Anda di halaman 1dari 29

1

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG


MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN
PERTANIAN DI KABUPATEN DEMAK


ZAENIL MUSTOPA
Prof. Dr. H. PURBAYU BUDI SANTOSA, MS

ABSTRACT

This research is aimed to know about the factors that influence to change of
farming function in Demak Regency. This issue is important sice farming was the
main sector and had important role for economic and also employment . On this
research the independent variables are the number of population, the number of
industries, and also domestic income (PDRB)
The research is analized with regression by ordinary least square method and
using semilog model for this estimation. Hence, the change of farming function is
analized by graphical method.
The result of this research shows that all the independent variables has
positive relationship to the change of farming function. But only two variables are his
significane, that are number of population and number industries. From the
grapichal method analysis we know that the number of change of farming function is
increase from year to year. Most of the phenomenom is used to housing and
industrial need.

Keywords : change of farming function, number of population and industries,
domestic income.









2



PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di Provinsi Jawa Tengah sendiri sektor pertanian dapat dikatakan menjadi
salah satu penggerak utama dari roda perekonomian. Bahkan Provinsi Jawa Tengah
menjadi salah satu sentra produksi padi di indonesia. Hal ini dapat kita pahami karena
wilayah ini mempunyai lahan pertanian yang luas serta memiliki tingkat kesuburan
yang tinggi jika dibandingkan daerah lainnya. Salah satu bentuk dari pentingnya
sektor pertanian di Jawa Tengah adalah pada penyerapan tenaga kerja. Pada Tabel 1.1
ini merupakan jumlah penduduk di Jawa Tengah yang bekerja menurut lapangan
usaha.
Tabel 1.1
Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan
Usaha Utama di Jawa Tengah pada Tahun 2004-2008

Tahun Sektor pertanian Sektor industri Gabungan Sektor lain Total
2004 6.242.391 (42%) 2.393.068 (16%) 6.294.638 (42%) 14.930.097
2005 5.875.292 (38%) 2.596.815 (17%) 7.183.196 (45%) 15.655.303
2006 5.562.775 (37%) 2.725.533 (18%) 6.922.623 (45%) 15.210.931
2007 6.147.989 (38%) 2.765.644 (17%) 7.390.425 (45%) 16.304.058
2008 5.697.121 (38%) 2.703.427 (18%) 7.063.110 (44%) 14.930.097
Sumber:BPS, Jawa Tengah dalam angka, 2009
Dari Tabel 1.1 tersebut kita melihat bahwa pada tahun 2004 sektor pertanian
menyumbang 42% tenaga kerja di Jawa Tengah, akan tetapi pada tahun 2005
mengalami penurunan menjadi 38%. Pada 2006 kembali mengalami penurunan
menjadi 37%, dan pada tahun 2007 dan 2008 kembali mengalami peningkatan
menjadi 38%. Sementara di sisi lain sektor industri menunjukkan trend yang


3



semakin meningkat. Pada sektor industri pada tahun 2004 menyumbang 16% tenaga
kerja di Jawa Tengah, dan pada tahun 2008 bertambah menjadi 18%.
Dari penjelasan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan yaitu walaupun
sektor pertanian memberikan kontribusi tertinggi dalam penyerapan tenaga kerja, tapi
perkembangannya dari tahun ke tahun menunjukkan tingkat penurunan. Hal ini
disebabkan mulai beralihnya tenaga kerja tersebut ke sektor lain seperti sektor
industri, perdagangan maupun jasa. Pada kasus ini menunjukkan jika sektor industri
dan sektor lainnya lebih disukai oleh para pekerja dari pada sektor pertanian, karena
mungkin mereka beranggapan jika sektor industri bisa memberikan penghidupan
yang lebih baik dibandingkan sektor pertanian.
Selain penyumbang tenaga kerja yang cukup besar, sektor pertanian
menempati urutan kedua dalam kontribusinya terhadap PDRB Jawa Tengah setelah
sektor industri pengolahan. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.2 yang tertera
berikut ini.
Tabel 1.2
PDRB Menurut Lapangan Usaha Berdasarkan Lapangan Usaha Atas Dasar
Harga Konstan, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2009 (jutaan Rp)
Sumber: BPS, Jawa Tengah Dalam Angka, 2010
Dari Tabel 1.2 terlihat bahwa posisi sektor pertanian berada di posisi kedua
setelah sektor industri pengolahan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian
masih menjadi salah satu pilar penggerak utama dari perekonomian di Jawa Tengah.
Tahun Industri
pengolahan
Pertanian Perdagangan,
hotel,restoran
Jasa-jasa
2005 46.105.706,52 29.924.642,25 30.056.962,75 14.312.739,86
2006 48.189.134,86 31.002.199,11 31.816.441,85 15.442.467,70
2007 50.870.785,69 31.862.697,60 33.898.013,93 16.479.357,72
2008 53.158.962,88 33.484.068,44 35.626.196,01 17.741.755,98
2009 54.137.598,53 34.949.138,35 37.766.356,61 19.134.037,85


4



Akan tetapi sektor pertanian masih kalah jauh jika dibandingkan dengan sektor
industri pengolahan, bahkan dalam dua tahun terakhir sektor pertanian kalah oleh
sektor perdagangan, hotel dan restoran. Yang berarti bahwa sektor pertanian mulai
ditinggalkan, dan mulai menuju pada sektor lainnya yang dianggap lebih memberikan
keuntungan. Padahal apabila dikaitkan dengan Tabel 1.1 sektor industri mempunyai
tenaga kerja yang lebih kecil dari pada sektor pertanian..
Dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat yang terjadi di Jawa
Tengah ini menuntut adanya pembangunan berbagai infrastruktur sehingga
permintaan lahan pertanian yang ada menjadi cukup besar. Akibatnya banyak lahan
pertanian yang beralih fungsi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu
terjadinya alih fungsi lahan juga mungkin dikarenakan kurangnya insentif atau
perhatian sektor pertanian ini oleh pemerintah, sehingga masyarakat beralih ke sektor
lainnya seperti sektor industri maupun perdagangan. Berikut merupakan
perkembangan alih fungsi lahan tiap tahun yang terjadi di Jawa Tengah dari tahun
2003-2008.
Gambar 1.1
Jumlah Alih Fungsi Lahan di Jawa Tengah Tahun 2003-2008 (Dalam Ha)


