Anda di halaman 1dari 76

KATA PENGANTAR

i
Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah aksi terpadu untuk
menurunkan angka kejadian penyakit menular berbasis lingkungan diantaranya adalah diare, serta
meningkatkan perilaku higienitas dan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu kejadian
luar biasa (KLB) diare pada tahun 2006 di 16 provinsi dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar
2.52, merupakan salah satu penyumbang kejadian diare nasional yang mencapai 423 per seribu
penduduk pada semua umur. Salah satu sumber penyebab yang dimaksud adalah karena 47,50%
air yang dikonsumsi masyarakat saat itu masih mengandung Eschericia Coli (Studi Basic Human
Services/BHS : 2006). Penyebab lain karena 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar
ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka lainnya (Indonesian Study Sanitaton Sector
Development Program/ ISSDP).
Langkah antsipasi terus dilakukan pemerintah antara lain melalui berbagai pengelolaan
program yang fokus pada penyediaan air minum dan sanitasi. Pada tahun 2008 telah diluncurkan
peraturan perundangan dalam bentuk Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM),
sebagai wujud komitmen Pemerintah dalam mewujudkan peningkatan akses air minum dan
sanitasi dasar berkelanjutan untuk pengendalian penyakit berbasis lingkungan dan peningkatan
kemampuan masyarakat, melalui pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.
Sebagai program nasional, STBM akan terus berlangsung dan telah dilakukan implementasi di
244 kabupaten/kota serta 2.583 kecamatan, sehingga pada triwulan I tahun 2013 terdapat sejumlah
11.678 desa/kelurahan yang melaksanakan STBM. Kegiatan STBM ini diharapkan mempunyai andil
yang signifkan terhadap pencapaian target Air Minum dan Sanitasi dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 dan Renstra Kemenkes, serta target MDGs tujuan
7c yakni menurunkan separuh proporsi penduduk yang belum memiliki akses terhadap air minum
dan sanitasi dasar yang layak secara berkesinambungan pada tahun 2015.
Dalam rangka memastkan tercapainya tujuan dan target tersebut di atas, diperlukan
langkah-langkah strategis dalam pencapaiannya. Untuk itu disusunlah Road Map STBM periode
2013 2015 yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam pengukuran pencapaian kinerja serta
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan STBM.
Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak
yang telah berkontribusi dalam penyusunan Road Map ini. Semoga dapat dijadikan acuan bagi
seluruh pihak terkait dalam melakukan implementasi STBM.
Jakarta, Mei 2013
Direktur Jenderal,
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama
Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR GRAFIK iv
DAFTAR TABEL v
DAFTAR LAMPIRAN vi
DAFTAR SINGKATAN vii
I. PENDAHULUAN 1
II. ROADMAP PERCEPATAN STBM 2013-2015, APA DAN MENGAPA 7
2.1. Pengertan roadmap percepatan program STBM 7
2.2. Prinsip dasar penyusunan roadmap percepatan program STBM 8
III. DASAR PERTIMBANGAN PENYUSUNAN ROADMAP PERCEPATAN STBM 9
3.1. Target Pembangunan Sanitasi Jangka Menengah Nasional Tahun 20102015 10
3.2. Target MDGs 10
3.3. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010 2014 11
3.4. Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) 11
3.5. Kondisi eksistng program AMPL 11
IV. TINJAUAN STATUS PENCAPAIAN STBM 15
4.1. Peta Pelaku STBM 15
4.2. Pencapaian STBM 18
4.3. Pembelajaran dan potensi 21
4.4. Permasalahan utama 24

V. ROADMAP PERCEPATAN STBM 2013 - 2015 26
5.1. Target STBM 2013 2015 26
5.2. Analisa Gap Capaian dan Target STBM 2013 - 2015 27
5.3. Isu Strategis STBM 29
5.4. Tujuan Strategis STBM 30
5.5. Sasaran Strategis STBM 2013 - 2015 37
5.6. Strategi pelaksanaan STBM 2013-2015 38
5.7. Program dan Kegiatan Strategis STBM 2013 2015 39
VI. PRIORITASI PELAKSANAAN KEGIATAN STRATEGIS
ROADMAP PERCEPATAN STBM 2013 2015 41
6.1. Prioritasi pelaksanaan kegiatan strategis 41
6.2. Prioritas kegiatan strategis tahun pertama, tahun 2013 42
6.3. Prioritas kegiatan strategis tahun kedua, tahun 2014 45
6.4. Prioritas kegiatan strategis tahun ketga, tahun 2015 46
6.5. Pemantauan dan Evaluasi 46
VII. ESTIMASI KEBUTUHAN DAN IDENTIFIKASI SUMBER PENDANAAN
UNTUK PELAKSANAAN ROADMAP PERCEPATAN STBM 20132015 47
7.1. Identfkasi sumber pendanaan 47
7.2. Estmasi kebutuhan pendanaan 49
VIII. PENUTUP 53
DAFTAR ISI
iii ii
Halaman
Gambar 1 Kerangka Pikir STBM 3
Gambar 2 Komponen STBM 4
Gambar 3 Tangga Perubahan Perilaku Visi STBM 5
Gambar 4 Target MDGs 2015 Terkait Sanitasi 9
Gambar 5 Pendekatan Dalam Pengelolaan Air Limbah Permukiman 10
Gambar 6 Rangkuman Target Pembangunan Air dan Sanitasi 14
Gambar 7 Wilayah Kerja Pelaku STBM di Indonesia 17
Gambar 8 Persentase Penduduk yang Menggunakan Jamban di Indonesia 18
DAFTAR GAMBAR
iii ii
Halaman
Grafk 1 Akses Sanitasi Layak Berkelanjutan 12
Grafk 2 Akses Air Layak Berkelanjutan 12
Grafk 3 Kondisi Sarana Sanitasi Provinsi di Indonesia Tahun 2010 19
Grafk 4 Jumlah Desa/kelurahan dan Desa/kelurahan Intervensi STBM
Provinsi di Indonesia Tahun 2010 20
Grafk 5 Jumlah Desa/kelurahan dan Kecamatan Intervensi STBM
serta Puskesmas di Provinsi Tahun 2010 30
DAFTAR GRAFIK
v iv
Halaman
Tabel 1 Pelaku Pembangunan STBM di Indonesia 10
Tabel 2 Indikator Program Strategis Penyehatan Lingkungan 18
Tabel 3 Pembelajaran dan Usulan untuk Pusat 21
Tabel 4 Pembelajaran dan Usulan untuk Provinsi 22
Tabel 5 Pembelajaran dan Usulan untuk Kabupaten/Kota 23
Tabel 6 Masalah Strategis AMPL 24
Tabel 7 Permasalahan Internal dan Eksternal STBM di Indonesia 25
Tabel 8 Target Pembangunan Sanitasi Indonesia 27
Tabel 9 Target STBM 2013 2015 28
Tabel 10 Data Provinsi Prioritas Pertama 31
Tabel 11 Data Provinsi Prioritas Kedua 33
Tabel 12 Data Provinsi Prioritas Ketga 34
Tabel 13 Tabel isu dan sub isu strategis STBM 2013-2015 36
Tabel 14 Tujuan Strategis STBM 2013 2015 36
Tabel 15 Sasaran Strategis STBM 2013 2015 37
Tabel 16 Strategi Pelaksanaan Strategis STBM 2013 2015 38
Tabel 17 Program dan Kegiatan Strategis STBM 2013 2015 39
Tabel 18 Prioritas Kegiatan Strategis STBM 2013 42
Tabel 19 Prioritas Kegiatan Strategis STBM 2014 45
Tabel 20 Prioritas Kegiatan Strategis STBM 2015 46
Tabel 21 Identfkasi Sumber Pendanaan STBM 2013 2015 48
Tabel 22 Estmasi Kebutuhan Pendanaan STBM Tahun 2013 49
Tabel 23 Estmasi Kebutuhan Pendanaan STBM Tahun 2014 51

DAFTAR TABEL
v iv
Halaman
Lampiran 01 Gambaran Roadmap Percepatan STBM 2013-2015 di Provinsi 54
Lampiran 02 Gambaran Roadmap Percepatan STBM 2013-2015
di Kabupaten/Kota 59
Lampiran 03 Gambaran Umum Sinergi Program terkait STBM di
Tingkat Kabupaten/Kota 64
DAFTAR LAMPIRAN
vi
ADD Alokasi Dana Desa/kelurahan
AMPL Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
AKKOPSI Asosiasi Kota/Kabupaten Peduli Sanitasi
APBD Anggaran Pembangunan Belanja Daerah
APBDesa Anggaran Pembangunan Belanja Desa
APBN Anggaran Pembangunan Belanja Nasional
AusAid Australia Agency for Internatonal
Development
BAB Buang Air Besar
BABS Buang Air Besar Sembarangan
BOK Bantuan Operasional Kesehatan
BOS Bantuan Operasional Sekolah
BPMD Badan Pemberdayaan Masyarakat & Desa
BPS Badan Pusat Statstk
BHS Basic Human Services
CD Bethesda Community Development Bethesda
CFR Case Fatality Rate
CLTS Community-Led Total Sanitaton
CSR Corparate Social Responsibility
CTPS Cuci Tangan Pakai Sabun
CWSHP Community Water Sanitaton and Health
Project
Dekon Dekonsentrasi
DIPA Dafar Isian Program Anggaran
DKI Jaya Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya
Dirjen PP & PL Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit
& Penyehatan Lingkungan
Dit PL Direktorat Penyehatan Lingkungan
GDP Gross Domestc Product
ICWRMP Integrated Citarum Water Resources
Management Project
DAFTAR SINGKATAN
IMB Ijin Mendirikan Bangunan
IPAL Instalasi Pengolahan Air Limbah
IPLT Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu
ISSDP Indonesia Sanitaton Sector Development
Program
IUWASH Indonesia Urban Water Sanitaton and
Health
KIE Komunikasi Informasi & Edukasi
KLB Kejadian Luar Biasa
K/L Kementrian/Lembaga
KTP Kartu Tanda Penduduk
Litbangkes Penelitan Pengembangan Kesehatan
MAK Mata Anggaran Kegiatan
Manlak Pedoman Pelaksanaan
Mannis Pedoman Teknis
MCC Milenium Challenge Corporaton
MDGs Millenium Development Goals
Menkes Menteri Kesehatan
Kemkes Kementerian Kesehatan
MOU Memorandum Of Understanding
MPSS Memorandum Program Strategi Sanitasi
MSMHP Metropolitan Sanitaton Management and
Health Project
NGO Non Goverment Organizaton
NTB Nusa Tenggara Barat
NTT Nusa Tenggara Timur
OD Open Defecaton
ODF Open Defecaton Free
Ormas Organisasi Kemasyarakatan
PAMMRT Pengelolaan Air Minum dan Makanan
Sehat Rumah Tangga
vii
PAMSIMAS Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
Berbasis Masyarakat
Perbup Peraturan Bupat
Perda Peraturan Daerah
Perdes Peraturan Desa
PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
PKK Pendidikan Kesehatan Keluarga
PLCRT Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga
PLP Penyehatan Lingkungan & Permukiman
PMD Pemberdayaan Masyarakat & Desa
PPSP Percepatan Pembangunan Sanitasi
Permukiman
Pokja Kelompok Kerja
Pro Air Program Penyediaan Air
Prokasih Program Kali Bersih
Promkes Promosi Kesehatan
PSRT Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
PU Pekerjaan Umum
Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat
RPJMD Rencana Panjang Jangka Menengah
Daerah
RPJMN Rencana Panjang Jangka Menengah
Nasional
RKM Rencana Kerja Masyarakat
RKP Rencana Kerja Pembangunan
RPAM Rencana Pengamanan Air Minum
RSH Rumah Sederhana Sehat
3R Reduce, Reuse and Recycle
Sanimas Sanitasi Berbasis Masyarakat
SBS Stop Buang air besar Sembarangan
SE Surat Edaran
SK Surat Keputusan
SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah
SLBM Sanitasi Lingkungan Berbasis
Masyarakat
STBM Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
SPBM Sanitasi Perkotaan Berbasis
Masyarakat
Stop BABS Stop Buang Air Besar Sembarangan
Susenas Survei Sosial Ekonomi Nasional
SSK Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota
SMS Short Message Service
TOT Training Of Trainers
TKM Tim Kerja Masyarakat
TPA Tempat Pemerosesan Akhir
TPS Tempat Pembuangan Sementara
TSSM Total Sanitaton & Sanitaton
Marketng
UKS Usaha Kesehatan Sekolah
UNICEF United Naton Internatonal Childrens
Funds
USAid United State Agency for Internatonal
Development
USRI Urban Sanitaton and Rural
Infrastructure
UU Undang Undang
WASH Water Sanitaton & Hygiene
WES Unicef Water Environmental Sanitaton
United Naton Internatonal
Childrens Funds
WHO World Health Organizaton
WVI World Vision Indonesia
YMP-NTB Yayasan Masyarakat Peduli -
Nusa Tenggara Barat
DAFTAR SINGKATAN
viii

Bab Satu
PENDAHULUAN
World Health Organizaton (WHO)
meginformasikan bahwa kematan
yang disebabkan karena waterborne
disease mencapai 3.400.000 jiwa/
tahun. Masih menurut WHO, dari
semua kematan yang berakar pada
buruknya kualitas air dan sanitasi,
diare merupakan penyebab kematan
terbesar yaitu 1.400.000 jiwa/tahun.
Menurut Hardoy dan Saterhwaite
(1992), layanan air minum yang
kualitasnya buruk dan kurang
memadainya sistem pembuangan air
limbah dan sampah menimbulkan
dampak buruk pada lingkungan dan
menimbulkan endemik penyakit di
rumah tangga miskin. Dalam buku
lain yang berjudul The Poor Die
viii
3 2
Young, Hardoy, Cairncross, and Saterthwaite (1990) menyusun dafar penyakit yang paling prevalent. Terdapat
29 jenis penyakit di luar 48 jenis penyakit yang paling prevalent di seluruh dunia yang kejangkitannya dapat dicegah
dengan meningkatkan kualitas perumahan dan kondisi penghidupan, nutrisi yang lebih baik dan perawatan
kesehatan primer yang menyeluruh. Beberapa penyakit tersebut diantaranya: Tuberculosis, Measles, Pertusis,
Tetanus, Polio, Diptheria, Malaria, Schistosomiasis, Filariasis, Chagas disease, River Blindness, Leishmanasis,
Leprosy, Guinea Worm, Amoebiasis, Giardiasis, Typoid, Cholera, Ascariasis, Hookworm, Thichuriasis, Dengau,
Rabies, Yellow Fever, Iodine Defciency, Vitamin A Defciency, Pneumonia, Anaemia, Trachoma.
Sebagaimana negara-negara berkembang lainnya, Indonesia pada saat ini juga menghadapi masalah
di bidang sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat. Sejak diterapkan otonomi daerah pada Januari 2001,
bagaimanapun, masalah sanitasi bukan lagi menjadi urusan Pemerintah Pusat, tetapi menjadi urusan wajib bagi
Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai UU No. 32/2004 tentang Otonomi Daerah. Akan tetapi dalam kenyataannya
masih banyak pemerintah kabupaten/kota yang belum atau kurang mampu mengurus dan memecahkan masalah
di bidang sanitasi dan higiene. Seringkali bidang sanitasi dan higiene lebih merupakan isu pinggiran (marginal)
yang tdak memperoleh prioritas dalam pembangunan.
Pembangunan sanitasi kemudian menjelma menjadi masalah yang relatf kompleks. Kompleksitas
masalah yang dihadapi bukan hanya menyangkut banyaknya variabel yang berpengaruh terhadap kinerja dan
keberlanjutan pembangunan sanitasi dan higiene, tetapi juga adanya perbedaan masalah, bobot, serta cara
penanganan antara satu daerah dengan lainnya, sehingga sangat sulit dan tdak relevan untuk membuat sebuah
model yang sama untuk diterapkan di semua kabupaten/kota.
Secara keseluruhan penduduk Indonesia yang hidup dengan kondisi sanitasi buruk mencapai 72.500.000
jiwa. Mereka tersebar di perkotaan (18,2%) dan perdesaan (40%). Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa
di Indonesia ada 226 kota yang masih bermasalah dengan pengelolaan air limbah, 240 kota menghadapi masalah
pengelolaan sampah, serta 100 kota masih bermasalah dengan drainase. Sedangkan kota yang bermasalah
dengan ketganya sebanyak 52 Kota (Zainal Nampira dalam Kick of High Five Program).
Tidak ada informasi mengenai bagaimana permasalahan sanitasi di perdesaan. Dari berbagai kabupaten
diperoleh informasi bahwa di perdesaan masalah yang krusial adalah kebiasaan buang air besar sembarangan
atau open defecaton. Perilaku ini berakibat secara langsung/tak langsung pada terkontaminasinya sumber air
minum maupun terjadinya pencemaran ulang (rekontaminasi) pada sumber air dan makanan yang disantap di
rumah.
Beberapa kajian/riset terkait Sanitasi yang pernah dilakukan antara lain The Politcal Economy of Sanitaton
(2011), Lessons in Urban Sanitaton Development (2006-2011), Managing the Flow of Informaton to Improve
Rural Sanitaton in East Java (2010), dan Economic Impacts of Sanitaton in Indonesia (2008). Riset atau studi
tersebut dilakukan atas fasilitasi Water and Sanitaton Program East Asia Pacifc/World Bank. Intsari dari hasil
review riset di atas adalah sebagai berikut:
Otonomi daerah ternyata masih belum bisa diimbangi dengan tndakan daerah dalam mengalokasikan dana
untuk sanitasi (perlunya advokasi anggaran).
Bidang sanitasi belum dianggap sebagai bidang prioritas pembangunan (advokasi regulasi maupun
anggaran).
Kerugian di level nasional sebesar Rp.225.000/orang/tahun apabila sanitasi tdak ditangani dengan baik bisa
menjadi bahan advokasi.
Sistem monitoring berbasis masyarakat sangat layak untuk diterapkan untuk diterapkan, dan menghasilkan
informasi/data dengan kualitas memadai.
Sistm monitoring melalui SMS apabila berjalan dengan bagus akan sangat bermanfaat dan mampu menerobos
kemandegan informasi yang selama ini terjadi (akan lebih baik diikut dengan respon/feedback yang cepat
agar cepat tertanggulangi).
3 2
Kerugian ekonomi dari buruknya sanitasi merupakan dampak negatf lainnya yang nilainya sangat besar. Di
Indonesia, pada tahun 2006 perkiraan biaya yang dikeluarkan per tahun mencapai Rp 56 triliun. Biaya sebesar itu
setara dengan 2,3% GDP (Gross Domestc Product), dan dapat dibelanjakan untuk perawatan dan penyembuhan
penyakit yang kejangkitannya berakar pada air dan sanitasi buruk serta perilaku tdak higiene. Di perkotaan setap
orang terbebani biaya Rp 275.000/tahun, sedangkan di perdesaan setap orang per tahun terbebani Rp 224.000.
Dampak ekonomi dari pencemaran air akibat sanitasi yang buruk mencapai Rp 14,9 triliun (Research Report,
Economic Impact of Sanitaton In Indonesia : Water and Sanitaton Program-East Asia and Pasifc, World Bank :
2008). Biaya ekonomi sebesar itu, bila problem sanitasi teratasi dan perilaku hidup bersih dan sehat diwujudkan
dapat dialihkan untuk kegiatan produktf meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin yang memang paling
banyak menjadi korban waterborne disease.
Upaya peningkatan perilaku higiene dan peningkatan akses sanitasi terus dikembangkan. Belajar dari
berbagai pengalaman pelaksanaan CLTS dan program/proyek sanitasi lainnya, CLTS di Indonesia kemudian
mengalami berbagai evaluasi dan penyesuaian. CLTS yang lebih fokus pada perilaku Stop BABS dengan strategi
di peningkatan kebutuhan sanitasi kemudian dievaluasi dan dikembangkan dengan menambahkan 4 (empat)
perubahan perilaku, diarahkan pelaksanaannya dengan 6 (enam) strategi, dan dinamakan STBM.
Berdasarkan Kepmenkes No. 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional STBM, STBM adalah
pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode
pemicuan, sebagaimana terlihat dalam gambar di atas ini.
Disebut Sanitasi Total karena target yang ingin dicapai adalah ketka suatu komunitas sudah mencapai
kondisi : (1) Tidak buang air besar sembarangan (Stop BABS); (2) Mencuci tangan pakai sabun (CTPS); (3) Mengelola
air minum dan makanan yang aman (PAMM RT); (4) Mengelola sampah dengan benar dan (5) Mengelola limbah
cair rumah tangga dengan aman.
Gambar 1
Kerangka Pikir STBM
5 4
Pada bulan September 2008 itu pula, Menteri Kesehatan, Dr Sit Fadillah Supari, meluncurkan Strategi
Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan Pencanangan Program Nasional untuk pelaksanaan STBM
di 10.000 desa/kelurahan. Strategi ini kini menjadi strategi utama untuk sanitasi pedesa/kelurahanan secara
nasional dan berlaku untuk seluruh tngkatan pemerintah daerah serta donor dan berbagai mitra. Menurut
Kementerian Kesehatan, pada saat peluncuran STBM ini sudah mencapai 3.000 desa/kelurahan yang telah
melaksanakan STBM. Dalam sambutannya, Menteri menunjukkan bahwa penetapan 10.000 desa/kelurahan
STBM ini dilakukan berdasarkan pembelajaran dari 6 kabupaten uji coba CLTS dan menyatakan: Pembangunan
kesehatan yang efektf dapat dicapai jika masyarakat terlibat secara penuh dan diberdayakan sejak perencanaan
maupun pelaksanaan secara berkelanjutan.
Komponen sanitasi total
sebagaimana ditunjukkan gambar 1.2.,
adalah bagaimana ketga komponen dapat
terlembagakan, sehingga: (1) Stop BABS
adalah pilar utama untuk menghasilkan
peningkatan kebutuhan masyarakat untuk
memperbaiki sanitasi, sesuai dengan prinsip
pendekatan non subsidi untuk fasilitas
sanitasi rumah tangga: (2) Dengan dukungan
pengembangan kapasitas tentang STBM sejak
dari pusat sampai ke tngkat masyarakat,
diharapkan dapat tercipta lingkungan
yang kondusif untuk meningkatkan
permintaan perbaikan sanitasi yang layak
di masyarakat; dan (3) Dengan mendorong
pasar lokal untuk menawarkan lebih banyak
opsi kepada rumah tangga miskin untuk
mendapatkan akses terhadap sanitasi yang
layak menyebabkan terjadinya peningkatan
penyediaan sanitasi.
Bila ketga komponen ini terjadi, maka
masyarakat akan menginvestasikan sumber
daya mereka sendiri untuk memperbaiki
fasilitas sanitasi, dan akan dengan cepat
menuju dusun, desa/ kelurahan, kecamatan,
kabupaten/kota, dan provinsi yang bebas dari BAB sembarangan, serta mencapai pilar-pilar STBM lainnya.
Untuk mencapai suatu kondisi masyarakat Sanitasi Total, setap rumah tangga perlu melaksanakan
perilaku higiene yang merupakan kunci untuk menjaga kesehatan, produktvitas, dan kesejahteraan
masyarakat secara lebih luas.
Seiring dengan harus terjadinya internalisasi dan terlembagakannya ketga komponen di atas, maka
yang harus dilakukan adalah meningkatkan kapasitas daerah dan membangun konsensus bersama sehingga
kabupaten/kota dapat merencanakan bagaimana mereka bisa menjadi mencapai kondisi ODF/SBS. Tahap
berikutnya adalah melanjutkan untuk mencapai Sanitasi Total, sebagaimana gambar tangga perubahan
perilaku berikut ini:
Gambar 2
Komponen Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Sumber : Permenkes No 852 Tahun 2008
5 4
Tangga Perubahan Perilaku - Visi STBM-
mengubah
(pilar 2-5)
(5 pilar STBM)
Adanya proses pemicuan
Adanya Komite/ Natural
Leaders
Adanya Rencana Aksi
Masyarakat
Adanya Pemantauan terus
menerus
Tersedianya supply
100% masyarakat sudah berubah
perilakunya dengan status SBS
(terverifkasi)
Adanya rencana untuk mengubah perilaku
Higiene lainnya
Adanya aturan dari masyarakat untuk
menjaga status SBS
Adanya pemantauan dan verifkasi secara
berkala
Adanya upaya peningkatan
kualitas sanitasi
Terjadinya perubahan perilaku
higiene lainnya di masyarakat
(pilar 2-5)
Adanya pemantauan dan
evaluasi
Masyarakat
sudah
mempraktekkan
perilaku Higiene
sanitasi secara
permanen
(5 pilar STBM)
Dengan pemikiran tersebut, berikut ini adalah naskah Roadmap Percepatan Program STBM 2013-
2015, dengan sistematka penulisan sebagai berikut :
Bab 1
Pendahuluan, berisikan penulisan tentang kenapa STBM diperlukan dalam pembangunan
sanitasi berbasis masyarakat di Indonesia, serta sistematka penulisannya.
Bab 2
Roadmap Percepatan STBM, Apa dan Mengapa, berisikan tulisan pengertan dan prinsip
dasar penyusunan roadmap.
Bab 3
Dasar Pertmbangan Penyusunan Roadmap Percepatan STBM, berisikan tulisan target
pembangunan sanitasi nasional, target MDGs, Renstra Kementerian Kesehatan Tahun
20102014, program PPSP, serta kondisi eksistng program AMPL.
Bab 4
Tinjauan status pencapaian STBM, berisikan tulisan tentang pelaku STBM, pencapaian
STBM, pembelajaran dan potensi, serta permasalahan utama STBM.
Gambar 3
Tangga Perubahan Perilaku
Sumber : Materi Advokasi STBM - 2012
7 6
Bab 5
Roadmap Percepatan STBM 2013-2015, berisikan tulisan target, analisis gap capaian dan
target Roadmap Percepatan STBM 2013-2015, isu strategis, tujuan strategis, sasaran strategis,
kebijakan, program dan kegiatan strategis STBM 2013-2015.
Bab 6
Prioritasi Pelaksanaan Kegiatan Strategis Roadmap Percepatan STBM 2013 2015, berisikan
tulisan prioritasi pelaksanaan kegiatan strategis, prioritas kegiatan strategis tahun pertama
(tahun 2013), prioritas kegiatan strategis tahun kedua (tahun 2014), prioritas kegiatan
strategis tahun ketga (tahun 2015) serta serta pemantauan dan evaluasi.
Bab 7
Estmasi Kebutuhan dan Identfkasi Sumber Pendanaan untuk Pelaksanaan Roadmap
Percepatan STBM 2013-2015, berisikan tulisan tentang estmasi dan identfkasi sumber
pendanaan STBM 2013-2015
Bab 8
Penutup, berisikan tulisan penutup yang menjelaskan betapa pentngnya melakukan
percepatan STBM agar kita sampai pada target RPJMN 2014 dan MDGs 2015.
7 6
2.1. Pengertan Roadmap Percepatan STBM
2013-2015
Secara harfah, roadmap dapat diartkan sebagai
peta penentu, penunjuk arah atau peta jalan menuju
target sasaran. Roadmap merupakan sebuah dokumen
rencana kerja rinci yang mengintegrasikan seluruh
rencana dan pelaksanaan program serta kegiatan dalam
rentang waktu tertentu.
Dalam pelaksanaan program STBM, roadmap
dapat digunakan sebagai alat bantu untuk melangkah
dan mengukur pencapaian kinerja serta pemantauan
dan evaluasi terhadap target sasaran. Sebagaimana
lazimnya, informasi minimal yang dijelaskan dalam
roadmap adalah tahapan atau aktvitas-aktvitas yang
harus dilakukan sepert: gambaran kondisi yang terjadi
saat ini (data kondisi eksistng tahun tertentu), target
Bab Dua
Roadmap Percepatan
STBM, Apa dan Mengapa

