Anda di halaman 1dari 8

PAPER

METABOLIT SEKUNDER JAMUR


Disusun untuk menyelesaikan tugas Kimia Bahan Hayati Laut


Renaldy Belida
230210090065






UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
ILMU KELAUTAN
2014

Metabolit Sekunder

Senyawa organik yang tidak langsung terlibat didalam pertumbuhan,
perkembangan, atau reproduksi dari sebuah organisme. tidak seperti metabolit primer,
kehilangan metabolit sekunder tidak langsung mengakibatkan kematian, namun
dalam waktu yang lama mempengaruhi kemampuan, bentuk, kesuburan, bahkan juga
sama sekali tidak ada pengaruh yang signifikan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Metabolit Sekunder

1. Ekspresi Sintesis Senyawa Metabolit Sekunder
Metabolit sekunder dalam suatu organisme akan berpusat di organ tertentu.
Sebagai contoh, kandungan senyawa vinblastin dan vincristin (yang merupakan
senyawa yang dapat digunakan sebagai obat anti kanker leukemia) pada daun hasil
kultur jaringan lebih tinggi dari pada kalus. Dengan demikian untuk mendapat
alkaloid tersebut dalam jumlah besar dengan teknik kultur jaringan, eksplan yang
ditanam harus diarahkan untuk membentuk daun dari pada pembentukan kalus. untuk
itu supaya produksi metabolit sekunder yang paling maksimal, harus ditentukan
terlebih dahulu di bagian mana metabolit tersebut paling banyak di temukan.
ekspresi senyawa metabolit sekunder juga tergantung kepada regulasi jumlah dan
aktivitas enzim yang terlibat dalam biosintesis senyawa tersebut. Pada keadaan alami
jumlah aktivitas enzim yang terlibat dalam metabolism sekunder sering diinduksi
oleh suhu, cahaya matahari, atau invasi microorganisme yang dapat menyebabkan
penyakit tertentu pada tanaman yang menyebabkan terjadinya respon resistensi yang
dapat diinduksi oleh keadaan sters lainnya.
Aktifitas enzim yang terlibat dalam metabolit sekunder dipengaruhi antara lain
oleh jalan masuknya dari prekursor senyawa yang bersangkutan, dan akumulasi
produk metabolit sekunder yang dihasilkan. Dalam sistem in vitro cahaya matahari
digantikan oleh lampu neon yang berwarna putih atau ultraviolet, sedang inisiasi
mikroorganisme digantikan dengan penggunaan elicitor.

2. Asal Eksplan
2.1. Karakteristik genetik dan fisiologis
pembuatan kultur jaringan in-vitro tanaman sesuai dengan teori totipotensi
biokimia sel. dimana dijelaskan bahwa sel tertentu dari suatu tanaman mempunyai
potensi genetic yang sama. jadi perlu diketahui terlebih dahulu bagian mana yang
mengandung metabolit sekunder terbanyak, lalu dibuat kalus. dimana kalus tersebut
akan mempunyai sifat yang sama seperti sel sebelumnya. sebagai contoh, pada kultur
Polygonum thinchtorium senyawa antijamur terdapat lebih banyak pada akarnya. sel
tersebut kemudian dikulturkan dan akan menghasilkan kalus dimana kalus tersebut
mempunyai sifat yang sama dari asalnya. kalus itulah yang akan diproduksi dan
diambil senyawa metabolit sekundernya.