Sumber: BPN Kanwil Jateng, 2009


5



Dari Gambar 1.1 di atas kita melihat bahwa perkembangan alih fungsi lahan
di Jawa Tengah dari tahun 2003-2008 tergolong cukup tinggi. Pada tahun 2003
jumlah alih fungsi lahan sebesar 545,41 Ha, kemudian pada tahun 2004 mengalami
peningkatan yang cukup besar yaitu sebesar 625,15 Ha. Tahun 2005 kembali
mengalami peningkatan sebesar 747,32 Ha, setelah itu alih fungsi lahan yang ada
terus mengalami penurunan sampai tahun 2008 yaitu sebesar 533,54 Ha.
Walaupun pada rentang waktu 2005 sampai 2008 jumlah alih fungsi lahan
tersebut mengalami penurunan akan tetapi adanya alih fungsi lahan di Jawa Tengah
sudah tergolong tinggi. Alih fungsi lahan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah juga
diakibatkan oleh adanya celah pada peraturan pemerintah. Kebanyakan pemerintah
kurang memberikan sanksi yang tegas terhadap alih fungsi lahan tersebut. Selain itu
kurangnya pengawasan dan kontrol dari pemerintah juga menyebabkan semakin
besarnya alih fungsi lahan ke non pertanian.
Dengan peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun yang terjadi di
Jawa Tengah menuntut jumlah produksi pangan yang semakin banyak. Sementara di
sisi lain pertumbuhan ekonomi menuntut adanya permintaan jumlah lahan untuk
pembangunan infrastruktur. Padahal peningkatan produktifitas sangat dipengaruhi
oleh besarnya lahan yang digunakan. Disini faktor lahan pertanian mempunyai
pengaruh yang sangat penting, sehingga jika keberadaanya menurun maka akan
mengganggu jumlah produksi pangan yang ada. Sahid Susanto (2008) mengatakan
lahan sawah beririgasi mempunyai peran utama dalam menjaga stabilitas suplai
pangan khususnya beras, meningkatkan fungsi ekologis, menciptakan aktivitas sosial
dan ekonomi masyarakat pedesaan, wahana pembentuk peradaban masyarakat
berbasis agraris.
Kabupaten Demak merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Tengah
yang memiliki sistem pertanian yang sudah baik. Hal ini dikarenakan selain jenis
tanah yang subur untuk pertanian, jumlah lahan pertanian di Kabupaten tersebut
cukup luas. Bahkan Kabupaten ini menjadi lumbung pangan untuk daerah Jawa


6



Tengah khususnya untuk menyuplai daerah sekitarnya seperti Kota Semarang,
Kabupaten Kudus, bahkan mungkin bisa sampai ke luar Provinsi Jawa Tengah.
Oleh karena itu sektor pertanian ini memegang peranan penting bagi
penerimaan pendapatan daerah. Bukti jika sektor pertanian mempunyai peranan
penting bagi perekonomian Kabupaten tersebut adalah pada sumbangannya terhadap
pendapatan daerah.
Dari data Tabel 1.3 tersebut kita melihat bahwa selama lima tahun terakhir
sektor pertanian menjadi sektor unggulan di Kabupaten Demak. Setelah itu disusul
oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta jasa-jasa. Jumlah penerimaan
PDRB di Kabupaten Demak pada sektor pertanian selalu mengalami peningkatan
yang cukup tinggi jika di bandingkan sektor lainnya.
Tabel 1.3
PDRB atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha
Di Kabupaten Demak Tahun 2005-2009 (jutaan Rp)
Sumber: BPS, Demak Dalam Angka, 2010
Peningkatan PDRB pada sektor pertanian tersebut dapat dimengerti karena
luas lahan pertanian di Kabupaten Demak sangat luas, serta memiliki tingkat
kesuburan yang tinggi. Akan tetapi seiring dengan semakin majunya perkembangan
zaman banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi non pertanian. Peralihan
lahan tersebut banyak digunakan untuk pembangunan rumah, pembangunan industri
maupun pembangunan berbagai infrastruktur yang ada di Kabupaten Demak. Berikut
Tahun Pertanian Industri
pengolahan
Perdagangan,
hotel,restoran
Jasa-jasa
2005 1.061.200,53 279.777,91 500.715,22 245.129,93
2006 1.099.489,17 283.160,99 514.949,19 277.358,19
2007 1.129.881,65 289.798,41 543.812,17 301.007,01
2008 1.176.841,83 295.965,65 562.836,51 320.956,48
2009 1.226.312,09 302.523,35 583.409,48 339.072,38


7



merupakan Grafik besarnya alih fungsi lahan tiap tahun yang ada di Kabupaten
Demak mulai dari tahun 2002 sampai 2010.
Gambar 1.2
Besarnya Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian Melalui IPPT
(Perijinan) di Kabupaten Demak pada Tahun 2002-2010 (m)


Sumber : BPN Kabupaten Demak, 2010
Dari Gambar 1.2 di atas kita dapat melihat besarnya alih fungsi lahan
pertanian ke non pertanian yang terjadi di Kabupaten Demak. Pada tahun 2002
jumlah alih fungsi lahan sebesar 83363 m, kemudian dari tahun 2003 sampai tahun
2008 jumlah alih fungsi lahan mengalami fluktuasi. Akan tetapi pada tahun 2009
jumlah alih fungsi lahan meningkat sangat tajam sebesar 1078630 m. Kemudian
pada tahun 2010 juga mengalami alih fungsi yang sangat besar yaitu sebesar 1250857
m.









8



Tabel 1.4
Jumlah Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Demak dan Sekitarnya
Tahun 2006-2009 ( dalam m)

Tahun Demak Kudus Semarang Grobogan Kendal Batang
2006 150.407 193.954 305.371 179.450 429.583 132.650
2007 567.846 139.939 363.340 268.690 220.168 86.918
2008 300.161 136.539 223.239 240.722 340.525 92.999
2009 1.299.459 91.478 124.701 16.999 206.310 109.107
Jumlah 2.317.873 561.910 1.016.651 705.861 1.196.586 421.674
Sumber BPN Kanwil Jateng, 2009
Dari Tabel 1.4 di atas dapat dilihat bahwa dalam rentang tahun 2006-2009,
jumlah alih fungsi lahan di Kabupaten Demak menduduki peringkat pertama yaitu
sebesar 2.317.873 m. Pada posisi kedua adalah Kabupaten Kendal sebesar 1.196.586
m. Selanjutnya pada posisi yang ketiga yaitu Kabupaten Semarang yaitu sebesar
1.016.651 m. Jika dilihat ketiga kabupaten tersebut mempunyai persamaan yaitu
letaknya yang langsung berbatasan dengan Kota Semarang. Akan tetapi Kabupaten
Demak yang mempunyai alih fungsi yang paling tinggi.

1.2 Rumusan Masalah
Adanya alih fungsi lahan tersebut antara lain dikarenakan oleh peningkatan
jumlah penduduk, jumlah industri serta peningkatan pertumbuhan ekonomi. Ketiga
faktor tersebut akan mengurangi lahan pertanian yang ada di Kabupaten Demak. Oleh
sebab itu penelitian perlu dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi alih fungsi lahan di Kabupaten Demak. Pertanyaan penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perkembangan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian
beberapa tahun ke belakang yang terjadi di Kabupaten Demak?


9



2. Bagaimanakah pengaruh peningkatan jumlah penduduk, jumlah industri, serta
besarnya PDRB Kabupaten Demak terhadap besarnya alih fungsi lahan yang
terjadi di Kabupaten Demak?

1.3 Tujuan dan
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui perkembangan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian
beberapa tahun ke belakang yang terjadi di Kabupaten Demak
2. Untuk mengetahui pengaruh peningkatan jumlah penduduk, jumlah industri,
serta besarnya PDRB terhadap besarnya alih fungsi lahan yang terjadi di
Kabupaten Demak.




















10



TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Kependudukan Thomas Robert Malthus
Dalam bukunya Deliarnov (2005), menurut Malthus dalam bukunya yang
berjudul principles of population menyebutkan bahwa perkembangan manusia lebih
cepat di bandingkan dengan produksi hasil-hasil pertanian untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Malthus salah satu orang yang pesimis terhadap masa depan
manusia. Hal itu didasari dari kenyataan bahwa lahan pertanian sebagai salah satu
faktor produksi utama jumlahnya tetap. Kendati pemakaiannya untuk produksi
pertanian bisa ditingkatkan, peningkatannya tidak akan seberapa. di lain pihak justru
lahan pertanian akan semakin berkurang keberadaanya karena digunakan untuk
membangun perumahan, pabrik-pabrik serta infrastruktur yang lainnya.
Salah satu saran Malthus agar manusia terhindar dari malapetaka karena
adanya kekurangan bahan makanan adalah dengan kontrol atau pengawasan atas
pertumbuhan penduduk. Pengawasan tersebut bisa dilakukan oleh pemerintah yang
berwenang dengan berbagai kebijakan misalnya saja dengan program keluarga
berencana. Dengan adanya pengawasan tersebut diharapkan dapat menekan laju
pertumbuhan penduduk, sehingga bahaya kerawanan pangan dapat teratasi.
Kebijakan lain yang dapat diterapkan adalah dengan menunda usia kawin sehingga
dapat mengurangi jumlah anak.
Dalam bukunya Michael Todaro (1995) Malthus berpendapat bahwa pada
umumnya penduduk suatu negara mempunyai kecenderungan untuk bertambah
menurut suatu deret ukur yang akan berlipat ganda tiap 30-40 tahun. Pada saat yang
sama karena adanya ketentuan pertambahan hasil yang semakin berkurang
(deminishing return) dari suatu faktor produksi yang jumlahnya tetap maka
persediaan pangan hanya akan meningkat menurut deret hitung. Hal ini karena setiap
anggota masyarakat akan memiliki lahan pertanian yang semakin sempit, maka


11



kontribusi marjinalnya atas produksi pangan akan semakin menurun. Berikut ini
adalah Gambar model jebakan populasi Malthus.
Gambar 2.1 Model Jebakan Populasi Malthus












Dari Gambar 2.1 di atas secara ringkas dapat dijelaskan bahwa pada awalnya
peningkatan jumlah penduduk yang semakin tinggi, dapat diimbangi oleh
peningkatan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Tapi karena adanya hukum yang
semakin berkurang, sementara jumlah populasi terus berkembang, maka peningkatan
jumlah penduduk lebih tinggi dari pada tingkat pertumbuhan pendapatan. Ini yang
menjadi dasar pesimisme Malthus akan kehidupan manusia di masa mendatang.
2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan
Menurut Lestari (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya
disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh
kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain
Pendapatan Per Kapita (Y/P)
Tingkat Pertumbuhan
Pendapatan( Y/P)
Tingkat
Pertumbuhan
Populasi ( P/P)
Y2 Y3 Y4 Y5 Y1
B
C
0
Persentase
Tingkat
Pertumbuhan


12



yang menjadi dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu
sendiri.
Perubahan jenis lahan merupakan penambahan penggunaan jenis lahan di satu
sektor dengan diikuti pengurangan jenis lahan di sektor lainnya. Atau dengan kata
lain perubahan penggunaan lahan merupakan berubahnya fungsi lahan pada periode
waktu tertentu, misalnya saja dari lahan pertanian digunakan untuk lahan non
pertanian. Menurut Wahyunto (2001), perubahan penggunaan lahan dalam
pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut terjadi karena
dua hal, pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin
meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu
kehidupan yang lebih baik..
Menurut Irawan (2005),ada dua hal yang mempengaruhi alih fungsi lahan .
Pertama, sejalan dengan pembangunan kawasan perumahan atau industri di suatu
lokasi alih fungsi lahan, maka aksesibilitas di lokasi tersebut menjadi semakin
kondusif untuk pengembangan industri dan pemukiman yang akhirnya mendorong
meningkatnya permintaan lahan oleh investor lain atau spekulan tanah sehingga harga
lahan di sekitarnya meningkat. Kedua, peningkatan harga lahan selanjutnya dapat
merangsang petani lain di sekitarnya untuk menjual lahan.
Menurut Pakpahan ( dalam Fanny Anugrah K 2005), menyebutkan bahwa
konversi lahan di tingkat wilayah secara tidak langsung dipengaruhi oleh :
a. Perubahan struktur ekonomi
b. Pertumbuhan penduduk
c. Arus urbanisasi
d. Konsistensi implementasi rencana tata ruang.
Secara langsung konversi lahan sawah dipengaruhi oleh:
a. Pertumbuhan pembangunan sarana transportasi
b. Pertumbuhan lahan untuk industri
c. Pertumbuhan sarana pemukiman
d. Sebaran lahan sawah.


13



Karena adanya faktor tersebut sewa lahan (land rent) pada suatu daerah akan
semakin tinggi. Menurut Barlowe ( dalam Fanny Anugrah K, 2005) sewa ekonomi
lahan mengandung pengertian nilai ekonomi yang diperoleh suatu bidang lahan bila
lahan tersebut digunakan untuk kegiatan proses produksi. Urutan besaran ekonomi
lahan menurut penggunaannya dari berbagai kegiatan produksi ditunjukkan sebagai
berikut :1). Industri manufaktur, 2). Perdagangan, 3). Pemukiman, 4). Pertanian
intensif, 5). Pertanian ekstensif.
Berdasarkan Gambar 2.2 yang menunjukkan hubungan antara land rent
dengan kapasitas penggunaan lahan menurut Barlowe ( dalam Fanny Anugrah K,
2005). Dapat dilihat bahwa pada industri dan perdagangan mempunyai sewa ekonomi
paling tinggi, kemudian di urutan kedua adalah pada pemukiman. Sewa ekonomi
untuk kegiatan pertanian sendiri menempati urutan ketiga
Gambar 2.2
Hubungan Antara Land Rent dengan Kapasitas Penggunaan Lahan











Sumber: Fanny Anugrah K, 2005
Pemukiman
Pertanian
Hutan
Lahan Tandus
Kapasitas Penggunaan Lahan
Industri & Perdagangan
Sewa Ekonomi


14



2.3 Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka pemikiran merupakan alur penelitian yang dipakai oleh seorang
peneliti. Pada kerangka pemikiran ini berisi gambaran mengenai penelitian yang akan
dilakukan. Pada penelitian analisis faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi
lahan di Kabupaten Demak, faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain
banyaknya jumlah penduduk, jumlah industri yang ada di Kabupaten Demak, dan
jumlah pendapatan domestik regional bruto (PDRB). Kombinasi dari ketiga faktor
tersebut diperkirakan akan mempengaruhi jumlah alih fungsi lahan dari sektor
pertanian ke non pertanian. Kemudian nantinya akan dianalisis dampak-dampak dari
alih fungsi lahan tersebut terhadap ketahanan pangan maupun dampak negatif lainnya
yang mungkin timbul karena adanya alih fungsi lahan. Berikut merupakan Gambar
2.4 yang menunjukkan alur dari kerangka pemikiran tersebut.
Gambar 2.4 Kerangka Pemikiran
















Faktor jumlah
industri Kabupaten
Demak

Faktor jumlah
PDRB Kabupaten
Demak

Faktor jumlah
penduduk
Kabupaten Demak

Besarnya alih
fungsi lahan di
Kabupaten
Demak



15



2.4 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari sebuah penelitian yang akan
dilakukan oleh si peneliti. Oleh karena itu jawaban sementara yang menjadi hipotesis
dari penelitian ini adalah
a. Di duga ada pengaruh yang positif antara jumlah penduduk terhadap alih
fungsi lahan di Kabupaten Demak.
b. Di duga ada pengaruh yang positif antara jumlah industri terhadap alih fungsi
lahan di Kabupaten Demak.
c. Di duga ada pengaruh yang positif antara jumlah pendapatan domestik
regional bruto (PDRB) terhadap alih fungsi lahan di Kabupaten Demak.
d. Di duga ada pengaruh yang positif antara jumlah penduduk, jumlah industri,
serta jumlah pendapatan domestik regional bruto (PDRB) terhadap alih fungsi
lahan di Kabupaten Demak.













16




METODE PENELITIAN

3.1 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional merupakan penjelasan dari masing-masing variabel
secara jelas, lengkap dan terperinci. Definisi operasional variabel yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Besarnya alih fungsi lahan
Merupakan besarnya lahan pertanian yang beralih fungsi dari sektor pertanian
ke sektor non pertanian. Dengan kata lain lahan tersebut yang tadinya
digunakan untuk kegiatan pertanian beralih fungsi digunakan menjadi
kegiatan pembangunan seperti pembangunan pabrik, gedung, perumahan,
maupun infrastruktur lainnya yang ada di Kabupaten Demak. Satuan yang
digunakan adalah dalam hektar (Ha).
2. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk merupakan banyaknya penduduk yang tinggal dan menetap
di Kabupaten Demak. Jumlah ini terdiri dari gabungan antara penduduk laki-
laki dan perempuan yang sudah tercatat oleh pemerintah setempat. Satuan
yang digunakan adalah per satuan orang.
3. Jumlah PDRB
Jumlah PDRB merupakan banyaknya pendapatan Kabupaten Demak yang
terdiri dari sembilan sektor yang ada, baik itu sektor pertanian, industri
maupun sektor yang lainnya pada tiap tahunnya. Dari PDRB kita dapat
mengetahui apakah sektor-sektor yang di dalamnya mempengaruhi alih fungsi
lahan apa tidak. Selain itu kita juga bisa melihat pertumbuhan perekonomian
pada daerah tersebut. Satuan yang digunakan adalah jutaan rupiah pada tiap
tahun.



17



4. Jumlah Industri
Jumlah industri merupakan banyaknya pertumbuhan industri yang tercatat di
dinas perindustrian, perdagangan dan koperasi Kabupaten Demak
(Disperindagkop) yang di publikasikan oleh BPS. Industri tersebut terdiri dari
industri rumah tangga (jumlah tenaga kerja < 5orang), industri kecil ( jumlah
tenaga kerja antara 6 sampai 19 orang), industri menegah (jumlah tenaga kerja
antarta 20 sampai 99 orang), serta industri besar (jumlah tenaga kerja > 100).

3.2 Metode Analisis
Metode analisis merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk mencari
pengaruh antara variabel bebas dengan variabel tak bebas. Dalam penelitian ini untuk
menganalisis atau melihat pengaruh antara jumlah penduduk, besarnya PDRB, serta
jumlah industri terhadap besarnya alih fungsi lahan di Kabupaten Demak. Metode
yang digunakan adalah menggunakan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least-
Square). Secara matematis model tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:
Y =
1
+
2
X
2
+
3
X
3
+
4
X
4
+
Dimana Y = Besarnya alih fungsi lahan
= Konstanta
X
2
= Jumlah penduduk
X
3
= Besarnya pertumbuhan jumlah industri
X
4
= Besarnya PDRB
Model estimasinya dilakukan dengan mentransformasikan persamaan tersebut
menjadi bentuk semi logaritma, dimana variabel dependen berbentuk logaritma
sedangkan variabel independennya tetap. Ini dilakukan karena dengan model semi
logaritma dapat menghasilkan estimasi model yang terbaik, serta mempunyai tingkat
keakuratan yang cukup tinggi. Selain itu tujuan dari bentuk semi logaritma adalah
sesuai yang dikatakan oleh Imam Ghozali (2009) yaitu hasil regresi melanggar
asumsi klasik yaitu pada autokorelasi dan heteroskedastisitas, oleh sebab itu untuk


18



mengobati penyakit tersebut model regresi diubah ke dalam bentuk semi log. Berikut
adalah model OLS dengan bentuk semi logaritma:
LnY =
1
+
2
X
2
+
3
X
3
+
4
X
4
+
Regresi tersebut akan terpenuhi jika koefisien regresinya linear, tak bias dan
mempunyai varian yang minimum atau efisien. Oleh sebab itu berbagai pengujian
sangat diperlukan untuk mengetahui apakah di dalam model tersebut terdapat
penyakit atau tidak. Dengan metode OLS dari analisis regresi linear koefisien dari
masing-masing variabel koefisien ini merupakan estimasi dari masing-masing faktor
yang berpengaruh. Serta menunjukkan sejauh mana faktor tersebut secara bersama-
sama mempengaruri besarnya jumlah alih fungsi lahan atau variabel dependen.





















19



HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Perkembangan Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Demak
Sebelum membahas mengenai analisis dari hasil regresi, pada bagian ini akan
dibahas terlebih dahulu mengenai perkembangan alih fungsi lahan yang ada di
Kabupaten Demak dengan menggunakan data mulai dari tahun 2006 sampai 2010.
Berikut adalah data alih fungsi lahan selama lima tahun terakhir.
Berdasarkan Gambar 4.5 di bawah, dapat kita lihat bahwa pada tahun 2006
jumlah alih fungsi lahan yang terjadi di Kabupaten Demak sebesar 149.157 m.
Jumlah tersebut antara lain digunakan untuk pemukiman penduduk sebesar 41.932
m, pembangunan industri sebesar 51.739 m, serta untuk penggilingan padi sebesar
55.486 m.
Gambar 4.5
Besarnya Alih Fungsi Lahan Tahun 2006-2010 di Kabupaten Demak


Sumber : BPN Kabupaten Demak, 2011
Pada tahun 2007 jumlah alih fungsi lahan sebesar 560.430 m. Jumlah alih
fungsi lahan tersebut digunakan untuk pembangunan pemukiman sebesar 270.635 m,
untuk pembanguan industri sebesar 101.851 m, untuk pembangunan di sektor jasa


20



seperti pembangunan jalan sebesar 119.896 m, serta untuk pembangunan
penggilingan padi sebesar 68.048 m.
Pada tahun 2008 jumlah alih fungsi lahan yang terjadi di Kabupaten Demak
adalah sebesar 358.705 m. Dari jumlah tersebut penggunaan yang paling besar pada
pembangunan pemukiman penduduk, yaitu sebesar 183.344 m. Kemudian digunakan
pembangunan di sektor jasa sebesar 94.790 m, untuk pembangunan penggilingan
padi sebesar 65.164 m, serta untuk digunakan untuk sektor industri sebesar 15.407
m.
Kemudian pada tahun 2009 jumlah alih fungsi lahan yang terjadi sebesar
1.078.630 m. Jumlah tersebut digunakan untuk berbagai macam, penggunaan yang
paling besar adalah untuk pembangunan di sektor industri sebesar 765.315 m.
Kemudian di urutan kedua alih fungsi lahan tersebut digunakan adalah untuk
pembangunan pemukiman sebesar 221.568 m. Untuk penggilingan padi sebesar
66.461 m, serta yang terakhir alih fungsi tersebut digunakan untuk pembangunan
sektor jasa sebesar 25.286 m.
Pada tahun 2010 jumlah alih fungsi lahan yang terjadi di Kabupaten Demak
sangatlah besar yaitu sebesar 1.250.857 m. Alih fungsi lahan sebesar tersebut paling
besar digunakan untuk pembangunan sektor industri sebesar 814.050 m. Kemudian
digunakan untuk pembangunan pemukiman penduduk sebesar 324.270 m. Pada
urutan yang ketiga digunakan untuk pembangunan penggilingan padi sebesar 76.906
m, serta untuk pembangunan di sektor jasa sebesar 35.631 m.
Berdasarkan data-data tersebut, pada lima tahun terakhir alih fungsi lahan
yang ada digunakan antara lain untuk pembangunan pemukiman, pembangunan
industri, penggilingan padi, serta untuk pembangunan di sektor jasa. Akan tetapi pada
dua tahun terakhir jumlah alih fungsi lahan yang terjadi dapat dikatakan sangat besar.
Hal ini dikarenakan semakin besarnya pembangunan sektor industri serta pemukiman
bagi penduduk yang ada di Kabupaten Demak.
Pembangunan industri tersebut dikonsentrasikan di Kecamatan Sayung. Hal
ini dikarenakan Kecamatan Sayung yang terletak di pinggir jalan pantura, sehingga


21



memudahkan sektor industri untuk masalah distribusi barang. Sementara
pembangunan pemukiman penduduk merata di semua Kecamatan, tapi yang paling
besar ada di Kecamatan Demak dan Kecamatan Mranggen. Ini terjadi karena jumlah
penduduk yang ada di kedua Kecamatan ini cukup banyak.

4.2. Hasil dan Pembahasan
4.3.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Alih Fungsi Lahan
Dalam penelitian ini ada empat variabel untuk melihat faktor-faktor yang
mempengaruhi alih fungsi lahan di Kabupaten Demak. Empat variabel tersebut terdiri
dari satu variabel dependen, dan tiga variabel independen Variabel dependen pada
penelitian ini adalah jumlah pertumbuhan alih fungsi lahan pertanian ke non
pertanian. Pada variabel independen terdiri dari jumlah penduduk (X1), jumlah
industri (X2), serta jumlah PDRB (X3). Alat yang digunakan adalah analisis regresi
kuadrat terkecil (OLS), dengan model semilogaritma

LnY =
1
+
2
X
2
+
3
X
3
+
4
X
4
+
Dimana LnY = Besarnya pertumbuhan alih fungsi lahan
= Parameter variabel bebas
X
2
= Jumlah penduduk
X
3
= Besarnya pertumbuhan jumlah industri
X
4
= Besarnya PDRB
=Nilai variabel gangguan (error term)
Berikut adalah hasi regresi menggunakan SPSS yang menunjukkan setiap
variabel independen dalam pengaruhnya terhadap variabel dependen.







22



Tabel 4.10
Hasil Koefisien Regresi SPSS

Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant)
-3,247 ,945 -3,435 ,007
pndk 0,00000855 ,000 ,965 8,038 ,000 ,108 9,300
indstri 0,00002908 ,000 ,100 2,458 ,036 ,931 1,074
pdrb 0,00000002 ,000 ,052 ,436 ,673 ,109 9,140

Dari Tabel 4.10 di atas tersebut dapat diperoleh persamaan sebagai berikut
LnY = -3,247 + 0,000086X1 + 0,000029X2 + 0,00000002X3 + 0,072
Dari persamaan tersebut berarti dapat kita simpulkan sebagai berikut:
1. Nilai konstanta adalah sebesar -3,247, ini menyatakan bahwa jika tidak
terdapat variabel-variabel independen seperti jumlah penduduk, jumlah
industri, serta jumlah pendapatan domestik regional bruto (PDRB), maka
jumlah alih fungsi lahan akan berkurang sebesar 3,247 persen.
2. Koefisien regresi (1) adalah jumlah penduduk yaitu sebesar 0,000086, ini
berarti bahwa setiap ada peningkatan 100 orang penduduk maka akan terjadi
kenaikan relatif jumlah alih fungsi lahan sebesar 0,085 persen.
3. Koefisien regresi (2) adalah jumlah industri yaitu sebesar 0,000029, ini
berarti bahwa setiap ada peningkatan 100 unit industri maka akan terjadi
kenaikan relatif jumlah alih fungsi lahan sebesar 0,29 persen.
4. Koefisien regresi (1) adalah jumlah PDRB yaitu sebesar 0,00000002, ini
berarti bahwa setiap ada peningkatan 100.000.000 rupiah PDRB maka jumlah
alih fungsi lahan akan bertambah sebesar 0,2 persen.



23



4.3. Pembahasan Hasil Regresi
Berdasarkan analisis data di atas dalam penelitian mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi alih fungsi lahan di Kabupaten Demak, ada beberapa variabel
independen yang digunakan untuk mendukung penelitian tersebut. Variabel
independen tersebut antara lain jumlah penduduk, jumlah industri, serta jumlah
PDRB Kabupaten Demak. Adapun analisis tiap variabelnya adalah sebagai berikut.
a. Variabel Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk yang ada di Kabupaten Demak setiap tahun selalu
mengalami pertambahan. Atau dengan kata lain jumlah kelahiran lebih besar dari
pada jumlah kematian. Dengan jumlah penduduk yang selalu mengalami
penambahan, maka sangat membutuhkan rumah tempat tinggal atau pemukiman-
pemukiman baru untuk tempat tinggal. Dengan adanya pembangunan pemukiman ini,
maka secara langsung mengurangi jumlah lahan pertanian yang ada di Kabupaten
Demak.
Dalam penelitian yang telah dilakukan, hasil model regresi membuktikan
bahwa penambahan jumlah penduduk berpengaruh signifikan dan positif terhadap
besarnya alih fungsi lahan di Kabupaten tersebut. Besarnya nilai koefisien parameter
jumlah penduduk sebesar 0,000086, ini berarti bahwa setiap ada peningkatan 100
orang penduduk maka akan terjadi kenaikan relatif jumlah alih fungsi lahan sebesar
0,085 persen dengan asumsi variabel lainnya tetap.
b. Variabel Jumlah Industri
Industri merupakan salah satu penopang perekonomian di setiap negara, tak
terkecuali juga di Negara Indonesia. Besarnya sektor industri semakin lama semakin
meningkat, ini juga yang terjadi di Kabupaten Demak. Di Kabupaten Demak
banyaknya industri semakin meningkat baik itu industri besar, sedang, menengah,
maupun industri rumah tangga. Semakin banyaknya sektor industri juga berdampak
pada semakin banyaknya alih fungsi lahan. Lahan yang beralih fungsi merupakan
lahan pertanian, sehingga dengan banyaknya alih fungsi karena sektor industri maka
jumlah lahan untuk sektor pertanian semakin berkurang.


24



Dalam penelitian mengenai pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi alih
fungsi lahan di Kabupaten Demak. Hasil model regresi tersebut membuktikan bahwa
dengan adanya penambahan sektor industri di Kabupaten Demak berpengaruh
signifikan dan positif terhadap alih fungsi lahan. Besarnya nilai koefisien parameter
sebesar 0,000029, ini berarti bahwa setiap ada peningkatan 100 orang penduduk maka
akan terjadi kenaikan relatif jumlah alih fungsi lahan sebesar 0,29 persen dengan
asumsi variabel lainnya tetap.
c. Variabel Jumlah PDRB Kabupaten Demak
Pendapatan domestik regional bruto atau sering disingkat menjadi PDRB
merupakan pendapatan daerah yang berasal dari berbagai sektor yang ada. Besarnya
PDRB di Kabupaten Demak masih didominasi oleh sektor pertanian. Oleh sebab itu
dari hasil model regresi tersebut ternyata pengaruh PDRB di Kabupaten Demak
berpengaruh positif terhadap alih funsi lahan, akan tetapi tidak signifikan. Besarnya
koefisien parameter jumlah PDRB sebesar 0,00000002, ini berarti bahwa setiap ada
peningkatan 100.000000 rupiah PDRB maka jumlah alih fungsi lahan akan
bertambah sebesar 0,2 persen dengan asumsi variabel lainnya tetap
Hal ini mungkin di karenakan jumlah PDRB merupakan gabungan dari
sembilan sektor yang ada. Dari kesembilan sektor tersebut tidak semua peningkatan
sektor yang ada mempengaruhi alih fungsi lahan. Apalagi penyumbang paling besar
merupakan sektor pertanian.

4.4. Dampak Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Demak
Alih fungsi lahan merupakan beralihnya fungsi penggunaan lahan dari sektor
pertanian ke sektor non pertanian. Alih fungsi lahan tersebut secara langsung
mengurangi jumlah lahan pertanian yang ada di Kabupaten Demak. Berdasarkan
wawancara langsung kepada ketua seksi bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan
(P3) kanwil Badan Pertanahan Nasional Jawa Tengah, banyak faktor-faktor penyebab
mengapa alih fungsi lahan semakin besar di Kabupaten Demak antara lain sebagai
berikut:


25



a. Jumlah penduduk yang semakin bertambah
b. Harga jual tanah yang semakin mahal
c. Adanya pertumbuhan industri
Untuk mengetahui pengaruh alih fungsi lahan yang terjadi di Kabupaten
Demak, maka saya melakukan wawancara secara langsung kepada Bapak Rahardja
sebagai salah satu anggota di bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan (P3) yang
ada di Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Demak.
Dari hasil wawancara tersebut di dapatkan bahwa dengan adanya alih fungsi
lahan memang secara mikro mengurangi jumlah produksi padi para petani. Akan
tetapi secara keseluruhan alih fungsi lahan tersebut tidak menimbulkan bahaya
kerawanan pangan di Kabupaten Demak, ini terbukti dengan surplus beras yang
terjadi di Kabupaten Demak. Selain itu beliau juga menyebutkan bahwa alih fungsi
lahan yang terjadi di Kabupaten Demak merupakan lahan yang kurang produktif,
sehingga pada sekarang ini belum mengancam ketahanan pangan di Kabupaten
Demak.
Selain itu saya juga melakukan wawancara secara langsung kepada Bapak
Untung Subagyo selaku kepala bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan (P3) di
kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) wilayah Jawa Tengah. Dari hasil
wawancara tersebut didapatkan hasil sebagai berikut:
a. Dengan adanya alih fungsi lahan pada saat sekarang ini belum memberikan
dampak yang serius terhadap kerawanan pangan, akan tetapi ini bisa menjadi
masalah yang serius terhadap ketahan pangan jika semakin banyak alih fungsi
lahan ke sektor non pertanian.
b. Bahwa alih fungsi lahan dapat menyebabkan pengangguran-pengangguran
baru di sektor pertanian, hal ini dikarenakan pada waktu terjadi alih fungsi
lahan ke sektor non pertanian maka sebagian orang akan kehilangan mata
pencaharian baru. Sementara sektor lain belum tentu dapat menerimanya
karena kurangnya keahlian yang ada.


26



c. Jumlah angka kemiskinan penduduk yang bekerja di sektor pertanian mungkin
dapat bertambah karena adanya alih fungsi lahan. Ini terjadi karena sebagian
dari mereka akan kehilangan mata pencahariaanya. Sehingga pendapatan
mereka secara otomatis juga akan hilang

4.5. Kebijakan Pemerintah untuk Meminimalisir Alih Fungsi Lahan

Kebijakan-kebijakan yang dapat dilakukan untuk meminimalisir agar tidak
terlalu banyak jumlah lahan yang beralih fungsi antara lain sebagai berikut:
1. Menutup celah pada peraturan pemerintahan agar alih fungsi lahan dapat di
minimalkan.
2. Pemberian izin investasi pada sektor industri pada lahan yang kurang
produktif,.
3. Penambahan peciptaan lahan pertanian pangan yang berkelanjutan.
4. Memberikan insentif dan disinsentif bagi para petani.
5. Pembatasan pertumbuhan perkotaan.
6. Jaminan harga komoditas pangan pokok yang menguntungkan bagi para
petani.













27



PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari analisis penelitian mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi alih fungsi lahan di Kabupaten Demak, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
a. Dari ketiga faktor yang ada yang dijadikan variabel independen seperti jumlah
penduduk, jumlah industri serta jumlah pendapatan domestik regional bruto
(PDRB), hanya variabel jumlah penduduk dan jumlah industri saja yang
memberikan pengaruh yang signifikan dan positif terhadap alih fungsi lahan
di Kabupaten Demak. Variabel jumlah PDRB tidak memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap alih fungsi lahan, akan tetapi hubungannya masih
positif.
b. Nilai konstanta adalah sebesar -3,247, ini menyatakan bahwa jika tidak
terdapat variabel-variabel independen seperti jumlah penduduk, jumlah
industri, serta jumlah pendapatan domestik regional bruto (PDRB), maka
jumlah alih fungsi lahan akan berkurang sebesar 3,247 persen. Variabel
jumlah penduduk mempunyai koefisien regresi sebesar 0,000086, ini berarti
bahwa setiap ada peningkatan 100 orang penduduk maka akan terjadi
kenaikan relatif jumlah alih fungsi lahan sebesar 0,085 persen. Variabel
jumlah industri mempunyai koefisien regresi sebesar 0,000029, ini berarti
bahwa setiap ada peningkatan 100 unit industri maka akan terjadi kenaikan
relatif jumlah alih fungsi lahan sebesar 0,29 persen. Pada variabel jumlah
PDRB mempunyai nilai koefisien regresi sebesar 0,00000002, ini berarti
bahwa setiap ada peningkatan 100.000.000 rupiah PDRB maka jumlah alih
fungsi lahan akan bertambah sebesar 0,2 persen.
c. Dari semua variabel independen yang ada seperti jumlah penduduk, jumlah
industri, serta jumlah PDRB arah hubungannya sesuai dengan teori dan
hipotesis yang telah diruskan.


28



DAFTAR PUSTAKA

Afriani, Arum Laili. 2009. Analisis pengaruh beberapa variabel terhadap alih fungsi
lahan perkebunan di Kota Semarang (kasus di PT. KARYADEKA ALAM
LESTARI). Skripsi S1 Jurusan Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret.

Anugrah, Fanny. 2005. Analisis faktor-faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan
Sawah ke Penggunaan Non Pertanian di Kabupaten Tangerang. Skripsi S1
Jurusan Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas pertanian Institut
Pertanian Bogor.

Boediono. 1993. Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Delliarnov. 2005. Sejarah Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT RajaGrafindo.

Demak Dalam Angka. 1997-2010. BPS Kabupaten Demak.

Dewi,Ni Putu Martini. 2008. Pengaruh Alih Fungsi Lahan Sawah terhadap Produksi
Tanaman Pangan di Kabupaten Badung. Denpasar: Buletin Studi Ekonomi.

Fauziah, Lilis Nur. 2005. Ahli Fungsi Tanah Pertanian Menjadi Tanah Non
Pertanian( Studi Komparatif Indonesia dan Amerika. Yogyakarta: FH UGM.
Ghozali, Imam. 2009. Ekonometrika: Teori, Konsep, dan Aplikasi denagn SPSS 17.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gujarati, Damodar. 1978. Ekonometrika Dasar. (Terj) Sumarmo Zain. Jakarta:
Erlangga.

Irawan, Bambang dan Supeno Friyanto. 2002. Dampak Konversi Lahan Sawah di
Jawa terhadap Produksi Beras dan Kebijakan Pengendaliannya. Bogor :
Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian RI ,Bogor.

Irawan, Bambang. 2005. Konversi Lahan Sawah: Potensi Dampak, Pola
Pemanfaatannya, dan Faktor Determinan. Bogor: Pusat Penelitian
danPengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.

Jawa Tengah Dalam Angka. 2004-2010: BPS Jawa Tengah.

Lembaga Demografi Fakultas Indonesia. 1981. Dasar-dasar Demografi. Jakarta:
FEUI.


29




Lestari. 2009. Faktor-faktor Terjadimya Alih Fungsi Lahan. Dalam Tinjauan Pustaka
Universitas Sumatra Utara

Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: LP3ES.

Nazir, Mohammad. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nicholson, Walter. 2002. Mikroekonomi Intermediate dan Aplikasinya Jakarta:
Erlangga.

Sahara, Dewi dan Idris. 2005. Efisiensi Produksi Sistem Usahatani Padi pada Lahan
Sawah Irigrasi Teknis. Kendari: BPTP Sulawesi Tenggara.

Soekartawi. 1991. Agribisnis: Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers.

Sudarman, Ari. 2002. Teori Ekonomi Mikro. Yoryakarta: BPFE Yogyakarta.

Sukirno, Sadono. 2005. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.

Supranto, J. 2010. Ekonometri. Bogor: ghalia Indonesia.

Todaro, Michael dan Stephen C Smith. 2002. Pembangunan Ekonomi di Dunia
Ketiga. Jakarta: Erlangga.
Wahyunto (Dalam Dalam Tinjauan Pustaka Universitas Sumatra Utara). 2001.
Pengertian Alih Fungsi Lahan. UNSU

Widjanarko et al ( dalam ibrahim). 2006. Dampak Alih Fungsi Lahan.Universitas
Sumatra Utara.

Witono. (dalam Tinjauan Pustaka Universitas Sumatra Utara). 2005. Fakta Alih
Fungsi Lahan. UNSU.