Anda di halaman 1dari 57

ANALISIS DAMPAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA ANALISIS DAMPAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA ANALISIS DAMPAK EKONOMI,

SOSIAL DAN BUDAYA ANALISIS DAMPAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA


TERHADAP RENCANA TERHADAP RENCANA TERHADAP RENCANA TERHADAP RENCANA PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN
JEMBATAN SELAT SUNDA JEMBATAN SELAT SUNDA JEMBATAN SELAT SUNDA JEMBATAN SELAT SUNDA


1.1. 1.1. 1.1. 1.1. Analisis Analisis Analisis Analisis Dampak Dampak Dampak Dampak Ekonomi Terkait Ekonomi Terkait Ekonomi Terkait Ekonomi Terkait Rencana Rencana Rencana Rencana Pembangunan JSS di Provinsi Lampung Pembangunan JSS di Provinsi Lampung Pembangunan JSS di Provinsi Lampung Pembangunan JSS di Provinsi Lampung
1.1.1. 1.1.1. 1.1.1. 1.1.1. Dampak Dampak Dampak Dampak Rencana Rencana Rencana Rencana Pembangunan JSS Terhadap Ekonomi Wilayah Pembangunan JSS Terhadap Ekonomi Wilayah Pembangunan JSS Terhadap Ekonomi Wilayah Pembangunan JSS Terhadap Ekonomi Wilayah

Rencana pembangunan JSS akan menimbulkan implikasi diantaranya terhadap perubahan
pola ruang, struktur ruang, dan sistem transportasi. Implikasi yang ditimbulkan tersebut
berdampak terhadap ekonomi wilayah Provinsi Lampung. Pembangunan JSS dapat menimbulkan
kecenderungan perubahan pola ruang (komposisi pola ruang), yakni dengan kemungkinan
perkembangan penggunaan lahan yang mengurangi cakupan lahan kawasan lindung dan
bertambahnya cakupan lahan kawasan budidaya. Perkembangan luas lahan terbangun di provinsi
Lampung akan cukup besar pasca pembangunan JSS, selain disebabkan karena pertumbuhan
kawasan terbangun saat ini sudah cukup besar juga karena faktor ekonomi dan perkembangan
penduduk berpengaruh secara signifikan (mencapai 99%) pada perkembangan kawasan
terbangun.
Kemungkinan perkembangan kawasan yang memiliki kecenderung perkembangan tinggi
seperti kawasan perkotaan pada pusat-pusat perdagangan dan jasa, kawasan industri, koridor
penyeberangan Bakauheni - Merak, serta kawasan wisata pasca pembangunan JSS, demikian juga
dengan perubahan struktur ruang menjadi berstatus pusat kegiatan nasional (PKN), pusat
kegiatan wilayah (PKW) atau pusat kegiatan lokal (PKL) akan memacu kinerja dan struktur
perekonomian wilayah Provinsi Lampung. Skema perubahan struktur ruang Provinsi Lampung
terhadap beberapa kota seperti Bandar Lampung, Kota Agung, Menggala, Bandar Jaya,
Kemuning, Sukadana dan Way Jepara dapat diperkirakan akan membawa pengaruh
perkembangan perekonomian kabupaten dan kota.
Pembangunan JSS juga berimplikasi terhadap perubahan pergerakan transportasi antara
Pulau Sumatera dan Pulau Jawa karena manfaat yang dapat diberikan meliputi :
a. Menambah aksesibilitas dengan adanya tambahan infrastruktur transportasi baru
b. Bertambahnya kapasitas layanan lalulintas
c. Meningkatnya kecepatan perjalanan dibandingkan dengan menggunakan ferry atau
pelayaran laut
d. Meningkatnya kepastian waktu perjalanan dibandingkan menggunakan ferry atau
pelayaran laut
Manfaat yang ditimbulkan oleh fungsi JSS tersebut berakibat terjadinya peralihan
lalulintas (traffic diversion) antara infrastruktur eksisting dengan JSS, timbulnya bangkitan
lalulintas (traffic generation) akibat terstimulasinya kegiatan ekonomi, dan meningkatnya arus
kecepatan (speedflow) lalulintas Sumatera Jawa.
Peralihan lalulintas yang mungkin terjadi antara lain : penyeberangan ferry Merak
Bakauheni, pelayaran laut Pelabuhan Panjang Tanjung Priok, dan penerbangan Lampung
(Bandara Radin Inten) Jakarta; karena ketiga rute lalulintas tersebut terletak paling dekat
dengan JSS, memiliki asal/tujuan perjalanan yang sama, dan memiliki jenis layanan yang sama.
Pengembangan komoditi unggulan dan sebaran industri/sentra produksi yang sudah
dibahas pada Bab III secara umum memberikan peluang lapangan kerja baru di tingkat makro.
Namun demikian, sebaran industri dan sentra produksi yang mempunyai peluang berkembang
lebih besar adalah yang terletak dekat dengan pembangunan JSS atau berada pada jalur yang
langsung terhubung dengan JSS seperti ditunjukkan pada gambar 3.1 pada Bab III. Sementara
kabupaten/kota lain yang terletak cukup jauh dari infrastruktur JSS dan koridor utama JSS seperti
: Kabupaten Lampung Utara, Lampung Barat, Way Kanan, Tanggamus akan mengalami
kesenjangan.
Lokasi kawasan potensial Provinsi Lampung sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2.6
pada Bab II. di mana identifikasi dilakukan dengan membagi kawasan berdasarkan zona dengan
interval radius 30 km dari kaki JSS (Bakauheni). Kawasan potensial yang berada pada Zona I, II dan
III (30 km, 60 km dan 90 km) khususnya di wilayah Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung
Timur, berpeluang terimplikasi dampak ekonomi secara langsung, sehingga perlu dikembangkan
berbagai bentuk perekonomian mikro. Sedangkan Zona III, IV dan zona lain di atas radius 120 km
mengalami dampak perekonomian secara makro.

1.1.2. 1.1.2. 1.1.2. 1.1.2. Dampak Dampak Dampak Dampak Rencana Rencana Rencana Rencana Pembangunan JSS Terhadap Ekonomi Mikro/Lokal/ Pembangunan JSS Terhadap Ekonomi Mikro/Lokal/ Pembangunan JSS Terhadap Ekonomi Mikro/Lokal/ Pembangunan JSS Terhadap Ekonomi Mikro/Lokal/ Pedesaan Pedesaan Pedesaan Pedesaan
Kabupaten Lampung Selatan yang dominan memiliki potensi kegiatan ekonomi di sektor
pertanian terletak pada zona hingga 60 km dari kaki JSS. Dalam hal ini ditetapkan sebagai
Kawasan Ekonomi Potensial (KEP) Lampung Selatan, dampak pembangunan JSS bersifat ekonomi
mikro/lokal/pedesaan.
Peluang sektor ekonomi mikro yang dapat dikembangkan berkaitan dengan implikasi
pembangunan JSS dapat dilihat pada Tabel 1.1. dan Tabel 1.2. Pada Tabel 1.1 konsentrasi
pengembangan sektor ekonomi mikro di Kabupaten Lampung Selatan difokuskan antara lain pada
:
a. Kawasan Terminal Agribisnis Kecamatan Penengahan Kawasan Terminal Agribisnis Kecamatan Penengahan Kawasan Terminal Agribisnis Kecamatan Penengahan Kawasan Terminal Agribisnis Kecamatan Penengahan, dengan kegiatan ekonomi
pemasaran hasil produk pertanian serta bahan baku kebutuhan pertanian dan
pendukungnya.
b. Kawasan Agropolitan Kecamatan Sidomulyo Kawasan Agropolitan Kecamatan Sidomulyo Kawasan Agropolitan Kecamatan Sidomulyo Kawasan Agropolitan Kecamatan Sidomulyo, dengan kegiatan ekonomi produksi hasil
pertanian.
c. Kawasan Minapolitan Kecamatan Ketapang Kawasan Minapolitan Kecamatan Ketapang Kawasan Minapolitan Kecamatan Ketapang Kawasan Minapolitan Kecamatan Ketapang, dengan kegiatan ekonomi budidaya
perikanan, penangkapan ikan dan pengolahan hasil ikan.
d. Kawasan Kawasan Kawasan Kawasan Agroindustri di Kecamatan Tanjung Agroindustri di Kecamatan Tanjung Agroindustri di Kecamatan Tanjung Agroindustri di Kecamatan Tanjung B BB Bintang intang intang intang, dengan kegiatan ekonomi adalah
industri peralatan dan mesin-mesin pertanian, industri pengolahan hasil pertanian, dan
industri jasa sektor pertanian
e. Kawasan Pariwisata Kalianda dan sekitarnya, Kawasan Pariwisata Kalianda dan sekitarnya, Kawasan Pariwisata Kalianda dan sekitarnya, Kawasan Pariwisata Kalianda dan sekitarnya, dengan kegiatan ekonomi adalah
perdagangan dan jasa seperti: perhotelan, restorant (kuliner) transportasi, dan
cinderamata.
Penduduk Kecamatan Penengahan dan Kecamatan Sidomulyo yang secara umum adalah
petani, sedangkan penduduk Kecamatan Ketapang adalah nelayan diharapkan dapat
diberdayakan untuk mendukung kawasan pengembangan tersebut. Begitu pula dengan
penduduk di kawasan Tanjung bintang, diharapkan dapat mendukung keberadaan industri di
Kawasan Industri Lampung (KAIL). Sedangkan penduduk kota Kalianda yang lebih banyak bekerja
di sector perdagangan dan jasa dapat diarahkan untuk mendukung pengembangan pariwisata di
sumber air panas Wat belerang, Pelabuhan Canti untuk penyeberangan ke Gunung Krakatau dan
Pantai Wartawan.
Tabel 1.1. Kawasan Potensial di Kabupaten Lampung Selatan
No No No No Fungsi Fungsi Fungsi Fungsi Kegiatan Kegiatan Kegiatan Kegiatan Lokasi Lokasi Lokasi Lokasi
1
Terminal
Agribisnis
1. Memasarkan hasil produk pertanian
2. Memasarkan bahan baku kebutuhan
pertanian dan pendukungnya
KEP Lampung Selatan,
Kec. Penengahan
(Kab. Lampung Selatan)
2 Agropolitan 1. Produksi hasil pertanian
KEP Lampung Selatan,
Kec. Sidomulyo
(Kab. Lampung Selatan)
3 Minapolitan
1. Usaha budidaya perikanan
2. Usaha penangkapan ikan di laut
3. Usaha pengolahan hasil ikan
KEP Lampung Selatan,
Kec. Ketapang
(Kab. Lampung Selatan)
4
Agro
Industri
1. Industri peralatan dan mesin-mesin
pertanian
2. Industri pengolahan hasil pertanian
3. Industri jasa sektor pertanian
KEP Lampung Selatan,
Kec. Tanjung Bintang
(Kab. Lampung Selatan)
Sumber: Hasil analisis, 2012 dan Studi Kawasan Strategis Selat Sunda, 2011



Tabel 1.2. Kawasan Potensial di Kabupaten Lampung Timur
No No No No Fungsi Fungsi Fungsi Fungsi Kegiatan Kegiatan Kegiatan Kegiatan Lokasi Lokasi Lokasi Lokasi
1 Minapolitan
1. Usaha budidaya perikanan
2. Usaha penangkapan ikan di laut
3. Usaha pengolahan hasil ikan
KEP Lampung Timur,
Kec. Labuhan Maringgai
(Kab. Timur)
2 Agroindustri
1. Industri peralatan dan mesin-mesin
pertanian
2. Industri pengolahan hasil pertanian
3. Industri jasa sektor pertanian
KEP Lampung Timur,
Kec. Jabung, Sekampung
Udik
(Kab. Lampung timur)
3 Agrowisata
1. Produksi hasil pertanian
2. Pembibitan buah-buahan dll
KEP LampungTimur,
Kec. Pekalongan
(Kab. LamTimur)
5 Ecotourism
(Pariwisata
Alam)
1. Pengembangan Desa Wisata di
Labuhan Ratu
2. Industri cinderamata
KEP Lampung Timur
Kec. Labuhan Ratu dan Way
Jepara
(Kab. Lampung Timur)
Sumber: Hasil analisis 2012

1.2. 1.2. 1.2. 1.2. Analisis Analisis Analisis Analisis Dampak Dampak Dampak Dampak Sosial Terkait Sosial Terkait Sosial Terkait Sosial Terkait Rencana Rencana Rencana Rencana Pembangunan JSS di Provinsi Lampung Pembangunan JSS di Provinsi Lampung Pembangunan JSS di Provinsi Lampung Pembangunan JSS di Provinsi Lampung
Perubahan sosial yang terjadi di suatu wilayah ditandai dengan perubahan struktur dan
hubungan-hubungan sosial berdasarkan usia, tingkat pendidikan, mata pencaharian, dan
sebagainya. Perubahan sosial mengakibatkan perubahan di sektor lain, oleh karena itu tidak
dapat dipandang hanya dari satu sisi. Sedangkan perubahan budaya berkaitan dengan perubahan
substansi budaya seperti nilai, kepercayaan, sikap, norma, perilaku, pranata, dan lain-lain.
Perubahan sosial dan perubahan budaya tidak dapat dipisahkan dan akan saling mempengaruhi.
Rencana pembangunan jembatan Selat Sunda diperkirakan akan menghadirkan beragam
perubahan kepada kehidupan masyarakat setempat. Perubahan-perubahan yang terjadi tidak
hanya bersifat fungsional, namun ada pula yang bersifat disfungsional.
Beberapa perubahan fungsional dari rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda
diantaranya adalah semakin lancarnya jalur transportasi dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatra,
menjadikan wilayah sekitar Jembatan Selat Sunda yakni Provinsi Banten dan Lampung menjadi
wilayah strategis untuk membuka usaha-usaha baru, misalnya penduduk setempat dapat
membangun rumah makan, minimarket dan sebagainya di sekitar area kaki JSS.
Perubahan fungsional lainnya adalah semakin majunya pengembangan transportasi di negeri ini
dan menjadi catatan khusus dengan menjadi jembatan terpanjang kedua di dunia setelah
Jembatan Shanghai, Cina. Tentunya dengan demikian, akan semakin memperkuat eksistensi
Indonesia di dunia internasional dalam aspek jalur transportasinya.
Namun kita juga jangan melupakan nasib para pengusaha dan awak kapal feri yang
sebelumnya menggantungkan hidupnya dengan menjual jasa menyebrangkan penumpang
maupun kendaraan dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatra. Dengan dibangunnya Jembatan Selat
Sunda ini tentunya akan mengurangi bahkan menghilangkan penghasilan sehari-hari mereka,
karena tentunya minat untuk menggunakan jasa kapal feri ini menjadi menurun drastis. Selain itu
mengingat bahwa Jembatan Selat Sunda ini juga akan dilengkapi oleh jalur kereta api, maka hal
ini pun akan menjadi masalah baru bagi pemerintah jika tidak segera dicari antisipasinya, karena
kemungkinan bertambahnya pengangguran akan semakin besar.

