Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Konsep Penyakit Hipertensi
1. Definisi
Hipertensi menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik
lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar
95 mmHg (Kodim nasrin, 2003)
Hipertensi adalah tekanan darah persisten di mana tekanan sistolik lebih tinggi dari 140
mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg (Donna D Ignatavicius, 1999)
Hipertensi dapat di definisikan sebagai darah persisten di mana tekanan sisitoliknya di
atas 140 mmHg dan tekanan diastolic di atas 90 mmHg (Smeltzer & Brenda 2001)
2. Etiologi
WHO dan international society of hypertension working group (ISHWG) telah
mengelompokkan hipertensi ke dalam klasifikasi, normal, hipertensi ringan, hipertensi
sedang dan hipertensi berat.
KATEGORI
TEKANAN DARAH
SISTOL DIASTOL
Normal
Hipertensi ringan
Hipertensi sedang
Hipertensi berat
< 130
140 159
160 - 179
>180
< 85
90 99
100 109
>110
Penyakit darah tinggi atau hipertensi di kenal dengan 2 tipe klasifikasi, di antaranya
hipertensi primary dan hipertensi secondary.
Hipertensi primary adalah suatu kondisi di mana terjadinya tekanan darah tinggi sebagai
akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan seseorang yang pola
makannya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan
obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi. Begitu
pula seseorang yang berada dalam lingkungan atau kondisi stressor tinggi sangat mungkin
terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang orang yang kurang olah raga pun
bisa mengalami tekanan darah tinggi.
Hipertensi secondary adalah suatu kondisi di mana terjadinya peningkatan tekanan darah
tinggi sebagai akibat seseorang mengalami / menderita penyakit lainnya seperti gagal
jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh. Sedangkan pada ibu hamil,
tekanan darah secara umum meningkat saat kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada
wanita yang berat badannya di atas normal atau gemuk (gendut).
Pregnancy-induced hypertension (PIH) ini adalah sebutan dalam istilah kesehatan (medis)
bagi wanita hamil yang menderita hipertensi. Kondisi hipertensi pada ibu hamil bisa
sedang ataupun tergolong parah / berbahaya, seorang ibu hamil dengan tekanan darah
tinggi bisa mengalami preeclampsia di masa kehamilannya itu.
Preeclampsia adalah kondisi seorang wanita hamil yang mengalami hipertensi, sehingga
merasakan keluhan seperti, pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut, muka
yang membengkak, kurang nafsu makan, mual bahkan muntah.Apabila terjadi kekejangan
sebagai dampak hipertensi maka di sebut Eclamsia.
Gejala Hipertensi
Hipertensi sulit di sadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala khusus.
Gejala gejala yang mudah di amati antara lain yaitu :
Gejala ringan seperti pusing atau sakit kepala.
a. Sering gelisah.
b. Wajah merah.
c. Tengkuk terasa pegal.
d. Mudah marah.
e. Telinga berdengung.
f. Sukar tidur.
g. Sesak nafas.
h. Rasa berat di tengkuk.
i. Mudah lelah.
j. Mata berkunang kunang.
k. Mimisan (keluar darah dari hidung)
Hipertensi dapat di ketahui dengan mengukur tekanan darah secara teratur. Penderita
hipertensi, apabila tidak di tangani dengan baik, akan mempunyai resiko besar untuk
meninggal karena komplikasi kardiovaskular sseperti stroke, serangan jantung, gagal
jantung, dan gagal ginjal.
3. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya terbentuknya hipertensi melalui terbentuknya angiotensis II dan
angiotensin I, oleh angiotensis I oleh I- Converting enzyme (ACE). ACE memegang
peranan fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung
angiotensinogen yang diproduksi hati, yang oleh hormone renin (diproduksi oleh
hormone ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I (dekapeptida yang tidak aktif) oleh
ACE yang terdapat di paru paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II.
