Anda di halaman 1dari 5

FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

AZTARI AYU NADYA 06PGO 1501204432


PERSPEKTIF TEORI KRITIS
A. Pengantar
Teori kritis adalah bentuk dari adanya pembetulan dari pandangan konsturktivisme yang kurang
sensitif dalam proses pembuatan dan reproduksi makna. Individu tidak bersifat subjek yang netral
namun dipengaruhi oleh kekuatan social. Begitupula dengan bahasa komunikasi juga bukanlah medium
yang netral, melainkan dipahami sebagai representasi yang berperan pada membentuk subjek tertentu,
tema tema wacana, dan juga strateginya. Maka dari itu harus menggunakan metode analisi untuk
membongkar setiap proses komunikasi. Teori ini tidak bisa disebut sebagai sebuah paradigma, tetapi
sebuah cara pandang terhadap realitas yang memiliki orientasi ideologis.
Jika dilihat dari segi ontologis, perspektif ini sama dengan post positivisme yang menilai objek /
realitas secara kritis. Lalu jika secara epistemologis, hubungan pengamat dan realitas yang menjadi
objeknya adalah tidak bisa dipisahkan. Sehingga aliran ini lebih menekankan pada subjektivitas karena
pengamat ikut campur dalam menentukan kebenaran.

B. Sejarah Perspektif Kritis
1. Pengaruh Marxisme
Model analisis yang mencoba menemukan keuntungan pihak tertentu di balik fenomena yang
dianggap biasa biasa. Marxisme mengembangkan istilah substruktur (factor ekonomi yang
berkembang di masyarakat) yang dipengaruhi oleh superstruktur (factor nonekonomi seperti
agama, politik, seni, literatur) sehingga Marx melakukan revolusi. Secara ilmu Marx yakin
bahwa struktur social yang timpang menyebabkan keterasingan yang tidak dapat dipertahankan
dan membutuhkan kritik dalam usaha mengemansipasi diri dari penindasan oleh hubungan
kekuasaan di dalam masyarakat. Teori bertujuan emansipatoris, teori yang tidak hanya
menggambarkan situasi masyarakat begitu juga membebaskannya.
2. Mazhab Frankfurt
Pembebasan manusia dari perbudakan, membangun masyarakat atas dasar hubungan antar
pribadi yang merdeka dan pemulihan kedudukan manusia sebagai subjek yang mengelola
sendiri kenyataan sosialnya.

C. Pendekatan Teori Kritis Pada Komunikasi
a. Perbedaan Perspektif Positivisme dan Teori Kritis
FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

AZTARI AYU NADYA 06PGO 1501204432
Media dianggap menyebabkan adanya kelas social dalam masyarakat karena media
memanipulasi masyarakat.

PERSPEKTIF POSITIVISME PERSPEKTIF TEORI KRITIS
FAKTA
Fakta real diatur kaidah tertentu Fakta hasil dari pertarungan kekuatan
ekosospol di masyarakat
Berita adalah cermin dari kenyataan Berita terbentuk dari kepentingan kekuatan
dominan
POSISI MEDIA
Sarana yang bebas dan netral Dikuasai oleh kelompok dominan
Menggambarkan apa yang ada dimasyarakat Dimanfaatkan dan menjadi alat kelompok
dominan
POSISI WARTAWAN
Nilai dan ideology di luar proses peliputan

Wartawan adalah pelapor

Tujuan peliputan:
Eksplorasi an menjelaskan apa adanya
Penjaga gerbang
Landasan Etis
Profesionalisma sebagai keuntungan
Wartawan adalah tim untuk mencari
kebenaran
Nilai dan ideology tidak bisa dipisahkan dari
proses peliputan
Wartawan adalah partisipan dari kelompok
yang ada di masyarakat
Tujuan peliputan:
Pemihakan kelompok sendiri atau pihak lain
Sensor diri
Landasan ideologis
Profesionalisme sebagai control
Sebagai pekerja yang mempunyai posisi yang
berbeda dalam kelas sosial
HASIL PELIPUTAN
Dua sisi, dua pihak, kredibel

Objektif menhindarkan opini dan subjektif
Menggunakan bahasa yang tidak menimbulkan
banyak penafsiran
Mencerminkan ideology wartawan dan
kepentingan ekosospol tertentu
Tidak objektif
Bahasa menunjukkan bagaimana kelompok
sendiri diunggulkan

FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

AZTARI AYU NADYA 06PGO 1501204432
Contoh dalam media massa kini:
Tahun 2014 adalah tahun pesta demokrasi bagi seluruh masyarakat Indonesia, para capres
berlomba lomba kampanye melalui media massa. Tak hanya kampanye namun terlihat sekali
pembelokan isu atau pemotongan berita tentang capres lain di sebuah media massa. Hal ini
didasarkan oleh dominasi dan konglomerasi dari kepemilikan media massa. Sebut saja MNC
Group yang dimiliki oleh Harry Tanoe S. Dengan maju sebagai capres bersama Wiranto dari
partai Gerindra, menyebabkan semua media yang dimilikinya sangat menjadi berbau politik dan
adanya sisi keberpihakan. Karena terlihat sekali adanya berita yang terbentuk dari kepentingan
kekuatan dan dimanfaatkan menjadi alat kampanye terselubung oleh WIN-HT apalagi kita lihat
adanya Kuis Kebangsaan. Hal ini menjadi sangat tidak objektif karena sangat memperlihatkan
bagaimana kelompok sendiri sangat diunggulkan.

