Anda di halaman 1dari 15

Simulasi Komputer Penerapan Teknik Kendali Fuzzy

Sederhana untuk Pengaturan Muka air tanah di


Lahan Padi SRI
Computer Simulation of Application of Simple Fuzzy Technique for Water Table
Regulation in SRI Field
C.Arif
1
, S.K.Saptomo
1
, B.I.Setiawan
1
, dan M..A.Iskandar
2
1
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor
FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga, Bogor, email:saptomo@ipb.ac.id
2
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Abstract
This research was conducted by computer simulation to study the implementation of
automatic control the depth of water table in the paddy field which applied System of
Rice Intensification (SRI). The simulation was done by using numerical model to
approach the 1 dimensional saturated ground water flow, solved with Finite Diference
Method. Simple Fuzzy Control system was used to control water level in the canal that
bounds the field. Soil physical and hydraulic properties and evapotranspiration data
were used based on observation data. The control system works well in maintain water
level in the canal. However, to attain water table which is the same as the water level in
the canal required reasonable time, which depends on the size and soil properties of the
field.
Keywords: fuzzy control, computer simulation, water table control, SRI paddy
Abstrak
Penelitian dilakukan dengan simulasi computer untuk mengkaji penerapan teknik
kendali otomatis untuk mengatur kadalaman muka air tanah pada lahan sawah yang
menerapkan System of Rice Intensification (SRI). Simulasi dilakukan secara numerik
dengan mempergunakan komputer. Pola aliran air didekati dengan model matematika
aliran air dalam tanah 2 dimensi yang dipecahkan dengan Finite Diference Method.
Sistem kendali fuzzy sederhana digunakan untuk mengatur level air pada saluran
yang membatasi lahan. Sifat fisik dan hidrolika tanah dan evapotranspirasi, yang
dihitung menggunakan data pada penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.
Sistem kendali dapat bekerja dengan baik untuk mengatur level muka air di saluran.
Namun untuk mencapai muka air tanah yang sama dengan level air di saluran
dibutuhkan waktu, yang dipengaruhi oleh sifat fisik tanah dan ukuran lahan tersebut.
Keywords: teknik kendali fuzzy, simulasi komputer, pengaturan tinggi muka air, padi SRI
Pendahuluan
Sistem of Rice Intensification dewasa ini telah dikenal sebagai teknik budidaya
padi hemat air dan memberikan hasil yang lebih baik dari cara budidaya konvensional.
Pada prakteknya SRI memnggunakan irigasi intermittent, yang tidak menggenangi
secara terus menerus dalam waktu lama. Walaupun demikian, kadar air tanah tetap
dijaga sehingga pengaturan irigasi menjadi satu hal yang sangat pengting dalam SRI.
Pola pemberian air di sawah SRI juga akan disesuaikan dengan umur
tanaman. Air akan berfungsi ganda selain untuk memenuhi kebutuhan tumbuh
tanaman juga untuk mencegah tumbuhnya gulma yang akan mematikan bibit padi.
Pola pemberian air ini berbeda-beda di setiap daerah, tetapi akan memberikan beban
tambahan apabila ingin dilakukan pengaturan air yang akurat dan dilakukan secara
manual.
Sistem kendali untuk pengaturan muka air telah secara intensif dikembangkan
oleh Iskandar et.al. (1999), Setiawan et.al (2001a), Setiawan et.al.(2001b), Setiawan
et.al (2002) dan Saptomo et.al (2004) untuk mengatur muka air di lahan basah dengan
mengendalikan air di saluran yang membatasi lahan. Sistem kendali muka air secara
otomatis menjaga permukaan air di lahan pada level tertentu yang aman bagi
tumbuhan dan cukup bagi lahan untuk terhindar dari kekeringan berlebihan dan
deformasi. Sistem ini pada dasarnya dapat diterapkan untuk berbagai kasus
pengendalian muka air. Pengaturan air dalam teknik SRI ada kesamaan dengan lahan
basah (gambut) yaitu menjaga muka air tanah pada kedalaman yang baik untuk lahan
dan tanaman yang cukup dapat menyediakan kondisi kelembaban tanah yang cukup
untuk tanaman tetapi menghindari terjadinya evaporasi berlebihan yang tidak
diperlukan.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengaplikasikan sistem kendali muka air
untuk irigasi sawah SRI dalam suatu simulasi computer.
Tinjauan Pustaka
..
Metodologi
Permodelan
Model yang dipergunakan adalah suatu model aliran air tanah pada lahan
digenangi secara parsial yang dikembangkan oleh Setiawan et.al.(2008) sebagai salah
kontribusi untuk mendukung penelitian-penelitian dalam pengembangan SRI,
terutama dalam masalah yang berkaitan dengan air. Model ini secara umum didasari
model matematika aliran air dalam tanah seperti pada Pers.1:
) , ( t x Q
x
h
T
x t
h
S +

(1)
Dimana T = K
s
* h (cm
2
/h), h : head (cm H
2
O), x:jarak (cm) ,Q:net sink/source (cm/h),
S : storativitas dan t : waktu (hari).
Pers 1. Diselesaikan dengan finite difference methods dipecahkan dan
dipergunakan untuk membentuk sebuah model yang akan digunakan dalam simulasi
komputer. Dalam model ini juga telah ditambahkan fungsi-fungsi untuk melengkapi
factor-faktor alami seperti evaporasi, transpirasi, infiltrasi dan perkolasi dengan
berdasarkan pendekatan-pendekatan aliran air dalam sistem tanah-tanaman-atmosfir
seperti yang dapat ditemukan dalam Hillel (1980) dan Bear and Veruijt (1987).
Sistem kendali
Sistem kendali umumnya akan mengambil 2 parameter kendali yaitu error dan
beda error. Error adalah selisih antara kondisi harapan dan kondisi actual dan beda
error adalah perubahan kondisi tersebut. Error akan sama dengan selisih waterlevel
harapan (hsp) sebagai setpoint dan aktual (h), sedangkan beda error adalah perubahan
h itu sendiri. Teknik kendali yang dipergunakan pada penelitian ini adalah sistem
kendali fuzzy sederhana yang dikembangkan oleh Iskandar et al (1999).
Sistem kendali fuzzy didasarkan pada logika kendali jika-maka yang diterjemahkan
dalam satu set aturan pengendalian. Sistem kendali fuzzy sederhana dibangun
berdasarkan suatu sistem koordinat polar (Gambar 1)
Dimana
2
1
2
K K K
E f E D + =
................................................................................... (2)
K
K
K
D
E
1
cos

=
............................................................................................... (3)
D
k
adalah magnitud dan
k
adalah sudut fasa yang membentuk suatu koordinat
polar, f
1
adalah parameter yang dapat diatur untuk meningkatkan performansi sistem.
Bidang koordinat polar ini dapat dibaca sebagai berikut. Sumbu x menyatakan deviasi
atau perbedaan dari kondisi aktual terhadap kondisi kontrol atau setpoint, yang
dinyatakan dalam error Ek. Sumbu y menyatakan perubahan dari deviasi tersebut,
dan dinyatakan sebagai beda error Ek. Dalam kasus pengendalian air Ek adalah
selisih antara h aktual dawn h yang diharapkan sebagai setpoint, kemudian Ek
adalah perubahan h itu sendiri. Pada bidang polar tersebut dapat dilihat kondisi-
kondisi di mana irigasi dan drainase harus dilakukan, yaitu pada kuadran III dan I.
Pada kuadran I kondisi h aktual berada di atas setpoint dan sedang terjadi
kenaikan h, sehingga drainase harus dilakukan. Pada kuadran III yang terjadi adalah
kebalikan dari kuadran I, di mana h berada di bawah setpoint dan terjadi penurunan
WL sehingga harus dilakukan drainase. Pada kuadran II dan IV terjadi kondisi yang
Irigasi
III
IV
Drainase
I
II
f
2
E
K

K
E
K
f
2
E
E
Gambar 1. Bidang polar sistem kendali fuzzy sederhana (Iskandar et. al
(1999))
bergantian (alternating) di mana irigasi dan drainase akan beroperasi secara
bergantian. Garis diagonal yang berada di pertengahan kuadran II dan IV adalah
garis dimana irigasi dan drainase tidak terjadi. Penentuan irigasi atau drainase akan
dilakukan secara otomatis dengan inferensi fuzzy.
Dari bidang polar aturan kendali fuzzy di atas dapat diturunkan sebuah fungsi
keanggotaan untuk
k
dan untuk D
k
seperti pada Gambar 2 :
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
0 90 180 270 360
Sudut Fasa !
"
Positif (I)
Negatif (D)
P
N
Gambar 2 Fungsi Keanggotaan Sudut Fasa (Iskandar et. al (1999)

f 2
Gambar 3. Fungsi keanggotaan Magnitudo (Iskandar et. al (1999)
Berdasarkan kedua fungsi keanggotaan diatas dapat diturunkan sinyal kendali U
k
pada Pers. 4.
m D
P N
P N
K
U U


+

=
.................................................................................... (4)
Dengan U
m
adalah nilai maksimum sinyal kendali, yang besarnya dioptimalkan dari
hasil penyetelan dan kelayakan teknis. Dari hubungan
P
= 1
N
diperoleh
m D N K
U U ) 2 1 ( = .................................................................................. (5)
U
m
dan U
k
setara dengan irigasi atau drainase yang diberikan. Aktualisasinya dapat
berupa besaran bukaan pintu air, jumlah pompa atau putaran pompa, tergantung
sistem yang digunakan. Pada kasus ini U
m
dan U
k
adalah laju irigasi (cm/hari) yang
diberikan langsung untuk mengatur h
Simulasi
Model simulasi dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini. Lahan diasumsikan
memiliki saluran irigasi sekaligus drainase di kedua sisinya yang dapat diatur level
muka airnya secara bebas. Tinggi air pada kedua saluran ini menjadi batas kiri dan
kanan untuk tanah dalam model simulasi. Level air pada kedua saluran inilah yang
akan diatur dengan sistem kendali untuk memberikan muka air tanah dalam tanah
yang sesuai untuk pola SRI. Kedalaman tanah yang digunakan adalah 100 cm dan
pada kedalaman 80 cm terdapat lapisan semipervious yang akan menahan laju
perkolasi seperti umumnya terdapat pada lahan sawah.

infiltrasi
evaporasi
evaporasi evaporasi
transpirasi
perkolasi
Muka air tanah
Hisapan akar
(root uptake)
Gambar 4. Penampang melintang lahan
Sistem kendali yang dipergunakan adalah seperti yang disajikan dalam
Saptomo (2000) seperti pada Gambar 5. Kondisi muka air tanah di lahan dan muka air
tanah di saluran dideteksi dengan menggunakan sensor tekanan, kemudian informasi
tersebut diteruskan ke komputer. Input tersebut kemudian diproses dengan perangkat
lunak sistem kendali, yang kemudian akan mengatur penyalaan pompa irigasi atau
drainase sesuai dengan kebutuhan.
Pada simulasi ini hanya tinggi muka air di tengah lahan saja yang dijadikan
acuan untuk pengendalian atau sebagai setpoint. Pola pemberian air yang dilakukan
merujuk pada umumnya pengaturan air sawah SRI di Jawa Barat dengan
memperhatikan batas-batas maksimum dan minimum lengas tanah seperti dalam
rancangan operasi irigasi SRI yang dipaparkan oleh Kalsim et al (2007).
Dalam simulasi ini lebar lahan dibatasi hanya 300 cm walaupun program yang
digunakan memungkinkan untuk dimensi lahan yang tidak terbatas. Hal ini
dilakukan untuk mempercepat proses kalkulasi iteratif yang terjadi dalam simulasi.
Pemrograman dan simulasi dilakukan dengan mempergunakan macro basic pada
perangkat lunak spreadsheet.
Irigasi
Drainase
pompa pressure
transdu#er
pompa
pressure
transdu#er
pompa
Irigasi
Drainase
Gambar 5. Skema sistem pengendalian (Saptomo, 2000)
$asil dan Pembahasan
Konduktivitas hidrolika K
s
yang digunakan dalam simulasi ini adalah sebesar
10
-5
cm/detik dengan porositas efektif 60%. Simulasi dilakukan untuk 100 hari sejak
penanaman. Pola irigasi yang diberikan adalah berdasarkan setpoint h
sp
= 100 cm
(permukaan tanah), 70 cm dan intermittent.
Gambar 6a, b, dan c memperlihatkan hasil simulasi untuk pengendalian pada
h
sp
= 100 cm. Pada waktu inisial, tanah seluruhnya jenuh dengan muka air tanah
seragam di semua titik sama dengan tinggi muka air di saluran yaitu 100 cm.
Kemudian karena adanya perkolasi dan evapotranspirasi air keluar dari dalam tanah
dan menyebabkan turunnya muka air tanah di semua titik termasuk di tengah lahan.
Perubahan ini dideteksi oleh sistem kendali sehingga sistem merespon dengan
menyalakan pompa irigasi untuk menjaga muka air tanah tetap pada 100 cm dengan
menaikkan muka air pada saluran.
0
20
40
60
80
100
120
0 20 40 60 80 100
Time (days)
H
e
a
d

