Anda di halaman 1dari 49

1

1. Pengertian dan Dimensi Perpajakan


Internasional
2. Perpajakan Internasional Indonesia
3. Taxing Inbound Income dan Outbound
Income
4. Pemajakan atas BUT dalam UU PPh
5. P3B dalam UU PPh
6. Model dan struktur P3B
2
3
IBFD International Tax Glossary 5
th
Ed. 2005:
- Traditionally refers to treaty provision relieving
international double taxation
- In broader terms, it includes domestic legislation
covering foreign income of residents (worldwide
income) and domestic income of non residents.

Brian Arnold, International Tax Primer, 1995:
the international aspects of the income tax
laws of particular countries.

4
Kesepakatan perpajakan yg berlaku di antar
negara yang mempunyai Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda dan
pelaksanaannya dilakukan dengan niat baik
sesuai dengan Konversi Wina (Pacta
Sunservanda)
5
Adalah suatu perbuatan hukum yang mengikat
negara pada bidang-bidang perpajakan.
Bentuknya adalah:
persetujuan penghindaran pajak berganda
(tax treaty)
Cara penerapan (mode of application)
Tata cara persetujuan bersama ( mutual
agreement procedure)
6
Termasuk tax treaty dengan 58 negara
Yang mempunyai aspek mengatur
perpajakan atas transaksi internasional
Ketentuan perpajakan domestik suatu
negara
PERPAJAKAN INTERNASIONAL
8
Perpajakan
Internasional
Extra
Territorial
Perpajakan
Domestik
Perpajakan
Internasional
Penghasila
n
Luar
Negeri
Dalam
Negeri
Dalam
Negeri
1
2
Penghasila
n
Luar
Negeri
Subjek Pajak
Subjek Pajak
4
3
9
SUBJEK
PAJAK
SUMBER
PENGHASILAN
ISTILAH
Dalam
Negeri
Luar Negeri Taxing Inbound
Income
Luar Negeri Dalam Negeri Taxing Outbound
Income
Penyetora
n Modal
Divide
n
Negara S Negara sumber
Diskusikan:
Bagaimana cara Negara S
mengenakan pajak atas penghasilan
dividen?
Negara S
Negara D
Negara D Negara domisili
Diskusikan:
Bagaimana cara Negara D
mengenakan pajak atas penghasilan
dividen?
X Co.
Ali
10
11
Pengertian:
UU PPh dan aturan pelaksanaannya:
Peraturan Pemerintah,
Peraturan Menteri Keuangan,
Peraturan Dirjen Pajak,
yang mengatur perlakuan pajak atas:
penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diperoleh
Subjek Pajak luar negeri (taxing outbound income), dan
Penghasilan yang diperoleh subjek pajak dalam negeri (taxing
inbound income)
termasuk tax treaty antara Indonesia dengan 58
negara mitra (per 1 Januari 2010).
12
13
Aspek Internasional dalam UU PPh:
Subjek Pajak Pasal 2 dan Pasal 3
Objek Pajak Pasal 4 ayat (1),
Pasal 5 ayat (1), dan
Pasal 26 ayat (1), (2), dan
(4)
Menghitung PPh
terutang
Pasal 16,
Pasal 17, dan
Pasal 26
Kredit Pajak Luar
Negeri
Pasal 24
Anti Penghindaran
Pajak
Pasal 18
Tax Treaty Pasal 32A
14
Aspek
Internasional
Dimensi Pajak
Taxing Inbound Income Taxing Outbound Income
Subjek Pajak SP DN SP LN BUT SP LN non BUT
Objek Pajak Pasal 4 ayat (1) minus
ayat (3)
Pasal 5 ayat (1) a, b,
dan c
Pasal 26 ayat (1),
(2) , dan (4)
Pengurang Pasal 6 dan 9 Pasal 5 ayat (2)
minus ayat (3),
Pasal 6
Menghitung Pajak Pasal 16 ayat (1), (2),
dan (4)
Pasal 16 ayat (3) Pasal 26 ayat (1),
(2) , dan (4)
Tarif Pajak Pasal 17 ayat (1) a/b Pasal 17 ayat (1) b Pasal 26 ayat (1),
(2) , dan (4)
Penghilangan
Pajak Berganda
Pasal 24
Pelunasan Pajak Self Assessment &
Withholding
Self Assessment &
Withholding
Withholding
Perpajakan Internasional Indonesia (3)
15
Pemajakan atas Subjek Pajak dalam negeri
yang memperoleh penghasilan yang
bersumber dari luar negeri.
Subjek Pajak: SPDN (Orang Pribadi dan Badan)
Objek Pajak: Pasal 4 ayat (1) tidak termasuk
ayat (3)
Menghitung Pajak: Pasal 16 ayat (1), (2), dan
(4)
Tarif pajak: Pasal 17 ayat (1) a atau b
Penghilangan pajak berganda: Pasal 24




TAXING INBOUND INCOME (1)
Orang Pribadi Badan
Bertempat tinggal di Indonesia,
Berada di Indonesia lebih dari 183
hari dalam jangka waktu 12
bulan, atau
Berada di Indonesia dan
mempunyai niat untuk bertempat
tinggal di Indonesia
(Pasal 2 ayat (3) a UU PPh)
Didirikan di Indonesia, atau
Bertempat kedudukan di
Indonesia.
(Pasal 2 ayat (3) b UU PPh)
Kewajiban Pajak Subjektif:
Dimulai: saat orang pribadi
dilahirkan, berada, atau berniat
untuk bertempat tinggal di
Indonesia,
Berakhir pada saat meninggal
dunia atau meninggalkan Indonesia
untuk selama-lamanya.
(Pasal 2A ayat (1) UU PPh)
Kewajiban Pajak Subjektif:
Dimulai pada saat badan
didirikan atau bertempat
kedudukan di Indonesia
Berakhir pada saat dibubarkan
atau tidak lagi bertempat
kedudukan di Indonesia
(Pasal 2A ayat (2) a UU PPh)
16
TAXING INBOUND INCOME (2)
Subjek Pajak
PER. DIRJEN PAJAK NO.PER-2/PJ./2009:
Dalam rangka memberi kepastian atas perlakuan PPh bagi
orang pribadi WNI yang bekerja di luar negeri,
Diatur tentang Pekerja Indonesia yaitu:
Orang pribadi WNI yang bekerja di luar negeri > 183 hari
dalam jangka waktu 12 bulan adalah Subjek Pajak luar
negeri (SPLN),
Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar
negeri sehubungan dengan pekerjaannya di luar negeri
dan telah dikenai pajak di luar negeri, tidak dikenai PPh di
Indonesia.
17
TAXING INBOUND INCOME (3)
Objek Pajak bagi SPDN adalah Penghasilan, yaitu:
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima
atau diperoleh Wajib Pajak baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan
nama dan dalam bentuk apapun.
(Pasal 4 ayat (1) UU PPh)
18
TAXING INBOUND INCOME (4)
Elemen-elemen dalam definisi Penghasilan mencakup
semua:
1. Apapun jenis penghasilan (makna ekonomis,
Global Income Taxation)
2. Apapun jenis saat pengakuan (cash atau accrual
basis),
3. Dari manapun sumber geografis penghasilan
(worldwide income),
4. Apapun cara pemanfaatannya,
5. Apapun nama dan bentuknya.
19
TAXING INBOUND INCOME (5)
Worldwide Income Principle:
WPDN terutang pajak atas Penghasilan Kena Pajak yang berasal
dari seluruh penghasilan termasuk penghasilan yang diterima
atau diperoleh dari luar negeri.
Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri
dilakukan sebagai berikut:
a. untuk penghasilan dari usaha, dilakukan dalam tahun pajak
diperolehnya penghasilan tersebut;
b. untuk penghasilan lainnya, dilakukan dalam tahun pajak
diterimanya penghasilan tersebut;
c. untuk dividen dalam Pasal 18 ayat (2) UU PPh, dilakukan dalam
tahun pajak pada saat perolehan deviden tersebut ditetapkan
sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan.
Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan
dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak.
KMK-164/KMK.03/2002
20
Penghasilan Dari Luar Negeri
Cara menghitung penghasilan neto (umum):
21

PEREDARAN
BRUTO

PENGURANG
Pasal 4 ayat (1) Pasal 4 ayat (3)
Pasal 6 (1) dan
Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d,
huruf e, dan huruf g
PENGHASILAN NETO
TAXING INBOUND INCOME (6)
Cara menghitung penghasilan neto (norma
penghitungan):
22

