Anda di halaman 1dari 22

1

IDENTIFIKASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Pasien Suami
Nama : Ny. H Tn. E
Umur : 19 th 28 th
Pendidikan : SD SD
Pekerjaan : IRT Pegawai
Agama : Islam Islam
Suku : Sunda Sunda
Alamat : Bayongbong Bayongbong
Nomor CM : 01352904
Masuk RS : 4 Desember 2010
Keluar RS : 8 Desember 2010
Jam masuk RS : 15.00 WIB
Ruangan : Jade

II. ANAMNESIS (SUBYEKTIF)
A. Keluhan utama :
Mules-mules
B. Anamnesa khusus :
G1P0A0 Merasa hamil 9 bulan. Datang dengan keluhan mules-mules sejak 1
hari SMRS. Mules-mules dirasakan semakin sering dan bertambah kuat sejak
10 jam SMRS. Riwayat keluar darah campur lendir dari jalan lahir diakui.
Gerakan janin masih dirasakan ibu.
C. Riwayat Obstetri
Hamil saat ini.
D. Riwayat Perkawinan :
Status : Menikah untuk pertama kali
Usia saat menikah : Perempuan : 19 tahun, SD, IRT
Laki-laki : 28 tahun, SD, Pegawai


2

E. Haid
Siklus haid : teratur
Lama haid : 7 hari
Banyaknya darah : biasa
Nyeri haid : (+)
Menarche usia : 17 tahun
H.P.H.T : 1 Maret 2010
F. Riwayat kontrasepsi
Tidak pernah
G. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
III. PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Suhu : 36,5 C
Pernafasan : 24 x/menit
Kepala : Konjungtiva anemis : -/-
Sklera ikterik : -/-
Cor : Bunyi Jantung I II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo : VBS kanan = kiri, Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Abdomen : Datar, lembut
Hepar dan lien : Sulit dinilai
Ekstremitas : Edema -/- ; Varises -/-

STATUS OBSTETRIK
Pemeriksaan luar:
Tinggi Fundus Uteri / Lingkar Perut : 28 cm /89 cm
Letak Anak : kepala
His : 2-3 x/10 menit, lama 15 detik
Djj : 138 x/menit reguler
Pemeriksaan dalam:

3

v/v : t.a.k
Portio : tipis lunak
Pembukaan : 8-9 cm
Ketuban : (-)
Bag. Terendah : kepala
DIAGNOSIS (ASSESMENT) :
G1P0A0 parturien aterm kala 1 fase aktif
RENCANA PENGELOLAAN:
Rencana partus per vaginam
Observasi KU, tanda vital, His, BJA












FOLLOW UP DOKTER
Tanggal/
Jam
CATATAN INSTRUKSI

06/10/10



S = Sulit buang air kecil
O = KU : Compos Mentis
- T : 100/70 mmHg
- N : 80 /menit
- R : 24 /menit
- S : Afebris
ASI : +/+

P =
- Urotractin 3x1 tab
- Gastrul 3x1 tab
- Metilcobalt 2x1 tab
- Bladder training pasang
kateter tiap 24 jam

4

Tanggal/
Jam
CATATAN INSTRUKSI
Abdomen : datar, lembut
TFU : 2 jari di bawah pusat
NT (-), DM (-)
PS/PP : -/-
Kontraksi : baik
Lochia : rubra
BAK/BAB: DC/+
A = P
2
A
1
post partum + retensi urin

07/10/10















07/10/10
11.00

S = Tidak ada keluhan
O = KU : Compos Mentis
- T : 110/80 mmHg
- N : 80 /menit
- R : 20 /menit
- S : Afebris
ASI : +/+
Abdomen : datar, lembut
TFU : 2 jari di bawah pusat
NT (-), DM (-)
PS/PP : -/-
Kontraksi : baik
Lochia : rubra
BAK/BAB: DC/-
A = P
2
A
1
post partum + retensi urin

Cek residu urin: 400 cc pasang
kateter lagi.


P =
- Urotractin 3x1 tab
- Gastrul 3x1 tab
- Metilcobalt 2x1 tab
- Cek residu urin


08/10/10

S = Tidak ada keluhan
O = KU : Compos Mentis

P =
- Urotractin 3x1 tab

5

Tanggal/
Jam
CATATAN INSTRUKSI
- T : 120/80 mmHg
- N : 88 /menit
- R : 20 /menit
- S : Afebris
ASI : +/+
Abdomen : datar, lembut
TFU : 2 jari di bawah pusat
NT (-), DM (-)
PS/PP : -/-
Kontraksi : baik
Lochia : rubra
BAK/BAB: DC/-
A = P
2
A
1
post partum + retensi urin

- Gastrul 3x1 tab
- Metilcobalt 2x1 tab
- Buka tutup 2x24 jam

09/10/10 S = Tidak ada keluhan
O = KU : Compos Mentis
- T : 120/80 mmHg
- N : 92 /menit
- R : 20 /menit
- S : Afebris
ASI : +/+
Abdomen : datar, lembut
TFU : 2 jari di bawah pusat
NT (-), DM (-)
PS/PP : -/-
Kontraksi : baik
Lochia : rubra
BAK/BAB: DC/+
A = P
2
A
1
post partum + retensi urin

P =
- Urotractin 3x1 tab
- Gastrul 3x1 tab
- Metilcobalt 2x1 tab
- Cek residu urin, bila > 200
cc bladder training

10/10/10 S = Tidak ada keluhan P =

6

Tanggal/
Jam
CATATAN INSTRUKSI
O = KU : Compos Mentis
- T : 120/80 mmHg
- N : 88 /menit
- R : 20 /menit
- S : Afebris
ASI : +/+
Abdomen : datar, lembut
TFU : 2 jari di bawah pusat
NT (-), DM (-)
PS/PP : -/-
Kontraksi : baik
Lochia : rubra
BAK/BAB: +/-
Urin residu: < 100 cc
A = P
2
A
1
post partum + retensi urin

- Urotractin 3x1 tab
- Gastrul 3x1 tab
- Metilcobalt 2x1 tab
- Cek residu urin, bila < 200
cc BLPL








PEMBAHASAN KASUS
PERMASALAHAN
1. Apakah diagnosa pasien pada kasus ini sudah benar ?
2. Apakah prosedur penanganan pada pasien ini saat di Rumah Sakit sudah tepat?
3. Apa saja faktor predisposisi pada retensi urin dan faktor predisposisi apa yang
mungkin terjadi pada pasien ini?
4. Bagaimana prognosis pada pasien ini?

PEMBAHASAN

7

1. Apakah diagnosa pasien pada kasus ini sudah benar ?
P
2
A
1
Post Partum + retensi urin
Ibu telah melahirkan anak yang kedua 3 hari SMRS, sebelumnya pernah
melahirkan satu kali, dan pernah keguguran kali.
Retensi urin:
Retensi urin menurut Stanton adalah ketidakmampuan berkemih selama 24 jam
yang membutuhkan pertolongan kateter, karena tidak dapat mengeluarkan urin
lebih dari 50% kapasitas kandung kemih. Pada ibu melahirkan, aktivitas
berkemih seyogyanya telah dapat dilakukan enam jam setelah melahirkan
(partus). Namun apabila setelah enam jam tidak dapat berkemih, maka
dikatakan sebagai retensi urin postpartum.
Retensi urin dibagi menjadi 2:
1. Retensi urin akut, jika proses berlangsung < 24 jam.
2. Retensi urin kronik, jika proses berlangsung > 24 jam.
Diagnosis retensio urin dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis di mana
didapatkan adanya massa sekitar daerah pelvik dengan perkusi yang pekak.
Biasanya vesica urinaria dapat teraba transabdominal jika isinya berkisar antara
150-300 ml dan dengan pemeriksaan bimanual dapat meraba vesica urinaria
bila terisi lebih dari 200 ml. Tanda dan gejalanya:
1. Diawali dengan urine mengalir lambat,
2. Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena
pengosongan kandung kemih tidak efisien,
3. Kencing tidak lampias / pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna,
4. Kandung kemih terasa penuh,
5. Distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih,
6. Mengedan saat berkemih,
7. Nokturia,
8. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK,
9. Pada retensi berat bisa mencapai 2000-3000 cc.
Pada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan
neurologik, jumlah urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan
urinalisis dan kultur urine, pengukuran volume residu urine, sangat dibutuhkan.

8

Fungsi berkemih juga harus diperiksa, dalam hal ini dapat digunakan
uroflowmetry, pemeriksaan tekanan saat berkemih, atau dengan voiding
cystourethrography.
Dikatakan normal jika volume residu urine adalah kurang atau sama dengan
50ml, sehingga jika volume residu urine lebih dari 200ml dapat dikatakan
abnormal dan biasa disebut retensi urine.
Pada pasien ini didiagnosa dengan Retensi urin karena:
Prosesnya berlangsung >24 jam.
Pada anamnesa kita lihat beberapa tanda retensi urin, antara lain:
- kencing tidak lampias
- pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna
- frekuensi BAK lebih sering terjadi
- kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK
Sehingga diagnosis pada pasien ini telah sesuai.

2. Apakah prosedur penanganan pada pasien ini saat dirumah sakit sudah tepat?
Pasien dengan retensio urin postpartum penatalaksanaannya dibagi menurut volume
urin yang retensi saat penderita masuk rumah sakit, yaitu di bawah 500 ml, antara 500-
1.000 ml, 1.000-2.000 ml dan lebih dari 2.000 ml.
Lama pemasangan kateterisasi menetap terbuka adalah 1 x 24 jam pada volume
urin 500-1.000 ml, 2x24 jam pada volume urin 1.000-2.000 ml dan 3x24 jam pada
volume urin lebih dari 2.000 ml dan dilakukan pemeriksaan urinalisis. Selama
pemasangan kateterisasi ini penderita minum banyak dengan kebutuhan cairan 2.500-
3.000 ml selama 24 jam dan disuruh mobilisasi. Selanjutnya dilakukan kateter buka
tutup tiap 6 jam atau jika ada perasaan ingin berkemih kateter dapat dibuka sebelum 6
jam. Apabila tidak dapat berkemih setelah 6 jam maka kateter harus dibuka. Proses
buka tutup kateter ini dilakukan selama 24 jam dan pasien disuruh minum biasa atau
bila haus. Selanjutnya pada hari berikutnya kateter dilepas, pasien diharapkan dapat
berkemih spontan dalam waktu 6 jam.
Bila tidak bisa berkemih spontan, pasien diukur volume urinnya dengan bantuan
kateter. Bila pasien dapat berkemih spontan dan volume urin sisa kurang dari 150 ml
dengan bantuan kateter pasca berkemih, pasien boleh pulang. Tetapi bila volume urin
lebih dari 150 ml dan kurang dari 500 ml maka perlu dilakukan kateterisasi intermiten

9

setiap 4 jam selama 24 jam dengan pasien disuruh minum biasa dan mobilisasi. Bila
volume urin sisa lebih dari 500 ml perlu dilakukan kateterisasi ulang menetap terbuka
sesuai dengan volume urin sisa dan dilakukan pemeriksaan sistouretroskopi. Selama
pemasangan kateter menetap terbuka pasien diberikan obat tramadol 3 x 50 mg,
Alinamin F 3 x 1 tab, asam pipemidinat 2 x 400 mg, minum banyak antara 2.500-3.000
cc dan mobilisasi. Pemberian antibiotika golongan siprofloksasin 3 x 500 mg
dilakukan bila hasil pemeriksaan urinalisis didapatkan leukosit lebih dari 4/lpb,
volume urin sisa lebih dari 500 ml dan atau hasil pemeriksaan sistouretroskopi
didapatkan gambaran infeksi kandung kemih. Selain obat-obat tersebut di atas, obat
yang dapat digunakan untuk mengatasi retensi urin adalah:
A. Jenis Penyekat Alfa
Cara Kerja:
1) Merelaksasi otot polos
2) Meningkatkan urinary flow rate pada obstruksi akibat spasme
Efek samping:
Sedasi, dizziness, hipotensi postural, depresi, nyeri kepala, mulut kering, mual,
takikardi dan palpitasi.
Obat yang dipakai:
Alfuzozin HCl 2,5 mg/tbl
Dosis 2,5 mg tiga kali sehari dengan max l0 mg/hari
Indoramin 20 mg/tbl
Dosis 20 mg dua kali sehari, dapat ditingkatkan setiap 2 minggu 1 tbl.
Sampai 100 mg/hari.
Prazosin HCl (Minipress 1 mg/2 mg/tbl)
Dosis 0,5 mg dua kali sehari dapat ditingkatkan setiap 3-7 hari sampai
max 2x2 mg.
Terazosin HCl (Hytrin 1 mg/2 mg/tbl)
Dosis awal 1 mg saat tidur dapat ditingkatkan 1 mg setiap minggu
sampai max l0 mg/hari dosis tunggal. Jika pasien mengeluh pusing,
suruh tetap tidur sampai pusingnya hilang.
B. Jenis Para Simpatomimetik
Cara kerja:
1) Meningkatkan efek muskarinik

10

2) Meningkatkan aktivitas m. detrusor
Pada keadaan tidak ada obstruksi jalan keluar kandung kemih, peranannya
untuk mengatasi retensio urine terbatas.
Efek samping : Keringat, bradikardi, kolik intestinal
Obat yang dipakai:
a. Carbachol 2 mg/tbl
b. Bethanechol chloride Urecholin l0mg/tbl)
Dosis 3-4 x 10-25mg _ jam sebelum makan
c. Distigmine bromide 5 mg/tbl
Dosis 5 mg/hari atau 2 hari _ jam sebelum makan

Pada pasien kasus ini, saat pasien datang pertama kali dilakukan pemasangan kateter
pada 24 jam pertama, kemudian dilanjutkan dengan:
Observasi KU, TNRS, Input-Output
Urotractin 3x1 tab
Gastrul 3x1 tab
Metilcobalt 2x1 tab
Cek residu urin pada pasien dilakukan pada hari ke 2.
Penanganan pada pasien kasus ini kurang tepat. Seharusnya saat pertama kali
pasien dengan retensi urin masuk rumah sakit, pengecekan residu urin harus dilakukan
untuk menentukan tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan.



Asam pipemidinat
Asam pipemidinat: urixin, pipram, impresial, urotractin.
Asam pipemidinat merupakan suatu antibakteri. Derivat-piperizanil dari nalidiksat ini
memiliki spektrum kerja lebih luas, yang juga meliputi pseudomonas. Efek bakterisidnya
terhadap kuman yang sedang membelah adalah 2x lebih kuat. Eksresinya oleh ginjal
demikian cepat sehingga kadarnya dalam darah rendah sedangkan dalam kemih relatif
tinggi. Oleh karna itu, asam pipemidinat khususnya digunakan pula pada ISK tanpa
komplikasi.


11

Misoprostol
Misoprostol adalah suatu analog prostaglandin El sintetik yang menghambat sekresi asam
lambung dan menaikkan proteksi mukosa lambung, bersifat uterotonik dan diindikasikan
untuk pencegahan NSAID. Karena misoprostol mengandung suatu analog prostaglandin,
maka penggunaan misoprostol baik digunakan untuk memperbaiki kontraksi otot polos.
Uterotonik adalah zat yang meningkatkan kontraksi uterus. Pemberian uterotonika selain
akan membuat involusi uterus baik, juga akan diikuti dengan kontraksi kandung kemih.
Uterotonik banyak digunakan untuk induksi, penguatan persalinan, pencegahan serta
penanganan perdarahan post partum, pengendapan perdarahan akibat abortus
inkompletikus dan penanganan aktif pada Kala III persalinan. Misoprostol
dikontraindikasikan pada kehamilan karena resiko aborsi.

Metilcobalt
Vitamin B12 merupakan bagian vitamin B kompleks yang mempunyai berat molekul
paling besar, merupakan vitamin yang paling kompleks dibandingkan dengan vitamin lain.
Salah satu bentuk aktif vitamin B12 adalah metilkobalamin. Vitamin B12 mempunyai efek
anti nyeri; studi pada hewan coba menunjukkan suplementasi vitamin B12 mempunyai
efek antinosiseptif. Metaanalisis menunjukkan vitamin B12 atau bentuk aktif
(metilkobalamin) mampu memperbaiki keluhan-keluhan somatik nyeri dan parestesi, serta
mampu memperbaiki gejala-gejala otonom. Efek perbaikan pada suplementasi vitamin B12
atau methylcobalamine ini lebih baik daripada hasil tindakan elektrofisiologis.


3. Apa saja faktor predisposisi pada retensi urin dan faktor predisposisi apa saja
yang mungkin terjadi pada pasien ini?
Faktor predisposisi retensi urin:
a) Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinallis,
Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya,
misalnya: pada operasi miles dan mesenterasi pelvis, kelainan medulla spinalis,
misalnya meningokel, tabes doraslis, atau spasmus sfinkter yang ditandai
dengan rasa sakit yang hebat.
b) Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada
pasien DM atau penyakit neurologist, divertikel yang besar.

12

c) Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan leher vesika, striktur, batu
kecil, tumor pada leher vesika, atau fimosis.
d) Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran porstat, kelainan patologi
urethra (infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi neurogenik kandung
kemih.
e) Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine),
preparat antidepressant antipsikotik (Fenotiazin), preparat antihistamin
(Pseudoefedrin hidroklorida=Sudafed), preparat penyekat adrenergic
(Propanolol), preparat antihipertensi (hidralasin).
f) Efek dari epidural anasthesia, trauma intrapartum, refleks kejang sfingter uretra,
hipotonia selama hamil dan nifas, peradangan, psikogenik, dan umur yang tua.

Faktor predisposisi yang mungkin terjadi pada pasien ini:
- Trauma intrapartum,
- Peradangan,
- Kelemahan otot detrusor karena lama teregang,
- Hipotonia selama hamil dan nifas.

4. Bagaimana prognosis pasien ini?
Selama kehamilan, saluran kemih mengalami perubahan morfologi dan fisiologi.
Perubahan fisiologis pada kandung kemih yang terjadi saat kehamilan berlangsung
merupakan predisposisi terjadinya retensi urine satu jam pertama sampai beberapa hari
post partum. Perubahan ini juga dapat memberikan gejala dan kondisi patologis yang
mungkin memberikan dampak pada perkembangan fetus dan ibu. Apabila tidak segera
ditangani dapat menyebabkan sistitis, uremi, sepsis, bahkan ruptur spontan vesika urinaria.
Menurut kepustakaan, persalinan lama sering menyebabkan perlukaan pada uretra
dan vesica urinaria. Terjadinya perlukaan ini disebabkan penekanan yang cukup berat dan
berlangsung lama oleh kepala bayi saat memasuki panggul. Selain perlukaan, penekanan
yang lama mengakibatkan terjadinya edema pada leher vesica urinaria karena ekstravasasi
darah ke dalam dinding mukosa kandung kemih, yang berakibat menyumbat osteum uretra
internum. Risiko ini diperkirakan menjadi semakin besar bila dihubungkan dengan
persalinan tidak spontan, primigravida, trauma jalan lahir dan perineum serta persalinan
yang lama.

13

Pada pasien ini, risiko yang memperberat yaitu:
- persalinan tidak spontan (dengan tindakan ekstraksi vacum),
- trauma jalan lahir dan perineum,
- persalinan yang lama.
Namun, setelah dilakukan penanganan di RSU selama 5 hari, didapatkan residu urin
pasien <100cc sehingga prognosis pada pasien ini dubia ad bonam.

















RETENSI URIN POST PARTUM

Pendahuluan
Retensio urin merupakan salah satu komplikasi yang bisa terjadi pada kasus obstetri.
Kejadian retensio urin postpartum tercatat berkisar antara 1,7 - 17,9%. Hal ini sepertinya
disebabkan tidak akuatnya dan bervariasinya definisi dan perbedaan dalam kriteria
diagnostik. Peningkatan sectio cesarea untuk persalinan yang sulit dan lama dalam
obstetrik modern mungkin telah menurunkan insidensinya. Patofisiologi dari retensio urin
postpartum sangat sedikit dimengerti. Elastisitas dari seluruh saluran kemih sepertinya

14

menjadi meningkat selama kehamilan, sebagian disebabkankarena efek hormonal yang
menurunkan tonus otot detrusor.
Dimulai pada bulan ketiga kehamilan, otot detrusor kehilangan tonusnya dan
kapasitas vesica urinaria meningkat perlahan-lahan. Sebagai akibatnya, wanita hamil
biasanya mulai merasa ingin berkemih ketika vesica urinaria berisi 250-400 cc urin.
Ketika wanita hamil berdiri, uterus yang membesar menekan vesica urinaria. Hal ini
menambah beban terhadap vesica urinaria dan dilaporkan peningkatan tekanan 2 kali lipat
di mulai pada usia kehamilan 38 minggu yang mengakibatkan pengurangan kapasitas
vesica urinaria pada saat ini, menghilang saat bayi telah dilahirkan. Tanpa berat dari uterus
saat kehamilan yang membatasi kapasitasnya, vesica urinaria postpartum cenderung
menjadi hipotonik. Perubahan ini dapat berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa
minggu.
Retensi postpartum paling sering terjadi. Setelah terjadi kelahiran pervaginam
spontan, disfungsi kandung kemih terjadi 9-14 % pasien; setelah kelahiran menggunakan
forcep, angka ini meningkat menjadi 38 %. Retensi ini biasanya terjadi akibat dari
dissinergis antara otot detrusor-sphincter dengan relaksasi uretra yang tidak sempurna yang
kemudian menyebabkan nyeri dan edema. Sebaliknya pasien yang tidak dapat
mengosongkan kandung kemihnya setelah sectio cesaria biasanya akibat dari tidak
berkontraksi dan kurang aktifnya otot detrusor.


Definisi
Retensi urin menurut Stanton adalah ketidakmampuan berkemih selama 24 jam yang
membutuhkan pertolongan kateter, karena tidak dapat mengeluarkan urin lebih dari 50%
kapasitas kandung kemih. Pada ibu melahirkan, aktivitas berkemih seyogyanya telah dapat
dilakukan enam jam setelah melahirkan (partus). Namun apabila setelah enam jam tidak
dapat berkemih, maka dikatakan sebagai retensi urin postpartum.
Retensi urin dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Retensi urin akut, jika proses berlangsung < 24 jam.
2. Retensi urin kronik, jika proses berlangsung > 24 jam.