9 8
capaian/hasil, kegiatan apa yang harus dilakukan, siapa pelaksana dan penanggungjawab, dukungan apa
yang dibutuhkan, serta anggaran yang diperlukan. STBM dalam pelaksanaannya, di awal banyak menyentuh
daerah perdesaan, sekarang sudah mulai banyak dicobakan pendekatannya di kawasan perkotaan.
Secara harfah, percepatan dapat diartkan sebagai akselerasi, atau usaha yang dilakukan secara
sadar untuk membuat sesuatu bergerak dengan lebih cepat. Percepatan yang dimaksud disini adalah upaya
yang harus dilakukan secara sadar untuk lebih mempercepat pelaksanaan STBM di daerah. Hal-hal yang
dapat menjadi pendorong antara lain : (1) Pemberdayaan masyarakat, terutama kepada masyarakat miskin
potensial sasaran STBM, serta (2) Peningkatan investasi berupa peningkatan pengeluaran pemerintah
daerah, khususnya dalam rangka terjadinya proses pemberdayaan masyarakat sehingga terjadi proses
perubahan perilaku di tngkat masyarakat.
Tahun 2013 2015, adalah tahun krits Indonesia dalam rangka mencapai target pembangunan
jangka menengah yang berakhir tahun 2014, serta dalam rangka mencapai target MDGs yang berakhir tahun
2015. Sehingga roadmap untuk percepatan STBM ini disusun sesuai dengan berakhirnya tahun pencapaian
kedua target tersebut diatas, yaitu tahun 2013 2015.
2.2. Prinsip dasar penyusunan roadmap percepatan program STBM
Roadmap percepatan program STBM disusun sesuai dengan prinsip dasar yakni :
Jelas (mudah dipahami dan dapat dilaksanakan); (a)
Ringkas dan terukur (meliput jenis program, kegiatan, target capaian, waktu pelaksanaan (b)
termasuk indikator output dan outcome);
Adjustable (c) (mengakomodasi umpan balik dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan);
Komitmen (merupakan kesepakatan bersama yang memberikan gambaran kesadaran akan (d)
tanggungjawab yang harus diselesaikan); dan
Berfungsi sebagai dokumen resmi. (e)
9 8
Penyusunan roadmap percepatan program
STBM didasari oleh upaya mendukung program
Pemerintah dalam menurunkan angka diare dan
penyakit yang berbasis lingkungan lainnya. Secara rinci
dokumen ini disusun atas pertmbangan beberapa
hal, yaitu:
Target pembangunan sanitasi jangka menengah (i)
nasional tahun 2010-2014;
Kesepakatan Internasional terkait air minum, (ii)
sanitasi dan higiene yang tercantum dalam
kesepakatan Millenium Development Goals
(MDGs);
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian (iii)
Kesehatan 2010-2014;
Program nasional Percepatan Pembangunan (iv)
Sanitasi Permukiman; dan
Kondisi eksistng program AMPL. (v)
Masing-masing target di atas, baik pada
tngkat nasional maupun internasional, berangkat
dari pemikiran yang sama, yaitu dampak dari
buruknya perilaku dan kondisi sanitasi yang
mengancam berbagai aspek kehidupan, mulai dari
kesehatan, pendidikan, sampai pada aspek ekonomi.
Masing-masing target pada dasarnya mencanangkan
perlunya perubahan signifkan dalam pendekatan
pembangunan sanitasi. Berikut ini paparan singkat
terkait dengan target dimaksud:
3.1. Target Pembangunan Sanitasi Jangka
Menengah Nasional Tahun 2010-2014
Dalam kurun waktu 2010-2014, pemerintah
Indonesia telah menegaskan komitmennya dalam
pembangunan sanitasi dengan mencanangkan
beberapa target pentng dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2010-2014 Bidang Permukiman dan Perumahan.
Beberapa target pentng terkait STBM adalah sebagai
berikut:
Bab TIGA
Dasar pertimbangan
penyusunan Roadmap
Percepatan STBM
2013 - 2015
11 10
Terwujudnya kondisi Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS) nasional pada akhir tahun 2014, baik di a)
perkotaan maupun di perdesaan melalui pemicuan perubahan perilaku BABS dengan target sesuai Renstra
2010-2014 di masing-masing Kementerian/Lembaga;
Tersedianya akses terhadap pengelolaan sampah bagi 80% rumah tangga pada tahun 2014; b)
Menurunnya luas genangan sebesar 22.500 Ha di 100 kawasan strategis perkotaan. c)
3.2 Target MDGs
Kesepakatan internasional MDGs secara umum ditujukan untuk mengurangi tngkat kemiskinan dan
meningkatkan tngkat kesejahteraan masyarakat di berbagai belahan dunia. Salah satu tujuan dari kesepakatan
MDGs adalah menjamin keberlanjutan lingkungan, dimana salah satu sasaran utamanya mengurangi separuh
dari proporsi penduduk yang belum memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi dasar (Tujuan 7 target 10).
Target tersebut sangat terkait dengan pelaksanaan 5 pilar STBM. Target akses dan sanitasi dasar untuk Indonesia,
tergambar dalam tulisan boks di bawah ini.
Gambar 4
Target MDGs Terkait Air dan Sanitasi
Sumber : Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan
Pembangunan Millenium di Indonesia Tahun 2010
3.3. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014
Di dalam Renstra Kementerian Kesehatan 20102014 ditetapkan 8 fokus prioritas pembangunan
kesehatan. Beberapa diantaranya adalah:
Pengendalian penyakit menular; (i)
Pengendalian penyakit tdak menular; dan (ii)
Penyehatan lingkungan. (iii)
Program pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan, salah satu indikator utama pencapaian
sasaran pada tahun 2014 adalah jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM) sebanyak 20.000 desa/kelurahan. Sedangkan indikator untuk kegiatan penyehatan lingkungan adalah:
Meningkatnya persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat dari 64% pada tahun 2010 menjadi (i)
75% pada tahun 2014;
Meningkatnya persentase penduduk stop BABS dari 71 persen pada tahun 2010 menjadi 100 persen pada (ii)
tahun 2014; dan
Meningkatnya persentase provinsi yang memfasilitasi penyelenggaraan STBM dari 18 persen pada tahun (iii)
2010 menjadi 100 persen pada tahun 2014.
11 10
3.4. Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP)
Pada dasarnya target dari kesepakatan MDGs sejalan dengan target rencana RPJMN 2010-2014 maupun
target Renstra Kementerian Kesehatan 20102014. Untuk dapat mencapai target tersebut, pentng untuk
dikembangkan strategi yang dapat menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan sanitasi di Indonesia
paling tdak selama 5 tahun ke depan.
Terkait dengan kebutuhan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kelompok Kerja Air Minum dan
Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) dari sektor terkait sanitasi telah mengembangkan program nasional
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP).
Program nasional PPSP ini bertujuan memfasilitasi kabupaten/kota dalam pengembangan strategi
sanitasi di seluruh kabupaten dan kota (SSK) maupun MPSS di Indonesia sampai pada tahun 2014. Diharapkan
melalui dokumen perencanaan tersebut, setap kabupaten/kota dapat mengetahui daerah area beresiko
sanitasi sesuai dengan tngkatannya.
Dalam pelaksanaannya program PPSP bersinergi dengan program nasional STBM untuk mengatasi
permasalahan sanitasi permukiman di Indonesia, baik di perdesaan maupun perkotaan. Untuk menentukan
lokasi pelaksanaan pendekatan Berbasis Masyarakat, STBM harus muncul dalam MPSS agar mendapatkan
pembiayaan, sesuai dengan skema pendekatan pengelolaan air limbah permukiman di bawah ini:
Sumber: STRATEGI PEMBANGUNAN SANITASI PERMUKIMAN, Handy B. Legowo, Subdit. Pengembangan Air
Limbah, Direktorat Pengembangan PLP, Kementrian Pekerjaan Umum, Oktober 2010.
Gambar 5
Pendekatan Dalam Pengelolaan Air Limbah Permukiman
13 12
3.5. Kondisi eksistng program AMPL
Dari hasil perhitungan BPS tahun 2010, diketahui bahwa data nasional pada tahun 2009 untuk cakupan
pelayanan air minum adalah sebagai berikut:
Perkotaan dan Perdesaan sebesar 47,71% (110,39 juta jiwa); (1)
Perkotaan sebesar 49,82% (62,48 juta jiwa); dan (2)
Perdesaan sebesar 45,72% (48,45 juta jiwa). (3)
Hal ini berart masih diperlukan sekitar 22,29% lagi untuk mencapai target 70% sebagaimana
tercantum pada RPJMN Tahun 2010-2014
1
. Sedangkan untuk mencapai target pada MDGs 2015
2
, masih
dibutuhkan 21,16% untuk perkotaan dan perdesaan, atau 25,47% untuk perkotaan dan sebesar 20,69% untuk
target perdesaan.
Untuk cakupan akses sanitasi, berdasarkan Susenas Triwulan I Tahun 2012, baru mencapai 56,24%.
Lihat grafk berikut ini:
1 Target RPJMN Tahun 2010-2014. Adalah sebesar 70% penduduk terlayani air minum (32%
perpipaan dan 38% non-perpipaan terlindungi).
2 Target pada MDGs 2015, adalah: (1) Perkotaan dan perdesaan sebesar 68,87% (170,54 juta jiwa); (2) Perkotaan
sebesar 75,29% (110,74 juta jiwa); dan Perdesaan: 65,81% (66,16 juta jiwa).
Grafk 1
Akses Sanitasi Layak Berkelanjutan
Sumber : BPS, Kor Susenas 2008 - 2013 (Triwulan I)
13 12
Sedangkan untuk data air minum layak berkelanjutan, dapat dilihat grafk berikut ini:
Grafk 2
Akses Air Layak Berkelanjutan
Sumber : BPS, Kor Susenas 2008 - 2013 (Triwulan I)
15 14
Dari dua tabel tadi, secara keseluruhan untuk akses Air Minum dan Sanitasi Layak, sesuai dengan target
dan indikator di atas, tergambarkan dalam skema di bawah ini:
Program STBM dengan lima pilar unggulannya, jelas akan memiliki andil yang cukup strategis dalam
upaya menuju target RPJMN AMPL 20102014 yang diterjemahkan ke dalam Kontrak Kinerja Menteri
Kesehatan Indikator Prioritas Nasional Rencana Kerja pembangunan 2011-2012, maupun target MDGs 2015.
Hal ini dikarenakan kondisi sanitasi buruk yang terjadi di Indonesia bukan hanya karena bersumber dari
penyediaan sarana air dan sanitasi saja melainkan terintegrasi dengan perilaku buruk higiene masyarakat
termasuk diantaranya kebiasaan tdak mencuci tangan pakai sabun.
Gambar 6
Rangkuman Target Air Minum Layak Berkelanjutan
15 14
Bab Empat
Tinjauan Status
Pencapaian STBM
4.1 Peta Pelaku STBM
Telah diketahui bahwa sampai saat ini
pengelolaan program STBM dilakukan oleh banyak
pihak, misalnya melalui model:
Kerjasama antara Pemerintah Pusat, (i)
Pemerintah Daerah dan Lembaga non
Pemerintah;
Kerjasama antara Pemerintah Daerah (ii)
dengan sejumlah mitra kerjanya;
Inisiatf dari Pemerintah Daerah sendiri (iii)
dan atau karena dorongan dan fasilitasi
lembaga non pemerintah.
17 16
Dengan model tersebut di atas, mitra (pelaku) kerja sekretariat STBM pada saat ini adalah :
Tabel 1
Pelaku STBM di Indonesia tahun 2012
No Mitra Kegiatan Lokasi
Dukungan proyek A.
1. Pamsimas Implementasi pilar 1 dan 2
115 kabupaten/kota di 15
provinsi di Indonesia
2. ICWRMP Implementasi pilar 1 dan 4 Jawa Barat
3. MCC Gizi dan sanitasi
Calon lokasi: Jabar, Jateng,
NTB, NTT, Sulbar, Gorontalo,
Maluku, Sulawesi Utara,
Banten, Kalimantan Barat,
Sumatera Selatan
4.
APBN Direktotorat
Penyehatan Lingkungan
Kementrian Kesehatan
Tugas Perbantuan dan Dekon Penyehatan Air
Minum dan Sanitasi Dasar
Seluruh provinsi di Indonesia
B. Dukungan mitra kerja
1 Pokja AMPL Nasional Dukungan data dan informasi Seluruh daerah
2
Water and Sanitaton
Program (WSP)
Implementasi melalui TSSM 1,5
Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, Bali dan NTB
3 USAID Memberi dukungan kepada beberapa proyek High Five, IUWASH
4 AusAID Memberi dukungan kepada beberapa proyek Waspola Facility
5 Waspola Facility
Memberi dukungan pengembangan kapasitas
dalam rangka pengembangan kebijakan
Sesuai permintaan
pemerintah pusat dan daerah
6 WHO Memberi dukungan kepada beberapa proyek
Uji coba lapangan RPAM
tngkat konsumen di Jawa
Tengah, Jawa Timur & NTT
7 WASH Plan Indonesia Implementasi Jawa Tengah, NTB dan NTT
8 WASH Unicef Implementasi
Aceh, NTT, Sulawesi Selatan,
Maluku,Papua
9 High Five Implementasi STBM Perkotaan
Medan, Surabaya dan
Makassar
10 Mercy Corps Implementasi STBM Perkotaan Jakarta
11 IUWASH Implementasi Jabar, Sumut, Jatm
12 Simavi
Mendukung kepada beberapa proyek Plan
Indonesia dan beberapa LSM lokal
NTT, Papua dan NTB
13 Wahana Visi Indonesia Implementasi
Aceh, Kalbar, Jakarta,
Surabaya, Sumut,
14 CD Bethesda Implementasi NTT
15 Yayasan Rumsram Implementasi NTT & Papua
16 Yayasan Dian Desa Implementasi NTT
17
Yayasan Pembangunan Citra
Insan Indonesia (YPCII)
Implementasi Jawa Barat & Papua
18 YMP - NTB Implementasi Lotm NTB
17 16
19 Bali Focus Tad Tad
20 Yayasan Pelita Indonesia Tad Tad
21 Care Indonesia Implementasi NTT
Secara nasional, saat ini pelaksanaan STBM sudah berkembang sebagaimana peta berikut ini :
Gambar 7
Wilayah Kerja Pelaku STBM di Indonesia Tahun 2012
No Mitra Kegiatan Lokasi
Sumber : Sekretariat STBM, 2012
Sumber : Sekretariat STBM, 2012
19 18
4.2 Pencapaian STBM
Sejak dicanangkan pada September 2008, STBM yang asalnya hanya berbicara tentang Stop Buang Air
Besar Sembarangan berkembang menjadi 5 pilar. Berikut ini adalah beberapa gambaran tentang apa yang sudah
dicapai :
Tabel 2
Indikator Program Prioritas Penyehatan Lingkungan
Sumber: Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan, Perkembangan STBM Nasional dan Refeksi
Program sebelumnya, disampaikan pada : Pelathan STBM Provinsi Lampung Bandar Lampung, 18-21 Juni
2012
Terlihat bahwa pada tahun 2010-2011, kita belum mampu memenuhi target akses masyarakat terhadap
air minum berkualitas dan jamban sehat, secara detail sesuai dengan hasil Susenas oleh BPS tahun 2010,
sebagaimana yang tercantum pada butr tulisan 3.5 kondisi eksistng program AMPL. Untuk air minum baru
sekitar 70% dari target, sedangkan untuk sanitasi sekitar 80% dari target.
Untuk memperjelas dapat dilihat pula peta persentase jumlah penduduk yang telah menggunakan
jamban sehat pada tahun 2010 berikut ini:
Gambar 8
Persentase Penduduk Yang Menggunakan Jamban di Indonesia
No
Program/ Kegiatan
Prioritas
Indikator
Tahun
2010
Tahun
2011
2012
(Triwulan I)
7.4
P e n y e h a t a n
Lingkungan
Persentase penduduk yang 1.
memiliki akses terhadap air
minum berkualitas
Target, 62
Capaian, 45,1
(70,2%)
Target, 62,5
Capaian, 44,2
(70,7%)
Target, 63
Capaian, 41,66
(66,13%)
Persentase kualitas air minum 2.
yang memenuhi syarat
Target, 85
Capaian, 86,46
(101,7%)
Target, 90
Capaian, 90,8
(100,9%)
Target, 95
Capaian, 90,8
(95,6%)
Persentase penduduk yang 3.
menggunakan jamban sehat
Target, 64
Capaian, 55,5
(86,7%)
Target, 67
Capaian, 55,5
(82,9%)
Target, 69
Capaian, 54,26
(78,68%)
Jumlah desa/kelurahan yang 4.
melaksanakan Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat STBM
Target, 2.500
Capaian, 2510
(100,4%)
Target, 5.500
Capaian, 6.235
(113,4%)
Target, 11.000
Capaian, 6.637
(60,33%)
Sumber : Direktorat Penyehatan Lingkungan 2012
Sumber : Direktorat Penyehatan Lingkungan 2012
19 18
Terlihat hanya 8 provinsi dengan persentase penduduk menggunakan jamban sehat di atas rata rata
nasional (55,5%). Kondisi ini sesuai dengan grafk tentang kondisi sarana sanitasi per-provinsi sepert berikut ini:
Grafk 3
Kondisi Sarana Sanitasi Provinsi di Indonesia Tahun 2010
Hanya provinsi DKI Jakarta yang dinyatakan tdak memiliki masyarakat berperilaku buang air besar
sembarangan, ini dengan asumsi bahwa masyarakat yang sarana sanitasinya unimproved memang kondisi sarananya
benar-benar layak/sehat. Jika tdak, ini artnya masih banyak upaya yang harus kita lakukan dalam membangun
perilaku higiene masyarakat.
Melalui STBM, selain Stop BABS, diharapkan perilaku higiene masyarakat meningkat dengan kebiasaan
CTPS, mengkonsumsi air dan makanan sehat, mengelola sampah dengan benar serta limbah cair secara aman.
Untuk itu mendokumentasikan berbagai pembelajaran yang sudah terjadi di Indonesia dengan pengelolaan
pengetahuan menjadi sangat pentng dalam rangka Percepatan Pencapaian STBM, sebagai upaya strategis untuk
pencapaian target RPJMN 2014 maupun MDGs 2015.
Melihat grafk di atas maka diperlukan strategi:
Mempertahankan kelompok masyarakat yang sudah Stop BABS dan menggunakan jamban sehat (1)
pribadi/komunal agar tdak kembali ke perilaku OD;
Mendampingi masyarakat yang sudah Stop BABS dengan mengakses jamban tetangga untuk segera (2)
memiliki jamban dan mempertahankan perilakunya agar tdak kembali ke OD;
Meningkatkan kualitas jamban masyarakat dan mempertahankan perilakunya agar tdak kembali OD; (3)
serta
Melakukan pemicuan bagi masyarakat yang masih OD untuk segera mengubah perilaku (Stop BABS), (4)
menggunakan jamban serta mempertahankan perilakunya agar tdak kembali OD.
Sumber : Riskesdas Tahun 2010
21 20
Kondisi eksistng perkembangan program STBM pada empat tahun terakhir ini, sosialisasi dan
pelaksanaan Program STBM terus dilakukan dan hasilnya pun sudah menunjukkan angka yang signifkan.
Sampai akhir tahun 2012 sudah sebanyak 241 kabupaten/kota dan 2.519 kecamatan telah mensosialisasikan
dan menerapkan program STBM sehingga diperoleh 11.165 desa/kelurahan intervensi program STBM. Untuk
260 kabupaten/kota lainnya masih dalam proses upaya sosialisasi.
Apabila kita melihat jumlah desa/kelurahan di Indonesia yang sebanyak 76.655 desa/kelurahan
menurut Kodepos Indonesia Tahun 2013 maka angka tersebut baru mencapai 14,56%. Sedangkan menurut
Menteri Dalam Negeri pada tahun 2013 jumlahnya desa/kelurahan adalah 77.465 (Kompas 7 Februari 2013),
sehingga capaiannya sekitar 14,41 %.
Grafk 4
Jumlah Desa/kelurahan dan Desa/kelurahan Intervensi STBM Provinsi di Indonesia Tahun 2013
Sumber: Data Olahan Desa/kelurahan STBM di Indonesia tahun 2012
dan Jumlah Desa/Kelurahan menurut Kodepos Indonesia Tahun 2013

