Anda di halaman 1dari 28

Panduan Ibadah Qurban (bagian 1)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan
sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar: 2) Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan,
“Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; yang dimaksud dengan menyembelih hewan
adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukil dari Qatadah,
Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534, Taudhihul Ahkaam IV/450, & Shahih Fiqih
Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al
Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis).

Pengertian Udh-hiyah

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq
dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat
Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Keutamaan Qurban

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. ‘Aisyah radhiyallahu’anha
menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam
melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah
melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang
karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat
Taudhihul Ahkam, IV/450)

Hadis di atas didla’ifkan oleh Syaikh Al Albani (Dla’if Ibn Majah, 671). Namun
kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban.
Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha
lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau seharga dengan hewan qurban, atau
bahkan lebih utama dari pada sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban.
Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah.
Bukan semata-mata nilai binatangnya. Disamping itu, menyembelih qurban lebih
menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

Hukum Qurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat:

Pertama: Wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian
adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah
satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad beserta beberapa ulama pengikut Imam Malik,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Syaikh Ibn
Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada
pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu…” (lih. Syarhul Mumti’, III/408) Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah
yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan
sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672 dan
dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat kedua menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat
mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang
mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari
radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak berqurban.
Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir
kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan
Baihaqi dengan sanad shahih). Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat
Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq
dan Baihaqi, sanadnya shahih) Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang
sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat Al Muhalla 5/295, dinukil
dari Shahih Fiqih Sunnah II/367-368, dan Taudhihul Ahkaam, IV/454).

Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika
dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama kuat. Sebagian ulama
memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan: “…selayaknya bagi
mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan
lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam. (Tafsir Adwa’ul
Bayan, 1120).

Yakinlah…! Bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya
qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu
berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua
berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).”
(HR. Al Bukhari 1374 & Muslim 1010).

Hewan yang Boleh Digunakan untuk Qurban


Hewan qurban hanya boleh dari jenis Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak). Dalilnya
adalah firman Allah yang artinya, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan
berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada
kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (Qs. Al Hajj: 34). Dalam
bahasa arab, yang dimaksud Bahiimatul Al An’aam hanya mencakup tiga binatang yaitu
onta, sapi atau kambing. Oleh karena itu, berqurban hanya sah dengan tiga hewan
tersebut dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’
(kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat
Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan,
“Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih
mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih
memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing
harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul
Mumti’ III/409)

Seekor Kambing untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh
anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak, baik yang masih hidup maupun yang
sudah meninggal. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan,
“Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih
seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan
beliau menilainya shahih, lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266)

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu
anggota keluarganya tertentu, misalnya qurban tahun ini untuk bapaknya, tahun depan
untuk ibunya, tahun berikutnya untuk anak pertama, dan seterusnya. Sesungguhnya
karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya.
Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban, sebelum menyembelih beliau
mengatakan: “Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.”
(HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al
Irwa’ 4/349). Berdasarkan hadis ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan:
“Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana
orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh
orang, dan onta 10 orang…” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing
hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang
dan qurban onta hanya boleh dari maksimal 10 orang.

Namun seandainya ada orang yang hendak membantu shohibul qurban yang kekurangan
biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status
qurbannya. Dan status bantuan di sini adalah hadiah bagi shohibul qurban. Apakah
harus izin terlebih dahulu kepada pemilik hewan? Jawab: Tidak harus, karena dalam
transaksi pemberian sedekah maupun hadiah tidak dipersyaratkan memberitahukan
kepada orang yang diberi sedekah maupun hadiah.

Ketentuan Untuk Sapi & Onta

Seekor Sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha
maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk
seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al
Wajiz, hal. 406).

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing.
Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota
keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Arisan Qurban Kambing?

Mengadakan arisan dalam rangka berqurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk
qurban. Karena hakekat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk
berqurban meskipun harus hutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana
dikatakan oleh Sufyan Ats Tsauri dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir
Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)[1]. Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah.
Beliau menyarankan agar orang yang tidak memiliki biaya aqiqah agar berhutang dalam
rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.

Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada
berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama tim fatwa islamweb.net
dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al Faqih (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 &
28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Jika orang punya hutang maka selayaknya
mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban.” (Syarhul Mumti’ 7/455). Bahkan
Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi qurban karena uangnya
diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab: “Jika di
hadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunaskan hutang orang faqir
maka lebih utama melunasi hutang, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang
tersebut adalah kerabat dekat.” (lih. Majmu’ Fatawa & Risalah Ibn Utsaimin 18/144).

Namun pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena


perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang.
Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika qurban terkait dengan orang yang
keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau hutang yang jatuh temponya masih
panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang dari
pada qurban terkait dengan orang yang kesulitan melunasi hutang atau orang yang
memiliki hutang dan pemiliknya meminta agar segera dilunasi.
Dengan demikian, jika arisan qurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya
panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berqurban dengan arisan adalah satu hal
yang baik. Wallahu a’lam.

Hukum Qurban Kerbau

Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya
dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2/2975). Ada beberapa
ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau. Baik dari kalangan
Syafi’iyah (lih. Hasyiyah Al Bajirami) maupun dari madzhab Hanafiyah (lih. Al ‘Inayah
Syarh Hidayah 14/192 dan Fathul Qodir 22/106). Mereka menganggap keduanya satu
jenis.

Syaikh Ibn Al Utasimin pernah ditanya tentang hukum qurban dengan kerbau.

Isi Pertanyaan:
“Kerbau dan sapi memiliki perbedaan adalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan
domba. Namun Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak
merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al An’am
143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”

Beliau menjawab:
“Jika kerbau termasuk (jenis) sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka
(jenis hewan) yang Allah sebut dalam alqur’an adalah jenis hewan yang dikenal orang
arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang arab.” (Liqa’ Babil
Maftuh 200/27)

Jika pernyataan Syaikh Ibn Utsaimin kita bawa pada penjelasan ulama di atas maka bisa
disimpulkan bahwa qurban kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi.
Wallahu a’lam.

Urunan Qurban Satu Sekolahan

Terdapat satu tradisi di beberapa lembaga pendidikan di daerah kita, ketika idul adha tiba
sebagian sekolahan menggalakkan kegiatan latihan qurban bagi siswa. Masing-masing
siswa dibebani iuran sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli
kambing dan disembelih di hari-hari qurban. Apakah ini bisa dinilai sebagai ibadah
qurban?

Perlu dipahami bahwa qurban adalah salah satu ibadah dalam islam yang memiliki aturan
tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syari’at. Keluar dari aturan ini maka tidak bisa
dinilai sebagai ibadah qurban, alias qurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah
masalah pembiayaan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, biaya pengadaan untuk
seekor kambing hanya boleh diambilkan dari satu orang. Oleh karena itu kasus tradisi
‘qurban’ seperti di atas tidak dapat dinilai sebagai qurban. Karena biaya pengadaan
kambing diambil dari sejumlah siswa.
Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?

Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci menjadi tiga bentuk:

• Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya
mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berqurban
untuk dirinya dan keluarganya sementara ada di antara keluarganya yang telah
meninggal. Berqurban jenis ini dibolehkan dan pahala qurbannya meliputi dirinya
dan keluarganya, termasuk yang sudah meninggal.
• Berqurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit.
Sebagian ulama madzhab hambali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan
pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit (lih.
Fatwa Majlis Ulama Saudi no. 1474 & 1765). Namun sebagian ulama’ bersikap
keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak ada
tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada riwayat bahwasanya
beliau berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang
telah meninggal, mendahului beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan
bahwa berqurban atas nama orang yang sudah meninggal secara khusus tanpa ada
wasiat sebelumnya adalah tidak disyariatkan. Karena Nabi r tidak pernah
melakukan hal itu. Padahal beliau sangat mencintai keluarganya yang telah
meninggal seperti istri beliau tercinta Khadijah dan paman beliau Hamzah.
• Berqurban khusus untuk orang yang meninggal karena mayit pernah mewasiatkan
agar keluarganya berqurban untuk dirinya jika dia meninggal. Berqurban untuk
mayit untuk kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si
mayit. (Dinukil dari catatan kaki Syarhul Mumti’ yang diambil dari Risalah Udl-
hiyah Syaikh Ibn Utsaimin 51)

Umur Hewan Qurban

Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian
menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian
maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih)

Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, diambil dari kata sinnun yang artinya
gigi. Hewan tersebut dinamakan musinnah karena hewan tersebut sudah ganti gigi
(bahasa jawa: pow’el). Adapun rincian usia hewan musinnah adalah:

No. Hewan Usia minimal


1. Onta 5 tahun
2. Sapi 2 tahun
3. Kambing jawa 1 tahun
4. Domba 6 bulan (domba Jadza’ah)
(lihat Syarhul Mumti’, III/410, Taudhihul Ahkaam, IV/461)

Apakah yang menjadi acuan usianya ataukah ganti giginya?

Yan menjadi acuan hewan tersebut bisa digolongkan musinnah adalah usianya. Karena
penamaan musinnah untuk hewan yang sudah genap usia qurban adalah penamaan
dengan umumnya kasus yang terjadi. Artinya, umumnya kambing yang sudah berusia 1
tahun atau sapi 2 tahun itu sudah ganti gigi. Disamping itu, ketika para ulama
menjelaskan batasan hewan musinnah dan hewan jadza’ah, mereka menjelaskannya
dengan batasan usia. Dengan demikian, andaikan ada sapi yang sudah berusia 2 tahun
namun belum ganti gigi, boleh digunakan untuk berqurban. Allahu a’lam.

Berkurban dengan domba jadza’ah itu dibolehkan secara mutlak ataukah


bersyarat

Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. An Nawawi menyebutkan ada beberapa
pendapat:

Pertama, boleh berqurban dengan hewan jadza’ah dengan syarat kesulitan untuk
berqurban dengan musinnah. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn Umar dan Az Zuhri.
Mereka berdalil dengan makna dlahir hadis di atas.

Kedua, dibolehkan berqurban dengan domba jadza’ah (usia 6 bulan) secara mutlak.
Meskipun shohibul qurban memungkinkan untuk berqurban dengan musinnah (usia 1
tahun). Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama. Sedankan hadis Jabir di atas dimaknai
dengan makna anjuran. Sebagaimana dianjurkannya untuk memilih hewan terbaik ketika
qurban.

Insyaa Allah pendapat kedua inilah yang lebih kuat. Karena pada hadis Jabir di atas tidak
ada keterangan terlarangnya berqurban dengan domba jadza’ah dan tidak ada keterangan
bahwa berqurban dengan jadza’ah hukumnya tidak sah. Oleh karena itu, Jumhur ulama
memaknai hadis di atas sebagai anjuran dan bukan kewajiban. Allahu a’lam. (Syarh
Shahih Muslim An Nawawi 6/456)

Cacat Hewan Qurban

Cacat hewan qurban dibagi menjadi 3:

a. Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada 4 [2]:

- Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya


Jika butanya belum jelas – orang yang melihatnya menilai belum buta – meskipun pada
hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan.
Demikian pula hewan yang rabun senja. ulama’ madzhab syafi’iyah menegaskan hewan
yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta
sebelah matanya.
- Sakit dan jelas sekali sakitnya. Tetapi jika sakitnya belum jelas, misalnya, hewan
tersebut kelihatannya masih sehat maka boleh diqurbankan.

- Pincang dan tampak jelas pincangnya


Artinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Akan tetapi jika baru kelihatan pincang
namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan qurban.

- Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang


Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas maka lebih tidak
boleh untuk digunakan berqurban. (lih. Shahih Fiqih Sunnah, II/373 & Syarhul Mumti’
3/294).

b. Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada 2 [3]:

- Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong


- Tanduknya pecah atau patah

(lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

c. Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban)
namun kurang sempurna.
Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak
berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor,
bunting, atau tidak berhidung. Wallahu a’lam (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

Footnotes:

[1] Sufyan At Tsauri rahimahullah mengatakan: “Dulu Abu Hatim pernah berhutang
untuk membeli unta qurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta qurban?”
beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman: ‫خي ٌْر‬
َ ‫ها‬
َ ‫في‬ ْ ُ ‫( ل َك‬kamu memperoleh
ِ ‫م‬
kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (Qs. Al Hajj: 36). (lih. Tafsir Ibn
Katsir, surat Al Hajj: 36)

[2] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang cacat hewan apa yang harus
dihindari ketika berqurban. Beliau menjawab: “Ada empat cacat…dan beliau berisyarat
dengan tangannya.” (HR. Ahmad 4/300 & Abu Daud 2802, dinyatakan Hasan-Shahih
oleh Turmudzi). Sebagian ulama menjelaskan bahwa isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan tangannya ketika menyebutkan empat cacat tersebut menunjukkan bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang
bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadis boleh digunakan sebagai
qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/464)

[3] Terdapat hadis yang menyatakan larangan berqurban dengan hewan yang memilki
dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun hadisnya dlo’if, sehingga
sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh
dipakai untuk qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/470)
***

Panduan Ibadah Qurban (bagian 2)

Hewan yang disukai dan lebih utama untuk diqurbankan

Hendaknya hewan yang diqurbankan adalah hewan yang gemuk dan sempurna. Dalilnya
adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “…barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-
syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dari ketakwaan hati.” (Qs. Al Hajj:
32) Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa orang yang
berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk. Abu
Umamah bin Sahl mengatakan, “Dahulu kami di Madinah biasa memilih hewan yang
gemuk dalam berqurban. Dan memang kebiasaan kaum muslimin ketika itu adalah
berqurban dengan hewan yang gemuk-gemuk.” (HR. Bukhari secara mu’allaq namun
disampaikan dengan kalimat tegas dan disambungkan sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam
Al Mustakhraj, sanadnya hasan)

Diantara ketiga jenis hewan qurban maka menurut mayoritas ulama yang paling utama
adalah berqurban dengan onta, kemudian sapi kemudian kambing, jika biaya pengadaan
masing-masing ditanggung satu orang (bukan urunan). Dalilnya adalah jawaban Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu tentang
budak yang lebih utama. Beliau bersabda, “Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih
bernilai dalam pandangan pemiliknya.” (HR. Bukhari dan Muslim). (lihat Shahih Fiqih
Sunnah, II/374)

Manakah yang lebih baik, ikut urunan sapi atau qurban satu kambing?