2.2. Pemantapan Kultur Suspensi Sel
Suspensi sel adalah kumpulan atau agregat-agregat sel yang berasal hasil
pemindahan potongan kalus kedalam botol kultur berisi medium cair yang disimpan
di atas alat penggojok (gyratory shaker). Penggojokan dilakukan untuk tujuan
penyediaan aerasi bagi sel-sel tersebut, pemecahan gumpalan sel menjadi agregat
yang kecil atau sel tungal dan untuk distribusi sel yang merata dalam media kultur.
Inisiasi kultur suspensi sel umumnya dilakukan dengan cara yang sederana yaitu
dengan memindahkan kalus segar kedalam media cair dalam botol erlenmeyer dan
dikocok dengan meletakannya diatas shaker dengan kecepatan antara 70-100 rpm.
Umumnya sel-sel dalam suspensi menunjukkan laju pembelahan sel yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sel-sel dalam kultur kalus. Oleh karena itu suspensi sel
memberikan keuntungan apabila kita menginginkan pembelahan sel yang cepat dan
generasi sel yang banyak atau apabila diperlukan aplikasi perlakuan yang seragam
selama prosedur seleksi sel. Pertumbuhan suspensi sel dapat dimonitor berdasarkan
satuan volume sel yang berkorelasi dengan pertumbuhan berat segar. Densitas sel
dapat diperkirakan dan dipantau menggunakan alat haemocytometer.
Kultur suspensi sel merupakan metoda yang cocok untuk mempelajari
metabolisme sel, pengaruh berbagai persenyawaan ada sel, serta diferensiasi sel.
Aplikasi kultur suspensi sel banyak digunakan sebagai: (i) sumber sel untuk
mendapatkan protoplasma; (ii) sumber sel yang akan diberi perlakuan induksi mutasi;
(iii) bahan untuk mempelajari hubungan inang dan penyakit dalam fitopatologi; (iv)
metoda produksi bahan metabolit sekunder; dan (v) sumber sel untuk media seleksi.
Kultur suspense biasanya dimulai dari mensubkulturkan potongan kalus ke
media cair, kesuali kultur suspense juga dapat menggunakan potongan organ sebagai
eksplan hanya saja teknik ini memerlukan waktu yang lebih lama. Pembelahan sel
secara bertahap akan terlepas dari sel induk bebas bergerak didalam inokulum karena
adanya gerakan dari medium. Setelah beberapa saat kultur akan tersusun atas sel
tunggal dan kumpulan sel dengan ukuran yang bervariasi, sisa potongan eksplan dan
sisa-sisa sel mati. Dalam kultur kalus dan suspense sel dikenal istilah friabel yang
maksudnya adalah sel-sel terpisah setelah mengalami pembelahan sel. Bentuk
suspense sel yang bagus adalah kultur yang persentase kandungan sel tunggal dan
kumpulan sel-sel kecilnya tinggi. Derajat pemisahan sel pada kultur telah dicirikan
adanya sifat friabilitas dari sel tersebut, sifat tersebut dapat dimunculkan atau
diinduksi dengan mengubah komposisi unsure hara media. Seperti pada penambahan
auxin dari pada sitokinin pada beberapa masalah dapat memacu produksi sel yang
friabel. Namun sebaliknya ada beberapa kultur malah menjadi terhambat proses
friabilitasnya. Jadi tidak ada prosedur standar yang dapat direkomendasikan untuk
memulai kultur suspense sel dari kalus, maka untuk memilih kondisi yang sesuai
harus melakukan coba-coba.
Sistem pemeliharaan suspensi sel dapat dilakukan dengan cara kultur batch dan
continous. Pada kultur suspensi sel batch, kultur dipelihara dalam media dengan
volume tetap tetapi dengan konsentrasi hara yang berubah sesuai dengan tingkat
pertumbuhan sel.
Pada sistem ini biomasa sel akan bertambah sesuai kurva sigmoid dan setelah
mencapai masa tertentu sel akan berhenti membelah karena kehabisan hara atau
akumulasi senyawa metabolik yang bersifat toksik. Setelah mencapai fase ini biakan
harus diperbaharui dengan cara mensubkultur sebagian sel pada media baru. Suspensi
sel dengan sistem berkelanjutan (continuous system) merupakan kultur sel jangka
panjang dengan suplai hara yang konstan dalam wadah yang relatif lebih besar. Pada
sistem ini media kultur dapat ditambahkan atau ganti dengan media baru sehingga
sel-sel baru dapat terus dihasilkan. Kultur sel kontinyu terdapat dua tipe yaitu tipe
tertutup (closed type) dan tipe terbuka (open type). Pada tipe tertutup, sel akan
bertambah terus tanpa dipanen dan hanya media yang disirkulasi. Sedangkan pada
tipe terbuka, penambahan media baru disertai dengan pemanenan sel.

3. Kondisi-Kondisi yang Mempengaruhi Kultur In Vitro
Pertimbangan utama dalam menentukan kondisi kultur yang sebaiknya dipakai
adalah:
a. Biomassa yang dihasilkan
b. Konsentrasi senyawa yang diinginkan
Kombinasi dari keduanya itu ditunjukkan untuk menghasilkan senyawa yang
diinginkan tersebut sejalan dengan produksi biomassa, atau sebaliknya, sintesis
senyawa yang diinginkan tersebut tidak berhubungan dengan produksi biomassa.
Secara fisiologis, hal ini dapat diterjemahkan dengan mempergunakan kurva
pertumbuhan dari sel-sel yang dikulturkan, apakah senyawa yang diinginkan
diuproduksi maksimum pada lag phase, log phase atau stationary phase.
Dengan mengetahui sifat fisilogisnya, manipulasi dapat dilakukan untuk
menghasilkan senyawa tersebut sebanyak mungkin. Sebagai contoh, betasianin,
senyawa pigmen, dihasilkan paling banyak pada data log phase sedang antosianin
maksimum diproduksi pada saat stationary phase (Komamine, 1988). Dengan
demikian, kondisi yang diperlukan untuk memproduksi betasianin sangat jelas
berbeda dari yang dibutuhkan untuk antosianin. Di alam, produksi biomassa sangat
tergantung pada penumpukan fotosintesa yang berupa karbohidrat atau turunannya.
Pada kultur jaringan, biomassa yang dihasilkan sangat tergantung pada kecepatan sel-
sel tersebut membelah diri, memperbanyak diri yang dilanjutkan dengan pembesaran
sel. Kecepatan sel membelah diri, memperbanyak diri yang dilanjutkan dengan
pembesaran sel. Kecepatan sel membelah diri dapat dipengaruhi oleh adanya
kombinasi auksin-sitokinin tertentu dalam konsentrasi tertentu pula yang tergantung
pada tanamannya, juga faktor-faktor lain seperti jenis media, ketersediaan unsure hara
makro atau mikro, supply karbohidrat, adanya supplement seperti air kelapa, dan juga
faktor-faktor fisik seperti cahaya, pengocokan, suhu, pH media dan sebagainya.

