Anda di halaman 1dari 83

TRAINING

TRANSFORMATOR

August 2002
TRAFINDO
Transformer & CTVT
TRANSFORMATOR DISTRIBUSI
TEGANGAN MENENGAH
( T R A F O )
Disajikan oleh : GB Kurniawan ST
Alat untuk mempertahankan mutu daya listrik
siap kirim ke pemakai adalah
TRANSFORMATOR - TRANSFORMER
atau
yang disebut umum :
TRAFO.
Apakah Listrik itu ?
Teknologi telah menciptakan manusia menjadi perilaku
berbeda terutama setelah ditemukannya listrik sebagai
salah satu sumber tenaga. Listrik sangat fleksibel
dibanding tenaga lainnya walaupun sulit dimengerti dan
dihayati oleh orang awam, sebab yang dilihat hanya
hasilnya, seperti lampu menyala. Bila ada pertanyaan
apakah itu listrik, jawabannya kadang kala tidak lain
identik dengan lampu.
Para ahli listrik atau yang pernah belajar listrikpun tanpa
disadari mungkin cukup bingung untuk memberikan
penjelasan, kenapa hal tersebut terjadi seperti hal diatas.
Padahal Listrik itu adalah salah satu sumber energi.
Apakah Trafo itu ?
Daya listrik buatan umumnya bersumber dari
generator, medan magnit yang dipotong oleh sejumlah
gulungan kawat secara periodik.
Setelah tercipta daya listrik tentunya bila digunakan
untuk orang banyak dan jarak yang jauh maka mutu
daya listrik itu berkurang, misal sinar lampu menjadi
berkedip-kedip/redup.
Alat untuk mempertahankan mutu daya listrik siap
kirim kepemakai adalah TRANSFORMATOR atau
yang disebut umum : TRAFO.

Kenapa Tegangan Diubah ?
Tegangan listrik bermacam ragam
timbul sebagai akibat dari jarak
kirim yang hendak dicapai dengan
mutu yang baik atau penggunaan
kawat transmisi dengan diameter
tertentu.

TEORI
TRANSFORMATOR
Teori Transformator
Pengertian
Transformator adalah suatu alat magnetoelektrik
yang mentransfer energi dengan merubah tegangan
bolak-balik dari satu tingkat ke tingkat yang lain.
primer
sekunder
fluk
Persamaan Dasar Trafo
V1/N1=V2/N2
I1/I2=N2/N1

N1 N2
Sisi Primer adalah sisi dimana trafo terhubung dengan sumber
tegangan.
Sisi sekunder adalah sisi dimana trafo terhubung dengan beban
Kondisi Trafo saat beban nol
Rangkaian tanpa beban
V1
I
0

Jika trafo telah terhubung dengan sumber (energized) maka akan
timbul arus I
0
yaitu arus magnetisasi sehingga rugi besi pada
saat kondisi tersebut telah dibangkitkan.
Kondisi trafo saat berbeban
V1
I
0

Rangkaian Listrik
I
1

I
2

V
2

Dalam kondisi berbeban akan mengalir arus I
1
dan I
2,
, secara
empiris maka terjadi drop tegangan V
2
dan terjadi
rugi besi dan tembaga di trafo.
Trafo Tiga Phase
Pemilihan hubungan untuk kumparan trafo 3
phase didasarkan atas operasi sistem
kelistrikan, misalnya:
- kerja paralel dengan trafo yg sudah ada
- Perlu tidaknya titik netral
Ada tiga macam hubungan trafo:
- Bintang
- Delta
- Zig-zag


