Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN SEMINAR

INSTRUMENTASI PROSES



INSTRUMENTASI LEVEL CAIRAN



KELOMPOK :4
NAMA :AGUSTINA
NEVIANA
YOWANDA RISKI
RAHMADI





JURUSAN TEKNIK KIMIA
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
POLITEKNIK NEGERI LHOKSEUMAWE
2013



LEMBAR TUGAS
Judul Praktikum : Instrumentasi Level Cairan
Laboratorium : Komputasi dan Pengendalian Proses
Jurusan / Prodi : T. Kimia / T. Kimia Industri
Semester / Kelas : IV / 2B - TKI
Anggota Kelompok IV :
Agustina
Neviana
Yowanda Riski
Rahmadi

Uraian Tugas
1. Kaji penurunan level tiap 10% pada tangki transparan dan pada display serta waktu yang di
perlukan saat penurunan level dengan laju alir cairan keluar pada skala rotameter 2 dan 4 dalam
bentuk label.
2. isi kembali tangki dengan laju konstan dan catat setiap 10% kenaikan dan pada display serta waktu
yang diperlukan saat kenaikan lavel tersebut dalam bentuk label.
3. Tentukan laju alir keluar tangki skala rotameter 2 dan 4 dengan menggunakan stopwatch,gelas ukur
4. buat model matematika pengosongan tangki pada poin 3
5. ulangi percobaan 1-4 sebanyak 3 kali


Buket Rata, 9 Mei 2013
Ka Laboratorium Dosen Pembimbing


Ir. Syafruddin, M.Si Ir. Syafruddin, M.Si
NIP : 19650819 199802 1 001 NIP : 19650819 199802 1 001

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum : Instrumentasi Level Cairan
Mata Kuliah : Praktek Instrumentasi dan Pengukuran
Kelas / Semester : 2B - TKI / IV ( Empat )
Kelompok : IV
Nama Kelompok : Agustina
Neviana
Yowanda Riski
Rahmadi
Nama Dosen Pembimbing : Ir. Syafruddin. M.Si
NIP : 19650819 199802 1 001
Ka Laboratorium : Ir. Syafruddin. M.Si
NIP : 19650819 199802 1 001
Tanggal Pengesahan :




Buket Rata, 11 April 2013
Ka Laboratorium Dosen Pembimbing


Ir. Syafruddin. M.Si Ir. Syafruddin. M.Si
NIP : 19650819 199802 1 001 NIP : 19650819 199802 1 001
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum
- Dapat Mengetahui Konsep-konsep dasar Instrumentasi dan pengukuran level cairan
- Dapat mengetahui dan memahami unit-unit Instrumentasi dan pengukuran level
- Dapat mengkalibrasi Instrumentasi dan pengukuran level cairan
- Dapat mengetahui dan memahami akuarasi Instrumentasi dan pengukuran level

1.2 Alat Dan Bahan Yang Digunakan.
Alat dan Bahan yang Digunakan
- Seperangkat CRL
- Stopwatch
- Beaker Gelas & gelas ukur
Bahan yang Digunakan
- Air (Aquadest)
- Udara


Gambar 1. Peralatan Praktikum Instrumentasi Level Cairan




1.3 Prosedur Percobaan
1. Periksa volume Cairan dalam tangki persegi bawah cukup levelnya
2. Hubungkan Peralatan CRL dengan sumber listrik PLN
3. Hidupkan alat CRL
4. Buku katup tekanan pelan-pelan hingga cairan mengalir ke tangki silinder kaca
5. Tutup 2 (dua) valve yang terdapat dibawah tangki silinder kaca
6. Catat waktu yang diperlukan tiap kenaikan level 10 % dan catat level recording
7. Tutup katup udara tekan pada level tepat 100% dan matikan peralatan CRL
8. Buka 1 (satu) valve yang terdapat dibawah tangki silinder kaca
9. Catat waktu yang diperlukan tiap penurunan level 10 % dan catat level recording
10. Ulangi percobaan tersebut sebanyak 5 kali






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Umum
Alat-alat instrumentasi yang dipergunakan untuk mengukur dan menunjukkan besarnya
tinggi permukaan cairan digunakan diferensial transmitter elektrik yang dilengkapai dengan
instrumentasi lain seperti control valve, pressure gauge, pompa recorder controller dan tangki.
Tujuan pengukuran tinggi permukaan cairan pada proses adalah untuk :
1. Mencegah kerusakan equipment dan kerugian akibat cairan bahan untuk proses industri
terbuang.
2. Pengontrolan jalannya proses.
3. Mendapatkan spesifikasi yang diinginkan seperti pada Evaporator-evaporator hydrocarbon.