1 11 1.2.1 .2.1 .2.1 .2.1 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
Provinsi Lampung termasuk dalam kategori provinsi dengan jumlah penduduk menengah,
yaitu antara 5 hingga 10 juta jiwa. Jumlah penduduk Lampung 7.608.405 jiwa (tahun 2010) atau
naik sekitar 5,5% dibandingkan tahun 2007 (7.211.596 jiwa). Dibandingkan dengan tahun 2000,
jumlah penduduk lampung naik sekitar 15,74%. Terhitung laju pertumbuhan penduduk Provinsi
Lampung periode 2000-2010 sebesar 1,3%, dibandingkan periode sebelumnya (1990 2000
sebesar 1,01%) mengalami peningkatan 0,29%.
Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, penduduk Provinsi Lampung, 2010 mencapai
7.608.405 jiwa dengan rasio jenis kelamin sebesar 106,09. Tingkat kepadatan penduduk di
Provinsi Lampung tampak masih timpang atau tidak merata antar wilayah. Dibandingkan dengan
kabupaten, kepadatan penduduk di kota umumnya sangat tinggi. Tingkat kepadatan penduduk
Kota Bandar Lampung misalnya mencapai 4.570 jiwa per kilometer persegi dan Kota Metro
mencapai 2.354 jiwa per kilometer persegi. Sementara itu, tingkat kepadatan penduduk di
semua kabupaten masih berada dibawah 500 jiwa per kilometer persegi, bahkan Kabupaten
Lampung Barat baru mencapai 85 jiwa per kilometer persegi.

Diantara 4 kawasan potensial JSS di tahun 2010, Kabupaten Lampung Timur memiliki
jumlah penduduk terbesar (951.639 jiwa), diikuti Kabupaten Lampung Selatan (912.490 jiwa),
Kota Bandar Lampung (881.801 jiwa), dan terakhir Kabupaten Pesawaran (398.848 jiwa).
Sedangkan jika dilihat dari kepadatan penduduk, Kota Bandar Lampung memiliki kepadatan
penduduk terbesar (4.569,86 jiwa/km2), diikuti Kabupaten Lampung Selatan (454,65 jiwa/km2),
Kabupaten Pesawaran (339,8 jiwa/km2), dan terakhir Kabupaten Lampung Timur (219,38
jiwa/km2). Dengan adanya proyek pembangunan JSS maka akan terjadi peningkatan jumlah
penduduk yang signifikan untuk ketiga kabupaten (Lampung Selatan, Lampung Timur, dan
Pesawaran). Banyaknya lahan kosong, memungkinkan alih guna lahan pertanian menjadi
pemukiman dan industri akan terjadi.
Penduduk 4 (empat) wilayah potensial JSS di Provinsi Lampung yaitu Kabupaten Lampung
Selatan, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Pesawaran dan Kota Bandar Lampung tercatat
3.018.945 jiwa atau 41% dari keseluruhan penduduk Provinsi Lampung pada sensus penduduk
tahun 2007. Di tahun 2010 meningkat menjadi 3.144.778 jiwa (41,33%). Selama 3 tahun
terakhir terjadi peningkatan 0,3%. Penduduk Kabupaten Lampung Selatan sebelum dimekarkan
dengan Kabupaten Pesawaran adalah yang terbesar di antara kabupaten dan kota di provinsi ini,
yaitu 1.312.527 jiwa di tahun 2006.


Sementara itu kepadatan penduduk di Provinsi Lampung pada tahun 2010 sebesar 215,61
jiwa. Kota Bandar Lampung memiliki kepadatan penduduk terbesar (
Kabupaten Lampung Selatan (454,65
terakhir Kabupaten Lampung Timur (
kepadatan penduduk di atas rata
0
200.000
400.000
600.000
800.000
1.000.000
Gambar
0
1000
2000
3000
4000
5000
Gambar

Sumber : Hasil analisis, 2012
Sementara itu kepadatan penduduk di Provinsi Lampung pada tahun 2010 sebesar 215,61
. Kota Bandar Lampung memiliki kepadatan penduduk terbesar (4.569,86 jiwa/km2), diikuti
454,65 jiwa/km2), Kabupaten Pesawaran (339,8
terakhir Kabupaten Lampung Timur (219,38 jiwa/km2). Seluruh wilayah potens
kepadatan penduduk di atas rata-rata provinsi.
Lam-Sel Lam-Tim Pesawaran B.Lampung
Gambar 1.1 Jumlah Penduduk di kawasan Potensial
JSS (2010)
Lam-Sel Lam-Tim Pesawaran B.Lampung
Gambar 1.2 Kepadatan penduduk Kawasan
Potensial JSS (2010)


Sementara itu kepadatan penduduk di Provinsi Lampung pada tahun 2010 sebesar 215,61
jiwa/km2), diikuti
339,8 jiwa/km2), dan
jiwa/km2). Seluruh wilayah potensial JSS memiliki
Dari hasil pengolahan dan analisis data, dapat diketahui hasil proyeksi jumlah penduduk
untuk sepuluh dan duapuluh tahun kedepan. Berdasarkan perhitungan tersebut rata-rata
pertumbuhan penduduk Provinsi Lampung tiap tahunnya diperkirakan mencapai 1,2% dan
hingga akhir tahun rencana penduduk Provinsi Lampung terkonsentrasi di Kabupaten Lampung
Selatan (18%) dari jumlah penduduk Provinsi Lampung. Hal ini disebabkan beberapa faktor
antara lain karena faktor topografi wilayah yang relatif datar dibandingkan wilayah lain di
Provinsi Lampung, merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera dari arah Jawa dan memiliki
aksesibilitas yang baik dari berbagai moda, luas wilayah yang memadai dibanding Bandar
Lampung dan Metro dan memiliki kelengkapan sarana prasarana yang cukup menarik untuk
aktivitas perdagangan dan industri. Selain itu letaknya yang berbatasan langsung dengan Kota
Bandar Lampung menjadi nilai lebih bagi Kabupaten Lampung Selatan, mengingat sektor usaha
dan penyediaan lapangan usaha masih terkonsentrasi di Kota Bandar Lampung. Sementara
ketersediaan lahan di Kota Bandar Lampung relatif terbatas, sehingga penduduk di Kota Bandar
Lampung mencari permukiman di luar Kota Bandar Lampung terutama di daerah perbatasan
antara Bandar Lampung dan Lampung Selatan dan Bandar Lampung - Pesawaran. Dengan
demikian jumlah penduduk terkonsentrasi di Wilayah Lampung Selatan. Proyeksi jumlah
penduduk untuk tahun 2020 dan 2030 dapat di lihat pada tabel berikut.

Tabel 1.3 Proyeksi Jumlah Penduduk Lampung
No. Kabupaten/Kota Tahun 2020 Tahun 2030
1. Lampung Selatan 1.027.448 1.142.139
2. Bandar Lampung 1.024.709 1.168.032
3. Tanggamus 603.813 671.013
4. Pringsewu *) 382.229 399.089
5. Lampung Barat 473.319 526.391
6. Way Kanan 468.458 529.732
7. Lampung Utara 638.947 691.749
8. Tulang Bawang 489.306 580.706
9. Tulang Bawang Barat *) 276.237 301.767
10. Mesuji *) 206.297 225.187
11. Lampung Tengah 1.313.830 1.451.678
12. Lampung Timur 1.050.037 1.143.928
13. Metro 177.662 209.081
14. Pesawaran 447.486 496.009
Jumlah 8.579.779 9.536.500

Sumber : Hasil analisis 2012

Dengan rencana pembangunan JSS, diperkirakan akan menarik penanam modal di
wilayah proyek (Banten dan Lampung). Hal ini akan membuat membuat pertumbuhan penduduk
di kedua provinsi ini akan meningkat pesat, terlebih pada kabupaten/kota yang menjadi wilayah
pembangunan dan pengembangan. Tabel 1.3 memperlihatkan proyeksi jumlah penduduk
Provinsi Lampung tahun 2020 dan 2030. Dengan rencana pembangunan JSS kemungkinan
jumlah penduduk di 4 kawasan potensial JSS lebih besar dari yang diperkirakan. Diperkirakan
jumlah penduduk di kawasan potensial akan mengalami pertumbuhan secara eksponensial,
karena adanya arus migrasi. Tabel 1.4 adalah proyeksi jumlah penduduk di kawasan potensial JSS
dengan mempertimbangkan proyek JSS.
Tabel 1.4. Proyeksi Jumlah penduduk di kawasan potensial JSS
Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota Tahun 2020 Tahun 2020 Tahun 2020 Tahun 2020 Tahun 2030 Tahun 2030 Tahun 2030 Tahun 2030
Kawasan potensial JSS*)
Kabupaten Lampung Selatan**) 1.770.192 2.957.742
Kabupaten Lampung Timur 1.236.302 2.065.686
Kota Bandar Lampung 1.071.853 1.414.411
Jumlah 4.078.347 6.437.839
Bukan wilayah potensial 5.030.099 5.586.392
Jumlah total penduduk Lampung 9.108.446 12.024.231
Sumber : Lap. JSS PU (2009) dan hasil analisis (2012)
Keterangan : *) dengan mempertimbangkan proyek JSS
**) termasuk Kab. Pesawaran

Sementara itu, jika dilihat jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia dapat diproyeksikan
dengan asumsi proporsi kelompok usia <15th dan >15 tahun terhadap jumlah penduduk pada
tiap wilayah tetap, dapat dilihat dari tabel 1.5.

Tabel 1.5 Proyeksi jumlah Penduduk berdasarkan kelompok usia di Kawasan Potensial JSS
No Kabupaten/Kota*)
2020 2030
< 15 th >15 th < 15 th >15 th
1. Lampung Selatan**) 428.205 1.341.987 715.470 2.242.272
2. Lampung Timur 281.597 954.705 470.508 1.595.178
3. Bandar Lampung 248.997 822.856 328.575 1.085.836
Jumlah 958.799 3.119.548 1.514.553 4.923.286
Sumber : Hasil Analisis (2012)
Keterangan : *) dengan mempertimbangkan proyek JSS
**) termasuk Kab. Pesawaran

Dengan adanya rencana Pembangunan JSS, perlu upaya peningkatan kualitas penduduk melalui
pendidikan yang lebih spesifik berdasarkan usia. Kelompok usia di bawah 15 tahun perlu
dilakukan pendidikan karakter untuk membangun karakter keragaman dan kebangsaan yang
kuat. Hal ini diperlukan untuk mempertahankan nilai-nilai positif dan dapat mengantisipasi nilai-
nilai negatif yang kemungkinan akan masuk di wilayah potensial JSS. Untuk kelompok usia 15
tahun ke atas, perlu dilakukan pendidikan kewirausahaan. Hal ini untuk meningkatkan daya saing
terhadap arus migrasi penduduk menuju wilayah potensial JSS.

1 11 1.2.2 .2.2 .2.2 .2.2 Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Pendidikan Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Pendidikan Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Pendidikan Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Pendidikan
Sektor pendidikan berperan penting dalam upaya mempersiapkan dan membangun
sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu pengukurannya adalah dengan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM). Pengukuran indeks ini melalui 3 (tiga) komponen yaitu kesehatan
(pencapaian umur panjang dan sehat), pendapatan (pengeluaran per kapita), dan pendidikan
(rata-rata sekolah dan angka melek huruf). IPM rata penduduk Indonesia 2006 telah mencapai
70,1, naik dari tahun sebelumnya 69,6. IPM Provinsi Lampung tahun 2006 adalah 69,4, masih
berada di bawah IPM rata-rata. Sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 71,42 berada
pada peringkat 21.
Dari 4 kawasan potensial JSS, Kabupaten Pesawaran memiliki IPM terendah (69,77) diikuti
Kabupaten Lampung Selatan (70,06), dan Kabupaten Lampung Timur (70,73). Ketiga kabupaten
tersebut memiliki IPM di bawah provinsi. Sedangkan Kota Bandar Lampung Lampung memiliki
IPM tertinggi di antara 3 wilayah potensial JSS lainnya yaitu sebesar 75,7 pada tahun 2010.
Pada dasarnya IPM semua wilayah di Provinsi Lampung mengalami peningkatan tiap
tahunnya, akan tetapi masih banyak yang berada di bawah rata-rata IPM Indonesia. IPM rata-
rata Indonesia tahun 2009 sebesar 71,76, dan tahun 2010 sebesar 72,27.
Dilihat dari angka melek huruf, dari 4 kawasan potensial JSS, Kabupaten Lampung Timur
memiliki prosentase terendah (93,32%) dengan rata-rata lama sekolah 7,35 tahun, sedangkan
Kota Bandar Lampung memiliki prosentase tertinggi (98,44%) dengan rata-rata lama sekolah
9,91 tahun.
Rendahnya tingkat pendidikan penduduk Lampung yang menamatkan pendidikannya
pada jenjang sarjana umumnya disebabkan oleh alasan ekonomi. Secara umum penduduk
Lampung sebagian besar tingkat pendidikannya di bawah rata-rata.
Kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan akan terus meningkat bersamaan dengan
meningkatnya jumlah penduduk. Kemungkinan sarana dan prasarana pendidikan yang ada, tidak
mampu memenuhi kebutuhan keluarga pekerja proyek JSS. Ketersediaan fasilitas pendidikan
yang dibutuhkan adalah fasilitas pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar 9 tahun, pendidikan
menengah atas, kejuruan menengah, pendidikan tinggi, dan kursus-kursus keprofesionalan sesuai
dengan kebutuhan kerja yang semakin berkembang.
Dibandingkan dengan tahun 2009/2010 jumlah sekolah SD dan SMP berkurang sebanyak
46 dan 62 sekolah, demikian juga jumlah siswa SD dan SMP menurun sebanyak 34.374 siswa dan
20.868 siswa, akan tetapi jumlah guru SD dan SMP naik sebanyak 12.697 orang dan 4.629 orang.
Sementara itu jumlah sekolah SMU naik sebanyak 86, demikian juga dengan jumlah guru dan
jumlah siswa naik sebanyak 1.591 orang dan 40.851 siswa
.
Pada bidang pendidikan dapat digambarkan dari proyeksi kebutuhan dan ketersediaan
jumlah sekolah. Perhitungan proyeksi ketersediaan dan kebutuhan sekolah salah satunya
didasarkan pada proyeksi jumlah murid. Gambaran lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 1.6 Proyeksi Jumlah Murid, Sekolah dan Guru di Provinsi Lampung

No. Tingkat Pendidilan
Tahun
2020 2030
1. SD
- Trend Jumlah Murid
- Trend Jumlah Sekolah
- Tren Kebutuhan Guru

987.047
4.618
89.729

1.011.980
4.659
119.303
2. SMP
- Trend Jumlah Murid
- Trend Jumlah Sekolah
- Trend Kebutuhan Guru

374.346
1.428
34.916

423.683
1.684
44.703
3. SMU
- Trend Jumlah Murid
- Trend Jumlah Sekolah
- Trend Kebutuhan Guru

195.575
640
19.297

252.587
843
26.513
Sumber : Hasil Analisis (2012)

Tabel di atas memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan jumlah murid, jumlah
sekolah, dan guru pada berbagai tingkatan pendidikan periode tahun 2020 dan 2030. Dengan
adanya rencana proyek JSS fokus pembangunan di bidang pendidikan dapat diarahkan pada
peningkatan kualitas sekolah dan SDM.
Berdasarkan tabel di atas dapat diidentifikasi proyeksi kebutuhan sarana pendidikan untuk
jenjang Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan kebutuhan sarana pendidikan hingga
tahun 2029 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.7 Proyeksi Kebutuhan Sekolah untuk Tiap Kabupaten di Provinsi Lampung

No. Kabupaten/Kota Tahun 2029
Sarana Pendidikan
SD SMP SMA
1. Lampung Barat 558,491 349 116 116
2. Tanggamus 867,526 542 181 181
3. Lampung Selatan 1,149,939 719 240 240
4. Lampung Timur 1,086,394 679 226 226
5. Lampung Tengah 1,412,715 883 294 294
6. Lampung Utara 748,952 468 156 156
7. Way Kanan 408,334 255 85 85
8. Tulang Bawang 1,129,296 706 235 235
9. Bandar Lampung 1,124,533 703 234 234
10. Metro 175,672 110 37 37
11. Pesawaran 521,431 326 109 109
Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah 9,183,283 9,183,283 9,183,283 9,183,283 5,740 5,740 5,740 5,740 1,913 1,913 1,913 1,913 1,913 1,913 1,913 1,913
Sumber : RTRW Provinsi Lampung 2009-2029

Dari 4 kawasan potensial JSS, diprediksikan dengan meningkatnya jumlah penduduk, maka
otomatis kebutuhan akan sarana prasarana pendidikan juga meningkat yang juga diiringi dengan
meningkatnya nilai Indeks Pembangunan Manusia. Kabupaten Lampung Selatan diprediksikan
membutuhkan sarana prasarana pendidikan lebih besar dari ketiga kawasan lainnya. Demikian
juga Kota Bandar Lampung, sebagai ibukota provinsi, arus urbanisasi meningkatkan beban kota
Bandar Lampung untuk menyediakan sarana prasarana yang lebih memadai.
Proyeksi IPM untuk kawasan potensial JSS dapat dilihat pada tabel 1.7. IPM Lampung
Selatan diproyeksikan dapat melampaui IPM rata-rata Provinsi Lampung pada tahun 2030,
meninggalkan Lampung Timur dan Pesawaran.