Produksi Metabolit Sekunder Jamur

Pada jamur kuping hitam, produksi flavonoid dilakukan dengan cara ekstraksi
dengan cara maserasi dengan pelarut methanol, kemudian dilanjutkan dengan
faksinasi dengan menggunakan kloroform. Kemudian difraksinasikan lagi dengan etil
asetat dan diperoleh rendemen sebesar 0,02%. fraksi etil asetat mengandung golongan
flavonoid melalui uji pereaksi Shinoda.
Ekstraksi Alkaloid pada jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) dilakukan dengan
cara 160gr simplisia dibasakan dengan ammoniak 10% 300 ml kemudian diaduk
menggunakan magnetic stirrer selama 2 jam. selanjutnya ditambahkan kloroform
100 ml dan didiamkan selama 1-2 hari. Kemudian diaduk kembali dan didiamkan
dalam corong pisah sampai terbentuk 2 fasa, diambil fasa kloroformnya. fasa basa
yang tertinggal ditambah lagi dengan kloroform 100 ml dan diberi perlakuan yang
sama lagi. semua fasa kloroform kemudian dikumpulkan dan dievaporasi hingga agak
kental. setelah itu dimasukan kedalam oven pada suhu 45oC untuk mendapatkan
ekstrak yang lebih pekat kembali. Perlakuan KLT methanol:ammoniak (100:1,5), dan
uji terhadap reagen Dragendorff. positif mengandung alkaloid ditunjukan dengan
warna merah bata atau oranye. Selanjutnya dilakukan Kromatografi Kolom.

Jamur Penghasil

Banyak sekali organism yang didalamnya terdapat metabolit sekunder, seperti
bakteri, jamur, tumbuhan. didalam jamur shiitake (lentinula edodes) terdapat
bermacam-macam metabolit sekunder seperti terpenoid, steroid, alkaloid dan
flavonoid
1
. jamur shiitake juga mempunyai kandungan eritadenine (sebuah inhibitor
dari S-adenosil-L-homosistein hidrolase) yang mampu menurunkan kadar kolesterol.
Adapun jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) yang diketahui mengandung
senyawa flavonoid
2
.
Berdasarkan penelitian dari Akyuz M, dan Kirbag S (2009) Aleurodiscus,
Coprinus, Clitocybe, Daedalea, Marasmius, Merulius, Pleurotus, Polyporus, Poria,
Psathyrella, dan Tricholoma spp. kaya akan -glukan, senyawa fenolik, , flavonoid,
polisakarida, triterpenoid, serat makanan, lentinan, schizophyllan, lovastatin, pleuran,
steroid, glikopeptide, terpenoid, saponin, xanthones, coumarins, alkaloid, purin,
purimidin, kinon, fenil propanoid, kalvasin, volvotoksin, flammutoksin, porisin,
AHCC, maitake D-fraction, ribonucleas, eryngeolysin, dan juga telah digunakan terus
menerus dalam obat-obatan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit
seperti antimikroba, antibakteri, antikanker, antitumor, antiinflamatory, penyakit
kardiovaskuler, dll.
Penelitian Nanang Widodo (2007) mengekstraksi senyawa metabolit sekunder
pada jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus).







1
Nuraeni Ekowati, dkk 2011
2
Iklilul Millah 2012
Daftar Pustaka

Widodo, Nanang. 2007. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid yang
Terkandung Dalam Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Skripsi. Jurusan
Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. UNS. Semarang.

Ekowati, Nuraeni. Kasiamdari, Rina S. Pusposendjojo, Nursamsi dan Soegihardjo,
C.J. 2011. Daya Anti Mikroba Metabolit Bioaktif Jamur Shiitake (Lentinula
edodes (Berk.) Pegler) yang Dikultur Pada Tiga Jenis Medium Fermentasi.
Artikel. Majalah Obat Tradisional.

Millah, Iklilul. 2012. Isolasi, Identifikasi, dan Uji Bioaktifitas Antioksidan Fraksi Etil
Asetat dari Jamur Kuping Hitam (Auricularia polytricha). Skripsi. Jurusan
Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. UM.

Akyuz, Mehmet dan Kirbag, Sevda. 2009. Antimicrobial Activity of Pleurotus
eryngii var. ferulae Grown on Various Agro-wastes. Jurnal. Jurusan Biologi.
Fakultas Sains dan Seni. Firat University. Turki.

Anonim. 2011. Senyawa Metabolit Sekunder. http://vie-biology.blogspot.com.
diakses pada tanggal 31 Mei 2014.