2.2. Terminologi Pengukuran
Terminologi yang umum digunakan dalam teknik instrumentasi dan control :
1. Proses variabel .
Besaran fisis atau kimia atau suatu keadaan yang dapat berupa suhu, aliran, tekanan, cahaya,
pH dan sebagainya, yang berubah terhadap waktu.
2. Variabel control
Besaran atau keadaan yang diukur dan diatur oleh peralatan automatic controller.
3. Control agent (Medium)
Bahan atau energy yang terdapat didalam proses yang mempengaruhi harga dari variabel
kontrol dan alirannya diatur oleh final kontrol elemen.
4. Measuring elemen
Elemen-elemen yang ikut serta dalam pengukuran perubahan dari variabel kontrol.
5. Primary control element
Bagian dari control yang menyebabkan pergerakkan atau variasi dari besaran yang diukur
untuk menjalankan sistem kontrol.
6. Final control element
Bagian dari sistem kontrol misalnya katub membran, lever motor atau electrical beater, yang
mengerjakan langsung suatu alat control.
7. Automatic controller
Suatu mekanisme yang mengukur harga-harga dari suatu besaran atau keadan dan bekerja
mempertahankannya didalam batas-batas yang tertentu.
8. Set point
Harga dari variabel kontrol yang ingin dicapai dan dipertahankan. Suatu control biasanya
diperlengkapi dengan satu jarum penunjuk untuk titik penentuan (set point) dan peralatan
untuk di set.

9. Control Point
Harga rata-rata dari variabel kontrol yang dipertahankan control pada keadaan beban
konstan.

10. Respone kontrol
Operasi yang terjadi oleh control sebagai akibat dari perubahan pada variable kontrol.
11. On-Off Respone
Suatu control respont dimana final control elemen berubah dengan cepat dari suatu nilai
ekstrim ke nilai ekstrim secara periodik sebagai akibat dari perubaha variable kontrol.
12. Direct Acting Controller
Suatu controller yang memperbesar tekanan udara bagi control unit jika terjadi kenaikan
pada harga variabel kontrol.
13. Referse Akting Controller
Suatu controller yang memperkecil tekanan udara control unit jika terjadi kenaikan pada
harga variabel kontrol.
14. Adjusment sensitivity atau proportional response
Suatu response dari controller yang sebanding dengan perubahan dari variable kontrol.
15. Throttling Range atau Propotional Band
Batas dari harga maxsimum dan minimum dari perubahan variabel control untuk membuat
pergerakan/operasi dari control elemen yang terahir dari batas maxsimum ke batas
minimum.
16. Sensitivity
Suatu unit dari propotional response yang dinyatakan dalam satuan tertentu. Untuk alat
yang bekerja dengan tekanan sensitivity dapat dinyatakan dengan p. a. i./inchi. Sensitivity
dapat didefinisikan sebagai perbandingan perubahan dari controller output dengan
perpindahan jarum penunjuk yang diukur dari set point.
17. Offset
Perbedaan antara yang diinginkan (Set point) dengan besaran yang terjadi sebagai output
(control point) dari sebuah propotional controller.
18. Load Change (Perubahan beban)
Suatu perubahan didalam keadaan-keadaan proses yang membutuhkan suatu perubahan
posisi dari control element yang terahir untuk menjaga harga yang diinginkan bagi control
point.
19. Synchronization
Proses untuk menyetel Controller Output melalui posisi dari control element yang terahir
sedemikian rupa hingga control point yang diinginkan dijaga pada suatu posisi yang tetap
dengan set point.
20. Reset rate
Satuan pengukuran untuk menyatakan reset response. Perbandingan antara kecepatan
perubahan dari control element yang terahir sesuai dengan reset response dan juga terhadap
propotional response yang mengikuti suatu keadaan perubahan dari alat ukur.
Reset rate biasanya dinyatakan dalam cycle per menit.




21. Error
Adalah selisih antara nilai set-point dikurang dengan nilai measured variable. Error bisa
negatif bisa juga positif. Bila set-point lebih besar dari measured variabel error akan
menjadi positif. Sebaliknya bila set-point lebih kecil dari measured variabel error menjadi
negatif.
22. Span
Adalah nilai pengukuran dari transduser atau sensor, contoh : Span dari transduser 0 100,
maka zero adalah 0 dan range adalah 100. Jika rangenya adalah 50 150 .
23. Transmitter
Adalah alat yang berfungsi untuk membaca sinyal sensing element, dan mengubahnya
menjadi sinyal yang dapat dimengerti oleh controller.
24. Transducer
Adalah unit pengalih sinyal. Kata transmitter seringkali dirancuhkan dengan transducer.
Transducer lebih bersifat umum sedangkan transmitter lebih khusus pada pemakaiannya
dalam sistem pengukuran.

