Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN AKHIR BIOANALISIS

PERCOBAAN 2
PENETAPAN KADAR SGPT PADA TIKUS TERINDUKSI PARASETAMOL








KELOMPOK 1A :

Amalia Ulfa G1F001001
Diah Ayu Wulandari G1F001003
Herlina Agustyani G1F001005
Nurmaningtyas F. G1F001007
Dwi Justitia Aprilia G1F001009

ASISTEN : Rupa Lesty dan Amanda




LABORATORIUM KIMIA-FARMASI
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2014
PERCOBAAN 2
PENETAPAN KADAR SGPT PADA TIKUS TERINDUKSI PARASETAMOL

I. TUJUAN
Melakukan penetapan kadar obat dalam urin dan menentukan jumlah
metabolitnya dalam urin.

II. PENDAHULUAN
Hati adalah organ terbesar di dalam tubuh yang terletak disebelah kanan atas
rongga perut, tepat dibawah diafragma (sekat yang membatasi daerah dada dan perut).
Hati mempunyai kapasitas cadangan yang besar dan kemampuan untuk regenerasi yang
besar pula. Jaringan hati dapat diambil sampai tiga perempat bagian dan sisanya akan
tumbuh kembali sampai ke ukuran dan bentuk yang normal. Jika hati yang rusak hanya
sebagian kecil, belum menimbulkan gangguan yang berarti (Wijayakusuma, 2008).
Seperti ukurannya yang besar, hati juga mempunyai peranan besar dan memiliki
lebih dari 500 fungsi. Berikut ini fungsi-fungsi utama hati :
1. Menampung darah
2. Membersihkan darah untuk melawan infeksi
3. Memproduksi dan mengekskresikan empedu
4. Membantu menjaga keseimbangan glukosa darah (metabolisme karbohidrat)
5. Membantu metabolisme lemak
6. Membantu metabolisme protein
7. Metabolisme vitamin dan mineral
8. Menetralisir zat-zat beracun dalam tubuh (detoksifikasi)
9. Mempertahankan suhu tubuh
(Wijayakusuma, 2008).

Enzim-enzim yang mengatalisis pemindahan reversible satu gugus amino antara
suatu asam amino dan suatu asam alfa-keto disebut aminotransferase, atau transaminase
oleh tata nama lama yang masih populer (Saucher dan McPherson, 2002). Dua
aminotransferase yang paling sering diukur adalah alanine aminotransferase(ALT), yang
dahulu disebut glutamate-piruvat transaminase (GPT), dan aspartate
aminotransferase (AST), yang dahulu disebut glutamate-oxaloacetate transaminase
(GOT). Baik ALT maupun AST memerlukan piridoksal fosfat (Vitamin B6) sebagai
kofaktor. Zat ini sering ditambahkan ke reagen pemeriksaan untuk meningkatkan
pengukuran enzim-enzim ini seandainya terjadi defisiensi vitamin b6 (missal,
hemodialysis, malnutrisi) (Saucher dan McPherson, 2002).
Aminotransferase tersebar luas di tubuh, tetapi terutama banyak dijumpai di hati,
karena peran penting organ ini dalam sintesis protein dan dalam menyalurkan asam-asam
amino ke jalur-jalur biokimiawi lain. Hepatosit pada dasarnyaa adalah satu-satunya sel
dengan konsentrasi ALT yang tinggi, sedangkan ginjal, jantung, dan otot rangka
mengandung kadar sedang. ALT dalam jumlah yang lebih sedikit dijumpai di pancreas,
paru, lima, dan eritrosit. Dengan demikian, ALT serum memiliki spesifitas yang relative
tinggi untuk kerusakan hati. Sejumlah besar AST terdapat di hati, miokardium, dan otot
rangka; eritrosit juga memiliki AST dalam jumlah sedang. Hepatosit mengandung AST
tiga sampai empat kali lebih banyak daripada ALT (Saucher dan McPherson, 2002).
Aminotransferase merupakan indikator yang baik untuk kerusakan hati apabila
keduanya meningkat. Cedera akut pada hati, seperti karena hepatitis, dapat
menyebabkan peningkatan baik AST maupun ALT menjadi ribuan IU/Liter. Pngukuran
aminotransferase setiap minggu mungkin sangat bermanfaat untuk memantau
perkembangan dan pemulihan hepatitis atau cedera hati lain (Saucher dan McPherson,
2002).
Salah satu cara untuk mendeteksi adanya kerusakan hati adalah dengan
memeriksa aktivitas enzim Glutamat Piruvat Transaminase (GPT) atau Alanin
Aminotransferase (ALT) dalam serum. Enzim ini terdapat dalam sitoplasma dan
mitokondria sel hati. Bila terjadi kerusakan hati akan terjadi peningkatan permeabilitas
membran sel sehingga komponen-komponen sitoplasma akan keluar dari sel dan apabila
membran intraseluler seperti mitokondria rusak maka enzim-enzim yang terdapat di
dalamnya akan mengalami peningkatan aktivitas dalam serum. Berdasarkan hal tersebut,
maka peningkatan aktivitas enzim GPT atau ALT dalam serum dapat diukur dan
dijadikan salah satu parameter kerusakan fungsi hati. Enzim Glutamat Piruvat
Transaminase (GPT) atau Alanin Aminotransferase (ALT) hanya terdapat dalam
sitoplasma sel hati sehingga enzim ini lebih sensitif untuk pemeriksaan kerusakan fungsi
hati.
Pada SGPT, serum yang akan dianalisis direaksikan dengan alfa ketoglutarat dan
L-alanin dalam larutan buffer. Penurunan NADH diukur fotometri yang sebanding
dengan aktivitas enzim SGPT (Sandritter dan Thomas, 1998). Reaksi dari kerja enzim
SGPT adalah Glutamat piruvat transaminase atau alanin transaminase (ALT) mengkatalis
transfer gugus amino dari L-alanin ke 2-oxoglutarat untuk membentuk L-glutamat dan
Piruvat. Kemudian Laktat dehidrogenase (LDH) mengkonversi piruvat menjadi D-laktat
dengan mengoksidasi NADH menjadi NAD
+.


