Anda di halaman 1dari 13

0

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II


Topik : Semen Seng Fosfat
Grup : A10
Tgl. Praktikum : 23 Oktober 2013
Pembimbing : Titien Hary Agustantina, drg.,M.Kes


1. Firly Rakhmawati 021211131053
2. Nike Kurniawati 021211131054
3. Claudia Yosephine 021211131055
4. Rizky Nugraha 021211131056
5. Rega Maurischa 021211131057










DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2013
1

1. KOMPETENSI
Pada akhir praktikum mahasiswa dapat melakukan :
a. Manipulasi semen seng fosfat yang digunakan untuk basis dengan cara yang tepat.
b. Manipulasi semen seng fosfat sebagai luting (penyemenan) dengan cara yang tepat.

2. CARA KERJA
2.1. Bahan yang digunakan
a. Bubuk dan cairan semen seng fosfat (Elite Cement 100)
Gambar 1. Bubuk dan cairan semen seng fosfat (Elite Cement 100)
b. Vaselin

Gambar 2. Vaselin
2.2. Alat yang digunakan
a. Glass lab (kaca tebal)
b. Kaca tipis
c. Spatula semen
d. Stopwatch
e. Cetakan sampel
f. Mixing pad
g. Celluloid strip
h. Kuas kecil
i. Cutter
2

j. Timbangan digital
k. Jarum gillmore
l. Plastic filling


Gambar 3. Glass lab Gambar 4. Kaca tipis

Gambar 5. Spatula semen Gambar 6. Stopwatch

Gambar 7. Cetakan sampel Gambar 8. Mixing pad

Gambar 9. Kuas Gambar 10. Cutter


3


Gambar 11. Timbangan digital Gambar 12. Jarum Gillmore
`

Gambar 13. Plastic filling

2.3. Cara Kerja
2.3.1. Semen Seng Fosfat sebagai Luting
a. Bubuk semen seng fosfat diambil menggunakan sendok takar bernomor 3
yang telah disediakan di dalam kemasan semen seng fosfat (sesuai aturan
pabrik). Lalu ditimbang dan dicatat berat dari bubuk tersebut, lalu
diletakkan di atas kaca tebal dan dibagi menjadi 3 bagian.
b. Cairan semen seng fosfat diteteskan secara vertikal di atas kaca tebal
sebanyak 3 tetes (sesuai auran pabrik).
c. Bubuk bagian pertama dimasukkan ke dalam cairan dan diaduk secara
memutar dengan tekanan selama 10 detik, catat waktu mulai pengadukan
antara bubuk dan cairan, selanjutnya bagian kedua ditambahkan dan diaduk
dengan cara yang sama sambil dilakukan spreading demikian seterusnya
sampai semua bubuk habis hingga homogen. Pencampuran seluruh bubuk
dan cairan hingga homogen memerlukan waktu sesuai aturan pabrik.
d. Miringkan letak spatula dengan sudut 45
o
C terhadap glass slab dan ambil
adonan semen, tarik ke atas, maka semen akan ikut terangkat ke atas (tanpa
jatuh), konsistensi adonan tersebut merupakan konsistensi untuk luting
(penyemenan)
4

2.3.2. Semen Seng Fosfat sebagai Basis
a. Bubuk semen seng fosfat diambil menggunakan sendok takar bernomor 3
yang telah disediakan di dalam kemasan semen seng fosfat (sesuai aturan
pabrik). Lalu ditimbang dan dicatat berat dari bubuk tersebut, lalu
diletakkan di atas kaca tebal dan dibagi menjadi 3 bagian.
b. Cairan semen seng fosfat diteteskan secara vertikal di atas kaca tebal
sebanyak 2 tetes (diperlukan lebih sedikit cairan semen untuk basis).
c. Bubuk bagian pertama dimasukkan ke dalam cairan dan diaduk secara
memutar dengan tekanan selama 10 detik, catat waktu mulai pengadukan
antara bubuk dan cairan, selanjutnya bagian kedua ditambahkan dan diaduk
dengan cara yang sama sambil dilakukan spreading demikian seterusnya
sampai semua bubuk habis hingga homogen. Pencampuran seluruh bubuk
dan cairan hingga homogen memerlukan waktu sesuai aturan pabrik.
d. Konsistensi untuk basis tercapai apabila adonan dapat dibentuk menjadi
bola / bulatan dan tidak melekat pada glass lab.