PEREDARAN
BRUTO

NORMA PENGHITUNGAN
Pasal 4 ayat (1) Pasal 4
ayat (3)
Pasal 14 dan Pasal 15
PENGHASILAN NETO
TAXING INBOUND INCOME (7)
23

PENGHASILAN NETO

PTKP dan SISA KERUGIAN
TH. SEBELUMNYA
Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 7,
Pasal 6 ayat (2)
PENGHASILAN KENA PAJAK Pasal 16 ayat (1) dan (2)
TARIF PPh
Pasal 17 ayat (1) huruf a atau
b

PPh TERUTANG

PELUNASAN PPH DLM TH
BERJALAN
Pasal 20, Pasal 24 , Pasal 26
ayat (5)
PPH YMH/(LEBIH) DIBAYAR Pasal 28
TAXING INBOUND INCOME (8)
Penghilangan Pajak Berganda:
Diatur dalam Pasal 24 UU PPh;
Berlaku bagi WPDN dan BUT;
Metode: kredit, per country limitation,
Mengatur tentang negara sumber
penghasilan (source rules)
24
TAXING INBOUND INCOME (9)
Tata Cara Pengkreditan Pajak Luar Negeri:
WP wajib menyampaikan permohonan kepada
Dirjen Pajak dengan dilampiri:
1. Laporan Keuangan dari penghasilan yang
berasal dari luar negeri;
2. Fotokopi SPT Pajak yang disampaikan di luar
negeri; dan
3. Dokumen pembayaran pajak di luar negeri.
Penyampaian permohonan dilakukan bersamaan
dengan penyampaian SPT Tahunan PPh.
(KMK-164/KMK.03/2002)
25
TAXING INBOUND INCOME (10)
Source Rule dalam Pasal 24 UU PPh , diantaranya:
a. penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta capital
gainnya negara tempat badan yang menerbitkan saham atau
sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan;
b. penghasilan bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan
penggunaan harta gerak negara tempat pihak yang
membayar atau dibebani bertempat kedudukan atau berada;
c. penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta
tak gerak negara tempat harta tersebut terletak;
d. penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa,
pekerjaan, dan kegiatan negara tempat pihak yang membayar
atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau
berada;

26
TAXING INBOUND INCOME (11)
27
28
Pemajakan atas Subjek Pajak luar negeri
(SPLN) yang memperoleh penghasilan yang
bersumber dari dalam negeri.
Subjek Pajak: SPLN (Orang Pribadi atau
Badan)
Objek Pajak: Pasal 26 ayat (1), (2), dan (4)
Menghitung Pajak: Pasal 26 ayat (1), (2),
dan (4)
Tarif pajak: Pasal 26 ayat (1), (2), dan (4)
Penghilangan pajak berganda: Tidak ada




TAXING OUTBOUND INCOME (1)
29
TAXING OUTBOUND INCOME (2)
Subjek Pajak
Orang Pribadi Badan
Tidak bertempat tinggal di
Indonesia, atau
Berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan
(Pasal 2 ayat (4) UU PPh)
Tidak didirikan, dan
Tidak bertempat kedudukan
di Indonesia.
(Pasal 2 ayat (4) UU PPh)
Kewajiban Pajak Subjektif:
Dimulai pada saat orang
pribadi menerima atau
memperoleh penghasilan dari
Indonesia,
Berakhir pada saat orang
pribadi tidak lagi menerima atau
memperoleh penghasilan
tersebut.
(Pasal 2A ayat (4) UU PPh)
Kewajiban Pajak Subjektif:
Dimulai pada saat badan
menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia,
Berakhir pada saat badan tidak
lagi menerima atau memperoleh
penghasilan tersebut.
(Pasal 2A ayat (4) UU PPh)
Objek Pajak bagi SPLN:
Berdasarkan Pasal 26 ayat (1), yaitu
penghasilan dengan karakteristik sebagai
berikut:
1. Penghasilan tertentu (positive/closed list),
2. Menerapkan konsep substance over form,
3. Saat terutang: saat dibayarkan, disediakan
untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo
pembayarannya,
4. Pemotong Pajak: Badan pemerintah, SPDN,
penyelenggara kegiatan, BUT, atau
perwakilan perusahaan luar negeri lainnya,
30
TAXING OUTBOUND INCOME (3)
Objek Pajak SPLN Pasal 26 ayat (1):
a. dividen;
b. bunga termasuk premium, diskonto, dan
imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang;
c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan
dengan penggunaan harta;
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan,
dan kegiatan;
e. hadiah dan penghargaan;
f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
g. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya;
dan/atau
h. keuntungan karena pembebasan utang.
31
TAXING OUTBOUND INCOME (4)
Objek Pajak SPLN Pasal 26 ayat (2):
1. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di
Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2),
yang diterima atau diperoleh WPLN selain BUT di
Indonesia, dan
2. Premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan
asuransi luar negeri
Saat terutang: diatur lebih lanjut dengan PMK;
Dasar pengenaan pajak: penghasilan neto yang diatur
dengan PMK;
Perkiraan penghasilan neto: diatur lebih lanjut diatur
lebih lanjut dengan PMK
Mekanisme pelunasan: pemotongan/pemungutan
32
TAXING OUTBOUND INCOME (5)
Pemotongan PPh Pasal 26 ayat (2):
1. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan
harta di Indonesia:
Untuk pengalihan saham sesuai KMK-
434/KMK.04/1999 perkiraan penghasilan
neto 25%,
2. Premi asuransi yang dibayarkan kepada
perusahaan asuransi luar negeri, perkiraan
penghasilan neto:
50% bila yang membayar tertanggung,
10% bila yang membayar perusahaan
asuransi,
5% bila yang membayar perusahaan
reasuransi.
33
TAXING OUTBOUND INCOME (6)
PASAL 26 AYAT (1):
34

PEREDARAN BRUTO

TARIF 20%
Pasal 26 ayat (1) huruf a s.d. h
PPH TERUTANG
TAXING OUTBOUND INCOME (7)
PASAL 26 AYAT (2):
35

PEREDARAN BRUTO

TARIF 20%
Pasal 26 ayat (2)
PPH TERUTANG
PERKIRAAN
PENGHASILAN NETO
Diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Menteri Keuangan
TAXING OUTBOUND INCOME (8)
Branch Profit Tax Pasal 26 ayat (4):
36

PENGHASILAN KENA
PAJAK BUT

TARIF 20%
BRANCH PROFIT
PPH TERUTANG
TARIF PPH PASAL 17
BRANCH PROFIT TAX
TAXING OUTBOUND INCOME (9)
Tujuan P3B:
1. Penghindaran pajak berganda,
2. Pencegahan pengelakan pajak,
3. Peningkatan hubungan ekonomi dan
perdagangan dengan negara lain,
4. Memberikan kepastian hukum.

[Pasal 32A UU PPh]
P3B DALAM UU PPh (1)
38
Kedudukan hukum P3B di hadapan UU PPh
Kedudukan tax treaty: lex specialis dari UU
PPh. (Penjelasan Pasal 32 A UU PPh)
Bila terjadi perbedaan pengaturan antara UU
PPh dan tax treaty, maka ketentuan dalam tax
treaty yang diberlakukan (Tax Treaty
Superceeding Domestic Tax Laws).

P3B DALAM UU PPh (2)
39
Australia
Bangladesh
Brunei Darussalam
India
Jepang
Jordan
Korea Utara
Korea Selatan
Kuwait
Malaysia
Mongolia
New Zealand
Pakistan
Philippines
Qatar
Saudi Arabia
Singapura
Srilangka
Syria
Taiwan
Thailand
RRC
Uni Emirat Arab
Vietnam
Algeria
Kanada
Mesir
Mauritius (dihentikan)
Mexico
Seychelles
Afrika Selatan
Sudan
Tunisia
Amerika Serikat
Venezuela
Austria
Belgia
Bulgaria
Ceko
Denmark
Finlandia
Prancis
Jerman
Hungaria
Italia
Luxemburg
Belanda
Norwegia
Polandia
Rumania
Rusia
Slovakia
Spanyol
Swedia
Switzerland
Turki
Ukraina
United Kingdom
Uzbekistan
DAFTAR P3B INDONESIA YANG BERLAKU EFEKTIF: 58 Negara
40
Start
Identifikasi Transaksi
Internasional, seperti:
Subjek & Objek Pajak
Tentukan Perlakuan
Pajak menurut UU
PPh
Ada PPh
terutang
?
P3B
dite-
rapkan?
P3B
Konflik
dng UU
PPh?
Perlakuan Pajak menurut
P3B, khusus untuk isu
yang berkonflik.
Stop
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Perlakuan Pajak
menurut UU PPh
JALAN TERUS!!!
Tidak
Ya
Untuk hal-hal lain
yang tidak berkonflik
dengan P3B: UU PPh
JALAN TERUS!!!

P3B DALAM UU PPh (3)
P3B
diterapkan
?
Ya
Tidak

P3B diterapkan apabila:
1. Indonesia memiliki P3B
dengan negara residen,
dan
2. WP luar negeri adalah
residen dari negara
mitra P3B Indonesia
terdapat SKD yang sah
41
P3B DALAM UU PPh (4)
P3B
konflik
dengan
UU PPh?
Ya
Tidak

P3B dapat berkonflik
dengan UU PPh dalam hal,
seperti:
1. Status Subjek Pajak
dalam negeri,
2. Keberadaan BUT,
3. Hak pemajakan,
4. Besarnya penghasilan
(tax base)
5. Besarnya tarif pajak,
6. Definisi
penghasilan/harta,
7. Sumber penghasilan
42
P3B DALAM UU PPh (5)
43
44
Terdapat dua model P3B, yaitu OECD Model dan UN
Model, yang dapat digunakan sebagai:
1. Referensi bagi para negara dalam membuat P3B,
2. Untuk menyamakan bentuk P3B yang hendak
dirundingkan,
3. Bagi Indonesia (DJP), kedua model digunakan
sesuai dengan kondisi dalam perundingan,
dengan landasan dasar adalah kepentingan
nasional.
MODEL DAN STRUKTUR P3B (1)
45
OECD Model mempunyai karakteristik utama
melindungi hak pemajakan negara domisili dalam
wujud:
Pencantuman definisi istilah ke dalam P3B untuk
mencegah penggunaan definisi yang terdapat dalam
hukum domestik negara sumber,
Pembatasan hak pemajakan negara sumber dalam
bentuk seperti: syarat-syarat, time test yang lebih
panjang, dan pembatasan tarif pajak.
UN Model lebih condong melindungi hak pemajakan
negara sumber dibandingkan OECD Model.
MODEL DAN STRUKTUR P3B (2)
46
Pasal-pasal dalam P3B dapat dikelompokkan
menjadi:
1. Ruang Lingkup (Scope)
2. Definisi
3. Substansi (pembagian hak pemajakan atas
penghasilan)
4. Anti Penghindaran Pajak,
5. Metode menghilangkan pajak berganda,
dan
6. Lain-lain.
MODEL DAN STRUKTUR P3B (3)
47
Pasal Judul Jenis
1 Personal Scope Scope
2 Taxes Covered Scope
3 General Definitions Definisi
4 Resident Definisi
5 Permanent Establishment Definisi
6 Immovable Property Substansi
7 Business Profits Substansi
8 Shipping Substansi
9 Associated Enterprise Anti-avoidance
10 Dividend Substansi
11 Interest Substansi
12 Royalties Substansi
13 Capital Gain Substansi
14 [Independent Personal Services] Substansi
15 Dependent Personal Services Substansi
16 Directors Substansi
MODEL DAN STRUKTUR P3B (4)
48
Pasal Judul Jenis
17 Artistes & Sportsmen Substansi
18 Pensions Substansi
19 Government Services Substansi
20 Students Substansi
21 Other Income Substansi
22 Capital Substansi
23 Elimination of Double Taxation Metode menghilangkan pajak berganda
24 Non Discrimination Lain-Lain
25 Mutual Agreement Procedure Metode menghilangkan pajak berganda
26 Exchange of Information Anti-avoidance
27 Diplomats Lain-Lain
28 Territorial Extension Lain-Lain
29 Entry into Force Scope
30 Termination Scope
MODEL DAN STRUKTUR P3B (5)
Terima Kasih....

49