(oktapeptida yang sangat aktif) angiotensin II berpotensi besar meningkatkan tekanan
darah karena bersifat sebagai vasokonstrictor melalui pusat haus.
a. Meningkatkan sekresi hormone antidiuretic (ADH)
dan rasa haus. ADH diproduksii dipotalamus (kelenjar pitvitari) dan bekerja pada
ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatkan ADH,
sangat sedikit urin yang diekresikan ke luar tubuh (antidiuresis) sehingga urin menjadi
pekat dan tinggi osmolalitasnya ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian
instraseluler. akibatnya volume darah meningkat sehingga meningkatkan tekanan
darah.
b. Menstimulasi sekresi aldosterone dari korteks adrenal,
Aldosteron merupakan hormon steroid yang berperan penting pada ginjal, untuk
mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosterone akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya, dari tubulus ginjal. naiknya konsentrasi NaCl
akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang
pada gilirannya akan meningkatkan volume dengan tekanan darah.
Komplikasi
a. Stroke, medulla diotak merupakan mekanisme yang
mengontrol kontriksi dan rileksasi pembuluh darah dipusat vasamotor pada penderita
hipertensi pembuluh darah pecah Karena jantung kuat memompa.
b. Heart failure, hipertropi ventrikel kiri terjadi sehingga peningkatan beban ventrikel
saat dipaksa berkontriksi melawan tekanan sistemik yang meningkat. Apabila jantung
tidak mampu lagi menahan peningkatan beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung
kiri.
4. Pemeriksaan diagnostik
a. EKG
b. Photo rontgen
c. Pemeriksaan Labolatorium (Cek kolesterol, Asam urat, gula darah)
5. Penatalaksanaan medis
Pengobatan secara non farmakologis dapat menggunakan beberapa cara yaitu diantaranya
: Diat rendah garam, hindari obesittas atau menurunkan berat badan. hindari faktor resiko
(merokok, minum alcohol, stress, hyperlipidemia), rileksasi atau meditasi dan olah raga
teratur.
Pengobatan secara farmatologis adalah dengan menggunakan obat anti hipertensi
misalnya : obat diuretik, B blocker, vasodilator.
Contoh nama obat hipertensi Nifedipin 10 mg, termasuk golongan obat antagonis
kalsium. kerja utama menghambat masukan ion kalsium kedalam sel melalui membran,
mempunyai efek vasodilatas pada arteriol, coroner dan parifer, menurunkan kerja jantung
dan konsumsi energy meningkatkan pengiriman oksigen ke jantung pada ekstremitas
bawah.
B. Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Konsep keluarga
a. Definisi
Menurut Friedman (1998)
Keluarga merupakan kesatuan dari orang orang yang terikat dalam perkawinan, ada
hubungan darah adopsi dan tinggal dalm satu rumah.
Menurut (INC, 2001)
Lima hal penting yang ada pada definisi keluarga :
1) Keluarga adalah suatu system atau unit.
2) Komitmen dan keterikatan antar anggota keluarga yang meliputi kewajiban di
masa yang akan datang
3) Fungsi keluarga dalam pemberian keperawatan meliputi perlindungan pemberian
nutrisi dan sosialisasi untuk seluruh anggota keluarga.
4) Angota-anggota keluarga mungkin memiliki hubungan dan tinggal bersama atau
mungkin juga tidak ada hubungan dan tinggal terpisah.
5) Keluarga mungkin memiliki anak atau mungkin juga tidak.
b. Jenis / tipe keluarga
Menurut Anderson carter, keluarga di kelompokan menjadi 6 tipe
1) Keluarga inti (nuclea- family)
Keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak anak.
2) Keluarga Besar (ekstended family)
Keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, nenek, keponakan, sepupu, paman,
bibi dan sebagainya.
3) Keluarga Berantai (sereal family)
Keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang sudah menikah lebih dari satu kali
dan merupakan satu keluarga inti.
4) Keluarga duda / Janda (single family)
Keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
5) Keluarga berkomposisi
Keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama- sama.