III. PRINSIP ANALISIS
Penetapan kadar SGPT pada tikus terinduksi parasetamol pada praktikum kali ini
menggunakan metode Spektrofotometri UV. Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan
hukum Lambert Beer, bila cahaya monokromatik melalui suatu media (larutan), maka
sebagian cahaya tersebut diserap, sebagian dipantulkan, dan sebagian lagi dipancarkan.
Transmitans adalah perbandingan intensitas cahaya yang ditransmisikan ketika melewati
sampel dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel. Persyaratan
hukum Lambert Beer, antara lain: radiasi yang digunakan harus monokromatik, energi
radiasi yang diabsorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia, sampel (larutan)
yang mengabsorpsi harus homogen, tidak terjadi fluoresensi atau phosporesensi, dan
indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi, jadi larutan tidak pekat (harus
encer) (Basset, 1994).
Spektrum UV merupakan hasil interaksi antara radiasi elektromagnetik (REM)
dengan molekul. REM merupakan bentuk energi radiasi yang mempunyai sifat
gelombang dan partikel (foton). Karena bersifat sebagai gelombang maka beberapa
parameter perlu diketahui, misalnya panjang gelombang, frekuensi, bilangan gelombang
dan serapan. REM mempunyai vektor listrik dan vektor magnet yang bergetar dalam
bidang- bidang yang tegak lurus satu sama lain dan masing masing tegak lurus pada arah
perambatan radiasi. Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV
berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang
190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium disebut
juga heavy hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah
di laut dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron,
sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutron. (Khopkar,
2003).
Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat
menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna bening dan
transparan. Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan
penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa
preparasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut
sempurna. Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi. Semakin banyak sinar yang diserap
sample (Absorbansi tinggi), maka konsentrasi protein terlarut semakin besar.
Spektrofotometri UV memang lebih simple dan mudah dibanding spektrofotometri
visible, terutama pada bagian preparasi sample. Namun harus hati-hati juga, karena
banyak kemungkinan terjadi interferensi dari senyawa lain selain analit yang juga
menyerap pada panjang gelombang UV. Hal ini berpotensi menimbulkan bias pada hasil
analisa (Day & Underwood, 2002).


Dapus :
Basset J et al., 1994, Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Khopkar, S. M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Sacher, Ronald A. dan McPherson, Richard A. 2002. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium Edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Sandritter, W. and C. Thomas. 1998. Color Atlas and Textbook of Histopathology.
Year Book Medical Publisher, Inc. Chicago.
Underwood, A. & Day, 2002, Analisis Kimia Kuantitatif, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Wijayakusuma, Hembing. 2008. Tumpas Hepatitis dengan Ramuan Herbal. Pustaka
Bunda. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai