Anda di halaman 1dari 4

Dalam aspek filosofi atau spiritual kebatinan, dikenal adanya istilah Aku dan Guru Sejati.

Aku adalah orang yang bersangkutan yang sedang mempelajari ilmu.


Guru Sejati adalah pihak yang memberi ajaran.
Istilah Aku dan Guru Sejati ini ada pada aspek filosofi dari ilmu kebatinan dan spiritual.

Di dalam semua jenis ilmu, ada semacam penjurusan dalam pelajarannya, termasuk di dalam
keilmuan kebatinan dan spiritual. Yang pertama adalah aspek pengetahuan yang mengarah kepada
aspek filosofi atau spiritual dari sesuatu ilmu (yang menjadi ukuran kedalaman ilmu seseorang). Yang
kedua adalah ilmu-ilmu atau kekuatan dari keilmuan itu sendiri (yang menjadi ukuran ketinggian ilmu
seseorang).
Pelajaran mengenai aspek filosofi atau spiritual dari sesuatu ilmu seringkali diabaikan oleh orang-
orang yang sedang menuntut ilmu. Orang lebih tertarik untuk segera dapat menguasai ilmu-ilmu
tertentu yang dipandangnya berguna atau hebat dan kelihatan hasilnya. Sedangkan aspek filosofinya
sendiri seringkali diabaikan, karena dianggap hanya pelajaran moral budi pekerti saja dan tidak terkait
langsung dengan keilmuannya. Kecenderungannya, orang tersebut akan suka pamer ilmu dan
merasa hebat karena berilmu tinggi.
Padahal, pelajaran mengenai aspek filosofi atau spiritual dari sesuatu ilmu, selain dimaksudkan
sebagai ajaran moral dan budi pekerti, tetapi juga merupakan bahan untuk memperdalam suatu
keilmuan. Bila aspek filosofi ini ditekuni dengan sungguh-sungguh akan dapat membawa pencapaian
keilmuan seseorang kepada tahapan yang tak terduga. Orang berilmu yang juga menekuni aspek
filosofi dari keilmuannya, maka ilmunya bukan hanya tinggi, tetapi juga dalam. Aspek filosofi ini
menjadi ukuran kedalaman ilmu seseorang dan keilmuan yang dalam dapat menenggelamkan /
menangkal ilmu yang tinggi. Dan seringkali terjadi bahwa orang yang ilmunya tinggi ternyata kalah /
tenggelam oleh orang yang ilmunya dalam.
Orang yang menekuni ilmu kebatinan / spiritual melalui suatu keguruan, akan diajarkan ilmu-ilmu yang sudah menjadi
bagian dari program keilmuannya. Biasanya pada tahapan terakhir seseorang belajar ilmu, dia akan diajarkan ilmu-ilmu
tertinggi dan ilmu-ilmu pamungkas perguruan itu. Tetapi biasanya masih ada ilmu lain yang tidak diajarkan kepadanya,
yaitu ilmu kesepuhan, ilmu yang hanya diajarkan kepada seseorang bila dipandang secara watak dan kepribadian
orang tersebut sudah cukup sepuh.
Semua ilmu yang diterima oleh seorang murid, biasanya hanya terbatas pada materi keilmuan
saja. Ilmukesepuhan yang diterima seseorang biasanya selain berisi materi ilmu-ilmu tertentu, juga berisi ajaran filosofi
tentang materi ilmunya, cara-cara meningkatkan kualitas ilmu, rahasia-rahasia ilmu dan rahasia-rahasia menangkal
suatu ilmu, sampai cara-cara menyatukan ilmu seseorang dengan dirinya (sehingga seseorang bukan hanya memiliki
banyak koleksi ilmu, tetapi ilmu itu juga menyatu dengan dirinya), dan cara-cara memaksimalkan pengembangan
penguasaan keilmuan ke tingkatan yang lebih tinggi dan sekaligus dalam, dan memaksimalkan kekuatan diri sendiri
sampai membangun kekuatan dari energi alam semesta (pengertian alam semesta disini bukan hanya alam lingkungan
manusia tinggal, atau bulan, bintang, matahari, dsb, tetapi juga kekuatan dari roh-roh lain dan kekuatan dari roh ke-
Tuhan-an).
Biasanya ilmu kesepuhan yang diajarkan seorang guru kepada muridnya adalah hasil pencapaian pribadi sang guru.
Berbagai ilmu kesepuhan yang ada akan semakin berkurang pada generasi berikutnya, karena selain sedikitnya pribadi
yang dianggap pantas menerima ilmu tersebut, biasanya seseorang juga sudah puas dengan apa yang sudah
dimilikinya, sehingga tidak ada dorongan baginya untuk memperdalam ilmu. Begitu juga dengan keilmuan dari aspek
filosofi ilmu seseorang. Hanya sedikit sekali yang mendalami.