6) Keluarga kabitas
Dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.
c. Struktur keluarga
1) Struktur keluarga menurut hubungan darah
a) Patrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah. Sukusuku
di Indonesia rata- rata menggunakan struktur patrilineal.
b) Matrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu. Suku padang
salah satu suku yang menggunakan struktur keluarga matrilineal.
2) Struktur keluarga menurut keberadaan tempat tinggal
a) Patrioka
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga dari
pihak suami.
b) Matriloka
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga
sedarah dari pihak istri.
3) Struktur keluarga menurut pengambilan keputusan
a) Patriaka
Pengambilan keputusan ada pada pihak suami.
b) Matriakal
Pengambilan keputusan ada pada pihak.
d. Peran keluarga
Beberapa peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:
1) Peran Ayah. ayah sebagai suami dari istri dan anak anaknya, berperan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman. Sebagai kepala
keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota
masyarakat dan lingkungannya.
2) Peran ibu sebagai istri dan Ibu dari anak anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya,
pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari lingkungannya. Disamping itu
ibu juga dapat berperan sebagai nafkah tambahan dalam keluarga.
3) Peran anak. Anak anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat
perkembagan baik fisik, mental, social spiritual.
e. Fungsi keluarga
Fungsi keluarga menurut Friedman (1986)
1) Fungsi efektif
Fungsi efektif adalah fungsi internal keluarga sebagai dasar kekuatan keluarga.
Didalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling mendukung dan saling
menghargai antara anggota keluarga.
2) Fungsi Sosialisasi
Fungsi Sosialisasi adalah fungsi yang mengembangkan proses interaksi dalam
keluarga. Sosialisasi dimulai sejak lahir dan keluarga merupakan tempat individu
untuk belajar bersosialisasi.
3) Fungsi Reproduksi
Fungsi Reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan kelangsungan
keturunan dan menambah sumber daya manusia.
4) Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh
anggota keluarga yaitu untuk sandang, pangan, dan papan
5) Fungsi Perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan adalah fungsi keluarga untuk mencegah terjadinya
masalah kesehatan dan merawat anggota keluarga yang mengalami masalah
kesehatan.
f. Tahapan dan tugas perkembangan keluarga.
Tahapan dan tugas perkembangan keluarga yang diadaptasi dari Duval adalah :
1) Pasangan pemula atau pasangan baru menikah
Tahapan ini dimulai saat dua insan dewasa mengikat janji melalui pernikahan
dengan landasan cinta dan kasih sayang. Tugas pada tahapan perkembangan
keluarga antara lain saling memuaskan antar pasangan, beradaptasi dengan
keluarga besar dari masing masing pihak, merencanakan dengan matang jumlah
anak, memperjelas peran masing masing pasangan.
2) Keluarga dengan Child Bearing (kelahiran anak pertama)
Tahapan ini dimulai saat ibu hamil sampai dengan kelahiran anak pertama dan
berlanjut sampai dengan anak pertama berusia 30 bulan. Tugas keluarga pada
tahapan ini antara lain: mempersiapkan biaya persalinan, mempersiapkan mental
calon orang tua dan mempersiapkan berbagai kebutuhan anak. Apabila anak
sudah lahir tugas keluarga antara lain : memberikan ASI sebagai kebutuhan utama
bayi (minimal 6 bulan), memberikan kasih sayang, mulai mensosialisasikan
dengan lingkungan keluarga besar masing- masing pasangan, pasangan kembali
melakukan adaptasi karena kehadiran anggota keluarga termasuk siklus hubungan
seks, mempertahankan hubungan dalam memuaskan pasangan.
3) Keluarga dengan anak prasekolah
Dimulai saat anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5
tahun. tugas yang dimiliki pada keluarga dengan anak prasekolah diataranya :
menanamkan nilai- nilai dan norma kehidupan, mulai menanamkan keyakinan
beragama, mengenalkan kultul keluargaa, memenuhi kebutuhan bermain
anak,membantu anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar,
menanamkan tanggung jawab dalam lingkup kecil, memprhatikan dan
memberikan stimulasi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak pra sekolah.
