Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PROSES MANUFAKTUR

MOLDING DAN FORGING



Disusun oleh:
M. YAZIR PRATAMA 201310140311008
FITRA RISALDI 201310140311035
ABDUL SAMAD 201310140311036
JIAN HIRDAS 201310140311040
GILANG YANDEZA 201310140311041








Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Proses Manufaktur

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014
1. MOLDING
1.1 Pengertian Molding
Molding atau pencetakan adalah proses manufaktur dengan membentuk bahan baku
cair atau lentur menggunakan bingkai kaku yang disebut cetakan atau matriks . Hal ini sendiri
mungkin telah dibuat menggunakan pola atau model dari objek akhir .
Sebuah cetakan atau cetakan blok berlubang-out yang diisi dengan bahan cair atau
lentur seperti plastik , kaca , logam , atau bahan baku keramik . Mengeras cair atau set dalam
cetakan , mengadopsi bentuknya . Cetakan A adalah mitra untuk gips . Sangat umum proses
pencetakan bi - katup menggunakan dua cetakan , satu untuk masing-masing setengah dari
objek. Sepotong - molding menggunakan sejumlah cetakan yang berbeda , masing-masing
menciptakan bagian dari objek yang rumit . Hal ini umumnya hanya digunakan untuk yang
lebih besar dan lebih berharga obyek .
Para produsen yang membuat cetakan disebut moldmaker tersebut . Seorang agen rilis
biasanya digunakan untuk membuat penghapusan / set substansi mengeras dari cetakan lebih
mudah . Menggunakan Khas untuk dibentuk plastik termasuk dibentuk furniture , barang-
barang rumah tangga dibentuk , kasus dibentuk , dan bahan struktural .
1.2. JENIS JENIS MOLDING
Jenis molding meliputi:
Blow molding
Kompresi molding
Ekstrusi molding
Injection molding
Matrix molding
Cetakan plastik
transfer molding
Thermoformin




1.2.1 Blow Molding :
Blow Molding adalah proses manufaktur plastik untuk membuat produk-produk
berongga (botol) dimana parison yang dihasilkan dari proses ekstrusi dikembangkan dalam
cetakan oleh tekanan gas. Pada dasarnya blow molding adalah pengembangan dari
proses ekstrusi pipa dengan penambahan mekanisme cetakan dan peniupan.

Proses:
Parison diekstrusi dari atas ke bawah di antara rongga cetakan (mold)
Cetakan menutup sehingga parison terjepit oleh cetakan
Parison dikembangkan oleh gas bertekanan tinggi sehingga terdorong ke dinding cetakan
dan terbentuk sesuai dengan bentuk rongga cetakan
Produk didinginkan dan dikeluarkan dari cetakan

1.2.2 Injection Molding
Injection molding adalah metode pembentukan material termoplastik dimana
material yang meleleh karena pemanasan diinjeksikan oleh plunger ke dalam cetakan yang
didinginkan oleh air sehingga mengeras.
Meskipun banyak variasi dari proses dasar ini, 90 persen injection molding adalah
memproses material termoplastik. Injection molding mengambil porsi sepertiga dari
keseluruhanresin yang dikonsumsi dalam pemrosesan termoplastik. Sekarang ini bisa
dipastikan bahwa setiap kantor, kendaraan, rumah, pabrik terdapat barang-barang dari plastik
yang dibuat dengan cara injection molding, misalnya pesawat
telepon, printer, keyboard, mouse, rumah lampu mobil ,dashboard, reflektor, roda gigi,
helm, televisi, sisir, roda furnitur, telepon seluler, dan masih banyak lagi yang lain.
Proses :
Termoplastik dalam bentuk butiran atau bubuk ditampung dalam sebuah hopper
kemudian turun ke dalam barrel secara otomatis (karena gaya gravitasi) dimana ia dilelehkan
oleh pemanas yang terdapat di dinding barrel dan oleh gesekan akibat perputaran sekrup
injeksi. Plastik yang sudah meleleh diinjeksikan oleh sekrup injeksi (yang juga berfungsi
sebagai plunger) melalui nozzle ke dalam cetakan yang didinginkan oleh air. Produk yang
sudah dingin dan mengeras dikeluarkan dari cetakan oleh pendorong hidraulik yang tertanam
dalam rumah cetakan selanjutnya diambil oleh manusia atau menggunakan robot. Pada saat
proses pendinginan produk secara bersamaan di dalam barrel terjadi proses pelelehan plastik
sehingga begitu produk dikeluarkan dari cetakan dan cetakan menutup, plastik leleh bisa
langsung diinjeksikan.





