Terlihat ada 3 provinsi dengan jumlah desa/kelurahan banyak, sekitar 6.000di atas 8.000 desa/kelurahan
termasuk jumlah penduduknya tnggi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera Utara.
Tiga provinsi ini yang harus menjadi perhatan utama. Tiga provinsi lainnya yang jumlah desa/kelurahannya
3.0006.000 tetapi penduduknya menengah adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Nanggro Aceh
Darussalam. Sedangkan Papua jumlah desa/kelurahannya di atas 3.000, tetapi lokasinya menyebar dan
jumlah penduduknya rendah.
21 20
4.3 Pembelajaran dan potensi
Dari Lokakarya Menemukan Strategi Perluasan Pelaksanaan Program STBM di Indonesia, di Bogor
pada tanggal 711 Agustus 2012 diperoleh beberapa pembelajaran yang bila dirangkum sesuai dengan
komponen program STBM, dapat dilihat sebagai berikut:
4.3.1 Pembelajaran dan usulan untuk pemerintah pusat
Tabel 3
Pembelajaran dan Usulan untuk Pemerintah Pusat
Peningkatan
kebutuhan sanitasi
Peningkatan penyediaan
sanitasi
Peningkatan lingkungan yang kondusif
Advokasi :
Materi 1.
promosi untuk KIE
dan pelathan
Advokasi 2.
peningkatan demand
untuk pengambil
keputusan
Kelembagaan :
Petunjuk 3.
Teknis dan Panduan
peningkatan demand
TOT fasilitator 4.
provinsi
Pemetaan 5.
kinerja STBM daerah
Penganggaran :
Anggaran 6.
untuk peningkatan
demand
Implementasi :
Titk krits 7.
setelah ODF selama
4 bulan, apakah
dia akan kembali
ke kondisi awal,
oleh karena itu,
kenyamanan perlu
diperhatkan,
diperlukan
pemahaman tangga
sanitasi, dan disinilah
peran Pemda untuk
mencapai jamban
yang sehat dan
nyaman
Monitoring & evaluasi
:
Pemantauan hasil 8.
pemicuan dan
pendampingan
masyarakat
Kelembagaan :
Kerja sama dengan 1.
program Penyediaan
sarana sanitasi umum :
IPAL komunal, pengelolaan
sampah, instalasi air
minum dan sanitasi
sekolah
Pengembangan Asosiasi 2.
Pengusaha Sanitasi
Pengembangan jejaring 3.
supply
Peningkatan sumber 4.
daya : Pelathan tukang
& pengusaha sanitasi,
pendampingan, coaching,
konseling
Buku Panduan Pemasaran 5.
Sanitasi
Implementasi :
Peningkatan opsi teknologi 6.
sanitasi : jamban murah
terjangkau, jamban
kering (ecosan), jamban
tepat guna, bekerja sama
dengan Litbang, akademisi
maupun NGO
Pengembangan potensi 7.
pasar : website, toma,
media cetak dan audio
video
Informasi kebutuhan 8.
pengusaha sanitasi masing
masing daerah
Pendanaan :
Alokasi dana pusat fokus 9.
kepada pengembangan
kapasitas. Contoh
Dekon Cipta Karya untuk
Pelathan Tukang &
Pengusaha Sanitasi
Kerja sama dengan mitra 10.
: CSR, Koperasi, BPR
untuk permodalan bagi
pengusaha sanitasi
Advokasi :
Re-sosialisasi STBM ke seluruh level secara efektf 1.
Advokasi kepada sesama program untuk menyelesaikan masalah subsidi 2.
dan non subsidi; oleh karena itu perlu bukt bahwa STBM itu efektf
Pengarusutamaan STBM lewat media nasional, baik media cetak, maupun 3.
elektronik.
Penggunaaan media Televisi untuk promosi interaktf, dengan 4.
menggunakan icon, untuk itu diperlukan konsolidasi anggaran advokasi
dan promosi nasional untuk semua media, sebagaimana yang dilakukan
BKKBN
Karena menyentuh langsung Rumah Tangga, perlu diadakan kompetsi 5.
antar kepala daerah karena dalam Pemilukada vote dilakukan secara
individual
Revisi indikator Standard Pelayanan Minimum dengan memasukkan STBM 6.
sebagai salah satu indikator
Diperlukan kesadaran tentang sanitasi, untuk memunculkan investasi. 7.
Karena terbangun kesadaran, maka ada prioritas, perhatan pada
efektftas, baru kemudian terjadi alokasi anggaran
Kelembagaan :
Penyusunan Peraturan Pemerintah (PP) spesifk tentang STBM 8.
Perlu sinergi dengan Promosi Kesehatan 9.
Memanfaatkan AKKOPSI dengan anggota 118 bupat/walikota (ke depan 10.
akan berjumlah 226) yang sedang berupaya agar alokasi anggaran sanitasi
meningkat sekitar 2%
STBM diusahakan menjadi indikator dari program-program nasional lainya 11.
sepert; Adipura, Kota/Kabupaten Sehat, Kota/Kabupaten Layak Anak,
Desa/kelurahan Siaga dll
Surat Edaran Menteri Kesehatan/ Dirjen P2PL untuk penggunaan dana 12.
BOK dengan target ODF 1 desa/kelurahan/1 puskesmas/ tahun. Dengan
perhitungan bahwa jumlah Puskesmas di Indonesia adalah 8.931, berart
dalam setahun minimum capaian ODF adalah 8.931 desa/kelurahan.
Dengan demikian akan tercapai target tdak saja Desa/kelurahan STBM
tetapi desa/kelurahan ODF 20,000 desa/kelurahan di Indonesia
Menyediakan sistem yang efektf untuk pelaksanaan, monitoring dan 13.
evaluasi pasar sanitasi, serta penyediaan trainer untuk membantu Provinsi
yang sudah siap mengadopsi pasar sanitasi
Perencanaan :
Penyusunan 14. Roadmap STBM Nasional 2013-2015
Penganggaran :
STBM harus mendapatkan pos yang jelas dalam PPSP, termasuk sanitasi 15.
sekolah, serta memanfaatkan dana pendidikan 20%
Pengaturan dan penyusunan sistem yang efektf terhadap keikutsertaan 16.
sektor swasta dalam membantu modal awal kepada pengusaha sanitasi
Monitoring & Evaluasi :
Penyusunan sistem dan teknis pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi yang 17.
efektf
23 22
4.3.2 Pembelajaran dan usulan untuk pemerintah provinsi
Tabel 4
Pembelajaran dan Usulan untuk Pemerintah Provinsi Tahun 2013-2015
Peningkatan
kebutuhan
sanitasi
Peningkatan penyediaan sanitasi Peningkatan lingkungan yang kondusif
Advokasi :
Advokasi 1.
kepada DPRD,
kabupaten/
kota, swasta
Melakukan 2.
kompetsi
sebagai bagian
dari pemicuan
Anggaran :
Anggaran 3.
untuk
peningkatan
demand
Kelembagaan :
ToT fasilitator 4.
kabupaten
Penggandaan 5.
materi KIE
dan pelathan
untuk
peningkatan
demand
Pedoman 6.
sesuai kearifan
lokal
Memanfaatkan 7.
mahasiswa
yang KKN
dengan
kegiatan
pemicuan
Implementasi :
Expose 8. jamban
yang sudah
dibangun oleh
wirausaha
sanitasi untuk
kepentngan
promosi
peningkatan
demand
Mendramatsir 9.
deklarasi
ODF akan
memicu desa/
kelurahan atau
kecamatan
lainnya
Implementasi :
Riset pasar sanitasi 1.
Peningkatan opsi teknologi 2.
sanitasi : jamban murah
terjangkau, jamban kering
(ecosan), jamban tepat guna,
bekerja sama dengan Litbang,
akademisi maupun NGO,
termasuk penyebarluasan
pilihan opsi sanitasi model
jamban yang murah
Pengembangan potensi pasar : 3.
website, toma, media cetak dan
audio video
Informasi kebutuhan pengusaha 4.
sanitasi masing-masing daerah
Pengembangan wirausaha 5.
sanitasi akan membuat litle
winner, usaha-usaha kecil
tetapi banyak dan hasilnya
meyakinkan. Misal di Jawa
Timur dari sekitar 20 wirausaha
sanitasi ada tambahan sekitar
40-50 jamban baru per hari
Informasi penjualan bahan 6.
bangunan dengan tetap
memperhatkan kearifan lokal
Kelembagaan :
Kerja sama dengan mitra 7.
: CSR, Koperasi, BPR:
Permodalan bagi pengusaha
sanitas
Kerjasama program : 8.
penyediaan sarana sanitasi
umum : IPAL komunal,
pengelolaan sampah, instalasi
air minum dan sanitasi
sekolah
Pengembangan Asosiasi 9.
Pengusaha Sanitasi
Pengembangan jejaring 10. supply
Sinergi dan integrasi dengan 11.
Dinas Koperasi serta
pemangku kepentngan
lainnya untuk pengembangan
wirausaha sanitasi
Peningkatan sumber daya 12.
Pelathan tukang & pengusaha 13.
sanitasi
Pendampingan, 14. coaching,
konseling
Buku Panduan Pemasaran 15.
Sanitasi
Advokasi :
Re-sosialisasi STBM ke kabupaten secara efektf 1.
Deep advocacy 2. memberikan dukungan kepada Bupat/Walikota sangat pentng,
sesuai PP 38, sanitasi menjadi tanggung jawab daerah
Pengarusutamaan STBM melalui media di provinsi, baik media cetak maupun 3.
media elektronik, termasuk memanfaatkan semua event yang memungkinkan
untuk promosi STBM
Kompetsi antar kabupaten tentang STBM sepert 4. event Otonomi Award dengan
Jawa Pos Group di Jawa Timur, termasuk kompetsi antar Kecamatan : Camat
Award
Reward 5. untuk daerah ODF sepert contoh yang dilakukan NTB
Terus memberikan pendampingan, motvasi, advokasi, fasilitasi terhadap 6.
Kabupaten/kota
Kelembagaan :
Penyusunan Pergub AMPL dan atau PERDA AMPL sebagai payung hukum, 7.
dimana secara spesifk STBM disebutkan sebagai pendekatan dari perubahan
perilaku dengan nilai-nilai non subsidi, partsipatori, dll
Kolaborasi dengan PKK: STBM dimasukkan indikator lomba lingkungan sehat, 8.
memanfaatkan jejaring PKK
Bekerja sama dengan akademisi: memasukkan kurikulum tentang STBM, 9.
pelathan teknis, topik karya tulis/skripsi
Sinergi dan mendapatkan dukungan lintas sektor melalui Pokja Sanitasi Provinsi 10.
& Pokja AMPL di Kabupaten/Kota
Kesepakatan lintas sektor pengelolaan sanitasi, untuk STBM (Sanitasi 11.
Perdesaan) di bawah koordinasi Dinas Kesehatan sedangkan Sanitasi Perkotaan
(PPSP) dikoordinasikan di bawah Dinas PU
Sinergi dengan SLBM untuk opsi jamban dengan lahan terbatas 12.
Sinkronisasi dengan Desa/kelurahan Siaga: STBM sebagai bagian dari Desa/ 13.
kelurahan Siaga, Desa/kelurahan Siaga dimulai dari pemanfaatan potensi Desa/
kelurahan menjadi Desa/kelurahan Sehat menuju Kota Sehat
Program Kota Sehat sebagai 14. entry point dari wilayah ODF,
Melath mahasiswa tentang CLTS untuk bahan praktk KKN 15.
Sinergi dengan UKS: pemicuan sekolah masuk sebagai bagian kegiatan UKS 16.
Promkes untuk sosialisasi, PHBS, CTPS, dlsb 17.
Memanfaatkan Infolinbangkes terkait 18. website untuk expose data STBM
Melaksanakan 19. stakeholder learning review untuk mendapatkan best practce
Di tngkat Provinsi sebaiknya memiliki Tim Trainer CLTS 20.
Perencanaan :
Menyusun Perencanaan dengan target untuk 3 tahun sampai tahun 2015 21.
Tertuang dalam RPJMD & Renstra SKPD terkait tngkat Provinsi, sehingga 22.
mendapatkan dukungan kebijakan, akan memposisikan Sanitasi (STBM) sebagai
salah satu program prioritas.
Penganggaran :
Dukungan anggaran dari APBD Provinsi Jatm untuk: (a) pelathan fasilitator 23.
kabupaten/kota, (b) pengenalan pasar sanitasi kepada kabupaten/kota, (c)
diteruskan atas inisiatf kabupaten/kota, (d) upaya pengikutsertaan pihak
akademi/universitas dalam membantu capaian STBM, misal dalam ikut melath
mahasiswa tentang proses pemicuan sebelum KKN (masuk dalam kurikulum
pelathan KKN), (e) peningkatan kapasitas staf dalam upaya Monitoring dan
Evaluasi
Anggaran kegiatan STBM provinsi diupayakan mempunyai nomor rekening 24.
tersendiri atau punya MAK, sebagaimana pengalaman Jawa Timur
Penyediaan dana Lintas Sektor: Pemanfaatan Koperasi Wanita dari Dinas 25.
Koperasi untuk modal kredit jamban, Pemanfaatan dana CSR untuk pengadaan
kloset, pelat pembuatan kloset, maupun pemicuan
Monitoring & evaluasi :
Monitoring dan evaluasi berkelanjutan 26.
23 22
4.3.3 Pembelajaran dan usulan untuk kabupaten/kota
Tabel 5
Pembelajaran dan Usulan untuk Kabupaten/Kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi Peningkatan penyediaan sanitasi Peningkatan lingkungan yang kondusif
Advokasi :
Kepemilikan jamban sehat 1.
menjadi bagian dari syarat nikah
dan naik haji
Beri Puskesmas dengan 2.
mainan yang menantang,
misal setap Puskesmas minimal
1 Desa/kelurahan ODF/tahun
dengan menggunakan BOK. STBM
dapat masuk ke menu Kesehatan
Lingkungan
Kelembagaan :
PHBS dan STBM menjadi 3.
kurikulum di sekolah
Memperbanyak fasilitator 4.
melalui Pelathan Fasilitator
Pemicuan
Perencanaan :
Memetakan wilayah sesuai 5.
dengan klasifkasi kinerja STBM per-
kecamatan atau puskesmas
Implementasi :
Semua pihak menyadari dan 6.
menemukan ttk masuk
pelaksanaan STBM, misalnya
sampah sebagai masalah utama, 3
R dikelola karena mempunyai nilai
ekonomi
Mendramatsir deklarasi 7. ODF akan
memicu desa/kelurahan/kecamatan
lainnya
Memanfaatkan gerakan masyarakat 8.
dan kearifan lokal, untuk
menjelaskan pentngnya PHBS
sepert Gemohing di Lembata
Perubahan perilaku dilakukan 9.
melalui upaya budaya malu,
meningkatkan swadaya, serta
bermitra dengan pelaku
pembangunan lainnya
Memanfaatkan kegiatan 10.
Kelompok Masyarakat, sepert
pengajian, kebaktan dll
Harus memperhatkan kondidi 11.
geografs
Monitoring & evaluasi :
Memelihara komitmen unik untuk 12.
mempertahankan ODF baik oleh
komunitas maupun pemerintah
Advokasi :
Kepemilikan jamban ehat 1.
menjadi prasyarat: KTP, nikah,
IMB, Jamkesmas, Jampersal,
Rumah Sehat
Mengembangkan media 2.
promosi, termasuk dari mulut ke
mulut
Kelembagaan :
Kerja sama dengan mitra: CSR, 3.
Koperasi, BPR untuk permodalan
bagi pengusaha sanitasi
Kerja sama program untuk 4.
Penyediaan sarana sanitasi
umum : IPAL komunal,
pengelolaan sampah, instalasi air
minum dan sanitasi sekolah
Regulasi dengan memasukkan 5.
komponen supply dalam strategi
STBM
Pengembangan Asosiasi 6.
Pengusaha Sanitasi
Pengembangan jejaring 7. supply
Peningkatan sumber daya : 8.
pelathan tukang & pengusaha
sanitasi, pendampingan,
coaching, konseling
Buku Panduan Pemasaran 9.
Sanitasi
Pelathan Kerajinan Sampah 10.
Pendanaan :
Arisan sebagai salah satu 11.
bentuk memunculkan budaya
malu untuk pengadaan jamban
Implementasi :
Expose 12. dan peningkatan opsi
teknologi sanitasi : jamban
murah terjangkau, jamban
kering (ecosan), jamban tepat
guna, bekerja sama dengan
Litbang, akademisi maupun
NGO
Pengembangan potensi pasar: 13.
website, toma, media cetak dan
audio video
Informasi kebutuhan 14.
pengusaha sanitasi masing-
masing daerah
Advokasi :
Adanya komitmen pimpinan daerah, disertai 1.
dengan kesediaan turun ke lapangan, sesuai PP
38, sanitasi menjadi tanggung jawab daerah
Re-sosialisai STBM ke kecamatan secara efektf 2.
Pengarusutamaan STBM di kabupaten, lewat 3.
media baik cetak maupun elektronik, termasuk
memanfaatkan semua event yang memungkinkan
untuk promosi STBM
Mengupayakan keluarnya edaran/ himbauan 4.
Walikota/ Bupat tentang penggunaan dana ADD
untuk membantu capaian ODF
Pengelolaan sampah diupayakan menjadi visi 5.
kota, sehingga Bank Sampah menjadi pengelola
sampah berbasis masyarakat, dan membantu
pemasaran hasil kerajinan sampah
Menyedian 6. reward untuk desa/kelurahan ODF
Kelembagaan :
Adanya kerjasama eksekutf dan legislatf sesuai 7.
dengan peran dan fungsinya masing masing
Pembuatan PERDA dan PERBUP/PERWALI AMPL 8.
yang menyebutkan spesifk STBM sebagai
pendekatan perubahan perilaku
Pentngnya peran Pokja AMPL sebagai wadah 9.
koordinasi pelaksanaan STBM, dimana Bappeda/
Bappeko berperan sebagai SKPD koordinatf;
sehingga terjadi sinergi antar SKPD dan pemangku
kepentngan lainnya
Diperlukan dukungan pemerintah untuk 10.
penyusunan sistem pasar sanitasi, pelathan,
termasuk permodalan kepada beberapa
pengusaha sanitasi terpilih
Memberikan peran kepada NGO dan pemangku 11.
kepentngan lainnya dalam pelaksanaan STBM
Refreshing fasilitator dan sanitarian 12.
Perencanaan :
Menyusun Dokumen Perencanaan STBM sebagai 13.
arahan pembangunan AMPL untuk memudahkan
pemangku kepentngan untuk berperan
Penganggaran :
Menyediakan dana untuk pelathan trainer 14.
fasilitator kecamatan dan desa/kelurahan
Monitoring & evaluasi :
Peningkatan kapasitas staf pemerintah dalam 15.
sistem dan pelaksanaan Monitoring & Evaluasi
Melakukan monitoring dan evaluas secara rutn 16.
dan berkelanjutan
25 24
Potensi yang tersedia saat ini masih sangat dimungkinkan untuk memenuhi target RPJMN 20102014
dan MDGs 2015. Pada tahun 2011 diketahui ada sejumlah program yang lebih memfokuskan pada AMPL
dengan skala besar karena didukung oleh lembaga Donor dan Instansi terkait
3
antara lain: 1) Percepatan
Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP); 2) WASH UNICEF; 3) Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM);
4) Metropolitan Sanitaton Management and Health Project (MSMHP); 5) Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS); 7) Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM); 8) ICWRMIP; maupun
program kerja sama dengan mitra sebagaimana dijabarkan di tabel pelaku STBM. Belum lagi dengan dukungan
program STBM melalui Direktorat Penyehatan Lingkungan Kemenkes, maupun insiatf daerah.
Perkembangan di daerah diindikasikan dengan masih banyaknya program AMPL dan STBM dengan
fokus dan skala yang lebih bervariasi, yang dilaksanakan oleh berbagai insttusi (Pemerintah provinsi maupun
kabupaten/kota maupun bekerja sama dengan lembaga non Pemerintah), terkait dengan kebutuhan dan rasa
kepedulian. Banyak informasi yang berkembang menyangkut keberhasilan pelaksanaan STBM secara mandiri
oleh beberapa pemerintah daerah, apalagi didukung dengan kondisi dimana pembangunan sanitasi tdak
seluruhnya dapat dilayani dengan pendekatan berbasis insttusi
4
.
4.4 Permasalahan strategis AMPL dan STBM
Sebagaimana ditegaskan di atas bahwa permasalahan sanitasi buruk erat kaitannya dengan perilaku
higiene yang tdak baik di 5 pilar STBM. Dampak utama dari sanitasi buruk juga sudah teridentfkasi antara
lain: berkembangnya penyakit-penyakit menular melalui air (water borne), polusi sumber air minum, bahkan
merembet kepada persoalan kematan, kemiskinan, kinerja dan produktvitas. Sehubungan dengan hal tersebut
maka upaya melaksanakan program STBM diharapkan mampu mengatasi berbagai masalah strategis.
Permasalahan strategis yang dihimpun Kelompok Kerja Nasional Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan (2010)
5
terkait air dan sanitasi adalah:
Tabel 6
Masalah Strategis AMPL di Indonesia Tahun 2010
NO MASALAH STRATEGIS
1 22,29% penduduk belum memiliki akses air minum
2 lebih dari 70 juta jiwa belum memiliki akses sanitasi dasar
3 90% air permukaan tdak layak
4 85% air tanah tercemar tnja
5 14,49% saluran drainase mengalir lambat
6 32,68% rumah tangga tdak memiliki saluran drainase
7
68% sudah ada pelayanan sanitasi dasar tetapi belum memperhatkan kualitas layanan sanitasi yang
aman bagi lingkungan dan kesehatan
8
Potensi kerugian ekonomi 56 Trilyun/tahun sebagai dampak dari 70 juta jiwa belum mendapatkan akses
pada sanitasi dasar
9 Angka kejadian diare berpotensi relatf tnggi
10 Kesadaran untuk ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masih rendah
11 Belum ada kerangka kerja pembangunan sanitasi berbasis masyarakat
12 Sudah 228 kabupaten/kota yang mengetahui dan menerapkan program STBM
Sumber: RPJMN 2010 2014 dan Perhitungan Bappenas 2010.
3 Lembaga Donor dan instansi terkait antara lain: Unicef, Plan, World Vision, High Five,
Simavi, Mercy Corps, Yayasan Dian Desa, CD Bethesda, Yayasan Rumsram dll.
4 Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat telah mendorong pemer-
intah daerah untuk memberikan prioritas lebih tinggi pada penyediaan air minum dan sanitasi, dengan memperjelas
peran dan tanggung jawab pemerintah daerah kaitannya dengan: (i) perencanaan, penganggaran, dan pembangunan
infrastruktur; (ii) pengelolaan sistem air minum dan sanitasi yang layak; dan (iii) perubahan dan pelibatan masyarakat
dalam konservasi sumber daya air dan lingkungan.
5 Sumber RPJMN 2010 - 2014
25 24
Asumsi lain terkait dengan permasalahan pengetahuan adalah masih banyak persepsi yang beraneka
ragam mengenai flosof dan strategi STBM. STBM acapkali diidentkkan dengan pendekatan Community-Led
Total sanitaton (CLTS). Secara konseptual STBM dan CLTS jelas berbeda, walaupun pada tataran pendekatan
metodologis banyak kesamaannya.
Beberapa permasalahan program STBM yang didapatkan dari berbagai sumber dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
Tabel 7
Permasalahan Internal dan Eksternal STBM di Indonesia
Permasalahan Internal Permasalahan Eksternal
Advokasi : 1.