2.3. Metoda Pengukuran Tinggi Permukaan Cairan (Level).
Pengukuran permukaan, volume, berat cairan pada bahan kering dalam bejana atau
tabung sering kali dijumpai. Pengukuran yang teliti seringkali sulit dicapai. Luasnya variasi karat
dan sifat cair dan besarnya ukuran bejana penyimpanan yang diperlukan untuk pengukuran isi di
dalam fraksi satu liter adalah halangan yang harus diatasi. Metode umum yang digunakan untuk
melaksanakan pengukuran ini termasuk teknik langsung dan tidak langsung. Pengukuran
langsung tinggi permukaan cairan dapat dilihat dari penggunaan gelas penglihat atau gelas ukur
biasa dalam bejana dianggap merupakan metode yang paling sederhana untuk mengukur tinggi
permukaan cairan. Metode ini sangat efektif digunakan dalam pengukuran langsung.
Metoda yang digunakan secara luas untuk langsung mengukur permukaan adalah
pelampung sederhana, yang dapat dihubungkan dengan transduser gerakan sesuai untuk
menghasilkan sinyal listrik yang sebanding dengan permukaan cairan.
Beberapa metode tidak langsung meliputi pengukuran (permukaan), tekanan, pengukuran
kerapatan (densitas), pengukuran tinggi permukaan dengan pemberat, dan lain-lain.
Pada pabrik kimia, banyak tangki dan tabung dipakai untuk menyimpan bahan baku dan produk
berupa cairan. Penyimpanan perlu diketahui volume dan inventarisnya. Proses fluida dalam fase
cair terus-menerus ditampung atau dialirkan ke tangki atau tabung penyimpanan.
Permukaan cairan dalam tangki harus dibuat setabil agar operasi dalam pabrik dapat
setabil. Banyaknya cairan yang terdapat dalam tangki dapat diketahui dengan mendeteksi tinggi
dari permukaan cairan dalam tangki proses. Permukaan cairan dibuat tetap dengan
mengendalikan laju arus cairan yang dilakukan dari dasar tangki menggunakan control valve.
Rangkaian kendali permukaan cairan terdiri atas detektor, controller, converter dan control valve.
Metoda pengukuran tinggi permukaan cairan ada dua yaitu :
1. Pengukuran dilihat langsunng.
Tinggi permukaan cairan dapat dilihat langsung dan diduga kedalamannya dan
ditunjukkan dalam satuan pengukuran panjang (meter).
Dengan diketahuinya tinggi permukaan cairan maka volume dari cairan yang diukur
dapat dicari bila dikehendaki.
2. Metoda mekanik.
Gaya pada cairan menghasilkan gerak mekanik. Pergerakan mekanik ini kemudian
dikalibrasi kedalam bentuk skala angka-angka.


TINGGI CAIRAN
DILIHAT
LANGSUNG
Gambar 2.1. Metoda dilihat langsung


GAYA PADA CAIRAN
GERAK MEKANIK
KALIBRASI
Gambar 2.2. Metoda mekanik

2.4. Jenis-jenis Alat Ukur Tinggi Permukaan Cairan.

Dalam mengukur tinggi permukaan cairan dalam suatu tangki pemrosesan maupun dalam
tangki penimbunan dipergunakan alat ukur tinggi permukaan cairan yang sesuai dengan bentuk
penggunaannya.
Alat ukur permukaan cairan terdiri dari beberapa jenis diantaranya :
1. Mistar Ukur
Suatu batang dengan skala yang telah dikalibrasi dicelupkan secara vertikal dari atas ke
dalam cairan yang akan diukur, atau dimasukkan sampai terjadi sentuhan antara permukaan
cairan dan ujung mistar ukur. Ketinggian permukaan pada hal pertama dibaca pada batas
pembasahan mistar, pada hal kedua pada suatu titik acuan tertentu (misalnya pinggiran
wadah).
Nilai ukur tergantung pada besar dan bentuk wadah. Mistar ukur hanya boleh digunakan
untuk wadah yang sebelumnya dipakai untuk mengkalibrasi mistar yang bersangkutan.
Apabila digunakan mistar ukur yang salah atau cara pencelupan yang tidak betul (misalnya
miring), nilai ukur akan menjadi salah pula.
Mistar ukur merupakan alat ukur yang paling sederhana untuk cairan dalam wadah terbuka
yang tidak terlalu tinggi. Tidak cocok untuk pengukuran yang harus dilakukan seringkali dan
menuntut ketelitian tinggi. Juga tidak cocok untuk pengukuran dalam bejana bertekanan atau
vakum atau berisi cairan berbusa.
2. Gelas Penduga (Level glass)
Gelas penduga dapat menunjukkan tinggi permukaan cairan dalam suatu bejana atau
container secara langsung. Prinsip yang dipergunakan pada gelas penduga adalah prinsip
bejana berhubungan.
Gelas penduga (Level glass) terdiri dari dua jenis yaitu :
- Gelas penduga ujung terbuka
- Gelas penduga ujung tertutup


Gambar 2.3. Gelas penduga ujung terbuka
Gambar 2.3. menunjukkan skematik dari sebuah bejana dan gelas penduga ujung terbuka.
Pemasangan dari gelas penduga ini sangat sederhana. Pada bejana disediakan suatu pipa
pengambilan dimana gelas penduga ditempatkan. Seal (Packing) disediakan agar sambungan
jangan sampai bocor. Klem juga disediakan agar gelas menduga tetap pada posisinya. Sebagian
cairan dalam bejana, akan mengalir kedalam Gelas penduga. Tinggi permukaan cairan pada
Gelas penduga dan bejana biasanya sama, karena bejana dan Gelas penduga adalah merupakan
dua bejana berhubungan. Gelas penduga ujung terbuka dipergunakan pada tangki-tangki tidak
bertekanan yang tingginya tidak melebihi 1,5 meter, seperti tangki-tangki penampung minyak
diesel motor bakar dan lain-lain.






Gambar. 2.4. Gelas penduga ujung tertutup.
Gambar 2.4. menunjukkan gelas penduga ujung tertutup dengan bejana bertekanan tinggi. Bahwa
kedua ujung gelas penduga dihubungkan dengan bejana. Ujung bagian bawah tersambung
dengan bagian bejana berisi uap
(kosong). Level glass yang dipergunakan untuk cairan yang bertekanan tinggi harus diberi
pelindung kaca tahan banting dan harus dilengkapi dengan kerangan-kerangan isolasi yang
memungkinkan level glass dilepas dari sistem sewaktu perbaikan atau pembersihan.
Level glass yang dipergunakan untuk cairan dengan temperature yang tinggi harus dilengkapi
dengan saluran buangan. Saluran ini berfunngsi untuk mencegah thermal shock yang dapat
memecahkan level glass sewaktu menjalankan kembali sesudah perbaikan. Level glass juga
sering diperlengkapi dengan lampu penerang untuk mempermudah pemeriksaan terutama pada
malam hari.

3. Pemberat dan Pita.

Gambar 2.5 Pemberat dan Pita
sering dilakukan pada tangki-tangki yang mengandung cairan yang bisa melengket dan
memberikan bekas warna pada pengukuran Crude oil, Condensate Hydrocarbon dan lain-lain.
Disamping itu pada tangki harus disediakan lubang agar bobot dapat masuk dan diturunkan.




4. Alat Ukur Dengan Penggeser.
Disebut Displacer adalah karena pada prinsipnya nilai gerak apung yang dihasilkan oleh
displacer didesain untuk menggantikan (displacement ) nilai volume cairan yang
menghasilkan gerak apung tersebut.
Prinsip ini dapat dibuktikan seperti pada gambar 2.6

Gambar 2.6. Penggeser.
Gambar 2.6, menunjukkan sebuah penggeser didalam silinder kosong, digantung pada sebuah
Penunjuk pada timbangan menunjuk 3 Ib.
Pada gambar B, air setinggi 7 inchi pada silinder mengurangi berat penggesser sebesar 1 Ib dan
pada gambar C, air setinggi 14 inchi menggantikan (mengurangi) berat dari penggeser sebesar 2
Ib sehingga berat dari penggeser kini hanya sebesar 1 Ib. Padahal penggesernya tidak diapa-
apakan.
Ada 3 hal yang penting untuk diperhatikan pada kejadian ini yaitu :
1. Penggeser tidak akan terapung diatas cairan, melainkan sebagian akan terbenam, karena
penggeser itu sendiri mempunya berat tertentu dan terikat pada gantungan (support arm).
2. Naiknya tinggi permukaan cairan akan membuat penggeser naik, karena adanya gaya
apung yang lebih besar dari cairan. Akan tetapi pergerakan dari penggeser hanya kecil
sekali dibandingkan dengan naiknya tinggi permukaan cairan.
Perubahan pada kedudukan penggeser akan mengakibatkan perubahan pada kedudukan penunjuk
dari timbangan.






Gambar 2.7. Penggeser dengan Meteran
Gambar 2.7. menunjukkan disain dari penggeser dengan meteran penunjuk. Perhatikan bahwa
tabung pemuntir dipergunakan langsung untuk menggerakan penunjuk (pointer). Penggeser
selalu dihubungkan dengan transmitter sinyal. Output dari transmitter kemudian dikirimkan ke
meteran penunjuk. Output ini bisa berupa sinyal pneumatic maupun sinyal listrik.
Prinsip kerja dari alat ukur dengan penggeser pada umumnya dapat dikatakan sebagai berikut :
1. Perubahan pada tinggi permukaan cairan yang diukur akan mengakibatkan perubahan pada
gaya apung dari cairan tersebut. Ini akan membuat penggeser bergerak turun atau naik.
2. Pergerakan penggeser akan menghasilkan gerak memuntir pada tabung pemuntir.
Pergerakan pada tabung pemuntir kemudian dipergunakan untuk menghasilkan sinyal pneumatic
atau listrik. Kemudian sinyal ini dikirimkan kemeteran penunjuk. Meteran penunjuk dapat berupa
meteran dengan Tabung Bourdon.

5. Alat Ukur Tinggi Permukaan Cairan Dengan Beda Tekanan.
Diafragma dan pengembus seperti yang dibicarakan pada alat-alat ukur tekanan dapat
dipergunakan untuk mengukur tinggi permukaan cairan Akan tetapi, sama halnya dengan
Penggeser maka diafragma dan pengembus selalu dihubungkan dengan transmitter, baik
pneumatik atau listrik. Kemudian, tekanan sinyal pneumatik atau tegangan listrik ini diturunkan
ke meteran penunjuk yang telah dikalibrasi sebelumnya.

Gambar 2.8. Pengembus untuk Transmitter Tinggi Permukaan Cairan.
Gambar 2.8. menunjukkan skematik dari pengembus yang dipergunakan dalam pengukuran
tekanan. Pengembusan seperti ini juga dapat dipergunakan untuk pengukur Tinggi Permukaan
Cairan.

6. Alat ukur dengan sistem gelembung.

Gambar 2.9. Sistem Gelembung.
Gambar 2.9. menunjukkan skematik dari alat ukur tinggi permukaan cairan dengan sistem
gelembung. Meteran penunjuk untuk alat ukur ini umumnya adalah pressur gage dengan tabung
bourdon yang telah dikalibrasi sebelumnya kedalam bentuk skala proses. Alat ukur Tinggi
Permukaan Cairan dengan sistem gelembung dipergunakan pada tangki-tangki air, tidak
bertekanan (tekanan statis). Sistem gelembung memerlukan catu udara bertekanan yang kontinu.
Biasanya tekanan udara ini maxsimum 50 psi. Udara ini dimasukkan kedalam tabung yang
terbenam (tegak) pada cairan yang akan diukur. Semakin tinggi permukaan cairan yang akan
diukur semakin besar tekanan udara yang dibutuhkan untuk dapat mengatasi tekanan statis yang
diberikan cairan. Dengan demikian, tinggi permukaan cairan dapat diukur melalui besaran
tekanan udara yang dibutuhkan.

2.5. Jenis lain dari alat ukur tinggi permukaan cairan.
1. Meteran tangki penyimpanan (storage tank gages)

Gambar 2.10. Meteran tangki penyimpanan.
Gambar 2.10. menunjukkan skematik dari meteran tangki penyimpanan. Alat ini terdiri dari
pelampung dan pita baja. Bila tinggi permukaan cairan naik maka pelampungpun turut naik.
Angka yang ditunjuk oleh ujung pita baja menunjukkan tinggi permukaan cairan yang diukur.
Angka ini biasanya dalam satuan panjang, akan tetapi dapat diperhitungkan menjadi satuan isi.
Meteran tangki penyimpanan seperti ini sering disebut seperti ini sering disebut dengan nama
pelampung dan pita (float and tape) dan dipergunakan dalam pengukuran cairan pada tangki
penimbunan yang tidak bertekanan.













2. Kotak diafragma

Gambar 2.11. Kotak diafragma
Gambar 2.11. menunjukkan skematik dari alat ukur tinggi permukaan cairan yang disebut kotak
diafragma. Alat ini terdiri dari meteran penunjuk, pipa dan diafragma dan sistem ini diisi udara
bertekanan setara dengan tekanan atmosfir. Meteran penunjuk, biasanya adalah jenis Presure
gage dengan tabung bourdon yang dikalibrasi kedalam bentuk skala proses. Bila tinggi
permukaan cairan naik maka tekanan dalam sistem pengukuran akan naik. Ujung pipa pada kotak
dibuat bengkok 90 supaya saluran pengukuran jangan tersumbat oleh diafragma.















BAB III
DATA PENGAMATAN
Tabel 1. Pengamatan Penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala rotameter 1.
No
Penurunan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 100 109,6 0 0
2. 95 109,6 40 40
3. 90 109,5 35 75
4. 85 109,5 30 65
5. 80 105,8 58 88
6. 75 100,7 99 107
7. 70 95,6 100 149
8. 65 90,7 93 153
9. 60 85,4 111 124
10. 55 80,2 112 143
11. 50 75,2 113 145
12. 45 70,2 110 143
13. 40 65,1 119 149
14. 35 60,2 120 159
15. 30 55,1 123 163
16. 25 50,1 134 177
17. 20 45,2 124 178
18. 15 40,2 139 183
19. 10 35,2 143 202
20. 5 30,1 157 210
21. 0 25,0 153 190





Tabel 2. Pengamatan Kenaikan level cairan dengan laju alir masuk.
No
Kenaikan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 0 24,8 0 0
2. 5 29,8 7 7
3. 10 35,9 7 14
4. 15 39,9 7 14
5. 20 44,1 6 13
6. 25 46,3 5 11
7. 30 49,6 6 11
8. 35 52,6 6 12
9. 40 54,9 5 11
10. 45 59,1 5 10
11. 50 64,8 5 10
12. 55 69,7 4 9
13. 60 73,0 4 8
14. 65 75,9 5 9
15. 70 79,2 4 9
16. 75 82,1 3 7
17. 80 89,3 3 6
18. 85 94,2 4 7
19. 90 97,7 3 7
20. 95 100,2 3 6
21. 100 109,5 3 6







Tabel 3. Pengamatan Penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala rotameter 3.
No
Penurunan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 100 109,5 0 0
2. 95 109,5 45 45
3. 90 109,4 46 91
4. 85 104,5 44 90
5. 80 100,1 53 97
6. 75 95,1 50 103
7. 70 90,2 56 106
8. 65 85,1 57 113
9. 60 79,8 59 116
10. 55 75,2 40 99
11. 50 69,4 47 87
12. 45 65,1 43 90
13. 40 60,1 44 87
14. 35 54,8 45 89
15. 30 45,4 48 93
16. 25 39,7 50 98
17. 20 34,4 32 82
18. 15 29,7 48 80
19. 10 24,7 48 96
20. 5 24,5 43 91
21. 0 23,5 40 83







Tabel 4. Pengamatan Kenaikan level cairan dengan laju alir masuk.
No
Kenaikan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 0 24,5 0 0
2. 5 24,6 7 7
3. 10 25,4 7 14
4. 15 27,9 6 13
5. 20 30,7 7 13
6. 25 35,8 5 12
7. 30 42,2 5 10
8. 35 48,5 4 9
9. 40 50,1 6 10
10. 45 54,3 5 11
11. 50 60,2 4 9
12. 55 63,9 4 8
13. 60 66,1 5 9
14. 65 73,8 2 7
15. 70 86,7 3 5
16. 75 89,3 3 6
17. 80 91,7 3 6
18. 85 94,5 5 8
19. 90 99,7 3 8
20. 95 105,7 3 6
21. 100 109,5 2 5







Tabel 5. Pengamatan Penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala rotameter 5.
No
Penurunan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 100 109,5 0 0
2. 95 109,5 26 26
3. 90 109,2 28 54
4. 85 104,4 20 48
5. 80 99,5 29 49
6. 75 95,1 27 56
7. 70 89,7 27 54
8. 65 85,1 27 54
9. 60 79,2 28 55
10. 55 74,5 27 55
11. 50 69,7 29 56
12. 45 64,3 31 60
13. 40 59,7 24 55
14. 35 54,7 27 51
15. 30 49,5 28 55
16. 25 44,5 30 58
17. 20 39,5 31 61
18. 15 34,6 36 67
19. 10 29,5 21 57
20. 5 24,9 27 48
21. 0 24,5 25 52







Tabel 6. Pengamatan Kenaikan level cairan dengan laju alir masuk.
No
Kenaikan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 0 24,5 0 0
2. 5 24,5 6 6
3. 10 26,7 5 11
4. 15 29,5 5 10
5. 20 32,7 4 9
6. 25 36,4 5 9
7. 30 40,2 5 10
8. 35 45,5 6 11
9. 40 49,8 7 13
10. 45 52,7 5 12
11. 50 55,3 5 10
12. 55 59,6 5 10
13. 60 62,8 6 11
14. 65 66,7 4 10
15. 70 69,1 3 7
16. 75 72,8 3 6
17. 80 76,2 3 6
18. 85 80,6 2 5
19. 90 85,3 2 4
20. 95 89,4 3 5
21. 100 97,1 2 5







