Anda di halaman 1dari 10

EKSPLORASI, PERUNTUKAN DAN PROBLEMATIKA SUMBER DAYA

ALAM INDONESIA















Oleh :
RANI WULANDARI
B1J011010








TUGAS TERSTRUKTUR KEWARGANEGARAAN













KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013
I. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia terletak diantara
94
0
05 BT -141
0
01DT dan LU-11
0
05LS. Terdiri dari 1.7850 pulau, 7. 667 pulau
sudah memiliki nama dan 931 pulau berpenghuni penduduk. luas lautan yang
dimiliki sekitar 5,8 juta km
2
atau 70%dari seluruh wilayah terdiri dari 0,3 juta km
2

perairan teroterial, 2,8 juta km
2
perairan nusantara, dan 2,7 juta perairan Zona
Ekonomi Eksklusif. Wilayah teroterial ke Selatan serta membentuk garis pantai
sepanjang 5.110 km dari Barat ke Timur dan 1.888 km dari Utara ke Selatan serta
membentuk garis pantai sepanjang 81. 000 km. luas daratan Indonesia kurang
lebih 1.919.434 km
2
mencakup 27 propinsi.
Indonesia adalah negara yang kaya raya. Potensi kekayaan alamnya sangat
luar biasa, baik sumber daya alam hayati maupun non hayati. Bisa dibayangkan,
kekayaan alamnya mulai dari kekayaan laut, darat, bumi dan kekayaan lainnya
yang terkandung di dalam bumi Indonesia tercinta ini mungkin tidak bisa
dihitung. Apabila dilihat secara geografis,dari sabang sampai merauke, terbentang
tidak sedikit pulau yang ada di Indonesia. Dengan pulau besar, mulai pulau Jawa,
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi serta Irian Jaya. Namun disamping itu, terdapat
pula ribuan pulau yang mengelilingi alam Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia
merupakan negara kepulauan yang mempunyai kekayaan alam yang sangat besar.
Apabila dipandang dari kacamata geologi, negara Indonesia berada pada
lempeng tektonik. Tidak sedikit pegunungan baik gunung yang masih aktif
maupun yang sudah tidak aktif mengisi kekayaan alam Indonesia. Pasalnya,
banyak kekayaan mineral yang terkandung didalamnya. Pegunungan tersebut
melintang dari kota yang terkenal dengan sebutan serambi mekah, Aceh sampai
dengan merauke. Mulai dari pegunungan barisan di sumatera hingga pegunungan
merauke di pulau Irian. Oleh sebab itu, tekstur bumi Indonesia dengan banyak
pegunungan berkontribusi akan kekayaan alam yang sangat melimpah, khususnya
kekayaan mineral.
Samudra hindia dan samudra pasifik merupakan dua samudra besar yang
mengelilingi kepulauan Indonesia. Wilayah Indonesia yang mayoritas adalah
daerah perairan juga memberikan andil yang besar pula terhadap kekayaan alam
Indonesia. Tentunya, kita tidak bisa menghitung banyaknya kekayaan yang
melimpah tersebut. Selain itu, laut juga menghiasi alam Indonesia. Berbagai
sumber daya alam terkandung di dalamnya. Diantaranya, sumberdaya alam
hewani dan nabati serta mineral. Aneka biota laut, khususnya ikan dengan
berbagai macam jenis maupun ukuran menghiasi kekayaan laut. Rumput laut
merupakan salah satu contoh sumber daya alam nabati.
Lain dari pada itu, kekayaan Indonesia tidak sekadar terbatas pada kekayaan
hayatinya, tetapi juga non hayatinya. Aneka bahan tambang terkandung di dalam
perut bumi Indonesia. Diantaranya, minyak bumi, batubara, gas alam, dan
sebagainya. Akan tetapi, aneka bahan tambang tersebut merupakan sumber daya
alam yang tidak dapat diperbarui. Kekayaan alam tersebut diperuntukkan bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Dalam kegiatan eksplorasi kekayaan alam baik sumber daya alam hayati
maupun non hayati tidak boleh mengakibatkan kerusakan lingkungan. Sebagai
contoh dalam menangkap ikan di laut tidak boleh menggunakan bom peledak
karena tidak hanya merusak lingkungannya, namun juga akan merusak biota laut
lainnya. Oleh karena itu, dalam mengeksplorasi harus menjaga lingkungan demi
kelestarian sumber daya alam.
Selanjutnya, kekayaan alam Indonesia yang utama, seperti halnya emas,
minyak bumi, dll, jangan sampai dikuasai oleh bangsa asing. Pasalnya, ini sangat
merugikan bangsa Indonesia. Umumnya, bangsa asing tersebut mengeksplorasi
dengan tujuan bisnis karena mereka mempunyai modal yang besar dan teknologi
yang canggih. Pertama mereka mengambil kekayaan alam dan setelah itu diproses
menggunnakan teknologi tinggi oleh bangsa asing tersebut. Sayangnya, pada
akhirnyapun seluruh kekayaan alam yang berasal dari bumi Indonesia di jual lagi
ke pemerintah dengan harga yang relatif lebih mahal.
Namun demikian yang terpenting adalah mengelola kekayaan alam untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pasalnya, kekayaan alam
tersebut merupakan hak seluruh rakyat Indonesia. Sehingga jangan sampai bangsa
asing yang menikmati kekayaan alam Indonesia, namun rakyat Indonesia tidak
sejahtera. Apabila kesejahteraan rakyat meningkat maka perekonomian Indonesia
pun juga akan meningkat. Selain itu, kekayaan alam tersebut ditujukan pula untuk
kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, memberdayakan potensi kekayaan alam
yang sangat melimpah bagi kesejahteraan rakyat Indonesia sangat penting sekali
demi mewujudkan kemakmuran dan meningkatkan perekonomian Indonesia.

II. PEMBAHASAN
Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), dengan melihat berbagai aspek
kehidupan terkait penyusunan rancangan peraturan daerah (Raperda) sudah
saatnya menjadi acuan sekaligus sebagai patokan untuk ditetapkan dan diterapkan.
Mengingat sumber ekonomi dan kekayaan di negeri ini tidak lagi menjadi
monopoli semata, melainkan berasaskan kebersamaan dan kemerataan secara
berkelanjutan. Secercah harapan dengan adanya Raperda Kalimantan Barat
diharapkan mampu mengakomodir situasi lingkungan saat ini yang berasaskan
pada pasal 33.
Sumber kebijakan tentang pengelolaan sumber daya alam adalah Pasal 33
ayat (3), secara tegas Pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya
penguasaan sumber daya alam ditangan orang ataupun seorang. Dengan kata lain
monopoli, tidak dapat dibenarkan namun fakta saat ini berlaku di dalam praktek-
praktek usaha, bisnis dan investasi dalam bidang pengelolaan sumber daya alam
sedikit banyak bertentangan dengan prinsip pasal 33.
Bunyi pasal 33 UUD 1945 sebagai berikut :
ayat (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas
kekeluargaan,
ayat (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara
ayat (3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai
oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
ayat (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi
ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional
ayat (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.
Sebagai pengingat sederet catatan-catatan terkait ketimpangan pemerataan
ekonomi di Negeri ini tidak kunjung henti hinggap dan datang silih berganti tanpa
ada kontrol terus menjadi biang persoalan.
Pertama, pengerukan dan kerusakan sumber daya alam dalam hal ini
eksploitasi tanpa melihat aspek keberlanjutan dari nasib alam dan lingkungan
serta manusianya. Pembukaan lahan secara besar-besaran berpengaruh pada
(hutan dan satwa-satwa), hutan semakin menipis dan habitat hidup satwa kian
menyempit dan terjepit, belum lagi ditambah dengan lemahnya pengawasan dan
tata kelola yang mengabaikan arti penting fungsi dan manfaat lingkungan bagi
kehidupan makhluk hidup. Pencemaran, semakin seringnya bencana terjadi
membuat semakin sulitnya bertahan hidup.
Kedua, Semakin meluasnya laju kerusakan lingkungan dan investasi dari
investor (pemilik modal dan pelaku pasar) secara tidak sengaja dan tidak
terkendali berimbas kepada hak-hak masyarakat yang terabaikan. Keadilan dan
pembiaran akan berbagai sumber konflik terjadi, perebutan lahan, pembagian hasil
yang sedikit banyak menimbulkan pengaruh sosial dan ekonomi masyarakat.
Kesenjangan terjadi, ketimpangan ekonomi masyarakat menyulut aksi dan
berakhir pada sebuah dilema baru bernama Kejelasan pedoman atau aturan yang
terabaikan.
Ketiga, Pengelolaan SDA tidak terkontrol. Pengelolaan SDA yang
dimaksud adalah minimnya fungsi pengawasan, hukuman, tata kelola dan
kebijakan menyangkut persoalan-persoalan lingkungan, sehingga menjadi bias
keberadaan ketersediaan kekayaan alam yang kian memprihatinkan. Sampai saat
ini fungsi pengawasan dan regulasi hanya sebatas syarat tanpa adanya penetapan.
Keempat, Kewajiban dan tanggungjawab dari perusahaan-perusahaan untuk
mentati Amdal, membuat kawasan sebagai area hijau dan area konservasi bagi
satwa dan tumbuh-tumbuhan dilindungi sepertinya banyak diantara perusahaan
enggan menerapkannya. Hal ini tentu saja menjadi sangat rancu ketika hanya
sebatas wacana dan seelogan belaka.
Kelima, pasal 33 ayat (4) menyebutkan, Perekonomian nasional
diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan,
efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta
dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Namun, kemakmuran bagi seluruh rakyat berbalik menjadi penguasaan bagi
seluruh rakyat. Kebersamaan berubah menjadi monopoli yang cenderung
mengabaikan kemajuan dan berpotensi memancing isu-isu perpecahan di
beberapa daerah. Mengingat keadilan, kesetaraan, penghargaan hak-hak
masyarakat dan kemakmuran tergolong terabaikan. Sumber daya alam terkuras
dan derita semakin parah, kemiskinan kian bertambah.
Pasal 33 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5) Undang-undang Dasar 1945, secara
jelas menyiratkan bahwa penguasaan perekonomian terkait hasil kekayaan alam
harus berpatok kepada kepentingan bersama dan untuk kemakmuran rakyat yang
berasaskan kepada keadilan. Angin segar tentang Raperda tentang Pengelolaan
SDA berbasis pemulihan lingkungan sebagai sebuah keharusan untuk segera di
tetapkan dalam suatu daerah atau wilayah untuk dijadikan sebagai sebuah jawaban
dengan semakin kompleksnya pesoalan-persoalan kekinian lingkungan dan hak-
hak masyarakat tidak kunjung usai saat ini.
Kita tahu, para pendiri bangsa kitaSoekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka,
dan lain-lainjuga menyaksikan bagaimana kapitalisme mengalami krisis.
Mereka menyaksikan terjadinya krisis malaise, yang dipicu oleh Great
Depression di Amerika Serikat. Krisis itu menjalar dan menghancurkan ekonomi
Hindia-Belanda. Rakyat Hindia-Belanda menyebutnya jaman meleset.
Kata Bung Hatta, dengan meneruskan sistem laissez-faire, berikut semangat
free enterprise-nya, maka cita-cita masyarakat adil dan makmur tidak akan
terwujud. Apalagi, para pendiri bangsa sadar, kapitalisme tak akan lepas dari
krisis. Bung Hatta sendiri pernah mengatakan, dunia tidak akan terlepas dari
bahaya krisis dan malaise yang berulang-ulang datangnya, selama kapitalisme
masih merajalela di atas dunia ini, selama tangkai penghidupan orang banyak
dan perusahaan-perusahaan yang mengenai keperluan rakyat masih di tangan
satu golongan kecil, kaum majikan.
Oleh karena itu, dalam menyusun politik perekonomian Indonesia merdeka,
para pendiri bangsa mencari sistem yang tidak membiarkan kapitalisme
merajalela. Sebetulnya, ada dua cita-cita perekonomian paling utama bangsa
Indonesia: pertama, pelikudasian segala bentuk kolonialisme di lapangan
ekonomi. Kedua, mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Perjuangan mewujudkan cita-cita perekonomian negara Indonesia mesti
punya prinsip dan arah. Inilah yang disebut sebagai politik perekonomian.
Politik perekonomian bagi sebuah negara bermakna tindakan apa yang harus
dijalankan dalam jangka pendek dan jangka panjang untuk memperbesar
kemakmuran rakyat. Atau, pendek kata, rumusan sederhananya begini: bagaimana
mengerahkan perekonomian dan potensi-potensi ekonomi untuk mendatangkan
kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi rakyat.
Para pendiri bangsa pun menetapkan pasal 33 UUD 1945 sebagai politik
perekonomian kita. Bung Hatta menyimpulkan begini: pasal 33 ini adalah sendi
utama bagi politik perekonomian dan politik sosial Republik Indonesia.
Ada beberapa hal dalam pasal 33 UUD 1945 yang patut dijadikan sebagai
dasar dalam merumuskan strategi perekonomian kedepan:
Pertama, pasal 33 UUD 1945 mensyaratkan adanya kemerdekaan ekonomi
nasional dari berbagai bentuk eksploitasi kolonial ataupun neokolonialisme
(Imperialisme). Pemanfaatan sumber-sumber dan potensi ekonomi nasional hanya
dimungkinkan jikalau ekonomi nasional sudah merdeka dan berdaulat.
Kedua, adanya semangat demokrasi ekonomi, yakni prinsip produksi
dijalankan oleh semua orang (seluruh rakyat) dibawah kepemilikan masyarakat
(massa-rakyat). Dasar perekonomian yang sesuai dengan ketentuan pasal 33 UUD
1945 adalah usaha bersama (kolektivisme). Salah satu bentuk konkretnya adalah
koperasi. Bentuk lainnya bisa dengan self-management.
Ketiga, tujuan utama produksi adalah kemakmuran seluruh masyarakat
(massa-rakyat), bukan kemakmuran orang seorang atau segelintir orang. Ini
berlawanan dengan logika kapitalisme: produksi untuk melayani kepentingan
kapitalis (menggali keuntungan sebesar-besarnya).
keempat, karena alat produksi bisa diakses oleh seluruh rakyat, juga karena
tujuan produksi adalah untuk memenuhi kebutuhan rakyat, maka tidak mungkin
terjadi anarki produksi seperti dalam produksi kapitalis. Dengan begitu, model
demokrasi ekonomi ini juga sangat memungkinkan untuk pembangunan yang
berkelanjutan; dimana produksi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sekarang,
tetapi juga untuk kebutuhan umat manusia di masa mendatang.
Kelima, penguatan peran negara sebagai alat untuk mengorganisir
perekonomian agar bisa mendatangkan kemakmuran bagi rakyat. Tetapi, perlu
ditekankan di sini, rakyat jangan menganggap negara sebagai sinterklas, yakni
pemberi segala-galanya. Model pembangunan ekonomi kedepan harus meletakkan
massa rakyat sebagai tulang-punggung pembangunan ekonomi.
Keenam, makna dikuasai oleh negara dalam pasal 33 UUD 1945 bukanlah
berarti negara mengambil-alih tanah dan pabrik atas nama rakyat. Melainkan,
dalam pandangan kami, negara hanya sebagai regulator dan pembuat aturan untuk
melancarkan aktivitas perekonomian. Sedangkan alat-alat produksi tetap harus
benar-benar berada di tangan rakyat dan dijalankan oleh rakyat terorganisir.
Ketujuh, mendorong industrialisasi yang bahan bakunya diprioritaskan
berasal dari dalam negeri. Pada tahap ini, seperti diusulkan Bung Hatta, bisa
merupakan penggabungan industri besar yang dibangun oleh pemerintah dan
koperasi-koperasi yang dibangun oleh rakyat dari bawah. Target utama
industrialisasi adalah memproduksi barang-barang kebutuhan rakyat.
Kedelapan, negara harus melakukan investasi besar-besaran untuk
pembangunan manusia, seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, pangan, dan
pemenuhan kebutuhan dasar rakyat lainnya. Sebab, tanpa memenuhi kebutuhan
yang sifatnya dasar ini, massa-rakyat tidak akan bisa menjadi tenaga yang
produktif dalam pembangunan.

III. KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan diatas adalah:
1. Eksplorasi kekayaan Negara Indonesia harus dilaksanakan sesuai undang-
undang pasal 33 ayat 3.
2. Sumber daya alam Indonesia diperuntukkan untuk kemakmuran rakyat
Indonesia.
3. Permasalahan yang timbul dikarenakan sumber daya manusia yang kurang
mendukung dalam menjalani dan mengelola sumber daya alam Negara.
DAFTAR PUSTAKA
Baharudin, Azizan. Science, Values and The Environment: On The Need for A
Coherent and Holistic Worldview. Dalam Azizan HJ Bharudin (Ed)
Eenvironment and Development : Ethical and Education Considerations.
Kuala Lumpur : Institut Kajina Dasar, 1985

Blaikie, N W H Education and Enviromentalism: Ecological World View and
Enviromentally Responsibeble Behavoiur Australian Journal of
Enviomental Education 9. Supplement Agustus. P. 14, 1993

Bloom, Benyamin S. Taxonomu of Educational Objective: Book I Cognitive
Domain N. Y Longman Inc,. 1956.

Chiras, Daniel D. Enviromental Science: Action for a Ssustainable future.
California: The Benjamin/Cummings Pub. Co. Inc,. 1991.

Fishbein, Martin & Ajzen, Icek. Belief Attitude, Intenton, and Behaviour: An
Introduction to Theory and Research M A Addison-Wesley, 1975

Gage, N L & Berliner, D C Educational Psychology Dallas:Houghton Miffin Co,
1984