4) Keluarga dengan anak dengan usia sekolah
Dimulai saat anak pertama berusia 6 tahun dan berakhir saat anak berusia 12
tahun . Tugas yang dimiliki keluarga dengan anak usia sekolah antara lain
memenuhi kebutuhan sekolah ank baik alat alat sekolah maupun biaya sekolah,
membiasakan belajar teratur, menperhatikan anak saat menyelesaikan tugas- tugas
sekolahnya, memberikan pengertian pada anak bahwa pendidikan sangat penting
untuk massa depan anak, membantu anak bersosialisasi lebih luas dengan
lingkungan sekitar.
5) Keluarga dengan anak remaja
Dimulai saat anak pertama berusia 13 tahun dan berakhir saa anak berusia 19 20
tahun. Keluarga dengan anak remaja berada dalam posisi dilematis, mengingat
anak sudah mulai menurun perhatiannya terhadap orang tua dibanding dengan
teman sebayanya. Pada tahapan ini sering kali ditemukan perbedaan pendapat
antara orang tua dan anak remaja,apabila hal ini tidak diselesaikan akan
berdampak pada hubungan selanjutnya.tugas keluarga pada tahapan ini anatara
lain : memberikan perhatian lebih pada remaja, bersama- sama mendiskusikan
tentang rencana sekolah ataupun kegiatan diluar sekolah, memberikan kebebasan
dalam batasan tanggung jawab, mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.
6) Keluarga dengan melepaskan anak ke masyarakat
Remaja yang akan beranjak dewasa harus sudah siap meninggalkan kedua orang
tuanya untuk mulai hidup baru, bekerja, dna berkeluarga, sehingga tugas keluarga
pada tahapan ini antara lain : Mempertahankan keintiman pasangan, membantu
anak untuk mandiri, mempertahankan komunikasi, memperluas hubungan
keluarga antara orang tua dengan menantu, menata kembali peran dan fungsi
keluarga, setelah ditinggalkan anak- anak.
7) Keluarga dengan tahapan berdua kembali
Tugas bagi keluarga setelah ditinggal pergi anak anak nya untuk memulai
kehidupan baru antara lain : menjaga keintiman pasangan , merencanakan
kegiatan yang akan datang, tetap menjaga komunikasi dengan anak- anak dan
cucu, mempertahankan kesehatan masing masing pasangan.
8) Keluarga dengan tahapan masa tua
Masa tua bisa dihinggapi perasaan kesepian, tidak berdaya, sehingga tugas
keluarga pada tahapan ini adalah : saling memberikan perhatian yang
menyenangkan antara pasangan, memperhatikan kesehatan masing-masing
pasangan, merencanakan kegiatan untuk mengisi waktu tua, seperti : dengan
berolah raga, berkebun, mengasuh cucu, pada masa tua pasangan saling
mengingatkan akan adanya kehidupan yang kekal setelah kehidupan ini.
2. Konsep Proses Keperawatan Keluarga
a. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahapan terpenting dalam proses keperawatan, mengingat
pengkajian sebagai awal bagi keluarga untuk mengindentifikasi data-data yang ada
pada keluarga. pengkajian keluarga menurut model Friedman. Friedman memberikan
batasan enam kategori dalam memberikan pertanyaan pertanyaan saat melakukan
pengkajian.
1) Data mengenai keluarga.
2) Riwayat dan tahapan perkembangan keluarga.
3) Data lingkungan.
4) Sruktur keluarga
5) Fungsi keluarga
6) Koping keluarga.
b. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa keperawatan merupakan kumpulan peryataan, uraian dari hasil wawancara,
pengamatan langsung dan pengukuran dengan menunjukan status kesehatan mulai
dari potensial, resiko tinggi, sampai masalah aktual.
Masalah keperawatan potensial adalah bila status kesehatan berada pada kondisi sehat
dan ingin meningkat lebih optimal. Masalah keperawatan resiko tinggi, bila masalah
ini sudah di tunjang dengan data yang akan mengarah pada timbulnya masalah
kesehatan bila tidak segera tidak di tangani. Sedangkan masalah keperawatan aktual,
bila masalah ini memberikan gambaran berupa tanda dan gejala yang jelas
mendukung bahwa masalah benar benar terjadi.
c. Perencanaan Keperawatan.
