Anda di halaman 1dari 15

1

Komunitas Burung (Avifauna) di Hutan Pantai, Taman Nasional Baluran,


Situbondo, Jawa Timur

Lericka M, PERMADI.
1
, R. Yuvita RAKHMAN
1
, Novita SARI
1
, Faridah TSURAYA
1
,

Anindita GHIFFARI.
1
Ekologi Project 2014, Laboratorium Ekologi
1
Jurusan Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember

ABSTRAK
Burung merupakan salah satu kelompok vertebrata terbesar yang banyak dikenal,
diperkirakan ada 8600 jenis burung di dunia. Keanekaragaman jenis burung pun dapat
dijadikan sebagai indikator kualitas lingkungan. Sehingga sekarang banyak penelitian
mengenai keanekaragaman komunitas burung. Taman Nasional Baluran salah satu tempat
dimana komunitas buurung bebas berada sesuai dengan vegetasi yang sesuai dengan tempat
hidupnya sehingga komunitas tersebut terlihat mendominasi di vegetasi tersebut. Untuk
mengetahui jenis-jenis burung di Taman Nasional baluran, penelitian ini menggunakan
metode kombinasi antara Line Transect dan Point Count. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi jenis-jenis burung yang terdapat di Taman Nasional Baluran dan
membandingkan jenis-jenis burung pada suatu ekosistem atau komunitasnya dikaitkan
dengan dengan habitatnya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 17 jenis burung
yang ditemukan di hutan pantai taman Nasional baluran, dengan jumlah individu sebanyak
72, Collocalia linchi (47%), Streptopelia chinensis (7%), Dicaeum trochileum (6%), Gallus
sp. (6%) merupakan spesies yang dominan dalam Taman Nasional Baluran. Nilai indeks
keanekaragaman Shannon-Winner menunjukkan bahwa dari 8 transek, transek 4 (T4) di
padang savana memiliki nilai indeks keanekaragaman yang paling sedang, yakni sebesar
2,684443.
Kata Kunci : Avifauna, Baluran, keanekaragaman, hutan pantai,

1. PENDAHULUAN
Burung merupakan salah satu kelas
dari kingdom animalia (Campbel, et al
2003) yang menarik untuk diteliti. Burung
merupakan salah satu kelompok vertebrata
terbesar yang banyak dikenal, diperkirakan
ada 8600 jenis burung di dunia
(MacKinnon, 1998). Keanekaragam jenis
burung dapat dijadikan sebagai indikator
kualitas lingkungan, karena keberadaan
suatu komunitas burung dipengaruhi oleh
faktor fisik, hayati dan kimia (Krausman,
et al 2011).Faktor fisik dapat berupa suhu,
cahaya, kelmbapan dan topografi. Faktor
kimia antara lain berupa makanan, air,
mineral dan vitamin, baik secara kuantitas
maupun kualitas. Faktor hayati dimaksud
di antaranya berupa tumbuhan, manusia
dan predator (Heriyanto, 2008).
Keberadaan burung di Indonesia sudah
sedikit berkurang, dibuktikan dengan
banyaknya jumlah burung yang terancam
punah yaitu 115 jenis (IUCN,2008).
Karena keberadaan burung yang semakin
banyak yang terancam punah maka banyak
lembaga yang membuat penangkaran
2

berupa taman nasional, seperti Taman
Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.
Taman Nasional Baluran berada di
daerah Situbondo, Jawa Timur. Taman
Nasional Baluran memiliki berbagai
macam vegetasi, seperti vegetasi savana,
vegetasi mangrove, vegetasi hutan musim
dan vegetasi huutan pantai. Tiap vegetasi
ini memiliki keanekaragaman tersendiri.
Oleh karena itu diperlukan adanya
pendataan tentang keberadaan suatu
komunitas burung agar diketahui
persebarannya.

2. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Lokasi








Gambar 1. Lokasi Pengamatan Komunitas
Avifauna di Taman Nasional Baluran,
Situbondo, Jawa Timur
Pengamatan avifauna dilaksanakan
di Taman Nasional Baluran, Situbondo,
Jawa Timur pada tanggal 4 dan 5 april
2014. Pengambilan data dilakukan pada 8
lokasi dengan kondisi vegetasi berbeda,
yaitu : Savana bekol (T1), Savana bekol
(T2), Hutan akasia (T3), Padang savana
(T4), Watching bird trail (T5), Bird
watching trail hutan pantai (T6), Hutan
pantai (T7) dan daerah dalam hutan pesisir
pantai (T8).

Tabel 1. Letak geografis lokasi penelitian tiap
transek di Taman Nasional Baluran

Lokasi Posisi geografis
Lantitude (S) Longitu
de (E)
Transek 1 07
0

5050.80
114
0

2711.0
0
Transek 2 07
0
5051.07 114
0
27
08.73
Transek 3 07
0
50,702 114
0

27,36
Transek 4 07
o
50674 114
o
27
64,9
Transek 5 07
o
5072,1 114
o
27
543
Transek 6 07
o
5058,7 114
o
27
24,8
Transek 7 07
0
50,625 114
0

27,649
Transek 8 07
0
5040,8 114
0

27389

2.2 Cara Kerja
Pengambilan data avifauna
menggunakan metode kombinasi, yang
merupakan gabungan dari metode line
transect sepanjang 300meter dan metode
point count dengan radius 50 meter dan
luas pandang 360 derajat daerah
pengamatan. Pengamatan dilakukan pada
delapan lokasi dengan menggunakan 4
titik tansek pada tiap lokasi, dimulai dari
titik 1(0m), titik 2 (100m), titik 3(200m)
dan titik 4(300 m). Pengamatan avifauna
metode line transek dan point count
dilakukan menggunakan teropong
binokuler dan pada metode point count
pengamatan dilakukan sekitar 30 menit
pada setiap titik. Data pengamatan
avifauna yang diambil mencakup nama
sepesies yang didapat dan jumlah spesies
tersebut, serta data pendukung seperti
perilaku avifauna saat ditemui (terbang
atau bertengger), perilaku saat terbang atau
bertengger (menelisik, makan, dan lain
sebagainya).

