Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Manusia pada dasarnya adalah makhluk budaya yang harus
membudayakan dirinya. Manusia sebagai makhluk budaya mampu melepaskan
diri dari ikatan dorongan nalurinya serta mampu menguasai alam sekitarnya
dengan alat pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini berbeda dengan binatang
sebagai makhluk hidup yang sama-sama makhluk alamiah dengan manusia dia
tidak dapat melepaskan dari ikatan dorongan nalurinya dan terikat erat oleh alam
sekitarnya.
Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi
nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling
sempurna yang memiliki berbagai kemampuan. Oleh karena itu, manusia wajib
bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah Swt. Manusia menurut
pandangan al-Quran, al-Quran tidak menjelaskan asal-usul kejadian manusia
secara rinci. Dalam hal ini al-Quran hanya menjelaskan mengenai prinsip-
prinsipnya saja. Ayat-ayat mengenai hal tersebut terdapat dalam surat Nuh 17,
Ash-Shaffat 11, Al-Mukminuun 12-13, Ar-Rum 20, Ali Imran 59, As-Sajdah 7-9,
Al-Hijr 28, dan Al-Hajj 5.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, manusia diartikan sebagai
makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain); insan; orang
(1989:558). Menurut pengertian ini manusia adalah makhluk Tuhan yang diberi
potensi akal dan budi, nalar dan moral untuk dapat menguasai makhluk lainnya
demi kemakmuran dan kemaslahatannya. Dalam bahasa Arab, kata manusia ini
bersepadan dengan kata-kata ns, basyar, insn, maru, ins dan lain-lain.
Meskipun bersinonim, namun kata-kata tersebut memiliki perbedaan dalam hal
makna spesifiknya. Kata ns misalnya lebih merujuk pada makna manusia
sebagai makhluk sosial. Sedangkan kata basyar lebih menunjuk pada makna
manusia sebagai makhluk biologis. Begitu juga dengan kata-kata lainnya.



2

1.2. Rumusan Masalah
1) Apa pengertian dan terbentuknya manusia?
2) Apa saja tujuan penciptaan manusia serta fungsi dan peran manusia ?
3) Apa Tugas manusia dimuka bumi?
4) Bagaimana tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah Allah
SWT?

1.3. Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui pengertian dan terbentuknya manusia.
2) Untuk mengetahui tujuan penciptaan manusia serta fungsi dan peran
manusia
3) Untuk mengetahui Tugas manusia diciptakan dimuka bumi
4) Untuk mengetahui tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah
Allah SWT

















3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh
Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi
fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran
menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah. Konsep manusia dalam Islam,
diambil dari ayat al-Quran dan Hadits. Menurut surat al-Mu'minun ayat 12-16,
manusia diciptakan Allah dari intisari tanah yang dijadikan nuhtfah dan
disimpan di tampat yang kokoh. Kemudian nuthfah itu dijadikan darah beku,
darah beku Itu dijadian mudghah,, mudghah dijadikan tulang, tulang yang
dibalut dengan daging dan kemudian dijadikan Allah makhluk lain. Surat
as-Sajdah ayat 7-9 selanjutnya menjelaskan bahwa setelah kejadian manusia
dalam kandungan mengambil bentuk, ditiupkanlah ruh oleh Allah Swt. ke
dalamnya dan dijadikannya pendenganran, penglihatan, dan perasaan. Hadits
yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan
Allah Swt ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah,
40 hari darah beku, dan 40 hari mudhgah. Berdasarkan ayat dan hadits tersebut
di atas, jelas bahwa manusia terdiri dari dua unsur, macam dan material, jasmani
dan ruhani. Pembicaraan mengenai kedua unsur ini sangat menarik karena
banyak istilah dan pendapat yang dikemukakan para ilmuwan.
Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan
sangat bergantung metodologi yang digunakan dan terhadap filosofis yang
mendasari.
1. Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens
(makhluk berkeinginan). Menurut aliran ini, manusia adalah makhluk yang
memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego),
dan social (superego). Di dalam diri manusia tedapat unsur animal (hewani),
rasional (akali), dan moral (nilai).
2. Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo
mehanibcus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap
introspeksionisme (aliran yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan
laporan subjektif dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawa
4