Tabel 1.8 Proyeksi Nilai IPM Kawasan Potensial JSS di Provinsi Lampung

No. Kabupaten /Kota 2020 2030
1. Kab. Lampung Selatan 75,88 81,70
2. Kab. Lampung Timur 76,13 81,51
3. Kab. Pesawaran 75,03 80,23
4. Kota Bandar Lampung 80,45 85,15
Provinsi Lampung 76,46 81,54
Sumber : Hasil Analisis (2012)


Proyek pembangunan JSS yang akan menyerap banyak tenaga kerja, diharapkan dapat
menyerap tenaga kerja lokal sebanyak-banyaknya. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat
Lampung dan semakin baik keahlian yang dimiliki, maka semakin lebar kesempatan untuk
mendapatkan posisi yang lebih baik.

1 11 1.2.3 .2.3 .2.3 .2.3 Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Kesehatan Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Kesehatan Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Kesehatan Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Kesehatan
Indikator terhadap perilaku masyarakat dan peran serta masyarakat dalam pembangunan
kesehatan antara lain dapat diukur atau tergambar dengan seberapa banyak kepesertaan
masyarakat dalam jaminan pemeliharaan kesehatannya misalnya melalui Askes, JKPM, Jamsostek,
dan lain-lain. Berdasarkan Susenas dinyatakan bahwa pembiayaan kesehatan yang berasal dari
pemerintah hanya mencapai 30%, sedangkan pembiayaan yang berasal masyarakat tercatat 70%.
Rendahnya pembiayaan kesehatan bersumber pemerintah ternyata memiliki korelasi yang kuat
terhadap derajat kesehatan masyarakat dan kinerja pembangunan kesehatan. Masyarakat belum
terbiasa menjadi anggota dalam pembiayaan kesehatannya misalnya sala melalui asuransi
kesehatan (Askes).
Kualitas kesehatan masyarakat sangat tergantung pada tingkat pendidikan dan
pendapatan. Dua hal ini akan berpengaruh pada pola hidup sehat, pola makanan, dan asupan
gizi, serta lingkungan yang sehat. Angka harapan hidup (AHH) di Provinsi Lampung pada tahun
2010 mencapai 69,5 tahun, sedangkan pada tahun 2005 mencapai 68 tahun. AHH Indonesia
tahun 2009 sebesar 69,21 tahun, dan tahun 2010 naik menjadi 69,43 tahun. Dari 4 kawasan
potensial JSS pada tahun 2010 Kota Bandar Lampung memiliki AHH tertinggi mencapai 70,87
tahun diikuti oleh Kabupaten Lampung Timur (70,22 tahun), Kabupaten Lampung Selatan dan
Kabupaten Pesawaran (68,4 tahun), di bawah AHH rata-rata Indonesia.
Kualitas kesehatan masyarakat yang prima sangat dibutuhkan untuk membangun proyek
JSS. Pembangunan dan pengembangan proyek yang melibatkan banyak tenaga kerja sangat
membutuhkan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Identifikasi
terhadap sarana dan prasarana yang ada sekarang diperkirakan tidak bisa memenuhi kebutuhan
masyarakat dan masyarakat ketika proyek JSS berlangsung.
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk makin meningkatkan kualitas dan pemerataan
jangkauan/akses pelayanan kesehatan. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut penyediaan
sarana kesehatan merupakan hal yang penting.

Jumlah Puskesmas tahun 2009 mencapai 227, Puskesmas rawat inap sebanyak 36 unit,
Puskesmas pembantu 708 unit dan Puskesmas keliling sebanyak 250 unit. Jumlah Puskesmas
cenderung meningkat tiap tahunnya, termasuk juga Puskesmas rawat inap, tetapi untuk jumlah
Pustu berfluktuatif naik turun, hal ini disebabkan ada beberapa perkembangan dari Pustu
menjadi Puskesmas atau dari Puskesmas non rawat inap menjadi rawat inap. Sedangkan fasilitas
lain seperti rumah sakit dari tahun 2005-2009 jumlah rumah sakit di Wilayah Provinsi Lampung
cenderung mengalami peningkatan.

Selama empat tahun terakhir jumlah rumah sakit di Provinsi Lampung mengalami
peningkatan yang cukup baik, pada tahun 2005 jumlah rumah sakit berjumlah 18 buah dan
meningkat menjadi 24 buah pada tahun 2009. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah
sakit didukung dengan keberadaan jumlah tenaga medis di Provinsi Lampung hingga tahun 2009
adalah ; dokter sebanyak 310 orang dokter umum dan 90 orang dokter ahli. Jumlah bidan
sebanyak 1.141 orang serta perawat kesehatan sebanyak 2.268 orang.

Keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang dimiliki oleh rumah sakit kepada
masyarakat dengan lokasinya yang ada disekitar ibukota Kabupaten/Kota, telah diambil perannya
oleh puskesmas. Oleh karena itu, kualitas pelayanan puskesmas harus terus ditingkatkan.
Keberadaan puskesmas sebagai bagian dari pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam
bidang kesehatan dimasa mendatang sangat membantu rumah sakit yang ada dalam menopang
pelayanan kepada masyarakat secara langsung sampai kedaerah yang terpencil sekalipun.
Perkembangan puskesmas hingga tahun 2030 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1.9 Proyeksi Jumlah Puskesmas di Provinsi Lampung
No. Uraian Th. 2020 Th. 2030
1. Jumlah Puskesmas 351 431
2. Penduduk*) 9.108.446 12.024.231
3. Beban Puskesmas (orang) 25.950 27.985
Sumber : Hasil Analisis (2012)
Keterangan :*) dengan mempertimbangkan JSS

Kelancaran pelaksanaan pelayanaan kesehatan kepada masyarakat diperlukan tenaga
medis yang ahli dibidangnya. Keberadaan dokter sebagai tenaga ahli dibidang kesehatan sangat
dibutuhkan oleh masyarakat sebagai bagian dari pelayanan kesehatan. Hingga tahun 2030 jumlah
dokter adalah 3262 orang, dengan rasio untuk satu orang dokter dalam melayani 100.000 orang
pasien berkisar 27,1%. Keberadaan dokter dimasa mendatang akan sangat menentukan dalam
pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilihat dari jumlah dan kualitasnya. Untuk lengkapnya
mengenai proyeksi jumlah dokter dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1.10 Proyeksi Jumlah Dokter di Provinsi Lampung
No. Uraian Th. 2020 Th. 2030
1. Trend Jumlah Dokter
- Dokter Ahli
- Dokter Umum
- Dokter Gigi

462
1.398
362

731
2.033
498
2. Penduduk*) 9.108.446 12.024.231
3. Rasio Dokter/100.000 24,4 27,1
Sumber : Hasil Analisis (2012)

Keseluruhan fasilitas pelayanan kesehatan seiring waktu semakin dibutuhkan
keberadaannya oleh masyarakat. Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yang baik
dimasa mendatang maka kebutuhan akan fasilitas kesehatan tersebut untuk dapat ditingkatkan
baik secara kuantitas maupun kualitas. Pertambahan jumlah penduduk harus diimbangi dengan
pemenuhan fasilitas kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat baik dari segi
lokasi maupun harganya.
Selain sarana dan prasarana kesehatan, yang harus diperhatikan adalah jenis-jenis
penyakit yang relatif masih banyak diderita penduduk Lampung. Jenis-jenis penyakit umum
seperti infeksi saluran pernafasan, diare, TBC, dan malaria menunjukkan masih banyak
lingkungan pemukiman yang tidak sehat, pola makan yang tidak sehat dengan asupan gizi yang
relatif rendah. Pembangunan dan pengembangan proyek JSS harus pula memperhatikan dengan
berkontribusi memperbaiki situasi dan kondisi tersebut.
Dari data yang tercatat oleh Dinas Kesehatan Provinsi Lampung jenis penyakit yang paling
banyak diderita masyarakat Lampung yang tercatat di Puskesmas dan Rumah Sakit adalah diare
sebanyak 64.196 penderita (55,7%), diikuti oleh penyakit malaria sebanyak 38.298 penderita
(33,2%), penyakit saluran pernafasan dan DBD.
Dilihat dari kondisi keluarga, penduduk Lampung masih banyak yang tergolong pada
keluarga pra sejahtera. Sebanyak 727.886 dari 2.001.403 keluarga masuk dalam kategori
keluarga prasejahtera atau sebesar 36,4%. Kabupaten Lampung Timur dengan jumlah keluarga
terbanyak dari 4 kawasan potensial JSS yaitu sebanyak 258.643 keluarga memiliki 32,18%
keluarga pra sejahtera, 24,99% keluarga sejahtera I, 23,9% keluarga sejahtera II, 17,3% keluarga
sejahtera III, dan 1,6% keluarga sejahtera III+. Kabupaten Lampung Selatan dengan
keluarga sebanyak 234.198 memiliki 46,13% keluarga pra sejahtera dan 0,85% keluarga sejahtera
III+. Kota Bandar Lampung dengan jumlah keluarga sebanyak 204.019 keluarga memiliki 29,5%
keluarga pra sejahtera dan 5,5% keluarga sejahtera III+. Sedan
dengan jumlah keluarga sebanyak
1,24% keluarga sejahtera III+.
23%
21%
Kondisi Keluarga di Kabupaten
keluarga prasejahtera atau sebesar 36,4%. Kabupaten Lampung Timur dengan jumlah keluarga
dari 4 kawasan potensial JSS yaitu sebanyak 258.643 keluarga memiliki 32,18%
keluarga pra sejahtera, 24,99% keluarga sejahtera I, 23,9% keluarga sejahtera II, 17,3% keluarga
sejahtera III, dan 1,6% keluarga sejahtera III+. Kabupaten Lampung Selatan dengan
memiliki 46,13% keluarga pra sejahtera dan 0,85% keluarga sejahtera
III+. Kota Bandar Lampung dengan jumlah keluarga sebanyak 204.019 keluarga memiliki 29,5%
keluarga pra sejahtera dan 5,5% keluarga sejahtera III+. Sedangkan Kabupaten Pesawaran
dengan jumlah keluarga sebanyak 104.986 keluarga memiliki 44% keluarga pra sejahtera dan
44%
23%
11%
1%
Kondisi Keluarga di Kabupaten Lampung Selatan
(2010)
Pra sejahtera
Sejahtera I
Sejahtera II
Sejahtera III
Sejahtera III+
keluarga prasejahtera atau sebesar 36,4%. Kabupaten Lampung Timur dengan jumlah keluarga
dari 4 kawasan potensial JSS yaitu sebanyak 258.643 keluarga memiliki 32,18%
keluarga pra sejahtera, 24,99% keluarga sejahtera I, 23,9% keluarga sejahtera II, 17,3% keluarga
sejahtera III, dan 1,6% keluarga sejahtera III+. Kabupaten Lampung Selatan dengan jumlah
memiliki 46,13% keluarga pra sejahtera dan 0,85% keluarga sejahtera
III+. Kota Bandar Lampung dengan jumlah keluarga sebanyak 204.019 keluarga memiliki 29,5%
gkan Kabupaten Pesawaran
keluarga memiliki 44% keluarga pra sejahtera dan

24%
17%
Kondisi Keluarga di Kabupaten
20%
Kondisi Keluarga di Kabupaten
32%
25%
17%
2%
Kondisi Keluarga di Kabupaten Lampung Timur (2010)
Pra sejahtera
Sejahtera I
Sejahtera II
Sejahtera III
Sejahtera III+
44%
21%
14%
1%
Kondisi Keluarga di Kabupaten Pesawaran (2010)
Pra sejahtera
Sejahtera I
Sejahtera II
Sejahtera III
Sejahtera III+



Dibandingkan dengan tahun 2009, jumlah keluarga pra sejahtera berkurang sebanyak
2.096 keluarga, jumlah keluarga sejahtera I bertambah sebanyak 7.384 keluarga, keluarga
sejahtera II bertambah sebanyak 35.194 keluarga, keluarga sejahtera III bertambah seban
4.771 keluarga, dan keluarga sejahtera III+ juga bertambah sebanyak 2.823 keluarga.
Seluruh kabupaten dan kota di kawasan potensial JSS memili
sejahtera paling besar dibandingkan kondisi keluarga sejahtera. Di antara ke
potensial JSS, Kabupaten Lampung Selatan memiliki porsi keluarga pra sejahtera paling besar
dibandingkan kawasan lainnya (46%), dan porsi keluarga sejahtera III+ paling sedikit (0,85%).
Bandar Lampung memiliki kondisi keluarga yang lebih baik dib
Dengan proyek JSS kondisi ini bisa memburuk jika tidak diikuti dengan langkah
antisipasi, seperti peningkatan kualitas SDM, perbaikan dan penyuluhan tentang kesehatan,
pelatihan-pelatihan, peningkatan sarana dan prasarana kesehatan, kemudahan akses kesehatan
dan sebagainya.

22%
19%
Kondisi Keluarga di Kota
Sumber : Hasil Analisis (2012)
Dibandingkan dengan tahun 2009, jumlah keluarga pra sejahtera berkurang sebanyak
2.096 keluarga, jumlah keluarga sejahtera I bertambah sebanyak 7.384 keluarga, keluarga
sejahtera II bertambah sebanyak 35.194 keluarga, keluarga sejahtera III bertambah seban
4.771 keluarga, dan keluarga sejahtera III+ juga bertambah sebanyak 2.823 keluarga.
Seluruh kabupaten dan kota di kawasan potensial JSS memiliki porsi keluarga pra
paling besar dibandingkan kondisi keluarga sejahtera. Di antara ke
potensial JSS, Kabupaten Lampung Selatan memiliki porsi keluarga pra sejahtera paling besar
dibandingkan kawasan lainnya (46%), dan porsi keluarga sejahtera III+ paling sedikit (0,85%).
Bandar Lampung memiliki kondisi keluarga yang lebih baik dibandingkan kawasan lainnya.
Dengan proyek JSS kondisi ini bisa memburuk jika tidak diikuti dengan langkah
antisipasi, seperti peningkatan kualitas SDM, perbaikan dan penyuluhan tentang kesehatan,
atihan, peningkatan sarana dan prasarana kesehatan, kemudahan akses kesehatan
30%
24%
5%
Kondisi Keluarga di Kota Bandar Lampung (2010)
Pra sejahtera
Sejahtera I
Sejahtera II
Sejahtera III
Sejahtera III+

Dibandingkan dengan tahun 2009, jumlah keluarga pra sejahtera berkurang sebanyak
2.096 keluarga, jumlah keluarga sejahtera I bertambah sebanyak 7.384 keluarga, keluarga
sejahtera II bertambah sebanyak 35.194 keluarga, keluarga sejahtera III bertambah sebanyak
4.771 keluarga, dan keluarga sejahtera III+ juga bertambah sebanyak 2.823 keluarga.
ki porsi keluarga pra
paling besar dibandingkan kondisi keluarga sejahtera. Di antara ke-empat kawasan
potensial JSS, Kabupaten Lampung Selatan memiliki porsi keluarga pra sejahtera paling besar
dibandingkan kawasan lainnya (46%), dan porsi keluarga sejahtera III+ paling sedikit (0,85%). Kota
andingkan kawasan lainnya.
Dengan proyek JSS kondisi ini bisa memburuk jika tidak diikuti dengan langkah-langkah
antisipasi, seperti peningkatan kualitas SDM, perbaikan dan penyuluhan tentang kesehatan,
atihan, peningkatan sarana dan prasarana kesehatan, kemudahan akses kesehatan
1 11 1.2.4 .2.4 .2.4 .2.4 Ket Ket Ket Ketenaga enaga enaga enagak kk kerja erja erja erjaan an an an
Penduduk usia kerja di Provinsi Lampung, 2010 berjumlah 5.824.370 jiwa yang terdiri dari
jumlah angkatan kerja 3.957.697 jiwa dan bukan angkatan kerja 1.866.673 jiwa. Angkatan kerja
terdiri dari penduduk yang bekerja (3.737.078 jiwa) dan pengangguran (220.619 jiwa), sedangkan
yang termasuk bukan angkatan kerja adalah sekolah (445.291 jiwa), mengurus rumahtangga
(1.185.170), lainnya (236.212 jiwa).
Dari 4 kawasan JSS, Kabupaten Lampung Timur memiliki penduduk usia 15 tahun ke atas
terbanyak (734.881 jiwa) dengan pengangguran sebanyak 2,9% dan bekerja 64,8%, diikuti
Kabupaten Lampung Selatan (691.761 jiwa) dengan pengangguran sebanyak 3,6% dan bekerja
63,2%, Kota Bandar Lampung (676.954 jiwa) dengan pengangguran sebanyak 7,5% dan bekerja
55,3%, dan Kabupaten Pesawaran (303.474 jiwa) dengan pengangguran sebanyak 3,8% dan
bekerja 60,2%.
Jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2010 ditinjau dari lapangan pekerjaan,
masih didominasi yang bekerja di sektor pertanian, kehutanan, perkebunan, dan perikanan yang
mencapai 56,5%. Dibandingkan dengan tahun 2009 mengalami penurunan 1,5% (dari 58%).
Urutan kedua sektor perdagangan, rumah makan, jasa akomodasi mencapai 15,2%.
Dibandingkan tahun 2009 juga mengalami penurunan 0,9% (dari 16,1%). Dibandingkan dengan
tahun 2009 mengalami penurunan 2% (dari 58,5%). Urutan kedua sektor perdagangan, rumah
makan, jasa akomodasi mencapai 15,2%. Dibandingkan tahun 2009 juga mengalami penurunan
0,9% (dari 16,1%). Sektor jasa kemasyarakatan mengalami peningkatan sebesar 1,48% dari 9,5%
(2009) menjadi 10,98% (2010). Sektor industri pengolahan dan sektor lainnya juga mengalami
kenaikan sebesar 0,2% dan 2,5% dibandingkan tahun 2009.
Sektor pertanian adalah sektor yang sangat mudah dimasuki, karena sebagai sektor
tradisional penyedia lapangan usaha ini relatif tidak membutuhkan skill/keahlian yang tinggi.
Sementara itu sektor konstruksi masih bersifat musiman dan sangat tergantung pada keberadaan
proyek pembangunan infrastruktur dari pemerintah pusat maupun daerah yang selama ini
memang lebih bersifat padat karya. Sedangkan sektor industri saat ini memang sedang
merasakan dampak dari krisis global, sehingga banyak perusahaan-perusahaan pengolahan yang
terpasa tutup atau melakukan pengurangan karyawan.
Penduduk usia kerja di Provinsi Lampung, 2010 berjumlah 5.824.370 jiwa yang terdiri dari
jumlah angkatan kerja 3.957.697 jiwa dan bukan angkatan kerja 1.866.673 jiwa. Angkatan kerja
terdiri dari penduduk yang bekerja (3.737.078 jiwa) dan pengangguran (220.619 jiwa), sedangkan
yang termasuk bukan angkatan kerja adalah sekolah (445.291 jiwa), mengurus rumahtangga
(1.185.170), lainnya (236.212 jiwa).
Penduduk Provinsi Lampung sebagian besar bekerja di sektor pertanian yaitu 56,48
persen atau 2.110.571 jiwa. Adapun penduduk yang bekerja di sektor jasa kemasyarakatan
tercatat 10,98 persen atau 410.386 jiwa.
Dari 4 kawasan JSS, Kabupaten Lampung Timur memiliki penduduk usia 15 tahun ke atas
terbanyak (734.881 jiwa) dengan pengangguran sebanyak 2,9% dan bekerja 64,8%, diikuti
Kabupaten Lampung Selatan (691.761 jiwa) dengan pengangguran sebanyak 3,6% dan bekerja
63,2%, Kota Bandar Lampung (676.954 jiwa) dengan pengangguran sebanyak 7,5% dan bekerja
55,3%, dan Kabupaten Pesawaran (303.474 jiwa) dengan pengangguran sebanyak 3,8% dan
bekerja 60,2%. Kondisi ini apabila dibiarkan akan menjadi masalah sosial tersendiri setiap tahun
akan bertambah angka pengangguran dan menjadi beban daerah.
Provinsi Lampung dan Banten akan menghadapi persoalan bagaimana menyediakan
pekerjaan bagi angkatan kerja baru yang masuk setiap tahunnya. Suatu permasalahan yang tidak
ringan dan tidak mudah mengatasinya.
Pembangunan dan pengembangan JSS akan menciptakan kesempatan kerja yang besar,
tidak hanya di sektor konstruksi, tapi meliputi multi sektor penunjang baik yang termasuk
kategari formal dan informal. Tingkat pendidikan yang relatif rendah (Lamanya rata-rata sekolah
penduduk Lampung 7,3 tahun) lebih rendah dari Banten (8,1 tahun), akan mempersulit untuk
memenuhi dan lolos dari kriteria keprofesionalan proyek tersebut. Kondisi seperti ini akan
membuat arus migrasi masuk pekerja dari luar daerah semakin deras.
Karakter proyek JSS adalah padat modal dan teknologi membuat kesempatan kerja yang
tercipta membutuhkan pendidikan, keterampilan, dan keprofesionalan yang tinggi. Kompetisi
yang tinggi terjadi dalam penyerapan tenaga kerja. Melihat situasi dan kondisi taraf pendidikan
penduduk lokal tidak akan mampu sepenuhnya memenuhi persyaratan yang tinggi dari proyek.
Jika diserap, konsekuensinya akan lebih banyak sebagai buruh kasar pelaksana proyek atau masuk
dalam sektor informal pendukung proyek secara tidak langsung. Pada kondisi demikian,
kemungkinan yang akan terjadi adalah masuknya pekerja non lokal, bisa dari luar daerah dan
bahkan tenaga ahli asing. Tentunya ini tidak diharapkan karena kehadiran proyek diharapkan bisa
menjadi stimulus menciptakan kemakmuran yang tercermin dengan peningkatan pendapatan,
khususnya bagi penduduk lokal.
Dampak dari situasi kompetisi yang tinggi yang mungkin bisa terjadi antara lain :
(1) Terjadi persaingan pengisian kesempatan kerja antara angkatan kerja penduduk lokal dan
pendatang yang bisa berpotensi menimbulkan konflik sosial;
(2) Timbulnya kesenjangan pendapatan antara penduduk pendatang dan lokal;
(3) Tingkat pengangguran yang tinggi pada tenaga kerja tidak terdidik; dan
(4) Kemungkinan terjadi penghambatan atau penolakan secara langsung atau tidak langsung
terhadap pembangunan JSS.
Untuk mengantisipasi kondisi di atas perlu penyiapan pekerja lokal yang dibekali dengan
pendidikan, keterampilan, dan keahlian harus dilakukan sejak awal sehingga bisa memenuhi dan
lolos dari persyaratan yang tinggi.
Dampak pembangunan di sepanjang lintas Sumatera, berakibat pada perubahan kegiatan
dan mata pencaharian masyarakat. Akibatnya terjadi perubahan tata guna lahan. Terjadinya
proses marjinalisasi, yaitu peminggiran secara sistematis masyarakat petani karena beralih ke
sektor usaha non pertanian dengan semakin terbatasnya lahan dan tenaga kerja akibat
berkurangnya minat pemuda bekerja di sektor pertanian.
Investasi di suatu daerah seperti rencana pembangunan mega proyek JSS, baik secara
langsung ataupun tidak langsung akan menciptakan kesempatan kerja baru. Makin besar nilai
investasinya dan makin padat karya proyeknya maka akan semakin besar tumbuhnya peluang
kesempatan kerja baru terutama di wilayah sekitar proyek tersebut. Terbukanya kesempatan
kerja baru akan diisi oleh angkatan kerja setempat dan juga pendatang. Adanya kesempatan
kerja ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Kualifikasi persyaratan pendidikan, ketrampilan, dan profesionalisme membuat
kesempatan kerja tersebut tidak sepenuhnya dapat diisi angkatan kerja setempat.
Konsekuensinya mereka masuk ke sektor informal. Situasi ini dapat dimanfaatkan oleh pekerja
pendatang, dari luar daerah atau dari luar negeri (tenaga ahli profesional). Hal ini berarti akan
terjadi arus migrasi yang akan memperbesar jumlah penduduk di wilayah sekitar proyek.
Peningkatan pendapatan membuat perubahan pola hidup masyarakat. Dari yang
tradisional menuju pola modern yang mencakup pola konsumsi, tempat tinggal, dan pola
hubungan personal. Dan pertambahan penduduk akan mendorong peningkatan kebutuhan
primer (sandang, pangan, dan papan), dan sekunder (pendidikan, kesehatan, dan rekreasi).
Peningkatan kebutuhan primer seperti peningkatan kebutuhan akan pemukiman.
Tumbuhnya pemukiman baru dengan fasilitas-fasilitasnya membutuhkan lahan atau ruang yang
lebih luas, membuat perubahan peruntukan lahan dan tata ruang, selanjutnya terjadi pemekaran
wilayah (desa/kelurahan hingga kabupaten/kota) yang diikuti perubahan pola pemerintahan.
Sisi lain yang bisa terjadi adalah tumbuhnya berbagai potensi konflik sosial, politik,
ekonomi, dan buadaya. Potensi konflik ini diperkirakan akan timbul dari kesenjangan pendapatan
akibat perbedaan pendidikan, ketrampilan, dan profesional. Konflik bisa terjadi antara sesama
penduduk lokal atau penduduk lokal dengan pendatang.
Perubahan dan potensi konflik yang mungkin timbul dari proyek JSS akan terjadi di
Provinsi Banten dan Lampung. Di Provinsi Lampung diperkirakan akan terjadi pada Kabupaten
Lampung Selatan dan menjalar pula ke seluruh kabupaten/kota dengan adanya pembangunan
jalan tol, jalan lintas timur, lintas tengah, dan lintas barat. Diperkirakan pengaruh proyek akan
meluas ke wilayah Sumatera bagian selatan yang dikenal dengan Belajasumba (Bengkulu,
Lampung, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung).

1 11 1.3 .3 .3 .3 Analisis Analisis Analisis Analisis Dampak Dampak Dampak Dampak B BB Budaya udaya udaya udaya T TT Terkait erkait erkait erkait Rencana Rencana Rencana Rencana P PP Pembangunan embangunan embangunan embangunan JSS D JSS D JSS D JSS Di ii i P PP Provinsi rovinsi rovinsi rovinsi L LL Lampung ampung ampung ampung
1 11 1.3.1. Multi Etnik .3.1. Multi Etnik .3.1. Multi Etnik .3.1. Multi Etnik
Penduduk Lampung sebagian besar atau lebih dari 90% adalah pendatang, sehingga nilai-
nilai masyarakat yang dianut juga beragam atau heterogen. Provinsi Lampung dikenal dengan
Indonesia mini, ini disebabkan beragamnya suku bangsa yang mendiami berbagai daerah di
Provinsi Lampung sejak zaman Belanda dan adanya program transmigrasi. Kelompok suku
tersebut dapat digolongkan dalam dua kelompok yaitu :
Kelompok penduduk asli (suku Lampung), kelompok ini memiliki struktur hukum adat
tersediri.
Kelompok pendatang (dari luar daerah Lampung), mereka cenderung berkelompok
menurut etniknya masing-masing. Masyarakat pendatang hidup mengelompok sesuai
daerah asal, sehingga ada kampung Jawa, Bugis, Bali, dan sebagainya.
Komposisi etnis di Kabupaten Lampung Timur dan Selatan, terlihat bahwa hampir sama
dengan komposisi secara provinsi dimana porsi terbesar adalah suku Jawa kemudian diikuti
Lampung, Sunda dan Banten. Komposisi etnis di Kabupaten Lampung Selatan adalah Jawa 61,02
%, Sunda 13,29 %, Lampung 11,9 %, Banten 3,68 %, Palembang 2,89 %, Bali 1,62 %,
Minangkabau 0,84 %, Ogan 0,82 %, Semendo 0,46 % dan lainnya 3,48 % (sumber: Litbang
Kompas dan BPS, 2010)
Untuk kelompok penduduk asli struktur adat masih menjadi panutan. Hal ini terlihat
dengan adanya Lembaga Masyarakat Adat Lampung (LMAL) yang strukturnya sampai level
kecamatan yang berperan dalam menangani masalah-masalah sosial. Untuk kelompok
pendatang, peran lembaga sosial dalam masyarakat dapat dilakukan melalui proses koordinasi
melalui tokoh masyarakat formal dari tingkat Rukun Tetangga (RT), ketua Rukun Warga (RW), dan
lurah. Selain itu pula tokoh informal seperti tokoh masyarakat / tokoh adat yang biasanya terbagi
menurut ikatan budaya atau agama. Tokoh masyarakat/tokoh adat masih memiliki peranan
penting khususnya di pedesaan.
Tingkat heterogenitas suku/etnik dalam masyarakat memungkinkan peluang terjadinya
konflik akibat perbedaan pandangan hidup (agama, keyaninan). Hanya karena masalah kecil
dapat memicu konflik. Potensi konflik lainnya adalah adanya kecemburuan sosial akibat dominasi
ekonomi warga pendatang yang lebih berhasil daripada warga pribumi.
Rencana Pembangunan JSS memberikan peluang masyarakat di luar kawasan JSS mulai
mengincar kawasan JSS untuk memperbaiki kehidupan mereka. Pertumbuhan penduduk di
kawasan potensial JSS meningkat cukup signifikan. Wilayah yang paling diminati oleh para
pendatang terutama adalah Kota Bandar Lampung sebagai ibukota Provinsi dan Kabupaten
Lampung Selatan sebagai pintu gerbang Sumatera. Proses asimilasi budaya akan terjadi. Di sini
dibutuhkan pendekatan-pendekatan budaya untuk menjadikan proses asimilasi budaya terjadi
dengan baik.
Provinsi Lampung, dihuni oleh berbagai suku, sehingga perlu suatu konsep pembangunan
yang mempertimbangkan pluralisme tersebut. Menurut Marzali (2005) dalam masyarakat
multikultural Indonesia, setiap orang menjunjung tinggi ideologi demokrasi dan toleransi kultural.
Tidak ada pemaksaan dan perlakuan diskriminatif untuk mengikuti jalan kultural kelompok
dominan. Pancasila adalah modal kultural dasar bagi perkembangan masyarakat multikultural
Indonesia. Oleh sebab itu untuk pengembangan sosial budaya masyarakat di Lampung
hendaknya berdasarkan prinsip tersebut.



1 11 1.3.2. Tata Nilai dan Norma di Masyarakat .3.2. Tata Nilai dan Norma di Masyarakat .3.2. Tata Nilai dan Norma di Masyarakat .3.2. Tata Nilai dan Norma di Masyarakat
Faktor sosiokultural dalam pembangunan terdiri dari dua unsur, yaitu sosial dan kultural.
Konsep pokok yang termasuk ke dalam faktor sosial adalah struktur sosial, pola hubungan sosial
antar individu, antar kelompok, antar kelas, antar golongan, antar kehidupan dan antara kota dan
desa. Sedangkan konsep pokok untuk faktor kultural adalah hal yang berhubungan dengan
budaya, seperti: mentalitas penduduk, adat istiadat, kepercayaan, etos kerja, nilai, pandangan
hidup, dan sebagainya.
Di era pasca reformasi indikasi terhadap nilai budaya ini, sebenarnya sudah tampak
mengemuka ketika Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa diterbitkan
sebagai penjabaran lebih lanjut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah. Desa atau yang disebut dengan nama lain dinyatakan sebagai kesatuan masyarakat
hukum dengan batas wilayah yang didalamnya memiliki wewenang mengatur dan mengurus
kepentingan warganya berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat. Hal ini diakui dan
dihormati dalam sIstem Pemerintahan NKRI.
Adat istiadat atau hukum adat sebenarnya masih sangat kental mewarnai kehidupan
masyarakat desa. Bahkan masyarakat atau komunitas tertentu di kota-kotapun banyak yang masih
membawa kebiasaan dan menerapkan adat istiadat dari desa atau kampung halaman mereka
masing-masing. Sampai di kota atau daerah perantauan ikatan kekerabatan dalam budaya yang
dimiliki masih dipertahankan. Apalagi di daerah asal mereka ikatan kekerabatan dan adat istiadat
ini lebih kental lagi. Dalam hal membangun desa seharusnya bisa menciptakan dukungan positif
dan kondusif untuk mencapai tingkat kesejahteraan masyarakatnya.
Falsafah hidup masyarakat hukum adat Lampung adalah Piil Pesenggiri yang merupakan
sumber motivasi agar setiap orang Lampung dinamis dalam memperjuangkan nilai-nilai hidup
terhormat dan dihargai di tengah masyarakat. Piil Pesenggiri meliputi beberapa elemen budaya
yaitu pemberian gelar (juluk-adek), menjaga silaturahmi (nemui-nyimah), kekeluargaan dan sikap
suka bergaul (nengah-nyappur), dan partisipasi serta solidaritas sosial (sakai-sambayan). Falsafah
hidup tersebut menjadi pedoman perilaku sekaligus menjaga nama baik agar terhindar dari sikap
dan perbuatan tercela.
Demikian juga masyarakat suku lain di Lampung juga memiliki tata nilai adat dan agama
masing-masing. Seperti masyarakat Jawa, Sunda, Bali dan lainnya. Tata nilai dan norma adat dan
agama yang berlaku di masyarakat mengajarkan kebaikan, hidup rukun dan harmoni. Akan tetapi
nilai-nilai ini akan pudar apabila tidak diajarkan atau tidak diperkuat kepada generasi muda dan
anak-anak. Mereka akan mudah terbawa arus pengaruh budaya luar yang bertentangan dengan
nilai-nilai adat dan agama.

1 11 1.3.3 Pola Budaya .3.3 Pola Budaya .3.3 Pola Budaya .3.3 Pola Budaya
Pembangunan sumber daya manusia dalam konteks ekonomi memandang manusia sebagai
salah satu faktor produksi di luar sumber daya alam, modal, teknologi dan kelembagaan. Agar
dapat meningkatkan produktifitas, maka sumber daya manusia haruslah berkualitas. Peningkatan
kualitas manusia tersebut ditentukan oleh kondisi fisiknya, tingkat pendidikannya, dan
ketrampilan yang dimilikinya. Jadi kualitas sumber daya manusia suatu negara dapat diukur
dengan angka tentang kesehatan, pendidikan dan ketrampilannya seperti : IPM. Hal lain yang
berhubungan dengan kualitas manusia adalah mentalitas manusia. Ini adalah satu faktor tidak
konkret dan sukar diukur besarannya.
Penelitian ekonomi klasik tentang kualitas manusia mengatakan bahwa manusia yang
berkualitas tinggi adalah mereka yang mempunyai mentalitas wirausaha dan modern. Mereka
adalah manusia yang kreatif, inovatif, berani menghadang resiko, hidup secara berencana,
menghargai waktu dan sebagainya. Mentalitas ini berkaitan dengan etos, nilai, pola pikir dan
pandangan hidup yang dianut oleh manusia tersebut. Beberapa ahli menyebutkan bahwa sikap
mentalitas tersebut sebagai daya psikokultural, yaitu suatu kemampuan mental, kemampuan akal
budi, atau kemampuan daya pikir sekumpulan individu dalam mendorong diri mereka untuk
berproduksi lebih tinggi.
Untuk meningkatkan daya psiko kultural, maka salah satunya adalah perlu pengembangan
institusi sosial. Setiap budaya suatu bangsa adalah unik, milik bangsa tersebut, tidak dapat diukur
menurut tolok ukur budaya lain. Budaya suatu bangsa harus diukur menurut cara budaya itu
sendiri. Sikap mental bangsa Indonesia menurut Koentjaraningrat (1974 dalam Marzali 2005)
adalah pada tahun 1970-an sebanyak 84 % masyarakat Indonesia adalah orang desa, yang
bermentalitas petani. Sedangkan sisanya 16% adalah orang kota yang bermentalitas pegawai
(priyayi). Sikap mental petani adalah sikap subsisten, artinya orang bekerja sekadar untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Jika kebutuhan hidup sudah terpenuhi , maka orang tidak perlu
bekerja keras lagi. Sedangkan sikap mental priyayi, orang bekerja adalah untuk kebahagiaan,
dimana kebahagiaan terwujud dalam kedudukan yang tinggi, kekuasaan dan kepemilikan
lambing-lambang kekayaan seperti: rumah megah, poakaian mewah, mobil mentereng dan
seterusnya. Kedua sikap mental ini tidak mendorong pembangunan, karena tidak mendorong
untuk bekerja keras meningkatkan mutu kehidupan materialnya. Sikap mental yang baik adalah
mencari mutu, yaitu untuk meningkatkan kualitas dari hasil pekerjaannya. Seseorang haus
mencari sesuatu yang baru, yang lebih baik secara terus menerus, dan ini disebut sikap mental
professional.
Menurut Marzali (2005) ada beberapa insitusi sosiokultural yang perlu diperhatikan untuk
memperbaiki daya psikokultural masyarakat Indonesia yaitu: kepemimpinan; penafsiran baru
terhadap ajaran agama; pendidikan dan pelatihan; media massa; pembangunan organisasi dan
norma; perilaku manajemen dan pola-pola pengasuhan anak. Sehubungan dengan
pembangunan JSS, maka beberapa hal yang berkaitan dengan hal tersebut akan di analisis dalam
studi ini. Selanjutnya sikap mental tersebut sangat berkaitan dengan orentasi nilai budaya, karena
orientasi nilai budaya membentuk sikap mental.
Koentjaraningrat (1987 dan Sewendri, 2009) sejalan dengan kerangka pikir Kluckhohn
mengungkapkan salah satu bentuk orientasi nilai budaya masyarakat Indonesia dalam
pembangunan adalah orientasi nilai budaya petani sebagi berikut:
1. Dalam hakekat masalah hubungan manusia dengan kerja, petani itu bekerja untuk hidup
terkadang bila memungkinkan untuk mencapai kedudukan
2. Dalam hakekat masalah hubungan manusia dengan waktu, petani itu berorientasi ke masa
sekarang, dan terkadang ke masa lampau
3. Dalam hakekat hubungan manusia dengan alam, petani mengutamakan oreintasi selaras
dengan alam
4. Dalam hakekat masalah hubungan manusia dengan manusia, petani lebih berorientasi
terhadap sesamanya.
Hakekat hubungan tersebut kemudian melahirkan nilai orientasi budaya dan selanjutnya
dapat diterjemahkan dalam bentuk nilai-nilai sosial budaya masyarakat agraris secara lebih
konkrit menurut Sapto (2012) diantaranya adalah:
1. Kehidupan kelompok dan ikatan kekeluargaan cukup erat.
2. Pembagian kerja dikalangan masyarakat tidak mempunyai batas-batas nyata.
3. Jalan pikiran kurang rasional.
4. Lambat dalam menerima nilai-nilai baru dari luar
5. Tergantung pada tanah.
6. Gotong royong
7. Hubungan kepala desa dengan rakyatnya berlangsung tidak resmi, segala sesuatu biasanya
didadasarkan atas dasar musyawarah.

Nilai budaya petani dan agraris di atas, masih lekat pada generasi tua, sedangkan generasi
saat ini sudah mulai dipengaruhi oleh perubahan zaman mulai dari era reformasi, era globalisasi
dan era digital, sehingga mereka lebih banyak menganut nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai
sosial budaya masyarakat Industri diantaranya adalah:
1. Individualistik (mengurus diri sendiri tanpa orang lain)
2. Profesional (sistem pembagian kerja yang lebih tegas dan sesuai kemampuan yang
dimilikinya)
3. Pola pemikiran yang rasional, sistematis dan objektif , sehingga interaksi-2 yang terjadi lebih
didasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
4. Faktor waktu lebih penting dan berharga, cenderung lebih menghargai waktu, hidup serba
cepat, persaingan ketat
5. Cenderung lebih inovatif.
6. Biasanya lebih terbuka dalam menerima pengaruh dari luar

Masyarakat Lampung didominasi oleh masyarakat agraris (>50%). Akan tetapi, dari tahun
ke tahun kegiatan agraris masyarakat menurun digantikan sektor jasa dan informal lainnya.
Berbeda halnya di daerah perkotaan seperti Bandar Lampung yang didominasi sektor
perdagangan dan jasa serta sektor informal lainnya. Budaya yang terjadi sudah budaya
masyarakat industri.
Dampak rencana JSS akan membawa masyarakat Lampung terutama di daerah pedesaan
bergeser dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Terbukanya sektor informal di kawasan
potensial JSS menyebabkan beralihnya mata pencaharian masyarakat pedesaan. Lahan
persawahan yang akan semakin berkurang karena kebutuhan akan permukiman, fasilitas sosial,
sarana jalan, dan sebagainya akibat dari pertambahan jumlah penduduk, juga menyebabkan para
petani mencari penghidupan di sektor lainnya. Untuk itu harus ada upaya ekstensifikasi
pertanian, dari pertanian tradisional menuju pertanian modern.

1.3. 1.3. 1.3. 1.3.4 44 4 Analisis Dampak Budaya Analisis Dampak Budaya Analisis Dampak Budaya Analisis Dampak Budaya terkait Rencana terkait Rencana terkait Rencana terkait Rencana Pembangunan Jembatan Selat Sunda Pembangunan Jembatan Selat Sunda Pembangunan Jembatan Selat Sunda Pembangunan Jembatan Selat Sunda
Masyarakat Lampung memiliki potensi dan pranata sosial Piil Pasenggiri, Sakai Sambayan,
Nengah-Nyappur, dan gotong royong, persaudaraan dan kebersamaan. Masyarakatnyac
enderung heterogen. Menjaga kehormatan dalam pergaulan kemasyarakatan dengan selalu
berlomba berbuat kebajikan dan kebenaran yang bermanfaat sesuai nilai-nilai budaya. Hanya saja
saat ini kearifan budaya lokal ini banyak terjadi pergeseran karena bersentuhan dengan budaya
pendatang. Masyarakat adat atau asli Lampung tidak disiapkan untuk meningkatkan ketahanan
diri baik dari sisi ekonomi, sosial dan budaya, sehingga seringkali muncul konflik sosial budaya
yang berujung pada kriminalitas. Pembangunan JSS akan menambah potensi konflik tersebut,
karena meningkatnya aksesibilitas akan meningkatkan migrasi ke Lampung.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka nilai-nilai masyarakat agraris dan industri
terus berkembang di Provinsi Lampung. Perubahan budaya berpeluang terjadi dengan kehadiran
proyek JSS. Lancarnya arus mobilitas penduduk, barang, jasa, dan informasi, serta kemajuan
ekonomi (penduduk dan wilayah) yang terjadi akan mempercepat perubahan budaya pada
penduduk di Provinsi Lampung. Selat Sunda bukan lagi menjadi penghalang bagi arus masuk
keluar dari Pulau Jawa ke Sumatera dan sebaliknya. Provinsi Lampung akan semakin mengalami
pembauran budaya dari arus masuk dan keluar Pulau Sumatera dari Pulau Jawa. Bahasa Banten
akan menyebar dengan cepat ke Sumatera (Provinsi Lampung).
Arus informasi dan mobilitas yang cepat dan tinggi antara dua wilayah atau pulau (Jawa
Sumatera) akan terus berkembang. Masyarakat akan semakin modern, terbuka dari
keterisolasian dalam proses kulturasi budaya yang semakin intensif. Di sisi lain tidak dipungkiri
bahwa akan ada dampak negatif terhadap budaya-budaya lokal.
Potensi konflik budaya terkait dengan budaya masyarakat yang memiliki ikatan kuat
dengan sumberdaya alam, terutama tanah, sumber-sumber air, sumber mata pencaharian, ritual
untuk mempertahankan kelestarian sumber daya dan dukungan budaya untuk kesejahteraannya,
serta sumber daya hutan dan lingkungan alam lainnya. Potensi konflik budaya akan tumbuh jika
ikatan-ikatan budaya masyarakat tersebut terputuskan atau diputuskan karena pembangunan
proyek.
Pembangunan dan pengembangan proyek JSS, berpeluang pula menimbulkan konflik
antar etnik, bisa terkait dengan masalah pertanahan atau masalah-masalah yang terkait dengan
kegiatan proyek. Masalah pertanahan yang berkembang dan diangkat oleh kelompok dan
masyarakat bisa berpotensi menjadi konflik antar etnik. Konflik yang bersumber pada masalah
ini, biasanya terjadi dalam proses pembebasannya yang menyentuh tanah adat, perebutan tanah
yang dikeramatkan, dan tanah pribadi yang diangkat ke atas menjadi milik adat atau etnik
tertentu. Penyelesaiannya harus diatasi secara baik dengan pendekatan adat setempat.
Pembebasan tanah untuk pembangunan JSS harus dilakukan secara cermat dengan mempelajari
aspek hukum adat dan hukum pertanahan yang ada, serta pengalaman dalam proses
pembebasan lahan.
Pekerja proyek JSS yang berasal dari berbagai etnis bisa berpotensi terjadi konflik etnik.
Biasanya berawal dari ketersinggungan pribadi, yang dibawa ke kelompok etnik. Karena itu harus
dibangun rasa persatuan dan kesatuan dalam pengerjaan proyek, agar tidak jadi peluang
pengembangan konflik pribadi menjadi konflik antar etnik.
Dampak positif bagi masyarakat Kabupaten Lampung Selatan dan sekitarnya dengan adanya jalan
yang akan terkoneksi pembangunan JSS, antara lain :
Aksesibilitas masyarakat semakin luas, sehingga memungkinkan masyarakat semakin
sering melakukan perjalanan dengan berbagai tujuan;
Peluang usaha semakin besar, hal ini dapat dilihat dari banyaknya tempat-tempat usaha
yang ada di sepanjang jalan;
Adapun dampak negatif yang terjadi antara lain :
Adanya usaha yang tidak sesuai dengan masyarakat setempat, misalnya warung remang-
remang atau warung tuak yang menyediakan minuman keras;
Adanya perubahan pola ekonomi masyarakat yang tadinya sebagai petani menjadi
pedagang atau penyedia jasa.

Pembangunan JSS akan membawa dampak sosial budaya terutama pada kawasan
potensial terkena dampak yaitu: Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Timur dan
Kota Bandarlampung. Dampak sosial budaya muncul dari berbagai permasalahan sosial budaya
seperti:
1. Tingkat urbanisasi yang tinggi pada kawasan potensial terkena dampak dan sepanjang
jalan Lintas Tengah dan Timur Sumatera menyebabkan munculnya berbagai masalah
sosial seperti: perkampungan kumuh, kawasan perdagangan dan jasa yang tidak teratur,
kriminalitas dan sebagainya.
- Perpindahan penduduk dari luar Lampung ke Lampung untuk mengadu nasib di
sektor perdagangan dan jasa maupun di sektor informal lainnya yang muncul setelah
pembangunan JSS. Sementara penduduk dari berbagai kabupaten di Lampung yang
sebelumnya bekerja di sektor pertanian akan migrasi ke Bandar Lampung maupun ke
Kalianda untuk mengadu nasib di sektor informal akan menimbulkan masalah sosial.
- Masalah sosial dan kriminal seperti prostitusi, daerah kumuh, dan kejahatan kriminal
akan menyebar akan ke tempat atau titik-titik baru dan muncul kejahatan baru.
- Lokasi hiburan akan memberikan dampak sosial dengan masuknya alkohol dan
hiburan malam (karaoke, panti pijat serta PSK dari luar daerah). Hal ini berpotensi
munculnya premanisme lokal, dan konflik dengan organisasi kepemudaan dan atau
keagamaan setempat.

2. Alih guna lahan yang tinggi dari lahan pertanian dan hutan menjadi areal terbangun.
Hubungan tanah dan manusia sangat sangat menentukan tingkat keadilan, kesejahteraan
dan kemakmuran suatu bangsa. Apalagi bagi bangsa Indonesia umumnya dan
masyarakat Lampung khususnya, bahwa sebagai masyarakat dengan budaya bertani,
tanah adalah salah satu faktor penting disamping benih dan tenaga.
- Masyarakat lokal akan terdesak oleh pendatang dan investor yang memerlukan lahan
untuk aktifitas ekonomi. Akibatnya akan terjadi jual beli lahan kawasan pertanian,
sehingga masyarakat lokal hanya memiliki lahan sempit dan bahkan dapat terusir dari
tanahnya sendiri. Akhirnya terjadi berbagai kecemburuan sosial yang menimbulkan
berbagai masalah criminal sperti: pencurian hasil pertanian dan peternakan, bahkan
harta benda (missal: maraknya begal motor).
- Konflik tenurial (penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah) di
kawasan hutan akan makin kompleks. Konflik ini memunculkan berbagai
permasalahan sosial seperti: kekerasan, pembunuhan yang merupakan pelanggaran
hak asasi manusia,
3. Tingginya tekanan kegiatan dan budaya dari luar
- Tekanan budaya instan dan transaksional, disparitas kondisi sosial ekonomi
masyarakat akan makin mempengaruhi kehidupan masyarakat. Akan muncul
kecemburuan ekonomi dan sosial di masyarakat.
- Menipisnya nilai sosial budaya dan agama seiring dengan tuntutan pemenuhan
kebutuhan sosial dasar masyarakat akan meningkat.
- Terjadi pergeseran orientasi nilai budaya dari budaya petani ke budaya industri

Dalam kaitannya dengan pembangunan JSS, maka jika dilihat sikap mental masyarakat
Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi dunia yaitu era globalisasi dan era digital,
sedangkan kondisi dalam negeri sendiri adalah era reformasi. Sehingga muncul budaya instan,
serba cepat dan cenderung konsumtif. Hal ini terlihat dari hasil studi yang dilakukan DPU bahwa
pembangunan JSS akan memberikan dampak sosial budaya antara lain: masyarakat cenderung
konsumtif; meningkatkan persaingan dalam berusaha; munculnya kesenjangan dan kecemburuan
sosial; terjadi proses urbanisasi dan munculnya usaha yang tidak sesuai norma masyarakat.
Program-program yang antisipatif dan proafktif harus disusun dalam rangka penanganan dampak
pembangunan Jembatan Selat Sunda. Untuk merevitalisasi modal sosial yang ada, maka perlu
upaya yang sistematis untuk menciptakan infrastruktur sosial yang memungkinkan terjadinya
pembauran kelompok-kelompok sosial yang tersegerasi di Provinsi Lampung.



Tabel 1.11. Dampak positif dan negatif aspek ekonomi, sosial dan budaya dengan indikator
tertentu
No No No No Aspek Aspek Aspek Aspek Indikator Indikator Indikator Indikator Dampak Positif Dampak Positif Dampak Positif Dampak Positif Dampak Negatif Dampak Negatif Dampak Negatif Dampak Negatif
1 Ekonomi
(mikro)
Penggunaan lahan Laju pembangunan
meningkat, penggunaan
lahan cenderung menguat
Pembangunan prasarana
dan sarana seperti hotel,
restoran, pemukiman,
pusat industri, pusat
bisnis/perbelanjaan, dll
lebih giat
Harga tanah melonjak
Cakupan luasan kawasan
lindung berkurang,
sementara cakupan
luasan kawasan budidaya
bertambah
Terjadi migrasi penduduk
mendekat
(terkonsentrasi) ke
wilayah kaki JSS dan jalur
utama koridor lintas
timur/tengah Sumatera
Muncul spekulan tanah
yang dapat menimbulkan
kerawanan sosial baru
Muncul jenis usaha yang
tidak sesuai dengan
norma di masyarakat
(hiburan, perdagangan
miras, prostitusi,
premanisme, dll)
PDRB dan laju
pertumbuhan
ekonomi
Peningkatan PDRB wilayah
dan pendapatan per
kapita masyarakat
Aktivitas ekonomi
terutama sektor
perdagangan dan industri
akan menguat
Kemampuan daya beli
masyarakat meningkat
Tersedianya komoditi
perdagangan dan industri
merangsang
kecenderungan sikap
konsumptif masyarakat
(perilaku individu rumah
tangga)
Distribusi barang-barang
konsumtif meningkat
secara eksponensial
(perilaku individu
perusahaan)
produsen menentukan
tingkat produksi dan
harga pasar (perilaku
industri)
permasalahan timbul
terhadap harga dasar dan
harga tertinggi,
permintaan pangan,
kenaikan BBM, monopoli
dan distribusi
Angka kemiskinan Proses alih fungsi lahan,
pra-konstruksi, konstruksi,
dan pasca konstruksi,
pengembangan kawasan
memacu kegiatan
ekonomi dan peluang
usaha masyarakat yang
berarti dapat menekan
angka kemiskinan
Tanpa dilakukan
peningkatan kualitas
sumberdaya manusia
secara bersamaan, maka
masyarakat akan kalah
bersaing dengan kaum
pendatang yang
menyebabkan sulit untuk
terangkat dari garis
kemiskinan
Perkembangan usaha
mikro, kecil dan
menengah (UMKM)
Terbukanya peluang pasar
bagi pengembangan
UMKM di berbagai sektor
semakin lebar
Akses permodalan bagi
pengembangan UMKM
juga semakin mudah
Tingkat kebutuhan pasar
terhadap produk UMKM
semakin besar akibat
adanya arus migrasi
penduduk ke wilayah kaki
JSS
Kemungkinan justru
terjadi aliran ekonomi
dari Sumatera ke Jawa,
masyarakat
memanfaatkan
aksesibilitas untuk
membeli produk di Jawa
dan pemodal dari Jawa
menanam investasi di
Sumatera.
Kemampuan ekonomi
pendatang menjadi
pesaing utama UMKM
Tersedianya lapangan
kerja dan penekanan
angka pengangguran
Kegiatan ekonomi dalam
mengantisipasi
pembangunan JSS
membuka kesempatan
kerja yang lebar,
diharapkan angka
pengangguran pada
penduduk usia produktif
dapat diperkecil
Inisiatif membuka peluang
usaha sendiri makin
Jika tidak disiapkan
ketrampilan masyarakat,
yang terjadi mereka
hanya berpeluang
menjadi tenaga buruh
saja.
Pergeseran terhadap
kegiatan ekonomi sektor
pertanian (primer)
menjadi industri dan
perdagangan atau
mendapat peluang karena
pasar yang tersedia cukup
menjanjikan
Peluang kerja/usaha
seperti restoran,
penginapan (hotel),
perumahan karyawan,
perdagangan dan jasa
pariwisata, toko
cinderamata, salon dan
hiburan (dalam arti yang
positif)

pariwisata (sekunder dan
tersier) mengancam
produksi komoditi
unggulan Provinsi
Lampung
Masyarakat yang tidak
terbiasa memanfaatkan
peluang cenderung
hanya mencari kerja
sebisanya
2 Sosial Pertumbuhan
penduduk
Jumlah penduduk meningkat
secara signifikan
Terjadi arus urbanisasi dan
migrasi penduduk ke
kawasan JSS.
Kepadatan penduduk
meningkat, terutama Kota
Bandar Lampung menjadi
terlalu padat, akan
menimbulkan masalah
sosial lainnya (penyediaan
tempat tinggal, sarana
pendidikan, kesehatan, dan
lapangan pekerjaan dll.)
Konflik tenurial atas
penguasaan tanah
Tingkat kriminalitas
cenderung tinggi
Pendidikan Kesadaran pendidikan
meningkat (IPM meningkat)
Kesehatan Kesadaran akan kesehatan
meningkat (AHH meningkat)
Tenaga Kerja Pengangguran berkurang Persaingan kerja dengan
tenaga luar daerah/asing
3 Budaya Multi etnik Pembauran budaya dan
sikap toleransi terhadap
para pendatang

Semakin beragam etnik,
berpotensi terjadi konflik
sosial (horizontal)
Muncul usaha yang tidak
sesuai norma
Tata nilai dan norma
di masyarakat
Keragaman budaya
memperkaya tatanan
sosial masyarakat
Tata nilai adat istiadat dan
agama mulai pudar dengan
semakin banyak arus
budaya luar yang masuk
Pola budaya Budaya industri yang positif Budaya petani bergeser ke
(pergeseran budaya)
dapat diambil diantaranya
menjadi lebih profesional,
menghargai waktu dan
tenaga, dan inovatif
budaya indutsri menjadikan
lebih individualistik dan
mudah/terbuka dengan
pengaruh dari luar


2 22 2.1 .1 .1 .1. .. . Strategi Penanganan Dampak Ekonomi Strategi Penanganan Dampak Ekonomi Strategi Penanganan Dampak Ekonomi Strategi Penanganan Dampak Ekonomi Terhadap Rencana Terhadap Rencana Terhadap Rencana Terhadap Rencana Pembangunan JSS Pembangunan JSS Pembangunan JSS Pembangunan JSS
2 22 2.1 .1 .1 .1.1 .1 .1 .1 Strategi Penangana Strategi Penangana Strategi Penangana Strategi Penanganan Dampak Ekonomi dengan Pendekatan Ekonomi Wilayah n Dampak Ekonomi dengan Pendekatan Ekonomi Wilayah n Dampak Ekonomi dengan Pendekatan Ekonomi Wilayah n Dampak Ekonomi dengan Pendekatan Ekonomi Wilayah
Pembangunan JSS akan memacu peningkatan arus lalulintas angkutan perekonomian
sekaligus menjadi multiplier effect pertumbuhan ekonomi wilayah. Selain itu pembangunan JSS
juga memiliki kontribusi signifikan terhadap penurunan biaya produksi yang selanjutnya
menimbulkan peningkatan output produksi (elastisitas penawaran), serta pengaruh penurunan
biaya produksi tersebut dalam meningkatkan output produksi dan penjualan akan sangat
bergantung pada permintaan konsumen/masyarakat terhadap output produksi (elastisitas
permintaan). Pertumbuhan ekonomi wilayah akan diikuti dengan penyerapan tenaga kerja,
memicu sektor perdagangan dan pengembangan pariwisata. Terciptanya pertalian (linkage) antar
sektor-sektor tersebut diharapkan pada jangka panjang memperkuat struktur ekonomi wilayah
yang seimbang dan mampu mendukung berkembangnya perdagangan bebas. Strategi
penanganan dampak dengan pendekatan pengembangan ekonomi wilayah Provinsi Lampung
berkaitan dengan pembangunan JSS secara garis besar disajikan pada Tabel 2.1.
Pembangunan JSS juga diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi mikro/
lokal/pedesaan di wilayah dengan radius hingga 60 km dari kaki JSS, yaitu yang termasuk wilayah
Kabupaten Lampung (Kec. Penengahan, Sidomulyo, Ketapang, dan Tanjung Bintang) KEP
Lampung Selatan dan Kabupaten Lampung Timur (Kec. Labuhan Maringgai, Jabung, Sekampung
Udik, Pekalongan, Way Jepara, dan Labuhan Ratu) KEP Lampung Timur, sebagaimana yang
sudah di bahas.

Tabel 2.1. Strategi Pengembangan Perekonomian Wilayah Provinsi Lampung
Terkait pembangunan JSS

Kategori Kategori Kategori Kategori Strategi Strategi Strategi Strategi
Prinsip Pengembangan
Meneruskan kecenderungan dan memacu pertumbuhan kegiatan ekonomi sektor
pertanian
Mengembangkan sektor pertanian sebagai pendukung ketahanan pangan dan
memperkuat perekonomian daerah
Mengembangkan pariwisata sebagai pemicu pengembangan kawasan dan
penyedia lapangan kerja
Pola keterkaitan regional
Melepaskan ketergantungan dari wilayah lain dalam kebutuhan pangan
Bertindak sebagai pemasok produk-produk pertanian ke wilayah lain, khususnya di
Pulau Jawa.
Keterkaitan terhadap
pembangunan regional
Memperkuat struktur dan laju pertumbuhan ekonomi khususnya untuk sektor
pertanian (tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan)
Fungsi wilayah
Sebagai kantong produksi pertanian (tanaman pangan, perkebunan, kehutanan,
perikanan, peternakan)
Sebagai daerah tujuan wisata
Komoditi unggulan
Mengembangkan komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekspor ( lada,
pisang, biji kakao, beras, tanaman palawija, tanaman perkebunan, perikanan laut
dan tambak (udang), dan peternakan; serta produk industri pertanian (nenas
kaleng, monosodium glutamate, particle board, gula tetes, minyak sawit, karet,
coklat bubuk dll)
Prasyarat pengembangan Tersedia lahan yang luas untuk pengembangan pertanian
Sumber : Hasil Analisis

2.1.2 2.1.2 2.1.2 2.1.2 Strategi Penanganan Dampak dengan Pendekatan Strategi Penanganan Dampak dengan Pendekatan Strategi Penanganan Dampak dengan Pendekatan Strategi Penanganan Dampak dengan Pendekatan Ekonomi Mikro Ekonomi Mikro Ekonomi Mikro Ekonomi Mikro
Strategi penanganan dampak ekonomi pembangunan JSS di kawasan potensial terkena
dampak adalah dengan pendekatan ekonomi mikro melalui pemberdayaan masyarakat dengan
visi membangun daya saing masyarakat, kemandirian dan produktivitas kolektif, kesejahteraan dan daya saing masyarakat, kemandirian dan produktivitas kolektif, kesejahteraan dan daya saing masyarakat, kemandirian dan produktivitas kolektif, kesejahteraan dan daya saing masyarakat, kemandirian dan produktivitas kolektif, kesejahteraan dan
keadilan keadilan keadilan keadilan. Sejalan dengan visi tersebut, maka strategi pengembangan ekonomi mikro secara
umum adalah meningkatkan kemandirian masyarakat, menjadikan masyarakat produktif dan
memperkuat kelembagaan keuangan mikro di masyarakat.
Selanjutnya berdasarkan analisis sosial budaya pada bab sebelumnya dimana akan terjadi
pergeseran dari masyarakat pertanian ke masyarakat pertanian industrial, maka strategi
pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat pertanian industrial di kawasan terkena dampak
secara berkelanjutan dapat dilakukan dalam beberapa pilihan sesuai tahapan yang ada pada
masyarakat yaitu:
1. Strategi subsistensi, yaitu strategi yang diterapkan pada masyarakat pedesaan yang
secara potensial dapat menghasilkan suatu produk pertanian, namun pada saat yang
sama tingkat kebutuhan dasarnya belum dapat dicapai secara mandiri secara mandiri secara mandiri secara mandiri. Pada tahap ini
bentuk pemberdayaan masyarakatnya adalah mengelola sumber daya yang ada secara
mandiri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
2. Strategi peningkatan nilai tambah ekonomi yaitu dengan melihat bahwa masyarakat
petani di perdesaan mempunyai kemampuan untuk menjadikan sumber daya alam yang
ada sebagai input utama usaha ekonomi produktif ekonomi produktif ekonomi produktif ekonomi produktif. Keberhasilan strategi pemberdayaan
ini paling tidak ditunjukkan dalam 2 hal yaitu:
a. Dihasilkannya produk pertanian yang diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar
terbuka.
b. Produk pertanian yang dihasilkan berupa produk olahan yang telah mengalami proses
nilai tambah maksimal.
Pada tahap ini pemberdayaan berupa terbangunnya sistem pertanian industrial di
perdesaan.
3. Strategi penguatan penguasaan aset produktif secara menyeluruh untuk terwujudnya
masyarakat berkeadilan dengan tingkat pemerataan yang relatif baik. Strategi ini akan
berhasil jika:
a. Seluruh sistem pertanian industrial pedesaan dijalankan oleh pelaku ekonomi di
pedesaan.
b. Kepemilikan keseluruhan jaringan pertanian industrial di pedesaan adalah oleh
masyarakat setempat.
c. Pengelolaan keseluruhan jaringan pertanian industrial di pedesaan dilakukan dalam
wadah keorganisasian ekonomi pedesaan yang berbadan hukum (misal: Koperasi).
Pada tahap ini pemberdayaan berupa terbangunnya keorganisasian ekonomi keorganisasian ekonomi keorganisasian ekonomi keorganisasian ekonomi pertanian
industrial perdesaan yang berbadan hukum.
2 22 2.2 .2 .2 .2. .. . Strategi Penanganan Dampak Sosial Budaya Strategi Penanganan Dampak Sosial Budaya Strategi Penanganan Dampak Sosial Budaya Strategi Penanganan Dampak Sosial Budaya Terhadap Rencana Terhadap Rencana Terhadap Rencana Terhadap Rencana
Pembangunan JSS Pembangunan JSS Pembangunan JSS Pembangunan JSS
Tujuan pembangunan infrastruktur umumnya, dan Jembatan Selat Sunda (JSS) khususnya
tidak hanya untuk aspek ekonomi seperti mensejahterakan masyarakat, tetapi juga pembinaan
sosial budaya masyarakat agar dapat berkelanjutan (sustainabledevelopment) seperti dalam tiga
pilar pembangunan berkelanjutan yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Sampai saat ini kajian
atau studi yang banyak dilakukan lebih fokus pada bidang ekonomi, sosial dan lingkungan dari
perspektif ekonomi, padahal seharusnya perlu juga menganalisis sosial budaya masyarakat harus
dalam perspektif sosial agar lebih tepat sasaran. Analisis dampak sosial budaya pembangunan JSS
pada studi ini akan menggunakan cara pandang atau perspektif ilmu sosial budaya.
Pembangunan merupakan suatu proses untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih
baik bagi masyarakat suatu bangsa. Tujuan pembangunan nasional adalah kesejahteraan dan
kemakmuran masyarakat Indonesia. Selanjutnya keberhasilan pembangunan ditentukan oleh
karakter atau sikap mental masyarakatnya sendiri. Sikap mental disebut juga sebagai sistem nilai
budaya, dan orientasi nilai budaya adalah salah satu faktor yang membentuk potensi mentalitas
manusia atau daya psikokultural. Tetapi hal ini seringkali diabaikan dalam kajian pembangunan di
suatu wilayah, sehingga ketika pembangunan telah berlangsung, masyarakat tidak dipersiapkan
secara psikokultural. Akibatnya pembangunan kemudian tidak mensejahterakan masyarakat,
tetapi sebaliknya menambah jumlah angka kemiskinan di wilayah tersebut. Oleh sebab itu dalam
mempersiapkan masyarakat di kawasan yang potensial terkena dampak langsung pembangunan
Jembatan selat Sunda (JSS) perlu mempertimbangkan sosial budaya masyarakat di kawasan
tersebut.
Saat ini pembangunan masyarakat di wilayah perdesaan dan perkotaan menghadapi
kerentanan yang luar biasa akibat adanya globalisasi, reformasi dan era digital. Secara garis besar
kerentanan tersebut menjelma ke dalam dua bentuk dilemma yang dihadapi masyarakat yaitu:
(1) dilema ketergantungan (ketergantungan nafkah, informasi dan budaya); dan (2) dilema
kehilangan identitas budaya lokal melalui mekanisme masuknya budaya luar yang biasanya sangat
dominan (Dharmawan, 2011). Teori ketergantungan pembangunan telah banyak membuktikan
fakta emperik, bahwa semakin tergantung sebuah sistem sosial lokal pada struktur eksternal-
global, maka semakin terhisaplah keseluruhan sumber daya kehidupan yang tersedia di dalam
lokalitas tersebut ke pusat-pusat ekonomi global. Kedua dilemma ini sangat mengancam
keberadaan kekuatan lokal masyarakat, sehingga perlu langkah besar agar masyarakat dapat
meningkatkan ketahanan sosial budayanya agar dapat keluar dari jebakan tersebut.
Dalam konteks dampak pembangunan Jembatan Selat Sunda, maka tentu akan
mempercepat proses ancaman tersebut. Oleh sebab itu perlu adanya suatu skenario yang dapat
mengantisipasi dan meminimalisasi berbagai dampak yang akan terjadi. Skenario yang disusun
adalah yang dapat menjawab pertanyaan bagaimana meningkatkan ketahanan masyarakat lokal
dalam pengelolaan sumber daya alam yang ada agar dapat meningkatkan kemakmurannya?.
Perlu adanya kedaulatan lokal dalam mengatur dirinya sendiri melalui budaya lokal yang kuat,
berdaulat, kelembagaan yang kokoh dan legitimate dalam menghidupi warga komunitas lokalnya
sendiri.
Dari analisis pada bab sebelumnya diketahui bahwa masyarakat Lampung memiliki
kekayaan sosial budaya yang tinggi untuk membangun modal sosial. Modal sosial tersebut
adalah: spirit, nilai-nilai sosial budaya , adat istiadat, struktur sosial, kepemimpinan, pengelolaan
sosial, sumber daya manusia, dan sistem pemerintahan. Hanya saja selama ini modal sosial ini
terabaikan atau tanpa disadari malah mulai hilang, karena pragmatisme penyelenggaraan
pembangunan oleh pemerintah pusat, daerah, dan desa (Pranadji, 2012). Revitalisasi modal
sosial perlu dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Indikator masyarakat yang berdaya saing adalah masyarakat produktif, mandiri, terwujud
keadilan, dan kegotong royongan.

2 22 2.2.1 .2.1 .2.1 .2.1 Strategi penanganan dampak dengan pendekatan sosial budaya Strategi penanganan dampak dengan pendekatan sosial budaya Strategi penanganan dampak dengan pendekatan sosial budaya Strategi penanganan dampak dengan pendekatan sosial budaya
Strategi penanganan dampak melalui pendekatan sosial budaya terdiri dari 3 tahapan
yaitu Pertama, mengenali dan identifikasi nilai sosial budaya yang ada, Kedua, revitalisasi nilai
sosial budaya yang ada dan penanaman nilai tersebut di masyarakat. Ketiga, penyusunan dan
implementasi program. Lihat Gambar 5.1.
Strategi penangan dampak melalui pendekatan
sosbud
Implementasi program
Revitalisasi dan
Penanaman Nilai
Mengenali dan indentifikasi
Budaya yg ada

Sumber: Modifikasi Sapto, 2012
Gambar 2.1. Tahapan Strategi Penanganan Dampak melalui Pendekatan Sosial Budaya



2.2.2 2.2.2 2.2.2 2.2.2 Strategi penanganan dampak dengan pendekatan kelembagaan Strategi penanganan dampak dengan pendekatan kelembagaan Strategi penanganan dampak dengan pendekatan kelembagaan Strategi penanganan dampak dengan pendekatan kelembagaan
Sejalan dengan visi dan misi Provinsi lampung yang unggul dan berdaya saing, dan dari
hasil studi terdahulu bahwa sektor unggulan yang akan dikembangkan di kawasan potensial
terkena dampak JSS adalah pertanian, kelautan, perdagangan dan jasa termasuk pariwisata.
Pengembangan sektor-sektor ini membutuhkan berbagai perangkat pembangunan, terutama
infrastruktur, kelembagaan, serta sumber daya manusia yang terdidik dan terampil. Banyaknya
aspek dan aktor yang terlibat sehingga memerlukan keterpaduan
Strategi penanganan dampak dengan pendekatan kelembagaan adalah pendekatan yang
terpadu atau terintegrasinya program lintas kementrian/lembaga, lintas pemerintah provinsi dan
kabupaten/kota dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Keterpaduan mudah diucapkan, tetapi
sangat sulit diimplementasikan. Oleh sebab itu perlu adanya komitmen yang kuat dari
stakeholder yang terlibat untuk menjalankan program secara bersama-sama. Secara lebih jelas
dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Pertanian
Kehutanan
Industri
Pariwisata
Perdagangan
STRATEGI PENANGANAN DAMPAK
Perbankan
Perkebunan
Perternakan
Perikanan Koperasi& UKM
BAPPENAS
Pengintegrasi program lintaskementerian/lemb, Pemprov, danPemkab/ kota,
memberdayakan masyarakat

Gambar 2.2. Strategi Penanganan Dampak dengan Pendekatan Kelembagaan
Sumber : Modifikasi Sapto, 2012


2 22 2.3 .3 .3 .3. .. . Kebijakan Kebijakan Kebijakan Kebijakan dan Program Kegiatan Penanggulangan Dampak Ekonomi dan Program Kegiatan Penanggulangan Dampak Ekonomi dan Program Kegiatan Penanggulangan Dampak Ekonomi dan Program Kegiatan Penanggulangan Dampak Ekonomi terhadap Rencana terhadap Rencana terhadap Rencana terhadap Rencana
Pembangunan JSS Pembangunan JSS Pembangunan JSS Pembangunan JSS
Kebijakan penyusunan program pengembangan ekonomi mikro mengacu pada visi misi
Provinsi Lampung yang unggul dan berdaya saing. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sesuai
dengan potensi yang ada di kawasan potensial yang terkena dampak , maka sektor yang
dikembangkan adalah pertanian; perikanan dan kelautan; perdagangan dan jasa; serta pariwisata.
Oleh sebab itu penduduk diarahkan dan dipersiapkan untuk mendukung sektor yang
dikembangkan pada setiap kawasan. Di Kabupaten Lampung Selatan misalnya, penduduk
Kecamatan Penengahan dan Kecamatan Sidomulyo yang secara umum adalah petani, dan
penduduk Kecamatan Ketapang adalah nelayan diharapkan dapat diberdayakan untuk
mendukung kawasan pengembangan seperti pada Tabel 2.1. Begitu pula dengan penduduk di
kawasan Tanjung bintang, diharapkan dapat mendukung keberadaan industri di Kawasan Industri
Lampung (KAIL). Sedangkan penduduk kota Kalianda yang lebih banyak bekerja di sektor
perdagangan dan jasa dapat diarahkan untuk mendukung pengembangan pariwisata di sumber
air panas Way belerang, Pelabuhan Canti untuk penyeberangan ke Gunung Krakatau dan Pantai
Wartawan. Kebijakan ekonomi mikro yang dapat dikembangkan berkaitan dengan implikasi
pembangunan JSS dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.2. Kebijakan Ekonomi Wilayah dan Ekonomi Mikro pada Kawasan Potensial di
Kabupaten Lampung Selatan
No No No No
Fungsi Ekonomi Fungsi Ekonomi Fungsi Ekonomi Fungsi Ekonomi
wilayah potensial wilayah potensial wilayah potensial wilayah potensial
Program Kegiatan Program Kegiatan Program Kegiatan Program Kegiatan
Ekonomi Ekonomi Ekonomi Ekonomi
Strategi Strategi Strategi Strategi Kebijakan Ekonomi Mikro Kebijakan Ekonomi Mikro Kebijakan Ekonomi Mikro Kebijakan Ekonomi Mikro
1
Pertanian dan
Agribisnis
Masyarakat dapat
memasarkan sendiri
secara langsung hasil
produk pertanian
Masyarakat
mandiri,
produktif dan
memiliki
kelembagaan
keuangan
yang kuat
1. Pengembangan
usaha pertanian
mikro berbasis
sumber daya lokal
2. Pengembangan
jaringan pengamanan
sosial (semacam JPS)
3. Penguatan
2
Perikanan dan
kelautan(Minapolita
n)
Masyarakat dapat
melakukan usaha
pengolahan hasil ikan
3
Perdagangan dan
Jasa Pariwisata
Pengembangan usaha
pembibitan tanaman
(Agrowisata) dan buah-buahan
berbasis masyarakat
kelembagaan
keuangan mikro di
masyarakat
4 Ecotourism
(Pariwisata Alam)
Pengembangan Desa
Wisata Mandiri di
Labuhan Ratu (sekitar
Taman Nasional Way
Kambas)
Pengembangan
industri kerajinan dan
cinderamata
Sumber: Hasil analisis 2012






2.3. Dampak Negatif Aspek Ekonomi Mikro, Strategi Pemecahan dan Kebijakan
Penanggulangannya terhadap Rencana Pembangunan JSS

Indikator Indikator Indikator Indikator Dampak Negatif Dampak Negatif Dampak Negatif Dampak Negatif Strategi Pemecahan Strategi Pemecahan Strategi Pemecahan Strategi Pemecahan Kebijakan Kebijakan Kebijakan Kebijakan
Penggunaan lahan Cakupan luasan kawasan
lindung berkurang,
sementara cakupan luasan
kawasan budidaya
bertambah
Terjadi migrasi penduduk
mendekat (terkonsentrasi)
ke wilayah kaki JSS dan jalur
utama koridor lintas
timur/tengah Sumatera
Muncul spekulan tanah yang
dapat menimbulkan
kerawanan sosial baru
Muncul jenis usaha yang
tidak sesuai dengan norma di
masyarakat (hiburan,
perdagangan miras,
prostitusi, premanisme, dll)
Penggunaan lahan diawasi secara ketat,
pemberian izin peralihan lahan lebih
selektif/cermat, penetapan syarat alokasi
RTH perlu diperkuat
Perlindungan hak-hak masyarakat lokal
Pencegahan urban bias dengan penyediaan
infrastruktur sesuai kebutuhan masyarakat
lokal/desa
Penguatan nilai sosial budaya melalui
pendekatan agama, budaya dan pendidikan
di keluarga/masyarakat
Peningkatan ketahanan masyarakat lokal
melalui penguatan keberadaan lembaga
agama, adat, budaya di masyarakat
Ditetapkan aturan khusus
sebagai sisipan yang belum
tercantum dalam RTRWP
Lampung 2009-2029
Penyusunan program
pemberdayaan masyarakat
Penegakan hokum
Penyediaan infrastruktur dan
fasilitas pendukung
pengembangan sektor
pertanian di kawasan
perdesaan
Perda Tata Ruang dan Perda
Pariwisata yg sesuai dengan
norma agama dan adat
setempat