Salah satu puncak ilmu kebatinan / spiritual adalah sampainya pada pengetahuan tentang sejatinya
kita, manusia, yang dalam ilmu kebatinan spiritual sering disebut Aku. Aku adalah orang
bersangkutan, yaitu sejatinya dirinya yang mengendalikan segala sesuatu yang dilakukannya, yaitu
dirinya dan sukmanya, Pancer dan Sedulur Papat.
Dalam ilmu kebatinan spiritual juga dikenal adanya istilah Guru Sejati. Sosok ini merupakan pengejawantahan
kegaiban seseorang yang menuntun seseorang weruh sakdurunge winarah (mengetahui sesuatu sebelum itu terjadi),
mengetahui masa depan dan segala sesuatu yang terkait dengan indera keenam.

Guru Sejati ini sebenarnya adalah sukma kita atau roh sedulur papat kita, ditambah dengan sukma-sukma
para leluhur dan pribadi-pribadi tertentu yang mengayomi kita secara langsung maupun tidak
langsung. Guru sejati ini yang akan menuntun seseorang dalam olah kebatinan dan spiritual, yang dapat menuntun
kita mempelajari dan mengetahui hal-hal tertentu yang akan sulit kita ketahui bila hanya melakukan pencarian sendiri,
apalagi mengenai pengetahuan yang sifatnya berdimensi tinggi. Guru sejati ini yang akan mendatangkan / mengajarkan
berbagai macam pengetahuan kebatinan spiritual dalam bentuk ajaran langsung, wangsit / wahyu ataupun ilham.



Dalam proses laku menekuni ilmu, Aku berperan mengendalikan segala sesuatu yang dilakukannya.
Dalam proses pencarian pengetahuan, mempelajari kebenaran dan aspek pengetahuan di dalamnya, keberadaan
sosok guru sejati akan sangat berguna untuk menuntun ke arah pengetahuan yang benar dan dalam tempo yang lebih
singkat, dibandingkan bila harus melakukan pencarian sendiri. Sosok guru sejati ini bisa siapa saja, bisa seorang guru
(manusia), bisa khodam ilmu / pendamping, bisa roh-roh leluhur, bangsa jin, dewa, dsb. Bila kemudian aspek suatu
pengetahuan sudah didapatkannya, bila tidak ada lagi guru yang dapat menuntunnya, dia dapat melakukan pencarian
sendiri ke dimensi pengetahuan yang lebih tinggi mengandalkan kemampuan batin / sukmanya.

Aspek Aku dan Guru Sejati ini ada pada semua bidang kehidupan kita sehari-hari, bukan hanya dalam bidang keilmuan
batin spiritual. Kita sendiri juga merasakan adanya ajaran-ajaran berupa ilham dan ide-ide yang mengalir di dalam
pikiran kita. Begitu juga manusia yang hidup di negara maju. Mereka yang menjadi penemu, peneliti, atau pengembang
suatu teori ilmiah, pengetahuan, ataupun peralatan modern dan canggih, mereka melakukannya bukan semata-mata
berdasarkan kecerdasan otak mereka, tetapi terutama didasarkan pada kecerdasan mereka untuk mendayagunakan
mengalirnya ide dan ilham di dalam pikiran mereka sebagai sumber inspirasi untuk ditindaklanjuti.

Karena itu mereka sangat menghargai ide-ide, pendapat dan pemikiran-pemikiran orang lain walaupun berbeda dengan
pemikiran dan pendapat mereka, dan semua perbedaan itu akan menjadi bahan untuk ditindaklanjuti, yang
menginspirasi mereka untuk maju. Kontras sekali dengan kehidupan kita disini yang sangat mengagungkan ego dan
ke-Aku-an, yang tidak menghargai perbedaan pendapat, sehingga hidup kita penuh dengan dogma dan doktrin, yang
menyebabkan kehidupan kita sulit sekali untuk maju dan peradaban kita sulit sekali untuk menjadi modern. Kehidupan
peradaban modern tidak semata-mata diisi dengan pembangunan fisik, peralatan modern atau kekayaan materi, tetapi
terutama adalah sikap hidup masyarakatnya yang modern, yang selalu berpikir dan bersikap positif dalam segala hal.

