Anda di halaman 1dari 4

PENENTUAN CEMARAN LOGAM Pb DAN Cd PADA PRODUK IKAN

Dian Anggraeni, NIM : 12231029



INTISARI
Pengujian Kandungan timbal (Pb) dan kadmium (Cd) telah dilakukan pada sampel ikan
basah dan ikan kering yang dianalisis dengan alat spektrofotometer serapan atom (AAS). Analisis
data menggunakan metode kurva kalibrasi dengan persamaan regresi linear y = 0,004x + 0,001
koefisien determinasi (R
2
) sebesar 0,864 untuk larutan standar timbal (Pb) dan y = 0,118x 0,004
koefisien determinasi (R
2
) sebesar 0,951. Kandungan timbal (Pb) pada sampel ikan basah dan ikan
kering yaitu 3,4 g/g dan 49/g. Kandungan kadmium (Cd) pada ikan basah dan ikan kering yaitu
yaitu 0,022 g/g dan 0,236 g /g. Hasil analisa menunjukkan kandungan timbal (Pb) dan kadmium
(Cd) dalam sampel ikan basah dan ikan kering masih aman untuk dikonsumsi sesuai SNI yaitu untuk
cemaran logam Pb 1 g/l 20 g/l dan logam Cd yaitu, 1 g/l 10 g/l.

Kata Kunci : timbal (Pb), kadmium (Cd), spektrofotometer serapan atom (AAS), kurva kalibrasi.

1. PENDAHULUAN
Keberadaan logam-logam berat di lingkungan
seperti tembaga, kadmium dan timbal merupakan
masalah lingkungan yang perlu mendapat
perhatian serius. Adanya ion-ion logam berat
dalam limbah industri telah lama menjadi objek
dalam bidang kimia analitik dan kimia
lingkungan. Limbah yang mengandung logam
berat perlu mendapat perhatian khusus, mengingat
dalam konsentrasi tertentu dapat memberikan efek
toksik yang berbahaya bagi kehidupan manusia
dan lingkungan di sekitarnya (Lelifatri, 2010).
Peningkatan kadar logam berat dalam air laut akan
diikuti peningkatan kadar logam berat dalam biota
laut yang pada gilirannya melalui rantai makanan
akan menimbulkan keracunan a kut dan khronik,
bahkan bersifat karsinogenik pada manusia
konsumen hasil laut (Keman, 1998).

Timbal adalah suatu unsur kimia dalam
tabel periodik yang memiliki lambang Pb dan
nomor atom 82. Lambangnya diambil dari bahasa
Latin Plumbum. Timbal (Pb) adalah logam berat
yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi.
Unsur Pb digunakan dalam bidang industri
modern sebagai bahan pembuatan pipa air yang
tahan korosi, bahan pembuat cat, baterai, dan
campuran bahan bakar bensin tetraetil. Timbal
(Pb) adalah logam yang mendapat perhatian
khusus karena sifatnya yang toksik (beracun)
terhadap manusia. Timbal (Pb) dapat masuk ke
dalam tubuh melalui konsumsi makanan,
minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb
(Anonim, 2012).

Keracunan akibat kontaminasi Pb bisa
menimbulkan berbagai macam hal diantaranya:
1. Menghambat aktivitas enzim yang terlibat
dalam pembentukan hemoglobin (Hb)
2. Meningkatnya kadar asam -
aminolevulinat dehidratase (ALAD) dan
kadar protoporphin dalam sel darah merah
3. Memperpendek umur sel darah merah
4. Menurunkan jumlah sel darah merah dan
retikulosit, serta meningkatkan kandungan
logam Fe dalam plasma darah.

Timbal adalah logam yang mudah melarut
dalam asam nitrat yang sedang pekatnya (8 M)
dan terbentuk juga nitrogen oksida. Dengan asam
nitrat pekat, terbentuk lapisan pelindung berupa
timbale nitrat pada permukaan logam, yang
mencegah pelarutan lebih lanjut. (Svehla, 1985,
hal: 207).

Kadmium adalah logam kebiruan yang
lunak, termasuk golongan II B table berkala
dengan konigurasi elekron [Kr] 4d105s2. unsur ini
bernomor atom 48, mempunyai bobot atom
112,41 g/mol dan densitas 8,65 g/cm3. Titik didih
dan titik lelehnya berturutturut 765oC dan
320,9oC. Kadmiun merupakan racun bagi tubuh
manusia. Waktu paruhnya 30 tahun dan
terakumulasi pada ginjal, sehingga ginjal
mengalami disfungsi kadmium yang terdapat
dalam tubuh manusia sebagian besar diperoleh
melalui makanan dan tembakau, hanya sejumlah
kecil berasal dari air minum dan polusi udara.
Pemasukan Cd melalui makanan adalah 10 40
g/hari, sedikitnya 50% diserap oleh tubuh.
Rekomendasi pemasukan Cd menurut gabungan
FAO/WHO dengan batas toleransi tiap minggunya
adalah 420 g untuk orang dewasa dengan berat
badan 60 kg. Pemasukan Cd rata-rata pada tubuh
manusia ialah 10 20 % dari batas yang telah
direkomendasikan. Di perairan Cd akan
mengendap karena senyawa sulfitnya sukar larut
(Darmono, 2003).

Dikarenakan efek samping dari kelebihan
kandungan Pb dan Cd dalam sampel makanan,
maka perlu dilakukan pengujian terhadap
kandungan logam berat Pb dan Cd dari sampel
ikan basah dan kering untuk meminimalisir efek
samping pada saat di konsumsi.

2. METODE PERCOBAAN
Alat
Peralatan yang digunakan pada praktikum
kali ini adalah alat-alat gelas, alat-alat plastik,
neraca analitik (Ohaus) dan tanur (Furnance) Alat
analisis yang digunakan adalah spektrofotometri
Serapan Atom (Hitachi U-2010).

Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini
adalah sampel ikan basah dan ikan kering, larutan
Pb 1000 ppm (Merck), larutan Cd 1000 ppm
(Merck), HNO
3
65% (Merck), kertas saring
(Whatman No.42), dan akuades.

Cara Kerja
Pengujian timbal (Pb) dan kadmium (Cd)
pada sampel ikan basah dan ikan kering
dilakukan dengan metode kurva kalibrasi. Mula-
mula dibuat larutan standar seri timbal (Pb)
dengan variasi konsentrasi 0; 0,5; 1; 1,5; 2; dan
2,5 dari larutan induk timbal (Pb) 10 ppm. Dibuat
pula larutan standar seri kadmium (Cd) dengan
variasi konsentrasi 0; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 dari
larutan induk kadmium (Cd) 10 ppm. Selanjutnya
dilakukan preparasi sampel dengan mengabukan
0,5 gram sampel ikan kering dan 5 gram sampel
ikan basah dalam tanur pada suhu 500
o
C 8 jam.
Kedua sampel ikan masing-masing dilarutkan
dengan HNO
3
65% dan disaring dengan kertas
saring. Larutan sampel yang telah disaring
diencerkan dalam labu ukur 10 ml. Larutan
standar seri Pb dan Cd serta larutan sampel ikan
basah dan kering dianalisa dengan
spektrofotometer serapan atom (AAS).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum kali ini adalah penentuan cemaran
logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada sampel
ikan basah dan ikan kering menggunakan alat
spektrofotometer serapan atom (AAS) dengan
metode kurva kalibrasi.

Pada saat preparasi sampel, logam berat yang
terkandung pada sampel ikan basah dan ikan
kering di ikat dengan penambahan asam nitrat
(HNO3) 65 % sehingga membentuk timbal nitrat
dan kadmium nitrat.

Digunakan alat spektrofotometri serapan atom
(AAS) dikarenakan prinsip dasar spektrofotometri
serapan atom adalah interaksi antara radiasi
elektromagnetik dengan atom. Spektrofotometri
serapan atom merupakan metode yang sangat
tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah.
Teknik ini adalah teknik yang paling umum
dipakai untuk analisis unsur. Cara kerja
Spektroskopi Serapan Atom ini adalah
berdasarkan atas penguapan larutan sampel,
kemudian logam yang terkandung di dalamnya
diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut
mengapsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang
dipancarkan dari lampu katoda (Hollow Cathode
Lamp) yang mengandung unsur yang akan
ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi
kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu
menurut jenis logamnya (Khopkar, 2003).

Metoda kurva kalibrasi adalah suatu metode
dimana dibuat suatu seri larutan standar dengan
berbagai konsentrasi dan absorbansi dari larutan
tersebut diukur dengan AAS. Langkah selanjutnya
adalah membuat grafik antara konsentrasi (C)
dengan Absorbansi (A) yang akan merupakan
garis lurus melewati titik nol dengan slope = .b
atau slope = a.b. Konsentrasi larutan sampel dapat
dicari setelah absorbansi larutan sampel diukur
dan diintrapolasi ke dalam kurva kalibrasi atau
dimasukkan ke dalam persamaan garis lurus yang
diperoleh dengan menggunakan program regresi
linear pada kurva kalibrasi. (Syahputra, 2004).
Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Larutan Standar Seri Timbal (Pb) dan
Kadmium (Cd)
Konsentra
si Pb
(ppm)
Absorb
ansi Pb
Konsentra
si Cd
(ppm)
Absorbans
i Cd
0 0,0000 0 0,0000
0,5 0,0056 0,1 0,0057
1,5 0,0089 0,2 0,0187
2 0,0093 0,3 0,0221
- - 0,4 0,0451
- - 0,5 0,0588

Tabel 2. Konsentrasi dan Absorbansi Sampel Ikan
Basah dan Ikan Kering
Sampel
Kandungan (g/g) Absorbansi
Timbal
(Pb)
Kadmium
(Cd)
Timbal
(Pb)
Kadmium
(Cd)
Ikan
Basah
3,4
g/g
0,022 g/g 0,007
8
-0,0027
Ikan
Kering
49 g/g 0,236 g/g 0,010
8
-0,0026





Gambar 1. Kurva Kalibrasi Konsentrasi Vs Absorbansi
Timbal (Pb)
Data pengukuran ini menunjukkan bahwa
hubungan ini membentuk garis linier dalam grafik
yang menunjukan bahwa absorbansi adalah fungsi
dari konsentrasi. Garis regresi yang diperoleh
memiliki persamaan y = 0,004x + 0,001 dengan nilai
R
2
sebesar 0,864. Nilai ini menunjukan bahwa
linearitas dari kurva adalah kurang baik dalam
penentuan konsentrasi sampel dikarenakan tidak
disertakan data pengukuran larutan standar
konsentrasi 1 dan 2,5 ppm karena hasil
pengukurannya yang error. Didapat konsentrasi
timbal Pb dalam sampel ikan basah dan kering yaitu
3,4 g/g dan 49/g.


Gambar 1. Kurva Kalibrasi Konsentrasi Vs
Absorbansi Kadmium (Cd)


Data pengukuran ini menunjukkan bahwa
hubungan ini membentuk garis linier dalam grafik
yang menunjukan bahwa absorbansi adalah fungsi
dari konsentrasi. Garis regresi yang diperoleh
memiliki persamaan y = 0,118x - 0,004 dengan
nilai R
2
sebesar 0,952. Nilai ini menunjukan
y = 0,004x + 0,001
R = 0,864
0
0.005
0.01
0.015
0 1 2 3
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

Konsentrasi
Konsentrasi Vs Absorbansi
y = 0,118x - 0,004
R = 0,952
-0.02
0
0.02
0.04
0.06
0.08
0 0.2 0.4 0.6
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

Konsentrasi
Konsentrasi VsAbsorbansi
bahwa linearitas dari kurva adalah cukup baik
dalam penentuan konsentrasi. Didapat konsentrasi
kadmium (Cd) dalam sampel ikan basah dan
kering yaitu 0,022 g/g dan 0,236 g /g.









4. KESIMPULAN

Telah dilakukan pengujian kandungan Pb
dan Cd pada sampel ikan basah an sampel ikan
kering yang dianalisis dengan alat
spektrofotometer serapan atom (AAS) dengan
metode analisis kurva kalibrasi. Kandungan Pb
pada sampel ikan basah dan ikan kering yaitu
3,4 g/g dan 49/g dan kandungan Cd pada
sampel ikan basah dan ikan kering yaitu 0,022
g/g dan 0,236 g /g.



DAFTAR PUSTAKA

Darmono. (2003). Lingkungan hidup dan
Pencemaran. Bogor: Penerbit Universitas
Indonesia(UIP).
Khopkar, S. (2003). Konsep Dasar Kimia
Analitik. Jakarta: UI Press.
Syahputra, R. (2004). Modul Pelatihan
Instrumentasi AAS. Laboratorium
Instrumental Terpadu UII,yogyakarta.