2.3.3. Uji Setting Time Semen Seng Fosfat
a. Cetakan sampel disiapkan dan diletakkan diatas kaca tipis.
b. Adonan semen seng fosfat yang telah homogen dimasukkan ke dalam
cetakan dengan bantuan plastic filling instrument hingga penuh.
c. Permukaan adonan semen seng fosfat ditutup celluloid strip dan kaca tipis.
d. Kaca tipis dan celluloid strip dilepas, permukaan semen seng fosfat siap
dilakukan uji setting time. Jarum Gillmore ditekankan pada permukaan
semen seng fosfat dengan interval tiap 5 detik. Bekas tekanan dari jarum
Gillmore tidak boleh ditempat yang sama. Uji setting time dilakukan hingga
semen seng fosfat setting ditandai dengan tidak ada bekas tekanan dari
jarum Gillmore.
e. Pengukuran nilai setting time dimulai awal pencampuran hingga semen
setting.





5

3. HASIL PRAKTIKUM
Tabel 1. Hasil Pengamatan Semen Seng Fosfat
N
o.
Berat
Powder
Berat
Liquid
Lama Setting
Time
Powder

Liquid
Setting Time
1. 0.33 gram 0.19 gr 16 menit 45 detik
2. 0.31 gram 0.17 gr 14 menit 35 detik
3. 0.32 gram 0.18 gr 14 menit 45 detik
RATA-RATA LUTI NG 0.32 gram 0.18 gr
15 menit 22
detik
4. 0.33 gram 0.13 gr 8 menit
5. 0.32 gram 0.12 gr 9 menit 45 detik
6. 0.32 gram 0.14 gr 9 menit 15 detik
RATA-RATA BASIS 0.32 gram 0.13 gr 9 menit
total
0.64 gram 0.31 gr
24 menit 22
detik

Keterangan:
Nama pengamat luting:
1. Titien Hary Agustantina, drg.,M.Kes
2. Rizky Nugraha
3. Rega Maurischa
Nama pengamat base:
4. Firly Rakhmawati
5. Nike Kurniawati
6. Claudia Yoshepine

Pada praktikum ini, dilakukan 6 kali percobaan dengan pembagian 3 kali
praktikum semen seng fosfat sebagai luting dan 3 kali praktikum semen seng fosfat
sebagai basis. Langkah manipulasinya sama, namun pelaku percobaan berbeda. Pada
buku petunjuk praktikum pada saat manipulasi semen seng fosfat sebagai basis tidak
dilakukan spreading tetapi pada praktikum ini spreading dilakukan dalam manipulasi.
Dari 6 kali percobaan yang telah dilakukan, diperhatikan setting time tiap percobaan.
Hasil percobaan menunjukkan nilai setting time yang hampir sama pada setiap
percobaannya. Pada percobaan semen seng fosfat sebagai luting diperoleh rata-rata
6

setting time sebesar 15 menit 22 detik, sementara pada percobaan semen seng fosfat
sebagai basis diperoleh rata-rata setting time sebesar 9 menit.
Dari percobaan diatas dapat dilihat bahwa semen seng fosfat dengan konsistensi
yang lebih cair membutuhkan setting time yang lebih lama. Hasil percobaan ini sesuai
dengan teori yang sudah ada, yaitu pengerasan semen yang terjadi akan dipengaruhi oleh
perbandingan powder/liquid. Semakin banyak konsistensi liquid yang digunakan, maka
semakin lama setting time nya. Hal tersebut juga dibuktikan dari perbandingan hasil
semen seng fosfat sebagai luting dengan sebagai basis. Setting time percobaan semen
seng fosfat sebagai luting lebih lama daripada percobaan semen seng fosfat sebagai basis,
karena pada percobaan semen seng fosfat sebagai luting, liquid yang digunakan tiga tetes,
sedangkan pada percobaan semen seng fosfat sebagai basis, liquid yang digunakan dua
tetes.

4. PEMBAHASAN
Semen seng fosfat digunakan untuk mahkota tradisional dan jembatan semen
untuk restorasi alloy. Semen Seng fosfat ini disediakan dalam bentuk bubuk dan cairan,
yang dengan hati-hati bercampur untuk bereaksi satu sama lain selama pencampuran
untuk mengembangkan massa semen yang memiliki karakteristik fisik yang diinginkan.
(Craig 2002 hal 595)
Komposisi
Tabel 2. Komposisi Semen Seng Fosfat
Bubuk
Zinc oxide
Sekitar 90 % sebagai bahan
utama aktif
Oksida metalik lainnya
(MgO, SiO
2
, Bi
2
O
3
, BaO,
Ba
2
SO
4
, CaO)
Sekitar 10 %
Cairan
Larutan asam fosfat
(H
3
PO
4
)
Konsentrasi 50-60 %
AI PO
4

Sampai dengan 10 %
sebagai buffer
Zn
3
(PO4)
2


7

Semen ini terdiri dari bubuk dan cairan yang diletakkan pada botol yang terpisah
(Anusavice, 2003. p.461). Komponen reaktif utama dari bubuk adalah seng oksida.
Sedikit oksida lainnya seperti magnesium oksida juga bisa terdapat dalam bubuknya.
Cairan dasarnya adalah larutan asam fosfat buffer dengan menambahkan jumlah kecil dari
seng oksida atau aluminium oksida. Senyawa ini membentuk fosfat yang dapat
menstabilkan pH asam dan mengurangi reaktivitasnya. (Mc Cabe 2008, hal 273)
Bahan-bahan dari bubuk diaduk terlebih dahulu pada temperatur antara 1000
o
C
sampai dengan 1400
o
C dan kemudian ditumbuk menjadi bubuk halus (Anusavice, 2003.
p. 461). Bubuk dipanaskan pada temperatur 1000
o
C selama beberapa jam untuk
mengurangi reaktivitasnya dan menyediakan working time dan setting time yang cukup
untuk semen ini; bila tidak, bahan ini akan setting terlalu cepat (Noort, 2007. p.
272).Ukuran partikel bubuk mempengaruhi kecepatan pengerasan. Umumnya, semakin
kecil ukuran partikelnya, semakin cepat semen mengeras (Anusavice, 2003. p.461).
Magnesium oksida ditambahkan untuk menjaga warna putih dari semen.
Penambahan magnesium oksida memiliki keuntungan lain, yaitu untuk membuat
pulverisation dari seng oksida menjadi lebih mudah, dan juga meningkatkan kekuatan
kompresif dari semen. Oksida yang lain, seperti silika dan alumina, ditambahkan dalam
jumlah yang kecil (sekitar 5%) untuk meningkatkan sifat mekanis dari bahan dan untuk
menyediakan shade yang bervariasi (Noort, 2007. p. 272).
Cairan dari semen seng fosfat mengandung asam fosfor, air, aluminium fosfat, dan
dalam beberapa keadaan juga mengandung seng fosfat. Kandungan air dari cairan adalah
33%5%. Air mengendalikan ionisasi dari asam, yang kemudian akan mempengaruhi
kecepatan reaksi cairan-bubuk (asam-basa) (Anusavice, 2003. p.461). Cairan ini pada
dasarnya adalah larutan asam fosfat yang di-buffer dengan menambahkan sedikit seng
oksida atau aluminium oksida. Senyawa ini membentuk fosfat yang menstabilkan pH
asam dan mengurangi reaktivitasnya (McCabe, 2008. p. 273).
Ketika bubuk dicampur dengan cairan, asam fosfor berkontak dengan permukaan
partikel dan melepaskan ion-ion seng ke dalam cairan. Aluminium, yang sudah
membentuk ikatan dengan asam fosfor, bereaksi dengan seng dan menghasilkan gel seng
aluminofosfat pada permukaan partikel sisanya. Semen yang mengeras adalah sebuah
struktur inti yang terutama terdiri atas partikel seng oksida yang tidak bereaksi, dibungkus
dengan matriks padat yang tidak terbentuk dari seng aluminofosfat (Anusavice, 2003.
p.461).

8

Setting Reaksi
Pada pencampuran bubuk dan cairan secara bersamaan maka akan terjadi suatu
reaksi, sehingga terbentuk seng fosfat yang relatif tidak larut sebagai berikut:
3ZnO + 2H3PO4 + H2O Zn3(PO4)2 4H2O
Hanya pada lapisan permukaan dari partikel oksida seng yang bereaksi, meninggalkan inti
yang tidak digunakan terikat oleh matriks fosfat. Reaksi ini cepat dan exothermic
sekalipun laju disesuaikan oleh adanya buffer dalam asam dan proses khusus
penonaktifan dari bubuk oksida seng yang melibatkan pemanasan dan sintering dengan,
less reactive oxides yang lainnya. (Mc cabe 2008, hal 273)

Basis dan Luting
Basis adalah lapisan semen yang ditempatkan di bawah restorasi permanen untuk
memacu perbaikan dari pulpa yang rusak dan melindunginya dari kerusakan. Kerusakan
itu bisa dari thermal shock bila gigi direstorasi dengan bahan logam dan kerusakan karena
iritasi kimia. Basis berfungsi menahan tekanan selama proses kondensasi serta dapat
memberi bentuk yang structural bagi kavitas. Penggunaan basis dengan tujuan sebagai
insulator terhadap thermal shock tidak dilakukan pada semua restorasi logam, hal ini
terganting pada kedalaman kavitas atau ketebalan dentin yang tersisa. (Anusavice 2003,
hal 461)
Sifat Semen sebagai Basis
- Tidak mengiritasi pulpa dan dapat merangsang pembentukan dentin sekunder
- Compresive strength yang tinggi
- Solubility yang rendah
Semen sebagai luting atau perekat merupakan suatu bahan yang bisa dibentuk
untuk menutup sebuah celah atau untuk menyemen dua komponen menjadi satu, oleh
karena itu istilah yang lebih umum digunakan untuk menjelaskan proses tersebut adalah
sementasi. dalam kedokteran gigi digunakan sebagai retensi dan marginal seal pada
protesa-protesa seperti inlays, onlays, crowns, dan bridges. (Anusavice 2003, hal 449)
Manipulasi Semen Seng Fosfat
Reaksi semen seng fosfat merupakan reaksi eksotermik (reaksi yang
menghasilkan panas). Reaksi eksotermik akan mempercepat setting time karena panas
yang dihasilkan akan meningkatkan energi kinetik partikel. Semakin tinggi energi kinetik
partikel, semakin cepat pergerakan partikel untuk betumbukan dan membentuk matriks.
9