Tidak semua pimpinan daerah
berkomitmen penuh terhadap STBM
Belum semua stakeholder mempunyai
persepsi yang sama tentang pentngnya
sanitasi, sehingga perlu advokasi khusus
Masih ada program yang bertentangan
dengan STBM misalnya ada subsidi,
menghambat laju STBM
Kelembagaan : 2.
Kurang berfungsinya kelembagaan Pokja
AMPL, karena ada rangkap tugas dan
tanggung jawab, kurang koordinasi, ego
sektoral, belum ada evaluasi pencapaian
target.
Belum semua daerah memiliki aspek
regulasi, Perda dan Perdes STBM.
Belum ada kerangka kerja pembangunan
sanitasi Berbasis Masyarakat.
Masih banyak kecamatan dan desa/
kelurahan yang belum membentuk tm
STBM serta tdak melibatkan lembaga
kemasyarakatan
Sumber daya manusia kabupaten/ kota,
kecamatan, dan desa/ kelurahan masih
kurang dalam pemahaman STBM, hal
ini menghambat pengarus-utamaan
perubahan perilaku
Perlu peningkatan kapasitas Pokja
AMPL provinsi dan kabupaten/kota, tm
fasilitator masih sedikit yang terlath
Sanitarian puskesmas masih kurang,
sanitarian yang ada disibukkan oleh
kegiatan non-sanitasi
Penganggaran : 3.
Minimnya anggaran sanitasi mulai
dari APBD hingga desa/kelurahan dan
kecamatan, atau tergantung dengan
bantuan CSR perusahan
Implementasi : 4.
Kuanttas (seluruh komunitas) dan Kualitas
(Penjaminan kualitas) pencapaian target
ODF/SBS masih belum seragam
Peningkatan lingkungan yang kondusif : 1.
Potensi kerugian ekonomi 56 trilyun/tahun sebagai dampak
lebih dari 70 juta jiwa belum mendapatkan akses pada
sanitasi dasar
Disparitas akses sanitasi masyarakat menyebabkan lebih
dari 70 juta jiwa belum punya akses sanitasi dasar; 90% air
permukaan tdak layak; 85% air tanah tercemar tnja; 14,49%
saluran drainase mengalir lambat; 32,68% rumah tangga
tanpa saluran drainase
Pelayanan sanitasi dasar sebesar 68% belum memperhatkan
kualitas yang aman bagi lingkungan dan kesehatan, angka
kejadian diare berpotensi masih tnggi
Penyediaan air bersih untuk jamban komunal membutuhkan
pengaturan khusus
Peningkatan kebutuhan sanitasi : 2.
Sumber air terkontaminasi sampah; selain itu akses air
bersih masih sulit/rendah
Daerah berpenduduk besar tantangan targetnya berat,
kondisi rumah padat menyebabkan sampah berserakan,
penduduk musiman tdak mungkin buat jamban pribadi
harus ada jamban umum
Masyarakat masih terbiasa dengan proyek, masih tergantung
dengan subsidi dan bantuan fsik perusahaan
Kesadaran untuk PHBS dan STBM masih rendah; masyarakat
masih menganggap BABS sebagai sesuatu yang tdak salah,
buang sampah di sungai dianggap sebagai warisan budaya
Partsipasi masyarakat masih rendah, sehingga perlu
penyegaran kembali
Pembangunan jamban bukan prioritas dalam pengeluaran
rumah tangga
Kondisi alam kurang mendukung, rawan genangan, air tanah
dangkal, daerah kepulauan, curah hujan tnggi menyebabkan
banjir, pembangunan sarana pada daerah tebing sungai
sulit, lahan untuk jamban komunal dan TPS/TPA sulit didapat
karena lahan terbatas
Peningkatan penyediaan sanitasi : 3.
Dalam supply sanitasi, produksi kloset masih terbatas, peran
swasta dan akses modal untuk bisnis sanitasi masih kurang
Banyak rumah di perkotaan yang mempunyai septctank
tdak pernah dikuras, padahal di sekitarnya banyak rumah
yang tdak disengaja airnya tercemari oleh buangan
septctank tsb.
27 26
Bab Lima
ROADMAP PERCEPATAN
STBM 2013 - 2015
5.1 Target STBM 2013 - 2015
STBM termasuk dalam Renstra Kementerian
Kesehatan 20102014 sebagai salah satu fokus
prioritas pembangunan kesehatan. Sesuai mandat
RPJMN 2010-2014 dan MDGs 2015, maka terdapat
beberapa indikator terukur yang harus dicapai, yaitu:
Persentase penduduk yang menggunakan (1)
jamban sehat menurut RPJMN 2014 dan
persentase rumah tangga yang memiliki akses
terhadap sanitasi layak berkelanjutan menurut
MDGs 2015 (persentase penduduk yang
menggunakan jamban sehat meningkat dari
64% pada tahun 2010 menjadi 75% pada tahun
2014);
Jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan (2)
STBM pada tahun 2014 sebanyak 20.000 desa/
kelurahan STBM;
Meningkatnya persentase penduduk stop BABS (3)
dari 71 persen pada tahun 2010 menjadi 100
persen pada tahun 2014; dan
Meningkatnya persentase provinsi yang (4)
memfasilitasi penyelenggaraan STBM dari 18%
pada tahun 2010 menjadi 100% pada tahun
2014.
27 26
Secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 8
Target Pembangunan Sanitasi di Indonesia Tahun 2010-2015
Indikator
Tahun
2010
Tahun
2011
2012
(Triwulan I)
Tahun
2013
Tahun
2014
Tahun
2015
Target RPJMN sampai 2014
Persentase penduduk
yang menggunakan
jamban sehat
Target 64%
Capaian
55,5%
(86,7%)
Target 67%
Capaian
55,5%
(82,9%)
Target, 69%
Capaian,
56,24
(78,68%)
Target
72%
Target
75%
---
Jumlah desa/kelurahan
yang melaksanakan
STBM
Target
2.500 desa/
kelurahan
Capaian
2.510 desa/
kelurahan
(100,4%)
Target
5.500 desa/
kelurahan
Capaian
6.235 desa/
kelurahan
(113,4%)
Target,
11.000 desa/
kelurahan
Capaian,
11.165 desa/
kelurahan
(100,015%)
Target
15.000
desa/
kelurahan
Target
20.000
desa/
kelurahan
---
Persentase penduduk
Stop BABS
71% 10 %
Persentase provinsi
yang memfasilitasi
penyelenggaraan
STBM
18% 100%
Target MDGs sampai 2015
Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak berkelanjutan 62,4%
5.2 Analisa Gap Capaian dan Target STBM 2013 - 2015
Berdasarkan tabel di atas, kita bisa melakukan analisis gap dengan target program Nasional STBM
untuk tahun 20132015. Disusun berdasarkan kemudahan untuk pencapaian targetnya, dari kelima indikator
di atas adalah:
Pertama
Target tercapainya seluruh provinsi yang memfasilitasi penyelenggaraan STBM pada akhir tahun 2014.
Jika dicermat Peta Daerah Kerja STBM Indonesia Tahun 2012 dan data Desa/kelurahan Intervensi STBM,
semua provinsi telah dapat tersentuh program STBM semuanya.
Kedua
Target tercapainya 20.000 desa/kelurahan STBM pada akhir tahun 2014. Sampai tahun 2012 telah
tercapai 11.165 desa/kelurahan, berart ada gap sebesar 8.835 desa/kelurahan. Setap tahun harus ada
pertambahan sebanyak 4.418 desa/kelurahan sampai tahun 2014. Sesuai dengan hasil pencapaian tahun
2012, diperkirakan dapat tercapai.
Ketga
Target persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak berkelanjutan sebesar
62,41% sesuai target MDGs 2015. Apabila capaian triwulan 1 tahun 2012 adalah sebesar 56,24%, berart ada
gap sebesar 6,17% sampai tahun 2015.
Setap tahun perlu ada kenaikan sebesar rata-rata 2,06%. Kenaikan cakupan dari tahun 2011 ke 2012
29 28
(dari 55,5% ke 56,24%) adalah sebesar 0,74%. Untuk ini diperlukan upaya hingga 3 (tga) kali lipat dari upaya
yang dilakukan pada tahun 2012, jika ingin mencapai target MDGs 2015. Berart juga memerlukan sumber
daya sebanyak hampir tga kali lipat dari yang digunakan pada tahun 2012.
Keempat
Target persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat sebesar 75% sesuai dengan target
RPJMN 2014. Apabila capaian triwulan 1 tahun 2012 sebesar 56,24% berart ada gap sebesar 18,66% sampai
tahun 2014.
Setap tahun perlu ada kenaikan sebesar rata-rata 9,75%. Artnya jika ingin mencapai target RPJMN
2014, memerlukan upaya sebanyak hampir 11-12 kali lipat dari upaya yang dilakukan pada tahun 2012.
Kelima
Target persentase penduduk Stop BABS secara keseluruhan atau 100% jumlah penduduk Indonesia
Stop BABS harus tercapai pada akhir tahun 2014. Dilihat dari grafk kondisi perilaku higiene sanitasi pada tahun
2010 (BPS), akses terhadap jamban sehat adalah sebanyak 51,1%; akses pada jamban komunal sebanyak
6,7%; akses terhadap jamban sehat semi permanen sebanyak 25 %; sementara yang masih BABS sebanyak
17,3 %. Ini artnya sampai akhir tahun 2014 paling tdak harus menghilangkan angka BABS 17,3% serta sasaran
tambahan dengan meningkatkan jamban semi permanen menjadi jamban sehat sebesar 25 %.
Keenam
Target mengembangkan desa/kelurahan ODF menjadi desa/kelurahan STBM sesuai dengan
penyebarluasan pembelajaran dari daerah yang sudah berhasil memiliki desa/kelurahan 5 pilar STBM yang
lengkap. Menurut Sekretariat STBM, dari kompilasi sementara sampai akhir tahun 2012 telah diperoleh sekitar
1.300 desa/kelurahan ODF.
Jika dirinci, dengan tetap mengingat RPJMN 2014 dan MDGs 2015, target STBM 20132015 adalah
sepert yang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 9
Target STBM di Indonesia Tahun 2013-2015
Indikator
Tahun
2010
Tahun
2011
2012
(Triwulan I)
Tahun
2013
Tahun
2014
Tahun
2015
Target RPJMN sampai 2014
Persentase
penduduk yang
menggunakan
jamban sehat
(RPJMN 2015)
Target, 64% Target, 67%
Target, 69%
Realisasi :
56,24%
Target
65, 57%
Target
75%
---
Persentase rumah
tangga yang
memiliki akses
terhadap sanitasi
layak (MDGs 2015)
berkelanjutan
Realisasi :
56,24%
Target
58,31%
Target
60,36%
Target
62,41%
Jumlah desa/
kelurahan yang
melaksanakan STBM
Target,
2.500 desa/
kelurahan
Target,
5.500 desa/
kelurahan
Target,
11.000 desa/
kelurahan
Realisasi :
11.165 desa/
kelurahan
Target
15.603 desa/
kelurahan
Target
20.000 desa/
kelurahan
---
Persentase
penduduk Stop
BABS:
71% 100%
29 28
Jamban Sehat
Realisasi:
51,1%
Mengikut Target RPMJN 2014
atau MDGs 2015
Jamban Komunal
Realisasi :
6,7%
Jamban Sehat Semi
Permanen
Realisasi :
25%
BABS
Realisasi :
17,3%
Persentase provinsi
yang memfasilitasi
penyelenggaraan
STBM
18% 100%
Pengembangan
desa/kelurahan
ODF menjadi desa/
kelurahan 5 pilar
STBM lengkap
Diasumsikan
telah
mencapai
1.300 desa/
kelurahan
Pada tataran pelaksanaan STBM di lapangan, saat ini sudah banyak pelaku STBM yang berhasil
mendeklarasikan desa/kelurahan STBM untuk semua pilarnya. Maka untuk desa/kelurahan yang sudah
mencapai kondisi ODF dapat dikembangkan pilar-pilar lainnya, sehingga kelak selebrasinya menjadi selebrasi
5 pilar STBM.
5.3 Isu strategis STBM 2013 - 2015
Untuk mencapai target tersebut di atas, dengan melihat analisis gap Capaian dan Target STBM 2013-
2015, terlihat bahwa :
Target 20.000 desa/kelurahan STBM pada akhir tahun 2014, diperkirakan dapat tercapai. 1.
Pencapaian target persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak 2.
berkelanjutan sebanyak 62,41% memerlukan upaya keras, karena perlu upaya tga kali lipat dari
upaya yang dilakukan pada tahun 2012.
Pencapaian target persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat sebanyak 75%, perlu 3.
upaya hampir 11-12 kali lipat dari upaya pada tahun 2012.
Pencapaian target persentase penduduk Stop BABS secara keseluruhan atau 100% jumlah 4.
penduduk Indonesia Stop BABS pada akhir tahun 2014, dapat dilihat butr tulisan (3) dan (4),
perlu upaya yang jauh lebih keras lagi.
Target mengembangkan desa/kelurahan ODF menjadi desa/kelurahan 5 pilar STBM dengan 5.
memanfaatkan potensi sementara telah diperoleh sekitar 1.300 desa/kelurahan ODF.
Berdasarkan analisis gap capaian dan target STBM 2013-2015, hasil pengolahan permasalahan
internal dan eksternal, serta pembelajaran yang telah diperoleh selama ini, terlihat ada kesulitan cukup besar
untuk mencapai butr (2), (3) dan (4) karena memerlukan upaya yang sangat besar. Untuk itu, pelaksanaan
berbagai kegiatan STBM sepert yang terjadi pada tahun 2012 tetap kita lanjutkan sebagaimana biasanya.
Dengan demikian, untuk Roadmap Percepatan STBM 2013-2015 dapat fokus pada dua isu strategis
besar, yaitu butr tulisan (1) dan (5) yang paling memungkinkan untuk diselesaikan dan dikembangkan
solusinya bersama-sama seluruh pemangku kepentngan STBM, yaitu:
31 30
A) Belum termanfaatkannya potensi desa/kelurahan intervensi STBM untuk dikembangkan menjadi
desa/kelurahan ODF.
Alasannya adalah:
Saat ini sudah ada 11.165 desa/kelurahan intervensi STBM.
Sudah ada desa/kelurahan lokasi dari program/proyek : WSLIC2, CWSHP, Pamsimas, WES Unicef, Pro
Air, ESP, IUWASH, Plan, WVI dll sebagai lokasi yang dapat diteruskan pendampingannya mencapai
ODF.
Dengan jumlah Puskesmas di Indonesia sebanyak 9.133 buah (Bank Data Puskesmas Kemenkes RI
Tahun 2012 ) dan memanfaatkan jumlah desa/kelurahan intervensi STBM dan desa/kelurahan lokasi-
lokasi proyek di atas, ditambah target setap tahun 1 desa/kelurahan per puskesmas mencapai
ODF, maka dalam jangka 2 tahun sampai RPJMN 2014 selesai diperkirakan akan ada: 2x9.133 desa/
kelurahan = 18.266 desa/kelurahan ODF.
Lebih lengkap dapat dilihat grafk perbandingan antara Desa/kelurahan STBM, Jumlah Desa/
kelurahan, Kecamatan STBM, Jumlah Kecamatan dan Jumlah Puskesmas berikut ini:
Melihat grafk di atas, dari segi jumlah Desa/kelurahan Intervensi STBM, Jumlah Desa/kelurahan dan
Jumlah Puskesmas, serta lokasi program saat ini dan program ke depan, dapat dilakukan pengkategorian
prioritasi provinsi lokasi program, yang diatur sebagai berikut:
Prioritas pertama, untuk 13 besar provinsi dengan jumlah Desa/kelurahan Intervensi STBM (1)
terbanyak,
Prioritas kedua, untuk 10 provinsi dengan Desa/kelurahan Intervensi STBM terbanyak kedua, (2)
Prioritas ketga, untuk 10 provinsi dengan Desa/kelurahan Intervensi STBM terbanyak ketga. (3)
Grafk 5
Jumlah Desa/kelurahan dan Kecamatan Intervensi STBM serta Puskesmas
di Provinsi Tahun 2010
Sumber : Data Olahan Sekretariat STBM 2012
31 30
Dengan prioritasi tersebut, pada 13 besar provinsi prioritas pertama terdapat data sebagai berikut :
Tabel 10
Data Provinsi Prioritas Pertama di Indonesia tahun 2013
No Provinsi
Desa/
kelurahan
STBM
Jumlah Desa/
kelurahan
Jumlah
Puskesmas
Jumlah
Penduduk
Lokasi program
saat ini
Program ke depan
1 Jawa Timur 2.838 8.513 947 37.476.757
TSSM, IUWASH,
H5, WVI
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian
2 Jawa Tengah 1.423 8.574 866 32.382.657
TSSM,
Pamsimas, Plan,
Waspola Facility
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
3
Nusa Tenggara
Timur
1.084 2.845 316 4.683.827
Pamsimas, Plan,
Unicef, Waspola
Facility
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
4
Nusa Tenggara
Barat
834 904 151 4.500.212
TSSM, Unicef,
Waspola Facility
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
5
Sumatera
Barat
639 1.858 249 4.846.909
Pamsimas,
Waspola Facility
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian
6
Sumatera
Selatan
617 3.081 301 7.450.394 Pamsimas,
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
7 Jawa Barat 504 5.883 1.040 43.053.732
TSSM,
Pamsimas,
IUWASH
Waspola Facility
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC,
CSR Aqua
8 Riau 363 1.584 209 5.538.367 Pamsimas,
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian
9
Kalimantan
Selatan
342 1.949 216 3.626.616
Pamsimas,
Waspola Facility
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, CSR
Adaro
10
Kalimantan
Tengah
330 1.453 175 2.212.089 CWSHP
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian
11
Sulawesi
Tengah
298 1.664 175 2.635.009
Pamsimas,
Waspola Facility
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian
12
Sulawesi
Selatan
268 2.936 418 8.034.776
Pamsimas,
Waspola Facility,
H5, Unicef,
IUWASH
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian
13
Kalimantan
Barat
206 1.726 234 4.395.983 CWSHP, WVI
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
Jumlah 9.746 42.970 5.297 160.837.328
Sumber dari : Hasil Sensus Penduduk 1971 2010, Kodepos Indonesia 2013,
Data Intervensi STBM di Indonesia, dan Data Pelaku STBM di Sekretariat STBM
33 32
Berdasarkan tabel di atas, dibandingkan dengan angka nasional, maka Desa/kelurahan Intervensi STBM
adalah 87,29%, jumlah desa/kelurahan 56,05%, jumlah Puskesmas 56,08%.
Dilihat dari jumlah program kerja/proyek mitra STBM yang sedang berjalan (TSSM, Pamsimas, Unicef,
WVI, Plan, H5, IUWASH, Waspola Facility) maupun rencana mendatang sepert MCC, maka ke 13 provinsi di
atas layak menjadi prioritas Roadmap STBM 2013-2015.
Dasar pertmbangan ke-13 provinsi tersebut menjadi lokasi prioritas Roadmap STBM 2013-2015, jika
dihubungkan dengan strategi pencapaian 1 desa/kelurahan ODF untuk setap Puskesmas per tahun, adalah:
Bila diasumsikan jumlah desa/kelurahan intervensi STBM ini dapat terus dikembangkan menjadi desa/
kelurahan ODF, maka akan menyumbangkan jumlah desa/kelurahan ODF sebesar 87,29% dari total jumlah
desa/kelurahan intervensi STBM tahun 2012.
Dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini sekitar 237.641.326 jiwa, dalam 13 provinsi prioritas pertama
ini ada 3 provinsi dengan penduduk padat yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Total jumlah
penduduk dari 13 provinsi tersebut berjumlah 160.837.328 jiwa, atau sekitar 67,68% dari jumlah penduduk
Indonesia. Artnya intervensi di 13 provinsi ini akan lebih banyak menyasar provinsi dengan penduduk
padat.
Dengan jumlah Puskesmas 5.297 unit, diperkirakan akan menyumbang 1 desa/kelurahan ODF setap
Puskesmas tap tahunnya, maka paling tdak akan menyumbang sebesar 5.122 desa/kelurahan ODF atau
57,99% dari jumlah Puskesmas yang ada, sebuah angka yang relatf realists.
Berdasarkan pengalaman, untuk mendapatkan 1 desa/kelurahan ODF untuk setap Puskesmas, memerlukan
4 desa/kelurahan intervensi awal STBM yang potensial. Maka jumlah target desa/kelurahan intervensi
akan mendapatkan angka: 4 desa/kelurahan x 5.297 Puskesmas atau sebanyak 21.188 desa/kelurahan.
Dengan demikian target desa/kelurahan intervensi STBM dengan sendirinya dapat tercapai.
Untuk pencapaian desa/kelurahan ODF, kalau setap tahun ditargetkan 1 desa/kelurahan ODF per
puskesmas, maka dari 13 provinsi tersebut akan mendapatkan sebanyak 5.297 desa/kelurahan ODF setap
tahun, sebuah upaya yang terencana untuk mengembangkan 21.188 desa/kelurahan ODF.
Jika 4 desa/kelurahan awal intervensi ini dipicu dan diajak berkompetsi bukan mustahil waktu untuk
pencapaian ODF keempat desa/kelurahan tersebut dapat dipersingkat, karena setap puskesmas akan
konsentrasi terlebih dahulu kepada 4 desa/kelurahan yang potensial ODF.
Melihat hasil Asesmen Pokja AMPL Provinsi oleh Pokja AMPL Pusat dan Waspola Facility, maka beberapa
provinsi tersebut di atas termasuk 10 besar Pokja AMPL yang mempunyai kinerja baik, yaitu: Sumatera
Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, NTB, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Ini merupakan sebuah
indikasi bahwa apabila terjadi koordinasi dan sinergi program melalui Pokja AMPL provinsi, diharapkan
proses pelaksanaan pencapaian target 1 desa/kelurahan ODF setap tahun oleh setap puskesmas akan
berjalan dengan lebih baik.
Perhitungan realists tadi, masih akan ditambah dengan sisa provinsi lainnya yang tentu akan terus bergerak
mengembangkan desa/kelurahan intervensi STBM, mengingat SE Menkes 1 desa/kelurahan ODF setap
puskesmas ditujukan ke semua provinsi, sedangkan TP dan Dekon Direktorat Penyehatan Lingkungan
Kemenkes tahun 2013 akan menyasar 31 provinsi di Indonesia.
Prioritas kedua, provinsi : (1) Jambi, (2) Sulawesi Barat, (3) Banten, (4) Bengkulu, (5) Gorontalo, (6) Sumatera
Utara, (7) Bangka Belitung, (8) Aceh, (9) Maluku Utara, dan (10) Lampung, diperoleh data sebagai berikut :
33 32
Tabel 11
Data Provinsi Prioritas Kedua
No Provinsi
Desa/
kelurahan
STBM
Jumlah Desa/
kelurahan
Jumlah
Puskesmas
Jumlah
Penduduk
Lokasi program
saat ini
Program ke depan
1. Jambi 159 1.322 173 3.092.265 Pamsimas
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
2.
Sulawesi