Contoh yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah cerita tentang suatu mahluk hidup yang disebut kuman,
yang sering disebut sebagai penyebab suatu sakit / penyakit, yang sedemikian kecilnya ukuran tubuhnya sehingga
tidak dapat diinderai dengan mata kita, hanya dapat dilihat melalui mikroskop. Bagi kita yang belum pernah melihatnya
secara langsung, kita hanya bisa percaya. Walaupun tidak bisa membuktikan sendiri kebenarannya, tetapi kita percaya,
karena kita banyak menerima cerita kedokteran, juga karena ada bukti-bukti berupa foto-foto gambarnya. Manusia di
bidang kedokteran / kesehatan atau petugas laboratorium biologi / mikrobiologi dapat menuntun dan mengajar kita,
menjadi guru sejati kita, bila kita ingin melihatnya sendiri dan membuktikan kebenarannya berikut aspek pengetahuan di
dalamnya.
Begitu juga dengan keberadaan mahluk halus di sekitar kita, yang tidak dapat diinderai dengan mata kita. Bila
secara rasa batin kita dapat merasakan keberadaannya, kita dapat memperjelas dengan cara penglihatan gaib, atau
dengan cara kebatinan / spiritual yang lain. Kemampuan melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaib akan sangat
berguna untuk melihat sendiri kebenaran keberadaannya. Kemampuan melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaib
juga akan sangat berguna untuk mendapatkan sosok-sosok gaib yang dapat menuntun kita mengetahui hal-hal gaib
yang akan sulit kita ketahui bila hanya melakukan pencarian sendiri, apalagi mengenai pengetahuan gaib yang sifatnya
berdimensi tinggi.

Ketika masih dalam kondisi awam, roh para sedulur papat akan bersama-sama dengan kita dalam proses belajar
(mereka juga ikut belajar), tetapi perkembangan belajar mereka jauh lebih cepat daripada kita, karena secara roh
mereka mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui secara fisik dan dapat kemudian memberitahukan pengetahuan
mereka kepada kita berupa ide-ide dan ilham atau penglihatan gaib yang mengalir dalam pikiran kita. Karena itu bila
kita aktif memperhatikan pemberitahuan mereka itu, kita akan lebih mudah dalam mempelajari sesuatu apapun dalam
kehidupan kita dan tidak akan menemukan jalan buntu di dalam suatu permasalahan. Mereka akan aktif hadir di dalam
perenungan-perenungan.

Roh kita sebagai Pancer, sebenarnya juga bersifat roh, sehingga juga dapat mengetahui hal-hal yang bersifat roh.
Tetapi secara duniawi roh Pancer ini terbelenggu dalam kehidupan biologis manusia, sehingga manusia tidak peka
dengan hal-hal yang bersifat roh. Karena itu seringkali seseorang harus bisa membersihkan hati, pikiran dan batinnya,
harus bisa melepaskan belenggu keduniawiannya, untuk bisa mendalami hal-hal yang bersifat roh dan keTuhanan.

Di dalam proses pencarian spiritual, roh sedulur papat dan roh para leluhur akan saling berinteraksi, menjadi Guru
Sejati yang akan berperan mendatangkan / mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepadanya, walaupun orang yang
bersangkutan seringkali tidak mengetahui siapa sajakah para pribadi yang menjadi guru sejatinya. Itulah sebabnya,
seseorang yang mempunyai garis keturunan orang ilmu akan lebih mudah mempelajari sesuatu ilmu, dibanding orang
lain yang tidak mempunyai garis keturunan ilmu.

Sesuatu objek yang sudah kita ketahui keberadaannya, kemudian kita pelajari sisi pengetahuan spiritualnya, aspek
asal-usul keberadaannya, tujuan keberadaannya, apa saja perbuatannya, dsb. Secara pribadi pengetahuan itu akan
menjadi pengetahuan yang bersifat kebatinan / spiritual. Seseorang yang mempelajari dunia spiritual, atau bahkan yang
digelari master spiritual sekalipun, tidak berarti dia mengetahui segala-galanya. Tentang aspek pengetahuan apa yang
diketahuinya dan akan menjadi sejauh mana pengembangan spiritualitasnya akan tergantung pada interest masing-
masing. Dan sosok guru sejati yang bersamanya akan mengajarkan segala sesuatu sesuai bidang pengetahuannya
masing-masing.