3






Gambar 2. Metode kombinasi ( line transect
dan point count )

2.3 Rumus Analisa Data
Struktur komunitas avifauna dapat
ditampilkan melalui beragam indeks-
indeks ekologis : menggunakan indeks
dominansi dan indeks diversitas Shannon-
Weiner (H).
Indeks Dominansi


Dimana ;
Di = Dominansi spesies i
ni = Jumlah individu spesies i
N = Jumlah total individu
keseluruhan spesies

Indeks Shannon-Weiner (H)

Dimana ;
H= Indeks diversitas Shannon- Weiner
ni= Jumlah individu spesies i
N=Jumlah total individu keseluruhan
spesies.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Metode Pengamatan Avifauna
Pada penelitian biodiversitas
avifauna di hutan pantai bama digunakan
metode line transect dan point count (titik
hitung). Metode line transect merupakan
salah satu metode transect. Line transect
ini merupakan metode yang digunakan
untuk memonitoring suatu habitat. Selain
itu, metode Line transect digunakan untuk
membuat observasi secara kontinu
sepanjang garis, karena luas lahan pada
penelitian keanekaragaman avifauna di
hutan pantai sangat besar (hill et al, 2005).
Metode line transect yang digunakan
adalah sepanjang 300 meter dan dibuat
titik pada jarak 0 meter, 100 meter, dan
200 meter.
Selain menggunakan metode line
transect, pada penelitian ini juga
menggunakan metode point count pada
tiga titik di line transect tersebut. Point
count ini digunakan untuk mengamati
aktivitas burung pada lokasi pengamatan
disekitar titik pada transek (Ralph,1993).
Pengamatan di tiap point count selama 30
menit, hal ini dilakukan karena waktu
selama 30 menit dianggap mampu
merepresentasikan populasi avifauna di
sekitar point count. Pada point count
dicatat perilaku burung dan kategori
tegakan apabila burung bertengger, data ini
digunakan sebagai data sekunder untuk
memudahkan mengidentifikasi spesies
burung yang ditemui.

3.2.1 Macam Metode Pengamatan
Avifauna
Ada banyak metode yang dapat
digunakan untuk melakukan pengamatan
avifauna tergantung dari habitat yang akan
diamati, antara lain:
a. Timed point counts
Metode ini merupakan metode
yang digunakan pada habitat estuaria,
laguna, rawa, pantai, dan mangrove.
Metode ini menggunakan batasan waktu di
tiap titiknya. (Miththapala, 2009).
Count (titik hitung) merupakan
metode sensus satwa dengan konsep dan
teori yang sama dengan line transect,
namun petak contoh yang digunakan
berbentuk lingkaran dengan radius tertentu
(pada pengamatan ini, radius yang
4

digunkan sepanjang 50 m) dan tidak
tergantung pada kecepatan. Pengamatan
satwa dengan metode ini dilakukan secara
langsung dan dengn mendengarkan
suaranya didalam lingkaran dengan radius
yang telah ditentukan (Rusmendro,2009).
Asumsi yang digunakan dalam
metode ini adalah:
1. Burung tidak mendekati pengamat
atau terbang
2. Burung yang ada pada sample dpat
terdeteksi 100%
3. Burung tidak bergerak selama
perhitungan
4. Burung berperilaku bebas (tidak
tergantung satu sama lain)
5. Pelanggaran terhadap asumsi
tersebut tidak berpengaruh terhadap
habitat atau desain studi
6. Estimasi jarak akurat
7. Burung dapat teridentifikasi dengan
baik seluruhnya
b. Line transect
Metode ini digunakan untuk habitat
mangrove, rawa, dan padang rumput laut
(Miththapala, 2009).Line transect
merupakan metode yang umum digunakan
untuk sensus pada primata, burung dan
herbivora besar. Garis transek merupakan
suatu petak contoh dimana seorang
pengamat berjalan sepanjang garis transek
dan mencatat setiap jenis satwa liar (dalam
pengamatan ini adalah burung) yang
dilihat, baik jumlah maupun jaraknya dari
pengamat. Metode ini dapat digunakan
untuk mencatat data dari beberapa jenis
satwa secara bersamaan
(Rusmendro,2009).
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam
metode ini adalah:
1. Satwa dan garis transek terletak
secara random
2. Satwa tidak bergerak/pindah
sebelum terdeteksi
3. Tidak ada satwa yang terhitung dua
kali (double account)
4. Seekor satwa atau sekelompok
satwa berbeda satu sama lainnya.
Seekor satwa yang terbang tidak
mempengaruhi kegiatan satwa
yang lain
5. Respon tingkah laku satwa
terhadap kedatangan pengamatan
tidak berubah selama dilakukan
sensus
6. Habitat homogen. Bila tidak
homogen dapat dilakukan
stratifikasi.
c. Mist netting
Metode ini digunakan untuk
mengamati burung di habitat mangrove.
(Miththapala, 2009).
Selain ketiga metode diatas, masih
ada metode lain yang bisa digunakan untuk
mengamati avifauna yaitu dengan methods
based on flushing, metode ini merupakan
pendekatan termudah yang dapat
digunakan untuk memperkirakan beberapa
terganggunya beberapa spesies dari lebar
habitat yang diketahui (Southwood, 2000).