Menurut Ana (1995) mendefinisikan intervensi sebagai rencana tindakan perawat
untuk kepentingan klien atau keluarga.
Friedman memberikan gambaran klasifikasi intervensi antara lain :
1) Suplemental
Intervensi yang terkait dengan rencana pemberian pelayanan secara langsung
pada keluarga sebagai sasaran.
2) Fasilitatif
Intervensi ini terkait dengan rencana dalam membantu mengatasi hambatan dari
keluarga dalam memperoleh pelayanan medis, kesejahteraan sosial dan
transportasi.
3) Developmental
Intervensi ini terkait dengan rencana perawat membantu keluarga dalam
kapasitasnya untuk menolong dirinya sendiri (membuat keluarga belajar mandiri)
dengan kekuatan dan sumber pendukung yang terdapat pada keluarga.
d. Pelaksanaan Keperawatan
Implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah di susun sebelumnya,
prinsip yang mendasari implementasi keperawatan keluarga antara lain :
1) Implementasi mengacu kepada rencana perawatan yang di buat.
2) Implementasi di lakukan dengan tetap memperhatikan prioritas masalah.
3) Kekuatan kekuatan keluarga merupakan finansial, motivasi dan sumber sumber
pendukung lainnya jangan diabaikan.
4) Pendokumentasian implemmentasi keperawatan keluarga janganlah terlupakan
dengan menyertakan tanda tangan petugas sebagai bentuk tanggung gugat dan
tanggung jawab profesi.
e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan keluaarga, evaluasi
merupakan tahapan yang menentukan apakah tujuan dapat tercapai yang di tetapkan
dalam tujuan di rencana perawatan. Apabila setelah di lakukan evaluasi tujuan tidak
tercapai maka ada beberapa kemungkinan yang perlu di tinjau kembali yaitu :
1) Tujuan tidak realistis
2) Tindakan keperawatan tidak tepat
3) Faktor faktor lingkungan yang tidak bisa di atasi.
3. Konsep Proses Penuaan
a. Pengertian Menua
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi didalam kehidupan
manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari
suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan.
Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang
ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong,
pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat dan
figure tubuh yang tidak proporsional.
WHO dan Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia
pada BAB I Pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia permulaan
tua.
Boedhi Darmojo dan Hadi Martono (1994) mengatakan bahwa menua (menjadi
tua) adalah suatu poroses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita. Manusia secara lambat dan progresif akan
kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menempuh semakin banyak distorsi
meteoritic dan structural yang disebut sebagai penyakit degenerative (misalnya
hipertensi, arteriosclerosis, diabetes mellitus dan kanker).
b. Teori Proses Menua
1) Teori Biologis
a) Teori Genetik
Teori ini merupakan teori intrinsic yang menjelaskan bahwa di dalam tubuh
terdapat jam biologis yang mengatur gen dan menentukan proses penuaan.
b) Teori Non Genetik
(1) Teori penuaan sistem imun tubuh (auto-immune theory)
Mutasi yang berulang dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan
sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Dalam
proses metabolism tubuh, diproduksi suatu zat khusus, ada jaringan tubuh
tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh
menjadi lemah dan sakit, sebagai contoh, tambahan kelenjar timus yang
pada usia dewasa berinovasi dan sejak itu terjadi kelainan autoimun.
(2) Teori kerusakan akibat radika bebasa (free radical theory)
Radikal bebas yang terdapat dilingkungan seperti :
(a) Asap kendaraan bermotor
(b) Asap rokok
(c) Zat pengawet makanan
(d) Radiasi
(e) Sinar ultraviolet
(3) Toeri menua akibat metabolism
Pengurangan asupan kalori ternyata bisa menghambat pertumbuhan dan
memperpanjang umur, sedangkan perubahan asupan kalori yang
menyebabkan kegemukan dapat memperpendek umut (Boedhi Darmojo,
1989)
(4) Teori Rantai Silang (Cross Link Theory)
Toeri ini menjelaskan bahwa menua disebabkan oleh lemak protein,
karbohidrat dan asamnukleal (molekul kolagen) berreaksi dengan zat
kimia dan radiasi, mengubah fungsi jaringan yang menyebabkan
perubahan pada membrane plasma, yang mengakibatkan terjadinya
jaringan yang kaku, kurang elastis dam hilangnya fungsi pada proses
menua.
