Anda di halaman 1dari 18

DIFERNSIAL PARSIL

- PENDAHULUAN
Sangat banyak problem terapan yang melibatkan turunan atau derivatif. Persamaan yang
mengadung derivatif disebut persamaan differensial. Jika persamaan itu mengandung
derivetif parsial maka ia disebut persamaan differensial parsial. Sedang yang tidak
parsial tadi disebut persamaan differesial ordiner. Pada bab ini kita akan membahas
problem-problem persamaan differensial ordiner ordiner yang sering digunakan dalam
aplikasi problem fisik. Lihatlah beberapa contoh berikut:
Dalam kinetika kita tahu bahwa laju reaksi order satu adalah sebanding dengan
konsentrasi reaktan. Jadi misal untku reaksi order satu:
A B
maka :
v = k . A (1-1)
dengan v adalah laju reaksi yang didefinisikan sebagai berkurangnya konsntrasi reaktan
atau bertambahnya konsentrasi produk persatuan waktu dan k adalah tetapan laju reaksi.
Jadi:
dt
dA
(1-2)
atau
v =
dt
dB
(1-3)
Jika gunakan (1-2) dan disubstitusikan ke (1-1), maka:
A . k
dt
dA
= (1-4)
persamaan (1-4) di atas adalah salah satu contoh persamaan differensial ordiner ordiner
order satu. Untuk menyelesaikannya caranya adalah sebagai berikut:
dt k
A
dA
= (1-5)
Jika pada saat t = t konsentrasi yang tersisa adalah At sedang pada keadaa mula-mula,
konsentrasinya Ao, maka integrasi kedua ruas adalah:
} }
=
t
0
At
Ao
dt k dA
A
1
(1-6)
atau:

t
0
At
Ao
t k A ln
(

=
(

(1-7)
atau:
ln At -8)
atau:
Ao
At
ln (1-9)
atau:
Ao
At
=
kt
e

(1-10)

Biasanya dari (1-10) orang mencari persamaan untuk menentukan waktu paruh (half life).
Caranya adalah sebagai berikut:
Jika t = waktu paruh =
T, maka At = Ao, sehingga (1-10) menjadi:
=
kT
e

(1-11)
atau:

atau
T
k
1/2 ln
=
k
693 , 0
(1-12)
Itu tadi adalah salah satu contoh aplikasi persamaan differensial ordiner ordiner dalam
kinetika. Sekarang kita akan membahas jenis-jenis persamaan differensial ordiner
ordiner. Untuk itu perhatikan bentuk-bentuk berikut:
(1) y + xy
2
= 1
(2) xy + y = 1
(3) y + y + kx = 0
Contoh (1) dan (2) merupakan contoh persamaan differensial ordiner ordiner order
pertama karena operator differensial yang ada hanya operator turunan pertama dan tidak
ada operator turunan yang lebih tinggi sedang contoh (3) merupakan contoh persamaan
differensial ordiner order kedua karena mengandung y. Yang perlu diperhatikan adalah
bahwa ada perbedaan mendasar antara pengertian persamaan linear dengan persamaan
order pertama. Order sebuah persamaan differensial ditentukan oleh derajat differensial
tertinggi yang dimiliki oleh persamaan differensial itu sedang linear atau tidaknya sebuah
persamaan ditentukan oleh pangkat variabelnya. Ditinjau dari pangkat variabelnya
Contoh (1) adalah persamaan kuadrat, tetapi ditinjau dari sisi persamaan differensial
contoh (1) adalah persamaan diferensial order pertama. Contoh (2) adalah persamaan
linear jika ditinjau dari pangkat variabelnya dan merupakan persamaan diferensial order
pertama karena adanya y dan operator differensial yang lebih tinggi derajatnya tidak ada.
Contoh (3) merupakan persamaan linear jika ditinjau dari pangkatnya variabel, tetapi
persamaan tersebut merupakan persamaan differensial ordiner order kedua.

- Penyelesaian Persamaan Linear Orde ke satu dengan Metode Pemisahan Variabel.
Perhatikan bentuk persamaan diferensial berikut:
y = x
2
(2-1)
Bentuk di atas bukan merupakan bentuk terpisah karena bentuk di atas dapat ditulis:
dx
dy
= x
2
(2-2)
dan tampak bahwa di ruas kiri masih ada y dan x. Bentuk tersebut akan menjadi bentuk
terpisah jika dx dipindah ke ruas kanan sehingga bentuknya menjadi:
dy = x
2
dx (2-3)
Persamaan (2-3) disebut persamaan terpisah karena ruas kiri hanya mengandung variabel
x sedang ruas kanan hanya mengandung variabel y. Penyelesaian persamaan differensial
dengan cara seperti ini disebut teknik pemisahan variabel.
Jika sebuah persamaan differensial dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan terpisah,
maka penyelesaiannya dengan mudah dapat diperoleh, yaitu dengan jalan mengintegrasi
kedua ruas. Jadi penyelesaian untuk persamaan terpisah (2-3) di atas adalah:
y =
}
dx x
2
=
3
x
3
1
+ c (2-3)
Persamaan (2-3) di atas merupakan bentuk umum dari penyelesaian persamaan
differensial (2-1). Untuk memperoleh bentuk khusus harus dimasukkan harga y untuk x
tertentu. Misal persamaan (2-3) tersebut mempunyai harga y = 10 untuk x = 3, maka
penyelesaiannya adalah:
10 =
3
3 .
3
1
+ c c = 7
Sehingga persamaan (2-3) dapat ditulis:
y =
3
x
3
1
+ 4 (2-4)


- PENGERTIAN
Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah persamaan yang di dalamnya terdapat
suku-suku diferensial parsial, yang dalam matematika diartikan sebagai suatu hubungan
yang mengaitkan suatu fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan fungsi dari
beberapa variabel bebas, dengan turunan-turunannya melalui variabel-variabel yang
dimaksud. PDP digunakan untuk melakukan formulasi dan menyelesaikan permasalahan
yang melibatkan fungsi-fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan dibentuk oleh
beberapa variabel, seperti penjalaran suara dan panas,elektrostatika, elektrodinamika,
aliran fluida, elastisitas, atau lebih umum segala macam proses yang terdistribusi
dalam ruang, atau terdistribusi dalam ruang dan waktu. Kadang beberapa permasalahan
fisis yang amat berbeda memiliki formulasi matematika yang mirip satu sama lain.
- PENGANTAR
Bentuk paling sederhana dari persamaan diferensial adalah



di mana u suatu fungsi tak diketahui dari x dan y. Hubungan ini mengisyaratkan bahwa
nilai-nilai u(x,y) adalah tidak bergantung dari x. Oleh karena itu solusi umum dari
persamaan ini adalah



di mana f adalah suatu fungsi sembarang dari variabel y. Analogi dari persamaan
diferensial biasa untuk persamaan ini adalah



yang memiliki solusi


di mana c bernilai konstan (tidak bergantung dari nilai x). Kedua contoh di atas
menggambarkan bahwa solusi umum dari persamaan diferensial biasa melibatkan suatu
kostanta sembarang, akan tetapi solusi dari persamaan diferensial parsial melibatkan
suatu fungsi sembarang. Sebuah solusi dari persamaan diferensial parsial secara umum
tidak unik; kondisi tambahan harus disertakan lebih lanjut pada syarat batas dari daerah
di mana solusi didefinisikan. Sebagai gambaran dalam contoh sederhana di atas,
fungsi dapat ditentukan jika dispesifikasikan pada sebuah garis .

- Penyelesaian Persamaan Differensial Linear Order kesatu dengan Metode Standar
Persamaan differensial linear order kesatu mempunyai bentuk umum baku:
y + Py = Q (3-1)
P dan Q dapat merupakan bilangan konstan, tetapi juga dapat merupakan fungsi x. Jika P
atau Q tidak nol, maka penyelesaian dengan cara pemisahan variabel tidak dapat
dilakukan. Untuk itu kita gunakan rumus sebagai berikut:
Jika y + Py = Q maka:

y =
I
e

( ) c dx . e . Q
I
+
}
dengan I =
}
dx P (3-2)

Persamaan (3-2) di atas diperoleh dari langkah-langkah sebagai berikut:
Pertama, kita ambil bentuk (3-1) yang paling lebih
sederhana, yaitu untuk Q = 0, sehingga (3-1) menjadi:
y + Py = 0 atau
dx
dy
(3-3)
yang dapat dipisahkan menjadi bentuk:
dy
y
1
=
}
+ c dx P atau:
y =
}
+ c dx P
e = A
}
dx P
e (3-4)
dengan A =
c
e . Agar tampak sederhana, marilah untuk selanjutnya kita nyatakan:
I =
}
dx P (3-5)
sehingga:
dx
dI
= P (3-6)
dan persamaan (3-4) dapat ditulis y = A . e atau:
y . e
I
= A (3-7)
Sekarang kita dapat melihat, bagaimana menyelesaikan persamaan (3-1). Jika (3-7)
diturunkan terhadap x dan kita gunakan (3-6):
( )
I
e . y
dx
d
=
dx
dy
e
I
+ y
I
e
dx
d
=
I
e y + y .
I
e .
dx
dI

=
I
e y + y .
I
e . P
Jadi:
( )
I
e . y
dx
d
=
I
e (y + Py) = Q .
I
e
atau:
d (y .
I
e ) = Q .
I
e (3-8)
Jika persamaan (3-8) diintegralkan:
y
I
e =
}
dx . e . Q
I
+ c atau y =
I
e

( ) c dx . e . Q
I
+
}





Contoh 1:
Carilah bentuk umum persamaan differensial x
2
y + 2xy = 1/x.
Jawab:
x
2

2
agar menjadi bentuk baku persamaan differensial
linear order kesatu:
x
2
y =
3
x
1

Jadi:
P =
x
2
dan Q =
3
x
1

dengan demikian:
I =
}
dx
x
2

Penyelesaiannya adalah:
y =
}

+
I I I
c.e dx e . Q e =
}
+
ln x 2 ln x 2
3
x ln 2
e c. dx e
x
1
e
Harga e
2 ln x
= x
2
sedang e = x , jadi:
y = x
2

}
+
2 2
3
x c. dx x
x
1
= x
2

}
+
2 5
x c. dx x = x
2

2 4
x c. x
4
1
+ |
.
|

\
|



2
2
x c
x 4
1
+

- Metode Lain Untuk Persamaan Order Kesatu
Metode pemisahan variabel dan metode persamaan linear yang sudah kita kenal
adalah dua tipe persamaan order pertama yang akan sering banyak anda pergunakan.
Berikut ini akan kita bicarakan metode lain untuk menyelesaikan persamaan order kesatu
yang tidak dapat diselesaikan dengan dua metode yang telah kita kenal itu.
Persamaan Bernoulli
Yang dimaksud dengan persamaan Bernoulli adalah persamaan differensial linear
order kesatu yang mempunyai bentuk :
y + P y = Q y
n
(4-1)
dengan P dan Q adalah fungsi x. Bentuk di atas bukan persamaan linear, tetapi melalui
perubahan variabel, persamaan tersebut dapat dengan mudah direduksi menjadi
persamaan linear. Kita buat perubahan variabel sebagai berikut:
z = y
1-n
(4-2)
sehingga:
z = (1-n) y
-n
y (4-3)
selanjutnya kita kalikan (4-1) dengan (1-n) y
-n
sehingga diperoleh:
(1-n) y y + (1-n) y (4-4)
Jika (4-2) dan (4-3) disubstitusikan ke dalam (4-4) maka diperoleh bentuk:
z + (1 n) P z = (1 n) Q (4-5)
Jika (1 n) P diganti R dan (1 n) Q diganti S maka (4-5) menjadi:
z + R z = S ini analog dg y + Py = Q (4-6)
Persamaan (4-6) di atas sudah merupakan bentuk baku persamaan differensial linear
order ke satu dalam z, sehingga penyelesaiannya adalah :
z = e
}
dx S e
I
+ c . e dengan I =
}
dx R
atau:
y

= e
}
dx Q n) (1 e
I
+ c . e dengan I = ( ) dx P n 1
}

(4-7)



Contoh:
Carilah bentuk umum penyelesaian dari persamaan x y + 2y + 3y
2
= 0.
Penyelesaian:
Kita jadi persamaan yang diketahui ke dalam bentuk Bernoulli, sehingga bentuknya
menjadi: y + (
2
/
x
) y = - (
3
/
x
) y
2

dengan demikian maka P = (
2
/
x
) ; Q = -(
3
/
x
) dan n = 2, sehingga penyelesaiannya
adalah: y
1 - n
= e
-I

}
dx Q n) (1 e
I
+ c . e-
I
dengan I = ( ) dx P n 1
}

atau: y
1 - 2
= e
-I

}
|
.
|

\
|
dx
x
3
) 2 (1 e
I
+ c . e
-I
dengan I = ( ) dx
x
2
2 1
}
= - 2 ln x
atau: y
- 1
= e
2l n x

}

dx
x
3
e
ln x 2
+ c . e
2 l n x
atau: y
- 1
= x
2
}

dx x 3
3
+ c . x
2

Jadi: y
- 1
= -
2
3
+ c . x
2
atau 1/y = -
2
3
+ c . x
2

Persamaan Differensial Eksak
Untuk memahami persamaan differensial eksak marilah kita ingat kembali mengenai
differensial total dari sebuah fungsi yang variabelnya lebih dari satu macam, misal
diferensial total dari F(x , y). Menurut yang telah kita pelajari pada bab 4,
d F(x , y) = dx
x
F

y
|
.
|

\
|
o
o
+ dy
y
F
|
|
.
|

\
|
o
o
(4-8)
Jika
x
F
|
.
|

\
|
o
o
diganti P dan
y
F
|
|
.
|

\
|
o
o
diganti Q maka (4-8) dapat ditulis:
d F(x , y) = P dx + Q dy (4-9)
Selanjutnya jika
y
P
o
o
harganya sama dengan
x
Q
o
o
atau P dan Q diturunkan silang
harganya sama, maka bentuk: d F = P dx + Q dy = 0
disebut persamaan differensial eksak. F dapat diperoleh dengan cara
mengintegralparsialkan P terhadap x dan konstanta dari hasil integral itu yang mungkin
masih mengandung y dan kita sebut C(y) dapat dicari harga
y
F
|
|
.
|

\
|
o
o
. Anda juga dapat
mencari F dengan cara sebaliknya, yaitu mengintegralparsialkan Q terhadap y dan
konstanta dari hasil integral itu yang mungkin masih mengandung x dan kita sebut C(x)
dapat dicari harga
x
F
|
.
|

\
|
o
o
.
Contoh 1:
Diketahui persamaan differensial: (x
2
y + 5) dx + Q dy = 0. Tentukan harga Q yang
paling sederhana agar menjadi eksak.
Jawab:
Jika (x
2
y + 5) disebut P, maka dF = (x
2
y + 5) dx + Q dy = 0 adalah diff. eksak jika:
y
P
o
o

=
x
Q
o
o
atau x
2
=
x
Q
o
o
atau dQ = x
2
dx
jadi: Q =
3
1
x
3
+ C dan harga Q yang paling sederhana adalah
3
1
x
3
.

- Persamaan Differensial Linear Order Kedua
Yang akan kita bahas adalah persamaan yang bentuknya sebagai berikut:
a
2
y + a
1
y + a
0
y = Q (5-1)
dengan a
2
; a
1
dan a
0
adalah bilangan konstan; y'' =
2
2
dx
y d
; y' =
dx
dy
dan Q dapat berupa
fungsi x (misal k x
n
, k e
m x
, k e
i m x
, k sin mx, k cos mx) bilangan konstan maupun nol,
sehingga persamaan (5-1) juga boleh ditulis:
a
0

2
2
dx
y d
+ a
1

dx
dy
+ a
2
y = Q (5-2)
Jika d/dx ditulis D, maka persamaan (5-2) boleh ditulis:
a
1
D
2
y + a
2
Dy + a
2
y = Q
atau: (a
0
D
2
+ a
1
D + a
2
) y = Q (5-3)
Fungsi (a
0
D
2
+ a
1
D + a
2
) disebut fungsi karakteristik, sedang persamaan:
a
0
D
2
+ a
1
D + a
2
= 0 (5-4)
biasa disebut persamaan karakteristik. Penyelesaian persamaan differensial (5-1) yang
kita bahas ini sangat ditentukan oleh akar-akar persamaan karakteristik tersebut.
Misal dua akar persamaan karakteristik itu
adalah a dan b, maka persamaan (5-3) dapat ditulis sebagai berikut:
(D a) (D b) y = Q (5-5)
Untuk menyelesaikannya, kita misalkan:
(D b) y = u (5-6)
Jika u disubstitusikan pada (5-5) maka (5-5) akan menjadi:
(D a) u = Q
yang juga boleh ditulis Du a u = Q atau u a
dx
du
= Q atau:
u au = Q (5-7)
Persamaan (5-7) adalah sebuah persamaan differensial linear order ke satu dalam u yang
dengan mudah kita peroleh penyelesaiannya dengan metode Standar. Penyelesaiannya
adalah:
u = e
}
dx e . Q
I
+ c
1.
e (5-8)
Harga u yang diperoleh itu (agar tampak sederhana kita tulis saja R) disubstitusikan pada
persamaan (5-6) sehingga menjadi:
(D b) y = R atau Dy by = R atau:
y by = R (5-9)
Persamaan (5-9) adalah persamaan differensial linear orde ke satu, sehingga
penyelesaiannya yaitu y dapat diperoleh dengan metode standar. Untuk jelasnya
perhatikan contoh berikut:
Contoh 1:
Diketahui sebuah persamaan differensial linear orde kedua sebagai berikut: y + 5y + 4y
= 0. Carilah bentuk umum penyelesaiannya.
Jawab:
Persamaan yang diketahui dapat ditulis:
D
2
y + 5D y + 4 y = 0 atau (D
2
+ 5D + 4) y = 0
Persamaan karateristiknya mempunyai akar 4 dan 1 sehingga persamaan di atas dapat
ditulis: (D + 4) (D + 1) y = 0 (5-10)
Misal: (D + 1) y = u (5-11)
Maka (5-10) menjadi: (D + 4) u = 0 atau: u + 4 u = 0 (5-12)
yang merupakan pers. linear order ke satu dengan P = +4 dan Q = 0, jadi:
I =
}
P dx = 4x dan:
u e
4x
=
}
Q . e
4x
dx + c
Karena Q = 0 maka
}
Q . e
4x
dx = c sehingga: u e
4x
= c + c
Jumlah dua konstanta c + c kita sebut sebagai konstanta baru misal A, maka:
u e
4x
= A dan u = A. e (5-13)
Harga u yang diperoleh dimasukkan ke dalam (5-11), sehingga diperoleh:
(D + 1) y = A e atau: y + 1 y = A e (5-14)
yang merupakan persamaan linear order ke satu dengan P = +1 dan Q = Ae jadi I = x
dan penyelesaiannya adalah: y . e
X
=
}
x
e . Q dx + C

Tetapan yang muncul lagi kita tulis C, karena sebelumnya sudah ada C
1
. Selanjutnya:
y . e
X
=
}
A e . e
x
dx + C =
3
A

e + C
Jika tetapan baru
3
A

kita tulis B, maka: y . e


X
= B e + C
Jadi: y = B e + C. e



- Kesimpulan:
Jika diketahui:
y'' + ay' + by = 0 ditulis (D
2
+ aD + b) y = 0 maka:
1. Jika akar-akar persamaan karateristiknya berbeda, misal m dan n, maka penyelesaian y'' +
ay' + by = 0 adalah : y = A. e
m x
+ B. e
n x
2. Jika akar-akar persamaan karakteristiknya sama, misal m , maka penyelesaian Y'' + aY' +
bY = 0 adalah : y = (Ax + B) e
m x

- Bagaimana jika ruas kanan tidak nol Misal y'' + ay' + by = R dengan R boleh
bilangan konstan maupun fungsi x ?
Untuk ini penyelesaiannya dilakukan dengan cara yang sama, yaitu mencari dulu
persamaan karakteristik-nya, misal akar-akarnya adalah m dan n, maka persamaan
differensialnya ditulis:
(D m ) ( D n ) y = R
Untuk penyelesaiannya dilakukan dengan cara yang sama, yaitu kita misalkan (D n ) y
= u sehingga: (D m ) u = R atau u' m u = R
sehingga u diperoleh, selanjutnya kita selesaikan ( D n )y = u atau y' n y = u
sehingga y diperoleh.

-
Bagaimana Jika R = k . e
i m x
Penyelesaian dapat dilakukan secara kronologis seperti yang sudah kita lakukan di atas,
tetapi juga dapat kita selesaikan secara praktis dengan menggunakan sifat, bahwa
penyelesaian:
y = y
p
+ y
p

dengan y
p
= A . e
m x
+ B
NB x
jika persamaan karakteristik mempunyai 2 akar beda
yaitu m dan n
y = (ACC + B) e
m x
jika persamaan karakteristik mempunyai 2 akar yang sama
yaitu m.
sedang y
p
= k' E
.I.
VEKTOR
- PENDAHULUAN
Selain besaran pokok dan turunan, besaran fisika masih dapat dibagi atas dua kelompok
lain yaitu besaran skalar dan besaran vektor. Besaran-besaran seperti massa, jarak, waktu
dan volum, termasuk besaran skalar, yakni besaran yang hanya memiliki besar atau nilai
saja tetapi tidak memiliki arah. Sedangkan besaran seperti perpindahan, kecepatan,
percepatan dan gaya termasuk besaran vektor, yaitu besaran yang memiliki besar (atau
nilai) dan juga memiliki arah.

- PENGERTIAN
-

Sebuah vektor dari A ke B.
Vektor dalam matematika dan fisika adalah obyek geometri yang memiliki besar dan
arah. Vektor jika digambar dilambangkan dengan tanda panah (). Besar vektor
proporsional dengan panjang panah dan arahnya bertepatan dengan arah panah. Vektor
dapat melambangkan perpindahan dari titikA ke B.
[1]
Vektor sering ditandai sebagai



Vektor berperan penting dalam fisika: posisi, kecepatan dan percepatan obyek yang
bergerak dan gaya dideskripsikan sebagai vektor.










PANJANG VEKTOR
Untuk mencari panjang sebuah vektor dalam ruang euklidian tiga dimensi, dapat
digunakan cara berikut:

KESAMAAN DUA VEKTOR
Dua buah vektor dikatakan sama apabila keduanya memiliki panjang dan arah yang
sama
KESEJAJARAN DUA VEKTOR
Dua Buah Vektor disebut sejajar (paralel) apabila garis yang merepresentasikan
kedua buah vektor sejajar.
o OPRASI VEKTOR
PERKALIAN VEKTOR
Sebuah vektor dapat dikalikan dengan skalar yang akan menghasilkan vektor juga,
vektor hasil adalah:

Penambahan vektor dan pengurangan vektor
Sebagai contoh vektor a=a
1
i + a
2
j + a
3
k dan b=b
1
i + b
2
j + b
3
k.
Hasil dari a ditambah b adalah:

pengurangan vektor juga berlaku dengan cara mengganti tanda + menjadi tanda -
VEKTOR SATUAN
Vektor satuan adalah vektor yang memiliki panjang 1 satuan panjang. Vektor satuan
dari sebuah vektor dapat dicari dengan cara:






Sebagai contoh untuk vektor, sekaligus sebagai dasar dari konsep vektor, adalah
vektor posisi. Untuk
menentukan posisi sebuah titik relatif terhadap titik yang lain, kita harus memiliki
sistem koordinat. Dalam
ruang berdimensi tiga, dibutuhkan sistem koordinat x; y; z untuk mendiskripsikan
posisi suatu titik relatif
terhadap suatu titik asal (O). Sistem koordinat x; y; z ini sering disebut sebagai sistem
koordinat kartesan.
Dalam penentuan arah positif setiap sumbu, dipakai kesepakatan putar kanan (tangan
kanan). Yaitu dari
bila diputar dari arah positif x ke arah positif y, putarannya mengarah ke arah positif
z.
Vektor posisi suatu titik P, relatif terhadap titik asal pada bidang digambarkan di
bawah ini.

Penjumlahan Vektor
Dari konsep vektor posisi dikembangkan konsep penjumlahan vektor. Misalkan
vektor posisi titik A adalah
~A
, sedangkan posisi titik B ditinjau dari titik A adalah ~B . Vektor posisi titik B adalah
vektor ~C , dan ~C
dapat dinyatakan sebagai jumlahan vektor ~A dan vektor ~B , ~A + ~B = ~C .
Negatif dari suatu vektor ~A dituliskan sebagai ~A dan didefinisikan sebagai
sebuah vektor dengan besar
yang sama dengan besar vektor ~A tetapi dengan arah yang berlawanan, sehingga ~A
+ (1)~A = 0. Dari sini.
konsep pengurangan vektor muncul, jadi
~A
~B = ~A + (1)~B:
Aljabar vektor bersifat komutatif dan asosiatif. Jadi ~A + ~B = ~B + ~A, dan ~A +
(~B + ~C) = (~A + ~B) + ~C
Dalam ruang berdimensi tiga terdapat paling banyak tiga vektor yang dapat saling
tegak lurus. Vektor-
vektor yang saling tegak lurus ini dapat dijadikan vektor-vektor basis. Dalam sistem
koordinat kartesan,
sebagai vektor-vektor basis biasanya diambil vektor-vektor yang mengarah ke arah
sumbu x, y, dan z positif,
dan diberi simbol ^x, ^y, dan ^z. Vektor-vektor basis ini juga dipilih memiliki besar
satu satuan. Sehinggasembarang vektor ~A dalam ruang dimensi tiga dapat
dinyatakan sebagai jumlahan vektor-vektor basis dengan koofisien sien Ax;Ay;Az
yang disebut sebagai komponen vektor dalam arah basis x; y dan z.
~A
= Ax^x + Ay ^y + Az ^z
Dari
Dari trigonometri dapat diketahui bahwa bila sudut antara vektor ~A dengan sumbu
x, y, dan z adalah
x, y, dan z, maka Ax = Acos x, Ay = Acos y, dan Az = Acos z, dengan A adalah besar
~A. Dari
teorema Phytagoras, diperoleh bahwa
A =q A2 x + A2 y + A2 z .



















- VEKTOR SATUAN

Vektor satuan adalah suatu vektor yang ternormalisasi, yang berarti panjangnya bernilai 1. Umumnya
dituliskan dalam menggunakan topi (bahasa Inggris: Hat), sehingga: dibaca "u-topi" ('u-hat').
Suatu vektor ternormalisasi dari suatu vektor u bernilai tidak nol, adalah suatu vektor yang
berarah sama dengan u, yaitu:

di mana ||u|| adalah norma (atau panjang atau besar) dari u. Isitilah vektor ternormalisasi kadang-
kadang digunakan sebagai sinonim dari vektor satuan. Dalam gaya penulisan yang lain (tidak
menggunakan huruf tebal) adalah dengan menggunakan panah di atas suatu variabel, yaitu

Di sini adalah vektor yang dmaksud dan adalah besarnya.

- ATURAN PENULISAN VEKTOR
Dalam menuliskan vektor, apabila anda menggunakan tulisan tangan, lambang suatu
vektor umumnya ditulis dengan huruf besar dan di atasnya perlu ditambahkan tanda
panah, misalnya :

Untuk buku cetak, lambang vektor ditulis dengan huruf besar yang dicetak tebal,
misalnya F. Untuk besar vektor, apabila kita menggunakan tulisan tangan maka besar
suatu vektor ditulis dengan tanda harga mutlak, misalnya :

Untuk buku cetak, besar vektor ditulis dengan huruf miring, misalnya F

- MENYATAKAN SUATU VEKTOR
Dalam fisika, akan selalu membantu jika digambarkan diagram mengenai suatu situasi
tertentu, dan hal ini akan semakin berarti jika berhubungan dengan vektor. Pada diagram,
setiap vektor dinyatakan dengan tanda panah. Tanda panah tersebut selalu digambarkan
sedemikian rupa sehingga menunjuk ke arah yang merupakan arah vektor tersebut.
Panjang tanda panah digambarkan sebanding dengan besar vektor.
Sebagai contoh, pada gambar di bawah dilukiskan suatu vektor gaya (F) yang besarnya
40 N (N = Newton, satuan gaya) dan berarah 30
o
utara dari timur atau 30
o
terhadap
sumbu x positif. Besar vektor F = 40 N dilukiskan dengan panjang anak panah 4 cm. Ini
berarti skala yang dipilih adalah 1 cm = 10 N atau 4 cm = 40 N.


- MEMBEDAKAN BESARAN SKALAR DAN VEKTOR
Jika saya mengatakan massa sebuah batu adalah 400 gram, pernyataan ini sudah cukup
bagi anda untuk mengetahui semua hal tentang massa batu. Anda tidak membutuhkan
arah untuk mengetahui massa batu. Demikian juga dengan besaran waktu, suhu, volume,
massa jenis, usaha, kuat arus listrik, tekanan, daya dll.
Ada beberapa besaran fisika yang tidak dapat dinyatakan dengan nilai atau besarnya saja.
Misalnya ketika saya mengatakan bahwa seorang anak berpindah sejauh 10 meter, maka
pernyataan ini belum cukup. Anda mungkin bertanya, ia berpindah ke mana ? apakah ke
arah utara, selatan, timur atau barat ? Demikian juga apabila anda mengatakan bahwa
anda mendorong meja dengan gaya sebesar 100 N. Kemana arah dorongan anda ? nah,
besaran yang demikian disebut besaran vektor, di mana memerlukan pernjelasan
mengenai besar dan arahnya. Contoh besaran vektor adalah perpindahan, percepatan,
impuls, momentum dll. Selengkapnya akan anda pelajari pada pokok bahasan yang
berkaitan dengan besaran tersebut.

Perbedaan Besaran Skalar dan Vektor. Fisika adalah ilmu matematika. Konsep dasar
dan prinsip-prinsip memiliki dasar matematika. Sepanjang pelajaran fisika kita, kita akan
menjumpai berbagai konsep yang memiliki dasar matematika yang terkait dengan
mereka. Sementara penekanan kami akan sering pada sifat konseptual fisika, kami akan
memberikan perhatian yang gigih untuk aspek matematika.

Anda mungkin juga menyukai