Anda di halaman 1dari 10

PESAWAT RONTGEN CONDENSATOR DISCHARGE

Pesawat Rontgen Condensator Discharge adalah suatu pesawat untuk


membangkitkan sinar rontgen yang hanya dapat digunakan untuk pemeriksan radiografi.
Pada pesawat tersebut tabung yang digunakan adalah tabung triode. Pesawat ini
menggunakan sistem discharge, dengan memanfaatkan muatan condensator sebagai sumber
teganagan sehingga dapat menghasilkan tegangan untuk membangkitkan frekuensi tinggi.
Rangkaian pembangkit sinar rontgen pada condensator discharge bekerja berdasarkan system
yang terdiri dari:
1. Rangkaian Inverter. Rangkaian ini berfungsi merubah tegangan DC dari baterai
menjadi AC dengan menggunakan baterai dengan elemen kering.
2. Rangkaian voltage multiplier (pengganda tegangan). Rangkaian ini berfungsi untuk
melipatgandakan tegangan AC dari inverter menjadi besaran kilo volt (kV) sehingga
mampu melepaskan electron pada katoda dari ikatan atomnya.
3. Rangkaian pengisian dan pengosongan muatan condensator. Tegangan yang telah
dilipatgandakan akan ditampung muatannya pada rangkaian condensator, dan muatan
akan dibuang apabila terjadi expose sehingga akan mengaktifkan X-ray tube dan akan
menghasilkan sinar- X.
Dalam pemeriksaan radiografi dilakukan dengan teknik pemilihan saklar yang telah
diatur sedemikian rupa. Dalam hal mencegah kelebihan beban, pesawat rontgen tersebut
dilengkapi dengan pengaman beban lebih. Pada pesawat ini menggunakan system pengaturan
oleh mikrokomputer sehingga pengaturan sangat efisien. Pesawat ini memiliki 3 pemilihan
kV yaitu :
1. 90 KV 125 kV
2. 55 KV 100 kV
3. 0 KV 60 kV
Pengontrolan kV dapat dilakukan dengan memutar selector kV sehingga pengguna
dapat memilih sesui dengan objek yang akan dipotret. 50 mAS yaitu merupakan suatu nilai
standar pada penyinaran densitas tinggi untuk pesawat rontgen konvensional, sedangkan
waktu pembebanan ditentukan oleh tabung sinar rontgen itu sendiri.
Tabung triode yang digunakan pada pesawat ini adalah tabung yang dianalogkan
mempunyai 3 elektrode yaitu katoda, anoda dan Grid. Adapun fungsi dari masing-masing
elektroda tersebut adalah :
1. Katoda berfungsi sebagai sumber electron.
2. Anoda berfungsi sebagai penangkap electron.
3. Grid berfungsi sebagai pengatur jalannya electron.

Aliran electron pada tabung akan terjadi apabila :
1. Pada katoda diberikan suatu tegangan tertentu sehingga katoda tersebut dapat
memancarkan electron-electronnya yaitu dengan jalan memberikan pemanasan
terlebih dahulu pada katoda. Tujuan dari pemanasan katoda agar electron mudah
meninggalkan katoda
2. Dengan memberikan tegangan positif pada anoda terhadap katoda akan terjadi
medan listrik dalam tabung sedemikian rupa sehingga terjadi gaya tarik coulomb.
Dengan demikian electron-electron pada katoda akan tertarik menuju anoda.
Aliran electron tersebut akan mengalir dari katoda menuju katoda. Sedangkan
aliran arus pada umumnya diambil notasi dari anoda menuju katoda.
Pemanasan katoda tersebut dapat dilakukan dengan cara :
1. Pemanasan secara langsung, yaitu katoda diberi tegangan bias sehingga katoda
tersebut disamping berfungsi sebagai sumber electron juga berfungsi sebagai
filamen.
2. Pemanasan secara tidak langsung, yaitu antara filamen dengan katoda terpisah.
Pesawat rontgen condensator discharge lebih efisien penggunaanya dibandingkan
dengan pesawat rontgen stationary. Hal ini dikarenakan selai bentuk fisiknya yang mobile,
pesawat ini juga memiliki beberapa keuntungan yaitu, trafo tegangan tinggi (HTT), trafo
filament, rangkaian rectifier, X-ray tube, dan rangkaian osilasi tegangan tinggi memiliki
bentuknya lebih kecil sehingga dapat dikemas menjadi satu tempat (Single Tank) dan dapat
mengefisienkan tempat.
Salah satu contoh dari pesawat dengan menggunakan system condensator discharge
adalah pesawat Cordless Mobile X-ray System MC125L-50. Pesawat ini mengggunakan
tabung triode sebagai penghasil sinar X. Tabung ini dilengkapi oleh Grid yang digunakan
untuk mengendalikan terjadinya expose.
Cara Kerja Rangkaian Condensator Discharge:

1. Pada saat S1 ditekan autotransformator mendapat tegangan sehingga terjadi
pemanasan pada katoda tabung & grid mendapat tegangan bias (-).
2. Untuk menentukan waktu penyinaran atur S5. bila S5 diposisi S untuk penyinaran
dengan waktu singkat. Sedangkan bila S5 diposisi H untuk penyinaran dengan
densitas tinggi.
3. Untuk memilih tegangan tabung rontgen atau Kv regulatornya penentuan besarnya
tegangan tabung rontgen sesuai dengan pelaksanaan radiografi.
4. S2 ditekan relay 7a akan bekerja sehingga kontaktor a1 & a2 terhubung dan terjadi
pengisian tegangan tinggi. Setelah terjadi pengisian arus feed back dari rangkaian
tegangan tinggi akan terhubung ke rangkaian pengisian tegangan tinggi, relay 7b
bekerja. Ketika 7b tidak bekerja, kontaktor b akan terputus sehingga pengisian
tegangan tinggi berakhir.
5. S3 ditekan rangkaian anoda berputar mendapat tegangan dan anoda pada tabung
rontgen berputar.
6. S4 on rangkaian pengatur tegangan tinggi tidak mendapat tegangan sehingga relay
pengatur tegangan tinggi tidak bekerja, sedangkan kontaktor d terhubung sehingga
katoda dan grid terhubung dan grid mendapat tegangan (+) dan terjadi penyinaran.

Triode X ray tube








Rangkaian tabung rongen ini terdiri dari :
Tabung triode X ray tube.
C1 dan C2.
R9
Batteray E9
Saklar S
Tabung triode x ray tube ini akan bekerja jika antara grid dan katoda dihubung
singkat.
Cara kerja rangkaian:
1. Condensator C sudah terisi katoda dari triode x ray tube mendapat bias (+)dari
batteray E9 dan grid triode x ray tube mendapat bias (-) dari batteray E9.
sehingga terjadi thermionic emision tetapi masih ditahan oeh grid sehingga x
ray tube belum menghasilkan sinar X.( jika grid mendapat bias (-) maka
electron dari katoda tidak dapat ditarik ke anoda).
2. Pada saat saklar S ditekan maka grid akan netral (grid grid katoda
dihubungkan singkat ) atau tidak ada beda polaritas besar tegangan tabung
antara anoda dan katoda adalah tegangan C1 + C2.
3. Anoda mendapat bias (+) dari tegangan C1 dan katoda mendapat bias (-) dari
tegangan C2 maka akan terjadi proses sinar X:
- electron ditarik katoda ke anoda.
- Dengan demikian terjadi rangkaian tertutup dan terjadi arus tabung.
- Pada saat electron di anoda ada electron yang menumbuk ke init atom
(Breamstrahlung; yang menumbuk lapisan kulit K disebut K
kharakteristik
- Akibat dari tumbukan electron tersebut akan terjadi hole, hole tersebut
akan diisi oleh electron diluarnya atau disekitarnya. Perpindahan electron
tersebut akan mengakibatkan atau menimbulkan gelombang
elektromaghnetik. Untuk gelombang elektromaghnetik yang panjang
gelombangnya 0,1 1 amstrong disebut dengan Sinar-X
















Rangkaian Tegangan Tinggi Dan Rangkaian Pengontrol Tegangan Grid














Rangkaian Tegangan Tinggi di lengkapi dengan :
Autotransformator
Tombol Charge
TR4 (HTT) / Transformator tegangan tinggi (step up)
Ry1 (Relay unutk menghidupkan TR4)
Dioda penyearah D4 & D5
Condensator tegangan tinggi C7 dan C3
Resistor (R15, R16, R17), keluaran R17 diteruskan ke pengisi tegangan
Cara Kerja Rangkaian
1. Main switch on
2. Autotrafo (AT) mendapat supply
3. Tombol charge ditekan, Ry1 energize, kontak Ry1 (14- 15) & (6-8) menutup, kontak
itu merupakan self holding relay, menutupnya kontaktor Ry1 menyebabkan adanya
arus mengalir dari titik A D4 R16 C8 ground dan ketitik B sehingga
terjadi pengisian condensator (C6).
4. Titik B positif, arus mengalir dari titik 5 ground & C7 R15 D5 titik A,
saat itu terjadi pengisian condensator C7 (tegangan tinggi) deengan demikian
tegangan pada anoda dan katoda merupakan penjumlahan dari C8 & C7
5. C8 & C7 dihubung seri sehingga antara keduanya mendapat polaritas antara C8 &
C7.
6. Polaritas positif pada C8 membias + pada anoda, sedangakan polaritas negatif pada
C7 membias katoda sehingga besarnya tegangan anoda sama dengan tegangan anoda
C7 & C8.
7. Tegangan tinggi ini akan diumpan balikkan menuju pengatur
8. tegangan tinggi, sehingga terjadi pengisian capasitor merupakan hasil pengendalian
dari tegangan yang diukur / sesuai dengan tegangan yang diatur.

Rangkaian Pengaman Beban Lebih
Cara Kerja Rangkaian
1. Transformasi (Tr1) selalu dlam keadaan on. Tegangan dari sekunder transformasi
(Tr1) akan disearahkan oleh rangkaian penyearah setengah gelombang yaitu dioda
(D1) dan condensator (C1) sebagai bypass tegangan lebih, supaya sesuai dengan
kebutuhan filamen tabung triratron. Sedangkan condensator (C2) dan (C4) akan diisi
sampai nilai puncaknya sama dengan (Va). Pada saat tersebut tegangan grid tabung
triratron jauh lebih negatif dibanding dengan tegangan pada katodanya, sehingga
tabung triratron (V1) dalam keadaan cut off.
2. Apabila saklar charge buttom ditekan sesaat maka relay (Ry-1) akan bekerja dan akan
merubah kontak-kontak relay (Ry-1). Kontak-kontak tersebut adalah kontaktor Ry-
1(5-3) dan Ry-1(9-7) akan membuka, mengakibatkan hubungan condensator(C4)
terpisah dari rangkaian penyearah setengah gelombang. Sehingga katoda tabung
triratron kini mendapat sumber tegangan dari tegangan yang terkandung dalam
condensator(C4). Dalam hal tersebut pada kontaktor Ry-1 (6-8) terhubung. Sehingga
transformator tegangan tinggi (Tr-4) mendapat tegangan. Dengan demikian
condensator (C7) dan (C8) akan diisi melalui pengganda tegangan sehingga dengan
demikian proses pengisian tegangan tinggi berlangsung.
3. Apabila tegangan anoda dari tabung rontgen telah mencapai harga sedemikian rupa
maka akan melalui elemen elemen feed back (R17), kV meter, R6, R7 serta R5.
pengaturan tegangan grid tabung thiratron (V1) mendekati = kathodanya. Sehingga
tabung thiratron (V1) akan menyala.
4. Dengan bekerjanya tabung thiratron (V1) akan menyebabkan nilai Ry-2 bekerja.
Sehingga kontak-kontak relay Ry-2 akan berubah kedudukannya antara lain kontak
Ry-2 (3-7) akan terbuka. Sehingga memutuskan hubungan yang menuju ke relay Ry-1
sehingga relay Ry-1 tidak bekerja dan kontak kontaknya akan kembali seperti semula.
Karena kontaktor Ry-1 (6-8) terbuka maka pengisian tegangan tinggi berakhir.
5. Disamping itu juga kontaktor Ry-2 (8-11) akan terbuka sehingga relay Ry-5 tidak
bekerja dan kontaktor Ry-5 kembali terhubung maka tegangan grid tabung rontgen
kini menuju positif sehingga tabung rontgen bekerja dengan kata lain terjadi
penyinaran.
6. Bersamaan dalam hal tersebut kontaktor Ry-2 (2-5) berubah keposisi 2-4 sehingga
tabung rontgen akan bekerja selama tegangan anoda mendapatkan polaritas positif
sedangkan tegangan grid akan sama dengan tegangan katodanya.
7. Saat terjadi penyinaran tegangan anoda tabung akan turun sedemikian rupa sehingga
tegangan feedback menuju rangkaian pengatur grid akan ikut turun. Jika tegangan
grid maka tabung thiratron akan cutoff sehingga relay (Ry-2) tidak bekerja dan kontak
kontaknya akan kembali keposisi semula oleh karena kontak Ry-2 (8-11) terhubung
maka Ry-5 akan kembali bekerja dan kontak Ry-5 akan kembali terbuka. Tegangan
grid akan mendapat bias negatif lagi sehingga tabung rontgen berhenti bekerja.