(5) Teori Fisiologis
Teori ini merupakan toeri instrinsik dan ekstrinsik, terdiri atas teori
oksidasi stress dan teori dipakai-aus (wear and tear theory) disini terjadi
kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel tubuh telah terpakai
(regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan
internal).
2) Teori Sosiologis
Teoris ini tentang proses menua yang dianut selama ini antara lain :
a) Teori interaksi sosial
Kemampuan lanjut usia untuk terus menjalin interaksi sosial merupakan kunci
mempertahankan status sosialnya berdasarkan kemampuan bersosialisasi.
b) Teori aktivitas atau kegiatan
(1) Kententuan tentang semakin menurunnya jumlah kegiatan secara langsung
(2) Lanjut usia akan merasakan kepuasan bila dapat melakukan aktivitas dan
mempertahankan aktivitas tersebut selama mungkin.
(3) Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup lanjut usia.
(4) Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap
stabil dari usia pertengahan.
c) Teori kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Teori ini mengatakan bahwa perbuhanan yang terjadi pada seorang lanjut usia
sangat dipengaruhi oleh tipe personalitas yang dimiliki. Pengalaman hidup
seseorang pada suatu saat merupakan gambarannya kelak pada saat ia menjadi
lanjut usia.
d) Teori pembebasan/ penarikan diri (disengagement theory)
Teori ini membahas putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat
dan kemunduran individu dengan individu lainnya.
c. Perubahan Akibat Proses Menua
1) Perubahan fisik dan Non fisik
a) Sel
(1) Jumlah sel menurun/ lebih sedikit
(2) Ukuran sel lebih besar
(3) Jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang
(4) Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hari menurun
(5) Jumlah sel otak menurun
(6) Mekanisme perbaikan sel terganggu
(7) Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%
(8) Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebih
b) Sistem persarafan
(1) Menurun hubungan persarafan
(2) Berat otak menurun 10-20%
(3) Respons dan waktu untuk berreaksi lambat khususnya terhadap stress
(4) Saraf panca indra mengecil
(5) Penglihatan berkurang
(6) Kurang sensitive terhadap dingin
(7) Deposit memori
c) Sistem pendengaran
(1) Gangguan pendengaran
(2) Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan atosklerosis
(3) Terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya
keratin
(4) Fungsi pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan/ stress
(5) Tinnitus (bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau
rendah, bisa terus menerus atau intermiten)
(6) Vertigo (perasaan tidak stabil yang terasa seperti bergoyang atau berputar)
d) Sistem penglihatan
(1) Sfingter pupil timbul rosis dan respon terhadap sinar menghilang
(2) Kornea lebih terbentuk sferis (bola)
(3) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa), menjadi katarak, jelas
menyebabkan gangguan penglihatan
(4) Meningkatnya ombang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam gelap.
(5) Penurunan/ hilangnya daya akomodi, dengan manifestasi presbyopia,
seorang sulit melihat dekat yang dipengaruhi berkurangnya elastisitas
lensa.
(6) Lapang pandang menurun
(7) Daya membedakan warna menurun (terutama warna biru atau hijau pada
skala)
e) Sistem kardiovaskular
(1) Katup jantung menebal dan menjadi kaku
(2) Elastisitas dinding aorta menurun
(3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun
(4) Curah jantung menurun (isi semenit jantung menurun)
(5) Kekurangan elastisitas pembuluh darah, efektifitas pembuluh darah perifer
untuk obigenasi berkurang.
(6) Kinerja jantung lebih rentang terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan.
(7) Tekanan darah meninggi akibat resistensi pembuluh darah perifer
meningkat.
f) Sistem pengaturan suhu tubuh
Kemundurang terjadi berbagai faktor yang mempengaruhinya, yang sering
ditemui antara lain :
(1) Temperature tubuh menurun (hipotermia). Secara fisiologis 35
o
C ini
akibat metabolism yang menurun.
(2) Pada kondisi ini, lanjut usia akan merasa kedinginan dan dapat pula
menggigil, pusat dan gelisah
(3) Keterbatasan refleks menggigil dant idak dapat memproduksi yang banyak
sehingga terjadi penurunan aktivitas otot.
g) Sistem pernafasan
(1) Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi kehilangan kekuatan
dan menjadi kaku
(2) Aktifitas sisislia menurun
(3) Paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas
lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dengan kedalaman
bernafas menurun.
(4) Ukuran alveoli melebar (membesar cara progretif) dan jumlah berkurang
(5) Berkurangnya elastisitas bronkus
(6) Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg
(7) Karbon dioksida pada arteri tidak terganti pertukaran gas terganggu
(8) Refleks dan kemampuan untuk batuk berkurang
(9) Sensitifitas terhadap hipoksia dan hiperkarbia menurun
(10) Sering terjadi emkisema sinilis
(11) Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan otot pernafasan menurun
seiring pertambahan usia.
h) Sistem pencernaan
(1) Kehilangan gigi, penyebab utama periodontal disease yang bisa terjadi
setelah umur 30 tah8n, penyebab lain meliputi kesehatan dan gizi yang
buruk
(2) Indra pengecap menurun, adanya iritasi selaput lendir yang kronis, atrofi
indra pengecap (80%), hilangnya sensitifitas saraf pengecap di lidah
terutama rasa manis dan asin.
(3) Esopafus melebar
(4) Rasa lapar menurun, wkatu pengosongan lambung menurun
(5) Peristaltic lemah dan biasanya timbul konstipasi
(6) Fungsi absorbs melemah
(7) Hati semakin mengecil dan tempat penyimpanan menurun, aliran darah
berkurang.
i) Sistem Reproduksi
Wanita :
(1) Vagina mengalami kontraktor dan mengecil
(2) Ovari menciut, uterus mengalami atrofi
(3) Atrofi payudara
(4) Atrofi vulva
(5) Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi
berkurang, sifatnya menjadi alkali dan terjadi perubahan warna.
Pria :
(1) Testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun ada penurunan
secara berangsur-angsur
(2) Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun asal kondisi
kesehatannya baik, yaitu :
(a) Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia.
(b) Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan
kemampuan seksual
(c) Tidak perlu cemas karenan prosesnya alamiah.
j) Sistem Genitourinaria
(1) Ginjal : mengecilnya refron akibat atrofi, aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50% sehingga fungsi tubulus berkurang.
(2) Vesika urinaria : oto menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml
atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat
(3) Pembesaran prostat
(4) Atrofi vulva
k) Sistem endokrin
(1) Estrogen, progesterone dan testosterone mengalami penurunan
(2) Produksi hamper semua hormone menurun
(3) Berkurangnya produksi ACTH, TSH, FSH dan LH
(4) Aktifitas tiroid, BMR dan daya pertukaran zat menurun.
l) Sistem integument
(1) Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak
(2) Permukaan kulit cenderung kusam, kasar dan bersisik
(3) Timbul bercak pigmentasi
(4) Respon terhadap trauma menurun
(5) Rambut dalam hidung dan telinga menunn
(6) Pertumbuhan kuku lebih lambat
(7) Jumlah dan fungsi kelenjar keringan berkurang
(8) Berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan dan vaskularisasi.
m) Sistem mukuloskeletal
(1) Tulang kehilangan densitas (cairan) dan semakin rapuh
(2) Kekuatan dan stabilitas tulang menurun
(3) Kekakuan jaringan penghubung
(4) Persendian membesar dan menjadi kaku
(5) Tendon mengerut dan mengalami skelerosis
(6) Aliran darah ke otot berkurang sejalan dengan proses menua.