2. FORGING
2.1 Pengertian Forging :
Forging adalah proses manufaktur yang melibatkan pembentukan logam dengan
menggunakan kekuatan tekan lokal. Penempaan sering diklasifikasikan sesuai dengan suhu di
mana ia dilakukan: "dingin", "hangat", atau "panas" penempaan. Bagian ditempa dapat
berkisar berat kurang dari satu kilogram menjadi 580 metrik ton. bagian Ditempa biasanya
memerlukan pengolahan lebih lanjut untuk mencapai bagian selesai. Hari ini, penempaan
adalah industri di seluruh dunia utama yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap
perkembangan siklus manufaktur.

2.1.1 ALAT TEMPA DAN KEUNTUNGAN KERJA TEMPA
Penempaan dapat dilakukan dengan tangan maupun dengan mesin. Untuk benda-benda
kerja yang ringan dapat dilakukan dengan penempaan tangan. Penempaan dengan mesin
biasanya dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan berat, dapat menggunakan matres ataupun tidak
menggunakan matres.
Keuntungan kerja tempa adalah :
1. Logam dalam keadaan panas bersifat lunak dan mudah dibentuk tumbukan dan tekanan
tanpa merusak sifat logam itu sendiri.
2. Benda benda yang sama yang ditempa lebih kuat daripada benda yang dikerjakan
dengan
3. mesin.
4. Bentuk bentuk benda kerja yang rumit dapat diproduksi lebih mudah dan murah
daripada
5. dengan kerja mesin.
6. Pembentukan yang dilakukan dengan penempaan tidak terjadi pemotongan, maka
jumlah
7. logam yang hilang atau terbuang akan lebih sedikit.
8. Adapun kekurangan-kekurangan dalam kerja tempa adalah:
9. Temperatur tempa yang terlalu tinggi akan menyebabkan oksidasi sehingga benda kerja
akan cepat mencair.
10. Ukuran yang tepat sulit untuk dicapai.

2.1.2 DAPUR TEMPA
Dalam melaksanakan pekerjaan menempa diperlukan alat dan peralatan, seperti dapur
tempa, alat pemotong, alat pelubang, alat peregang, alat pembentuk, alat ukur, dan alat bantu
lainnya.

2.1.2.1 Fungsi Dapur Tempa
Fungsi utama dapur tempa ialah tempat untuk membakar benda kerja yang akan dibentuk.
Selain pekerjaan membentuk, dalam menempa dapat juga dilaksanakan berbagai pekerjaan
seperti menyepuh, melunakan, penyambungan dengan car alas tempa dan lain-lain.
2.1.2.2 Dapur Tempa Tetap
Dapur Tempa Tetap
Dapur tempa tetap umumnya dipakai di bengkel-bengkel dan diletakan secara permanen di
atas suatu fondasi yang kuat. Suatu dapur tempa memerlukan udara penghembus. Udara
penghembus dapat diperoleh melalui berbagai cara, baik cara tradisional, seperti dapur tempa
tekan yang masih banyak digunakan di daerah pedalaman maupun menggunakan ventilator
listrik atau tangan.
Bagian-bagian utama dapur tetap :
1. Cerobong asap, fungsinya untuk menarik asap dan debu dengan system tarikan alam
sehingga populasi udara dapat dikurangi.
2. Sungkup asap, untuk mengarahkan asap ke dalam cerobong.
3. Tungku api, tempat memasang/membakar benda kerja.
4. Bak air, untuk mendinginkan alat maupun benda kerja.
5. Katup pengatur, untuk memasukan pemasukan udara ke dalam tungku.
6. Katup pembuang debu, untuk mengeluarkan debu sisa pembakaran dan terak-terak.


