Anda di halaman 1dari 185

BUKU AJAR

HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL


Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta:
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).
(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 29 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima
ratus juta rupiah).
2012 Airlangga University Press
AUP 300/37.464/12.12-A2E
Dilarang mengutip dan atau memperbanyak tanpa izin tertulis dari
Penerbit sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun, baik cetak,
fotoprint, mikrolm dan sebagainya.
Cetakan pertama 2012
Penerbit:
Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair (AUP)
Kampus C Unair, Jl. Mulyorejo Surabaya 60115
Telp. (031) 5992246, 5992247 Fax. (031) 5992248
E-mail: aupsby@rad.net.id.
Dicetak oleh: Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair (AUP)
(RK. 098/10.12/AUP-A2E)
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Akt Aktieva Tri Tjitrawati
b Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional/Aktieva Tri Tjitrawati;
Jani Purnawanty Cet. 1 Surabaya: Pusat Penerbitan dan
Percetakan Universitas Airlangga, 2012
x, 175 hlm.: ilus.; 15,8 23 cm
Bibliogra: Ada
ISBN 978-602-8967-93-8
1. Hukum Internasional I Aktieva Tri Tjitrawati
II Jani Purnawanti

341
12 13 14 15 16 / 9 8 7 6 5 4 3 2 1
ANGGOTA IKAPI: 001/JTI/95
v
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah swt. yang atas perkenan-Nyalah buku ajar ini dapat
diselesaikan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Buku ajar ini
dimaksudkan sebagai materi dasar bagi mahasiswa sebagai bekal untuk bisa
memahami materi-materi yang akan disampaikan oleh Dosen pengajar mata
kuliah Perjanjian Internasional.
Pada era global seperti saat ini, setiap mahasiswa fakultas hukum dituntut
untuk memahami instrumen-instrumen dasar yang digunakan negara-negara
dan subjek-subjek hukum internasional lainnya dalam melakukan hubungan
dan kerja sama internasional, terutama yang disusun dan diatur dalam bentuk
formal dan tertulis sebagaimana perjanjian internasional. Dalam bidang
apapun nantinya mahasiswa akan berkarya, teori-teori mengenai perjanjian
internasional akan sangat bermanfaat bagi mereka untuk meningkatkan
kemampuan menganalisis dan menyelesaikan permasalahan hukum yang
dihadapi.
Kami menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah mendukung
penyelesaian dan penerbitan buku ajar ini, khususnya kepada Ketua dan staf
Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) yang dengan
sabar mengingatkan penyelesaiannya. Kami berharap agar buku ini dapat
dimanfaatkan oleh mahasiswa demi kelancaran proses belajar mengajar di
Fakultas Hukum UNAIR, dan bagi penulis sendiri, dapat menjadi cikal bakal
penulisan buku teks mengenai bidang ini di masa yang akan datang.
Penulis
vii
Kata Pengantar .............................................................................................. v
Bab 1
PEMAHAMAN DASAR PERJANJIAN INTERNASIONAL ............... 1
Kebutuhan akan Aturan Mengenai Perjanjian Internasional ............. 1
Konvensi Wina 1969 sebagai Perjanjian Internasional tentang
Perjanjian Internasional .............................................................................. 3
Sumber Hukum Pengaturan Perjanjian Internasional .......................... 5
Definisi Perjanjian Internasional ............................................................... 6
Fungsi Perjanjian Internasional ................................................................. 9
Penyebutan dan Penamaan Perjanjian Internasional ............................ 10
Klasifikasi PI ................................................................................................. 13
Umpan Balik.................................................................................................. 14
Rangkuman ................................................................................................... 14
Latihan Soal ................................................................................................... 15
Bab 2
HUBUNGAN ANTARA PI DENGAN HUKUM KEBIASAAN
INTERNASIONAL ........................................................................................... 17
Hubungan antara Konvensi Wina 1969 dan Hukum Kebiasaan
Internasional ................................................................................................. 17
Konvensi Wina 1969 sebagai Hasil Kodifikasi dan Perkembangan
Progresif ......................................................................................................... 21
Umpan Balik.................................................................................................. 30
Latihan Soal ................................................................................................... 30
Daftar Bacaan ................................................................................................ 32
DAFTAR ISI
viii Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional
Bab 3
PEMBENTUKAN DAN PEMBERLAKUAN PERJANJIAN ................. 33
Pembentukan Perjanjian ............................................................................. 33
Kuasa Penuh (Full Powers) ........................................................................... 34
Adopsi dan Otentikasi ................................................................................ 37
Pernyataan Persetujuan untuk Terikat dalam Perjanjian (Consent to
be Bound) ......................................................................................................... 39
Kewajiban untuk tidak Merusak Maksud dan Tujuan Perjanjian ...... 41
Berlakunya Perjanjian dan Penerapan Perjanjian Sementara .............. 42
Umpan Balik.................................................................................................. 44
Latihan Soal ................................................................................................... 45
Daftar Bacaan ................................................................................................ 46
Bab 4
RESERVASI (PERSYARATAN) DALAM PI ............................................. 47
Latar Belakang Lahirnya Reservasi .......................................................... 47
Pengertian Reservasi ................................................................................... 48
Alasan Mengajukan Reservasi .................................................................. 50
Larangan dan Pembatasan Reservasi ....................................................... 51
Dampak dari Reservasi terhadap Partisipasi dalam Perjanjian .......... 53
Perumusan tentang Pensyaratan dalam PI ............................................. 61
Pensyaratan atas Instrumen Utama suatu Organisasi Internasional 64
Akibat Hukum dari Reservasi dan Penolakan terhadap Reservasi ... 65
Penarikan Kembali Reservasi dan Penarikan Kembali Penolakan
terhadap Reservasi ....................................................................................... 67
Penarikan Kembali atas Reservasi ............................................................ 68
Penarikan Kembali atas Penolakan terhadap Reservasi ....................... 69
Mulai Berlakunya Penarikan Kembali Reservasi dan Penolakan
terhadap Reservasi ....................................................................................... 70
Prosedur Mengenai Pengajuan Reservasi, Penerimaan, dan
Penolakan terhadap Reservasi ................................................................... 71
Pengaturan Mengenai Reservasi dalam Hukum Positif Indonesia .... 74
Sejarah Perumusan Ketentuan Mengenai Reservasi dalam Konferensi
dan Pembahasan ILC ................................................................................... 75
Umpan Balik.................................................................................................. 83
Daftar Bacaan ................................................................................................ 84
ix Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional
Bab 5
AKIBAT PI .......................................................................................................... 85
Pengantar ....................................................................................................... 85
Akibat PI bagi Para Pihak ........................................................................... 86
Akibat PI Berkenaan dengan Ruang Lingkup Wilayah ....................... 87
Akibat PI Berkenaan dengan Individu Warga Negara ......................... 89
Akibat PI Berkenaan dengan Perubahan Pemerintah .......................... 90
Akibat Perjanjian Berkenaan dengan Amandemen, Modifikasi, dan
Revisi .............................................................................................................. 94
Revisi Perjanjian ........................................................................................... 96
Akibat PI Berkenaan dengan Jaminan Pelaksanaannya ...................... 98
Akibat PI pada Pihak Ketiga ...................................................................... 101
PI dapat Mempunyai Akibat bagi Pihak Ketiga atas Persetujuan
Mereka ............................................................................................................ 103
Partisipasi Pihak Ketiga sebagai Pemantau ............................................ 104
Perjanjian yang Memberikan Hak Kepada Negara ............................... 104
Perjanjian yang Dibuat Hanya untuk Menimbulkan Hak Bagi Pihak
Ketiga .............................................................................................................. 104
PI dapat Mengikat Negara Ketiga sebagai Aturan Hukum Kebiasaan
Internasional ................................................................................................. 105
Kewajiban bagi Kelompok Negara Non-Pihak ....................................... 105
Partisipasi Pihak Ketiga dalam Perjanjian .............................................. 106
Latihan Soal ................................................................................................... 107
Daftar Bacaan ................................................................................................ 107
Bab 6
KEABSAHAN DAN KETIDAKABSAHAN PI ........................................ 109
Pengantar ....................................................................................................... 109
Sebab-sebab tidak Sahnya Suatu PI .......................................................... 112
Akibat-akibat Batal/tidak Sah-nya Suatu Perjanjian .............................. 115
Hilangnya Hak untuk Menyatakan tidak Sah ....................................... 116
Prosedur dan Instrumen dalam Menyatakan Ketidakabsahan PI ..... 117
Keabsahan PI dalam Peraturan Perundangan Nasional Indonesia ... 119
Latihan Soal ................................................................................................... 120
Daftar Bacaan ................................................................................................ 121
x Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional
Bab 7
PEMBATALAN PI ............................................................................................ 123
Pengantar ....................................................................................................... 124
Sebab-sebab Batalnya Perjanjian ............................................................... 125
Sebab-sebab Pembatalan Berlakunya PI .................................................. 129
Prosedur Membatalkan PI .......................................................................... 135
Konsekuensi Batalnya suatu Perjanjian ................................................... 137
Umpan Balik.................................................................................................. 139
Latihan Soal ................................................................................................... 139
Daftar Bacaan ................................................................................................ 141
LAMPIRAN ....................................................................................................... 143
1
1
DESKRIPSI BAB
Materi ini merupakan pengantar bagi mahasiswa untuk mendapatkan
pemahaman dasar tentang lingkup berlakunya Konvensi Wina 1969, arti
penting Konvensi Wina 1969 dan kaitannya dengan Hukum Internasional
umum. Pengetahuan dasar tentang Hukum Perjanjian Internasional yang
meliputi Sumber Hukum Pengaturan Perjanjian Internasional (Regim Hukum
Internasional dan Regim Hukum Nasional), Denisi Perjanjian Internasional,
Fungsi Perjanjian Internasional, Penyebutan dan Penamaan Perjanjian
Internasional, dan Klasikasi Perjanjian Internasional.
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu menjelaskan peran dan fungsi PI dalam hubungan
internasional;
2. Mahasiswa mampu membedakan PI dengan perjanjian yang berkarakter
internasional
3. Mahasiswa mampu memberikan contoh-contoh PI yang dibuat dalam
kerangka negara, organisasi internasional, dan konferensi internasional;
4. Mahasiswa mampu mengidentikasi PI berdasarkan pengklasikasian
PI;
KEBUTUHAN AKAN ATURAN MENGENAI PERJANJI AN
INTERNASIONAL
Keberhasilan penyelenggaraan Konferensi Hukum Perjanjian Internasional di
Wina dari 26 Maret sampai 24 Mei 1968 dan dari 9 April sampai 22 Mei 1969
yang menghasilkan Konvensi Wina mengenai Perjanjian Internasional (the
Vienna Convention on the Law of Treaties 1969) dianggap sebagai keberhasilan
luar biasa mengingat luasnya jangkauan dan kompleksitas hukum PI. Konvensi
ini merupakan produk dari berbagai kepentingan dan pandangan yang saling
bertentangan, oleh karenanya terdapat kecenderungan untuk menyelesaikan
PEMAHAMAN DASAR
PERJANJIAN INTERNASIONAL
2 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 2
perbedaan melalui perumusan aturan-aturan di dalamnya dengan tingkat
generalisasi dan abstraksi yang tinggi.
Konvensi Wina 1969, di satu sisi merupakan wujud kodikasi dari hukum
kebiasaan yang berlaku pada saat itu (the existing costumary law), namun di sisi
lain juga mengadopsi kebutuhan untuk mengantisipasi perkembangan jaman.
Keberadaan Konvensi Wina 1969 ini menjadi signikan dalam perspektif
kebutuhan akan adanya suatu aturan berkenaan dengan proses penormaan
Hukum Internasional karena, berbeda halnya dengan proses penormaan
hukum dalam ranah Hukum Nasional, penormaan dalam Hukum Internasional
bergantung pada kehendak dan praktik negara-negara sendiri. Kesepakatan
negara, baik yang nampak secara jelas atau tersamar terhadap berlakunya
suatu aturan dalam Hukum Internasional menjadi penting.
Adanya aturan yang menegaskan bagaimana proses terbentuknya suatu PI
menjadi lebih signikan ketika Statuta Mahkamah Internasional menempatkan
PI pada tempat tertinggi dalam hirarki sumber-sumber Hukum Internasional
(Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah Internasional). Mahkamah Internasional dapat
menggunakan sumber-sumber hukum yang ditentukan di dalam Pasal 38 (1)
Statuta Mahkamah Internasional tersebut sebagai dasar penyelesaian sengketa
yang di dalamnya terdapat konik dari berbagai norma.
Dari ketentuan tersebut tersirat alasan mengapa PI menempati tempat
utama dalam hirarki sumber Hukum Internasional. Pengutamaan ini bukan
tanpa alasan, mengingat lebih jelasnya wujud kesepakatan negara terhadap
PI yang diikutinya, dibandingkan dengan penerimaan negara atas berlakunya
suatu aturan dalam kebiasaan internasional. Mahkamah Internasional lebih
mempercayai validitas aturan yang telah mendapat persetujuan secara khusus
atau secara tegas dari para pihak yang bersengketa, sebelum beralih pada
peraturan yang validitasnya bergantung pada dugaan persetujuan yang tidak
jelas sebagaimana yang ada dalam Hukum Kebiasaan Internasional.
Hirarki sumber Hukum Internasional sebagaimana terurai dalam Statuta
Mahkamah Internasional tersebut pada dasarnya sesuai dengan prinsip hukum
dan karakter Hukum Internasional sebagai kumpulan peraturan yang didasarkan
pada kesepakatan negara-negara. Melalui PI, hak dan kewajiban negara secara
tegas ditentukan oleh kesepakatan negara itu sendiri. Melalui PI pula, hak
individual negara secara khusus ditetapkan dalam kesepakatan yang mengikat.
Ketika terjadi kontroversi antara dua atau beberapa negara yang berkaitan
dengan masalah yang diatur dalam perjanjian, maka negara-negara itu dapat
meminta bantuan kepada lembaga penyelesaian sengketa internasional yang
harus memberlakukan ketentuan perjanjian yang diperkarakan. Ketika terjadi
kontroversi antara dua atau beberapa negara yang berkaitan dengan masalah
yang diatur dalam perjanjian, maka negara-negara itu harus memohon bantuan
kepada lembaga yang bertindak sebagai penengah yang harus memberlakukan
ketentuan perjanjian yang diperkarakan terlebih dahulu.
3 Bab 1 Pemahaman Dasar Perjanjian Internasional 3
Sekalipun terdapat pengutamaan PI sebagai sumber Hukum Internasional
yang diakui oleh pihak-pihak yang terkait, namun untuk mampu menghasilkan
kesimpulan, formasi, interpretasi dan validitas, PI masih membutuhkan bantuan
dari sumber-sumber hukum lainnya.
Sebelum ada Konvensi Wina tentang Hukum PI, sumber sebagian besar
aturan hukum PI terletak pada kebiasaan internasional yang merepresentasikan
bukti adanya sebuah praktik umum yang diterima sebagai hukum. Bahkan
prinsip yang paling mendasar dari pelaksanaan PI, yaitu prinsip pacta sunt
servanda pun memiliki karakter ekstra legal. Prinsip ini menegaskan bahwa
setiap perjanjian yang berlaku bersifat mengikat pihak-pihak yang ada di
dalamnya. Ketentuan ini tidak hanya bersandar pada prinsip kesepakatan
tersebut, namun juga berlandaskan pada pertimbangan-pertimbangan yang
berkaitan dengan daya ikat Hukum Internasional secara umum, pembahasan
mengenai hal ini merupakan kajian yang lebih bersifat losos.
KONVENSI WINA 1969 SEBAGAI PERJANJIAN INTERNASIONAL
TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL
Topik tentang Hukum PI dimasukkan dalam program kerja Komisi Hukum
Internasional sejak sesi pertama tahun 1949 dan menjadi prioritas utama
sebagai topik yang harus dikodikasi. Dua pelopor utama pembentukan PI
tentang PI, yaitu Profesor Brierly dan Lauterpacht, mempersiapkan rancangan
ketentuan-ketentuan yang akhirnya dapat menjadi dasar konvensi internasional.
Sir Gerald Fitzmaurice menggantikan Profesor Lauterpacht pada tahun 1965, di
mana ia dalam laporannya mengangkat pertanyaan yang mendasar tentang
apakah kodikasi Hukum PI harus dalam bentuk konvensi internasional atau
cukup dalam bentuk pedoman (expository code).
Fitzmaurice sendiri lebih menyukai bentuk expository code karena dua
alasan. Pertama, tidaklah layak sebuah aturan mengenai PI berbentuk sebuah
perjanjian, lebih layak bila perjanjian itu memiliki dasar tersendiri. Kedua,
banyak aturan yang berkaitan dengan PI yang bersifat khas, sehingga tidak
cocok untuk disusun dalam bentuk konvensi. Aturan-aturan mengenai PI
yang ada terdiri dari penjabaran prinsip-prinsip dan peraturan abstrak, yang
biasanya lebih mudah dituangkan dalam bentuk sebuah code. Bentuk code juga
memiliki kelebihan lain, yaitu memungkinkan digunakannya bahan-bahan
yang bersifat eksplanatif dan deklaratif yang lebih adaptif terhadap kebutuhan-
kebutuhan pembentukan PI. Hal ini mustahil dilakukan bila aturan-aturan
mengenai perjanjian itu dibatasi oleh kewajian-kewajiban yang tegas.
Setelah perdebatan singkat selama delapan sesi pada tahun 1956, Komisi
menyetujui usulan bahwa kodikasi Hukum PI harus dalam bentuk expository
code. Namun, muncul keraguan pada Komisi ketika komisi dihadapkan
dengan lima laporan yang secara rinci diberikan oleh Fitzmaurice pada
4 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 4
tahun berikutnya. Laporan ini menyajikan sejumlah uraian dalam rancangan
ketentuan dalam code, yang didasarkan pada pengalaman panjang penulis
dalam hal pembuatan perjanjian.
Komisi Hukum Internasional internasional tidak mampu mencurahkan
waktunya bagi lima laporan yang diserahkan Fitzmaurice, sebelum akhirnya
ia mengundurkan diri dari Komisi itu setelah terpilihnya dia sebagai anggota
Mahkamah Internasional tahun 1960 untuk mengisi posisi Hakim Lauterpacht
yang meninggal. Namun pada tahun 1961, Komisi Hukum Internasional merasa
perlu untuk mempertimbangkan kembali masalah-masalah yang fundamental
mengenai hukum PI. Beberapa anggota Komisi mengajukan argumen untuk
lebih mendukung aturan PI dalam bentuk Konvensi daripada code, yaitu bahwa:
(a) sekalipun Komisi mampu merumuskan code dengan baik, namun kemampuan
code untuk mengkonsolidasikan hukum tidak akan seefektif Konvensi; dan
(b) kodikasi Hukum PI melalui berbagai konvensi akan memberikan peluang
bagi semua Negara baru untuk berpartisipasi langsung dalam perumusan
Hukum PI, yang mana hal ini diperlukan untuk menempatkan Hukum PI
pada landasan yang lebih luas dan lebih kokoh.
Komisi Hukum Internasional akhirnya sampai pada sebuah keputusan
pada 1961 bahwa harus dilakukan kodikasi terhadap ketentuan-ketentuan
yang mengatur PI untuk dapat digunakan sebagai dasar bagi pembentukan
sebuah Konvensi mengenai PI.
Walaupun sebagian besar pemerintah negara peserta Konferensi pada
dasarnya lebih menyukai perumusan Konvensi Hukum PI berdasarkan
rancangan Pasal yang disiapkan oleh Komisi Hukum Internasional di akhir
tahun 1965, namun mereka masih ragu-ragu untuk menentukan bentuk dari
aturan yang akan mereka buat. Sebagian Pemerintah mengatakan bahwa
code pun mampu mengkonsolidasikan kepentingan-kepentingan masyarakat
internasional sebagaimana halnya dengan konvensi, apalagi bentuk konvensi pun
tidak selalu menjamin adanya partisipasi negara-negara baru dalam melakukan
kodikasi. Dikemukakan pula kekhawatiran akan adanya ketidakkonsistenan
logika tertentu dalam menyusun sebuah PI menurut metode penyusunan
sebuah PI. Adanya PI mengenai PI (untuk disebut selanjutnya "PI mengenai
PI") akan menciptakan sistem yang dualistik, karena perjanjian itu hanya
akan berlaku bagi pihak-pihak yang terikat di dalamnya, sedangkan hukum
kebiasaan dapat diberlakukan bagi negara-negara lainnya.
Selain keraguan yang berkaitan dengan doktrin tentang nilai dan manfaat PI
mengenai PI, selama periode antara 1961 dan 1966 Komisi Hukum Internasional
berupaya menyusun kembali pekerjaannya menjadi bentuk rancangan Pasal
yang sesuai guna dipadukan menjadi sebuah konvensi internasional. Upaya
ini mengharuskan adanya penghapusan terhadap elemen-elemen deskriptif
yang ada dalam rancangan sebelumnya untuk menghasilkan serangkaian
teks ringkas yang terbatas pada rumusan mengenai prinsip-prinsip hukum
5 Bab 1 Pemahaman Dasar Perjanjian Internasional 5
atau aturan-aturan hukum perjanjian yang digunakan atau dikualikasikan
melalui kesepakatan di antaranegara-negara yang ikut serta dalam penyusunan
Konvensi.
SUMBER HUKUM PENGATURAN PERJANJIAN INTERNASIONAL
Secara umum, pengertian PI adalah setiap perjanjian tertulis antara dua atau
lebih subjek Hukum Internasional mengenai suatu objek atau masalah tertentu
dengan maksud untuk membentuk hubungan hukum atau melahirkan hak
dan kewajiban yang diatur oleh Hukum Internasional. Dalam regim Hukum
Internasional, denisi PI dimuat dalam beberapa Konvensi, yaitu:
1. Pasal 2.1.a Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 yang
mendensikan PI sebagai "an international agreement concluded between states
in wrien form and governed by International Law, whether embodied in a single
instrument or in two or more related instruments and whatever its particular
designation".
2. Pasal 2.1.a Vienna Convention on Succession of States in respect of Treaties
1978 mendenisikan PI sebagai "an international agreement concluded between
states in wrien form and governed by International Law, whether embodied
in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its
particular designation".
3. Pasal 2.1.a Vienna Convention on the Law of Treaties between States
and International Organizations of between International Organization
mendenisikan PI sebagai "an international agreement governed by International
Law and concluded in wrien form (i) between one or more states and one or
more international organization and (ii) between international organizations
whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments
and whatever its particular designation".
Sedangkan dalam regim Hukum Indonesia, PI didenisikan pada:
1. Pasal 1.1 UU No. 24 Th. 2000 tentang PI sebagaimana diumumkan pada
LNRI Th. 2000 No. 185, yaitu "perjanjian dalam bentuk dan nama tertentu
yang diatur dalam Hukum Internasional yang dibuat secara tertulis serta
menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik".
2. Pasal 1.3 UU No. 37 Th. 1999 tentang Hubungan Luar Negeri sebagaimana
diumumkan pada LNRI Th. 1999 No. 156, yaitu "perjanjian dalam bentuk
dan sebutan apa pun, yang diatur oleh Hukum Internasional dan dibuat
secara tertulis oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan satu atau
lebih negara, organisasi internasional, atau subjek Hukum Internasional
lainnya serta menimbulkan hak dan kewajiban oleh Pemerintah Republik
Indonesia yang bersifat hukum publik".
6 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 6
DEFINISI PERJANJIAN INTERNASIONAL
Pengertian umum PI dalam pengertian yang sempit adalah "kata sepakat
antara dua atau lebih subjek Hukum Internasional mengenai suatu objek
atau masalah tertentu dengan maksud untuk membentuk hubungan hukum
atau melahirkan hak dan kewajiban yang diatur oleh Hukum Internasional".
Dalam pengertian umum di atas dapat disimpulkan bahwa:
a. Pertama, yang dipandang sebagai subjek Hukum Internasional yang dapat
mengadakan perjanjian adalah semua subjek Hukum Internasional.
b. Kedua, PI yang dapat dadikan objek adalah PI tertulis maupun tidak
tertulis.
Pengertian PI di atas disebut sebagai pengertian yang sempit karena dalam
pengertian tersebut tidak ada pembatasan mengenai subjek-subjek hukum apa
yang dapat mengadakan PI, dan PI yang berbentuk bagaimana yang dapat
dadikan objek dalam suatu PI. Ruang lingkup PI yang sempit ini hanya dapat
dipakai sebagai pedoman awal dalam pembahasan secara mendalam tentang
PI dan dapat digunakan sebagai titik tolak untuk mengklasikasikan PI.
Dari pengertian PI yang sempit di atas dapat kita rumuskan 'PI yang lebih
luas', yaitu "kata sepakat antara dua atau lebih subjek Hukum Internasional
(yaitu negara, Tahta Suci, Kaum Pemberontak, Organisasi Internasional)
mengenai suatu objek tertentu yang dirumuskan secara tertulis dan tunduk
pada Hukum Internasional".
Berdasarkan pengertian di atas dapat kita ketahui bahwa terdapat
pembatasan-pembatasan terhadap subjek dan objek yang dapat melakukan PI.
Subjek Hukum Internasional yang dapat mengadakan PI dibatasi menjadi hanya
subjek Hukum Internasional tertentu, seperti negara, organisasi internasional,
tahta suci, dan kaum pemberontak. Sedangkan objek PI juga dibatasi hanya
PI yang berbentuk tertulis saja yang dapat dadikan sebagai objek suatu PI.
Pengertian yang luas ini memberi gambaran secara mendalam mengenai
klasikasi PI itu sendiri.
Sedangkan Pasal 2 Konvensi Wina 1969 mengatur bahwa yang dapat
dikatakan sebagai PI (treaty) adalah "suatu perjanjian yang dibuat antara
negara dalam bentuk tertulis dan diatur oleh Hukum Internasional, apakah
dalam instrument yang berkaitan dan apapun nama instrument tersebut". Dari
Pasal 2 Konvensi Wina 1969 tersebut juga dapat kita tarik gambaran bahwa
pihak yang dapat mengadakan PI adalah subjek-subjek Hukum Internasional
tertentu dan dibuat dalam bentuk tertulis. Pada 2 Konvensi Wina 1969 ini bisa
dikatakan merupakan implementasi dari pengertian PI dalam arti luas.
"Subjek-subjek Internasional yang memiliki kemampuan untuk mengadakan
PI". Berdasarkan pengertian tersebut", maka dapat disimpulkan bahwa suatu PI
dapat dikatakan merupakan suatu perjanjian yang sah apabila telah memenuhi
unsur-unsur sebagai berikut:
7 Bab 1 Pemahaman Dasar Perjanjian Internasional 7
1. Kata Sepakat. Kata sepakat merupakan unsur yang sangat penting dari
suatu perjanjian. Kata sepakat ini sebagai persetujuan mengenai penentuan
hal-hal yang akan dirumuskan dalam naskah perjanjian tersebut;
2. Subjek Hukum. Subjek-subjek Hukum Internasional yang dapat menjadi
pihak pada suatu PI adalah:
a. Negara. negara adalah subjek Hukum Internasional, per excellence,
yang mempunyai kapasitas penuh (full capacity) untuk membuat
perjanjian-PI. Dalam PI yang bersifat tertutup, pihak-pihak melakukan
perundingan adalah pihak-pihak yang terikat pada perjanjian.
Contohnya, perjanjian bilateral atau multilateral terbatas. Sedangkan
pada PI yang bersifat terbuka negara-negara yang terlibat secara aktif
dalam proses perundingan untuk merumuskan naskah perjanjian
belum tentu akan menjadi pihak atau peserta pada perjanjian yang
bersangkutan.
b. Negara Bagian. negara bagian dari suatu negara federal dapat juga
menjadi subjek yang dapat melakukan PI sepanjang diatur oleh
konstitusi negara federal masing-masing.
c. Tahta Suci Vatikan. Walaupun tahta suci bukanlah negara dalam arti
yang sebenarnya tetapi dalam Hukum Internasional kedudukannya
sama seperti negara. Oleh karena itu tahta suci dapat membuka
hubungan diplomatik dan mengadakan PI dengan negara, organisasi
internasional maupun subjek Hukum Internasional lainnya.
d. Wilayah Perwalian. Wilayah perwalian pada mulanya merupakan
wilayah jajahan dari negara-negara Kolonial (bekas penjajah) yang
karena kalah dalam Perang Dunia Pertama, lalu diubah statusnya
menjadi wilayah mandat dalam kerangka Liga Bangsa-Bangsa, seperti
wilayah-wilayah bekas jajahan Jerman dan Italia. Pasal 87 Piagam
PBB secara khusus mengatur tentang sistem perwalian internasional.
Namun, meskipun wilayah perwalian ini belum merdeka penuh,
tetapi diberikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban internasional untuk
mengadakan PI.
e. Organisasi Internasional. Meskipun anggota-anggotanya adalah
negara, tetapi kedudukan organisasi internasional tidaklah di atas
negara, melainkan sejajar dengan negara. Oleh karena itu organisasi
internasional dapat terlibat dalam suatu PI, baik itu perjanjian
yang dilakukan antara organisasi internasional dengan organisasi
internasional maupun antarorganisasi internasional dengan negara.
i. Contoh: PI yang dibuat oleh organisasi internasional dengan
organisasi internasional adalah konvensi yang ditandatangani pada
tanggal 19 April dan 19 Juli 1946 di Jenewa antara Liga Bangsa-
Bangsa dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai penyerahan
inventaris dan gedung dari LBB kepada PBB.
8 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 8
ii. Contoh: PI yang dibuat oleh organisasi internasional dengan negara
adalah Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan
Sekretariat ASEAN mengenai Hak Istimewa dan Kekebalan Hukum
Sekretariat ASEAN di Jakarta pada tanggal 20 Januari 1979.
f. Kaum Pemberontak (Belligerensi). Kaum pemberontak atau kaum
belligerensi ini pada hakikatnya kedudukannya sederajat dengan
pemerintah yang berkuasa, maupun dengan negara-negara lain pada
umumnya. Oleh karena itu kaum belligerensi dapat melakukan PI
dengan subjek-subjek Hukum Internasional lainnya, seperti negara.
Contohnya pada persetujuan antara negara Perancis dengan Front De
Liberation Nationale (FLN) Aljazair pada tanggal 19 Maret 1962.
g. Bangsa yang Sedang Memperjuangkan Haknya. Bangsa-bangsa masih
terjajah yang dapat memperjuangkan hak-haknya untuk merdeka
dapat melakukan PI dengan negara yang menjajahnya. Contohnya
Palestine Liberation Organization (PLO), yang pernah diproklamasikan
menjadi negara Palestine Merdeka pada tanggal 15 November 1988,
tetapi hingga kini masalahnya belum selesai.
3. Berbentuk Tertulis. Sebagai perwujudan dari kata sepakat yang otentik
di antara para pihak yang melakukan perjanjian dan bersifat mengikat
para pihak, maka PI tersebut dirumuskan secara tertulis dalam bahasa
dan tulisan yang dipahami dan disepakati para pihak yang bersangkutan.
Dengan berbentuk tertulis ini akan menjamin ketegasan, kejelasan dan
kepastian hukum bagi para pihak maupun bagi pihak ketiga yang mungkin
terlibat dalam perjanjian itu.
Masyarakat internasional sejak tahun 1949 telah berupaya untuk
mengkodikasi kebiasaan Hukum Internasional yang mengatur masalah PI.
Upaya tersebut telah membuahkan hasil dengan telah diterimanya Konvensi
Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian (Vienna Convention on the Law of Treaties,
1969) oleh PBB pada tanggal 22 Mei 1969. Konvensi yang telah berlaku sejak
27 Januari 1980 tersebut saat ini masih menjadi rujukan utama yang mengatur
Hukum PI. Menurut Pasal 2 Konvensi Wina 1969, Treaty didenisikan sebagai
berikut "an international agreement concluded between states in wrien form and
governed by international law, whether embodied in a single instrument or in two
or more related instruments and whatever its particular designation." Berdasarkan
denisi di atas dapat disimpulkan bahwa PI adalah semua perjanjian yang
dibuat oleh subjek Hukum Internasional yang diatur oleh Hukum Internasional
dan berisikan ikatan-ikatan yang mempunyai akibat-akibat hukum.
9 Bab 1 Pemahaman Dasar Perjanjian Internasional 9
FUNGSI PERJANJIAN INTERNASIONAL
Setiap perjanjian melahirkan hubungan hukum berupa hak-hak dan kewajiban-
kewajiban bagi para pihak yang terikat pada perjanjian itu. Demikian pula
dari sejak perundingan untuk merumuskan naskah perjanjian, pemberlakuan,
pelaksanaan dengan segala permasalahan yang timbul serta pengakhiran
berlakunya perjanjian, seluruhnya tunduk pada Hukum Internasional maupun
hukum PI. Hal ini menunjukkan atau mencirikan bahwa perjanjian itu memiliki
sifat internasional dan oleh karena itu termasuk dalam ruang lingkup Hukum
Internasional.
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam PI adalah mengenai pembuatan
PI tersebut. Secara umum dalam pembuatan PI, seorang diplomat atau yang
mewakili suatu negara dalam perjanjian tidak hanya memerlukan pemahaman
tentang hukum dan praktik negara dalam pembuatan PI, namun juga
keterampilan dalam mengaplikasikan hukum dan praktik tersebut dalam
treaty draing exercises. Kondisi tersebut didorong oleh dinamika hubungan
masyarakat internasional yang sedemikian pesat, sebagai akibat dari semakin
meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi yang membawa dampak
pada percepatan arus globalisasi, mengakibatkan teknik pembuatan PI juga
mengalami perkembangan pesat seiring dinamika masyarakat internasional
itu sendiri. Sekalipun literatur Hukum Internasional telah menyediakan
banyak teori dan praktik tentang PI yang cenderung ajeg dan konsisten,
namun dinamika masyarakat internasional melalui diplomasi praktis telah
memperkaya teori dimaksud, daar berbagai variasinya dalam bentuk format
dan klausula yang kreatif dan inovatif.
Perkembangan antarbangsa seperti itu membawa pula dampak peningkatan
dan intensitas pembuatan PI yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan
negara lain maupun dengan organisasi internasional atau subjek Hukum
Internasional lainnya. Dalam hal pembuatan dan pengesahan PI diatur dalam
Pasal 11 Undang-Undang Dasar 1945 yang kemudian diatur dalam Undang-
undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, dan dabarkan
lebih lanjut dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang PI.
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang PI sangat penting artinya
untuk menciptakan kepastian hukum dan pedoman yang jelas bagi pembuatan
dan pengesahan PI oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada dasarnya
Undang-undang tersebut memuat prinsip-prinsip yang tercantum dalam
Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian dan Konvensi Wina 1969 1986
tentang Hukum PI antara negara dan Organisasi Internasional atau antara
Organisasi-Organisasi Internasional, yang sekalipun tidak/belum diratikasi
oleh Indonesia namun telah berlaku sebagai hukum kebiasaan internasional
dan telah dadikan pedoman bagi masyarakat internasional dalam membuat
dan mengesahkan PI.
10 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 10
Mengingat pesatnya dinamika perkembangan hukum dan praktik negara
dalam pembuatan PI, maka dalam pelaksanaannya, diperlukan penerapan
secara luwes dan kreatif dengan tetap berpegang pada norma dan aturan dasar
dari perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini hendaknya diterapkan
prinsip kebebasan berkontrak dalam konteks bahwa sepanjang tidak dilarang
oleh Perundang-undangan serta hukum PI, maka pada dasarnya para pihak
dapat menyepakati semua aspek baik format maupun materi perjanjian.
PENYEBUTAN DAN PENAMAAN PERJANJIAN INTERNASIONAL
Selama ini praktik pembuatan perjanjian di antara negara telah melahirkan
berbagai bentuk terminologi PI yang kadang kala berbeda pemakaiannya
namun terminologi yang digunakan tersebut umumnya tidak mengurangi
hak dan kewajiban yang terkandung di dalamnya. Suatu terminologi PI yang
digunakan seringkali berdasarkan pada permasalahan yang diatur dengan
memperhatikan keinginan para pihak pada perjanjian tersebut serta dampak
politisnya. Walaupun terminologi PI dapat beragam, namun menunjukkan
adanya kesamaan materi yang diatur, atau materi perjanjian tersebut memiliki
bobot kerja sama yang berbeda tingkatannya dengan PI lainnya atau untuk
menunjukkan hubungan antara PI tersebut dengan PI lainnya yang telah
dibuat sebelumnya.
Berbagai bentuk dan nama PI yang sering kali dipraktikkan di Indonesia
adalah sebagai berikut:
a. Treaty adalah bentuk PI yang mengatur hal-hal yang sangat penting yang
mengikat negara secara menyeluruh yang umumnya bersifat multilateral.
Namun demikian kebiasaan negara-negara di masa lampau cenderung
menggunakan istilah "Treaty" untuk perjanjian bilateral. Untuk menunjukkan
bobot penting, sebagai contoh maka Indonesia dan Australia pernah
membuat Timor Gap Treaty Tahun 1989;
b. Convention adalah bentuk PI yang mengatur hal-hal yang penting dan
resmi yang bersifat multilateral. Konvensi biasanya bersifat "Law Making
Treaty" dengan pengertian yang meletakkan kaidah-kaidah hukum bagi
masyarakat internasional. Dewasa ini istilah convention lebih banyak
digunakan untuk perjanjian multilateral;
c. Agreement adalah bentuk PI yang umumnya bersifat bilateral, dengan
'substansi lebih kecil lingkupnya' dibanding materi yang diatur dalam
Treaty atau Convention. Bentuk ini secara terbatas juga digunakan dalam
perjanjian multilateral;
d. Memorandum of Understanding (MoU):
1. Adalah bentuk lain dari PI yang memiliki sifat khas/typical. Pada
konteks MoU pada intinya adalah terdapat perbedaan praktik negara
mengenai MoU. Ada praktik negara, khususnya pada negara-negara
11 Bab 1 Pemahaman Dasar Perjanjian Internasional 11
common law sistem yang berpandangan bahwa MoU adalah non legally
binding dan perlu dibedakan dengan Treaties. Namun praktik negara-
negara lain termasuk Indonesia menekankan prinsip bahwa setiap
perjanjian yang dibuat antara negara (termasuk MoU) memiliki daya
mengikat seperti treaties;
2. Para ahli berpendapat bahwa istilah MoU digunakan dengan alasan
politis, yaitu ingin sedapat mungkin menghindari penggunaan Agreement
yang dinilai lebih formal dan mengikat;
3. Pengertian MoU yang non-legally binding dalam praktik beberapa negara
akan menimbulkan suatu situasi bahwa satu pihak menilai dokumen
tersebut sebagai PI yang mengikat namun pihak yang lain menganggap
dokumen itu hanya memuat komitmen politik dan moral;
4. Untuk kebutuhan praktis, pengertian non-legally binding masih belum
memberikan klarikasi yang berarti. Secara umum pengertian ini selalu
diartikan bahwa salah satu pihak tidak dapat meng-enforce isi MoU
melalui jalur peradilan internasional atau jalur kekuatan memaksa yang
lazim dilakukan terhadap PI. Dari sisi Hukum Nasional, khususnya
negara-negara common law, pengertian non-legally binding memiliki
implikasi bahwa dokumen ini tidak dapat dadikan alat pembuktian
serta di-enforce oleh Pengadilan. Dalam praktik diplomasi Indonesia
saat ini, sebelumnya belum ada kecenderungan untuk mengarahkan
penyelesaian sengketa atas suatu PI melalui pengadilan internasional.
Dengan demikian, pengertian non-legally binding belum menjadikan
concern yang berarti bagi Indonesia;
5. Istilah MoU sendiri ternyata telah sering digunakan sebagai bentuk
yang lebih "informal" dari "kontrak" atau "perjanjian" dalam hubungan
perdata nasional. Dalam rangka menarik dan memberikan jaminan
politik terhadap investor asing, Pemerintah Daerah juga sudah mulai
menggunakan format MoU untuk mereeksikan jaminan Pemerintah
Daerah terhadap niat investor asing untuk melakukan investasi di
daerah itu. Status MoU semacam ini masih menjadi perdebatan;
6. Perlu pula dicermati bahwa MoU sudah menjadi instrumen dan
digunakan dalam hubungan kerja sama antarwilayah dalam kerangka
otonomi daerah di Indonesia. Pengertian MoU oleh otonomi daerah
merupakan dokumen awal yang tidak mengikat yang nantinya akan
dituangkan dalam bentuk "Perjanjian Kerja sama" yang bersifat
mengikat;
e. Arrangement adalah bentuk lain dari perjanjian yang dibuat sebagai
pelaksanaan teknis dari suatu perjanjian yang telah ada (sering disebut
sebagai specic/implementing arrangement);
12 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 12
f. Exchange of Notes/Leers:
1. Adalah suatu pertukaran penyampaian atau pemberian resmi posisi
pemerintah masing-masing yang telah disetujui bersama mengenai
suatu masalah tertentu. Instrumen bisa menjadi suatu PI itu sendiri
jika para pihak bermaksud untuk itu, yang dikenal dengan istilah
Exchange of Notes/Leers Constitute Treaty/Agreement;
2. Exchange of Notes/Letters dapat digunakan dalam hal-hal sebagai
berikut:
i. Pemberitahuan telah dipenuhinya prosedur konstitusional/ratikasi
suatu PI
ii. Konrmasi tentang kesepakatan terhadap perbaikan (rectication)
dari suatu PI
iii. Pengakhiran atau perpanjangan masa berlaku dari suatu PI
iv. Penyampaian aspek-aspek teknis sebagai pelaksanaan dari suatu
PI
v. Bentuk lain dari PI (Exchange of Notes Constitute Treaty);
g. Modus Vivendi biasa digunakan sebagai instrumen kesepakatan yang bersifat
sementara dan informal. Pada umumnya para pihak akan menindaklanjuti
dengan bentuk perjanjian yang lebih formal dan permanen;
h. Agreed Minutes/Summary Record/Record of Discussion adalah kesepakatan
antara wakil-wakil lembaga pemerintahan tentang hasil akhir atau hasil
sementara seperti dra suatu perjanjian bilateral dari suatu pertemuan
teknis. Bentuk ini banyak digunakan untuk merekam pembicaraan pada
acara kunjungan resmi atau tidak resmi, atau untuk mencapai kesepakatan
kesepakatan sementara sebagai bagian dari suatu rangkaian putaran
perundingan mengenai suatu masalah yang sedang dirundingkan.
Namun perlu diperhatikan bahwa praktik negara-negara tentang judul
suatu perjanjian sangat dinamis dan memunculkan berbagai variasi. Dewasa
ini banyak negara yang menggunakan berbagai variasi judul seperti: Joint
Statement, Protocol, Charter, Joint Declaration, Final Act, Process Verbal, Memorandum
of Cooperation, Side Leer, Reciprocal Agreement (dalam format Nota Diplomatik),
Leer of Intent, Minutes of Meeting, Aide Memoire, Demarche, Leer of Agreement,
Memorandum of Agreement, Leer of Understanding, Memorandum of Cooperation,
Record of Understanding, atau nama lain yang disepakati oleh para pihak dalam
PI.
Walaupun judul suatu perjanjian dapat beragam, namun apabila ditelaah
lebih lanjut, pengelompokan PI dalam nomenklatur tertentu dimaksudkan
dan diupayakan untuk menunjukkan kesamaan materi yang diatur. Selain
itu terdapat kecenderungan dalam praktik negara-negara, sekalipun tidak
konsisten, bahwa nomenklatur tertentu menunjukkan bahwa materi perjanjian
tersebut memiliki bobot kerja sama yang berbeda tingkatannya dengan PI
13 Bab 1 Pemahaman Dasar Perjanjian Internasional 13
lainnya, atau untuk menunjukkan hubungan antara perjanjian tersebut dengan
PI lainnya. Praktik di Indonesia sekalipun tidak mengikat secara hukum
cenderung menempatkan Agreement lebih tinggi dari MoU yang kemudian
diikuti dengan Arrangement Exchange of Notes.
Praktik Indonesia pada umumnya tanpa disengaja telah mengarah pada
kristalisasi penggunaan nomenklatur tertentu untuk ruang lingkup materi
tertentu, misalnya lebih cenderung menggunakan "Agreement" sebagai
instrument payung dan kemudian MoU serta Arrangements untuk instrumen
turunannya. Pendekatan ini dimaksudkan hanya untuk kebutuhan praktis dan
secara hukum tidak mengurangi atau melarang Indonesia untuk menentukan
bentuk lain berdasarkan asas kebebasan berkontrak sepanjang kedua pihak
menyepakati.
Selain itu, terdapat pula kecenderungan umum dalam praktik Indonesia
bahwa dalam setiap perjanjian yang bersifat teknis antarsektor harus didahului
dengan pembuatan perjanjian payung, seperti Perjanjian Kerja sama Ekonomi
dan Teknik. Pendekatan ini cukup idealis namun hanya dimaksudkan untuk
kepentingan convenciences dan bukan merupakan suatu aturan yang mengikat.
Dalam hal ini, jika terdapat kebutuhan lain maka suatu Perjanjian dapat
saja dibuat untuk masalah yang teknis dan konkrit tanpa adanya perjanjian
payung.
KLASIFIKASI PI
Secara garis besar, bentuk dari PI dibedakan menjadi:
1. PI Tidak Tertulis atau PI Lisan (unwrien agreement or oral agreement).
Perjanjian ini merupakan pernyataan secara bersama atau secara timbal balik
yang diucapkan oleh kepala negara, kepala pemerintah ataupun menteri
luar negeri, atas nama Negaranya masing-masing mengenai suatu masalah
tertentu yang menyangkut kepentingan para pihak. Disamping itu, suatu
PI tidak tertulis dapat berupa pernyataan sepihak yang dikemukakan oleh
pejabat-pejabat atau organ-organ pemerintah negara seperti tersebut di
atas, yang kemudian pernyataan tersebut ditanggapi secara positif oleh
pejabat-pejabat atau organ pemerintah dari negara lain yang berkepentingan
sebagai tanda persetujuannya. Perjanjian dalam bentuk tidak tertulis ini
mempunyai bentuk maupun sifat yang kurang formal. Sehingga akan
berakibat kurang jelas dan kurang menjamin kepastian hukum bagi para
pihak, tetapi dapat mengikat sebagai hukum yang derajatnya sama dengan
PI yang berbentuk tertulis.
2. PI yang Berbentuk Tertulis (wrien agreement). Dewasa ini PI yang
berbentuk tertulis mendominasi Hukum Internasional maupun hubungan-
hubungan internasional. Hal ini disebabkan karena memang PI yang
berbentuk tertulis ini memiliki beberapa keunggulan, seperti ketegasan,
14 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 14
kejelasan, dan kepastian hukumnya bagi para pihak. PI yang berbentuk
tertulis inipun jika ditinjau dari segi organ negara yang membuatnya,
dapat dibedakan lagi dalam beberapa macam. Seperti perjanjian yang
diadakan antarnegara, perjanjian antarkepala negara, perjanjian antar
pemerintah, perjanjian antarkepala negara dan kepala pemerintah atau
dengan organisasi internasional. Akan tetapi jika dilihat dari segi kekuatan
mengikatnya masing-masing, sebenarnya tidak ada perbedaan antara satu
dengan yang lainnya. Semuanya itu mengikat negara yang menjadi pihak
di dalamnya.
3. Berdasarkan jumlah para pihaknya, PI diklasikasikan menjadi:
a. PI Bilateral yaitu apabila para pihak dalam PI berjumlah 2 pihak saja,
contoh Perjanjian Perbatasan Indonesia-Malaysia, Perjanjian Ekstradisi
Indonesia-Thailand, dll.
b. PI Multilateral Terbatas/Tertutup [atau ada yang menyebutnya dengan
istilah "PI Plurateral"] yaitu apabila para pihak dalam PI berjumlah lebih
dari 2 pihak tetapi PI hanya dapat diikuti oleh pihak-pihak tertentu saja
yang memiliki pertalian khusus seperti posisi geogras, persamaan
ideologi atau politik tertentu, agama, kepentingan ekonomi, dll.
Sebagai contoh ASEAN yang hanya dapat diikuti oleh negara-negara
yang secara geogras terletak di kawasan Asia Tenggara, Organisasi
Konferensi Islam yang hanya diperuntukkan bagi negara-negara yang
memiliki mayoritas penduduk beragama Islam, dll.
c. PI Multilateral Terbuka [atau lazim disebut sebagai PI Multilateral
sebagai bentuk paralel penggunaan istilah PI Plurateral] adalah
PI yang keanggotaannya terbuka bagi semua pihak yang sepakat
menggabungkan dan menundukkan diri pada PI dimaksud, contoh
the United Nations Charter, the Agreement of Establishment the World Trade
Organization, dll.
UMPAN BALIK
1. Mengapa kodikasi Hukum PI menggunakan bentuk konvensi internasional?
Apa konsekuensinya?
2. Bagaimana kedudukan PI di antara sumber-sumber hukum lain dalam
perspektif Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah Internasional?
RANGKUMAN
Sebelum ada Konvensi Wina tentang Hukum PI, sumber sebagian besar aturan
hukum PI terletak pada kebiasaan internasional yang merepresentasikan bukti
adanya sebuah praktik umum yang diterima sebagai hukum. Bahkan prinsip
15 Bab 1 Pemahaman Dasar Perjanjian Internasional 15
yang paling mendasar dari pelaksanaan PI, yaitu prinsip pacta sunt servanda pun
memiliki karakter ekstra legal. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap perjanjian
yang berlaku bersifat mengikat pihak-pihak yang ada di dalamnya.
LATIHAN SOAL
1. Sebutkan regim Hukum Internasional dan regim Hukum Nasional Indonesia
yang mengatur tentan PI!
2. Bedakan pengertian PI dalam makna sempit dan makna luas!
3. Jelaskan akibat hukum penamaan PI dalam sebutan yang beragam!
4. Jelaskan perkembangan praktik penamaan PI di Indonesia!
5. Jelaskan peran Deplu RI dalam pembuatan PI oleh Pemerintah
Indonesia!
6. Jelaskan dasar pengklasikasian suatu PI!
17
DESKRIPSI BAB
Materi ini merupakan pengantar bagi mahasiswa untuk memahami hubungan
antara perjanjian internasional dengan hukum kebiasaan internasional, serta
akan memahami proses penormaan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi
Wina 1969 melalui proses kodikasi dan perkembangan progresif.
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan antara hukum perjanjian
internasional, dalam hal ini yang terwujud dalam Konvensi Wina 1969,
dengan hukum kebiasaan internasional;
2. Mahasiswa mampu memahami proses penormaan ketentuan-ketentuan
dalam Konvensi Wina 1969, sebagai proses kodikasi dan perkembangan
progresif.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:
Materi ini memberikan pemahaman tentang hubungan antara Konvensi Wina
1969 dengan hukum kebiasaan internasional serta memahami karakternya
sebagai bagian dari sejarah pertumbuhan Hukum Internasional
HUBUNGAN ANTARA KONVENSI WINA 1969 DAN HUKUM
KEBIASAAN INTERNASIONAL
Jika dilihat dari pokok-pokok aturan yang tertuang dalam Konvensi Wina 1969
sekilas terlihat bahwa Konvensi telah mencakup semua topik yang seharusnya
ada dalam kerangka hukum PI, yaitu mengenai pembentukan, berlakunya,
pentaatan, penerapan, amandemen, modikasi, ketidakabsahan, penundaan
dan pengakhiran PI. Konvensi juga mengatur ketentuan-ketentuan prosedural
mengenai pendepositan, notikasi, koreksi dan registrasi. Ringkasnya, isi
2
HUBUNGAN ANTARA PI
DENGAN HUKUM KEBIASAAN
INTERNASIONAL
18 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 18
pokok Konvensi adalah serangkaian prinsip dan peraturan yang komprehensif
sehingga menghasilkan ketentuan mengenai Hukum PI paling penting.
Sekalipun sangat komprehensif dan penting, namun harus diperhatikan
keterbatasan-keterbatasan Konvensi. Pertama, Konvensi ini terbatas hanya
mengatur PI antarnegara (Pasal 1). Perjanjian yang ditandatangani antara
Negara dan organisasi internasional, atau antar-organisasi internasional itu
sendiri, dengan sengaja dikesampingkan dari ruang lingkup Konvensi. Karena
Konferensi mengakui pentingnya perjanjian antara Negara dan organisasi
internasional, maka disusunlah rekomendasi bagi Majelis Umum untuk
mengarahkan Komisi Hukum Internasional (International Law Commission
ILC) agar mempelajari masalah perjanjian yang dilakukan antara Negara
dan organisasi internasional atau antara dua atau beberapa organisasi
internasional. Kedua, Konvensi ini terbatas pada PI yang ditandatangani antara
Negara-negara dalam bentuk tertulis dan diatur oleh Hukum Internasional,
sehingga perjanjian yang tidak dalam bentuk tertulis, walaupun diatur oleh
Hukum Internasional, tidak tercakup dalam pengaturan Konvensi. Ketiga,
Konvensi secara tegas tidak berupaya mengatur masalah-masalah yang lahir
dari penggantian (suksesi) perjanjian, tanggung jawab Negara dan dampak
pecahnya peperangan terhadap perjanjian. Keempat, Konvensi ini penerapannya
tidak berlaku surut, konvensi ini hanya berlaku pada perjanjian yang diikuti
oleh Negara-negara setelah diberlakukannya Konvensi. Terakhir, beberapa
ketentuan dalam Konvensi dianggap sebagai peraturan residual yang hanya
dapat dilaksanakan apabila ditetapkan dan disepakati oleh pihak-pihak terkait,
atau terlihat bahwa para pihak menginginkan sesuatu yang berbeda. Dengan
menggunakan Konvensi ini, derajat kebebasan bertindak diserahkan kepada
pihak-pihak dalam perjanjian. Konvensi juga mempertahankan dalam jumlah
besar prinsip otonomi para pihak yang membuat perjanjian serta memberikan
kelonggaran untuk melakukan praktik-praktik pembuatan perjanjian. Oleh
karenanya, walaupun ruang lingkupnya komprehensif, penerapan Konvensi
ini terbukti menjadi lebih terbatas penerapannya, tidak sebagaimana tergambar
dalam rancangan Konvensi. Ini merupakan faktor yang harus diperhatikan untuk
menilai hubungan antara Konvensi dengan hukum kebiasaan internasional.
Para penyusun naskah Konvensi dengan cermat mempertahankan ketentuan-
ketentuan dalam hukum kebiasaan internasional mengenai PI yang berasal
dari penelitian teks. Di bawah ini beberapa contoh ketentuan dalam Konvensi
yang berkaitan erat dengan hukum kebiasaan internasional.
1. Pasal 3 Konvensi
Pasal ini mengatur tentang kedudukan PI yang tidak masuk dalam ruang
lingkup konvensi, yaitu: (1) PI yang ditandatangani antara Negara-negara
dan subjek Hukum Internasional lainnya (misalnya organisasi internasional);
(2) antara subjek-subjek Hukum Internasional di luar Negara; dan
(3) PI tidak dalam bentuk tertulis. Sub-paragraf (b) dari Pasal 3 tersebut
19 Bab 2 Hubungan Antara PI dengan Hukum Kebiasaan Internasional 19
menyebutkan bahwa peraturan yang dabarkan dalam Konvensi di mana
perjanjian itu merupakan subjek Hukum Internasional yang tersendiri dari
Konvensi tetap tidak terpengaruhi oleh fakta bahwa Konvensi itu tidak
dapat diberlakukan pada perjanjian itu. Pada sesi pertama Konferensi
Wina, beberapa delegasi menyatakan keraguan atas makna frase "yang
mana perjanjian itu tidak termasuk dalam pengaturan konvensi (to which
they would subject independently of the Convention)" sebagaimana yang
digunakan oleh Komisi. Tujuan penyusunan kalimat ini adalah untuk
menggarisbawahi konsep bahwa ketentuan-ketentuan yang dirumuskan
dalam rancangan Pasal-Pasal Konvensi nantinya bisa diterapkan tidak
hanya sebagai ketentuan berbentuk konvensi, namun juga karena
mereka adalah ketentuan hukum kebiasaan internasional dan prinisip-
prinsip hukum umum. Komisi Perancang (draing commiee) melakukan
beberapa perubahan kecil terhadap ketentuan ini dengan menambahkan
kata "di bawah Hukum Internasional (under international law)" sebelum
"independently of the convention". Frase "independently of the Convention"
diperlukan untuk menunjukkan bahwa ketentuan-ketentuan yang termuat
di dalam Konvensi dapat diberlakukan tidak sebagai bagian dari ketentuan
Konvensi, namun sebagai sumber lain, misalnya hukum kebiasaan.
2. Pasal 4 Konvensi
Pasal ini memuat prinsip non-retroaktif (tidak berlaku surut). Dalam
Konvensi penerapan prinsip non-retroaktif dilakukan dengan catatan
bahwa penerapannya di dalam Konvensi harus memperhatikan keadaan
bahwa suatu perjanjian bisa saja tunduk pada ketentuan-ketentuan di
luar Konvensi (without prejudice to the application to any irules set forth in
the present Convention to which treaties would be subject under international
law independently of the Convention). Penerapan prinsip ini secara umum
tercermin dalam Pasal 24 dari rancangan Pasal yang diajukan oleh Komisi
Hukum Internasional.

Perlu dimuatnya prinsip non-retroaktif untuk pertama
kali diajukan oleh delegasi Venezuela pada sesi kedua konferensi tahun
1969, ketika konferensi mulai membicarakan ketentuan akhir dari Konvensi.
Proposal Venezuela sebenarnya ditarik karena ada lima proposal yang
diajukan oleh perwakilan Swedia. Kelima proposal itu mempertahankan
berlakunya peraturan hukum kebiasaan internasional yang dikodikasi
oleh Konvensi yang ada saat ini. Dalam mengajukan proposal tersebut,
perwakilan Swedia menyampaikan bahwa sebenarnya telah disepakati
bahwa sebagian besar isi rancangan Konvensi hanyalah ungkapan peraturan
yang telah ada pengaturannya dalam hukum kebiasaan internasional.
Kebiasaan itu jelas bisa dadikan sebagai aturan walaupun tanpa ada
referensi dari Konvensi. Namun pada tingkat tertentu, Konvensi memuat
ketentuan yang tidak diatur di dalam hukum kebiasaan internasional. Pasal
24 Konvensi sebetulnya sudah jelas memuat ketentuan umum mengenai
20 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 20
prinsip non-retroaktif, namun akan lebih aman jika dimuat suatu ketentuan
yang tegas mengenai hal ini. Proposal yang diajukan Swedia terkesan
terlalu membatasi lingkup Konvensi hanya pada keinginan untuk tetap
mempertahankan hukum kebiasaan internasional yang ada. Seharusnya
perlu diperhatikan pula adanya prinsip-prinsip hukum umum sebagai
salah satu sumber utama Hukum Internasional, terlebih lagi membatasi
berlakunya hukum-hukum kebiasaan internasional hanya pada ketentuan
yang termuat di dalam Konvensi tidaklah dapat diterima. Ketentuan dalam
hukum kebiasaan internasional di luar Konvensi seharusnya tetap dapat
diterapkan. Penyatuan pandangan-pandangan yang berbeda ini akhirnya
mewujud menjadi Pasal 3(b) Konvensi.
3. Pasal 38 Konvensi
Mengenai kedudukan hukum kebiasaan internasional terhadap Konvensi
juga dapat diketemukan dalam Pasal 38, yang menyebutkan bahwa
ketentuan-ketentuan dalam Pasal 34-37 (mengenai hubungan antara PI
dengan pihak ketiga) tidak dapat diterapkan pada perjanjian-perjanjian
di mana keterikatan pihak ketiga terhadap perjanjian tunduk pada aturan
hukum kebiasaan internasional. Pasal 38 bersumber dari serangkaian
rancangan Pasal Konvensi yang disusun oleh ILC tahun 1966. Dalam
ulasannya tentang Pasal 34, Komisi mencatat peran penting yang
dimainkan oleh kebiasaan dalam memperluas penerapan ketentuan
yang termuat dalam perjanjian di antara Negara-negara peserta. Setelah
mengkutip contoh-contoh dari perjanjian-perjanjian yang dibuat antara
Negara-negara mengenai penetapan wilayah territorial, pengaturan sungai
atau perairan yang kemudian diterima dan diikuti oleh Negara-negara
lain sebagai hukum kebiasaan, ILC menyampaikan pandangan bahwa
Konvensi mengakui keberadaan ketentuan hukum kebiasaan internasional
dapat diterima dan diberlakukan bagi Negara-negara bukan pihak dalam
Konvensi. Sekalipun demikian ILC tetap pada pendirian bahwa ini bukan
permasalahan Konvensi saja yang memiliki dampak hukum bagi Negara
ketiga. Keterikatan suatu Negara bukan pihak terhadap suatu ketentuan
(kebiasaan) yang dirumuskan dalam perjanjian bukan lahir dari perjanjian
itu sendiri melainkan lahir dari ketentuan hukum kebiasaan.
Saat konferensi ada sejumlah kritikan terhadap rancangan Pasal ini. Tidak
dibantah bahwa memang ada sebuah proses di mana peraturan yang termuat
dalam perjanjian bisa menjadi pengikat bagi Negara ketiga melalui proses
kebiasaan. Namun dikatakan bahwa proses ini tidak berkaitan dengan
aturan-aturan hukum PI. Bagaimana suatu ketentuan dalam perjanjian
bisa ditransformasikan menjadi ketentuan hukum kebiasaan merupakan
kajian dan lingkup dari prinsip-prinsip pertumbuhan dan pembentukan
hukum kebiasaan.
21 Bab 2 Hubungan Antara PI dengan Hukum Kebiasaan Internasional 21
4. Pasal 43 Konvensi
Pasal ini memuat prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law)
yaitu mengenai: ketidak-absahan (invalidity), penghentian (termination)
dan keberatan atas pelaksanaan (denunciation) perjanjian; pengunduran
diri salah satu pihak dari perjanjian itu; atau penangguhan pelaksanaan
perjanjian sebagai akibat penerapan Konvensi atau ketentuan perjanjian.
Akibat hukum dari pengambilan sikap Negara terhadap perjanjian sesuai
dengan ketentuan Pasal 43 tersebut, tidak meniadakan kewajiban-kewajiban
Negara yang lahir dari ketentuan-ketentuan Hukum Internasional lain
di luar perjanjian yang dibuat oleh Negara-negara. Dalam menanggapi
rancangan ketentuan ini, perwakilan AS, Mr. Brigss menyatakan bahwa "Pasal
ini memuat ketentuan yang sangat penting dalam Hukum Internasional
untuk melengkapi ketentuan Pasal 38 Konvensi sehingga memungkinkan
suatu ketentuan dalam suatu PI mengikat pihak ketiga melalui proses
hukum kebiasaan.
Di atas telah dikaji empat ketentuan Konvensi yang secara langsung
berkaitan dengan permasalahan keterkaitan antara Konvensi Wina 1969
dengan hukum kebiasaan internasional. Namun demikian, perlu juga dikaji
mengenai kaitan antara Mukadimah Konvensi dengan Hukum PI. Mengikuti
Mukadimah yang dirumuskan dalam Konvensi Wina Tahun 1963 tentang
Hubungan Diplomatik, pada klausul akhir Mukadimah dinyatakan bahwa
ketentuan hukum kebiasaan internasional yang ada tetap diberlakukan
berkenaan dengan masalah-masalah yang tidak diatur di dalam Konvensi.
Memang ketentuan di dalam Mukadimah tidak dapat digunakan sebagai dasar
untuk menghubungkan antara ketentuan-ketentuan dalam Konvensi dengan
hukum kebiasaan internasional, namun demikian klausul dalam mukadimah
itu dapat menunjukkan adanya ketersediaan ketentuan-ketentuan dalam hukum
kebiasaan internasional apabila terdapat permasalahan-permasalahan yang
tidak dapat diketemukan aturannya di dalam Konvensi. Menurut perwakilan
Swiss, sekalipun Konferensi telah berhasil mengubah ketentuan-ketentuan
yang baru dan substansial dalam hukum kebiasaan menjadi bentuk tertulis;
namun masih tetap terjadi kesenjangan sehingga dalam pelaksanaan hubungan
internasional kadang-kadang masih harus kembali ke hukum kebiasaan.
KONVENSI WINA 1969 SEBAGAI HASIL KODIFIKASI DAN
PERKEMBANGAN PROGRESIF
Para perancang Konvensi menyadari betapa rumitnya keterkaitan hubungan
antara ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Konvensi dengan ketentuan-
ketentuan dalam hukum kebiasaan internasional, sehingga mereka tidak
berupaya mendenisikan keterkaitan hubungan ini lebih jauh. Konvensi
22 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 22
hanya menegaskan masih tetap diberlakukannya ketentuan-ketentuan dalam
Konvensi sekalipun perjanjian yang dibuat oleh Negara-negara juga diatur oleh
ketentuan Hukum Internasional lain di luar Konvensi. Jika demikian halnya,
maka akan sulit untuk membedakan antara ketentuan dalam Konvensi yang
hanya merupakan kodikasi dari aturan-aturan hukum kebiasaan atau hukum
internasional umum yang sudah ada dengan ketentuan-ketentuan dalam
Konvensi yang berupa pengembangan atau perluasan dari aturan-aturan
yang sudah ada. Perbedaan antara kodikasi dan perkembangan progresif
ini membutuhkan sebuah analisis.
Pasal 15 Satuta Komisi Hukum Internasional (the Statute of International
Law Commission) menyatakan bahwa apa yang dimaksud Statuta dengan
"perkembangan progresif Hukum Internasional" adalah mempersiapkan
draf Konvensi mengenai bidang-bidang yang belum diatur di dalam hukum
lnternasional atau berkenaan dengan katentuan-ketentuan hukum internasional
yang belum secara memadai dipraktikkan oleh Negara-negara. Selaras dengan
hal ini maka dapat didenisikan pula makna "kodikasi hukum internasional"
sebagai formulasi dan sistematisasi ketentuan-ketentuan hukum internasional
yang ada dalam praktik Negara-negara, preseden atau doktrin-doktrin hukum
secara lebih tepat.
Dalam praktik, ILC mengalami kesulitan untuk membedakan kedua konsep
tersebut. Perbedaan itu sangat penting dipahami berkaitan dengan metode dan
prosedur yang akan digunakan oleh Komisi. Penggunaan metode kodikasi
secara sempit oleh Komisi telah menimbulkan keragu-raguan akan keberhasilan
penyusunan Konvensi. Sejarah telah mencatat bahwa Sekretariat PBB tahun
1947 pernah menyampaikan laporan sulitnya mencapai kesepakatan oleh
Negara-negara dalam mengkodikasi ketentuan-ketentuan yang berasal dari
hukum kebiasaan internasional karena alasan-alasan politis. Oleh karenanya
perlu dipersiapkan kajian-kajian ilmiah dari para ahli hukum yang netral
sebagai langkah pendahuluan untuk mempersiapkan landasan bagi kodikasi
hukum internasional.
Sekalipun demikian, pengalaman ILC telah membuktikan bahwa sulit
untuk mempertegas garis pembagi yang jelas dan nyata antara kodikasi atau
perkembangan progresif. Pada tahun 1953, ketika menyerahkan rancangan
konvensi pada Arbitral Procedur, pihak komisi menyebutkan bahwa rancangan
itu terbagi menjadi kategori perkembangan progresif Hukum Internasional
dan kodifikasi Hukum Internasional. Di tahun 1956, ILC menyerahkan
serangkaian rancangan Pasal akhir tentang hukum laut kepada Majelis Umum.
Dalam laporannya, komisi menyatakan bahwa dalam menyiapkan peraturan
tentang hukum laut, Komisi meyakini bahwa sulit melakukan pembedaan
antara perkembangan progresif dan kodikasi dalam hukum laut. Hal ini
tidak hanya dikarenakan adanya perbedaan pendapat yang besar mengenai
apakah permasalahan terkait telah dikembangkan secara memadai dalam
23 Bab 2 Hubungan Antara PI dengan Hukum Kebiasaan Internasional 23
praktik, namun juga beberapa ketentuan yang digunakan oleh Komisi yang
berasal dari prinsip-prinsip Hukum Internasional telah dikategorisasikan
sedemikian rupa sebagai perkembangan progresif. Walaupun Komisi berupaya
menetapkan suatu Pasal yang masuk dalam kategori satu dan Pasal lain dalam
kategori yang kedua, namun beberapa Pasal tidak dapat masuk pada dua
kategori tersebut walaupun telah dilakukan berbagai upaya.
Fakta di atas menunjukkan bahwa Komisi pada awalnya menghadapi
kesulitan dalam membedakan antara perkembangan progresif dan kodikasi
Hukum Internasional. Jelas bahwa ketika merumuskan sebuah ketentuan
yang sebenarnya dianggap mereeksikan praktik, preseden dan doktrin
hukum hal ini dianggap sebagai transformasi peraturan-peraturan itu menjadi
perkembangan progresif.
Ketika menyerahkan rancangan akhir Konvensi Hukum PI ILC menolak
kategorisasi aturan ke dalam perkembangan progresif atau kodikasi, hal ini
mengikuti praktik-praktik yang dilakukan sebelumnya. Dalam laporannya
ILC menyatakan bahwa karya ILC mengenai hukum PI meliputi kodikasi
dan perkembangan progresif Hukum Internasional sebagaimana didenisikan
dalam Pasal 15 Statuta ILC. Berkaca dari permasalahan yang ada dalam
beberapa rancangan sebelumnya, sulit untuk melakukan kategorisasi atas
suatu ketentuan dalam Konvensi. Dari berbagai komentar dapat diindikasikan
bahwa beberapa ketentuan baru yang diajukan dalam penyusunan Konvensi
merupakan buah pemikiran dari Majelis Umum dan Pemerintah Negara-
negara anggota PBB.
Dari uraian tersebut di atas dapat diindikasikan bahwa pasal-pasal yang
diajukan oleh Komisi lebih cenderung merupakan perkembangan progresif
dibandingkan sebagai kodikasi. Namun penelitian yang lebih cermat terhadap
masalah ini akan mengubah pemikiran tersebut, karena sulit untuk mengukur
apakah ILC mengajukan proposalnya dengan cara melakukan pengembangan
progresif bukan dengan cara kodifikasi. Beberapa contoh di bawah ini
merupakan wujud dari perkembangan progresif Hukum Internasional dalam
Konvensi Wina 1969:
1. Pasal 9 (2)
Ketentuan dalam Konvensi yang secara jelas merupakan perkembangan
progresif adalah Pasal 9 (2). Pasal ini menyatakan bahwa perumusan
naskah perjanjian dalam konferensi internasional dilakukan dengan cara
mengambil 2/3 suara terbanyak dari jumlah Negara yang hadir, kecuali
mereka memutuskan untuk menerapkan peraturan yang lain. Dalam
komentarnya terhadap proposal yang menjadi dasar ketentuan itu, ILC
menyatakan bahwa dulu penggunaan teks perjanjian hampir selalu terjadi
melalui persetujuan semua Negara yang berpartisipasi dalam perundingan
dan hasil suara bulat menjadi peraturan yang umum. Namun sekarang,
perkembangan pelaksanaan pembahasan perjanjian pada konferensi
24 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 24
internasional yang besar atau dalam organisasi internasional, penggunaan
prosedur suara mayoritas merupakan hal biasa, karenanya tidaklah
realistis untuk menganggap kesepakatan seluruh peserta yang hadir dalam
konferensi sebagai ketentuan umum dalam proses perumusan naskah
(adoption) konferensi atau organisasi. Mr. Yassen, seorang anggota ILC dari
Irak, menyatakan dengan tegas bahwa Pasal 9 (2) memuat ketentuan yang
merupakan representasi perkembangan progresif Hukum Internasional
dan didasarkan pada praktik-praktik internasional.
2. Pasal 18
Teks Pasal 15(a) Rancangan Konvensi karya ILC juga merupakan karya
ILC yang merepresentasikan perkembangan progresif yang dihasilkan oleh
dari serangkaian rancangan naskah akhir yang dirumuskan oleh Komisi
pada tahun 1966. Proposal itu menegaskan bahwa Negara diwajibkan
menahan diri dari melakukan tindakan yang dapat menghalangi
tercapainya tujuan perjanjian yang akan dibentuk ketika apabila Negara
tersebut telah sepakat untuk ikut dalam perundingan-perundingan
dalam rangka melakukan penutupan perjanjian. Di sesi awal konferensi,
usulan ini banyak dikritik. Menurut pandangan perwakilan Venezuela,
subparagraph (a) menggunakan sebuah prinsip Hukum Internasional yang
baru. Perwakilan Negara Swiss menegaskan bahwa peraturan itu adalah
peraturan baru dan nampak melebihi jangkauan ruang lingkup kodikasi.
Bagi Delegasi Yunani, peraturan pada subparagraph (a) diistilahkan
sebagai perluasan pengembangan Hukum Internasional, sedangkan
bagi Delegasi India peraturan itu merupakan peraturan baru yang tidak
berasal dari doktrin, preseden atau praktik negara. Perwakilan Negara
Austria beranggapan bahwa subparagraph (a) jangkauannya melebihi
peraturan Hukum Internasional yang ada dan delegasi Negara Jerman
menyatakan bahwa peraturan itu tidak dapat diketemukan landasannya
dalam Hukum Internasional atau praktik-praktik internasional dan hampir
tidak dianjurkan dari sudut pandang perkembangan progresif dari Hukum
Internasional. Menanggapi perdebatan itu, Sir Humprey Waldock yang
bertindak sebagai Konsultan Ahli dalam Konferensi itu, mengakui bahwa
ILC tidak mendasarkan diri pada otoritas atau kasus tertentu, dan tidak
ingin menyatakan bahwa prinsip yang tersebut dalam Pasal 15 subparagraph
(a) merupakan suatu ketentuan di dalam hukum kebiasaan internasional.
Jika kemudian proposal ILC dipandang sebagai perkembangan progresif
atau kodikasi hukum, ini hanya mengenai perbedaan pendapat yang tidak
substansial. Perubahan-perubahan yang dilakukan terhadap rancangan
ini hasilnya adalah rumusan dalam Pasal 18 Konvensi Wina 1969.
25 Bab 2 Hubungan Antara PI dengan Hukum Kebiasaan Internasional 25
3. Pasal 1923
Pasal-Pasal tentang reservasi (Konvensi Wina Pasal 19-23) juga menunjukkan
sebagai perkembangan progresif dibandingkan kodikasi. Penjelasan
tentang rancangan Pasal yang disiapkan oleh ILC menjabarkan secara
rinci riwayat perkembangan yang berkaitan dengan reservasi terhadap
Konvensi multilateral. Tidak diragukan bahwa saran yang diberikan oleh
Mahkamah Internasional pada 1951 yang berkaitan dengan Reservasi
terhadap Konvensi Genosida telah bergerak menjauh dari kaidah lama
mengenai kebulatan suara untuk menentukan validitas perjanjian, di
mana reservasi harus mendapat persetujuan dari semua Negara yang
berkepentingan. Di sisi lain, juga berhadapan dengan pengikut kelompok
paham kedaulatan yang ekstrim, di mana setiap Negara dianggap memiliki
hak kedaulatan absolut untuk menjadikan reservasi sesuai kemauan sendiri
dan memaksa Negara pihak lain yang ikut dalam konvensi internasional
untuk tunduk terhadap reservasi itu. Ini menunjukkan bahwa persoalan
reservasi terhadap suatu konvensi multilateral adalah tidak pasti dan
kontroversial karena dilandasi oleh teori yang berbeda-beda. Sebagian
ahli menyatakan bahwa Konvensi Wina menggunakan pendekatan secara
eksibel terhadap masalah ini dengan menggunakan sistem pan-Amerika,
namun ahli yang lain menegaskan bahwa aturan mengenai reservasi
dalam Konvensi lebih merupakan hasil kodikasi dibandingkan dengan
perkembangan progresif.
4. Pasal 40
Ketentuan mengenai amandemen dan modikasi perjanjian multilateral
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 40 dan Konvensi Wina dapat
dikategorikan secara tegas sebagai hasil dari perkembangan progresif.
McNair menyatakan: "secara prinsip, tidak satupun Negara memiliki hak
untuk menuntut adanya revisi perjanjian jika tidak ada ketentuan yang
terkandung dalam perjanjian itu atau perjanjian lainnya yang menyebabkan
adanya revisi tersebut." Mac Nair juga menegaskan bahwa "revisi perjanjian
adalah masalah politik dan diplomasi." Di sisi lain, ILC mengemukakan
bahwa selain harus membedakan antara amandemen dan modikasi inter
se, perlu juga menetapkan aturan tambahan berkenaan dengan adanya PI
yang tidak mengatur mengenai revisi di dalamnya.
Sekalipun dengan catatan bahwa sebagai suatu ketentuan yang
merepresentasikan perkembangan progresif dari Hukum Internasional, Pasal
40 tersebut dapat menimbulkan sejumlah kesulitan dalam pelaksanaannya,
namun Konferensi tetap menerima substansi proposal yang diajukan oleh
Komisi. Dengan mengacu pada paragraph 5 dari Pasal 40, Sir Humprey
Waldock mengatakan bahwa Pasal itu akan menyebabkan persoalan di
masa yang akan datang (de lege ferenda) bagi negara yang akan menjadi
pihak pada perjanjian yang telah diamandemen.
26 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 26
5. Pasal 4853
Bab Konvensi Wina Bab V yang mengatur tentang ketidakabsahan
(invalidity), pengakhiran dan penangguhan pelaksanaan perjanjian lebih
menunjukkan sebagai perkembangan progresif, bukan kodikasi stricto
sensu. Ketentuan-ketentuan tersebut secara khusus digunakan sebagai dasar
untuk menyatakan ketidakabsahan perjanjian apabila wakil dari Negara
peserta pembentukan PI yang bersangkutan melakukan tindakan yang tidak
sah, seperti: (a) terjadinya kesalahan (error), kecurangan (fraud), korupsi,
ancaman yang dilakukan pejabat Negara; (b) kekerasan oleh Negara dengan
menggunakan ancaman atau penggunaan kekuatan dan (c) tindakan yang
bertentangan dengan norma dasar dari Hukum Internasional umum (jus
cogens) sebagaimana delaskan dalam Konvensi Wina Pasal 4853.
Khusus mengenai kesalahan (error), Komisi menyatakan bahwa jarang
sekali terjadi kesalahan substansial sehingga memengaruhi kebenaran
esensial sebuah perjanjian, dan hampir semua kesalahan tersebut hanya
terkait dengan masalah geogras dan kesalahan mengenai lokasi. Dari dua
kasus yang dirujuk oleh Komisi, yaitu kasus Eastern Greenland dan kasus The
Temple kesalahan yang terjadi hanya sederhana sehingga tidak menyebabkan
adanya pelanggaran terhadap persetujuan. Hal ini menimbulkan pertanyaan
apakah Pasal 48 cenderung merupakan perkembangan progresif ataukah
kodikasi. Paragraf 1 Pasal 48 membatasi hak Negara untuk mengajukan
klaim atas kesalahan (error) dalam batas yang cukup sempit sebagaimana
yang dapat dilihat dictum putusan kasus The Temple. Dalam konferensi juga
muncul pertanyaan apakah Pasal itu mencakup semua masalah kesalahan,
misalnya kesalahan yang timbul akibat kesalahan interpretasi.
Dicatat pula dalam Konferensi bahwa Paragraf 2 Pasal 48 dianggap
kurang lengkap karena paragraph itu mengabaikan pembelaan pihak
yang melakukan kesalahan apabila kesalahan lahir dari tindakan yang
dibenarkan. Dalam kasus Temple, Mahkamah Internasional mengatakan
bahwa gugatan atas kesalahan tidak boleh digunakan sebagai dasar untuk
memutuskan persetujuan, apabila pihak penggugat turut ambil bagian atas
terjadinya kesalahan, dapat menghindari terjadinya kesalahan, atau adanya
kondisi yang menjadikan penggugat tersebut mengetahui kesalahan yang
akan terjadi. Dari uraian di atas terlihat bahwa, Pasal 48 hanya merupakah
hasil dari perkembangan progresif dan juga kodikasi.
Kasus terjadinya kecurangan sangat jarang dalam PI, karenanya Komisi
tidak mampu memberikan contoh faktual dan mengakui bahwa dalam
Hukum Internasional ditemukan sedikit panduan baik dalam praktik
atau dalam putusan-putusan pengadilan internasional sehingga dapat
memperjelas lingkup dari konsep "kecurangan." Hal ini menyebabkan
tidak terumuskannya denisi "tindakan kecurangan (fraudulent conduct)"
yang dimasukkan Komisi dalam teks proposalnya, namun Komisi
27 Bab 2 Hubungan Antara PI dengan Hukum Kebiasaan Internasional 27
mengindikasikan bahwa rumusan mengenai "tindakan kecurangan"
dimaksudkan untuk mengatur pernyataan-pernyataan salah, kesalahan
interpretasi atau tindakan tidak jujur lainnya yang dilakukan oleh suatu
Negara sehingga pihak lain mau melakukan persetujuan, di mana
persetujuan ini tidak akan dilakukan oleh pihak lain tanpa adanya informasi
yang dibungkus kecurangan tersebut. Komisi juga menyuarakan perlunya
upaya menemukan konsep dan konotasi yang jelas mengenai "kecurangan"
atau dol dalam Hukum Internasional.
6. Pasal 50
Contoh yang lebih tegas tentang perkembangan progresif adalah Pasal
50, yang memungkinkan Negara menjadikan korupsi yang dilakukan
pejabatnya sebagai dasar untuk menghapuskan keabsahan tindakan pejabat
tersebut dalam melakukan consent to be bound terhadap suatu perjanjian.
Komisi Hukum Internasional tidak menyertakan ketentuan khusus tentang
korupsi dalam rancangan Pasal-Pasal yang telah diadopsi tahun 1963.
Ketentuan ini dimuat dalam proposal tahun 1966 yang menjadi dasar
pembentukan Pasal 50 Konvensi Wina. Mengenai korupsi ini, Komisi juga
tidak mampu memberikan contoh dalam praktik, karenanya bagi sejumlah
delegasi, korupsi merupakan bentuk lain dari kecurangan dan tidak harus
dimasukkan sebagai hal yang terpisah dari ketentuan mengenai kecurangan
tersebut. Namun bagi delegasi lain, seperti perwakilan Yunani, Pasal 50
membuka peluang lahirnya institusi baru dalam Hukum Internasional.
7. Pasal 51
Konvensi Wina dalam Pasal 51 menyebutkan bahwa persetujuan untuk
terikat dalam sebuah perjanjian yang telah didapatkan melalui pemaksaan
yang dilakukan oleh wakil salah satu pihak melalui tindakan atau ancaman
yang diarahkan ke pihak lain tidak memiliki akibat hukum. McNair
beranggapan bahwa pemaksaan yang ditujukan pada perwakilan Negara
dapat menghapus persetujuan. Namun bila sebuah perjanjian memerlukan
ratikasi dan telah diratikasi oleh lembaga Negara yang berhak, ratikasi
itu dapat menghilangkan semua pengaruh ancaman atau penggunaan
pemaksaan bagi orang yang menandatangi perjanjian.
Gagasan bahwa kekerasan yang diarahkan kepada perwakilan Negara bisa
ditimbulkan oleh Negara yang dianggap sebagai dasar untuk menolak
persetujuan yang diikat oleh perjanjian memiliki dasar Hukum Internasional
biasa; apa yang baru dalam perumusan Pasal 51 adalah konsep yang
absolute bukan bersifat relative, atau tidak ada.
Pasal 52 berkenaan dengan penggunaan kekerasan Negara. Setelah
mengkaji riwayat permasalahan dan memperhatikan pelarangan yang jelas
tentang ancaman atau penggunaan kekuatan dalam Pasal 2(4) Piagam PBB
Komisi Hukum Internasional mendukung kesimpulan bahwa ketidakabsahan
28 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 28
perjanjian yang diakibatkan oleh ancaman yang melanggar hukum atau
penggunaan kekuatan merupakan prinsip lex lata dalam Hukum Internasional
saat ini. Pembahasan konferensi tentang Pasal ini menitikberatkan pada dua
masalah:
a. apakah interpretasi mengenai bentuk ancaman atau penggunaan kekerasan
termasuk di dalamnya ancaman berupa tekanan ekonomi dan politik?
b. penerapan aturan secara temporal atas perjanjian yang dibuat di bawah
ancaman atau penggunaan kekuatan yang melanggar prinsip-prinsip Hukum
Internasional yang diwujudkan dalam Piagam PBB yang berlaku.
Peraturan diwujudkan dalam Pasal 52 Konvensi Wina tersebut
menunjukkan hasil dari berbagai perdebatan serius, namun tetap saja
mengandung ketidakpastian tentang ruang lingkup peraturan dan penerapan
sementara. Ketidakpastian ini tidak diatasi dengan perubahan Pasal yang
bersangkutan.
Akhirnya kita sampai pada jus cogens (norma hukum internasional umum
yang tidak dapat diubah) sebagai konsep terpenting dan perwujudan progresif
dalam Konvensi Wina secara keseluruhan. Jika pada saat penandatanganan
perjanjian ternyata perjanjian tersebut bertentangan dengan Jus Cogens maka
perjanjian menjadi tidak berlaku atau batal. Nahlik mengklaim bahwa 'ketentuan
dalam Konvensi Wina menegaskan bahwa perjanjian tidak berlaku apabila
bertentangan dengan norma Hukum Internasional. Jus cogens bukanlah sebuah
penemuan dari Komisi Hukum Internasional atau Konferensi Wina, namun
didasarkan pada konsep bahwa kemerdekaan Negara dalam menandatangani
perjanjian telah dibatasi oleh perkembangan progresif Hukum Internasional.
Namun kontroversi yang mengelilingi keberadaan peraturan jus cogens,
jauh dari denisi dan identikasi masalah ini. Schwarzenberger tegas dan
tanpa kompromi menyatakan bahwa Hukum Internasional bagi masyarakat
internasional yang masih belum terorganisir dengan baik konsep jus cogens
mungkin terlalu dini; terlebih lagi, sekalipun sebagai sebuah konsep ia
didukung secara luas dalam doktrin maupun dalam tulisan para ahli hukum,
namun penerapannya dalam praktik Negara sangat sedikit. Ini bisa dikatakan
bahwa sistem hukum yang dibangun harus mengabaikan peraturan-peraturan
tertentu yang memiliki tatanan lebih tinggi dibanding hanya karakter yang
tidak positif di mana orang yang tunduk terhadap hukum merupakan orang
bebas untuk mengadakan perjanjian. Juga ada pengakuan umum bahwa ada
peraturan Hukum Internasional tertentu yang mendasar, seperti peraturan yang
melarang penggunaan ancaman atau penggunaan kekuatan dalam hubungan
internasional, di mana Negara tidak dapat mundur dari perjanjian. Namun
denisi dan identikasi peraturan dari hukum yang lebih tinggi dikelilingi oleh
hambatan yang besar sekali. Komisi Hukum Internasional sendiri mengakui
bahwa "tidak ada kriteria sederhana untuk mengidentikasi peraturan Hukum
29 Bab 2 Hubungan Antara PI dengan Hukum Kebiasaan Internasional 29
Internasional umum sebagaimana karakter jus cogens.

Catatan dalam konferensi
mengungkap berbagai pendapat tentang ruang lingkup dan kandungan jus
cogens. Tidak adanya kesepakatan tentang jus cogens merupakan bukti yang
mencukupi bahwa peraturan yang diwujudkan pada Pasal 53 memuat tanda
perkembangan progresif bukan kodikasi.
Bisa dilihat bahwa, dengan mengacu pada serangkaian Pasal tentang
kesalahan, kecurangan, korupsi dan sebagainya, pada sesi kedua konferensi,
Sir Francis Vallat atas nama delegasi Kerajaan Inggris menyatakan bahwa sering
dikatakan bahwa beberapa Pasal yang diubah menjadi bentuk tulisan prinsip
yang ada atau peraturan Hukum Internasional, namun delegasinya sangat
meragukan apakah semuanya itu benar. Terlepas apakah benar atau tidak,
Pasal itu pastilah mengandung elemen-elemen penting dari perkembangan
progresif, bila hanya memandang rumusannya dan modalitas dan prosedur
penerapan Pasal-Pasal itu. Secara normal, menurut standar perundang-
undangan, rancangan Pasal itu dalam beberapa hal bersifat luas dan tidak jelas;
kata kunci seperti 'kecurangan' dan 'kekerasan', cukup sulit diinterpretasikan
dalam hukum pemerintahan dan sebelumnya tidak diterapkan dalam Hukum
Internasional, tetap tidak akan pernah mendapat kepastian.
Sebelum membuat kesimpulan tentang aspek ini, maka perlu memperhatikan
pandangan yang disampaikan oleh komentator lain berkaitan dengan peraturan
yang diwujudkan dalam Konvensi Wina merupakan perkembangan progresif
atau kodikasi. Nisot berpendapat bahwa Pasal 18 berkaitan dengan kewajiban
untuk tidak membatalkan objek dan tujuan perjanjian sebelum perjanjian
itu berlaku merupakan rejim baru yang sama dengan meremehkan Hukum
Internasional biasa. O'Connel juga berpandangan bahwa Konvensi Wina
Pasal 18 lebih luas dari pada Hukum Internasional biasa. ia mengatakan
bahwa ketentuan Pasal itu lebih keras dan lebih relaks daripada prinsip niat
baik di mana prinsip itu didasarkan pada-lebih keras dalam arti Pasal itu
mengabaikan relevansi keadaan sekeliling dan lebih relaks dalam arti Pasal
itu mengkaitkan kewajiban hanya dengan objek dan tujuan perjanjian dan
bukan pada kejadiannya.
Juga dikatakan bahwa Konvesi Wina Pasal 46 pada hal tertentu bersifat
inovatif dalam membatasi hak untuk menjadikan pelanggaran hukum
konstitusional sebagai dasar untuk menolak persetujuan sebuah Negara untuk
terikat oleh sebuah perjanjian. Masalah ini masih bisa diperdebatkan, karena
banyak hal yang bergantung pada apakah sesuatu itu berawal dari posisi
di mana batasan konstitusional pada kekuasaan untuk membuat perjanjian
dipadukan ke dalam Hukum Internasional sehingga mengubah tidak dapat
berlakunya persetujuan bagi sebuah perjanjian yang diberikan menurut tingkatan
internasional dalam melanggar batasan konstitusional; atau dari posisi di mana
Hukum Internasional memberikan setiap Negara dengan kebulatan tekad
terhadap lembaga dan prosedur yang mana keinginannya untuk mengakhiri
30 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 30
perjanjian terjadi, dan hal ini sangat terkait dengan manifestasi eksternal dari
keinginan ini pada tingkat internasional sebagaimana kecenderungan yang
dimiliki yurisprudensi internasional dan praktik Negara dalam beberapa
tahun terakhir yang mengarah pada posisi kedua atau posisi internasionalis.

Namun masih diragukan apakah Pasal 46 konvensi Wina mencakup elemen
perkembangan progresif material.
Analisa singkat tentang tingkatan beberapa ketentuan yang lebih signikan
dari Konvensi Wina dapat dianggap, sebagian kecil, merepresentasikan
perkembangan progresif yang tidak dimaksudkan bersifat mendalam. Namun
lebih dimaksudkan untuk mengilustrasikan tesis bahwa perbedaan antara
perkembangan progresif dan kodikasi menjadi semakin kabur ketika dilakukan
upaya untuk memperjelas dalam bentuk peraturan yang konvensional yang
mendasarkan sumber mereka kebiasaan internasional atau dari pinsip hukum
umum.
UMPAN BALIK
1. Apakah ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Wina 1969 dapat mengikat
Negara bukan pihak-pihak yang terlibat konvensi?
2. Apakah Konvensi itu sendiri menghasilkan peraturan yang mungkin
dapat diterima dan diakui sebagai peraturan Hukum Internasional umum,
walaupun peraturan itu tidak memiliki semua karakteristik sebagai Hukum
Internasional pada umumnya?
3. Apakah ketentuan dalam Konvensi Wina 1969 yang berupa ketentuan
progresif (bukan kodikasi hukum kebiasaan) dapat mengikat negara-
negara yang bukan pihak dalam perjanjian tersebut?
LATIHAN SOAL
Mengingat banyak terjadinya kasus perompakan di Laut Arab, maka di
Negara-negara yang berkepentingan atas keselamatan dan pelayaran di
wilayah tersebut di bawah koordinasi IMO (International Maritime Organization)
menyelenggarakan Konferensi mengenai Keselamatan dan Keamanan Pelayaran
di Laut Arab yang diselenggarakan tanggal 2528 April 2002, di Sinini, ibu
kota Negara Baghara. Konferensi ini belum menghasilkan kesepakatan yang
berarti sehingga dilanjutkan dengan Konferensi kedua yang dilaksanakan
di tempat yang sama 26 Mei 2004 di tempat yang sama. Konferensi kedua
menghasilkan naskah akhir (nal text) yang terbuka untuk ditandatangani
para pihak sampai tanggal 6 Agustus 2004. Dalam naskah tersebut disyaratkan
adanya ratikasi sebagai cara melakukan consent to be bound. Naskah juga
menyebutkan adanya kewajiban dari Negara-negara pengguna Teluk Arab
31 Bab 2 Hubungan Antara PI dengan Hukum Kebiasaan Internasional 31
membayar iuran dalam jumlah tertentu dalam rangka menjaga keamanan
dan keselamatan pelayaran di wilayah tersebut.
Banyaknya kasus perompakan dilakukan oleh pendukung-pendukung yang
terlibat dalam perang saudara di Negara Sumulu, Negara yang berbatasan
langsung dengan teluk Arab. Saat ini di Negara Sumulu terdapat dua
pemerintahan yang sedang berupaya menguasai satu sama lain, yaitu yang di
bawah pimpinan Presiden lama, yaitu Presiden Butho dan di bawah Presiden
Mundhu yang dipilih oleh rakyat dalam Pemilu.
Baghara adalah Negara yang paling stabil di wilayah sekitar teluk Arab,
sehingga IMO merasa perlu untuk membuat perjanjian dengan Baghara berkaitan
dengan pelatihan dan bantuan teknis dalam keselamatan dan keamanan
pelayaran. Pembuatan perjanjian dilakukan pada saat yang bersamaan dengan
penyelenggaraan Konferensi kedua.
Catatan:
Jawablah setiap pertanyaan dengan uraian yang jelas disertai dasar hukumnya
atau legal reasonnya. Diasumsikan bahwa setiap Negara dalam kasus hipotetis
di bawah ini, termasuk Indonesia, menjadi pihak dalam Konvensi Wina 1969
tentang Perjanjian Internasional dan Konvensi Hukum Laut Internasional
(UNCLOS 1982).
Pertanyaan:
1. Menurut anda, (a) perjanjian yang dibuat oleh IMO dan Baghara mengenai
pelatihan dan bantuan teknis dalam keselamatan dan keamanan pelayaran
tersebut merupakan perjanjian bilateral atau multilateral? dan (b) apakah
perjanjian tersebut tunduk pada pengaturan dalam Konvensi Wina
1969?
2. Jika dalam Konferensi hadir dua delegasi dari Sumulu yang mewakili
dua pemerintahan yang berbeda, (a) bagaimana penyelengara Konferensi
menyikapi hal ini? dan (b) apa fungsi full power leer dalam penyelenggaraan
konferensi pembentukan perjanjian internasional?
3. Delegasi Indonesia sudah dibekali pedoman delegasi yang di dalamnya
tercantum pernyataan bahwa Indonesia tidak akan menyetujui setiap
ketentuan dalam perjanjian yang membebani kewajiban membayar iuran
karena iuran dalam organisasi IMO sudah terlalu besar dan memberatkan.
(a) jika ternyata delegasi Indonesia dalam proses adoption termasuk dalam
kelompok yang menyetujui ketentuan mengenai iuran ini, dapatkah
Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa tindakan delegasi tersebut
tidak sah karena bertentangan dengan pedoman delegasi? (b) Apa fungsi
pedoman delegasi bagi Negara (Indonesia) yang turut serta dalam proses
pembentukan perjanjian internasional?
32 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 32
4. (a) Dalam konteks UU PI Tahun 2000, disebut apakah penandatanganan
yang dilakukan tanggal 6 Mei 6 Agustus tersebut? Jelaskan dengan
merujuk rumusan aturan dalam UU PI Tahun 2000. (b) Dalam konteks
hukum perjanjian internasional, apa makna dari penandatangan tersebut,
dan apa penyebutannya?
5. Jika delegasi Indonesia dalam Konferensi Kedua dipimpin oleh Menteri
Perhubungan, dapatkah ia melakukan penandatanganan atas nal text
tersebut?
DAFTAR BACAAN
Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2001.
DJ Harris, Cases and Materials on International Law, Sweeet & Maxwell,
London, 1998.
Harjono, Politik Hukum PI, Bina Ilmu, Surabaya, 1999.
I Wayan Parthiana, Hukum PI, Bagian I, Mandar Maju, Bandung, 2002.
Ian Brownlie, Principle of Public International Law, 5
th
. Ed., Oxford, New
York, 1998.
Jennings and Watts, Openheim's International Law, Longham, London,
1996.
Oscar Schachter, International Law in Theory and Practice, Vol. 13, Martinus
Nuho, London, 1991.
Rebecca Wallace, International Law, 3
rd
. Ed., Sweet & Maxwell, London,
1997.
Sinclair, Ian M, The Vienna Convention on the Law of Treatise, Oceana Pbl.,
USA, 1973.
33
DESKRIPSI BAB
Materi ini akan memuat proses pembentukan perjanjian internasional yang
dimulai dari proses adopsi, otentikasi, consent to be bound sampai pemberlakuan
perjanjian (entry into force)
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu menjelaskan proses pembentukan perjanjian
internasional;
2. Mahasiswa mampu membedakan akibat hukum keikutsertaan dalam
setiap tahapan pembentukan perjanjian internasional;
3. Mahasiswa mampu menjelaskan pemberlakuan perjanjian terhadap peserta
maupun bukan peserta perjanjian
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Materi ini akan memberikan pemahaman aspek-aspek teknis penandatanganan
dan pemberlakuan perjanjian sebagai wujud keterikatan Negara terhadap
PI
PEMBENTUKAN PERJANJIAN
Serangkaian Pasal yang berkenaan dengan pembentukan perjanjian menganut
pola logika tertentu, sebuah pola yang diatur oleh tatanan waktu di mana
berbagai tindakan yang dilakukan dalam proses pembuatan perjanjian
dalankan. Pertama, peraturan tertentu yang dibuat karena hubungannya
dengan kewenangan diplomatik atau lembaga Negara yang lain untuk
bernegosiasi dan menerima (mengadopsi) atau mengotentikasi naskah
perjanjian. Pemberian kewenangan tersebut biasanya membutuhkan adanya
surat kuasa (full power leers). Kedua, adalah tahapan negosiasi itu sendiri
yang oleh Konvensi Wina diatur dalam ketentuan-ketentuan mengenai adopsi
3
PEMBENTUKAN DAN
PEMBERLAKUAN PERJANJIAN
34 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 34
dan otentikasi naskah perjanjian. Tahap selanjutnya adalah tahapan ketika
menyatakan persetujuan mereka untuk terikat dalam sebuah perjanjian (consent
to be bound) yang dilakukan melalui penandatanganan, pertukaran instrumen
perjanjian, ratikasi, akseptasi (acceptance), approval atau aksesi. Kadang-kadang,
suatu perjanjian menetapkan suatu ketentuan mengenai larangan melakukan
tindakan-tindakan yang dapat mengancam pelaksanaan tujuan dan sasaran
perjanjian dalam rentang waktu antara penandatanganan dan pelaksanaan
perjanjian (entry into force).
KUASA PENUH (FULL POWERS)
Tahap pertama dalam proses pembuatan perjanjian adalah menentukan
kewenangan wakil Negara untuk melakukan negosiasi, melakukan tindakan-
tindakan formal yang diperlukan yang digunakan untuk penyusunan teks,
atau dalam rangka penutupan (conclusion) perjanjian. Kewenangan ini secara
prinsip ditentukan melalui diterbitkannya suatu dokumen resmi yang bernama
'kuasa penuh (full power)' yang di dalamnya memuat nama seseorang atau
beberapa orang untuk mewakili Negara dengan tujuan melakukan negosiasi dan
menandatangani perjanjian. Tujuan awal dari kuasa penuh dapat dilacak sejak
masa monarki absolute. Pada masa itu isi dan bentuk perjanjian diadakan atas
nama dan sebagai ekspresi kemauan pemberi kuasa. Hal ini untuk menunjukkan
bahwa si pemegang kuasa adalah wakil pribadi dari pemilik kekuasaan yang
diberi kuasa prinsipal, sepanjang ia bertindak dalam batas kewenangannya.
Ini merupakan sesuatu yang bersifat mendasar, di mana kewenangan pihak
yang mewakili harus ditetapkan terlebih dulu secara tegas dalam suatu
instrumen (dalam hal ini surat kuasa) sebelum melakukan proses negosiasi.
Oleh karenanya, pada masa itu, penolakan pemilik kuasa untuk meratikasi
perjanjian yang sudah dibuat oleh pemegang kuasa hanya dimungkinkan
apabila si pemegang kuasa membuat perjanjian melebihi kewenangannya.
Karena itu tidaklah mengejutkan bahwa sejarah awal tentang kuasa penuh
dengan contoh-contoh pembahasan yang panjang dan teliti tentang arti dan
signikansi yang terdapat pada penyusunan kata-kata yang digunakan dalam
surat kuasa.
Ada dua perkembangan terkait yang menyebabkan penurunan peran
lembaga kuasa penuh (full power). Pertama adalah akhir periode monarki absolut
menjelang berakhirnya abad delapanbelas. Adanya peningkatan pengawasan
pemerintah terhadap kebakan luar negeri setelah revolusi di Amerika Serikat
dan Perancis, menyebabkan munculnya praktik negara-negara berkenaan
dengan sifat diskresi dari ratikasi. Dengan demikian pemberi kuasa dapat
menolak melakukan ratikasi sekalipun pemilik kuasa telah melakukan negosiasi
dalam batas-batas kewenangan yang dimilikinya. Kedua, semakin mudahnya
komunikasi yang berkulminasi pada perkembangan alat komunikasi telegraf,
35 Bab 3 Pembentukan dan Pemberlakuan Perjanjian 35
memungkinkan bagi pelaku negosiasi untuk memastikan bahwa mereka tidak
melebihi batas kewenangan yang telah diberikan.
Di jaman yang lebih modern ada faktor ketiga yang semakin mengurangi
peran kuasa penuh sebagai akibat bertambahnya kecenderungan Negara
untuk menandatangani perjanjian dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu
dengan pertukaran nota kesepakatan atau pertukaran instrumen perjanjian,
sehingga tidak diperlukan lagi kuasa penuh. Semakin kompleksnya hubungan
internasional yang memerlukan bentuk perjanjian yang lebih luas dan
lebih komprehensif mengarahkan pada pembentukan perjanjian yang lebih
informal. Kerja sama internasional dalam bidang teknik seperti telekomunikasi,
keselamatan di laut, perlindungan kekayaan industri, jasa pengangkutan udara
dan peraturan sanitasi telah membentuk suatu susunan jaringan hubungan
perjanjian internasional yang tidak mungkin terbayangkan seratus tahun
lalu. Pesatnya perkembangan masyarakat internasional dengan lahirnya
negara-negara baru di Afrika dan Asia setelah Perang Dunia Kedua telah
menunjukkan meningkatnya jangkauan hubungan perjanjian internasional.
Semua hubungan ini, membutuhkan kelancaran proses pembuatan perjanjian,
melalui penyederhanaan formalitasnya.
Pasal 7 Konvensi Wina mereeksikan keinginan langkah penyederhanaan
tersebut. Pertama, Pasal itu menetapkan aturan umum bahwa seseorang dianggap
sebagai orang yang mewakili sebuah Negara untuk tujuan mengadopsi atau
mengotentikasi teks perjanjian atau untuk menyatakan persetujuan Negara
untuk terikat dalam perjanjian (consent to be bound) bila:
a. ia mendapatkan kuasa penuh, atau
b. tanpa adanya kuasa penuh, namun terdapat indikasi bahwa yang
bersangkutan mewakili negaranya untuk tujuan tertentu yang dapat
dibuktikan dari adanya praktik yang dilakukan Negara mengenai hal
ini.
Jadi, subparagraph (b) dimaksudkan untuk mempertahankan praktik
Negara modern untuk memberikan kuasa penuh dalam perjanjian dengan
bentuk sederhana. Pada sesi pertama konferensi, sebuah proposal yang diajukan
untuk menghapus ketentuan ini ditolak. Menurut delegasi yang menyetujui
penghapusan ini, adanya ketentuan yang memungkinkan adanya praduga
atas kewenangan untuk membentuk perjanjian akan menimbulkan keterikatan
negara pada suatu tindakan hukum yang dilakukan oleh si pemegang kuasa
tanpa negara yang bersangkutan menyadarinya. Perlu dipahami bahwa pada
dasarnya jika perjanjian tidak dilakukan oleh the big three, maka diperlukan surat
kuasa kecuali jika negara-negara yang terlibat dalam negosiasi bisa sepakat
untuk meniadakan jika menjadi jelas bahwa hasil negosiasi dapat dipadukan
dalam suatu persetujuan. Dalam keadaan demikian maka 'bebannya terletak
36 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 36
pada pelaku negosiasi untuk menentukan apakah mereka memenuhi syarat
untuk melakukan tindakan yang dapat mengikat Negara masing-masing.
Dalam ulasan mereka terhadap dra Pasal 7, Komisi Hukum Internasional
mengatakan bahwa merupakan suatu aturan umum (general rules) bahwa
pemberian kuasa penuh merupakan pengaman utama bagi utusan Negara
untuk memahami kualikasi utusan-utusan lain yang mewakili Negara mereka
sesuai dengan tujuan pemberian kuasa. Dengan kata lain, secara implisit Komisi
mengakui bahwa tidak adanya kuasa penuh menimbulkan risiko tertentu bagi
suatu negara, berkenaan dengan kemungkinan adanya utusan yang melakukan
pembentukan perjanjian tanpa memiliki kewenangan untuk itu.
Karena berhati-hati terhadap risiko yang timbul dan juga untuk menghargai
praktik internasional yang diterima, Pasal 7 Ayat 2 Konvensi Wina menetapkan
bahwa 'berkaitan dengan fungsi mereka maka Kepala Negara, Kepala
Pemerintahan dan Menteri Luar Negeri (the big three) dianggap sebagai
perwakilan Negara mereka untuk tujuan semua tindakan yang terkait dengan
penandatanganan perjanjian sehingga tidak memerlukan kuasa penuh. Misi
kepala diplomatik juga dianggap mewakili Negara mereka secara ex o cio dan
tanpa perlu membuat kuasa penuh, namun hanya untuk tujuan melakukan
perjanjian antara Negara pengirim dengan Negara di mana mereka ditugaskan.
Hal ini juga berlaku bagi perwakilan tetap di suatu konferensi atau organisasi
internasional, atau salah satu lembaganya namun hanya untuk mengadopsi
naskah perjanjian dalam konferensi, organisasi atau lembaga tersebut.
Masalah menarik yang muncul dalam konferensi adalah hubungan antara
peraturan tentang kapasitas yang dimiliki untuk melakukan tindakan tertentu
yang berkaitan dengan penandatanganan perjanjian dan peraturan yang
delaskan dalam Pasal 46 Konvensi Wina berkenaan dengan pelanggaran
ketentuan hukum internal dengan melihat pada kompetensi menandatangani
perjanjian. Pasal 46 menetapkan prinsip bahwa sebuah Negara tidak dapat
meminta bahwa persetujuannya untuk terikat dalam perjanjian diekspresikan
dengan melanggar ketentuan hukum internalnya yang berkaitan dengan
kompetensi menandatangani perjanjian kecuali pelanggaran itu dilakukan
dan menyangkut peraturan hukum internal yang memiliki kepentingan
mendasar. Pertanyaan yang muncul adalah apakah paragraph 2 Pasal 7 dapat
diasumsikan bahwa dalam hukum internasional si penerima kuasa secara ex-
o cio berwenang untuk melakukan suatu tindakan lain yang tidak dikuasakan
padanya? Pada sesi pertama konferensi, proposal yang meliputi referensi bagi
hukum internal dalam teks Pasal 7 diterima secara aklamasi. Terlebih lagi
masalah ini juga telah dimasukkan oleh Komisi Hukum Internasional dalam
ulasan mereka mengenai Pasal 46. Dalam membahas doktrin bahwa Hukum
nasional yang membatasi kekuasaan lembaga Negara untuk masuk dalam
perjanjian dapat menyebabkan dibatalkannya suatu kesepakatan yang telah
diberikan dalam level internasional. Dengan mengabaikan permasalahan
37 Bab 3 Pembentukan dan Pemberlakuan Perjanjian 37
batasan kewenangan oleh Konstitusi, Komisi Hukum Internasional secara
spesik menolak doktrin tersebut, sebab jika pandangan ini diterima, maka
Negara-negara tidak akan berhak untuk mendasarkan diri pada kekuasaan
yang diasumsikan dimiliki oleh Kepala Negara, Perdana Menteri, Menteri
Luar Negeri dll, menurut Pasal 7; mereka harus memenuhi sendiri setiap hal
bahwa ketentuan konstitusi Negara tidak melanggar atau mengambil risiko
akan adanya perjanjian yang tidak berlaku.
Pasal 8 Konvensi Wina merupakan akibat dari Pasal 7. Pasal itu menyebutkan
bahwa tindakan yang berkaitan dengan penandatanganan perjanjian dilakukan
oleh orang yang menurut Pasal 7 dianggap bukan sebagai orang yang diberi
wewenang untuk mewakili Negara untuk tujuan tersebut, maka tidak akan
mempunyai efek legal, kecuali apabila selanjutnya negara pengirim memberikan
konrmasi atasnya. Kasus semacam ini jarang terjadi, namun ulasan Komisi
Hukum Internasional mengkutip dua atau tiga contoh yang relevan dari
sejarah diplomatik di mana perwakilan Negara telah menandatangani
perjanjian saat tidak adanya kewenangan melakukannya. Dasar pemikiran
aturan yang diwujudkan dalam Pasal 8 adalah bahwa 'jika delegasi tidak
memiliki kewenangan untuk masuk dalam perjanjian Negara harus diberi
hak menolak tindakan yang dilakukan perwakilannya tersebut. Salah satu
masalah penting di mana Pasal 8 tidak mampu memecahkannya, adalah apakah
penegasan itu harus dinyatakan atau dapat dinyatakan secara tidak langsung
dari tindakan Negara yang dimaksud. Sejarah perancangan menunjukkan
bahwa penegasan ini bisa dinyatakan secara tidak langsung. Pertama, Komisi
Hukum Internasional secara eksplisit menyatakan bahwa Negara dianggap
menyetujui tindakan tanpa wewenang dari perwakilannya bila hal itu berkaitan
dengan ketentuan-ketentuan perjanjian atau tindakan-tindakan sebaliknya
yang menunjukkan bahwa tindakan perwakilannya dapat diterima.

Kedua,
ditolaknya amandeman yang diajukan oleh Venezuela mengenai perlu adanya
konrmasi secara tegas mengenai hal ini. Penolakan ini didasarkan pada
pemikiran bahwa " konrmasi yang ditunjukkan dengan diamnya Negara
telah dikenal dalam praktik hukum internasional", dan "tidak ada negara yang
keberatan dengan adanya konrmasi diam-diam yang ditunjukkan melalui
perilaku Negara yang bersangkutan.
ADOPSI DAN OTENTIKASI
Dalam konvensi sendiri tidak ada denisi atas istilah 'adoption', namun istilah
itu bisa diartikan sebagai tindakan formal untuk menetapkan bentuk dan isi
perjanjian yang akan ditetapkan.

Secara historis, penetapan teks perjanjian
biasanya dilakukan melalui kesepakatan bulat semua Negara yang berpartisipasi
dalam negosiasi. Suara bulat bisa dikatakan sebagai peraturan klasik-sebuah
aturan yang dianggap begitu jelas sehingga tidak memerlukan denisi lagi.
38 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 38
Sesuai dengan sifatnya, tentunya perjanjian bilateral selalu mensyaratkan
adanya suara bulat (unanimity). Apabila para pihak dalam perjanjian bilateral
tidak mencapai kesepakatan pada rumusan perjanjian, maka tidak ada consensus
ad idem dan tidak ada rumusan naskah yang diadopsi (diterima). Karenanya
proses negosiasi akan dilanjutkan sampai diselesaikannya perbedaan rumusan
yang menyebabkan adanya ketidaksepakatan para pihak dan tercapai rumusan
kata-kata yang disepakati oleh mereka.
Suara bulat juga diperlukan bagi perjanjian yang dikenal sebagai perjanjian
multilateral terbatas. Perjanjian multilateral terbatas dapat didenisikan sebagai
perjanjian yang objek, tujuannya serta penerapannya mensyaratkan keterikatan
keseluruhan pihak terhadap perjanjian.

Contoh perjanjian multilateral terbatas
adalah perjanjian yang menetapkan kerja sama sangat erat antara sejumlah
Negara tertentu, seperti perjanjian integrasi ekonomi, perjanjian antara Negara
riparian berkaitan dengan pembangunan lembah sungai atau perjanjian yang
berkenaan dengan pembangunan dam hidro-listrik, instalasi ilmiah atau
sejenisnya.