(
c
m
)
0
2
4
6
8
10
12
I
r
r
i
g
a
t
i
o
n

r
a
t
e

(
c
m
/
d
)
H canal H field
set point irrigation rate
Gambar 6a. Operasi pengendalian pada h
sp
= 100cm
- 10
- 5
0
5
10
15
20
25
0 20 40 60 80 100
Time (days)

r
r
o
r

(
c
m
)
1!"!!!!88
1!"!!!!!
1!"!!!!!2
1!"!!!!!4
1!"!!!!!6
1!"!!!!!8
20
20"000002

r
r
o
r

c
#
a
n
g
e

(
c
m
/
d
)
rror rror c#ange
Gambar 6b. Error dan beda error pada pengendalian h
sp
= 100cm
0
50
60
$0
80
!0
100
110
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
0 60
50
60
$0
80
!0
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
60
20
50
55
60
65
$0
$5
80
85
!0
!5
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
20 80
50
60
$0
80
!0
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
80
40
50
55
60
65
$0
$5
80
85
!0
!5
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
40 100
50
60
$0
80
!0
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
100
Gambar 6c. Muka air tanah pada t = 0, 20, 40, 60, 100 hari pada pengendalian h
sp
=
100cm
Kerja pompa untuk mengendalikan muka air dapat dilihat pada laju irigasi
(irrigation rate) Gambar 6.a Muka air saluran dapat dipertahankan mendekati level
100 cm akan tetapi muka air tanah tidak dapat mencapai level yang diinginkan. Hal
ini disebabkan oleh keterbatasan sistem pada pengaturan pengendalian ini. Gambar
6b. menunjukkan selisih antara level yang diharapkan dengan kondisi aktual di
tengah lahan (Error) serta laju perubahan Error tersebut, dapat dilihat bahwa h
maksimal di tengah lahan masih sekitar 20 cm dibawah h
sp
. Gambar 6.c menunjukkan
bahwa sebaran muka air tanah atau muka air tanah pada berbagai waktu simulasi.
Dapat dilihat bahwa muka air tanah masih belum sesuai dengan yang diharapkan,
terutama di bagian tengah, akan tetapi semakin dekat posisinya terhadap saluran
muka air tanah akan semakin mendekati h
sp
.
Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, pengendalian pada h
sp
= 70cm
menghasilkan sebaran muka air tanah sekitar 20 cm dibawah permukaan seperti
dilihat pada Gambar 7a, b dan c. Akan tetapi sistem kendali masih dapat
mempertahankan muka air tanah dekat dengan level 70 cm, sehingga dapat dilihat
kemampuan sistem kendali pada pengaturan simulasi ini lebih baik dari sebelumnya.
Hal yang cukup menarik adalah, pada kedua simulasi ini air diberikan secara
terputus-putus seperti intermittent irigasi yang juga diterapkan pada pola SRI, hanya
pada kasus ini pemberian air dilakukan secara otomatis.
0
20
40
60
80
100
120
0 20 40 60 80 100
Time (days)
H
e
a
d

(
c
m
)
0
5
10
15
20
25
I
r
r
i
g
a
t
i
o
n

r
a
t
e

(
c
m
/
d
)
H canal H field
set point irrigation rate
Gambar 7a. Operasi pengendalian pada h
sp
= 70cm
- 25
- 20
- 15
- 10
- 5
0
5
10
15
0 20 40 60 80 100
Time (days)

r
r
o
r

(
c
m
)
- 25
- 20
- 15
- 10
- 5
0

r
r
o
r

c
#
a
n
g
e

(
c
m
/
d
)
rror rror c#ange
Gambar 7b. Error dan beda error pada pengendalian h
sp
= 70cm
0
50
60
$0
80
!0
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
0 60
50
60
$0
80
!0
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
60
20
50"00
60"00
$0"00
80"00
!0"00
100"00
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
20 80
50
60
$0
80
!0
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
80
40
50
60
$0
80
!0
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
40 100
50
60
$0
80
!0
100
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
100
Gambar 7c. Muka air tanah pada t = 0, 20, 40, 60, 100 hari pada pengendalian h
sp
=
70cm
Sedikit berbeda dengan dua simulasi sebelumnya, simulasi ketiga yang
ditunjukkan pada Gambar 8a, b dan c, dimulai dengan sebaran muka air inisial pada
level 90cm di semua titik. Tidak seperti sebelumnya yang dikendalikan pada setpoint
tetap selama masa tanam, simulasi ini menerapkan pola intermittent dimana setpoint
berubah-ubah dengan pola air irigasi diberikan sampai terjadi genangan selama satu
hari setiap 10 hari sampai hari ke 90. Pada hari selainnya diberikan setpoint 50cm,
yaitu sama dengan membiarkan air di saluran habis secara alami.
Setiap 10 hari sekali selama 1 hari air di saluran akan dinaikan sedikit diatas
permukaan tanah sampai cukup terjadi infiltrasi kedalam tanah. Hal ini dilakukan
dengan memberikan setpoint sedikit di atas 100cm. Hasil pengendalian dengan cara
ini cukup baik karena dapat memberikan muka air tanah yang cukup rata dan
seragam pada kedalaman sekitar 20 cm dibawah permukaan tanah sampai hari ke 80
seperti terlihan pada Gambar 8.c.
0
20
40
60
80
100
120
0 20 40 60 80 100
Time (days)
H
e
a
d

(
c
m
)
0
5
10
15
20
25
I
r
r
i
g
a
t
i
o
n

r
a
t
e

(
c
m
/
d
)
H canal H field
set point irrigation rate
Gambar 8a. Operasi pengendalian intermittent
- 15
- 10
- 5
0
5
10
15
20
25
0 20 40 60 80 100
Time (days)

r
r
o
r

(
c
m
)
- 25
- 20
- 15
- 10
- 5
0
5
10
15
20
25

r
r
o
r

c
#
a
n
g
e

(
c
m
/
d
)
rror rror c#ange
Gambar 8b. Error dan beda error pada pengendalian intermittent
0
50
55
60
65
$0
$5
80
85
!0
!5
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
0
20
50
55
60
65
$0
$5
80
85
!0
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
20
40
50
55
60
65
$0
$5
80
85
!0
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
40
80
50
55
60
65
$0
$5
80
85
!0
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
80
60
50
55
60
65
$0
$5
80
85
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
60
100
50
55
60
65
$0
$5
80
85
!0
0 50 100 150 200 250 %00
&istance (cm)
H
e
a
d