sadar yang tidak nampak). Behavior yang menganalisis prilaku yang Nampak
saja. Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil
proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek.
3. Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens
(manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak di pandang lagi sebagai
makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, makhluk yang
selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung
menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi
peristiwa. Padahal berpikir , memutuskan, menyatakan, memahami, dan
sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.
Dalam Al-Quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda
dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata
basyar, insan dan al-nas.
1. Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi: innama
anaa basyarun mitlukum (sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia
seperti kamu). Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis,
seperti asalnya dari tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ; al-ruum :
20), manusia makan dan minum (al-muminuum : 33).
2. Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya (al-alaq :
5), yaitu allamal insaana maa lam ya (dia mengajarkan manusia apa yang
tidak diketahuinya). Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis
atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan
memikul amanah (al-ahzar : 72). Insan adalah makhluk yang menjadi
(becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
3. Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27 walakad
dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (sesungguhnya telah
kami buatkan bagi manusia dalam al-quran ini setiap macam perumpamaan).
Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social atau
secara kolektif.
Dengan demikian Al-Quran memandang manusia sebagai makhluk
biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar, diartikan sebagai
makhluk sosial yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang lain dan atau
makhluk lain.

5

2.2. Asal Mula Manusia
2.2.1. Teori Asal Mula Manusia menurut Charles Darwin
Pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari
sejenis makhluk yang mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini yang
diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa
terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia modern dan nenek
moyangnya. Ditetapkanlah empat kelompok dasar sebagai berikut di bawah ini :
a. Australophithecines
b. Homo habilis
c. Homo erectus
d. Homo sapiens
Genus yang dianggap sebagai nenek moyang manusia yang mirip kera
tersebut oleh evolusionis digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti
"kera dari selatan". Australophitecus, yang tidak lain adalah jenis kera purba
yang telah punah, ditemukan dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka lebih
besar dan kuat dan tegap, sementara yang lain lebih kecil dan rapuh dan lemah.
Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut sebagai "Australopithecus
> Homo Habilis > Homo erectus > Homo sapiens," evolusionis secara tidak
langsung menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis
selanjutnya.

2.2.2. Asal Mula Manusia berdasarkan Al-Qur'an (Nabi Adam a.s)
Saat Allah Swt. merencanakan penciptaan manusia, ketika Allah mulai
membuat cerita tentang asal-usul manusia, Malaikat Jibril seolah khawatir
karena takut manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi. Di dalam Al-
Quran, kejadian itu diabadikan:

wa-idz qaala rabbuka lilmalaa-ikati innii khaaliqun basyaran min shalshaalin
min hama-in masnuunin. fa-idzaa sawwaytuhu wanafakhtu fiihi min ruuhii
faqa'uu lahu saajidiina
6

Artinya: "...Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
'Sesungguhnya, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-
Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr: 28-29).
Firman inilah yang membuat malaikat bersujud kepada manusia,
sementara iblis tetap dalam kesombongannya dengan tidak melaksanakan firman
Allah. Inilah dosa yang pertama kali dilakukan oleh makhluk Allah yaitu
kesombongan. Karena kesombongan tersebut Iblis menjadi makhluk paling
celaka dan sudah dipastikan masuk neraka. Kemudian Allah menciptakan Hawa
sebagi teman hidup Adam. Allah berpesan pada Adam dan Hawa untuk tidak
mendekati salah satu buah di surga, namun Iblis menggoda mereka sehingga
terjebaklah Adam dan Hawa dalam kondisi yang menakutkan, Allah
menghukum Adam dan Hawa sehingga diturunkan kebumi dan pada akhirnya
Adam dan Hawa bertaubat. Taubat mereka diterima oleh Allah, namun Adam
dan Hawa menetap dibumi (Baca Surat Al-Baqarah Ayat 33-39). Hal ini
dijelaskan dalam firman Allah SWT dan hadis yang berbunyi:

yaa banii aadama laa yaftinannakumu alsysyaythaanu kamaa akhraja
abawaykum mina aljannati yanzi'u 'anhumaa libaasahumaa liyuriyahumaa
saw-aatihimaa innahu yaraakum huwa waqabiiluhu min haytsu laa
tarawnahum innaa ja'alnaa alsysyayaathiina awliyaa-a lilladziina laa
yu/minuuna
Artinya: Hai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh
setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, ia
menanggalkan dari keduanya pakaian mereka untuk memperlihatkan kepada
mereka aurat mereka. (Qs. Al-Araf [7]:27)
Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam (sepenuh telapak
tangan) tanah yang diambil dari seluruh bagiannya. Maka datanglah anak
Adam (memenuhi penjuru bumi dengan beragam warna kulit dan tabiat). Di
antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan di antara yang
demikian. Di antara mereka ada yang bertabiat lembut, dan ada pula yang
7

keras, ada yang berperangai buruk (kafir) dan ada yang baik (Mukmin). (HR.
Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi, berkata Tirmidzi : Hasan shahih.
Dishahihkan oleh Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan
Tirmidzi juz 3 hadits 2355 dan Shahih Sunan Abu Daud juz 3 hadits 3925)
Adam adalah ciptaan Allah yang memiliki akal sehingga memiliki
kecerdasan, bisa menerima ilmu pengetahuan dan bisa mengatur kehidupan
sendiri. Inilah keunikan manusia yang Allah ciptakan untuk menjadi penguasa
didunia, untuk menghuni dan memelihara bumi yang Allah ciptakan. Dari Adam
inilah cikal bakal manusia diseluruh permukaan bumi. Melalui pernikahannya
dengan Hawa, Adam melahirkan keturunan yang menyebar ke berbagai benua
diseluruh penjuru bumi; menempati lembah, gunung, gurun pasir dan wilayah
lainnya diseluruh penjuru bumi. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT
yang berbunyi:

walaqad karramnaa banii aadama wahamalnaahum fii albarri waalbahri
warazaqnaahum mina alththhayyibaati wafadhdhalnaahum 'alaa katsiirin
mimman khalaqnaa tafdhiilaan
Artinya : "Dan sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam; Kami angkut
mereka didaratan dan di lautan; Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-
baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyak
makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. al-I sra' [17]: 70)
Demikianlah dua pendapat tentang asal mula manusia. Tentang siapa
sebenarnya manusia pertama di bumi, semua tergantung dengan keyakinan
kalian masing-masing, yang jelas dan pasti yang kami yakini bahwa Nabi Adam
a.s adalah manusia pertama sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Quran.

2.3. Proses terjadinya manusia.
2.3.1. Proses Penciptaan Manusia Menurut Al-Quran
Manusia dalam pandangan Islam tediri atas dua unsur, yaitu jasmani dan
rohani. Jasmani manusia bersifat materi yang berasal dari unsur-unsur sari pati
tanah. Sedangkan roh manusia merupakan substansi immateri, yang
keberadaannya dia alam baqa nanti merupakan rahasia Allah SWT. Proses
8

kejadian manusia telah dijelaskan dalam Al Quranul Karim dan Hadits
Rasulullah SAW, hal tersebut dijelaskan al-Quran dalam surat al-Hajj ayat 5
yang artinya :

