Anda di halaman 1dari 8

DASAR SELEKSI PERFORMANCE PADA TERNAK BIBIT SAPI POTONG

MAKALAH INDIVIDU
ILMU PEMULIAAN TERNAK


DASAR SELEKSI PERFORMANCE
PADA TERNAK BIBIT SAPI POTONG





Nama : SUKANDI
Nim : I111 12 044
Kelas : Genap


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKSSAR
2013


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
dalam bidang peternakan, maka pengembangan perbibitan ternak diarahkan pada peningkatan
mutu ternak, sumber daya ternak, daya dukung wilayah, pengawasan mutu dan penguasaan p
emanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas ternak.
Untuk mendapatkan bibit sapi potong yang bermutu perlu dilakukan pengawasan mutu bibit s
esuai dengan standar, salah satu langkah pengawasan adalah perlunya di lakukan pemilihan/
penilaian sapi potong. Seleksi atau pemilihan sapi yang akan dipelihara merupakan salah satu
faktor penentu dan mempunyai nilai strategis dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuh
an daging, sehingga diperlukan upaya pengembangan pembibitan sapi potong secara berkelan
jutan. Hal inilah yang melatarbelakangi dibuatnya makalah tentang Dasar Seleksi Performanc
e Pada Ternak Bibit Sapi Potong.

I.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dibuatnya makalah tentang Dasar Seleksi Performance Pada Ternak Bibit Sapi Poton
g adalah agar dapat mengetahui cara mengembangkan bibit sapi potong yang baik dan unggul
dengan cara seleksi.
Tujuan dibuatnya makalah tentang Dasar Seleksi Performance Pada Ternak Bibit Sapi Potong
adalah untuk menggambarkan bagaimanan menghasilkan dan meningkatkan mutu bibit sapi
potong.




BAB. II
PEMBAHAHASAN

A. Pengertian Seleksi Secara Umum
Seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang disukai yang akan dijadikan sebagai tetua un
tuk generasi berikutnya.Tujuan umum dari seleksi adalah untuk meningkatkan produktifitas t
ernak melaluiperbaikan mutu genetic bibit. Dengan seleksi, ternak yang mempunyai sifat yan
g diinginkan akan dipeliharah, sedangkan ternak-
ternak yang mempunyai sifat yang tidak diinginkan akan disingkirkan. Dalam melakukan sele
ksi, tujuan seleksi harus ditetapkan terlebih dahulu, missal pada ayam , tujuan seleksi ingin m
eningkatkan produksi telur , berat telur, atau kecepatan pertumbuhan.(Alwi, 2012).
Menurut Hardjosubroto (1994) menyatkan bahwa seleksi adalah tindakan memilih sapi yang
mempunyai sifat yang dikehendaki dan membuang sapi yang tidak mempunyai sifat yang dik
ehendaki. Oleh karena itu, dalam melakukan seleksi harus ada kriteria yang jelas tentang sifat
apa yang akan dipilih, bagaimana cara mengukurnya dan berapa standar minimal dari sifat y
ang diukur tersebut. Untuk dapat memperoleh peningkatan mutu genetik pada generasi beriku
tnya dari sapi-
sapi hasil seleksi, maka harus ditentukan sifat apa yang akan diseleksi. Sifat seleksi yang dipil
ih harus yang bersifat menurun dan biasanya berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai,
yaitu sifat-sifat yang bernilai ekonomis tinggi.

B. Kriteria Seleksi Performance Sapi Potong
Menurut Anon (2007), uji performans merupakan salah satu metode uji pada ternak untuk m
engetahui sejauh mana tingkat performans atau penampilan sapi untuk memperoleh penampil
an terbaik yang kemudian diturunkan pada anaknya saat uji lanjutan (uji Progeny).
Pada pemilihan bibit sapi jantan yang diuji berada pada kisaran umur 1
2 tahun sehingga baru memasuki tahap awal pertumbuhan yang optimal sebelum mencapai d
ewasa kelamin. Dengan mengetahui perkembangan dan pertumbuhan ternak pada saat uji ma
ka akan diperoleh gambaran calon pejantan yang memiliki produktivitas tinggi dan berkualita
s. Metode pengujian yang dilaksanakan adalah memilih ternak bibit berdasarkan sifat kualitat
if dan kuantitatif yang meliputi (1) pengukuran yaitu panjang badan,tinggi gumba, dan lingka
r dada, (2) penimbangan yaitu berat badan, berat lahir, berat sapih (205 hari), berat setahun, d
an berat 2 tahun, (3) pengamatan yaitu warna rambut, bentuk rangka, bentuk kepala, bentuk k
aki, bentuk kuku, bentuk skrotum, dan kelainan yang lain seperti ekor panjut, cundang, dan i
njin. Ternak hasil uji performans direkomendasikan untuk mengikuti uji lebih lanjut dalam uj
i keturunan (progeny test) (Anon, 2007).
Berdasarkan Direktorat Pembibitan Ternak tahun 2012 untuk menentukan identifikasi ternak
yang akan dilakukan dalam Uji Performan harus mengikuti persyaratan sebagai berikut :
a. Ternak yang dipilih untuk program ini yang diutamakan sapi potong murni.
b. Ternak yang dipilih adalah sapi induk yang memenuhi kriteria sesuai dengan standar pada
bangsanya masing masing.
c. Semua ternak yang ikut dalam kegiatan ini diberikan identitas berupa nomor/tanda atau pe
masangan ear tag.
d. Dilakukan pencatatan antara lain : bangsa, umur dan jenis kelamin, identitas ternak, catatan
kelahiran, silsilah, berat badan, tinggi gumba/punuk, lingkar dada, panjang badan, nama dan
alamat peternak.
Sehubungan pemilihan calon bibit ternak perlu mengetahui kriteria pemilihan sapi dan pengu
kuran sapi, sebab pada saat peternak melakukan pemilihan diperlukan pengetahuan, pengala
man dan kecakapan yang cukup diantaranya adalah (Todingan, 2011) sebagai beriku:
1. Bangsa dan Sifat Genetik
Setiap peternak yang akan memelihara, membesarkan ternak untuk dijadikan calon bibit perta
ma-
tama harus memilih bangsa sapi yang paling disukai atau telah popular, baik jenis import mau
pun lokal. Kita telah mengetahui bahwa setiap bangsa sapi memiliki sifat genetik yang berbed
a satu dengan yang lain, baik mengenai daging ataupun kemampuan dalam beradaptasi terhad
ap lingkungan sekitarnya dalam hal beradaptasi dengan lingkungan ini antara lain penyesuaia
n iklim dan pakan, berpangkal dari sifat genetik suatu bangsa sapi yang bisa diwariskan kepa
da keturunannya, maka bangsa sapi tertentu harus dipilih oleh setiap peternak sesuai dengan t
ujuan dan kondisi setempat, pemilihan ini memang cukup beralasan sebab peternak tidak aka
n mau menderita kerugian akibat faktor lingkungan yang tidak menunjang. Beberapa jenis ba
ngsa sapi potong yaitu : Ongole, Peranakan Ongole, Brahman, Limousine, Simmental, Angus
, Brangus, Bali, Madura, Chorolais dan Santa Gertrudis.
2. Kesehatan
Bangsa sapi baik sapi sebagai calon bibit ataupun sebagai penghasil daging harus di pilih dari
sapi yang benar-
benar sehat. Untuk mengetahui kesehatan sapi secara umum, peternak bisa memperhatikan ke
adaan tubuh, sikap dan tingkah laku, pernapasan, denyut jantung, pencernaan dan pandangan
sapi.
Keadaan tubuh
1. Sapi sehat, keadaan tubuh bulat berisi, kulit lemas.
2. Tidak adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya, tidak ada tandatanda kerusakan dan
kerontokan pada bulu (licin dan mengkilat).
3. Selaput lendir dan gusi berwarna merah muda, lebih mudah bergerak bebas.
4. Ujung hidung bersih, basah dan dingin.
5. Kuku tidak terasa panas dan bengkak bila diraba.
6. Suhu tubuh anak 39,5 C 40 C.
Sikap dan tingkah laku
1. Sapi sehat tegap.
2. Keempat kaki memperoleh titik berat sama.
3. Sapi peka terhadap lingkungan (ada orang cepat bereaksi).
4. Bila diberi pakan, mulut akan dipenuhi pakan.
5. Cara minum panjang.
6. Sapi yang terus menerus tiduran memberikan kesan bahwa sapi tersebut
sakit atau mengalami kelelahan.
Pernafasan
1. Sapi sehat bernafas dengan tenang dan teratur, kecuali ketakutan, kerja berat, udara panas d
an sedang tiduran lebih cepat.
2. Jumlah pernafasan : Anak sapi 30/menit, Dewasa 10-30/menit.
Pencernaan.
1. Sapi sehat memamah biak dengan tenang sambil istirahat/ tiduran.
2. Setiap gumpalan pakan di kunyah 60-70 kali.
3. Sapi sehat nafsu makan dan minum cukup besar.
4. Pembuangan kotoran dan kencing berjalan lancar
5. Bila gangguan pencernaan, gerak perut besar berhenti atau cepat sekali.
6. Proses memamah biak berhenti.
Pandangan mata.
1. Sapi sehat pandangan mata cerah dan tajam.
2. Sapi sakit pandangan mata sayu.
3. Seleksi calon bibit berdasarkan pengamatan/ penampilan fisik bentuk atau ciri luar sapi ber
korelasi positif terhadap faktor genetik seperti laju pertumbuhan, mutu dan hasil akhir (dagin
g).
Menurut (Todingan, 2011) Bentuk atau ciri sapi potong yang baik, sebagai berikut :
a. Ukuran badan panjang dan dalam, rusuk tumbuh panjang yang memungkinkan sapi mampu
menampung jumlah makanan yang banyak.
b. Bentuk tubuh segi empat, pertumbuhan tubuh bagian depan, tengah dan belakang serasi, ga
ris badan atas dan bawah sejajar.
c. Paha sampai pergelangan penuh berisi daging.
d. Dada lebar dan dalam serta menonjol ke depan.
e. Kaki besar, pendek dan kokoh.
Dalam melakukan pemilihan calon bibit, selain menentukan jenis kelamin, usia dan bobot ba
dan, pemilihan bakalan dapat dilakukan dengan pengamatan fisik atau penilaian (Judging) se
perti berikut (Todingan, 2011) :
Pandangan dari samping
a. Penilaian dilakukan pada jarak 3,0-4,5m.
b. Perhatikan kedalaman tubuhnya, keadaan lutut, kekompakan bentuk tubuh.
Pandangan Belakang
a. Penilaian dilakukan pada jarak + 3,0 m
b. Perhatikan kelebaran pantat kedalaman otot, kelebaran dan
kepenuhannya
Pandangan Depan
a. Penilaian pada jarak + 3,0 m
b. Perhatikan bentuk dan ciri kepalanya kebulatan bagian rusak, kedalaman dada dan keadan
pertulangan serta keserasian kaki depan
Perabaan
Penilaian ini untuk menentukan tingkat dan kualitas akhir melalui perabaan yang dirasakan m
elalui ketipisan, kerapatan, serta perlemakannya. Bagian-
bagian daerah perabaan pada penilaian (judging) ternak sapi
a. Bagian rusuk
b. Bagian Tranversusprocessus pada tulang belakang
c. Bagian pangkal ekor
d. Bagian bidang bahu


BAB. III
PENUTUP
A. Kesimpulan
seleksi adalah tindakan memilih sapi yang mempunyai sifat yang dikehendaki dan membuang
sapi yang tidak mempunyai sifat yang dikehendaki. Oleh karena itu, dalam melakukan seleks
i harus ada kriteria yang jelas tentang sifat apa yang akan dipilih, bagaimana cara mengukurn
ya dan berapa standar minimal dari sifat yang diukur tersebut. Untuk dapat memperoleh peni
ngkatan mutu genetik pada generasi berikutnya dari sapi-
sapi hasil seleksi, maka harus ditentukan sifat apa yang akan diseleksi. Sifat seleksi yang dipil
ih harus yang bersifat menurun dan biasanya berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai,
yaitu sifat-sifat yang bernilai ekonomis tinggi.
B. Saran
Dalam penulisan makalah sebaiknya penulis harus memperhatikan kaidah-
kaidah penulisan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Windawati. 2012. Seleksi Pemulian. http://winwinalwi.blogspot.com/2012/11/pemuliaa
n-seleksi.html
Anon. 2007. Peraturan Direktur Jenderal peternakan tentang petunjuk teknis uji perpormance
sapi potong nasional. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.
Direktorat Pembibitan Ternak. 2012. Pedoman Pelaksanaan Uji Performan Sapi Potong. Dire
ktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kementerian Pertanian
Harjosubroto.1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia,Jakarta.
Todingan, Lambe. 2011. Pemilihan Dan Penilaian Ternak Sapi Potong Calon Bibit. http:// dis
naksulsel. info/index.php?option=com_docman& task =doc_download&gid=23&Itemid=9