(
c
m
)
100
Gambar 8c. Muka air tanah pada t = 0, 20, 40, 60, 100 hari pada pengendalian
intermittent
Secara umum dapat dilihat bahwa sistem kendali fuzzy sederhana ini dapat
digunakan untuk pengendalian muka air tanah pada lahan pertanian SRI. Akan
tetapi kondisi lapang dan kemampuan sistem kendali akan membatasi kinerja sistem
irigasi otomatis ini. pengendalian dengan penggenangan secara berkala akan
memberikan hasil yang lebih baik dan muka air tanah yang lebih seragam di lahan.
Profil muka air tanah ini tentunya akan dipengaruhi sifat hidrolika tanah dan juga
dimensi lahan yang dibatasi oleh saluran.
Pada simulasi ini pengaruh hujan dan evapotranspirasi yang dihitung
berdasarkan data meteorologi belum dimasukkan. Akan tetapi fasilitas tersebut telah
disediakan dalam program simulasi ini sehingga program ini dapat digunakan untuk
simulasi dengan data lapang dan data cuaca dari berbagai daerah sebagai tahapan
awal dalam desain lahan SRI beririgasi otomatis.
Percobaan lapang merupakan tahap berikutnya yang harus dilakukan sebagai
kelanjutan dari simulasi ini. Pada percobaan lapang akan diketahui secara nyata
efektifitas sistem irigasi otomatis berbasi teknik fuzzy ini. Lebih jauh lagi, dari
simulasi dan juga eksperimen lapang akan dapat terlihat pola irigasi yang optimum
sesuai dengan kondisi lahan, yang kemudian dapat diturunkan menjadi petunjuk
irigasi secara manual apabila sistem otomatis tidak tersedia.
Kesimpulan
Sistem kendali fuzzy sederhana telah diterapkan untuk pengendalian muka air
tanah dan digunakan dalam simulasi pengendalian muka air tanah pada pola tanam
SRI. Sistem kendali dapat bekerja dengan baik sesuai dengan algoritma kendali yang
digunakan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa system kendali memiliki keterbatasan
dalam pengendalian muka air tanah, terutama untuk mejaga tepat pada setpoint dan
menjaga keseragaman muka air tanah di seluruh bagian lahan. Masalah ini dapat
diatasi dengan teknik pengendalian yang menggunakan penggenangan berkala.
Penelitian ini masih harus dilanjutkan dengan percobaan lapang untuk
menguji efektifitas irigasi otomatis berbasis teknik kendali fuzzy yang disajikan pada
makalah ini. Hasil percobaan lapang dapat diamati untuk menentukan pola irigasi
yang paling tepat untuk suatu kondisi lahan tertentu.
%a&tar Pustaka
Bear, J., and A. Verruijt. 1987. Modeling Groundwater low and !ollution. ". #eidel
!u$lis%ing &o'(an). "ordreac%t, *olland.
*illel, ". 198+. ,n-iron'ental .oil !%)sics. Acade'ic !ress. A'sterda'.
/s0andar, M.A., 1. .usanti, ..2. .a(to'o dan B./. .etiawan. 1999. !engendalian Mu0a Air
3ana% 'engguna0an .iste' 2endali a4i .eder%ana. Buletin 2ete0ni0an !ertanian.
15(1)677879.
2alsi', ".2., 1us%ar, .u$ari, "eon M dan *an%an A, 2++7, #ancangan :(erasi /rigasi untu0
!enge'$angan .#/, .e'inar 2;/</&/" 29 ;o(e'$er, Bandung. "a(at dia0ses di
%tt(6==tec%.grou(s.)a%oo.co'=grou(=/na<.#/=>iles=Articles=.
.a(to'o, ..2., B./. .etiawan and 1. ;a0ano. 2++9. ?ater #egulation in 3idal Agriculture
using ?etland ?ater @e-el &ontrol .i'ulator. 3%e &/G# Journal o> .cienti>ic
#esearc% and "e-elo('ent. Manuscri(t @? +5 ++1.
.a(to'o, ..2. 2+++. 3ata Air @a%an Basa% dengan .iste' 2endali u44). 3esis. .e0ola%
!ascasarjana. /nstitut !ertanian Bogor.
.etiawan, B./., Gardjito and 3. 2ato, 2++8, Modelling ?ater low and .olute 3rans(ort in
.oil Ander !artiall) .u$'erged &onditions in 3%e .)ste' o> #ice /ntensi>ication, /na<
.#/ article A<++7, accessi$le at %tt(6==tec%.grou(s.)a%oo.co'=grou(=/na<
.#/=>iles=Articles=.
.etiawan, B./, 1. .ato, ..2. .a(to'o and ,. .ale%. 2++2. "e-elo('ent o> water control >or
tro(ical wetland agriculture. Ad-ances in Geo,colog) ;o. 5B, !ages 2B9<277, &atena
Verl., #ei0irc%en, Ger'an).
.etiawan, B./., ..2. .a(to'o and #...B. .antoso. 2++1
a
. A 'odel >or controlling
groundwater in tidal wetland agricultures. 2nd /A&<&/G# ?or0s%o( on /ntelligent
&ontrol >or Agricultural A((lications. Bali, 22829 August 2++1. !ages 18B8189.
.etiawan, B./, 1. .ato, ..2. .a(to'o and ,. .ale%. 2++1
$
. "e-elo('ent o> water control >or
tro(ical wetland agriculture. /nternational con>erence sustaina$le soil 'anage'ent >or
en-iron'ental (rotection < soil (%)sical as(ect. iren4e 2<7 Jul) 2++1.