Perjanjian seperti ini, terutama perjanjian integrasi ekonomi, saat ini
semakin bertambah penting, seperti perjanjian yang membentuk Masyarakat
Eropa (European Community) Karakteristik penting dari perjanjian itu adalah
perjanjian ini memadukan hubungan hak dan kewajiban yang saling berkaitan,
karenanya pemenuhan seluruh perjanjian oleh semua Negara yang terlibat
merupakan prasyarat bagi pelaksanaan perjanjian ke arah tujuan yang telah
ditetapkan. Kebulatan suara menjadi syarat penting bagi penyusunan naskah
dalam proses adopsi sampai pada saat perjanjian tersebut diberlakukan (entry
into force). Pada prinsipnya, suara bulat juga diperlukan bagi proses penerimaan
negara anggota baru ke dalam suatu organisasi internasional, dalam arti
bahwa anggota baru tersebut harus mendapat persetujuan dari semua Negara
anggota, termasuk menentukan persyaratan apa saja yang diperlukan untuk
menjadi anggota dalam organisasi tersebut.
Paragraf 1 Pasal 9 Konvensi Wina secara umum menentukan bahwa
perumusan naskah (adopsi) dilakukan melalui kesepakatan negara-negara
yang hadir. Namun ketentuan ini akan sulit diterapkan dalam proses adopsi
dalam konferensi internasional. Karenanya, Pasal 9(2) menentukan bahwa
'proses adopsi teks perjanjian pada konferensi internasional dapat dilakukan
melalui pengambilan suara oleh dua pertiga Negara yang hadir dan mengambil
suara, kecuali jika dua pertiga suara tersebut menentukan penggunaan cara
pengambilan suara yang berbeda.
Dari uraian di atas diketahui bahwa pengambilan suara dalam proses adopsi
tersebut merupakan perkembangan progresif bukan kodikasi.

Sekalipun
banyak perbedaan pendapat pada saat pembentukan Konvensi Wina 1969
namun terdapat kesepakatan umum bahwa peraturan yang dipaparkan dalam
Pasal 9(2) tidak secara otomatis dapat diberlakukan terhadap perjanjian yang
39 Bab 3 Pembentukan dan Pemberlakuan Perjanjian 39
dibentuk oleh organisasi internasional bila peraturan organisasi yang berlaku
tidak sesuai dengan ketentuan Pasal tersebut.
Ketentuan Pasal 9(2) tampaknya lebih sesuai bagi konferensi internasional
yang besar, yaitu konferensi yang dihadiri oleh sejumlah besar Negara. Bila
konferensi ini diadakan dalam kerangka kerja organisasi internasional, maka
peraturan khusus organisasi tersebutlah yang berlaku. Permasalahannya adalah,
apakah peraturan dalam Pasal 9(2) berlaku pula bagi konferensi regional yang
diadakan terpisah dari organisasi regional yang menaunginya. Jawabnya
seperti yang diutarakan oleh Sir Waldock Humprey dan disepakati oleh Komisi
Hukum Internasional bahwa Pasal 9(2) pada prinsipnya juga berlaku pada
konferensi regional, namun konferensi organisasi regional biasanya selalu
dapat memutuskan untuk memberlakukan ketentuan mengenai kesepakatan
bulat melalui penentuan oleh mayoritas dua pertiga suara.
Pasal 10 Konvensi Wina yang berkenaan dengan otentikasi teks, butuh
sedikit ulasan. Harus diketahui bahwa peraturan ini berkaitan dengan
penentuan keaslian dan kepastian teks perjanjian. Merupakan hal yang umum
dalam negosiasi-negosiasi internasional, bahwa dalam hal tertentu, teks pada
awalnya hanyalah merupakan naskah yang dibuat oleh perwakilan Negara
yang merundingkan perjanjian di mana mereka telah mencapai kesepakatan
mengenai teks tertentu menurut pertimbangan pemerintah mereka masing-
masing, sebagaimana ditunjukkan oleh pemerintah AS tunjukkan dalam
ulasan tertulisnya mengenai rancangan yang disiapkan oleh Komisi Hukum
Internasional, Dengan penjelasan ini, maka Komisi melakukan perancangan
ulang terhadap peraturan itu.
PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK TERIKAT DALAM PERJANJIAN
(CONSENT TO BE BOUND)
Pasal 1117 Konvensi Wina berkenaan dengan pernyataan persetujuan
negara untuk terikat dalam perjanjian. Pasal 11 mencantumkan berbagai
cara mengikatkan diri terhadap perjanjian seperti tanda tangan, pertukaran
instrumen perjanjian, ratikasi, penerimaan (acceptance), aksesi, approval, atau
cara lain yang disepakati. Komisi tidak menganggap penting untuk mengajukan
adanya suatu ketentuan umum berkenaan dengan cara menyatakan persetujuan
untuk terikat dalam perjanjian, atau mengajukan ketentuan khusus untuk
menyatakan persetujuan untuk terikat dalam perjanjian melalui pertukaran
instrument perjanjian.
Masalah utama yang timbul adalah pertanyaan apakah perjanjian
membutuhkan ratikasi apabila klausula perjanjian tidak menyatakan secara
tegas perlunya ratikasi. Terhadap masalah ini terdapat perbedaan pendapat.
Mc Nair dan Harvard Research menyatakan bahwa, sekalipun tidak dinyatakan
secara tegas dalam naskah perjanjian, ratikasi tetap diperlukan. Sementara
40 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 40
di sisi yang berseberangan, Fitzmaurice menyatakan bahwa kebutuhan akan
ratikasi tidak inheren dengan naskah perjanjian sehingga, perlu tidaknya
ratikasi ditentukan oleh keinginan para pihak. Tanpa adanya kehendak
ini maka diasumsikan bahwa ratikasi tidak diperlukan. Melalui penelitian
terhadap praktik-praktik negara, Blix menyimpulkan bahwa jika negara-negara
berkehendak untuk memberlakukan perjanjian melalui prosedur di luar
penandatanganan, maka keinginan tersebut diwujudkan melalui pernyataan
dalam naskah perjanjian mengenai cara memberlakukan perjanjian (entry
into force).
Ketika menyusun dra Pasal 10 ini, Komisi Hukum Internasional agak
bingung untuk mengatasi masalah yang berpotensi menimbulkan perselisihan
ini. Pada tahun 1962, Komisi Hukum Internasional telah menyusun rancangan
Pasal ini yang agak rumit dengan menyatakan bahwa perjanjian selalu dianggap
membutuhkan ratikasi kecuali jika perjanjian itu termasuk dalam pengecualian
tertentu. Pemikiran yang disampakan oleh Komisi tersebut ditentang oleh
sejumlah Negara seperti Denmark, Jepang, Swedia dan Inggris, dengan
menyatakan bahwa asumsi dasar bahwa perjanjian hanya perlu diratikasi
apabila dinyatakan demikian dalam klausulanya, harus tetap dipertahankan.
Negara lain mengkritik pemilihan kata perkecualian, sementara beberapa
negara menyatakan bahwa Komisi Hukum Internasional tidak perlu mengambil
posisi tentang masalah-masalah doktrinal. Berkaitan dengan perkembangan
ini, komisi Hukum Internasional memperbaiki rancangan pasal dengan hanya
menguraikan persyaratan-persyaratan bagi negara untuk menyatakan terikat
kepada suatu perjanjian internasional melalui ratikasi.
Komisi Hukum Internasional menghindari masalah krusial tentang apakah
persetujuan Negara untuk terikat dalam perjanjian dinyatakan melalui tanda
tangan atau ratikasi jika hal ini tidak dinyatakan secara tegas dalam perjanjian.
Ratikasi diperlukan apabila perjanjian secara wajar mengindikasikan perlunya
diratikasi. Perjanjian dianggap tidak memerlukan ratikasi jika perjanjian
tersebut diberlakukan (entry into force) melalui penandatanganan naskah atau
diberlakukan pada tanggal atau menurut peristiwa tertentu. Hal ini ditegaskan
oleh analisis Blix yang menyatakan bahwa dari 1300 intrumen yang dimuat
dalam Seri Perjanjian PBB antara tahun 1946 dan 1951, sedikitnya 1125 yang
secara tegas menyatakan cara berlakukanya perjanjian internasional.
Namun dalam konferensi, masalah ini tidak mudah diselesaikan. Pada
sesi pertama, terjadi perdebatan panjang tentang apakah konvensi harus
memasukkan ketentuan tambahan mengenai adanya penandatanganan
atau ratikasi perjanjian jika dalam klausula perjanjian tidak disebutkan
secara tegas cara consent to be boundnya. Beberapa negara ingin melakukan
amandemen terhadap ketentuan mengenai pemilihan tandatangan sebagai
ketentuan residual yang berkaitan dengan consent to be bound. Sementara
sembilan Negara Amerika Latin mengajukan amandemen terhadap ketentuan
41 Bab 3 Pembentukan dan Pemberlakuan Perjanjian 41
mengenai ratikasi sebagai ketentuan residual tersebut. Bagi para pendukung
ratikasi sebagai ketentuan residual, pemilihan ratikasi sangat tepat untuk
menjamin ketertiban dan kepastian hukum, serta menjamin keselarasan
dengan ketentuan-ketentuan dalam hukum nasional. Sementara mereka yang
mendukung tandatangan sebagai ketentuan residual, menyatakan bahwa
hal ini mencerminkan praktik yang dilakukan Negara-negara saat ini, yang
cenderung melakukan penutupan perjanjian dengan cara yang lebih sederhana,
yaitu yang tidak memerlukan ratikasi. Ketika perdebatan menemukan jalan
buntu, maka dilakukanlah voting di antara tigapuluh pembicara, di mana
sepuluh pembicara menyatakan bahwa mereka lebih menyukai tanda tangan
sebagai ketentuan residual; tiga belas lebih menyukai ratikasi, dan tujuh di
antaranya tidak mengambil sikap apapun.

Atas kebuntuan pembahasan mengenai hal ini, pada akhirnya, negara-negara
yang menyukai ketentuan berupa tanda tangan kemudian menarik proposal
mereka, sementara Negara-negara Amerika Latin yang meminta ketentuan
residual berupa ratikasi telah ditolak melalui pemungutan suara dengan
perbandingan sebesar duapuluh lima suara melawan tigapuluh tiga suara, dan
enam suara abstain.

Ketidaksepakatan tersebut menyebabkan ketentuan dalam
Konvensi Wina 1969 tidak dimaksudkan sebagai pemecahan masalah doctrinal
mengenai apakah consent to be bound dilakukan melaui penandatanganan atau
ratikasi sebagai jalan menyatakan persetujuan ketika perjanjian itu tidak
secara tegas menyatakan caranya. Konvensi hanya memuat kondisi-kondisi
atau keadaan-keadaan untuk mengindikasi bahwa suatu perjanjian harus
ditandatangani atau harus diratikasi.
KEWAJIBAN UNTUK TIDAK MERUSAK MAKSUD DAN TUJUAN
PERJANJIAN
Setelah suatu naskah perjanjian disusun, proses selanjutnya adalah proses
pengikatan diri terhadap perjanjian yang terdapat sejumlah tahapan. Tahap
pertama adalah periode antara penandatanganan perjanjian (dengan asumsi
perjanjian itu objek ratikasi) sampai pemberlakuan perjanjian (entry into
force) atau antara ratikasi dan pemberlakukan perjanjian. Berkaitan dengan
masa tenggang tersebut, Pasal 18 Konvensi Wina menegaskan bahwa 'negara
diwajibkan untuk menahan diri dari tindakan yang akan merusak maksud dan
tujuan perjanjian' selama masa tenggang sebelum pemberlakuan perjanjian.
Ketentuan ini merupakan salah satu bentuk dari perkembangan progresif
dalam hukum perjanjian internasional. Negara yang telah menandatangani
perjanjian yang mensyaratkan ratikasi harus memperhatikan ketentuan-
ketentuan yang berlaku bagi mereka selama proses pemberlakuan perjanjian,
terutama bila aktivitas itu akan mengubah pelaksanaan kewajiban salah satu
pihak, menjadi tidak memungkinkan atau lebih sulit.
42 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 42
Perlu diperhatikan bahwa dalam dra Pasal terakhir yang diserahkan oleh
Komisi Hukum Internasional tahun 1966, disebutkan bahwa sifat kewajiban
yang dikenakan bagi negara-negara sebagaimana tersebut di atas adalah
kewajiban untuk mencegah dilakukannya tindakan yang akan berpotensi
untuk menghalangi tercapainya tujuan dan maksud perjanjian sebagaimana
yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam konferensi, frase ini diubah menjadi
kewajiban untuk tidak melakukan tindakan yang akan merusak maksud
dan tujuan perjanjian. Frase 'cenderung menghalangi' telah dikritik oleh
sejumlah delegasi, termasuk Inggris, AS, Ghana dan Uruguay. Sir Humprey
Waldock, menjelaskan bahwa frase ini didasarkan pada konsep yang sudah
diterima hukum Inggris bahwa "para pihak dalam perjanjian harus menjauhi
tindakan yang akan menyebabkan perjanjian tersebut menjadi tidak berarti
dan menghilangkan tujuan yang telah ditetapkan".
Beberapa perjanjian kadang-kadang berupaya memberikan materi muatan
terhadap prinsip umum yang termuat dalam di Pasal 18 Konvensi Wina. Misal,
ada pengakuan implisit tentang prinsip yang digunakan dalam instrument yang
berjudul 'Prosedur Penerimaan Keputusan Tertentu dan Tindakan lain yang
harus diambil selama periode sebelum aksesi" yang ditambahkan pada Final
Act yang ditandatangani secara simultan dengan perjanjian yang berkenaan
dengan aksesi yang dilakukan oleh Denmark, Irlandia, Norwegia dan Inggris
ke dalam European Economic Community dan European Atomic Energy Community.
Instrument ini bisa disebut sebagai "interim procedure documents" yang di
dalamnya menyatakan bahwa selama periode sebelum dilakukannya aksesi
terhadap Perjanjian dalam kerangka Masyarakat Ekonomi Eropa tersebut, maka
setiap proposal atau komunikasi Komisi Masyarakat Eropa yang memengaruhi
keputusan Dewan Eropa, harus disampaikan kepada negara-negara yang
mengaksesi tersebut untuk mendapatkan perhatian mereka. Perencanaan
detail kemudian dibuat sebagai sarana konsultasi dalam berbagai tingkatan.
Sebaliknya, dikatakan bahwa prosedur konsultasi juga harus berlaku pada
semua keputusan yang diambil oleh Negara yang menyetujuinya yang
memengaruhi komitmen yang berasal dari posisi mereka sebagai calon anggota
Masyarakat Eropa.

Dalam hal ini, prosedur konsultasi praktis digambarkan
untuk memastikan bahwa tidak ada tindakan apapun untuk menolak, atau
mempersulit maksud dan tujuan aksesi terhadap Perjanjian yang nantinya
mengarah pada pernambahan jumlah anggota Masyarakat Eropa.
BERLAKUNYA PERJANJIAN DAN PENERAPAN PERJANJIAN
SEMENTARA
Pasal 24 memaparkan peraturan yang tidak dapat diperkecualikan bahwa sebuah
perjanjian menjadi berlaku menurut cara dan waktu yang telah ditetapkan
atau saat Negara yang bernegosiasi menyetujuinya, sehingga menggagalkan
43 Bab 3 Pembentukan dan Pemberlakuan Perjanjian 43
ketentuan atau perjanjian itu, sebuah perjanjian menjadi berlaku segera saat
persetujuan untuk terikat dalam perjanjian telah ditetapkan bagi semua Negara
yang melakukan negosiasi. Persetujuan untuk terikat dapat dinyatakan dengan
berbagai cara seperti ditetapkan dalam Pasal II Konvensi Wina, bergantung
pada syarat perjanjian dimaksud.
Paragraph 4 Pasal 24 Konvensi Wina merupakan tambahan pada proposal
Komisi Hukum Internasional yang telah disepakati pada konferensi di Wina.
Pasal 42(4) dari laporan pertamat Fitzmaurice tentang Hukum Perjanjian
menyebutkan bahwa walaupun, sebelum diberlakukan, sebuah perjanjian
memiliki dampak yang bersifat operatif sepanjang memperhatikan ketentuan-
ketentuan yang mengatur proses ratikasi, penerimaan dan masalah yang
sama, dan masa atau cara berlakunya perjanjian itu sendiri.
Dalam komentarnya, Fitzmaurice menilai ketentuan itu sebagai berikut:
"secara logis, sebuah perjanjian yang belum berlaku, tidak dapat berlaku dengan
sendirinya, karena ketentuannya sendiri tidak berlaku." Yang benar adalah bahwa
ketentuan perjanjian yang menetapkan ratikasi, pemberian in, pemberlakuan
perjanjian dan masalah lain yang memungkinkan, dianggap menjadi berlaku
secara terpisah dan pada saat penandatanganan atau diperlakukan seolah
perjanjian itu terpisah-walaupun substansi perjanjian itu tidak terpisah.
Komisi Hukum Internasional tidak memasukkan ketentuan-ketentuan
tentang aspek berlakunya perjanjian ke dalam proposal yang mereka ajukan
tahun 1966. pada sesi pertama konferensi Wina, delegasi Inggris mengajukan
proposal yang didasarkan pada pendapat Fitzmaurice. Proposal ini mendapat
dukungan sebagai tambahan bagi teks Komisi dan secara prinsip diterima
dan mengalami perancangan ulang oleh Komisi Perancang Undang-undang.
Paragraf 4 Pasal 24 menetapkan bahwa ketentuan sebuah perjanjian yang
mengatur pembuktian keaslian teks, penetapan persetujuan Negara untuk terikat
dalam perjanjian, cara atau masa berlakunya perjanjian, persyaratan, fungsi
tempat penyimpanan, dan masalah lainnya yang timbul sebelum berlakunya
perjanjian yang berlaku mulai dari waktu penggunaan teks itu.
Pasal 25 Konvensi Wina berkaitan dengan penerapan perjanjian sementara.
Tak satupun dari rancangan Harvard ataupun McNair yang mengacu pada
penerapan perjanjian sementara. Penambahan klausul dalam perjanjian yang
menetapkan penerapan perjanjian sementara pada seluruh atau sebagian
perjanjian merupakan perkembangan yang relatif baru dalam praktik
internasional. Ini telah terjadi secara prinsip karena ada kesempatan mendesak
yang diperlukan untuk merealisasikan kerja sama internasional pada masalah
tertentu.
Komisi Hukum Internasional telah menahan diri untuk mengajukan
peraturan yang berkaitan dengan penghapusan penerapan perjanjian sementara,
dengan menyatakan bahwa masalah ini harus tetap diputuskan melalui
kesepakatan berbagai pihak dan pelaksanaan peraturan yang berkenaan dengan
44 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 44
penghapusan perjanjian.
51
Konferensi berpikir sebaliknya, berdasarkan proposal
yang diajukan Belgia, Hungaria dan Polandia, apa yang sekarang disebut
paragraph 2 Pasal 25, menyebutkan bahwa penerapan perjanjian sementara
yang berkaitan dengan Negara dihapus bila Negara itu memberitahu Negara
lain di mana perjanjian itu tujuannya berlaku sementara bukan untuk terlibat
dalam perjanjian.
Namun teks Pasal 25 tidak mengalami kesulitan. Pertama, ada berbagai
unsur dalam praktik internasional di mana sebuah perjanjian dapat terus
berlaku sementara di beberapa Negara tertentu walaupun perjanjian itu telah
diberlakukan secara denitif antara Negara satu dengan Negara lain. Sebuah
pernyataan yang diajukan oleh delegasi Inggris menyatakan pengertian bahwa
pencantuman frase 'menangguhkan berlakunya perjanjian' dalam paragraph
1 tidak menghalangi penerapan perjanjian sementara oleh satu atau beberapa
Negara setelah perjanjian itu telah berlaku secara denitif antara Negara lain
yang tidak mengalami keberatan saat konferensi, dan secara khusus disetujui
oleh Negara India.