15

Patofisiologi
Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan
urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara
normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin
dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem
saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan
resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis
dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari
leher kandung kemih dan proksimal uretra.
Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot
detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis
yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik.
Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung
ganglion dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf
dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama
fase pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan
dan timbul kontraksi otot detrusor.
Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot
uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk
merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine
dengan resistensi saluran yang minimal. Sehingga menyebabkan urine mengalir labat
kemudian terjadi poliuria karena pengosongan kandung kemih tidak efisien. Selanjutnya
terjadi distensi bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah
satunya berupa kateterisasi urethra.
Pada masa kehamilan terjadi peningkatan elastisitas pada saluran kemih, sebagian
disebabkan oleh efek hormon progesteron yang menurunkan tonus otot detrusor. Pada
bulan ketiga kehamilan, otot detrusor kehilangan tonusnya dan kapasitas vesika urinaria
meningkat perlahan-lahan. Akibatnya, wanita hamil biasanya merasa ingin berkemih
ketika vesika urinaria berisi 250-400 ml urin. Ketika wanita hamil berdiri, uterus yang
membesar menekan vesika urinaria. Tekanan menjadi dua kali lipat ketika usia kehamilan
memasuki 38 minggu. Penekanan ini semakin membesar ketika bayi akan dilahirkan,
memungkinkan terjadinya trauma intrapartum pada uretra dan vesika urinaria dan
menimbulkan obstruksi. Tekanan ini menghilang setelah bayi dilahirkan, menyebabkan

16

vesika urinaria tidak lagi dibatasi kapasitasnya oleh uterus. Akibatnya vesika urinaria
menjadi hipotonik dan cenderung berlangsung beberapa lama.
Etiologi
Selama kehamilan, saluran kemih mengalami perubahan morfologi dan fisiologi.
Perubahan fisiologis pada kandung kemih yang terjadi saat kehamilan berlangsung
merupakan predisposisi terjadinya retensi urine satu jam pertama sampai beberapa hari
post partum. Perubahan ini juga dapat memberikan gejala dan kondisi patologis yang
mungkin memberikan dampak pada perkembangan fetus dan ibu. Residu urine setelah
berkemih normalnya kurang atau sama dengan 50 ml, jika residu urine ini lebih dari 200
ml dikatakan abnormal dan dapat juga dikatakan retensi urine. Insiden terjadinya retensi
urine post partum berkisar 1,7% sapai 17,9%.
Secara umum penanganannya diawali dengan kateterisasi. Jika residu urine lebih dari
700 ml, antibiotik profilaksis dapat diberikan karena penggunaan kateter dalam jangka
panjang dan berulang. Retensi urine post partum dapat terjadi pada pasien yang mengalami
kelahiran normal sebagai akibat dari peregangan atau trauma dari dasar kandung kemih
dengan edema trigonum. Faktor-faktor predisposisi lainnya dari retensio urine meliputi
epidural anestesia, pada gangguan sementara kontrol saraf kandung kemih , dan trauma
traktus genitalis, khususnya pada hematoma yang besar, sectio cesaria, trauma intrapartum,
refleks kejang sfingter uretra, hipotonia selama hamil dan nifas, peradangan, psikogenik,
dan umur yang tua.

Tanda dan Gejala
Adapun tanda dan gejala atau menifestasi klinis pada penyakit ini adalah sebagai berikut:
1. Diawali dengan urine mengalir lambat
2. Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena pengosongan
kandung kemih tidak efisien.
3. Kencing tidak lampias / pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna,
4. Kandung kemih terasa penuh,
5. Distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih,
6. Mengedan saat berkemih,
7. Nokturia,
8. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK,
9. Pada retensi berat bisa mencapai 2000-3000 cc.

17


Diagnosis
Gejala retensi urin postpartum dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan pada
pasien, yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Pemeriksaan subyektif, yaitu mencermati keluhan yang disampaikan oleh pasien
yang digali melalui anamnesis yang sistematik. Dari pemeriksaan subyektif
biasanya didapat keluhan seperti nyeri suprapubik, mengejan karena rasa ingin
kencing, serta kandung kemih berasa penuh.
2. Pemeriksaan obyektif, yaitu melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien untuk
mencari data-data yang objektif mengenai keadaan pasien. Dari pemeriksaan
obyektif dengan metode palpasi atau perkusi, biasanya ditemukan massa di daerah
suprasimfisis karena kandung kemih yang terisi penuh dari suatu retensi urin.
3. Pemeriksaan penunjang, yaitu melakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium,
radiologi atau imaging (pencitraan), uroflometri, atau urodinamika,
elektromiografi, endourologi, dan laparoskopi. Pada pemeriksaan laboratorium
paling sering digunakan kateter dan uroflowmetri, yaitu untuk mengukur volume
dan residu urin pada kandung kemih. Selain itu juga dapat digunakan
cystourethrografi untuk melihat gambaran radiografi kandung kemih dan uretra.
Pada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan neurologik,
jumlah urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan urinalisis dan kultur
urine, pengukuran volume residu urine, sangat dibutuhkan. Adapun pemeriksaan
diagnostik yang dapat dilakukan pada retensio urine adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan specimen urine.
b. Pengambilan: steril, random, midstream.
c. Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, Keton, Nitrit
Fungsi berkemih juga harus diperiksa, dalam hal ini dapat digunakan uroflowmetry,
pemeriksaan tekanan saat berkemih, atau dengan voiding cystourethrography.
Dikatakan normal jika volume residu urine adalah kurang atau sama dengan 50ml,
sehingga jika volume residu urine lebih dari 200ml dapat dikatakan abnormal dan biasa
disebut retensi urine. Namun volume residu urine antara 50-200ml menjadi pertanyaan,
sehingga telah disepakati bahwa volume residu urine normal adalah 25% dari total volume
vesika urinaria.