Rangkaian Pengaturan Tegangan Grid Pada Tabung Rontgen
Cara kerja Rangkaian:
1. Main switch on, AT bekerja ada arus yang mengalir dari AT sebelah kiri turun ke
Ry-2 terminal II, menuju Ry-5. pada kontaktor Ry-2 dengan melalui Ry-4(3-4),
Ry-9(1-4), Ry-10(1-4) dan Ry-13(3-7). Kemudian melalui Tr-6 dan Ry-5 yang
dipasang paralel lalu kembali menuju AT.
2. Karena Tr-6 mendapat tegangan , Ry-5 energies. Ry-5 dan Tr-6 bekerja arus
mengalir dari D6 ke C9. bekerjanya Ry-5 menyebabkan kontaktor Ry-5 terbuka
dan terjadilah pengisian kapasitor C9 yang arusnya melalui Tr6 menuju D6 lalu ke
C9 dan kembali ke Tr-6 yang mengakibatkan katoda mendapat polaritas (+) dari
sisi positif kapasitor (C9). Dan grid mendapatkan polaritas (-) dari sisi negatif
kapasitor. Sehingga kalau anoda dan katoda sudah terhubung dengan tegangan
tinggi, karena grid(-) maka elktron tidak dapat ditarik ke anoda sehingga expose
belum terjadi.
3. Saat push buttom ready ditekan maka Ry-3 bekerja. Menyebabkan kontaktor Ry-3
menutup dan arus mengalir melewati kontaktor Ry-3(5-6). Sehingga Ry-4, Ry-
9,Ry-10 bekerja. Bekerjanya Ry-4, Ry-9, Ry-10 menyebabkan kontaktor pada Ry-
4, Ry-9, Ry-10 terbuka. Tetapi Ry-5 tetap bekerja karena kontaktor Ry-13 masih
terhubung. Tr-5 merupakan supplay filamen tabung rontgen sehingga terjadi
termionic emission dan terjadi awan electron.
4. Pada saat push buttom x-ray ditekan maka arus mengalir dari autotrafo ke kontak
x-ray melalui rectifier lalu ke R28,selenoid, kembali lagi ke rectifier ke atas lewat
Ry-3 lalu ke autotrafo. Dengan mengalirnya arus maka selenoid akan memanas
dan menyebabkan mikroswitch akan menutup. Setelah T=R.C.
5. Menutupnya microswitch menyebabkan arus melewati AT yang lewat penyearah
tidak lagi turun ke23 tetapi ke D13, Ry-13, microswitch, rectifier, Ry-3, AT.
6. Dengan bekerjanya Ry-13 maka kontaktor Ry-13 (3-7) akan terbuka dan Ry-5
tidak bekerja lagi yang menyebabkan kontaktor Ry-5 menutup kembali dan
terjadi pengosongan capasitor melalui R19 karena pada capasitor C9 dikosongkan
maka lama-kelamaan tegangan digrid dan dan dikathoda menjadi sama (netral)
akibatnya electron-electron bebas dikathoda akan ditarik keanoda dan akan trjadi
expose.