri
dari garam ammonium polinuklir atau organosulfat, mempengaruhi kerja alveoli
dan sebagai bahan kimia yang larut, mereka melewati membran selaput lendir
pada sistem pernapasan pada makhluk hidup. Aerosol partikulat dibentuk oleh gas
ke pembentukan partikel ditemukan bergabung dengan pengaruh kesehatan yang
banyak. Secara global, senyawa-senyawa belerang dalam jumlah cukup besar
masuk ke atmosfer melalui aktivitas manusia sekitar 100 juta metric ton belerang
setiap tahunnya, terutama sebagai SO
2
dari pembakaran batu bara dan gas buangan
pembakaran bensin. Jumlah yang cukup besar dari senyawa belerang juga
dihasilkan oleh kegiatan gunung berapi dalam bentuk H
2
S, proses perombakan
bahan organik, dan reduksi sulfat secara biologis. Jumlah yang dihasilkan oleh
proses biologis ini dapat mencapai lebih 1 juta metric ton H
2
S per tahun.
Walaupun SO
2
yang dihasilkan oleh aktivitas manusia hanya merupakan
bagian kecil dari SO
2
yang ada diatmosfer, tetapi pengaruhnya sangat serius
karena SO
2
langsung dapat meracuni makhluk disekitarnya. SO
2
yang ada
diatmosfer menyebabkan iritasi saluran pernapasandan kenaikan sekresi mucus.
Orang yang mempunyai pernapasan lemah sangat peka terhadap kandungan
SO
2
yang tinggi diatmosfer. Dengan konsentrasi 500 ppm, SO
2
dapat
menyebabkan kematian pada manusia. Pencemaran yang cukup tinggi oleh
SO
2
telah menimbulkan malapetaka yang cukup serius. Seperti yang terjadi di
lembah Nerse Belgia pada 1930, tingkat kandungan SO
2
diudara mencapai 38
ppm dan menyebabkan toksisitas akut. Selama periode ini menyebabkan kematian
60 orang dan sejumlah ternak sapi.
Sulfur dioksida juga berbahaya bagi tanaman. Adanya gas ini pada konsentrasi
tinggi dapat membunuh jaringan pada daun. pinggiran daun dan daerah diantara
tulang-tulang daun rusak. Secara kronis SO
2
menyebabkan terjadinya khlorosis.
Kerusakan tanaman iniakan diperparah dengan kenaikan kelembaban udara.
SO
2
diudara akan berubah menjadi asam sulfat. Oleh karena itu, didaerah dengan
adanya pencemaran oleh SO
2
yang cukup tinggi, tanaman akan rusak oleh aerosol
asam sulfat. Kerusakan juga dialami oleh bangunan yang bahan-bahannya seperti
batu kapur, batu pualam, dolomit akan dirusak oleh SO
2
dari udara. Efek dari
kerusakan ini akan tampak pada penampilannya, integritas struktur, dan umur dari
gedung tersebut.
3. Klasifikasi Keracunan Belerang
Belerang atau sulfur oksida terdiri atas 2 macam, yaitu SO2 dan SO3.
Kandungan sulfur di udara didominasi oleh sulfur dioksida (SO2) dan hanya
sekitar 2% yang merupakan SO3. Gas SO2 berbau tajam namun tidak mudah
terbakar sedangkan gas SO3 sangat mudah terbakar. Kita dapat mencium bau dari
gas SO2 jika konsentrasinya berkisar antara 0,3-1 ppm. Pencemaran SO2 secara
alami dapat berasal dari aktivitas gunung berapi, pembusukan bahan organik oleh
mikroba dan reduksi sulfat secara biologis. Sementara itu, sumber pencemaran
SO2 buatan berasal dari pembakaran bahan bakar minyak, gas, dan batu bara yang
mengandung sulfur tinggi. Bahaya gas SO2 yang ada di udara dapat menyebabkan
iritasi saluran pernafasan bahkan jiak konsentrasinya mencapai 500 ppm, SO2
dapat menyebabkan kematian pada manusia dan hewan, serta menyebabkan
kerusakan pada tanaman.
4. Patofisiologi Keracunan Belerang
5. Manifestasi Klinis Keracunan Belerang
6. Penatalaksanaan Keracunan Belerang
1. Pindahkan korban pada daerah yang sirkulasi udaranya baik dan tenangkan
korban, diharapkan gejalanya akan segera hilang.
2. Lepaskan atau dekontaminasi baju korban (bila penyebabnya adalah bahan
kimia yang mudah menguap
3. Segera kirim korban ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan
selanjutnya
4. Perlu diperhatikan bahwa jangan pernah memindahkan korban dari daerah yang
beracun bila Anda tidak dilengkapi dengan alat pelindung yang memadai atau
menggunakan alat bantu pernapasan dan tidak pernah mendapatkan pelatihan
untuk menggunakan alat pelindung diri.
Secara khusus, perlakuan lanjutan yang harus dilakukan pada setiap jenis
keracunan bahan kimia yang berbeda adalah sebagai berikut :
1. Keracunan melalui Mulut/Pencernaan
Perlakuan yang dapat diberikan kepada korban adalah dengan memberikan air
minum/susu sebanyak 2-4 gelas, Apabila korban pingsan jangan berikan sesuatu
melalui mulut. Usahakan supaya muntah segera dengan memasukkan jari tangan
ke pangkal lidah atau dengan memberikan air garam hangat (satu sendok makan
garam dalam satu gelas air hangat). Ulangi sampai pemuntahan cairan jernih.
Pemuntahan jangan dilakukan apabila tertelan minyak tanah, bensin, asam atau
alkali kuat, atau apabila korban tidak sadar.
Berilah antidote yang cocok, bila tidak diketahui bahan beracunnya, berilah satu
sendok antidote umum dalam segelas air hangat umum. Bubuk antidote umum
terbuat dari dua bagian arang aktif (roti yang gosong), satu bagian magnesium
oksida (milk of magnesia), dan satu bagian asam tannat (teh kering). Jangan
berikan minyak atau alkohol kecuali untuk racun tertentu.
Berikut adalah beberapa alternatif obat yang dapat anda gunakan untuk
pertolongan pertama terhadap korban keracunan bahan kimia :
Jenis Peracun Pertolongan Pertama
Asam-asam korosif seperti asam sulfat (H
2
SO
4
), Bila tertelan berilah bubur
fluoroboric acid, hydrobromic acid 62%, hydrochloric
acid 32%, hydrochloric acid fuming 37%, sulfur
dioksida, dan lain-lain. Bila tertelan berilah bubur
aluminium hidroksida atau milk of magnesia diikuti
dengan susu atau putih telur yang dikocok dengan air.
aluminium hidroksida
atau milk of magnesia
diikuti dengan susu atau
putih telur yang dikocok
dengan air.
Jangan diberi dengan
karbonat atau soda kue.
Alkali (basa) seperti amonia (NH3), amonium
hidroksida (NH4OH), Kalium hidroksida (KOH),
Kalsium oksida (CaO), soda abu, dan lain-lain.
Bila tertelan berilah asam
asetat encer (1%), cuka
(1:4), asam sitrat (1%),
atau air jeruk. Lanjutkan
dengan memberi susu
atau putih telur.
Kation Logam seperti Pb, Hg, Cd, Bi, Sn, dan lain-
lain
Berikan antidote umum,
susu, minum air kelapa,
norit, suntikan BAL, atau
putih telur.
Pestisida
Minum air kelapa, susu,
vegeta, norit, suntikan
PAM
Garam Arsen
Bila tertelan usahakan
pemuntahan dan
berikanmilk of magnesia.
2. Keracunan melalui Pernafasan
Jika racun yang masuk dalam tubuh terhirup oleh saluran pernafasan, gunakan
masker khusus atau kalau terpaksa sama sekali tidak ada, tahanlah nafas saat
memberikan pertolongan di tempat beracun. Bawalah korban ke tempat yang
berudara sesegera mungkin dan berikan pernafasan buatan secepatnya, apabila
korban mengalami kesulitan bernafas. Lakukan hal tersebut berulang-ulang
sampai petugas kesehatan datang.
3. Keracunan melalui Kulit
Jika racun masuk ke dalam tubuh melalui kulit, jika memungkinkan tentukan
lebih dulu jenis bahan kimia beracun yang masuk dan usahakan agar tidak
tersentuh, siramlah bagian tubuh korban yang terkena bahan racun dengan air
bersih paling sedikit 15 menit. Langkah selanjutnya, lepaskan pakaian yang
dikenakan, berikut sepatu, perhiasan dan benda-benda lain yang terkena racun.
Jangan mengoleskan minyak, mentega atau pasta natrium bikarbonat pada kulit
yang terkena racun, kecuali diperintahkan oleh petugas kesehatan yang hadir di
situ.
4. Keracunan melalui Mata
Jika racun yang masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir di mata, segeralah
melakukan pencucian pada kedua mata korban dengan air bersih dalam jumlah
banyak (disini anda dapat mengunakan air hangat-hangat kuku). Buka kelopak
mata atas dan bawah, tarik bulu matanya supaya kelopak mata tidak menyentuh
bola mata. Posisi ini memungkinkan masuknya air bersih dan dapat mencuci
seluruh permukaan bola mata dan kelopaknya. Teruskan pekerjaan ini sampai
paling sedikit 15 menit.