Anda di halaman 1dari 9

NILAI FUNGSIONAL BEBERAPA KOMPONEN AKTIF YANG TERKANDUNG DALAM TEH

HENY HERAWATI DAN BEBET NURBAETI 1

Abstrak

Teh mulai dikonsumsi sejak 400 tahun yang lalu, dimana terdiri dari 600 varietas yang tersebar di 30 negara, baik di negara tropis maupun sub tropis termasuk di Indonesia. Teh adalah minuman yang banyak dikonsumsi oleh manusia dalam jumlah + 120 ml per kapita per hari. Ada dua bentuk produk daun teh yang siap untuk dikonsumsi, yakni teh hitam dengan tingkat konsumsi sebesar 80% dan teh hijau dengan tingkat konsumsi sebesar 20%. Komponen aktif utama yang terdapat di dalam teh diantaranya dari golongan polifenol, dimana di dalam teh hijau terdapat kelompok flavanol yang dikenal sebagai katekin dan di dalam teh hitam terdapat teaflavin serta tearubigin. Berdasarkan hasil penelitian, teh di Indonesia mempunyai keunggulan diantaranya mengandung katekin yang merupakan komponen aktif untuk kesehatan + 1,34 kali lebih tinggi daripada teh dari negara lain. Ada 6 jenis katekin utama yang terdapat dalam teh yaitu katekin, epikatekin, galokatekin, epikatekin galat, epigalokatekin dan epigalokatekin galat. Katekin mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan kanker kolon hingga 90%. Epikatekin dapat berfungsi sebagai antimutagenicity dan anticarcinogenecity. Epigalokatekin galat mempunyai komponen sebagai antioksidan 25 kali lebih efektif daripada vitamin E dan 100 kali lebih efektif daripada vitamin C dalam melindungi sel dan DNA dari kerusakan akibat kanker, penyakit jantung dan penyakit lainnya. Sedangkan teaflavin mempunyai kemampuan dapat menurunkan kolesterol darah dan berfungsi juga sebagai antioksidan. Komponen aktif lain yang terdapat dalam teh adalah caffein yang bersifat sebagai stimulan atau perangsang saraf, otot dan ginjal. Disamping mengandung 25-30% polifenol, teh juga mengandung komponen bermanfaat lain diantaranya:

protein, karbohidrat, lemak, serat, mineral serta komponen aroma.

Kata kunci: teh, komponen aktif, nilai fungsional

PENDAHULUAN

Teh telah dikonsumsi manusia sejak 400 tahun yang lalu. Tanaman teh berasal dari daerah pegunungan Himalaya, di daerah yang terletak pada perpotongan 30 garis lintang utara dan garis bujur 100 , yang merupakan perbatasan antara negara India, Tibet, Tiongkok dan Birma. Pada mulanya, penyebaran teh hanya terbatas di daerah Tiongkok Barat, yang pada akhirnya meluas dan terdistribusi di 30 negara termasuk di Indonesia, serta berkembang menjadi 600 varietas spesifik sesuai lokasi daerah penyebarannya. Jenis Camelia sinensis varietas Bohea sangat terkenal dengan istilah teh Cina atau teh Jawa. Namun dalam perkembangannya penanaman teh tidak hanya terbatas di pulau Jawa saja tetapi pada akhir abad XIX meluas sampai Sumatera. Berbagai percobaan telah dilakukan di Bogor dan Garut, untuk mengoptimalkan produktivitas teh, hingga pada tahun 1835 untuk pertama kalinya Indonesia mengekspor teh kering ke Amsterdam, (Soetedjo, 1988).

Berbagai penelitian tentang khasiat yang terkandung di dalam teh telah dilakukan sejak jaman dahulu. Dengan terungkapnya komponen aktif dalam teh yang miliki nilai fungsional tersebut, semakin meningkatkan pula potensi pengembangan teh sebagai minuman fungsional bahan pada akhir dekade 90-an,

1 Masing-masing adalah peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat.

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

90

PBB memberi bantuan kepada 30 negara penghasil teh untuk melakukan program promosi teh dalam rangka meningkatkan konsumsi teh dunia. Pemerintah Amerika Serikat juga mengembangkan penelitian dan aplikasi khasiat serta manfaat teh yang tercermin dengan adanya penyelenggaraan Third Scientific Symposium on Tea and Human Health di Washington pada bulan September 2002. Dengan diketahuinya beberapa khasiat yang terkandung dalam teh tersebut, secara otomatis dapat meningkatkan konsumsi teh dunia hingga mencapai + 120 ml perkapita perhari. Dimana secara umum minuman teh terbagi menjadi dua yaitu teh hitam dengan tingkat konsumsi sebesar 80% dan teh hijau dengan tingat konsumsi sebesar 20%.

Teh sebagaimana telah diketahui memiliki nilai kandungan kimia yang cukup baik. Dari berbagai kandungan kimia yang terkandung dalam teh, terdapat beberapa komponen aktif yang terbukti memiliki nilai fungsional. Komponen aktif yang terdapat dalam teh tersebut teridentifikasi dari golongan polifenol, dimana dalam teh hijau terdapat kelompok flavanol yang terkenal dengan katekin, sedangkan di teh hitam lebih banyak mengandung unsur teaflavin dan tearubigin. Berdasarkan hasil penelitian, katekin merupakan senyawa polifenol utama pada teh dengan kontribusi sebesar 90% dari total polifenol yang terdapat didalamnya. Salah satu keunggulan teh Indonesia diantaranya memiliki kandungan katekin berkisar antara 7,02-11,60%, sedangkan di negara lain berkisar antara 5,06-7,47 atau + 1,34 kali lebih tinggi.

Dari beberapa komponen aktif yang terkandung dalam teh tersebut, memiliki nilai fungsional diantaranya sebagai antioksidan, menurunkan kolesterol, antivirus, menghambat pertumbuhan tumor dan kanker, stimulan serta penghilang bau (deodoran). Secara lengkap pembahasan tersebut dapat terlihat sebagaimana yang tersaji dibawah ini.

KOMPOSISI KIMIA

Komposisi kimia teh besar yang terkandung dalam teh (Tabel 1) dapat mencerminkan kandungan nilai nutrisi, mempengaruhi rasa, warna, flavor maupun dapat pula berfungsi sebagai komponen aktif yang dapat mempunyai nilai fungsional secara biologis.

Secara lebih spesifik terdapat beberapa komponen kimia yang mempengaruhi kondisi organoleptik diantaranya warna, rasa dan flavor. Komponen kimia yang mempengaruhi warna air seduhan teh diantaranya teaflavin warna coklat kekuningan, tearubigin warna coklat, flavonol glikosida warna kuning terang, feoforbid warna kecoklatan, feofitin warna kehitaman dan karoten warna kuning. Beberapa komponen kimia yang mempengaruhi rasa diantaranya polifenol rasa segar, asam amino rasa lezat, cafein rasa pahit, teaflavin rasa segar dan tearubigin rasa abu serta sedikit rasa segar. Sedangkan komponen yang mempengaruhi timbulnya flavor diantaranya yaitu linalool dan linalool oksidan flavor manis, geraniol dan fenilasetaldehid flavor bunga, (nerolidol, benzaldehid, metilsalisilat, feniletanol) flavor buah, (trans-2-hexenal, n-hexanal, cis-3-hexenol, grassy,6-ionon) flavor segar.

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

91

Tabel 1.

Kandungan Kimia Teh Segar.

Komponen Kimia

Kandungan (% berat kering)

Total Polifenol

25

- 30

Flavanol

 

(-) Epigalokatekin gallat

8 – 12

(-) Epikatekin gallat

3

– 6

(-) Epigalo katekin

3

– 6

(-) Epikatekin

 

1 – 3

(+) Katekin

 

1 – 2

(+) Gallokatekin

3

– 4

Flavonol dan flavonol glikosida

3

– 4

Leukoantosianin

2

– 3

Asam polifenol dan turunannya

3

– 4

Cafein

3

- 4

Teobromin

 

0.2

Teofilin

 

0.5

Asam Amino

4

– 5

Asam organik

0.5

– 0.6

Monosakarida

4

– 5

Polisakarida

14

- 22

Selulosa dan hemisselulosa

4

– 7

Pektin

5

– 6

Lignin

5

– 6

Protein

14

– 17

Lemak

3

– 5

Klorofil dan pigmen lainnya

0.5

- 0.6

Mineral

5

– 6

Komponen aroma

0.01 – 0.02

Sumber: Tea Research Association, 2003

Kandungan kimia yang terdapat dalam teh segar ini akan berubah sesuai dengan teknologi pengolahan yang digunakan. Berdasarkan cara pengolahannya terdapat 2 jenis teh yaitu yang terkenal dengan istilah teh hitam dan teh hijau. Pada prinsipnya teh hijau adalah teh yang dalam proses pengolahannya tidak atau sedikit mengalami proses fermentasi, sedangkan teh hitam pada waktu proses pengolahannya mengalami lebih banyak proses fermentasi. Dari teknologi proses yang digunakan tersebut, mengakibatkan teh hijau lebih banyak mengandung katekin sedangkan teh hitam lebih banyak mengandung teaflavin dan tearubigin. Teh hitam sendiri secara umum terbagi menjadi dua jenis berdasarkan teknologi proses pengolahannya yaitu ortodox dan CTC. Berdasarkan hasil analisa kandungan kimianya ternyata memiliki nilai yang cukup berbeda (Tabel 2).

Tabel 2.

Kandungan Kimia Teh Hitam (Ortodox dan CTC).

Komponen Kimia

Kandungan (% berat kering)

Ortodox

CTC

Total padatan terlarut

39.52

41.12

Teaflavin

0.59

1.30

Tearubigin

6.5

18.00

Total lemak

3.11

3.68

Karotenoid

215

176

Komponen Flavor

18.40

8.20

Total serat

19.35

18.93

Serat kasar

11.70

11.12

Klorofil a

1.38

0.48

Klorofil b

0.77

0.58

Sumber: Tea Research Association, 2003

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

92

Hal ini menunjukkan bahwasannya dengan adanya perbedaan proses pengolahan mengakibatkan terjadinya reaksi kimia yang berbeda sehingga menghasilkan kandungan kimia pada produk akhir yang dihasilkan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pada saat proses pengolahan, diantaranya yaitu faktor pemanasan, perlakuan mekanis, reaksi enzimatis, maupun nonenzimatis yang terjadi selama proses berlangsung.

Komponen Aktif

Komponen aktif yang terdapat di dalam teh diantaranya dari golongan polifenol. Salah satu komponen polifenol adalah flavonoid. Flavonoid biasanya terbagi kedalam lima sub kelompok yaitu: flavonol (quercetin, kaemferol, myricetin, isorhamnetin), flavon (luteolin, apigenin), flavanon (hesperetin, naringenin, eriodictyol), flavan-3-ol ((+)-katekin, (+)-gallokatekin, (-)-epigallokatekin, (-)- epikatekin-3-gallat, (-) epigallokatekin 3- gallat, teaflavin, teaflavin 3-gallat, teaflavin 3’-gallat, teaflavin 3,3’digallat, tearubugin, antosianidin (ciadinin, delfinidin, maluidin, pelargonidin, peonidin, petunidin). Dari sub kelompok polifenol tersebut yang banyak terdapat di teh yaitu dari sub kelompok flavon-3-ol. Adapun rumus kimia sub kelompok dari flavon 3-ol dapat terlihat seperti gambar 1 dibawah ini.

O

O

H

H

O H

H O H O R 1 O H O H H O H O O
H
O H
O
R 1
O
H
O
H
H
O
H
O
O
R
1
H
O
H
O
H
O R 2
H
O
R 2
O
H
O H
H

O H

1.

T e a fla v in -1 R 1 =R 2 =H

5. Ep ika te kin R 1 =H R 2 =H

 

2.

T e a fla v in -3-g a lla t -A

R 1 = g a llo y l R 2 = H

6. Ep ika t e kin

g a lla t R 1 = H

R 2 = g a llo y l

3.

T e a fla v in -3’-g a lla t -B R 1 = H

R 2 = g a llo y l

7. Ep ig a llo ka t e kin

R 1 = O H

R 2 = H

4 .

T e a fla v in -3,3’-d ig alla t R 1 =R 2 =g a llo y l

8. Ep ig a llo kate kin g alla t R 1 =O H R 2 =g a lloyl

Gambar 1. Struktur Kimia dari Teaflavin (TF 1 ), Teaflavin-3-gallat (TF 2 A), Teaflavin- 3'-gallat (TF 2 B), Teaflavin-3,3'-digallat (TF 3 ), (-)-Epikatekin (EC), (-)- Epigallokatekin (EGC), (-)-Epicatekin gallat (ECG) dan (-)- Epigallokatekin gallat (EGCG).

Sedangkan menurut Zhu et al. (1999), katekin adalah kelompok polifenol yang terdapat dalam teh hijau, dimana terdapat empat komponen katekin utama yang terdapat di dalamnya, yaitu: (-) epikatekin (EC), (-)-epigallokatekin (EGC), (-)- epikatekin gallat (ECG) dan (-)-epigallokatekin gallat (EGCG). Katekin yang terdapat di dalam daun teh hijau kering sebesar 6-16%. Sedangkan pada proses pengolahan teh hitam, komponen katekin dan gallokatekin akan mengalami proses oksidasi dan dimerisasi serta mengakibatkan terbentuknya warna pigmen merah-oranye yang merupakan komponen teaflavin (TF) yang terdiri dari campuran teaflavin (TF1), teaflavin-3-gallat (TF2A), teaflavin-3-gallat (TF2B) damn teaflavin 3-3-digallat (TF2).

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

93

Teaflavin yang terbentuk ini akan mengalami reaksi non enzimatis lebih lanjut dan membentuk tearubigin. Adapun reaksi perubahan kimia secara garis besar menurut Eden (1976), dapat terlihat seperti yang tercantum pada bagan alir dibawah ini.

Gallokatekin-katekin komplek

pada bagan alir dibawah ini. Gallokatekin-katekin komplek Oksidasi enzimatis Ortobenzokuinon Bis-flavanols Dimerisasi

Oksidasi enzimatis

Ortobenzokuinon

Bis-flavanolskomplek Oksidasi enzimatis Ortobenzokuinon Dimerisasi Kondensasi dengan ortoquinon Teaflavin Reaksi

Dimerisasi

Kondensasi dengan ortoquinonOksidasi enzimatis Ortobenzokuinon Bis-flavanols Dimerisasi Teaflavin Reaksi nonenzimatis Tearubigin Gambar 2. Reaksi

Teaflavin

Dimerisasi Kondensasi dengan ortoquinon Teaflavin Reaksi nonenzimatis Tearubigin Gambar 2. Reaksi Komplek

Reaksi nonenzimatis

Tearubigin

Gambar 2. Reaksi Komplek Perubahan Komponen Gallokatekin dan Ketekin.