yaa ayyuhaa alnnaasu in kuntum fii raybin mina alba'tsi fa-innaa
khalaqnaakum min turaabin tsumma min nuthfatin tsumma min 'alaqatin
tsumma min mudhghatin mukhallaqatin waghayri mukhallaqatin linubayyina
lakum wanuqirru fii al-arhaami maa nasyaau ilaa ajalin musamman tsumma
nukhrijukum thiflan tsumma litablughuu asyuddakum waminkum man
yutawaffaa waminkum man yuraddu ilaa ardzali al'umuri likaylaa ya'lama
min ba'di 'ilmin syay-an wataraa al-ardha haamidatan fa-idzaa anzalnaa
'alayhaa almaa-a ihtazzat warabat wa-anbatat min kulli zawjin bahiijin
Artinya: Hai sekalian manusia, jika kamu dalam keraguan tentang
kebangkitan, maka (ketahuilah) sesungguhnya telah menjadikan kamu dari
tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian
dari segumpal daging yang sempurna kejadiaannya dan yang tida sempurna,
agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang
Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami
keluarkan kamu sebagi bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah
kamu kepada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan (umur
pendek) dan ada pula diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun,
supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahui...
(QS. Al-Hajj: 5)
Dalam Al Quran surat Al Mukminun ayat 12-14, Allah SWT telah
berfirman;

9



walaqad khalaqnaa al-insaana min sulaalatin min thiinin. tsumma ja'alnaahu
nuthfatan fii qaraarin makiinin. tsumma khalaqnaa alnnuthfata 'alaqatan
fakhalaqnaa al'alaqata mudhghatan fakhalaqnaa almudhghata 'izhaaman
fakasawnaa al'izhaama lahman tsumma ansya/naahu khalqan aakhara
fatabaaraka allaahu ahsanu alkhaaliqiina
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari
pati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudain airmani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk
yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. (QS
Al Mukminun : 12-14).
Tentang proses kejadian manusia ini juga dapat dilihat dalam pada QS As
Sajadah ayat 7-9 yang berbunyi:


alladzii ahsana kulla syay-in khalaqahu wabada-a khalqa al-insaani min
thiinin. tsumma ja'ala naslahu min sulaalatin min maa-in mahiinin. tsumma
sawwaahu wanafakha fiihi min ruuhihi waja'ala lakumu alssam'a waal-
abshaara waal-af-idata qaliilan maa tasykuruuna
Artinya : 7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya
dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. 8. kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang hina. 9. kemudian Dia menyempurnakan
10

dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS
As Sajadah : 7 9).
Dalam hadits Rasulullah SAW tentang kejadian manusia, beliau bersabda
yang artinya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam
perut ibunya 40 hari sebagai nutfah, kemudain sebagai alaqah seperti itu pula
(40 hari), lalu sebagai mudgah seperti itu, kemudian diutus malaikat kepadanya,
lalu malaikat itu meniupkan ruh kedalam tubuhnya. (Hadits yang diriwayatkan
oleh Bukhari r.a dan muslim).
Ketika masih berbentuk janin sampai umur empat bulan, embrio manusia
belum mempunyai ruh, karena baru ditiupkan ke janin itu setelah berumur 4
bulan (4X30 hari). Oleh karena itu, yang menghidupkan tubuh manusia itu
bukan roh, tetapi kehidupan itu sendiri sudah ada semenjak manusia dalam
bentuk nutfah. Roh yang bersifat immateri mempunyai dua daya, yaitu daya
pikir yang disebut dengan akal yang berpusat diotak, serta daya rasa yang
disebut kalbu yang berpusat di dada. Keduanya merupakan substansi dai roh
manusia.

2.3.2. Proses Penciptaan Manusia Menurut ilmu Biologi
Menurut ilmu Biologi, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan asal
kejadiannya adalah dari tanah. Hal ini telah dibuktikan dengan menggunakan
metode abu bekas bakaran dari makhluk hidup tersebut. Hasil penelitian tersebut
diketahui bahwa unsur-unsur asli yang ada pada manusia, hewan dan tumbuh-
tumbuhan sama dengan unsur-unsur yang terdapat dalam tanah, yaitu Oksigen
(O), Hidrogen (H), Zat Belerang (S), Zat Arang (C), Kalium (K), Natrium (Na),
Yodium (J), Asam Arang (CO2), Air (H2O) dan zat-zat lainyya yang berfungsi
sebagai pelengkap. Senada dengan pendapat di atas, Prof. Bahi Khuli
mengemukakan bahwa ada unsur yang sama antara debu dan jasad manusia.
Unsur-unsur tesebut adalah : Oksigen = 63 % - Karbon = 20,20 % - Hidrogen =
9,90 % - Nitrogen = 2,50 % - Kalsium = 2,45 % - Phaspor = 1,01 % - Klor =
0,16 % - Fhlor = 0,14 % - Kaporit = 0,14 % - Photasium = 0,11 % - Sodium =
0,10 % - Magnesium = 0,07 % - zat besi = 0,01 % - Yodium+Silikon+Magnet =
Molekul atom.