Tabel 7. Pengamatan Penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala rotameter 7.
No
Penurunan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 100 109,5 0 0
2. 95 109,5 4 4
3. 90 109,5 9 13
4. 85 109,5 20 29
5. 80 105,9 21 41
6. 75 100,1 21 42
7. 70 95,1 19 40
8. 65 90,2 19 38
9. 60 84,8 19 38
10. 55 79,8 20 39
11. 50 74,6 17 37
12. 45 69,7 20 37
13. 40 64,8 21 41
14. 35 59,8 21 42
15. 30 54,7 20 41
16. 25 49,7 20 40
17. 20 44,8 21 41
18. 15 39,9 22 43
19. 10 34,6 21 43
20. 5 29,6 23 44
21. 0 25,0 26 49







Tabel 8. Pengamatan Kenaikan level cairan dengan laju alir masuk.
No
Kenaikan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 0 24,5 0 0
2. 5 24,5 7 7
3. 10 25,0 6 13
4. 15 28,2 7 13
5. 20 30,8 5 12
6. 25 36,9 5 10
7. 30 42,1 4 9
8. 35 46,5 4 8
9. 40 49,9 6 10
10. 45 53,0 5 11
11. 50 56,2 3 8
12. 55 58,1 3 6
13. 60 60,9 3 6
14. 65 65,7 3 6
15. 70 75,9 4 7
16. 75 81,0 3 7
17. 80 84,9 2 5
18. 85 87,3 1 3
19. 90 90,0 1 2
20. 95 93,7 1 2
21. 100 103,5 1 2







Tabel 9. Pengamatan Penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala rotameter 9.
No
Penurunan Level %
Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
Actual Di Tangki Display Instrument
1. 100 109,5 0 0
2. 95 109,5 13 13
3. 90 109,5 15 28
4. 85 105,1 14 29
5. 80 100,5 14 28
6. 75 95,4 16 30
7. 70 90,1 15 31
8. 65 85,1 15 30
9. 60 80,1 17 32
10. 55 74,6 17 34
11. 50 69,7 16 33
12. 45 64,7 15 31
13. 40 60,0 19 34
14. 35 54,6 17 36
15. 30 47,5 18 35
16. 25 49,7 17 35
17. 20 44,4 20 37
18. 15 40,2 22 42
19. 10 34,4 14 36
20. 5 29,7 17 31
21. 0 24,9 22 39







Tabel 10. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 1 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 13 13
2. 109,5 200 18 31
3. 109,5 300 19 37
4. 109,5 400 18 37
5. 109,5 500 18 35
6. 109,5 600 17 35
7. 109,5 700 19 36
8. 109,5 800 18 37
9. 109,5 900 17 35
10. 109,5 1000 17 34

Tabel 11. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 2 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 12 12
2. 109,5 200 16 28
3. 109,5 300 16 32
4. 109,5 400 15 31
5. 109,5 500 16 31
6. 109,5 600 16 32
7. 109,5 700 16 32
8. 109,5 800 17 33
9. 109,5 900 17 34
10. 109,5 1000 17 34



Tabel 12. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 3 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 3 3
2. 109,5 200 5 8
3. 109,5 300 4 9
4. 109,5 400 9 13
5. 109,5 500 17 26
6. 109,5 600 11 28
7. 109,5 700 13 24
8. 109,5 800 10 23
9. 109,5 900 14 24
10. 109,5 1000 10 24

Tabel 13. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 4 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 6 6
2. 109,5 200 7 13
3. 109,5 300 9 16
4. 109,5 400 6 15
5. 109,5 500 5 11
6. 109,5 600 7 12
7. 109,5 700 7 14
8. 109,5 800 7 14
9. 109,5 900 7 14
10. 109,5 1000 8 15



Tabel 14. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 5 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 6 6
2. 109,5 200 8 14
3. 109,5 300 4 12
4. 109,5 400 4 8
5. 109,5 500 5 9
6. 109,5 600 6 11
7. 109,5 700 7 13
8. 109,5 800 6 13
9. 109,5 900 7 13
10. 109,5 1000 7 14

Tabel 15. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 6 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 7 7
2. 109,5 200 4 11
3. 109,5 300 4 8
4. 109,5 400 5 9
5. 109,5 500 4 9
6. 109,5 600 4 8
7. 109,5 700 5 9
8. 109,5 800 6 11
9. 109,5 900 5 11
10. 109,5 1000 4 9



Tabel 16. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 7 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 4 4
2. 109,5 200 4 8
3. 109,5 300 2 6
4. 109,5 400 5 7
5. 109,5 500 5 10
6. 109,5 600 4 9
7. 109,5 700 4 8
8. 109,5 800 3 7
9. 109,5 900 3 6
10. 109,5 1000 4 7

Tabel 17. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 8 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 7 7
2. 109,5 200 4 11
3. 109,5 300 2 6
4. 109,5 400 4 6
5. 109,5 500 4 8
6. 109,5 600 4 8
7. 109,5 700 2 6
8. 109,5 800 3 5
9. 109,5 900 3 6
10. 109,5 1000 4 7