b. Perbedaan Metode Penelitian Perspektif Positivisme dan Teori Kritis

PARADIGMA POSITIVISTIK PARADIGMA KRITIS
Tujuan Penelitian
Eksplanasi, prediksi dan kontrol Kritik social, emansipasi, transformasi, dan
penguatan sosial
Realitas Objective Realisme
Ada realitas yang real diatur oleh kaidah
tertentu
Historical Realisme
Realitas semu yang terbentuk oleh proses
sejarah dan kekuatan sosbud-ekopol
Posisi Peneliti
Disinterested scientis dan netral Aktivis, advokat, dan transformative
intellectual
Nilai, Etika, Moral
Di luar analisis teks Keberpihakan tidak dapat terpisahkan dari
analisis
Cara Penelitian
Objektif Subjektif
Intervensionis Partisipatif
Kriteria kualitas Penelitian
Obyektif, reliable, dan valid
Kriteria kualitas Penelitian
Historical situadness

1. Cultural Studies
Cultural studies adalah tentang bagaimana budaya dibentuk oleh media dan ditampilkan melalui
media sehingga dapat dipraktekkan dan dijalankan masyarakat.
Pemikiran mengenai media massa bukan dalam hubungannya dengan kekearasan, pornografi,
institusi (politik,ekonomi, keluarga) atau bersifat praktis (produksi film, wawancara, iklan) tetapi
FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

AZTARI AYU NADYA 06PGO 1501204432
sebagai unsur unsur dalam keseluruhan cara menyikapi kehidupan. Masyarakat bersifat
complex, berbeda, kontradiksi dan berinteraksi.
Praktik budaya di masyarakat dengan media berada dibawah control ekonomi dan politik
dominan tertentu. Artikulasi adalah proses diperkuatnya kenyataan dari berbagai sumber.
Hanya budaya dominan yang memiliki artikulasi kuat, budaya dominan dikendalikan dengan
ideology dari golongan elit. Media biasanya menggambarkan ideology secara eksplisit dan
langsung, tetapi masyarakat sebagai penonton memiliki perlawanan dengan adanya penafsiran
menggunakan kategori mereka sendiri.
Sasaran cultural studies adalah mengekspos bagaimana ideology dari kelompok dominan
dipertahankan dan bagaimana ideologi tersebut bisa ditentang. Sehingga dapat memperluas
wilayah kajian komunikasi kearah membongkar dan tak hanya mendeskrpsikan isi media.

2. Studi Feminis
Lelaki dengan ideologi patriarkarnya dianggap sengaja memojokkan kaum perempuan.
Feminisme mengganggap bahwa posisi perempuan (gender) bukanlah karena jenis kelaminnya
(sex) namun didasarkan pada konstruksi social kaum lelaki. Sehingga kaum feminis membuat
istilah emansipasi perempuan yaitu kesetaraan posisi perempuan di ruang public. Feminisme
berasal dari kata femina yang berarti sifat keperempuanan. Aida Fitalaya mengatakan bahwa
feminisme diawali oleh persepsi ketimpangan posisi perempuan disbanding laki laki di
masyarakat. Maka dari itu harus ada penyeraraan hak perempuan dan laki laki dalam segala
bidang sesuai potensi mereka sebagai human being.
Muncul konsep gender, yaitu sifat yang melekat pada kaum lelaki maupun perempuan yang
dibentuk secara social dan juga cultural. Menurut kaum feminis konsep gender tidak bersifat
alami tetapi terjadi karena adanya konstruksi social dan cultural yang berporses sepanjang hidup
kita.
Lima fenomena ketidakadilan gender:
i. Marjinalisasi perempuan di rumah tangga, di tempat kerja, maupun bidang lainnya.
ii. Subordinasi perempuan karena anggapan perempuan irrasional dan emosional jadinya tidak
mampu memimpin sehingga ditempatkan pada posisi tidak penting.
iii. Stereotip perempuan, missal perempuan bersolek untuk memancing perhatian laki laki.
Makanya masyarakat sering menyalahkan perempuan sebagai perkosaan karena pelabelan
stereotip ini.
FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

AZTARI AYU NADYA 06PGO 1501204432
iv. Kekerasan perempuan secara fisik maupun psikologi karena perempuan dianggap lemah.
v. Pembagian kerja secara seksual yang sangat merugikan perempuan. Misalnya perempuan
mendingan di rumah saja masak di dapur dan tidak pantas melakukan pekerjaan public
layaknya seperti laki laki. Ini menyebabkan perempuan terkurung dalam ruang dan wawasan
yang sempit.

D. Kesimpulan
Hubungan ideology pemilik media dengan power:
- Ideologi apa yang dipraktikkan?
- Kekuatan untuk memberitakan sebuah isu
- Hubungan si pemilik untuk menentukan isi media
Perspektif teori kritis adalah upaya untuk membongkar ideologi dominan yang menindas. Ideologi
menjadi inti kritiknya dan dapat dipahami sebagai hubungan kekuasaan yang ada di luar suatu kelas