Anda di halaman 1dari 41

NEGARA HUKUM DAN INDONESIA SEBAGAI NEGARA HUKUM

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Negara hukum merupakan tipe negara yang umum dimiliki oleh bangsa-bangsa di
dunia dewasa ini. Negara hukum meninggalkan tipe negara yang memerintah berdasarkan
kemauan sang penguasa, Sejak adanya perubahan tersebut, maka negara diperintah
berdasarkan hukum yang sudah dibuat dan disediakan sebelumnya serta penguasapun
tunduk kepada hukum tersebut.
Negara hukum tersebut lebih mengutamakan bentuk daripada isi. Negara hokum tidak
memperdulikan kandungan moral kemanusiaan yang harus terdapat didalamnya. Dengan
karakteristik tersebut, maka negara hukum menjadi identik dengan bangunan peraturan
perundang-undangan. Kualitasnya hanya ditentukan oleh ketundukannya kepada hukum.
Tipe tersebut lazim disebut sebagai negara hukum formil (formele rechstaat). Tidak
ada patokan atau watak kemanusiaan tertentu sebagai determinan. Sang penguasa menjadi
bebas untuk menentukan dan mengikuti politik yang dibuatnya sendiri. Satu-satunya
determinan adalah kebijaksanaan yang dibuatnya dituangkan kedalam hukum. Legalitas
menjadi prinsip dasar tidak perlu memperhatikan legitimitas.
Negara-negara hukum didunia memiliki latar belakang sejarah dan pemikiran yang
berbeda-beda. Di Jerman, rechstaat adalah suatu bangunan hukum murni yang tidak
berhubungan dengan politik. Teori Hans Kelsen yang dikenal sebagai reine rechtslehre
(ajaran hukum murni) memberikan landasan teori bagi konsep tersebut. Kelsen mengatakan
Negara adalah tidak lain suatu bangunan hukum (Kelsen 1976).
1

Perkembangan negara hukum di Inggris berbeda dari Eropa daratan, yang tidak netral
terhadap politik (Neumann, 1986).
2
Di Inggris sejak semula doktrin rule of law tidak
dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. Parlemen berhak untuk melakukan apa saja,
termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law.
3

Sebelum muncul negara berdasarkan hukum atau konstitusi (constitutional state),
Eropa harus menjalani berbagai transformasi sosial, politik, maupun kultural, yang
membentang selama beratus-ratus tahun. Kita dapat mengambil titik tolak feodalisme dan
tatanan feodalnya (abad ketujuh sampai ke empat belas), sebagai tipe awal negara menuju
negara hukum dewasa ini. Dari tipe feodal tersebut kemudian berkembang menuju
staendestaat (abad kelima belas), disusul dengan absolute (abad kedelapan belas) dan
akhirnya negara konstitusi (abad kesembilan belas).
Negara hukum Indonesia sudah berdiri sejak lebih dari enam puluh tahun lamanya.
Kualifikasi sebagai Negara hukum pada tahun 1945 terbaca dalam Penjelasan Undang-
Undang Dasar 1945 (sebelum amandemen) dan pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945
(setelah amandemen). Dalam penjelasan mengenai sistem pemerintahan negara dikatakan
Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum (Rechstaat). Selanjutnya dibawahnya
dijelaskan, negara Indonesia berdasar atas hukum (rechstaat), tidak berdasarkan kekuasaan
belaka (machsstaat).

1
Satjipto Rahardjo, Negara Hukum Yang Membahagiakan Rakyatnya, Genta Publishing:Yogyakarta, hlm. 6.
2
Ibid, hlm. 8.
3
Ibid, hlm. 9.
Sekian puluh tahun kemudian konsep tersebut lebih dipertegas melalui amandemen
keempat dan dimasukkan ke dalam batang tubuh konstitusi, yaitu Bab I tentang bentuk dan
kedaulatan.
4
Dalam Pasal 1 ayat (3) ditulis Negara Indonesia adalah negara hukum.
Dari amandemen-amandemen dibuktikan secara jelas, Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia tidak statis, melainkan memiliki dinamika. Amandemen keempat tersebut dapat
dibaca sebagai keinginan bangsa Indonesia untuk lebih mempertegas identitas negaranya
sebagai suatu negara hukum. Menurut Steenbeek, sebagaimana dikutip oleh Sri Soemantri,
UUD berisi tiga pokok materi muatan, yakni Pertama, adanya jaminan terhadap hak-hak
asasi manusia dan warganegara; Kedua, ditetapkannya susunan ketatanegaraan suatu negara
yang bersifat fundamental; dan Ketiga, adanya pembagian dan pembatasan tugas
ketatanegaraan yang bersifat fundamental.
5

B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian diatas maka akan didapat suatu rumusan masalah Apakah yang dimaksud
dengan Negara Hukum itu, apa saja ciri-cirinya dan bagaimanakah konsep Negara Hukum
yang sebenarnya. Serta bagaimanakah konsep Negara Hukum yang digunakan di Negara
Indonesia?
C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini yaitu sebagai salah satu tugas mata kuliah Ilmu Negara pada
Program Pasca Sarjana Program Studi Hukum Tata Negara (Siyasah) Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, selain itu sebagai sumbangsih pemikiran
(keilmuan) secara ilmiah dan akademik.


4
Ibid, hlm. 1.
5
Sri Soemantri, Prosedur Dan Sistem Perubahan Konstitusi, Alumni:Bandung, 1987, hlm. 51.
D. METODE PENULISAN
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode studi pustaka sebagai
metode pengumpulan data dan menggunakan analisis normatif untuk menganalisa
permasalahan serta menarik kesimpulan.
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan makalah ini, yakni pada BAB I Pendahuluan terdiri atas latar
belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika penulisan, BAB II
Pembahasan terdiri atas studi pustaka, gambaran umum dan analisis. Sedangkan pada BAB
III merupakan Penutup yang terdiri atas kesimpulan.











BAB II
PEMBAHASAN

A. NEGARA HUKUM
1. Devinisi Negara Hukum
Negara hukum merupakan istilah yang meskipun kelihatan sederhana, namun
mengandung muatan sejarah pemikiran yang relatif panjang. Negara hukum adalah
istilah Indonesia yang terbentuk dari dua suku kata, negara dan hukum. Padanan kata ini
menunjukkan bentuk dan sifat saling isi mengisi antara negara di satu pihak dan hukum
pada pihak yang lain. Tujuan negara adalah untuk memelihara ketertiban hukum
(rechtsorde). Oleh karena itu, negara membutuhkan hukum dan sebaliknya pula hukum
dijalankan dan ditegakkan melalui otoritas negara.
6

Ada beberapa istilah asing yang dipergunakan sebagai pengertian negara hukum,
yakni rechtstaat, rule of law dan etat de droit. Sepintas istilah ini mengandung makna
sama, tetapi sebenarnya jika dikaji lebih jauh terdapat perbedaan yang signifikan.
Bahkan, dalam perkembangan pemikiran konsep negara hukum, kedua istilah tersebut
juga berkembang, baik secara teoritis-konseptual maupun dalam kerangka praktis
operasional.
Menurut Philipus M. Hadjon, konsep rechsstaat lahir dari suatu perjuangan
menentang absolutisme sehingga sifatnya revolusioner, sebaliknya konsep the rule of
law berkembang secara evolusioner.
7
Hal ini tampak baik dari isi maupun kriteria
rechtsstaat dan rule of law itu sendiri.

6
Sudargo gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung, 1973, hlm. 20.
7
Philipus M.Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Di Indonesia, PT.bina ilmu, Surabaya, 1987, hlm. 72.
Konsep rechtsstaat bertumpu pada sistem hukum Eropa Kontinental yang biasa
disebut civil law atau modern roman law, sedangkan konsep rule of law bertumpu pada
sistem hukum common law atau English Law.
Dalam bukunya, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice
in Europe and America, Carl J Friedrich memperkenalkan sebuah istilah negara hukum
dengan nama rechsstaat atau constitutional state. Tokoh lainnya yang berperan dalam
peristilahan rechtsstaat adalah Friedrrich J Stahl, menurut Stahl, terdapat unsur
berdirinya rechtsstaat, yaitu: (1) hak-hak manusia; (2) pemisahan atau pembagian
kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu; (3) pemerintah berdasarkan peraturan-
peraturan; dan (4) peradilan administrasi dalam perselisihan.
8

