Anda di halaman 1dari 13

1.

Ruang Lingkup
Kegiatan tebang habis pada prinsipnya hanya boleh dilaksanakan pada
areal hutan Produksi saja. Bagi areal hutan produksi terbatas atau yang
berdasarkan inventarisasi/risalah hutan termasuk lapangan tidak baik untuk
tebang habis. Pengaturan tebangannya/pengelolaannya sudah diatur dalam
pedoman pengelolaan Hutan Produksi Terbatas (SK Direksi Perum Perhutani
No. 2638/Kpts/Dir/1997).

2. Verifikasi Areal Tebangan

Penentuan batas- batas areal larangan penebangan berupa kawasan
perlindungan setempat (KPS) dilokasi tebangan oleh Biro Perencanaan
sedangkan batas teresan tebangan dilaksanakan oleh KPH. Berdasarkan RTT
yang telah disahkan, pada bulan januari tahun berjalan administratur /KKPH
menerbitkan Surat Perintah Teres (Lampiran 1), dan dilampiri peta dari
petak/anak petak yang akan diteres berskala 1:10.000.

Surat Perintah Teres tersebut dibuat rangkap empat:
1. Lembar kesatu (asli) untuk mandor yang bersangkutan.
2. Lembar kedua untuk KPH/KBKPH.
3. Lembar ketiga untuk wakil admi8nistratur/KSKPH.
4. Lembar keempat untuk arsip Kantor KPH.
Berdasarkan Surat Perintah Teres seperti dijelaskan pada angka 1.2 di atas.
ASPER/KBKPH Bersama-sama dengan KRPH dan Mandor yang
bersangkutan menentukan batas rencana teresan dilapangan. Adapun tanda
batas rencana tebangan tersebut berupa tanda 2 (dua) lingkaran merah yang
melingkar mengelilingi pohon batas (lampiran 2), sedangkan jarak rencana
teresan tersebtu ditentukan pula batas-batas areal antara pohon batas 25
meter.
Bersamaan dengan menentukan batas rencana tebangan teresan, didalam areal
rencana teresan tersebut ditentukan pula batas-batas areal larangan
penebangan pohon. Tanda batas areal larangan penebangan pohon berupa
lingkaran merah yang melingkar mengelilingi pohon batas (lampiran 3.)
dengan jarak antar pohon batas larangan meter.
Pekerjaan menentukan batas teresan dan batas areal larangan penebangan
pohon tersebut sudah harus selesai bulan Februari tahun berjalan, dan segera
dilaporkan pada SPH/Biro Perencanaan harus selesai bulan Maret tahun
berjalan sehingga pihak KPH dapat segera melaksanakan Klem dan teres-nya.
Hasil pemeriksaan oleh SPH/Biro perencanaan (bewrsama-sama dengan KPH)
agar dibuatkan Berita Acara Hasil Pemerikksaannya.
Pembagian blok dipeta dan dilapangan menggunakann batas alam dan garis
siku-siku Luas Blok antara 1-3 Ha dengan mempertimbangkan potensi
produksi per Ha. Selanjutnya dilakukan rintisan batas blok dengan diberi
tanda patok batas atau tanda batas blok di pohon berupa lingakaran hitam
mengelilingi pohon (lampiran 3). Kegiatan pembagian blok tersebut dilakukan
diluar areal larangan penebangan pohon.
Kegiatan perencanaan yang telah dilaksanakan tersebut perlu di Verifikasi
kegiatan dalam Verifikasi adalah :
2.1. Koleksi Data dan Peta Rencana Tebangan
Data yang dikumpulkan berupa data dasar petak tebangan yang berisi
nomor petak dan luas, batas tebangan, batas blok tebangan. Disamping itu
juga data-data tentang areal perlindungan didalam dan sekitar petak
tebangan (LDTI, Situs, KPS, Habitat Satwa penting), jalan sarad tempat
pengumpulan. Semua informasi tersebut diatas di tuangakan didalam peta
yang disiapkan oleh bagian perencanaan KPH (Peta Rencana
Operasioanal Pemanenan).
4.2.2.2 Verifikasi Perencanaan Dibanding Kondisi Lapangan
2.2.1. Data dan informasi pada Peta divalidasi dengan kondisi lapangan
2.2.2. Data yang diverifikasi meliputi tanda batas perlindungan,
batas blok, jalan sarad, tempat pengumpulan (sesuai chek list yang
disiapkan, seperti pada lampiran 21).
2.2.3. Validasi peta waktunya bersamaan dengan pelaksanaan he klem.
2.2.4. Up Date peta
Berdasarkan hasil verifikasi dilakukan perbaikan/up date peta yang
Yang kegiatan pemanenan dan ditempel pada barak kerja.

3. Klem Tebang Habis dan Teresan

3.2. Klem Tebang Habis

4.1.2. Setiap pohon didalam blok (diluar areal larangan
penebangan pohon) yang kelilingnya (di klem) dan diberi
nomor.
Penomoran pohon diurutkan untuk setiap blok, dimulai dari
Arah Barat Laut berputar searah jarum jam dan dilanjutkan
ke blok berikutnya (urutan nomor pohon berlaku untuk satu
petak/anak petak).

Kemudian diberi tanda pada pohon dan tunggak seperti contoh
berikut:

257

425
Keterangan :
257 : Nomor pohon
: Garis tempat mengukur keliling
425 : Keliling pohon (cm)

Pohon tumbang yang kelilingya diatas 20 cm tetap harus di ukur.

3.2.2 Untuk jenis jenis rimba yg terdapat didalam..........diberi no urut
tersendiri dan diberi kode khusus (dikleim sesuai jenis rimba
tersebut sesuai petunjuk yang berlaku).
3.2.3 Penebangan jenis-jenis rimba tersebut menyesuaikan.........
3.2.4 Cara pengukuran keliling dapat dilihat pada lampiran 4.
3.2.5 Nomor dan keliling pohon dicatat dalam daftar klem (lampiran 6)
dan dibuat daftar Rekapitulasi (lampiran 7). Sedangkan jenis rimba
dibuat daftar klem terpisah.
3.2.6 Daftar klem yang dikirim ke kantor KPH segera dimasukan
kedalam buku Laporan Hasil Cruising (LHC) dan dibuat
Rekapitulasinya kemudian disampaikan kepada Kepala Dinas
Kehutanan Provinsi untuk mendapatkan Pengesahan.
3.2.7 Pekerjaan klem termasuk administrasi dan pemeriksaannya oleh
KPH harus sudah selesai bulan juni tahun berjalan.

3.3 Teresan

Kegiatan teresan pada dasarnya adalah kegiatan meneres/mematikan
pohon agar diperoleh tegakan yang kering secara alami sehingga dapat
meminimalkan kerusakan pada saat ditebang.

3.3.1 Pohon yang diretes adalah mulai keliling 40 cm keatas. Tinggi
teresan rata tanah atau serendah mungkin dan permukaan tanah
(maksimal 10 cm) dan dalam hal-hal khusus dapat dilakukan
kepras banir (lampiran 5)
3.3.2 Setelan pekerjaan teresan selesai dibuat Berita Acara Penyelesaian
Teresan (lampiran 8) rangkap 5, dengan ketentuan
a. Lembar kesatu (asli) untuk kantor KPH (arsip)
b. Lembar lainnya untuk Wakil Administrasi ASPER / BKPH,
KRPH dan Mandor yang akan menebang dipetak/anak petak
tersebut.
3.3.3 Berita Acara Penyelesaian Teresan dikirim kekantor KPH dengan
dilampiri
a. Daftar Klem dan Rekapitulasi Daftar Klem.
b. Gambar petak/anak petak yang diteres dengan skala .......
lengkap dengan batas tebangan, nomor dan batas blok, rencana
lokasi ..... serta sarad, jalan sogok, batas areal lapangan penebangan
pohon dan sebagainya.
3.3.4 Pekerjaan teres termasuk administrasi dan pemeriksaannya
oleh KPH harus sudah selesai bulan juli tahun berjalan.

Kegiatan Tebangan

4.1. Persiapan Tebangan

4.1.1. Berdasarkan RTT yang telah disahkan oleh kapala Unit,
Administratur/KKPH pada bulan september sebelum
tahun berjalan menerbitkan Surat Perintah Tebang Habis
(lampiran 9) dengan dilampiri gambar peta dari
petak/anak petak/blok kepada ASPER/KBKPH.

4.1.2. Persiapan lapangan
4.1.2.1. Perbaikan ringan jalan mobil termasuk perbaikan
jalan desa atau milik pihak ketiga termasuk
menaksir blok dan volume yang perlu disarad
dengan menggunakan sistem atau alat mekanis
4.1.2.2. Pembuatan jalan sogok, jalan sarad dan perbaikan
jalan desa atau milik pihak ketiga, termasuk
menaksir blik dan volume yang perlu disarad
dengan menggunakan sistem atau alat mekanis
4.1.2.3. Ulangan babat batas keliling dan batas blok.
4.1.2.4. Pembuatan babagan dan pembabatan/pembersihan
lapangan tempat pengumpulan kayu (TP). Bentuk
dan ukuran babagan lampiran 10.
4.1.2.5.Pemeriksaan ulang (Her Klem) terhadap pohon-
pohon dalam petak/anak petak yang akan di tebang
antara lain :
a. Pemeriksaan dan bagi pohon yang letterannya
sudah tidak jelas dilakukan penulisan ulang
nomor dan keliling pohon.
b. Untuk pohon yang terlewat (belum di klem)
supaya diukur dan diberi nomor urut , dengan
cara menggunakan nomor pohon yang terdekat
ditambah dengan kode huruf a, b, c, dan
seterusnya.
Pemeriksaan tersebut berdasarkan daftar klem
dan jika ada pohon yang hilang karena
pencurian atau bencana alam, supaya
dilengkapi dengan laporan huruf A dan ditulis
pada daftar klem dan buku taksasi (DK. 316).
4.1.2.6. Sensus terhadap pohon penghasil H dan Vi serta
menaksir produksi H dan Vi




4.1.3. Persiapan Tenaga Kerja, Peralatan, Sarana Prasarana Kerja dan
Regu Kerja Tebangan.

4.1.3.1. Mempersiapkan tenaga kerja (Blandong, Penyarad)
termasuk kegiatan penyuluhan/pemberitahuan kepada
masyarakat setempat bekerjasama dengan kepala desa
atau pemimpin informalnya.
4.1.3.2. Mempersiapkan alat-alat kerja antara lain gergaji
potong, gergaji rantai, (chain saw). Gergaji busur
(frame dan blade), kikir, tempat gergaji, alat giwaran,
rantai sarad, meteran, phi band, kawat, penyogok, cat,
ter, batu asah, tirfor, cangkul,ganco dan parang.
4.1.3.3. Mempersiapkan perlengkapan babagan antara lain
meja, kursi, almari, buku, P3K, kalender, lampu kapal
dengan minyak tanah, gentong air minum, papan
peringatan/larangan,papan kemajuan pekerjaan dan
kandang sapi.
4.1.3.4. Mempersiapkan kebutuhan administrasi tebangan, buku
pembantu (penerimaan harian), papan tempel sebagai
papan pelengkap, buku klapper, buku klem tarif upah,
blangko-blangko modek DK.
4.1.3.5. Penetapan regu kerja tebangan dalam pengendalian
tanaman sesuai dengan jumlah petak, luas, dan volume
tebangan.
4.1.3.6. Perlengkapan administrasi
Didalam babagan tebangan dilengkapi dengan
1. Papan tempel lengkap dengan
a. Surat Perintah Tebang
b. Gambar Peta Tebangan
c. Buku-buku pembantu (penerimaan)
Pengangkutan dan persediaan
d. Rekapitulasi Kemajuan Tebangan
e. Kalender
f. Buku Inventaris
g. Pedoman, Petunjuk kerja atau instruksi
h. Buku tamu dan instruksi harian
i. Tarif upah
2. Alat tulis menulis
3. Tabel isi
4. Buku klapper
5. Buku klem
6. Blangko-blangko model DK


4.1.3.7. Persiapan alat keselamatan dan kesehatan kerja
untuk para pekerja antara lain Helm, pengaman
masker, sarung tangan, sepatu.
4.1.3.8. Pelatihan tebangan dan K3
Tujuan untuk menyegarkan kembali penebangan
dilapangan meliputi teknik penebangan dan materi
SMK3
4.1.4. Berdasarkan acara persiapan tebang habis.
Setelah pekerjaan persiapan tebangan selesai, segera
dibuatkan berita Acara Persiapan Tebang Habis Jati
(Lampiran 13.) rangkap 5 dengan ketentuan :
a. Lembar kesatu (asli) untuk kantor KPH
b. Lembar lainnya untuk arsip Wakil
Administratur/KSKPH. Asper/BKPH, KRPH dan
Mandor tebang.
4.1.5. Pekerjaan sebagaimana tersebut pada angka 1.2 s/d 1.4
harus sudah selesai paling lambat bulan deserber sebelum
tahun pelaksanaan tebangan sehingga penebangan dapat
dilaksanakan mulai bulan januari tahun berjalan.
Disamping itu dalam bulan desember tersebut agar dibuat
Rencana Operasional (RO) tebangannya/ logging plan
yang berisi : Zonasi lingkungan (sempadan sungai,
tempat khusus), rencana jalan, letak Tpn, pola sarad, dan
peta rencana operasional tebangan.
4.1.6. Dalam rangka untuk kepentingan monitoring, evaluasi,
pengawasan dan pengendalian, serta penilaian yang
obyektif, paling lambat bulan Desember T-1 atau sebelum
pelaksanaan tebangan untuk setiap petak/anak petak
tebangan perlu dibuat suatu patokan/standar produksinya
bersifat kuantitatif dan kualitatif dengan melakukan
cutting test yaitu :
a. Menebang/memproduksi dari sejumlah pohon tertentu
(termasuk pohon H dan Vi) dimana pohon-pohon
yang ditebang tersebut adalah pohon yang kelilingnya
sama atau mendekati kelas keliling rata-rata petak
tersebut. Dan pohon-pohon yang ditebang tersebut
dipilih secara acak oleh Tim Cutting Test dari daftar
klemnya, dari 3 blok atau lebih dengan intensitas
sampling setiap blok sebesar 2,5 %.
b. Dalam pelaksanaan tebang/produksinya dilakukan
oleh suatu Tim yang terdiri dari Kasi PSDH, Wakil
Administratur/KSKPH dan Penguji Kayu yang
selanjutnya dibuat Berita Acaranya.


Patokan/standar produksi tersebut, disamping memakai satuan
M3 dan Sm, juga dihitung dalam satuan % sehingga
merupakan sasaran produksi yang harus dicapai/didekati dalam
realisasi pelaksanaannya nanti yang meliputi volume, koposisi
sortimen dan nilai (RP), status, panjang H AIII, mutu dan
harga rata-rata sortimen setiap pohon.

4.2. Teknik Tebangan

4.2.1. Berdasarkan pengesahan RTT Tebangan dan Pengesahan
Rekapitulasi LHC oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi,
Adminitratur mengeluarkan Surat Perintah Tebangan Habis
(Lampiran 14) rangkap lima dengan ketentuan :
a. Lembar kesatu (asli) untuk mandor tebang yang
bersangkutan.
b. Lembar kedua untuk ASPER/KBKPH.
c. Lembar ketiga untuk KRPH.
d. Lembar keempat untuk wakil administratur/KSKPH.
e. Lembar lainnya untuk arsip kantor KPH.
Surat Perintah Tebang Habis dilampiri gambar Peta Tebangan
skala 1:10.000 dengan dicantumkan :
a. Batas-batas tebangan.
b. Batas-batas blok tebangan.
c. Batas-batas areal larangan penebangan pohon/KPS
(jika ada)
d. Lokasi situs (jika ada).
e. Habitat satwa penting (jika ada).
f. Tempat penumpukan tiap blok.
g. Jalan sarad atau jalan pikul dan jaraknya masing-
masing blok.
h. Jarak angkut ke TPK/TPN.

4.2.2. Tebangan dimulai dari blok yang karena keadaannya dapat didahulukan,
penebangannya dengan ketentuan :

4.2.2.1. Prinsip tebangan adalah pohon per pohon artinya
setiap pohon harus diselesaikan terlebih dahulu
sebelum menebang pohon berikutnya.
4.2.2.2. Setiap blok harus diselesaikan lebih dahulu,
sebelum blok. Pindah ke blok berikutnya harus
dengan persetujuan tertulis dan ASPER/KBKPH
yang bersangkutan. (Lampiran 15).


4.2.3. Kayu yang berdiameter kecil penebangannya didahulukan Mandor tebang
menunjuk pohon yang akan ditebang. Pada radius 50 meter tidak boleh ada
orang lain ditempat tersebut kecuali blandong dan petugas tebangan yang
sudah menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Pada saatnya pohon akan
roboh, petugas tebangan (mandor tebang) memberi aba-aba (dengan teriakan
/peluit) sehingga orang-orang yang berada disekitar pohon dapat mendengar,
hal tersebut untuk mengantisipasi/ menghindar terjadinya kecelakaan.
4.2.4. Sebelum pohon ditebang harus ditentukan arah rebahnya dengan
mempertimbangkan kerusakan (pecah banting) seminimal mungkin.
4.2.5. Di buat alat takik rebah serendah mungkin dengan gergaji, selanjutnya dibuat
alat takik rebah maksimal 5 cm dibuat sejajar.
4.2.6. Dibuat takik balas dengan ketinggian sama dengan atap takik roboh demi
keamanan diwajibkan menggunakan baji sebagai alat bantu (lampiran 16).
4.2.7. Untuk penebangan pohon yang miring pada tanah datar atau tanah miring,
arah rebahnya tidak harus mengikuti arah kemungkinan pohon keterangan
lebih lanjut periksa (lampiran 17).
4.2.8. Untuk menebang dapat dilaksanakan dengan teknik takik roboh atau dengan
teknik T3R. Kegiatan penebangan pohon dan pemotongan batang
menggunakan gergaji potong yang panjangnya disesuaikan dengan garis
tengah pohon, sedangkan untuk daerah yang sulit untuk tenaga kerja
blandong, dapat digunakan gergaji mesin.
4.2. Pembagian batang
Pelaksanaan pembagian batang (Bucking) adalah sebagai berikut :
4.3.1. prinsip pembagian batang adalah menghimput cacat-cacat di satu
potongan batang kayu sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh nilai
kayu yang setinggi-tingginya.
4.3.2. manajemen batang per batang adalah urutan pelaksanaan pemotongan
dimulai dari pangkal ke ujung dengan tetap memperhatikan ujung kayu
pertukangan. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan potongan
berikutnya bila dijumpai cacat pada permukaan bontos setelah dipotong
(tidak tampak dari luar ataupun pada saat pembagian batang.
4.3.3. pohon yang sudah ditebang, dilanjutkan pembagian batang kedalam
beberapa potongan mulai dari pangkal pohon keujung menurut
pedoman pembagian batang yang berlaku. Tiap batas pembagian batang
diberi tanda dengan teer dengan tiga garis. Garis ditengah merupakan
tempat menggergaji jarak antar garis 2 cm. Pada tiap batang kayu harus
ditulis nomor pohon, nomor batang, panjang dan diameternya.

Foto : keterangan :
300 = nomor pohon
2 = nomor urut potongan kayu
270 = panjang potongan kayu
33 = diameter ujung potongan batang
Gambar 1. Pembagian batang.

4.3.4. Sebelum pelaksanaan pembagian batang :
a. Pertama-tama adalah pemangkasan cabang-cabang yang rata dengan
batangnya.
b. Batasi bagian batang yang masuk sortimen A III ( 30 cm )
batas antara 22 cm dengan 19 cm, batas 10 cm dan batas 4/7 cm.
c. Dilihat kemungkinan kandungan Vi-nya atau H-nya.
d. Urutkan berikutnya sesuai Bucking Police
4.3.5. Hasil pembagian batang (sebelum dipotong) dibukukan dalam buku taksasi
(DK 316) pada kolom ukuran kasar.
4.3.6. Pemotongan dilakukan sesuai dengan ter pada garis ditengah (dipotong benar-
benar siku). Kemudian diukur diameter ujung terkecil tiap batang.
4.3.7. Penomoran potongan batang dimulai dari potongan pangkal batang berturut
turut sampai cabang terkecil.
4.3.8. Kayu-kayu yang telah dipotong dicatat dalam buku taksasi (DK316) pada
kolom pendapatan dan untuk kayu bernomor diberi nomor penerimaan.

4.4. Penandaan
4.4.1. Penandaan pada tonggak
Penandaan pada tonggak dengan menggunakan teer atau alat lain seperti
Palu tok atau slag hammer dengan identitas jelas meliputi :
a. Nomer urut tebang
b. Nomor pohon yang ditebang
c. Tanggal penebangan
d. Nama dan alat penebang
e. Parat mandor tebang
Gambar. Keterangan:
405 nomor urut batang
511 nomor pohon
6-6-08 tanggal penebangan
Narto nama penebang
Salem alamat penebang
P paraf mandor tebang
511 tulisan pada pangkal
146 pohon pada waktu klem
Gambar. Tonggak
4.4.2. Penandaan pada kayu
Pada bontos bawah dari batang-batang tersebut diberi tanda
sebagai berikut :
Gambar.


Gambar. Pemberian tanda pada bontos bawah (nomor pohon, nomor batang )

a. Untuk kayu bernomer
Pada permukaan bontos atas dibagi menjadi dua (dua) bagian, dipisahkan
oleh garis tegak dengan terr, menjadi bagian kiri (A) dn bagian kanan (B).
Bagian (A) diperuntukkan bagi pemberian tanda dihutan sedang bagian B
tanda di TPK. Apabila kayu tersebut diperkirakan menjadi penghara insdustri
pada bagian (A) ditulis tanda H atau ditulis tanda VI apabila diperkirakan
akan menjadi H atau veneer (H hitam dan Vi hitam). Pada bagian (A) diberi
tanda-tanda sebagai berikut :
b. Untuk kayu tidak bernomer.

4.5. administrasi/penatausahaan hasil hutan
4.5.1. Blangko-blangko Model DK
DK 301 : Daftar Penerimaan Kayu Bernomer
DK 302 : Daftar Penerimaan Kayu tidak bernomer dan hasil hutan
lainnya
DK 303 : Daftar penghelaan kayu
DK 303a : Daftar gabungan penghelaan hasil hutan
DK 304 : Daftar pengangkutan biasa kayu bernomer
K 304a : Daftar pengangkutan antara
DK 304b : Daftar pengangkutan biasa kayu tak bernomer dari hasil
hutan lainnya.
DK 305a : Daftar gabungan pengangkutan biasa
DK 305b : Daftar gabungan pengangkutan antara
DK 306 : Daftar pembetulan
DK 307 : Pertelaan dari persediaan ditempat pengumpulan
DK 311 : Daftar perubahan B
DK 316 : Buku Taksasi
DK 326 : Daftar persediaan kayu bernomer didalam hutan
DK 327 : Daftar persediaan kayu bernomer ditempat pengumpulan
DK 328 : Daftar persediaan kayu tak bernomer ditempat pengumpulan