Barat
132 532 83 1.158.651 Pamsimas
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian,
3. Banten 116 1.505 221 10.632.166 Pamsimas
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, LSM
Harfa, MCC
4. Bengkulu 112 1.334 174 1.715.518 Pamsimas
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, PCI
5. Gorontalo 111 562 82 1.040.164 Pamsimas
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
6.
Sumatera
Utara
109 5.867 520 12.982.204 H5, IUWASH
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian,
7.
Bangka
Belitung
91 348 58 1.223.296 Waspola Facility
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian,
8. Aceh 87 6.424 318 4.494.410 Unicef
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian,
9. Maluku Utara 72 1.002 106 1.038.087 Pamsimas
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian,
10 Lampung 71 2.403 265 7.608.405 Ditjen PMD
TP : 15 ds/kab dan
Dekon: Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, SNV
Jumlah 1.060 21.299 2.000 41.892.901
Diolah dari : Hasil Sensus Penduduk 1971 2010, Kodepos Indonesia 2013, Data Intervensi STBM di Indonesia, dan
Data Pelaku STBM di Sekretariat STBM
Berdasarkan pengalaman, untuk mendapatkan 1 desa/kelurahan ODF untuk setap Puskesmas, memerlukan 4 desa/
kelurahan intervensi awal STBM yang potensial. Maka untuk provinsi prioritas kedua ini akan mendapatkan angka:
4 desa/kelurahan x 2.000 Puskesmas atau sebanyak 8.000 desa /kelurahan intervensi. Angka ini menambah jumlah
desa/kelurahan intervensi STBM, hingga mendekat target 2014.
35 34
Untuk pencapaian desa/kelurahan ODF, jika setap tahun ditargetkan 1 desa/kelurahan ODF per puskemas,
maka dari 10 provinsi tersebut akan didapatkan sebanyak 2.000 desa/kelurahan ODF setap tahun, serta sebuah
upaya yang terencana untuk mengembangkan 8.000 desa/kelurahan ODF selama 4 tahun ke depan.
Jika ke-4 desa/kelurahan awal intervensi ini dipicu dan diajak berkompetsi, waktu untuk pencapaian
ODF keempat desa/kelurahan tersebut dapat dipersingkat, karena setap puskesmas akan konsentrasi terlebih
dahulu kepada 4 desa/kelurahan potensial ODF. Artnya, dari prioritas kedua pun kita akan mendapatkan jumlah
desa/kelurahan ODF yang semakin mendekat kepada target 1 desa/kelurahan ODF setap tahun dari setap
puskesmas.
Prioritas ketga, provinsi: (1) ) Papua Barat, (2) Maluku, (3) Kalimantan Timur, (4) Papua, (5) Sulawesi
Tenggara, (6) Kepulauan Riau, (7) Yogyakarta, (8) Sulawesi Utara, (9) Bali, (10) DKI Jakarta, diperoleh data sebagai
berikut:
Tabel 12
Data Provinsi Prioritas Ketga
No Provinsi
Desa/
kelurahan
STBM
Jumlah
Desa/
kelurahan
Jumlah
Puskesmas
Jumlah
Penduduk
Lokasi program
saat ini
Program ke depan
1. Papua Barat 65 1.286 109 760.422
Pamsimas,
Unicef
TP : 15 ds/kab dan
Dekon : Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
2. Maluku 59 901 168 1.533.506 Unicef
TP : 15 ds/kab dan
Dekon : Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
3.
Kalimantan
Timur
56 1.422 215 3.553.143 - -
4. Papua 36 3.575 311 2.833.381 Unicef
TP : 15 ds/kab dan
Dekon : Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, PCI
5.
Sulawesi
Tenggara
36 1.942 241 2.232.586 -
TP : 15 ds/kab dan
Dekon : Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
6.
Kepulauan
Riau
35 340 66 1.679.163 -
TP : 15 ds/kab dan
Dekon : Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian,
7. Yogyakarta 34 438 120 3.476.757 -
TP : 15 ds/kab dan
Dekon : Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian,
8.
Sulawesi
Utara
26 1.464 170 2.270.596 -
TP : 15 ds/kab dan
Dekon : Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian, MCC
9. Bali 10 710 114 3.890.757 TSSM
TP : 15 ds/kab dan
Dekon : Monev &
Peningk Kapasitas
Sanitarian,
10 DKI Jakarta 2 268 340 9.607.787 Mercy Corps -
Jumlah 359 12.346 1.854 31.838.098
Sumber : Diolah dari Hasil Sensus Penduduk 1971 2010, Kodepos Indonesia 2013,
Data Intervensi STBM di Indonesia, dan Data Pelaku STBM di Sekretariat STBM
35 34
Berdasarkan pengalaman, untuk mendapatkan 1 desa/kelurahan ODF untuk setap Puskesmas,
memerlukan 4 desa/kelurahan intervensi STBM awal yang potensial. Maka untuk provinsi prioritas ketga
akan mendapatkan angka : 4 desa/kelurahan x 1.854 Puskesmas atau sebanyak 7.416 desa/kelurahan.
Angka ini akan menambah target desa/kelurahan intervensi STBM.
Untuk pencapaian desa/kelurahan ODF, jika setap tahun ditargetkan 1 desa/kelurahan ODF, maka
dari 10 provinsi tersebut akan didapatkan sebanyak 1.854 desa/kelurahan ODF setap tahun, dan sebuah
upaya yang terencana untuk mengembangkan 7.416 desa/kelurahan ODF selama 4 tahun ke depan.
Jika ke-4 desa/kelurahan intervensi ini dipicu dan diajak berkompetsi, waktu untuk pencapaian ODF
keempat desa/kelurahan tersebut dapat dipersingkat, karena setap puskesmas akan konsentrasi terlebih
dahulu kepada 4 desa/kelurahan potensial ODF. Artnya, dari prioritas ketga pun kita akan mendapatkan
desa/kelurahan ODF yang semakin mendekat lagi kepada target 1 desa/kelurahan ODF setap tahun dari
setap puskesmas.
Dengan demikian, ke 33 provinsi yang berada dalam wilayah kesatuan Indonesia, semua berkiprah dalam
upaya mencapai target target pembangunan sektor sanitasi, dengan memanfaatkan semua potensi yang
tersedia di provinsinya.
Belum termanfaatkannya potensi desa/kelurahan ODF untuk dikembangkan menjadi desa/kelurahan 1)
5 Pilar STBM
Alasannya adalah :
Diperkirakan telah ada sekitar 1.300 desa/kelurahan ODF.
STBM dengan target perubahan perilaku menuju Sanitasi Total, sesuai dengan kebijakannya terdiri dari
5 pilar.
Sudah ada beberapa daerah yang telah melalukan selebrasi desa/kelurahan 5 pilar STBM, sepert di
Sumedang provinsi Jawa Barat, Timor Tengah Utara provinsi Nusa Tenggara Timur, atau di Biak Numfor
provinsi Papua.
Terdapat beberapa proyek atau program, yang memiliki target 5 pilar STBM, sepert Simavi (dengan
mitra kerjanya Plan Indonesia di Nusa Tenggara Timur, YMP-NTB maupun Rumsram di Papua) serta
beberapa program sepert High Five maupun WVI yang memulai program STBM melalui pilar 4
(pengelolaan sampah rumah tangga).
Apabila meneruskan pendampingan di 1.300 desa/kelurahan ODF, serta memperoleh hasil dari
program yang memiliki target desa/kelurahan 5 pilar STBM, sebelum selesainya RPJMN 2014 maupun
MDGs 2015, kita akan memiliki sejumlah desa/kelurahan 5 pilar STBM yang lebih banyak dibandingkan
dengan sekarang.
37 36
Untuk mempermudah merumuskan tujuan strategisnya, berikut ini dikembangkan juga sub isu strategisnya,
sebagaimana tabel berikut :
Tabel 13
Isu dan sub-isu Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013-2015
Isu strategis Sub isu strategis
Belum termanfaatkannya
potensi desa/kelurahan
intervensi STBM untuk
dikembangkan menjadi
desa/kelurahan ODF
Peningkatan Lingkungan yang Kondusif: (1)
Belum meratanya komitmen pimpinan daerah,
Perlunya penyediaan dan revitalisasi sanitarian;
Peningkatan Kebutuhan Sanitasi: (2)
Pentngnya pengarusutamaan perubahan perilaku
Pentngnya memastkan target ODF untuk: Kuanttas (seluruh komunitas)
dan Kualitas (penjaminan kualitas)
Peningkatan Penyediaan Sanitasi: (3)
Pentngnya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi
Belum termanfaatkannya
potensi desa/kelurahan
ODF untuk dikembangkan
menjadi desa/kelurahan 5
Pilar STBM
Peningkatan Lingkungan yang Kondusif: (1)
Pentngnya updatng data desa/kelurahan ODF
Perlunya peningkatan kapasitas bagi provinsi dan kabupaten/kota
Peningkatan Kebutuhan Sanitasi: (2)
Pentngnya meningkatkan desa/kelurahan ODF untuk meneruskan
menuju Sanitasi Total dengan menerapkan 4 pilar STBM lainnya
Peningkatan Penyediaan Sanitasi: (3)
Pentngnya penyediaan pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM sesuai dengan
kondisi daerah
5.4 Tujuan strategis STBM 2013 2015
Untuk mencapai target tersebut diatas, isu strategis bisa diolah menjadi tujuan strategis, diperoleh
tujuan strategis sepert berikut ini:
Tabel 14
Tujuan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 2015
Isu strategis Tujuan strategis
Belum termanfaatkannya
potensi desa/kelurahan
intervensi STBM untuk
dikembangkan menjadi
desa/kelurahan ODF
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Meningkatnya komitmen pimpinan daerah 1.
Terlaksananya penyediaan dan revitalisasi sanitarian 2.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya upaya pengarusutamaan perubahan perilaku 3.
Terlaksananya kepastan target ODF secara Kuanttas (seluruh komunitas) 4.
maupun Kualitas (penjaminan kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 5.
Belum termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan ODF untuk
dikembangkan menjadi
desa/kelurahan 5 Pilar
STBM
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Terlaksananya 6. updatng data desa/kelurahan ODF
Terlaksananya peningkatan kapasitas tentang STBM bagi provinsi dan 7.
kabupaten/kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya peningkatan desa/kelurahan ODF menuju Sanitasi Total menjadi 8.
desa/kelurahan 5 pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinyanya penyediaan pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM dan kondisi 9.
daerah
37 36
5.5 Sasaran strategis STBM 2013 2015
Untuk mencapai target tersebut diatas, tujuan strategis perlu diolah menjadi sasaran strategis
sepert di bawah ini:
Tabel 15
Sasaran Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Tujuan strategis Sasaran Strategis
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Meningkatnya komitmen pimpinan daerah 1.
Terlaksananya penyediaan dan revitalisasi 2.
sanitarian
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya upaya pengarusutamaan 3.
perubahan perilaku
Terlaksananya kepastan target ODF secara 4.
Kuanttas (seluruh komunitas) maupun Kualitas
(penjaminan kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinya peningkatan kegiatan pemasaran 5.
sanitasi
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Dukungan politk dan moral serta kepastan anggaran 1.
yang memadai untuk pelaksanaan program STBM
Adanya sinergi investasi dan peningkatan anggaran 2.
untuk STBM
Adanya penyediaan dan revitalisasi sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya pengarusutamaan perubahan perilaku 4.
Adanya kepastan target ODF secara Kuanttas 5.
(seluruh komunitas) maupun Kualitas (penjaminan
kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 6.
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5
Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Terlaksananya 6. updatng data desa/kelurahan
ODF
Terlaksananya peningkatan kapasitas dan 7.
berbagi pembelajaran tentang STBM bagi
provinsi dan kabupaten/kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya peningkatan desa/kelurahan ODF 8.
menuju Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5
pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinyanya penyediaan pilihan opsi teknologi 9.
5 Pilar STBM dan kondisi daerah
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya upaya 7. updatng data desa/kelurahan ODF
Adanya upaya peningkatan kapasitas dan berbagi 8.
pembelajaran tentang STBM bagi pusat dan provinsi
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya peningkatan desa/kelurahan ODF 9.
menuju Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5 pilar
STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan produksi sesuai dengan pilihan 10.
opsi teknologi dan kondisi daerah
39 38
5.6 Strategi pelaksanaan STBM 2013 2015
Sasaran strategis perlu dirumuskan menjadi strategi pelaksanaan. Untuk itu, dalam rangka
memudahkan dan adanya pembagian tugas dan wewenang secara bertngkat, maka strategi pelaksanaan
dibagi ke dalam tngkatan: (1) pusat, (2) provinsi, dan (3) kabupaten/kota.
Strategi pelaksanaan tngkat provinsi dapat dilihat di lampiran 01, sedangkan untuk strategi
pelaksanaan tngkat kabupaten/kota dapat dilihat di lampiran 02. Untuk strategi pelaksanaan di tngkat pusat
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 16
Strategi Pelaksanaan STBM di Indonesia Tahun 2013 2015
Sasaran Strategis Strategi pelaksanaan
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Dukungan politk dan moral serta kepastan 1.
anggaran yang memadai untuk pelaksanaan
program STBM
Adanya koordinasi dan sinergi program dan 2.
investasi untuk implementasi STBM
Adanya penyediaan dan revitalisasi sanitarian 3.
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan advokasi tentang STBM secara 1.
berjenjang
Melakukan penatalaksanaan sinergi program dan 2.
investasi antar KL terkait STBM dan pemangku
kepentngan
Melaksanakan revitalisasi sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya pengarusutamaan perubahan 4.
perilaku
Adanya kepastan target ODF secara Kuanttas 5.
(seluruh komunitas) maupun Kualitas
(penjaminan kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 6.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Menyusun strategi komunikasi pengarus- 4.
utamaan perubahan perilaku melalui STBM
Memberikan target tahunan kepada setap 5.
puskesmas 1 desa/kelurahan/puskesmas
mencapai ODF
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Meningkatkan upaya penerapan Pemasaran 6.
Sanitasi
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5
Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya upaya 7. updatng data desa/kelurahan
ODF
Adanya upaya peningkatan kapasitas dan berbagi 8.
pembelajaran tentang STBM bagi pusat dan
provinsi
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya peningkatan desa/kelurahan 9. ODF
menuju Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5
pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan produksi sesuai dengan 10.
pilihan opsi teknologi 5 pilar STBM dan kondisi
daerah
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5
Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan 7. updatng data desa/kelurahan ODF
sesuai dengan data dari provinsi
Melaksanakan peningkatan kapasitas dan 8.
berbagi pembelajaran STBM bagi pusat dan
provinsi
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan pendokumentasian dan 9.
diseminasi Pembelajaran Sanitasi Total 5 Pilar
STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Menyusun pilihan opsi teknologi 5 pilar STBM 10.
dan kondisi daerah
39 38
5.7 Program dan kegiatan strategis STBM 2013 2015
Untuk mencapai target tersebut diatas, apabila kita olah kebijakan strategis menjadi program dan
kegiatan strategis :
Tabel 17
Program dan Kegiatan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Strategi pelaksanaan Program strategis Kegiatan strategis
Desa/kelurahan intervensi STBM
menuju Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang
kondusif:
Melakukan advokasi tentang STBM 1.
secara berjenjang
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Peningkatan 1. awareness sanitasi untuk
prioritasi dan investasi sanitasi
Re-sosialisasi STBM di seluruh level dan 2.
pemangku kepentngan
Penanda-tanganan kerjasama dengan AKOPSI 3.
untuk awareness STBM agar STBM masuk
ke dalam MPSS dan mendapatkan alokasi
pembiayaan
Penyelenggaraan Kompetsi STBM antar 4.
kabupaten/kota dengan pemberian Reward
atas keberhasilan ODF untuk kabupaten/kota
Penyusunan model kebutuhan anggaran untuk 5.
mencapai ODF desa/kelurahan dan kecamatan
Melakukan penatalaksanaan 2.
sinergi antar KL terkait STBM dan
pemangku kepentngan
Melaksanakan revitalisasi 3.
sanitarian
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Pertemuan koordinasi antar KL terkait STBM 6.
dan pemangku kepentngan lainnya dalam
Pokja AMPL terkait STBM
Penatalaksanaan sinergi investasi STBM antar 7.
KL terkait STBM dan pemangku kepentngan
untuk implementasi STBM, termasuk CSR, BOS,
BOK dan ADD
Penatalaksanaan sinergi program antar KL 8.
terkait STBM dan pemangku kepentngan
antara lain: Litbangkes, Promkes, UKS di
internal Kemenkes; maupun kerja sama dengan
lintas sektor: Adipura, Kabupaten/ Kota Sehat,
Kota Layak Anak, Lomba Desa/kelurahan,
Desa/kelurahan Siaga, Sanimas dan SLBM
( untuk Gambaran Sinergi Program dapat
dilihat lampiran 03), koperasi, kredit mikro,
perbankan
Penyusunan Direktori Pelaku STBM Indonesia 9.
Penyusunan Eksistng & Kebutuhan Sanitarian 10.
Indonesia
Pelaksanaan Peningkatan Kapsitas Sanitarian 11.
Indonesia
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Menyusun strategi komunikasi 4.
pengarusutamaan perubahan
perilaku melalui STBM
Memberikan target tahunan 5.
kepada setap puskesmas 1 desa/
kelurahan/puskesmas mencapai
ODF
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Penyusunan strategi komunikasi 12.
pengarusutamaan perubahan perilaku melalui
STBM
Pelaksanaan program komunikasi 13.
pengarusutamaan perubahan perilaku melalui
STBM
Pembuatan SE Menkes tentang target 14.
tahunan setap puskesmas 1 desa/kelurahan/
puskesmas mencapai ODF
Penyusunan dan sosialisasi panduan verifkasi 15.
ODF secara kuanttas dan kualitas
Penyusunan panduan monitoring dan evaluasi 16.
peningkatan akses sanitasi dan air minum layak
berkelanjutan
Pertemuan evaluasi dan pembelajaran tahunan 17.
Kinerja STBM bersama daerah dan mitra kerja
41 40
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Meningkatkan upaya penerapan 6.
Pemasaran Sanitasi
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Pelaksanaan Riset Pasar Sanitasi di provinsi 18.
sesuai kebutuhan
Penyusunan Panduan Pemasaran Sanitasi 19.
Penyusunan Panduan Pilihan Opsi Teknologi 20.
dan Tukang Sanitasi untuk STBM sesuai dengan
kondisi daerah
Pelathan dan Pembentukan Forum Komunikasi 21.
Tukang Sanitasi sesuai dengan pilihan opsi
teknologi dan kondisi daerah
Pelathan dan Pembentukan Asosiasi 22.
Pengusaha Sanitasi sesuai dengan pilihan opsi
teknologi dan kondisi daerah
Penyusunan kebutuhan dana, identfkasi 23.
sumber permodalan, dan pengembangan
kerjasama untuk bisnis sanitasi
Penyusunan Panduan Monitoring Pemasaran 24.
Sanitasi
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/
kelurahan 5 Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang
kondusif:
Melakukan 7. updatng data desa/
kelurahan ODF sesuai dengan data
dari provinsi
Melaksanakan peningkatan 8.
kapasitas dan berbagi
pembelajaran STBM bagi pusat dan
provinsi
Peningkatan kebutuhan sanitasi
Melaksanakan pendokumentasian 9.
dan diseminasi Pembelajaran
Sanitasi Total 5 Pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Menyusun pilihan opsi teknologi 5 10.
pilar STBM dan kondisi daerah
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5
Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Penyusunan sistem kompilasi data desa/ 25.
kelurahan ODF
Updatng 26. data desa/kelurahan ODF sesuai
dengan data dari provinsi
Penyusunan Peta Kinerja STBM tahunan 27.
Penyusunan Modul Peningkatan Kapasitas 28.
STBM bagi provinsi
Peningkatan Kapasitas dan berbagi 29.
pembelajaran STBM bagi provinsi
Peningkatan kebutuhan sanitasi
Kegiatan dan Pertemuan Pembelajaran 30.
Pelaksanaan 5 Pilar STBM
Penyusunan Buku Pembelajaran Sanitasi Total 31.
5 Pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Penyusunan pilihan opsi teknologi 5 pilar STBM 32.
dan kondisi daerah