3.2.2 Kelebihan dan Kekurangan
Metode Pengamatan Avifauna
Adapun kelebihan dan kekurangan
metode dalam pengamatan avifauna yaitu:
a. Timed point count
Pada banyak Negara, point count
merupakan metode utama dalam
memonitoring perubahan populasi dari
lahan burung untuk berkembangbiak.
Dengan metode ini dapat dipelajari
perubahan tahunan populasi pada titik
yang dipastikan, selain itu bisa juga untuk
mengetahui perbedaan komposisi spesies
diantara habitat dan kelimpahan spesies.
Metode ini merupakan metode yang paling
efisien dan bisa mendapatkan banyak data
untuk metode mengitung burung. Metode
5

ini dapat dilakukan sekali atau beberapa
kali pada titik yang diberikan. Kekurangan
metode ini adalah pada lahan burung tidak
dapat menyediakan data yang akurat pada
unggas air (Ralph,1993).
b. Line transect
Metode ini memiliki kelebihan
yaitu metode ini pada beberapa macam
vegetasi lebih simple dibanding dengan
metode kuadrat. Dimana dengan metode
line transect lebih cepat untuk mencatat
daripada kuadrat. Dan metode ini lebih
berguna untuk mengukur perubahan
perubahan penutup vegetasi, meskipun
akurasi tergantung dari panjang dari garis
dan beberapa titik yang digunakan per
garis. Kekurangan dari metode ini adalah
metode ini sengaja diarahkan sepanjang
gradient lingkungan atau melintasi batas
habitat hanya area sample terbatas. Semua
area pada situs tidak dapat sebuah
perubahan yang sama dari yang telah
disampling dan ini akan membuat
ekstrapolasi dari lintasan hasil dari semua
masalah situs. Metode ini biasanya tidak
cocok untuk mengukur penutup dari
masing-masing spesies dalam habitat
dimana tumbuhan lebih dekat lebih dekat
dan kelimpahan tipe vegetasi tidak
berbeda. Dan metode ini menghasilkan
keraguan dari penutup spesies ketika
banyak jarak pada titik, karena beberapa
bentuk dari spesies bisa jadi di sebrangi.
Bagaimanapun, perkiraan dari total
penutup tidak berefek dari panjang dari
garis (Hill et al, 2005).
c. Mist netting method
Kelebihan dari metode ini adalah
metode ini dapat dilakukan di hampir
segala habitat terrestrial untuk jarak lebar
dari suatu spesies, dan alat dari metode ini
merupakan alat yang portable. Kekurangan
dari metode ini adalah membutuhkan
kesabaran, ketangkasan, dan pengalaman
jika burung akan di ekstraksi tidak
berbahaya. Sehingga tidak semua orang
bisa melakukannya , terutama pemula akan
mengalami kesulitan untuk melakukan
penelitian dengan metode ini. Metode ini
juga tidak bisa dilakukan dilakukan untuk
spesies yang lebih besar seperti pigeons,
wildfowl, gulls dan raptor (Sutherland,
2004).

3.2.3 Alasan Penggunaan Metode
Kombinasi (Line Transect dan
Point Count)
Kombinasi yang mengombinasikan
antara metode line transect dan point
count. Kedua metode ini digunakan karena
habitat yang digunakan untuk penelitian
adalah habitat di pantai,selain itu metode
ini digabungkan karena dengan metode
line transect akan mempermudah
pengamatan dilokasi yang luas sehingga
bisa didapatkan data pendukung atau data
sekunder pada penelitian yakni mengenai
keadaan vegetasi di lingkungan tersebut
dan metode ini dapat dilakukan lebih
mudah dibanding dengan metode kuadrat,
sehingga metode ini lebih cocok untuk
pemula. Alasan lain menggunakan metode
line transect adalah karena metode ini
lebih simpel dan tidak menghabiskan
banyak waktu sehingga cocok untuk
penelitian ini yang dibatasi oleh waktu
(Hill et al, 2005). Metode lain yang
digunakan yaitu point count adalah untuk
memudahkan mengamati spesies di titik
pada transect. Metode ini adalah metode
yang paling efisien dan bisa mendapatkan
banyak data untuk metode mengitung
burung. Metode ini dapat dilakukan sekali
atau beberapa kali pada titik yang
diberikan (Ralph,1993). Dengan alasan
tersebut maka metode gabungan dari
kedua meode ini adalah kombinasi yang
6

pas untuk melakukan penelitian bagi
pemula dan yang terbatas oleh waktu.

3.2 Analisis Data

3.2.1 Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman jenis merupakan
aspek penting dalam kajian komunitas.
Kajian mengenai keanekaragaman jenis
dalam komunitas,umumnya dilakukan
untuk menunjukan hubungan antara
keanekaragaman jenis dengan aspek
lainnya dalam komunitas,seperti struktur
habitat dan faktor lingkungan
(Rahayuningsih, 2007).
Pada penelitian avifauna ini
digunakan 8 macam transek pengamatan
yang berbeda. Hal tersebut untuk melihat
kelimpahan spesies tertentu pada beberapa
transek yang berbeda. Beberapa transek
tersebut memiliki kondisi ekologi yang
berbeda pula, sehingga mempengaruhi
persebaran spesies yang mendiami transek
tertentu.
Dalam hal ini, transek pertama (T1)
dilakukan di daerah savana bekol. Daerah
ini memilki karakter ekologi yang kering
dan tandus, cenderung terpapar cahaya
matahari. Transek kedua (T2) juga di
savana bekol, transek ketiga (T3) di hutan
akasia, transek empat (T4) di padang
savana, transek lima (T5) di Watching bird
Trail, transek enam (T6) di Bird watching
trail hutan pantai, transek tujuh (T7) di
hutan pantai, dan transek delapan (T8) di
daerah dalam hutan,pesisir pantai.
Diagram 1. Perbandingan keanekaragaman
kelimpahan tiap daerah transek






Data pada hasil penelitian
menunjukan adanya perbedaan antara
kedelapan transek penelitian yang
dibandingkan dari indeks keanekaragaman,
jumlah jenis, maupun jumlah individu.
Padang savana merupakan areal penelitian
yang memiliki indeks keanekaragaman,
jumlah jenis, dan jumlah individu yang
tinggi dibanding dengan areal pengamatan
yang lain. Indeks keanekaragaman
merupakan nilai yang menunjukan tinggi
rendahnya keanekaragaman komunitas.
Dari kedelapan transek di Taman
Nasional Baluran yang berbeda, masing-
masing memiliki nilai indeks
keanekaragaman yang berbeda yaitu T1 di
savana bekol sebesar 2,406269 dan
terdapat 17 jenis spesies dan pada T2 di
savana bekol memiliki nilai indeks
keanekaragaman sebesar 1,586717 dan
terdapat 13 jenis spesies. Nilai indeks
keanekaragaman pada T3 di hutan akasia
sebesar 1,785831 dan terdapat 11 jenis
spesies. Pada transek T4 di padang savana
nilai indeks keanekaragaman sebesar
2,684443 dan terdapat 19 jenis spesies.
Pada transek T5 di Watcing bird Trail nilai
indeks keanekaraganman sebesar 2,10349
dan terdapat 12 jenis spesies, sedangkan
pada T6 di Bird watching trail hutan pantai
nilai indeks keanekaragaman sebesar
2,271927 dan terdapat 15 jenis spesies.
Sedangkan pada Transek T7 nilai
keanekaragaman jenis sebesar 2,09279 dan
terdapat 17 jenis spesies. Transek T8 nilai
indeks keanekaragaman sebesar 1,802291
dan terdapat 13 jenis spesies.
Keanekaragaman jenis berhubungan
dengan jumlah kelimpahan relatif dalam
komunitas. Jika nilai keanekaragaman
tinggi, maka dalam komunitas tersebut
terdapat banyak jumlah jenis individu.
Sehingga, dapat diketahui bahwa pada
transek 4 memiliki indeks keanekaragaman
7

yang paling tinggi di antara transek yang
lannya. Pada transek T4 di padang savana
nilai indeks keanekaragaman sebesar
2,684443. Dapat dikaregorikan pada T4
tingkat keanekaragamannya sedang.
Menurut Hamlis (2010), Nilai indeks < 1,5
menunjukkan keanekaragaman yang
rendah, selanjutnya nilai yang berkisar
1,5-3,5 menunjukkan nilai
keanekaragaman sedang dan nilai >3,5
menunjukkan nilai keanekaragaman
tinggi. Menurut Gray (1981) dalam Vikar
(2012) bahwa tinggi rendahnya indeks
keanekaragaman komunitas, tergantung
pada banyaknya jumlah jenis dan jumlah
individu masing-masing jenis. Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian yang
menunjukkan jumlah jenis pada Transek 4
/T4 sebanyak 19, paling banyak diantara
transek yang lainnya dengan jumlah
individu sebesar 52.
Dapat dikategorikan bahwa transek
T1 memiliki keanekaragaman burung
sedang, Begitu pula dengan T2 dan T3
tingkat keanekaragamannya rendah,
T5,T6, T7 dan T8 menunjukkan
keanekaragaman sedang.
Dari diagram batang tersebut, dapat
dilihat bahwa tidak ada suatu perbedaan
yang sangat mencolok dalam hal jumlah
keanekaragaman (H). Data penelitian
jumlah individu masing-masing jenis
menunjukkan bahwa pada transek satu
(T1) dan transek dua (T2) di savana bekol,
spesies yang ditemukan melimpah
jumlahnya adalah Collocalia linchi (walet
linchi), sedang pada transek tiga (T3) di
hutan akasia spesies yang melimpah
jumlahnya adalah Ducula aenea (pergam
hijau). Pada transek empat (T4) di padang
savana berturut-turut yang melimpah
jumlahnya adalah Ducula aenea, pada
transek (T5) di Watcing bird Trail spesies
yang ditemukan melimpah adalah
Collocalia linchi. Transek T6 yang terletak
di Bird watching trail hutan pantai spesies
yang melimpah adalah Anthracoceros
albirostris. Pada T7 di hutan pantai spesies
yang melimpah adalah Collocalia linchi.
Zonasi terakhir T8 di dalam hutan, pesisir
pantai spesies yang melimpah adalah
Collocalia linchi.
Data pada hasil penelitian
menunjukan bahwa terdapat 2 jenis burung
yang memiliki jumlah kehadiran individu
terbesar yang ditemukan pada 8 transek di
Taman Nasional Baluran seperti
Collocalia linchi (walet linchi) yang
memiliki jumlah kehadiran individu
terbesar pada T2 sebesar 34 individu (D=
60%). Kesesuaian vegetasi terhadap
ketersediaan makanan, tempat berlidung,
dan tempat bersarang di Taman Nasional
Baluran menjadikan tempat tersebut
sebagai habitat yang ideal bagi jenis
Collocalia linchi (walet linchi) untuk
hidup dan berkembang pada tipe vegetasi
yang relatif terbuka. Taman Nasional
Baluran memiliki banyak daerah bertebing
dan bergoa yang sering digunakan Walet
Linchi sebagai lokasi sarang. Sarang
lumut, rumput atau bahan nabati lainnya
yang direkatkan dengan air ludah. Jenis
burung Ducula aenea (pergam hijau)
memiliki jumlah kehadiran individu
terbesar kedua setelah Collocalia linchi
(walet linchi), yakni sebanyak 24 individu
pada T3. Winnasis, Achmad Toha, Sutadi
(2009), Ducula aenea (pergam hijau)
memiliki persebaran sangat luas di seluruh
kawasan Taman Nasional Baluran.
Menyukai pohon yang sedang berbuah. Di
sepanjang jalan Batangan-Bekol, Pondok
Mantri, Sambi Kerep, Alas Malang dan
Merak merupakan lokasi yang tepat untuk
mengamatinya.