11

2.4. Tujuan Penciptaan Manusia
Tujuan penciptaan manusia adalah menyembah kepada penciptanya yaitu
Allah. Pengertian penyembahan kepada Allah tidak bisa di artikan secara sempit,
dengan hanya membayangkan aspek ritual yang tercermin dalam shalat saja.
Penyembahan berarti ketundukan manusia dalam hukum Allah dalam
menjalankan kehidupan di muka bumi, baik yamg menyangkut hubungan
manusia dengan tuhan maupun manusia dengan manusia.

2.5. Fungsi dan Peran Manusia
Berpedoman pada Al-Quran surah al-baqarah ayat 30-36, status dasar
manusia yang mempelopori oleh adam AS adalah sebagai khalifah. Jika khalifah
diartikan sebagai penerus ajaran Allah maka peran yang dilakukan adalah
penerus pelaku ajaran Allah dan sekaligus menjadi pelopor membudayakan
ajaran Allah Swt. Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah
sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah di antaranya adalah:
1. Belajar
2. Mengajarkan ilmu
3. Membudayakan ilmu
Oleh karena itu semua yang dilakukan harus untuk kebersamaan sesama ummat
manusia dan hamba Allah, serta pertanggung jawabannya pada 3 instansi yaitu
pada diri sendiri, pada masyarakat, pada Allah SWT.

2.6. Tugas Manusia Dimuka Bumi
Di dalam Al-Quran telah sebutkan keutamaan manusia di ciptakan di
dunia, seperti yang di firmankan surah Al-Baqarah ayat 21 yang berbunyi:

yaa ayyuhaa alnnaasu u'buduu rabbakumu alladzii khalaqakum waalladziina
min qablikum la'allakum tattaquuna

Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,( QS Al Baqarah : 21)

12

2.6.1. Manusia Sebagai Khalifah
Di dalam Al Quran telah disebutkan ayat tentang manusia sebagai
khalifah di muka bumi, yaitu di dalam Surat Al Baqarah ayat 30:

wa-idz qaala rabbuka lilmalaa-ikati innii jaa'ilun fii al-ardhi khaliifatan
qaaluu ataj'alu fiihaa man yufsidu fiihaa wayasfiku alddimaa-a wanahnu
nusabbihu bihamdika wanuqaddisu laka qaala innii a'lamu maa laa
ta'lamuuna
Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui."

(khalifah) : pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang


sesudah yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang
memahami kata khalifah ini dalam arti yang menggantikan
Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan
ketetapan-ketetapannya.

: merusak (dengan kekufuran dan maksiat)


: dia menumpahkan

: darah

: kami bertasbih

: dengan (senantiasa) memuji-Mu


: kami menyucikan-Mu
Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua predikat, yaitu
sebagai hamba Allah (`abdullah) dan sebagai wakil Allah (khalifatullah) di muka
bumi. Sebagai hamba Allah, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan.
13

Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri
kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar,
karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi
memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta
untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan
Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas
ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi
kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum
mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah
Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-
sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan
dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan
hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi
makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk
terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.
Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada
dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari
kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al imarah). Kedua, memelihara bumi
dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar riayah).
1. Memakmurkan Bumi
Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT.
Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-
luasnya umat manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat
dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak
punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.
Memakmurkan bumi juga berarti menjaga lingkungan sekitarnya, menjaga
kelestarian hutan dan para penghuninya, karena jika semuanya terjaga benar
oleh manusia, maka bencana yang diakibatkan oleh kesalahan manusia akan
sedikit kemungkinan terjadinya.
2. Memelihara Bumi
Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan
akhlak manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari
kebiasaan jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi
14

kepentingan sesaat. Karena sumber daya manusia yang rusak akan sangata
potensial merusak alam. Oleh karena itu, hal semacam itu perlu dihindari.
Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia
mempunyai tujuan yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau
penguasa (pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar
memakmurkan kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk
yang dimaksud adalah agama (Islam).
Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk
memelihara bumi dari kerusakan?, karena sesungguhnya manusia lebih
banyak yang membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh
sehingga manusia akan cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah
terjadi pada masa nabi nabi sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat
para nabi tersebut lebih senang berbuat kerusakan dari pada berbuat
kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil, seperti yang Allah sebutkan dalam
firmannya dalam surat Al Isra ayat 4:

waqadhaynaa ilaa banii israa-iila fii alkitaabi latufsidunna fii al-ardhi
marratayni walata'lunna 'uluwwan kabiiraan
Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu:
Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali
dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang
besar. (QS Al Isra : 4)
Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan
menjalankan fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan
pengrusakan terhadap Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Seperti firmannya dalam surat Al Qashash ayat 77 yang berbunyi:
15


waibtaghi fiimaa aataaka allaahu alddaara al-aakhirata walaa tansa
nashiibaka mina alddunyaa wa-ahsin kamaa ahsana allaahu ilayka walaa
tabghi alfasaada fii al-ardhi inna allaaha laa yuhibbu almufsidiina
Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al Qashash : 77)

2.6.2. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK
Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata
menyembah sebagai terjemahan dari lafal abida-yabudu-ibadatun. Beribadah
berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang
harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.
1. Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata
caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Quran maupun
hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat,
puasa, zakat, haji dan sebagainya.
2. Ibadah ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang
diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan
dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT, Jadi, setiap insan tujuan
hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang
memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat
ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan serta kesengsaraan bathin dan
diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam
kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman
Allah SWT yang berbunyi:
16



yaa ayyatuhaa alnnafsu almuthma-innatu. irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan
mardhiyyatan. faudkhulii fii 'ibaadii. waudkhulii jannatii
Artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku.
Dan masuklah ke dalam surgaku. (QS Al Fajr:27-30)
Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri
kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah
kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara
beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur
samapai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.
Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas
pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian
yang dikehendaki oleh Allah SWT adalah bertauhid kepadanya, yakni
bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan
Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun
duka. Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan
patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah
dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala
larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya.
Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan
Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.

2.7. Tanggung Jawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah Allah SWT
2.7.1. Tanggung Jawab Manusia sebagai hamba Allah SWT
Makna yang esensial dari kata abd (hamba) adalah ketaatan, ketundukan,
dan kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada Allah SWT yang
dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan dan ketundukan pada kebenaran dan
keadilan. Oleh karena itu, dalam al-quran dinyatakan dengan quu anfusakun
waahlikun naran (jagalah dirimu dan keluargamu dengan iman dari api
neraka).
17

2.7.2. Tanggung Jawab Manusia sebagai Khalifah Allah SWT
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat dan harus
dipertanggungjawabkan dihadapannya. Tugas hidup yang di muka bumi ini
adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi,
serta pengolaan dan pemeliharaan alam. Khalifah berarti wakil atau pengganti
yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi khalifah memegang mandat tuhan
untuk mewujud kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan manusia
bersifat kreatif yang memungkinkan dirinya mengolah serta mendayagunakan
apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidpnya. Oleh karena itu hidup
manusia, hidup seorang muslim akan dipenuhi dengan amaliah. Kerja keras yang
tiada henti sebab bekerja sebagai seorang muslim adalah membentuk amal saleh.



















18

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Di dalam Al-Quran kelahiran manusaia dan kesempurnaan dari mahluk yang
lain:
"...Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya,
Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan
kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah
kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr: 28-29).
Di dalam Al-Quran mengenai Peringatan Allah terhadap godaan setan kepada
manusia yang berbunyi:
Hai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, ia
menanggalkan dari keduanya pakaian mereka untuk memperlihatkan kepada mereka
aurat mereka. (Qs. Al-Araf [7]:27)
Di dalam Al Quran telah disebutkan ayat tentang tentang proses kejadian
manusia berbunyi:
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati
(berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan)
dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudain airmani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus
dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka
Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. (QS Al Mukminun : 12-14).
Artinya : 7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan
yang memulai penciptaan manusia dari tanah. 8. kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang hina. 9. kemudian Dia menyempurnakan dan
meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As
Sajadah : 7 9)
Di dalam Al Quran telah disebutkan ayat tentang manusia sebagai khalifah di
muka bumi, yaitu di dalam Surat Al Hijr ayat 28-29 :
19

Artinya: "...Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
'Sesungguhnya, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku,
maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr: 28-29).
Di dalam Al Quran telah disebutkan ayat tentang manusia sebagai khalifah di
muka bumi, yaitu di dalam Surat Al Baqarah ayat 30:
Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka
berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Begitupun di dalam Al-Hadist juga ada riwayat yang menyatakan manusia
sebagai khalifah di muka bumi, Hadist: Abu Hurairah r.a. menceritakan hadis
berikut:
Nabi SAW. memegang tanganku, lalu bersabda, Allah SWT. menciptakan bumi
pada hari sabtu, Dia menciptakan padanya gunung-gunung pada hari ahad, Dia
menciptakan pohon-pohonan pada hari senin, Dia menciptakan hal-hal yang tidak
disukai pada hari selasa, Dia menciptakan nur (cahaya) pada hari rabu, dan Dia
menyebarkan (menciptakan) hewan-hewan padanya pada hari kamis, dan Dia
menciptakan Adam a.s. sesudah waktu asar pada hari jumat, sebagai akhir makhluk
(yang diciptakan) pada saat yang terakhir dari waktu-waktu hari jumat. (riwayat
Muslim dan Ahmad)
Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada dua
peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat.
Pertama, memakmurkan bumi (al imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-
upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar riayah).





20

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Ibnu Hanbal, Abdullah Ibn. 2009. Hadis-Hadis Imam Ahmad. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya. Fithri, 2001M.
Al-Quranul Karim
Aziz Mansyhuri, Abdul. 1980. Mutiara Quran dan Hadits. Surabaya: Al-Ikhlas.
Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan. Bandung.CV.Pustaka Setia
Departemen Agama RI, Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum,
Jakarta : Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2001
Hamdan Mansoer, dkk, Materi Instruksional Pendidikan Agama Islam, Jakarta :
Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, 2004
H.M,D. Dahlan, Kunci-kunci Menyingkap Isi al-Qur'an, Bandung: Yayasan Pustaka
Nanih Machendrawaty & Agus Ahmad Safei, Pengembangan Masyarakat
Islam, Jakarta : Rineka Cipta, 2004
http://www.salaf.web.id/117/bagaimanakah-kita-diciptakan-al-ustadz-abu-ishaq-
muslim.htm
https://www.facebook.com/notes/anastazaki-anasril/tujuan-hidup-manusia-itu-
menyembah-allah-dan-menjadi-penguasa-dimuka-bumi-ini/171140742903947
http://smaalup.wordpress.com/about/ayat-ayat-al-qur%E2%80%99an-tentang-
manusia-dan-tugasnya-sebagai-khalifah-di-bumi/
http://daydreamer13.wordpress.com/2009/06/30/ayat-ayat-yang-menyatakan-
tentang-tugas-manusia-di-muka-bumi/
http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/89/20
http://adisuryadi-pendidikan.blogspot.com/2011/06/makalah-asal-usul-manusia.html
http://harlisa123.blogspot.com/2012/03/makalah-tafsir-tarbawi-tentang-
kejadian.html
http://adisuryadi-pendidikan.blogspot.com/2011/06/makalah-asal-usul-manusia.html
http://cintailmuku1.blogspot.com

Anda mungkin juga menyukai