Nilai Fungsional

Katekin

Berdasarkan hasil penelitian Guo et al (1996), tentang kemampuan empat komponen katekin yang terdapat didalam teh hijau yaitu (-)-epigallokatekin gallat (EGCG), (-)-epikatekin gallat (ECG),(-)-epigallokatekin (EGC) dan epikatein (EC), diperoleh hasil secara berturut-turut kemampuan dalam mengikat radikal bebas hidroksil yaitu ECG>EC>EGCG>>EGC. Hal ini juga dilakukan terhadap radikal bebas yang diproduksi dalam metabolisme lemak yang terkait dengan kinerja leanin atau sistem lipoksidase dengan kemampuan ECG>EGCG>>EGC>EC. Berdasarkan hasil penelitian ini, kemampuan komponen aktif dari katekin sebagai antioksidan tidak hanya tergantung kepada kemampuan gugus aktifnya dalam mengkelat radikal bebas, akan tetapi tergantung pula pada kestabilan semiquinon radikal bebasnya serta adanya kemampuan lain yang memicu timbulnya tahap inisiasi pada proses peroksidasi lemak (Fe2+/ Fe3+).

Katekin juga mempunyai kemampuan dapat menghambat pertumbuhan tumor sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Arri et al. (1998), dengan pemberian dosis katekin sebesar 0,1% dam 1,0% katekin terhadap tikus percobaan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil adanya penurunan tumor sebesar 6,4 + 3,7, dengan adanya penambahan katekin sebesar 0,1% dan penurunan sebesar 7,6 + 4,0 dengan adanya pemberian katekin sebesar 1,0% atau setara dengan penurunan sebesar 70 dan 71%. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian penambahan katekin 50/120 mm (+) katekin terhadap kanker dengan fenotip HT-29 kanker kolon dapat memberikan efek penurunan hingga mencapai 90% untuk penggunaan dosis tertinggi. Kemampuan katekin dalam menghambat pertumbuhan tumor juga telah dibuktikan oleh Susan et al. (2002) (Gambar 3).

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

94

120 100 80 60 -0,5 0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0 Pertumbuhan
120
100
80
60
-0,5
0
1,0
2,0
3,0
4,0
5,0
6,0
7,0
8,0
Pertumbuhan
tumor (d)

Asupan katekin (mmol/ kg)

Gambar 3. Grafik Hubungan Antara Asupan Katekin dengan Pertumbuhan Tumor pada Mencit dengan Rumus Regresi (y = 73.2 + 8.36x; r 2 = 0.761, P <

0.001).

Epikatekin

Epikatekin adalah komponen aktif yang terdapat di dalam teh hijau, yang mempunyai sifat fungsional antioksidatif. Berdasarkan hasil penelitian Cheng et al (1991), epikatekin yang berasal dari teh hijau dapat menghambat mutagenitas dan kerusakan kromosom yang disebabkan oleh berbagai komponen karsinogenik baik pada bakteri maupun sel mamalia. Secara in vivo, epikatekin dapat menghambat transformasi dari BALB/3T3 sel yang diinduksi oleh BP, sinar X atau MCA/TPA. Secara in vivo, ekstrak teh hijau dapat menurunkan terjadinya iritasi pada lambung yang disebabkan oleh adanya komponen karsinogenik yang diinduksi oleh sarkofin dan NaNO 2 . Epikatekin juga dapat menghambat perkembangan gona glutation trans peptidase-positif pada ginjal tikus yang diberi perlakuan dengan dehil nitrosamin (DEN)/ DEN/ fenobarbitol. Berdasarkan hasil penelitian, menyebutkan bahwa kinerja antimutagenik dan antikarsinogenik epikatekin berhubungan dengan meningkatnya aktivitas glutation S-transferase dalam menghambat edema, hiperplasma dan aktifitas ODC yang diinduksi dengan TPA, mengkelat radikal bebas, memblok pemicu tumor, menghambat induksi komunikasi antarsel dan meningkatkan kekebalan sel.