Kedua, ada unsur lain di mana hanya beberapa Negara
yang melakukan negosiasi yang setuju memberlakukan perjanjian atau
sebagian dari perjanjian yang secara sementara menangguhnya berlakunya
perjanjian itu. Pernyataan yang diajukan delegasi Inggris terhadap paragraph
1(b) Pasal 25 akan berlaku sama pada situasi di mana Negara yang melakukan
negosiasi telah sepakat untuk memberlakukan perjanjian atau sebagian dari
perjanjian itu dengan sementara menangguhkan berlakunya perjanjian itu'
tidak mendapat tantangan dalam konferensi dan secara khusus disetujui oleh
India dan Inggris.
UMPAN BALIK
1. Dalam hukum perjanjian internasional dikenal istilah the big three yang
tidak memerlukan full power leer (FPL) untuk melakukan pembuatan
atau menyatakan tunduk pada suatu perjanjian internasional. Siapa saja
mereka? Mengapa mereka tidak memerlukan FPL?
2. Dalam perspektif Konvensi Wina 1969, pada tahapan mana hasil negosiasi-
negosiasi yang dilakukan para peserta dirumuskan dan dinyatakan sebagai
naskah yang otentik?
3. Sebutkan cara-cara negotiating parties menyatakan persetujuan mereka untuk
terikat dalam sebuah perjanjian (consent to be bound). Darimana negotiating
parties atau non-parties dapat mengetahui cara melakukan consent to be
bound terhadap perjanjian yang akan diikutinya?
4. Apa saja kewajiban dari negotiating parties dalam rentang waktu antara
penandatanganan dan pelaksanaan perjanjian (entry into force)?
45 Bab 3 Pembentukan dan Pemberlakuan Perjanjian 45
LATIHAN SOAL
Sudah lama Pemerintah Indonesia merasa terganggu dengan tindakan illegal-
logging (pembalakan ilegal) yang dilakukan oleh para cukong kayu dari Negara
Malakaca, negara tetangga Indonesia. Para cukong tersebut membabat hutan
di wilayah perbatasan Indonesia - Malakaca, sehingga menyebabkan terjadinya
kerusakan hutan yang parah dan kerugian ekonomi sekitar 3 Triliun Rupiah
per tahun. Tidak hanya itu saja, dengan dukungan aparat militer setempat,
para cukong seringkali memindahkan tapal batas perbatasan wilayah RI
Malakaca hingga lebih memperluas wilayah negara tersebut. Dari tahun
2007 sampai tahun 2012 tapal batas tersebut bergeser hingga 3 kilometer ke
dalam wilayah Indonesia sepanjang 100 km. Sudarman, Menteri Kehutanan
Indonesia berusaha menggagas pertemuan dan berupaya membentuk perjanjian
bilateral dengan Menteri Kehutanan Malakaca di sela-sela pertemuan dalam
The International Conference on Forest di Rio de Janeiro yang diselenggarakan
oleh UNEP (United Nations on Environmental Program). Poin utama yang
diinginkan oleh Pemerintah Indonesia adalah adanya kerja sama Indonesia-
Malakaca mengenai pemberantasan illegal logging yang lebih kuat termasuk
diselenggarakannya mekanisme pemberantasan kejahatan tersebut oleh kedua
negara. Pemerintah Indonesia juga menginginkan dikembalikannya tapal batas
perbatasan pada posisi semula sebagaimana posisi di Tahun 2007. Pertemuan
dan negosiasi dengan delegasi Malakaca dipimpin oleh Badrun, utusan tetap
Indonesia di UNEP.
Catatan:
Kasus ini hanyalah kasus hipotetis belaka;
Malakaca diasumsikan sebagai pihak dalam Konvensi Wina 1969;
Indonesia sampai saat ini bukan pihak dalam Konvensi Wina 1969;
Setiap jawaban lengkapi dengan dasar hukum atau legal reasonnya.
Pertanyaan:
1. Untuk melakukan negosiasi-negosiasi dan tahapan-tahapan berikutnya
dalam pembuatan perjanjian dengan Malakaca mengenai illegal logging,
apakah Badrun memerlukan Full Power Leer/Credential Leer? Jelaskan.
2. Jika dari perundingan-perundingannya dengan delegasi Malakaca ternyata
Badrun menyetujui rumusan perjanjian yang tidak mencantumkan
perpindahan tapal batas wilayah, apakah Pemerintah Indonesia dapat
menyatakan tindakan Badrun ini tidak sah?
3. Apakah perjanjian yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan
Pemerintah Malacak mengenai illegal logging tersebut dapat dikategorikan
dalam perjanjian dalam kerangka konferensi? Jelaskan.
46 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 46
4. Anda adalah staf Kementerian Luar Negeri yang ditunjuk untuk membantu
delegasi Indonesia untuk membentuk perjanjian bilateral antara Indonesia
dan Malakaca tersebut di atas. Buatlah pokok-pokok pikiran yang dapat
digunakan sebagai bahan untuk menyusun pedoman delegasi RI.
DAFTAR BACAAN
Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2001.
DJ Harris, Cases and Materials on International Law, Sweeet & Maxwell,
London, 1998.
Harjono, Politik Hukum PI, Bina Ilmu, Surabaya, 1999.
I Wayan Parthiana, Hukum PI, Bagian I, Mandar Maju, Bandung, 2002.
Ian Brownlie, Principle of Public International Law, 5
th
. Ed., Oxford, New
York, 1998.
Jennings and Watts, Openheim's International Law, Longham, London,
1996.
Oscar Schachter, International Law in Theory and Practice, Vol. 13, Martinus
Nuho, London, 1991.
Rebecca Wallace, International Law, 3
rd
. Ed., Sweet & Maxwell, London,
1997.
Sinclair, Ian M, The Vienna Convention on the Law of Treatise, Oceana Pbl.,
USA, 1973.
47
DESKRIPSI BAB
Bab ini menjelaskan suatu mekanisme untuk menyesuaikan kebutuhan
negara peserta PI terhadap suatu PI yang akan diikuti melalui baik melalui
pengesampingan berlakunya suatu atau beberapa ketentuan dalam perjanjian
tersebut (reservasi) atau melalui penyampaian pernyataan sepihak (unilateral)
melalui deklarasi oleh suatu negara peserta perjanjian mengenai makna suatu
ketentuan dalam perjanjian dalam versinya. Tindakan salah satu pihak untuk
melakukan reservasi terhadap suatu ketentuan perjanjian akan mengubah
hubungan hukum antara negara pereservasi dengan pihak-pihak lain dalam
perjanjian.
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Memberikan penjelasan mengapa Konvensi Wina 1969 menyediakan
mekanisme reservasi;
2. Menjawab permasalahan apakah PI dapat direservasi meskipun di dalam
klausulanya tidak terdapat pengaturan eksplisit tentang dapat tidaknya
ia direservasi;
3. Menjelaskan hubungan antara negara pereservasi dengan negara yang
menyetujui reservasi dan negara yang menolak adanya reservasi;
4. Menjelaskan prosedur pengajuan reservasi menurut Konvensi Wina
1969;
5. Menjelaskan prosedur pencabutan pengajuan reservasi menurut Konvensi
Wina 1969
LATAR BELAKANG LAHIRNYA RESERVASI
Dalam berbagai PI, tentu diharapkan agar semua entitas Hukum Internasional
yang berperan serta dapat menyetujui seluruh substansi perjanjian, agar
perjanjian itu dapat mengikat secara utuh dan menyeluruh para pihak agar
tidak ada satupun negara yang dikecualikan dari ketentuan-ketentuan yang
4
RESERVASI (PERSYARATAN)
DALAM PI
48 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 48
disepakati dalam perjanjian. Namun tidak mudah bagi seluruh negara yang
mengikuti perjanjian untuk menyetujui seluruh isi Pasal meskipun perjanjian
tersebut telah merupakan kesepakatan dari wakil atau utusan yang berpartisipasi
dalam perundingan untuk merumuskan naskah perjanjian tersebut.
Meskipun sebagian besar ketentuannya sudah disetujui oleh negara yang
bersangkutan, namun ada satu atau beberapa Pasal yang benar-benar tidak dapat
disetujui oleh negara tersebut karena kondisi objektif negara yang bersangkutan,
sehingga dianggap tidak patut atau tidak tepat apabila dicantumkan dalam
perjanjian. Jadi negara tersebut memiliki versi atau pendapat sendiri tentang
ketentuan yang sudah disetujui tersebut.
Mengingat semua negara memiliki kedaulatan sebagai subjek Hukum
Internasional, atas dasar kedaulatan tersebut maka suatu negara berhak untuk
menentukan apakah akan menyatakan terikat atau menolak untuk terikat
dalam perjanjian tersebut. Pada dasarnya negara tersebut akan menghadapi
persoalan karena apabila negara tersebut menolak berarti negara tersebut
membuang kesempatan untuk menikmati keuntungan dari isi perjanjian
tersebut. Namun apabila negara tersebut menyetujui maka negara tersebut harus
menanggung konsekuensi adanya beberapa ketentuan yang mengakibatkan
kerugian bagi negara tersebut. Dengan demikian masalah ini akan berdampak
pada terhambatnya perkembangan Hukum Internasional positif yang diakui
semua entitas Hukum Internasional.
Dalam sejarah perkembangan Hukum Internasional dikenal sebuah pranata
hukum yang dikenal dengan pensyaratan atau reservation untuk menjembatani
kepentingan dan kedaulatan negara-negara untuk terikat dalam PI agar semakin
banyak dan cepat lahir dan berkembangnya perjanjian-PI sebagai salah satu
kaidah dan sumber Hukum Internasional positif.
PENGERTIAN RESERVASI
Ketentuan Umum tentang Reservasi (Pensyaratan) diatur dalam Pasal 2 ayat (1)
huruf d Vienna Convention on the Law of Treaties 1969. Denisi reservasi dalam
ketentuan tersebut adalah pernyataan sepihak, bagaimanapun diungkapkan,
yang dibuat oleh suatu negara, ketika menandatangani, menerima (accepting),
menyetujui (approving) atau ikut serta (accending) pada suatu perjanjian, yang
mana pihak tersebut mengakui atau meniadakan maupun merubah ketentuan-
ketentuan tertentu suatu perjanjian dalam penerapannya bagi negara yang
diwakilinya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa unsur-unsur
reservasi adalah:
1. Pernyataan sepihak yang dinyatakan wakil dari suatu atau beberapa
negara.
2. Ketika menyatakan terikat dalam PI.
49 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 49
3. Untuk menghapuskan, mengesampingkan, ataupun mengurangi ketentuan-
ketentuan dalam PI tersebut yang tidak membawa efek positif bagi negara
yang diwakilinya.
4. Walaupun tidak dinyatakan secara tegas, pensyaratan itu harus diajukan
dalam bentuk tertulis jadi tidak boleh diajukan secara lisan oleh pihak
tersebut.
Pensyaratan tidak dapat diajukan sebelum atau sesudah negara itu
menyatakan terikat dalam perjanjian, namun harus diajukan pada waktu
bersamaan dengan waktu negara itu menyatakan persetujuannya terikat dalam
perjanjian tersebut. Namun dalam praktiknya tidak dilarang dalam perumusan
PI apabila negara tersebut mengajukan pensyaratan pada saat perundingan
berlangsung, khususnya dalam perjanjian multilateral terbatas. Dengan
diajukannya pensyaratan, tidak berarti rumusan atau ketentuan yang dikenakan
pensyaratan itu dihapuskan atau dirubah sesuai isi pensyaratan. Rumusan
otentiknya tetap berlaku namun akibat hukumnya saja yang dikesampingkan
atau dirubah khusus terhadap negara yang mengajukan pensyaratan.
Berdasarkan pengertian pensyaratan seperti ditegaskan dalam Pasal 2 ayat
(1) butir d Konvensi Wina 1969 ini, maka dapatlah dikembangkan lebih lanjut
tentang substansi dan ruang lingkup, maksud, dan tujuan dari pensyaratan
ini.
a. Pertama: pensyaratan adalah merupakan pernyataan sepihak (unilateral
statement) tanpa perlu dipersoalkan tentang apa dan bagaimanapun bentuk
ataupun namanya. Tentu saja yang pernyataan sepihak itu merupakan
manifestasi dari kehendak negara yang bersangkutan yang berlandaskan
pada kedaulatannya. Dia tidak perlu memperoleh persetujuan sebelumnya
dari negara-negara lain.
b. Kedua: berkenaan dengan waktu kapankah pensyaratan itu harus
diajukan oleh suatu negara. Dalam hal ini adalah ketika atau pada
waktu menandatangani (signing), meratikasi (ratifying), mengakseptasi
(accepting), menyetujui (approving), atau mengaksesi (acceding) suatu PI. Perlu
ditegaskan lagi, bahwa tindakan menandatangani, meratikasi, mengaksesi,
menyetujui, maupun mengaksesi, semuanya ini adalah merupakan cara-
cara menyatakan persetujuan untuk terikat pada perjanjian (consent to be
bound by a treaty). Jadi dapat dirumuskan dengan lebih singkat, bahwa
pensyaratan itu harus diajukan pada waktu atau bersamaan dengan waktu
negara itu menyatakan persetujuannya untuk terikat pada perjanjian.
50 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 50
ALASAN MENGAJUKAN RESERVASI
Terdapat beberapa alasan yang melandasi eksistensi dari pranata hukum
pensyaratan baik yang prinsip maupun alasan lain yang bersifat praktis dan
pragmatis.
Alasan yang sangat prinsip dan mendasar tersebut adalah berkenaan dengan
kedaulatan negara. Sebagai negara berdaulat, suatu negara tidak dapat dipaksa
untuk menerima sesuatu yang sebenarnya tidak disetujuinya negara tersebut
berhak untuk menolaknya. Negara itu tidak akan mengorbankan kedaulatan
atau kepentingan nasionalnya hanya untuk terikat pada ketentuan perjanjian
yang sebenarnya tidak disetujuinya. Bahwa sesuatu yang semula ditolak karena
bertentangan dengan kepentingan nasionalnya, tetapi kemudian disetujuinya
karena sudah tidak lagi bertentangan dengan kepentingan nasionalnya, hal itu
adalah sesuatu yang harus dimaklumi dalam kehidupan suatu negara baik secara
internal maupun eksternal yakni sebagai anggota masyarakat internasional.
Dalam hubungannya dengan PI, ketentuan yang semula ditolak atau dikenakan
pensyaratan karena bertentangan dengan kepentingan nasionalnya, tetapi
jika kemudian ketentuan perjanjian yang semula dikenakan pensyaratan itu
ternyata sudah tidak lagi bertentangan dengan kepentingan nasionalnya,
pensyaratannya itupun dapat ditariknya kembali.
Sedangkan alasan praktis dan pragmatis dari diperkenankannya suatu negara
mengajukan pensyaratan adalah karena adanya berbagai macam kepentingan
negara yang berbeda-beda bahkan saling bertentangan satu dengan lainnya,
sehingga sangat sukar untuk tercapainya persetujuan bulat bagi negara-negara
atas semua ketentuan suatu PI. Hal ini akan menghambat negara-negara untuk
dapat menjadi peserta dalam suatu PI sehingga dapat mengakibatkan PI itu
membutuhkan waktu yang lama untuk dapat mulai berlaku sebagai Hukum
Internasional positif. Bahkan boleh jadi tidak berhasil untuk menjadi Hukum
Internasional positif karena sangat sedikitnya atau masih belum terpenuhinya
batas minimum dari jumlah negara yang menyatakan persetujuannya untuk
terikat pada perjanjian tersebut. Keadaan seperti ini tentu saja akan sangat
merugikan masyarakat internasional.
Oleh karena itu adalah sangat praktis dan pragmatis jika, negara-negara
diberikan kemudahan dan kelonggaran untuk menyatakan persetujuan untuk
terikat pada suatu PI dengan disertai pengajuan pensyaratan. Jadi masih lebih
baik ada PI meskipun keutuhannya berkurang, dibandingkan dengan gagal
atau sangat sukar lahirnya perjanjian-PI. Pensyaratan diharapkan mampu
menciptakan kondisi ideal yang sekaligus mencerminkan maksud dan tujuan
pensyaratan tersebut yaitu terjaminnya keselarasan dan keseimbangan antara
kedaulatan dan kepentingan nasional negara-negara maupun masyarakat
internasional sehingga pensyaratan memudahkan dan mempercepat lahirnya
PI. Karena semakin banyak muncul PI yang mengatur berbagai masalah
internasional semakin baik bagi tatanan pergaulan internasional.
51 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 51
LARANGAN DAN PEMBATASAN RESERVASI
Dalam diktat rangkuman pemikiran Oppenheim karya Jenny and Was,
dinyatakan bahwa reservasi dalam bentuk apapun tidak diizinkan diajukan
dalam semua keadaan dan diakui oleh semua ketentuan dari perjanjian. Dalam
Advisory Opinion Mahkamah Internasional tahun 1951 tentang Reservation to the
Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide, dinyatakan PI
boleh menyediakan kesempatan untuk mengajukan pensyaratan bagi perjanjian
itu kecuali jika dilarang atau perjanjian itu tidak menyediakan klausula tersebut.
Bahkan pensyaratan tidak dapat diajukan apabila bertentangan dengan objek
dan tujuan dari pensyaratan.
Bagi negara lain yang terikat persetujuan dengan suara bulat, reservasi
pada ketentuan suatu perjanjian tidak akan melepaskan pelaksanaan operasi
aturannya meskipun reservasi bisa melepaskan kewajiban mereka dari ketentuan
hukum dari perjanjian tersebut.
Walaupun suatu negara diperkenankan mengajukan pensyaratan ketika
menyatakan persetujuannya untuk terikat pada suatu PI, hal ini tidaklah
berarti bahwa substansi dari pensyaratan itu dapat diajukan secara bebas.
Ada pembatasan atau larangan tertentu yang harus diperhatikan oleh suatu
negara dalam mengajukan pensyaratan. Apa dan bagaimana pembatasan
tersebut, ditegaskan dalam Pasal 19 Konvensi Wina 1969 tentang Formulation
of Reservation, sebagai berikut:
A state may, when signing, ratifying, accepting, approving or acceding to a
treaty, formulatea reservation unless:
a. The reservation is prohibited by the treaty;
b. The treaty provides that only specied reservations, which do not include
the reservation in question, may be made; or
c. In cases not falling under sub-paragraphs (a) and (b) the reservation is
incompatible with the object and purpose of the treaty.
Suatu negara dapat mengajukan pensyaratan, ketika menandatangani,
meratikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesi suatu PI, kecuali:
a. Pensyaratan itu dilarang oleh perjanjian;
b. Perjanjian itu menentukan, bahwa hanya pensyaratan yang khusus, yang
tidak termasuk di dalam pensyaratan yang, merupakan masalah, yang
dapat diajukan; atau
c. Dalam hal-hal yang tidak termasuk di dalam subparagraf (a) dan (b)
pensyaratan itu ternyata tidak sesuai dengan objek dan tujuan dari
perjanjian.
52 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 52
Berdasarkan Pasal 19 ini, terdapat tiga butir pembatasan atas pensyaratan,
yang untuk lebih jelasnya dibahas satu per satu di bawah ini:
1. Pembatasan pertama adalah seperti ditegaskan dalam butir (a), pensyaratan
tidak boleh diajukan jika pensyaratan itu dilarang oleh perjanjian itu sendiri.
Ini berarti bahwa perjanjian itu di dalam salah satu Pasal atau ayatnya
menentukan adanya larangan bagi setiap negara untuk mengajukan
pensyaratan ketika menyatakan persetujuannya untuk terikat pada
perjanjian. Larangan untuk mengajukan pensyaratan tersebut, ditentukan
secara tegas, sehingga apapun alasannya negara itu tidak boleh mengajukan
pensyaratan. Jadi hanya ada dua alternatif baginya, yaitu apakah menyatakan
persetujuan untuk terikat pada seluruh isi atau ketentuannya, ataukah
sama sekali tidak mau terikat atau dengan kata lain tetap berdiri di luar
perjanjian sebagai pihak ketiga.
2. Kemungkinan lain dari pembatasan ini adalah, adanya pembatasan di
dalam perjanjian itu sendiri yaitu melarang atas ketentuan tertentu dari
perjanjian untuk dikenakan pensyaratan. Jadi ada ketentuan-ketentuan
yang tidak boleh dikenakan pensyaratan. Dengan demikian di dalam salah
satu ketentuan dari perjanjian itu sendiri ditegaskan tentang Pasal atau
ketentuan-ketentuan mana saja yang boleh dikenakan pensyaratan. Hal
ini berarti bahwa ketentuan-ketentuan perjanjian yang lainnya selain dari
ketentuan yang secara tegas diperbolehkan untuk dikenakan pensyaratan
tidak boleh dikenakan pensyaratan.
3. Antara kedua macam pembatasan tersebut di atas, ada lagi pembatasan
lain yang merupakan kombinasinya yaitu di dalam salah satu Pasal dari
perjanjian itu secara tegas ditentukan, bahwa pensyaratan dapat diajukan
terhadap ketentuan perjanjian ini, kecuali terhadap Pasal-Pasal tertentu.
Dengan adanya ketentuan ini maka menjadi sangat jelas dan tegas, ketentuan
mana dari perjanjian itu yang dapat dikenakan pensyaratan dan ketentuan
mana yang tidak boleh dikenakan pensyaratan.
4. Pembahasan ketiga, adalah seperti ditentukan dalam butir (c) yaitu jika
larangan atau pembatasan itu tidak termasuk di dalam ruang lingkup
butir (a) dan yang diajukan itu bertentangan dengan maksud dan tujuan
dari perjanjian itu. Pensyaratan yang bertentangan dengan maksud dan
tujuan perjanjian akan menghambat usaha negara-negara peserta untuk
mencapai maksud dan tujuan perjanjian itu sendiri. Jika persyaratan
semacam itu dibenarkan, maka negara-negara peserta lainnya tentu saja
akan sangat dirugikan yang pada akhirnya akan memperlemah perjanjian
itu sendiri.
Alasannya terletak pada masing-masing perjanjian itu sendiri karena
sudah dapat dipastikan akan berbeda antara perjanjian yang satu dengan
yang lainnya. Untuk mengetahui apa sebenarnya yang menjadi alasan atau
53 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 53
dasar pertimbangannya, hal ini dapat ditelusuri dalam dokumen yang berupa
berita acara perundingan yang merupakan kumpulan dokumen yang berkaitan
dengan kronologi maupun substansi perundingan-perundingan untuk
merumuskan perjanjian itu, yang lebih dikenal dengan sebutan "preparatory
work" atau "travaux preparatoires".
Pensyaratan juga tidak boleh diajukan terhadap ketentuan perjanjian yang
mengandung kaidah hukum yang tergolong jus cogens. Jus cogens sebagai
kaidah hukum yang sifat mengikatnya sangat kuat dan imperatif, jelas tidak
boleh dikesampingkan oleh kaidah hukum yang sifat mengikatnya lebih
lemah, apalagi oleh suatu tindakan, akan sepihak yang sangat subjektif seperti
pensyaratan.
DAMPAK DARI RESERVASI TERHADAP PARTISIPASI DALAM
PERJANJIAN
Jika diatur bahwa para pihak dapat mengajukan pensyaratan, maka ada
kemungkinan akan terdapat sejumlah negara yang mengajukan pensyaratan
dengan isi yang berbeda-beda karena pensyaratan adalah usaha sebuah negara
untuk memodikasi ketentuan dari sebuah peraturan yang bertujuan untuk
disetujui semua pihak. Pensyaratan merupakan penawaran segar yang diajukan
untuk menganalisa isi perjanjian yang secara implisit adalah penolakan suatu
negara terhadap satu atau beberapa ketentuan Pasal.
Namun penawaran ini harus mendapat persetujuan dari negara-negara
lain agar dapat efektif. Negara-negara lain harus menyesuaikan diri terhadap
pensyaratan yang diajukan oleh pihak yang berkepentingan. Hasil dari reservasi
tidak boleh hanya menyenangkan salah satu pihak saja atau secara logis
diterapkan tanpa kualikasi tertentu pada konvensi multilateral dari kedaulatan
negara yang mengajukan pensyaratan, maka sebagai negara berdaulat suatu
negara berhak menerima, keberatan atau menolak, bahkan semua sekali tidak
menyatakan sikap apapun atas pensyaratan yang diajukan tersebut.
Penerimaan dan penolakan atas pensyaratan sudah diatur di dalam Konvensi
Wina 1969 yaitu Pasal 20 yaitu:
a. Perjanjian yang secara tegas melarang pengajuan pensyaratan baik atas
seluruh atau atas ketentuannya yang tertentu saja.
Jika suatu PI secara tegas melarang pengajuan pensyaratan atas seluruh
ketentuannya, maka setiap negara yang hendak menyatakan persetujuannya
untuk terikat tentu saja tidak boleh mengajukan pensyaratan. Jika ada negara
yang mengajukannya, maka pensyaratannya itu dipandang tidak pernah ada
dan dengan demikian tidak berlaku sama sekali. Jadi negara-negara peserta
yang lainnya tidak perlu lagi menyatakan sikap, baik menyetujui ataupun
54 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 54
menolak pensyaratan tersebut. Perjanjian itu akan, berlaku secara utuh terhadap
semua negara yang telah dan akan menjadi peserta.
Jika perjanjian itu hanya melarang pensyaratan atas ketentuan-ketentuannya
yang tertentu saja, maka jika ada negara yang mengajukan pensyaratan
atas ketentuan tertentu yang secara tegas sudah dilarang untuk dikenakan
pensyaratan, maka pensyaratan itupun juga dianggap tidak pernah ada dan tidak
akan pernah berlaku. Sedangkan terhadap ketentuan-ketentuan yang lainnya,
oleh karena tidak secara tegas dilarang untuk dikenakan pensyaratan, maka
berdasarkan penafsiran argumentum a contrario, tentulah bisa saja dikenakan
pensyaratan. Terhadap pensyaratan yang diajukan pada ketentuan-ketentuan
yang lainnya itu, negara-negara peserta lainnya masih dapat mengajukan
penerimaan atau persetujuan ataupun penolakan atau keberatannya, bahkan
sama sekali tidak menyatakan sikap tegas.
Dilarang atau dibatasinya pengajuan pensyaratan atas ketentuan-ketentuan
tertentu dari perjanjian, tentulah didasarkan atas pengkajian yang mendalam
yang dilakukan sebelumnya yaitu pada waktu perundingan untuk merumuskan
naskah perjanjian oleh wakil-wakil para pihak yang terlibat di dalam proses
perundingan tersebut. Perundingan itulah yang menghasilkan kesepakatan
untuk melarang pengajuan pensyaratan atas ketentuan-ketentuan tertentu
sebagaimana dirumuskan di dalam ketentuan yang melarang atau membatasinya
untuk dikenakan pensyaratan. Sedangkan atas ketentuan-ketentuan lainnya
yang tidak dilarang untuk dikenakan pensyaratan, yang sebelumnya juga
sudah dikaji secara mendalam, dapat diartikan bahwa wakil-wakil para pihak
yang melakukan perundingan tidak keberatan jika atas ketentuan-ketentuan
tersebut dikenakan pensyaratan.
Sebaliknya jika di dalam perjanjian itu ditegaskan bahwa hanya atas
ketentuan-ketentuan tertentu saja yang boleh dikenakan pensyaratan, maka
dalam hal ini tidak dibutuhkan penerimaan atau persetujuan dari negara-
negara peserta yang lainnya, kecuali perjanjian itu sendiri menegaskan bahwa
persetujuan atas pensyaratan yang diajukan itu tetap dibutuhkan. Hal ini
ditegaskan di dalam Pasal 20 ayat 1 Konvensi Wina 1969 yang menyatakan
sebagai berikut:
A reservation expressly authorized by a treaty does not any subsequent acceptance
by the other Contracting States unless the treaty so provides.
Suatu pensyaratan yang secara tegas diperbolehkan oleh suatu perjanjian tidak
membutuhkan penerimaan dari negara-negara peserta yang lainnya, kecuali
perjanjian itu sendiri menentukan demikian.
Jadi jika perjanjian itu di dalam salah satu ketentuannya secara tegas
memperkenankan negara yang menyatakan persetujuan dapat mengajukan
pensyaratan, dapat diartikan bahwa negara-negara yang sudah lebih
55 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 55
dahulu menjadi peserta perjanjian itu, sudah dengan sendirinya menyetujui
pensyaratan tersebut. Dengan demikian adalah wajar, bahwa pensyaratan itu
tidak membutuhkan persetujuan lagi dari negara-negara peserta. Pensyaratan
itu dengan sendirinya akan mengikat negara yang mengajukan pensyaratan
dalam hubungannya dengan semua negara yang sudah terlebih dahulu menjadi
peserta pada perjanjian tersebut.
Namun demikian, Pasal 20 ayat 1 masih membuka kesempatan pada negara-
negara peserta lainnya untuk menyatakan sikap, apakah akan menerima atau
menyetujui pensyaratan yang diajukan itu ataukah akan menolaknya, apabila
perjanjian itu sendiri menyatakan secara tegas bahwa masih dibutuhkan
penerimaan ataupun penolakan dari negara-negara peserta yang lainnya.
Konvensi Wina 1969 bermaksud menghormati kedaulatan negara-negara
yang sudah lebih dahulu menjadi peserta agar pensyaratan yang diajukan
itu sesuai ataupun bertentangan dengan kepentingannya. Pada masa awal
dari lahirnya suatu perjanjian, ketentuan yang secara tegas diperbolehkan
untuk dikenakan pensyaratan, mungkin saja tidak menjadi masalah bagi
semua negara peserta sehingga semua peserta bisa menerimanya. Akan tetapi
karena berjalannya waktu dan perubahan serta perkembangan masyarakat
internasional, kepentingan negara-negara itupun juga ikut berubah. Jadi
kepentingan mereka yang dulunya sama tetapi kemudian bisa berbeda-beda
atau mungkin juga bertentangan satu dengan lainnya. Oleh karena itulah
maka dalam rangka mengantisipasi perubahan dan perkembangan pada masa
yang akan datang itulah, ketentuan tentang dibutuhkannya persetujuan atas
pensyaratan terhadap ketentuan perjanjian yang secara tegas diperkenankan
untuk dikenakan pensyaratan, masih perlu mendapat penerimaan atau
persetujuan dari negara-negara peserta lainnya. Pensyaratan menjadi sangat
relevan sebagai sarana untuk mengantisipasi perubahan dan perkembangan
pada masa yang akan datang.
b. Pensyaratan yang membutuhkan penerimaan atau persetujuan dari
seluruh negara peserta.
Sedangkan dalam Pasal 20 ayat 2 diatur tentang pensyaratan atas ketentuan
suatu PI yang membutuhkan persetujuan dari semua negara peserta. Tegasnya,
Pasal 20 ayat 2 Konvensi Wina 1969 menyatakan sebagai berikut:
When it appears from the limited number of the negotiating States and the
object and purpose of a treaty that the application of the treaty in its entirety
between all the parties is an essential condition of the consent of each one to be
bound by the treaty, a reservations requires acceptance by all the parties.
56 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 56
Apabila tampak dari sejumlah tertentu dari negara-negara yang melakukan
perundingan maupun dari maksud serta tujuan dari suatu perjanjian, bahwa
penerapan perjanjian itu dalam keseluruhannya antara semua pihak (semua
negara peserta) adalah merupakan suatu syarat yang penting atas persetujuan
dari masing-masing untuk terikat pada perjanjian, maka pensyaratan yang
diajukan membutuhkan penerimaan atau persetujuan dari semua negara
peserta.
Memang ada kemungkinannya suatu PI akan terganggu penerapannya
ataupun sulit memperoleh persetujuan bulat dari semua negara peserta. Dalam
hal ini perjanjian hanya bisa diterapkan jika pensyaratan yang diajukan oleh suatu
negara mendapat persetujuan dari semua negara peserta yang lainnya.
Dalam hal perjanjian yang seperti ini, penerapan perjanjian itu haruslah
secara utuh terhadap semua negara peserta. Keharusan dalam penerapan secara
utuh menyeluruh ini dapat disimpulkan dari maksud dan tujuan yang hendak
diwujudkan oleh perjanjian itu. Bahwa perlunya suatu perjanjian diterapkan
secara utuh, tentu saja berdasarkan pengkajian yang secara mendalam yang
telah dilakukan sebelumnya oleh para perancang naskah perjanjian dan
dilanjutkan di dalam perundingan untuk membahas naskah perjanjian itu
oleh wakil-wakil negara-negara yang terlibat dalam perundingan tersebut,
yang akhirnya disepakati menjadi naskah nal dari perjanjian.
Jika ada satu negara yang mengajukan pensyaratan, dan ternyata disetujui
oleh semua negara peserta yang lainnya, hal ini tidak akan mengganggu
usaha mencapai maksud dan tujuan perjanjian. Sebaliknya jika pensyaratan
yang diajukan hanya disetujui oleh sejumlah negara tetapi ditolak sebagian
atau beberapa negara peserta yang lainnya, maka hal ini akan mengakibatkan
penerapan perjanjian menjadi tidak utuh dan mengganggu usaha mewujudkan
maksud dan tujuan perjanjian. Dalam hal ini pensyaratan yang diajukan oleh
negara yang bersangkutan harus dinyatakan tidak berlaku.
Apakah pensyaratan yang diajukan oleh suatu negara membutuhkan
penerimaan atau persetujuan bulat dari seluruh negara peserta yang lainnya,
kriterianya adalah terletak pada adanya kehendak dari sejumlah terbatas
negara-negara yang terlibat dalam perundingan (negotiating states), dan
maksud serta tujuan dari perjanjian itu sendiri.
Pasal 20 ayat (2) mencerminkan sistem pensyaratan berdasarkan suara
bulat (unanimity) yang tumbuh dan dianut secara luas pada masa sebelum
Perang Dunia I dan II. Menurut sistem ini, suatu pensyaratan yang diajukan
oleh suatu negara akan berlaku apabila mendapat persetujuan dari seluruh
negara peserta yang lainnya. Jika ada satu atau lebih negara yang tidak
menyetujuinya, meskipun mungkin sebagian besar negara peserta yang lain
menyetujuinya, maka pensyaratan itu tidak berlaku. Liga Bangsa-Bangsa
masih menganut sistem suara bulat ini, sebagaimana ditegaskannya pada
tahun 1927, sebagai berikut:
57 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 57
In order that any reservation whatever may be validly made in regard to a
clause of the treaty, it is essential that this reservation should be accepted by all
the contracting parties, as would have been the case if it had been put forward
in the course of the negotiations. If not, the reservation, like the signature to
which it is aached, is null and void.
Bahwa bagaimanapun juga keabsahan suatu pensyaratan atas ketentuan
suatu perjanjian, adalah suatu hal yang penting bahwa pensyaratan itu harus
diterima atau disetujui oleh semua negara peserta yang ikut dalam perundingan,
jika hal itu dikemukakan pada waktu proses perundingan. Jika tidak, maka
seperti juga pensyaratan yang diajukan pada waktu yang bersamaan dengan
penandatanganan, maka pensyaratan itu adalah batal dan tidak berlaku.
c. Pensyaratan yang diterima dan ditolak oleh negara-negara peserta
lainnya.
Selanjutnya di dalam Pasal 20 ayat 4 diatur tentang hubungan hukum antara
negara yang mengajukan pensyaratan dengan negara yang menerima maupun
dengan negara yang menolak pensyaratan. Tentu saja hubungan hukumnya di
sini adalah hubungan hukum yang tidak tercakup di dalam apa yang sudah
diatur di dalam Pasal 20 ayat (1), (2), dan (3) maupun hubungan hukum yang
tidak diatur secara khusus di dalam perjanjian itu sendiri. Selengkapnya Pasal
20 ayat (4) berbunyi:
In cases not falling under the preceding paragraphs and unless the treaty
otherwise provides:
a. Acceptance by another contracting State of a reservation constitutes the
reserving State a party to the treaty in relation to that other State if or when
the treaty is in force for those States;
b. An objection by another contracting State to a reservation does not preclude
the entry into force of the treaty as between the objecting and the reserving
States unless the contrary intention is denitely expressed by the objecting
State;
c. An act expressing a State's consent to be bound by the treaty and containing
a reservation is eective as soon as at least one other contacting State has
accepted the reservation.
Dalam hal-hal yang tidak termasuk ke dalam paragraf sebelumnya dan
kecuali perjanjian menentukan sebaliknya:
a. Penerimaan oleh negara peserta yang lain atas suatu pensyaratan menjadikan
negara yang mengajukan pensyaratan sebagai pihak atau sebagai peserta
dalam perjanjian dalam hubungannya dengan negara peserta yang lain
itu jika perjanjian itu telah mengikat atau berlaku terhadap negara-negara
itu;
58 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 58
b. Penolakan atau keberatan oleh negara peserta yang lainnya terhadap suatu
pensyaratan tidak menghalang-halangi berlakunya perjanjian antara negara
yang menolak atau keberatan dan negara yang mengajukan pensyaratan
kecuali negara yang menolak tersebut menyatakan secara tegas maksudnya
yang sebaliknya.
c. Tindakan yang menyatakan persetujuan suatu negara untuk terikat pada
suatu perjanjian dan yang berisi pensyaratan, berlaku secara efektif segera
setelah satu negara peserta telah menyatakan menerima pensyaratan
tersebut.
Pasal 20 ayat (4) butir a mengatur hubungan hukum antara negara yang
mengajukan pensyaratan dengan negara yang menerima atau menyetujui
pensyaratan itu. Ditegaskan, bahwa negara yang mengajukan pensyaratan terikat
pada perjanjian dengan negara yang menerima pensyaratan jika perjanjian
itu sendiri telah mengikat negara-negara peserta lain tersebut. Ketentuan ini
menunjukkan adanya suatu perjanjian yang sebenarnya telah berlaku sebagai
Hukum Internasional positif atau mengikat semua negara pesertanya. Negara
yang mengajukan pensyaratan sebagai pendatang baru, dinyatakan terikat
pada perjanjian dengan negara-negara peserta perjanjian yang menerima
atau menyetujui perjanjian tersebut. Keterikatan negara pendatang baru pada
perjanjian mulai berlaku atau mengikat terhitung mulai saat seperti diatur di
dalam ketentuan perjanjian.
Persoalannya adalah dengan disetujuinya pensyaratan tersebut, sejauh
manakah keterikatan para pihak pada perjanjian itu? Hal ini tentu saja sesuai
dengan isi pensyaratan itu sendiri. Jika pensyaratan itu berupa penolakan
untuk terikat atau pengesampingan atas akibat hukum dari ketentuan
yang dikenakan pensyaratan, maka para pihak tersebut hanya terikat pada
ketentuan-ketentuan perjanjian yang tidak dikenakan pensyaratan. Sedangkan
atas ketentuan yang dikenakan pensyaratan, maka ketentuan itu atau akibat
hukum dari ketentuan tersebut tidak berlaku terhadap para pihak (pihak yang
mengajukan pensyaratan dan pihak yang menerimanya).
Sebagai contoh ktif, misalnya negara A ketika menyatakan persetujuan
untuk terikat pada suatu PI multilateral, mengajukan pensyaratan atas Pasal 25
yang menyatakan bahwa negara A menolak untuk terikat atas atau tidak mau
tunduk pada akibat hukum dari Pasal 25 dari perjanjian tersebut, kemudian,
negara B ternyata menerima atau menyetujui pensyaratan negara A. Oleh
karena negara B menerima atau menyetujui pensyaratan negara A atas Pasal
25, berarti bahwa kedua pihak terikat pada pensyaratan tersebut. Dengan
demikian, maka Pasal 25 atau akibat hukum dari Pasal 25 tidak berlaku dalam
hubungan antara negara A pada satu pihak dan negara B pada lain pihak.
59 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 59
Apabila pada suatu waktu kemudian terjadi sengketa antara negara A
melawan negara B dan dalam sengketa itu ternyata Pasal 25 dari perjanjian itu
menjadi salah satu ketentuan hukum yang dipermasalahkan, dalam arti salah
satu pihak, misalnya negara B mendalilkan bahwa Pasal 25 harus diterapkan
atas sengketa itu, maka dalam hubungan ini negara A dapat menolaknya
dengan alasan negara A telah mengajukan pensyaratan atas Pasal 25 dan
negara B adalah salah satu negara peserta yang telah menyetujui pensyaratan
yang diajukan oleh negara A.
Sedangkan jika isi pensyaratan yang diajukan suatu negara tersebut
berupa mengubah akibat hukum dari ketentuan perjanjian yang dikenakan
pensyaratan dan ternyata disetujui oleh negara peserta yang lainnya, maka
para pihak yaitu negara yang mengajukan pensyaratan dan yang menyetujui
pensyaratan tersebut, akan terikat pada pensyaratan itu. Tegasnya, keterikatan
para pihak sudah tentu sesuai dengan bunyi atau isi pensyaratan itu. Apabila
misalnya di kemudian hari terjadi sengketa antara kedua pihak mengenai
suatu masalah yang berkaitan dengan Pasal yang dikenakan pensyaratan,
maka penerapan Pasal yang dikenakan pensyaratan itu haruslah berdasarkan
isi pensyaratan itu sendiri, bukan ketentuan yang secara tersurat ada di dalam
Pasal perjanjian itu.
Selanjutnya Pasal 20 ayat 4 butir b mengatur hubungan hukum antara negara
yang mengajukan pensyaratan dengan negara yang menolak atau keberatan
atas pensyaratan yang diajukan itu. Menurut ketentuan ini, keberatan atau
penolakan dari negara peserta lainnya terhadap pensyaratan yang diajukan
oleh suatu negara tidaklah menghalangi berlaku atau mengikatnya perjanjian
itu antara negara yang mengajukan pensyaratan dalam hubungannya dengan
negara yang keberatan atau menolak.
Jadi menurut ketentuan ini, perjanjian itu tetap berlaku sepenuhnya antara
negara yang mengajukan pensyaratan dalam hubungannya dengan negara
yang menolak atau keberatan atas pensyaratan tersebut. Kedua pihak terikat
pada seluruh ketentuan perjanjian, termasuk ketentuan yang dikenakan
pensyaratan. Tetapi seluruh ketentuan perjanjian hanya berlaku, apabila negara
yang menolak atau keberatan itu tidak mengemukakan pernyataan yang
sebaliknya. Misalnya, negara tersebut pada waktu mengajukan keberatan atau
penolakan atas pensyaratan itu juga sekaligus menolak berlakunya seluruh
ketentuan perjanjian itu dalam hubungan antara mereka. Kalau negara yang,
menolak pensyaratan itu mengeluarkan pernyataan yang berupa penolakan
berlakunya seluruh ketentuan perjanjian dalam hubungan antara kedua pihak
yang bersangkutan, maka perjanjian itu sama sekali tidak mengikat terhadap
kedua pihak tersebut.
Ketentuan di atas ini merupakan modikasi dari pendapat hukum (Advisory
Opinion) Mahkamah Internasional atas Pertanyaan Nomor II (a) dari Majelis
Umum PBB yang menyatakan, bahwa jika salah satu pihak atau negara
60 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 60
peserta pada Konvensi (Konvensi tentang Genocide) mengajukan penolakan
atau keberatan terhadap pensyaratan yang diajukan oleh suatu negara yang
tidak sesuai dengan maksud dan tujuan Konvensi, negara yang keberatan itu
dapat menganggap bahwa negara yang mengajukan pensyaratan tersebut
bukan sebagai pihak atau peserta pada Konvensi. Jadi, negara yang keberatan
itulah yang pertama-tama diberikan hak apakah dia akan menganggap negara
yang pensyaratannya ditolaknya itu sebagai pihak pada Konvensi ataukah
sebaliknya. Hak ini hanya berlaku dalam hubungan antara negara itu sendiri
dengan negara yang pensyaratannya ditolak tersebut.
Kalau Advisory Opinion Mahkamah Internasional lebih menekankan pada
pemberian hak kepada negara yang menolak pensyaratan, Pasal 20 ayat 4
butir b Konvensi Wina 1969, lebih menekankan pada kedudukan dari negara
yang mengajukan pensyaratan yaitu dipandang tetap sebagai pihak atau
peserta pada perjanjian dalam hubungannya dengan negara yang menolak
pensyaratannya. Sedangkan keinginan dari negara yang menolak pensyaratan
itu untuk menganggap negara yang pensyaratannya ditolak tersebut bukan
sebagai pihak pada perjanjian, digolongkan sebagai suatu pengecualian (unless
a contrary intention is denitely by the objecting State).
d. Mulai berlakunya pensyaratan terhadap negara peserta yang tidak,
menyatakan sikap tegas.
Pasal 20 ayat 5 mengatur tentang negara yang tidak menyatakan sikap tegas
terhadap pensyaratan yang diajukan oleh suatu negara. Tegasnya, Pasal 20
ayat 5 tersebut berbunyi sebagai berikut:
For the purpose of paragraph 2 and 4 and unless the treaty otherwise provides,
a reservation is considered to have been accepted by a State if it shall have raised
no objection to the reservation by the end of a period of twelve months aer it
was notied of the reservation or by the date on which it expressed its consent
to be bound by the treaty, whichever is later.
Untuk maksud seperti yang ditentukan di dalam ayat 2 dan 4 dan kecuali
perjanjian itu menentukan sebaliknya, suatu pensyaratan dianggap telah
diterima oleh negara yang jika tidak menyatakan keberatannya terhadap
pensyaratan tersebut sampai dengan berakhirnya periode dua belas bulan
sesudah dia diberitahukan tentang adanya pensyaratan itu atau berdasarkan
tanggal di mana dia menyatakan persetujuannya secara tegas untuk terikat
pada perjanjian, atau yang manapun yang belakangan dari keduanya itu.
Jika suatu negara peserta telah menerima pemberitahuan tentang adanya
pensyaratan, ternyata tidak menyatakan sikap tegas maka menurut ketentuan
di atas, negara tersebut dianggap telah menerima atau menyetujui pensyaratan
itu setelah lewatnya waktu dua belas bulan terhitung mulai tanggal diterimanya
61 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 61
pemberitahuan tentang adanya pensyaratan itu. Batas waktu dua belas bulan
ini dinilai cukup layak bagi suatu negara untuk mengkaji secara mendalam atas
pensyaratan yang diajukan oleh suatu negara, untuk selanjutnya mengambil
keputusan apakah akan menerima ataukah akan menolak pensyaratan tersebut.
Akan tetapi setelah batas waktu dua belas bulan itu lampau, menurut ketentuan
ini, maka negara itu dianggap menerima pensyaratan itu sehingga pensyaratan
itu akan berlaku antara kedua negara tersebut.
PERUMUSAN TENTANG PENSYARATAN DALAM PI
Berdasarkan uraian tentang pembatasan atas pensyaratan seperti tersebut di atas,
sebenarnya sudah tersimpul formulasi atau perumusan tentang pensyaratan
ini di dalam suatu PI. Berdasarkan formulasinya itulah segera dapat diketahui,
sejauh manakah pensyaratan itu diperkenankan untuk ketentuan yang lainnya,
ataukah sama sekali tidak ditegaskan di dalam salah satu ketentuan perjanjian.
Apabila tidak ditegaskan, diperbolehkan ataupun dilarang untuk mengajukan
pensyaratan maka akan timbul masalah.
Ada beberapa PI yang secara tegas melarang negara-negara mengajukan
pensyaratan (atas seluruh ketentuannya) adalah:
1. Convention against Discrimination in Education yang disepakati pada tanggal 14
Desember 1960 dalam sidang umum UNESCO dan mulai berlaku pada tanggal
22 Mei 1962, Pasal 9 menyatakan: Reservations to this Convention shall not be
permied.
2. The United Nations Convention on the Law of the Sea, 11 Desember 1982, yang
mulai berlaku pada tanggal 14 November 1994 yang di dalam Pasal 309 dengan
judul Reservations and Exception, ditegaskan: No reservations or exceptions may
be made to this Convention unless expressly permied by other Pasals of this
Convention.
Beberapa contoh PI yang secara tegas memperbolehkan pengajuan
pensyaratan atas ketentuan tertentu dari perjanjian tetapi melarang pengajuan
pensyaratan atas ketentuan-ketentuan lainnya, adalah:
1. Convention on Fishing and Conversation of the Living Resources of the High Seas
29 April 1958 dan mulai berlaku pada tanggal 20 Maret 1966, Pasal 19 ayat 1
dan 2 menyatakan: At the time of signature, ratication or accession, any State
may make reservations to Pasals of the Convention other than to Pasals 6, 7, 9,
10, 11, and 12.
2. Convention on the Continental Shelf 29 April 1958 dan mulai berlaku pada
tanggal 10 Juni 1964, dalam Pasal 12 ayat 1 dan 2 ditegaskan: At the time of
signature, ratication or accession, any State may make reservations to Pasals of
the Convention other than to Pasals 1 to inclusive.
62 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 62
3. Convention on the Reduction of Statelessness yang ditandatangani di New York
pada tanggal 30 Agustus 1961 dan mulai berlaku pada tanggal 13 Desember 1975,
dalam Pasal 12 ayat 1 dan 2 ditegaskan: 1) At the time of signature, ratication or
accession, any State may make reservations to Pasals 11, 14 and 15. 2) No other
reservations to this Convention shall be admissible.
Beberapa PI yang memperkenankan kepada negara-negara mengajukan
pensyaratan tetapi tanpa disertai penegasan tentang Pasal mana yang boleh
dan yang tidak boleh dikenakan pensyaratan, jadi penegasannya hanya bersifat
umum saja, adalah:
a. International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination
yang mulai berlaku pada tanggal 4 Januari 1969, Pasal 20 ayat 1, 2 dan 3
menegaskan sebagai berikut:
The Secretary General of the United Nations shall receive and circulate to the States
which are may become Parties to this Convention, reservations made by States
at the time of ratication or accession. Any State which objects to the reservation
shall, within a period of ninety days from the date of the said communication,
notify the Secretary General that it does not accept it.
A reservation incompatible with the object and purpose of this Convention shall not
be permied, nor shall a reservation the eect of which would inhibit the operation
of any of the, bodies established by this Convention be allowed. A reservation shall
be considered incompatible or inhibitive if at least two thirds of the States Parties
to this Convention object to it.
Reservations may be withdrawn at any by notication to this eect addressed to
the Secretary General. Such notication shall take eect on the date on which it
is received.
Sekretaris Jenderal PBB akan menerima dan mengedarkan kepada negara-
negara yang dapat menjadi peserta atau pihak pada Konvensi, pensyaratan
yang diajukan oleh suatu negara pada waktu peratikasian atau pengaksesian.
Suatu negara yang menolak atau keberatan terhadap pensyaratan tersebut,
dalam tempo sembilan puluh hari terhitung dari tanggal penyampaian itu,
harus memberitahukan kepada Sekretaris Jenderal bahwa dia tidak menerima
atau tidak menyetujui pensyaratan itu. Suatu pensyaratan yang bertentangan
dengan maksud dan tujuan Konvensi tidak diperbolehkan, demikian juga
pensyaratan yang menghambat atau menghalang-halangi pelaksanaan tugas
dari badan-badan yang ditetapkan oleh Konvensi ini. Suatu pensyaratan akan
dianggap bertentangan atau tidak sesuai dengan atau menghalang-halangi,
apabila sejumlah dua per tiga dari negara-negara yang menjadi pihak atau
peserta pada Konvensi menolaknya. Pensyaratan ini dapat ditarik kembali
pada setiap waktu dengan memberitahukannya kepada Sekretaris Jenderal
63 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 63
PBB dan penarikan kembali itu berlaku mulai pada tanggal diterimanya
pemberitahuan tersebut.
b. Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women
yang disepakati dalam Sidang Umum PBB sesuai dengan Resolusi Nomor
34/180 tanggal 18 Desember 1979, dan mulai berlaku pada tanggal 3
September 1981, Pasal 28 ayat 1, 2, dan 3 menyatakan sebagai berikut:
1. The Secretary General of the United Nations shall receive and circulate to all
States the text of reservations made by States at the time of ratication's or
accession.
2. A reservation incompatible with the object and purpose of the present Convention
shall not be permied.
3. Reservations may be withdrawn at any time by notication to this eect
addressed to the Secretary General of the United Nations, who shall then
inform all States thereof. Such notication shall take eect on the date on
which it is received.
Sekretaris Jenderal PBB akan menerima dan mengedarkan kepada semua
negara, naskah pensyaratan yang diajukan oleh suatu negara pada waktu
peratikasian atau pengaksesian. Suatu pensyaratan yang tidak sesuai dengan
maksud dan tujuan dari Konvensi yang sekarang ini tidak diperkenankan.
Pensyaratan dapat ditarik kembali pada setiap waktu dengan pemberitahuan
penarikan kembali tersebut kepada Sekretaris Jenderal PBB yang kemudian
memberitahukan semua negara yang bersangkutan. Pemberitahuan tentang
penarikan kembali pensyaratan akan mulai berlaku pada tanggal diterimanya
pemberitahuan itu oleh negara-negara tersebut.
Beberapa contoh PI yang sama sekali tidak menegaskan tentang pensyaratan,
yakni mengenai boleh atau tidaknya suatu negara mengajukan pensyaratan
adalah:
a. Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide, 9
Desember 1948 yang mulai berlaku pada tanggal 15 Januari 1951.
b. International Convenient on Economic, Social and Cultural Rights, 1966 yang
mulai berlaku pada tanggal 3 Januari 1976.
c. International Convenient on Civil and Political Rights, 1966 yang mulai berlaku
pada tanggal 23 Maret 1976.
64 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 64
PENSYARATAN ATAS INSTRUMEN UTAMA SUATU ORGANISASI
INTERNASIONAL
Sebuah organisasi internasional memiliki piagam, statuta, konvenan atau yang
sejenis sebagai landasan berdirinya dan berisi struktur organisasi itu sendiri,
mekanisme bekerjanya serta maksud dan tujuan yang hendak dicapainya.
Seperti telah dikemukakan di atas, instrumen utama (constituent instrument) ini
merupakan salah satu macam dari PI. Sebagai sebuah PI, tentu saja tunduk pada
ketentuan-ketentuan hukum PI, yang salah satunya adalah yang berhubungan
dengan pensyaratan.
Bagi suatu negara yang hendak menjadi anggota dari suatu organisasi
internasional dengan cara menyatakan persetujuan untuk terikat pada
instrumen utamanya boleh atau tidak mengajukan pensyaratan atas ketentuan
tertentu dari instrumen utamanya tergantung pada pengaturannya yang
terdapat di dalam instrumen utamanya. Jika instrumen utamanya memang
memperbolehkan, tentu saja pengajuan pensyaratan itu dapat dibenarkan,
demikian pula sebaliknya.
Namun demikian, Pasal 20 ayat 3 Konvensi Wina 1969 mengatur secara
umum saja tentang hal ini, dengan rumusan sebagai berikut:
When a treaty is a constituent instrument of an international organization
and unless it otherwise provides, a reservation requires the acceptance of the
competent organ of that organization.
Apabila suatu perjanjian itu adalah merupakan sebuah instrumen utama dari
suatu organisasi internasional dan kecuali ditentukan sebaliknya, pensyaratan
yang diajukan itu membutuhkan persetujuan dari organ yang berkompeten
dari organisasi internasional yang bersangkutan.
Menurut ketentuan ini, pertama, pengaturan tentang pensyaratan tentu saja
terserah pada pihak yang merumuskan naskah perjanjian yang merupakan
instrumen utama dari organisasi internasional itu sebagaimana yang tercantum
secara tegas di dalamnya. Demikian juga penerimaan maupun penolakan
terhadap pensyaratan itu, apakah harus disampaikan secara langsung oleh
negara-negara tersebut kepada negara yang mengajukan pensyaratan. Jika
instrumen utama tersebut tidak mengaturnya tetapi jika negara-negara yang
merumuskan naskah perjanjian yang merupakan instrumen utama itu mencapai
kesepakatan di luar perjanjian yang mengatur secara khusus tentang hal yang
berkaitan dengan pensyaratan ini, maka pensyaratan yang diajukan oleh suatu
negara baik penerimaan ataupun penolakan atas pensyaratan dari negara-
negara peserta lainnya tunduk pada ketentuan yang telah disepakati itu.
Kedua, jika instrumen utamanya itu sama sekali tidak mengaturnya,
maka jika ada suatu negara yang mengajukan pensyaratan, pensyaratan itu
membutuhkan penerimaan atau persetujuan dari organ yang berwenang atau
65 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 65
berkompeten dari organisasi internasional tersebut. Jika organ yang berwenang
ini menyetujuinya, maka pensyaratan itu akan berlaku dan mengikat semua
negara anggota maupun negara yang pada suatu waktu akan menjadi anggota
dari organisasi internasional itu. Demikian pula sebaliknya, jika pensyaratan
itu ditolak oleh organ yang berwenang dari organisasi internasional itu, maka
pensyaratan itu tidak berlaku dan dengan demikian negara yang pensyaratannya
ditolak itu terikat pada seluruh ketentuan dari instrumen utama tersebut.
Negara-negara anggota dari organisasi internasional itu tidak perlu
lagi menyatakan sikap terhadap pensyaratan itu, baik berupa penerimaan
ataupun penolakan. Keputusan dari organ yang berwenang tersebut baik yang
berupa penerimaan ataupun penolakan, mengikat seluruh negara anggota
maupun negara yang pada suatu waktu akan menjadi anggota dari organisasi
internasional yang bersangkutan. Jadi dapat disimpulkan, bahwa organ yang
berwenang tersebut memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan yang
mengikat negara-negara anggotanya.
Prosedur penarikan kembali pensyaratan yang pernah diajukan dan
sebelumnya sudah disetujui atau diterima oleh organ yang berwenang tersebut
tidak diatur dalam Pasal 20 ayat 3. Dengan diterimanya penarikan kembali
atas pensyaratan dan disampaikannya kepada negara-negara anggota dari
organisasi internasional tersebut, maka pensyaratan itu menjadi tidak berlaku
lagi. negara yang bersangkutan sejak saat itu mulai terikat pada ketentuan
dari instrumen utama yang semula dikenakannya pensyaratan. Organ yang
berwenang harus dilihat dari struktur dari organisasi internasional itu serta
tugas dan kewenangan dari masing-masing organnya itu sendiri. Jadi tergantung
pada pengaturannya di dalam organisasi internasional tersebut.
AKIBAT HUKUM DARI RESERVASI DAN PENOLAKAN TERHADAP
RESERVASI
Dengan adanya pensyaratan, penerimaan, maupun penolakan atas pensyaratan,
maka tentu saja akan menimbulkan akibat hukum yang berbeda-beda antara
para pihak yang bersangkutan.
Pasal 22 Konvensi Wina 1969 mengatur tentang akibat hukum dari pensyaratan
dan penolakan terhadap pensyaratan menyatakan sebagai berikut:
1. A reservation established with regard to another party accordance with Pasals 19,
20, and 23.
a. Modies for the reserving State in its relations with that other party the
provisions of the treaty to which the reservation relates to the extent of the
reservation; and
b. Modies those provisions to the same extent for that other party in its relations
with the reserving State.
66 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 66
2. The reservation does not modify the provisions of the treaty for the other parties
to the treaty intense.
3. When a State objecting to a reservation has not opposed the entry into force of the
treaty between itself and the reserving State, the provisions to which the reservation
relates do not apply as between the two States to the extent of the reservation.
1. Suatu pensyaratan yang dilakukan berkenaan dengan pihak lain sesuai
dengan Pasal 19, 20, dan 23:
a. Memodikasi ketentuan dari perjanjian yang dikenakan pensyaratan
dalam ruang lingkup sesuai dengan isi pensyaratan itu sendiri bagi
negara yang mengajukan pensyaratan; dan
b. Memodikasi ketentuan tersebut dalam ruang lingkup isi yang sama
bagi negara peserta yang lain dalam hubungannya dengan negara
yang mengajukan pensyaratan.
2. Pensyaratan itu tidak memodikasi ketentuan perjanjian yang dikenakan
pensyaratan terhadap negara-negara peserta yang lainnya, dalam hubungan
antara mereka satu dengan lainnya.
3. Jika suatu negara yang menolak terhadap suatu pensyaratan namun tidak
menyatakan menolak berlakunya perjanjian antara negara itu sendiri
dan negara yang mengajukan pensyaratan, ketentuan yang dikenakan
pensyaratan itu tidak berlaku antara kedua negara tersebut.
Menurut Pasal 21 ayat 1 butir (a) dan (b), pensyaratan yang diajukan oleh
suatu negara dan diterima atau disetujui oleh negara peserta lainnya, akan
memodikasi atau mengubah ketentuan perjanjian yang dikenakan pensyaratan
tersebut seluas isi pensyaratan itu sendiri. Misalnya apakah pensyaratan itu
berupa penolakan untuk terikat pada, atau tidak mau menerima akibat hukum
dari, ataukah memodikasi atau mengubah akibat hukum dari ketentuan
perjanjian yang dikenakan pensyaratan.
Jika pensyaratan itu berupa penolakan atau tidak mau terikat pada akibat
hukum dari ketentuan tertentu dari perjanjian, maka ketentuan itu tidak
berlaku antara negara yang mengajukan pensyaratan dalam hubungannya
dengan negara yang menyetujuinya. Apabila misalnya terjadi sengketa antara
kedua pihak yang ternyata berkaitan dengan ketentuan perjanjian tersebut,
maka ketentuan itu tidak bisa diterapkan atau tidak berlaku terhadap sengketa
itu. Sebaliknya jika pensyaratan itu berupa pemodikasian akibat hukum atas
ketentuan tertentu dari perjanjian, maka para pihak terikat pada ketentuan
yang telah termodikasikan tersebut sesuai dengan isi pensyaratan itu. Jika
terjadi suatu sengketa antara kedua pihak yang berkenaan dengan ketentuan
tersebut, maka yang berlaku dan diterapkan terhadap sengketa tersebut
adalah ketentuan perjanjian yang telah termodikasikan sesuai dengan isi
pensyaratan itu.
67 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 67
Selanjutnya dalam hubungan antara negara-negara peserta yang lainnya,
seperti ditegaskan dalam Pasal 22 ayat 2, ketentuan perjanjian sebagaimana yang
tersurat, tetap berlaku antara negara-negara peserta yang lainnya. Sedangkan
Pasal 21 ayat 3 menegaskan tentang hubungan hukum antara negara yang
mengajukan pensyaratan dengan negara yang menolak pensyaratan, sepanjang
negara yang menolak ini tidak menentang berlakunya perjanjian itu antara
negara itu sendiri dengan negara yang mengajukan pensyaratan. Jika negara
yang menolak itu tidak menentang berlakunya perjanjian antara negara itu
sendiri dengan negara yang mengajukan pensyaratan, maka ketentuan yang
dikenakan pensyaratan itu tidak berlaku. Dengan demikian maka ketentuan
tersebut berlaku sepenuhnya terhadap kedua pihak.
Dalam Anglo-French Continental Shelf Arbitration, 1977, yaitu sebuah kasus
antara Inggris dan Perancis tentang garis batas landas kontinen di Selat Dover
yang diselesaikan melalui jalur arbiterase, Mahkamah Arbiterase menolak
argumentasi yang diajukan oleh Perancis yang mengatakan, bahwa Pasal 6
Konvensi Jenewa 1958 tentang landas kontinen tidak berlaku terhadap sengketa
antara kedua pihak. Perancis mengajukan alasan bahwa Pasal 6 tersebut tidak
dapat diterapkan dalam sengketa garis batas landas kontinen antara Perancis
dan Inggris ini, karena mengajukan pensyaratan yang isinya menolak untuk
terikat atau untuk tunduk pada akibat hukum dari Pasal 6 Konvensi tentang
Landas Kontinen. Mahkamah mengatakan, bahwa Perancis tetap terikat pada
Pasal 6 karena pensyaratan Perancis atas Pasal tersebut ditolak oleh Inggris.
PENARIKAN KEMBALI RESERVASI DAN PENARIKAN KEMBALI
PENOLAKAN TERHADAP RESERVASI
Pasal 22 ayat 1 Konvensi Wina 1969 menyatakan: Unless the treaty otherwise
provides, a reservation may be withdrawn at any time and the consent of slate which
has accepted the reservation is not required for its withdrawal. Kecuali jika perjanjian
itu menentukan sebaliknya, suatu persyaratan dapat ditarik kembali setiap
waktu, dan penarikan kembali itu tidak membutuhkan persetujuan dari negara
yang sebelumnya telah menerimanya.
Sedangkan berkenaan dengan penarikan kembali penolakan ataupun
keberatan terhadap pensyaratan, diatur di dalam Pasal 22 ayat 2 yang berbunyi
sebagai berikut: Unless the treaty otherwise provides, an objection to a reservation
may be withdrawn at any time. Kecuali perjanjian menentukan sebaliknya, suatu
penolakan atau keberatan terhadap suatu pensyaratan dapat ditarik kembali
pada setiap waktu.
Pasal 22 ayat 3 butir (a) dan (b) masing-masing mengatur tentang mulai
berlakunya penarikan kembali atas pensyaratan dan penarikan kembali atas
penolakan terhadap pensyaratan. Adapun bunyi selengkapnya adalah:
68 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 68
Unless the treaty otherwise provides, or it is otherwise agreed:
a. The withdrawal of reservation becomes operative in relation
b. To another contracting State only when notice of it has been received by
that State; the withdrawal of an objection to a reservation becomes operative
only when notice on it has been received by the State which formulated the
reservation.
Kecuali jika perjanjian menentukan sebaliknya, atau jika disetujui
sebaliknya:
a. Penarikan kembali atas pensyaratan akan mulai berlaku dalam hubungannya
dengan negara peserta lainnya hanya jika pemberitahuan tentang hal itu
telah diterima oleh negara yang mengajukan pensyaratan tersebut.
b. Penarikan kembali atas penolakan atau keberatan terhadap pensyaratan
akan mulai berlaku hanya jika pemberitahuan tentang itu telah diterima
oleh negara yang mengajukan pensyaratan tersebut.
Di dalam ketiga ayat dari Pasal 22 ini sekali lagi tampak bahwa para pihak
yang melakukan perundingan diberikan kebebasan dalam menentukan dan
merumuskannya di dalam perjanjian untuk mengatur secara limitatif tentang
pranata hukum yang bernama "pensyaratan" ini. Hal ini dapat dilihat dari
kalimat "unless the treaty otherwise provides" (kecuali jika perjanjian menentukan
sebaliknya), atau kata-kata "or otherwise agreed" (atau jika disetujui sebaliknya).
Jadi pada awalnya perjanjian itu sendirilah yang menentukannya, dan harus
diikuti oleh para pihak yaitu ketentuan dalam perjanjian itu sendiri. Misalnya, di
dalam perjanjian itu bisa saja ditetapkan, bahwa penarikan kembali pensyaratan
maupun penolakan terhadap pensyaratan tidak bisa dilakukan; atau penarikan
kembali baru boleh dilakukan setelah perjanjian itu berlaku dan diterapkan
selama sekian tahun, dan lain-lain pembatasan yang disepakati.
Akan tetapi jika tidak ada ketentuan yang secara khusus mengatur tentang
penarikan kembali pensyaratan maupun penarikan kembali penolakan terhadap
pensyaratan ini, maka berlakulah Pasal 22 ayat 1, 2, dan 3. Selanjutnya baiklah
ditinjau mulai dari penarikan kembali atas pensyaratan, penarikan kembali atas
penolakan atas keberatan terhadap pensyaratan, dan mulai berlakunya penarikan
kembali atas pensyaratan maupun penolakan terhadap pensyaratan.
PENARIKAN KEMBALI ATAS RESERVASI
Sebagaimana bunyi Pasal 22 ayat 1 yang telah dikutip di atas, kecuali jika
perjanjian menentukan sebaliknya, pensyaratan dapat ditarik kembali setiap
waktu tanpa membutuhkan persetujuan lagi dari negara yang semula telah
menerima pensyaratan tersebut. Jadi jika tidak ada pengaturan lain di dalam
perjanjian, maka pihak yang mengajukan pensyaratan dapat menarik kembali
69 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 69
pensyaratan yang telah diajukannya. Penarikan kembali atas pensyaratan itu
dapat dilakukan setiap waktu (at any time). Dengan kata lain, tidak tergantung
pada suatu jangka waktu tertentu, sepanjang perjanjian itu sendiri tidak
menentukan demikian. Penarikan kembali tersebut tidak membutuhkan
persetujuan dari negara yang sebelumnya sudah menyatakan menerima atau
menyetujui pensyaratan itu.
Sebagaimana halnya pengajuan pensyaratan adalah merupakan manifestasi
dari kedaulatan suatu negara, demikian pula halnya penarikan kembali atas
pensyaratan inipun juga merupakan manifestasi dari kedaulatan negara yang
bersangkutan. Penarikan kembali atas pensyaratan ini tentu saja bisa didasarkan
atas pertimbangan bahwa ketentuan yang semula dikenakan pensyaratan
karena dianggap tidak sesuai dengan kedaulatan maupun kepentingan nasional
negara itu sendiri, kemudian ternyata dipandang sudah tidak lagi bertentangan
dengan kedaulatan maupun kepentingannya. Jadi, ada semacam perubahan
pandangan dari negara yang bersangkutan atas ketentuan perjanjian itu.
Dengan adanya penarikan kembali atas pensyaratan tersebut, secara tersimpul
dapat pula dipandang bahwa negara yang bersangkutan bersedia untuk
menerima dan tunduk pada ketentuan perjanjian yang semula dikenakannya
pensyaratan. Negara yang semula menerima atau menyetujui pensyaratan,
tidak perlu menyatakan persetujuan ataupun penolakannya atas penarikan
kembali pensyaratan tersebut. Hal ini menandakan, bahwa seperti halnya
pengajuan pensyaratan itu sendiri, penarikan kembali pensyaratan adalah
juga merupakan pensyaratan sepihak dari negara itu. Jadi, bagi negara yang
semula menerima pensyaratan tersebut, tidak ada jalan lain selain daripada
menyetujui penarikan kembali atas pensyaratan itu.
Dengan penarikan kembali pensyaratan berarti adanya kesediaan negara
itu untuk tunduk pada ketentuan yang semula dikenakannya pensyaratan.
Dengan demikian, ketentuan perjanjian yang semula dikenakan pensyaratan
itu berlaku sepenuhnya antara negara yang menarik kembali pensyaratannya
dalam hubungannya dengan negara yang semula menyetujui pensyaratan
tersebut. Dengan berlakunya seluruh ketentuan perjanjian terhadap kedua
pihak, tentu saja akan lebih positif bagi perjanjian itu sendiri, jika dibandingkan
dengan berlakunya perjanjian yang masih disertai dengan pensyaratan antara
kedua pihak.
PENARIKAN KEMBALI ATAS PENOLAKAN TERHADAP RESERVASI
Jika negara yang semula mengajukan pensyaratan diperkenankan menarik
kembali pensyaratannya, maka pada lain pihak, negara yang semula mengajukan
penolakan atau keberatan terhadap pensyaratan, juga diperkenankan menarik
kembali penolakan atau keberatannya. Seperti halnya penarikan kembali atas
pensyaratan, demikian pula penarikan kembali atas penolakan atau keberatan
70 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 70
terhadap pensyaratan dapat dilakukan pada setiap waktu (at any time).
Dengan penarikan kembali atas penolakan atau keberatannya, berarti terjadi
perubahan pandangan, yakni dari pandangan semula yang berupa penolakan
berubah menjadi menerima atau menyetujui pensyaratan tersebut. Hal inipun
juga merupakan manifestasi dari kedaulatan negara yang bersangkutan. Tentu
saja penarikan kembali ini dapat dibenarkan, apabila perjanjian itu sendiri
tidak mengatur sebaliknya. Jika perjanjian itu sendiri sudah mengaturnya
secara khusus, maka penarikan itu harus dilakukan berdasarkan ketentuan
perjanjian itu sendiri. Demikianlah makna yang terkandung di dalam Pasal
22 ayat 2 Konvensi Wina 1969.
Dengan penarikan kembali atas penolakannya terhadap pensyaratan,
berarti negara itu bersedia menerima atau menyetujui pensyaratan yang
semula ditolaknya. Hal ini tentu saja akan mengubah hubungan hukum
antara kedua pihak, dari semula terikat pada ketentuan yang bersangkutan,
menjadi terikat pada isi dari pensyaratan itu sendiri. Jika isi pensyaratannya
berupa ketidakbersediaan untuk terikat pada atau peniadaan akibat hukum
dari ketentuan yang bersangkutan, maka ketentuan itu tidak dapat diterapkan
dalam hubungannya antara kedua pihak. Tetapi jika isi pensyaratannya berubah
mengubah formulasi ketentuannya atau mengubah akibat hukum dari ketentuan
tersebut, maka kedua pihak terikat sesuai dengan pengubahan tersebut.
Akan tetapi dalam Pasal 22 ayat 2 tersebut tidak terdapat penegasan seperti
dalam ayat 1, yaitu tidak ditegaskan tentang tidak dibutuhkannya persetujuan
dari negara yang mengajukan pensyaratan. Dengan demikian, negara yang
mengajukan pensyaratan tidak perlu lagi menyatakan setuju, apalagi menolak
untuk menerima penarikan kembali atas pensyaratan tersebut, sebab tidak
ada manfaatnya.
MULAI BERLAKUNYA PENARIKAN KEMBALI RESERVASI DAN
PENOLAKAN TERHADAP RESERVASI
Pasal 22 ayat 3 butir a Konvensi Wina 1969 menentukan, bahwa penarikan
kembali pensyaratan mulai berlaku dalam hubungannya antara negara yang
menarik kembali pensyaratannya dengan negara peserta lainnya, khususnya
negara peserta yang menyetujuinya, hanya jika pemberitahuan atas penarikan
kembali pensyaratan itu telah diterima oleh negara yang bersangkutan. Dengan
diterimanya pemberitahuan, maka sejak saat itu negara yang menerima
dipandang sudah mengetahui terjadinya penarikan kembali pensyaratan.
Dalam hal ini kemungkinan bisa saja terjadi, bahwa negara peserta tersebut
menerima pemberitahuan itu dalam kurun waktu yang berbeda-beda antara
satu dengan lainnya, yang berarti pula saat mulai berlakunya penarikan
kembali pensyaratan itupun juga berbeda-beda. Pada jaman dahulu, hal ini
memang merupakan masalah yang besar mengingat sarana transportasi dan
71 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 71
telekomunikasi belum begitu canggih. Akan tetapi dewasa ini hal ini bukanlah
merupakan masalah yang sulit, mengingat sangat majunya, sarana transportasi
dan telekomunikasi, pemberitahuan itu dapat dilakukan secara serentak dalam
waktu yang bersamaan, sehingga, setiap negara peserta akan menerimanya
dalam waktu yang juga bersamaan.
Sedangkan mulai berlakunya penarikan kembali penolakan terhadap
pensyaratan, Pasal 22 ayat 3 butir b menyatakan, bahwa penarikan kembali
tersebut berlaku mulai pada saat pemberitahuan tentang itu telah diterima oleh
negara yang mengajukan pensyaratan. Kecuali jika ada pengaturan sebaliknya
di dalam perjanjian. Mulai pada saat, itu pensyaratan mulai berlaku terhadap
dan mengikat kedua negara itu.
Dalam hal penarikan kembali penolakan terhadap pensyaratan, masalahnya
hanyalah antara dua pihak yang bersangkutan saja. Jadi dapat dikatakan lebih
sederhana jika dibandingkan dengan penarikan kembali atas pensyaratan,
karena negara yang menarik kembali pensyaratannya kemungkinan berhadapan
dengan lebih dari satu negara peserta yang menerima pensyaratan tersebut.
PROSEDUR MENGENAI PENGAJUAN RESERVASI, PENERIMAAN,
DAN PENOLAKAN TERHADAP RESERVASI
Mengenai hal ini diatur di dalam Pasal 23 ayat 1, 2, 3, dan 4 Konvensi Wina 1969.
Sebenarnya Pasal 23 tidak sepenuhnya berkenaan dengan prosedur atau tata
cara, sebab beberapa butir yang terkandung di dalamnya juga memuat kaidah
hukum materiil. Kaidah hukum materiil tersebut antara lain adalah tentang
bentuk hukum dari pensyaratan, penerimaannya, maupun penolakannya.
Demikian pula penarikan kembali pensyaratan maupun penarikan kembali
penolakan terhadap pensyaratan harus dirumuskan dalam bentuk tertulis.
Pasal 23 ayat 1 menyatakan sebagai berikut:
A reservation, an express acceptance of a reservation and an objection to a
reservation must be formulated in writing and communicated to the contracting
States and other States entitled to become parties to the treaty.
Suatu pensyaratan, penerimaan secara tegas atas pensyaratan, dan penolakan
atau keberatan terhadap pensyaratan harus dirumuskan dalam bentuk tertulis
dan dikomunikasikan kepada negara-negara peserta dan negara-negara lain
yang berhak untuk menjadi peserta pada perjanjian.
Di sini ditegaskan bentuk hukum dari pensyaratan itu sendiri, penerimaan
maupun penolakan terhadap pensyaratan, yaitu dalam bentuk tertulis. Tentu
saja perumusan dalam bentuk tertulis ini dimaksudkan untuk mewujudkan
kepastian hukum bagi semua pihak yang terkait. Sudah umum diketahui,
bahwa hukum tertulis lebih menjamin adanya kepastian hukum dibandingkan
72 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 72
dengan hukum yang tidak tertulis. Bentuk tertulis ini haruslah dipandang
imperatif, jadi jika tidak dirumuskan dalam bentuk tertulis, berarti tidak sah
dan tidak mempunyai kekuatan mengikat.
Selanjutnya semuanya itu harus dikomunikasikan atau disampaikan kepada
negara-negara peserta (Contracting States) yaitu negara-negara yang sudah
menyatakan persetujuannya untuk terikat pada perjanjian. Selain daripada
itu, juga harus disampaikan kepada negara-negara yang berhak untuk-tetapi
belum- menjadi peserta pada perjanjian yang bersangkutan. Sudah pasti di
antaranya adalah negara-negara yang terlibat dalam proses perundingan dalam
rangka merumuskan naskah perjanjian, terlepas dari persoalan, apakah negara
itu pada suatu waktu nantinya akan menyatakan persetujuannya untuk terikat
pada perjanjian itu ataukah sama sekali tidak. Atau untuk suatu perjanjian
multilateral terbuka dalam ruang lingkup regional, negara-negara yang
berhak untuk menjadi pesertanya adalah negara-negara yang berada pada
kawasan yang bersangkutan. Negara-negara sekawasan tersebut, sebagian
mungkin terlibat dalam proses perundingan dan sebagian mungkin tidak
terlibat, namun negara itu dapat menjadi peserta. Akan tetapi jika perjanjian
itu merupakan perjanjian multilateral terbuka dengan ruang lingkup yang
global, yang terbuka bagi semua atau sebagian besar negara-negara di dunia
untuk menyatakan persetujuannya untuk terikat pada perjanjian atau untuk
menjadi peserta pada perjanjian tersebut.
Bagi negara-negara yang bersangkutan, meskipun masih berada di luar
atau masih berkedudukan sebagai pihak ketiga dalam hubungannya dengan
perjanjian yang bersangkutan, pemberitahuan itu mempunyai arti penting,
khususnya pemberitahuan tentang pengajuan pensyaratan. Apabila nanti
pada suatu waktu, jika akan menyatakan persetujuan terikat pada perjanjian
itu, atau setelah menjadi peserta pada perjanjian, negara itu akan dapat
menentukan sikap dengan lebih tegas, apakah akan menerima ataukah akan
menolak pensyaratan tersebut. Sedangkan tentang pemberitahuan mengenai
penarikan kembali pensyaratan maupun penarikan kembali penolakan
terhadap pensyaratan, juga memiliki arti penting baginya, yaitu dia akan "tahu"
bagaimana hubungan hukum antara pihak-pihak yang terkait tersebut. Jadi,
arti pentingnya itu hanya pada sekadar "mengetahui" saja.
Khusus PI multilateral terbuka yang bersifat global, ditunjuk salah satu atau
beberapa negara, ataupun organisasi internasional sebagai pihak yang ditugasi
untuk melakukan penyimpanan (depository state) atas semua dokumen yang
berkaitan dengan perjanjian itu, termasuk menyimpan dokumen pensyaratan,
dokumen penolakan terhadap pensyaratan, dokumen penarikan kembali
pensyaratan maupun dokumen penarikan kembali penolakan terhadap
pensyaratan. Berkenaan dengan masalah pensyaratan tersebut, negara
penyimpan inilah yang menerima pensyaratan untuk kemudian disampaikan
kepada negara-negara peserta ataupun negara-negara yang berhak menjadi
73 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 73
peserta pada perjanjian. Demikian pula negara penyimpan ini pulalah yang
berkewajiban menerima dan menyampaikan dokumen penarikan kembali
maupun dokumen penolakan terhadap pensyaratan.
Sedangkan untuk PI multilateral terbuka yang di bawah naungan suatu
organisasi internasional, seperti konvensi-konvensi internasional dalam bidang
perburuhan atau ketenagakerjaan yang dinaungi Organisasi Perburuhan
Internasional (Internasional Labor Organization), konvensi-konvensi yang
dinaungi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan lain-lainnya, yang sebagai pihak
penyimpanannya adalah organ dari organisasi internasional tersebut, maka
pengajuan pensyaratan, pengajuan penerimaan maupun penolakan terhadap
pensyaratan, harus disampaikan kepada organ dari organisasi internasional itu
dan yang selanjutnya akan menyampaikannya kepada negara-negara peserta
atau yang berhak menjadi peserta.
Selanjutnya Pasal 23 ayat 2 mengatur tentang kapan pensyaratan itu
dirumuskan dan saat pengajuannya, yang berbunyi sebagai berikut:
If formulated when signing the treaty subject to ratication, ~acceptance or
approval, a reservation must be formally conrmed by the reserving State when
expressing its consent to be round by the treaty. In such a case the reservation
shall be considered as having been made on the date of its conrmation.
Jika pensyaratan itu dirumuskan atau dikemukakan ketika suatu negara
menandatangani suatu perjanjian yang tunduk pada ratikasi, penerimaan
maupun suatu persetujuan, pensyaratan itu harus diberitahukan secara resmi
oleh negara yang mengajukan pensyaratan ketika negara itu menyatakan
persetujuannya untuk terikat pada perjanjian tersebut. Dalam hal yang
demikian, pensyaratan itu dianggap telah dibuat pada tanggal pemberitahuan
tersebut.
Ketentuan ini ditujukan pada perjanjian-PI yang oleh Mochtar Kusumaatmadja
digolongkan sebagai perjanjian yang melalui tiga tahap pembentukan,
yaitu tahap perundingan, tahap penandatanganan dan tahap ratikasi atas
persetujuan untuk terikat pada perjanjian. Dalam perjanjian semacam ini,
penandatanganan (signature) yang dilakukan oleh wakil-wakil dari negara-
negara yang melakukan perundingan barulah merupakan tahap pernyataan
wakil-wakil tersebut bahwa mereka sudah berhasil menyepakati naskah
perjanjian. Jadi perjanjian itu sendiri belum berlaku atau mengikat sebagai
hukum positif. Akan tetapi, jika pada waktu tersebut ada di antara wakil dari
salah satu atau lebih negara pada waktu menandatangani perjanjian sudah
menyatakan mengajukan pensyaratan (reservation), pensyaratan itu belum
berlaku dan tidak memiliki kekuatan hukum apapun juga. Negara itu barulah
dipandang menyatakan keinginannya saja.
Jika negara itu setelah menandatangani perjanjian, kemudian menyatakan
persetujuannya untuk terikat pada perjanjian tersebut, baik dengan melalui
74 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 74
cara ratikasi (ratication), penerimaan atau akseptasi (acceptance), persetujuan
(approval), pensyaratan yang telah pernah dikemukakannya pada waktu
penandatanganan perjanjian haruslah disampaikan secara resmi oleh negara
itu kepada negara yang telah lebih dahulu menyatakan persetujuannya untuk
terikat maupun kepada negara-negara yang berhak untuk menjadi peserta
pada perjanjian itu. Dalam hal ini, maka pensyaratan itu dianggap telah dibuat
pada waktu pemberitahuan tersebut.
Apabila ada negara lain yang menyatakan penerimaan maupun penolakan
secara tegas terhadap pensyaratan yang diajukan oleh suatu negara ketika
menandatangani perjanjian itu seperti dikemukakan di atas diatur dalam hal
ini Pasal 23 ayat 3 menegaskan sebagai berikut: An express acceptance of, or an
objection to, a reservation made previously to conrmation of the reservation does not
itself require conrmation. Penerimaan, atau pun penolakan yang dinyatakan
secara tegas terhadap suatu pensyaratan sebelum adanya pemberitahuan secara
resmi atas pensyaratan, tidak lagi membutuhkan pemberitahuan.
Tidak lagi dibutuhkan konrmasi atau pemberitahuan, disebabkan karena
para pihak sudah mengetahui posisinya masing-masing dalam hubungannya
dengan negara yang mengajukan pensyaratan. Tidak ada gunanya lagi
memberitahukan sesuatu yang jauh sebelumnya sudah diketahui oleh para
pihak yang terkait. Jadi ketentuan ini mengandung nilai praktis dan pragmatis.
Akan tetapi mengenai kapan mulai berlakunya pensyaratan maupun penolakan
terhadap pensyaratan adalah setelah pihak yang mengajukan pensyaratan
menyatakan persetujuan untuk terikat pada perjanjian atau pada waktu negara
itu mulai terikat pada perjanjian tersebut.
Masalah penarikan kembali pensyaratan, demikian juga penarikan kembali
penolakan terhadap pensyaratan, ditegaskan dalam Pasal 23 ayat 4, bahwa
semuanya itu harus dirumuskan dalam bentuk tertulis. The withdrawal of
a reservation or of an objection to a reservation must be formulated in writing.
Keharusan untuk merumuskannya secara tertulis tentulah dimaksudkan
supaya terjaminnya kepastian hukum bagi semua pihak yang berkepentingan.
Dengan demikian, penarikan kembali pensyaratan maupun penarikan kembali
penolakan terhadap pensyaratan yang dilakukan dalam bentuk tidak tertulis,
misalnya hanya secara lisan saja, haruslah dianggap tidak pernah ada sehingga
tidak memiliki kekuatan hukum apapun.
PENGATURAN MENGENAI RESERVASI DALAM HUKUM POSITIF
INDONESIA
Ketentuan umum mengenai pensyaratan dalam hukum positif Indonesia
diatur dalam Pasal 1 huruf e Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang
PI. Rumusan Pasal tersebut memiliki kemiripan dengan ketentuan dalam
Konvensi Wina 1969 karena dinyatakan bahwa pensyaratan (reservation) adalah
75 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 75
pernyataan sepihak negara untuk menerima berlakunya ketentuan tertentu
pada PI, dalam rumusan yang dibuat ketika menandatangani, menerima,
menyetujui, atau mengesahkan suatu PI yang bersifat multilateral.
Dalam Pasal 8 UU PI ayat (1) ditegaskan bahwa Pemerintah Republik
Indonesia dapat melakukan pensyaratan dan atau pernyataan kecuali ditentukan
lain dalam PI tersebut. Dalam Pasal 8 ayat (2) UU PI, dinyatakan pensyaratan
dan pernyataan yang dilakukan pada saat penandatanganan PI harus ditegaskan
kembali pada saat pengesahan perjanjian tersebut. Dalam Pasal 8 ayat (3) UU PI
pensyaratan atau pernyataan yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia
dapat ditarik kembali pada saat melalui pernyataan tertulis atau menurut
tata cara yang ditetapkan dalam PI. Karena itu dalam Pasal 16 ayat (1) UU PI,
dinyatakan pemerintah Indonesia melakukan perubahan atas ketentuan suatu
PI berdasarkan kesepakatan antara para pihak dalam perjanjian tersebut. Dalam
ayat (2) dinyatakan bahwa perubahan PI mengikat para pihak melalui tata cara
sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian tersebut. Dalam ayat (3) dinyatakan
bahwa perubahan atas suatu PI yang telah disahkan oleh Pemerintah Republik
Indonesia dilakukan dengan peraturan perundang-undangan yang setingkat.
Pada ayat (4) dinyatakan bahwa dalam hal perubahan PI yang hanya bersifat
teknis-administratif, pengesahan atas perubahan tersebut dilakukan melalui
prosedur sederhana.
SEJARAH PERUMUSAN KETENTUAN MENGENAI RESERVASI DALAM
KONFERENSI DAN PEMBAHASAN ILC
Dari denisi mengenai reservasi sebagaimana termuat dalam pasal 2 (1d)
KW 1969 dapat disimpulkan bawa reservasi dilakukan untuk melakukan
perubahan berlakunya suatu ketentuan yang ada di dalam perjanjian bagi
negara yang melakukan reservasi. Negara-negara pereservasi melakukan
tindakan ini dengan maksud untuk menyesuaikan ketentuan dalam perjanjian
yang perumusannya telah melalui proses penerimaan oleh negara-negara yang
lain yang mungkin saja kepentingannya berbeda dengan negara pereservasi.
Tindakan penyesuaian ini antara lain dilakukan dengan melakukan deklarasi
(baik political declaration maupun interpretative declaration) pada saat melakukan
penandatanganan, ratikasi atau cara-cara consent to be bound lainnya.
Latar belakang historis ketentuan ini dapat ditinjau dari pembahasan-
pembahasan pembentukan draf pasal tentang reservasi terakhir yang diajukan
oleh Komisi Hukum Internasional pada tahun 1966.

Keharusan akan adanya
suara bulat oleh seluruh negara peserta ketika suatu negara ingin mengajukan
reservasi pada saat melakukan akseptasi (acceptance), sedikit demi sedikit terkikis
setelah adanya advisory opinion yang dinyatakan oleh ICJ dalam kasus Genocide
Convention.

Ini menyebabkan tersingkirnya pendapat-pendapat yang terlalu
ekstrim yang menyatakan bahwa setiap negara berhak untuk mengajukan
76 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 76
reservasi terhadap perjanjian yang akan diikutinya sekalipun ada keberatan
terhadap reservasi tersebut. Sekretaris Jenderal PBB mengembangkan praktik
sederhana menyangkut tata cara reservasi dan penerimaan atau keberatan atas
reservasi. Penyederhanaan tersebut didasarkan pada Resolusi 598 (vi) Majelis
Umum yang meminta Sekretaris Jenderal sebagai lembaga depositori dari
berbagai konvensi multilateral yang ditandatangani di bawah perlindungan
PBB untuk:
a. tetap bertindak sebagai tempat penyimpanan dokumen-dokumen yang
berisi tentang reservasi atau keberatan, tanpa mengabaikan akibat hukum
dari dokumen-dokumen itu; dan
b. mengumumkan teks dokumen-dokumen berkaitan dengan reservasi
atau keberatan atas reservasi kepada semua negara terkait, namun
tetap menyerahkan kepada masing-masing Negara untuk menanggung
konsekuensi hukum dari deklarasi tersebut.
Konsep yang diajukan oleh Komisi Hukum Internasional ini didasarkan
pada suatu doktrin pan-Amerika dan mendapatkan dukungan besar dan
diterima sebagai ketentuan dalam Konvensi Wina ini, yang bunyinya:
SECTION 2. RESERVATIONS
Article 19
Formulation of reservations
A State may, when signing, ratifying, accepting, approving or acceding to a treaty,
formulate a reservation unless:
a. the reservation is prohibited by the treaty;
b. the treaty provides that only specied reservations, which do not include the
reservation in question, may be made; or
c. in cases not failing under subparagraphs (a) and (b), the reservation is incompatible
with the object and purpose of the treaty.
Article 20
Acceptance of and objection to reservations
1. A reservation expressly authorized by a treaty does not require any subsequent
acceptance by the other contracting States unless the treaty so provides.
2. When it appears from the limited number of the negotiating States and the object
and purpose of a treaty that the application of the treaty in its entirety between
all the parties is an essential condition of the consent of each one to be bound by
the treaty, a reservation requires acceptance by all the parties.
3. When a treaty is a constituent instrument of an international organization and
unless it otherwise provides, a reservation requires the acceptance of the competent
organ of that organization.
77 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 77
4. In cases not falling under the preceding paragraphs and unless the treaty otherwise
provides:
a. acceptance by another contracting State of a reservation constitutes the
reserving State a party to the treaty in relation to that other State if or when
the treaty is in force for those States;
b. an objection by another contracting State to a reservation does not preclude
the entry into force of the treaty as between the objecting and reserving States
unless a contrary intention is denitely expressed by the objecting State;
c. an act expressing a State's consent to be bound by the treaty and containing
a reservation is eective as soon as at least one other contracting State has
accepted the reservation.
5. For the purposes of paragraphs 2 and 4 and unless the treaty otherwise provides,
a reservation is considered to have been accepted by a State if it shall have raised
no objection to the reservation by the end of a period of twelve months aer it was
notied of the reservation or by the date on which it expressed its consent to be
bound by the treaty, whichever is later.
Article 21
Legal eects of reservations and of objections to reservations
1. A reservation established with regard to another party in accordance with articles
19, 20 and 23:
a. modies for the reserving State in its relations with that other party the
provisions of the treaty to which the reservation relates to the extent of the
reservation; and
b. modies those provisions to the same extent for that other party in its relations
with the reserving State.
2. The reservation does not modify the provisions of the treaty for the other parties
to the treaty inter se.
3. When a State objecting to a reservation has not opposed the entry into force of the
treaty between itself and the reserving State, the provisions to which the reservation
relates do not apply as between the two States to the extent of the reservation.
Article 22
Withdrawal of reservations and of objections to reservations
1. Unless the treaty otherwise provides, a reservation may be withdrawn at any time
and the consent of a State which has accepted the reservation is not required for
its withdrawal.
2. Unless the treaty otherwise provides, an objection to a reservation may be withdrawn
at any time.
3. Unless the treaty otherwise provides, or it is otherwise agreed:
78 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 78
a. the withdrawal of a reservation becomes operative in relation to another
contracting State only when notice of it has been received by that State;
b. the withdrawal of an objection to a reservation becomes operative only when
notice of it has been received by the State which formulated the reservation.
Article 23
Procedure regarding reservations
1. A reservation, an express acceptance of a reservation and an objection to a reservation
must be formulated in writing and communicated to the contracting States and
other States entitled to become parties to the treaty.
2. If formulated when signing the treaty subject to ratication, acceptance or
approval, a reservation must be formally conrmed by the reserving State when
expressing its consent to be bound by the treaty. In such a case the reservation
shall be considered as having been made on the date of its conrmation.
3. An express acceptance of, or an objection to, a reservation made previously to
conrmation of the reservation does not itself require conrmation.
4. The withdrawal of a reservation or of an objection to a reservation must be
formulated in writing.
Banyaknya pasal yang mengatur reservasi ini menunjukkan betapa besar efek
dari masalah ini. Pasal 19 dan 20 Konvensi Wina sebagian besar merupakan hasil
pemikiran dari Komisi, di mana pemikiran terpenting adalah mengenai akibat
hukum atas keberatan terhadap persyaratan yang diajukan salah satu pihak.
Komisi semula mengatur bahwa keberatan terhadap persyaratan menghalangi
berlakunya perjanjian antara Negara yang keberatan dengan Negara yang
membuat persyaratan kecuali terlihat adanya kehendak bertentangan yang
dinyatakan oleh Negara yang keberatan itu. Pemikiran ini didasarkan pada
proposal yang diajukan Uni Soviet yang menginginkan agar Konvensi Wina
meletakkan kewajiban bagi Negara yang keberatan untuk menyatakan secara
tegas bahwa keberatannya mengubah berlakunya perjanjian. Mengenai hal
ini Sir Humprey Waldock mengatakan: "permasalahannya hanya pada
bagaimana cara suatu aturan dirumuskan. Tujuan utama perumusan ini
adalah bagaimana merumuskan suatu aturan yang dapat digunakan sebagai
pedoman bagi negara-negara untuk bertindak".
Aspek paling penting dari reservasi adalah menyangkut persetujuan yang
dilakukan secara diam-diam (tacit consent). Persetujuan diam-diam biasanya
dilakukan jika negara tidak berhasil mengajukan keberatan atas adanya suatu
reservasi, sementara isi perjanjian telah mengatur ketentuan mengenai hal ini.
Peran dari tacit consent semakin besar berkenaan dengan adanya kemungkinan
untuk membalikkan bunyi suatu aturan di masa yang akan datang bagi mereka
yang berkaitan dengan reservasi ini. Keberatan terhadap sebuah persyaratan
79 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 79
tidak akan menimbulkan hilangnya hubungan perjanjian antara Negara yang
keberatan dan Negara yang mengajukan syarat, kecuali Negara yang keberatan
itu mengumumkan secara spesik bahwa ketidakberlakuan perjanjian tersebut
merupakan dampak dari keberatan itu.
Pada masa lalu keberatan terhadap persyaratan sering dilakukan dalam
upaya untuk mendorong Negara yang melakukan reservasi untuk menarik
kembali reservasinya. Tekanan untuk menarik persyaratan tidak akan terlalu
keras apabila perjanjian telah diberlakukan bagi Negara pereservasi dan negara
yang mengajukan keberatan atas reservasi tersebut. Ketentuan demikian
ini akan meletakkan beban pada pihak yang keberatan terhadap reservasi
untuk mendeklarasikan kepada umum bahwa dirinya tidak berniat untuk
mengadakan hubungan perjanjian mengenai pasal tertentu dengan Negara
pereservasi. Beban ini akan semakin berat jika negara yang menolak reservasi
adalah negara yang mempunyai kekuatan lebih lemah dibandingkan dengan
negara pereservasi. Secara teoretis bisa dikatakan bahwa rejim reservasi dapat
mengebiri konvensinya sendiri. Misalnya, Konferensi Wina 1969 menegaskan
tidak akan memisahkan ketentuan mengenai reservasi ini dengan membuat
ketentuan tersendiri mengenai hal ini, oleh karenanya ketentuan Pasal 1923
juga berlaku terhadap Konvensi Wina 1969 itu sendiri.
Pada saat penandatanganan Konvensi Wina 1969, beberapa negara
membuat deklarasi dan reservasi berkenaan dengan pemberlakuan Konvensi
ini. Beberapa yang lain melakukan hal ini pada saat melakukan ratikasi
dan aksesi. Sejumlah deklarasi dan persyaratan telah dibuat oleh berbagai
Negara tentang penandatanganan konvensi, dan masih banyak lagi yang
dibuat tentang ratikasi atau pemberian in. Afghanistan, Bolivia, Costa Rica,
Ekuador, Jerman, Guatemala, Marocco dan Inggris, misalnya menambahkan
deklarasi dan persyaratan pada saat penandatanganan. Kanada dan Selandia
Baru menambahkan deklarasi serta Syria dan Tunisia telah menambahkan
reservasi pada saat menyampaikan instrumen ratikasi.
Dalam menganalisa akibat hukum deklarasi dan reservasi sesuai dengan
ketentuan dalam Konvensi Wina 1969, perlu dipahami terlebih dahulu apa
yang dimaksud dengan reservasi. Menurut Pasal 2(1)(d) Konvensi Wina,
persyaratan adalah "pernyataan sepihak (unilateral), dengan nama apapun,
yang dibuat oleh Negara ketika menandatangani, meratikasi, menerima,
menyetujui atau mengaksesi sebuah perjanjian, di mana hal ini dimaksudkan
untuk mengecualikan atau mengubah akibat hukum dari ketentuan tertentu
dalam perjanjian berkenaan dengan penerapan perjanjian tersebut bagi Negara
yang bersangkutan.
Karena beberapa deklarasi ditambahkan pada saat penandatanganan, dan
beberapa pada saat ratikasi atau aksesi, maka deklarasi tidak selalu dapat
dimaknai sebagai reservasi. Seringkali deklarasi ini lebih bersifat sebagai
pernyataan politik yang memuat pandangan-pandangan dari Pemerintah negara
80 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 80
peserta mengenai suatu isu tertentu, atau berupa interpretative declaration yang
berupa pendapat-pendapat dari Pemerintah negara peserta berkenaan dengan
penerapan ketentuan tertentu dalam perjanjian. Sebagai contoh deklarasi yang
ditambahkan pada penandatangan yang dalam kenyataannya dalam wilayah
pernyataan politik, maka dikutiplah deklarasi yang dibuat oleh Bolivia tentang
kekurangan Konvensi Wina adalah menunda realisasi aspirasi umat manusia
namun peraturan yang disetujui oleh Konvensi merepresentasikan kemajuan
penting, didasarkan pada prinsip Hukum Internasional yang didukung Negara
Bolivia sejak lama.
Banyak sekali contoh deklarasi yang ditambahkan saat penandatangan atau
ratikasi yang bersifat interpretative declaration. Pertama adalah deklarasi yang
dibuat oleh Afghanistan yang menyatakan pemahamannya bahwa subparagraph
2(a) dari Pasal 62 mengenai frasa fundamental changes of circumstances
(perubahan lingkungan yang fundamental), tidak mencakup perjanjian yang
tidak seimbang atau ilegal atau segala perjanjian yang bertentangan dengan
prinsip menentukan nasib sendiri (the principles of self-determination). Kedua
adalah deklarasi yang dibuat oleh Ekuador tentang penandatanganan, yang
menggabungkan pemahaman pemerintah Negara itu tentang pengaruh Pasal
4 dari Konvensi Wina. Ketiga, adalah deklarasi yang dibuat oleh Inggris pada
saat menandatangani dan meratikasi Konvensi Wina 1969 mengenai hubungan
antara Pasal 66 Konvensi Wina dan penerimaan Negara Inggris atas yuridiksi
wajib Mahkamah Internasional (ICJ).
Mengenai deklarasi Inggris tersebut dapat delaskan sebagai berikut. Pasal
66 Konvensi Wina menyediakan referensi bagi Mahkamah Internasional ketika
menghadapi perkara apapun yang diajukan oleh para pihak menyangkut
sengketa di antara mereka berkaitan dengan interpretasi atau penerapan Pasal
yang memuat masalah jus cogen serta Pasal-Pasal lain pada Bab V Konvensi Wina.
Deklarasi yang dibuat pemerintah Inggris pada 1 Januari 1969 menyebabkan
Inggris menerima yuridiksi wajib untuk menyelesaikan sengketa di Mahkamah
Internasional kecuali jika Inggris telah sepakat dengan pihak lain atau pihak-
pihak terkait untuk menyelesaikan sengketa dengan cara lainnya.

Sikap yang
berbeda dilakukan Inggris jika penyelesaian sengketa dengan cara konsiliasi.
Secara prinsip, konsiliasi dipandang sebagai cara penyelesaian yang baik,
namun kesulitannya adalah prosedur perdamaian yang dimuat di dalam
Lampiran Konvensi Wina 1969 (lihat dalam Annex Konvensi Wina 1969 dalam
lampiran) tidak mengarah pada penyelesaian sengketa, mengingat laporan
yang dibuat oleh komisi konsiliasi tidak mengikat para pihak dan tidak ada
ketentuan yang pasti mengenai tindakan lanjutan setelah upaya perdamaian
tidak berhasil. Dengan latar belakang ini, pemerintah Inggris merasa ragu
untuk memastikan bahwa pihak Negara vis--vis pada Konvensi Wina yang
menerima yuridiksi wajib Mahkamah Internasional. Dampak gabungan dari
81 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 81
Pasal 66 dari Konvensi Wina dan deklarasi yang disampaikan oleh Pemerintah
Inggris seharusnya tidak mengabaikan yurisdiksi Mahkamah Internasional.
Perlu dipahami apa maksud reservasi dalam arti yang tepat. Suatu saat
kita bisa mengabaikan adanya reservasi yang dibuat saat penandatanganan,
dan tidak ditegaskan lagi pada saat melakukan ratikasi, karena Pasal 23(2)
Konvensi Wina menghendaki reservasi dirumuskan saat penandatanganan
maka harus secara formal ditegaskan oleh Negara yang mengajukan syarat
ketika menyatakan persetujuannya untuk terikat oleh perjanjian (consent
to be bound), dan reservasi itu harus dianggap dibuat pada saat melakukan
persetujuan tersebut. Reservasi dalam arti yang tepat dibuat Negara Kosta
Rika dan Guatemala saat menandatangani Konvensi Wina 1969, yang berupaya
mempertahankan ketentuan dalam Konstitusi mereka yang bertentangan
dengan ketentuan dalam Konvensi. Namun kedua negara tersebut ternyata
tidak juga melakukan ratikasi terhadap Konvensi Wina 1969 sehingga negara
lain tidak perlu mengambil sikap terhadap reservasi yang dilakukan oleh Kosta
Rika dan Guatemala tersebut.
Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah bagaimana reaksi negara
lain atas reservasi yang dilakukan oleh suatu negara pada saat melakukan
ratikasi atau aksesi. Sebagai contoh adalah reservasi yang dilakukan oleh
Syiria pada saat melakukan aksesi terhadap Konvensi Wina 1969 pada tanggal
2 Oktober 1970. Reservasi tersebut memuat lima poin yang memerlukan
analisis secara cermat. Pertama, adalah deklarasi yang menyatakan bahwa
penerimaan Syiria terhadap Konvensi Wina 1969 tidak dapat dianggap sebagai
pengakuan terhadap keberadaan negara Israel. Kedua, adanya pernyataan
politik bahwa Pasal 81 tidak sesuai dengan maksud dan tujuan Konvensi Wina
1969 karena Konvensi tidak menyatakan semua negara boleh menjadi pihak
dalam Konvensi tanpa perbedaan atau diskriminasi. Ketiga, ada interpretative
declaration yang menyatakan bahwa pemerintah Syria menginterpretasikan
pernyataan "ancaman atau penggunaan kekuatan" sebagaimana termuat di
dalam Pasal 52 Konvensi Wina1969 secara meluas termasuk bidang ekonomi,
politik, ancaman psikologis atau militer dan pada semua jenis kekerasan
yang menghalangi Negara untuk menandatangani perjanjian sesuai harapan
atau kepentingannya. Keempat, ada reservasi yang dinyatakan secara tegas
bahwa pemerintah Syria menolak tidak diberlakukannya ketentuan mengenai
fundamental change of circumstances terhadap perjanjian-perjanjian mengenai
perbatasan negara (lihat lampiran) kecuali yang telah ditentukan oleh Pasal
62 Ayat 2a Konvensi Wina 1969. Kelima, adanya reservasi umum (general
reservation) yang menyatakan bahwa aksesi Syria terhadap Konvensi Wina
1969 tidak termasuk Annex dari Konvensi yang mengatur tentang kewajiban
untuk melakukan konsiliasi.
Jika kita hendak memahami reaksi negara lain terhadap reservasi yang telah
dilakukan oleh Syiria sebagaimana dalam contoh di atas, maka terlebih dahulu
82 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 82
harus dipahami konsep tacit consent (persetujuan diam-diam) sebagaimana
yang diatur di dalam Konvensi Wina 1969. Konvensi tersebut menentukan
bahwa suatu negara dianggap menerima reservasi yang dilakukan oleh negara
pereservasi jika dalam jangka waktu duabelas bulan setelah penyampaian
notikasi reservasi atau pada saat melakukan consent to be bound, negara yang
bersangkutan tidak menyatakan keberatan atas reservasi yang dilakukan oleh
negara pereservasi tersebut. Sebagian besar Negara peserta konferensi tidak
diwajibkan untuk menentukan sikap terhadap reservasi yang dilakukan Syria
sebelum mereka melakukan ratikasi atau aksesi terhadap Konvensi itu.
Ada dua Negara yang menentukan sikap terhadap reservasi yang dilakukan
Syiria, yaitu Inggris dan AS. Keberatan Inggris atas reservasi yang dilakukan
Syiria sebenarnya tidak terlalu berarti karena keberatan tersebut disampaikan
oleh Inggris melampaui jangka waktu yang telah ditetapkan, sehingga dapat
dikatakan bahwa Inggris menerima reservasi yang dilakukan oleh Syiria
tersebut.
Pandangan Inggris atas reservasi yang dilakukan oleh Syiria tersebut
termuat di dalam instrument ratikasinya yang disampaikan kepada lembaga
depository. Dalam instrumen ratikasi tersebut memuat dua pandangan
berkenaan dengan reservasi yang dilakukan oleh Syiria. Pertama, Inggris tidak
dapat menerima interpretative declaration Syria terhadap Pasal 52 mengenai
lingkup "kekerasan", mengingat konferensi telah menerima konsep mengenai
"kekerasan" dalam proses penyusunan nal act. Kedua, Inggris secara formal
mengajukan keberatan atas reservasi yang diajukan pemerintah Syria yang
berkaitan dengan lampiran Konvensi dan mengumumkan bahwa Inggris
tidak menerima berlakunya Konvensi Wina 1969 untuk mengatur hubungan
antara Inggris dan Syria.
Dalam melihat keberatan yang diajukan Inggris terhadap persyaratan
Negara Syria pada Lampiran Konvensi dan dampak hukum keberatan itu,
maka tidaklah perlu bagi Inggris untuk menyatakan pandangannya tentang
persyaratan Negara Syria pada Pasal 62(2)(a).
Pemerintah AS tidak berada di bawah tekanan seperti Inggris yang
mendeklarasikan posisi mereka tentang persyaratan Syria, kadan AS belum
meratikasi Konvensi Wina. Namun mereka telah mengambil sikap yang
berbeda dari Inggris. Pemerintah AS telah menyatakan pandangan mereka
bahwa persyaratan Negara Syria yang dilampirkan pada Konvensi adalah
tidak sesuai dengan maksud dan tujuan penyelesaian sengketa yang netral.
Pemerintah AS berniat menegaskan keberatannya terhadap persyaratan
sebelumnya dan menolak hubungan perjanjian dengan Republik Arab Syria
berdasarkan semua ketentuan dalam Bab V Konvensi Wina di mana Republik
Arab Syria telah menolak prosedur perdamaian wajib yang diuraikan pada
lampiran Konvesi Wina.
83 Bab 4 Reservasi (Persyaratan) dalam PI 83
Dampak dari keberatan antara AS dan Syria yang terdapat pada Bab IIV
dan Bab VIVIII Konvensi Wina dapat berlaku bila atau ketika AS menjadi
anggota Konvensi, namun Bab V tidak berlaku, dengan perkecualian pada
Pasal 53, 64 dan 66 (a) perlu diketahui bahwa sampai saat ini Amerika Serikat
tidak menjadi pihak dalam Konvensi Wina 1969 karena Senat menolak untuk
meratikasi Konvensi ini, walaupun Amerika Serikat telah menandatangani
Konvensi Wina 1969 ini pada Tahun 1970.
Keberatan AS menimbulkan satu masalah yang menarik. Pasal 20(4)
memberikan pilihan bagi Negara yang keberatan untuk mengumumkan bahwa
dampak keberatannya adalah untuk menghalangi berlakunya perjanjian antara
Negara yang keberatan dan Negara yang mengajukan persyaratan. Dapatkah
Pasal ini digunakan oleh Negara yang keberatan untuk menghalangi hubungan
perjanjian sebagai bagian dari perjanjian? Masalah ini belum diuji, namun pada
prinsipnya tidak ada alasan mengapa keberatan terhadap sebuah persyaratan
tidak menimbulkan dampak ini. Dari sifat keberatan AS dapat disimpulkan
bahwa Syria diberi hak untuk menolak hubungan perjanjian dengan AS
didasarkan pada nota yang disampaikan oleh Pemerintah Amerika Serikat,
mengingat bahwa keberatan tersebut sebenarnya berisi tawaran hubungan
perjanjian pada skala tertentu.
Penerapan rejim konvensi tentang reservasi selama ini tidak memberikan
kesimpulan yang jelas. Kebebasan yang diberikan oleh Konvensi bagi
negara-negara untuk merumuskan persyaratan dalam reservasi potensial
untuk disalahgunakan, akibat terlalu longgarnya aturan bagi negara-negara
dalam merumuskan reservasi atau penolakan terhadap reservasi. Akibatnya
selanjutnya adalah terpecahnya rejim perjanjian yang sebelumnya dalam proses
perumusannya disepakati dengan sangat sulit. Memang, terdapat asumsi
bahwa adanya rejim reservasi meningkatkan eksibilitas perjanjian sehingga
mendorong sejumlah besar negara-negara mau mengikuti suatu perjanjian
yang bersifat multilateral, namun kelebihan ini bisa menjadi bumerang bila
kebebasan yang lebih besar tersebut malah menghancurkan atau meruntuhkan
dasar-dasar fundamental dari perjanjian itu sendiri.
UMPAN BALIK
a. Apa akibat hukum dilakukannya reservasi suatu perjanjian oleh salah satu
pihak dalam perjanjian terhadap pihak yang menyetujui dan yang tidak
menyetujui reservasi tersebut?
b. Apa pengaruh dilakukannya interpretative declaration oleh salah satu
pihak dalam perjanjian jika dalam suatu penyelesaian sengketa yang lahir
dari penerapan perjanjian tersebut?
84 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 84
DAFTAR BACAAN
Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2001.
DJ Harris, Cases and Materials on International Law, Sweeet & Maxwell,
London, 1998.
Harjono, Politik Hukum PI, Bina Ilmu, Surabaya, 1999.
I Wayan Parthiana, Hukum PI, Bagian I, Mandar Maju, Bandung, 2002.
Ian Brownlie, Principle of Public International Law, 5
th
. Ed., Oxford, New
York, 1998.
Jennings and Watts, Openheim's International Law, Longham, London,
1996.
Oscar Schachter, International Law in Theory and Practice, Vol. 13, Martinus
Nuho, London, 1991.
Rebecca Wallace, International Law, 3
rd
. Ed., Sweet & Maxwell, London,
1997.
85
DESKRIPSI BAB
Sesuai dengan prinsip dasar PI yaitu prinsip pacta sund servanda, maka
diberlakukannya suatu perjanjian oleh para pihak akan menimbulkan akibat
hukum bagi pihak-pihak terkait. Bab ini akan menguraikan bagaimana akibat
hukum PI berkaitan dengan aspek-aspek yang melingkupinya, di antaranya
adalah akibatnya terhadap para pihak, lingkup kewilayahan berlakunya PI,
dan akibatnya apabila dilakukan perubahan-perubahan terhadap PI.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
akibat PI bagi para pihak, lingkup wilayah, perubahan pemerintahan,
terjadinya amandemen, modikasi, revisi, jaminan pelaksanaan PI, dan
bagi pihak ketiga;
2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
bilamana dan bagaimana PI dapat berakibat bagi pihak ketiga;
3. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
mekanisme partisipasi pihak ketiga dalam suatu PI.
PENGANTAR
Oliver J. Lissitzyn mengatakan bahwa norma-norma PI berasal dari kebiasaan
yang berlaku di sebagian besar negara. Jadi dapat dikatakan bahwa PI itu adalah
"lokalisasi" (penempatan khusus) atas norma hukum kebiasaan Internasional.
Bila ada persetujuan atas aturan hukum kebiasaan yang berlaku, maka
dikodikasikan dalam PI. Dalam Islam, perjanjian (sebagai sebuah bentuk
dari 'aqod) terjadi karena adanya penawaran dan persetujuan. Al Qur'an
memerintahkan agar tidak melanggar perjanjian setelah menyepakatinya
dan apabila pihak non-Islam mematuhinya, maka penuhilah perjanjian itu.
Prinsip Pacta Sunt Servanda pada dasarnya sejalan dengan konsep 'aqod dan
prinsip ini diakui oleh seluruh ahli hukum dan ahli agama Islam. Di mana
5
AKIBAT PI
86 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 86
ada masyarakat, di situ ada hukum (ubi societas, ubi ius) dan manusia itu
mempunyai hasrat untuk bergaul (appetites societatis). Begitu juga negara tak
dapat berdiri tanpa adanya negara lain, harus saling bekerja sama. Bahwa
kebiasaan internasional adalah lex ferenda (hukum yang harus dibentuk) dan
PI adalah lex lata (hukum yang terbentuk).
AKIBAT PI BAGI PARA PIHAK
Akibat PI pada pihak-pihak yang mengadakan kontrak (contracting parties)
adalah bahwa mereka hanya terikat oleh ketentuan-ketentuan hukumnya
dan harus melaksanakannya dengan itikad baik (good faith). Beberapa hukum
kebiasaan Internasional yang berubah-ubah (inconsistent rule of customary law)
kecuali jika itu mengatur ketentuan dari Ius Cogens. Salah satu pihak tidak
boleh memohon ketentuan-ketentuan Hukum Nasionalnya (internal law)
sebagai pembenar untuk sebuah kesalahan pada pelaksanaan PI. Terutama
sekali pada kesalahannya untuk mengundangkan hukum yang cocok untuk
memberi akibat pada kewajiban-kewajiban PI. Hukum umum adalah PI yang
tidak mengikat setiap pihak secara surut. Contohnya, hubungan kegiatan yang
terjadi pemberhentian/pembatalan berlakunya sebelum tanggal berlakunya
PI untuk para pihak.
Kewajiban untuk mematuhi kewajiban-kewajiban yang tertuang pada PI
mempunyai arti bahwa salah satu pihak tidak dapat membebaskan dirinya
dari kewajiban-kewajiban PI tersebut. Sebaliknya pada keadaan normal itu
seperti pembebasan, memerlukan pernyataan dari pihak lain. Negara-negara
pada kurun waktu kemudian ada kalanya tak mau mengakui PI mereka, tapi
tak diragukan lagi bahwa penyangkalan adalah pelanggaran terhadap Hukum
Internasional, kecuali itu dapat dibenarkan pada suatu atau dasar lain yang
sudah lazim untuk menjaga pengunduran dari kewajiban-kewajiban untuk
mematuhi ketentuan PI. Negara-negara menerima ini dengan percobaan
tanpa terkecuali untuk membenarkan penyangkalannya dengan memacu
pada satu atau lebih dasar-dasar yang diterima tersebut. Hal yang menjadi
masalah adalah apabila suatu perjanjian yang telah diratikasi menjadi Hukum
Nasional suatu negara, akan tetapi ternyata rakyat menolak keberlakuan isi
perjanjian yang telah menjadi Hukum Nasional tersebut. Sebenarnya hal seperti
itu tidak perlu terjadi karena sebelum meratikasi suatu PI, pemerintah atau
legislatif terlebih dahulu harus mendengar aspirasi rakyat, kebiasaan rakyat,
serta kepentingan nasional.
Pada hakikatnya penandatanganan suatu perjanjian berlaku sekali untuk
selamanya, dan pengakhiran perjanjian hanya dapat dilakukan dalam hal-hal
yang telah ditentukan dalam Konvensi Wina 1969 yaitu:
a. Kekeliruan dalam perjanjian (Pasal 48)
b. Penipuan oleh negara perunding lain (Pasal 49)
87 Bab 5 Akibat PI 87
c. Kecurangan seorang wakil dari suatu negara (Pasal 50)
d. Paksaan dari seorang wakil suatu negara (Pasal 51)
e. Paksaan dari suatu negara dengan ancaman atau penggunaan kekuatan
(Pasal 52)
f. Perjanjian-perjanjian yang bertentangan dengan norma dasar Hukum
Internasional umum (ius cogens)
Dalam Pasal 54 telah dinyatakan pula bahwa "pengakhiran suatu perjanjian
atau penarikan diri sebagai suatu pihak dapat terjadi:
a. Sesuai dengan ketentuan di dalam perjanjian; atau
b. Setiap saat dengan persetujuan semua pihak sesudah konsultasi dengan
negara-negara pembuat perjanjian lainnya.
Jadi jelas bahwa untuk menarik diri dari suatu PI karena adanya gejolak
dalam masyarakat salah satu negara pihak, harus sesuai dengan ketentuan
dalam perjanjian tersebut dan mendapat persetujuan dari seluruh peserta
perjanjian.
AKIBAT PI BERKENAAN DENGAN RUANG LINGKUP WILAYAH
Beberapa PI berhubungan dengan lokasi geogras tertentu. Pada pengertian
ini dapat dikatakan bahwa lingkup berlakunya hanya pada lokasi tertentu
tersebut saja. Seperti kasus PI yang berhubungan dengan pulau tertentu
atau daerah geogras lain atau berbatas dengan sungai. Pada banyak kasus
terjadi pihak-pihak dalam PI seharusnya wilayah penerapan yang terbatas
dapat ditetapkan dengan PI itu sendiri, baik secara diam-diam ataupun secara
terang-terangan. Bagaimanapun ide pemberlakuan secara teritorial adalah
sudah sesuai, meski sering tidak berisi petunjuk, salah satunya pada PI atau
sebaliknya dari pihak-pihak mengenai ruang lingkup teritorial itu.
Pada beberapa kasus, hukum umum yang merupakan penerapan dari
PI meluas pada seluruh wilayah dari tiap pihak bahkan mungkin termasuk
wilayah luar negeri (overseas territories), seperti koloni yang berada di bawah
kedaulatan negara tersebut. Ini menentukan keraguan apakah yang termasuk
wilayah lain (negara Protektorat) untuk hubungan internasional yang mana
negara bertanggung jawab tanpa mempunyai kedaulatan di atasnya. Jadi
di sini maksudnya adalah bahwa suatu PI yang dibuat oleh sebuah negara
kolonial atau negara induk/protektor, maka juga sekaligus mengikat negara
koloni ataupun negara protektorat.
Akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk negara commonwealth atau negara
persemakmuran yang merupakan negara bekas jajahan United Kingdom. Untuk
kasus ini, PI yang dibuat oleh United Kingdom, tidak akan mengikat secara
otomatis negara-negara commonwealth. Sebab-sebab negara Persemakmuran
88 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 88
tersebut pada hakikatnya mempunyai kedaulatan penuh, sehingga bebas
mengurus nasibnya sendiri. Hanya saja negara-negara tersebut mengakui
keberadaan Ratu Inggris, serta menganut sistem hukum yang sama dengan
Inggris yaitu Commonwealth.
Begitu aturan menimbulkan kesulitan untuk negara-negara yang terdiri
dari beberapa unit wilayah yang mempunyai beberapa tingkatan otonomi,
contohnya pada proses legislasi untuk memungkinkan akibat yang diberikan
pada PI. Pada beberapa kasus, negara tidak dapat menjadi pihak hingga
perbuatan legislatif pada beberapa kewenangan sudah dilengkapi. Jika pada
suatu kewenangan legislatif ditolak, negara tidak dapat menjadi pihak sama
sekali. Untuk mencegah akibat ini, praktik sudah dikembangkan dari sisipan
pada banyak PI Pasal khusus, yang sering disebut klausal penerapan teritorial
(a territorial application clause).
Ada Pasal-Pasal yang mempunyai bermacam-macam bentuk, tapi itu semua
berakibat negara untuk membatasi ruang lingkup teritorial PI yang nyata. Pasal
tersebut memungkinkan adanya daerah pusat yang menjadi pihak pada PI
tanpa melibatkan banyak wilayahnya untuk bertanggung jawab terhadap suatu
hubungan internasional wilayah mungkin dapat diajukan agar termasuk dalam
ruang lingkup PI dengan cara deklarasi yang dibuat pada saat penandatanganan
atau pengesahan, atau kemudian sesudah itu dan selanjutnya dapat menarik
diri dari ruang lingkup itu sesuai dengan ketentuan dalam PI, atau ada Pasal
yang menetapkan bahwa ketentuan PI seharusnya berlaku untuk semua unit
wilayah negara kecuali jika negara membuat deklarasi mengeluarkan beberapa
atau keseluruhan dari mereka atau mungkin mempunyai akibat membebaskan
negara anggota dalam PI dari kewajiban PI berkenaan dengan kewenangan
wilayah otonomi.
Akibat dari beberapa Pasal, memungkinkan negara dapat membatasi atau
mungkin memperluas wilayah teritorial PI adapun sebaliknya dengan cara
deklarasi yang dibuat saat penandatanganan terhadap syarat-syarat yang
diterima sesuai hukum yang diisyaratkan. Sama dengan perjanjian yang mana
ide besarnya dari aplikasi wilayah secara tidak langsung atau sepenuhnya
sesuai, contoh:
a. Perjanjian tentang batas wilayah.
b. Perjanjian terhadap persoalan seperti persatuan politik.
c. Perjanjian terhadap wilayah yang keluar dari batas daerahnya, seperti
perjanjian hubungan suatu ke dalaman lautan atau wilayah udara.
d. Perjanjian pantai yang mungkin masih diperlukan.
Di beberapa kasus perjanjian mungkin menentukan terhadap kewajiban
suatu pihak untuk memakai perjanjian nasional itu. Ketika mereka keluar dari
keadaan wilayahnya. Ini mungkin terjadi seperti contoh pada suatu hal yang
menentukan kewajiban perjanjian di dalam menghormati batas kekuasaan
89 Bab 5 Akibat PI 89
seseorang, yang mana dapat memakai hubungan melalui kepala perwakilan
nasional tersebut. Masalah selanjutnya adalah bidang apa saja yang merupakan
lahan eksekutif dan lahan legislatif dalam hal pengesahan suatu PI menjadi
Hukum Nasional.
Untuk kasus tersebut telah diatur dalam Undang-Undang No. 24 Th. 2000
tentang PI, yaitu Pasal 10 dan 11:
Pasal 10
Pengesahan PI dilakukan dengan Undang-Undang apabila berkenaan
dengan:
a. Masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara;
b. Perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara Republik
Indonesia;
c. Kedaulatan atau hak berdaulat negara;
d. Hak asasi manusia dan lingkungan hidup;
e. Pembentukan kaidah hukum baru;
f. Pinjaman dan/atau hibah luar negeri.
Dalam penjelasan Pasal 11 ayat 1 ini, disebutkan bidang-bidang yang
termasuk kewenangan eksekutif, yaitu menganut Teori Residu: jenis perjanjian
yang termasuk kategori ini di antaranya adalah perjanjian induk yang
menyangkut kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi,
teknik, perdagangan, kebudayaan, pelayaran niaga, Penghindaran pajak
berganda, dan kerja sama perlindungan penanaman modal, serta perjanjian
yang bersifat teknis.
AKIBAT PI BERKENAAN DENGAN INDIVIDU WARGA NEGARA
Kekuatan mengikat suatu perjanjian pada prinsipnya hanya berakibat pada
negara yang mengadakan perjanjian (contracting states), bukan pada warga
Negaranya. Aturan ini pernah diberikan oleh Permanent Court of Justice. Dapat
berubah dengan jelas (express) maupun sembunyi-sembunyi (implied) sesuai
kesepakatan (sama, sebagai penghormatan atas orang yang tidak berkebangsaan
atas negara-negara peserta perjanjian).
Sebaliknya jika kebakan-kebakan berisi kesepakatan yang memengaruhi
hak dan kewajiban warga negara di wilayah hukum negara peserta perjanjian,
maka para pihak wajib mengambil beberapa langkah seperlunya menurut
Hukum Nasionalnya sendiri (internal law) dan kewajibannya itu harus sesuai
dengan syarat-syarat kebakan dalam perjanjian. Pada Hukum Nasional beberapa
negara, pejabat yang mengeluarkan kebakan (o cial publication) cukup berhak
untuk melakukannya, tetapi di negara lain memerlukan langkah-langkah
seperti pengesahan statute itu oleh parlemen (a statue by parliament).
90 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 90
AKIBAT PI BERKENAAN DENGAN PERUBAHAN PEMERINTAH
PI mengikat negara-negara peserta perjanjian (contracting states). Perubahan
pemerintahan atau bahkan perubahan bentuk pemerintahan dari salah satu
pihak peserta perjanjian, maka hal tersebut akan memengaruhi kekuatan
mengikatnya (binding force) suatu PI. Jadi misalnya PI multilateral yang telah
ditandatangani oleh negara, akan tetap sah, bahkan bila kementerian dalam
negara tersebut telah berubah. Tak satu negarapun dapat menghindari dari
kewajiban PI semata-mata, karena perjanjian tersebut sudah ditandatangani
di bawah kekuasaan pemerintah yang sebelumnya. Bilamana sebuah kerajaan
(monarchy) berubah menjadi republik, atau sebaliknya (vice verca), maka kewajiban
atas perjanjian itu tetap sama seperti sedia kala, seperti biasanya.
Penting sebagaimana mungkin mereka berubah, hal itu tidak mengubah
seseorang atas nama negara yang menandatanganinya. Bagaimanapun juga, jika
ketentuan PI itu mensyaratkan bentuk tertentu dari pemerintahan, kemudian
sebuah perubahan dari yang ditentukan demikian itu, maka membuat ketentuan
bentuk yang demikian itu batal, karena penegakannya sudah menjadi tidak
mungkin.
Not to be confounded with the eect of changes in government is the eect of
a changes in International status upon treaties, as, for instance, if a hither to
full sovereign state becomes half or part sovereign, or vice verca, or if a state
merges entirely into another and the like.
Bukankah luar biasa akibat dari perubahan pemerintahan adalah akibat
dari perubahan pada kedudukan/status atas PI, sebagaimana contohnya
adalah negara dengan kedaulatan penuh (full sovereign state) menjadi negara
dengan kedaulatan separuh/sebagian, atau sebaliknya, atau jika sebuah negara
bergabung sepenuhnya (merges entirely) dengan negara yang lain.
Dalam bahasan pergantian pemerintah ini, Boer Mauna menggunakan istilah
suksesi untuk menyebut suatu pergantian. Suksesi negara harus dibedakan
dengan suksesi pemerintah. Suksesi negara bersifat eksternal sedangkan suksesi
pemerintah bersifat internal. Terhadap suksesi pemerintah berlaku prinsip
kontinuitas, yaitu sekalipun terjadi perubahan pemerintah atau ketatanegaraan,
negara tersebut tetap terikat pada hak-hak dan kewajiban internasionalnya.
Pemerintah yang baru tetap terikat terhadap hak dan kewajiban pemerintah
lama.
Kalau dalam Suksesi negara terdapat istilah predecessor state (negara yang
diganti) dan successor state (negara pengganti), maka dalam suksesi pemerintah
akan dapat juga dimunculkan istilah predecessor government (pemerintah yang
diganti) dan successor government (pemerintah pengganti). Sehingga suksesi
pemerintah itu dapat diartikan adanya perubahan kedaulatan dari suatu
pemerintah yang diganti (predecessor government) kepada pemerintah yang
menggantikan (successor government).
91 Bab 5 Akibat PI 91
Mengenai pengertian suksesi pemerintahan ini dapat kita ikuti pendapat yang
dikemukakan oleh Hackworth dalam bukunya, Digest of International Law:
A government, the instrumentality through which a state function, may change
from time both as to form-as from a monarchy to a republic-and as to the head
of the government without aecting the continuity or identity of the state as
an International person
.
Maksudnya adalah, bahwa pemerintahan suatu negara dapat berubah,
baik pada bentuknya seperti misalnya, dari kerajaan menjadi republik atau
sebaliknya, maupun pada orang-orang atau personalia yang menjadi kepala
pemerintahan, yaitu misalnya kabinet yang satu diganti dengan kabinet yang
lain, atau juga kepala negara yang satu diganti dengan kepala negara yang lain,
misalnya melalui suatu pemilihan umum. Perubahan pemerintahan dimaksud
tidak memengaruhi kontinuitas atau identitas negara yang bersangkutan
sebagai subjek Hukum Internasional.
Selain pendapat di atas, J.G. Starke membedakan kedua bentuk suksesi
tersebut dengan istilah perubahan "ekstern" dan perubahan "intern" kedaulatan
atas wilayah. Terhadap yang kedua (perubahan intern) dari kedaulatan atas
wilayah dikatakan bahwa dalam hal ini asas "kontinuitas" (continuity principle)
yang berarti bahwa pemerintah pengganti tetap terikat oleh perbuatan hukum
yang dilakukan oleh pemerintah yang digantikannya termasuk hak-hak dan
kewajiban-kewajiban traktatnya.
Perubahan tersebut tidak memengaruhi kelangsungan hidup atau identitas
negara itu sebagai pembawa hak dan kewajibannya menurut Hukum
Internasional. Identitas internasional negara itulah yang membedakan antara
suksesi negara dan suksesi pemerintahan negara, yaitu pada suksesi negara
(yang universal atau keseluruhan) terjadi perubahan identitas internasional
negara tersebut, sedangkan pada suksesi pemerintahan negara tidak terjadi
perubahan identitas internasional negara yang bersangkutan. Selanjutnya
mengenai akibat hukum dari suksesi pemerintahan negara ini, sebagaimana
telah dikemukakan di atas, berlaku asas kontinuitas. Ini berarti bahwa setiap
pemerintah baru bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang dilakukan
oleh pemerintah lama yang digantikannya.
Sebagai ilustrasi, di sini akan dikemukakan suatu kasus yang telah
diputuskan oleh Mahkamah Arbitrase dalam sengketa antar Kerajaan Inggris
oleh Costa Rica, atau lebih dikenal dengan sebutan "The Tinnoco Case 1923".
Dalam keputusannya Mahkamah Arbitrase menyatakan bahwa negara
terikat di bidang Hukum Internasional oleh tindakan-tindakan seseorang
atau orang-orang yang pada hakikatnya merupakan wakil pemerintahnya.
Keterikatan itu tetap ada meskipun pemerintahnya diganti. Sehingga hal ini
berarti bahwa pemerintah baru "mewarisi" hak-hak dan kewajiban-kewajiban
dari pemerintah sebelumnya.
92 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 92
Keputusan di dalam kasus itu jelas mencerminkan berlakunya asas kontinuitas.
Akan tetapi berlakunya asas kontinuitas tersebut dalam hubungannya dengan
suksesi pemerintahan negara tidak mutlak, sebab masih terdapat beberapa
pengecualian antara lain sebagai berikut:
a. Pertama, berdasarkan ketentuan di dalam traktat tersebut tidak dapat
dilaksanakan lagi.
b. Kedua, apabila suksesi itu menimbulkan suatu perubahan fundamental
di dalam sistem politik, sebagaimana yang pernah dialami oleh Rusia
melalui Revolusi Bolshevik tahun 1917, maka pemerintah baru tidak
terikat oleh kewajiban-kewajiban pemerintah lama. Mengenai hal ini
sarjana-sarjana Uni Soviet berpendapat bahwa, perubahan fundamental
pada tata masyarakat merupakan peristiwa pembentukan sebuah negara
baru. Oleh karena itu terjadi perubahan kepribadian negara, sehingga
dengan demikian pengecualian ini sebenarnya lebih merupakan suksesi
negara. Dengan demikian maka asas kontinuitas dapat diberlakukan.
c. Ketiga, dalam hal terdapat pemerintahan tandingan (rival government)
yang secara de facto berkuasa dalam wilayah suatu negara, jika kemudian
pemerintah de jure berkuasa kembali, maka pada umumnya tidak dianggap
bertanggung jawab atas tindakan-tindakan pemerintah tandingan tersebut.
Akan tetapi dalam hal seperti itu, pemerintah yang kemudian berhasil
memerintah kembali secara de facto maupun de jure dianggap bertanggung
jawab terbatas hanya terdapat tindakan-tindakan yang bersifat administratif
dan impersonal dari pemerintah tandingannya. Hal yang tersebut belakangan
ini terdapat dalam "Hopkins Claim Case 1927" mengenai pembelian "Postal
Money Orders", di mana diputuskan bahwa hal ini termasuk ke dalam
kategori transaksi impersonal, dan harus diterima tanggung jawabnya
oleh pemerintah yang kemudian berkuasa lagi.
Contoh lain adalah diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB) di
Den Haag tanggal 23 Agustus s/d 2 November 1949. Dengan diselenggarakannya
KMB tersebut, Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia atas seluruh
wilayah bekas Hindia, Belanda dengan penangguhan penyelesaian wilayah Irian
Barat. Sebagai pelengkap atas KMB, juga dibuat perjanjian peralihan. Dalam
Pasal 5 Perjanjian KMB tersebut, diatur kedudukan perjanjian-PI yang dibuat
oleh pemerintah Belanda dan juga mengikat bekas wilayah jajahan Hindia,
Belanda. Ketentuan dalam Pasal 5 Perjanjian KMB hendak menunjukkan
bahwa perjanjian-PI tidak secara langsung mengikat bekas wilayah-wilayah
jajahan yang baru mendapat kemerdekaannya. Untuk mengikatnya, PI pada
negara-negara tersebut diperlukan pengakuan lebih lanjut oleh pemerintahnya
masing-masing.
Atas dasar asas Rebus Sic Stantibus Pemerintah Indonesia tidak mempunyai
pilihan lain kecuali membatalkan Perjanjian Konferensi Meja Bundar tersebut.
93 Bab 5 Akibat PI 93
Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Th. 1956 (Lembaran negara No. 27/1956)
Pemerintah Republik Indonesia menyatakan tidak lagi terikat dengan Uni
Indonesia-Belanda, dan secara sepihak memutuskan secara keseluruhan
Perjanjian Konferensi Meja Bundar. Alasan pemerintah Indonesia untuk
membatalkan Perjanjian Konferensi Meja Bundar adalah sebagai berikut:
maka di dalam keadaan yang sudah begitu berubah dan mendesak sekali
untuk membatalkan Perjanjian Konferensi Meja Bundar demi kepentingan
nasional, pemerintah tidak mempunyai pilihan lain dari pada membatalkan
perjanjian tersebut atas dasar "Rebus Sic Stantibus" yang berlaku di dalam
Hukum Internasional. Menurut asas rebus sic stantibus yang berarti asas
dasar kenyataan adanya perubahan-perubahan yang vital di dalam negeri dari
pada suatu pihak yang menandatangani perjanjian, maka pihak tersebut berhak
untuk menarik diri dari ikatan perjanjian itu. Dengan lain perkataan di dalam
keadaan demikian, maka prinsip rebus sic stantibus dapat dibuat sebagai dasar
untuk meniadakan asas "Pacta Sunt Servanda" itu.
Kasus menarik lainnya kasus ekstradisi Kapten Westerling, yang di mata
bangsa Indonesia adalah seorang penjahat yang melarikan diri ke Singapura
yang pada waktu itu masih merupakan bagian dari Koloni Kerajaan Inggris.
Dalam bulan Februari 1950 Pemerintah Indonesia mohon kepada Pemerintah
Inggris agar Kapten Westerling diekstradisi ke Indonesia berdasarkan perjanjian
ekstradisi antara kerajaan-kerajaan Inggris dengan kerajaan Belanda tertanggal
26 September 1898.
Permohonan pemerintah Indonesia agar Kapten Westerling diekstradisikan
rupanya tidak dikabulkan, dan masalah ini kemudian diajukan kepada
Pengadilan Singapura, kasus ini diakhiri dengan Putusan Hakim Evans dari
High Court of Singapore tertanggal 15 Agustus 1950, dengan pengakuan tidak
dikabulkannya ekstradisi Westerling ke Indonesia. Penolakan ini ditetapkan
oleh Pengadilan Tinggi Singapura meskipun ada keterangan resmi dari
Kementerian Luar Negeri Inggris yang secara yang tegas menyatakan bahwa
perjanjian ekstradisi tetap berlaku dengan Republik Indonesia Serikat.
Pemisahan Timor-Timur dari wilayah RI juga berkaitan dengan masalah
suksesi negara. Namun dalam melihat masalah Timor-Timur ini, masih dapat
diperdebatkan apakah terjadi perubahan kedaulatan atas wilayah tersebut
atau hanya sekadar pengembalian kedaulatan. Hal ini disebabkan karena
adanya dua dikotomi pendekatan terhadap masalah Timor-Timur. Disatu
pihak, menurut ketatanegaraan RI. Timor-Timur sejak tahun 1976 merupakan
bagian integral dari wilayah RI dan kemudian pada tahun 1999 memisahkan
diri. Di lain pihak, masyarakat internasional tetap menganggap bahwa Timor-
Timur merupakan wilayah yang diduduki oleh Indonesia yang kemudian
dikembalikan statusnya menjadi Non-Self Governing Territory.
94 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 94
Adanya dikotomi pendekatan ini, berakibat sulitnya untuk menentukan
secara tegas apakah negara Timor-Timur merupakan negara baru yang berhak
atau wajib melanjutkan hak-hak dan kewajiban internasional yang lahir pada
waktu wilayah tersebut bersama Indonesia. Misalnya, apakah Timor-Timur
berhak atau wajib melanjutkan Timor Gap Treaty yang dibuat oleh RI dan
Australia pada tahun 1989.
AKIBAT PERJANJIAN BERKENAAN DENGAN AMANDEMEN,
MODIFIKASI, DAN REVISI
Sebuah PI mungkin diamandemen dengan PI yang baru atau perjanjian yang
lebih lanjut di antara para pihak. PI yang diubah biasanya adalah ketentuan
pokok sebuah aturan mengenai penutupan dan berlakunya perjanjian (conclusion
and entry into force), pensyaratan-pensyaratan (reservations), dan penerapan
sementara (provisional application), selama tidak ditentukan lain oleh perjanjian
itu sendiri. Perjanjian juga dapat diamandemen dengan persetujuan tidak
tertulis (oral agreement) atau dengan cara diam-diam (tacit agreement) yang
terbukti dengan kebiasaan/praktik yang berkembang (subsequent practice)
dari para pihak.
Pada situasi normal, tidak ada masalah dalam pengamandemen perjanjian
bilateral. Kapanpun para pihak dapat menyetujui pengamademen, bahkan tanpa
ketentuan yang berakibat pada perjanjian yang sedang dibuat, sekalipun dengan
jelas perjanjian itu melanggarnya, para pihak tetap dapat mengamandemen
ketentuannya sendiri.
Pada perjanjian multilateral, secara prinsip mengajarkan bahwa usulan
amandemen itu memerlukan pernyataan dari semua pihak dalam perjanjian
(selalu pada ketentuan pokok yang berbeda dari perjanjian itu sendiri).
Bagaimanapun, pada PI dengan jumlah peserta yang begitu, maka dengan
jelas sekali merupakan kesulitan yang sangat besar dalam praktiknya untuk
menghasilkan pernyataan dari semua peserta. Bagaimanapun alternatifnya
adalah dengan mengatasi kesulitan tersebut.
Jadi untuk mendapat persetujuan sebagian besar pihak untuk mengamandemen
perjanjian akan diizinkan untuk mengubah hak-hak dan kewajiban-kewajiban
dalam perjanjian sesuai dengan keinginan kecil pihak atau memaksanya untuk
berhenti/keluar dari pihak perjanjian sebagai pilihan atas begitu beragamnya
hak dan kewajibannya yang tidak dapat diterima oleh sebagian besar pihak.
Sekali lagi, untuk mengizinkan amandemen yang diinginkan oleh sebagian
besar pihak maka menjadi efektif antara sebagian besar antara bagian besar
negara/pihak lagi, sehingga ada dua perangkat/aturan perjanjian (a double
set of treaty) yang masih berhubungan dan masih dalam ruang gerak bidang
yang sama. Disebut juga seolah-olah perjanjian yang sama (ostensibly the same
treaty).
95 Bab 5 Akibat PI 95
Kesulitan-kesulitan yang tampak nyata yang melekat pada berbagai
macam solusi ini berubah-ubah dari perjanjian dalam perjanjian kebiasaan
negara pada perumusan ketentuan tentang amandemen dalam perjanjian
multilateral menampakkan sebuah variasi/solusi, tapi tak satupun pilihan dari
keduanya (yaitu variasi/solusi) pada syarat dari pernyataan semua pihak dapat
dikatakan dapat mereeksikan aturan yang bersumber dari hukum kebiasaan
internasional (customary internasional law).
Konvensi Wina 1969 mengatur bahwa sepanjang perjanjian itu tidak
menentukan lain, maka amandemen itu hanya berlaku efektif di antara para pihak
yang mengamandemen melalui sebuah persetujuan (the amending agreement) itu.
Persetujuan aturan-aturan baru seperti aturan yang dihasilkan (residual rule).
Sebagian besar ditentukan dengan mengesampingkan kepentingan, karena
tidaknya badan pembuat peraturan internasional (internasional legislature)
untuk membuat peraturan yang cukup eksibel (a rule of su cient exibility)
untuk menyetujui aturan-aturan baru/mengadopsi perjanjian untuk mengamati
perkembangan yang memengaruhi ketentuan pokoknya, di waktu yang bersama
tidaklah melanggar kedaulatan pada pihak yang untuk alasan apapun tidak
menjadi pihak-pihak persetujuan amandemen.
Hasil aturan-aturan yang tersurat dalam Konvensi Wina 1969 mensyaratkan
bahwa usulan-usulan untuk mengamandemen perjanjian multilateral yang
berlaku di antara semua pihak, harus diberitahukan kepada semua negara
peserta (contracting states), yang setiap negara tersebut mempunyai hak untuk
berpartisipasi dalam penentuan keputusan mengenai tindakan yang diambil
atas usulan-usulan amandemen dan dalam negosiasi serta penutupan dari
macam-macam persetujuan amandemen. Persetujuan amandemen itu tidak
akan mengikat negara-negara yang sebelumnya sudah menjadi pihak dari
perjanjian asal (original treaty) dan persetujuan amandemen, hak dan kewajiban
kedua belah pihak itu diatur oleh perjanjian asal.
Saat persetujuan amandemen diberlakukan, negara yang kemudian menjadi
pihak dalam perjanjian akan mematuhinya, sepanjang tidak terdapat tujuan
yang berbeda, dipertimbangkan sebagai pihak perjanjian yang diamandemen
(the treaty as amended), dan hubungannya dengan pihak-pihak perjanjian yang
tidak terikat oleh persetujuan amandemen, pihak atas perjanjian yang tidak
diamandemen (the unaended treaty). Boleh jadi dua pihak atau lebih dalam
perjanjian berkehendak untuk memodikasi ketentuan yang berlaku di antara
mereka. PI itu sendiri mungkin membolehkannya.
Pembahasan atas amandemen PI banyak disinggung setelah lahirnya
Konvensi Wina 1969, untuk tahun sebelum ini, hingga detik ini kami belum
menemukan buku-buku kuno yang membahasnya. Mungkin karena sulitnya
sumber-sumber itu untuk ditelusuri. Dalam Konvensi Wina 1969 bagian IV
menjelaskan tentang amandemen dan modikasi, yaitu antara lain Pasal 39,
40 dan 41.
96 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 96
Amandemen dan modikasi, keduanya berkaitan dengan revisi dari
suatu perjanjian oleh para pihak. Amandemen adalah proses lebih resmi
atau prima vacie, dari seluruh pihak untuk perjanjian, sedangkan modikasi
adalah "persetujuan pribadi" antara pihak-pihak tertentu untuk menghormati
peraturan tersebut. Beberapa pendapat Ahli Hukum Internasional mengenai
hal ini adalah:
1. Dalam hal ini Ian Brownline menyatakan: The amendment of treaties depends
on the consent of the parties, and the issue is primarily one of politics.Modication
may also result from the conclusion of a subsequent treaty or the emergence of a
new peremptory norm of general norm of general international law. Amandemen
perjanjian berdasarkan pernyataan dari para pihak dan salah satu isi
utamanya adalah faktor politik. Modikasi bisa juga merupakan hasil
kesimpulan dari perjanjian yang berikutnya atau hasil dari keadaan darurat
atas normal Hukum Internasional umum yang tidak bisa diubah.
2. Pandangan International Law Commission of the United Nations: The ILC
explained that amendment is a formal maer introducing changes into the treaty
text whereas modication is a less formal procedure which aects only certain parties
to create. Komisi Hukum Internasional menjelaskan bahwa amandemen
adalah ketentuan formal atau resmi dalam memperkenalkan perubahan
suatu teks/kalimat dalam perjanjian, sedangkan modifikasi adalah
prosedur yang tidak begitu formal yang berdampak hanya pada pihak-
pihak tertentu dalam perjanjian. ILC juga menyebut amandemen sebagai
"Formal Amandemen" dan modikasi sebagai "Inter Se Agreement".
3. Pandangan Malgosia Fitzmaurice: Amendments to treaties should be distinguished
from the revision of a treaty; revision is a more comprehensive process resulting
in changes to a treaty. Amandemen perjanjian harus dibedakan dari revisi
perjanjian. Revisi adalah proses yang lebih rumit dalam menghasilkan
perubahan perjanjian.
4. Pandangan DJ Harris: International agreement may always be terminated by
the subsequent agreement of all the parities to them, even though the original
agreement may declare that is permanent. Persetujuan internasional selalu
dapat diakhiri dengan persetujuan yang lebih lanjut dari semua pihak
yang terlibat, meskipun persetujuan asal mungkin menyatakan bahwa
itu bersifat permanen.
REVISI PERJANJIAN
Revisi perjanjian dapat dilakukan atas perjanjian-perjanjian bilateral sebagaimana
juga pada perjanjian multilateral. Revisi perjanjian bilateral membutuhkan
kesepakatan baru di antara pihak-pihak yang mengikat perjanjian, setelah
berlangsungnya proses perundingan untuk revisi di antara keduanya. Di
dalam revisi itu harus ada syarat-syarat perjanjian secara keseluruhan. Harus
97 Bab 5 Akibat PI 97
ada persetujuan khalifah terhadap perubahan yang dibuat. Di samping harus
ada maslahat (kebaikan) bagi Islam dan kaum muslim atau bagi negara Islam,
dan lain-lain yang telah dibahas. Hal ini kami anggap penting dalam setiap
perjanjian. Hampir-hampir tidak ada kesulitan yang ditemui di dalam revisi
perjanjian bilateral, karena kesepakatan antara kedua belah pihak dalam hal
ini dapat dicapai dengan mudah.
Dalam kondisi tidak adanya kesepakatan untuk merevisi perjanjian, maka
kedua belah pihak sepakat untuk melaksanakan perjanjian sebagaimana
apa adanya, atau (jika tidak setuju penuh) untuk menghentikan perjanjian,
menghapuskannya dan tidak terikat dari konsekuensi-konsekuensi yang
mengikat perjanjian. Sedangkan revisi perjanjian multilateral biasanya dibayangi
beberapa kesulitan yang biasa dihadapi. Kesulitan itu muncul karena banyak
pihak yang menandatangani perjanjian. Apabila semua negara sepakat untuk
merevisi perjanjian maka permasalahannya jadi mudah, seperti yang terjadi
pada perjanjian bilateral.
Jika sebagian negara sepakat untuk merevisi perjanjian, sedangkan
sebagian lainnya tidak setuju, maka akan muncul kesulitan dan masalah. Kami
menyarankan dua hal berikut ini:
1. Setiap negara yang menandatangani perjanjian berhak untuk menjadi
salah satu pihak yang menandatangani revisi yang dibuat. Apabila seluruh
negara menolak menerima keikutsertaan pihak ini, maka seluruh negara
dianggap telah membatalkan perjanjian dengan negara yang tidak diterima
dalam perjanjian revisi.
2. Negara Islam berhak menolak revisi yang dibuat karena tidak akan
diterima revisi tanpa persetujuan semua pihak yang ada. Dalam kondisi
ini, negara Islam masih berpegang kepada perjanjian yang asli dan tidak
dianggap sebagai pihak yang membatalkan perjanjian. Bahkan yang
dianggap membatalkan perjanjian adalah seluruh negara tadi, karena Islam
mengharuskan dan mewajibkan kita untuk menempati apa yang telah
disepakati. Kita tidak diperintahkan oleh syarat-syarat untuk menyetujui
revisi, karena revisi memerlukan kesepakatan lain.
3. Setelah revisi perjanjian dilakukan dan disepakati, maka bentuk baru
dari perjanjian itu memiliki kekuatan yang sama dengan perjanjian yang
asli. Hilanglah efektivitas dari teks-teks yang dibatalkan, diganti dengan
teks-teks yang baru.
98 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 98
AKIBAT PI BERKENAAN DENGAN JAMINAN PELAKSANAANNYA
Untuk mengamankan dan perlindungan atas pelaksanaan PI, negara harus
berusaha melalui berbagai macam kebiasaan dan prosedur yang berlaku,
khususnya dalam hal berikut ini:
1. Denda: kebiasaan membuat tuntutan atau denda atas beberapa atau semua
aset dari negara peserta perjanjian (contracting state) dan khususnya atas
pungutannya, untuk mengamankan pembayaran perlindungan di bawah
perjanjian yang sudah diadopsi, contohnya pada Pasal 248 Perjanjian
Perdamaian (treaty of peace) dengan Jerman tahun 1919 dan Persetujuan
Dawes (Dawes Agreement) pada Agustus tahun 1924, antara Komisi Ganti
Rugi (Reparation Commission) dengan pemerintah Jerman, sehubungan
dengan keamanan untuk pembayaran Jerman atas ganti rugi.
Perbedaan amandemen, modikasi dan revisi dengan reservasi:
Amandemen Modikasi Revisi Reservasi
MAKNA
(BLACK'S
LAW
DICT.)
To change or
modify for
the beer.
To alter by
modication,
deletion, or
addition
A change; a
alteration or
amendment
which
introduces new
elements into
the details,
or cancels
some of them,
but leaves
the general
purpose and
eect of the
subject maer
intact
Re-examination
or carefully
reading over for
correction or
improvement
A right created
and retained
by grantor. The
reservation may be
temporary (such
as a life estate) or
permanent (such
as an easement
running with the
land.
PENGA-
TURAN
Konvensi Wina
1969 Ps. 39-40
Konvensi Wina
1969 Ps. 41
Konvensi Wina
1969 Ps. 49
Konvensi Wina
1969 Ps. 19-23
LATAR
BELA-
KANG
Isu politik
(Brownlie)
Lahirnya
ius cogens
(Brownlie)
Ada kesalahan
[KW 1969 ps.
79 (1)]
Ada
kekurangcocokkan
ketentuan
WAKTU Sesudah
perjanjian
dibuat
Sesudah
perjanjian
Sesudah
perjanjian
Saat proses
pembuatan
SIFAT
PROSES
Lebih resmi
"prima facie"
(Rebecca)
Persetujuan
pribadi "interse
agreement"
(ILC)
Lebih
menyeluruh
"Comprehensive
process"
(Malgosia)
Harus tertulis "in
writing" (Konvensi
Wina 1969 ps. 23
(1))
99 Bab 5 Akibat PI 99
2. Pendudukan Wilayah: maksud dari daminnya pelaksanaan perjanjian ini
sudah pernah digunakan; khususnya yang berhubungan dengan perjanjian
perdamaian sebagai pelengkap pembayaran ganti rugi perang, dan juga
untuk alasan yang lain. Jadi pada Perjanjian Versailles 1919 dihasilkan
bahwa sebagai jaminan pelaksanaan perjanjian saat itu oleh Jerman, maka
wilayah Jerman terletak di sebelah barat Sungai Rhine bersama juga dengan
jembatannya akan diduduki oleh sekutu dan pasukan gabungan selama
15 tahun sejak diberlakukannya perjanjian.
3. Garansi atau Jaminan: PI biasanya daminkan dengan garansi dari negara
lain yang secara tidak langsung memengaruhinya. Garansi boleh meliputi
penambahan untuk garansi yang ada di perjanjian, dan mungkin perjanjian
itu sendiri, sesuai namanya yaitu janji dari penjamin. Andaikan hal itu
terjadi maka atas kekuasaannya untuk memaksa satu atau lebih pihak
peserta untuk melaksanakan perjanjian.
4. Prosedur Pengawasan: Perkembangan atas jumlah perjanjian menetapkan
prosedur-prosedur dengan jalan pengecekan ditetapkan caranya, di mana
negara-negara memberikan pengaruhnya atas kewajibannya di bawah
perjanjian yang dibicarakannya. Prosedur-prosedur itu termasuk:
a. Syarat untuk mengajukan kepada lembaga internasional secara periodik
atas laporan pelaksanaan perjanjian oleh negara yang membuat
laporan.
b. Kewajiban mengajukan untuk mengadakan inspeksi atas fasilitas yang
sesuai untuk wilayahnya, untuk melihat apakah kewajiban Perjanjian
masih dilaksanakan.
c. Secara berkala diadakan pertemuan untuk meninjau pelaksanaan
perjanjian.
d. Pendirian sebuah lembaga internasional yang fungsinya di antaranya
mengawasi pelaksanaan perjanjian.
e. Kebiasaan negara-negara pada wilayahnya pada pokoknya ditentukan
oleh perjanjian itu sedemikian rupa sehingga bentuk dari pengawasan
eksternal, penataan oleh negara atas kewajiban dalam perjanjian sangat
diharapkan.
5. Tindakan Ganti Rugi Sesuai Ketentuan dalam PI: Beberapa PI
mencantumkan prosedurnya sendiri untuk mengambil tindakan dalam
memastikan apakah pihak peserta menjalankan kewajibannya sesuai
perjanjian. Demikian Pasal 19 Piagam PBB menetapkan untuk anggota yang
menunggak pembayaran dari sumbangan keuangannya pada organisasi,
maka tidak mempunyai hak suara di Majelis Umum. Jika jumlah tunggakan
itu sama atau melebihi jumlah iuran selama 2 tahun penuh. Komisi Untuk
Komunitas Eropa (Commission of the European Communities) mempunyai
kekuasaan menurut perjanjian pendirian European Coal and Steel Community
yaitu dalam hubungannya dengan anggota yang melanggar kewajiban
100 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 100
perjanjian maka mencabutnya dari keuntungan-keuntungan tertentu
yang akan dihasilkan dari perjanjian dan memberi kekuasaan negara-
negara anggota yang lain untuk menentang bahwa tindakan tertentu
dari negara yang sebaliknya dilarang. Pada Pasal 14 Convention of 1931 for
Limiting the Manufacture and Regulating the Distribution of Narcotic Drugs ada
ketentuan untuk mengembargo import sehubungan dengan suatu negeri
yang sudah melampaui penilaian terhadap obat terlarang untuk diekspor
padanya. Dengan cara yang sama, konstitusi dari bermacam-macam
organisasi internasional memperhitungkan pengusiran dari penundaan
keanggotaan negara anggota pada keadaan tertentu, ukurannya sering
meliputi pencabutan hak (Deprivation of Right) dalam perjanjian yang
dibicarakan.
6. Tindakan Penegakan Internasional: meskipun dengan jelas telah ditentukan
pada perjanjian yang dibicarakan, pada beberapa kategori yang terpisah
adalah tindakan-tindakan itu yang mengundang beberapa penghormatan
tindakan atas nama masyarakat internasional. Contohnya adalah ketentuan
untuk berbagai macam ukuran menyeluruh atas penegakannya dalam Bab
VIII Piagam PBB.
7. Tuntutan Hukum: kegagalan pelaksanaan PI biasanya menimbulkan
pertanggungjawaban internasional oleh negara (a states international
responsibility) yang mungkin merupakan pokok dari acara di hadapan
Pengadilan Internasional, yang dibentuk oleh negara yang dirugikan
(aggrieved state). Jika suatu negara yang mempunyai kewajiban di bawah
PI didapati melanggarnya, pengadilan dapat menyatakan bahwa atas
suatu pelanggaran, memberikan hak pada pihak lain untuk mengadukan
PI atau boleh mengarahkan pihak yang melanggar itu (the party in breach)
membuat perbaikan, atau mengambil tindakan untuk memperbaiki
pelanggaran, atau menawarkan pengambilan ukuran tertentu sementara
untuk mempertahankan hak-hak para pihak. Untuk masalah tertentu
(misalnya pelanggaran HAM) cara lainnya adalah melalui pengadilan
internasional atas nama individu yang dilaporkan, yang melanggar
kewajibannya dalam perjanjian di mana ia sebagai pihaknya.
8. Tindakan Pembalasan: pelanggaran kewajiban dalam perjanjian dapat
dianggap sebagai alasan penuntutan ataupun penangguhan perjanjian.
Sebuah pelanggaran adalah sebuah ketidakadilan internasional (internasional
wrong) yang dapat memberikan reaksi pada pihak yang lain untuk
menuntut batasan setimpal (proportionate reprisal) dalam ambang batas yang
ditentukan oleh Hukum Internasional dalam hal penggunaan ancaman
dan kekuatan.
9. Sumpah: contohnya sumpah antara Perancis dan Swiss tahun 1777 di
Cathedral Solothurn.
101 Bab 5 Akibat PI 101
10. Sandera: contoh pada Perjanjian Perdamaian Aux. IA Chapels tahun 1748,
Lord Sussex dan Lord Cadhard di Paris disandra Inggris untuk jaminan
keamanan Teluk Breton.
11. Janji: contoh Polandia berjanji untuk menyerahkan mahkota permata pada
Prusia. Sumpah, sandera, dan janji adalah jaminan yang paling kuno.
Selain itu juga telah kita dapatkan jawaban-jawaban atas permasalahan
yang terkemuka di bagian depan makalah ini, di antaranya adalah:
1. Bahwa berlakunya PI yang dibuat oleh negara induk, tidak sekaligus
mengikat negara persemakmuran/commonwealth, sebab pada hakikatnya
negara-negara persemakmuran tersebut mempunyai kedaulatan penuh,
sehingga tidak perlu mengikuti mother state.
2. Pada prinsipnya suatu perjanjian yang telah disepakati, tidak dapat
dibatalkan keberlakuannya, karena ketidaksetujuan warga negaranya.
Kecuali hal-hal yang telah diatur dalam Konvensi Wina 1969 serta keadaan
yang tidak terduga (rebus sic stantibus).
3. Dalam Undang-Undang No. 24 Th. 2000 tentang PI, telah diatur mengenai
kewenangan eksekutif maupun legislatif dalam hal pengesahan suatu hasil
perjanjian secara residual, yaitu pada Pasal 10 dan 11.
4. Perbedaan antara amandemen, modikasi, revisi dan reservasi sebenarnya
telah diatur dalam Pasal-Pasal Konvensi Wina 1969. Namun pada intinya,
amandemen adalah sebuah proses "prima facie" (lebih resmi) dari yang
lainnya dan mengikat seluruh pihak dalam perjanjian.
Bahwa peraturan perundang-undangan nasional harus mengatur tata cara
menyampaikan keberatan warga negara atas suatu hasil perjanjian yang telah
diratikasi. Sebab peraturan perundangan yang ada, hingga detik ini belum
ada yang mengatur tentang ketentuan tersebut.
AKIBAT PI PADA PIHAK KETIGA
PI adalah perjanjian antara subjek-subjek Hukum Internasional yang
menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban menurut Hukum Internasional.
Terdapat dua bentuk PI menurut jumlah pesertanya, perjanjian bilateral yang
jumlah pesertanya terdiri dari dua negara, perjanjian multilateral yang jumlah
pesertanya atau pihak-pihak yang terikat lebih dari dua negara. Menurut sifatnya
PI terbagi menjadi dua, yaitu PI terbuka yang memungkinkan pihak-pihak
yang bukan menjadi pihak pembuat perjanjian tersebut dapat menjadi anggota,
contoh negara Ghana, Guinea, Tanzania dapat turut serta dalam Konvensi
Jenewa pada tahun 1949 mengenai Perlindungan Korban Perang, walaupun
negara-negara itu tidak turut serta dalam Konvensi Jenewa, bahkan negara-
102 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 102
negara tadi pada waktu itu belum ada. PI tertutup yaitu: yaitu perjanjian yang
hanya dapat diikuti oleh pihak-pihak yang membuat, contoh: NATO
Suatu PI diadakan dengan maksud untuk menimbulkan akibat-akibat
hukum, dan akibat-akibat hukum tersebut hanya mengikat bagi pihak-pihak
yang mengadakan perjanjian tersebut (contracting parties), bagi pihak-pihak
di luar tersebut tidak menimbulkan akibat hukum apapun. Pasal 26 Konvensi
Wina 1969 menyatakan bahwa negara yang telah menyatakan dirinya terikat
oleh suatu PI yang telah berlaku wajib melaksanakan ketentuan perjanjian
tersebut dengan itikad baik (in good faith). Pentaatan terhadap suatu PI yang
telah dibuat dan dilaksanakan dengan itikad baik merupakan prinsip yang
fundamental dalam hukum perjanjian dan merupakan bagian integral dari asas
Pacta Sunt Servanda. Asas tersebut mengandung arti bahwa setiap perjanjian
adalah mengikat bagi para peserta perjanjian dan harus dilaksanakan dengan
itikad baik. Asas pacta sunt servanda ini bertalian erat dengan asas lain yang
dikenal dalam PI yaitu The Sanctity of Treaties (Keagungan Perjanjian).
Kewajiban negara peserta untuk melaksanakan ketentuan PI merupakan
konsekuensi logis dari keinginan negara tersebut untuk menjadi peserta PI
(consent to be bound by the treaty). Tolak ukur dari itikad baik dapat dilihat
pada saat:
1. Consent to be bound: setelah consent to be bound apabila salah satu pihak
tidak beritikad baik terhadap PI yang telah dibuat dapat berakibat batalnya
PI tersebut.
2. Pada saat pelaksanaan perjanjian (sudah melalui tahap consent to be bound
dan sudah mengikat) setelah perjanjian tersebut berlangsung apabila salah
satu pihak tidak melaksanakan dengan itikad baik apa yang telah disepakati
dalam PI maka salah satu pihak tersebut dinyatakan wanprestasi.
3. Menurut asas "pacta tertiis nex nocent nec prosund" yang berarti suatu PI hanya
mengikat para pihak pembuatnya saja dan tidak menimbulkan kewajiban-
kewajiban dan juga tidak memberikan hak bagi negara ketiga. Asas ini
memiliki kaitan yang sangat erat dengan prinsip kedaulatan negara dan
persamaan negara. Contoh: Peristiwa Clipperton, yaitu pertikaian antara
Perancis dan Mexico mengenai kedaulatan di pulau Clipperton. Dalam
kasus tersebut Mexico mempergunakan beberapa ketentuan Akte Berlin
1885 di mana Perancis adalah negara pihak. Tetapi karena Mexico tidak
ikut dalam akte tersebut, maka Hakim menolak dengan tegas tuntutan
Mexico.
103 Bab 5 Akibat PI 103
PI DAPAT MEMPUNYAI AKIBAT BAGI PIHAK KETIGA ATAS PERSETUJUAN
MEREKA
Pasal 34 Konvensi Wina 1969 menyatakan bahwa suatu PI tidak melahirkan
hak maupun kewajiban bagi negara Ketiga tanpa persetujuan dari negara yang
bersangkutan. J.G Starke juga berpendapat bahwa negara-negara yang terikat
perjanjian hanya dapat terikat oleh perjanjian dengan dasar negara tersebut
menghendaki demikian. Hal tersebut terdapat dalam ketentuan Pasal 35
Konvensi Wina 1969, yang menegaskan tentang perjanjian yang membebani
kewajiban kepada negara Ketiga, di mana pihak ketiga yang dibebani kewajiban
harus menyetujui secara tertulis.
Persetujuan tertulis dari negara Ketiga diperlukan dalam bentuk PI
tersendiri (perjanjian accesoir) persetujuan tertulis tersebut dilakukan dengan
membuat perjanjian baru dengan negara ketiga yang bersangkutan. Contoh:
Perjanjian Sejori (antara Malaysia dan Singapura) di mana wilayah ketiga
negara tersebut berdekatan antara Selangor, Johor dan Riau. Contoh riil dari
Pasal ini adalah:
Pasal 63 Konvensi Yuridiksi yang penerapan penilaian dalam persoalan
Sipil dan Komersil 1968, di mana negara-negara yang terlibat kontrak yang
kemudian menjadi anggota EEC menyadari bahwa negara baru yang menjadi
anggota EEC akan berkewajiban untuk menerima konvensi ini sebagai dasar
negosiasi. PI mempunyai akibat pada negara Ketiga baik secara langsung (direct
connection) maupun secara tidak langsung (indirect connection).
Contoh PI yang melahirkan akibat langsung (direct connection): Perjanjian
Bilateral mengenai lintas batas negara antara Indonesia dengan Australia
tentang garis-garis batas tertentu antara Indonesia dengan Papua Nugini pada
tahun 1973 dalam hal ini negara Papua Nugini berkedudukan sebagai negara
Ketiga yang mempunyai akibat secara langsung karena wilayah geograsnya
yang berdekatan dan bersinggungan.
Akibat Tidak Langsung (Indirect Connection): negara Ketiga mempunyai
kepentingan terhadap isi PI, bukan karena posisi geogras wilayahnya tapi
hal itu dikarenakan kepentingan negara ketiga tersebut untuk melewati
wilayah yang menjadi objek PI. Mengenai PI yang mempunyai akibat (dapat
memberikan hak dan kewajiban) kepada negara ketiga atas persetujuan mereka,
terdapat beberapa contoh di antaranya: Kesepakatan negara ASEAN untuk
menetapkan tarif bea masuk dalam hal ekspor impor antara negara ASEAN.
Dalam hal ASEAN melakukan perjanjian dengan Cina (ASEAN + Cina) tentang
penetapan tarif yang berlaku sama pada negara anggota ASEAN. Apabila Cina
ingin melakukan perdagangan dengan salah satu negara ASEAN Cina harus
membuat perjanjian tertulis dengan salah satu negara ASEAN tersebut.
104 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 104
PARTISIPASI PIHAK KETIGA SEBAGAI PEMANTAU
Pihak ketiga yang bukan merupakan negara pembuat perjanjian dapat pula
berpartisipasi di dalam perjanjian dengan kapasitas sebagai pemantau, tentu
saja hal tersebut harus atas undangan dari para pihak pembuat perjanjian.
PERJANJIAN YANG MEMBERIKAN HAK KEPADA NEGARA
Pasal 36 Konvensi Wina 1969 mengatur tentang PI yang memberikan hak
kepada negara Ketiga dan negara Ketiga tersebut menyetujuinya. Namun
hak yang timbul tersebut tidak bertentangan dengan peraturan lain di dalam
perjanjian. Contoh: Prinsip-prinsip WTO seperti MFN (Most Favoured Nation).
Prinsip ini mengandung arti bahwa setiap keuntungan yang diperoleh suatu
negara (negara A) dalam kaitannya dengan suatu perjanjian di bidang tertentu
dengan negara lain (negara B), akan dinikmati pula oleh negara Ketiga
(negara C) atau negara lain yang merupakan anggota negara WTO. Jadi suatu
perlakuan khusus yang diberikan pada suatu negara (negara B) harus pula
diberikan pada negara Ketiga (negara C). Negara ketiga yang bukan anggota
WTO dapat menikmati perlakuan yang disebutkan dalam prinsip MFN.
Namun hal tersebut harus diperjanjikan terlebih dahulu. Contoh lain yang
dapat membuktikan bahwa negara ketiga dapat memperoleh hak-hak dari
suatu PI adalah kebebasan untuk melewati Terusan Suez dan Terusan Kiel,
selama hal tersebut merupakan maksud baik para pihak dan persetujuan dari
negara ketiga telah terjamin.
PERJANJIAN YANG DIBUAT HANYA UNTUK MENIMBULKAN HAK
BAGI PIHAK KETIGA
Negara-negara dapat pula memasukkan perjanjian yang mengandung ketetapan
dan semuanya bertujuan untuk memberikan hak kepada negara Ketiga, baik
secara spesik maupun melalui suatu referensi dari sekelompok negara yang
memiliki peraturan tersebut.
Pasal 35 PBB, yang secara garis besar menyatakan bahwa baik negara anggota
maupun bukan anggota PBB, dapat meminta bantuan Dewan Keamanan
maupun Majelis Umum PBB dalam hal membantu menyelesaikan pertikaian
di negara yang bersangkutan. Dalam kasus Pemulihan Perdamaian Paska Jajak
Pendapat Timor-Timur, pasukan PBB (UNAMET) itu membantu pemulihan
keamanan di sana, padahal negara Timor-Timur belum menjadi anggota PBB
(syarat untuk menjadi anggota PBB adalah negara merdeka, pada saat itu
negara Timor-Timur sedang terbentuk). Permasalahan Timor-Timur dan Aceh
berbeda ruang lingkup. Pada kasus Aceh adalah murni konik separatisme.
105 Bab 5 Akibat PI 105
PI DAPAT MENGIKAT NEGARA KETIGA SEBAGAI ATURAN HUKUM
KEBIASAAN INTERNASIONAL
Sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 38 Konvensi Wina 1969, Pasal 38
Konvensi Wina 1969 menegaskan tentang adanya kemungkinan pihak-pihak
ketiga yang tidak turut serta dalam konvensi, tetap terikat pada masalah seperti
yang dirumuskan konvensi berdasarkan pada general rule. Yang dimaksud
general rule di sisi adalah Hukum Kebiasaan Internasional itu sendiri. Jadi
mengikatnya PI tersebut pada pihak ketiga adalah melalui Hukum Kebiasaan
Internasional yang diterima secara umum oleh masyarakat Internasional.
Dalam Pasal 37 Konvensi Wina 1969 dinyatakan bahwa suatu kewajiban
yang telah timbul untuk negara ketiga, kewajiban itu dapat dicabut kembali
atau dirubah hanya dengan persetujuan pihak-pihak dalam perjanjian tersebut
dan negara ketiga, (kecuali telah dilakukan perjanjian khusus sebelumnya
mengenai hal itu). Sementara hak yang telah timbul bagi negara ketiga tidak
boleh dicabut kembali atau dirubah, kecuali jika tersebut ditujukan untuk tidak
dapat dibatalkan atau dimodikasi tanpa sepengetahuan dan persetujuan
negara ketiga.
Pada perjanjian bilateral dan multilateral yang bersifat umum, tidak dapat
dipaksakan kewajiban apapun terhadap pihak ketiga, kecuali atas kehendak
negara-negara tersebut, dalam hal perjanjian multilateral yang bersifat umum
dan membentuk hukum, maka kewajiban-kewajiban yang timbul dari perjanjian
tersebut bukanlah semata-mata bersumber pada perjanjian itu sebagai "general
accepted principles of international law". Perjanjian dengan pihak ketiga
harus diberikan secara tegas dan tertulis untuk mencegah mengikatnya suatu
perjanjian bagi negara lain di luar kehendaknya.
KEWAJIBAN BAGI KELOMPOK NEGARA NON-PIHAK
PI dapat mempunyai akibat pada negara ketiga tanpa persetujuan negara-
negara ketiga. Contoh mengenai hal tersebut terdapat dalam Pasal 2 (6)
Piagam PBB yang menyatakan bahwa Organisasi ini harus memastikan bahwa
negara-negara yang bukan anggota PBB harus bertindak sesuai dengan asas
PBB sejauh mungkin bila dianggap perlu untuk perdamaian dan keamanan
Internasional harus bertindak sesuai dengan asas dari Piagam PBB. Negara-
negara anggota PBB juga harus bertindak sesuai dengan asas dari Piagam PBB.
Negara-negara anggota PBB juga harus melindungi negara lain yang bukan
merupakan anggota PBB, sesuai dengan prinsip-prinsip organisasi dalam
rangka mengupayakan perdamaian dunia.
1. Contoh dari hal ini misalnya adalah ketika PBB harus menyelesaikan
masalah Iraq, Afrika Selatan dan Rodensia, dalam hal ini PBB melibatkan
negara-negara yang bukan anggota dalam membuat resolusi, walaupun
106 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 106
semua hal itu tetap dengan mengikuti batasan dalam Pasal 2 (6) dari
Piagam PBB.
2. Contoh lain adalah isi dari Konvensi Opium 1931 yang menyatakan
kewajiban negara-negara yang tidak menjadi bagian dari konvensi tersebut
untuk bersama-sama dengan anggota dalam menghentikan batas kualitas
pengiriman narkoba.
3. Contoh: Resolusi Aset Jerman di negara-negara netral yang dimuat dalam
Final Act the Paris Conference, 21 Oktober 1945. Konferensi ini menyatakan
bahwa negara itu akan tetap netral terhadap perang melawan Jerman demi
tegaknya keadilan dan kebakan keamanan internasional yang memotivasi
berbagai kekuatan dalam upaya mereka untuk membuat Jerman menjadi
negara netral.
PARTISIPASI PIHAK KETIGA DALAM PERJANJIAN
Selain penentuan maupun perubahan hak dan kewajiban pihak ketiga yang
ditentukan oleh pihak-pihak yang membuat perjanjian, pada situasi tertentu
yang khusus di mana pihak ketiga memiliki kepentingan tertentu, maka
pihak ketiga dapat berpartisipasi dalam perjanjian dalam keadaan tertentu.
Pihak ketiga tanpa harus ambil bagian dalam perjanjian, tanpa hanya untuk
kepentingan membantu atau menengahi pihak yang melakukan atau membuat
perjanjian, pihak ketiga tersebut dapat melakukan mediasi. Contoh dalam hal
ini adalah: ketika Republik Jerman diminta untuk melakukan tindakan atas
nama Berlin (yang mana bukan merupakan bagian dari republik Federal),
dalam menyelesaikan masalah hubungan internasional, termasuk juga di
antaranya adalah dalam hal perjanjian. Namun kesimpulan dari persetujuan
yang kemudian membiarkan pihak Jerman menggunakan kewenangan militer
setelah PD II merupakan masalah yang berbeda ketika Republik Jerman berdiri,
persetujuan ini tetap sah sebagai perjanjian Republik Federal.
Negara Ketiga tersebut berpartisipasi atas undangan pihak yang melakukan
perjanjian dan kapasitas kehadirannya di dalam perundingan adalah sebatas
job description seperti yang tercantum di dalam undangan. Negara Ketiga
tersebut datang kapasitasnya sebagai penengah yang dalam forum perjanjian
tersebut mempunyai hak bicara dalam hal menengahi pihak yang melakukan
perjanjian. Namun negara Ketiga tersebut tidak ikut ambil bagian dalam
perjanjian, tidak mempunyai hak suara yang menentukan isi perjanjian dan ikut
menandatangani hasil-hasil perjanjian karena memang dia bukan merupakan
pihak yang terlibat dalam perjanjian.
Biasanya Negara Ketiga yang diundang itu adalah Negara Netral dan sudah
sering membuat PI, dan mereka juga sama sekali tidak berkepentingan dalam
perjanjian, jadi konik kepentingan tidak terjadi di sana. Setelah PI selesai
107 Bab 5 Akibat PI 107
dibuat negara Ketiga tetap ikut memantau jalannya perjanjian tersebut. PI dapat
mengikat negara Ketiga sebagai aturan hukum kebiasaan internasional.
PI yang berulang kali diadakan mengenai hal yang sama dapat menimbulkan
suatu kebiasaan internasional, artinya PI yang memperlihatkan praktik
yang sama mengenai suatu masalah tertentu dapat menimbulkan kebiasaan
internasional. Pihak ketiga yang tidak ikut dalam PI hanya tunduk pada kaidah-
kaidah hukum yang sudah menjadi kebiasaan internasional saja. Contoh:
Asas-asas ekstradisi seperti asas kewarganegaraan, asas kejahatan ganda biasa
dicantumkan dalam setiap perjanjian ekstradisi yang berlaku sebagai dasar
hukum bagi pihak untuk mengekstradisi kejahatan.
LATIHAN SOAL
1. Jelaskan bagaimana keberlakuan PI terhadap wilayah ekstrateritorial!
2. Jelaskan bagaimana status keterikatan negara-negara persemakmuran
terhadap PI yang dibuat oleh UK?
3. Jelaskan dalam keadaan bagaimana PI dapat bersangkut paut terhadap
pihak ketiga yang bukan menjadi para pihak dalam PI!
4. Jelaskan dalam posisi dan peran apa sajakah pihak ketiga dapat berpartisipasi
dalam PI di mana ia bukan menjadi para pihaknya!
5. Jelaskan Hukum Kebiasaan Internasional yang mana sajakah yang dapat
dipergunakan sebagai dasar pemberian hak bagi pihak ketiga atas suatu
PI!
6. Jelaskan apakah akibat hukum yang ditimbulkan atas peristiwa
amandemen?
7. Jelaskan apakah akibat hukum yang timbul atas peristiwa hukum
modikasi?
8. Jelaskan apakah akibat hukum yang timbul atas peristiwa hukum
revisi?
9. Jelaskan hal-hal mendasar apa sajakah yang membedakan antara amandemen
dengan revisi?
10. Jelaskan apakah terdapat kewajiban yang ditanggung oleh negara non-
pihak?
DAFTAR BACAAN
Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2001.
DJ Harris, Cases and Materials on International Law, Sweeet & Maxwell,
London, 1998.
Harjono, Politik Hukum PI, Bina Ilmu, Surabaya, 1999.
108 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 108
I Wayan Parthiana, Hukum PI, Bagian I, Mandar Maju, Bandung, 2002.
Ian Brownlie, Principle of Public International Law, 5
th
. Ed., Oxford, New
York, 1998.
Jennings and Watts, Openheim's International Law, Longham, London,
1996.
Oscar Schachter, International Law in Theory and Practice, Vol. 13, Martinus
Nuho, London, 1991.
Rebecca Wallace, International Law, 3
rd
. Ed., Sweet & Maxwell, London,
1997.
109
DESKRIPSI BAB
Bab ini memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai faktor-
faktor penyebab suatu perjanjian dinyatakan tidak sah (invalid) sekaligus
menyampaikan apa akibat hukum ketidakabsahan tersebut, baik bagi para
pihak maupun pihak ketiga yang terkait.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
sebab-sebab tidak sahnya suatu PI;
2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
akibat hukum yang timbul setelah PI dinyatakan batal dan tidak sah;
3. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
tenggat waktu untuk menyatakan ketidakabsahan suatu PI;
4. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
prosedur dan instrument dalam menyatakan ketidakabsahan suatu PI.
PENGANTAR
Dalam pengambilan keputusan tentang pernyataan suatu negara terikat pada
PI, maka di dalamnya terkandung suatu proses yang dari awal sampai dengan
akhir mencerminkan suatu sistem demokrasi, hukum, politik dan konstitusi
dari negara yang bersangkutan. Terikatnya suatu negara itu sendiri. Walaupun
Negaralah yang terikat namun secara faktual warga negara dari negara itu
sendirilah yang sebenarnya menikmati hak-hak dan memikul kewajiban yang
timbul dari PI.
Begitu luasnya dampak yang di bawah PI maka pengaturan suatu keabsahan
terhadap PI pun patut dipertanyakan sejelas-jelasnya. Beberapa hal yang juga
melatarbelakangi mengapa keabsahan PI menjadi hal yang penting adalah:
Adanya kaidah Hukum Internasional dan kaidah nasional dalam suatu
negara yang berbeda. Sehingga nantinya dapat menjadi kendala dalam
6
KEABSAHAN DAN
KETIDAKABSAHAN PI
110 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 110
penerapan suatu PI. Perbedaan kaidah hukum ini nantinya dipertanyakan
apakah akan bisa menghapus suatu keabsahan PI yang telah disetujui oleh
negara tersebut atau tidak.
Adanya beberapa macam kekuasaan untuk membuat PI dalam rangka
mewakili suatu subjek Hukum Internasional (dalam hal ini khususnya negara),
contoh:
a. Kewenangan mutlak legislatif.
b. Kewenangan mutlak eksekutif.
c. Pembagian kewenangan antara eksekutif dan legislatif.
Selain itu, hal ini juga berkaitan dengan utusan manakah dari negara tersebut
yang berangkat diberi kepercayaan dan hak untuk membuat PI. Apakah harus
Presiden, apakah harus Menteri yang terkait atau cukup dengan menunjuk
wakil suatu negara dengan dimilikinya Full Powers atau Credential Leers.
Bermacam-macam kekuasaan dan juga utusan ini nantinya akan menimbulkan
pertanyaan, manakah di antara semua yang akan diterapkan oleh suatu negara
dalam proses pembuatan PI? Hal ini mencegah agar di kemudian hari tidak
terjadi pertikaian sehingga nantinya juga berdampak dalam pemberlakuan
PI. Pengalaman di masa lalu, saat satu negara dalam pembuatan PI merasa
di bawah tekanan, paksaan, penipuan dan kekeliruan yang akhirnya akan
membawa akibat PI tersebut menyimpang dari tujuannya dan dapat merugikan
Negaranya. Jadi apakah PI tersebut masih dianggap berlaku? Mengingat
cakupan maupun internasional dari negara tersebut.
Dunia internasional rupanya telah memiliki Hukum Kebiasaan Internasional
yang sudah ada dari dulu (jus cogent) yang bersifat mengikat dan imperative
dan disebut sebagai Hukum Konstitusional Internasional. Hukum Kebiasaan
yang hidup dan berlaku dengan kuat ini tidak mungkin di samping oleh PI.
Adanya perbedaan cara untuk menyatakan penyetujuan dan penundukan diri
daripada PI tersebut dan juga perbedaan cara-cara untuk menetapkan kapan
PI berlaku. Cara penyetujuan dan waktu pemberlakuan akan menjadi penting
saat kita membicarakan kapan akibat hukum dari PI tersebut berlaku.
Suatu keabsahan menjadi menarik untuk dibicarakan karena ada banyak
sekali kepentingan yang tercakup di dalamnya. Kepentingan-kepentingan
tersebut antara lain adalah milik dari negara perunding, negara yang terikat
dalam PI itu sendiri maupun negara ketiga yang nantinya kena dampak oleh
pemberlakuan PI tersebut.
Keabsahan PI perlu dibahas untuk melindungi kepentingan tersebut di
atas dalam hal:
1. Untuk mengetahui mulai kapan suatu akibat hukum dari suatu PI berlaku.
Hal ini kembali lagi kapan waktu mulai disahkannya PI yang otomatis juga
membawa akibat hukum bagi para pihak yang melaksanakan. Jadi ada
111 Bab 6 Keabsahan dan Ketidakabsahan PI 111
alasan/landasan/dasar hukum bagi para pihak untuk melakukan apa-apa
yang telah ditentukan oleh PI tersebut.
2. Menghindari kesia-siaan dan atau kerugian dalam pembuatan dan