2.1.3 BAHAN BAKAR DAPUR TEMPA
Ada tiga macam bahan bakar yang dipergunakan pada dapur tempa, yaitu; bahan bakar
padat, bahan bakar cair, dan bahan bakar gas.

2.1.3.1 Bahan Bakar padat
Syarat-syarat bahan bakar padat :
1. Kadar karbonnya tinggi
2. Bahan bakar padat cukup keras.
3. Butir-butiran bahan bakar tidak terlalu kecil.
4. Tidak mengandung bahan bakar TER, karena sangat mengotori langit-langit, sehingga
menjadi hitam.
Yang termasuk bahan bakar padat adalah : arang kayu, arang bekas, tempurung kelapa, dan
lain-lainnya yang berbentuk benda padat dan dapat dibakar.
Keuntungan bahan bakar padat adalah :
1. Mudah didapat terutama di daerah pedesaan.
2. Tidak mudah terbakar.
3. Kerugian Bahan bakar padat adalah :
4. Ruang kerja kotor.
5. Memerlukan tempat penyimpanan yang luas.

2.1.4 Peralatan Dapur Tempa
Ada banyak perlengkapan forging dan kegunaanya, antara lain :
o Palu, palu ada dua macam yaitu palu biasa yang digunakan untuk membentuk / memukul benda
kerja dan palu perata yaitu alat bantu untuk lebih meratakan suatu permukaan benda kerja.
Palu biasa
Palu perata
Tongs ( penjepit ) digunakan untuk menjepit benda kerja yang panas dan sebagai alat
bantu pada waktu tempa.
Poker digunakan untuk mengambil arang kayu dan kokas.
Plakes digunakan membetulkan letak kokas pada tungku.
Scrapers digunakan sebagai pemadam api pada bagian pinggir dari tungku.
Anvil digunakan sebagai landasan pada waktu kita menempa.


2.1.5 Alat Ukur Pada Dapur Tempa
Compass for Forging
Alat ukur yang biasa digunakan pada forging yaitu: compass for forging penggunaannya :
setting compass for forging dengan menggunakan jangka sorong atau block Gauge sesuai
dengan ukuran yang kita kehendaki. Kita dapat mengukur benda kerja forging dengan
menggunakan compass yang telah disetting tersebut.
Forging Measure Gauge
Alat tersebut sudah di ukur sesuai dengan ukuran yang ada ( ukuran dapat terlihat pada alat
tersebut ). Benda kerja Forging dapat di ukur dengan alat tersebut sesuai dengan ukuran yang
kita khendaki. Ada bermacam-macam profil dari alat ukur ini.

2.1.6 PROSES DASAR MENEMPA
Yang dimaksud proses dasar menempa ialah suatu proses pengerjaan yang merupakan dasar
ketrampilan menempa yang harus dikuasai oleh pekerja tempa.
Proses-proses dasar menempa terdiri atas menyalakan daput tempa, memotong, meregang,
meratakan, membengkok, membuat, melubang dan mengelas tempa.
Banyak macam cara yang digunakan dalam kerja tempa, antara lain :
1. Meratakan benda kerja ( Flattening ).
2. Membuat tajam benja kerja ( sharpening ).
3. Membuat runcing benda kerja ( pointing ).
4. Membuat benda kerja dengan cara memukul bagian atasnya ( Up Setting ).
5. Memperpanjang atau menarik suatu benda kerja ( drawing ).Membengkokan benba kerja (
Bending ).


PELAYANAN DAPUR TEMPA
Mengoperasikan dapur tempa arang :
Cara menyalakan dapur tempa sebagai berikut :
1. Bersihkan tungku dari serutan kayu dari terak-terak sisa pembakaran.
2. Gundukan serbuk serbuk serutan kayu atau bahan-bahan yang mudah terbakar.
3. Aturlah kedudukan arang agar ikut terbakar.
4. Bakarlah serbuk-serbuk tadi dengan korek api.
5. Hembuskan udara sedikit demi sedikit hingga bahan bakar terbakar dan menyala.
6. Tambahkan arang pada bagian tengah tungku jika api sudah menyala dengan baik.
7. Atur hembusan udara lebih besar hingga api membara.
8. Masukan benda kerja ke dalam api jika api sudah membaradengan baik.
9. Cara mematikan dapur tempa :
10. Matikan dahulu ventilator
11. Padamkan bara api dan siramlah dengan air.
12. Pisahkan bahan bakar yang belum terbakar dan bahan bahan yang masih digunakan.

3. PENGECORAN POLA LILIN
3.1 Pengertian
Dalam proses pengecoran logam dibutuhkan suatu cetakan dimana rongga cetakannya
dibentuk menyerupai desain master produk yang akan dibuat sehingga hasil pengecoran dapat
identik, atau kurang lebih menyerupai master produk. Langkah pertama yang ditempuh dalam
praktikum proses manufaktur tentang pengecoran ini adalah pembuatan pola lilin dari cetakan
silikon, pola dibentuk dengan menggunakan bahan dasar lilin, sehingga disebut dengan pola
lilin. Lilin dilelehkan sampai mencair kemudian dituangkan ke dalam cetakan silikon yang
telah diposisikan sedemikian rupa lalu diikat dengan tali agar cetakan silikon dapat menyatu
erat dan diberi penopang supaya kokoh. Pola lilin ini dibentuk melalui proses pengecoran
lilin dalam cetakan pola silikon yang bentuknya terbelah menjadi dua bagian yang sama
dimana pada cetakan tersebut sudah terdapat rongga dengan bentuk desain master produk,
sehingga saat dituangkan pola silikon harus diikat kuat agar mampu menjepit cetakan secara
sempurna


Langkah-langkah pembuatan pola lilin yaitu yang pertama adalah mempersiapkan
lilin batangan yang telah ditakar sebelumnya seberat kurang lebih 300 ons, sementara itu
panci dipanaskan di atas kompor kurang lebih dua menit kemudian lilin yang sudah dipotong
kecil-kecil agar lebih mudah mencair tujuannya, dan juga tidak lupa dimasukkan pewarna
merah ke dalam panci tersebut. Pemberian warna pada pola lilin bertujuan untuk mengetahui
apakah masih terdapat sisa lilin saat pencairan pola lilin. Lilin tersebut ditunggu selama
beberapa menit sampai mencair secara keseluruhan, sambil sedikit diaduk-aduk agar
panasnya merata. Sambil menunggu lilin dicairkan, cetakan pola silikon disiapkan dengan
cara ditali bagian atas dan bawahnya dengan tali rafia sehingga menjadi satu, dan
ditempatkan di tempat yang permukaannya datar untuk menguatkan letak silikon yang akan
dituangi lilin cair. Setelah lilin cair, lilin segera dituangkan ke pola silikon secara perlahan
dengan kecepatan konstan sampai cetakan terisi penuh dengan lilin cair. Perlu diketahui
bahwa bentuk cetakan pola silikon berongga pada bagian bawah sehingga cairan sedikit
merembes lewat rongga tersebut, dan juga merembes melalui sisi samping dari silikon
sendiri. Lilin cair yang telah dimasukkan ke dalam cetakan silikon semakin lama akan
semakin membeku dan mengeras. Pada saat proses pendinginan lilin tersebut akan terlihat
penyusutan permukaan lilin terhadap cetakan. Sehingga setiap melihat permukaan lilin pada
cetakan yang mulai menyusut perlu ditambahkan lagi lilin cair ke dalam cetakan silikon
supaya desain dan dimensi yang serupa dengan master dapat dihasilkan. Setelah lilin menjadi
dingin dan keras, tali rafia dilepas dan pola lilin yang sudah mengeras diambil dari cetakan
pola silikon kemudian dilakukan proses pengukuran pola lilin. Lebih tepatnya kurang lebih
setelah sekitar 30-45 menit dalam cetakan silikon, pola lilin telah mengeras dan dapat diambil
dari cetakan silikon. Untuk mempercepat pengerasan kami meletakkannya pada tempat
berangin.

3.2 Analisa Proses Pembuatan Pola Lilin
Sebelum penuangan cairan lilin dalam cetakan, dilakukan pengikatan cetakan silicon.
Tetapi karena pengikatan cetakan yang tidak erat maka terjadi kebocoran ketika cairan lilin
dituangkan ke dalam cetakan.Ini disebabkan pula kondisi cetakan yang mengalami sedikit
kerusakan,meskipun cetakan memang masih bisa digunakan. Sehingga langkah ini diulang
kembali dengan menggunakan cetakan silikon yang berbeda dan membuat ikatan yang lebih
kuat pada cetakan silikon yang kedua.

Meskipun cetakan silicon telah diganti dan dilakukan pengulangan penuangan cairan
lilin tetapi masih didapatkan bentukkan lilin yang tidak sesuai dengan harapan karena
bentukan pion dari lilin tidak simetris antara satu sisi dengan sisi yang lainnya.Jadi salah satu
sisi dari pion lilin agak memipih.Sehingga dapat dipastikan bahwa bentuk lilinnya berbeda
dengan masternya. Ini disebabkan karena pengikatan cetakan silikon yang terlalu kuat hanya
pada satu sisi saja sehingga menekan cetakan silikon terlalu kuat pada bagian tersebut.

Dalam proses penuangan lilin, tidak hanya dilakukan satu kali penuangan cairan lilin
ke dalam cetakannya tetapi dilakukan sedikit penambahan cairan lilin ketika cairan lilin di
dalam cetakan mulai mengeras dan permukaannya mulai menyusut.Hal ini dilakukan sampai
permukaan lilin terlihat tidak menyusut dan penambahan cairan lilin ini dilakukan sebanyak 7
kali.

Ketika pencairan lilin batangan, api dinyalakan terlalu besar sehingga cairan lilin yang
dituang ke dalam cetakan terlalu panas.Tujuan awalnya supaya lilin cepat mencair, tetapi ini
malah membuat proses pemadatan lilin di dalam cetakan menjadi agak lama.

Batangan lilin yang dicairkan ketika dipanaskan juga diberi pewarna.Ini bertujuan
supaya ketika proses pencairannya nanti akan dapat terlihat apakah masih ada sisa lilin di
dalam rongga cetakan gips.

3.3 Pembuatan Cetakan Gips

Setelah proses pembuatan lilin selesai,dilanjutkan dengan pembuatan cetakan
gips.Dalam prose pembuatan cetakan gips, bahan-bahan yang harus dipersiapkan yaitu bubuk
gips sebanyak 500 gram, air, vaseline secukupnya, pola lilin , timbangan beban, kotak kayu,
kaca, kompor serta pancinya, paku, spidol besar, dan wadah adonan.

Langkah-langkah dalam pembuatan cetakan gips yang pertama adalah menimbang
bubuk gips sebesar 500gram untuk membuat adonan gips.Bubuk gips tersebut dibagi dua
karena adonan dibuat dalam dua tahap.

Kemudian melapisi bagian permukaan kaca dan kotak kayu,digunakan sebagai tempat
untuk menuangkan adonan gips,dengan vaselin. Vaselin ini digunkan untuk memudahkan
melepas gips setelah mengering.Setelah kotak kayu siap maka lilin ditempatkan pada kotak
kayu tersebut dengan posisi pangkal lilin menyentuh dinding kotak kayu supaya pangkal lilin
tidak tertutup oleh adonan gips.

Adonan gips tahap pertama dibuat dengan mencampurkan separuh dari bubuk gips
tadi dengan air secukupnya disesuaikan dengan kondisi gips saat pengadukan dengan air
tersebut.Setelah itu adonan gips tahap pertama dituangkan ke dalam kotak kayu.Adonan ini
diharapkan hanya menutup separuh dari lilin.Adonan tahap kedua kemudian dituangkan
setelah adonan tahap pertama dituangkan untuk menutup keseluruhan gips.Dalam penuangan
adonan, adona benar-benar diratakan supaya menutupi seluruh bagian sehingga tidak ada
celah yang membuat lilin tidak tertutup penuh oleh adonan gips.

Setelah gips agak memadat,gips dilepaskan dari kotak kayu dan kaca lalu dikeringkan
sampai benar-benar kering.Sambil menunggu gips benar-benar kering, dipersiapkan air yang
dijerang di atas kompor

Ketika gips sudah kering, cetakan gips tersebut dididihkan di air untuk mencairkan
lilin yang berada di dalam cetakan gips.Dan harus dipastikan bahwa lilin sama sekali tidak
tersisa di dalam rongga cetakan gips

Setelah gips sudah bersih dari lilin,cetakan ini didinginkan sesaat.Langkah terakhir
dibuat lubang sebagai riser yang menembus gips hingga lubang mencapai ujung rongga
cetakan.

3.3.1 Analisis Proses Pembuatan Cetakan Gips

Dalam proses pembuatan cetakan gips ini, adonan dari ditambahkan dengan air yang
cukup banyak supaya gips tidak cepat mengering dan menggumpalan ketika pengadukan
adonan gips. Penambahan air yang cukup banyak ini juga untuk menghindari pengeringan
separuh adonan gips yang dituangkan pada tahap pertama karena masih ada penuangan
adonan tahap kedua serta tetapi ini menjadikan tahap pengeringan gips mebutuhkan waktu
yang lama.

Ketika proses pencairan lilin, rongga cetakan terkikis ketika cetakan gips didihkan
sehingga bentukan produk yang berupa detail-detail kecil yang seharusnya ada pada cetakan
menjadi agak rusak bahkan ada yang detailnya menghilang dan terbentuk detail yang tidak
diinginkan akibat dari pengikisan tersebut.Ini terjadi karena gips belum terlalu kering sudah
dimasukkan ke dalam air mendidih sehingga gips yang belum benar-benar mengering
menjadi terkikis oleh air yang mendidih tersebut.

Dari cetakan gips yang telah dibuat, terdapat jarak yang terlalu lebar dari ujung rongga
cetakan ke bagian luar dari cetakan yang tegak lurus dengan ujung rongga cetakan.Ini
menimbulkan kesulitan dalam pembuatan vent cetakan gips .Dan kesalahan dalam membuat
riser akan menyebabkan gips menjadi rusak sehingga apabila ini teradi maka proses harus
diulan kembali mulai dari pembuatan lilin.Penyebab dari terlalu tebalnya gips pada bagian
yang akan dibuat vent karena jarak dinding kotak kayu yang berada dekat dengan ujung lilin
penempatannya terlalu jauh.Kondisi ini tejadi ketika proses penempatan lilin pada kotak kayu
dan penuangan adonan gips



3.4 Contoh penerapan pola lilin
Pengecoran Presisi (Investment Casting)
Dalam proses ini pola dibuat dari lilin yang dilapisi bahan tahan api untuk membuat
cetakan, setelah sebelumnya lilin tersebut mencair dan dikeluarkan dari rongga cetakan. Pola
lilin dibuat dengan cetakan induk (Master Die), dengan cara menuang atau menginjeksikan
lilin cair ke dalam cetakan tersebut.

Tahapan pengecoran presisi:
(1) Pola lilin dibuat;
(2) Beberapa pola ditempelkan pada saluran turun (sprue) membentuk pohon bola;


Gambar 1.2 Tahapan proses pengecoran presisi
(3) Pohon pola dilapisi dengan lapisan tipis bahan tahan api;
(4) Seluruh cetakan terbentuk dengan menutupi pola yang telah dilapisi tersebut dengan bahan
tahan api sehingga menjadi kaku;
(5) Cetakan dipegang dalam posisi terbalik, kemudian dipanaskan sehingga lilin meleleh dan
keluar dari dalam cetakan;
(6) Cetakan kembali dipanaskan dalam suhu tinggi, sehingga semua kotoran keluar dari dalam
cetakan dan semua logam cair dapat masuk kedalam bagian-bagian yang rumit (disbut
proses preheating);
(7) Stelah logam cair dituangkan dan membeku lalu cetakan dipecahkan, dan coran dilepaskan
dari sprue.

Keuntungan dari proses pengecoran presisi:
Dapat membuat coran dalam bentuk yang rumit;
Ketelitian dimensi dangat baik (Toleransi kurang lebih 0,076mm);
Permukaan hasil coran sangat baik;
Lilin dapat didaur ulang;
Tidak diperlukan pemesinan lanjut.
Kelemahan:
Tahapan proses banyak, sehingga diperlukan biaya yang mahal;
Terbatas untuk benda cor yang kecil;
Sulit bila diperlukan inti.
Contoh penggunaan: Komponen mesin turbin, perhiasan, alat penguat gigi.
Cetakan presisi dapat digunakan pada semua jenis logam, seperti: baja, baja tahan karat,
paduan dengan titik lebur tinggi.













4. PENGECORAN PERMANEN
4.1 Pengertian
Jenis pengecoran ini , cetakannnya dapat dipakai berulang kali (terbuat dari logam dan
grafit). Pengecoran ini dikhususkan untuk pengecoran logam non ferrous dan paduan.
Kualitas pengecoran ini tergantung dari kualitas mold, umumnya dikerjakan dengan machining
untuk mendapatkan kualitas yang bagus maka dikerjakan dengan proses machining yang
memiliki keakuratan yang tinggi
Keuntungan Permanent Mold Casting:
1. Produksi Tinggi
2. Cetakan dapat dipakai berulang kali
3. Dalam operasinya tidak diperlukan tenaga ahli
4. Ketelitian produk lebih baik daripada sand casting
5. Tidak memerlukan proses lanjutan
Kekurangan Permanent Mold Casting:
1. Harga cetakan mahal
2. Perlu perhitungan yang tepat dalam mengerjakan cetakan
3. cetakan untuk satu macam produk
4. ukuran produk kecil dan sederhana
5. tidak dapat mengecor baja

4.2 Proses Cetakan Permanen
Pengecoran cetakan permanen menggunakan cetakan logam yang terdiri dari dua
bagian untuk memudahkan pembukaan dan penutupannya. Pada umumnya cetakan ini
dibuat dari bahan baja atau besi tuang. Logam yang biasa dicor dengan cetakan ini
antara lain aluminium, magnesium, paduan tembaga, dan besi tuang. Pengecoran
dilakukan melalui beberapa tahapan seperti ditunjukkan dalam gambar 3.8 berikut
ini.


Gambar 3.8 Tahapan dalam pengecoran dengan cetakan permanen









KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Pengecoran sudah dilakukan sejak 4000 tahun sebelum masehi. Banyak yang harus
diketahui tentang pengecoran mulai dari pengecoran dengan pola lilin,forging,molding dan
pengecoran permanen. Hanya dari teknik tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan
masing masing. Perbedaanya juga terletak pada prosesnya jika cetakan lilin hanya bisa
digunakan sekali lain halnya dengan cetakan permanen dari logam yang bisa digunakan
berulang kali.


Saran
Penulis berharap setelah mengetahui teknik pengecoran pada pembahasan sebelumnya.
Pembaca dapat mengembangkan dan memodifikasi makalah ini lebih baik lagi












DAFTAR PUSTAKA


http://id.wikipedia.org/wiki/Molding#Molding
Fundamentals of Modern Manufacturing-Mikell P.Groover
http://terasepte.blogspot.com/2014/05/makalah-pengecoran.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Blow_molding#Proses
Charles A. Harper (2000). Modern Plastic Handbook. McGraw-Hill