Tabel 18. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 9 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 3 3
2. 109,5 200 2 5
3. 109,5 300 3 5
4. 109,5 400 2 5
5. 109,5 500 2 4
6. 109,5 600 2 4
7. 109,5 700 1 3
8. 109,5 800 1 2
9. 109,5 900 2 3
10. 109,5 1000 2 4

Tabel 19. Pengamatan Kalibrasi penurunan level cairan dengan laju alir keluar pada skala
rotameter 10 dan gelas ukur 1000 ml.
No Display Instrument Gelas Ukur (ml) Waktu,Detik
Kumulasi
Waktu,Detik
1. 109,5 100 2 2
2. 109,5 200 2 4
3. 109,5 300 1 3
4. 109,5 400 2 3
5. 109,5 500 1 3
6. 109,5 600 2 3
7. 109,5 700 2 4
8. 109,5 800 1 3
9. 109,5 900 2 3
10. 109,5 1000 2 4



BAB IV
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
2.6 PEMBAHASAN
Pada praktikum pengendalian level cairan, kami menggunakan sebuah alat yang
dinamakan CRL (Control Regulation Level). CRL ini sendiri berfungsi mengatur keluar
masuknya cairan agar dapat dilihat permukaan zat cair pada setiap detik atau menitnya.
Air yang ada didalam tangki akan dicontrol levelnya,air yang dimsukkan kedalam tangki
menggunakan pompa sentrifugal.
Karena personal computernya tidak tersedia, maka kami menggunakan sistem
manual atau pengendalian oleh manusia. Tekanan udara dan air diisi maupun
dikosongkan harus kendalikan sendiri dan hasil keluaran atau grafik yang dihasilkan
tidak dapat dilihat.
Sistem pengendalian manual masih tetap dipakai pada beberapa aplikasi tertentu.
Biasanya proses ini dipakai pada proses-proses yang tidak banyak mengalami beban
(load) atau pada proses yang tidak kritis. Dalam praktikum ini, kami sebagai operator
terpaksa harus mengamati level dan segera melakukan koreksi terhadap naik turunnya
level. Apabila teledor, maka air akan tumpah atau tangki manjadi kosong tanpa adanya
perhitungan waktu.
Dimulai mengatur valve pengisian dan pengosongan air, mengamati serta
mencatat waktu yang dibutuhkan, merupakan sebuah analisa yang terbilang mudah
untuk seorang operator.
Pada proses pengisian air dalam tangki dari tiap 10%,kami memperoleh waktu
dari 0 7 detik,Dan pada waktu pengosongan tangki kami memperoleh waktu dari 0
40 detik di tiap 10

Gambar 2.12 grafik penurunan air dalam tangki

Gambar 2.13 grafik kenaikan air dalam tangki
Berdasarkan cobaan yang telah dilakukan, terlihat jelas bahwa proses
pengosongan air dalam tangki memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan
pengisian air dalam tangki. Hal ini disebabkan karena pengaruh dari laju alir air pada
saat pengisian air dalam tangki lebih besar dibandingkan laju alir pada saat
pengosongan air dalam tangki.

0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
0 5 10 15 20 25
D
i
s
p
l
a
y

I
n
s
t
r
u
m
e
n
t

Waktu,Detik
0
1
2
3
4
5
6
7
8
0 5 10 15 20 25
D
i
s
p
l
a
y

I
n
s
t
r
u
m
e
n
t

Waktu,Detik
2.7 KESIMPULAN
Pengisian air dalam tangki kami dapatkan waktu 0 - 7 detik di tiap 10%
level, sedangkan pengosongan air dalam tangki kami dapatkan waktu 0 -
40 detik di tiap 10% level dan skala tertentu,dari skala 3,5,7,dan 9.
Pengaruh dari sifat laju alir pada air sangat jelas terlihat bahwa,kecepatan
pengisian lebih membutuhkan waktu yang tidak lama dari pada pengosongan
tangki,di karenakan pengaruh dari laju alir.




















DAFTAR PUSTAKA


Coughanower, Koppei. 1965. Process System Analysis CRD Control. Tokyo
Dougles N. Considine, S.D. Ross. 1964. Handbook Of Applied Instrumentation. New
York. USA.
F.G. Shinkey. 1990. Process Control System Problem Solving Software. Fox 6050
Company.
Nainggolan,M.F. 2007. Pengendalian Tinggi Muka Cairan Menggunakan Logika Fuzzy
dengan Mikrokontroler AVR. Universitas Diponegoro, Semarang.
Setiawan, I. 2008. Kontrol PID untuk Proses Industri. Elex Media Komputindo, Jakarta.