pemberlakuan PI yang nantinya juga dampaknya (yang merugikan) dapat
mengenal salah satu atau semua pihak dari PI.
3. Menjamin rasa aman dan ketenangan dari negara-negara yang terlibat di
dalam PI tersebut saat mereka membuat, menyetujui dan memberlakukan
PI yang mereka setujui ini memang benar-benar membawa dampak yang
baik dan menguntungkan.
4. Sebagai dasar untuk menindaklanjuti pemberlakuan PI tersebut di kemudian
hari jika terbukti dengan adanya PI tersebut saling menguntungkan satu
sama lain.
PI adalah salah satu sumber Hukum Internasional. Sebagaimana tercantum
dalam Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional, sumber-sumber Hukum
Internasional adalah:
a. PI (international convention), baik yang bersifat umum maupun yang bersifat
khusus;
b. Kebiasaan internasional (international custom);
c. Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh
negara-negara beradab;
d. Keputusan pengadilan (judicial decisions) dan pendapat para ahli yang telah
diakui keahliannya (teachings of the most highly qualied publicist), sebagai
sumber Hukum Internasional tambahan.
Untuk dapat membahas mengenai absahnya PI, kita harus mengetahui
makna dari PI itu sendiri.
Pengertian umum PI dalam pengertian yang sempit adalah "kata sepakat
antara dua atau lebih subjek Hukum Internasional mengenai suatu objek atau
masalah tertentu dengan maksud untuk membentuk hubungan hukum atau
melahirkan hak dan kewajiban yang diatur oleh Hukum Internasional". Dalam
pengertian umum di atas dapat disimpulkan bahwa:
a. Pertama, yang dipandang sebagai subjek Hukum Internasional yang dapat
mengadakan perjanjian adalah semua subjek Hukum Internasional.
b. Kedua, PI yang dapat dadikan objek adalah PI tertulis maupun tidak
tertulis.
Pengertian PI di atas disebut sebagai pengertian yang sempit karena dalam
pengertian tersebut tidak ada pembatasan mengenai subjek-subjek hukum apa
yang dapat mengadakan PI, dan PI yang berbentuk bagaimana yang dapat
dadikan objek dalam suatu PI. Ruang lingkup PI yang sempit ini hanya dapat
dipakai sebagai pedoman awal dalam pembahasan secara mendalam tentang
PI dan dapat digunakan sebagai titik tolak untuk mengklasikasikan PI.
112 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 112
Berdasarkan pengertian di atas dapat kita ketahui bahwa terdapat
pembatasan-pembatasan terhadap subjek dan objek yang dapat melakukan
PI. Subjek Hukum Internasional yang dapat mengadakan PI dibatasi menjadi
hanya subjek Hukum Internasional tertentu, seperti negara, organisasi
internasional, tahta suci, dan kelompok pembebasan. Sedangkan objek PI juga
dibatasi hanya PI yang berbentuk tertulis saja yang dapat dadikan sebagai
objek suatu PI. Pengertian yang luas ini memberi gambaran secara mendalam
mengenai klasikasi PI itu sendiri.
Sedangkan Pasal 2 Konvensi Wina 1969 mengatur bahwa yang dapat
dikatakan sebagai PI (treaty) adalah "suatu perjanjian yang dibuat antara
negara dalam bentuk tertulis dan diatur oleh Hukum Internasional, apakah
dalam instrument yang berkaitan dan apapun nama instrument tersebut". Dari
Pasal 2 Konvensi Wina 1969 tersebut juga dapat kita tarik gambaran bahwa
pihak yang dapat mengadakan PI adalah subjek-subjek Hukum Internasional
tertentu dan dibuat dalam bentuk tertulis. Pada 2 Konvensi Wina 1969 ini bisa
dikatakan merupakan implementasi dari pengertian PI dalam arti luas.
SEBAB-SEBAB TIDAK SAHNYA SUATU PI
Sebab-sebab tidak sahnya suatu perjanjian diklasikasikan menjadi dua:
1. Irregularities Formal, yaitu, tidak sahnya suatu perjanjian disebabkan oleh
bentuk perjanjian yang salah atau bertentangan (melanggar) ketentuan
Hukum Nasional.
Hal yang dimaksud dengan bertentangan dengan ketentuan Hukum
Nasional dalam bahasan ini, dibatasi hanya jika pelanggaran terhadap
ketentuan Hukum Nasional tersebut dilakukan secara sengaja, dengan itikad
buruk, terang-terangan, dan melanggar ketentuan Hukum Nasional yang
penting dan mendasar. Dengan kata lain negara tersebut dapat mengatakan
bahwa setujunya suatu negara terikat dalam PI tersebut tidak sah, hanya
bila keempat unsur tersebut di atas terpenuhi (Pasal 46 Konvensi Wina
1969 menjelaskan bahwa:
Kenyataan bahwa persetujuan negara untuk diikat suatu perjanjian berlawanan
dengan ketentuan hukum, tidak boleh dadikan alasan untuk membebaskan
diri dari perjanjian tersebut. Kecuali pelanggaran itu dilakukan dengan terang-
terangan dan mengenai ketentuan pokok dari Hukum Nasionalnya.
Sebaliknya, bila keempat unsur di atas tidak terpenuhi, maka negara
tersebut tidak boleh menyatakan bahwa setujunya suatu negara terikat
dalam PI tidak sah/batal dengan alasan tidak sesuai (melanggar) ketentuan
Hukum Nasionalnya (Pasal 46 ayat 1 Konvensi Wina 1969). Sebagai
contoh apabila Kepala Negara yang meratikasi suatu perjanjian tanpa
meminta otoritas parlemen terlebih dahulu, sedangkan menurut Hukum
113 Bab 6 Keabsahan dan Ketidakabsahan PI 113
Nasionalnya otoritas tersebut diharuskan (ratikasinya disebut ratikasi
tidak sempurna). Maka setujunya suatu negara terikat dalam PI tersebut
tetap sah walaupun melanggar ketentuan Hukum Nasional Negaranya,
karena tidak memenuhi keempat unsur di atas.
Pada dasarnya, asas keabsahan PI bergantung pada prinsip dan aturan
pada Hukum Internasional, bukan pada Hukum Nasional masing-masing
negara tertentu.
2. Irregularities Substansial, yaitu, atau tidak sahnya suatu perjanjian
disebabkan oleh hal-hal yang terkait dengan unsur pokok atau dasar
perjanjian, seperti:
a. Kekeliruan: kekeliruan yang dimaksud di sini adalah kekeliruan
mengenai unsur pokok atau dasar dari perjanjian itu sendiri. Jadi, suatu
negara dapat menyatakan bahwa setujunya suatu negara terikat dalam
PI tidak sah bila kekeliruan tersebut diketahui pada saat perjanjian
tersebut ditutup dan kekeliruan tersebut merupakan dasar yang
esensial bagi setujunya suatu negara terikat dalam PI, (Pasal 48 ayat 1
Konvensi Wina 1969). Contoh: dalam Perjanjian Paris antara Amerika
Serikat dan Inggris tertanggal 3 September 1783 mengenai penetapan
tapal batas Timur Laut antara kedua negara di Kanada. Dalam kasus
ini terdapat kesalahan penafsiran yang fatal:
i. Mengenai identikasi sebuah sungai, yaitu sungai Sainte-Croix
yang dadikan unsur dasar perjanjian. Bagi Amerika Serikat, sungai
tersebut terletak di sebelah timur, sedangkan yang dimaksud oleh
Inggris ialah sungai lain yang terletak di sebelah barat.
ii. Garis demarkasi yang disebut Highlands sebenarnya tidak ada
dan yang ada ialah dataran luas.
Dalam kasus ini kekeliruan terjadi pada unsur dasar perjanjian,
akibatnya perjanjian tersebut tidak sah/tidak berlaku sehingga kedua
negara terpaksa membuat perjanjian baru. Suatu negara tidak boleh
menyatakan bahwa setujunya suatu negara terikat dalam PI tidak sah
bila:
i. Kekeliruan tersebut disebabkan karena dari perbuatan negara itu
sendiri. Contoh: Pada perjanjian Paris, apabila Amerika Serikat
mengetahui bahwa yang dianggap sungai Sainte-Croix oleh
Inggris adalah sungai lain yang terletak di barat, tapi AS hanya
diam saja dan tidak mencegah kekeliruan itu, maka AS tidak bisa
menindaksahkan perjanjian itu karena kekeliruan ini disebabkan
perbuatan AS sendiri.
ii. Kekeliruan tersebut disebabkan oleh redaksi naskah perjanjian,
maka perjanjian itu tetap sah. Contoh: Negara Indonesia melakukan
perjanjian jual beli dengan negara Timor-Timur dan menyepakati
perjanjian tersebut dilakukan di kota Dili. Tapi pada naskah
114 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 114
perjanjian tertulis kota Deli (suatu tempat di Pulau Sumatera).
Perjanjian tersebut tetap sah walaupun naskah perjanjian tersebut
salah. Apabila kedua negara tidak ada yang keberatan dan sama-
sama menyadari bahwa yang dimaksud adalah "Dili". Masalah
pembentukan kesalahan dalam teks perjanjian bisa mengacu Pasal
79 Konvensi Wina 1969.
Jadi bila kekeliruan disebabkan karena kedua unsur di atas maka
setujunya suatu negara terikat dalam PI.
a. Penipuan: Termuat dalam Pasal 49 Konvensi Wina 1969, bahwa suatu
negara dapat menyatakan tidak sahnya suatu PI apabila persetujuan
terhadap PI tersebut didapat adanya penipuan oleh negara lain sebagai
pihak PI. Contoh Perjanjian Munich 2930 September 1938 dibuat
atas dasar penipuan Hitler, ini terbukti dari dokumen-dokumen yang
ditemukan kemudian bahwa Hitler tidak bermaksud sama sekali untuk
melaksanakannya.
b. Penyalahgunaan Wakil Negara: Suatu negara dapat menyatakan tidak
sahnya persetujuan terhadap PI jika persetujuan itu diperoleh melalui
penyalahgunaan.
Sesuai dengan Pasal 50 Konvensi Wina 1969.
c. Kekerasan: Pernyataan persetujuan negara untuk terikat pada PI tidaklah
sah apabila persetujuan itu diperoleh melalui paksaan/kekerasan
(coercion) baik terhadap wakil suatu negara yang dilakukan oleh
wakil negara lain maupun paksaan/kekerasan suatu negara terhadap
negara lain. Dalam Konvensi Wina 1969, kekerasan ada 2 macam, yaitu
kekerasan terhadap wakil-wakil suatu negara dan kekerasan terhadap
negara sebagai person moral.
Kekerasan terhadap wakil-wakil suatu negara: dalam hal ini, wakil
suatu negara menggunakan paksaan bahkan ancaman terhadap wakil
negara lain agar wakil negara tersebut setuju untuk terikat pada PI.
Maka, negara yang wakilnya mendapat ancaman/paksaan dapat
menyatakan bahwa persetujuan yang dilakukannya tersebut tidak
sah bahkan tidak mempunyai akibat hukum. Konsekuensinya adalah
negara tersebut menjadi tidak terikat dalam PI. Hal ini diatur dalam
Pasal 51 Konvensi Wina 1969.
Kekerasan terhadap negara sebagai person moral: persetujuan untuk
terikat terhadap PI juga tidak sah apabila persetujuan itu diperoleh
karena paksaan dari suatu negara dengan ancaman/penggunaan
kekuatan terhadap negara lain, yang melanggar prinsip-prinsip Hukum
Internasional yang tertuang dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.
Ketentuan ini diatur dalam Pasal 52 Konvensi Wina 1969.
d. Pertentangan dengan Ius Cogent: Suatu PI dinyatakan tidak sah,
apabila penutupan perjanjian tersebut bertentangan dengan Ius
115 Bab 6 Keabsahan dan Ketidakabsahan PI 115
Cogent. Ius Cogent adalah normal-normal yang tidak dapat diubah dari
Hukum Internasional, yang telah diterima dan diakui oleh masyarakat
internasional menjadi hukum kebiasaan. Contoh:
1. Asas Pacta Sunt Servanda, yaitu bahwa suatu perjanjian yang
telah disepakati mengikat para pihak dalam perjanjian itu seperti
undang-undang.
2. Asas Privity of Contract, artinya perjanjian hanya mengikat bagi
pihak-pihak yang turut berbuat perjanjian tersebut.
3. Asas Pacta Tertiis Nex Nocen Nec Prosunt, yaitu bahwa perjanjian
tidak dapat menimbulkan kewajiban-kewajiban dan memberikan
hak pada negara-negara pihak ke-3.
Keberadaan norma-norma/asas-asas di atas tidak menutup kemungkinan
untuk lahirnya sebuah norma baru dalam Hukum Internasional selama
norma baru tersebut mempunyai karakter yang sama dengan norma
Hukum Internasional umum sebelumnya. Dengan lahirnya norma
baru dalam Hukum Internasional umum maka setiap perjanjian yang
penutupannya bertentangan dengan norma baru tersebut menjadi
batal dan terakhir. Diatur dalam Pasal 64 Konvensi Wina 1969.
Dengan demikian, penutupan PI yang bertentangan dengan norma-
norma internasional umum yang telah ada maupun norma-norma
Hukum Internasional umum baru yang lahir akan menjadi tidak sah
dan perjanjian tersebut menjadi batal dan tidak mempunyai akibat
hukum.
3. Pembatasan-pembatasan Khusus
Terdapat suatu perbatasan-perbatasan khusus atas kewenangan seorang
wakil untuk memberikan persetujuan negara terhadap PI. Oleh karenanya
wakil dari suatu negara tersebut tidak boleh melakukan hal-hal di luar
kewenangan yang diberikan negara pada-Nya. Jika ia melakukan hal
tersebut maka penghilangan pembatasan itu tidak bisa dadikan alasan
untuk menyatakan tidak sahnya setujunya suatu negara terikat dalam PI,
kecuali diberikan terlebih dahulu kepada pihak-pihak negara perunding
lainnya (Pasal 47 Konvensi Wina 1969).
AKIBAT-AKIBAT BATAL/TIDAK SAH-NYA SUATU PERJANJIAN
Pasal 69 Konvensi Wina 1969: Setiap PI yang memenuhi syarat-syarat
ketidaksahan yang sesuai dengan syarat-syarat yang ada menurut Konvensi
ini, tidak mempunyai akibat hukum, dengan kata lain Perjanjian tersebut
adalah batal seperti yang tersebut dalam (Pasal 69 ayat 1 Konvensi Wina
1969). Terhadap PI yang tidak sah tersebut, selain dianggap batal karena tidak
116 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 116
mempunyai kekuatan hukum, jika para pihak telah melakukan setiap hal yang
seharusnya dilakukan dalam perjanjian maka persamaan dengan pembatalan
tersebut maka para pihak dapat:
1. Meminta pihak lainnya agar keadaan kembali seperti sebelum terjadi
PI tersebut. Hal ini berarti bahwa dengan adanya pembatalan ini maka
dianggap tidak pernah timbul adanya perjanjian.
2. Meminta pihak lainnya untuk menganggap perbuatan-perbuatan yang
dilakukan oleh para pihak sebelum PI dinyatakan tidak sah, dapat
dinyatakan sah seperti yang seharusnya jika PI tersebut dinyatakan sah.
Namun, permintaan tersebut tidak dapat berlaku terhadap alasan-alasan
ketidaksahan sebagai berikut: penipuan, penyalahgunaan seorang wakil suatu
negara, pelaksanaan dari seorang wakil suatu negara, pelaksanaan dari suatu
negara dengan ancaman atau penggunaan kekuatan. Sehingga, dalam hal ini
sekalipun terdapat itikad baik dalam perbuatan PI oleh negara pihak, perjanjian
tersebut tetap dianggap tidak sah. Pembatasan yang dimaksud dalam Pasal
69 Konvensi Wina 1969 ini, hanya berlaku dalam hubungan antara negara
pihak lain dalam perjanjian tidak terpengaruh masih berjalan normal seperti
yang seharusnya.
Pasal 71 Konvensi Wina 1969: Ketidakabsahan suatu PI yang timbul
diakibatkan oleh adanya pelanggaran terhadap normal imperatif seperti
yang termuat dalam Pasal 53 konvensi ini (pelanggaran yang timbul karena
perjanjian tersebut bertentangan dengan jus cogent), mengakibatkan batalnya
perjanjian tersebut. Terhadap pembatalan ini, setiap negara pihak harus dapat
menyelesaikan diri dengan norma tersebut, dan menyelaraskan perjanjian
tersebut dengan norma yang berlaku dalam Hukum Internasional. Dalam
hal pembatalan yang timbul karena perjanjian tersebut bertentangan dengan
norma-norma Hukum Internasional (Jus Cogent) yang baru, maka para pihak
dibebaskan dari kewajiban melaksanakan perjanjian tersebut. Selain pembebasan
terhadap kewajiban pelaksanaan perjanjian, hak, kewajiban, dan akibat hukum
yang timbul sebelum, saat, dan sampai berakhirnya perjanjian tidak akan
terpengaruh oleh norma-norma baru tersebut, sejauh hal-hal dalam perjanjian
tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma yang baru tersebut.
HILANGNYA HAK UNTUK MENYATAKAN TIDAK SAH
Setelah mengetahui syarat-syarat tentang tidak sahnya suatu perjanjian
yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, yang termuat dalam Pasal 46
sampai 53 Konvensi Wina 1969. Jelasnya terdapat kriteria untuk sebuah PI
dapat dinyatakan tidak sah. Pada dasarnya setiap dapat untuk menyatakan
sah atau tidak suatu PI yang telah dibuat. Namun terdapat hal-hal tertentu
yang membuat suatu negara kehilangan haknya untuk menyatakan bahwa
117 Bab 6 Keabsahan dan Ketidakabsahan PI 117
suatu PI tidak sah. Hal ini diatur dalam Pasal 45 Konvensi Wina 1969 tentang
hilangnya hak untuk mengemukakan dasar untuk menyatakan tak sahnya,
pengakhiran, penarikan diri atau penundaan bekerjanya perjanjian, sebagai
berikut: "suatu negara tidak lagi dapat mengemukakan dasar alasan untuk
menyatakan tidak sahnya, pengakhiran, penarikan diri dari atau penundaan
bekerjanya suatu perjanjian di bawah Pasal 46 sampai 50 atau Pasal 60 dan 62
jika, sesudah sadar akan kenyataan-kenyataan yang ada:
a. Ia tentu dengan tegas setuju bahwa perjanjian itu sah atau tetap berlaku
atau terus bekerja, sebagaimana ini terjadi kelak; atau
b. Dengan alasan tingkah lakunya harus dianggap sebagai telah menyetujui
absahnya perjanjian itu atau pemeliharaan berlakunya atau bekerjanya,
sebagaimana hal ini terjadi kelak.
Dari Pasal di atas dapat dipahami bahwa suatu negara dapat kehilangan
haknya untuk menyatakan sah atau tidaknya sebuah PI, jika:
1. Secara Tegas Menyetujui Sebuah PI: jika suatu negara secara terang-terangan
atau tertulis bahwa ia menyetujui suatu PI maka ia tidak boleh lagi untuk
menyatakan/memberi pernyataan tidak sah PI tersebut, karena ia sudah
menyetujui secara tegas dan dianggap telah mengetahui dan memahami
isi/substansi PI tersebut.
2. Persetujuan dilakukan berdasarkan penilaian tingkah laku dan pernyataan
secara implisit suatu negara bahwa ia setuju terhadap sebuah PI.
Dengan begitu negara tersebut tidak dapat menyatakan tidak sahnya
suatu PI.
PROSEDUR DAN I NSTRUMEN DALAM MENYATAKAN
KETIDAKABSAHAN PI
Walaupun Konvensi telah menetapkan sekian banyak alasan yang dapat
digunakan oleh suatu negara peserta untuk menuntut pembatalan (akibat
ketidakabsahan perjanjian) namun konvensi ini tidak menetapkan suatu cara
penyelesaian persengketaan yang wajib atau dengan kata lain mewajibkan para
pihak untuk mengikutinya melainkan hanya menetapkan prosedurnya saja.
Dalam Konvensi Wina 1969 Pasal 65 ditetapkan kewajiban prosedural bagi
suatu negara peserta yang dimaksud untuk mengadakan tuntutan pembatalan
perjanjian yakni:
1. Negara yang ingin menyatakan ketidakabsahan terhadap persetujuan PI
harus lebih dulu memberikan maksudnya secara tertulis disertai alasan
kepada pihak-pihak dalam PI.
118 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 118
2. Jika setelah tiga bulan sejak penerimaan pemberitahuan itu tidak ada
keberatan dari para pihak peserta lain, negara tersebut dapat menyatakan
bahwa PI tidak berlaku untuknya. Pernyataan tersebut menurut Pasal 67
harus ditulis dalam suatu instrumen yang ditandatangani oleh Kepala
negara atau Kepala Pemerintahan atau Menlu ataupun oleh wakil yang
ditunjuk untuk itu dengan surat kuasa (Full Power).
3. Jika ada pernyataan keberatan dari negara-negara pihak pada perjanjian
tersebut maka para pihak harus menyelesaikan perselisihan mereka secara
damai sesuai dengan Pasal 33 Piagam PBB yaitu dengan cara perundingan,
penyelidikan, dengan peraturan, pemufakatan, perwasitan. Penyelesaian
menurut hukum, melalui badan-badan atau persetujuan-persetujuan
setempat, atau dengan cara damai lainnya yang dipilih sendiri atau apabila
dianggap perlu Dewan Keamanan akan meminta pihak-pihak yang bertikai
untuk menyelesaikan pertikaiannya dengan cara-cara demikian. Namun
bila dalam waktu 12 bulan terhitung dari waktu diajukannya pernyataan
keberatan tidak juga tercapai pernyataan secara damai, sesuai dengan
Pasal 66 (1) KW maka penyelesaian sengketa harus dilanjutkan dengan
mengajukan persoalannya ke Mahkamah Internasional atau pada suatu
arbitrate Internasional bila perselisihan terkait dengan penerapan atau
penafsiran mengenai Jus Cogent/pembentukan Jus Cogent yang baru.
Sedangkan Pasal 66 (2) Piagam PBB bila terkait dengan penerapan atau
penafsiran dalam bagian lima dari Konvensi maka setiap pihak boleh
melaksanakan prosedur yang dituangkan dalam Annex Konvensi dengan
mengajukan permohonan akan hal-hal itu kepada Sekjend PBB.
4. Ketiga ayat di atas tidak memengaruhi hak dan kewajiban para pihak
mengenai penyelesaian sengketa. Negara yang membuat pernyataan
secara tertulis seperti ayat 1 tidak mencegah pihak lain untuk menuntut
pelaksanaan perjanjian atau mengemukakan pelanggaran-pelanggaran
atas PI.
Dibentuknya suatu Komisi Konsiliation yang terdiri dari ahli-ahli yang
berwibawa sebagai Konsiliation yang dipilih dari suatu daar nama atau yang
diusulkan oleh negara-negara Konvensi dan anggota-anggota PBB. Setiap
pihak yang bersengketa dapat memilih dua orang Konsiliator satu dari warga
Negaranya sendiri dan yang satu lagi dari nama-nama yang terdaar tersebut.
Tugas Komisi Konsiliasi adalah mendengar pihak-pihak yang bersengketa,
mempelajari tuntutan-tuntutan, surat keberatan mereka dan membuat usulan-
usulan untuk mencapai suatu penyelesaian persengketaan secara damai. Laporan
diserahkan kepada Sekjend PBB dan para pihak, sifat laporan tidak mengikat,
hanya bersifat rekomendasi untuk suatu penyelesaian secara damai.
119 Bab 6 Keabsahan dan Ketidakabsahan PI 119
KEABSAHAN PI DALAM PERATURAN PERUNDANGAN NASIONAL
INDONESIA
Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia tidak bisa terlepas dari interaksi
dengan negara-negara lain. Salah satu wujud dari hubungan tersebut tampak
dari PI yang diikuti Indonesia. PI tersebut dapat berlaku dan mempunyai
kekuatan mengikat bagi negara-negara para pihak maupun negara-negara di
luar PI yang telah meratikasinya apabila keabsahan dari PI yang bersangkutan
dapat dipertanggungjawabkan. Ukuran keabsahan itu sendiri umumnya relatif
karena suatu perjanjian adalah atas dasar kesepakatan para pihak. Termasuk
untuk menentukan sejauh mana batas keabsahan dari PI yang bersangkutan.
Dalam skala domestik, Indonesia tidak memiliki aturan yang secara khusus
memberi koridor akan keabsahan suatu PI. Hingga, tidak ada dasar yang
dapat digunakan oleh Indonesia untuk dapat digunakan mengukur sah atau
tidaknya suatu PI.
Bahwa penerapan Konvensi Wina 1969 dalam menentukan absahnya suatu
PI atau absahnya setujunya suatu negara untuk terikat pada suatu PI (consent
to be bound) merupakan hal yang mutlak harus dilakukan oleh pihak-pihak
dalam suatu perjanjian di samping juga pengaturan dalam Undang-Undang
ataupun Keppres (Praktik di Indonesia). Faktor-faktor yang tidak menyebabkan
suatu perjanjian secara otomatis tidak sah antara lain:
1. Apabila suatu PI dinyatakan melanggar ketentuan Hukum Nasional suatu
negara (berlakunya disebut Irregularities Formal). Pengecualian jika hal
tersebut dilakukan secara sengaja, terang-terangan dan dengan itikad
buruk.
2. Penghilangan atas pembatasan kewenangan wakil dari suatu negara
jika tidak diberitahukan terlebih dahulu sebelum pemberitahuan atas
persetujuan terhadap suatu PI.
Faktor-faktor yang menyebabkan suatu PI tidak sah antara lain (Irregularities
Substansial):
1. Kekeliruan, contoh: Perjanjian Paris antara Amerika Serikat dan Inggris
tanggal 3 September 1783 mengenai tapal batas.
2. Penipuan, contoh: Perjanjian Munich 2930 September 1938 dibuat atas
penipuan Hitler sendiri.
3. Korupsi Wakil Negara
4. Kekerasan dapat dibagi 2: kekerasan yang dilakukan terhadap wakil
dari suatu negara. Contoh: Kekerasan dan ancaman yang dilakukan oleh
Hitler kepada Presiden Hacha dan Menlunya Chvalkovsky di Berlin 15
Maret 1939 dan kekerasan yang dilakukan kepada negara sebagai person
moral.
120 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 120
Suatu negara dapat kehilangan hak untuk mengatakan tidak sahnya suatu
PI. Jika ada PI yang bertentangan dengan perjanjian sebelumnya maka akan
menimbulkan persoalan pada prioritas pelaksanaannya. Konvensi Wina 1969
sangat memberikan prioritas atau primat pada Ius Cogent. Dalam Konvensi
Wina 1969 diatur bahwa suatu negara yang merupakan pihak dalam perjanjian
dapat membatalkan PI yang telah diikutinya. Batalnya suatu PI berakibat
antara lain:
a. Negara pihak dalam harus mengembalikan pada keadaan semula, seolah-
olah tidak ada perjanjian sama sekali.
b. Jika batal karena melanggar norma Imperatif, maka negara pihak harus
menyelesaikan diri dengan norma tersebut.
Jika dalam suatu proses Consent to be bound dari suatu negara tidak sah,
maka hal tersebut hanya mengikat negara yang bersangkutan, sedangkan
hubungan yang menyangkut perjanjian tetap normal antara negara pihak
lainnya. UU PI mengatur mengenai pengesahan antara lain:
a. Dalam melakukan pengesahan mengacu pada asas kebebasan
berkontrak
b. Prosedur, apakah disahkan dengan Undang-Undang atau Keppres
(Pemerintah membuat salinan kepada DPR untuk dievaluasi jika merugikan
kepentingan nasional dapat dibatalkan), atau PI yang langsung dapat
diterapkan tanpa pengesahan, misalnya: di bidang pendidikan, pariwisata,
kesehatan, keluarga berencana dan lain-lain.
c. Pengesahan melalui Undang-Undang berdasarkan materi perjanjian bukan
berdasarkan bentuk dan nama perjanjian.
d. Pihak yang berhak menandatangani piagam pengesahan untuk mengikatkan
pemerintah RI pada suatu PI.
LATIHAN SOAL
1. Jelaskan hal-hal apa sajakah yang dapat menjadi sebab ketidakabsahan
suatu PI!
2. Jelaskan akibat hukum yang timbul dari batal atau tidak sahnya suatu
PI
3. Jelaskan bagaimana prosedur dan instrument dalam menyatakan
ketidakabsahan suatu PI
4. Jelaskan bilamana hak untuk menyatakan ketidakabsahan dapat hilang!
5. Jelaskan bagaimana pengaturan tentang ketidakabsahan berdasarkan UU
PI.
121 Bab 6 Keabsahan dan Ketidakabsahan PI 121
DAFTAR BACAAN
Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2001.
DJ Harris, Cases and Materials on International Law, Sweeet & Maxwell,
London, 1998.
Harjono, Politik Hukum PI, Bina Ilmu, Surabaya, 1999.
I Wayan Parthiana, Hukum PI, Bagian I, Mandar Maju, Bandung, 2002.
Ian Brownlie, Principle of Public International Law, 5
th
. Ed., Oxford, New
York, 1998.
Jennings and Watts, Openheim's International Law, Longham, London,
1996.
Oscar Schachter, International Law in Theory and Practice, Vol. 13, Martinus
Nuho, London, 1991.
Rebecca Wallace, International Law, 3
rd
. Ed., Sweet & Maxwell, London,
1997.
123
DESKRIPSI BAB
Materi ini merupakan pengantar bagi mahasiswa untuk mendapatkan
pemahaman dasar tentang lingkup berlakunya Konvensi Wina 1969, arti
penting Konvensi Wina 1969 dan kaitannya dengan Hukum Internasional
umum. Pengetahuan dasar tentang Hukum PI yang meliputi Sumber Hukum
Pengaturan PI (Regim Hukum Internasional dan Regim Hukum Nasional),
Denisi PI, Fungsi PI, Penyebutan dan Penamaan PI, dan Klasikasi PI.
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu menjelaskan peran dan fungsi PI dalam hubungan
internasional;
2. Mahasiswa mampu membedakan PI dengan perjanjian yang berkarakter
internasional
3. Mahasiswa mampu memberikan contoh-contoh PI yang dibuat dalam
kerangka negara, organisasi internasional, dan konferensi internasional;
4. Mahasiswa mampu mengidentikasi PI berdasarkan pengklasikasian
PI;
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
hal-hal yang dapat menyebabkan suatu PI menjadi batal;
2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
hal-hal yang dapat menyebabkan pembatalan pemberlakuan suatu PI;
3. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
prosedur pembatalan PI;
4. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa tentang
akibat hukum yang timbul atas batalnya suatu PI.
7
PEMBATALAN PI
124 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 124
PENGANTAR
Dalam masa dewasa ini kepentingan negara-negara di dunia sangatlah
beragam, negara-negara tersebut tidak hanya menginginkan keuntungan
di bidang ekonomi saja tetapi mereka juga ingin keuntungan di bidang lain
seperti politik serta pertahanan dan keamanan, negara-negara tersebut juga
menginginkan adanya pengaruh yang kuat terhadap negara-negara lain oleh
karena itu mereka selalu berusaha untuk mewujudkan apa yang menjadi
harapan mereka salah satu dari cara untuk mewujudkan harapan tersebut
adalah dengan mengadakan PI, peranan PI dalam kehidupan negara tersebut
untuk membentuk suatu hubungan timbal balik antara negara yang satu dengan
negara yang lain atau antara negara dengan organisasi internasional yang lain.
Dengan adanya PI maka negara yang satu dapat saling berhubungan dengan
negara lain atau dengan suatu organisasi internasional.
PI tersebut akan membuka komunikasi antarnegara yang mengikutinya,
sehingga nantinya akan terwujud tujuan dari perjanjian tersebut yang tidak
lain merupakan tujuan dari negara pengikutnya. Tetapi ada juga peserta dari
perjanjian tersebut yang mengikuti suatu PI karena paksaan dari pihak lain
yang lebih berkuasa sehingga negara tersebut harus menjadi pesertanya, latar
belakang terjadinya hal tersebut adalah adanya faktor kepentingan pihak
(negara) yang lemah terhadap negara yang kuat, sehingga mereka (negara
kuat) dapat memaksakan kepentingan mereka terhadap negara tersebut.
Pada saat ini PI tidak hanya mengatur tentang kerja sama ekonomi saja, tetapi
juga ada yang mengatur tentang masalah-masalah lain seperti masalah teknik,
kebudayaan, pertahanan, keamanan, batas wilayah dan lain-lain, untuk itu
maka pengaturan-pengaturan mengenai PI tersebut haruslah diatur sedemikian
rupa, karena perjanjian tersebut tidak hanya menyangkut negara-negara saja,
tetapi masyarakat (rakyat banyak) dalam negara itu. Pengertian dari PI itu
sendiri menurut Konvensi Wina 1969 Tentang Hukum Perjanjian adalah suatu
persetujuan yang dibuat antarnegara dalam bentuk tertulis, dan diatur oleh
Hukum Internasional, apakah dalam instrumen tunggal atau dua atau lebih
instrumen yang berkaitan dan apapun nama yang diberikan padanya.
Pada peraturan tersebut mengatur tentang peraturan mulai dari pembuatan
PI sampai dengan pembatalannya, banyak sekali proses-proses yang diatur
dalam peraturan tersebut, di dalam sebuah PI yang telah di consent to be bound
oleh suatu negara dan telah sah sebagai sebuah PI, maka berlaku asas pacta sunt
servanda (perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang mengikatnya). Keberadaan asas ini dalam sebuah perjanjian
tidaklah sepenuhnya bersifat mutlak, karena terdapat beberapa alasan-alasan
tertentu bagi para pihak dalam perjanjian itu untuk:
a. Membatalkan sebuah perjanjian karena tidak sahnya sebuah perjanjian
(invalidity)
b. Menuntut pemberhentian berlakunya sebuah PI (termination)
125 Bab 7 Pembatalan PI 125
c. Penarikan diri dari sebuah PI (withdrawal)
d. Penangguhan berlakunya sebuah PI (suspension)
Karena adanya keempat alasan di atas, maka secara otomatis dapat
digunakan oleh para pihak untuk menyimpangi asas pacta sunt servanda ini,
maka untuk menciptakan sebuah kepastian hukum terhadap pelaksanaan
sebuah PI yang telah di Consent to be Bound dan berlaku secara sah sebagai
sebuah PI, maka Konvensi Wina melakukan pembatasan-pembatasan terhadap
alasan-alasan yang dapat diajukan untuk melakukan invalidation, termination,
withdrawal, dan suspension. Pembatasan-pembatasan ini diatur dalam Pasal
42 Konvensi Wina 1969 yang secara tegas menyatakan bahwa alasan-alasan
yang dapat digunakan untuk melakukan invalidation, termination, withdrawal,
dan suspension hanyalah sebatas alasan-alasan yang telah termuat dalam
ketentuan Konvensi Wina 1969.
Pengertian "Ketentuan-ketentuan yang termuat dalam Konvensi Wina ini"
sebagaimana diatur dalam Pasal 42 Konvensi Wina 1969 hendaknya diartikan
bukan hanya berdasarkan Pasal-Pasal yang mengatur mengenai permasalahan
ini saja, tetapi juga didasarkan pada Pasal-Pasal yang mengatur prosedur
sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 65 sampai dengan 68 Konvensi Win
1969, sehingga segala ketentuan-ketentuan yang termuat dalam Pasal 46
sampai dengan Pasal 53 juga haruslah sesuai dengan ketentuan-ketentuan
yang termuat dalam Pasal 65 sampai dengan Pasal 68 Konvensi Wina 1969
dalam ketentuan umum Konvensi Wina lainnya menyatakan bahwa negara
peserta berhak menuntut pembatalan, pengunduran diri dan penangguhan
berlakunya beberapa Pasal atau bagian dari suatu perjanjian, jika perjanjian
tersebut secara tegas memperbolehkannya, sebagaimana diatur dalam Pasal
44 Konvensi Wina 1969. Ketentuan munculnya Pasal 44 ini dilatarbelakangi
karena suatu PI yang dibuat antarnegara-negara berdaulat, sehingga kurang
tepat apabila suatu perjanjian itu batal atau berhenti berlaku disebabkan
karena beberapa bagiannya tidak disetujui lagi oleh satu atau beberapa negara
pesertanya. Jadi syarat-syarat yang utama adalah bahwa pembatalan/berhenti
berlakunya/penangguhan tersebut tidak boleh mengakibatkan terganggunya
keseimbangan dari kepentingan-kepentingan negara-negara peserta lainnya
dan kewajiban-kewajiban utama yang ditimbulkan oleh perjanjian itu.
SEBAB-SEBAB BATALNYA PERJANJIAN
Dalam suatu PI yang telah di Consent to be Bound oleh suatu negara dan telah
sah sebagai sebuah PI maka berlakulah asa Pacta Sunt Servanda (perjanjian
yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
menjadi pihak). Namun asas ini tidak berlaku mutlak karena terdapat beberapa
alasan bagi salah satu pihak untuk:
126 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 126
a. Membatalkan sebuah perjanjian karena tidak sahnya sebuah perjanjian
(invalidity)
b. Menuntut pemberhentian berlakunya sebuah PI (termination)
c. Penarikan diri dari sebuah PI (withdrawal)
d. Penangguhan berlakunya sebuah PI (suspension)
Sebagai bentuk-bentuk penyimpangan terhadap asas pacta sunt servanda
di atas. Untuk itulah maka kemudian dalam Konvensi Wina 1969 diberikan
suatu pembatasan-pembatasan secara tegas terhadap alasan-alasan yang dapat
digunakan untuk invalidation, termination, withdrawal, dan suspension guna
menciptakan sebuah kepastian hukum terhadap pelaksanaan PI yang telah di
Consent to be Bound dan berlaku sah sebagai suatu perjanjian. Hanya penerapan
ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Wina ini saja yang dapat menjadi dasar
untuk pengakhiran, pemutusan atau penarikan diri sebagai pihak dalam suatu
perjanjian (Pasal 42 ayat 2 Konvensi Wina 1969). Ketentuan-ketentuan yang
menjadi dasar itu adalah sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 46 sampai
Pasal 53 Konvensi Wina 1969:
Iregularitas Formal (Pasal 46 dan Pasal 47 Konvensi Wina 1969), bahwa
suatu negara dapat membatalkan persetujuannya terikat suatu perjanjian
karena adanya pelanggaran terhadap ketentuan konstitusi nasionalnya terkait
dengan kompetensi kuasa penuhnya. Pelanggaran yang dilakukan kuasa
penuh tersebut harus menyangkut ketentuan hukum yang fundamental dan
pelanggaran itu mudah diketahui (manifest violation). Dalam konvensi tidak
ditegaskan tentang pelanggaran yang mana yang merupakan manifest violation
sehingga untuk pembatalan perjanjian dengan alasan iregularitas formal akan
disesuaikan dengan kaidah-kaidah tertentu per kasus dan ditinjau lagi menurut
itikad baik dari negara-negara peserta.
Namun untuk kasus di mana seorang delegasi diberi wewenang yang dibatasi
oleh syarat-syarat tertentu dalam membuat suatu perjanjian maka pelanggaran
yang dilakukan oleh delegasi dapat diajukan sebagai alasan pembatalan bila
negara-negara peserta lainnya telah memberitahukan hal itu sebelum negara
yang bersangkutan itu melakukan consent to be bound.
Iregularitas Substansial
a. Kekeliruan (Pasal 48 Kovensi Wina 1969), hanya dapat membatalkan sahnya
perjanjian apabila menyangkut unsur pokok atau dasar dari perjanjian
itu sendiri. "Error in Treaty" menurut Pasal 48 (2) Konvensi Wina 1969
dapat diartikan sebagai setiap kesalahan dari fakta atau keadaan yang
ada hubungannya dengan perjanjian. Contoh Perjanjian Paris antara
USA dan Inggris tanggal 3 September 1783 tentang penetapan tapal batas
Timur Laut antara kedua negara di Kanada, di mana terdapat kesalahan
127 Bab 7 Pembatalan PI 127
rangkap tentang identikasi sungai Salnte-Crolx yang dadikan unsur
dasar perbatasan. Bagi Amerika Serikat sungai tersebut terletak di Timur,
sedangkan yang dimaksud Inggris ialah sungai lain yang terletak di bagian
barat dan garis demarkasi yang disebut highlands sebenarnya tidak ada
dan yang ada adalah daratan luas. Perjanjian kerja sama di bidang hydro
electric power di mana delegasi USA menyatakan adanya kesalahan
jumlah kapasitas "turbines" yang menjadi dasar perjanjian. Sedangkan
terhadap kekeliruan tentang redaksi naskah perjanjian tidak membatalkan
keberlakuan perjanjian tersebut (Pasal 48 (3) Konvensi Wina 1969).
Untuk pembetulan terhadap kesalahan menyangkut teknologi yang
digunakan dalam suatu perjanjian maka berdasarkan Pasal 79 (1) Konvensi
Wina 1969 maka kesalahan harus dibetulkan. Jika mereka tidak memutuskan
cara pembetulan yang lain, maka pembetulan dilakukan dengan:
1. Membuatkan pembetulan yang cukup dalam teks dan pembetulan itu
di paraf oleh wakil yang telah diberi wewenang secara sah.
2. Dengan membuat atau mempertukarkan instrumen/instrumen-
instrumen yang memuat pembetulan yang telah disetujui untuk
diadakan pembetulan.
3. Dengan membuat teks yang telah dibetulkan dari keseluruhan perjanjian
dengan prosedur seperti pada teks asli.
4. Apabila perjanjian memiliki suatu tempat penyimpanan, maka negara
penyimpanan harus memberitahu negara penandatangan dan negara
berjanji mengenai kesalahan, usul pembetulan serta batas waktu untuk
pengajuan keberatan terhadap pembetulan yang diusulkan. Apabila
dalam batas waktu itu: tidak ada keberatan dari negara peserta lainnya
maka negara penyimpan membuat, memaraf pembetulan dalam
teks dan lalu mengadakan suatu proses verbal dari pembetulan teks
tersebut dan menyampaikan salinannya kepada negara peserta lainnya.
Ada keberatan yang diajukan, penyimpanan harus memberitahukan
keberatan kepada negara peserta lainnya. Teks pembetulan itu secara
abinito menggantikan teks yang cacat apabila para pihak tidak
menentukan lain.
b. Penipuan (Pasal 49 Konvensi Wina 1969), lebih dikenal dengan "fraud"
merupakan salah satu alasan yang dapat diajukan untuk pembatalan.
Namun dalam praktik Hukum Internasional, pendenisian unsur "fraud"
dan contoh kasusnya jarang ditemui. Sehingga nantinya jika ada kasus di
muka Mahkamah Internasional maka untuk pendenisiannya ditentukan
dalam praktik dan oleh lembaga peradilan-peradilan internasional. Contoh:
Perjanjian Munich 2030 September 1938 dibuat Hitler atas dasar penipuan.
Ini terbukti dari dokumen-dokumen yang ditemukan kemudian bahwa
Hitler tidak bermaksud sama sekali untuk melaksanakannya. Terhadap
128 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 128
masuknya alasan penipuan dalam ketentuan Konvensi ini memunculkan
berbagai pertentangan, namun pada akhirnya alasan ini tetap dicantumkan
dalam konvensi.
c. Kelicikan/akal busuk (Pasal 50 Konvensi Wina 1969), lebih dikenal dengan
"corruption" yang berarti kelicikan baik berupa akal busuk atau penyuapan
terhadap kuasa penuh suatu negara peserta pada waktu pembentukan
perjanjian. Alasan corruption ini tidak terdapat dalam Hukum Internasional,
sehingga banyak negara peserta menentang dimuatnya alasan ini dalam
konvensi, sebab sulit untuk membedakan antara unsur corruption di satu
pihak dan penipuan di lain pihak.
d. Kekerasan, adalah apabila terjadi ancaman atau penggunaan kekerasan
yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Hukum Internasional yang
terdapat dalam piagam PBB (Pasal 52 Konvensi Wina 1969), dan kekerasan
ini dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu kekerasan yang dilakukan terhadap
wakil suatu negara dan kekerasan yang dilakukan kepada negara sebagai
pesan moral. Maka apabila terjadi kekerasan dalam hal ini, PI tersebut tidak
berlaku (Pasal 51 Konvensi Wina 1969). Contoh: kekerasan dan ancaman
yang dilakukan Hitler kepada presiden Hacha dan Menteri luar negerinya
Chvalkovsky di Berlin 15 Maret 1939 untuk menandatangani perjanjian
protektorat Jerman di Propnsi Bohemia, Moravia, Cekoslovakia.
e. Perjanjian yang bertentangan dengan perjanjian sebelumnya.
i. Antara Perjanjian dengan perjanjian, maka tidak ada persoalan tentang
keberlakuannya, yang menjadi masalah hanyalah masalah prioritas
pelaksanaannya. Pasal 103 Piagam PBB memberi pemecahan bahasa
apabila terjadi pertentangan antara kewajiban anggota PBB berdasarkan
piagam dengan kewajiban mereka terhadap suatu perjanjian, maka
kewajiban terhadap PBB harus diutamakan.
ii. Antara Perjanjian dengan hukum kebiasaan (Jus cogen dan Jus
dispositum)
a. Apabila bertentangan dengan Jus Cogen, maka perjanjian
tersebut menjadi tidak berlaku. Sebab Jus Cogen adalah norma
imperatif Hukum Internasional yang telah diterima dan diakui
oleh masyarakat Internasional (Pasal 53 Konvensi Wina 1969).
Sedangkan apabila bertentangan dengan Jus dispositum tidaklah
menjadi masalah, karena Jus dispositum bersifat mengikat namun
tidak imperatif dan dapat diubah oleh suatu konvensi.
b. Apabila timbul norma Hukum Internasional baru, maka terhadap
perjanjian yang berlawanan dengannya akan menjadi tidak sah
dan berakhir (Pasal 64 Konvensi Wina 1969).
129 Bab 7 Pembatalan PI 129
Tentang ketentuan prosedur pembatalan perjanjian diatur lebih lanjut dalam
Pasal 65 sampai 68 Konvensi Wina 1969. Harus diingat bahwa pada dasarnya
hak salah satu pihak untuk memutuskan perjanjian, menarik diri atau menunda
berlakunya perjanjian hanya dapat dilakukan berkenaan dengan keseluruhan
perjanjian, tetapi diperkenankan juga berlaku untuk beberapa Pasal atau
bagian perjanjian jika perjanjian tersebut secara tegas memperbolehkannya,
sebagaimana diatur dalam Pasal 44 Konvensi Wina 1969. Munculnya ketentuan
ini dilatarbelakangi alasan di mana PI dibuat antarnegara-negara yang berdaulat,
sehingga kurang tepat apabila perjanjian itu batal/berhenti berlaku disebabkan
karena beberapa bagiannya tidak disetujui oleh satu/beberapa negara peserta.
Jadi syarat utama pembatalan atau berhenti berlakunya atau penangguhan
perjanjian adalah tidak boleh mengakibatkan tertangguhnya keseimbangan
kepentingan-kepentingan negara peserta lainnya dan kewajiban utama yang
timbul dari perjanjian itu.
SEBAB-SEBAB PEMBATALAN BERLAKUNYA PI
Dalam banyak hal berakhirnya sebuah PI itu lebih sering dikarenakan oleh
terpenuhinya ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai berakhirnya
sebuah perjanjian yang tertuang di dalam perjanjian itu, di mana ketentuan-
ketentuan tersebut merupakan hasil dari kesepakatan para pihak dalam
perjanjian itu sendiri, contoh-contoh hal ini dapat kita lihat dari berakhirnya
sebuah perjanjian sebagai akibat berakhirnya jangka waktu berlakunya
perjanjian tersebut dan berakhirnya sebuah perjanjian karena persetujuan
para pihak dalam perjanjian itu.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa sebab-sebab berakhirnya sebuah
perjanjian dapat lebih mudah terlaksana apabila sebab-sebab tersebut telah
diatur dalam perjanjian itu sendiri. Persoalan akan timbul apabila pelaksanaan
atau kelangsungan suatu perjanjian tersebut sehingga di samping sebab-sebab
berakhirnya sebuah perjanjian yang telah diatur dalam perjanjian itu sendiri,
juga terdapat sebab khusus yang dapat mengakibatkan berakhirnya sebuah
perjanjian. Sebab khusus tersebut adalah peristiwa-peristiwa tertentu yang
dapat menyebabkan berakhirnya sebuah perjanjian tetapi sebab tersebut tidak
diatur dalam perjanjian tersebut adanya sebab-sebab khusus ini menyebabkan
munculnya beberapa alasan yang dapat dadikan sebagai sebab pembatalan
berlakunya sebuah perjanjian yang pada akhirnya nanti akan menyebabkan
berakhirnya sebuah perjanjian, sebab-sebab pembatalan berlakunya perjanjian
itu adalah:
a. Tidak dilaksanakan perjanjian: Keadaan ini terutama muncul sebagai
akibat dari pelanggaran ketentuan dalam perjanjian oleh salah satu
pihak dalam perjanjian tersebut pelanggaran perjanjian oleh salah satu
pihak ini dapat dadikan alasan bagi peserta lain untuk mengakhiri atau
130 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 130
menangguhkan sebuah perjanjian untuk sebagian atau keseluruhan. Dilihat
dari sudut hukum, pelanggaran perjanjian oleh salah satu pihak peserta
perjanjian memiliki sifat yang sama dengan pembatalan perjanjian, dengan
perbedaan bahwa untuk sebuah pembatalan atau penangguhan perjanjian
sebagai akibat pelanggaran perjanjian oleh peserta lain dapat dilakukan
untuk sebagian perjanjian. Pelanggaran yang dapat dadikan sebagai
dasar pembatalan atau penangguhan perjanjian ini haruslah pelanggaran
dari ketentuan yang mutlak diperlukan bagi terciptanya tujuan dari
perjanjian tersebut (hal-hal yang substansial/material breach). Hal-hal ini
perlu ditegaskan karena sering terjadi negara-negara menjadikan sebuah
pelanggaran kecil sebagai alasan untuk membatalkan tanggung jawab dan
kewajibannya dalam perjanjian, contoh dari permasalahan ini dapat kita
lihat pada penyelesaian sengketa antara Peru dan Chili, di mana Presiden
Coolidge selaku juri dalam penyelesaian permasalahan tersebut menolak
tuduhan Peru terhadap Chili yang dianggap telah melanggar disposisi-
disposisi perjanjian, juri mengatakan bahwa:
Memang penyalahgunaan administratif dapat mengakhiri berlakunya suatu
perjanjian, tetapi harus dibuktikan, bahwa penyalahgunaan tersebut betul-betul
telah menimbulkan suatu keadaan yang begitu buruk, sehingga menghalangi
pelaksanaan perjanjian dan menurut pendapat kami keadaan yang demikian
tidak dapat dibuktikan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, Pasal 60 Konvensi
Wina 1969 menyatakan bahwa:
1. Dalam suatu perjanjian bilateral, suatu negara dapat menjadikan suatu
pelanggaran substansial yang dilakukan negara lain sebagai motif
untuk mengakhiri berlakunya suatu perjanjian baik secara denitif
maupun secara sementara. Pelanggaran ini tidak ipso fakto mengakhiri
suatu perjanjian-perjanjian tapi hanya baru membuka kesempatan untuk
memakai prosedur mengakhiri suatu perjanjian yang diatur oleh Pasal 65
Konvensi Wina 1969.
2. Suatu pelanggaran substansial pada sebuah perjanjian multilateral oleh
satu pihak akan memberikan hak:
a. Kepada pihak lainnya dengan persetujuan unanim untuk menunda
bekerjanya perjanjian secara keseluruhan atau sebagian atau untuk
mengakhirinya baik:
i. Dalam hubungan antar mereka sendiri dan Negara yang melanggar,
atau
ii. Di antara semua pihak.
b. Kepada suatu pihak yang secara khusus terpengaruh oleh pelanggaran
itu dapat mengemukakan pelanggaran ini sebagai dasar untuk menunda
131 Bab 7 Pembatalan PI 131
bekerjanya perjanjian secara keseluruhan atau sebagian dalam hubungan
antara ia sendiri dengan Negara pelanggar.
c. Kepada setiap pihak dari negara pelanggar untuk mengemukakan
pelanggaran itu sebagai dasar untuk menunda bekerjanya perjanjian
baik seluruhnya atau sebagian terhadap dirinya jika pelanggaran itu
mempunyai karakter sedemikian rupa, di mana bila ada pelanggaran
substansial atas ketentuan-ketentuannya oleh salah satu pihak secara
radikal merubah kedudukan setiap pihak terhadap pelaksanaan lebih
lanjut kewajiban-kewajibannya di bawah perjanjian.
Di samping Pasal 60 Konvensi Wina 1969, dalam praktik terdapat juga
alasan "force majeur" sebagai alasan untuk tidak dipenuhinya kewajiban
oleh salah satu peserta dalam perjanjian. Sangat mirip dengan alasan force
majeur yaitu ketidakmungkinan pelaksanaan suatu perjanjian oleh salah
satu pihak dalam perjanjian (impossibility of performance), sebagaimana
diatur dalam Pasal 61 Konvensi Wina 1969, di mana dalam ketentuan
Pasal ini menyatakan bahwa:
a. Suatu pihak boleh mengemukakan ketidakmungkinan pelaksanaan
suatu perjanjian sebagai dasar untuk mengakhiri atau untuk menarik
diri dari perjanjian tersebut jika ketidakmungkinan itu adalah hasil dari
musnahnya secara permanen atau hancurnya suatu objek yang sangat
diperlukan bagi keringnya sebuah sungai, atau hancurnya suatu objek
yang sangat diperlukan bagi pelaksanaan perjanjian tersebut, seperti
lenyapnya suatu pulau, keringnya sebuah sungai, atau hancurnya
suatu bendungan hydro-elektrik yang mutlak untuk pelaksanaan
perjanjian itu. Jika ketidakmungkinan itu bersifat sementara maka
ketidakmungkinan ini hanya dapat dikemukakan sebagai dasar untuk
menunda pelaksanaan perjanjian.
b. Ketidakmungkinan pelaksanaan tidak boleh dikemukakan oleh suatu
pihak sebagai dasar untuk pengakhiran, penarikan diri atau menunda
bekerjanya perjanjian jika ketidakmungkinan itu adalah hasil dari suatu
pelanggaran oleh pihak tersebut terhadap pihak lain pada perjanjian itu,
baik itu berupa pelanggaran atas suatu kewajiban di bawah perjanjian
atau sesuatu kewajiban Internasional lainnya.
3. Perubahan Keadaan Secara Mendasar: dalam doktrin dan praktik telah
menerima bahwa suatu perubahan keadaan yang mendasar (fundamental)
dapat digunakan sebagai alasan untuk mengakhiri suatu perjanjian
dan Konvensi Wina telah mengakui alasan untuk mengakhiri atau
menangguhkan suatu perjanjian yang terkenal dengan asas "rebus sic
stantibus", asas ini merupakan suatu klausula diam-diam yang terdapat
dalam perjanjian yang dapat diartikan bahwa perjanjian hanya akan tetap
mengikat apabila keadaan tetap seperti biasa. Di dalam Konvensi Wina
132 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 132
1969 penerapan asas ini dituangkan dalam Pasal 62, yang pada intinya
menyatakan bahwa:
Suatu negara boleh mempergunakan perubahan keadaan sebagai alasan untuk
mengakhiri atau menarik diri dari perjanjian bila dapat dibuktikan bahwa keadaan
benar-benar sudah berubah dan para pihak pada perjanjian sama-sama setuju
serta perubahan tersebut betul-betul akan merubah secara radikal kewajiban-
kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai dengan perjanjian tersebut.
Ketentuan Pasal 62 Konvensi ini menunjukkan suatu gabungan dari dua
sistem pengujian, yaitu:
a. Pengujian subjektif, di mana menurut sistem pengujian ini para peserta
perjanjian harus telah mempertimbangkan kelanjutan keadaan-keadaan
sekitar penutupan perjanjian sebagai suatu faktor penunjang yang
menentukan masuknya mereka pada perjanjian tersebut.
b. Pengujian Objektif di mana menurut sistem pengujian ini perubahan-
perubahan itu harus sedemikian fundamentalnya sehingga secara
radikal mengubah kewajiban para peserta.
Untuk menggunakan asas rebus sic stantibus (perubahan fundamental)
Konvensi Wina 1969 memberikan syarat khusus yaitu:
a. Perubahan suatu keadaan tidak terdapat pada waktu pembentukan
perjanjian;
b. Perubahan tersebut adalah sesuatu keadaan fundamental bagi perjanjian
tersebut;
c. Keadaan tersebut tidak dapat diramalkan akan terjadi;
d. Keadaan tersebut merupakan dasar yang esensial bagi setujunya
pihak-pihak untuk terikat pada perjanjian;
e. Akibat dari adanya perubahan tersebut adalah sedemikian radikalnya
sehingga memengaruhi luas lingkup dari kewajiban-kewajiban yang
ditimbulkan perjanjian tersebut.
Terhadap ketentuan di atas Konvensi Wina 1969 memberikan dua
pengecualian yaitu:
a. Bahwa asas rebus sic stantibus tidak dapat digunakan bagi suatu tuntutan
pembatalan perjanjian atau pengunduran diri dari suatu perjanjian
bila perjanjian tersebut merupakan perjanjian mengenai penetapan
perbatasan wilayah; dan
b. Jika perubahan keadaan tersebut diakibatkan karena suatu pelanggaran
terhadap perjanjian oleh negara yang menuntut batalnya perjanjian
tersebut.
Meskipun Mahkamah Internasional belum menentukan sifat mengenai
asas ini, akan tetapi terdapat cukup banyak bukti tentang berlakunya asas
133 Bab 7 Pembatalan PI 133
ini dalam hukum kebiasaan internasional, beberapa contoh tersebut antara
lain adalah:
a. Perkara Free of Upper Savon and the Distric of Gex, di mana dalam
perkara ini Perancis telah dianggap menyerahkan kepada pihak
Sardinia dalam hal suatu kewajiban yang berkenaan dengan persetujuan
kewilayahan antara Sardinia dan Switzerland.
b. Keputusan Mahkamah Internasional dalam kasus "The Fisheries
Jurisdiction (1973)" antara Inggris dengan Iceland. Di mana Mahkamah
Internasional telah mengakui keberadaan asas rebus sic stantibus dengan
menerapkan Pasal 60 jo. Pasal 62 Konvensi Wina 1969. Mahkamah
Internasional telah menguraikan pendapatnya mengenai hal ini sebagai
berikut:
Hukum Internasional mengakui perubahan pokok pada keadaan-keadaan tertentu
yang menentukan para pihak untuk menerima perjanjian. Jika perubahan
tersebut dihasilkan dari sebuah perubahan radikal yang di mana hal tersebut
menimbulkan kewajiban-kewajiban pada keadaan tertentu terhadap perubahan
yang memengaruhi tersebut, para pihak dapat meminta perjanjian tersebut
untuk diakhiri ataupun dibatalkan. Prinsip dan keadaan tersebut di atas juga
telah diatur dalam Pasal 62 Konvensi Wina 1969, yang menjadi pertimbangan
sebagai modikasi dari adanya hukum kebiasaan para pihak untuk mengakhiri
pengikatan dirinya dalam perjanjian itu, yang harus dituangkan dalam sebuah
laporan perubahan.
Berdasarkan uraian dari pendapat Mahkamah Internasional dalam Kasus
"The Fisheries Juridiction (1973)" memperjelas bahwa suatu peserta yang akan
menggunakan alasan perubahan-perubahan keadaan yang mendasar atau
fundamental untuk mengakhiri/membatalkan sebuah perjanjian haruslah
memberitahukan alasan-alasan tersebut kepada peserta lain, hal ini sesuai
dengan prosedur yang telah ditetapkan dalam Pasal 6557 Konvensi Wina
1969, dengan kata lain tidak ada sebuah perjanjian yang berakhir sebagai
akibat penerapan asas rebus sic stantibus tanpa melalui prosedur tertentu
sebagaimana diatur dalam Pasal 6567 Konvensi Wina 1969.
4. Timbulnya Norma Imperatif Hukum Intrenasional: Dengan kemunculan
atau lahirnya sebuah norma imperatif dalam Hukum Internasional umum
(Jus Corgens) akan memiliki dampak yang sangat besar terhadap eksistensi
sebuah PI, terutama terhadap perjanjian-PI yang bertentangan dengan norma
baru imperatif Hukum Internasional umum (bertentangan dengan aturan
baru Jus Corgens) tersebut. untuk menjawab permasalahan ini, Pasal 64
Konvensi Wina 1969 telah menegaskan bahwa "Apabila lahir norma baru
imperatif Hukum Internasional umum, maka setiap perjanjian-perjanjian
yang ada dan bertentangan dengan norma-norma tersebut menjadi batal
134 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 134
dan berakhir". Sehingga menurut ketentuan Pasal ini dapat diambil sebuah
kesimpulan bahwa dengan lahirnya sebuah norma baru imperatif Hukum
Internasional umum, maka seluruh PI yang bertentangan dengan norma
baru imperatif Hukum Internasional umum atau bertentangan dengan
aturan baru Jus Corgens menjadi batal dan berakhir.
5. Perang: Akibat pecahnya sebuah perang yang terjadi di antara para peserta
suatu PI secara spesik tidak diatur dalam Konvensi Wina 1969, akan
tetapi dalam menghadapi permasalahan ini kalangan sarjana Hukum
Internasional berusaha mengembangkan tiga pendapatnya mengenai
permasalahan ini yaitu:
1. Sebuah PI yang karena sifatnya dapat dianggap punah sebagai akibat
adanya perang antarpara pihak dalam perjanjian tersebut. Yang termasuk
ke dalam golongan ini adalah perjanjian persahabatan, perjanjian
persekutuan, dan perjanjian lainnya yang bersifat politik.
2. Sebuah PI yang justru apabila terjadi perang antarpara pihak dalam
perjanjian tersebut. Termasuk ke dalam golongan ini antara lain
Konvensi Wina 1969 tentang Perlindungan Korban Perang.
3. Sebuah PI yang tidak berubah dengan adanya perang. Yang termasuk ke
dalam golongan ini adalah perjanjian perbatasan, perjanjian penyerahan
wilayah (cessie) dan perjanjian mengenai "completed acts".
Menurut hukum kebiasaan menguraikan tiga akibat yang dapat timbul
karena pecahnya perang pada sebuah perjanjian bilateral dan/atau
multilateral, akibat-akibat tersebut adalah:
1. Pada Perjanjian Bilateral: perjanjian bilateral akan berakhir apabila
kedua negara berperang.
2. Pada Perjanjian Multilateral: dalam perjanjian multilateral pelaksanaan
perjanjian hanya dihentikan antarnegara-negara yang berperang
saja.
3. Pada perjanjian bilateral dan multilateral yang khusus dibuat untuk
dilaksanakan pada waktu perang: perjanjian bilateral dan multilateral
yang khusus dibuat untuk dilaksanakan pada waktu perang yang akan
tetap berlaku apabila terjadi perang antarpara pihak dalam perjanjian
tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pendapat
mengenai pecahnya perang yang dengan sendirinya akan membatalkan
perjanjian adalah sebuah pendapat yang kurang tepat, karena akibat
perang terhadap sebuah perjanjian pada dasarnya bukanlah menyebabkan
perjanjian itu batal dengan sendirinya, melainkan perang tersebut hanyalah
berakibat ditangguhkannya ketentuan perjanjian-perjanjian tersebut bagi
para pihak yang terlibat dalam perjanjian, dengan catatan untuk setiap
135 Bab 7 Pembatalan PI 135
persoalan yang konkrit sebaiknya melihat terlebih dahulu ketentuan-
ketentuan perjanjian itu sendiri.
6. Pemutusan Hubungan Diplomatik: dalam Konvensi Wina 1969 Pasal 63
telah dinyatakan secara tegas bahwa pemutusan hubungan diplomatik
tidak akan memengaruhi hubungan hukum antarpeserta perjanjian,
kecuali hubungan diplomatik atau hubungan konsulat tersebut merupakan
syarat mutlak bagi pelaksanaan perjanjian. Berdasarkan Pasal 63 Konvensi
Wina 1969 ini jelaslah bahwa berkurangnya/putusnya sebuah hubungan
diplomatik atau hubungan konsulat di antara pihak-pihak dalam perjanjian
tersebut tidak akan menghalangi pelaksanaan perjanjian di antara mereka,
sepanjang hubungan diplomatik atau hubungan konsulat tersebut bukan
merupakan syarat mutlak bagi pelaksanaan perjanjian.
PROSEDUR MEMBATALKAN PI
Dari berbagai ketentuan umum mengenai pembatalan PI, dalam banyak hal
dapat diatur oleh para peserta perjanjian itu sendiri berupa ketentuan yang telah
disepakati para pihak dan mengikat mereka, jadi ketentuan dalam perjanjian
itu sendirilah yang merupakan ketentuan yang menentukan.
Prosedur dalam membatalkan keikutsertaan di dalam suatu perjanjian,
menurut Pasal 65 Konvensi Wina 1969:
a. Negara yang mengajukan alasan keberatan atas suatu persetujuan atau alasan
lain yang diterima oleh konvensi harus terlebih dahulu memberitahukan
maksudnya secara tertulis kepada negara-negara pihak lainnya.
b. Jika sesudah tiga bulan notikasi tersebut tidak ada pernyataan keberatan
dari negara-negara lain, negara pertama tadi dapat menyatakan perjanjian
tidak berlaku lagi. Pernyataan tersebut menurut Pasal 67 Konvensi Wina
1969, harus ditulis dalam suatu instrumen yang disampaikan kepada pihak
yang lainnya dan untuk itu instrumen tersebut harus ditandatangani oleh
Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan atau Menteri Luar Negeri, ataupun
oleh wakil yang ditunjuk untuk itu dengan surat kuasa (full powers).
c. Bila ada pernyataan keberatan, negara-negara pihak pada perjanjian harus
menyelesaikan perselisihan mereka secara damai sesuai dengan Pasal 33
Piagam PBB.
d. Bila dalam masa 12 bulan sudah lewat terhitung dari waktu diajukannya
pernyataan keberatan tidak juga tercapai penyelesaian secara damai, sesuai
dengan Pasal 66 Konvensi Wina 1969 tersebut penyelesaian sengketa harus
dilanjutkan dengan mengajukan persoalannya ke Mahkamah Internasional
atau pada suatu arbitrasi internasional.
e. Sedangkan untuk perselisihan mengenai penerapan atau penafsiran
sesuatu Pasal lainnya di dalam bagian Bab V Konvensi Wina 1969 ini boleh
melaksanakan prosedur yang dituangkan di dalam anneks konvensi ini
136 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 136
dengan mengajukan permohonan akan hal-hal kepada Sekretaris Jendral
PBB. Selanjutnya, Pasal 45 Konvensi Wina 1969 menyatakan bahwa suatu
negara tidak dapat lagi mengemukakan tidak sahnya suatu perjanjian bila
negara itu sendiri setelah mengetahui semua fakta dan menerima secara
terang-terangan bahwa perjanjian itu tetap berlaku.
f. Tanpa merugikan Pasal 45 Konvensi Wina 1969 di atas, kenyataan bahwa
suatu negara yang sebelumnya telah membuat pemberitahuan tentang
pengajuan alasan keberatan atas suatu persetujuan, tidak akan mencegah
dari membuat pemberitahuan demikian ini di dalam menjawab pihak
lainnya yang menuntut pelaksanaan perjanjian atau mengemukakan
pelanggaran atas perjanjian.
Bagaimanapun pembatalan perjanjian akan menimbulkan kesulitan
apabila tidak diatur dalam perjanjian. Hal ini terjadi pada pembatalan sepihak
(denunciation) oleh salah satu peserta dari suatu perjanjian. Seperti misalnya
Konvensi Jenewa tahun 1949 mengenai perbaikan keadaan yang luka dan
sakit di medan pertempuran darat, dalam Pasal 63-nya menetapkan bahwa
pembatalan atau pernyataan tidak terikat lagi mulai berlaku 1 tahun sesudah
pemberitahuannya dilakukan kepada Dewan Federasi Swiss.
Berlainan halnya dengan pembatalan atau pengunduran dari suatu perjanjian
yang diatur dalam perjanjian itu sendiri, adalah hal di mana pembatalan
atau pengunduran demikian tidak diatur. Sebagaimana pernah terjadi yaitu
pengunduran diri Indonesia dari PBB dalam bulan Desember 1964. Piagam PBB
tidak mengatur hal ini dengan pertimbangan untuk menghindari pembatalan
atau pengunduran diri anggotanya yang dapat melemahkan kekuatan PBB.
Walaupun dalam menentukan apa yang harus terjadi menurut hukum
apabila terjadi pembatalan suatu pihak dari perjanjian yang tidak memuat
ketentuan mengenai pembatalan sangat sukar, namun Konvensi Vienna
mengenai Hukum Traktat telah mengatur dalam Pasal 65 sampai Pasal 68 yang
menentukan bahwa pembatalan atau pengunduran demikian walaupun tidak
tertulis dalam perjanjian dapat diadakan apabila telah disepakati oleh para
peserta atau dianggap tercakup dalam sifat perjanjian itu sendiri. Dalam hal
demikian pihak peserta harus memberitahukan maksud membatalkan atau
mengundurkan diri dari perjanjian itu sekurang-kurangnya 12 bulan sebelum
tanggal pembatalan atau pengunduran itu.
Pelanggaran perjanjian oleh salah satu pihak memberikan alasan kepada
peserta lain untuk mengakhiri atau menangguhkan berlakunya perjanjian
untuk sebagian atau seluruhnya. Sesuai dengan Konvensi Vienna Pasal 60 ayat
2 dan 3, pelanggaran perjanjian tersebut dapat dadikan dasar mengakhiri atau
menangguhkan perjanjian harus merupakan suatu pelanggaran dari ketentuan
yang mutlak diperlukan bagi tercapainya tujuan perjanjian itu. Dilihat dari
sudut hukum, pelanggaran perjanjian oleh suatu pihak peserta sama sifatnya
137 Bab 7 Pembatalan PI 137
dengan pembatalan perjanjian, dengan perbedaan bahwa pembatalan berlaku
untuk seluruh perjanjian sedangkan pembatalan atau penangguhan perjanjian
sebagai akibat pelanggaran perjanjian oleh peserta lain dapat dilakukan untuk
sebagian perjanjian.
Suatu pihak dapat kehilangan haknya untuk memohon pembatalan atau
penangguhan perjanjian dengan dasar pelanggaran perjanjian jika setelah
mengetahui fakta-fakta, ia terang-terangan menyetujui bahwa perjanjian tersebut
tetap berlaku atau tetap terlaksana atau harus dianggap telah menyetujui tetap
berlakunya atau terlaksananya perjanjian tersebut.
KONSEKUENSI BATALNYA SUATU PERJANJIAN
Berdasarkan Pasal-Pasal dalam Konvensi Wina 1969 mengenai akibat-akibat
daripada ketidaksalahan, pengakhiran atau penundaan bekerjanya perjanjian,
batalnya suatu perjanjian mempunyai konsekuensi antara lain sebagai
berikut:
Suatu perjanjian dianggap batal pada waktu pemberitahuan pembatalan.
Menurut Pasal 69 Konvensi Wina 1969 bahwa ketentuan-ketentuan suatu
perjanjian yang telah dibatalkan tidak mempunyai kekuatan hukum lagi.
Apabila sebelum perjanjian tersebut dibatalkan telah dilaksanakan kegiatan
berkaitan dengan ketentuan dalam perjanjian tersebut, maka negara-negara
para pihak harus mengembalikannya pada keadaan semula. Dengan demikian
dianggap seolah-olah perjanjian itu tidak pernah ada. Pada ayat 2 dari Pasal
ini menjelaskan apabila telah dilaksanakan perbuatan-perbuatan dengan
itikad baik sebelum ketidaksahan itu dikemukakan, maka tidak dimasukkan
dalam golongan tidak sah hanya karena alasan ketidaksahan itu. Namun hal
di atas tidak berlaku pada pihak yang berkenaan dengan Pasal 49, 50, 51, 52
Konvensin Wina 1969 yaitu mengenai penipuan, penyalahgunaan seorang wakil
salah satu negara, paksaan dari seorang wakil salah satu negara, paksaan dari
sesuatu negara dengan menggunakan ancaman atau penggunaan kekuatan.
Maksudnya yaitu bagi pihak yang melakukan atau dilimpahi hal-hal penipuan,
penyalahgunaan, ataupun paksaan ayat 2 tidak dapat diberlakukan. Sedangkan
bila ketidaksahan persetujuan suatu negara pada perjanjian multilateral,
aturan-aturan di atas tidak berlaku dalam hubungan antara negara itu dengan
pihak-pihak dalam perjanjian tersebut.
Pada Pasal 71 Konvensi Wina 1969 mengenai akibat berakhirnya perjanjian,
bila salah satu pihak atau negara memutuskan perjanjian atau menarik diri
dari suatu perjanjian multilateral, para pihak lepas dari kewajiban lebih lanjut
untuk melaksanakan perjanjian tersebut dan tidak memengaruhi suatu hak,
kewajiban, atau keadaan dari pihak-pihak yang diciptakan melalui pelaksanaan
perjanjian sampai saat pengakhirannya. Hal ini berlaku dalam hubungan di
138 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 138
antara negara tersebut dan masing-masing pihak lainnya pada perjanjian sejak
tanggal pemutusan atau penarikan diri itu menimbulkan akibat.
Menurut Pasal 71 Konvensi Wina 1969 ada dua akibat ketidaksahan suatu
perjanjian, yaitu suatu perjanjian yang batal menurut Pasal 53 Konvensi Wina
1969 (perjanjian yang bentrok dengan norma yang tidak dapat dirubah dari
Hukum Internasional umum), yaitu suatu perjanjian yang batal jika pada saat
penutupannya bentrok dengan norma yang tidak dapat dirubah dari Hukum
Internasional umum, maka para pihak harus menghilangkan sejauh mungkin
konsekuensi-konsekuensi dari tindakan yang bertentangan dengan norma
tersebut dan mengembalikan hubungan mereka sesuai dengan peremptory
norm of general internasional law. Norma yang tidak dapat dirubah dari
Hukum Internasional umum adalah norma yang telah diterima dan diakui
oleh masyarakat internasional negara-negara secara keseluruhan sebagai suatu
norma yang tidak ada penyimpangan darinya diperbolehkan dan yang hanya
dapat dirubah oleh norma sesudahnya dari Hukum Internasional umum yang
mempunyai karakter yang sama.
Sedangkan suatu perjanjian yang batal menurut Pasal 64 Konvensi Wina
1969 (lahirnya norma baru yang tidak dapat dirubah dari Hukum Internasional
umum), pengakhiran dari perjanjian itu akan menyebabkan:
a. Para pihak lepas dari kewajiban lebih lanjut untuk melaksanakan
perjanjian.
b. Tidak memengaruhi suatu hak, kewajiban, atau keadaan hukum yang
diciptakan melalui pelaksanaan perjanjian sampai saat pengakhirannya;
dengan syarat bahwa hak-hak tersebut, kewajiban-kewajiban itu atau
keadaan-keadaan itu hanya dapat dipelihara sesudah itu sejauh bahwa
pemeliharaannya tidak dengan sendirinya bertentangan dengan norma
pemaksa baru Hukum Internasional umum tersebut.
c. Setiap perjanjian yang ada yang bentrok dengan norma baru yang memaksa
dari Hukum Internasional yang akan menjadi batal dan berakhir. Apabila
suatu perjanjian batal akibat pelanggaran terhadap norma imperatif,
maka negara-negara hanya diharuskan menyesuaikan diri dengan norma
tersebut. Jika persetujuan suatu negara untuk diikat oleh suatu perjanjian
multilateral tidak sah, maka pembatalan itu hanya terjadi antara negara itu
sendiri dengan negara lain dan hubungan tetap normal dengan negara-
negara lainnya.
Setelah apa yang telah delaskan halaman-halaman sebelumnya maka
dengan ini kami menyimpulkan:
1. Pembatalan PI harus disetujui oleh para pihak yang menjadi peserta dari
perjanjian tersebut karena pada perjanjian tersebut berlaku asas pacta sun
servanda, yaitu PI tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para
pihaknya.
139 Bab 7 Pembatalan PI 139
2. Pembatalan perjanjian oleh salah satu pihak harus didasari oleh kondisi-
kondisi tertentu yang dapat dimaklumi oleh para pihak peserta perjanjian
sehingga nantinya tidak akan menimbulkan masalah di antara para
pihak.
3. Pembatalan perjanjian dapat disebabkan oleh banyak faktor antara lain,
adanya isi dari perjanjian tersebut yang bertentangan dengan Hukum
Internasional, adanya kekeliruan mengenai unsur pokok, adanya peserta
dari perjanjian tersebut yang melakukan penipuan, adanya korupsi anggota
dilakukan oleh peserta perjanjian (wakil negara), adanya suatu kekerasan
yang dilakukan baik kepada wakil negara ataupun kepada negara itu
sendiri sebagai person moral.
4. Apabila prosedur dan syarat perjanjian itu tidak diatur dalam perjanjian
yang akan dibatalkan maka para pihak harus merujuk pada peraturan
yang terdapat pada Konvensi Wina Tahun 1969.
5. Adanya pembatalan tidak boleh mengakibatkan terganggunya keseimbangan
dari kepentingan-kepentingan negara-negara peserta lainnya dan kewajiban-
kewajiban utama yang ditimbulkan dari perjanjian itu.
UMPAN BALIK
1. Apa saja hal-hal yang dapat menyebabkan batalnya suatu PI?
2. Apa saja hal-hal yang dapat membatalkan pemberlakuan suatu PI?
3. Bagaimana prosedur pembatalan suatu PI?
4. Apa saja akibat hukum yang timbul dari pembatalan suatu PI?
LATIHAN SOAL
Negara Amarta dan Baruda adalah dua negara bertetangga. Karena pengelolaan
ekonomi dan pelaksanaan pembangunan yang baik di Amarta, kini Amarta
menjadi negara berkembang yang maju, sementara Baruda masih miskin
dan menanggung beban hutang luar negeri yang besar. Di dekat perbatasan
wilayah kedua negara terdapat kompleks candi Awangga yang didirikan
oleh Raja Kusumadewa pada Tahun 1215 M. Sebagian besar kompleks candi
ini terletak di Baruda. Amarta, Baruda dan Caraka pada masa lalu adalah
satu kerajaan besar yaitu Kerajan Mheong Chand yang setelah dikuasai oleh
pemerintah Kolonial Inggris terpecah menjadi tiga negara tersebut. Pengalihan
kekuasaan dari Pemerintah Kolonial Inggris kepada tiga pemerintahan baru
tersebut dilakukan melalui Perjanjian Saneti Tahun 1954. Tiga negara tersebut
berdiri sesaat setelah Perjanjian Saneti ditandatangani. Dalam Pasal 5 Perjanjian
tersebut dinyatakan bahwa ketiga negara baru tersebut akan menjamin hak-
hak tradisional suku asli Mheong untuk melintas batas di ketiga negara secara
bebas. Pada Tahun 1960 s/d 1967 terjadi perang suku Mheong besar-besaran
140 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 140
yang menyebabkan jumlah suku ini hanya tinggal 20 persen yang sebagian
besar menetap di Baruda.
Candi Awangga setiap tahun dikunjungi oleh ratusan ribu turis asing
dan lokal, dan sekali setahun digunakan sebagai tempat upacara agama
asli masyarakat suku Mheong dari ketiga negara. Sekalipun sebagian besar
kompleks candi terletak di Baruda, namun negara Amarta yang lebih banyak
mendapatkan keuntungan dari aktivitas turisme dan keagamaan di Candi
Awangga karena jauh lebih banyak fasilitas turisme yang disediakan oleh
Amarta. Investor asing juga lebih senang berinvestasi di Amarta karena negara
ini relatif stabil dan aman.
Keuntungan yang didapatkan oleh Amarta dari aktivitas di Candi Awangga
menyebabkan Baruda iri hati. Beberapa kali Baruda berusaha menutup kompleks
Candi Awangga. Tindakan ini memicu konik bersenjata antara Amarta dan
Baruda. Kesal atas tindakan Baruda, Amarta mengajak Caraka melakukan
kerja sama ekonomi dan pertahanan dengan nama Perjanjian Taruka Tahun
2009. Perjanjian ini memberikan kemudahan bagi eksportir Caraka untuk
mengekspor barangnya ke Amarta. Hal ini menyebabkan produk pertanian dari
Baruda yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian Baruda tidak
dapat diekspor ke Amarta, sehingga perekonomian Baruda semakin hancur.
Hancurnya perekonomian Baruda menyebabkan eksodus besar-besaran suku
Mheong dan suku-suku lain dari Baruda ke Amarta.
Catatan:
1. Kasus ini hipotetis belaka;
2. Diasumsikan bahwa ketiga negara di atas menjadi pihak dalam Konvensi
Wina 1969 mengenai Hukum Perjanjian Internasional; Piagam PBB; the
Universal Declaration of Human Rights; the International Covenant on Economic,
Social and Cultural Rights; the International Covenant on Civil and Political
Rights dan Persetujuan-persetujuan WTO.
3. Jawab setiap pertanyaan dengan uraian argument yang jelas dan disertai
dengan landasan hukum yang tepat.
Pertanyaan:
1. Apakah Perjanjian Saneti Tahun 1954 dapat disebut sebagai perjanjian
internasional? Uraikan jawaban anda.
2. Jika anda wakil dari Baruda yang ingin menyatakan bahwa Pasal 5 Perjanjian
Saneti 1954 tidak berlaku lagi untuk digunakan sebagai salah satu dasar
untuk melakukan penutupan Candi Awangga, argument apa yang anda
ajukan?
3. Sebaliknya, jika anda adalah wakil dari Amarta, argument apa yang anda
ajukan untuk menolak pernyataan Baruda bahwa pasal 5 Perjanjian Saneti
tidak berlaku?
141 Bab 7 Pembatalan PI 141
4. Menurut anda, dapatkah Baruda menyatakan Perjanjian Taruka Tahun
2009 tidak sah?
5. Jika anda diminta oleh Pemerintah Amarta untuk mencari dasar melakukan
pembatasan jumlah manusia yang eksodus dari Baruda, apa argument
dan dasar hukum yang anda ajukan?
DAFTAR BACAAN
Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2001.
DJ Harris, Cases and Materials on International Law, Sweeet & Maxwell,
London, 1998.
Harjono, Politik Hukum PI, Bina Ilmu, Surabaya, 1999.
I Wayan Parthiana, Hukum PI, Bagian I, Mandar Maju, Bandung, 2002.
Ian Brownlie, Principle of Public International Law, 5
th
. Ed., Oxford, New
York, 1998.
Jennings and Watts, Openheim's International Law, Longham, London,
1996.
Oscar Schachter, International Law in Theory and Practice, Vol. 13, Martinus
Nuho, London, 1991.
Rebecca Wallace, International Law, 3
rd
. Ed., Sweet & Maxwell, London,
1997.
143
1969 VIENNA CONVENTION ON THE LAW OF TREATIES
ADOPTED IN VIENNA, AUSTRIA ON 23 MAY 1969
PART I. INTRODUCTION .......................................................................... 148
Article 1 Scope of the Present Convention ....................................... 148
Article 2 Use of Terms ......................................................................... 148
Article 3 International Agreements Not within the Scope of the
Present Convention ...................................................................... 149
Article 4 Non-Retroactivity of the Present Convention ................. 150
Article 5 Treaties Constituting International organizations and
Treaties Adopted within An International organization ......... 150
PART II. CONCLUSION AND ENTRY INTO FORCE
OF TREATIES ................................................................................................. 150
Section 1. Conclusion of Treaties .......................................................... 150
Article 6 Capacity of States to Conclude Treaties ........................... 150
Article 7 Full Powers ........................................................................... 150