Epigallokatekin Gallat

Epigalokatekin gallat (EGCG) merupakan antioksidan yang terdapat dalam teh hijau, dimana mempunyai kemampuan 100 kali lebih efektif daripada vitamin C dan 25 kali lebih efektif daripada vitamin E dalam melindungi sel dan DNA dari kerusakan yang mengakibatkan timbulnya kanker, penyakit jantung dan penyakit serius lainnya. ECGC merupakan 10-50% dari total katekin dan menunjukkan nilai fungsional yang sangat potensial yaitu mempunyai aktivitas sebagai antioksidan 25- 100 kali lebih efektif daripada vitamin C dan E. 1 cangkir teh hijau mengandung 10-40 mg polifenol dan mempunyai aktivitas antioksidan lebih besar daripada yang terdapat pada broccoli, bayam, wortel atau strawberi (Tea Research Association, 2003).

Tearubigin

Secara in vivo, ekstrak tearubigin mempunyai efek paralisis terhadap toksin tetanus, akan tetapi tidak pada toksin lainnya seperti tetrodotoksin dan saxitoxin. Berdasarkan hasil penelitian Eiki et al. (2001), 100 ml tearubigin dapat memprirolisis 100%, toksin tetanus sebanyak 20 mg yang telah disuntikkan pada tikus.

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

95

Teaflavin

Teaflavin adalah salah satu komponen polifenol yang dapat ditemukan pada teh hitam dan teh oolong. Teaflavin merupakan polimerasi dari katekin selama proses fermentasi atau semi fermentasi, pada proses pengolahan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan David et al. (2003), di enam rumah sakit di Cina yang dilakukan terhadap 240 orang baik laki-laki maupun perempuan yang berusia 18 tahun atau lebih yang terkena hiperkolesterolemia dengan memberikan kapsul yang mengandung teaflavin dari teh hijau (375 mg) selama 12 minggu, menunjukkan persentase perubahan kolesterol yang meliputi kadar LDL, HDL serta trigliserida (Tabel 3).

Tabel 3.

Pengaruh Teaflavin terhadap Perubahan Total Kolesterol (TC), LDL-c, HDL-c dan Trigliserida (TG).

Jenis Kolesterol

TC

LDL-c

HDL-c

TG

Perubahan Kadar Kolesterol Darah (%)

Perubahan Kadar Kolesterol Darah (%)

4 Minggu

-6,70 + 84

-9,58 + 09

0,35 + 10

0,51 + 58

12 Minggu

-11,34 + 89

-16,40 + 10

2,30 + 06

2,58 + 52

Sumber: David et al., 2003

Caffein

Kafein dalam jumlah kecil (20 mg), mempunyai kemampuan dapat merangsang aktifitas tubuh dan hati. Rata-rata konsumsi harian yang dianjurkan untuk mengkonsumsi kafein tiap hari sebesar 60 mg. Secara lengkap kandungan kafein pada beberapa minuman dapat terlihat seperti tabel 4 dibawah ini:

Tabel 4.

Kandungan Kafein pada Beberapa Produk.

Jenis Produk

Komposisi

 

Kadar Kafein

Kopi Instan

Ringan

27

mg/ cangkir

Sedang

48

mg/ cangkir

Berat

68

mg/ cangkir

Kopi Non Instan

Ringan

53

mg/ cangkir

Sedang

62

mg/ cangkir

Berat

71

mg/ cangkir

Kopi Decaffeinated

 

2

mg/ cangkir

Teh

 

46

mg/ cangkir

Coklat

Minuman

4

mg/ cangkir

Batangan

1

mg/ 5 gram

Minuman Cola

 

34

mg/ 370 ml

Sumber: Shirlow, 1983.

Teanin

Teanin merupakan salah satu dari komponen asam amino yang terdapat pada daun teh hijau. Teanin berbeda dengan polifenol maupun katekin yang terkandung pada teh bila dikonsumsi. Melalui proses alamiah, produksi polifenol tanaman teh mengkonversi teanin menjadi katekin. Hal ini berarti pada saat tertentu panen, dimungkinkan kadar katekin tinggi (baik karena banyak mengandung antioksidan) dan disaat tertentu kadar teanin yang lebih tinggi (baik untuk antistres dan efek kontrol). Pada 3-4 cangkir teh hijau mengandung 100-200 mg teanin

(Anonimous,2003).