Untuk gambaran kerja sama Sanimas-SLBM dan STBM, dapat dilihat pada lampiran 03.
Strategi pelaksanaan Program strategis Kegiatan strategis
41 40
Bab Enam
PRIORITAS
PELAKSANAAN
KEGIATAN STRATEGIS
ROADMAP
PERCEPATAN STBM
2013 -2015
6.1 Prioritasi pelaksanaan kegiatan
strategis
Diusulkan tga tahapan strategis
menuju target percepatan STBM 2013
2015:
Tahun pertama: penyiapan (1)
NSPM, peningkatan kapasitas dan
pembelajaran, pelaksanaan 5 target
utama, serta pemantauan dan
evaluasi;
Tahun kedua: pelaksanaan (2)
percepatan, pelaksanaan target
tambahan, serta pemantauan dan
evaluasi;
Tahun ketga: di tahun pertama (3)
RPJMN baru dan tahun terakhir
MDGs 2015 : review terhadap apa
yang diperoleh sampai RPJMN 2014
dan rencana untuk tahun terakhir
MDGs 2015, pemantapan menuju
Sanitasi Total serta pemantauan dan
evaluasi.
43 42
6.2 Prioritas kegiatan strategis tahun pertama, 2013
Sesuai dengan prioritasi kegiatan strategis diatas, maka untuk tahun pertama, terdiri dari besaran
kegiatan: penyiapan NSPM, advokasi, peningkatan kapasitas dan pembelajaran, pelaksanaan 5 target utama,
serta pemantauan dan evaluasi.
Ini berart akan memilih beberapa kegiatan strategis dari 48 kegiatan strategis yang diusulkan :
Tabel 18
Prioritas Kegiatan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013
Kegiatan strategis
Pe-ranking-an
Penangg.
Jawab
Waktu
Bobot Nilai Skore Ranking
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF :
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Peningkatan 1. awareness sanitasi untuk
prioritasi dan investasi sanitasi
3 9 27 2
Pokja
AMPL
Tr 1
Re-sosialisasi STBM di seluruh level dan 2.
pemangku kepentngan
2 9 18 3
Sekrt
STBM
Tr 1
Penanda-tanganan kerjasama dengan AKOPSI 3.
untuk awaraness STBM
3 10 30 1
Pokja
AMPL
Tr 2
Penyelenggaraan Kompetsi STBM antar 4.
kabupaten/kota dengan pemberian Reward
atas keberhasilan ODF untuk kabupaten/kota
1 9 9 4
Sekrt
STBM
Tr 4
Penyusunan model kebutuhan anggaran 5.
untuk mencapai ODF desa/kelurahan dan
kecamatan
2 9 18 3
Sekrt
STBM
Tr 1
Pertemuan koordinasi antar KL terkait STBM 6.
dan pemangku kepentngan lainnya dalam
Pokja AMPL terkait STBM
3 9 27 2
Pokja
AMPL
Tr 1-4
Penatalaksanaan sinergi investasi STBM antar 7.
KL terkait STBM dan pemangku kepentngan
untuk implementasi STBM, termasuk CSR,
BOS, BOK dan ADD
1 9 9 3
Pokja
AMPL
Tr 1-4
Penatalaksanaan sinergi program antar KL 8.
terkait STBM dan pemangku kepentngan
antara lain: Litbangkes, Promkes, UKS di
internal Kemenkes; maupun kerja sama
dengan lintas sektor: Adipura, Kabupaten/
Kota Sehat, Kota Layak Anak, Lomba Desa/
kelurahan, Desa/kelurahan Siaga, koperasi,
kredit mikro
3 9 27 2
Pokja
AMPL
Tr 1-4
Penyusunan Direktori Pelaku STBM Indonesia 9. 1 9 9 4
Sekrt
STBM
Tr 3
Penyusunan Eksistng & Kebutuhan Sanitarian 10.
Indonesia
2 9 18 3
Sekrt
STBM
Tr 1
Pelaksanaan Peningkatan Kapasitas Sanitarian 11.
Indonesia
2 9 18 3
Sekrt
STBM
Tr 2
Peningkatan kebutuhan sanitasi :
Penyusunan strategi komunikasi pengarus- 12.
utamaan perubahan perilaku melalui STBM
2 17 34 2
Pokja
AMPL
Tr 1
Pelaksanaan program komunikasi 13.
pengarusutamaan perubahan perilaku melalui
STBM
2 17 34 2
Pokja
AMPL
Tr 1-4
Pembuatan SE Menkes tentang target 14.
tahunan setap puskesmas 1 desa/kelurahan/
puskesmas mencapai ODF
3 17 51 1
Sekrt
STBM
Tr 1
43 42
Penyusunan dan sosialisasi panduan verifkasi 15.
ODF secara kuanttas dan kualitas
2 16 32 3
Sekrt
STBM
Tr 1-4
Penyusunan panduan monitoring dan evaluasi 16.
peningkatan akses sanitasi masyarakat
2 16 32 3
Sekrt
STBM
Tr 2
Pertemuan evaluasi dan pembelajaran 17.
tahunan Kinerja STBM bersama daerah dan
mitra kerja
3 17 51 1
Sekrt
STBM
Tr 4
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Pelaksanaan Riset Pasar Sanitasi di provinsi 18.
sesuai kebutuhan
1 14 14 3
Sekrt
STBM
Tr 4
Penyusunan Panduan Pemasaran Sanitasi 19. 3 15 45 1
Sekrt
STBM
Tr 2
Penyusunan Panduan Pilihan Opsi Teknologi 20.
dan Tukang Sanitasi untuk STBM sesuai
dengan kondisi daerah
2 14 28 2
Sekrt
STBM
Tr 2
Pelathan dan Pembentukan Forum 21.
Komunikasi Tukang Sanitasi sesuai dengan
pilihan opsi teknologi dan kondisi daerah
2 14 28 2
Sekrt
STBM
Tr 2
Pelathan dan Pembentukan Asosiasi 22.
Pengusaha Sanitasi sesuai dengan pilihan opsi
teknologi dan kondisi daerah
2 14 28 2
Sekrt
STBM
Tr 3
Penyusunan kebutuhan dana, identfkasi 23.
sumber permodalan, dan pengembangan
kerjasama untuk bisnis sanitasi
3 15 45 1
Sekrt
STBM
Tr 1
Penyusunan Panduan Monitoring Pemasaran 24.
Sanitasi
2 14 28 2
Sekrt
STBM
Tr 3
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5
Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif :
Penyusunan sistem kompilasi data desa/ 25.
kelurahan ODF
3 13 39 1
Sekrt
STBM
Tr 1
Updatng 26. data desa/kelurahan ODF sesuai
dengan data dari provinsi
3 13 39 1
Sekrt
STBM
Tr 1-4
Penyusunan Peta Kinerja STBM tahunan 27. 2 12 24 3
Sekrt
STBM
Tr 2
Penyusunan Modul Peningkatan Kapasitas 28.
STBM bagi pusat dan provinsi
2 13 26 2
Sekrt
STBM
Tr 1-2
Peningkatan Kapasitas dan Berbagi 29.
Pembelajaran STBM bagi pusat dan provinsi
2 13 26 2
Sekrt
STBM
Tr 3
Peningkatan kebutuhan sanitasi
Kegiatan dan Pertemuan Pembelajaran 30.
Pelaksanaan 5 Pilar STBM
2 12 24 3
Sekrt
STBM
Tr 3
Penyusunan Buku Pembelajaran Sanitasi Total 31.
5 Pilar STBM
2 12 24 3
Sekrt
STBM
Tr 4
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Penyusunan Buku Opsi Pilihan Teknologi 5 32.
Pilar STBM
2 12 24 3
Sekrt
STBM
Tr 2
Keterangan :
Pemeringkatan dilakukan menjadi 2 bagian :
Untuk setap komponen program untuk Pengembangan Desa/kelurahan Intervensi STBM menjadi (1)
Desa/kelurahan ODF, dan
Untuk Pengembangan Desa/kelurahan ODF menjadi Desa/kelurahan 5 pilar STBM. Dengan (2)
pengaturan sebagai berikut:
Kegiatan strategis
Pe-ranking-an
Penangg.
Jawab
Waktu
Bobot Nilai Skore Ranking
45 44
Bobot: 1 = Cukup pentng. 2 = Pentng. 3 = Pentng sekali;
Peningkatan lingkungan yang kondusif: Nilai: Total = 100, dibagi 11, berkisar 9-10 setap kegiatan
Peningkatan kebutuhan sanitasi: Nilai: Total = 100, dibagi 6, berkisar 16-17 setap kegiatan
Peningkatan penyediaan sanitasi: Nilai: Total = 100, dibagi 7, berkisar 14-15 setap kegiatan
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar STBM: Nilai: Total = 100, dibagi 7, berkisar 14-15
setap kegiatan
Tr 1-4 = Triwulan 1-4
Terlihat bahwa untuk Pengembangan Desa/kelurahan Intervensi STBM menjadi Desa/kelurahan ODF,
untuk komponen :
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
ada 1 kegiatan prioritas pertama, o
3 kegiatan prioritas kedua, serta o
5 kegiatan prioritas ketga o
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
ada 2 kegiatan prioritas pertama, o
2 kegiatan prioritas kedua, o
serta 2 kegiatan prioritas ketga. o
Peningkatan penyediaan sanitasi:
ada 2 kegiatan prioritas pertama, o
4 kegiatan prioritas kedua, serta o
1 kegiatan prioritas ketga. o
Sedangkan untuk Pengembangan Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar STBM
terlihat:
ada 2 kegiatan prioritas pertama,
2 kegiatan prioritas kedua, serta
4 kegiatan prioritas ketga.
6.3 Prioritas kegiatan strategis tahun kedua, 2014
Sesuai dengan prioritasi kegiatan strategis di atas, maka untuk tahun kedua, terdiri dari besaran
kegiatan: advokasi lanjutan, pelaksanaan percepatan, pelaksanaan target tambahan, serta pemantauan dan
evaluasi. Ini berart akan memilih beberapa kegiatan strategis dari 18 kegiatan strategis yang diusulkan :
45 44
Tabel 19
Prioritas Kegiatan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2014
Kegiatan strategis
Pe-ranking-an
Pen.Jab Waktu
Bobot Nilai Skore Ranking
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju
Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Peningkatan 1. awareness sanitasi untuk
prioritasi dan investasi sanitasi
3 7 21 1
Pokja
AMPL
Tr 1
Re-sosialisasi STBM di seluruh level dan 2.
pemangku kepentngan
2 6 12 3
Sekrt
STBM
Tr 1
Penatalaksanaan sinergi investasi STBM 3.
antar KL terkait STBM dan pemangku
kepentngan lainnya
2 7 14 2
Pokja
AMPL
Tr 1-4
Penyelenggaraan Kompetsi STBM antar 4.
kabupaten/kota dengan pemberian
Reward atas keberhasilan ODF untuk
kabupaten/kota
2 7 14 2
Sekrt
STBM
Tr 4
Pelaksanaan Peningkatan Kapasitas 5.
Sanitarian Indonesia
3 7 21 1
Sekrt
STBM
Tr 2
Pertemuan koordinasi antar KL terkait 6.
STBM dan pemangku kepentngan lainnya
dalam Pokja AMPL terkait STBM
3 7 21 1
Pokja
AMPL
Tr 1-4
Penatalaksanaan sinergi program antar KL 7.
terkait STBM dan pemangku kepentngan
lainnya
3 7 21 1
Pokja
AMPL
Tr 1-4
Peningkatan kebutuhan sanitasi :
Pelaksanaan program komunikasi 8.
pengarusutamaan perubahan perilaku
melalui STBM
2 7 14 2
Pokja
AMPL
Tr 1-4
Pertemuan evaluasi dan pembelajaran 9.
tahunan Kinerja STBM bersama daerah
dan mitra kerja
2 7 14 2
Sekrt
STBM
Tr 4
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Pelaksanaan Riset Pasar Sanitasi di 10.
provinsi sesuai kebutuhan
1 6 6 4
Sekrt
STBM
Tr 4
Pelathan dan Pembentukan Forum 11.
Komunikasi Tukang Sanitasi sesuai dengan
pilihan opsi teknologi dan kondisi daerah
2 6 12 3
Sekrt
STBM
Tr 1-4
Pelathan dan Pembentukan Asosiasi 12.
Pengusaha Sanitasi sesuai dengan pilihan
opsi teknologi dan kondisi daerah
2 6 12 3
Sekrt
STBM
Tr 1-4
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan
5 Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif :
Updatng 13. data desa/kelurahan ODF sesuai
dengan data dari provinsi
3 7 21 1
Sekrt
STBM
Tr 1-4
Peningkatan Kapasitas dan berbagi 14.
Pembelajaran STBM bagi provinsi
2 7 14 2
Sekrt
STBM
Tr 1-2
Peningkatan kebutuhan sanitasi
Pertemuan Pembelajaran Pelaksanaan 5 15.
Pilar STBM
2 6 12 3
Sekrt
STBM
Tr 4
Keterangan :
Bobot: 1 = Cukup pentng, 2 = pentng, 3 = pentng sekali; Nilai: Total = 100, dibagi 15, berkisar 6-7 setap
kegiatan Tr 1-4 = Triwulan 1-4
Terlihat bahwa ada 5 kegiatan prioritas pertama, 5 kegiatan prioritas kedua, serta 4 kegiatan prioritas ketga.
47 46
6.4 Prioritas kegiatan strategis tahun ketga, 2015
Sesuai dengan prioritasi kegiatan strategis di atas, maka untuk tahun ketga, di tahun pertama RPJMN
baru dan tahun terakhir MDGs 2015: review terhadap apa yang diperoleh sampai RPJMN 2014 dan rencana
untuk tahun terakhir MDGs 2015, pemantapan menuju Sanitasi Total serta pemantauan dan evaluasi.
Ini berart akan memilih beberapa kegiatan strategis dari 5 kegiatan strategis yang diusulkan:
Tabel 20
Prioritas Kegiatan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2015
Program strategis Kegiatan strategis
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Peningkatan lingkungan yang kondusif :
Pertemuan 1. review terhadap Capaian STBM sampai RPJMN 2014
Penyusunan 2. Roadmap STBM dalam rangka RPJMN 2015 - 2019
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Pengarusutamaan perubahan perilaku menuju Sanitasi Total 1.
Pelaksanaan 5 pilar STBM 2.
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Pengembangan Pemasaran Sanitasi untuk 5 Pilar STBM 1.
6.5 Pemantauan dan evaluasi
Ada beberapa indikator yang dapat dipakai untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan Roadmap
Percepatan STBM 2013 2015, yaitu :
Capaian jumlah Desa/kelurahan Intervensi STBM (1)
Capaian jumlah Desa/kelurahan ODF (2)
Capaian jumlah Desa/kelurahan 5 pilar STBM (3)
Cakupan akses sanitasi layak berkelanjutan (4)
Cakupan akses air minum layak berkelanjutan (5)
Indikator itulah yang dipakai untuk kegiatan pemantauan dan evaluasi sejak desa/kelurahan,
kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai ke pusat, melalui berbagai sistem dan mekanisme yang saat ini
sudah berjalan.
Selain itu, diharapkan juga terjadi pendokumentasian pembelajaran STBM, terkait dengan upaya
mencapai Desa/kelurahan Intervensi STBM, Desa/kelurahan ODF, Desa/kelurahan 5 pilar STBM maupun cakupan
akses sanitasi layak, baik yang diperoleh melalui berbagai pertemuan pembelajaran, berbagi pengalaman
melalui milis, website, news-elektronik, maupun yang dibukukan.
Dengan demikian, lewat data yang diperoleh dari kegiatan pemantauan dan evaluasi, kita dapat
mengukur kinerja pelaksanaan program STBM, sudah sampai dimana dibandingkan dengan target RPJMN
2014 maupun MDGs 2015. Sedangkan lewat penyebarluasan dokumentasi pembelajaran STBM, diharapkan
akan memicu semua pelaku STBM di Indonesia untuk berkiprah dengan lebih baik, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan kinerjanya untuk akhirnya akan makin meningkatkan kinerja STBM secara keseluruhan.
47 46
Bab Tujuh
ESTIMASI KEBUTUHAN
DAN IDENTIFIKASI
SUMBER PENDANAAN
UNTUK PELAKSANAAN
ROADMAP STBM
2013-2015
7.1 Identfkasi sumber pendanaan
Untuk mencapai target STBM 20132015,
dengan kegiatan-kegiatan strategis tahun 2013-2015
dan untuk menyiapkan kegiatan jangka menengah
selanjutnya, tentu diperlukan sejumlah sumber daya dan
sumber dana. Untuk itu, berikut adalah hasil identfkasi
sumber dana yang diharapkan dapat dimanfaatkan untuk
pelaksanaan program STBM di daerah:
49 48
Tabel 21
Identfkasi Sumber Pendanaan STBM di Indonesia Tahun 2013-2015
No. Lembaga Nama program/proyek
1. Pusat :
Kementrian/Lembaga :
Bappenas 1. Kegiatan koordinasi melalui Pokja AMPL
Kementrian Kesehatan 2.
Kegiatan koordinasi melalui Sekretariat STBM -
TP Penyediaan Air dan Sanitasi Berbasis Masyarakat -
Dekon untuk monitoring dan evaluasi STBM serta -
peningkatan kapasitas sanitarian
MCC program Gizi dan Sanitasi -
Kementrian Dalam Negeri 3. Kegiatan peningkatan kapasitas melalui Ditjen PMD
Kementrian Pekerjaan Umum 4.
Pamsimas -
USRI sepert SLBM untuk STBM Perkotaan -
Program Sanimas Reguler untuk STBM Perkotaan -
Program SLBM untuk STBM Perkotaan -
3R untuk pilar 4 STBM -
Kementrian Negara Lingkungan 5.
Hidup
Program Bank Sampah untuk pilar 4 STBM -
Donor/LSM
WSP-EAP 1.
TSSM 1,5 -
Waspola Facility -
Unicef 2.
STBM di 7 kabupaten/kota di 3 provinsi -
Sanitasi sekolah -
USAID 3.
IUWASH di Sumatera Utara, Jawa Barat , Jawa Timur dan -
Sulawesi Selatan
High Five - di Medan, Surabaya dan Makassar
Simavi-SHAW 4.
Bekerja sama dengan Rumsram di Papua -
Bekerja sama dengan Plan Indonesia di NTT -
Bekerja sama dengan YMP-NTB di NTB -
Bekerja sama dengan YDD di NTT -
Bekerja sama dengan CD Bethesda di NTT -
Plan Indonesia 5.
Bekerja sama dengan Kabupaten Dompu di NTB -
Bekerja sama dengan Kabupaten Rembang dan Grobogan -
di Jawa Tengah
NTT -
World Vision 6. Indonesia
Perkotaan di Jakarta, Surabaya, Pontanak -
Perdesaan di Kalimantan Barat -
Swasta
Adaro 1. Program STBM di Kalimantan Selatan
Unilever 2. Program Pilar 2 dan 4 di beberapa lokasi
Aqua Danone 3. Bekerja sama dengan YPCII di Sukabumi
Bank Mandiri Syariah 4. Pembiayaan sanitasi di lokasi IUWASH
2. Provinsi
Bappeda 1. Koordinasi melalui kegiatan Pokja AMPL
Dinas Kesehatan 2. Kegiatan penyehatan lingkungan
Dinas Pekerjaan Umum 3. Program SLBM APBD Provinsi
Badan Lingkungan Hidup 4. Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Perguruan Tinggi 5. Kerjasama KKN untuk pemicuan
3. Kabupaten/kota
Bappeda 1. Koordinasi melalui kegiatan Pokja AMPL
Dinas Kesehatan 2. Kegiatan penyehatan lingkungan
Dinas Pekerjaan Umum 3. Program SLBM APBD Kabupaten/Kota
Badan Lingkungan Hidup 4. Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
TP PKK 5. Kegiatan Pokja IV tentang Lingkungan
49 48
7.2 Estmasi kebutuhan pendanaan
Sesuai dengan kegiatan strategis setap tahunnya, diestmasikan kebutuhan dana sebagaimana uraian
dibawah ini :
7.2.1 Tahun 2013
Untuk tahun pertama, diestmasikan kebutuhan dana, sebagaimana tabel berikut ini :
Tabel 22
Estmasi Kebutuhan Pendanaan STBM di Indonesia Tahun 2013
Kegiatan strategis Volume
Jumlah kebutuhan
dana
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:

Peningkatan 1. awareness sanitasi untuk
prioritasi dan investasi sanitasi
1 paket pertemuan mendukung
nasional gubernur yang sudah ada

100.000.000
Re-sosialisasi STBM di seluruh level dan 2.
pemangku kepentngan
1 paket pertemuan nasional
Kadinkes

300.000.000
Penanda-tanganan kerjasama dengan AKOPSI 3.
untuk awareness STBM
1 paket TA penyiapan MOU STBM-
AKOPSI

100.000.000
Penyelenggaraan Kompetsi STBM antar 4.
kabupaten/kota dengan pemberian Reward
atas keberhasilan ODF untuk kabupaten/kota
1 paket penyelenggaraan kompetsi
STBM antar kabupaten/kota 500.000.000
Penyusunan model kebutuhan anggaran 5.
untuk mencapai ODF desa/kelurahan dan
kecamatan
1 paket studi penyusunan model
kebutuhan anggaran ODF desa/
kelurahan/kecamatan
200.000.000
Pertemuan koordinasi antar KL terkait STBM 6.
dan pemangku kepentngan lainnya dalam
Pokja AMPL terkait STBM
4 paket pertemuan triwulan-an

40.000.000
Penatalaksanaan sinergi investasi STBM antar 7.
KL terkait STBM dan pemangku kepentngan
untuk implementasi STBM, termasuk CSR,
BOS, BOK dan ADD
1 paket studi penataan sinergi
investasi antar KL, lembaga, donor 200.000.000
Penatalaksanaan sinergi program antar KL 8.
terkait STBM dan pemangku kepentngan
antara lain: Litbangkes, Promkes, UKS di
internal Kemenkes; maupun kerja sama
dengan lintas sektor: Adipura, Kabupaten/
Kota Sehat, Kota Layak Anak, Lomba Desa/
kelurahan, Desa/kelurahan Siaga, SLBM,
Sanimas, koperasi, kredit mikro, perbankan
1 paket studi penataan sinergi
program antar KL, lembaga, donor 200.000.000
Penyusunan Direktori Pelaku STBM Indonesia 9.
1 paket TA penyusunan Direktori
Pelaku STBM di Indonesia

200.000.000
Penyusunan Eksistng & Kebutuhan Sanitarian 10.
Indonesia
1 paket studi eksistng dan
kebutuhan sanitarian di Indonesia
200.000.000
Pelaksanaan Peningkatan Kapasitas Sanitarian 11.
Indonesia
12 batch pelathan Sanitarian di
Indonesia
1.200.000.000
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
12. Penyusunan strategi komunikasi pengarus-
utamaan perubahan perilaku melalui STBM
1 paket penyusunan strategi
komunikasi STBM

200.000.000
13. Pelaksanaan program komunikasi
pengarusutamaan perubahan perilaku melalui
STBM
1 paket komunikasi cetak dan
elektronik nasional

10.000.000.000
14. Pembuatan SE Menkes tentang target
tahunan setap puskesmas 1 desa/kelurahan/
puskesmas mencapai ODF
Rutn

-
51 50
15. Penyusunan dan Sosialisasi panduan
verifkasi ODF secara kuanttas dan kualitas
1 paket penyusunan dan sosialisasi
panduan ODF tngkat nasional

200.000.000
16. Penyusunan panduan monitoring dan
evaluasi peningkatan akses sanitasi masyarakat
1 paket penyusunan panduan
monitoring dan evaluasi

200.000.000
17. Pertemuan evaluasi dan pembelajaran
tahunan Kinerja STBM bersama daerah dan mitra
kerja
1 paket pertemuan nasional
evaluasi dan pembelajaran tahunan
STBM

300.000.000
Peningkatan penyediaan sanitasi:
18. Pelaksanaan Riset Pasar Sanitasi di provinsi
sesuai kebutuhan
8 paket riset pasar sanitasi di
provinsi

800.000.000
19. Penyusunan Panduan Pemasaran Sanitasi
1 paket penyusunan panduan
pemasaran sanitasi

200.000.000
20. Penyusunan Panduan Pilihan Opsi Teknologi
dan Tukang Sanitasi untuk STBM sesuai dengan
kondisi daerah
1 paket penyusunan panduan
pilihan opsi teknologi sanitasi

200.000.000
21. Pelathan dan Pembentukan Forum
Komunikasi Tukang Sanitasi sesuai dengan pilihan
opsi teknologi dan kondisi daerah
# pelathan dan pembentukan
forum komunikasi tukang sanitasi

600.000.000
22. Pelathan dan Pembentukan Asosiasi
Pengusaha Sanitasi sesuai dengan pilihan opsi
teknologi dan kondisi daerah
# pelathan dan pembentukan
asosiasi pengusaha sanitasi

600.000.000
23. Penyusunan kebutuhan dana, identfkasi
sumber permodalan, dan pengembangan
kerjasama untuk bisnis sanitasi
1 paket studi penyusunan
identfkasi sumber dan kebutuhan
dana untuk bisnis sanitasi

200.000.000
24. Penyusunan Panduan Monitoring Pemasaran
Sanitasi
1 paket penyusunan monitoring
pemasaran sanitasi

200.000.000
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5
Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:

25. Penyusunan sistem kompilasi data desa/
kelurahan ODF
1 paket penyusunan kompilasi data
desa/kelurahan ODF

200.000.000
26. Updatng data desa/kelurahan ODF sesuai
dengan data dari provinsi
1 paket manajemen data desa/
kelurahan ODF daerah - pusat

100.000.000
27. Penyusunan Peta Kinerja STBM tahunan
1 paket penyusunan Peta Kinerja
STBM

200.000.000
28. Penyusunan Modul Peningkatan Kapasitas
STBM bagi provinsi
1 paket penyusunan modul
peningkatan kapasitas STBM bagi
pusat dan daerah

200.000.000
29. Peningkatan Kapasitas dan berbagi
Pembelajaran STBM bagi pusat dan provinsi
# paket peningkatan kapasitas dan
berbagi pembelajaran STBM pusat
dan provinsi

1.000.000.000
Peningkatan kebutuhan sanitasi
30. Pertemuan Pembelajaran Pelaksanaan 5 Pilar
STBM
1 paket pertemuan pembelajaran 5
pilar STBM nasional

300.000.000
31. Penyusunan Buku Pembelajaran Sanitasi
Total 5 Pilar STBM
1 paket penyusunan buku
pembelajaran 5 pilar STBM

200.000.000
32. Penyusunan Buku Opsi Pilihan Teknologi 5
Pilar STBM
1 paket penyusunan buku opsi
pilihan teknologi 5 pilar STBM

200.000.000
Jumlah keseluruhan 19.340.000.000
Kegiatan strategis Volume
Jumlah kebutuhan
dana
51 50
7.2.2 Tahun 2014
Untuk tahun kedua, diestmasikan kebutuhan dana, sebagaimana tabel berikut ini :
Tabel 23
Estmasi Kebutuhan Pendanaan STBM di Indonesia Tahun 2014
Kegiatan strategis Volume
Satuan
kebutuhan
dana
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:

Peningkatan lingkungan yang kondusif:
1. Peningkatan awareness sanitasi untuk prioritasi
dan investasi sanitasi
1 paket pertemuan nasional dengan
media

100.000.000
2. Re-sosialisasi STBM di seluruh level dan
pemangku kepentngan
1 paket pertemuan nasional Ormas

200.000.000
3. Penatalaksanaan sinergi investasi STBM antar KL
terkait STBM dan pemangku kepentngan lainnya
Pertemuan review hasil
penatalaksanaan sinergi investasi

200.000.000
4. Penyelenggaraan Kompetsi STBM antar
kabupaten/kota dengan pemberian Reward atas
keberhasilan ODF untuk kabupaten/kota
1 paket penyelenggaraan kompetsi
STBM antar kabupaten/kota

500.000.000
5. Pelaksanaan Peningkatan Kapasitas Sanitarian
Indonesia
# batch pelathan Sanitarian di
Indonesia

1.200.000.000
6. Pertemuan koordinasi antar KL terkait STBM dan
pemangku kepentngan lainnya dalam Pokja AMPL
terkait STBM
4 paket pertemuan triwulan-an

50.000.000
7. Penatalaksanaan sinergi program antar KL terkait
STBM dan pemangku kepentngan lainnya
Pertemuan review hasil
penatalaksanaan sinergi program

200.000.000
Peningkatan kebutuhan sanitasi :
8. Pelaksanaan program komunikasi
pengarusutamaan perubahan perilaku melalui STBM
1 paket komunikasi menggunakan
aneka budaya nusantara

5.000.000.000
9. Pertemuan evaluasi dan pembelajaran tahunan
Kinerja STBM bersama daerah dan mitra kerja
1 paket pertemuan nasional evaluasi
dan pembelajaran tahunan STBM

450.000.000
Peningkatan penyediaan sanitasi :
10. Pelaksanaan Riset Pasar Sanitasi di provinsi sesuai
kebutuhan
8 paket riset pasar sanitasi di provinsi
lanjutan

800.000.000
11. Pelathan dan Pembentukan Forum Komunikasi
Tukang Sanitasi sesuai dengan pilihan opsi teknologi
dan kondisi daerah
# pelathan dan pembentukan forum
komunikasi tukang sanitasi

600.000.000
12. Pelathan dan Pembentukan Asosiasi Pengusaha
Sanitasi sesuai dengan pilihan opsi teknologi dan
kondisi daerah
# pelathan dan pembentukan
asosiasi pengusaha sanitasi

600.000.000
53 52
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:

Peningkatan lingkungan yang kondusif:
13. Updatng data desa/kelurahan ODF sesuai dengan
data dari provinsi
1 paket manajemen data desa/
kelurahan ODF daerah - pusat
lanjutan

100.000.000
14. Peningkatan Kapasitas dan berbagi Pembelajaran
STBM bagi provinsi
# paket peningkatan kapasitas dan
berbagi pembelajaran STBM provinsi

1.000.000.000
Peningkatan kebutuhan sanitasi
15. Pertemuan Pembelajaran Pelaksanaan 5 Pilar
STBM
1 paket pertemuan pembelajaran 5
pilar STBM nasional lanjutan

300.000.000
Jumlah keseluruhan 1.300.000.000
7.2.3 Tahun 2015
Untuk tahun ketga, estmasi kebutuhan dana akan dihitung kemudian, karena sudah masuk ke
dalam kerangka RPJMN 2015-2019. Hal ini akan dilakukan setelah dilakukan pertemuan review capaian dari
RPJMN 2014, di dalam rangka menunjang percepatan untuk capaian tahun terakhir MDGs 2015.

Kegiatan strategis Volume
Satuan
kebutuhan
dana
53 52
Bab Delapan
PENUTUP
Demikian, uraian Roadmap Percepatan
STBM 2013 2015, semoga dapat menjadi semacam
arahan bagi semua pelaku STBM di Indonesia,
untuk secara bersama-sama berupaya agar kita
mendapatkan capaian yang lebih baik dibandingkan
tahun sebelumnya, sebagai bagian dari kontribusi
kita semua untuk mendekat capaian target RPJMN
2014 maupun MDGs 2015. STBM, lebih bersih, lebih
sehat.

Jakarta, Juni 2013
Direktorat Penyehatan Lingkungan
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan
Kementrian Kesehatan
Kegiatan strategis Volume
Satuan
kebutuhan
dana
55 54
Lampiran 01
Gambaran Umum Roadmap Percepatan STBM 2013-2015 Tingkat Provinsi
Tabel 1
Isu dan sub-isu Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013-2015
Isu strategis Sub isu strategis
Belum
termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan intervensi
STBM untuk
dikembangkan
menjadi desa/
kelurahan ODF
Peningkatan Lingkungan yang Kondusif: (1)
Belum meratanya komitmen eksekutf dan legislatf untuk menetapkan STBM sebagai
bagian dari AMPL sebagai salah satu prioritas pembangunan
Belum optmalnya koordinasi antar SKPD dan pemangku kepentngan dalam
pelaksanaan STBM
Perlunya penyediaan dan revitalisasi sanitarian;
Peningkatan Kebutuhan Sanitasi: (2)
Pentngnya pengarusutamaan perubahan perilaku
Pentngnya memastkan target ODF untuk: Kuanttas (seluruh komunitas) dan Kualitas
(penjaminan kualitas)
Peningkatan Penyediaan Sanitasi: (3)
Pentngnya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi
Belum
termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan ODF
untuk dikembangkan
menjadi desa/
kelurahan 5 Pilar
STBM
Peningkatan Lingkungan yang Kondusif: (4)
Pentngnya updatng data desa/kelurahan ODF
Perlunya peningkatan kapasitas bagi provinsi dan kabupaten/kota
Peningkatan Kebutuhan Sanitasi: (5)
Pentngnya meningkatkan desa/kelurahan ODF untuk meneruskan menuju Sanitasi Total
dengan menerapkan 4 pilar STBM lainnya
Peningkatan Penyediaan Sanitasi: (6)
Pentngnya penyediaan pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM sesuai dengan kondisi
daerah
Tabel 2
Tujuan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Isu strategis Tujuan strategis
Belum
termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan intervensi
STBM untuk
dikembangkan
menjadi desa/
kelurahan ODF
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Meningkatnya komitmen eksekutf dan legislatf untuk menetapkan STBM sebagai bagian 1.
dari AMPL sebagai salah satu prioritas pembangunan
Belum optmalnya koordinasi antar SKPD dan pemangku kepentngan dalam pelaksanaan 2.
STBM
Terlaksananya penyediaan dan revitalisasi sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya upaya pengarusutamaan perubahan perilaku 4.
Terlaksananya kepastan target ODF secara Kuanttas (seluruh komunitas) maupun 5.
Kualitas (penjaminan kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 6.
Belum
termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan ODF
untuk dikembangkan
menjadi desa/
kelurahan 5 Pilar
STBM
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Terlaksananya 7. updatng data desa/kelurahan ODF
Terlaksananya peningkatan kapasitas tentang STBM bagi kabupaten/kota 8.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya peningkatan desa/kelurahan ODF menuju Sanitasi Total menjadi desa/ 9.
kelurahan 5 pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinyanya penyediaan pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM dan kondisi daerah 10.
55 54
Tabel 3
Sasaran Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Tujuan strategis Sasaran Strategis
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Meningkatnya komitmen eksekutf dan legislatf 1.
untuk menetapkan STBM sebagai bagian dari AMPL
sebagai salah satu prioritas pembangunan
Belum optmalnya koordinasi antar SKPD dan 2.
pemangku kepentngan dalam pelaksanaan STBM
Terlaksananya penyediaan dan revitalisasi 3.
sanitarian
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya upaya pengarusutamaan perubahan 4.
perilaku
Terlaksananya kepastan target ODF secara 5.
Kuanttas (seluruh komunitas) maupun Kualitas
(penjaminan kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinya peningkatan kegiatan pemasaran 6.
sanitasi
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/kelurahan
ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya dukungan politk dan moral serta kepastan 1.
anggaran yang memadai untuk pelaksanaan program
STBM tngkat provinsi
Adanya optmalisasi koordinasi antar SKPD dan 2.
pemangku kepentngan untuk sinergi program dan
investasi STBM
Adanya penyediaan dan revitalisasi sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya pengarusutamaan perubahan perilaku 4.
Adanya kepastan target ODF secara Kuanttas (seluruh 5.
komunitas) maupun Kualitas (penjaminan kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 6.
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Terlaksananya 7. updatng data desa/kelurahan ODF
Terlaksananya peningkatan kapasitas tentang STBM 8.
bagi kabupaten/kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya peningkatan desa/kelurahan ODF 9.
menuju Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5
pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinyanya penyediaan pilihan opsi teknologi 5 10.
Pilar STBM dan kondisi daerah
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya upaya 7. updatng data desa/kelurahan ODF
Adanya upaya peningkatan kapasitas tentang STBM bagi 8.
kabupaten/kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya peningkatan desa/kelurahan ODF menuju 9.
Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5 pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan produksi sesuai dengan pilihan opsi 10.
teknologi 5 Pilar STBM dan kondisi daerah
57 56
Tabel 4
Strategi Pelaksanaan STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Sasaran Strategis Strategi pelaksanaan
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Dukungan politk dan moral serta kepastan 1.
anggaran yang memadai untuk pelaksanaan
program STBM
Adanya penyediaan dan revitalisasi sanitarian 2.
Adanya koordinasi dan sinergi program untuk 3.
implementasi STBM
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya pengarusutamaan perubahan 4.
perilaku
Adanya kepastan target ODF secara Kuanttas 5.
(seluruh komunitas) maupun Kualitas (penjaminan
kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 6.
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/kelurahan
ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan advokasi STBM secara berjenjang di provinsi 1.
Melaksanakan revitalisasi sanitarian 2.
Menyelenggarakan pertemuan koordinasi rutn antar 3.
SKPD dan pemangku kepentngan lainnya melalui Pokja
AMPL untuk penatalaksanaan sinergi program dan
investasi STBM
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan program komunikasi pengarusutamaan 4.
perubahan perilaku melalui STBM dengan
menggunakan berbagai media dan memanfaatkan
semua event dan sumber daya yang ada
Memberikan target tahunan kepada setap puskesmas 1 5.
desa/kelurahan/puskesmas mencapai ODF
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Meningkatkan upaya penerapan Pemasaran Sanitasi 6.
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya upaya 7. updatng data desa/kelurahan ODF
Adanya upaya peningkatan kapasitas dan 8.
pembelajaran tentang STBM bagi provinsi dan
kabupaten/kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya peningkatan desa/kelurahan ODF 9.
menuju Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5
pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan produksi sesuai dengan 10.
pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM dan kondisi
daerah
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif :
Melakukan kompilasi 7. updatng data desa/kelurahan
ODF sesuai dengan data yang dikirimkan kabupaten/
kota
Melaksanakan peningkatan kapasitas dan pembelajaran 8.
STBM bagi provinsi dan kabupaten/kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan pendokumentasian pembelajaran dari 9.
kabupaten/kota yang sudah berhasil melaksanakan
Sanitasi Total menjadi 5 pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Melaksanakan peningkatan produksi sesuai dengan 10.
pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM dan kondisi daerah
57 56
Tabel 5
Program dan Kegiatan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Strategi pelaksanaan
Program
strategis
Kegiatan strategis
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju
Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan advokasi STBM secara 1.
berjenjang di provinsi
Melaksanakan revitalisasi sanitarian 2.
Menyelenggarakan pertemuan koordinasi 3.
rutn antar SKPD dan pemangku
kepentngan lainnya melalui Pokja AMPL
untuk penatalaksanaan sinergi program
STBM
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Peningkatan 1. awareness sanitasi untuk prioritasi
pembangunan melalui mekanisme Musrenbang
dengan memasukkan isu STBM
Penyusunan regulasi dan perencanaan terkait 2.
STBM atau AMPL
Re-sosialisasi STBM di seluruh level dan 3.
pemangku kepentngan
Penatalaksanaan sinergi investasi STBM antar 4.
SKPD dan pemangku kepentngan lainnya terkait
STBM
Penyelenggaraan Kompetsi STBM antar 5.
kabupaten/kota dengan memberikan reward atas
keberhasilan ODF untuk kabupaten/kota
Penyusunan Eksistng dan Kebutuhan Sanitarian 6.
di kabupaten/kota di provinsinya
Pelaksanaan peningkatan kapasitas Sanitarian di 7.
kabupaten/kota
Pelaksanaan pertemuan berbagi pengalaman 8.
dan pembelajaran antar sanitarian dan bidan
berprestasi tentang STBM dari masing masing
kabupaten/kota secara rutn
Pertemuan koordinasi rutn antar SKPD dan 9.
pemangku kepentngan lainnya melalui Pokja
AMPL untuk penatalaksanaan sinergi program
STBM
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan program komunikasi 4.
pengarusutamaan perubahan perilaku
melalui STBM dengan menggunakan
berbagai media dan memanfaatkan
semua event dan sumber daya yang ada
Memberikan target tahunan kepada 5.
setap puskesmas 1 desa/kelurahan/
puskesmas mencapai ODF
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Pelaksanaan program komunikasi 10.
pengarusutamaan perubahan perilaku melalui
STBM dengan menggunakan berbagai media dan
memanfaatkan semua event dan sumber daya
yang ada
Pembuatan SE Dinas Kesehatan tentang target 11.
tahunan setap puskesmas 1 desa/kelurahan/
puskesmas mencapai ODF
Pelaksanaan monitoring verifkasi ODF secara 12.
kuanttas dan kualitas di daerah pemicuan
maupun daerah non pemicuan yang mempunyai
indikasi ODF
Selebrasi ODF untuk advokasi lintas kabupaten/ 13.
kota
Monitoring dan evaluasi peningkatan akses 14.
sanitasi masyarakat
Pertemuan evaluasi dan pembelajaran tahunan 15.
Kinerja STBM bersama kabupaten/kota dan mitra
kerja
59 58
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Melakukan Meningkatkan upaya 6.
penerapan Pemasaran Sanitasi
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Riset Pasar Sanitasi setap provinsi 16.
Pelathan dan Pembentukan Forum Komunikasi 17.
Tukang Sanitasi sesuai dengan pilihan opsi
teknologi dan kondisi daerah
Pelathan dan Pembentukan Asosiasi Pengusaha 18.
Sanitasi sesuai dengan kebutuhan kabupaten/
kota
Penyusunan kebutuhan dana, identfkasi sumber 19.
permodalan, dan pengembangan kerjasama
untuk bisnis sanitasi kabupaten/kota
Pelaksanaan Monitoring Pemasaran Sanitasi 20.
secara berkelanjutan
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/
kelurahan 5 Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan kompilasi 7. updatng data desa/
kelurahan ODF sesuai dengan data yang
dikirimkan kabupaten/kota
Melaksanakan peningkatan kapasitas dan 8.
pembelajaran STBM bagi provinsi dan
kabupaten/kota
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Kompilasi 21. updatng data desa/kelurahan ODF
sesuai dengan data yang dikirimkan kabupaten/
kota
Penyusunan Peta Kinerja STBM kabupaten/kota 22.
Peningkatan Kapasitas dan pembelajaran STBM 23.
bagi kabupaten/kota
Penandatanganan kerjasama dengan perguruan 24.
tnggi untuk peningkatan kapasitas STBM dan
KKN mahasiswa
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan pendokumentasian 9.
pembelajaran dari kabupaten/kota yang
sudah berhasil melaksanakan Sanitasi
Total menjadi 5 pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Melaksanakan peningkatan produksi 10.
sesuai dengan pilihan opsi teknologi 5
Pilar STBM dan kondisi daerah
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Pertemuan Pembelajaran Pelaksanaan 5 Pilar 25.
STBM
Penyusunan tulisan Pembelajaran Sanitasi Total 5 26.
Pilar STBM yang berasal dari kabupaten/kota
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Pelaksanaan peningkatan produksi sesuai dengan 27.
pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM dan kondisi
daerah

