Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

PEMBELAJARAN PKN DI SD

ARIFAH RAHMAWATI
824357718
TUGAS RESUME
MODUL 2
KARAKTERISTIK PKN SEBAGAI
PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL

KB 1
PENDEKATAN PKN SEBAGAI
PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DI SD

Konsep Pendidikan Nilai secara teoritik, di kemukakan oleh Hermann (1972)
value is neither taught nor cought, it is learned,
Artinya bahwa substansi nilai tidaklah semata mata ditangkap dan diajarkan tetapi lebih jauh di
cerna dalam kualitas pribadi seseorang melalui proses belajar.

Dalam konteks pendidikan, IPS dan PKN merupakan mapel yang sarat nilai sosial, pendidikan nilai
substansi dan proses pengembangan nilai petriotisme, seperti cinta tanah air, hormat pada pahlawan
untuk melahirkan individu sebagai warganegara yang cerdas dan baik, rela berkorban untuk bangsa
dan Negara.

Secara elaboratif dimensi tujuan ini dirinci oleh Bloom dkk (1962) menjadi tujuan pengembangan
kognitif, afektif dan psikomotorik, yakni pengembangan pengetahuan dan pengertian, nilai dan
sikap, dan keterampilan psikomotorik.

Dalam UU Sisdiknas 20/2003 Pasal 1 butir 1
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar pesdik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Prinsip Pendidikan:
1) Diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan
2) Sebagai suatu keasatuan yang sistematik
3) Sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan pesdik
4) Diselenggarakan dengan memberi keteladanan
5) Mengembangkan budaya carlistung
6) Memberdayakan semua komponen masyarakat

Alisyahbana (1976) mengatakan bahwa
Values as integrating forces in personality, society, and
culture
Nilai merupakan kekuatan perekat-pemersatu dalam diri,
masyarakat dan kebudayaan.

Sanusi (1998), Winaputra (2001)
Secara psikologis dan social yang dimaksudkan cerdas itu
bukanlah cerdas secara rasional tetapi juga cerdas
emosional, cerdas social dan cerdas spiritual.
Dengan kata lain, WNI yang dikembangkan adalah individu
yang cerdas pikirannya, perasaannya dan perilakunya.

Dalam UU RI No.20/2003 tentang Ssisdiknas Pasal 3
Tujuan akhir dari pendidikan adalah untuk berkembangnya
potensi pesdik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.


Perilaku moral yang ada dalam
masyarakat Barat adalah:
1) Vandalism dan kekerasan
2) Mencuri
3) Menyontek
4) Tidak hormat pada pejabat public
5) Kekejaman terhadap teman seusia
6) Menyerang keyakinan rang lain
yang berbeda
7) Bicara kasar
8) Pelecehan seksual
9) Orientasi pada diri sendiri
10) Perilaku merusak diri sendiri



Melihat keadaan itu, perlu upaya
pendidikan nilai moral:
1) Pendidikan nilai merupakan kebutuhan
sosiokultural yang jelas dan mendesak
2) Pewarisan nilai antar generasi
3) Peranan sekolah sebagai wahana
psikopedagogis dan sosiopedagogis
4) Terdapat landasan etika umum
5) Demokrasi
6) Pertanyaan moral
7) Dukungan yang mendasar dan luas
bagi pendidikan nilai
8) Komitmen yang kuat terhadap
pendidikan moral
9) Pendidikan nilai adalah pekerjaan yang
dapat dan harus dilakukan.


Dilihat substansi dan prosesnya, menurut Lickona (1992), yang perlu dikembangkan
dalam pendidikan nilai adalah good character yang mengandung 3 dimensi moral
yang dipakai dalam pendidikan nilai di Indonesia,yaitu:
1) Wawasan Ketuhanan YME dalam dimensi wawasan moral
2) Perasaan mengabdi kepada Tuhan YME dalam dimensi perasaan moral
3) Perilaku moral kekhalifahan dalam dimensi perilaku moral

Konsepsi pendidikan moral Piaget menitikberatkan pada pengembangan
kemampuan mengambil keputusan dan memecahkan masalah moral dalam
kehidupan diadaptasikan dalam pendidikan nilai di Indonesia dalam konteks
demokrasi konstitusional Indonesia dan sosio-kultural masyarakat yang ber-Bhineka
Tunggal Ika termasuk keyakinan agama.

Konsepsi pendidikan nilai moral Kohlberg menitikberatkan penalaran moral melalui
pendekatan klarifikasi nilaiyang memberi kebebasan pesdik memilih posisi moral
dalam konteks pembahasan nilai selain nilai aqidah sesuai keyakinan agama masing-
masing.
Semua teori pendidikan nilai barat antara
lain teori Piaget, Kohlberg, dan Lickona
dapat digunakan sebagai sumber
akademis dalam membangun desain
penelitian pendidikan nilai di Indonesia
dengan cara mengambil secara adptif
sesuai konteks sosio-kultural dan sosio
religious masyarakat Indonesia.