PDRB dan laju
pertumbuhan
ekonomi
Tersedianya komoditi
perdagangan dan industri
merangsang kecenderungan
sikap konsumptif masyarakat
(perilaku individu rumah
tangga)
Distribusi barang-barang
konsumtif meningkat secara
eksponensial (perilaku
individu perusahaan)
produsen menentukan
tingkat produksi dan harga
pasar (perilaku industri)
permasalahan timbul
terhadap harga dasar dan
harga tertinggi, permintaan
pangan, kenaikan BBM,
monopoli dan distribusi
Peningkatan pendidikan dan ketrampilan
penduduk lokal untuk kecakapan hidup di
bidang kewira-usahaan terutama bidang
pertanian, perikanan, perdagangan dan jasa
Pengembangan sektor pembangunan
ekonomi berbasis sumber daya lokal agar
unggul dan mampu bersaing sesuai visi misi
provinsi Lampung
Pengembangan sekolah atau
lembaga lembaga
kewirausahaan
(entrepreneurship)
Pengembangan usaha
masyarakat bidang pertanian
Angka kemiskinan Tanpa dilakukan peningkatan
kualitas sumberdaya
manusia secara bersamaan,
maka masyarakat akan kalah
bersaing dengan kaum
pendatang yang
menyebabkan sulit untuk
terangkat dari garis
kemiskinan
Revitalisasi budaya lokal yang sudah ada dan
peningkatan nilai-nilai agama
Penanaman nilai budaya industri yang positif
yang sesuai dengan budaya lokal seperti:
produktif, cepat, kerja keras dll
Pengembangan nilai-nilai budaya hidup
hemat, ramah lingkungan dan berkelanjutan
Pembangunan yang berkeadilan dan
partisipatif
Memberi dukungan melalui
pelatihan dan pendampingan
dalam berwirausaha
Sosialisasi dan praktek hidup
hemat dan ramah lingkungan
melalui 4 R (reduce, reuse,
recycle, restore)
Masyarakat terlibat dalam
setiap tahapan pembangunan
muali dari rencana sampai
monitoring dan evaluasi


Perkembangan
usaha mikro, kecil
dan menengah
(UMKM)
Kemungkinan justru terjadi
aliran ekonomi dari
Sumatera ke Jawa,
masyarakat memanfaatkan
aksesibilitas untuk membeli
produk di Jawa dan pemodal
dari Jawa menanam investasi
di Sumatera.
Kemampuan ekonomi
pendatang menjadi pesaing
utama UMKM
Peningkatan pendidikan dan ketrampilan
penduduk lokal untuk kecakapan hidup di
bidang kewira-usahaan terutama bidang
pertanian, perikanan, perdagangan dan jasa
Pengembangan sektor pembangunan
ekonomi berbasis sumber daya lokal agar
unggul dan mampu bersaing sesuai visi misi
provinsi Lampung
Pengembangan sekolah atau
lembaga lembaga
kewirausahaan
(entrepreneurship)
Pengembangan usaha
masyarakat bidang pertanian
Kemudahan pemberian izin dan
akses permodalan bagi
pengembangan usaha mikro,
kecil dan menengah
Tersedianya
lapangan kerja dan
penekanan angka
pengangguran
Jika tidak disiapkan
ketrampilan masyarakat,
yang terjadi mereka hanya
berpeluang menjadi tenaga
buruh saja.
Pergeseran terhadap
kegiatan ekonomi sektor
pertanian (primer) menjadi
industri dan perdagangan
atau pariwisata (sekunder
dan tersier) mengancam
produksi komoditi unggulan
Provinsi Lampung
Masyarakat yang tidak
terbiasa memanfaatkan
peluang cenderung hanya
mencari kerja sebisanya
Harus ada jaminan dan perlindungan untuk
kepemilikan lahan masyarakat lokal,
terutama lahan pertanian
Peningkatan kemandirian masyarakat lokal
melalui revitalisasi kawasan perdesaan
Perda anti alihfungsi lahan
Insentif bagi masyarakat yang
mempertahankan lahannya
untuk pertanian, perikanan,
perkebunan yang dapat
memperkuat ketahanan
masyarakat desa
2 22 2.4 .4 .4 .4. .. . Kebijakan dan Program Kegiatan Penanggulangan Dampak Sosial Budaya Kebijakan dan Program Kegiatan Penanggulangan Dampak Sosial Budaya Kebijakan dan Program Kegiatan Penanggulangan Dampak Sosial Budaya Kebijakan dan Program Kegiatan Penanggulangan Dampak Sosial Budaya
terhada terhada terhada terhadap Rencana p Rencana p Rencana p Rencana Pembangunan JSS Pembangunan JSS Pembangunan JSS Pembangunan JSS

Berdasarkan strategi di atas, maka kebijakan pengembangan program sosial budaya
masyarakat di lokasi potensial terkena dampak adalah:
1. Peningkatan ketahanan masyarakat lokal Peningkatan ketahanan masyarakat lokal Peningkatan ketahanan masyarakat lokal Peningkatan ketahanan masyarakat lokal dan melindungi hak melindungi hak melindungi hak melindungi hak- -- -hak masyarakat lokal hak masyarakat lokal hak masyarakat lokal hak masyarakat lokal melalui:
peningkatan pendididikan dan ketrampilan, pendampingan, sosialisasi dan konsultasi publik,
dan sebagainya.
2. Peningkatan sikap mental Peningkatan sikap mental Peningkatan sikap mental Peningkatan sikap mental masyarakat lokal dan revitalisasi nilai revitalisasi nilai revitalisasi nilai revitalisasi nilai- -- -nilai budaya yang sudah ada nilai budaya yang sudah ada nilai budaya yang sudah ada nilai budaya yang sudah ada
meliputi: kepemimpinan, pendidikan dan pelatihan; pemanfaatan media masa;
pembangunan organisasi dan norma; perilaku manajemen dan pola-pola pengasuhan anak.
3. Kebijakan penyusunan program sosial budaya pada kawasan potensial terkena dampak
haruslah berbasis pengarusutamaan peran masyarakat pengarusutamaan peran masyarakat pengarusutamaan peran masyarakat pengarusutamaan peran masyarakat melalui part part part partisipasi masyarakat isipasi masyarakat isipasi masyarakat isipasi masyarakat pada pada pada pada
setiap tahapan pembangunan setiap tahapan pembangunan setiap tahapan pembangunan setiap tahapan pembangunan secara terus menerus mulai dari tahapan penyusunan program,
pelaksanaan sampai pada monitoring dan evaluasi.
4. Revitalisasi kekuatan lokal untuk kembali berdaulat kembali berdaulat kembali berdaulat kembali berdaulat (deteritorialisasi) masyarakat desa/lokal
atas wilayah dan sumber daya manusia. Artinya masyarakat diberi ruang untuk mengatur
dirinya sendiri, pemerintah lokal harus berbagi peran dengan masyarakatnya, dalam arti yang
semula sebagai controller, regulator dan provider menjadi sebagai katalisator, penyelenggara
pertemuan-pertemuan dan fasilitator.
Strategi penanganan dampak dan kebijakan program kegiatan untuk penanggulangan
dampak sosial budaya akibat pembangunan Jembatan Selat Sunda dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Berdasarkan identifikasi berbagai isu dan permasalahan sosial budaya yang akan muncul seperti
yang sudah diuraikan sebelumnya, selanjutnya disusun strategi pemecahannya yang sesuai,
kemudian diturunkan dalam berbagai kebijakan program kegiatan.
Tabel 2.4. Masalah Sosial, Dampak, Strategi Pemecahan dan Program Kegiatan Penangulangannya
Berkaitan Rencana Pembangunan JSS

Masalah sosial budaya Masalah sosial budaya Masalah sosial budaya Masalah sosial budaya

Dampak Negatif Dampak Negatif Dampak Negatif Dampak Negatif Strategi pemecahan Strategi pemecahan Strategi pemecahan Strategi pemecahan Kebijakan Kebijakan Kebijakan Kebijakan
1.Tingginya alih fungsi lahan 1.Tingginya alih fungsi lahan 1.Tingginya alih fungsi lahan 1.Tingginya alih fungsi lahan
- Konflik tenurial
(pemilikan,
penguasaan,
pemanfaatan,
penggunaan) di
kawasan hutan akan
makin kompleks

Hutan dikuasai
pihak yang
bermodal,
masyarakat
adat/lokal
terpinggirkan
akhirnya hutan
rusak
Paradigma
pengelolaan hutan
dan sda lain harus
berdasarkan wawasan
kebangsaan dan
berkeadilan bukan
peminggiran, sehingga
perlu pendekatan
berbasis kearifan lokal

Strategi pemecahan
konflik secara
komprehensif dan
dinamis dengan
inovasi baru cara
penyelesaian pada
setiap kelompok

Pengelolaan hutan
berbasis kearifan
lokal

Pengembangan
Hutan Desa
Konservasi





Penguatan
kelembagaan lokal
yang legitimate dan
sesuai dengan
budaya lokal
- Masyarakat lokal akan
terdesak oleh
pendatang/investor
yang memerlukan
lahan untuk aktifitas
ekonomi dan kawasan
terbangun dalam skala
besar

Masyarakat lokal
akan memiliki
lahan yang makin
sempit
Harus ada jaminan
dan perlindungan
untuk kepemilikan
lahan masyarakat
lokal, terutama lahan
pertanian

Peningkatan
kemandirian
masyarakat lokal
Perda anti
alihfungsi lahan
Insentif bagi
masyarakat yang
mempertahankan
lahannya untuk
pertanian,
perikanan,
perkebunan yang
dapat memperkuat
melalui revitalisasi
kawasan perdesaan
ketahanan
masyarakat desa


2.Tingginya tingkat urbanisasi 2.Tingginya tingkat urbanisasi 2.Tingginya tingkat urbanisasi 2.Tingginya tingkat urbanisasi
- Perpindahan penduduk
dari luar Lampung ke
Lampung untuk
mengadu nasib di
industri maupun di
sektor informal
sementara penduduk
dari berbagai
kabupaten di Lampung
yang sebelumnya
bekerja di sektor
pertanian akan migrasi
ke Bandar Lampung
maupun ke Kalianda
untuk mengadu nasib
di sektor informal akan
menimbulkan masalah
sosial.

Penduduk lokal
terpinggirkan,
karena kalah
bersaing dengan
pendatang
Perlindungan hak-hak
masyarakat lokal




Peningkatan
pendidikan dan
ketrampilan penduduk
lokal untuk kecakapan
hidup di bidang
kewira-usahaan
terutama bidang
pertanian, perikanan,
perdagangan dan jasa

Pengembangan sektor
pembangunan
ekonomi berbasis
sumber daya lokal
agar unggul dan
mampu bersaing
sesuai visi misi
provinsi Lampung

Penyusunan
program
pemberdayaan
masyarakat
Penegakan hukum

Pengembangan
sekolah atau
lembaga lembaga
kewirausahaan
(entrepreneurship)







Pengembangan
usaha masyarakat
bidang pertanian
- Tingkat urbanisasi yang
tinggi, terutama pada
kawasan potensial
terkena dampak dan di
Muncul berbagai
permasalahan
sosial budaya di
Pencegahan urban
bias dengan
penyediaan
Penyediaan
infrastruktur dan
fasilitas pendukung
sepanjang jalan utama
(Lintas Timur dan
Tengah Sumatera)
sepanjang jalan
dan kawasan
potensial terkena
dampak seperti:
perubahan gaya
hidup, sikap
individualistik,



Banyak penduduk
pindah pekerjaan
dari sektor
pertanian ke
sektor informal
seperti: buruh,
tukang ojek,
pedagang kaki
lima dengan
tingkat upah
rendah
infrastruktur sesuai
kebutuhan masyarakat
lokal/desa

Pengembangan
agropolitan,
agroindustri,
minapolitan,

Pengembangan
lembaga pendidikan
dan ketrampilan dan
pendampingan
masyarakat agar dapat
menjadi pelaku bukan
buruh atau objek
pembangunan
pengembangan
sektor pertanian di
kawasan perdesaan





Pengembangan
lembaga
pendidikan sesuai
sector yang
dikembangkan
yaitu pertnaian,
perikanan kelautan,
perdagangan dan
jasa serta
pariwisata.
3. Tingginya tekanan berbagai kegiatan dan budaya dari luar 3. Tingginya tekanan berbagai kegiatan dan budaya dari luar 3. Tingginya tekanan berbagai kegiatan dan budaya dari luar 3. Tingginya tekanan berbagai kegiatan dan budaya dari luar
- Tekanan budaya instan
dan transaksional,
disparitas kondisi sosial
ekonomi masyarakat
akan makin
mempengaruhi
kehidupan masyarakat
Perubahan orentasi
nilai budaya




Menipisnya nilai
sosial budaya dan
agama seiring
dengan tuntutan
pemenuhan
kebutuhan sosial
dasar masyarakat
akan meningkat.

Pergeseran nilai
sosial budaya dari
agraris ke industri


Revitalisasi budaya
lokal yang sudah ada
dan peningkatan nilai-
nilai agama





Penanaman nilai
budaya industri yang
positif yang sesuai
dengan budaya lokal
Identifikasi budaya
yang ada







Memberi dukungan
melalui pelatihan
dan pendampingan
dalam

Masyarakat
konsumtif




Ketimpangan dan
kecemburuan
sosial
seperti: produktif,
cepat, kerja keras dll

Pengembangan nilai-
nilai budaya hidup
hemat, ramah
lingkungan dan
berkelanjutan

Pembangunan yang
berkeadilan dan
partisipatif

berwirausaha

Sosialisasi dan
praktek hidup
hemat dan ramah
lingkungan melalui
4 R (reduce,reuse,
recycle,restore)
Masyarakat terlibat
dalam setiap
tahapan
pembangunan
muali dari rencana
sampai monitoring
dan evaluasi
- Masalah sosial dan
kriminal seperti
prostitusi, daerah
kumuh, dan kejahatan
kriminal akan
menyebar akan ke
tempat/titik-titik baru
dan muncul kejahatan
baru.


Terjadi pergeseran
nilai sosial budaya
di masyarakat,
lunturnya nilai-
nilai budaya yang
luhur
Penguatan nilai sosial
budaya melalui
pendekatan agama,
budaya dan
pendidikan di
keluarga/masyarakat
Pembentukan
organisasi sosial
budaya di
masyarakat yang
berorientasi pada
agama dan budaya
- Lokasi hiburan akan
memberikan dampak
sosial dengan
masuknya alkohol dan
hiburan malam
(karaoke, panti pijat
serta PSK dari luar
daerah).
Potensi munculnya
premanisme lokal,
dan konflik dengan
organisasi
kepemudaan
dan/atau
keagamaan
setempat

Peningkatan
ketahanan masyarakat
lokal melalui
penguatan
keberadaan lembaga
agama, adat, budaya
di masyarakat
Penegakan hukum
Pengaturan tata
ruang




Perda Tata Ruang
dan Perda
Pariwisata yg sesuai
dengan norma
agama dan adat
setempat
Sumber: Hasil analisis, 2012