Article 8 Subsequent Conrmation of An Act Performed
without Authorization ................................................................. 151
Article 9 Adoption of the Text ............................................................ 151
Article 10 Authentication of the Text ................................................ 151
Article 11 Means of Expressing Consent to be Bound by
A Treaty .......................................................................................... 151
Article 12 Consent to be Bound by A Treaty Expressed by
Signature ........................................................................................ 151
Article 13 Consent to be Bound by A Treaty Expressed by An
Exchange of Instruments Constituting A Treaty ...................... 152
Article 14 Consent to be Bound by A Treaty Expressed by
Ratication, Acceptance or Approval ........................................ 152
LAMPIRAN
144 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 144
Article 15 Consent to be Bound by A Treaty Expressed by
Accession ........................................................................................ 152
Article 16 Exchange or Deposit of Instruments of Ratication,
Acceptance, Approval or Accession ........................................... 152
Article 17 Consent to be Bound by Part of A Treaty and Choice
of Diering Provisions ................................................................. 153
Article 18 Obligation Not to Defeat the Object and Purpose of
A Treaty Prior to Its Entry into Force ......................................... 153
Section 2. Reservations ............................................................................ 153
Article 19 Formulation of Reservations ............................................ 153
Article 20 Acceptance of and Objection to Reservations ................ 153
Article 21 Legal Elects of Reservations and of Objections to
Reservations ................................................................................... 154
Article 22 Withdrawal of Reservations and of Objections to
Reservations ................................................................................... 154
Article 23 Procedure Regarding Reservations ................................. 155
Section 3. Entry into Force and Provisional, Application of
Treaties ............................................................................................ 155
Article 24 Entry into Force .................................................................. 155
Article 25 Provisional Application .................................................... 156
PART III. OBSERVANCE, APPLICATION AND INTERPRETATION
OF TREATIES ................................................................................................. 156
Section 1. Observance of Treaties .......................................................... 156
Article 26 "Pacta Sunt Servanda" ........................................................ 156
Article 27 Internal Law and Observance of Treaties ....................... 156
Section 2. Application of Treaties ......................................................... 156
Article 28 Non-Retroactivity of Treaties ........................................... 156
Article 29 Territorial Scope of Treaties .............................................. 156
Article 30 Application of Successive Treaties Relating to the
Same Subject Maer ..................................................................... 156
Section 3. Interpretation of Treaties ...................................................... 157
Article 31 General Rule of Interpretation ......................................... 157
Article 32 Supplementary Means of Interpretation ........................ 158
Article 33 Interpretation of Treaties Authenticated in Two or
More Languages ............................................................................ 158
Section 4. Treaties and Third States ...................................................... 158
Article 34 General Rule Regarding Third States ............................. 158
Article 35 Treaties Providing for Obligations for Third States ...... 158
Article 36 Treaties Providing for Rights for Third States ............... 158
145 Lampiran 145
Article 37 Revocation or Modication of Obligations or
Rights of Third States ................................................................... 159
Article 38 Rules in A Treaty becoming Binding on Third States
through International Custom .................................................... 159
PART IV. AMENDMENT AND MODIFICATION OF TREATIES ...... 159
Article 39 General Rule Regarding the Amendment of Treaties .. 159
Article 40 Amendment of Multilateral Treaties ............................... 159
Article 41 Agreements to Modify Multilateral Treaties between
Certain of the Parties Only .......................................................... 160
PART V. INVALIDITY, TERMINATION AND SUSPENSION OF
THE OPERATION OF TREATIES .............................................................. 160
Section 1. General Provisions ................................................................ 160
Article 42 Validity and Continuance in Force of Treaties .............. 160
Article 43 Obligations Imposed by International Law
Independently of A Treaty ........................................................... 161
Article 44 Separability of Treaty Provisions ..................................... 161
Article 45 Loss of A Right to Invoke A Ground for Invalidating,
Terminating, Withdrawing From or Suspending the
Operation of A Treaty ................................................................... 161
Section 2. Invalidity of Treaties ............................................................. 162
Article 46 Provisions of Internal Law Regarding Competence
to Conclude Treaties ..................................................................... 162
Article 47 Specic Restrictions on Authority to Express the
Consent of A State ......................................................................... 162
Article 48 Error ..................................................................................... 162
Article 49 Fraud.................................................................................... 162
Article 50 Corruption of A Representative of A State ..................... 163
Article 51 Coercion of A Representative of A State ......................... 163
Article 52 Coercion of A State by the Threat or Use of Force ........ 163
Article 53 Treaties Conicting with A Peremptory Norm of
General International Law (Jus Cogens) ..................................... 163
Section 3. Termination and Suspension of the Operation of
Treaties ..................................................................................................... 163
Article 54 Termination of or Withdrawal from A Treaty under
Its Provisions or by Consent of the Parties ................................ 163
Article 55 Reduction of the Parties to A Multilateral Treaty
below the Number Necessary for Its Entry into Force ............ 163
Article 56 Denunciation of or Withdrawal from A Treaty
Containing No Provision Regarding Termination,
Denunciation or Withdrawal....................................................... 164
146 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 146
Article 57 Suspension of the Operation of A Treaty under Its
Provisions or by Consent of the Parties ..................................... 164
Article 58 Suspension of the Operation of A Multilateral Treaty
by Agreement between Certain of the Parties Only ................ 164
Article 59 Termination or Suspension of the Operation of A
Treaty Implied by Conclusion of A Later Treaty ...................... 164
Article 60 Termination or Suspension of the Operation of A
Treaty as A Consequence of Its Breach ...................................... 165
Article 61 Supervening Impossibility of Performance ................... 165
Article 62 Fundamental Change of Circumstances ........................ 166
Article 63 Severance of Diplomatic or Consular Relations ............ 166
Article 64 Emergence of A New Peremptory Norm of General
International Law (Jus Cogens) .................................................... 166
Section 4. Procedure ................................................................................. 166
Article 65 Procedure to be Followed with Respect to Invalidity,
Termination, Withdrawal from or Suspension of the
Operation of A Treaty ................................................................... 166
Article 66 Procedures for Judicial Selement, Arbitration and
Conciliation .................................................................................... 167
Article 67 Instruments for Declaring Invalid, Terminating,
Withdrawing from or Suspending the Operation of A Treaty 167
Article 68 Revocation of Notications and Instruments
Provided for in Articles 65 and 67 .............................................. 168
Section 5. Consequences of the Invalidity, Termination or
Suspension of the Operation of A Treaty ............................................ 168
Article 69 Consequences of the Invalidity of A Treaty ................... 168
Article 70 Consequences of the Termination of A Treaty ............... 168
Article 71 Consequences of the Invalidity of A Treaty which
Conicts with A Peremptory Norm of General International
Law .................................................................................................. 169
Article 72 Consequences of the Suspension of the Operation of
A Treaty .......................................................................................... 169
PART VI. MISCELLANEOUS PROVISIONS .......................................... 169
Article 73 Cases of State Succession, State Responsibility and
Outbreak of Hostilities ................................................................. 169
Article 74 Diplomatic and Consular Relations and the
Conclusion of Treaties .................................................................. 170
Article 75 Case of An Aggressor State .............................................. 170
147 Lampiran 147
PART VII. DEPOSITARIES, NOTIFICATIONS, CORRECTIONS
AND REGISTRATION ................................................................................. 170
Article 76 Depositaries of Treaties ..................................................... 170
Article 77 Functions of Depositaries ................................................. 170
Article 78 Notications and Communications ................................ 171
Article 79 Correction of Errors in Texts or in Certied Copies
of Treaties ....................................................................................... 171
Article 80 Registration and Publication of Treaties ........................ 172
PART VIII. FINAL PROVISIONS .............................................................. 172
Article 81 Signature ............................................................................. 172
Article 82 Ratication .......................................................................... 173
Article 83 Accession ............................................................................. 173
Article 84 Entry into Force .................................................................. 173
Article 85 Authentic Texts................................................................... 173
ANNEX ................................................................................................. 173
148 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 148
THE STATES PARTIES TO THE PRESENT CONVENTION
CONSIDERING the fundamental role of treaties in the history of international
relations,
RECOGNIZING the ever-increasing importance of treaties as a source of
international law and as a means of developing peaceful cooperation among
nations, whatever their constitutional and social sistems,
NOTING that the principles of free consent and of good faith and the pacta
sunt servanda rule are universally recognized,
AFFIRMING that disputes concerning treaties, like other international disputes,
should be seled by peaceful means and in conformity with the principles of
justice and international law,
RECALLING the determination of the peoples of the United Nations to establish
conditions under which justice and respect for the obligations arising from
treaties can be maintained,
HAVING IN MIND the principles of international law embodied in the
Charter of the United Nations, such as the principles of the equal rights and
self-determination of peoples, of the sovereign equality and independence of
all States, of non-interference in the domestic aairs of States, of the prohibition
of the threat or use of force and of universal respect for, and observance of,
human rights and fundamental freedoms for all,
BELIEVING that the codication and progressive development of the law of
treaties achieved in the present Convention will promote the purposes of the
United Nations set forth in the Charter, namely, the maintenance of international
peace and security, the development of friendly relations and the achievement
of cooperation among nations,
AFFIRMING that the rules of customary international law will continue to
govern questions not regulated by the provisions of the present Convention,
HAVE AGREED AS FOLLOWS:
A. PART I. INTRODUCTION
Article 1 Scope of the Present Convention
The present Convention applies to treaties between States.
Article 2 Use of Terms
1. For the purposes of the present Convention:
(a) "treaty" means an international agreement concluded between States in
wrien form and governed by international law, whether embodied in
a single instrument or in two or more related instruments and whatever
its particular designation;
149 Lampiran 149
(b) "ratication", "acceptance", "approval" and "accession" mean in each
case the international act so named whereby a State establishes on the
international plane its consent to be bound by a treaty;
(c) "full powers" means a document emanating from the competent
authority of a State designating a person or persons to represent the
State for negotiating, adopting or authenticating the text of a treaty,
for expressing the consent of the State to be bound by a treaty, or for
accomplishing any other act with respect to a treaty;
(d) "reservation" means a unilateral statement, however phrased or named,
made by a State, when signing, ratifying, accepting, approving or
acceding to a treaty, whereby it purports to exclude or to modify the
legal eect of certain provisions of the treaty in their application to
that State;
(e) "negotiating State" means a State which took part in the drawing up
and adoption of the text of the treaty;
(f) "contracting State" means a State which has consented to be bound by
the treaty, whether or not the treaty has entered into force;
(g) "party" means a State which has consented to be bound by the treaty
and for which the treaty is in force;
(h) "third State" means a State not a party to the treaty;
(i) "international organization" means an intergovernmental
organization.
2. The provisions of paragraph 1 regarding the use of terms in the present
Convention are without prejudice to the use of those terms or to the
meanings which may be given to them in the internal law of any State.
Article 3 International Agreements Not within the Scope of the Present
Convention
The fact that the present Convention does not apply to international agreements
concluded between States and other subjects of international law or between
such other subjects of international law, or to international agreements not in
wrien form, shall not aect:
(a) the legal force of such agreements;
(b) the application to them of any of the rules set forth in the present Convention
to which they would be subject under international law independently of
the Convention;
(c) the application of the Convention to the relations of States as between
themselves under international agreements to which other subjects of
international law are also parties.
150 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 150
Article 4 Non-Retroactivity of the Present Convention
Without prejudice to the application of any rules set forth in the present
Convention to which treaties would be subject under international law
independently of the Convention, the Convention applies only to treaties which
are concluded by States aer the entry into force of the present Convention
with regard to such States.
Article 5 Treaties Constituting International organizations and Treaties
Adopted within An International organization
The present Convention applies to any treaty which is the constituent instrument
of an international organization and to any treaty adopted within an international
organization without prejudice to any relevant rules of the organization.
B. PART II. CONCLUSION AND ENTRY INTO FORCE OF TREATIES
I. SECTION 1. CONCLUSION OF TREATIES
Article 6 Capacity of States to Conclude Treaties
Every State possesses capacity to conclude treaties.
Article 7 Full Powers
1. A person is considered as representing a State for the purpose of adopting
or authenticating the text of a treaty or for the purpose of expressing the
consent of the State to be bound by a treaty if:
(a) he produces appropriate full powers; or
(b) it appears from the practice of the States concerned or from other
circumstances that their intention was to consider that person as
representing the State for such purposes and to dispense with full
powers.
2. In virtue of their functions and without having to produce full powers,
the following are considered as representing their State:
(a) heads of State, Heads of Government and Ministers for Foreign Aairs,
for the purpose of performing all acts relating to the conclusion of a
treaty;
(b) heads of diplomatic missions, for the purpose of adopting the text of
a treaty between the accrediting State and the State to which they are
accredited;
(c) representatives accredited by States to an international conference or
to an international organization or one of its organs, for the purpose
of adopting the text of a treaty in that conference, organization or
organ.
151 Lampiran 151
Article 8 Subsequent Confirmation of An Act Performed without
Authorization
An act relating to the conclusion of a treaty performed by a person who cannot
be considered under article 7 as authorized to represent a State for that purpose
is without legal eect unless aerwards conrmed by that State.
Article 9 Adoption of the Text
1. The adoption of the text of a treaty takes place by the consent of all the
States participating in its drawing up except as provided in paragraph
2.
2. The adoption of the text of a treaty at an international conference takes
place by the vote of two thirds of the States present and voting, unless by
the same majority they shall decide to apply a dierent rule.
Article 10 Authentication of the Text
The text of a treaty is established as authentic and denitive:
(a) by such procedure as may be provided for in the text or agreed upon by
the States participating in its drawing up; or
(b) failing such procedure, by the signature, signature ad referendum or
initialling by the representatives of those States of the text of the treaty or
of the Final Act of a conference incorporating the text.
Article 11 Means of Expressing Consent to be Bound by A Treaty
The consent of a State to be bound by a treaty may be expressed by signature,
exchange of instruments constituting a treaty, ratication, acceptance, approval
or accession, or by any other means if so agreed.
Article 12 Consent to be Bound by A Treaty Expressed by Signature
1. The consent of a State to be bound by a treaty is expressed by the signature
of its representative when:
(a) the treaty provides that signature shall have that eect;
(b) it is otherwise established that the negotiating States were agreed that
signature should have that eect; or
(c) the intention of the State to give that eect to the signature appears
from the full powers of its representative or was expressed during the
negotiation.
2. For the purposes of paragraph 1:
(a) the initialling of a text constitutes a signature of the treaty when it is
established that the negotiating States so agreed;
(b) the signature ad referendum of a treaty by a representative, if conrmed
by his State, constitutes a full signature of the treaty.
152 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 152
Article 13 Consent to be Bound by A Treaty Expressed by An Exchange of
Instruments Constituting A Treaty
The consent of States to be bound by a treaty constituted by instruments
exchanged between them is expressed by that exchange when:
(a) the instruments provide that their exchange shall have that eect; or
(b) it is otherwise established that those States were agreed that the exchange
of instruments should have that eect.
Article 14 Consent to be Bound by A Treaty Expressed by Ratication,
Acceptance or Approval
1. The consent of a State to be bound by a treaty is expressed by ratication
when:
(a) the treaty provides for such consent to be expressed by means of
ratication;
(b) it is otherwise established that the negotiating States were agreed that
ratication should be required;
(c) the representative of the State has signed the treaty subject to ratication;
or
(d) the intention of the State to sign the treaty subject to ratication appears
from the full powers of its representative or was expressed during the
negotiation.
2. The consent of a State to be bound by a treaty is expressed by acceptance or
approval under conditions similar to those which apply to ratication.
Article 15 Consent to be Bound by A Treaty Expressed by Accession
The consent of a State to be bound by a treaty is expressed by accession
when:
(a) the treaty provides that such consent may be expressed by that State by
means of accession;
(b) it is otherwise established that the negotiating States were agreed that such
consent may be expressed by that State by means of accession; or
(c) all the parties have subsequently agreed that such consent may be expressed
by that State by means of accession.
Article 16 Exchange or Deposit of Instruments of Ratication, Acceptance,
Approval or Accession
Unless the treaty otherwise provides, instruments of ratication, acceptance,
approval or accession establish the consent of a State to be bound by a treaty
upon:
(a) their exchange between the contracting States;
(b) their deposit with the depositary; or
153 Lampiran 153
(c) their notication to the contracting States or to the depositary, if so
agreed.
Article 17 Consent to be Bound by Part of A Treaty and Choice of Diering
Provisions
1. Without prejudice to articles 19 to 23, the consent of a State to be bound
by part of a treaty is eective only if the treaty so permits or the other
contracting States so agree.
2. The consent of a State to be bound by a treaty which permits a choice
between diering provisions is eective only if it is made clear to which
of the provisions the consent relates.
Article 18 Obligation Not to Defeat the Object and Purpose of A Treaty Prior
to Its Entry into Force
A State is obliged to refrain from acts which would defeat the object and
purpose of a treaty when:
(a) it has signed the treaty or has exchanged instruments constituting the treaty
subject to ratication, acceptance or approval, until it shall have made its
intention clear not to become a party to the treaty; or
(b) it has expressed its consent to be bound by the treaty, pending the entry
into force of the treaty and provided that such entry into force is not unduly
delayed.
II. SECTION 2. RESERVATIONS
Article 19 Formulation of Reservations
A State may, when signing, ratifying, accepting, approving or acceding to a
treaty, formulate a reservation unless:
(a) the reservation is prohibited by the treaty;
(b) the treaty provides that only specied reservations, which do not include
the reservation in question, may be made; or
(c) in cases not failing under subparagraphs (a) and (b), the reservation is
incompatible with the object and purpose of the treaty.
Article 20 Acceptance of and Objection to Reservations
1. A reservation expressly authorized by a treaty does not require any
subsequent acceptance by the other contracting States unless the treaty
so provides.
2. When it appears from the limited number of the negotiating States and
the object and purpose of a treaty that the application of the treaty in its
entirety between all the parties is an essential condition of the consent of
each one to be bound by the treaty, a reservation requires acceptance by
all the parties.
154 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 154
3. When a treaty is a constituent instrument of an international organization
and unless it otherwise provides, a reservation requires the acceptance of
the competent organ of that organization.
4. In cases not falling under the preceding paragraphs and unless the treaty
otherwise provides:
(a) acceptance by another contracting State of a reservation constitutes
the reserving State a party to the treaty in relation to that other State
if or when the treaty is in force for those States;
(b) an objection by another contracting State to a reservation does not
preclude the entry into force of the treaty as between the objecting and
reserving States unless a contrary intention is denitely expressed by
the objecting State;
(c) an act expressing a State's consent to be bound by the treaty and
containing a reservation is eective as soon as at least one other
contracting State has accepted the reservation.
5. For the purposes of paragraphs 2 and 4 and unless the treaty otherwise
provides, a reservation is considered to have been accepted by a State if
it shall have raised no objection to the reservation by the end of a period
of twelve months aer it was notied of the reservation or by the date
on which it expressed its consent to be bound by the treaty, whichever is
later.
Article 21 Legal Elects of Reservations and of Objections to Reservations
1. A reservation established with regard to another party in accordance with
articles 19, 20 and 23:
(a) modies for the reserving State in its relations with that other party the
provisions of the treaty to which the reservation relates to the extent
of the reservation; and
(b) modies those provisions to the same extent for that other party in its
relations with the reserving State.
2. The reservation does not modify the provisions of the treaty for the other
parties to the treaty inter se.
3. When a State objecting to a reservation has not opposed the entry into
force of the treaty between itself and the reserving State, the provisions
to which the reservation relates do not apply as between the two States to
the extent of the reservation.
Article 22 Withdrawal of Reservations and of Objections to Reservations
1. Unless the treaty otherwise provides, a reservation may be withdrawn at
any time and the consent of a State which has accepted the reservation is
not required for its withdrawal.
2. Unless the treaty otherwise provides, an objection to a reservation may be
withdrawn at any time.
155 Lampiran 155
3. Unless the treaty otherwise provides, or it is otherwise agreed:
(a) the withdrawal of a reservation becomes operative in relation to
another contracting State only when notice of it has been received by
that State;
(b) the withdrawal of an objection to a reservation becomes operative only
when notice of it has been received by the State which formulated the
reservation.
Article 23 Procedure Regarding Reservations
1. A reservation, an express acceptance of a reservation and an objection
to a reservation must be formulated in writing and communicated to
the contracting States and other States entitled to become parties to the
treaty.
2. If formulated when signing the treaty subject to ratication, acceptance
or approval, a reservation must be formally conrmed by the reserving
State when expressing its consent to be bound by the treaty. In such a case
the reservation shall be considered as having been made on the date of its
conrmation.
3. An express acceptance of, or an objection to, a reservation made previously
to conrmation of the reservation does not itself require conrmation.
4. The withdrawal of a reservation or of an objection to a reservation must
be formulated in writing.
III. SECTION 3. ENTRY INTO FORCE AND PROVISIONAL, APPLICATION
OF TREATIES
Article 24 Entry into Force
1. A treaty enters into force in such manner and upon such date as it may
provide or as the negotiating States may agree.
2. Failing any such provision or agreement, a treaty enters into force as
soon as consent to be bound by the treaty has been established for all the
negotiating States.
3. When the consent of a State to be bound by a treaty is established on a
date aer the treaty has come into force, the treaty enters into force for
that State on that date, unless the treaty otherwise provides.
4. The provisions of a treaty regulating the authentication of its text, the
establishment of the consent of States to be bound by the treaty, the manner
or date of its entry into force, reservations, the functions of the depositary
and other maers arising necessarily before the entry into force of the
treaty apply from the time of the adoption of its text.
156 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 156
Article 25 Provisional Application
1. A treaty or a part of a treaty is applied provisionally pending its entry into
force if:
(a) the treaty itself so provides; or
(b) the negotiating States have in some other manner so agreed.
2. Unless the treaty otherwise provides or the negotiating States have otherwise
agreed, the provisional application of a treaty or a part of a treaty with
respect to a State shall be terminated if that State noties the other States
between which the treaty is being applied provisionally of its intention
not to become a party to the treaty.
C. PART III. OBSERVANCE, APPLICATION AND INTERPRETATION OF
TREATIES
IV. SECTION 1. OBSERVANCE OF TREATIES
Article 26 "Pacta Sunt Servanda"
Every treaty in force is binding upon the parties to it and must be performed
by them in good faith.
Article 27 Internal Law and Observance of Treaties
A party may not invoke the provisions of its internal law as justication for its
failure to perform a treaty. This rule is without prejudice to article 46.
V. SECTION 2. APPLICATION OF TREATIES
Article 28 Non-Retroactivity of Treaties
Unless a dierent intention appears from the treaty or is otherwise established,
its provisions do not bind a party in relation to any act or fact which took place
or any situation which ceased to exist before the date of the entry into force of
the treaty with respect to that party.
Article 29 Territorial Scope of Treaties
Unless a dierent intention appears from the treaty or is otherwise established,
a treaty is binding upon each party in respect of its entire territory.
Article 30 Application of Successive Treaties Relating to the Same Subject
Maer
1. Subject to Article 103 of the Charter of the United Nations, the rights and
obligations of States Parties to successive treaties relating to the same
157 Lampiran 157
subject maer shall be determined in accordance with the following
paragraphs.
2. When a treaty species that it is subject to, or that it is not to be considered
as incompatible with, an earlier or later treaty, the provisions of that other
treaty prevail.
3. When all the parties to the earlier treaty are parties also to the later treaty
but the earlier treaty is not terminated or suspended in operation under
article 59, the earlier treaty applies only to the extent that its provisions
are compatible with those of the later treaty.
4. When the parties to the later treaty do not include all the parties to the
earlier one:
(a) as between States Parties to both treaties the same rule applies as in
paragraph 3;
(b) as between a State party to both treaties and a State party to only one
of the treaties, the treaty to which both States are parties governs their
mutual rights and obligations.
5. Paragraph 4 is without prejudice to article 41, or to any question of the
termination or suspension of the operation of a treaty under article 60
or to any question of responsibility which may arise for a State from the
conclusion or application of a treaty the provisions of which are incompatible
with its obligations towards another State under another treaty.
VI. SECTION 3. INTERPRETATION OF TREATIES
Article 31 General Rule of Interpretation
1. A treaty shall be interpreted in good faith in accordance with the ordinary
meaning to be given to the terms of the treaty in their context and in the
light of its object and purpose.
2. The context for the purpose of the interpretation of a treaty shall comprise,
in addition to the text, including its preamble and annexes:
(a) any agreement relating to the treaty which was made between all the
parties in connection with the conclusion of the treaty;
(b) any instrument which was made by one or more parties in connection
with the conclusion of the treaty and accepted by the other parties as
an instrument related to the treaty.
3. There shall be taken into account, together with the context:
(a) any subsequent agreement between the parties regarding the
interpretation of the treaty or the application of its provisions;
(b) any subsequent practice in the application of the treaty which establishes
the agreement of the parties regarding its interpretation;
(c) any relevant rules of international law applicable in the relations
between the parties.
158 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 158
4. A special meaning shall be given to a term if it is established that the parties
so intended.
Article 32 Supplementary Means of Interpretation
Recourse may be had to supplementary means of interpretation, including
the preparatory work of the treaty and the circumstances of its conclusion, in
order to conrm the meaning resulting from the application of article 31, or to
determine the meaning when the interpretation according to article 31:
(a) leaves the meaning ambiguous or obscure; or
(b) leads to a result which is manifestly absurd or unreasonable.
Article 33 Interpretation of Treaties Authenticated in Two or More
Languages
1. When a treaty has been authenticated in two or more languages, the text
is equally authoritative in each language, unless the treaty provides or the
parties agree that, in case of divergence, a particular text shall prevail.
2. A version of the treaty in a language other than one of those in which the
text was authenticated shall be considered an authentic text only if the
treaty so provides or the parties so agree.
3. The terms of the treaty are presumed to have the same meaning in each
authentic text.
4. Except where a particular text prevails in accordance with paragraph 1,
when a comparison of the authentic texts discloses a dierence of meaning
which the application of articles 31 and 32 does not remove, the meaning
which best reconciles the texts, having regard to the object and purpose
of the treaty, shall be adopted.
VII. SECTION 4. TREATIES AND THIRD STATES
Article 34 General Rule Regarding Third States
A treaty does not create either obligations or rights for a third State without
its consent.
Article 35 Treaties Providing for Obligations for Third States
An obligation arises for a third State from a provision of a treaty if the parties
to the treaty intend the provision to be the means of establishing the obligation
and the third State expressly accepts that obligation in writing.
Article 36 Treaties Providing for Rights for Third States
1. A right arises for a third State from a provision of a treaty if the parties to
the treaty intend the provision to accord that right either to the third State,
or to a group of States to which it belongs, or to all States, and the third
159 Lampiran 159
State assents thereto. Its assent shall be presumed so long as the contrary
is not indicated, unless the treaty otherwise provides.
2. A State exercising a right in accordance with paragraph 1 shall comply
with the conditions for its exercise provided for in the treaty or established
in conformity with the treaty.
Article 37 Revocation or Modication of Obligations or Rights of Third
States
1. When an obligation has arisen for a third State in conformity with article
35, the obligation may be revoked or modied only with the consent of
the parties to the treaty and of the third State, unless it is established that
they had otherwise agreed.
2. When a right has arisen for a third State in conformity with article 36, the
right may not be revoked or modied by the parties if it is established
that the right was intended not to be revocable or subject to modication
without the consent of the third State.
Article 38 Rules in A Treaty becoming Binding on Third States through
International Custom
Nothing in articles 34 to 37 precludes a rule set forth in a treaty from becoming
binding upon a third State as a customary rule of international law, recognized
as such.
D. PART IV. AMENDMENT AND MODIFICATION OF TREATIES
Article 39 General Rule Regarding the Amendment of Treaties
A treaty may be amended by agreement between the parties. The rules laid
down in Part II apply to such an agreement except insofar as the treaty may
otherwise provide.
Article 40 Amendment of Multilateral Treaties
1. Unless the treaty otherwise provides, the amendment of multilateral treaties
shall be governed by the following paragraphs.
2. Any proposal to amend a multilateral treaty as between all the parties must
be notied to all the contracting States, each one of which shall have the
right to take part in:
(a) the decision as to the action to be taken in regard to such proposal;
(b) the negotiation and conclusion of any agreement for the amendment
of the treaty.
3. Every State entitled to become a party to the treaty shall also be entitled
to become a party to the treaty as amended.
160 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 160
4. The amending agreement does not bind any State already a party to the
treaty which does not become a party to the amending agreement; article
30, paragraph 4 (b), applies in relation to such State.
5. Any State which becomes a party to the treaty aer the entry into force of
the amending agreement shall, failing an expression of a dierent intention
by that State:
(a) be considered as a party to the treaty as amended; and
(b) be considered as a party to the unamended treaty in relation to any
party to the treaty not bound by the amending agreement.
Article 41 Agreements to Modify Multilateral Treaties between Certain of
the Parties Only
1. Two or more of the parties to a multilateral treaty may conclude an
agreement to modify the treaty as between themselves alone if:
(a) the possibility of such a modication is provided for by the treaty;
or
(b) the modication in question is not prohibited by the treaty and:
(i) does not aect the enjoyment by the other parties of their rights
under the treaty or the performance of their obligations;
(ii) does not relate to a provision, derogation from which is incompatible
with the eective execution of the object and purpose of the treaty
as a whole.
2. Unless in a case falling under paragraph 1 (a) the treaty otherwise provides,
the parties in question shall notify the other parties of their intention to
conclude the agreement and of the modication to the treaty for which it
provides.
E. PART V. INVALIDITY, TERMINATION AND SUSPENSION OF THE
OPERATION OF TREATIES
VIII. SECTION 1. GENERAL PROVISIONS
Article 42 Validity and Continuance in Force of Treaties
1. The validity of a treaty or of the consent of a State to be bound by a treaty may
be impeached only through the application of the present Convention.
2. The termination of a treaty, its denunciation or the withdrawal of a party,
may take place only as a result of the application of the provisions of the
treaty or of the present Convention. The same rule applies to suspension
of the operation of a treaty.
161 Lampiran 161
Article 43 Obligations Imposed by International Law Independently of A
Treaty
The invalidity, termination or denunciation of a treaty, the withdrawal of a
party from it, or the suspension of its operation, as a result of the application
of the present Convention or of the provisions of the treaty, shall not in any
way impair the duty of any State to fulll any obligation embodied in the
treaty to which it would be subject under international law independently
of the treaty.
Article 44 Separability of Treaty Provisions
1. A right of a party, provided for in a treaty or arising under article 56, to
denounce, withdraw from or suspend the operation of the treaty may be
exercised only with respect to the whole treaty unless the treaty otherwise
provides or the parties otherwise agree.
2. A ground for invalidating, terminating, withdrawing from or suspending
the operation of a treaty recognized in the present Convention may be
invoked only with respect to the whole treaty except as provided in the
following paragraphs or in article 60.
3. If the ground relates solely to particular clauses, it may be invoked only
with respect to those clauses where:
(a) the said clauses are separable from the remainder of the treaty with
regard to their application;
(b) it appears from the treaty or is otherwise established that acceptance
of those clauses was not an essential basis of the consent of the other
party or parties to be bound by the treaty as a whole; and
(c) continued performance of the remainder of the treaty would not be
unjust.
4. In cases falling under articles 49 and 50, the State entitled to invoke the
fraud or corruption may do so with respect either to the whole treaty or,
subject to paragraph 3, to the particular clauses alone.
5. In cases falling under articles 51, 52 and 53, no separation of the provisions
of the treaty is permied.
Article 45 Loss of A Right to Invoke A Ground for Invalidating, Terminating,
Withdrawing from or Suspending the Operation of A Treaty
A State may no longer invoke a ground for invalidating, terminating, withdrawing
from or suspending the operation of a treaty under articles 46 to 50 or articles
60 and 62 if, aer becoming aware of the facts:
(a) it shall have expressly agreed that the treaty is valid or remains in force
or continues in operation, as the case may be; or
162 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 162
(b) it must by reason of its conduct be considered as having acquiesced in the
validity of the treaty or in its maintenance in force or in operation, as the
case may be.
IX. SECTION 2. INVALIDITY OF TREATIES
Article 46 Provisions of Internal Law Regarding Competence to Conclude
Treaties
1. A State may not invoke the fact that its consent to be bound by a treaty
has been expressed in violation of a provision of its internal law regarding
competence to conclude treaties as invalidating its consent unless that
violation was manifest and concerned a rule of its internal law of fundamental
importance.
2. A violation is manifest if it would be objectively evident to any State
conducting itself in the maer in accordance with normal practice and in
good faith.
Article 47 Specic Restrictions on Authority to Express the Consent of A
State
If the authority of a representative to express the consent of a State to be
bound by a particular treaty has been made subject to a specic restriction,
his omission to observe that restriction may not be invoked as invalidating
the consent expressed by him unless the restriction was notied to the other
negotiating States prior to his expressing such consent.
Article 48 Error
1. A State may invoke an error in a treaty as invalidating its consent to be
bound by the treaty if the error relates to a fact or situation which was
assumed by that State to exist at the time when the treaty was concluded
and formed an essential basis of its consent to be bound by the treaty.
2. Paragraph 1 shall not apply if the State in question contributed by its own
conduct to the error or if the circumstances were such as to put that State
on notice of a possible error.
3. An error relating only to the wording of the text of a treaty does not aect
its validity; article 79 then applies.
Article 49 Fraud
If a State has been induced to conclude a treaty by the fraudulent conduct of
another negotiating State, the State may invoke the fraud as invalidating its
consent to be bound by the treaty.
163 Lampiran 163
Article 50 Corruption of A Representative of A State
If the expression of a State's consent to be bound by a treaty has been procured
through the corruption of its representative directly or indirectly by another
negotiating State, the State may invoke such corruption as invalidating its
consent to be bound by the treaty.
Article 51 Coercion of A Representative of A State
The expression of a State's consent to be bound by a treaty which has been
procured by the coercion of its representative through acts or threats directed
against him shall be without any legal eect.
Article 52 Coercion of A State by the Threat or Use of Force
A treaty is void if its conclusion has been procured by the threat or use of force
in violation of the principles of international law embodied in the Charter of
the United Nations.
Article 53 Treaties Conicting with A Peremptory Norm of General International
Law (Jus Cogens)
A treaty is void if, at the time of its conclusion, it conicts with a peremptory
norm of general international law. For the purposes of the present Convention, a
peremptory norm of general international law is a norm accepted and recognized
by the international community of States as a whole as a norm from which
no derogation is permied and which can be modied only by a subsequent
norm of general international law having the same character.
X. SECTION 3. TERMINATION AND SUSPENSION OF THE OPERATION
OF TREATIES
Article 54 Termination of or Withdrawal from A Treaty under Its Provisions
or by Consent of the Parties
The termination of a treaty or the withdrawal of a party may take place:
(a) in conformity with the provisions of the treaty; or
(b) at any time by consent of all the parties aer consultation with the other
contracting States.
Article 55 Reduction of the Parties to A Multilateral Treaty below the Number
Necessary for Its Entry into Force
Unless the treaty otherwise provides, a multilateral treaty does not terminate
by reason only of the fact that the number of the parties falls below the number
necessary for its entry into force.
164 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 164
Article 56 Denunciation of or Withdrawal from A Treaty Containing No
Provision Regarding Termination, Denunciation or Withdrawal
1. A treaty which contains no provision regarding its termination and
which does not provide for denunciation or withdrawal is not subject to
denunciation or withdrawal unless:
(a) it is established that the parties intended to admit the possibility of
denunciation or withdrawal; or
(b) a right of denunciation or withdrawal may be implied by the nature
of the treaty.
2. A party shall give not less than twelve months' notice of its intention to
denounce or withdraw from a treaty under paragraph 1.
Article 57 Suspension of the Operation of A Treaty under Its Provisions or by
Consent of the Parties
The operation of a treaty in regard to all the parties or to a particular party
may be suspended:
(a) in conformity with the provisions of the treaty; or
(b) at any time by consent of all the parties aer consultation with the other
contracting States.
Article 58 Suspension of the Operation of A Multilateral Treaty by Agreement
between Certain of the Parties Only
1. Two or more parties to a multilateral treaty may conclude an agreement
to suspend the operation of provisions of the treaty, temporarily and as
between themselves alone, if:
(a) the possibility of such a suspension is provided for by the treaty; or
(b) the suspension in question is not prohibited by the treaty and:
(i) does not aect the enjoyment by the other parties of their rights
under the treaty or the performance of their obligations;
(ii) is not incompatible with the object and purpose of the treaty.
2. Unless in a case falling under paragraph 1 (a) the treaty otherwise provides,
the parties in question shall notify the other parties of their intention to
conclude the agreement and of those provisions of the treaty the operation
of which they intend to suspend.
Article 59 Termination or Suspension of the Operation of A Treaty Implied
by Conclusion of A Later Treaty
1. A treaty shall be considered as terminated if all the parties to it conclude
a later treaty relating to the same subject maer and:
(a) it appears from the later treaty or is otherwise established that the
parties intended that the maer should be governed by that treaty;
or
165 Lampiran 165
(b) the provisions of the later treaty are so far incompatible with those of
the earlier one that the two treaties are not capable of being applied
at the same time.
2. The earlier treaty shall be considered as only suspended in operation if it
appears from the later treaty or is otherwise established that such was the
intention of the parties.
Article 60 Termination or Suspension of the Operation of A Treaty as A
Consequence of Its Breach
1. A material breach of a bilateral treaty by one of the parties entitles the other
to invoke the breach as a ground for terminating the treaty or suspending
its operation in whole or in part.
2. A material breach of a multilateral treaty by one of the parties entitles:
(a) the other parties by unanimous agreement to suspend the operation
of the treaty in whole or in part or to terminate it either:
(i) in the relations between themselves and the defaulting State; or
(ii) as between all the parties;
(b) a party specially aected by the breach to invoke it as a ground for
suspending the operation of the treaty in whole or in part in the relations
between itself and the defaulting State;
(c) any party other than the defaulting State to invoke the breach as a
ground for suspending the operation of the treaty in whole or in part
with respect to itself if the treaty is of such a character that a material
breach of its provisions by one party radically changes the position of
every party with respect to the further performance of its obligations
under the treaty.
3. A material breach of a treaty, for the purposes of this article, consists in:
(a) a repudiation of the treaty not sanctioned by the present Convention;
or
(b) the violation of a provision essential to the accomplishment of the
object or purpose of the treaty.
4. The foregoing paragraphs are without prejudice to any provision in the
treaty applicable in the event of a breach.
5. Paragraphs 1 to 3 do not apply to provisions relating to the protection of
the human person contained in treaties of a humanitarian character, in
particular to provisions prohibiting any form of reprisals against persons
protected by such treaties.
Article 61 Supervening Impossibility of Performance
1. A party may invoke the impossibility of performing a treaty as a ground
for terminating or withdrawing from it if the impossibility results from
the permanent disappearance or destruction of an object indispensable
166 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 166
for the execution of the treaty. If the impossibility is temporary, it may be
invoked only as a ground for suspending the operation of the treaty.
2. Impossibility of performance may not be invoked by a party as a ground
for terminating, withdrawing from or suspending the operation of a
treaty if the impossibility is the result of a breach by that party either of an
obligation under the treaty or of any other international obligation owed
to any other party to the treaty.
Article 62 Fundamental Change of Circumstances
1. A fundamental change of circumstances which has occurred with regard to
those existing at the time of the conclusion of a treaty, and which was not
foreseen by the parties, may not be invoked as a ground for terminating
or withdrawing from the treaty unless:
(a) the existence of those circumstances constituted an essential basis of
the consent of the parties to be bound by the treaty; and
(b) the eect of the change is radically to transform the extent of obligations
still to be performed under the treaty.
2. A fundamental change of circumstances may not be invoked as a ground
for terminating or withdrawing from a treaty:
(a) if the treaty establishes a boundary; or
(b) if the fundamental change is the result of a breach by the party invoking
it either of an obligation under the treaty or of any other international
obligation owed to any other party to the treaty.
3. If, under the foregoing paragraphs, a party may invoke a fundamental
change of circumstances as a ground for terminating or withdrawing
from a treaty it may also invoke the change as a ground for suspending
the operation of the treaty.
Article 63 Severance of Diplomatic or Consular Relations
The severance of diplomatic or consular relations between parties to a treaty
does not aect the legal relations established between them by the treaty except
insofar as the existence of diplomatic or consular relations are indispensable
for the application of the treaty.
Article 64 Emergence of A New Peremptory Norm of General International
Law (Jus Cogens)
If a new peremptory norm of general international law emerges, any existing
treaty which is in conict with that norm becomes void and terminates.
XI. SECTION 4. PROCEDURE
Article 65 Procedure to be Followed with Respect to Invalidity, Termination,
Withdrawal from or Suspension of the Operation of A Treaty
167 Lampiran 167
1. A party which, under the provisions of the present Convention, invokes
either a defect in its consent to be bound by a treaty or a ground for
impeaching the validity of a treaty, terminating it, withdrawing from it
or suspending its operation, must notify the other parties of its claim. The
notication shall indicate the measure proposed to be taken with respect
to the treaty and the reasons therefor.
2. If, aer the expiry of a period which, except in cases of special urgency,
shall not be less than three months aer the receipt of the notication,
no party has raised any objection, the party making the notication may
carry out in the manner provided in article 67 the measure which it has
proposed.
3. If, however, objection has been raised by any other party, the parties shall
seek a solution through the means indicated in Article 33 of the Charter
of the United Nations.
4. Nothing in the foregoing paragraphs shall aect the rights or obligations
of the parties under any provisions in force binding the parties with regard
to the selement of disputes.
5. Without prejudice to article 45, the fact that a State has not previously
made the notication prescribed in paragraph 1 shall not prevent it from
making such notication in answer to another party claiming performance
of the treaty or alleging its violation.
Article 66 Procedures for Judicial Selement, Arbitration and Conciliation
If, under paragraph 3 of article 65, no solution has been reached within a
period of 12 months following the date on which the objection was raised, the
following procedures shall be followed:
(a) any one of the parties to a dispute concerning the application or the
interpretation of article 53 or 64 may, by a wrien application, submit it
to the International Court of Justice for a decision unless the parties by
common consent agree to submit the dispute to arbitration;
(b) any one of the parties to a dispute concerning the application or the
interpretation of any of the other articles in part V of the present Convention
may set in motion the procedure specied in the Annex to the Convention
by submiing a request to that eect to the Secretary-General of the United
Nations.
Article 67 Instruments for Declaring Invalid, Terminating, Withdrawing from
or Suspending the Operation of A Treaty
1. The notication provided for under article 65, paragraph 1, must be made
in writing.
2. Any act of declaring invalid, terminating, withdrawing from or suspending
the operation of a treaty pursuant to the provisions of the treaty or of
168 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 168
paragraphs 2 or 3 of article 65 shall be carried out through an instrument
communicated to the other parties. If the instrument is not signed by the
Head of State, Head of Government or Minister for Foreign Aairs, the
representative of the State communicating it may be called upon to produce
full powers.
Article 68 Revocation of Notications and Instruments Provided for in Articles
65 and 67
A notication or instrument provided for in article 65 or 67 may be revoked
at any time before it takes eect.
XII. SECTION 5. CONSEQUENCES OF THE INVALIDITY, TERMINATION
OR SUSPENSION OF THE OPERATION OF A TREATY
Article 69 Consequences of the Invalidity of A Treaty
1. A treaty the invalidity of which is established under the present Convention
is void. The provisions of a void treaty have no legal force.
2. If acts have nevertheless been performed in reliance on such a treaty:
(a) each party may require any other party to establish as far as possible
in their mutual relations the position that would have existed if the
acts had not been performed;
(b) acts performed in good faith before the invalidity was invoked are not
rendered unlawful by reason only of the invalidity of the treaty.
3. In cases falling under article 49, 50, 51 or 52, paragraph 2 does not apply
with respect to the party to which the fraud, the act of corruption or the
coercion is imputable.
4. In the case of the invalidity of a particular State's consent to be bound by a
multilateral treaty, the foregoing rules apply in the relations between that
State and the parties to the treaty.
Article 70 Consequences of the Termination of A Treaty
1. Unless the treaty otherwise provides or the parties otherwise agree, the
termination of a treaty under its provisions or in accordance with the
present Convention:
(a) releases the parties from any obligation further to perform the
treaty;
(b) does not aect any right, obligation or legal situation of the parties
created through the execution of the treaty prior to its termination.
2. If a State denounces or withdraws from a multilateral treaty, paragraph
1 applies in the relations between that State and each of the other parties
to the treaty from the date when such denunciation or withdrawal takes
eect.
169 Lampiran 169
Article 71 Consequences of the Invalidity of A Treaty which Conicts with A
Peremptory Norm of General International Law
1. In the case of a treaty which is void under article 53 the parties shall:
(a) eliminate as far as possible the consequences of any act performed in
reliance on any provision which conicts with the peremptory norm
of general international law; and
(b) bring their mutual relations into conformity with the peremptory norm
of general international law.
2. In the case of a treaty which becomes void and terminates under article
64, the termination of the treaty:
(a) releases the parties from any obligation further to perform the
treaty;
(b) does not aect any right, obligation or legal situation of the parties
created through the execution of the treaty prior to its termination,
provided that those rights, obligations or situations may thereaer be
maintained only to the extent that their maintenance is not in itself in
conict with the new peremptory norm of general international law.
Article 72 Consequences of the Suspension of the Operation of A Treaty
1. Unless the treaty otherwise provides or the parties otherwise agree, the
suspension of the operation of a treaty under its provisions or in accordance
with the present Convention:
(a) releases the parties between which the operation of the treaty is
suspended from the obligation to perform the treaty in their mutual
relations during the period of the suspension;
(b) does not otherwise aect the legal relations between the parties
established by the treaty.
2. During the period of the suspension the parties shall refrain from acts
tending to obstruct the resumption of the operation of the treaty.
F. PART VI. MISCELLANEOUS PROVISIONS
Article 73 Cases of State Succession, State Responsibility and Outbreak of
Hostilities
The provisions of the present Convention shall not prejudge any question that
may arise in regard to a treaty from a succession of States or from the international
responsibility of a State or from the outbreak of hostilities between States.
170 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 170
Article 74 Diplomatic and Consular Relations and the Conclusion of
Treaties
The severance or absence of diplomatic or consular relations between two or
more States does not prevent the conclusion of treaties between those States.
The conclusion of a treaty does not in itself aect the situation in regard to
diplomatic or consular relations.
Article 75 Case of An Aggressor State
The provisions of the present Convention are without prejudice to any obligation
in relation to a treaty which may arise for an aggressor State in consequence
of measures taken in conformity with the Charter of the United Nations with
reference to that State's aggression.
G. PART VII. DEPOSITARIES, NOTIFICATIONS, CORRECTIONS AND
REGISTRATION
Article 76 Depositaries of Treaties
1. The designation of the depositary of a treaty may be made by the negotiating
States, either in the treaty itself or in some other manner. The depositary
may be one or more States, an international organization or the chief
administrative o cer of the organization.
2. The functions of the depositary of a treaty are international in character
and the depositary is under an obligation to act impartially in their
performance. In particular, the fact that a treaty has not entered into force
between certain of the parties or that a dierence has appeared between
a State and a depositary with regard to the performance of the laer's
functions shall not aect that obligation.
Article 77 Functions of Depositaries
1. The functions of a depositary, unless otherwise provided in the treaty or
agreed by the contracting States, comprise in particular:
(a) keeping custody of the original text of the treaty and of any full powers
delivered to the depositary;
(b) preparing certied copies of the original text and preparing any further
text of the treaty in such additional languages as may be required by
the treaty and transmiing them to the parties and to the States entitled
to become parties to the treaty;
(c) receiving any signatures to the treaty and receiving and keeping custody
of any instruments, notications and communications relating to it;
171 Lampiran 171
(d) examining whether the signature or any instrument, notication or
communication relating to the treaty is in due and proper form and, if
need be, bringing the maer to the aention of the State in question;
(e) informing the parties and the States entitled to become parties to
the treaty of acts, notications and communications relating to the
treaty;
(f) informing the States entitled to become parties to the treaty when the
number of signatures or of instruments of ratication, acceptance,
approval or accession required for the entry into force of the treaty
has been received or deposited;
(g) registering the treaty with the Secretariat of the United Nations;
(h) performing the functions specied in other provisions of the present
Convention.
2. In the event of any dierence appearing between a State and the depositary
as to the performance of the laer's functions, the depositary shall bring
the question to the aention of the signatory States and the contracting
States or, where appropriate, of the competent organ of the international
organization concerned.
Article 78 Notications and Communications
Except as the treaty or the present Convention otherwise provide, any
notication or communication to be made by any State under the present
Convention shall:
(a) if there is no depositary, be transmied direct to the States for which it is
intended, or if there is a depositary, to the laer;
(b) be considered as having been made by the State in question only upon
its receipt by the State to which it was transmied or, as the case may be,
upon its receipt by the depositary;
(c) if transmied to a depositary, be considered as received by the State for
which it was intended only when the laer State has been informed by the
depositary in accordance with article 77, paragraph 1 (e).
Article 79 Correction of Errors in Texts or In Certied Copies of Treaties
1. Where, aer the authentication of the text of a treaty, the signatory States
and the contracting States are agreed that it contains an error, the error shall,
unless they decide upon some other means of correction, be corrected:
(a) by having the appropriate correction made in the text and causing the
correction to be initialled by duly authorized representatives;
(b) by executing or exchanging an instrument or instruments seing out
the correction which it has been agreed to make; or
(c) by executing a corrected text of the whole treaty by the same procedure
as in the case of the original text.
172 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 172
2. Where the treaty is one for which there is a depositary, the laer shall
notify the signatory States and the contracting States of the error and of
the proposal to correct it and shall specify an appropriate time-limit within
which objection to the proposed correction may be raised. If, on the expiry
of the time-limit:
(a) no objection has been raised, the depositary shall make and initial the
correction in the text and shall execute a procs-verbal of the rectication
of the text and communicate a copy of it to the parties and to the States
entitled to become parties to the treaty;
(b) an objection has been raised, the depositary shall communicate the
objection to the signatory States and to the contracting States.
3. The rules in paragraphs 1 and 2 apply also where the text has been
authenticated in two or more languages and it appears that there is a lack
of concordance which the signatory States and the contracting States agree
should be corrected.
4. The corrected text replaces the defective text ab initio, unless the signatory
States and the contracting States otherwise decide.
5. The correction of the text of a treaty that has been registered shall be notied
to the Secretariat of the United Nations.
6. Where an error is discovered in a certied copy of a treaty, the depositary
shall execute a procs-verbal specifying the rectication and communicate
a copy of it to the signatory States and to the contracting States.
Article 80 Registration and Publication of Treaties
1. Treaties shall, aer their entry into force, be transmied to the Secretariat
of the United Nations for registration or ling and recording, as the case
may be, and for publication.
2. The designation of a depositary shall constitute authorization for it to
perform the acts specied in the preceding paragraph.
H. PART VIII. FINAL PROVISIONS
Article 81 Signature
The present Convention shall be open for signature by all States Members of
the United Nations or of any of the specialized agencies or of the International
Atomic Energy Agency or parties to the Statute of the International Court of
Justice, and by any other State invited by the General Assembly of the United
Nations to become a party to the Convention, as follows: until 30 November
1969, at the Federal Ministry for Foreign Aairs of the Republic of Austria,
and subsequently, until 30 April 1970, at United Nations Headquarters, New
York.
173 Lampiran 173
Article 82 Ratication
The present Convention is subject to ratication. The instruments of ratication
shall be deposited with the Secretary-General of the United Nations.
Article 83 Accession
The present Convention shall remain open for accession by any State belonging
to any of the categories mentioned in article 81. The instruments of accession
shall be deposited with the Secretary- General of the United Nations.
Article 84 Entry into Force
1. The present Convention shall enter into force on the thirtieth day following the
date of deposit of the thirty-h instrument of ratication or accession.
2. For each State ratifying or acceding to the Convention aer the deposit
of the thirty-h instrument of ratication or accession, the Convention
shall enter into force on the thirtieth day aer deposit by such State of its
instrument of ratication or accession.
Article 85 Authentic Texts
The original of the present Convention, of which the Chinese, English, French,
Russian and Spanish texts are equally authentic, shall be deposited with the
Secretary-General of the United Nations.
IN WITNESS WHEREOF the undersigned Plenipotentiaries, being duly
authorized thereto by their respective Governments, have signed the present
Convention.
DONE at Vienna this twenty-third day of May, one thousand nine hundred
and sixty-nine.
I. ANNEX
1. A list of conciliators consisting of qualied jurists shall be drawn up and
maintained by the Secretary-General of the United Nations. to this end,
every State which is a Member of the United Nations or a party to the
present Convention shall be invited to nominate two conciliators, and the
names of the persons so nominated shall constitute the list. The term of
a conciliator, including that of any conciliator nominated to ll a casual
vacancy, shall be ve years and may be renewed. A conciliator whose term
expires shall continue to fulll any function for which he shall have been
chosen under the following paragraph.
174 Buku Ajar Hukum Perjanjian Internasional 174
2. When a request has been made to the Secretary-General under article 66, the
Secretary-General shall bring the dispute before a conciliation commission
constituted as follows:
The State or States constituting one of the parties to the dispute shall
appoint:
(a) one conciliator of the nationality of that State or of one of those States,
who may or may not be chosen from the list referred to in paragraph
1; and
(b) one conciliator not of the nationality of that State or of any of those
States, who shall be chosen from the list.
The State or States constituting the other party to the dispute shall appoint
two conciliators in the same way. The four conciliators chosen by the
parties shall be appointed within sixty days following the date on which
the Secretary-General receives the request.
The four conciliators shall, within sixty days following the date of the last
of their own appointments, appoint a h conciliator chosen from the list,
who shall be chairman.
If the appointment of the chairman or of any of the other conciliators has
not been made within the period prescribed above for such appointment,
it shall be made by the Secretary-General within sixty days following the
expiry of that period. The appointment of the chairman may be made by
the Secretary-General either from the list or from the membership of the
International Law Commission.
Any of the periods within which appointments must be made may be
extended by agreement between the parties to the dispute.
Any vacancy shall be filled in the manner prescribed for the initial
appointment.
3. The Conciliation Commission shall decide its own procedure. The
Commission, with the consent of the parties to the dispute, may invite any
party to the treaty to submit to it its views orally or in writing. Decisions
and recommendations of the Commission shall be made by a majority vote
of the ve members.
4. The Commission may draw the aention of the parties to the dispute to
any measures which might facilitate an amicable selement.
5. The Commission shall hear the parties, examine the claims and objections,
and make proposals to the parties with a view to reaching an amicable
selement of the dispute.
6. The Commission shall report within twelve months of its constitution. Its
report shall be deposited with the Secretary-General and transmied to
the parties to the dispute. The report of the Commission, including any
conclusions stated therein regarding the facts or questions of law, shall
not be binding upon the parties and it shall have no other character than
175 Lampiran 175
that of recommendations submied for the consideration of the parties in
order to facilitate an amicable selement of the dispute.
7. The Secretary-General shall provide the Commission with such assistance
and facilities as it may require. The expenses of the Commission shall be
borne by the United Nations.