Strategi pelaksanaan
Program
strategis
Kegiatan strategis
59 58
Lampiran 02
Gambaran Umum Roadmap Percepatan STBM 2013-2015 Tingkat Kabupaten/Kota
Tabel 1
Isu dan sub-isu Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013-2015
Isu strategis Sub isu strategis
Belum
termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan
intervensi
STBM untuk
dikembangkan
menjadi desa/
kelurahan ODF
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan Lingkungan yang Kondusif: (1)
Belum adanya komitmen eksekutf dan legislatf untuk menempatkan STBM secara
khusus AMPL secara keseluruhan sebagai salah satu prioritas pembangunan
Belum optmalnya koordinasi pelaksanaan STBM di kabupaten/kota
Perlunya revitalisasi sanitarian;
Peningkatan Kebutuhan Sanitasi: (2)
Pentngnya pengarusutamaan perubahan perilaku
Pentngnya memastkan target ODF untuk: Kuanttas (seluruh komunitas) dan Kualitas
(penjaminan kualitas)
Peningkatan Penyediaan Sanitasi: (3)
Pentngnya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi
Belum
termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan
ODF untuk
dikembangkan
menjadi desa/
kelurahan 5 Pilar
STBM
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar STBM:
Peningkatan Lingkungan yang Kondusif: (7)
Pentngnya updatng data desa/kelurahan ODF
Perlunya peningkatan kapasitas bagi Puskesmas, Kecamatan serta Desa/kelurahan
Peningkatan Kebutuhan Sanitasi: (8)
Pentngnya meningkatkan desa/kelurahan ODF untuk meneruskan menuju Sanitasi Total
dengan menerapkan 4 pilar STBM lainnya
Peningkatan Penyediaan Sanitasi: (9)
Pentngnya penyediaan pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM sesuai dengan kondisi daerah
Tabel 2
Tujuan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Isu strategis Tujuan strategis
Belum
termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan
intervensi
STBM untuk
dikembangkan
menjadi desa/
kelurahan ODF
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Meningkatnya komitmen eksekutf dan legislatf untuk menempatkan STBM secara khusus 1.
AMPL secara keseluruhan sebagai salah satu prioritas pembangunan
Meningkatnya koordinasi pelaksanaan STBM di kabupaten/kota 2.
Terlaksananya revitalisasi sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya upaya pengarusutamaan perubahan perilaku 4.
Terlaksananya kepastan target ODF secara Kuanttas (seluruh komunitas) maupun Kualitas 5.
(penjaminan kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 6.
Belum
termanfaatkannya
potensi desa/
kelurahan
ODF untuk
dikembangkan
menjadi desa/
kelurahan 5 Pilar
STBM
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Terlaksananya 7. updatng data desa/kelurahan ODF
Terlaksananya peningkatan kapasitas tentang STBM bagi Puskesmas, Kecamatan, Desa/ 8.
Kelurahan
Peningkatan kebutuhan sanitasi :
Terlaksananya peningkatan desa/kelurahan ODF menuju Sanitasi Total menjadi desa/ 9.
kelurahan 5 pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Terjadinyanya penyediaan pilihan opsi teknologi 5 Pilar STBM dan kondisi daerah 10.
61 60
Tabel 3
Sasaran Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Tujuan strategis Sasaran Strategis
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Meningkatnya komitmen eksekutf dan legislatf 1.
untuk menempatkan STBM secara khusus AMPL
secara keseluruhan sebagai salah satu prioritas
pembangunan
Meningkatnya koordinasi pelaksanaan STBM di 2.
kabupaten/kota
Terlaksananya revitalisasi antar sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya upaya pengarusutamaan perubahan 4.
perilaku
Terlaksananya kepastan target ODF secara Kuanttas 5.
(seluruh komunitas) maupun Kualitas (penjaminan
kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 6.
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya dukungan politk dan moral untuk 1.
pelaksanaan program STBM
Adanya koordinasi pelaksanaan STBM di kabupaten/ 2.
kota untuk sinergi program dan investasi untuk STBM
Adanya revitalisasi sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya pengarusutamaan perubahan perilaku 4.
Adanya kepastan target ODF secara Kuanttas 5.
(seluruh komunitas) maupun Kualitas (penjaminan
kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan kegiatan pemasaran sanitasi 6.
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Terlaksananya 7. updatng data desa/kelurahan ODF
Terlaksananya peningkatan kapasitas dan berbagi 8.
pembelajaran tentang STBM bagi Puskesmas,
Kecamatan, Desa/Kelurahan
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Terlaksananya peningkatan desa/kelurahan ODF 9.
menuju Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5 pilar
STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Terjadinyanya penyediaan pilihan opsi teknologi 5 Pilar 10.
STBM dan kondisi daerah
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar
STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya upaya 7. updatng data desa/kelurahan ODF
Adanya upaya peningkatan kapasitas dan berbagi 8.
pembelajaran tentang STBM bagi puskesmas,
kecamatan maupun kabupaten kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya peningkatan desa/kelurahan ODF 9.
menuju Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5 pilar
STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan produksi sesuai dengan pilihan 10.
opsi teknologi dan kondisi daerah
Tabel 4
Strategi Pelaksanaan STBM di Indonesia Tahun 2013 2015
Sasaran Strategis Strategi pelaksanaan
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju
Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya dukungan politk dan moral untuk 1.
pelaksanaan program STBM
Adanya koordinasi pelaksanaan STBM di 2.
kabupaten/kota untuk sinergi program dan
investasi untuk STBM
Adanya revitalisasi sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya pengarusutamaan perubahan 4.
perilaku
Adanya kepastan target ODF secara 5.
Kuanttas (seluruh komunitas) maupun
Kualitas (penjaminan kualitas)
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan kegiatan pemasaran 6.
sanitasi
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan advokasi STBM secara berjenjang di kabupaten/ 1.
kota
Menyelenggarakan pertemuan koordinasi rutn antar SKPD 2.
dan pemangku kepentngan lainnya melalui Pokja AMPL untuk
penatalaksanaan sinergi program dan investasi STBM
Melaksanakan revitalisasi sanitarian 3.
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan program komunikasi pengarusutamaan 4.
perubahan perilaku melalui STBM dengan menggunakan
berbagai media dengan memanfaatkan semua event dan
sumber daya yang ada
Memberikan target tahunan kepada setap puskesmas 1 desa/ 5.
kelurahan/puskesmas mencapai ODF dengan melakukan
pemicuan awal terhadap 4-5 desa/kelurahan
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Melaksanakan upaya peningkatan Pemasaran Sanitasi 6.
61 60
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan
5 Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Adanya upaya 7. updatng data desa/
kelurahan ODF
Adanya upaya peningkatan kapasitas dan 8.
berbagi pembelajaran tentang STBM bagi
provinsi dan kabupaten/kota
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Adanya upaya peningkatan desa/kelurahan 9.
ODF menuju Sanitasi Total menjadi desa/
kelurahan 5 pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Adanya peningkatan produksi sesuai 10.
dengan pilihan opsi teknologi dan kondisi
daerah
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5 Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan kompilasi 7. updatng data desa/kelurahan ODF sesuai
dengan data yang dikirimkan oleh puskesmas
Melaksanakan peningkatan kapasitas dan berbagi 8.
pembelajaran STBM bagi puskesmas maupun kecamatan dan
desa/kelurahan
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan pendokumentasian peningkatan desa/kelurahan 9.
ODF menuju Sanitasi Total menjadi desa/kelurahan 5 pilar
STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Melaksanakan peningkatan produksi sesuai dengan pilihan opsi 10.
teknologi dan kondisi daerah
Tabel 5
Program dan Kegiatan Strategis STBM di Indonesia Tahun 2013 - 2015
Strategi pelaksanaan Program strategis Kegiatan strategis
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju
Desa/kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan advokasi STBM secara 1.
berjenjang di kabupaten/kota
Melakukan penatalaksanaan sinergi 2.
program dan investasi STBM antar
pemangku kepentngan untuk
implementasi STBM, terutama
pemanfaatan BOS, BOK dan ADD
Melaksanakan revitalisasi sanitarian 3.
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Desa/kelurahan intervensi STBM menuju Desa/
kelurahan ODF:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Peningkatan 1. awareness sanitasi untuk prioritasi
dan investasi sanitasi melalui Musrenbang
dengan memasukan isu STBM
Penyusunan regulasi dan perencanaan terkait 2.
STBM atau AMPL
Re-sosialisasi STBM di seluruh puskesmas, 3.
kecamatan maupun desa/kelurahan dengan
memanfaatkan semua even yang ada
Penyelenggaraan Kompetsi STBM antar 4.
kabupaten/kota dengan pemberian Reward
untuk puskesmas, kecamatan dan desa/
kelurahan ODF
Penyusunan model kebutuhan anggaran untuk 5.
mencapai ODF desa/kelurahan dan kecamatan
Penatalaksanaan sinergi program dan investasi 6.
STBM antar pemangku kepentngan untuk
implementasi STBM, terutama pemanfaatan
BOS, BOK dan ADD
Pertemuan koordinasi rutn antar SKPD dan 7.
pemangku kepentngan lainnya melalui Pokja
AMPL untuk penatalaksanaan sinergi program
STBM
Penyelenggaraan peningkatan kapasitas bagi 8.
Sanitarian di wilayah kabupaten/kota-nya
Pelibatan Bidan sebagai tenaga penyelia STBM di 9.
desa/kelurahan
Pertemuan berbagi pengalaman antar Sanitarian 10.
dan Bidan terkait STBM di wilayah kabupaten/
kota-nya
63 62
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan program komunikasi 4.
pengarusutamaan perubahan perilaku
melalui STBM dengan menggunakan
berbagai media dengan memanfaatkan
semua event dan sumber daya yang ada
Memberikan target tahunan kepada 5.
setap puskesmas 1 desa/kelurahan/
puskesmas mencapai ODF dengan
melakukan pemicuan awal terhadap 4-5
desa/kelurahan
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Pelaksanaan program komunikasi 11.
pengarusutamaan perubahan perilaku melalui
STBM dengan menggunakan berbagai media
dengan memanfaatkan semua event dan sumber
daya yang ada
Pembuatan SE Dinas Kesehatan tentang target 12.
tahunan setap puskesmas 1 desa/kelurahan/
puskesmas mencapai ODF dengan melakukan
pemicuan awal terhadap 4-5 desa/kelurahan
Pelaksanaan verifkasi ODF secara kuanttas dan 13.
kualitas di daerah pemicuan
Pelaksanaan verifkasi ODF secara kuanttas 14.
dan kualitas di daerah non pemicuan yang
diindikasikan ODF
Selebrasi ODF untuk advokasi di desa/kelurahan 15.
atau kecamatan
Monitoring dan evaluasi peningkatan akses 16.
sanitasi masyarakat sesuai target tahunan
setap puskesmas 1 desa/kelurahan/ puskesmas
mencapai ODF
Pertemuan evaluasi dan pembelajaran tahunan 17.
Kinerja STBM bersama daerah dan mitra kerja
sesuai target tahunan setap puskesmas 1 desa/
kelurahan/ puskesmas mencapai ODF
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Melaksanakan upaya peningkatan 6.
Pemasaran Sanitasi
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Peningkatan penyediaan sanitasi:
Sosialisasi Panduan Pilihan Opsi Teknologi dan 18.
Tukang Sanitasi untuk STBM sesuai dengan
kondisi daerah
Pelathan tukang sanitasi sesuai dengan pilihan 19.
opsi teknologi dan kondisi daerah
Pembentukan forum komunikasi tukang sanitasi 20.
Pelathan pengusaha sanitasi sesuai dengan 21.
pilihan opsi teknologi dan kondisi daerah
Pembentukan asosiasi pengusaha sanitasi 22.
kabupaten/kota
Penyusunan kebutuhan dana, identfkasi sumber 23.
permodalan, dan pengembangan kerjasama
untuk bisnis sanitasi tngkat kabupaten/kota
Pelaksanaan Monitoring Pemasaran Sanitasi 24.
secara berkelanjutan
Strategi pelaksanaan Program strategis Kegiatan strategis
63 62
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/
kelurahan 5 Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Melakukan kompilasi 7. updatng data
desa/kelurahan ODF sesuai dengan data
yang dikirimkan oleh puskesmas
Melaksanakan peningkatan kapasitas 8.
dan berbagi pembelajaran STBM bagi
puskesmas maupun kecamatan dan
desa/kelurahan
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Melaksanakan pendokumentasian 9.
peningkatan desa/kelurahan ODF
menuju Sanitasi Total menjadi desa/
kelurahan 5 pilar STBM
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Melaksanakan peningkatan produksi 10.
sesuai dengan pilihan opsi teknologi dan
kondisi daerah
Program
pengendalian
penyakit dan
penyehatan
lingkungan
Desa/kelurahan ODF menuju Desa/kelurahan 5
Pilar STBM:
Peningkatan lingkungan yang kondusif:
Kompilasi 25. updatng data desa/kelurahan ODF
sesuai dengan data yang dikirimkan oleh
puskesmas
Penyusunan Peta Kinerja STBM Kabupaten/Kota 26.
Peningkatan Kapasitas dan berbagi pembelajaran 27.
STBM bagi puskesmas maupun kecamatan dan
desa/kelurahan/kelurahan
Peningkatan kebutuhan sanitasi:
Pertemuan Pembelajaran dari desa/kelurahan 28.
yang sudah berhasil melaksanakan Pelaksanaan
5 Pilar STBM
Penyusunan tulisan Pembelajaran Sanitasi Total 5 29.
Pilar STBM
Pencanangan Pemanfaatan Nilai Ekonomis 30.
Sampah untuk perubahan perilaku terkait
sanitasi
Pelaksanaan perluasan pelaksanaan 5 Pilar STBM 31.
Selebrasi 5 pilar STBM untuk advokasi di daerah 32.
Peningkatan penyediaan sanitasi :
Pelaksanaan peningkatan produksi sesuai dengan 33.
pilihan opsi teknologi dan kondisi daerah

Strategi pelaksanaan Program strategis Kegiatan strategis
65 64
Lampiran 03
Gambaran Umum Sinergi Program terkait STBM di Tingkat Kabupaten/Kota
No Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sept Okt Nov Des
1.
Pertemuan Pokja AMPL
kabupaten/kota membahas
sinergi program terkait
STBM minimal Bappeda,
Dinas PU, Kesehatan dan
BPMD dan BPLH
2. Serial FGD di masyarakat:
Identfkasi a.
permasalahan dan
potensi lokasi program
oleh Dinkes dan Dinas
PU dan BPLH
Identfkasi kelembagaan b.
oleh BPMD
Penyusunan RKM c.
3-5 tahun, terkait
penyediaan air dan
sanitasi, oleh Dinkes dan
BPMD
Penyiapan TKM terkait d.
pembangunan dan
pengelolaan sarana air
dan sanitasi, oleh BPMD
Menyepakat jadual e.
pemicuan dan
pembangunan sarana
oleh Dinkes dan Dinas
PU
3. Pemicuan STBM
STBM dimulai dengan a.
Stop BABS dan pilar lain
oleh Dinkes
Menyepakat opsi b.
teknologi dan
konsekuensi pembiayaan
dan pengelolaannya
oleh Dinkes dan Dinas
PU
Mengumpulkan c.
kontribusi masyarakat
oleh BPMD
Menyepakat Tim d.
Pembangun Sarana dan
Pengelolaan Sarana
oleh BPMD
4.
Pembangunan Jamban
Komunal oleh Dinas PU
bersama masyarakat dan
pihak lain yang ditunjuk
65 64
5.
Pemanfaatan dan
pengelolaan Jamban
Komunal oleh TKM
6.
Pengembangan pilar STBM
lainnya oleh Dinkes, BPLH
bersama TKM dan natural
leader
Pilar 2 CTPS a.
Pilar 3 PAM-RT b.
Pilar 4 Sampah Rumah c.
Tangga
Pilar 5 Limbah Cair d.
Rumah Tangga
7 Monitoring dan evaluasi
TKM dan a. natural leader
melakukan monitoring
rutn dan memberikan
laporan kepada Bidan
untuk diteruskan ke
Sanitarian
Sanitarian memberikan b.
laporan rutn ke
kabupaten/kota
Kabupaten/kota c.
memberikan laporan
ke provinsi untuk
diteruskan ke pusat
Dalam kerangka sinergi terkait pelaksanaan program STBM dengan seluruh pemangku kepentngan yang
ada di kabupaten/kota, untuk LSM maupun CSR dari dunia usaha, dapat memilih peran :
Melakukan sekaligus pelaksanaan kebijakan STBM menjadi salah satu prioritas pembangunan sektor sanitasi a.
berbasis masyarakat, serta melaksanakan pendampingan program langsung ke masyarakat.
Melaksanakan pendampingan program langsung ke masyarakat sesuai dengan gambaran kegiatan di atas. b.
Melaksanakan kedua-duanya kegiatan di atas, atau memilih salah satu. c.

No Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sept Okt Nov Des
66
Dafar kepustakaan
Laporan 1. desk study High Five tentang Sanitasi Berbasis Masyarakat Perkotaan, 2012
Laporan Lokakarya Menemukan Strategi Perluasan Pelaksanaan Program STBM di Indonesia, di 2.
Bogor, pada tanggal 7 11 Agustus 2012