Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
KRISTALOGRAFI

Kristalografi adalah suatu cabang dari mineralogi yang mempelajari sistem kristal.
Kristalografi merupakan salah satu cabang dari mineralogi yang mempelajari mengenai sistem-
sistem kristal serta bertujuan untuk menentukan susunan atom dalam zat padat. Kristal adalah
bahan padat homogeny yang membentuk bagan polyhedral yang teratur, biasanya anisotropy. Tersusun oleh
komposisikimia tertentu yang membentuk ikatan atom tertentu yang dikelilingi oleh bidang
permukaan yang halus yang mengikuti hukum geometri tertentu.
Ada beberapa ketentuan agar dapat disebut sebagai Kristal, diantaranya adalah padat,
tidak dapat teruraikan menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan proses fisika, memiliki
stuktur bentuk, bidang serta sudut inklimasi pada setiap kristal tertentu. Kebanyakan material
kristalin memiliki berbagai jenis cacat kristalografis. Jenis dan struktur cacat-cacat tersebut dapat
berefek besar pada sifat-sifat material tersebut. Meskipun istilah "kristal" memiliki makna yang
sudah ditentukan dalam ilmu material dan fisika zat padat, dalam kehidupan sehari-hari "kristal"
merujuk pada benda padat yang menunjukkan bentuk geometri tertentu. Berbagai bentuk kristal
tersebut dapat ditemukan dialam. Bentuk-bentuk kristal ini bergantung pada jenis ikatan molekuler
antara atom-atom untuk menentukan strukturnya, dan juga keadaan terciptanya kristal tersebut.
Beberapa material kristalin mungkin menunjukkan sifat-sifat elektrik khas, seperti efek feroelektrik
atau efek piezoelektrik. Kelakuan cahaya dalam kristal dijelaskan dalam optika kristal. Dalam
struktu rdielektrik periodik serangkaian sifat-sifat optis unik dapat ditemukan seperti yang dijelaskan
dalamkristal fotonik. Kristalografi adalah ilmu - ilmu yang mempelajari tentang:
- Sifat Geometri, memberikan pengertian letak, panjang dan jumlah sumbu kristal yang menyusun
suatu bentuk kristal tertentu dan jumlah serta bentuk luar yang membatasinya.
- Perkembangan dan pertumbuhan kenampakkan luar, bahwa disamping mempelajari bentuk-
bentuk dasar yaitu suatu bidang pada situasi permukaan, juga mempelajari kombinasi antara
satu bentuk kristal dengan bentuk kristal lainnya yang masih dalam satu sistem kristalografi,
ataupun dalam arti kembaran dari kristal yang terbentuk kemudian.
- Struktur dalam, membicarakan susunan dan jumlah sumbu-sumbu kristal juga menghitung
parameter dan parameter rasio.
- Sifat fisis kristal, sangat tergantung pada struktur (susunan atom-atomnya). Besar kecilnya kristal
tidak mempengaruhi, yang penting bentuk dibatasi oleh bidang-bidang kristal: sehingga akan
dikenal 2 zat yaitu kristalin dan non kristalin.

2

Kimia Kristal
Komposisi kimia suatu mineral merupakan hal yang sangat mendasar, beberapa
sifat-sifat mineral/kristal tergantung kepadanya. Sifat-sifat mineral/kristal tidak hanya
tergantung pada komposisi tetapi juga kepada susunan meruang dari atom-atom penyusun
dan ikatan antar atom-atom penyusun kristal/mineral. Kimia kristal sejak penemuan sinar X,
penyelidikan kristalografisinar X telah mengembangkan pengertian tentang hubungan
antarkimia dan struktur. Tujuannya adalah :
1. Mengetahui hubungan antara susunan atom dan komposisi kimia dari suatu jenis
krisal.
2. Dalam bidang geokimia, mempelajari kimia kristal adalah untuk memprediksi struktur
kristal dari komposisi kimia dengan diberikan temperatur dan tekanan.
Daya Ikat dalam Kristal
Daya yang mengikat atom (atau ion atau grup ion) dari zat padakristalin adalah
bersifat listrik di alam. Tipe dan intensitasnya sangat berkaitan dengan sifat-sifat fisik dan
kimia dari mineral. Kekerasan,belahan daya lebur, kelistrikan dan konduktivitas termal, dan
koefisien ekspansi termal berhubungan secara lansung terhadap daya ikat.
Secara umum, ikatan kuat memiliki kekerasan yang lebih tinggi, titik leleh yang lebih
tinggi dan koefisien ekspansi termal yang lebih rendah. Ikatan kimia dari suatu kristal dapat
dibagi menjadi 4 macam yaitu : ionik, kovalen, logam dan van der waals.
1) GEOMETRI KRISTAOGRAFI
SUMBU DAN SUDUT KKRISTALOGRAFI
Sumbu kristalografi ialah garis lurus yang dibuat melalui pusat kristal. Kristal
mempunyai 3 bentuk dimensi, yaitu panjang, lebar, dan tebal atau tinggi. Tetapi dalam
penggambarannya dibuat dimensi sehingga proyeksi orthogonal. Sumbu yang tegak lurus
pada bidang kertas adalah sumbu a. Sumbu horizontal pada bidang kertas adalah sumbu b.
Sumbu yang vertikal pada bidang kertas adalah sumbu c.

3



Sudut Kristalografi

Sumbu Kristalografi
Gambar 1.1. Sudut dan Sumbu Kristalografi
Sudut kristalografi adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan sumbu-sumbu kristalografi pada
titik potong (pusat kristal).
sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu b dan sumbu c.
sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu a dan sumbu c.
sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu a dan sumbu b.
Tujuh prinsip letak bidang kristal terhadap susunan salib sumbu kristalografi.

4


Gambar 1.2. Tujuh Prinsip Letak Bidang Kristal
2) KLAS SIMETRI
Pengelompokan dalam klas simetri berdasarkan pada :
1. Sumbu Simetri
2. Bidang Simetri
3. Titik Simetri atau pusat simetri

1. Sumbu Simetri
Sumbu simetri adalah garis lurus yang dibuat melalui pusat kristal, dimana
apabila kristal tersebut sebagai poros putarannya, maka pada kedudukan tertentu,
kristal tersebut akan menunjukan kenampakan-kenampakan seperti semula. Ada 4
jenis sumbu simetri yaitu : sumbu simetri gyre, sumbu simetri gyre polair, sumbu
cermin putar dan sumbu invers putar.
5

Sumbu simetri gyre berlaku bila kenampakkan (kondigurasi) satu sam lain
pada kedua belah pihak/ kedua ujung sumbu sama. Dinotasikan dengan
huruf L (linear) atau g (gyre) dituliskan pada kanan atas atau kanan bawah.
Misal L4 = L
4
= g4 = g
4
.

Gambar 1.3. Digyre (L
2
= l2g
2
= g2)
Apabila kristal diputar 360
o
dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya,
akan muncul dua kali kenampakan yang sama.





6


Gambar 1.4. Trigyre (L
2
= l2g
2
= g2)
Apabila kristal diputar 360
o
dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya.
Akan muncul 3 kali kenampakan yang sama.


Gambar1.5. Tetragyre (L
4
= L4 = g
4
= g4)
Apabila kristaldiputar 360
o
dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya,
akan 4 kali kenampakannya

7



Gambar 1.6. Hexagyre (L
6
= L6 = g
6
= g6)

Apabila kristal diputar 360
o
dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya.
Akan muncul 6 kali kenampakan yang sama
Sumbu simetri gyre polair berlaku bila kenampakkan (konfigurasi) satu sama
lain pada kedua belah pihak berbeda/ tidak sama. Jika pada salah satu
sisinya berupa sudut maka pada sisi lainnya berupa bidang. Dinotasikan
dengan huruf L (linear) atau g (gyre). Misal L2 = g2.







(i)







(ii)







(iii)







(iv)
Gambar 1.7. : (i) Digyre polair (L2 = g2)
(ii) Trigyre polair (L3 = g3)
(iii) Tetrahyre polair (L4 = g4)
(iv) Hexagyre polair (L6 = g6)
8

Sumbu cermin putar didapatkan dari kombinasi suatu perputaran dimana
sumbu tersebut sebagai porosnya, dengan pencerminan ke arah suatu
bidang cermin putar yang tegak lurus dengan sumbu tersebut. Dinotasikan
dengan huruf S (spilegel Axepy).
a. Digyroide (S2)
b. Trigyriode (S3)
c. Tetragyroide (S4)
d. Hexagyroide (S6)
- Digyroide (S2)

Gambar 1.8. Digyroide (S2)
Sumbu cermi putar bernilai 2, besar perputarannya 180
o
. 1 putaran sebesar 180
o

menuju 1, dilanjutkan dengan pencerminan tegak lurus bidang cermin putaran
menempati 2. 2 diputar 180
o
menuju 2, kemudian dicerminkan menempati 1 kembali.
Dari 1 1 menempati 2
2 2 menempati 1






9

- Trigyroide (S3)

Gambar 1.9. Trigyroide (S3)
Sumbu cermin putar bernilai 3, besar perputaran 120
o
. Dalam penentuan dan cara
mendapatkan sumbu bernilai tiga caranya sama dengan digyroide. Cermin putaran
menempati.
Dari 1 lewat 1 menempati 2
Dari 2 lewat 2 menempati 3
Dari 3 lewat 3 menempati 4
Dari 4 lewat 4 menempati 5
Dari 5 lewat 5 menempati 6
Dari 6 lewat 6 menempati 1










10

- Tetragyroide (S4)

Gambar 1.10. Tetragyroide (S4)
sumbu cermin putar bernilai 4, besar perputaran 90o.
Dari 1 lewat 1 menempati 2
Dari 2 lewat 2 menempati 3
Dari 3 lewat 3 menempati 4
Dari 4 lewat 4 menempati 1
Pada kenampakan pertama, tetragyroide merupakan dyrogire, asal susunan
keseluruhan diputar sebesar 180
o
.












11


- Hexagyroide (S6)

Gambar 1.11. Hexagyroide (S6)
Sumbu cermin putar bernilai 6, besar perputaran 60
o
, kenampakan pertama
hexagyroide juga trigyroide, dengan perputaran sebesar 120
o
.
Dari 1 lewat 1 menempati 2
Dari 2 lewat 2 menempati 3
Dari 3 lewat 3 menempati 4
Dari 4 lewat 4 menempati 5
Dari 5 lewat 5 menempati 6
Dari 6 lewat 6 menempati 1








12

Sumbu inversi putar merupakan hasil perputaran dengan sumbu tersebut
sebagai poros putarannya, dilanjutkan dengan menginversikan (membalik)
melalui titik pusat simetri pada sumbu tersebut. Misal L
4
i, L
6
i dan sebagainya.







(i)







(ii)







(iii)







(iv)

Gambar 1.12. :
(i) Sumbu invers putar bernilai 2
(ii) Sumbu invers putar bernilai 3
(iii) Sumbu invers putar bernilai 4
(iv) Sumbu invers putar bernilai 6

2. Bidang Simetri Kristal
Bidang simetri adalah bidang bayangan yang dapat membelah kristal
menjadi dua bagian yang sama, dimana bagian yang satu merupakan
pencerminan dari yang lain. Bidang simetri ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
bidang simetri aksial dan bidang simetri menengah. Bidang simetri aksial bila
bidang tersebut membagi kristal melalui dua sumbu utama (sumbu kristal). Bidang
simetri aksial ini dibedakan menjadi dua, yaitu bidang simetri vertikal, yang melalui
sumbu vertikal dan bidang simetri horisontal, yang berada tegak lurus terhadap
sumbu c. Bidang simetri menengah adalah bidang simetri yang hanya melalui satu
sumbu kristal. Bidang simetri ini sering pula dikatakan sebagai bidang siemetri
diagonal.
13


Gambar 1.13. sumbu utama horizontal dan vertikal
Bidang simetri utama ada 2 yaitu:
- Bidang utama horizontal dinotasikan
- Bidang utama vertikal dinotasikan

Gambar 1.14. bidang simetri tambahan
3. Pusat Simetri Kristal
Suatu kristal dikatakan mempunyai pusat simetri bila kita dapat membuat
garis bayangan tiap-tiap titik pada permukaan kristal menembus pusat kristal dan
akan menjumpai titik yang lain pada permukaan di sisi yang lain dengan jarak yang
sama terhadap pusat kristal pada garis bayangan tersebut. Atau dengan kata lain,
kristal mempunyai pusat simetri bila tiap bidang muka kristal tersebut mempunyai
pasangan dengan kriteria bahwa bidang yang berpasangan tersebut berjarak sama
dari pusat kristal, dan bidang yang satu merupakan hasil inversi melalui pusat
kristal dari bidang pasangannya.
14

Sistem Kristalografi dibagi menjadi 7 sistem, dibawah ini akan diterangkan lebih lanjut tentang 4
sistem kristal yaitu sistem reguler, sistem tetragonal, sistem triklin, dan monoklin.

1.1. Sistem Reguler
Sistem ini juga disebut sistem kristal Sistem Isometrik, atau dikenal pula dengan
sistem kristal kubus atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak lurus satu
dengan yang lainnya. Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masing-masing
sumbunya.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal reguler memiliki axial ratio (perbandingan sumbu a
= b = c, yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu c.
Dan juga memiliki sudut kristalografi = = = 90. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua
sudut kristalnya ( , dan ) tegak lurus satu sama lain (90).



Gambar 1.15. Sistem Reguler
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Isometrik memiliki
perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1,
pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c juga ditarik garis dengan nilai 3
(nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini
menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30 terhadap sumbu b.
Sistem isometrik dibagi menjadi 5 Kelas :
15

Tetaoidal
Gyroida
Diploida
Hextetrahedral
Hexoctahedral
Beberapa contoh mineral dengan system kristal Isometrik ini adalah gold, pyrite, galena,
halite, Fluorite (Pellant, chris: 1992)
Penentuan Klas Simetri Sistem Reguler Menurut Herman Mauguin
Bagian pertama : Menerangkan nilai sb a (SB a, b, c), mingkin
bernilai 4 atau 2 dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus
sumbu a tersebut.
Bagian ini dinotasikan dengan :

, 4 ,

, 2
Angka menunjukkan nilai sumbu dan huruf , menunjukan adanya bidang simetri yang
tegak lurus sumbu a tersebut.
Bagian kedua : Menerangkan sumbu simetri bernilai 3. Apakah sumbu simetri yang
bernilai itu, juga bernilai 6 atau hanya bernilai 3 saja.
Maka bagian kedua selalu ditulis : 3 atau


Bagian ketiga : Menerangkan ada tidaknya sumbu simetri intermedite / diagonal bernilai
2 dan tidaknya bidang simetri diagonal yang tegak lurus terhadap
sumbu diagonal tersebut.
Bagaian ketiga dinotasikan dengan

, 2, m atau tidak ada.


Contoh :
Klas Hexotahedral .........................................


KlasPentagonal Icositetrahedral .................... 4 3 2 4 3 2
Klas Hextetrahedral .......................................

3 m

3 m
Klas Dyakisdodecahedral ..............................

-
Klas Tetratohedris .......................................... 2 3 2 3 -
Penentuan Klas Simetri Sistem Reguler Menurut Schoenflish
Bagian pertama: Menerangkan nilai c. Untuk itu ada 2 kemungkinan yaitu sumbu c
bernilai 4 atau bernilai 2.
16

kalau sumbu c bernilai 4 dinotasukan dengan huruf O
(Octaeder), karena contoh bentuk kristal yang paling ideal untuk
sumbu c bernilai 4 adalah Octahedron.
kalau sumbu c bernilai 2 dinotasikan dengan huruf T (Tetraeder),
karena contoh bentuk kristal yang paling ideal untuk sumbu c
bernilai 2 adalah bentuk Tetrahedron.
Bagian kedua: Menerangkan kandungan bidang simetrinya, apabila kristal tersebut
mempunyai:
Bidang simetri horisontal (h)
Bidang simetri vertical (v) | dinotasikan h
Bidang simetri diagonal (d)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri horisontal (h) | dinotasikan h
Bidang simetri vertical (v)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri vertical (v) | dinotasikan v
Bidang simetri diagonal (d)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri diagonal (d) | dinotasikan d
Contoh :
1. Klas Hexoctahedral ........................................ Oh
2. Klas Pentagonal icositetrahedral .................... O
3. Klas Hextetrahedral ........................................ Td
4. Klas Dykisdodecahedral ................................. Th
5. Klas Tetrahedral pentagonal dodecahedral .... T
Tabel 1.1. Contoh Bentuk-Bentuk Kristal Sistem Reguler

System
(1)
Class Name
(2)
AXES
P
l
a
n
e
s

C
e
n
t
e
r

Herman-
Maugin
Symbols (3)
2-
Fold
3-Fold 4-
Fold
6-
Fold
I
s
o
m
e
t
r
i
c

Tetartoidal 3 4 - - - - 23
Diploidal 3 4 - - 3 yes 2/m 3
Hextetrahedral 3 4 - - 6 - 4 3m
Gyroidal 6 4 3 - - - 432
Hexocahedral 6 4 3 - 9 Yes 4/m 3 2/m
17




1.2. Sistem Tetragonal
Sama dengan system Isometrik, sistem kristal ini mempunyai 3 sumbu kristal yang
masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang sama.
Sedangkan sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada umumnya
lebih panjang.
Pada kondisi sebenarnya, Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b c ,
yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b tapi tidak sama dengan sumbu c.
Dan juga memiliki sudut kristalografi = = = 90. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua
sudut kristalografinya ( , dan ) tegak lurus satu sama lain (90).

Gambar Ketentuan Sistem Tetragonal

Gambar 1.6. Sistem Tetragonal
18

Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Tetragonal
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis
dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan
nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^b = 30.
Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30 terhadap sumbu b.
Sistem tetragonal dibagi menjadi 7 kelas:
Piramid
Bipiramid
Bisfenoid
Trapezohedral
Skalenohedral
Ditetragonal Bipiramid
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Tetragonal ini adalah rutil, autunite,
pyrolusite, Leucite, scapolite (Pellant, Chris: 1992)
Penentuan Klas Simetri Sistem Tetragonal Menurut Herman Mauguin
Bagian Pertama : Menerangkan nilai sumbu c, munkin bernilai 4 atau tidak bernilai dan
ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus sumbu c.
Bagian ini dinotasikan dengan :

, 4 ,


Bagian kedua : Menerangkan ada tidaknya nilai sumbu lateral dan ada tidaknya bidang
simetri yang tegak lurus terhadap sumbu lateral tersebut.
Bagian ini dinotasikan dengan :

, 2 , m atau tidak ada


Bagian Ketiga : Menerangkan ada tidaknya sumbu simtri imtermediet dan ada tidaknya
bidang simetri yang tegak lurus terhadap sumbu intermediet tersebut.
Bagian ini dinotasikan dengan : 2, 2, m atau tidak ada.
Contoh :
1. Klas Ditetragonal bipyramidal ...


2. Klas Tetragonal trapexohedral . 4 2 2 4 4 2
3. Klas Ditetragonal pryramidal ..... 4 m m 4 m m
4. Klas Tetragonal sclenohedral ....

2 m

2 m
5. Klas Tetragonal bipyramidal ...... 4 4 - -
6. Klas Tetragonal pramdal ........... 4 4 - -
7. Klas Tetragonal bisphenoidal ....

- -
Penentuan Klas Simetri Monoklin Menurut Schoenflish
19

Bagian pertama: Menerangkan nilai sumbu yang tegak lurus sumbu c, yaitu sumbu lateral
(sumbu a, b, d) atau sumbu inter\mediet, ada 2 kemungkinan:
Kalau sumbu tersebut bernilai 2 dinotasikan dengan D dari kata
Diedrish.
Kalau sumbu tersebut tidak bernilai dinotasikan dengan c dari
kata Cyklich.
Bagian kedua: Menerangkan nilai sumbu c. Nilai sumbu c ini dituliskan di sebelah
kanan agak bawah dari notasi d atau c.
Bagian ketiga: Menerangkan kandungan bidang simetrinya.
Bidang simetri horisontal (h)
Bidang simetri vertical (v) | dinotasikan h
Bidang simetri diagonal (d)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri horisontal (h) | dinotasikan h
Bidang simetri vertical (v)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri vertical (v) | dinotasikan v
Bidang simetri diagonal (d)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri diagonal (d) | dinotasikan d

Contoh :
1. Klas Ditetragonal pyramidal ........................................C4v
2. Klas Ditetragonal bipyramidal .....................................D4h
3. Klas Tetragonal scalenohedral....................................D2d
4. Klas Tetragonal trapezohedral ....................................D
5. Klas Tetragonal bipyramidal........................................C4h
6. Klas Tetragonal pyramidal ..........................................C4
7. Klas Tetragonal bispenoidal ........................................S4
8. Klas Dihexagonal pyramidal........................................C6
9. Klas Dihexagonal bipyramidal .....................................D6h
10. Klas Hexagonal trapezohedral ...................................D6
11. Klas Hexagonal bipyramidal .......................................C6h
12. Klas Hexagonal pyramidal ..........................................C6
20

13. Klas Trigonal bipyramidal ...........................................C3h
14. Klas Trigonal trapezohedral ........................................D3
15. Klas Trigonal rhombohedral .......................................C3i
16. Klas Trigonal pyramidal ..............................................C3
17. Klas Ditrigonal scalenohedral .....................................D3d
18. Klas Ditrigonal bipyramidal .........................................D3h
19. Klas Ditrigonal pyramidal ............................................C3v
20. Klas Orthorombic pyramidal .......................................C2v
21. Klas Orthorombic bisphenoidal ...................................D2
22. Klas Orthorombic bipyramidal ....................................D2h
23. Klas Prismatik .............................................................C2h
24. Klas Spenoidal ...........................................................C2
25. Klas Domatic ..............................................................C1h
26. Klas Pinacoidal ...........................................................Ci
27. Klas Asymetric ............................................................C1
Tabel 1.2. Contoh Bentuk-Bentuk Kristal Sistem Tetragonal
System
(1)
Class Name
(2)
AXES
P
l
a
n
e
s

C
e
n
t
e
r

Herman-
Maugin
Symbols (3)
2-
Fold
3-Fold 4-
Fold
6-
Fold
T
e
t
r
a
g
o
n
a
l

Dispheoidal 1 - - - - - 4
Pyramidal - - 1 - - - 4
Dipyramidal - - 1 - 1 yes 4/m
Scalenohedral 3 - - - 2 - 4 2m
Ditetragonal
pyramidal
- - - - 4 - 4mm
Trapezohedral 4 - 1 - - - 422
Ditetragonal-
Dipyramidal
4 - 1 - 5 yes 4/m 2/m 2/m

1.3. Sistem Triklin
Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling
tegak lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a
b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau
berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi = 90. Hal ini berarti,
pada system ini, sudut , dan tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya.
21


Gmabra Ketentuan Sistem Triklin

Gambar 1.7. Sistem Triklin
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin memiliki
perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi
ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^b =
45 ; b^c+= 80. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45 terhadap
sumbu b dan b membentuk sudut 80 terhadap c+.
Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas:
Pedial
Pinakoidal
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite, anorthite, labradorite,
kaolinite, microcline dan anortoclase (Pellant, chris. 1992)
Penentuan Klas Simetri Sistem Triklin Menurut Herman Mauguin
Sistem ini hanya mempunyai dua klas simetri, yaitu :
22

1. Memunyai titik simetri .................................. Klas pinacoidal


2. Tidak Meempunyai unsur simetri ................. Klas asymmetric 1
Penentuan Klas Simetri Triklin Menurut Schoenflish
Bagian pertama: Menerangkan nilai sumbu yang tegak lurus sumbu c, yaitu sumbu lateral
(sumbu a, b, d) atau sumbu inter\mediet, ada 2 kemungkinan:
Kalau sumbu tersebut bernilai 2 dinotasikan dengan D dari kata
Diedrish.
Kalau sumbu tersebut tidak bernilai dinotasikan dengan c dari
kata Cyklich.
Bagian kedua: Menerangkan nilai sumbu c. Nilai sumbu c ini dituliskan di sebelah
kanan agak bawah dari notasi d atau c.
Bagian ketiga: Menerangkan kandungan bidang simetrinya.
Bidang simetri horisontal (h)
Bidang simetri vertical (v) | dinotasikan h
Bidang simetri diagonal (d)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri horisontal (h) | dinotasikan h
Bidang simetri vertical (v)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri vertical (v) | dinotasikan v
Bidang simetri diagonal (d)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri diagonal (d) | dinotasikan d

Contoh :
1. Klas Ditetragonal pyramidal ........................................C4v
2. Klas Ditetragonal bipyramidal .....................................D4h
3. Klas Tetragonal scalenohedral....................................D2d
4. Klas Tetragonal trapezohedral ....................................D
5. Klas Tetragonal bipyramidal........................................C4h
6. Klas Tetragonal pyramidal ..........................................C4
7. Klas Tetragonal bispenoidal ........................................S4
8. Klas Dihexagonal pyramidal........................................C6
9. Klas Dihexagonal bipyramidal .....................................D6h
23

10. Klas Hexagonal trapezohedral ...................................D6
11. Klas Hexagonal bipyramidal .......................................C6h
12. Klas Hexagonal pyramidal ..........................................C6
13. Klas Trigonal bipyramidal ...........................................C3h
14. Klas Trigonal trapezohedral ........................................D3
15. Klas Trigonal rhombohedral .......................................C3i
16. Klas Trigonal pyramidal ..............................................C3
17. Klas Ditrigonal scalenohedral .....................................D3d
18. Klas Ditrigonal bipyramidal .........................................D3h
19. Klas Ditrigonal pyramidal ............................................C3v
20. Klas Orthorombic pyramidal .......................................C2v
21. Klas Orthorombic bisphenoidal ...................................D2
22. Klas Orthorombic bipyramidal ....................................D2h
23. Klas Prismatik .............................................................C2h
24. Klas Spenoidal ...........................................................C2
25. Klas Domatic ..............................................................C1h
26. Klas Pinacoidal ...........................................................Ci
27. Klas Asymetric ............................................................C1

Tabel 1.3. Contoh Bentuk-Bentuk Kristal Sistem Triklin
System
(1)
Class Name
(2)
AXES
P
l
a
n
e
s

C
e
n
t
e
r

Herman-
Maugin
Symbols (3)
2-
Fold
3-Fold 4-
Fold
6-
Fold
Triclinic
Pedial - - - - - - 1
Pinacoidal - - - - - yes 1










24














1.4. Sistem Monoklin
Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang
dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap sumbu c, tetapi
sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang
yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b paling pendek.
Pada kondisi sebenarnya, sistem Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a b
c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda
satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi = = 90 . Hal ini berarti, pada
ancer ini, sudut dan saling tegak lurus (90), sedangkan tidak tegak lurus (miring).

25


Gambar 1.8. Sistem Monoklin
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Monoklin
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan
menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar
sumbunya a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45
terhadap sumbu b.
Sistem Monoklin dibagi menjadi 3 kelas:
Sfenoid
Doma
Prisma
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah azurite, malachite,
colemanite, gypsum, dan epidot (Pellant, chris. 1992)
Penentuan Klas Simetri Sistem Monoklin Menurut Herman Mauguin
Hanya ada satu bagian, yaitu menerangkan nilai sumbu b dan ada tidaknya bidang
simetri yang tegak lurus sumbu b tersebut.
Contoh :
1. Klas prismatic .......................................................


2. Klas Sphenoidal .................................................. 2
3. Klas domatik ........................................................ m
Penentuan Klas Simetri Monoklin Menurut Schoenflish
Bagian pertama: Menerangkan nilai sumbu yang tegak lurus sumbu c, yaitu sumbu lateral
(sumbu a, b, d) atau sumbu inter\mediet, ada 2 kemungkinan:
26

Kalau sumbu tersebut bernilai 2 dinotasikan dengan D dari kata
Diedrish.
Kalau sumbu tersebut tidak bernilai dinotasikan dengan c dari
kata Cyklich.
Bagian kedua: Menerangkan nilai sumbu c. Nilai sumbu c ini dituliskan di sebelah
kanan agak bawah dari notasi d atau c.
Bagian ketiga: Menerangkan kandungan bidang simetrinya.
Bidang simetri horisontal (h)
Bidang simetri vertical (v) | dinotasikan h
Bidang simetri diagonal (d)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri horisontal (h) | dinotasikan h
Bidang simetri vertical (v)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri vertical (v) | dinotasikan v
Bidang simetri diagonal (d)
Kalau mempunyai:
Bidang simetri diagonal (d) | dinotasikan d

Contoh :
1. Klas Ditetragonal pyramidal ........................................C4v
2. Klas Ditetragonal bipyramidal .....................................D4h
3. Klas Tetragonal scalenohedral....................................D2d
4. Klas Tetragonal trapezohedral ....................................D
5. Klas Tetragonal bipyramidal........................................C4h
6. Klas Tetragonal pyramidal ..........................................C4
7. Klas Tetragonal bispenoidal ........................................S4
8. Klas Dihexagonal pyramidal........................................C6
9. Klas Dihexagonal bipyramidal .....................................D6h
10. Klas Hexagonal trapezohedral ...................................D6
11. Klas Hexagonal bipyramidal .......................................C6h
12. Klas Hexagonal pyramidal ..........................................C6
13. Klas Trigonal bipyramidal ...........................................C3h
14. Klas Trigonal trapezohedral ........................................D3
27

15. Klas Trigonal rhombohedral .......................................C3i
16. Klas Trigonal pyramidal ..............................................C3
17. Klas Ditrigonal scalenohedral .....................................D3d
18. Klas Ditrigonal bipyramidal .........................................D3h
19. Klas Ditrigonal pyramidal ............................................C3v
20. Klas Orthorombic pyramidal .......................................C2v
21. Klas Orthorombic bisphenoidal ...................................D2
22. Klas Orthorombic bipyramidal ....................................D2h
23. Klas Prismatik .............................................................C2h
24. Klas Spenoidal ...........................................................C2
25. Klas Domatic ..............................................................C1h
26. Klas Pinacoidal ...........................................................Ci
27. Klas Asymetric ............................................................C1
Tabel 1.4. Contoh Bentuk-Bnetuk Kristal Sistem Monoklin
System (1)
Class Name
(2)
AXES
P
l
a
n
e
s

C
e
n
t
e
r

Herman-
Maugin
Symbols (3)
2-
Fold
3-Fold 4-
Fold
6-
Fold
M
o
n
o
c
l
i
n
i
c
Domatic - - - - 1 - m
Sphenoidal 1 - - - - - 2
Prismatic 1 - - - 1 yes 2/m



BAB II
MINERALOGI FISIK

Mineralogi adalah salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari mengenai mineral, baik
dalam bentuk individu maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain mempelajari sifat-sifat fisik dan
kimia, cara terdapatnya, cara terjadinya dan kegunaannya.
Mineralogi terdiri dan kata mineral dan logos, dimana mengenai arti mineral mempunyai
pengertian berlainan dan bahkan di kacaukan di kalangan awam. Wing diartikan sebagai bahan bukan
ormanik (anorganik).
28

Maka pengertian yang jelas dan batas mineral oleh beberapa ahli geologi perlu diketahui
walaupun dan kenyataannya tidak ada satupun persesuaian umum untuk definisinya.
Definisi mineral menurut beberapa ahli :
L. G. Berry dan B. Mason, 1959
Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat didalam terbentuk secara
anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan mempunyai atom-atom
yang tersusun secara teratur.
D.G.A. Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972
Mineral adalah suatu bahan padat yang secara struktural homogen mempunyai komposisi
kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam yang anorganik.
A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977
Mineral adalah suatu zat atau bahan yang homogen mempunyai komposisi kimia tertentu
dalam batas-batas tertentu dan mempunyai sifat-sifat tetap, dibentuk dialam dan bukan hasil
dari suatu kehidupan.
Batasan-batasan definisi mineral
1. Suatu bahan alam
Harus terjadi secara alamiah. Maka bahan atau zat yang dibuat oleh tenaga manusia atau
di laboratorium tidak dapat disebut sebagai mineral. Walaupun kadang-kadang pembuatan suatu
zat atau bahan di laboratorium akan mempunyai suatu bentuk kristal yang sangat sesuai bahkan
sangat sulit dibedakan dengan kristal di alam, tetapi pembuatan zat tersebut tidak dapat disebut
sebagai mineral. NaCI dibuat dialam disebut mineral Halite Dibuat di laboratorium disebut Natrium
Chlorida.


2. Mempunyai sifat fisis dan kimia yang tetap :
- Mineral mempunyai sifat fisis yaitu warna, kekerasan, kilap, perawakan kristal, gores, belahan
dll.
- Mineral mempunyai sifat kimiawi yang tetap diantaranya reaksi terhadap api oksidasi, api
reduksi, pelentingan, pengarangan, dll.
3. Berupa unsur tunggal atau persenyawaan yang tetap :
- Mineral merupakan unsur tunggal, misalnya Diamond (C), Graphyte (C) Native Silver (Ag), dll.
- Mineral berupa senyawa kimia sederhana, misalnya Zircon (ZrSiO4), Cassiterite (SnO2).
- Mineral dapat berupa senyawa kimia yang komplek.
4. Pada umumnya anorganik : batasan ini mengandung pengertian arti mineral yang lebih luas :

29

Mineral umum bukan sebagai suatu kehidupan tetapi ada beberapa mineral yang merupakan hasil
kehidupan atau disebut juga mineral organik.
Contoh : Amber, Coal, Asphalt, Mallite.
5. Homogen : mengandung batasan bahwa suatu mineral tidak dapat diuraikan menjadi senyawa lain
yang Jebih sederhana oleh proses fisika.
6. Dapat berupa padat, cair dan gas.
- Berupa zat padat : Quartz (SiO2), Barite (BaSO4)
- Berupa zat cair : Air raksa (HgS), Air (H2O)
Sifat-sifat fisik dari mineral :
Warna (Colour)
Perawakan kristal (Crystal habit)
Kilap (Luster)
Kekerasan (Hardness)
Gores (Streak)
Belahan (Cleavage)
Pecahan (Fracture)
Daya tahan terhadap pukulan (Tenacity)
Berat jenis (Specific gravity)
Rasa dan bau (Tasteand odour)
Kemagnetan
Derajat ketransparanan
Nama mineral dan rumus kimia

2.1. Warna
Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi
tidak dapat diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral dapat berwarna lebih
dari satu warna, tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan pengotoran padanya.
Sebagai contoh, kuarsa dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak
berwarna. Walau demikian ada beberapa mineral yang mempunyai warna khas, seperti:
Putih : Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O), Gypsum (CaSO4.H2O), Milky
Kwartz (Kuarsa Susu) (SiO2)
Kuning : Belerang (S)
Emas : Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Ema (Au)
30

Hijau : Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit (Cu CO3Cu(OH)2)
Biru : Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2 (Si6O18))
Merah : Jasper, Hematit (Fe2O3)
Coklat : Garnet, Limonite (Fe2O3)
Abu-abu : Galena (PbS)
Hitam : Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit
Bila suatu permukaan mineral dikenal suatu cahaya, maka cahaya yang mengenai
permukaan mineral tersebut sebagian akan diserap (arbsorpsi) dan sebagian dipantulkan
(refleksi).
Warna penting untuk membedakan antara warna mineral akibat pengotoran dan
warna asli yang berasal dari elemen-elemen pada mineral tersebut.
Warna mineral yang tetap dan tertentu karena elemen-elemen utama pada mineral
disebut dengan nama idochromatic.
Misal : Sulfur warna kuning.
Magnetite Hitam
Pyrite warna kuning loyang
Warna akibat adanya campuran atau pengotor dengan unsur-unsur lain, sehingga
memberikan warna yang berubah-ubah tergantung dari pengotornya, disebut dengan nama
allochromatic.
Misal : Halite, warna dapat berubah-ubah
Abu-abu
Kuning
Coklat gelap
Merah muda
Biru bervariasi
Kwarsa tak berwarna, tetapi karena ada campuran/ pengotoran, warna berubah-ubah
menjadi :
Merah muda
Coklat hitam
Violet
Kehadiran kelompok ion asing yang dapat memberikan warna tertentu pada mineral
disebut dengan nama chromophroses.
Misal : ion Cu yang terkena proses hidrasi merupakan chromophroses dalam mineral
Cu sekunder, maka akan memberikan warna hijau dan biru.
31

Faktor yang dapat mempengaruhi warna :
a. Komposisi kimia
Chlorite - Hijau..............Cholor (greak)
Albite - Putih...............Albus (latin)
Melanite - Hitam.............Melas (greek)
Erythrite - Merah ...............Erythrite
(greek) (sel darah merah)
Rhodonite - Merah Jambu...Erythrite(greek)
b. Struktur kristal dan ikatan atom
Intan tak berwarna hexagonal
Graphite hitam hexagonal
c. Pengotoran dari mineral
Mineral : Silica tak berwarna
Jasper merah
Chalsedon coklat hitam
Agate asap/putih

2.2. Perawakan kristal (crystal habit)
Apabila dalam pertumbuhannya tidak mengalami gangguan apapun, maka mineral
akan mempunyai bentuk kristal yang sempurna. Mineral yang dijumpai sering bentuknya
tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga sulit untuk mengelompokkan mineral
kedalam sistem kristalografi.
Istilah perawakan kristal adalah bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang
membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang-bidang tersebut. Perawakan
kristal dipakai untuk penentuan jenis mineral walaupun perawakan bukan merupakan ciri
tetap mineral.
Contoh : mika selalu menunjukkan perawakan kristal yang mendaun (foilated).
Perawakan kristal; dibedakan menjadi 3 golongan (Richard Peral, 1975) yaitu :
A. Elongated habits (meniang/berserabut)
Meniang (Columnar)
Bentuk kristal prismatic yang menyerupai bentuk tiang.
Contoh : - Tourmaline
- Pyrolusite
- Wollastonite
32


Gambar 2.1. Tourmaline
Menyerat (fibrous)
Bentuk kristal yang menyerupai serat-serat kecil.
Contoh : - Asbestos
- Gypsum
- Silimanite
- Tremolite
- Pyrophyllite

Gambar 2.2. Asbestos

Menjarum (acicular) :
Bentuk kristal yang menyerupai jarum-jarum kecil.
Contoh : - Natrolite
- Glaucophane

Gambar 2.3. Natrolite
33

Menjaring (Reticulate) :
Bentuk kristal yang kecil panjang yang tersusun menyerupai jaring
Contoh : - Rutile
- Cerussite

Gambar 2.4. Rutile
Membenang (filliform) :
Bentuk kristal kecil-kecil yang menyerupai benang.
Contoh : - Silver

Gambar 2.5. Silver



Merabut (capillary)
Bentuk kristal kecil-kecil yang menyerupai rambut.
Contoh : - Cuprite
- Bysolite (variasi dari Actionalite)
34


Gambar 2.6. Cuprite
Mondok (stout, stubby, equant) :
Bentuk kristal pendek, gemuk sering terdapat pada kristal -kristal dengan
sumbu c lebih pendek dad sumbu yang lainnya.
Contoh : - Zircon

Gambar 2.7. Zircon
Membintang (stellated):
Bentuk kristal yang tersusun menyerupai bintang
Contoh: - Pirofilit

35

Gambar 2.8. Pirofilit
Menjari (radiated) :
Bentuk-bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuk jari-jari.
Contoh : - Markasit
- NatroHt

Gambar 2.9. Markasit
B. Flattened habits (lembaran tipis)
Membilah (bladed) :
Bentuk kristal yang panjang dan tipis menyerupai bilah kayu, dengan
perbandingan antara lebar dengan tebal sangat jauh
Contah : - Kyanite
- Glaucophane
- Kalaverit

Gambar 2.10. Kyanite
Memapan (tabular)
Bentuk kristal pipih menyerupai bentuk papan, dimana lebar dengan tebal tidak
terlalu jauh.
Contoh: - Barite
- Hematite
- Hypersthene
36


Gambar 2.11. Barite
Membata (blocky) :
Bentuk kristal tebal menyerupai bentuk bata, dengan perbandingan antara tebal
dan lebar hampir sarna.
Contoh: - Microline

Gambar 2.12. Microline
Mendaun (foliated) :
Bentuk kristal pipih dengan melapis (lamellar) perlapisan yang mudah dikupas /
dipisahkan.
Contoh : - Mica
- Talc
- Chorite

Gambar 2.13. Mica
Memencar (divergent)
Bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuk kipas terbuka.
Contoh : - Gypsum
37

- Millerite

Gambar 2.14. Gypsum
Membulu (plumose) :
Bentuk kristal yang tersu5un membentuk tumpukan bulu.
Contoh : - Mica
C. Rounded habits (membutir)
Mendada (mamilary)
Bentuk kristal bulat-bulat menyerupai buh dada (breast like)
Contoh : - Malachite
- Opal
- Hemimorphite

Gambar 2.15. Malachite
Membulat (colloform):
Bentuk kristal yang menunjukkan permukaan yang bulat-bulat.
Contoh: - Glauconite
- Cobaltite
- Bismuth
- Geothite
- Franklinite
- Smallite
38


Gambar 2.16. Geothite
Membulat jari (colloform radial)
Membentuk kristal membulat dengan struktur dalam menyerupai bentuk jari.
Contoh : - Pyrolorphyte

Gambar 2.17. Pyrolorphyte
Membutir (granular)
Contoh : - Olivine - Niveolite
- Anhydrite - Cryollite
- Chromite - Cordirite
- Sodalite - Cinabar
- Alunite - Rhodochrosite

39

Gambar 2.18. Sodalite
Memisolit (pisolitic)
Kelompok kristal lonjong sebesar kerikil, seperti kacang tanah.
Contoh: - Opal (variasi Hyalite)
- Gibbsite
- Pisolitic Limestone

Gambar 2.19. Pisolitic
Stalaktif (stalactitic)
Bentuk kristal yang membulat dengan itologi gamping
Contoh : - Geothite

Gambar 2.20. Geothite
Mengginjal (reniform) :
Bentuk kristal menyerupai bentuk ginjal.
Contoh : - Hematite
40


Gambar 2.21. Hematite

2.3. Kilap (luster)
Kilap ditimbulkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan sebuah mineral,
yang erat hubungannya dengan sifat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi).
Intensitas kilap tergantung dari indeks bias dari mineral, yang apabila makin besar indeks
bias mineral, makin besar pula jumlah cahaya yang dipantulkan. Nilai ekonomik mineral
juga dapat ditentukan dari kilapnya contohnya batubara.
Macam-macam kilap :
a. Kilap logam (metallic luster) ialah mineral opag yang mempunyai indeks bias sama
dengan 3 buah atau lebih. Contoh : galena, native metal.

Gambar 2.22. Galena
b. Kilap sub-metalik (sub metallic luster) ialah mineral yang mempunyai indeks bias antara
2, 6 sampai 3. contoh : cuprite (n = 2.85)

Gambar 2.23. Cuprite
41

c. Kilap bukan logam (non metallic luster) ialah mineral yang mempunyai warna terang dan
dapat membiaskan, dengan indeks bias kurang dari gores dari mineral ini biasanya tak
berwarna atau berwarna muda.
Macam-Macam Kilap bukan logam :
1. Kilap Kaca (Vitreous luster)
Kilap yang ditimbulkan oteh permukaan kaca atau gelas.
Contoh : - Quartz - Carbonates - Sulphates
- Spinel - Silicates - Fluorite
- Garnet - Leucite - Corondum
- Halite yang segar
2. Kilap intan (adamantile luster)
Kilap yang sangat cemerlang yang ditimbulkan oleh intan atau permata.
Contoh : Diamond, Cassiterite, Sulfur, Sphalerite, zircon, Rutile
3. a. Kilap Lemak (greasy luster)
Contoh : - Nepheline yang sudah teralterasi.
- Halite yang sudah terkena udara.
b. Kilap Lilin (waxy luster)
Merupakan kilap seperti lilin yang khas
Contoh : - Serpentine
- Cerargyrenite
Kilap dengan permukaan yang licin seperti berminyak atau kena lemak, akibat
proses oksidasi.
4. Kilap Sutera (silky luster)
Kilap seperti yang terdapat pada mineral -mineral yang parallel atau berserabut
(parallel fibrous structure)
Contoh: - Asbestos
- Selenite (Variasi gypsum)
- Serpentine
- Hematite
5. Kilap Mutiara (pearly luster)
Kilap yang ditimbulkan oleh mineral transporant yang berbentuk lembaran dan
menyerupai mutiara.
Contoh : - Talc
- Mica
42

- Gypsum
6. Kilap Tanah (earthy luster) Kilap buram (dull luster)
Kilap yang ditunjukkan oleh mineral yang porous dan sinar yang masuk tidak
dippntulkan kembali.
Contoh : - Kaoline
- Diatoea
- Montmorilonite
- Pyrolusite
- Chalk
- variasi ochres
Tidak sulit untuk rnembedakan antara kilap logam dengan kilap bukan logam, `
perbedaannya jelas sekali. Tetapi dalam membedakdn jenis-jenis kilap bukan logam
akan sulit sekali. Padahal perbedaan inilah yang sangat penting dalam diskripsi
mineral, karena dapat untuk menentukan jenis suatu mineral tertentu.

2.4. Kekerasan (hardness)
Adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu mineral dapat
membandingkan suatu mineral terentu yang dipakai sebagai kekerasan yang standard.
Mineral yang mempunyai kekerasan yang lebih kecil akan mempunyai bekas dan badan
mineral tersebut. Standar kekerasan yang biasa dipakai adalah skala kekerasan yang
dibuat oleh Friedrich Mohs dari Jeman dan dikenal sebagai skala Mohs. Skala Mohs
mempunyai 10 skala, dimulai dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk
mineral terkeras .


Tabel 2.1. Skala kekerasan mineral
Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 Talc H2Mg3 (SiO3)4
2 Gypsum CaSO4. 2H2O
3 Calcite CaCO3
4 Fluorite CaF2
5 Apatite CaF2Ca3 (PO4)2
43

6 Orthoklase K Al Si3 O8
7 Quartz SiO2
8 Topaz Al2SiO3O8
9 Corundum Al2O3
10 Diamond C
Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini diberikan kekerasan dari alat
penguji standar :
Tabel 2.2. Alat uji kekerasan
Alat Penguji Derajat Kekerasan
Mohs
Kuku manusia 2,5
Kawat Tembaga 3
Paku 5,5
Pecahan Kaca 5,5 6
Pisau Baja 5,5 6
Kikir Baja 6,5 7
Kuarsa 7




2.5. Gores (streak)
Gores adalah merupakan warna asli dari mineral apabila mineral tersebut ditumbuk sampai
halus. Gores ini dapat lebih dipertanggungjawabkan stabil dan penting untuk membedakan
dua mineral yang warnanya sama tetapi goresnya berbeda.
Gores ini diperoleh dengan cara menggoreskan mineral pada permukaan keeping porselin,
tetapi apabila mineral mempunyai kekerasan dari 6, maka dapat dicari dengan cara
menumbuk sampai halus menjadi tepung.
Mineral yang warnanya terang biasanya mempunyai gores berwarna putih.
Contoh : Quartz - putih/ tak berwarna
44

Mineral bukan logam dan berwarna gelap akan memberikan gores yang lebih terang
dari pada warna mineralnya sendiri.
Contoh : Luecite - warna abu-abu dan gores putih
Mineral yang mempunyai kilap metalik kadang-kadang mempunyai warna gores
yang lebih gelap daripada warna mineralnya sendiri.
Contoh : Pyrite - warna kuning dan gores hitam
Pada beberapa mineral, warna dan gores sering menunjukkan warna yang sama.
Contoh : Cinnabar - warna dan gores merah

2.6. Belahan (cleavage)
Balahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah diri pada satu atau
lebih arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang mampu
membelah yang oleh sini adalah bila mineral kita pukul dan tidak hancur, tetapi terbelah-
belah menjadi bidang belahan yang licin. Tidak semua mineral mempunyai sifa ini, sehingga
dapat dipakai istilah seperti mudah terbakar dan sukar dibelah atau tidak dapa dibelah.
Tenaga pengikat atom di dalam di dalam sruktur kritsal tidak seragam ke segala arah, oleh
sebab itu bila terdapat ikatan yang lemah melalui suatu bidang, maka mineral akan
cenderung membelah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah
melalui bidang-bidang tersebut. Karena keteraturan sifat dalam mineral, maka belahan akan
nampak berjajar dan teratur (Danisworo, 1994).
Belahan tersebut akan menghasikan kristal menjadi bagian-bagian kecil, yang setiap
bagian kristal dibatasi oleh bidang yang rata. Berdasarkan dari kualitas permukaan bidang
belahannya, belahan dapat dibagi menjadi :

Sempurna (perfect) ialah apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya
yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain bidang belahannya.
Contoh : calcite
Baik (good) ialah apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang
rata, tetapi dapat juga terbelah memotong atau tidak melalui bidang belahannya.
Contoh : feldspar
Jelas (distinct) ialah apabila bidang belahan mineral dapat terlihat jelas, tetapi
mineral tersebut sukar membelah melalui bidang belahannya dan tidak rata.
Contoh : staurolite
45

Tidak jelas (indistinct) ialah apabila arah belahan mineral masih terlihat, tetapi
kemungkinan untuk membentuk belahan dan pecahan sama besar.
Contoh : beryl
Tidak sempurna (imperfect) ialah apabila mineral sudah tidak terlihat arah
belahannya, dan mineral akan pecah dengan permukaan yang tidak rata.
Contoh : apatite

2.7. Pecahan (fracture)
Pecahan adalah kecenderungan mineral untuk terpisah-pisah dalam arah yang tidak
teratur apabila mineral dikenai gaya. Perbedaan pecahan dengan belahan dapat dilihat dari
sifat permukaan mineral apabila memantulkan sinar. Permukaan bidang belah akan
nampak halus dan dapat memantulkan sinar seperti cermin datar, sedang bidang pecahan
memantulkan sinar ke segala arah dengan tidak teratur (Danisworo, 1994).
Pecahan mineral ada beberapa macam, yaitu:
Choncoidal ialah pecahan mineral yang menyerupai pecahan botol atau kulit
bawang.
Contoh : quartz
Hacly ialah pecahan mineral seperti pecahan runcing-runcing tajam, serta kasar tak
beraturan atau seperti bergerigi.
Contoh : copper
Even ialah pecahan mineral dengan permukaan bidang pecah kecil-kecil dengan
ujung pecahan masih mendekati bidang dasar.
Contoh : muscovite
Uneven ialah pecahan mineral yang menunjukkan permukaan bidang pecahannya
kasar dan tidak teratur.
Contoh : calcite
Splintery ialah pecahan mineral yang hancur seperti tanah.
Contoh : kaoline

2.8. Daya tahan terhadap pukulan (tenacity)
Tenacity adalah suatu daya tahan mineral terhadap pemecahan, pembengkakan,
penghancuran dan pemotongan.
Macam-macam tenacity :
brittle ialah apabila mineral mudah hancur menjadi tepung halus.
46

Contoh : calcite
sectile ialah apabila mineral mudah terpotong pisau dengan tidak berkurang menjadi
tepung.
Contoh : gypsum
malleable ialah apabila mineral ditempa dengan palu akan menjadi pipih.
Contoh : gold
ductile ialah apabila mineral ditarik dapat bertambah panjang dan apabila
dilepaskan maka mineral akan kembali seperti semula.
Contoh : silver
flexible ialah apabila mineral dapat dilengkungkan kemana-mana dengan mudah.
Contoh : olivine

2.9. Berat jenis (Specific gravity)
Adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang umum
untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu,
misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air,
misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat miberal
dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut.





2.10. Kemagnetan
Kemagnetan ini merupakan salah satu sifat yang dapat kita temui dalam
beberapa,jenis mineral. Sifat kemagnetan ini terdiri dari tiga jenis, yaitu :
1. Paragmagnetik
Apabila didalam tubuh mineral terkandung sebagian sifat kemagnetan (tidak
menyeluruh).
Contoh : Limonit (FeO2).
2. Diagmagnetik
Apabila didalam tubuh suatu mineral sama sekali tidak terkandung sifat kemagnetan.
Contoh : Batubara (C).
3. Magnetik
47

Apabila seluruh bagian dari tubuh mineral mengandung sifat kemagnetan.
Contoh : Hematite (Fe2O3).
Untuk melihat apakah mineral mempunyai sifat magnetik atau tidak, cara mudah yakni
dengan menggantung magnet pada seutas tali atau benang, dengan sedikit demi sedikit
mineral didekatkan pada magnet tersebut. Bila benang bergerak mendekati berarti mineral
tersebut magnetik. Kuat tidaknya daya tarik, dapat dilihat dari besar kecilnya sudut yang
dibuat oleh benang yang digantungkan magnet tersebut dengan garis vertical.

2.11. Derajat ketransparanan
Merupakan salah satu parameter atau acuan untuk menentukan apakah mineral-
mineral yang diamati memiliki unsur kristal didalamnya.
Derajat ketransparanan terdiri dari beberapa macam,diantaranya :
Opaque
Suatu mineral dikatakan opaque apabila mineral tersebut tidak memiliki system
kristal,sehingga nampak gelap (tidak tembus pandang),
Gelas
Suatu mineral dikatakan gelas apabila mineral tersebut mempunyai system kristal,
Sehingga bagian belakang dari mineral nampak jelas terlihat apabila dipandang dari
bagian depan mineral (trasparan).
Bentuk mineral dapat dikatakan kristalin, bila mineral tersebut mempunyai bidang
kristal yang jelas dan disebut amorf, bila tidak mempunyai batasbatas kristal yang jelas.
Mineral-mineral di alam jarang dijumpai dalam bentuk kristalin atau amorf yang ideal,
karena kondisi pertumbuhannya yang biasanya terganggu oleh proses-proses yang lain.
Srtruktur mineral dapat dibagi menjadi beberapa, yaitu:
(a) Granular atau butiran: terdiri atas butiran-butiran mineral yang mempunyai dimensi
sama, isometrik.
(b) Struktur kolom, biasanya terdiri dari prisma yang panjang dan bentuknya ramping.
Bila prisma tersebut memanjang dan halus, dikatakan mempunyai struktur _brus
atau berserat.
(c) Struktur lembaran atau lamelar, mempunyai kenampakan seperti lembaran. Struktur
ini dibedakan menjadi: tabular, konsentris, dan foliasi.
(d) Struktur imitasi, bila mineral menyerupai bentuk benda lain, seperti
asikular,liformis,membilah,dll.
48

Sifat dalam merupakan reaksi mineral terhadap gaya yang mengenainya, seperti
penekanan, pemotongan, pembengkokan, pematahan, pemukulan atau penghancuran.
Sifat dalam dapat dibagi menjadi: rapuh (brittle), dapat diiris (sectile), dapat dipintal (ductile),
dapat ditempa (malleable), kenyal/lentur (elastic), dan fleksibel.



















BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

- Kristalografi adalah suatu cabang dari mineralogi yang mempelajari sistem kristal.
Kristalografi merupakan salah satu cabang dari mineralogi yang mempelajari mengenai
sistem-sistem kristal serta bertujuan untuk menentukan susunan atom dalam zat padat.
Kristal adalah bahan padat homogeny yang membentuk bagan polyhedral yang teratur,
biasanya anisotropy. Tersusun oleh komposisikimia tertentu yang membentuk ikatan atom tertentu
49

yang dikelilingi oleh bidang permukaan yang halus yang mengikuti hukum geometri
tertentu.
- Sistem Kristalografi dibagi menjadi 7 sistem, akan tetapi akan diterangkan lebih lanjut
tentang 4 sistem kristal yaitu sistem reguler, sistem tetragonal, sistem triklin, dan
monoklin.
- Mineralogi adalah salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari mengenai mineral,
baik dalam bentuk individu maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain mempelajari sifat-
sifat fisik dan kimia, cara terdapatnya, cara terjadinya dan kegunaannya.
Sifat-sifat fisik dari mineral :
Warna (Colour)
Perawakan kristal (Crystal habit)
Kilap (Luster)
Kekerasan (Hardness)
Gores (Streak)
Belahan (Cleavage)
Pecahan (Fracture)
Daya tahan terhadap pukulan (Tenacity)
Berat jenis (Specific gravity)
Rasa dan bau (Tasteand odour)
Kemagnetan
Derajat ketransparanan


3.2. Saran

- Diharapkan pada saat praktikum penggambaran sistem kristal, asisten memperlihatkan
satu sempel mineral kepada praktikan agar praktikan mengetahui contoh mineralnya
secara kasat mata.
- Pada saat praktikum diskripsi mineral, diharapkan para asisten terlebih dahaulu
menjelaskan salah satu mineral kepada praktikan agar praktikan tidak bingung pada saat
praktikum.


50

























DAFTAR PUSTAKA


______ .Kristalografi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kristalografi. Diakses pada tanggal 29 Mei 2012.
Graha, Setia Doddy Ir. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung : Nova
Tim Penyusun. 2012. Panduan Praktikum Kristalografi dan Mineralogi. Palangkaraya :
Teknik Pertambangan Universitas Palangkaraya.
51

Murdani, Surya. Kristalografi Mineralogi.
http://www.scribd.com/doc/58740945/Kristalografi-Dan-Mineralogi. Diakses pada
tanggal 29 Mei 2012.
Pambudi, Aan. 2011. Mineralogi.
http://aanpambudi.wordpress.com/mineralogi/. Diakses pada tanggal 29 Mei
2012.