Adalah Albert Venn Dicey dalam magnum opus-nya, Introduction to the law of the
constitution memperkenalkan istilah the rule of law yang secara sederhana diartikan
dengan keteraturan hukum. Menurut Dicey, ada tiga unsur fundamental dalam rule of
law, yaitu: (1) supremasi aturan-aturan hukum, tidak adanya kekuasaan sewenang-
wenang, dalam arti seseorang hanya boleh dihukum kalau melanggar hukum; (2)
kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum. Petunjuk ini berlaku baik bagi
masyarakat biasa maupun para pejabat; dan (3) terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh
undang-undang serta keputusan-keputusan pengadilan.
2. Latar Belakang dan Perkembangan Negara Hukum
Keberadaan tentang konsepsi negara hukum sudah ada semenjak berkembangnya
pemikiran cita negara hukum itu sendiri. Plato dan Aristoteles merupakan penggagas
dari pemikiran negara hukum. Pemikiran negara hukum dimunculkan Plato melalui
karya monumentalnya yakni Politicos. Plato dalarn buku ini sudah menganggap adanya

8
Mirriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT.Gramedia, Jakarta,1983, hlm. 57.
hukum untuk mengatur warga negara. Pemikiran ini dilanjutkan tatkala Plato mencapai
usia lanjut dengan memberikan perhatian yang tinggi pada hukum. Menurutnya,
penyelenggaraan pemerintah yang baik ialah yang diatur oleh hukum.
Cita Plato dalam nomoi ini kemudian dilanjutkan oleh muridnya bernama
Aristoteles yang lahir di Macedonia pada tahun 384 SM. Karya ilmiahnya yang relevan
dengan masalah negara ialah Politica. Menurut Aristoteles, suatu negara yang baik ialah
negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. la menyatakan:
Aturan yang konstitusional dalam negara berkaitan secara erat juga dengan pertanyaan
kembali apakah lebih baik diatur oleh manusia atau hukum terbaik, selama suatu
pemerintahan menurut hukum. Oleh sebab itu supremasi hukum diterima oleh
Aristoteles sebagai tanda negara yang baik dan bukan semata-mata sebagai keperluan
yang tak layak.
Bagi Aristoteles, yang memerintah dalam negara bukanlah manusia melainkan
pikiran yang adil, dan kesusilaanlah yang menentukan baik buruknya suatu hukum.
Manusia perlu dididik menjadi warga yang baik, yang bersusila, yang akhirnya akan
menjelmakan manusia yang bersikap adil.
Apabila keadaan semacam ini telah terwujud, maka terciptalah suatu negara
hukum, karena tujuan negara adalah kesempurnaan warganya yang berdasarkan atas
keadilan. Jadi, keadilanlah yang memerintah dalam kehidupan bernegara. Agar manusia
yang bersikap adil itu dapat terjelma dalam kehidupan bernegara, maka manusia harus
dididik menjadi warga yang baik dan bersusila.
9


9
http://www.scribd.com/doc/57575503/TEORI2-NEGARA-HUKUM

Pemikiran ini terus berkembang seiring dengan dialektika pemikiran para filosof.
Seiring dengan ini pula, maka banyak pendapat yang mengemukakan di seputar
pemikiran negara hukum. Immanuel Kant dan Friedrich Julius Stahl telah
mengemukakan buah pikiran mereka. Kant memahami negara hukum sebagai
Nachtwakerstaat atau Nachtwachterstaat (negara jaga malam) yang tugasnya adalah
menjamin ketertiban dan keamanan masyarakat, urusan kesejahteraan didasarkan pada
persaingan bebas (free fight), laisez faire, laisez ealler, siapa yang kuat dia yang
menang. Paham liberalisme diinspirasikan oleh aliran ekonorni liberal Adam Smith
yang menolak keras campur tangan negara dalam kehidupan negara ekonomi.
Pemikiran Immanuel Kant pada gilirannya mernberi inspirasi dan mengilhami F.J.
Stahl dengan lebih memantapkan prinsip liberalisme bersamaan dengan lahirnya kontrak
sosial dari Jean Jacques Rousseau, yang memberi fungsi negara menjadi dua bagian
yaitu pembuat Undang-Undang (the making of law) dan pelaksana Undang-Undang (the
executing of law).
10

Konsepsi negara hukum Immanuel Kant berkembang menjadi negara hukum
formal, hal ini dapat dipetik dari pendapat F.J. Stahl tentang negara hukum ditandai oleh
empat unsur pokok yaitu: (1) pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi
manusia. (2) negara didasarkan pada teori trias politica. (3) pemerintahan
diselenggarakan berdasarkan undang-undang (wetmatig bestuur). dan (4) ada peradilan
administrasi negara yang bertugas menangani kasus perbuatan melanggar hukum oleh
pemerintah (onrechtmatige overheidsdaad).
11


10
Ibid
11
Munir Fuady, Teori Negara Hukum Modern (Rechtstaat), Bandung: PT. Refika Aditama, 2009. hlm. 27.
Konsepsi negara hukum dalam kajian teoritis dapat dibedakan dalam dua
pengertian. Pertama, negara hukum dalam arti formal (sempit/klasik) ialah negara yang
kerjanya hanya menjaga agar jangan sampai ada pelanggaran terhadap ketentraman dan
kepentingan umum, seperti yang telah ditentukan oleh hukum yang tertulis (undang-
undang), yaitu hanya bertugas melindungi jiwa, benda, atau hak asasi warganya secara
pasif, tidak campur tangan dalam bidang perekonomian atau penyelenggaraan
kesejahteraan rakyat, karena yang berlaku dalam lapangan ekonomi adalah prinsip
laiesez faire laiesizealler.
Kedua, negara hukum dalam arti materiil (luas/modern) ialah negara yang terkenal
dengan istilah welfare state (walvaar staat), (wehlfarstaat), yang bertugas menjaga
keamanan dalam arti kata seluas-luasnya, yaitu keamanan social (social security) dan
menyelenggarakan kesejahteraan umum, berdasarkan prinsip-prinsip hukum yang benar
dan adil sehingga hak-hak asasi warga negaranya benar-benar terjamin dan terlindungi.
Di negara-negara Eropa Kontinental, konsep negara hukum tersebut, selanjutnya
dikembangkan oleh Immanuel Kant, Friederich Julius Stahl, Fichte, Laband, Buys dan
lain-lainnya, yang terkenal dengan istilah konsep rechtsstaat, sedangkan di negara-
negara Anglo Saxon lahirlah konsep yang semacam, yang terkenal dengan konsep rule
of law.
Di Inggris ide negara hukum sudah terlihat dalam pemikiran John Locke, yang
membagi kekuasaan dalam negara ke dalam tiga kekuasaan, antara lain dibedakan antara
penguasa pembentuk undang-undang dan pelaksana undang-undang, dan berkait erat
dengan konsep rule of law yang berkembang di Inggris pada waktu itu. Di Inggris
dikaitkan dengan tugas-tugas hakim dalam rangka menegakkan rule of law.
12

Dalam kepustakaan, seringkali dibedakan antara konsep negara hukum Anglo
Saxon dengan Eropa Kontinental. Dalam konsep atau sistem Anglo Saxon mempunyai
tiga makna atau unsur: (1) Adanya supremasi hukum (The absolut supremacy or
predominance of regular law), (2) Persamaan di muka hukum (Equality before the law),
(3) Konstitusi yang bersandarkan pada hak-hak perseorangan (The law of the
constitution the consequence of the right of individuals).
Paul Scholten salah seorang jurist yang terbesar dalam abad XX di Nederland,
menulis tentang Negara Hukum (over den rechtsstaat). Scholten menyebut dua ciri
daripada negara hukum, yang kemudian diuraikan secara luas dan kritis tersebut adalah:
1. Kawula negara itu mempunyai hak terhadap negara (er is recht tegenover den
staat), individu mempunyai hak terhadap masyarakat. Asas ini sebenarnya meliputi
dua segi: a) manusia itu mempunyai suasana tersendiri, yang pada asasnya terletak
di luar kewenangan negara; b) pembatasan suasana manusia itu hanya dapat
dilakukan dengan ketentuan undang-undang dengan peraturan-peraturan umum.
2. Negara hukum ada pemisahan kekuasaan (er is scheiding van machten).
Dalam padangan ahli hukum semestinya konsep rule of law ini dijadikan sebagai
suatu konsep yang dapat diidentifikasi, di mana titik beratnya pada prosedur dan
pengaturan pernbentukan serta penegakkan hukum. Di dalam konsep rule of law sendiri
dikenal kewenangan diskresi yang pada hakekatnya tidak konsisten dengan ide rule of

12
http://www.scribd.com/doc/57575503/TEORI2-NEGARA-HUKUM

law. Oleh karena itu, kewenangan diskresi seharusnya dapat diuji dan dipandu oleh
prinsip-prinsip hukum secara umum.
Perbedaan pokok antara rechtstaat dengan rule of law ditemukan pada unsur
peradilan administrasi. Di dalam unsur rule of law telah ditemukan adanya unsur
peradilan administrasi, sebab di negara-negara Anglo Saxon penekanan terhadap prinsip
persamaan dihadapan hukum (equality before the law) lebih ditonjolkan, sehingga
dipandang tidak perlu menyediakan sebuah peradilan khusus untuk pejabat administrasi
negara. Prinsip equality before the law menghendaki agar prinsip persamaan antara
rakyat dengan pejabat administrasi negara, harus juga tercermin dalam lapangan
peradilan. Pejabat administrasi atau pemerintah atau rakyat harus sama-sama tunduk
kepada hukum dan bersamaan kedudukannya dihadapan hukum.
Berbeda dengan negara Eropa Kontinental yang memasukkan unsur peradilan
administrasi sebagai salah satu unsur rechtsstaat. Dimasukkannya unsur peradilan
administrasi ke dalam unsur rechtsstaat, maksudnya untuk memberikan perlindungan
hukum bagi warga masyarakat terhadap sikap tindakan pemerintah yang melanggar hak
asasi dalam lapangan administrasi negara. Kecuali itu kehadiran peradilan administrasi
akan memberikan perlindungan hukum yang sama kepada administrasi negara yang
bertindak benar dan sesuai dengan hukum. Dalam negara hukum harus diberikan
perlindungan hukum yang sama kepada warga dan pejabat administrasi negara.
13

Dari latar belakang dan dari sistem hukum yang menopang perbedaan antara konsep
rechtsstaat dengan konsep the rule of law meskipun dalam perkembangan dewasa
ini tidak dipermasalahkan lagi perbedaan antara keduanya. Karena pada dasarnya kedua

13
http://www.scribd.com/doc/57575503/TEORI2-NEGARA-HUKUM

konsep itu mengarahkan dirinya pada satu sasaran yang utama yaitu pengakuan dan
perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Meskipun dengan sasaran yang sama
tetapi keduanya tetap berjalan dengan sistem hukum sendiri.
Konsep rechtsstaat lahir dari suatu perjuangan menentang absolutisme sehingga
sifatnya revolusioner sebaliknya konsep the rule of law berkembang secara
evolusioner. Hal ini nampak dari isi atau kriteria rechtsstaat dan kriteria the rule of law.
Konsep rechtsstaat bertumpu atas sistem hukum kontinental yang disebut civil law
atau modern Roman Law sedangkan konsep the rule of law bertumpu atas sistem
hukum yang disebut common law. Karakteristik civil law adalah administratif
sedangkan karakteristik common law adalah judicial.
Perbedaan karakteristik yang demikian disebabkan karena latar belakang daripada
kekuasaan raja. Pada zarnan Romawi, kekuasaan yang menonjol dan raja ialah membuat
peraturan melalui dekrit. Kekuasaan itu kemudian didelegasikan kepada pejabat-pejabat
administratif sehingga pejabat administratif yang membuat pengarahan-pengarahan
tertulis bagi hakim tentang bagaimana memutus suatu sengketa. Begitu besarnya
peranan Administrasi Negara sehingga tidaklah mengherankan kalau dalam sistem
kontinental mula pertama muncul cabang hukum baru yang disebut droit administratif
yaitu hubungan antara administrasi negara dengan rakyat.
Dalam perkembangannya negara hukum, unsur-unsur yang dikemukakan oleh F.J.
Stahl tersebut kemudian mengalami penyempurnaan yang secara umum dapat dilihat
sebagaimana tersebut:
1. Sistem pemerintahan negara yang didasarkan atas kedaulatan rakyat;
2. Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajiban harus berdasar atas
hukum atau peraturan perundang-undangan;
3. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (warga negara);
4. Adanya pembagian kekuasaan dalam negara;
5. Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechterlijke controle) yang bebas
dan mandiri, dalam arti lembaga peradilan tersebut benar-benar tidak memihak dan
tidak berada di bawah pengaruh eksekutif;
6. Adanya peran yang nyata dari anggota-anggota masyarakat atau warga negara
untuk turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan yang
dilakukan oleh pemerintah;
7. Adanya sistem perekonomian yang dapat menjamin pembagian yang merata sumber
daya yang diperlukan bagi kemakmuran negara.
Secara umum negara hukum dikatakan mempunyai empat ciri. Pertama,
pemerintah bertindak semata-mata atas dasar hukum yang berlaku. Kedua, masyarakat
dapat naik banding di pengadilan terhadap keputusan pemerintah dan pemerintah taat
terhadap keputusan hakim. Ketiga, hukum sendiri adalah adil dan menjamin hak-hak
asasi manusia. Keempat, kekuasaan hakim independen dari kemauan pemerintah. Ciri
yang pertama menjamin kepastian hukum dan mencegah kesewenangan penguasa. Ciri
kedua menunjukkan bahwa penguasa pun berada di bawah hukum, bahwa penggunaan
kekuasaan di negara itu harus dipertanggungjawabkan dan tidak tanpa batas.
14


14
http://www.scribd.com/doc/57575503/TEORI2-NEGARA-HUKUM

Disamping itu, terdapat dua gagasan negara hukum di dunia yaitu negara hukum
dalam negara hukum dalam tradisi Anglo Saxon yang disebut dengan Rule of Law dan
tradisi Eropa Kontinental yang disebut rechtsstaat.
Albert. V Dicey memperkenalkan teori yang dikenal dengan istilah rule of law.
Teori ini mensyaratkan, bahwa negara hukum mempunyai tiga unsur, unsur-unsur yang
harus terdapat dalam Rule of Law adalah pertama, supremasi hukum (supremacy of
law); kedua, persamaan di depan hukum (equality before the law); ketiga, konstitusi
yang didasarkan hak-hak perorangan (constitution based on individual rights).
Menurut Miriam Budiardjo unsur-unsur rule of law yang dikemukakan A.V Dicey
mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Supremasi aturan-aturan hukum (supremacy of the law); tidak adanya kekuasaan
sewenang-wenang (absence of arbitrary power), dalam arti bahwa seseorang hanya
boleh dihukum kalau melanggar hukum.
b. Kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum (equality before the law). Dalil ini
berlaku baik untuk orang biasa, maupun untuk pejabat.
c. Terjaminnya hak-hak manusia oleh undang-undang (di negara lain oleh Undang-
Undang Dasar) serta keputusan-keputusan pengadilan (the constitution based on
individual rights).
15

Rechtsstaat dalam tradisi Eropa Kontinental hadir sebagai perjuangan menentang
absolutisme, teori ini diperkenalkan oleh Immanuel Kant. Sebagai salah satu pemikir
terkemuka Eropa Kant menggali ide negara hukum yang sudah dikenal di Yunani pada
zaman Plato dengan istilah nomoi. Dalam pandangan Immanuel Kant negara hukum

15
Munir Fuady, Teori Negara Hukum... hlm. 10.
hanya dimanfaatkan untuk menegakkan keamanan dan ketertiban di masyarakat (rust en
order) sehingga dikenal dengan istilah Negara Jaga Malam (Nachtwakerstaat). Setelah
Immanuel Kant muncul Julius Stahl yang mengemukakan bahwa pokok-pokok utama
negara hukum (Barat) yang mendasari konsep Negara Hukum yang demokratis ialah:
a. Berdasarkan hak asasi sesuai pandangan individualistik (John Locke cs.);
b. Untuk melindungi hak asasi perlu trias politica Montesquieu dengan segala variasi
perkembangannya;
c. Pemerintahannya berdasarkan undang-undang (wetmatig bestuur) dalam Rechtsstaat
materiil dan ditambah prinsip doelmatig bestuur di dalam Sociale verzorgingsstaat.
d. Apabila di dalam menjalankan pemerintahan masih dirasa melanggar hak asasi maka
harus diadili dengan suatu pengadilan administrasi.
16

Selanjutnya, dengan makin luasnya desakan kebutuhan perlindungan warga negara
atas hukum. Maka Internastional Commisison of Jurist dalam konfrensi di Bangkok
pada tahun 1965, memberikan rumusan tentang ciri-ciri pemerintahan yang demokratis
di bawah rule of law adalah sebagai berikut:
a. Perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin hak-hak individu, konstitusi
harus pula menentukan cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak
yang dijamin;
b. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak;
c. Pemilihan umum yang bebas;
d. Kebebasan menyatakan pendapat;
e. Kebebasan berserikat/berorganisasi dan beroposisi; dan

16
Nimatul Huda, Lembaga Negara Masa Transisi Menuju Demokrasi, Yogyakarta: UII Press, 2007. hlm. 57.
f. Pendidikan kewarganegaraan.
17

Berdasarkan pandangan diatas, kelihatan bahwa negara tidak bersifat proaktif,
melainkan pasif. Sikap negara yang demikian ini dikarenakan pada posisinya negara
hanya menjalankan apa yang termaktub dalam konstitusi semata. Dengan kata lain,
negara tidak lebih hanya sebatas nachtwachterstaat (negara penjaga malam), atau negara
hukum klasik.
18

Konsep negara hukum formal (klasik) mulai digugat menjelang pertengahan abad
ke-20 tepatnya setelah perang dunia . Beberapa faktor yang mendorong lahirnya
kecaman atas negara hukum formal, yang pluralis liberal antara lain adalah akses-akses
dalam industrialisasi dan sistem kapitalis, tersebarnya paham sosialisme yang
menginginkan pembagian kekuasaan secara merata serta kemenangan beberapa partai
sosialis di Eropa.
19

Menurut Jimmly Asshiddiqie, kemunculan kapitalisme dilapangan perekonomian
menyebabkan terjadinya kesenjangan dalam distribusi sumber-sumber kemakmuran. Hal
tersebut, menurutnya berdampak pada disparitas sosial ekonomi yang tajam dan tidak
dapat dipecahkan oleh negara yang difungsikan secara minimal itu. Negara dianggap
tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
20

Gagasan bahwa pemerintah dilarang intervensi dalam urusan warga negara baik
bidang sosial maupun bidang ekonomi akhirnya bergeser ke dalam gagasan baru bahwa
pemerintah harus bertanggungjawab atas kesejahteraan rakyat. Pemerintah tidak boleh

17
Ibid, hlm. 60.
18
Ibid, hlm. 59
19
Majda el muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Kencana, Jakarta, 2009, hlm.24-25
20
Ibid
bersifat pasif atau berlaku sebagai penjaga malam, melainkan harus aktif
melaksanakan upaya-upaya untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya dengan
cara mengatur kehidupan ekonomi sosial.
Perubahan konsepsi Negara hokum itu terjadi menurut Miriam Budiarjo, antara
lain karena banyaknya kecaman terhadap ekses-ekses dalam industralisasi dan system
kapitalis, tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekuasaan
secara merata serta kemenangan beberapa partai sosialis di Eropa. Demokrasi dalam
gagasan baru tersebut harus meluas mencakup dimensi ekonomi dengan suatu system
yang menguasai ketentuan-ketentuan ekonomi dan berusaha mmperkecil perbedaan
social dan ekonomi, terutama perbedaan-perbedaan yang timbul dari distribusi kekayaan
yang tidak merata.
21

Menurut Bagir Manan, konsepsi Negara hokum modern merupakan perpaduan
antara konsep Negara hokum dan Negara kesejahteraan. Di dalam konsep ini tugas
Negara atau pemerintah tidak semata-mata sebagai penjaga keamanan atau ketertiban
masyarakat saja, tetapi memikul tanggungjawab mewujudkan keadilan social,
kesejahteraan umum dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
22

Gagasan baru inilah yang dikenal sebagai welfare state (Negara kesejahteraan),
social service state (Negara yang memberikan pelayanan kepada masyarakat), atau
negara hukum material (dinamis) dengan ciri-ciri berbeda yang dirumuskan dalam
konsep negara hukum klasik(formal).
23
Perkembangan ini selanjtnya menjadi raison

21
Nimatul Huda, Lembaga Negara Masa Transisi.. hlm. 56.
22
Bagir Manan, Politik Perundang-undangan dalm Rangka Mengantisipasi Liberalisasi Perekonomian, Bandar
Lampung: FH-UNILA, 1996. hlm. 16.
23
Majda el muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam.. hlm. 25.
detre untuk melakukan revisi atas pemikiran Dicey dan Stahl, dua tokoh besar negara
hukum klasik.
3. Ciri-Ciri Negara Hukum
Menurut Julius Stahl, konsep Negara hokum yang disebutnya dengan istilah
rechtstaat itu mencakup empat elemen penting, yaitu:
a. Perlindungan hak asasi manusia
b. Pembagian atau pemisahan kekuasaan.
c. Pemerintahan berdasarkan undang-undang.
d. Peradilan tata usaha Negara.
Sedangkan A. V. Dicey mengetengahkan tiga ciri penting dalam setiap Negara
hokum yang disebutnya dengan istilah the rule of law sebagai berikut:
a. Supremasi absolut atau predominasi dari regular law untuk menentang pengaruh
dari arbitrary power dan meniadakan kesewenang-wenangan, prerogative atau
discretionary authority yang luas dari pemrintah.
b. Persamaan di hadapan hokum atau penundukan yang sama dari semua golongan
kepada ordinary caort; ini berarti bahwa tidak ada orang yang berada di atas hokum;
tidak ada peradilan administrasi negara.
c. Konstitusi adalah hasil dari the ordinary law of the land, bahwa hokum konstitusi
bukanlah sumber tetapi merupakan konsekuensi dari hak-hak individu yang
diumuskan dan ditegaskan oleh peradilan.
Meskipun antara konsep rechtstaat dengan the rule of law mempunyai perbedaan
latar belakang, tetapi pada dasarnya keduanya berkenaan dengan perlindungan atas hak-
hak kebebasan sipil warga Negara dari kemungkinan tindakan sewenang-wenang
kekuasaan Negara. Keempat prinsip rechtstaat yang dikembangkan oleh Julius Stahl
tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip Rule of law
yang dikembangkan oleh A. V. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara hokum modern
di zaman sekarang.
24

International Commission of Jurist dalam konferensinya di Bangkok tahun 1965
telah memperluas konsep mengenai Rule of Law, dan menekankan apa yang
dinamakannya The dynamic aspects of the Rule of Law in the modern age. Disamping
hak-hak politik, hak-hak social, dan ekonomi harus diakui dan dipelihara, dalam arti
bahwa harus dibentuk standar-standar dasar social dan ekonomi. Syrat-syarat dasar
untuk terselenggaranya pemerintahan yang demokratis di bawah Rule of Law ialah:
25

a. Perlindungan konstitusional, dalam arti bahwa konstitusi selain menjamin hak-hak
individu, harus menentukan pula cara procedural untuk memperoleh perlindungan
atas hak-hak yang dijamin;
b. Badan peradilan yang bebas dan tidak memihak (independent and impartial
tribunal);
c. Pemilihan umum yang bebas;
d. Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi;
e. Pendidikan Kewarganegaraan (civic education).
Dari uraian tentang Negara hokum modern di atas, menurut Jimly Asshiddiqie ada
dua belas prinsip pokok Negara hokum (rechtstaat) yang berlaku di zaman sekarang.
Kedua belas prinsip pokok tersebut merupakan pilar-pilar utama yang menyangga

24
Nimatul Huda, Lembaga Negara Masa Transisi.. hlm. 57.
25
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasarhlm. 60.
berdiri tegaknya satu Negara modern sehingga dapat disebut sebagai Negara Hukum
(The Rule of Law, ataupun rechtstaat) dalam arti yang sebenarnya.
Dua belas prinsip pokok Negara hokum modern ialah:
26

a. Supremasi Hukum (Supremacy of Law)
b. Persamaan dalam Hukum (Equality before the Law)
c. Asas Legalitas (Due Process o Law)
d. Pembatasan kekuasaan
e. Organ-organ Eksekutif Independen
f. Peradilan bebas dan tidak memihak
g. Peradilan Tata Usaha Negara
h. Peradilan Tata Negara
i. Perlindungan HAM
j. Bersifat Demokratis (Democratische Rechtstaat)
k. Berfungsi sebagai Sarana mewujudkan tujuan bernegara (Welfare Rechtstaat)
l. Transparasi dan Kontrol Sosial.
Selanjutnya M. Taher Ashary merumuskan Sembilan prisnsip Negara hokum yang
ideal, yaitu:
a. Prinsip kekuasaan sebagai amanah
b. Prinsip musyawarah
c. Prinsip keadilan
d. Prinsip persamaan
e. Prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia
f. Prinsip peradilan bebas

26
Jimly Asshiddiqie, Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta: Konstitusi Press, 2005. hlm. 154-162.
g. Prinsip perdamaian
h. Prinsip kesejahteraan, dan
i. Prinsip ketaatan rakyat.
27

Dari beberapa ciri, kriteria dan konsep yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh tersebut
diatas, secara umum negara hukum dikatakan mempunyai empat ciri. Pertama,
pemerintah bertindak semata-mata atas dasar hukum yang berlaku. Kedua, masyarakat
dapat naik banding di pengadilan terhadap keputusan pemerintah dan pemerintah taat
terhadap keputusan hakim. Ketiga, hukum sendiri adalah adil dan menjamin hak-hak
asasi manusia. Keempat, kekuasaan hakim independen dari kemauan pemerintah. Ciri
yang pertama menjamin kepastian hukum dan mencegah kesewenangan penguasa. Ciri
kedua menunjukkan bahwa penguasa pun berada di bawah hukum, bahwa penggunaan
kekuasaan di negara itu harus dipertanggungjawabkan dan tidak tanpa batas.
4. Konsep-Konsep Negara Hukum dalam Perbandingan
A. Konsep Negara Hukum Rule of Law
Konsep rule of law adalah konsep Negara hokum yang dipelopori oleh Negara-
negara Anglo Saxon; mula-mula dipelopori oleh A. V. Dicey (dari Inggris)
menekankan pada tiga tolok ukur atau unsur utama yaitu:
1) Supremasi Hukum (Supremacy of Law)
2) Persamaan didepan Hukum (equality before the law)
3) Konstitusi yang didasarkan atas hak-hak perorangan (the constitution based on
individual rights).
28


27
Lihat dalam disertasi M. Taher Ashary, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat dari Segi
Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Jakarta: Bulan Bintang, 1992. hlm.
79-111.
28
Padmo Wahyono, Konsep Yuridis Negara Hukum Islam, Bandung: Alumni, 1982. hlm. 73.
Ciri yang menonjol dari konsep Rule of Law ialah ditegakkannya hokum yang
adil dan tepat (just law), yang hukumnya bersumber pada putusan-putusan hakim/
pengadilan/ yurisprudensi yang mengikat secara umum. Oleh karena itu semua orang
kedudukannya sama di hadapan hokum, maka Ordinary Court (peradilan umum)
dianggap cukup untuk mengadili semua perkara termasuk perkara perbuatan
melanggar hokum oleh pemerintah. Jadi di Negara yang menerapkan Rule of Law
tidak ada peradilan administrasi Negara. Selain itu dalam Negara hokum yang
berdasarkan Rule of Law ini memisahkan antara Negara dan agama secara mutlak,
karena hukumnya lebih menekankan kepada kepentingan manusia baik secara public
maupun secara privat.

B. Konsep Negara Hukum Rechtstaat
Konsep Negara hokum (rechtstaat) sebenanya sudah dimulai sejak Plato dengan
istilah Nomoi, namun kemudian mulai popular kembali pada abad 17 sebagai
akibat situasi social politik yang didominir oleh absolutism, dan yang berjasa dalam
pemikiran Negara hokum tersebut adalah Immanuel Kant dan Friedricht Julius Stahl
yang memahami Negara hokum sebagai Nachtwakerstaat atau Nachtwachterstaat
(Negara jaga malam) yang tugasnya menjamin keamanan masyarakat yang
kemudian dikenal dengan gagasan Negara hokum liberal.
29

Konsep Stahl tentang Negara hokum dinamakan Negara hokum formil, ditandai
oleh empat unsur pokok, yaitu:
1) Pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia;
2) Negara berdasarkan pada teori trias politica;

29
Ibid, hlm. 7.
3) Pemerintahan diselengarakan berdasarkan undang-undang;
4) Ada peradilan administrasi Negara yang bertugas menangani kasus perbuatan
melanggar hokum oleh pemerintah.
30

Menurut konsep Sheltema unsur-unsur Negara hokum adalah:
1) Kepastian hokum
2) Persamaan
3) Demokrasi dan pemerintah yang melayani kepentingan umum.
Kalau dilihat konsep rechtstaat sejak awal di Eropa continental sangat menonjol
individualistiknya. Hal ini karena konsep Negara hokum tersebut berdasarkan
filsafat liberal yang individualistic. Selain itu juga konsep hokum ini hanya
menekankan kepentingan manusia dalam bermasyarakat dan bernegara saja,
sehingga memisahkan secara mutlak antara Negara dengan agama.
C. Konsep Negara Hukum Sosialis Komunis
31

Konsep Negara yang dianut oleh Negara-negara sosialis-komunis disebut dengan
Socialist legality, yaitu suatu konsep yang menempatkan hokum dibawah sosialisme
dan jaminan konstitusional tentang anti agama/Tuhan. Konsep ini memang tidak
dapat dikatakan sebagai konsep universal melainkan hanya sesuai bagi Negara
Komunis. Konsep Socialist legality ini dimaksudkan untuk mengimbangi konsep
Negara hokum barat dan Negara-negara sosialis-komunis.
Karakteristik yang nampak dalam konsep ini adalah: Pertama didasarkan pada
nilai-nilai social paguyuban. Kedua, hak-hak individu dikesampingkan guna
kepentingan social-komunal, sekalipun masih patut mendapat perlindungan namun

30
Ibid, hlm. 2.

31
Muhammad Tahrir Azhary, Negara Hukumhlm. 91-92.
tujuan utamanya adalah kepentingan social-komunal. Seperti pendapat Jaroszinky
sebagaimana dikutip Oemar Seno Adji, yang menyatakan bahwa Hak perseorangan
dapat disalurkan kepada prinsip-prinsip sosialisme, meskipun hak tersebut patut
mendapat perlindungan. Ketiga, Negara tidak hanya sekuler, yakni memisahkan
urusan keagamaan dengan urusan kenegaraan, namun Negara dalam konsep ini tidak
mengenal adanya agama.
D. Konsep Negara Hukum Islam
32

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa dalam mulk siyasiy ada dua macam bentuk
Negara hokum dalam Islam yaitu:
1) Siyasah Diniyah yang dapat diterjemahkan sebagai nomokrasi Islam
2) Siyasah Aqliyah yang dapat diterjemahkan sebagai nomokrasi sekuler.
Ciri pokok yang membedakan keduanya adalah pelaksanaan hokum Islam
(Syariah) dalam kehidupan negara dan hokum sebagai hasil pemikiran manusia.
Dalam nomokrasi Islam baik syariah maupun hokum yang didasarkan pada rasio
manusia, kedua-duanya berfungsi dan berperan dalam Negara. Sebaliknya
nomokrasi sekuler hanya menggunakan hokum semata-mata sebagai hasil pemikiran
mereka. Hal ini memiliki banyak persamaan dengan konsep Negara hokum menurut
hokum barat. Nomokrasi Islam adalah Negara hokum yang mempunyai prinsip-
prinsip sebagaimana berikut:
1) Prinsip kekuasaan sebagai amanah
2) Prinsip musyawarah
3) Prinsip keadilan
4) Prinsip persamaan

32
Ibid, hlm. 84-88.
5) Prinsip pengakuandan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia
6) Prisnsip peradilan bebas
7) Prinsip perdamaian
8) Prinsip kesejahteraan
9) Prinsip ketaatan rakyat.
33

Perbedaan utama konsep Nomokrasi Islam dengan konsep teokrasi adalah
Nomokrasi Islam para penguasa Negara ialah orang biasa yang bukan merupakan
lembaga kekuasaan rohani, dengan suatu ciri yang menonjol adalah sifatnya yang
egaliter yang berarti adanya kesamaan ha kantar warga Negara baik penduduk biasa
maupun alim agama, serta baik penduduk beragama Islam maupun yang tidak
beragama Islam.
B. INDONESIA SEBAGAI NEGARA HUKUM
1. Landasan Yuridis Negara Hukum Indonesia
Konstitusi kita, UUD 1945 secara nyata menyatakan Indonesia sebagai negara
hokum yaitu pada pasal 1 ayat (3) UUD 1945 berbunyi: Negara Indonesia negara
hokum. Selain itu, dalam Penjelasan Umum UUD 1945 tentang Sistem Pemerintahan
Negara, dijelaskan bahwa:
Indonesia adalah Negara yang berdasar atas hokum (Rechtstaat) tidak berdasar atas
kekuasaan (Machtstaat);
System konstitusional. Pemerintah berdasar atas system konstitusi (hokum dasar),
tidak bersifat absolutism (kekuasaan yang tidak terbatas).

33
Lihat M.Tahir Azhary, Negara Hukum, Jakarta: Bulan Bintang, 1991. hlm. 81-100 Lihat pula dalam disertasi M.
Taher Ashary, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam,
Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Jakarta: Bulan Bintang, 1992. hlm. 79-111.

Rumusan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa:
a. Negara Indonesia berdasar atas hokum, bukan berdasarkan kekuasaan semata;
b. Pemerintah Negara berdasar atas suatu konstitusi dengan kekuasaan pemerintah
terbatas, tidak absolut.
Konsepsi Negara hokum Indonesia adalah konsep Negara hokum materiil atau
Negara hokum dalam arti luas, yang berarti pemerintah berperan aktif membangun
kesejahteraan umum di berbagai lapangan kehidupan.
Bukti Indonesia menggunakan konsep Negara hukum materiil adalah sebagai berikut:
1) Pembukaan UUD 1945 Alinea IV, yang berbunyi: memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan
social;
2) Pasal 33 dan 34 UUD 1945, yang menegaskan bahwa Negara turut aktif dan
bertanggung jawab atas perekonomian Negara dan kesejahteraan rakyat.
34

2. Perwujudan Negara Hukum Indonesia
Di dalam Negara hokum, setiap aspek tindakan pemerintah baik dalam lapangan
pengaturan maupun dalam lapangan pelayanan harus didasarkan pada peraturan
perundang-undangan atau berdasarkan pada legalitas. Artinya, pemerintah tidak dapat
melakukan tindakan tanpa dasar kewenangan. Unsur-unsur yang berlaku umum bagi
setiap Negara hokum yakni sebagai berikut:
1) Adanya suatu system pemerintahan Negara yang didasarkan atas kedaulatan rakyat;
2) Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus berdasar atas
hokum atau perundang-undangan;

34
http://www.scribd.com/doc/58730825/Makalah-Kelompok-3-Negara-Hukum-Finish
3) Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (warga negara);
4) Adanya pembagian kekuasaan dalam Negara;
5) Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechterlijke controle) yang bebas
dan mandiri, dalam arti lembaga peradilan tersebut benar-benar tidak memihak dan
tidak berada di bawah pengaruh eksekituf.
6) Adanya peran nyata dari anggota-anggota masyarakat atau warga Negara untuk turut
serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah;
7) Adanya system perekonomian yang menjamin pembagian yang merata sumberdaya
yang diperlukan bagi kemakmuran warga Negara.
Unsur-unsur Negara hokum ini biasanya terdapat dalam konstitusi. Oleh karena itu,
perwujudan secara operasional dari konsep Negara hokum adalah konstitusi Negara
tersebut.
Operasional dari konsep Negara hokum di Indonesia dituangkan dalam konstitusi
Negara, yaitu UUD 1945. UUD 1945 merupakan hokum dasar Negara yang menempati
posisi sebagai hokum Negara tertinggi dalam tertib hokum (legal order) Indonesia. Di
bawah UUD 1945 terdapat berbagai aturan perundang-udangan yang bersumber dan
berdasarkan pada UUD 1945.
35

UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
menjelaskan jenis dan hierarkis peraturan perundang-undangan di Indonesia, yaitu
sebagai berikut:
1) Undang-Undang Dasar 1945;
2) Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu);
3) Peraturan Pemerintah (PP);

35
Ibid
4) Peraturan Presiden (Perpres);
5) Peraturan Daerah (PD).
Materi muatan, yaitu materi yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan sesuai
dengan jenis, fungsi, dan hierarki peraturan perundang-undangan, dari peraturan
perundang-undangan di atas dapat dijabarkan seperti berikut ini:
a) UUD 1945, merupakan hokum dasar penjabaran dan garis besar hokum dalam
penyelenggaraan Negara RI yang memuat atau meliputi:
(1) Hak-hak asasi manusia;
(2) Hak dan kewajiban warga Negara;
(3) Pelaksanaan dan penegakan kedaulatan Negara serta pembagian kekuasaan
Negara;
(4) Wilayah Negara dan pembagian daerah;
(5) Kewarganegaraan dan kependudukan;
(6) Keuangan Negara.
b) Undang_undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu)
Undang-undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh
Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (Pasal 20
ayat 1 dan 2 UUD 1945).
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) diatur dalam Pasal
22 UUD 1945. Perpu dibuat oleh Presiden untu menetapkan peraturan
pemerintah sebagai pengganti undang-undang dalam hal ihwal kepentingan
yang memaksa pemerintah untuk bertindak lekas dan cepat, dengan
ketentuan:
(1) Perpu harus diajukan kepada DPR dalam persidangan yang berikut;
(2) DPR dapat menerima atau menolak Perpu dengan tidak mengadakan
perubahan;
(3) Jika DPR menerima maka Perpu menjadi UU, bila menolak maka Perpu
tersebut harus dicabut.
c) Peraturan Pemerintah (PP), materi muatan PP berisi materi untuk menjalankan UU
sebagaimana mestinya.
d) Peraturan Presiden, materi muatan Perpres berisi materi yang diperintahkan oleh UU
atau materi melaksanakan PP.
e) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh DEwan
Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. Terdiri atas
Peraturan Daerah Provinsi, Peraturan Daerah Kota/Kabupaten, dan Peraturan Desa
(Perdes).
36

3. Prinsip-Prinsip Negara Hukum Indonesia
Negara hokum Indonesia menurut UUD 1945 mengandung prinsip-prinsip sebagai
berikut:
a. Norma hukumnya bersumber pada Pancasila sebagai dasar dan adanya hierarki
jenjang norma hokum.
b. System konstitusional, yaitu UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan di
bawahnya membentuk kesatuan system hokum.
c. Kedaulatan rakyat atau prinsip Demokrasi. Hal ini tampak pada Pembukaan UUD
1945: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

36
http://www.scribd.com/doc/58730825/Makalah-Kelompok-3-Negara-Hukum-Finish
permusyawaratan/perwakilan dan Pasal 1A ayat 2 UUD 1945: kedaulatan berada
di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.
d. Prinsip persamaan kedudukan dalam hokum dan pemerintahan (Pasal 27A ayat (1)
UUD 1945).
e. Adanya organ pembentuk dalam hokum dan pemerintahan (DPR dan Presiden).
f. System pemerintahannya adalah presidensil.
g. Kekuasaan kehakiman yang bebas dari kekuasaan lain (Eksekutif).
h. Hokum bertujuan melindungi untuk melindungi segenap bangasa dan seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejhteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan social.
i. Adanya jaminan akan hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia (Pasal 28A-
28J UUD 1945).
37

4. Negara Hukum Pancasila
Seperti telah dinyatakan dalam Penjelasan UUD 1945 bahwa negara
Indonesia adalah negara hukum (Rechtsstaat) tidak berdasarkan atas kekuasaan
belaka (Machtsstaat), yang dalam Perubahan UUD 1945 penjelasan bahwa Indonesia
merupakan negara hukum sangatlah bernilai konstitutif kemudian ditegaskan ke
dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (UUD NRI Tahun 1945) yang menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah
negara hukum. Dalam Perubahan UUD 1945 inilah tidak disebutkan lagi bahwa
Indonesia menganut konsep Rechtsstaat namun lebih diterjemahkan kedalam konsep
negara hukum. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah konsep negara hukum yang

37
Ibid
sesungguhnya dianut oleh Indonesia pasca Perubahan UUD 1945, apakah itu
Rechtsstaat ataukah the Rule of Law (?)Pertanyaan yang muncul dan tidak kalah
penting juga adalah apakah sebelum dilakukannya Perubahan UUD 1945 negara
Indonesia memang benar-benar sepenuhnya menganut konsep Rechtsstaat (?).
Untuk dapat mengetahui apakah konsep negara hukum yang sebenarnya
dianut oleh negara Indonesia adalah dengan melihat pada Pembukaan dan Pasal-
pasal dalam UUD NRI Tahun 1945 sebagai keseluruhan sumber politik hukum
Indonesia. Adapun yang menjadikan dasar penegasan keduanya sebagai sumber
politik hukum nasional adalah: Pertama, Pembukaan dan Pasal-pasal dalam UUD
NRI Tahun 1945 memuat tujuan, dasar, cita hukum, dan norma dasar Negara
Indonesia yang harus menjadi tujuan dan pijakan dari politik hukum Indonesia.
Kedua, Pembukaan dan Pasal-pasal dalam UUD NRI Tahun 1945 mengandung nilai
khas yang bersumber dari pandangan dan budaya bangsa Indonesia yang diwariskan
oleh nenek moyang bangsa Indonesia.
38

Dengan melihat pada dua parameter tersebut jelas bahwa konsep yang dianut oleh
negara hukum Indonesia sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini bukanlah
konsep Rechtsstaat dan bukan pula konsep the Rule of Law, melainkan membentuk
suatu konsep negara hukum baru yang bersumber pada pandangan dan falsafah hidup
luhur bangsa Indonesia. Konsep baru tersebut adalah negara hukum Pancasila
sebagai kristalisasi pandangan dan falsafah hidup yang sarat dengan nilai-nilai etika dan
moral yang luhur bangsa Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan
UUD 1945 dan tersirat di dalam Pasal-pasal UUD NRI Tahun 1945. Dapat dipahami

38
Moh. Mahfud M.D., Membangun Politik Hukum Menegakkan Konstitusi, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2006), hlm.
23.
bahwa Pancasila merupakan norma dasar negara Indonesia (grundnorm) dan juga
merupakan cita hukum negara Indonesia (rechtsidee) sebagai kerangka keyakinan
(belief framework) yang bersifat normatif dan konstitutif. Bersifat normatif karena
berfungsi sebagai pangkal dan prasyarat ideal yang mendasari setiap hukum positif, dan
bersifat konstitutif karena mengarahkan hukum pada tujuan yang hendak dicapai.
Pada tahap selanjutnya Pancasila menjadi pokok kaidah fundamental negara
staatsfundamentalnorm dengan dicantumkan dalam Pembukaan Undang-Undang
Dasar Tahun 1945 (UUD 1945).
Undang-Undang Dasar menciptakan pokok-pokok pikiran ini dalam pasalnya. Dengan
demikian Pancasila terdapat dalam pembukaan sebagai dasar negara yang mempunyai
kedudukan sebagai kaidah pokok negara (staatsfundamentalnorm)
39
yang dijabarkan
menjadi pasal-pasal dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 sebagai norma dasar
(kaidah dasar). Secara singkat dapat dikatakan bahwa Pancasila sebagai kaidah pokok
negara diwujudkan menjadi kaidah dasar dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945,
atau dengan perkataan lain Pancasila sebagai das sollen diwujudkan menjadi pasal-pasal
sebagai das sein dari Pancasila tadi. Dengan demikian tepatlah kalau dikatakan bahwa
Pancasila menjiwai pasal-pasal dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Oleh
karena itu memang beralasan kalau kita menamakan cita negara kita adalah cita Negara
Pancasila, yang merupakan realisasi atau perwujudan (gestaltung) dari Pancasila.
Konsep negara hukum Pancasila inilah yang menjadi karakteristik utama dan
membedakan sistem hukum Indonesia dengan sistem hukum lainnya, dimana jika
dikaitkan dengan literatur tentang kombinasi antara lebih dari satu pilihan nilai sosial,

39
Hans nawiasky, Allgemeine Rechtslehre Als System Der Rechtlichen Grundbegriffc, (Koln: Benziger, 1948), hlm.
30
disebut sebagai pilihan prismatik yang dalam konteks hukum disebut sebagai hukum
prismatik.
40
Dapat dipahami bahwa negara hukum Pancasila adalah bersifat prismatik
(hukum prismatik). Hukum prismatik adalah hukum yang mengintegrasikan unsur-unsur
baik dari yang terkandung di dalam berbagai hukum (sistem hukum) sehingga terbentuk
suatu hukum yang baru dan utuh.
Adapun karakteristik dari negara hukum Pancasila adalah sebagai berikut.
41

Pertama, merupakan suatu negara kekeluargaan. Dalam suatu negara kekeluargaan
terdapat pengakuan terhadap hak-hak individu (termasuk pula hak milik) atau HAM
namun dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional (kepentingan bersama) diatas
kepentingan individu tersebut. Hal ini di satu sisi sejalan dengan nilai sosial
masyarakat Indonesia yang bersifat paguyuban, namun disisi lainjuga sejalan pergeseran
masyarakat Indonesia ke arah masyarakat modern yang bersifat patembayan. Hal ini
sungguh jauh bertolak belakang dengan konsep negara hukum barat yang menekankan
pada kebebasan individu seluas-luasnya, sekaligus bertolak belakang dengan konsep
negara hukum sosialisme-komunisme yang menekankan pada kepentingan komunal
atau bersama. Dalam negara hukum Pancasila, diusahakan terciptanya suatu harmoni
dan keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan nasional (masyarakat)
dengan memberikan pada negara kemungkinan untuk melakukan campur tangan
sepanjang diperlukan bagi terciptanya tata kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai
dengan prinsip-prinsip Pancasila.
Kedua, merupakannegara hukum yang berkepastian dan berkeadilan. Dengan sifatnya
yang prismatik maka konsep negara hukum Pancasila dalam kegiatan berhukum baik

40
Moh. Mahfud M.D., Membangun Politik Hukum hlm. 23.
41
Ibid, hlm. 23-30.
dalam proses pembentukan maupun pengimplementasiannya dilakukan dengan memadukan
berbagai unsur yang baik yang terkandung dalam konsep Rechtsstaat maupun the Rule of
Law yakni dengan memadukan antara prinsip kepastian hukum dengan prinsip
keadilan,serta konsep dan sistem hukum lain, misalnya sistem hukum adat dan sistem
hukum agama yang hidup di nusantara ini, sehingga terciptalah suatu prasyarat bahwa
kepastian hukum harus ditegakkan demi menegakkan keadilan dalam masyarakat sesuai
dengan prinsip-prinsip Pancasila.
Ketiga, merupakan religious nation state. Dengan melihat pada hubungan antara
negara dan agama maka konsep negara hukum Pancasila tidaklah menganut
sekulerisme tetapi juga bukanlah sebuah negara agama seperti dalam teokrasi dan
dalam konsep Nomokrasi Islam. Konsep negara hukum Pancasila yang adalah sebuah
konsep negara yang berketuhanan. Berketuhanan adalah dalam arti bahwa kehidupan
berbangsa dan bernegara Indonesia didasarkan atas kepercayaan kepada Ketuhanan
Yang Maha Esa, dengan begitu maka terbukalah suatu kebebasan bagi warga negara
untuk memeluk agama dan kepercayaan sesuai keyakinan masing-masing. Konsekuensi
logis dari pilihan prismatik ini adalah bahwa atheisme dan juga komunisme dilarang karena
telah mengesampingkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Keempat, memadukan hukum sebagai sarana perubahan masyarakat dan hukum
sebagai cermin budaya masyarakat. Dengan memadukan kedua konsep ini negara
hukum Pancasila mencoba untuk memelihara dan mencerminkan nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat (living law) sekaligus pula melakukan positivisasi terhadap living
law tersebut untuk mendorong dan mengarahkan masyarakat pada perkembangan dan
kemajuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila.
Kelima, basis pembuatan dan pembentukan hukum nasional haruslah didasarkan
pada prinsip hukum yang bersifat netral dan universal, dalam pengertian bahwa harus
memenuhi persyaratan utama yaitu Pancasila sebagai perekat dan pemersatu;
berlandaskan nilai yang dapat diterima oleh semua kepentingan dan tidak mengistimewakan
kelompok atau golongan tertentu; mengutamakan prinsip gotong royong dan toleransi;
serta adanya kesamaan visi-misi, tujuan dan orientasi yang sama disertai dengan saling
percaya.
5. Konsep Penyelenggaraan Negara Hukum Pancasila
Dalam melakukan perumusan konsep penyelenggaraan negara Indonesia berdasarkan
konsep negara hukum Pancasila, sebelumnya perlu diketahui apakah tujuan
penyelenggaraan negara Indonesia, atau apakah tujuan negara Indonesia. Hal ini penting
karena konsep penyelenggaraan negara hukum Pancasila harus selalu tertuju pada
terwujudnya tujuan negara Indonesia. Tujuan negara Indonesia secara definitif tertuang
dalam alenia keempat Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 yaitu :
1) Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia;
2) Memajukan kesejahteraan umum;
3) Mencerdaskan kehidupan bangsa;
4) Ikut melaksanakan perdamaian dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.
Terwujudnya tujuan negara ini menjadi kewajiban negara Indonesia sebagai organisasi
tertinggi bangsa Indonesia yang penyelenggaraannya harus didasarkan pada lima dasar
negara (Pancasila). Dari sini dapat dipahami bahwa Pancasila merupakan pedoman utama
kegiatan penyelenggaraan negara yang didasarkan atas prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
Dalam rangka terwujudnya tujuan negara Indonesia tersebut maka dalam setiap
kebijakan negara yang diambil oleh para penyelenggara negara (termasuk di dalamnya
upaya melakukan pembangunan sistem hukum nasional)dalam upaya penyelenggaraan
negara hukum Pancasila harus sesuai dengan empat prinsip cita hukum (rechtsidee)
Indonesia (Pancasila), yakni:
42

1) Menjaga integrasi bangsa dan negara baik secara ideologis maupun secara
teritorial;
2) Mewujudkan kedaulatan rakyat (demokrasi) dan negara hukum (nomokrasi)
sekaligus, sebagai satu kesatuan tidak terpisahkan;
3) Mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia;
4) Menciptakan toleransi atas dasar kemanusiaan dan berkeadaban dalam hidup beragama.
Oleh karenanya dalam penyelenggaraan negara hukum Pancasila, harus dibangun
suatu sistem hukum nasional yang:
43

1) Bertujuan untuk menjamin integrasi bangsa dan negara baik secara ideologis maupun
secara teritorial;

42
Moh. Mahfud M.D., Membangun Politik Hukum hlm. 18 Lihat juga Arief Hidayat, Empat Kaidah Penuntun,
Materi Kuliah Politik Hukum yang disampaikan pada perkuliahan Program Magister Ilmu Hukum Undip 2011,
hlm. 2.
43
Mahfud M.D., Membangun Politik Hukum hlm. 19. Lihat juga: Arief Hidayat, Empat Kaidah Penuntun hlm.
3.
2) Berdasarkan atas kesepakatan rakyat baik diputuskan melalui musyawarah mufakat
maupun pemungutan suara, dan hasilnua dapat diuji konsistensinya secara yuridis
dengan rechtsidee;
3) Bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan sosial;
4) Bertujuan untuk mewujudkan toleransi beragama yang berkeadaban, dalam arti
tidak boleh mengistimewakan atau mendiskriminasikan kelompok-kelompok atau
golongan-golongan tertentu.
Pembangunan sistem hukum nasional tersebut, bersumber pada dua sumber hukum
materiil, yakni sumber hukum materiil pra kemerdekaan dan sumber hukum materiil pasca
kemerdekaan. Adapun yang termasuk sumber hukum materiil pra kemerdekaan terdiri dari
(1) hukum adat asli, sebagai suatu living law yang telah hidup dan berkembang dalam
masyarakat Indonesia; (2) hukum agama baik hukum Islam maupun hukum agama lainnya;
(3) hukum Belanda; (4) hukum Jepang. Sedangkan sumber hukum materiil pasca
kemerdekaan terdiri dari: (1) instrumen hukum internasional; (2) perkembangan hukum
dalam civil law system; (3) perkembangan hukum dalam common law system.
Pada tahap selanjutnya dari dua sumber hukum materiil pra dan pasca
kemerdekaan ini dibangunlah suatu sistem hukum nasional yang ditujukan untuk
melakukan perubahan sistem hukum nasional dan pembaharuan sistem hukum
nasional. Pembangunan sistem hukum nasional ini dilakukan dengan didasarkan pada
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai titik dimulainya pembangunan
sistem hukum nasional dan didasarkan pada UUD Tahun 1945 (atau UUD NRI Tahun
1945, pasca perubahan UUD) dimana di dalam pembukaan dan pasal-pasal dalam
undang-undang dasar memuat tujuan, dasar, cita hukum, dan norma dasar negara
Indonesia yang harus menjadi tujuan dan pijakan dari pembangunan sistem hukum
nasional.
Dengan didasarkan pada prinsip-prinsip Pancasila yang bersifat prismatik inilah
maka diharapkan lahir sebuah sistem hukum nasional Indonesia yang seutuhnya
sehingga dapat mewujudkan tujuan negara Indonesia sebagaimana yang tercantum
dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.
Adapun dalam pembangunan sistem hukum nasional dewasa ini (pasca reformasi)
tidak terlepas dari berbagai hambatan baik itu yang berasal dari dalam (intern)
maupun luar (ekstern). Hambatan yang berasal dari dalam antara lain: Pertama,
budaya masyarakat yang cenderung feodalistik dan paternalistik menyebabkan hukum
menjadi elitis dan korup. Kedua, tidak adanya kesadaran politik kebangsaan dan
kenegaraan (politik nasional) para penyelenggara negara, sehingga hukum yang
notabene merupakan suatu hasil dari proses politik tidak mendasarkan dirinya pada
kepentingan nasional namun hanya pada kepentingan kelompok atau golongan tertentu.
Sedangkan hambatan yang berasal dari luar adalah: Pertama, pengaruh globalisasi
yang membawa ideologi-ideologi lain diluar Pancasila sehingga mempengaruhi
pemahaman yang utuh terhadap Pancasila serta mempengaruhi pola pikir (mind set)
masyarakat. Kedua, adanya tekanan politik luar negeri Negara adikuasa, sehingga terjadi
pertentangan antara kepentingan nasional dan kepentingan asing yang sangat mempengaruhi
proses pembangunan sistem hukum nasional.



BAB III
KESIMPULAN

Negara hukum adalah Negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan
kepada warga negaranya. Ada dua unsur dalam negara hukum, yaitu: Pertama, hubungan
antara yang memerintah dan yang diperintah. Kedua, norma objektif yang harus memenuhi
syarat bahwa tidak hanya secara formal, melainkan dapat dipertahankan berhadapan dengan
idea hukum. Negara hukum memiliki unsur-unsur, ciri-ciri, dan prinsip yang mendasar. Ada
berbagai jenis sistem hukum yang berbeda yang dianut oleh negara-negara di dunia pada
saat ini, antara lain Konsep negara hukum rule of law, konsep negara hukum rechtstaat,
konsep negara hukum sosialis komunis dan konsep negara hukum Islam. Konsepsi negara
hukum Indonesia adalah konsep negara hukum materiil atau negara hukum arti luas, yang
berarti pemerintah berperan aktif membangun kesejahteraan umum di berbagai lapangan
kehidupan.
Penyelenggaraan Negara Republik Indonesia ditujukan untuk mewujudkan tujuan
negara sebagaimana tercantum dalam alenia keempat Pembukaan UUD NRI Tahun
1945 yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan perdamaian
dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Penyelenggaraan Negara Republik Indonesia dilakukan dengan melakukan pembangunan
sistem hukum nasional yang didasarkan pada suatu konsep khusus, yakni konsep negara
hukum Pancasila yang bersifat prismatik yang berbeda dengan konsep negara hukum
lainnya. Bersifat prismatik artinya mengintegrasikan unsur-unsur baik dari yang
terkandung di dalam berbagai hukum (sistem hukum) sehingga terbentuk suatu hukum
yang baru dan utuh, yang dalam hal ini menghasilkan suatu perumusan bahwa negara
hukum Pancasila (1) merupakan suatu negara kekeluargaan; (2) merupakannegara hukum
yang berkepastian dan berkeadilan; (3) merupakan religious nation state; (4) memadukan
hukum sebagai alat perubahan masyarakat dan hukum sebagai cermin budaya masyarakat.
Pembangunan sistem hukum nasional atau sistem hukum Pancasila dilakukan dengan
bersumber pada dua sumber hukum materiil yakni sumber hukum materiil pra
kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, yang kemudian dilakukan dengan didasarkan
pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai titik dimulainya
pembangunan sistem hukum nasional dan didasarkan pada UUD Tahun 1945 (atau UUD
NRI Tahun 1945, pasca perubahan UUD) dimana di dalam pembukaan dan pasal-
pasal dalam undang-undang dasar memuat tujuan, dasar, cita hukum, dan norma dasar
negara Indonesia yakni Pancasila. Dengan begitu maka diharapkan dapat tercipta suatu
sistem hukum nasional yang:(1) dapat menjamin integrasi bangsa dan negara baik
secara ideologis maupun secara teritorial; (2) berdasarkan atas kesepakatan rakyat baik
diputuskan melalui musyawarah mufakat maupun pemungutan suara, dan hasilnua
dapat diuji konsistensinya secara yuridis dengan rechtsidee; (3) dapat mewujudkan
kesejahteraan umum dan keadilan sosial; (4) dapat mewujudkan toleransi beragama yang
berkeadaban, dalam arti tidak boleh mengistimewakan atau mendiskriminasikan kelompok-
kelompok atau golongan-golongan tertentu.




DAFTAR PUSTAKA
Ashary, M. Taher, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat dari Segi
Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Jakarta:
Bulan Bintang, 1992.

Azhary, M.Tahir, Negara Hukum, Jakarta: Bulan Bintang, 1991.

Asshiddiqie, Jimly, Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta: Konstitusi Press, 2005.

Budiardjo, Mirriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT.Gramedia, Jakarta,1983.

Fuady, Munir, Teori Negara Hukum Modern (Rechtstaat), Bandung: PT. Refika Aditama, 2009.

Gautama, Sudargo, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung, 1973.

Hadjon, Philipus M., Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Di Indonesia, PT.bina ilmu, Surabaya,
tt.

Hidayat, Arief, Empat Kaidah Penuntun, Materi Kuliah Politik Hukum yang disampaikan pada
perkuliahan Program Magister Ilmu Hukum Undip 2011.

Huda, Nimatul, Lembaga Negara Masa Transisi Menuju Demokrasi, Yogyakarta: UII Press,
2007.

Manan, Bagir, Politik Perundang-undangan dalm Rangka Mengantisipasi Liberalisasi
Perekonomian, Bandar Lampung: FH-UNILA, 1996.

Moh. Mahfud M.D., Membangun Politik Hukum Menegakkan Konstitusi, (Jakarta: Pustaka
LP3ES, 2006).

Muhtaj, Majda el, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Kencana, Jakarta, 2009.

Nawiasky, Hans, Allgemeine Rechtslehre Als System Der Rechtlichen Grundbegriffc, (Koln:
Benziger, 1948).

Rahardjo, Satjipto, Negara Hukum Yang Membahagiakan Rakyatnya, Yogyakarta :Genta
Publishing, tt.

Soemantri, Sri, Prosedur Dan Sistem Perubahan Konstitusi, Bandung: Alumni, 1987.

Wahyono, Padmo, Konsep Yuridis Negara Hukum Islam, Bandung: Alumni, 1982.
http://www.scribd.com/doc/58730825/Makalah-Kelompok-3-Negara-Hukum-Finish.

http://www.scribd.com/doc/57575503/TEORI2-NEGARA-HUKUM.

Anda mungkin juga menyukai