8

3.2.2 Dominansi Avifauna pada
Zonasi Hutan Pantai
Penelitian ini bersifat deskriptif
dilakukan dengan teknik observasi
lapangan, Inventaris secara langsung dan
tidak langsung. Adapun metode yang
digunakan yaitu metode jalur (Line
Transect) dikombinasikan dengan metode
titik hitung (point count), dilakukan
dengan berjalan menelusuri jalur sampai
pada titik berikutnya dan selanjutnya
mencatat semua jenis burung yang
ditemukan dalam jalur pengamatan.
Penetapan lokasi ditentukan secara
purposive, sebanyak 8 jalur, terdiri atas
savana bekol 2 jalur, hutan akasia, padang
savana, Watching Bird Trail, Bird
Watching Trail hutan pantai, hutan pantai,
daerah dalam hutan,pesisir pantai. Lebar
jalur pengamatan 20 m (10 m kiri dan 10
m kanan).
Analisis dominasi burung
digunakan untuk melihat bagaimana
komposisi jenis burung yang dominan, sub
dominan, dan tidak dominan dalam
komunitas burung yang diamati,Nilai
dominansi diperoleh terdiri atas dua
komponen yaitu kelimpahan dan
penyebaran burung tersebut. Tingkat
dominansi setiap jenis menggunakan
pengkategorian yang dikeluarkan
Jorgensen (1974) dalam van Helvoort
(1981), yakni <2% (tidak dominan), 2-5%
(sub-dominan), dan >5% (dominan). Jenis-
jenis burung dominan memiliki indeks
dominan (Di) berkisar antara 5,08-0,08%.
Dari data jenis dan kelimpahan burung
yang didapat, dapat dicara nilai indeks
dominansinya, sebagai berikut (Peterson,
1981) :













Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan pada tiap zonasi di
kawasan Taman Nasional Baluran , pada
zonasi T7 (Hutan Pantai) terdapat 17
spesies dengan total burung yang
ditemukan adalah 72 burung. Spesies yang
terdapat di zonasi hutan pantai diantaranya
adalah Alcedo coerulenscens, Bubulcus
ibis, Buceros rhinoceros, Collocalia linchi,
Dendrocopus moluccensis, Dicaeum
trochileum, Gallus sp., Halcyon chloris,
Hemipus hirundinaceus, Hirundo rustica,
Orthotomus ruceps, Pavo muticus,
Pycnonotus aurigaster, Rhyticeros
undulatus, Spizaetus cirrhatus,
Streptopelia chinensis, Treron vernans.
Diagram 2. dominansi jenis burung
zonasi Hutan Pantai











9

Dalam kisaran tersebut jenis-jenis
burung yang mendominasi di Hutan Pantai
adalah Collocalia linchi (47%),
Streptopelia chinensis (7%), Dicaeum
trochileum (6%), Gallus sp. (6%) Jenis-
jenis burung tersebut merupakan burung
yang tersebar hampir tersebar di seluruh
kawasan Taman Nasional Baluran,
terutama hutan musim pantai, hutan
musim dataran rendah dan evergreen.
Selain itu, burung memiliki kemampuan
adaptasi baik terhadap lingkungan hutan
pantai, terlebih lagi pada gangguan
manusia. Burung-burung tersebut
merupakan burung-burung yang hidup
berpasangan/berkelompok baik dengan
spesiesnya maupun spesies lainnya.
Burung-burung tersebut (kecuali
Streptopelia chinensis) memiliki jumlah
populasi yang cukup besar (Winnasis,
Achmad Toha, Sutadi 2009). Darmawan
(2006) dalam Syafrudin (2011)
menyatakan bahwa tingginya kelimpahan
jenis burung disebabkan karena kebiasaan
burung-burung tersebut yang dalam
melakukan aktivitas secara berkelompok,
sehingga memiliki nilai dominasi yang
tinggi, selain itu jumlah individu dari
jenis-jenis burung tersebut paling banyak
jumlahnya dibanding dengan jenis burung
lainnya, dan burung-burung tersebut
mampu memanfaatkan habitat baik hutan
maupun bukan hutan. Hal ini terkait
dengan makanan, aktivitas, dan perilaku
harian yang mampu memanfaatkan semua
jenis tutupan lahan.
Apabila terjadi dominansi salah
nsatu jenis avifauna, menunjukkan kondisi
alamnya telah terganggu atau berubah
sehingga hanya jenis tertentu saja yang
dapat bertahan terhadap perubahan
tersebut dan akhirnya dapat mendominasi
kawasan tersebut. Avifauna pada hutan
alam memiliki keanekaragaman jenis yang
tinggi tetapi dengan populasi yang sedikit.
Menurut Alikodra (1989) menyatakan
bahwa perubahan ukuran populasi sangat
dipengaruhi oleh perubahan kualitas dan
kuantitas makanan di habitatnya. Menurut
McNaughton dan Wolf (1990), distribusi
jenis avifauna sangat erat kaitannya
dengan tipe vegetasi dari suatu area,
keanekaragaman jenis avifauna dapat
dilihat dari strata penggunaan hutan. Hal
ini didukung oleh pernyataan Whitemore
(1984) bahwa avifauna dan mamalia dapat
dibedakan dari tempat hidupnya di dalam
hutan hujan tropis ke dalam beberapa
bagian yaitu, atas, tengah, bawah dan
tanah.
Tidak jauh berbeda, burung-burung
dengan kategori sub-dominan terdapat 9
jenis dari total 17 jenis burung yang
terdapat di Hutan Pantai. Jenis burung
tersebut antara lain Alcedo coerulenscens
(4%), Rhyticeros undulatus (4%), Treron
vernans (4%) Buceros rhinoceros (3%),
Dendrocopus moluccensis (3%), Halcyon
chloris (3%), Hemipus hirundinaceus
(3%), , Orthotomus ruceps (3%),
Pycnonotus aurigaster (3%),. Jenis - jenis
burung tersebut merupakan burung dengan
jumlah populasi tidak banyak, meskipun
persebarannya luas.
Jenis burung tidak dominan yang
pada umumnya memiliki tingkat
kelimpahan dan tingkat penyebaran yang
kecil pula. Kategori tidak dominan di
transek zonasi hutan pantai terdiri atas 4
spesies dengan jumlah burung sebanyak 4.
Bubulcus ibis (1%), Hirundo rustica (1%),
Spizaetus cirrhatus (1%), Pavo muticus
(1%). Hirundo rustica merupakan burung
yang sering dijumpai di sekitar savana
Bekol sampai Pantai Bama adalah yang
paling banyak dan paling sering dijumpai.
Burung yang hampir tidak berhenti
terbang, beristirahat ketika hari sudah
10

mulai panas sambil bertengger di atas
rumput atau peredu yang terbuka.
Spizaetus cirrhatus (elang brontok) fase
gelap lebih banyak tersebar di sebelah
Timur kawasan Taman Nasional Baluran
sehingga dia mudah diamati di sepanjang
jalan Batangan-Bekol, savana Bekol dan
Bama. Pavo muticus, burung yang
terkenal karena keindahan bulunya
daerah terbuka seperti savana atau di tepi
jalan. Bubulcus ibis, burung yang suka
berkoloni dalam jumlah besar
mengunjungi daerah persawahan yang
tergenang air di tepi hutan di sekitar Blok
Gatel dan Blok Perengan (Winnasis,
Achmad Toha, Sutadi 2009).
Berdasarkan data tersebut, dapat
diketahui bahwa habitat dan persebaran
dari burung-burung yang tidak dominan
tersebut tidak banyak terdapat di hutan
pantai. jenis-jenis burung tersebut
jumlahnya paling sedikit ditemui di hutan
pantai dibanding dengan jenis burung
lainnya, dan burung-burung tersebut tidak
mampu memanfaatkan habitat di dalam
hutan terkait dengan makanan, aktivitas,
dan perilaku harian yang mampu
memanfaatkan semua jenis tutupan lahan.

3.2.3 Indeks Diversitas Shannon-
Winner
Dalam penelitian ini, digunakan
penghitungan berdasar Indeks Diversitas
Shanon-Wiener (H), dengan rumus :




Rumus Indeks Diversitas Shannon-Winner

Dimana :
H= indeks diversitas Shannon-Wiener
Pi= proporsi spesies ke-i
Ln= logaritma Nature
Pi= ni / N (Perhitungan jumlah individu
suatu jenis dengan keseluruhan jenis)
(Hamlis,2010).
Dengan nilai H:
0<H<2,302 = keanekaragaman rendah
2,302<H<6,907= keanekaragaman sedang
H>6,907 = keanekaragaman tinggi
Indeks keanekaragaman Shannon-
Wiener (H) di samping dapat
menggambarkan keanekaragaman species,
juga dapat menggambarkan produktivitas
ekosistem, tekanan pada ekosistem, dan
kestabilan ekosistem.Semakin tinggi nilai
ndeks H maka semakin tinggi pula
keanekaragaman species, produktivitas
ekosistem, tekanan pada ekosistem, dan
kestabilan ekosistem.
Adapun tolok ukur nilai
keanekaragaman (H) adalah :
- H < 1,0 :
a. Keanekaragaman rendah
b. Miskin (produktivitas sangat
rendah) sebagai indikasi adanya
tekanan ekologis yang berat)
c. Ekosistem tidak stabil
- 1,0 < H < 3,322 :
a. Keanekaragaman sedang
b. Produktivitas cukup
c. Kondisi ekosistem cukup seimbang
d. Tekanan ekologis sedang
- H > 3,322 :
a. Keanekaragaman tinggi,
b. Stabilitas ekosistem mantap
c. Produktivitas tinggi
[http://repository.usu.ac.id/bitstrea
m/123456789/21999/4/Chapter%2
0II.pdf]
Adapun data yang diperoleh
berdasarkan pengamatan pada delapan
transek, diperoleh tabel nilai
keanekaragaman (H) sebagai berikut :