18


Penatalaksanaan
Pasien dengan retensio urin postpartum penatalaksanaannya dibagi menurut volume
urin yang retensi saat penderita masuk rumah sakit, yaitu di bawah 500 ml, antara 500-
1.000 ml, 1.000-2.000 ml dan lebih dari 2.000 ml.
Lama pemasangan kateterisasi menetap terbuka adalah 1 x 24 jam pada volume urin
500-1.000 ml, 2x24 jam pada volume urin 1.000-2.000 ml dan 3x24 jam pada volume urin
lebih dari 2.000 ml dan dilakukan pemeriksaan urinalisis. Selama pemasangan kateterisasi
ini penderita minum banyak dengan kebutuhan cairan 2.500-3.000 ml selama 24 jam dan
disuruh mobilisasi. Selanjutnya dilakukan kateter buka tutup tiap 6 jam atau jika ada
perasaan ingin berkemih kateter dapat dibuka sebelum 6 jam. Apabila tidak dapat
berkemih setelah 6 jam maka kateter harus dibuka. Proses buka tutup kateter ini dilakukan
selama 24 jam dan pasien disuruh minum biasa atau bila haus. Selanjutnya pada hari
berikutnya kateter dilepas, pasien diharapkan dapat berkemih spontan dalam waktu 6 jam.
Bila tidak bisa berkemih spontan, pasien diukur volume urinnya dengan bantuan
kateter. Bila pasien dapat berkemih spontan dan volume urin sisa kurang dari 150 ml
dengan bantuan kateter pasca berkemih, pasien boleh pulang. Tetapi bila volume urin lebih
dari 150 ml dan kurang dari 500 ml maka perlu dilakukan kateterisasi intermiten setiap 4
jam selama 24 jam dengan pasien disuruh minum biasa dan mobilisasi. Bila volume urin
sisa lebih dari 500 ml perlu dilakukan kateterisasi ulang menetap terbuka sesuai dengan
volume urin sisa dan dilakukan pemeriksaan sistouretroskopi. Selama pemasangan kateter
menetap terbuka pasien diberikan obat tramadol 3 x 50 mg, Alinamin F 3 x 1 tab, asam
pipemidinat 2 x 400 mg, minum banyak antara 2.500-3.000 cc dan mobilisasi. Pemberian
antibiotika golongan siprofloksasin 3 x 500 mg dilakukan bila hasil pemeriksaan urinalisis
didapatkan leukosit lebih dari 4/lpb, volume urin sisa lebih dari 500 ml dan atau hasil
pemeriksaan sistouretroskopi didapatkan gambaran infeksi kandung kemih. Selain obat-
obat tersebut di atas, obat yang dapat digunakan untuk mengatasi retensi urin adalah:
A. Jenis Penyekat Alfa
Cara Kerja:
1) Merelaksasi otot polos
2) Meningkatkan urinary flow rate pada obstruksi akibat spasme
Efek samping:

19

Sedasi, dizziness, hipotensi postural, depresi, nyeri kepala, mulut kering, mual,
takikardi dan palpitasi.
Obat yang dipakai:
Alfuzozin HCl 2,5 mg/tbl
Dosis 2,5 mg tiga kali sehari dengan max l0 mg/hari
Indoramin 20 mg/tbl
Dosis 20 mg dua kali sehari, dapat ditingkatkan setiap 2 minggu 1 tbl. Sampai
100 mg/hari.
Prazosin HCl (Minipress 1 mg/2 mg/tbl)
Dosis 0,5 mg dua kali sehari dapat ditingkatkan setiap 3-7 hari sampai
maksimal 2x2 mg.
Terazosin HCl (Hytrin 1 mg/2 mg/tbl)
Dosis awal 1 mg saat tidur dapat ditingkatkan 1 mg setiap minggu sampai
max l0 mg/hari dosis tunggal. Jika pasien mengeluh pusing, suruh tetap tidur
sampai pusingnya hilang.
B. Jenis Para Simpatomimetik
Cara kerja:
1) Meningkatkan efek muskarinik
2) Meningkatkan aktivitas m. detrusor
Pada keadaan tidak ada obstruksi jalan keluar kandung kemih, peranannya untuk
mengatasi retensio urine terbatas.
Efek samping : Keringat, bradikardi, kolik intestinal

Obat yang dipakai:
Carbachol 2 mg/tbl
Bethanechol chloride Urecholin l0mg/tbl)
Dosis 3-4 x 10-25mg _ jam sebelum makan
Distigmine bromide 5 mg/tbl
Dosis 5 mg/hari atau 2 hari _ jam sebelum makan

Asam pipemidinat
Asam pipemidinat: urixin, pipram, impresial, urotractin.

20

Asam pipemidinat merupakan suatu antibakteri. Derivat-piperizanil dari nalidiksat ini
memiliki spektrum kerja lebih luas, yang juga meliputi pseudomonas. Efek bakterisidnya
terhadap kuman yang sedang membelah adalah 2x lebih kuat. Eksresinya oleh ginjal
demikian cepat sehingga kadarnya dalam darah rendah sedangkan dalam kemih relatif
tinggi. Oleh karna itu, asam pipemidinat khususnya digunakan pula pada ISK tanpa
komplikasi.

Misoprostol
Misoprostol adalah suatu analog prostaglandin El sintetik yang menghambat sekresi asam
lambung dan menaikkan proteksi mukosa lambung, bersifat uterotonik dan diindikasikan
untuk pencegahan NSAID. Karena misoprostol mengandung suatu analog prostaglandin,
maka penggunaan misoprostol baik digunakan untuk memperbaiki kontraksi otot polos.
Uterotonik adalah zat yang meningkatkan kontraksi uterus. pemberian uterotonika selain
akan membuat involusi uterus baik, juga akan diikuti dengan kontraksi kandung kemih.
Uterotonik banyak digunakan untuk induksi, penguatan persalinan, pencegahan serta
penanganan perdarahan post partum, pengendapan perdarahan akibat abortus
inkompletikus dan penanganan aktif pada Kala III persalinan. Misoprostol
dikontraindikasikan pada kehamilan karena resiko aborsi.

Metilcobalt
Vitamin B12 merupakan bagian vitamin B kompleks yang mempunyai berat molekul
paling besar, merupakan vitamin yang paling kompleks dibandingkan dengan vitamin lain.
Salah satu bentuk aktif vitamin B12 adalah metilkobalamin. Vitamin B12 mempunyai efek
anti nyeri; studi pada hewan coba menunjukkan suplementasi vitamin B12 mempunyai
efek antinosiseptif. Metaanalisis menunjukkan vitamin B12 atau bentuk aktif
(metilkobalamin)
mampu memperbaiki keluhan-keluhan somatik nyeri dan parestesi, serta mampu
memperbaiki gejala-gejala otonom. Efek perbaikan pada suplementasi vitamin B12 atau
methylcobalamine ini lebih baik daripada hasil tindakan elektrofisiologis.

Komplikasi
Karena terjadinya retensi urine yang berkepanjangan, maka kemampuan elastisitas
vesica urinaria menurun, dan terjadi peningkatan tekanan intra vesika yang menyebabkan

21

terjadinya reflux, sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan USG pada ginjal dan
ureter atau dapat juga dilakukan foto BNO-IVP.
Retensi urin postpartum apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan sistitis,
uremi, sepsis, bahkan ruptur spontan vesika urinaria.

















DAFTAR PUSTAKA

Stanton SL. Clinical gynecologic urology. St. Louis (UK): Mosby; 1984.
Jack AP, Paul CM, Norman FG. Williams Obstetric. 17th ed. Norwalk (CN): Appleton-
Century_Crofts; 1985. p. 739.
Krisnadi, S. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Ed 2. Penerbit Buku
Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Bandung. 2005. 187-194.
Wiknjosastro, H. Ilmu Kebidanan. Perawatan postpartum. Yayasan Bina Pistaka Sarwono
Prawirohardjo. 2006. 242-243.

22

Germain MM. Urinary Retention and Overflow Incontinence In Bent.AE, Cundiff GW,
Ostergard DR, Seift SE. Ostergards Urogynecology and Pelvic Floor Dysfunction,5th ed.
Lipiincoltt Willian & Wilkins, USA,1992: 285-91.
http:///repository.ui.ac.id
http://www.dexamedica.com/images/publication_upload070416987576001176746454Dex
aMediaJan-Mar2006.pdf
http://www.jevuska.com/2007/04/19/retensi-urine-post-partum
http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/retensi-urin-postpartum/
www.kalbe.co.id.html
www.scribd.com