Pengadukan dengan figure-eight motion dapat mengabsorbsi panas dari reaksi eksotermis,
menetralisir asam, dan bubuk dapat tercampur secara keseluruhan (Hatrick, 2011. p. 164).
Oleh karena itu, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi reaksi
eksotermis, yaitu:
1. Pengadukan dengan area yang luas
Bubuk semen zinc phosphate yang mulai dicampur dengan cairan, terjadi pembasahan
dan reaksi kimia. Permukaan dari bubuk alkali larut oleh cairan yang asam
menghasilkan reaksi eksotermis. Dengan membagi bubuk menjadi beberapa bagian
kemudian mencampurkan pada cairan dapat mengurangi panas yang ditimbulkan
karena panas tersebut akan dibebaskan dan dengan mudah terhamburkan. Panas yang
ditimbulkan saat reaksi dapat dibebaskan secara lebih efektif dengan pengadukkan
semen yang meliputi area luas pada glass slab (Craig, 2002). Teknik spreading juga
membantu material menjadi homogen. Karena dengan melakukan spreading membuat
bubuk akan mudah bercampur dengan liquid sehingga seluruh permukaan terbasahi
dan menjadi homogen. (anusavice, hal 466)
2. Penggunaan glass slab yang tebal
Penggunaan glass slab yang tebal dimaksudkan agar temperatur panas yang
dihasilkan dari reaksi eksotermis saat pengadukan semen dapat diserap dengan baik
sehingga temperatur panas bisa segera teratasi (Craig, 2002).
3. Glass slab yang didinginkan
Bahan bahan yang digunakan dalam prosedur pencampuran yang normal memiliki
setting time yang cukup untuk sementasi inlays dan ceowns. Namun, dalam
penyemenan orthodontic bands, waktu kerja yang singkat memungkinkan
penyemenan hanya beberapa band dalam satu kali pencampurran, dan setting time
yang terlalu lama untuk kenyamanan klinis. Frozan slab method telah dikembangkan
untuk mengatasi kesulitan ini. Selain itu, pencampuran semen diatas glas slab yang
didinginkan akan mengurangi efek eksotermis sehingga memungkinkan tercapainya
konsistensi yang benar (Craig, 2002). Suhu yang rendah akan memperpanjang
working time dan setting time serta memudahkan operator untuk menggabungkan
powder dengan liquid sebelum pembentukan matriks sampai pada titik dimana
campuran mengeras. (Anusavice 2003, hal 465)
4. Bubuk dibagi menjadi beberapa bagian
Pada saat sebelum melakukan pencampuran semen, bubuk semen dibagi menjadi
beberapa porsi kecil terhadap cairan, cara ini dilakukan agar panas dapat dilepaskan
10

san mudah menguap (berkurang). Panas dari reaksi akan lebih efektif dilepaskan jika
semen dicampur pada glas slab dingin dengan permukaan yang luas (Craig, 2002).
Dan juga teknik ini dilakukan untuk menunda sedikit setting time dan menciptakan
lebih banyak working time. karena konsentrasi zinc phosphate yang dihasilkan selama
tahap awal dari setting yang tidak cukup untuk menyebabkan peningkatan nyata
dalam viskositas (Mc cabe 2008, hal 273)

5. KESIMPULAN
Semen seng fosfat dapat digunakan sebagai base atau lutting.
Semen seng fosfat sebagai base mempunyai konsistensi lebih kental dibanding semen
seng fosfat sebagai lutting.
Semen seng fosfat sebagai base mempunyai setting time lebih pendek daripada semen
seng fosfat sebagai lutting.

















11

DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, KJ 2003, Phillips Science of Dental Materials, 11
th
ed, Saunders, pp. 449, 461-
463, 465, 466
Craig, RG & Powers, JM 2002, Restorative Dental Material, 11
th
ed, Mosby Elsevier, pp.
595,596,601
McCabe, JW & Walls, AWG 2008, Applied Dental Material, 9
th
ed, Blackwell Publishing,
Oxford, p. 273
Noort, R. V. 2007. Introduction to Dental Materials. 3rd edition. Mosby: Elsevier.









12