Seseorang yang sudah mendapatkan 'pencerahan' tentang sesuatu, sudah seharusnyalah dia berusaha mengenali
siapa sajakah yang telah menjadikannya kaweruh, kemudian memberikannya penghormatan khusus dan
mendekatinya untuk mendapatkan pengajaran yang lebih lanjut dan mendalam. Siapa tahu mereka yang telah
berkenan kepadanya itu adalah para leluhur yang telah menerima wahyu kesepuhan, yang kemudian jika mereka
berkenan membuka diri lebih lanjut, mungkin segala sesuatu ilmu akan diturunkan kepadanya. Mungkin juga kemudian
para Dewa-pun akan berkenan menurunkan wahyu keilmuan / spiritual kepadanya.

Aspek penting Guru Sejati hadir di dalam keilmuan kebatinan dan spiritual dengan penekanan pada usaha untuk
mengenali siapa saja yang menjadi guru sejatinya dalam proses keilmuannya, supaya seseorang bertekun kepada
gurunya itu untuk mendapatkan bimbingan yang mendalam. Dan ketika sudah tidak ada lagi sosok yang dapat menjadi
gurunya, maka roh sedulur papat akan menjadi pembimbingnya yang utama, yang memberinya ide dan ilham,
penglihatan gaib dan jawaban dari berbagai pertanyaan, dan menuntunnya pada pengetahuan yang lebih tinggi.

Inilah salah satu aspek penting dalam kebatinan jawa yang menekankan pengenalan pada roh sedulur papat, sehingga
muncul konsep Sedulur Papat Kalima Pancer sebagai Guru Sejati, yang penekanannya adalah pada penyatuan
interaksi antara seseorang (Pancer) dengan para roh sedulur papatnya. Dan bila saja dewa berkenan sehingga
seseorang memiliki suatu wahyu keilmuan / spiritual dalam dirinya, maka keberadaan wahyu itu akan melipatgandakan
kemampuannya untuk mendapatkan pengetahuan yang berdimensi tinggi.

Dalam proses belajar, banyak pihak yang bisa menjadi Guru Sejati kita, terutama adalah pihak-pihak yang nyata-nyata
sudah mengajar kita, yang sudah menjadikan kita menguasai suatu ilmu atau pengetahuan. Konteks Sedulur Papat
sebagai Guru Sejati kita muncul ketika tidak ada lagi pihak yang menuntun dan memberi kita ajaran, sehingga kita
harus mempelajarinya sendiri. Dalam kondisi ini kita mempelajari sesuatunya sendiri, mengandalkan kecerdasan
pikiran dan kecerdasan batin kita sendiri. Dalam kondisi ini interaksi dengan sedulur papat akan lebih intensif , berupa
mengalirnya ide dan ilham sebagai inspirasi untuk ditindaklanjuti, walaupun tidak disadari bahwa ide dan ilham itu
berasal dari para roh sedulur papat.

Tidak selamanya dalam semua hal yang kita tekuni kita akan menemukan suatu sosok yang dapat mengajar atau
membimbing kita. Aspek roh sedulur papat menjadi penting karena mereka selalu ada pada kita, dan apapun kebaikan
dan kekuatan yang dimiliki oleh sedulur papat itu, efeknya akan selalu berimbas kepada kita, menjadi kebaikan dan
kekuatan kita juga, karena mereka adalah bagian dari diri kita sendiri. Kekuatan mereka dan penghayatan kita pada
kebersamaan mereka, akan mewujudkan suatu kekuatan batin dan sukma yang akan berguna dalam melandasi
kemantapan perbuatan-perbuatan dalam kehidupan kita sehari-hari. Termasuk ucapan kita yang dilandasi kekuatan
dan keyakinan batin akan terjadi, maka itu akan dapat benar terjadi. Yang sedemikian itu sering disebut
ucapannya mandi (manjur / idu geni).

Karena itu seringkali dikatakan, dalam hubungannya dengan kebatinan jawa, bahwa ilmu seseorang sudah mencapai
puncaknya apabila sudah dapat menemui wujud Guru Sejati, yang tidak lain adalah roh sedulur papat, yang wujudnya
secara halus benar-benar mirip orang yang bersangkutan. Tetapi sebenarnya itu barulah awal dari suatu tahapan yang
penting. Hanya sekedar bisa melihat atau bertemu dengan roh sedulur papat tidak akan berarti apa-apa dan tidak akan
memberi manfaat apa-apa. Tetapi kesempurnaan akan didapatkan jika seseorang bisa mendayagunakan kesatuan roh
sedulur papat dengan orang itu sendiri dalam setiap usaha dan tindakannya.

Karena itu dalam doa dan amalan kejawen, pada setiap bagian pembukaannya selalu disebutkan :
Niat Ingsun .......................
Saking kersaning Allah.

Artinya, dalam doa dan niatan seseorang melakukan suatu perbuatan yang dianggap penting selalu disatukan dengan
bantuan para sedulur papatnya menjadi satu kesatuan perbuatan bersama-sama, sehingga hasilnya akan lebih baik
dan pengaruhnya secara kebatinan dan kegaiban akan menjadi lebih kuat.

Walaupun ucapan : kakang kawah adi ari-ari, kadhangku kang lahir nunggal sedina lan kadhangku kang lahir nunggal
sewengi, Ingsun arso .. Ewang-ewangono ingsun .........
tidak selalu disebutkan, karena sugesti istilah Ingsun adalah mewakili kesatuan Sedulur Papat lan Kalima Pancer.

Tetapi doa dan amalan itu hanya akan berarti jika seseorang memiliki pemahaman dan kepercayaan tentang roh
sedulur papat. Tanpa itu doa-doa dan amalan itu tidak akan banyak memberi manfaat walaupun sering dibaca
berulang-ulang atau pun sering diwirid sebagai suatu amalan ilmu.

Pendayagunaan roh sedulur papat sebagai Guru Sejati dapat dilakukan dengan memperhatikan semua
pemberitahuan dari mereka yang berupa rasa dan firasat, penglihatan gaib, ide dan ilham, dan jawaban dari berbagai
pertanyaan dan permasalahan, atau menjadikannya sebagai satu kekuatan batin dan sukma yang mendasari
perbuatan-perbuatan, atau pada tingkatan yang lebih tinggi dapat mendayagunakannya sebagai suatu pribadi yang
bisa diajak berpikir dan berkomunikasi seolah-olah mereka adalah sosok-sosok roh lain yang berdiri sendiri-sendiri
(baca: Olah Sukma dan Kebatinan).


Penekanan terhadap Aku, menjadikan seseorang mudah puas diri dan sombong atas apa yang telah berhasil diraihnya.
Semua yang telah dicapainya dan yang dimilikinya dianggapnya sebagai hasil usahanya sendiri, hasil prestasinya
sendiri, sering melupakan siapa saja yang telah berjasa atas apa yang telah diraihnya. Apa yang dikejarnya hanyalah
untuk mengejar kepuasan diri dan ke-Aku-annya.

Pengenalan diri terhadap Aku dan Guru Sejati akan menjadikan seseorang lebih mengenal dirinya, dan mengetahui
sejauh mana pengembangan yang akan bisa dilakukannya.
Pengenalan diri terhadap Aku dan Guru Sejati akan menjadikan seseorang lebih mampu menerima ide-ide / ilham /
wangsit untuk pengembangan diri dan kepribadiannya.
Pengenalan diri terhadap Aku dan Guru Sejati akan menjadikan seseorang mau belajar dan menerima ajaran dari
siapapun yang berguna untuk pengembangan diri dan kepribadiannya, dan tidak akan merendahkan seseorang
ataupun suatu ajaran.
Pengenalan diri terhadap Aku dan Guru Sejati akan menjadikan seseorang berusaha mengenali siapa sajakah yang
telah memberinya ajaran, kemudian memberikannya penghormatan khusus dan mendekatinya untuk mendapatkan
pengajaran yang lebih lanjut dan mendalam.

Guru bisa dicari kemana saja, jika diperlukan, dari satu guru ke guru lain yang lebih tinggi. Hasil pencapaian seseorang
tergantung pada usahanya sendiri dan pribadi guru yang menjadi pembimbingnya.
Pencarian spiritual yang tinggi akan membawa seseorang kepada suatu tahapan yang tak terduga.
Masing-masing guru akan memberikan 'pencerahan' kepada yang diajarnya.
Ketekunan kepada Guru Sejati akan membawa seseorang kepada tingkatan Tercerahkan