11

Tabel 2. Nilai keanekaragaman (H)
berdasarkan indeks Shannon-Wiener pada tiap
transek
Lokasi H'
T1 2,406269
T2 1,586717
T3 1,785831
T4 2,684443
T5 2,10349
T6 2,271927
T7 2,09279
T8 1,802291

Berdasarkan tabel diatas diperoleh
informasi mengenai keanekaragaman
spesies avifauna tiap transek juga dapat
diketahui kondisi ekosistemnya. Jika
dilihat dari perolehan nilai H pada tiap
transek tersebut yang berkisar pada 1,0 <
H < 3,322, dapat dikatakan bahwa
makrohabitat hutan Taman Nasional
Baluran, dengan mikrohabitat berupa
delapan transek berbeda memiliki tingkat
keanekaragaman sedang, produktivitas
cukup, kondisi ekosistem cukup seimbang,
dan tekanan ekologis sedang.
Kedelapan transek tersebut dapat
dikatakan memiliki tingkat
keanekaragaman sedang, karena
persebaran yang cukup merata dari tiap
spesies di masing-masing transek yang
berbeda. Dimana beberapa spesies yang
ditemukan di suatu transek juga terdapat
pada transek yang lain. Sebagai contoh
spesies Collocalia linchi yang terdapat di
semua transek yang menjadi point count
pengamatan. Selain itu, tingkat
keanekaragaman yang sedang tersebut
dapat dilihat dari komposisi spesies yang
cukup beragam tiap transeknya. Meskipun
ada beberaa spesies yang mendominasi
pada suatu transek. Adapun jumlah spesies
yang ditemui pada tiap transek berkisar
dari angka 10-20 macam spesies.
3.3 Kecenderungan habitat (Canoco)




4. KESIMPULAN





Gambar 2. Kecenderungan habitat dengan
metode Canoco
Pada grafik di atas dapat diketahui
bahwa kuadrat 1, species Ducula aenea
dan Dryocopus javensis memiliki
kecenderungan habitat di sekitar transek 3.
Ducula aenea mempunyai kebiasaan
bertengger di atas tajuk pohon yang tinggi
pada sore hari, berpasangan atau dalam
kelompok kecil (Winnasis, Achmad Toha,
Sutadi, 2009). Spesies-spesies seperti
Lonchura leucogastroides, Zosterops
palpebrosus, tidak memiliki
kecenderungan untuk berada di kuadrat 1.
Zosterops palpebrosus memiliki
persebaran terbatas dari Batangan sampai
Blok Bama dan beberapa di sekitar
Bekol(Winnasis,2009). Pada kuadrat 2,
banyak species seperti Convus enca, Pavo
muticus, Collocalia linchi, Spilornis
cheela, yang memiliki kecenderungan
habitat di sekitar transek 2. Convus enca
senang bertengger di tempat tinggi dan
sangat sensitif terhadap kehadiran
manusia. Pavo muticus menyukai daerah
terbuka seperti savana atau di tepi jalan
(Winnasis,2009). Pada kuadrat 3, terdapat
species yang memiliki kecenderungan
berada di sekitar transek 5 yaitu Dicaeum
trochileum, Alcedo coerulenscens,
Halchyon chloris. Dicaeum trochileum
sangat lincah, agresif, tidak pernah diam,
12

selalu melompat-lompat diantara cabang
dan ranting pohon yang rimbun kemudian
pindah lagi ke pohon lainnya. Alcedo
coerulescenssangat banyak ditemukan di
pesisir pantai Taman Nasional Baluran,
terutama pantai yang memiliki formasi
mangrove dan daerah lahan basah lainnya.
Suka bertengger pada akar bakau atau
ranting bakau yang tidak jauh dari
permukaan air laut (Winnasis,2009). Pada
kuadrat 4, terdapat beberapa species
seperti Pycnonotus goiavier,
Anthracoceros albirostris, yang juga
memiliki kecenderungan habitat di sekitar
transek 6. Anthacoceros albirostris
tersebar di hutan pantai, hutan musim
dataran tinggi di Gunung Baluran dan
hutan musim dataran rendah. Anda akan
mudah menemukan dia di Blok Bama,
Manting, Kelor, Ketokan Kendal,
Evergreen, Kali Kepuh, Sambi Kerep, dan
Pondok Mantri.

4. KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini
adalah bahwa burung (avifauna) yang ada
di hutan pantai antara lain Alcedo
coerulenscens, Bubulcus ibis, Buceros
rhinoceros, Collocalia linchi,
Dendrocopus moluccensis, Dicaeum
trochileum, Gallus sp., Halcyon chloris,
Hemipus hirundinaceus, Hirundo rustica,
Orthotomus ruceps, Pavo muticus,
Pycnonotus aurigaster, Rhyticeros
undulatus, Spizaetus cirrhatus,
Streptopelia chinensis, Treron vernans.
Burung yang paling dominan adalah
Collocalia linchi (47%), Streptopelia
chinensis (7%), Dicaeum trochileum (6%),
Gallus sp. (6%). Hal ini disebabkan karena
burung tersebut memiliki kemampuan
adaptasi baik terhadap lingkungan hutan
pantai, burung-burung tersebut merupakan
burung-burung yang hidup
berpasangan/berkelompok baik dengan
spesiesnya maupun spesies lainnya.
Kebiasaan burung-burung tersebut yang
dalam melakukan aktivitas secara
berkelompok sehingga memiliki nilai
dominasi yang tinggi, nilai ini juga
menyebabkan kelimpahan suatu burung di
suatu habitat melimpah.

5. DAFTAR PUSTAKA
Indeks Keanekaragaman Burung.
[http://repository.usu.ac.id/bitstream/
123456789/21999/4/Chapter%20II.p
df]. Diakses pada tanggal 20 April
2014
Hamlis, Muhammad dan Dijan Sunar
Rukmi. 2010. Keanekaragaman
Avifauna berdasarkan Stratifikasi
Vegetasi di Kebun Raya Unmul
Samarinda (KRUS), Jurnal
Bioprospek Vol 7 (1). Universitas
Mulawarman : Samarinda.
Hill, David et al. 2005. Handbook Of
Biodiversity Methods Survey,
Evaluation And Monitoring.
Cambridge University Press. New
York.
Miththapala, Sriyanie. 2009. Incorporating
Environmental Safeguards Into
Disaster Risk Management. Volume
3 : tools, techniques and other
resources. Ecosystems and
livelihoods group, Asia, IUCN,
viii+142pp. Colombo.
Peterson R.T. 1981. Burung (terjemahan).
Pustaka Alam Life Tira Pustaka.
Jakarta.
Ralph, C john et al.1993. Handbook Of
Field Methods For Monitoring
Landbirds, Gen, Tech, Rep, PSW-
GTR-144. Department of Agriculture
. Pacific Southwest Research Station
Albany.
13

Rusmendro, Hasmar. 2009. Perbandingan
Keanekaragaman Burung pada Pagi
dan Sore Hari di Empat Tipe Habitat
di Wilayah Pangandaran, Jawa
Barat. Vis Vitalis, Vol. 02 No. 1
Southwood, T.R.E. 2000. Ecological
methods. Blackwell science Ltd.
jerman.
Sutherland, William J et al .2004. Bird
Ecology And Conservation : A
Handbook Of Techniques. Oxford
university press. New York.
Vikar, A. 2012. Keanekaragaman Jenis
Burung di Dalam Dan di Luar Areal
Tambang Pada Kawasan TAHURA
Palu Provinsi Sulawesi Tengah.
Skripsi. Fakultas Kehutanan
UNTAD: Palu. Tidak dipublikasikan.
Wiryono. 2009. Ekologi Hutan. UNIB
PRESS: Bengkulu.
Darmawan, M.P. 2006. Keanekaragaman
Jenis Burung Pada Beberapa Tipe
Habitat di Hutan Lindung Gunung
Lumut Kalimantan Timur. Skripsi.
Departemen Konservasi Sumberdaya
Hutan dan Ekowisata Fakultas
Kehutanan IPB. Bogor.
Alikodra, HS. 1989. Pengelolaan Satwa
Liar. Jilid 1. Pusat Antar Universitas
IPB : Bogor.
McNaughton, SJ dan LL. Wolf. 1990.
Ekologi Umum. gajah Mada
University Press: Yogyakarta
Whitemore, TC. 1984. Tropical Rain
Forest of The Far East second
edition. Oxford Universiy Press :
Oxford.
Krausman, P.R. et. Al. 2011. Cumulative
Effect In Wildlife Management:
impact mitigation.CRC Press. U.S.
Heriyanto, N.M. Garsetiasih, R. Setio,
Pujo. 2008. Status Populasi dan
Habitat Burung di BKPH Bayah,
Banten. Bogor: Pusat Litbang Hutan
dan Konservasi Alam.
IUCN, 2008. Birds on the IUCN Red Lists.
http://www.birdlife.org/action/scienc
e/species/global_species_programme
/red_list.html. Diakses tanggal 19
April 2014.
MacKinnon, J., K. Phillips, dan B.V.
Balen. 1998. Panduan Lapangan
Burung-burung di Sumatera, Jawa,
Bali dan Kalimantan. Puslitbang
Biologi-LIPI : Jakarta




















14

LAMPIRAN
Diagram 3. Diagram dominansi jenis
burungdi Savana Bekol








Gambar 1. Diagram dominansi jenis burung
di Savana Bekol

Diagram 4. Diagram dominansi jenis
burungdi Savana Bekol











Diagram 5. Diagram dominansi jenis
burung di hutan akasia










Diagram 6. Diagram dominansi jenis
burung di padang savana













Diagram 7. dominansi jenis burung di
Watching Bird Trail











Diagram 8. dominansi jenis burung di Bird
Watching trail hutan pantai

\









15

Diagram 9. dominansi jenis burung zonasi
Hutan Pantai













2. foto pengamatan