4.5.2. Pengisi Buku Taksasi (DK 316)
a. Sebelum buku Taksasi diberikan atau dikirim kepada
ASPER/KBKPH terlebih dahulu KTKU mengisi nomer urut
keliling dan volume (dasar klem). Nomer urut diisikan pada kolom
4 dibawah keliling pohon.
b. Pohon-pohon calon Hara hasil inventarisasi ditulis dengan huruf ....
warna merah di bawah keliling dan volume pohon (pada kolom 4)
c. Setelah pohon ditebang/rebah pengisian buku taksasi adalah sebagai
berikut.
Tanggal penebangan pada kolom satu
Nama dan alamat penebang pada kolom data
Nomor urut penebangan pohon ditulis pada kolom tiga di
bawah nomor urut pohon.


d. Rencana pembagian batang ditulis pada kolom ukuran kasar (taksiran)
yaitu:
Kolom lima diisi nomor urut potongan kayu
Kolom enam diisi ukuran panjang
Kolom tujuh diisi ukuran garis tengah (diameter)
Kolom delapan diisi jenis atau golongan sortimen kayu
(AI,AII,AII atau kayu bakar)
e. Pada kolom pendapatan diisi setelah pembagian batang dilaksanakan
yaitu :
Kolom sembilan diisi jenis atau golongan sortimen potongan kayu
yang bersangkutan (AI,AII,AIII atau kayu bakar). Dan bila
diperoleh sortimen AIII klasifikasi penghara H atau Vi, agar
ditulis AIII H dan AIII Vi
Kolom sepuluh, sebelas, dan dua belas dan tiga belas masing-
masingdata ukuran panjang, lebar dan tebal (diameter) serta
volume potongan kayu
Kolom empat belas diisi tanggal penerimaan kayu
Kolom lima belas diisi nomor penerimaan potongan kayu
f. Pada setiap pohonnya direkapitulasi realisasi produksi AI, AII, AIII, AIII
H, AIII Vi dan KBP (satuan M), kayu bakar (Satuan Sm) serta
dipersentase (%) terhadap targetnya. Format buku taksasi DK 316
seperti pada lampiran18.
Angkutan
5.1. Penyaradan.
5.1.1. Sebelum tebangan dimulai jarak sarad dari tiap-tiap blok ke
tempat pengumpulan (TP) ditentukan sesuai dengan kondisi
lapangan. Pada blok-blok tertentu disiapkan juga penyaradan
sistim atau alat mekanis.
5.1.2. Penyaradan mengikuti pola sarad.
5.1.3. Pembuatan sudetan pada bekas jalan sarad.
5.1.4. Kayu bundar tak bernomor ( AI dan AII) diterima di TP
ditambah upah pikul atau sarad sesuai dengan jarak minimal 2
Hm.
5.1.5. Kayu bundar bernomor (A III) diterima ditinggak.
5.1.6. Pada lapangan yang karena topografinya datar, dimana
dimungkinkan alat angkut (truck) masuk bidang tebangan, maka
pengaturan atau mendekatkan kayu untuk jarak 0 2 Hm tetap
diperhitungkan biaya sarad 2 Hm (tanpa diberi pembuatan jalan
sogokan).




5.2. Angkutan
5.2.1. Pengangkutan dari TP ketempat penimbunan kayu (TPK) harus
diusahakan secara tertip (menggunakan model DK 304).
5.2.2. Pengangkutan kayu veneer (Vi) dan penghara (H) dari TP ke
TPK agar diprioritaskan sehingga tidak terjadi penurunan mutu
kayunya.

5.3. Sisa Persediaan
Sisa persediaan dalam hutan/TP, pada akhir tebangan harus nihil.

5.4. Tata waktu Pelaksanaan Penyelenggaraan Tebang Habis Hutan
Jati (Lampiran 20).

SMK3

6.1. SMK3
Didalam pelaksanaan tebangan secara aktif dilaksanakan keselamatan
dan kesehatan kerja para pekerja hutan dengan mengendalikan bahaya
dan potensi bahasa, pada daerah penebangan, penyaradan, angkutan,
penggunaan alat tebang dan pemakaian kelengkapan alat pelindung diri
(APD) dalam rangka mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan
kerja serta penyakit akibat kerja dan terciptanya tempat kerja yang
aman, efesien dan produktif. Agar pelaksanaan keselamatan dan
kesehatan terjamin perlu dibentuk tim inspeksi K3 yang bertugas
melaksanakan pemeriksaan rutin terhadap penerapan SMK3. Pelaksaan
SMK3 mengacu kepada pedoman dan manual SMK3.

6.2. Pengamanan Tegakan
Pembinaan keamanan sejak tegakan diteres sampai dengan pelaksaan
tebangan perlu diusahakan melalui usaha-usaha antara lain :
Mengganggu kelancaran tebangan.
1. Teresan
Petak petak teresan yang di pandang rawan keamanan perlu
diadakan usaha-usaha pengamanan.
1.1. Pengadaan babagan keamanan dan petugas penjaga
1.2. Pemanfaatan lahan dibawah teresan dengan ...........
......................................................
Meningkatkan kesejahteraan petani
hutan......................................serta dalam pengaman tegakannya
pemanfaatan...............supaya diatur dan dituangkan dalam
surat................................pada saat tebangan dilaksanakan
..................................................................
2. Tebangan
Penempatan babagan dengan memperhatikan .............................
keamanan.

7. Kegiatan pasca pemanenan

7.1. Pemeriksaan Areal Bekas Tebangan
7.1.1. Pemeriksaan bekas tebangan dan jalan sarad
Pemeriksaan bekas tebangan oleh mandor tebang dan....................
untuk memastikan tidak ada pohon yang ditebang diluar batas
tebangan. Sedangkan pemeriksaan jalan sarad untuk
mengidentifikasi ................. kerusakan karena penyaradan dengan
tenaga sapi/kerbau biasanya menyebabkan terkelupasnya lapisan
tanah atas.
7.1.2. Identifikasi terhadap kondisi tumbuhan bawah dan habitat satwa
yang ada dilokasi tebangan, jalan sarad dan Tp.
7.1.3. Pengecekan terhadap limbah B3 akibat penggunaan oli dengan.....
pemeriksaan pada lampiran 22.

7.2. Berita Acara Penyelesaian Tebangan
Berita Acara Penyelesaian Tebang Habis (lampiran 19) dibuat pada saat
tebangan sudai selesai. Pengertian selesai tebangan dalam arti semua
pohon yang diklem. (jadi maupun rimba) telah selesai dibikin kayu
perkakas dan kayu bakarnya dan tertib administrasi tebangan/hasil
hutannya sampai dengan angkutan, persediaan, nihil.
Berita Acara dibuat rangkap 6 (enam) dengan ketentuan :
a. Lembar kesatu (asli) untuk kantor KPH.
b. Lembar lainnya untuk arsip kepala seksi perencanaan hutan
Administratur/KSKPH, ASPER / KBKPH, KRPH dan Mandor
tebang yang bersangkutan.

8. Monitoring dan Evaluasi

8.1. Monitoring dilakukan terhadap kegiatan penebangan dan ............
penebangan kayu
8.2. Evaluasi kondisi areal bekas tebangan.
8.3. Monitoring terhadap keselamatan kerja ( penggunaan APD, kecelakaan
kerja dll).





selesai