Sebagian ulama menjelaskan qurban satu kambing lebih baik dari pada ikut urunan sapi
atau onta, karena tujuh kambing manfaatnya lebih banyak dari pada seekor sapi (lih.
Shahih Fiqh Sunnah, 2/375, Fatwa Lajnah Daimah no. 1149 & Syarhul Mumthi’ 7/458).
Disamping itu, terdapat alasan lain diantaranya:

1. Qurban yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utuh satu ekor,
baik kambing, sapi, maupun onta, bukan 1/7 sapi atau 1/10 onta.
2. Kegiatan menyembelihnya menjadi lebih banyak. Lebih-lebih jika hadis yang
menyebutkan keutamaan qurban di atas statusnya shahih (lih. Hadis pada
pembahasan keutamaan berqurban). Hal ini juga sesuai dengan apa yang
dinyatakan oleh penulis kitab Al Muhadzab As Saerozi As Syafi’i. (lih. Al
Muhadzab 1/74).
3. Terdapat sebagian ulama yang melarang urunan dalam berqurban, diantaranya
adalah Mufti Negri Saudi Syaikh Muhammad bin Ibrahim (lih. Fatwa Lajnah
11/453). Namun pelarangan ini didasari dengan qiyas (analogi) yang bertolak
belakang dengan dalil sunnah, sehingga jelas salahnya. Akan tetapi, berqurban
dengan satu ekor binatang utuh, setidaknya akan mengeluarkan kita dari
perselisihan ulama.

Apakah harus jantan?

Tidak ada ketentuan jenis kelamin hewan qurban. Boleh jantan maupun betina. Dari
Ummu Kurzin radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aqiqah untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing. Tidak
jadi masalah jantan maupun betina.” (HR. Ahmad 27900 & An Nasa’i 4218 dan
dishahihkan Syaikh Al Albani). Berdasarkan hadis ini, As Saerozi As Syafi’i
mengatakan: “Jika dibolehkan menggunakan hewan betina ketika aqiqah berdasarkan
hadis ini, menunjukkan bahwa hal ini juga boleh untuk berqurban.” (Al Muhadzab 1/74)

Namun umumnya hewan jantan itu lebih baik dan lebih mahal dibandingkan hewan
betina. Oleh karena itu, tidak harus hewan jantan namun diutamakan jantan.

Laranganbagi yang hendak berqurban

Orang yang hendak berqurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya. Yang
dilarang untuk dipotong kuku dan rambutnya di sini adalah orang yang hendak qurban
bukan hewan qurbannya. Dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
beliau bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan
Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh
sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim)

Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian kuku maupun rambut
manapun. Artinya mencakup larangan mencukur gundul atau mencukur sebagian saja,
atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan
maupun di ketiak (lihat Shahih Fiqih Sunnah II/376).

Apakah larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga ataukah berlaku juga untuk
semua anggota keluarga shohibul qurban?

Jawab: Larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga (shohibul qurban) dan tidak
berlaku bagi anggota keluarganya. Karena 2 alasan:
• Dlahir hadis menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang mau
berqurban.
• Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berqurban untuk dirinya dan
keluarganya. Namun belum ditemukan riwayat bahwasanya beliau melarang
anggota keluarganya untuk memotong kuku maupun rambutnya. (Syarhul Mumti’
7/529)

Waktu penyembelihan

Waktu penyembelihan qurban adalah pada hari Iedul Adha dan 3 hari sesudahnya (hari
tasyriq). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hari taysriq adalah
(hari) untuk menyembelih (qurban).” (HR. Ahmad dan Baihaqi) Tidak ada perbedaan
waktu siang ataupun malam. Baik siang maupun malam sama-sama dibolehkan. Namun
menurut Syaikh Al Utsaimin, melakukan penyembelihan di waktu siang itu lebih baik.
(Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, hal. 33).

Kemudian, para ulama sepakat bahwa menyembelih qurban tidak boleh dilakukan
sebelum terbitnya fajar di hari Iedul Adha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia
menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan qurban). Dan barangsiapa yang menyembelih
sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum
muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Shahih Fiqih Sunnah II/377)

Tempat penyembelihan

Tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat shalat ied
diselenggarakan. Terutama bagi tokoh masyarakat, dianjurkan untuk menyembelih
qurbannya di lapangan dalam rangka memberitahukan kepada kaum muslimin bahwa
qurban sudah boleh dilakukan dan sekaligus mengajari tata cara qurban yang baik. Ibnu
‘Umar mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
menyembelih kambing dan onta (qurban) di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari
5552)

Akan tetapi, dibolehkan untuk menyembelih qurban di tempat manapun yang disukai,
baik di rumah sendiri ataupun di tempat lain. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378)

Siapakah yang menyembelih qurban?

Dianjurkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri jika
mampu menyembelih dengan baik. Namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Syaikh
Ali bin Hasan mengatakan: “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di
kalangan ulama’ dalam masalah ini.” Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib
radhiallahu ‘anhu di dalam Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih beberapa onta qurbannya
dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ‘anhu untuk disembelih. (lih. Ahkaamul Idain, 32)
Tata cara penyembelihan

1. Sebaiknya pemilik qurban menyembelih hewan qurbannya sendiri jika mampu


menyembelih dengan baik.
2. Apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut
datang menyaksikan penyembelihannya.
3. Hendaknya memakai alat yang tajam untuk menyembelih.
4. Hewan yang disembelih dibaringkan di atas lambung kirinya dan posisi kaki-
kakinya ke arah kiblat.
5. Leher hewan diinjak dengan telapak kaki kanan penyembelih, sebagaimana yang
dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian pisau ditekan kuat-kuat
supaya cepat putus.
6. Ketika akan menyembelih disyari’akan membaca bismillaahi wallaahu akbar
ketika menyembelih. Untuk bacaan bismillah (tidak perlu ditambahi Ar Rahman
dan Ar Rahiim) hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad,
sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir –
Allahu Akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika
menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan:
- hadza minka wa laka. (HR. Abu Dawud 2795) Atau
- hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).
atau
- Berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, Allahumma taqabbal
minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban) (lih. Tata Cara Qurban
Tuntunan Nabi, hal. 92)

Catatan: Tidak terdapat do’a khusus yang panjang bagi shohibul qurban ketika hendak
menyembelih. Wallahu a’lam.

Bolehkah mengucapkan shalawat ketika menyembelih?

Tidak boleh mengucapkan shalawat ketika hendak menyembelih, karena 2 alasan:

1. Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan


shalawat ketika menyembelih. Sementara beribadah tanpa dalil adalah perbuatan
bid’ah.
2. Bisa jadi orang akan menjadikan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai wasilah ketika qurban. Atau bahkan bisa jadi seseorang
membayangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih, sehingga
sembelihannya tidak murni untuk Allah. (lih. Syarhul Mumti’ 7/492)

Pemanfaatan hasil sembelihan

Bagi pemilik hewan qurban dibolehkan memanfaatkan daging qurbannya, melalui:


1. Dimakan sendiri dan keluarganya, bahkan sebagian ulama menyatakan shohibul
qurban wajib makan bagian hewan qurbannya. Termasuk dalam hal ini adalah
berqurban karena nadzar menurut pendapat yang benar.
2. Disedekahkan kepada orang yang membutuhkan.
3. Dihadiahkan kepada orang yang kaya.
4. Disimpan untuk bahan makanan di lain hari. Namun penyimpanan ini hanya
dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.

Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang berqurban maka jangan sampai dia
menjumpai subuh hari ketiga sesudah hari raya sedangkan dagingnya masih tersisa
walaupun sedikit.” Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan,
“Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka
beliau menjawab, “(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan
kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang
mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu
mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut mayoritas ulama perintah yang terdapat dalam hadits ini menunjukkan hukum
sunnah, bukan wajib (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378). Oleh sebab itu, boleh
mensedekahkan semua hasil sembelihan qurban. Sebagaimana diperbolehkan untuk
disedekahkan seluruhnya kepada orang miskin dan sedikitpun tidak diberikan kepada
orang kaya. (Minhaajul Muslim, 266).

Bolehkah memberikan daging qurban kepada orang Kafir?

Ulama madzhab Malikiyah berpendapat makruhnya memberikan daging qurban kepada


orang kafir. Imam Malik mengatakan: “(diberikan) kepada selain mereka (orang kafir)
lebih aku sukai.” Sedangkan Syafi’iyah berpendapat haramnya memberikan daging
qurban kepada orang kafir untuk qurban yang wajib (misalnya qurban nadzar, pen.) dan
makruh untuk qurban yang sunnah. (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 29843). Al
Baijuri As Syafi’i mengatakan: “Dalam Al Majmu’ (Syarhul Muhadzab) disebutkan,
boleh memberikan sebagian qurban sunnah kepada kafir dzimmi yang miskin. Tapi
ketentuan ini tidak berlaku untuk qurban yang wajib.” (Hasyiyah Al Baijuri 2/310)

Lajnah Daimah (Majlis Ulama’ saudi Arabia) ditanya tentang hukum memberikan daging
qurban kepada orang kafir.
Jawaban Lajnah:

“Kita dibolehkan memberi daging qurban kepada orang kafir Mu’ahid [1] baik karena
statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka menarik
simpati mereka… namun tidak dibolehkan memberikan daging qurban kepada orang
kafir Harby, karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah merendahkan mereka dan
melemahkan kekuatan mereka. Hukum ini juga berlaku untuk pemberian sedekah. Hal ini
berdasarkan firman Allah, yang artinya:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang
yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al Mumtahanah 8)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti
Abu Bakr radhiallahu ‘anhu untuk menemui ibunya dengan membawa harta padahal
ibunya masih musyrik.” (Fatwa Lajnah Daimah no. 1997)

Kesimpulannya, memberikan bagian hewan qurban kepada orang kafir dibolehkan karena
status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah. Dan kita diperbolehkan
memberikan sedekah maupun hadiah kepada orang kafir. Sedangkan pendapat yang
melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.

Larangan memperjual-belikan hasil sembelihan

Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan sembelihan, baik daging, kulit,


kepala, tengkleng, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Ali bin Abi Thalib
radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga
memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan
saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.”
(HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan terdapat ancaman keras dalam masalah ini,
sebagaimana hadis berikut:

‫من باع جلد أضحيته فل أضحية له‬

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak ada
nilainya.” (HR. Al Hakim 2/390 & Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan: Hasan)

Tetang haramnya pemilik hewan menjual kulit qurban merupakan pendapat mayoritas
ulama, meskipun Imam Abu Hanifah menyelisihi mereka. Namun mengingat dalil yang
sangat tegas dan jelas maka pendapat siapapun harus disingkirkan.

Catatan:

• Termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau


kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing.
Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.
• Transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikan adalah transaksi
yang tidak sah. Artinya penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit
dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli. Hal ini sebagaimana
perkataan Al Baijuri: “Tidak sah jual beli (bagian dari hewan qurban) disamping
transaksi ini adalah haram.” Beliau juga mengatakan: “Jual beli kulit hewan
qurban juga tidak sah karena hadis yang diriwayatkan Hakim (baca: hadis di atas).
(Fiqh Syafi’i 2/311).
• Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai
keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah
menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit
sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun shohibul
qurban.

Nasehat & Solusi untuk masalah kulit

Satu penyakit kronis yang menimpa ibadah qurban kaum muslimin bangsa kita, mereka
tidak bisa lepas dari ‘fiqh praktis’ menjual kulit atau mengupah jagal dengan kulit.
Memang kita akui ini adalah jalan pintas yang paling cepat untuk melepaskan diri dari
tanggungan mengurusi kulit. Namun apakah jalan pintas cepat ini menjamin
keselamatan???

Bertaqwalah kepada Allah wahai kaum muslimin… sesungguhnya ibadah qurban telah
diatur dengan indah dan rapi oleh Sang Peletak Syari’ah. Jangan coba-coba untuk keluar
dari aturan ini karena bisa jadi qurban kita tidak sah. Berusahalah untuk senantiasa
berjalan sesuai syari’at meskipun jalurnya ‘kelihatannya’ lebih panjang dan sedikit
menyibukkan. Jangan pula terkecoh dengan pendapat sebagian orang, baik ulama
maupun yang ngaku-ngaku ulama. Karena manusia yang berhak untuk ditaati secara
mutlak hanya satu yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka
semua pendapat yang bertentangan dengan hadis beliau harus dibuang jauh-jauh.

Tidak perlu bingung dan merasa repot. Bukankah Ali bin Abi Thalib t pernah mengurusi
qurbannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jumlahnya 100 ekor onta?! Tapi tidak
ada dalam catatan sejarah bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bingung ngurusi
kulit dan kepala. Demikianlah kemudahan yang Allah berikan bagi orang yang secara
penuh mengikuti aturan syari’at. Namun bagi mereka (baca: panitia) yang masih merasa
bingung ngurusi kulit, bisa dilakukan beberapa solusi berikut:

• Kumpulkan semua kulit, kepala, dan kaki hewan qurban. Tunjuk sejumlah orang
miskin sebagai sasaran penerima kulit. Tidak perlu diantar ke rumahnya, tapi
cukup hubungi mereka dan sampaikan bahwa panitia siap menjualkan kulit yang
sudah menjadi hak mereka. Dengan demikian, status panitia dalam hal ini adalah
sebagai wakil bagi pemilik kulit untuk menjualkan kulit, bukan wakil dari
shohibul qurban dalam menjual kulit.
• Serahkan semua atau sebagian kulit kepada yayasan islam sosial (misalnya panti
asuhan atau pondok pesantren). (Terdapat Fatwa Lajnah yang membolehkan
menyerahkan bagian hewan qurban kepada yayasan).

Larangan mengupah jaga dengan bagian hewan sembelihan

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa “Beliau pernah diperintahkan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan ontanya dan agar
membagikan seluruh bagian dari sembelihan onta tersebut, baik yang berupa daging,
kulit tubuh maupun pelana. Dan dia tidak boleh memberikannya kepada jagal barang
sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan dalam lafaz lainnya beliau berkata, “Kami
mengupahnya dari uang kami pribadi.” (HR. Muslim). Dan ini merupakan pendapat
mayoritas ulama (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/379).

Syaikh Abdullah Al Bassaam mengatakan, “Tukang jagal tidak boleh diberi daging atau
kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para
ulama. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika dia
termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah miskin…” (Taudhihul
Ahkaam, IV/464). Pernyataan beliau semakna dengan pernyataan Ibn Qosim yang
mengatakan: “Haram menjadikan bagian hewan qurban sebagai upah bagi jagal.”
Perkataan beliau ini dikomentari oleh Al Baijuri: “Karena hal itu (mengupah jagal)
semakna dengan jual beli. Namun jika jagal diberi bagian dari qurban dengan status
sedekah bukan upah maka tidak haram.” (Hasyiyah Al Baijuri As Syafi’i 2/311).

Adapun bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging qurban diperbolehkan
memanfaatkannya sekehendaknya, bisa dimakan, dijual atau yang lainnya. Akan tetapi
tidak diperkenankan menjualnya kembali kepada orang yang memberi hadiah atau
sedekah kepadanya (Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, 69)

Menyembelih satu kambing untuk makan-makan panitia? Atau Panitia dapat jatah
khusus?

Status panitia maupun jagal dalam pengurusan hewan qurban adalah sebagai wakil dari
shohibul qurban dan bukan amil[2]. Karena statusnya hanya sebagai wakil maka panitia
qurban tidak diperkenankan mengambil bagian dari hewan qurban sebagai ganti dari jasa
dalam mengurusi hewan qurban. Untuk lebih memudahkan bisa diperhatikan ilustrasi
kasus berikut:

Adi ingin mengirim uang Rp 1 juta kepada Budi. Karena tidak bisa ketemu langsung
maka Adi mengutus Rudi untuk mengantarkan uang tersebut kepada Budi. Karena harus
ada biaya transport dan biaya lainnya maka Adi memberikan sejumlah uang kepada Rudi.
Bolehkah uang ini diambilkan dari uang Rp 1 juta yang akan dikirimkan kepada Budi??
Semua orang akan menjawab: “TIDAK BOLEH KARENA BERARTI MENGURANGI
UANGNYA BUDI.” Status Rudi pada kasus di atas hanyalah sebagai wakil Adi.
Demikian pula qurban. Status panitia hanya sebagai wakil pemilik hewan, sehingga dia
tidak boleh mengambil bagian qurban sebagai ganti dari jasanya.

Oleh karena itu, jika menyembelih satu kambing untuk makan-makan panitia, atau
panitia dapat jatah khusus sebagai ganti jasa dari kerja yang dilakukan panitia maka ini
tidak diperbolehkan.

Namun hal ini bukan berarti bahwa panitia tidak mendapat jatah dari hewan qurban.
Yang tidak boleh adalah ketika panitia mendapatkan jatah lebih dalam pembagian hewan
qurban, baik itu bentuknya sudah matang maupun daging mentah, sebagai ganti dari jasa
mereka yang telah mengurusi hewan qurban. panitia tetap mendapatkan jatah qurban
namun jatah mereka sama dengan jatah yang diberikan kepada warga lainnya.
Agar tidak meninggalkan kerancuan, kita perhatikan dua contoh cara pembagian qurban
yang dibolehkan dan pembagian yang terlarang, sebagai berikut:

Contoh cara pembagian yang dibolehkan: warga desa kampung A berqurban 5 ekor sapi
& 13 ekor kambing. Setelah dihitung, masing-masing kepala keluarga mendapat jatah 2
Kg daging sapi dan ½ kg daging kambing. Semua merata tanpa memperhatikan status,
baik panitia maupun bukan panitia.

Contoh cara pembagian yang terlarang 1: warga desa kampung A berqurban 5 ekor sapi
& 13 ekor kambing. Setelah dihitung, masing-masing kepala keluarga mendapat jatah 2
Kg daging sapi dan ½ Kg daging kambing. Khusus untuk panitia mendapat jatah
tambahan masing-masing ½ Kg daging sapi sebagai ganti jasa mereka yang telah
mengurusi hewan qurban. Dalam keluarga Pak Ahmad ada 4 orang yang terlibat sebagai
panitia, yaitu Pak Ahmad, Bu Ahmad, dan 2 putranya. Sehingga keluarga Pak Ahmad
mendapat jatah 4 Kg daging sapi dan ½ Kg daging kambing. Keluarga Pak Ahmad
mendapat kelebihan jatah 2 Kg sapi karena anggota keluarganya yang terlibat 4 orang x
½ Kg = 2 Kg.

Contoh cara pembagian yang terlarang 2: Sebagai bentuk imbal jasa bagi panitia qurban
maka takmir mengambil 1 ekor kambing untuk disembelih sebagai jamuan makan
bersama bagi panitia. Di samping itu, panitia juga mendapat jatah yang sama dengan
warga lainnya. Dengan demikian, panitia mendapat tambahan jatah pembagian qurban
yang mereka jadikan sebagai menu makan bersama.

Mengirim sejumlah uang untuk dibelikan hewan qurban di tempat tujuan (di luar daerah
pemilik hewan) dan disembelih di tempat tersebut? Atau mengirimkan hewan hidup ke
tempat lain untuk di sembelih di sana?

Pada asalnya tempat menyembelih qurban adalah daerah orang yang berqurban. Karena
orang-orang yang miskin di daerahnya itulah yang lebih berhak untuk disantuni. Sebagian
syafi’iyah mengharamkan mengirim hewan qurban atau uang untuk membeli hewan
qurban ke tempat lain – di luar tempat tinggal shohibul qurban – selama tidak ada
maslahat yang menuntut hal itu, seperti penduduk tempat shohibul qurban yang sudah
kaya sementara penduduk tempat lain sangat membutuhkan. Sebagian ulama
membolehkan secara mutlak (meskipun tidak ada tuntutan maslahat). Sebagai jalan
keluar dari perbedaan pendapat, sebagian ulama menasehatkan agar tidak mengirim
hewan qurban ke selain tempat tinggalnya. Artinya tetap disembelih di daerah shohibul
qurban dan yang dikirim keluar adalah dagingnya. (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no.
2997, 29048, dan 29843 & Shahih Fiqih Sunnah, II/380)

Kesimpulannya, berqurban dengan model seperti ini (mengirim hewan atau uang dan
bukan daging) termasuk qurban yang sah namun menyelisihi sunnah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam karena tiga hal:

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhu, tidak
pernah mengajarkannya.
2. Hilangnya sunnah anjuran untuk disembelih sendiri oleh shohibul qurban.
3. Hilangnya sunnah anjuran untuk makan bagian dari hewan qurban.

Wallaahu waliyut taufiq.

Demikian yang bisa kami sajikan. Sebagai pelengkap kami sarankan untuk membaca
buku: Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
diterjemahkan Ustadz Aris Munandar hafizhahullah dari ringkasan Kitab Ahkaam Udh-
hiyah wadz Dzakaah karya Syaikh Al Utsaimin rahimahullah. Semoga risalah yang
ringkas sebagai pelengkap untuk tulisan saudaraku Abu Muslih hafizhahullah ini
bermanfaat dan menjadi amal yang diterima oleh Allah ta’ala, sesungguhnya Dia Maha
Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta seluruh pengikut beliau yang setia.
Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Panduan Ibadah Qurban (bagian 2)

Hewan yang disukai dan lebih utama untuk diqurbankan

Hendaknya hewan yang diqurbankan adalah hewan yang gemuk dan sempurna. Dalilnya
adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “…barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-
syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dari ketakwaan hati.” (Qs. Al Hajj:
32) Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa orang yang
berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk. Abu
Umamah bin Sahl mengatakan, “Dahulu kami di Madinah biasa memilih hewan yang
gemuk dalam berqurban. Dan memang kebiasaan kaum muslimin ketika itu adalah
berqurban dengan hewan yang gemuk-gemuk.” (HR. Bukhari secara mu’allaq namun
disampaikan dengan kalimat tegas dan disambungkan sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam
Al Mustakhraj, sanadnya hasan)

Diantara ketiga jenis hewan qurban maka menurut mayoritas ulama yang paling utama
adalah berqurban dengan onta, kemudian sapi kemudian kambing, jika biaya pengadaan
masing-masing ditanggung satu orang (bukan urunan). Dalilnya adalah jawaban Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu tentang
budak yang lebih utama. Beliau bersabda, “Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih
bernilai dalam pandangan pemiliknya.” (HR. Bukhari dan Muslim). (lihat Shahih Fiqih
Sunnah, II/374)

Manakah yang lebih baik, ikut urunan sapi atau qurban satu kambing?

Sebagian ulama menjelaskan qurban satu kambing lebih baik dari pada ikut urunan sapi
atau onta, karena tujuh kambing manfaatnya lebih banyak dari pada seekor sapi (lih.
Shahih Fiqh Sunnah, 2/375, Fatwa Lajnah Daimah no. 1149 & Syarhul Mumthi’ 7/458).
Disamping itu, terdapat alasan lain diantaranya:

1. Qurban yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utuh satu ekor,
baik kambing, sapi, maupun onta, bukan 1/7 sapi atau 1/10 onta.
2. Kegiatan menyembelihnya menjadi lebih banyak. Lebih-lebih jika hadis yang
menyebutkan keutamaan qurban di atas statusnya shahih (lih. Hadis pada
pembahasan keutamaan berqurban). Hal ini juga sesuai dengan apa yang
dinyatakan oleh penulis kitab Al Muhadzab As Saerozi As Syafi’i. (lih. Al
Muhadzab 1/74).
3. Terdapat sebagian ulama yang melarang urunan dalam berqurban, diantaranya
adalah Mufti Negri Saudi Syaikh Muhammad bin Ibrahim (lih. Fatwa Lajnah
11/453). Namun pelarangan ini didasari dengan qiyas (analogi) yang bertolak
belakang dengan dalil sunnah, sehingga jelas salahnya. Akan tetapi, berqurban
dengan satu ekor binatang utuh, setidaknya akan mengeluarkan kita dari
perselisihan ulama.

Apakah harus jantan?

Tidak ada ketentuan jenis kelamin hewan qurban. Boleh jantan maupun betina. Dari
Ummu Kurzin radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aqiqah untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing. Tidak
jadi masalah jantan maupun betina.” (HR. Ahmad 27900 & An Nasa’i 4218 dan
dishahihkan Syaikh Al Albani). Berdasarkan hadis ini, As Saerozi As Syafi’i
mengatakan: “Jika dibolehkan menggunakan hewan betina ketika aqiqah berdasarkan
hadis ini, menunjukkan bahwa hal ini juga boleh untuk berqurban.” (Al Muhadzab 1/74)

Namun umumnya hewan jantan itu lebih baik dan lebih mahal dibandingkan hewan
betina. Oleh karena itu, tidak harus hewan jantan namun diutamakan jantan.

Laranganbagi yang hendak berqurban

Orang yang hendak berqurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya. Yang
dilarang untuk dipotong kuku dan rambutnya di sini adalah orang yang hendak qurban
bukan hewan qurbannya. Dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
beliau bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan
Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh
sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim)

Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian kuku maupun rambut
manapun. Artinya mencakup larangan mencukur gundul atau mencukur sebagian saja,
atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan
maupun di ketiak (lihat Shahih Fiqih Sunnah II/376).

Apakah larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga ataukah berlaku juga untuk
semua anggota keluarga shohibul qurban?

Jawab: Larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga (shohibul qurban) dan tidak
berlaku bagi anggota keluarganya. Karena 2 alasan:

• Dlahir hadis menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang mau
berqurban.
• Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berqurban untuk dirinya dan
keluarganya. Namun belum ditemukan riwayat bahwasanya beliau melarang
anggota keluarganya untuk memotong kuku maupun rambutnya. (Syarhul Mumti’
7/529)

Waktu penyembelihan

Waktu penyembelihan qurban adalah pada hari Iedul Adha dan 3 hari sesudahnya (hari
tasyriq). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hari taysriq adalah
(hari) untuk menyembelih (qurban).” (HR. Ahmad dan Baihaqi) Tidak ada perbedaan
waktu siang ataupun malam. Baik siang maupun malam sama-sama dibolehkan. Namun
menurut Syaikh Al Utsaimin, melakukan penyembelihan di waktu siang itu lebih baik.
(Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, hal. 33).

Kemudian, para ulama sepakat bahwa menyembelih qurban tidak boleh dilakukan
sebelum terbitnya fajar di hari Iedul Adha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia
menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan qurban). Dan barangsiapa yang menyembelih
sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum
muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Shahih Fiqih Sunnah II/377)

Tempat penyembelihan

Tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat shalat ied
diselenggarakan. Terutama bagi tokoh masyarakat, dianjurkan untuk menyembelih
qurbannya di lapangan dalam rangka memberitahukan kepada kaum muslimin bahwa
qurban sudah boleh dilakukan dan sekaligus mengajari tata cara qurban yang baik. Ibnu
‘Umar mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
menyembelih kambing dan onta (qurban) di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari
5552)
Akan tetapi, dibolehkan untuk menyembelih qurban di tempat manapun yang disukai,
baik di rumah sendiri ataupun di tempat lain. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378)

Siapakah yang menyembelih qurban?

Dianjurkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri jika
mampu menyembelih dengan baik. Namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Syaikh
Ali bin Hasan mengatakan: “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di
kalangan ulama’ dalam masalah ini.” Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib
radhiallahu ‘anhu di dalam Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih beberapa onta qurbannya
dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ‘anhu untuk disembelih. (lih. Ahkaamul Idain, 32)

Tata cara penyembelihan

1. Sebaiknya pemilik qurban menyembelih hewan qurbannya sendiri jika mampu


menyembelih dengan baik.
2. Apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut
datang menyaksikan penyembelihannya.
3. Hendaknya memakai alat yang tajam untuk menyembelih.
4. Hewan yang disembelih dibaringkan di atas lambung kirinya dan posisi kaki-
kakinya ke arah kiblat.
5. Leher hewan diinjak dengan telapak kaki kanan penyembelih, sebagaimana yang
dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian pisau ditekan kuat-kuat
supaya cepat putus.
6. Ketika akan menyembelih disyari’akan membaca bismillaahi wallaahu akbar
ketika menyembelih. Untuk bacaan bismillah (tidak perlu ditambahi Ar Rahman
dan Ar Rahiim) hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad,
sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir –
Allahu Akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika
menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan:
- hadza minka wa laka. (HR. Abu Dawud 2795) Atau
- hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).
atau
- Berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, Allahumma taqabbal
minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban) (lih. Tata Cara Qurban
Tuntunan Nabi, hal. 92)

Catatan: Tidak terdapat do’a khusus yang panjang bagi shohibul qurban ketika hendak
menyembelih. Wallahu a’lam.

Bolehkah mengucapkan shalawat ketika menyembelih?

Tidak boleh mengucapkan shalawat ketika hendak menyembelih, karena 2 alasan:


1. Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan
shalawat ketika menyembelih. Sementara beribadah tanpa dalil adalah perbuatan
bid’ah.
2. Bisa jadi orang akan menjadikan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai wasilah ketika qurban. Atau bahkan bisa jadi seseorang
membayangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih, sehingga
sembelihannya tidak murni untuk Allah. (lih. Syarhul Mumti’ 7/492)

Pemanfaatan hasil sembelihan

Bagi pemilik hewan qurban dibolehkan memanfaatkan daging qurbannya, melalui:

1. Dimakan sendiri dan keluarganya, bahkan sebagian ulama menyatakan shohibul


qurban wajib makan bagian hewan qurbannya. Termasuk dalam hal ini adalah
berqurban karena nadzar menurut pendapat yang benar.
2. Disedekahkan kepada orang yang membutuhkan.
3. Dihadiahkan kepada orang yang kaya.
4. Disimpan untuk bahan makanan di lain hari. Namun penyimpanan ini hanya
dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.

Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang berqurban maka jangan sampai dia
menjumpai subuh hari ketiga sesudah hari raya sedangkan dagingnya masih tersisa
walaupun sedikit.” Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan,
“Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka
beliau menjawab, “(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan
kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang
mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu
mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut mayoritas ulama perintah yang terdapat dalam hadits ini menunjukkan hukum
sunnah, bukan wajib (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378). Oleh sebab itu, boleh
mensedekahkan semua hasil sembelihan qurban. Sebagaimana diperbolehkan untuk
disedekahkan seluruhnya kepada orang miskin dan sedikitpun tidak diberikan kepada
orang kaya. (Minhaajul Muslim, 266).

Bolehkah memberikan daging qurban kepada orang Kafir?

Ulama madzhab Malikiyah berpendapat makruhnya memberikan daging qurban kepada


orang kafir. Imam Malik mengatakan: “(diberikan) kepada selain mereka (orang kafir)
lebih aku sukai.” Sedangkan Syafi’iyah berpendapat haramnya memberikan daging
qurban kepada orang kafir untuk qurban yang wajib (misalnya qurban nadzar, pen.) dan
makruh untuk qurban yang sunnah. (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 29843). Al
Baijuri As Syafi’i mengatakan: “Dalam Al Majmu’ (Syarhul Muhadzab) disebutkan,
boleh memberikan sebagian qurban sunnah kepada kafir dzimmi yang miskin. Tapi
ketentuan ini tidak berlaku untuk qurban yang wajib.” (Hasyiyah Al Baijuri 2/310)
Lajnah Daimah (Majlis Ulama’ saudi Arabia) ditanya tentang hukum memberikan daging
qurban kepada orang kafir.
Jawaban Lajnah:

“Kita dibolehkan memberi daging qurban kepada orang kafir Mu’ahid [1] baik karena
statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka menarik
simpati mereka… namun tidak dibolehkan memberikan daging qurban kepada orang
kafir Harby, karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah merendahkan mereka dan
melemahkan kekuatan mereka. Hukum ini juga berlaku untuk pemberian sedekah. Hal ini
berdasarkan firman Allah, yang artinya:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang
yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al Mumtahanah 8)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti
Abu Bakr radhiallahu ‘anhu untuk menemui ibunya dengan membawa harta padahal
ibunya masih musyrik.” (Fatwa Lajnah Daimah no. 1997)

Kesimpulannya, memberikan bagian hewan qurban kepada orang kafir dibolehkan karena
status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah. Dan kita diperbolehkan
memberikan sedekah maupun hadiah kepada orang kafir. Sedangkan pendapat yang
melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.

Larangan memperjual-belikan hasil sembelihan

Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan sembelihan, baik daging, kulit,


kepala, tengkleng, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Ali bin Abi Thalib
radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga
memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan
saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.”
(HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan terdapat ancaman keras dalam masalah ini,
sebagaimana hadis berikut:

‫من باع جلد أضحيته فل أضحية له‬

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak ada
nilainya.” (HR. Al Hakim 2/390 & Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan: Hasan)

Tetang haramnya pemilik hewan menjual kulit qurban merupakan pendapat mayoritas
ulama, meskipun Imam Abu Hanifah menyelisihi mereka. Namun mengingat dalil yang
sangat tegas dan jelas maka pendapat siapapun harus disingkirkan.

Catatan:
• Termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau
kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing.
Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.
• Transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikan adalah transaksi
yang tidak sah. Artinya penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit
dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli. Hal ini sebagaimana
perkataan Al Baijuri: “Tidak sah jual beli (bagian dari hewan qurban) disamping
transaksi ini adalah haram.” Beliau juga mengatakan: “Jual beli kulit hewan
qurban juga tidak sah karena hadis yang diriwayatkan Hakim (baca: hadis di atas).
(Fiqh Syafi’i 2/311).
• Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai
keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah
menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit
sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun shohibul
qurban.

Nasehat & Solusi untuk masalah kulit

Satu penyakit kronis yang menimpa ibadah qurban kaum muslimin bangsa kita, mereka
tidak bisa lepas dari ‘fiqh praktis’ menjual kulit atau mengupah jagal dengan kulit.
Memang kita akui ini adalah jalan pintas yang paling cepat untuk melepaskan diri dari
tanggungan mengurusi kulit. Namun apakah jalan pintas cepat ini menjamin
keselamatan???

Bertaqwalah kepada Allah wahai kaum muslimin… sesungguhnya ibadah qurban telah
diatur dengan indah dan rapi oleh Sang Peletak Syari’ah. Jangan coba-coba untuk keluar
dari aturan ini karena bisa jadi qurban kita tidak sah. Berusahalah untuk senantiasa
berjalan sesuai syari’at meskipun jalurnya ‘kelihatannya’ lebih panjang dan sedikit
menyibukkan. Jangan pula terkecoh dengan pendapat sebagian orang, baik ulama
maupun yang ngaku-ngaku ulama. Karena manusia yang berhak untuk ditaati secara
mutlak hanya satu yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka
semua pendapat yang bertentangan dengan hadis beliau harus dibuang jauh-jauh.

Tidak perlu bingung dan merasa repot. Bukankah Ali bin Abi Thalib t pernah mengurusi
qurbannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jumlahnya 100 ekor onta?! Tapi tidak
ada dalam catatan sejarah bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bingung ngurusi
kulit dan kepala. Demikianlah kemudahan yang Allah berikan bagi orang yang secara
penuh mengikuti aturan syari’at. Namun bagi mereka (baca: panitia) yang masih merasa
bingung ngurusi kulit, bisa dilakukan beberapa solusi berikut:

• Kumpulkan semua kulit, kepala, dan kaki hewan qurban. Tunjuk sejumlah orang
miskin sebagai sasaran penerima kulit. Tidak perlu diantar ke rumahnya, tapi
cukup hubungi mereka dan sampaikan bahwa panitia siap menjualkan kulit yang
sudah menjadi hak mereka. Dengan demikian, status panitia dalam hal ini adalah
sebagai wakil bagi pemilik kulit untuk menjualkan kulit, bukan wakil dari
shohibul qurban dalam menjual kulit.
• Serahkan semua atau sebagian kulit kepada yayasan islam sosial (misalnya panti
asuhan atau pondok pesantren). (Terdapat Fatwa Lajnah yang membolehkan
menyerahkan bagian hewan qurban kepada yayasan).

Larangan mengupah jaga dengan bagian hewan sembelihan

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa “Beliau pernah diperintahkan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan ontanya dan agar
membagikan seluruh bagian dari sembelihan onta tersebut, baik yang berupa daging,
kulit tubuh maupun pelana. Dan dia tidak boleh memberikannya kepada jagal barang
sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan dalam lafaz lainnya beliau berkata, “Kami
mengupahnya dari uang kami pribadi.” (HR. Muslim). Dan ini merupakan pendapat
mayoritas ulama (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/379).

Syaikh Abdullah Al Bassaam mengatakan, “Tukang jagal tidak boleh diberi daging atau
kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para
ulama. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika dia
termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah miskin…” (Taudhihul
Ahkaam, IV/464). Pernyataan beliau semakna dengan pernyataan Ibn Qosim yang
mengatakan: “Haram menjadikan bagian hewan qurban sebagai upah bagi jagal.”
Perkataan beliau ini dikomentari oleh Al Baijuri: “Karena hal itu (mengupah jagal)
semakna dengan jual beli. Namun jika jagal diberi bagian dari qurban dengan status
sedekah bukan upah maka tidak haram.” (Hasyiyah Al Baijuri As Syafi’i 2/311).