Tipe Hubungan
Rangkaian Listrik
- Hubungan Bintang, simbol: Y, y
Hubungan bintang biasanya dipakai ketika sistem perlu titik
netral untuk pembebanan, atau untuk sistem tegangan tinggi > 70 kV
bisa dipakai tingkat isolasi bertingkat dan penyadapan
on load tap changer dari netral
Hubungan Delta, simbol: D, d
Hubungan delta biasanya dipakai untuk sistem dengan arus tinggi.
Hubungan Zig-zag, simbol: Z, z
Hubungan zig-zag dipakai untuk trafo distribusi yang kecil <160 kVA
Atau untuk grounding transformer.
Macam Hubungan/Vector Group
Hubungan trafo menandakan bagaimana sebuah trafo
kumparan-kumparan saling dihubungkan. Untuk
penetapan hubungan ini dipergunakan tiga jenis tanda
atau kode, yaitu:
- tanda hubungan untuk sisi tegangan tinggi terdiri atas I,
D, Y, Z
- Tanda hubungan untuk sisi tegangan rendah terdiri atas
I, d, y, z
- Angka jam yang menyatakan bagaimana kumparan
pada sisi teg. rendah terletak terhadap sisi teg. tinggi
Hubungan menurut VDE
Vector group yg lazim dipakai:
-Dyn5
-YNyn6
-YNyn0
-Yzn-5
-Dyn1
-Dyn11
-YNd5
-YNd11
-YNd1
PEMBUATAN/PRODUKSI
TRAFO
Pelajaran secara teori sangatlah mudah karena
Trafo dibuat dengan prinsip menggulung kawat
pada sebuah inti/batangan baja silikon, dimana
jumlah tegangan dapat diatur dengan
perbandingan jumlah gulungan saja.
Apakah yang terjadi bila daya yang dibutuhkan
besar, ternyata banyak hal-hal yang cukup
merepotkan dalam perencanaan pembuatan
sebuah Trafo.

Daya yang cukup besar tentunya mempunyai energi
yang diubah menjadi panas cukup besar, berupa
kerugian daya dalam proses perubahan besarnya
tegangan listrik. Gulungan/Coil yang berisi kawat
berisolasi butuh pendinginan yaitu antara lain
dicelup dalam minyak isolasi untuk jenis trafo
bertegangan menengah.


Minyak isolasi ditempatkan dalam sebuah tanki dan
juga dimasukkan Coil yang telah menyatu dengan
intinya. Sifat fisika mengatakan minyak isolasi bila
mengalami pemanasan tentunya akan memuai dan
berarti tanki harus sanggup pula menampung
pertambahan volume akibat pemuaian tersebut.

Tipe Trafo
Trafo berpendingin minyak/basah
Conservator/Conventional, terbuka.
Hermetically sealed, pengisian minyak
penuh.
Hermetically sealed, dengan lapisan
kedap pada tabung konservator.
Hermetically sealed, dengan bantalan
gas Nitrogen.
Air sealed.

CORE Inti Trafo
Bahannya : BAJA SILICON

Bentuknya : Lembaran Sheet

Asal : Jepang
C O R E
Elektrik
Pemotongan Core & Penyusunan Core
Coil - KAWAT
Bahannya :
TEMBAGA Cu
Aluminium Al

Bentuknya :
Bulat Round
Persegi Rectangular
Lembaran Sheet

Asal : Lokal, Jerman, Taiwan
Insulation Material
TANKI BADAN TRAFO
Bahan :
Plat Baja , Besi Hitam
Plat Putih, SPCC
Besi Kanal, U Type atau
Flat H Type
Plat Putih : Khusus Radiator
Asal : Lokal / Impor
Pendingin
Trafo berdaya mampu besar kVA/MVA
Coilnya panas akibat energi yang
Pindahkan secara elektro magnit.

Pendinginnya : Minyak
Harus mempunyai sifat ;
1. Isolasi tidak korsluiting
2. Encer mendekati air
3. Berumur Panjang, tidak melarutkan
bahan Trafo.


Oli transformator
Berfungsi sebagai pendingin dan isolasi
Type : Mineral Oil
Spec : Comply with IEC 296 class I
Electrical breakdown: >50 kV/2.5 mm
Minimum standard : 30 kV/2.5 mm
Insulation : Class A (105 Deg C)
STANDARD DI INDONESIA :
KELAS A : FLASH POINT = 105 DEG. CELCIUS
Kenaikan temperatur akibat beban dengan
ruang/cuaca max . 40 deg. Celcius maka :
temperatur
Kelas A = 105 deg.C
Faktor keamanan = 5 deg.C
Temp. Ruang = 40 deg.C
Kenaikan temperatur = 60 deg.C

Penunjukan thermometer dapat disimpulkan.
85 deg.C ~ 100 deg.C
Bahan - bahan Isolasi
( Insulation Materials )
Kelas A : 105 deg. C
Presphan - Transformer board - Leatheroid - Kraft paper
Kelas E : 120 deg. C
Cellisol - Mylarcellite

Kelas B : 130 deg. C
Polyester Film and non wovens - Semiconductive

Kelas F : 155 deg. C
Tercron 100 % saturated - Thermex - Tedlar

Kelas H : 180 deg. C
Nokamex - Nomex - Kapton - Teflon - Epoxy -Silicon
TRANSFORMER

INSULATION RESISTANCE TEST

APPLIED POTENTIAL TEST

INDUCED POTENTIAL TEST

WINDING RESISTANCE
TEST

% Z DROP AND LOAD LOSS
TEST

NO LOAD CURRENT AND
LOSS TEST

VOLTAGE RATIO TEST

FINISH

POLARITY AND VECTOR
GROUP TEST





















FLOW OF TEST TRANSFORMER



36
Tujuan dilakukan test ini adalah untuk mengetahui nilai
resistansi dari isolasi trafo dalam megaohm.
Dengan melakukan pengukuran resistansi ini, maka dapat
diketahui integritas isolasi trafo.

Pengetesan ini dilakukan dengan cara mengaplikasikan
tegangan DC pada setiap winding ke winding yang lain dan ke
ground selama masing-masing 1 menit.

* Primary winding ke earth
* Secondary winding ke earth
* Primary winding ke secondary winding

INSULATION RESISTANCE TEST (MEGGER)
L-L Voltage
Class (kV)

M
1.2

32

2.5 68

5

135

8.66

230

15

410

25

670

34.5

930

Standard minimal nilai meger di oil
Alat yang digunakan: 1000 V - 2000Mohm
38
Pengujian Isolasi antara winding yang di uji dan winding yang
lain lain serta ground. test voltage di terapkan pada setiap
selama 60 second dengan 50 c/s frequency

acceptance kriterianya adalah Transformer harus tahan 60
second tanpa collapse voltage and current injection

APPLIED POTENTIAL TEST
Rated withstand voltage
Highest Voltage Um < 300 kV
IEC STANDARD ANSI STANDARD
Insulation Class Basic Impuls
Level (BIL)
Applied Voltage Insulation Class Basic Impuls
Level (BIL)
Applied Voltage
(kV) (kV) (kV) (kV) (kV) (kV)
1.1 - - 3 1.2 45 10
3.6 20 40 10 2.5 60 15
7.2 40 60 20 5 75 19
12 60 75 28 8.7 95 26
17.5 75 95 38 15 110 34
24 95 125 50 18 125 40
36 145 170 70 25 150 50
52 250 95 34.5 200 70
72.5 325 140 46 250 95
60 300 120
69 350 140
92 450 185
40
INDUCED POTENTIAL TEST
Penerapan tegangan uji pada terminal winding
tegangan rendah dengan high frequency generator
untuk menghindari excessive excitation current.
Voltage yang di terapkan dua kali rated voltage
dengan waktu uji (T)



Transformer selama test dengan dua kali voltage
selama 18 detik tidak collapse voltage and current
injection
42
Tujuan dilakukannya tes ini adalah untuk mengetahui nilai
resistansi belitan dari primary winding dan secondary winding.
Pengetesan ini dilakukan dengan cara mengaplikasikan arus
pada primary winding atau secondary winding, sehingga
diperoleh nilai resistansi belitan trafo dengan metode bridge
atau drop tegangan

acceptance kriterianya adalah nilai dari masing-masing
resistansi antar phasanya masih masuk dalam toleransi 3%
dari rata-ratanya.
WINDING RESISTANCE TEST
43
Pengukuran impedance voltage dan load loss pada rated
frequency and dengan menerapkan rated current di principal
tap ke winding tegangan tinggi dengan low voltage winding
short-circuited. Nilai hasil test di koreksi ke reference
temperature 75C

acceptance kriterianya adalah hasil uji Load Losses (W) dan
Impedance voltage (%) harus sesuai dengan specification dan
standard tolerance
SHORT CIRCUIT IMPEDANCE (PRINCIPAL
TAPPING) AND LOAD LOSS TEST
TOLERANSI
Oleh karena perbedaan - perbedaan dari bahan dasar dan
variasi pada pembuatan tidak dapat dihindarkan, seperti
halnya kesalahan pengukuran/pembacaan, maka nilai yang
diperoleh pada pengujian mungkin berbeda dari nilai
perhitungannya; oleh karena itu diperlukan toleransi pada
nilai garansinya.
Suatu Trafo dapat dikatakan memenuhi standar
( IEC 60076-1 ) ,
bilamana besaran yang diberi toleransi, nilainya
tidak melebihi toleransi sebagai disebut pada tabel
ini.
Toleransi Rugi - Rugi Trafo
RUGI - RUGI (LOSSES),
NO LOAD LOSSES &
LOAD LOSSES.
+ 10 % RUGI TOTAL
(NO LOAD + LOAD).

+ 15 % PADA
MASING-MASING
RUGI-RUGI,
ASALKAN
TOLERANSI RUGI
TOTAL TIDAK
DILAMPAUI.
COPPER LOSSES
daya aktif diserap pada rated frekuensi dan
suhu referensi ketika rated arus mengalir
melalui salah satu winding terminal, sementara
winding lain hubung singkat.

kalkulasi Copper Losses dapat
disederhanakan :
PL = I x R, where :
I = rated current (A)
R = Resistance (Ohm)




Toleransi Impedansi
Impedansi pada tegangan pengenal sadapan utama,
biasanya pada sadapan tengah.

+ 10 % dari Impedansi yang digaransi nilainya. Untuk
tegangan lainnya akan mengikuti dan tidak boleh
melebihi + 15 %.
Efek Impedansi Tidak sama
JIKA Z% TIDAK SAMA MAKA PEMBEBANAN
TRAFO TIDAK SAMA

Impedansi terkecil menanggung beban besar

Kesimpulan : Z kecil lebih cepat rusak
pada feeder yang sama
49
Test ini dilakukan pada rated frequency dan rated voltage
diterapkan pada terminal winding low voltage dan high voltage
winding terminal open circuit

acceptance kriterianya adalah hasil uji No Load Losses (W)
and Exciting Current (%) harus memenuhi specifikasi dan
standard tolerance
NO LOAD LOSS AND NO LOAD CURRENT
TEST
CORE LOSSES

losses yang timbul pada inti trafo

Wfe (core losses) dapat di hitung sebagai
berikut :
d x e, where :
d = watt/Kg (based on core material)
e = weight of core (Kg)



RUMUS - RUMUS TRAFO
1. Arus Short Circuit
Isc = In/ (Z %) x 100

Dengan :
Isc : Arus Short Circuit
In : Arus nominal
Z % : Impedance dalam %



Inrush Current
Pada saat tegangan tinggi trafo masuk ke jaringan
(switch on) maka dalam waktu 1 detik arus yang sangat
besar akan timbul dan menurun secara exponensial
sampai nilai exciting currentnya (I
0
), kejadian ini disebuat
inrush current.
Inrush current tidak bisa dihindarkan waktu
pengoperasian trafo namun bisa ditangani dengan
mensetting relay dan time delaynya.
INRUSH CURRENT
The basic formula for inrush current is


Icoil =

Irms =


Ratio =

I inrush = Ratio x In
Duration of peak = 0.2 second and Duration
until steady state = 1 second
Where :
Imax : Peak value of inrush current in the most
unfavourable condition (ampere)
L : Height of HV coil (m)
N1 : Principle turn of HV coil
A1 : Cross section area of HV coil (m
2
)
Afe : Cross section area of core leg (m
2
)
Bm : Max flux density of the core (tesla)
Br : Remanent density of the core (tesla) = 0.9 x
Bm

o
: 4 x x 10
-7
= 1.256 x 10
-6



INRUSH CURRENT CURVE
Maintenance Transformator
Tujuan
Menjaga trafo tetap bekerja sesuai performansi dan
tindakan preventive maintenance.
Melakukan record yang diperlukan untuk tindakan
pencegahan dan keefektifan bekerjanya trafo.
Pengecekan berkala tiap tahun/annual maintenance.
Deteksi dini bila ada kerusakan trafo.
Mengoptimalkan umur trafo yang dipengaruhi oleh
umur isolasi kertas.
Metode Maintenance
Preventive Maintenance
Predictive Maintenance


Metode Maintenance
Pemeriksaan Berkala 1 Tahun
- Memeriksa sambungan ulir, baut
- Memeriksa keadaan minyak trafo apakah penuh atau sudah
berkurang dilihat dari indicator DGPT/DMCR.
- Memeriksa sambungan kabel/konduktor pada terminal bushing
dan pengetanahan.
- Membersihkan isolator terminal plug in bushing dan LV
bushing, DMCR, dengan kain kering. Jika basah dipakai
alkohol.
- Pembersihan radiator dengan udara bertekanan
- Pengecatan bagian yang berkarat terutama radiator
- Memeriksa kontak point relay DMCR apakah berfungsi dengan
baik.
Metode Maintenance
Pemeriksaan Berkala 4 Tahun
- Melakukan pemeriksaan tahunan tersebut diatas
- Memeriksa keadaan kualitas minyak trafo (test BDV oli)
- Melakukan pembersihan tahunan seperti diatas
Bila kualitas minyak telah dibawah standard <30 kV/2.5 mm
maka minyak harus di filter/ganti baru.
Setiap penanganan trafo harus dilakukan oleh personnel yang
berpengalaman.
Mengutamakan keselamatan kerja.
Memastikan trafo telah diketanahkan saat pekerjaan
maintenance dilakukan



Alat Kerja Maintenance
Tightening Torque
Megger/Insulation Tester
BDV Oil
Thermal Cam Infrared
Megger/Insulation Resistance
Adalah test tahanan isolasi antara HV-LV ; HV-G ; LV-G
Nilai minimum :
400 V : 32 MOhm
6 kV : 150 MOhm
24 kV : 670 MOhm
Note: Megger hanya mengetahui apakah short antar
kumparan dengan ground, bukan mengetahui insulation
antar belitan dalam winding.
Breakdown Voltage Oil (BDV)
Mengetahui tegangan tembus oli trafo.
Standard minimum (terlepas dari berapa
tegangan kerja trafo) adalah 30 kV/2.5 mm
Bila nilai BDV dibawah standard
disarankan untuk difilter.
Predictive Maintenance
DGA test
Power factor/Tangen Delta test
Furanic Test (power trafo)
Degree of Polimerization (DP) power
trafo
DGA
Dissolved Gas Analysis
Mengetahui kadar zat terlarut dalam oli yaitu:
H2, C2H2, C2H4
Kadar zat terlarut ini menandakan apakah terjadi gassing karena
penuaan isolasi, partial discharge, flash over

Maintenance Transformator
I. PENGECEKAN / ANALISA KONDISI TRAFO :

Pengecekan yang dimaksudkan adalah pengecekan kondisi awal
trafo (terutama Elektrik / Winding) melalui analisa oli pada
trafo tersebut.
Hal ini perlu dilakukan setiap 1 s/d 3 tahun .

Ada beberapa tempat / lokasi untuk pengambilan sample oli
tersebut (tergantung type dari trafo tersebut) yaitu :
1. Main Tank bagian bawah
2. Main Tank bagian atas
3. OLTC
4. Conservator


Tempat untuk pengambilan sample harus bersih, kering dan
berwarna
gelap atau setelah pengambilan sample, tempat tersebut
dibungkus
dengan pembungkus yang tidak tembus cahaya (matahari).

Pada saat pengambilan tidak boleh ada gelembung udara yang
ikut
masuk dan oli harus penuh sehingga tidak ada udara didalam
tempat
sample tersebut.

Setelah pengambilan sample harus segera dilakukan
pengetesan jangan menunggu sampai beberapa hari, hal ini
akan menyebabkan hasil pengetesan kurang sesuai dengan
kondisi sebenarnya pada trafo tersebut.

Maintenance Transformator
Pengecekan / Pengetesan terhadap oli dibagi menjadi 2 tahap
yaitu :


Pengecekan Kualitas / chemical oli adalah untuk menentukan apakah oli
tersebut masih dapat digunakan tanpa treatment atau harus di-treatment atau
harus diganti baru.
Pengecekan tersebut meliputi :
a- Dielektrik Strength / Tegangan Tembus Oli
b- Particles
c- Water content
d- Oil Oxidation
Bila hasil diatas (a,b,c,d) menunjukkan jelek, maka oli tersebut harus di Treatment
e- Colour
f- Acidity
g- Interfacial Strength
h- Tangent Delta
Bila hasil diatas (e,f,g,h) menunjukkan jelek, maka oli tersebut harus diganti baru


Maintenance Transformator

Pengecekan Kandungan Gas yang terjadi : Adalah untuk mengetahui kondisi
dari Part Aktif trafo tersebut berdasarkan kenaikan Gas yang terjadi di dalam
Oli.


Analisa oli untuk kandungan Gas sesuai dengan Standard IEC 567 dan untuk
menentukan kondisi trafo tersebut sesuai dengan hasil Gas yang terjadi dapat
dilihat pada IEC 599 dan IEEE Std C57.104 1991.
Uraian Gas yang diperlukan untuk menentukan kondisi dari Trafo :

1. Hydrogen ( H2 )
2. Methane (CH4 )
3. Carbon Monoxide ( CO )
4. Acetylene ( C2H2 )
5. Ethylene ( C2H4 )
6. Ethane ( C2H6 )
Total kandungan Gas diatas atau disebut TDCG (Total Dissolved Combustible
Gas) untuk kondisi trafo yang masih dinyatakan normal adalah < 720 ppm,
namun perlu dipertimbangkan juga prosentase dari gas tersebut diatas.

Maintenance Transformator
Untuk mengetahui kondisi trafo berdasarkan hasil analisa kandungan Gas,
dapat dilihat pada table berikut :
TABEL 1
Dissolved Gas Concentrations
IEEE STANDARD C57. 104 1991
(Revision of IEEE C57. 104 1978)


Dissolved Key Gas Concentration Limits (ppm*)





Status


H2


CH4


C2H2


C2H4


C2H6


CO


CO2


TDCG



Condition 1


100


120


35


50


65


350


2500


720



Condition 2


101 700


121 400


36 - 50


51 100


66 - 100


351 - 570


2500 -
4000


721 1920



Condition 3


701
1800


401 -
1000


51 - 80


101 200


101 - 150


571 -
1400


4001-
10000


1921
4630



Condition 4


> 1800


>1000


> 80


> 200


> 150


> 1400


> 10000


> 4630

Maintenance Transformator
TABEL 2
GAS RATIO METHOD
Code for examining analysis of gas dissolved in mineral oil
IEC STANDARD 599 1978






Code of range of
ratios









C2H2



C2H4







C2H4

CH4/H2

C2H6





Ratios of characteristic gases











< 0.1

0

1

0





0.1 1

1

0

0





1 3

1

2

1





> 3

2

2

2



Case
No.

Characteristic fault







Typical examples

0


No. fault


0


0


0



Normal ageing


1

Partial discharges of low energy
density
0
but not
significa
nt


1


0

Discharges in gas-filled cavities resulting
from incomplete impregnation or super
saturation or cavitations or high humidity


2

Partial discharges of high
energy

1


1


0

As above, but leading to tracking or
perforation of solid insulation


3

Discharges of low energy
(see note 1)

1 - 2


0


1 - 2

Continuous sparking in oil between bad
connections of different potential or to
floating potential. Breakdown of oil between
solid materials.

Maintenance Transformator
TABEL 2
GAS RATIO METHOD
Code for examining analysis of gas dissolved in mineral oil
IEC STANDARD 599 1978

4


Discharges of high energy


1


0


2


Discharge with power follow-through.
Arching-breakdown of oil between
winding or coils or between coil to
earth.
Selector breaking current.

5


Thermal fault of low
temperature < 150 C (see
note 2)

0


0


1


General insulated conductor
overheating


6


Thermal fault of low
temperature range 150 300
C (see note 3)


0


2


0


Local overheating of the core due to
concentrations of flux.
Increasing hot spot

7


Thermal fault of medium
tempe- rature range 300 700
C

0


2


1


temperatures; varying from small hot
spots in core, shorting links in core,
overheating of copper due to eddy
currents, bad contact /

8


Thermal fault of high
temperatu- re > 700 C (see
note 4)

0


2


2


joints (pyrolitic carbon formation) up
to core and tank circulating current
Maintenance Transformator
TABEL 3

Suggested Diagnosis from Gas Ratios Rogers Ratio Method
CH4 C2H6 C2H4 C2H2


H2

CH4

C2H6

C2H4 Suggested Diagnosis
> 0.1 - < 1.0

< 1.0

< 1.0 < 0.5 Normal
0.1

< 1.0

< 1.0 < 0.5

Partial Discharge Corona
0.1

< 1.0

< 1.0 0.5 - < 3.0
or 3.0

Partial Discharge Corona
With tracking
> 0.1 - < 1.0

< 1.0

3.0 3.0 Continuous discharge
> 0.1 - < 1.0

< 1.0

1.0 - < 3.0
or 3.0

0.5 - < 3.0
or 3.0

Arc With power follow through
> 0.1 - < 1.0

< 1.0

< 1.0

0.5 - < 3.0

Arc No power follow through
1.0 - < 3.0
or 3.0

< 1.0

< 1.0

< 0.5

Slight overheating to 150 C
1.0 - < 3.0
or 3.0

1.0

< 1.0

< 0.5

Overheating 150 - 200 C
> 0.1 - < 1.0

1.0

< 1.0

< 0.5

Overheating 200 - 300 C
> 0.1 - < 1.0

< 1.0

1.0 - < 3.0

< 0.5

General conductor overheating
1.0 - < 3.0

< 1.0

1.0 - < 3.0

< 0.5

Circulating currents in winding
1.0 - < 3.0


< 1.0

3.0

< 0.5

Circulating currents core and tank;
Overloaded joints
Maintenance Transformator
TABEL 4

Dissolved Gases (Gas Extracted from Oil)
Domenberg Method
CH4
H2

C2H2
C2H4
C2H6
C2H2

C2H2
CH4

Fault Type
> 1.0

< 0.75

> 0.4

< 0.3

Thermal decomposition
( hot spots )

> 0.1 - < 1.0

> 0.75

< 0.4

> 0.3

Electrical discharge
( except corona )

< 0.1

Not
significant

> 0.4

< 0.3

Corona

Maintenance Transformator
TABEL 5

Maintenance Transformator
Power Factor test
Mengetahui kondisi isolasi trafo
Harus di cek rutin karena menggunakan
metode perbandingan
Bila nilai makin besar, menandakan
kondisi insulasi yang menurun
Maintenance Transformator
Furanic Test
Mengetahui kondisi isolasi yang telah bereaksi dengan
oli yang tidak dilengkapi sample paper
Kadar selulosa isolasi: kertas, pressboard, cotton band
yaitu:
- 2 furaldehide
- 2 acetilfuran
- 5 metyl-furaldehide

Maintenance Transformator
DP test
Mengetahui kondisi isolasi yang telah
bereaksi dengan oli yang dilengkapi
sample paper
Nilai DP akan semakin turun karena trafo
beroperasi
Standard minimum 950

Maintenance Transformator
CORNER GROUNDED DELTA SYSTEM
1
2
Advantage :
- Stabilize voltage of the ungrounded phase to
ground
- Reduce the generation of the transient over
voltages
- Provide a methode for protecting electrical
distribution system when used in combination
with equipment grounding.


- Ref: IEEE142, 2007, grounding
Disadvantages :
- The system is unable to supply dual voltage
service for lighting and power load.
- It requires a positive identification of the
grounded phase throughout the system.
- Fault switching (opening) is much more severe
for the clearing device and rating may be
greathly reduces.


- Ref: IEEE142, 2007, grounding


Terima kasih