Komponen Lain

96

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

Beberapa komponen polifenol teh juga terbukti dapat menghambat kinerja beberapa enzim diantaranya enzim angiotensin I, amilase, sukrase, maltase, glucosy I transferase pada mutan streptokokus, pemacu HIV dan tyrosinase. Disamping itu, beberapa komponen polifenol (trimetry amina, methyl mercaptan, formaldehid) pada teh juga memiliki kemampuan sebagai deodoran (penghilang bau).

KESIMPULAN DAN SARAN

Komponen aktif yang terdapat pada teh sebagian besar berasal dari golongan polifenol. Beberapa komponen aktif terbentuk selama proses pengolahan maupun terdapat secara alami. Komponen aktif tersebut berdasarkan hasil penelitian memiliki nilai fungsional yang sangat potensial sehingga minuman teh patut untuk lebih dikembangkan sebagai minuman fungsional.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous.

Arii,

M.,

M.

www.

Nasahi.com.htm

Ariga, N. Yamaji, S. Kataoka. 1998

Chemopreventive

Carcinogenesis in the APC Min mouse. Proc. Am. Assoc. Cancer Res., 39:

20.

of Grape Seed Extract on Intestinal

2003.

Miki,

Teaflavin

R.

and

Immune

H.

Support.

Nashai

Biotech.

Hosoyama,

Effect

David, J. M., G. Ping Lu, N. Sheng Cai, Z. Gui Wu, Y. Hua Li, H. Chen, J. Qiu Zhu, X. Juan Jin, B. C. Wouters, J. Zhao. 2003. Cholesterol-lowering Effect of a Theaflavin-Enriched Green Tea Extract. Arch Intern Med. 2003;163:1448-1453. Cheng, S. D. Z., Y. Lin, P. Zhu, Y. Chen, Y. Hu X. 1991. The Antimutagenecity and Anticarcinogenicity of Green Tea Epicatechins. Chin Med Sci J. 6 (4):

233-8.

Eden, T. 1976. Tea Tropical Series. Longman. Group Limited London. Eiki, S., T. Ishii, Y. Shimizu, S. Sawamura, and M. Nishimura. 2001. Black Tea Extract, Thearubigin Fraction, Counteracts the Effect of Tetanus Toxin in Mice. Experimental Biology and Medicine 226:577-580.

Guo, Q.

1996. Protective Mechanisms of Four

Components of Green Tea Polyphenols Against Lipid Peroxidation in Synaptosomes. Biochim Biophys Acta (1996 Dec 13) 1304(3):210-22.

Z.

B.,

M.

Li,

S. Shen, W.

Xin.

Shirlow, M. J., 1983. Patterns of Caffeine Consumption. Human Nutrition: Appl. Nutrition; 37:307-313. Soetedjo, R., 1988. Buku Pelajaran Ilmu Bercocok Tanam Tanaman Keras. PT Soeroengan, Jakarta.

Susan, E. E., C. A. Brenneman, G. S.

Rodriguez, E. A. MacDonald, A. C. Cramer, A. Levi, J. D. Ebeler, A. I. Trejo, A. Kraus, S. H. Hinrichs, and Andrew J Clifford. 2002. Dietary Catechin Delays Tumor Onset in a Transgenic Mouse Model. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 76, No. 4, 865-872, October 2002. Tea Research Association. 2003. Exploring the Health Benefits of Green Tea. www. green-tea us.com.htm. Zhu, Q. Y. dan Z. Y. Chen. 1999. Isolation and Analysis of Green Tea Polyphenols by HPLC. Anal. Lab. 18:70-72.

Kim, W. T. Jewell, M. R. Webb, L. Chacon-

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

97

Seminar Nasional Pangan Fungsional
Seminar Nasional Pangan Fungsional

Seminar Nasional Pangan Fungsional

98