Adapun bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging qurban diperbolehkan
memanfaatkannya sekehendaknya, bisa dimakan, dijual atau yang lainnya. Akan tetapi
tidak diperkenankan menjualnya kembali kepada orang yang memberi hadiah atau
sedekah kepadanya (Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, 69)

Menyembelih satu kambing untuk makan-makan panitia? Atau Panitia dapat jatah
khusus?

Status panitia maupun jagal dalam pengurusan hewan qurban adalah sebagai wakil dari
shohibul qurban dan bukan amil[2]. Karena statusnya hanya sebagai wakil maka panitia
qurban tidak diperkenankan mengambil bagian dari hewan qurban sebagai ganti dari jasa
dalam mengurusi hewan qurban. Untuk lebih memudahkan bisa diperhatikan ilustrasi
kasus berikut:

Adi ingin mengirim uang Rp 1 juta kepada Budi. Karena tidak bisa ketemu langsung
maka Adi mengutus Rudi untuk mengantarkan uang tersebut kepada Budi. Karena harus
ada biaya transport dan biaya lainnya maka Adi memberikan sejumlah uang kepada Rudi.
Bolehkah uang ini diambilkan dari uang Rp 1 juta yang akan dikirimkan kepada Budi??
Semua orang akan menjawab: “TIDAK BOLEH KARENA BERARTI MENGURANGI
UANGNYA BUDI.” Status Rudi pada kasus di atas hanyalah sebagai wakil Adi.
Demikian pula qurban. Status panitia hanya sebagai wakil pemilik hewan, sehingga dia
tidak boleh mengambil bagian qurban sebagai ganti dari jasanya.
Oleh karena itu, jika menyembelih satu kambing untuk makan-makan panitia, atau
panitia dapat jatah khusus sebagai ganti jasa dari kerja yang dilakukan panitia maka ini
tidak diperbolehkan.

Namun hal ini bukan berarti bahwa panitia tidak mendapat jatah dari hewan qurban.
Yang tidak boleh adalah ketika panitia mendapatkan jatah lebih dalam pembagian hewan
qurban, baik itu bentuknya sudah matang maupun daging mentah, sebagai ganti dari jasa
mereka yang telah mengurusi hewan qurban. panitia tetap mendapatkan jatah qurban
namun jatah mereka sama dengan jatah yang diberikan kepada warga lainnya.

Agar tidak meninggalkan kerancuan, kita perhatikan dua contoh cara pembagian qurban
yang dibolehkan dan pembagian yang terlarang, sebagai berikut:

Contoh cara pembagian yang dibolehkan: warga desa kampung A berqurban 5 ekor sapi
& 13 ekor kambing. Setelah dihitung, masing-masing kepala keluarga mendapat jatah 2
Kg daging sapi dan ½ kg daging kambing. Semua merata tanpa memperhatikan status,
baik panitia maupun bukan panitia.

Contoh cara pembagian yang terlarang 1: warga desa kampung A berqurban 5 ekor sapi
& 13 ekor kambing. Setelah dihitung, masing-masing kepala keluarga mendapat jatah 2
Kg daging sapi dan ½ Kg daging kambing. Khusus untuk panitia mendapat jatah
tambahan masing-masing ½ Kg daging sapi sebagai ganti jasa mereka yang telah
mengurusi hewan qurban. Dalam keluarga Pak Ahmad ada 4 orang yang terlibat sebagai
panitia, yaitu Pak Ahmad, Bu Ahmad, dan 2 putranya. Sehingga keluarga Pak Ahmad
mendapat jatah 4 Kg daging sapi dan ½ Kg daging kambing. Keluarga Pak Ahmad
mendapat kelebihan jatah 2 Kg sapi karena anggota keluarganya yang terlibat 4 orang x
½ Kg = 2 Kg.

Contoh cara pembagian yang terlarang 2: Sebagai bentuk imbal jasa bagi panitia qurban
maka takmir mengambil 1 ekor kambing untuk disembelih sebagai jamuan makan
bersama bagi panitia. Di samping itu, panitia juga mendapat jatah yang sama dengan
warga lainnya. Dengan demikian, panitia mendapat tambahan jatah pembagian qurban
yang mereka jadikan sebagai menu makan bersama.

Mengirim sejumlah uang untuk dibelikan hewan qurban di tempat tujuan (di luar daerah
pemilik hewan) dan disembelih di tempat tersebut? Atau mengirimkan hewan hidup ke
tempat lain untuk di sembelih di sana?

Pada asalnya tempat menyembelih qurban adalah daerah orang yang berqurban. Karena
orang-orang yang miskin di daerahnya itulah yang lebih berhak untuk disantuni. Sebagian
syafi’iyah mengharamkan mengirim hewan qurban atau uang untuk membeli hewan
qurban ke tempat lain – di luar tempat tinggal shohibul qurban – selama tidak ada
maslahat yang menuntut hal itu, seperti penduduk tempat shohibul qurban yang sudah
kaya sementara penduduk tempat lain sangat membutuhkan. Sebagian ulama
membolehkan secara mutlak (meskipun tidak ada tuntutan maslahat). Sebagai jalan
keluar dari perbedaan pendapat, sebagian ulama menasehatkan agar tidak mengirim
hewan qurban ke selain tempat tinggalnya. Artinya tetap disembelih di daerah shohibul
qurban dan yang dikirim keluar adalah dagingnya. (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no.
2997, 29048, dan 29843 & Shahih Fiqih Sunnah, II/380)

Kesimpulannya, berqurban dengan model seperti ini (mengirim hewan atau uang dan
bukan daging) termasuk qurban yang sah namun menyelisihi sunnah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam karena tiga hal:

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhu, tidak
pernah mengajarkannya.
2. Hilangnya sunnah anjuran untuk disembelih sendiri oleh shohibul qurban.
3. Hilangnya sunnah anjuran untuk makan bagian dari hewan qurban.

Wallaahu waliyut taufiq.

Demikian yang bisa kami sajikan. Sebagai pelengkap kami sarankan untuk membaca
buku: Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
diterjemahkan Ustadz Aris Munandar hafizhahullah dari ringkasan Kitab Ahkaam Udh-
hiyah wadz Dzakaah karya Syaikh Al Utsaimin rahimahullah. Semoga risalah yang
ringkas sebagai pelengkap untuk tulisan saudaraku Abu Muslih hafizhahullah ini
bermanfaat dan menjadi amal yang diterima oleh Allah ta’ala, sesungguhnya Dia Maha
Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta seluruh pengikut beliau yang setia.
Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1428

***

Footnote:

[1] Kafir Mu’ahid: orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin.
Termasuk orang kafir mu’ahid adalah orang kafir yang masuk ke negeri islam dengan
izin resmi dari pemerintah. Kafir Harby: orang kafir yang memerangi kaum muslimin.
Kafir Dzimmi: orang kafir yang hidup di bawah kekuasaan kaum muslimin.

[2] Sebagian orang menyamakan status panitia qurban sebagaimana status amil dalam
zakat. Bahkan mereka meyebut panitia qurban dengan ‘amil qurban’. Akibatnya mereka
beranggapan panitia memiliki jatah khusus dari hewan qurban sebagaimana amil zakat
memiliki jatah khusus dari harta zakat.

Yang benar, amil zakat tidaklah sama dengan panitia pengurus qurban. Karena untuk bisa
disebut amil, harus memenuhi beberapa persyaratan. Sementara pengurus qurban hanya
sebatas wakil dari shohibul qurban, sebagaimana status sahabat Ali radhiallahu ‘anhu
dalam mengurusi qurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak ada riwayat Ali
radhiallahu ‘anhu mendapat jatah khusus dari qurbannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam.