Anda di halaman 1dari 103

1

LENSA TIPIS

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum : - Mempelajari sifat bayangan suatu lensa.
- Menentukan panjang titik api lensa postif dan lensa
negatif.
2. Hari/tanggal : Kamis, 12 Mei 2011
3. Tempat : Laboratorium Fisika Dasar, Lantai I, FMIPA
Universitas Mataram .

B. ALAT DAN BAHAN
1. Sumber cahaya atau sumber cahaya yang lain
2. Bangku optik beserta penjepit lensa dan layar.
3. Lensa positif, lensa negatif
4. Mistar

C. LANDASAN TEORI
Sebuah lensa konvergen atau positif, dibentuk sedemikian sehingga semua sinar
sejajar yang jatuh padanya dibelokkan pada titk yang sama. Garis melalui pusat lensa
yang tegak lurus pada bidang lensa dinamakan sumbu optik. Semua sinar datang yang
sejajar dengan sumbu optik dibelokkan sedemikian hingga sinar-sinar itu melewati titk f
pada sumbu optik, yang dinamakan titk fokus lensa (Cromer, 1994:294).
Lensa konvergen atau lensa positif adlah lensa yang lebih yebal dipusat dari pada
di sisi dan akan memusatkan suatu berkas sinar sejajar pada satu mtitik yang nyata. Lensa
divergen atau lensa negatif adalah lensa yang lebih tipis dipusat dari pada di sisi dan akan
memancarkan suatu berkas sinar sejajar dari suatu titk api maya. Lensa konvergen
membentuk bayangan nyata dan terbalik dari obyek-obyek yang diletakkan sebelah luar
titk api utama. Bila nobyek berada antara titik api utama dan bayangan maya ( pada sisi
lensa yang sama seperti obyek ), tegak dan diperbesar. Lensa divergen menghasilkan
bayangan yang maya, tegak dan diperkecil (Adnan, 1993:194).
2



Lensa tipis biasanya berbentuk lingkaran dan kedua permukaannya melengkung.
Jika berkas-berkas yang paralel dengan sumbu jatuh pada lensa tipis, akan difokuskan
pada satu titik yang disebut titk fokus ( F ). Hal ini dapat tepat benar untuk lensa dengan
permukaan sferis. Tetapi akan hampir benar, yaitu berkas-berkas paralel akan difokuskan
pada satu bagian kecil yang hampir berupa titik, jika diameter lensa kecil dibandingkan
dengan radius kelengkungan kedua permukaan lensa. Kriteria ini dipenuhi oleh lensa
tipis, yang sangat tipis dibandingkan dengan diameternya (Giancoli, 2001:357).
Lensa lensa yang bagian tengahnya lebih tebal dibandingkan tepinya disebut
lensa pengumpul ( asalkan indeks bias lensa tersebut lebih besar dari indeks bias medium
disekitarnya ), lensa lensa ( dengan indeks bias lebih besar daripada indeks bias medium
disekelilingnya ) yang bagian tengahnya lebih tipis dibanding bagian tepinya adalah lensa
penyebar atau lensa negatif ( Tipler,1991:421 ).

D. Prosedur Percobaan
1. Menentukan focus lensa positif
a) Diletakkan sumber cahaya, benda, lensa positif, dan layar berurutan.
b) Diatur letak lensa positif, mengukur jarak lensa dengan benda sebagai s.
c) Digeser layar hingga mendapatkan bayangan yang jelas.
d) Ditentukan jarak lensa dengan layar sebagai s.
e) Diulangi langkah diatas dengan mengubah s.
f) Dicatat hasil s dan s untuk menentukan f.
2. Menentukan focus lensa negatif (lensa negatif dibelakang lensa positif)
a) Dilakukan cara a1 sampai a4, kemudian dicatat s dan s.
b) Diletakkan lensa negatif antara lensa positif dan layar, mengatur letak layar
sehingga mendapatkan bayangan yang jelas.
c) Diukur jarak kedua lensa sebagai x.
d) Diukur jarak lensa negatif dengan layar sebagai s
2
.
e) Diulangi percobaan dengan s
1
yang sesuai dengan s yang berlainan.
f) Dicatat hasilnya dan mencari focus lensa negatif dengan persamaan :
3

F2 = (x - s
1
) - s
2

(x - s
1
) + s
2


E. HASIL PENGAMATAN

1. menentukan focus lensa positif
S
1 (cm)

(cm)
f (cm)
14,5 43,5 10,88
12,5 36,5 9,31
13,5 46,5 10,46
15 44 11,19
15 31 10,11

2.menentukan focus lensa negatif
4

S
1 (cm)

(cm)
'
2
s (cm)
x (cm) f (cm)
13 51,75 20 24,5 75,18
15,5 31,52 15 29,5 2,33
14,5 36,66 21 22,5 43,47
11,5 107,64 21,5 24 28,94
13 20 20 24 71,61



F. ANALISIS DATA

1. Menentukan fokus lensa positif
a.
'
1 1 1
s s f


5 , 43
1
5 , 14
1



87
8




8
87
f = 10,88 cm



5

b.
'
1 1 1
s s f



5 , 36
1
5 , 12
1



1825
196



196
1825
f = 9,31 cm

c.
'
1 1 1
s s f



5 , 46
1
5 , 13
1



837
80



80
837
f = 10,46 cm

d.
'
1 1 1
s s f


44
1
15
1



660
59



59
660
f = 11,19 cm
6


e.
'
1 1 1
s s f


31
1
15
1



465
46



46
465
f = 11,19 cm

- Fokus rata-rata ( f
~
)


3
48 , 11 62 , 11 67 , 11 ~
f

3
77 , 34
= 11,59 cm
- Standar deviasi


n
) f
~
- (f
2

SD

4
0,123



= 0,72

- Persen error

f
SD
error
~
% x 100%

39 , 10
72 , 0
x 100%
7

= 7 %
2. Menentukan fokus lensa negatif

gambar







a.
'
1 1 1
s s f



s f s
1 1
'
1


13
1
39 , 10
1



13507
261



261
13507
' s = 51,75 cm


' ) ' (
' ) ' (
2 1
2 1
s s x
s s x
f


8


20 ) 75 , 51 5 , 24 (
20 ). 75 , 51 5 , 24 (


= 75,18 cm

b.
'
1 1 1
s s f



s f s
1 1
'
1


5 , 15
1
39 , 10
1



32209
1022



1022
32209
' s = 31,52 cm


' ) ' (
' ) ' (
2 1
2 1
s s x
s s x
f



15 ) 52 , 31 5 , 29 (
15 ). 52 , 31 5 , 29 (


= -2,33 cm

c.
'
1 1 1
s s f



s f s
1 1
'
1


5 , 14
1
39 , 10
1



30131
822


9


822
30131
' s = 36,66 cm


' ) ' (
' ) ' (
2 1
2 1
s s x
s s x
f



21 ) 66 , 36 5 , 22 (
21 ). 66 , 36 5 , 22 (



= - 43,47 cm
d.
'
1 1 1
s s f



s f s
1 1
'
1


5 , 11
1
39 , 10
1



23897
222



222
23897
' s = 107,64 cm


' ) ' (
' ) ' (
2 1
2 1
s s x
s s x
f



5 , 21 ) 64 , 107 24 (
5 , 21 ). 64 , 107 24 (


= 28,94 cm

e.
'
1 1 1
s s f



s f s
1 1
'
1

10


13
1
39 , 10
1



13507
261



261
13507
' s = 51,75 cm


' ) ' (
' ) ' (
2 1
2 1
s s x
s s x
f



20 ) 75 , 51 24 (
20 ). 75 , 51 24 (



= 71,61 cm


13
1
39 , 10
1



13507
261



261
13507
' s = 51,75 cm


' ) ' (
' ) ' (
2 1
2 1
s s x
s s x
f



20 ) 75 , 51 5 , 24 (
20 ). 75 , 51 5 , 24 (



= 75,18 cm


11


- Fokus rata-rata ( f
~
)


5
61 , 71 94 , 28 47 , 43 33 , 2 18 , 71 ~
f
= 44,31 cm

- Standar deviasi


n
) f
~
- (f
2

SD

4
3697,51



= 30,40

-
- Persen error


f
SD
error
~
% x 100%

31 , 44
41 , 30
x 100%
= 68 %

G. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini, akan dibahas mengenai lensa tipis dimna bertujuan untuk
mempelajari sifat bayangan suatu lensa dan menentukan panjang titik api lensa positif dan
negative. Lensa merupakan sistem optik yang dibatasi oleh dua atau lebih permukaan
pembias yang memiliki sumbu persekutuan.
12

Pada praktikum pertama, yaitu menentukan titik fokus lensa positif,kita ketahui bahwa
lensa positif memiliki tiga sinar istimewa. Jika seberkas sinar melalui lensa positif,maka
sinar yang datang sejajar dengan sumbu utama akan diteruskan menuju titik fokus di
belakang lensa. Jika sinar datang melalui titik fokus maka sinar akan diteruskan sejajar
dengan sumbu utama. Jika sinar datang menuju titik pusat lensa maka akan diteruskan
lurus sesuai dengan arah datangnya sinar.
Berdasarkan hasil pengamatan dapat dilihat bahwa bayangan yang dibentuk oleh lensa
positif adalah maya, terbalik, dan diperbesar.berdasarkan analisis data didapatkan titik
fokus yang memiliki nilai yang berbeda antara kelima percobaan, hal ini terjadi karena
jarak antara lensa dengan benda diubah-ubah jaraknya, sehingga bayangan yang terbentuk
pada layar juga berbeda. Namun didapatkan rata-rata fokus lensa positif adalah 10,39 cm
dan memiliki persentase error sebesar 7 %.hal ini disebabkan karena ketidaktelitian dalam
mengamati bayangan yang yang dibentuk lensa.
Pada percobaan yang kedua yaitu menentukan panjang titik api lensa negatif dengan
susunan lensa negatif terletak di belakang lensa positif. Kita ketahui bahwa jika seberkas
sinar yang datang menuju titik pusat lensa negatif,maka sinar tersebut akan diteruskan
lurus searah dengan datangnya sinar tersebut. Jika cahaya datang sejajar dengan sumbu
utama, maka sinar akan menjadi parallel,satu sinar akan diteruskan sejajar dengan sumbu
utama dan sinar yang lain akan dibelokkan seakan-akan datang dari titik fokus.
Berdasarkan hasil pengamatan dapat terlihat bahwa bayangan yang terbentuk oleh lensa
negatif yaitu maya,tegak, dan diperbesar. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data
didapatkan nilai titik fokus dari lensa negatif yang bervariasi, hal ini disebabkan karena
jarak antara lensa positif dan lensa negatif, dan juga jarak antara lensa positif dan benda
diubah secara sembarang agar mendapat bayangan benda yang tajam. Namun pada
prinsipnya lensa memiliki titik fokus yang sudah ada. Sehingaga titik fokus rata-rata lensa
negatif adalah 44,31 cm. pada analisi data juga dihitung %error percobaan yang
didapatkan sebesar 68%, artinya praktikum yang kami lakukan kurang teliti.
H. PENUTUP
Kesimpulan
1. Lensa merupakan sistem optik yang dibatasi oleh dua atau lebih permukaan pembias yang
memiliki sumbu persekutuan.
13

2. pada lensa cekung, benda yang diletakkan di depan lensa cekung, bayangannya tidak
mungkin nyata, selalu maya dan diperkecil.
3. ketidaksamaan fokus lensa dikarenakan perbedaan tanggapan terhadap jelas tidaknya
bayangan.
4. pada lensa cembung, bagian yang lebih tebal adalah bagian tengah sehingga mudah untuk
mengumpulkan sinar, sedangkan pada lensa cekung lebih cenderung menghamburkan
cahaya karena bagian tengahnya lebih tipis daripada bagian tepinya.

Saran.
Diharapkan kepada semua praktikan agar melakukan praktikum dengan serius dan teliti.






14





















15

DAFTAR PUSTAKA

Cromer, Alan H.. 1994. Fisika untuk Ilmu ilmu Hayati. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.
Gabriel, JF. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta : EGC
Giancolli, Douglas.2001. Fisika jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Adnan, Muhammad.1988. Diktat Fisika Dasar. Universitas Mataram.
Tipler, Paul A. 1991. Fisika untuk Sains dan Teknik, edisi ke-3 jilid 2. Surabaya : Erlangga.























16

KISI DIFRAKSI

A.PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan : a. Mempelajari peristiwa oleh kisi difraksi.
b. Menentukan panjang gelimbang sinar laser.
2. Hari, tanggal : Rabu, 12 Mei 2011
3. Tempat : Laboratorium Fisika Dasar, Lantai II, FMIPA,
Universitas Mataram.

B.ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
a. Sumber sinar laser
b. Roll meter
c. Statif
2. BAHAN
- Kisi difraksi

C.LANDASAN TEORI
Sejumlah besar celah parallel yang berjarak sama disebut kisi difraksi. Kisi dapat dibuat
dengan mesin presisi berupa garis-garis paralel yang sangat halus dan teliti di atas pelat kaca.
Jarak yanag tidak tergores di antara garis-garis tersebut berfungsi sebagai celah. Kisi difraksi
yang berisi celah-celah disebut kisi transmisi (Giancoli, 2001 : 302-303).
Kisi difraksi terdiri atas sebaris celah sempit yang saling berdekatan dalam jumlah
banyak. Jika seberkas sinar dilewatkan kisi difraksi akan terdifraksi dan dapat menghasilkan
suatu pola difraksi di layar. Jarak antara celah yang berurutan (d) disebut tetapan kisi. Jika
jumlah celah atau goresan tiap satuan panjang (cm) dinyatakan dengan N, maka : d = 1/N.
Seberkas sinar tegak lurus kisi dan sebuah lensa konvergen digunakan untuk mengumpulkan
sinar-sinar tersebut ke titik P yang dikehendaki pada layar. Distribusi intensitas yang diamati
pada layar merupakan gabungan dari efek interferensi dan difraksi. Setiap celah
menghasilkan difraksi seperti yang telah diuraikan sebelumnya, dan sinar-sinar yang
17

terdifraksi sebelumnya tersebut berinterferensi pada layar yang menghasilkan pola akhir
(Soekarno,1996: 150-155).
Pola interferensi yang diuraikan pada suatu arah sembarang, sebelum mencapai titik
yang diamati. Masing-masing sinar berasal dari celah yang berbeda pula. Untuk dua celah
yang berbeda, beda lintasan yang terjadi ialah d sin . Dengan demikian persyaratan umum
pola interferensi ialah :
d sin = n (n = 1,2,3,..)
Persyaratan tersebut dapat dinyatakan untuk menentukan panjang gelombang dengan
mengukur jika tetapan kisi d diketahui dengan bilangan bulat, n menyatakan orde difraksi.
Jiak gelombang yang datang pada kisi terdiri atas beberapa panjang gelombang masing-
masing akan menyimpang atau akan membentuk maksimum pada arah yang berbeda. Kecuali
untuk n=0 yang terjadi pada arah = 0. Maksimum pusat (n = 0) meliputi berbagai panjang
sedangkan maksimum ke-1, ke-2 dan seterusnya memenuhi ( m +1) * /2 menurut panjang
gelombang masing-masing (Hikam,2005: 20-21).
Suatu celah yang dikenai cahaya dari arah depan akan memproyeksikan bayangan
terang yang sebentuk dengan celah tersebut di belakangnya. Tetapi di samping itu, terbentuk
juga bayangan-bayangan terang yang lain dari celah tersebut di sebelah menyebelah bayangn
aslinya, dan yang semakin ke tepi, terangnya semakin merosot. Jadi seolah-olah sinar cahaya
yang lolos lawat celah itu ada yang dilenturkan atau didifraksikan kea rah menyamping.
Gejala difraksi demikian tak lain ialah interferensi sinar-sinar gelmbang elektromagnetik
cahaya dari masing-masing bagian medan gelombang sebagai sumber gelombang cahaya
(Soedojo,2004 : 123).

D.PROSEDUR PERCOBAAN
Menentukan Panjang Gelombang Sinar Laser
1. Sumber laser diletakkan pada meja, tepat mendatar dan tegak lurus pada layar atau
tembok.
2. Kisi difraksi diletakkan (dengan jarak antara celah yang telah diketahui) di depan
lubang tempat sinar laser keluar, sehingga pola difraksi terletak tepat horizontal pada
layar .
3. Diukur jarak antara kisi difraksi dengan laser.
18

4. diukur jarak tiap pola difraksi yang terjadi (terang ke-n) ke pola difraksi pusat.

E.HASIL PENGAMATAN
( Terlampir).
F.ANALISIS DATA



Menentukan Panjang Gelombang
Y = d sin
n= d sin
n= dy
L
= dy
nL
Untuk kisi (N )= 100
L=230 cm
d=1/N=1/100=10
-2

1
= dy
1

Ln
= 10
-2
15
230.1
= 6,522 10
-4
cm
=6,522 10
8


L
L

Y
19


2
= dy
2

Ln
= 10
-2
30
230. 2
= 6,522 10
-4
cm
=6,522 10
8



3
= dy
3

Ln
= 10
-2
45
230 . 3
= 6,522 x 10
-4
cm
= 6,522 10
8



4
= dy
4

Ln
=10
-2
60
230 . 4
= 6,522 x 10
-4
cm
= 6,522 10
8


5
= dy
5

Ln
=10
-2
75
230 . 5
= 6,522 x 10
-4
cm
= 6,522 10
8




Panjang Gelombang Rata-rata

rata-rata
=
i

20

N
=
1
+
2
+
3
+
4
+
5

N

= 32610 10
8

5
= 6,522 10
8



Standar Deviasi
SD =
1
) (
2

n
r


=


= 0



%error =

100%
=

100 %
= 0 %

Untuk kisi ( N) = 300
L=230 , d=1/N=1/300=3,333 10
-3


1
= dy
1

Ln
= 3,333x10
-3
. 46
230 .1
= 6,666 x 10
-4
cm
= 6,666 10
8

21


2
= dy
2

Ln
= 3,333 x10
-3
.970
230 .2
= 7,028 x 10
-4
cm


3
= dy
3

Ln
= 3,333 x10
-3
.163
230 .3
= 7,874 x10
-4
cm
= 7,874 x10
8


Panjang Gelombang Rata-rata

rata-rata
=
N
=


= 6,69 x 10
-4

Stanandar Deviasi
SD =
1
) (
2

N
r


=


= 0,619 x 10
8

% error = SD x 100%

r

=

x 100%
= 8,6%
22

Untuk kisi (N) 600
L = 230 cm
d =

= 1,67 x 10
-3


1
=




= o,71 x 10
-3
cm
= 0,71 10
5


G.PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dengan tujuan menentukan panjang gelombang sinar laser
dengan menggunakan kisi difraksi.Kisi difraksi sejumlah besar celah pararel yang berjarak
sama.Kisi difraksi ini dibuat dengan mesin presisi berupa garis-garis pararel yang sangat
halus.
Suatu kisi yang dikenai cahaya dari arah depan akan memproyeksikan bayangan terang
yang sebentuk dengan celah tersebut di belakangnya.Tetapi disamping itu terbentuk juga
bayangan bayangan terang lain dari celah terssebut.
Untuk dua celah yang berbeda,beda lintasan yang terjadi adalah d sin .Dengan
demikian persyratan umum pola interfrensi adalah;
d sin = n (n=1 ,2, 3......)
sehingga d sin = n
d

= n ,,
=


Dari hasil analisis data dengan menggunakan persamaan diatas,diperoleh nilai panjang
gelombang berturut-turut ;
1
sampai
5
=6,522x10
8
,terlihat jelas bahwa panjang gelombang
yang dihasilkan adalah sama,hal ini dikarenakan jarak yang digunakan berkelipatan,sehingga
dari data ini diperoleh %eror= 0%. Dari hasil ini dapt ditarik kesimpulan bahwa data yang
diperoleh memliki ketelitian tinggi.
23

Pada kisi 300,nilai panjang gelombang yang diperoleh berturut-turut adalah ;
1
=6,666x10
8
,
2
= 7,028x10
8
,
2
= 7,874x10
8
,dan nilai % erornya=6,8%.sedangkan
untuk kisi 600 panjang gelombang yang diperoleh yaitu 0,71x10
8

Jika diamati dari kisi 100 sampai 600 dapat disimpulkan bahwa, semakin banyak kisi
yang digunakan,semakin panjang gelombang yang diperoleh.

H.PENUTUP
1.Kesimpulan
Sejumlah besar celah pararel yang berjaraksama disebut kisi difraksi.
Suatu celah yang dikenai cahaya dari celah depan akan memproyeksikan bayangan
yang sebentuk dengancelah tersebut.
Semakin besar kisi yang digunakan,semakin panjang gelombang yang dihasilkan.
2.Saran
Tetap semangat sampai akhir,,,,FIGHTING....!!!!

















24

DAFTAR PUSTAKA

Giancoli,Douglas. 2001 .Fisika Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Hikam,Muhammad .2005.Eksperimen Fisika Dasar Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:
Erlangga.
Soedojo, Petter.2004. Fisika Dasar 2.Yogyakarta :ANDI.

























25

REFRAKTOMETER

A.PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.Tujuan praktikum : - Menentukan indeks bias larutan gula dengan konsentrasi
Tertentu.
: - Menentukan konsentrasi larutan gula.
2.Hari,tanggal : Kamis,12 Mei 2011
3.Tempat : Laboratorium Fisika Dasar,Lantai II, FMIPA, Universitas
Mataram.

B.ALAT DAN BAHAN
1.Alat
Refraktometer
Gelas
Gelas ukur
Timbangan analitik
Pipet tetes
Sendok pengaduk

2.Bahan
Sukrosa/gula
Air
Tisu

C.LANDASAN TEORI
Pembiasan,hukum snell membahas atau berbunyi ketika cahaya melintas dari satu
medium ke medium lain,sebagian cahaya datang dipantulkan pada perbatasan sisanya lewat ke
medium yang baru,jika seberkas cahaya datang dan membentuk sudut terhadap permukaan (
bukan tegak lurus ) , berkas tersebut dibelokkan pada waktu memasuki medium yang baru,sudut
bias tergantung pada laju cahaya kedua medium dan pada sudut yang datang
26

( Giancolli,1998:257-258 ).
Permukaan refraktor mimisahkan dua media yang indeks refpaksinya berlainan.Medium
tempat sinar datang ke permukaan memiliki indeks refraksi n
1
dan medium pada bagian lain dari
permukaan memiliki indeks bias refraksi n
2
.sinar yang membentuk permukaan dan direfreksikan
mengikuti hubungan :
n
1
sin
1
=n
2
sin
2

Sinar yang direfraksikan ini memotong sumbu di titik yang telah ada.Sinar dari titik awal yang
berimpit dengan sumbu tidak akan dibelokkan oleh permukaan dan titik it juga.Jadi tidak ada lain
bayangan titik awal,seperti halnya dalam penurunan persamaan cermin,disini digunakan sifat
bahwa sudut luar suatu sifat segitiga sama dengan jumlah kedua sudut dalam yang tidak bersisian
dengan sudut luar tersebut.Pada sisi tempat sinar datang , berlainan dengan cermin, disini tenaga (
energy ) cahaya diteruskan menebus permukaan refraktometer ke sisi lain,sehingga berbentuk
bayangan nyata,haruslah bayangan tersebut terletak disini dank arena sisinya disebut sisi R, sinar
datang disebut sisi V ( Halliday,1978:651-653 ).
Untuk gelombang acara sebagai arah gelombang electromagnet tampak
spektrumnya,ternyata bila dalam perjalanannya mengalami suatu peralihan ari suatu medium
bening ke medium bening lainnya ,indeks bias suatu larutan/bahan ialah perbandingan antara
kelajuan cahaya dalam medium bahan yang bersangkutan,maka indeks bias bahan tersebut
ditentukan oleh ( Renreng,1985:157-158 ) :
n=c/v
dimana c adalah kelajuan dalam ruang hampa, v adalah kelajuan cahaya media bahan.karena c
lebih besar daripada v, maka indeks bias suatu bahan selalu lebih besar daripada bilangan 1
( satu ).
Indeks bias suatu larutan atau bahan dapat digunakan dengan menggunakan
refraktometer.Refraktometer digunakan untuk menganalisis konsentrasi larutan,misalnya : suatu
campuran air dan alkohol mempunyai indeks bias diantara nilai air dan alcohol murni.Oleh jarena
itu,pengukuran indeks bias suatu larutan campuran air,alkohol secara tepat persentasi alkohol
didalam campuran dapat ditentukan dengan mudah.laju cahaya didalam medium,seperti : kaca,air
atau udara ditentukan oleh indeks bias ( Tipler,2001:443 ).


27


D.PROSEDUR PERCOBAAN
1.Menentukan indeks bias larutan
Larutan gula (10%) dibuat dengan menggunakan larutan gula dan air dengan bantuan
gelas ukur.
Dibersihkan permukaan kaca larutan uji pada refraktometer kemudian diteteskan larutan
tersebut,setelah itu diamati pembacaan skala nilai indeks bias.
Diulang nilai indeks bias untuk 5 kali tetesan dengan konsentrasi larutan konsentrasi yang
Sama.
Dicatat hasil pengamatan nilai indeks bias untuk 5 kali pengamatan tersebut.
Dilakukan percobaan yang sama untuk larutan dengan konsentrasi 20%,30%,40%,dan
50%.
Dibyat grafik yang menyatakan hubungan antara konsentrasi dan nilai ineks bias
berdasarkan data hasil pengamatan.
2.Menentukan konsentrasi suatu larutan
Dibuat dua larutan dengan konsentrasi larutan sembarang
Dilakukan perulangan pengamatan nilai indeks bias untuk 5 kali tetesan dengan
konsentrasi larutan gula yang sama ( Indeks bias rata-rata )
Dicari besarnya konsentrasi larutan gula dengan menggunakan bantuan grafik yang telah
dibuat.

E.HASIL PENGAMATAN
( Terlampir ).




28


F.ANALISIS DATA

1.Menentukan indeks bias..

a. Konsentrasi 10%











Indeks bias rata-rata
=


5
=


= 1,3485
Standar Deviasi ( SD )
SD =


NO N ( n- )
1
2
3
4
5



1,349
1,348
1,3485
1,348
1,349
2,5 X


2,5 X


0
2,5 X


2,5 X




6,7425 1 X


29

= 5 X


% Error =

X 100%
=



= 0,037%
Nilai indeks yang diharapkan
n = SD
= 1,3485 + 5 X


= 1,349

n = SD
= - SD
= 1,3485 5 X


= 1,348
b. Konsentrasi 20%















NO N ( n- )
1
2
3
4
5



1,364
1,365
1,364
1,365
1,363
4 X


6,4 X


4 X


6,4 X


1,44 X




6,821 2,8 X


30


Indeks bias rata-rata ( )
=


5
=


= 1,3642

Standar Deviasi ( SD )
SD =


= 8,366 X




% Error =

X 100%
=



= 0,061%

Nilai indeks yang diharapkan
n = SD
= 1,3642+ ( 8,366 X


= 1,3650366

n = SD
= 1,3642 8,366 X


= 1,363363

31


c. Konsentrasi 30%











Indeks bias rata-rata
=


= 1,3802

Standar Deviasi ( SD )
SD =


= 8,366 X



% Error =

X 100%
=



NO N ( n- )
1
2
3
4
5



1,379
1,381
1,381
1,38
1,38
1,44 X


6,4 X


6,4 X


4 X


4 X




6,901 2,8 X


32

= 0,06%
Nilai indeks yang diharapkan
n = SD
= 1,3802 +8,366 X


= 1,3810366

n = SD
= 1,3802 8,366 X


= 1,3793634

d. Konsentrasi 40%











Indeks bias rata-rata
=


= 1,392
Standar Deviasi ( SD )
SD =


NO N ( n- )
1
2
3
4
5



1,392
1,392
1,392
1,392
1,392

0
0
0
0
0
6,96 0
33

=

= 0
% Error =

X 100%
= 0%
Nilai indeks yang diharapkan
n = SD
= 1,392 + 0
= 1,392
n = SD
= 1,392 - 0
= 1,392

e. Konsentrasi 50%










Indeks bias rata-rata
=


= 1,4178
Standar Deviasi ( SD )
NO N ( n- )
1
2
3
4
5
1,417
1,418
1,418
1,418
1,418
6,4 X


4 X


4 X


4 X


4 X




7,089 8 X


34

SD =


= 4,4721 X



% Error =

X 100%
=



= 0,031%
Nilai indeks yang diharapkan
n = SD
= 1,4178 + 4,4721 X


= 1,41824721

n = SD
= 1,41735279


Metode leas + square
NO X Y XY X
1
2
3
4
5
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
1,3485
1,3642
1,3802
1,392
1,4178
0,13485
0,27284
0,41406
0,5568
0,7089
0,01
0,04
0,09
0,16
0,25
1,5 6,9027 2,08745 0,55




35


Keterangan :
X = konsentrasi
Y = ( indeks bias rata-rata )
A =
(



=



=


= 1,33062

B =



=



= 0,16645

Jadi,
Y = A + BX
= 1,33062 +0,16645X



Metode grafik
Hubungan konsentrasi dengn indeks bias.
y = indeks bias rata-rata
x = konsentasi
2. menentukan konsentrasi larutan gula sembarang



36


a. konsentrasi larutan x %
NO N ( n )

1
2
3
4
5

1,356
1,356
1,356
1,356
1,356


0
0
0
0
0
6,78 0

Indeks bias rata-rata
=


= 1,356
Standar Deviasi ( SD )
SD =



= 0
% Error =


= 0
Nilai indeks bias yang diharapkan
n = SD
= 1,356 + 0
37

= 1,356

n = SD
= 1,356 0
= 1,356

= y
Sehingga :
y = A + BX
x =


= 0,1524
Jadi konsentrasi larutan x adalah 15,24%

b. konsentrasi larutan y %
NO n ( n )

1
2
3
4
5


1,366
1,366
1,367
1,367
1,366


1,6 x


1,6 x


3,6 x


3,6 x


1,6 x


6,832 1,2 x







38


Indeks bias rata-rata
=


= 1,3364

Standar Deviasi ( SD )
SD =


= 5,477 X



Nilai indeks bias yang diharapkan
n = SD
= 1,3664 + 5,477 X


= 1,3669477

n = SD
= 1,3664 - 5,477 X


= 1,3658523

= y
Sehingga :
y = A + BX
=


= 0,2149
Jadi konsentrasi larutan x adalah 21,49%

39


G.PEMBAHASAN
Refraktometer merupakan sebuah alat yang dipergunakan untuk mengukur indeks ( n )
dari suatu larutan ( zat ).Dari pengertian ini kita dapat mengukur indeks bias suatu larutan
misalnya gula.Gula yang kita lihat indeks biasnya dengan konsentrasi-konsentrasi yang berbeda-
beda,dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi.
Menetukan indeks bias suatu larutan dengan konsentrsai yang berbeda,mulai dari 10%,
20%, 30%, 40% dan 50%dengan indeks bias masing-masing makin menanjak naik.indeks bias
rata-rata adalah 1,3485 ; 1,3642 ; 1,3802 ; 1,392 ; 1,4178.Dari sini kita dapat melihat semakin
besar konsentrasi maka semakin besar juga nilai indeks bias suatu larutan.
Selanjutnya kita menentukan persamaanhubungan x dan y dengan memakai persamaan Y
= A + BX ,nilai A dapat dicari dengan terlebih dahulu kita menjumlahkan konsentrasi larytaan
dengan indeks bias rata-rata.Kita dapat menentukan nilai A lebih besar daripada B.
Dari percobaan diatas kita dapat menentukan konsentrasi larutan dengan
sembarang.Dimana X% adalah semua campuran gula ( 10% + 20% + 30% + 40% + 50% ) dan
Y% adalah semua campuran-campuran diatas ditambah gula setengah sendok lagi.Selanjutnya
kita bisa menghitung indeks bias rata-rata ( ) dan simpangan deviasi ( SD ) dari masing-masing
konsentrasi larutan.
Air gula yang diteteskan pada refraktometer sebagai konsentrasi indeks bias.Nilainya ada
yang tetap namun ada juga yang nilainya berubah-ubah,contohnya pada konsentrasi 10% dan
20%.Hal ini terjadi karena adanya gelembung udara,dimana gelembung udara mengandung kadar

dan otomatis nilai C ( kecepatan diruang hampa udara juga berubah ) . Karena ruang hampa
tersebut sudah diisi oleh oksigen sehingga niai yang ditunjukkan oleh refraktometer
berubah,selain itu juga yang mempengaruhi indeks berubah adalah factor suhu.Tetesan pada
refraktometer yang mengandung gelembung udara sehingga mengalami perubahan-perubahan
harus dihindari/dikurangi karena akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang besar.




40



H. PENUTUP
1.Kesimpulan
a. refraktometer adalah alat untuk mengukur indeks bias ( n ) dari suatu larutan (zat)
b. semakin besar nilai konsentrasi suatu larutan maka semakin besar pula nilai indeks
biasnya.
c. Perubahan konsentrasi dari suatu zat terlarut mempengaruhi besarnya nilai indeks bias
suatu larutan tersebut.
d. Bila nilai indeks bias tiap tetesan sama ( dari tetesan awal sampai tidak berubah-ubah
),maka nilai dari simpangan deviasi ( SD ) dan % errornya adalah 0.
2. Saran
Tetap semangat dan tekun dalam menjalankan paktikum.

















41

DAFTAR PUSTAKA

Giancolli,Dauglas C. 1998. Fisika Edisi 5. Jakarta : Erlangga
Halliday,David. 1978.Fisika Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Tippler, Paul. 2001. Fisika Untuk Universitas Jakarta : Erlangga


























42

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum : mempelajari karastristik beberapa komponen
elektronika berdasarkian hubungan arus (I) dan
tegangan (V).
2. Waktu Praktikum : Kamis, 19 Mei 2011
3. Tempat Praktikum : Laboratorium Fisika Dasar, Lantai II, Fakultas
MIPA, Universitas Mataram.

B. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
1. Alat-alat Praktikum
Multimeter
Kabel penghubung ke listrik
Papan rangkaian
Power sopply
2. Bahan-bahan Praktikum
Diode biasa
Diode Zener
Lampu
Resistor 470

C. LANDASAN TEORI
Arus listrik didefinisikan sebagai laju aliran muatan listrik yang melalui suatu
luasan penampang. Jika segmen pembawa-pembawa muatan bergerak dengan
kecepatan rata-rata kecil. Sehingga dapar dirumuskan:
Menurut konvensi, arah arus dianggap searah dengan aliran muatan positif. Konvensi
ini ditetapkan sebelum diketahui bahwa electron-elektron bebas, yang muatan negatif
adalah partikel-partikel yang sebenarnya bergerak akibat menghasilkan arus pada
kawat(Tipler,2001:138).
Dalam rangkaian elektronika, resistor dilambangkan dari/salah satu lamaing-
lambang. resistor mempunyai berbagai berbentuk, tapi sering berbentuk silinderis
43

kecil dengan satu sambungannya pada tiap ujung. Silinder ini diberi lingkaran warna
atau sifatnya(Richard,2004:11).
Diode zener merupakan suatu jenis dioda khsus, juga yang bisa mengalirkan arus
kearah sebaliknya. Sifat dari dioda zener sama dengan sifat pada dioda biasa. Halnya
dioda zener dirancang untuk memilki voltase brek through. Dioda zener biasanya
dipakai pada balik sehingga voltase pada dioda ini konstan sebesar voltase zenernya.
Suatu penghantar listrik yang memiliki selisi tahanan yang kecil atau mempunyai daya
hantar yang besar, ini berarti mudah dilalui arus, sedangkan penyekat atau isolasi
adalah suatu bahan yang mempunyai daya hantar yang kecil, ini berarti sukat dilalui
arus listrik(Suryatmo,1996:21-26).
D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Disusun rangkaian seperti di bawah ini:

2. Diamati arus dan tegangan yang melalui rangkaian untuk n pengamatan, dicatat
hasilnya
3. Diganti resistor dengan yang lainnya(resistor 100 k, dioda, dan lampu).






E. HASIL PENGAMATAN
1. Table hasil pengamatan pada diode biasa
A
v
v
44

Pengukuran
Ke
V
(Volt)
I
(Amper)
1
2
3
4
5
0,41
0,45
0,47
0,49
0,52
0,08
0,16
0,24
0,32
0,41

2. Table hasil pengamatan pada Diode Zener
Pengukran
Ke
V
(Volt)
I
(Amper)
1
2
3
4
5
4,18
8,21
12,12
16,13
20,15
0,07
0,16
0,23
0,31
0,40

3. Table hasil pengamatan pada Lampu
Pengukuran
Ke
V
(volt)
I
(Amper)
1
2
3
4
5
20,11
16,07
12,09
8,20
4,32
47,7
75,4
95,2
112,3
127,9

4. Table hasil pengamatan pada Resistor 470
45

Pengukuran
Ke
V
(Volt)
I
(Amper)
1
2
3
4
5
4,39
8,13
12,10
15,94
19,91
8,7
17,1
25,2
33,3
41,6

F. ANALISIS DATA
1. Diode Biasa

R =


=



=



= 0,33 m
46

2. Diode Zener

R =


=



=



= 48,39 m








3. Lampu
47


R =


=



=



= 0,20 m











4. Resistor 470
48


R =


=



=



= 0,47 m

G. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kita di haruskan untuk mengetahui komponenkomponen
elektronika seperti diode, resistor, lampu, dan lain lain . disi kita juga harus mengerti
cara merankainya baik seri maupun pararel . dan kita harus bisa mengukur arus dan
tegangan. secara umum, arus iitu dapat difiniskan sama untuk semua penampang
penghantar, walaupun penampang mungkin berbeda pada titiktitik yang berbeda.
sedangkan resistor secara umum adalah hambatan dari sebuah penghantar. Agar
hasilnya tidak salah kita juga harus tepat memasang rangkaian, terutama dalam
komponen eletronika diode, kita harus mengetahui arah positif dan negatifnya, karena
diode itu merupakan pengarah arus listrik dimana dalam pemasangannya haarus tepat
dan benar. Pada lampu memberikan hambatan terhadap aliran arus, filament bola
49

lampu dan pemanas listrik merupakan jenis kawat khusus yang hambatannya
mengakibatkan alat tersebut menjadi sangat panas, kawat pengubung memiliki
hambatan yang sangat kecil dibandingkan dengan kumparan kawat, disini
menggunakan resistor untuk mengendalikan besar arus, disini juga kita mencari
hubungantegangan dengan arus, dimana hubungan arus dan tegangan yaitu I (arus)
berbanding lurus dengan tegangan, sehingga memperoleh hambatan yang nilainya kan
mendekati konstanta, tapi dalam praktikum yang kami lakukan dan berdasarkan data
yang kami peroleh, R yang diperoleh berdasarkan grafik tidak sesuai dengan refrensi,
hal ini mungkin disebabkan oleh alat, rangkain, serta pembacaan alat ukur yang salah.
Disini yang terpenting, hambatan, tergantung dari tefangan dan arus yang diberikan.

H. PENUTUP
1. Kesimpulan
arus listrik adalah laju aliran muatan listrik melalui luasan suatu
penampang.
resistor adalah hambatan dari sebuah penghantar.
diode merpukan pengarih arus listrik.
Dalam mengukur suatu arus yang melelui suatu komponen, maka harus
disusun secara seri dengan komponen tersebut.
Dalam mengukur suatu tegangan yang melalui suatu komponen, maka
harus disusun secara paralel dengan komponen tersebut.


2. Saran
Lebih teliti lagi...!!!





50

DAFTAR PUSTAKA

Richard. 2004. Fisika Teknik. Bandung : PT Aneka Cipta.
Suryatmo. 1996. Teknik Pengukuran Listrik dan Elektronika. Jakarta : Erlangga.
Tipler, Paul A. 1996. Fisika Teknik. Jakarta : Erlangga.

























51

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
a. Tujuan : Mengamati arus dan tegangan listrik pada rangkaian seri dan paralel dari
resistor.
b. Hari, tanggal : Kamis, 19 Mei 2011
c. Tempat : Laboratorium Fisika Dasar, Lantai II, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.
B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat Praktikum
Amperemeter dan voltmeter
Papan rangkaian
Power supply dan kabel penghubung

2. Bahan Praktikum
Resistor dengan beberapa ukuran

C. LANDASAN TEORI
Kebanyakan rangkaian listrik tidaklah terdiri dari beberapa sumber tegangan dan resistor
yang dihubungkan secara seri. Dalam praktek, hubungan beberapa komponen listrik seringkali
kompleks. Pada rangkaian seri, tiap muatan yang melalui hambatan haruslah sama, jika resistor
dihubungkan secara paralel, beda potensial pada ujung resistor haruslah sama. Ada hal penting
yang berhubungan dengan resistor, yaitu harga hambatan dan daya maksimum yang didapat oleh
resistor yang bersangkutan. Jika daya maksimum, resistor akan terbakar. Resistor dengan daya
maksimum watt lebih kecil ukuran fisisnya dibandingkan dengan resistor 5 watt untuk harga
hambatan yang sama. Jika kita ingin mengganti rangkaian seri dengan satu resistor tanpa
mengubah keadaan, yaitu dengan arus dan tegangan yang sama, hambatan ini disebut hambatan
ekivalen atau hambatan pengganti (Sutrisno,1997: 69).
Dua atau lebih resistor dihubungkan sedemilkian rupa sehingga muatan yang sama harus
mengalir melalui keduanya dikat itu terhubungkan secara seri. Resistor R
1
dan R
2
berikut:
merupakan contoh resistor yang dihubungkan seri. Karena muatan tidak terkumpul pada satu titik
dalam kawat yang dialiri arus konstan, jika suatu muatan Q mengalir ke R
1
selama interval
waktu tertentu, sejumlah muatan Q harus mengalir keluar R
2
selama interval yang sama. Kedua
resistor haruslah membawa arus I yang sama. sedemikian rupa sehingga memiliki beda potensial
52

yang sama antarakeduanya yang dikatakan bahwa mereka dihubungkan secara paralel. Suatu
metode dengan mengganti kombinasi rangkaian seri dan paralel resisto dengan rangkaian
ekivalennya sangat berguna dalam menyederhanakan rangkaian yang memiliki banyak resistor.
Namun demikian, metode ini tidak ukup untuk menganalisis berbagai rangkaian sederhana.
Kedua resistor R
1
dan R
2
pada rangkaian di atas terlihat seperti dihubungkan secara paralel,
padahal tidaklah demikian. Tegangan jatuh pada kedua resistor tersebut tidaklah sama, karena
adanya ggl(gaya gerak listrik)
2
yang diserikan dengan R
2.
Juga karena arus yang mengalir pada
R
1
dan R
2
tidaklah sama, maka R
1
dan R
2
juga tidak dapat dikatakan dirangkai secara seri (Tipler,
2001:154 dan 174).
Ada dua hokum yang berlaku bagi rangkaian yang memiliki arus tetap (tunak). Kedua hokum ini
dinamakan Kirchoff. Pada setiap sambungan (rangkaian tertutup), maka jumlah aljabar dari arus-
arus haruslah sama dengan nol, teorema sambungan (junction theorem) ini dikenal dengan kaidah
pertama dari hokum kirchoff (kirchoffs first rule). Sementara, pada setiap titik percabangan
jumlah arus yang masuk melalui titik tersebut sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik
tersebut, teorema ini yang merupakan kaidah hokum kedua kirchoff (Halliday dan Resnick,
1984:225).

D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Rangkaian Seri Resistor
a. Disusun rangkaian seperti dibawah ini:





b. Diatur tegangan sumber sebesar 12 volt.
c. Diamati arus yang melalui rangkaian R1 dan R2.
d. Diamati tegangan pada rangkaian R1 dan R2.
e. Dicatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan I.
f. Diubah tegangan sumber untuk 5 nilai berbeda dan dilakukan langkah C hingga E.


53

2. Rangkaian Paralel Resisto
a. Disusun rangkaian seperti dibawah ini:





b. Diatur tegangan sumber sebesar 12 volt.
c. Diamati arus yang melalui rangkaian R1 dan R2.
d. Diamati tegangan pada rangkaian R1 dan R2.
e. Dicatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan II.
f. Diubah tegangan sumber untuk 5 nilai berbeda dan dilakukan langkah C hingga E.
3. Rangkaian Kombinasi Resistor
a. Disusun rangkaian seperti dibawah ini:





b. Diatur tegangan sumber sebesar 12 volt.
c. Diamati arus yang melalui rangkaian R1 dan R2.
d. Diamati tegangan pada rangkaian R1 dan R2.
e. Dicatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan III.
f. Diubah tegangan sumber untuk 5 nilai berbeda dan dilakukan langkah C hingga E.

E. HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).



54

F. ANALISIS DATA
1. Rangkaian Seri
a. Untuk tegangan 4 volt.
I
tot
= I
1
=I
2

R
S
= R
1
+R
2

=100+470
=570
I
tot
=


= 7,018.10
-3
A
V
tot
= I
tot
. R
S

= 7,018.10
-3
A . 570
= 4,000 V
V
1
= I
tot .
R
1

= 7,018.10
-3
A .100
= 0,702 V
V
2
= I
tot
. R
2

= 7,018.10
-3
A . 470
= 3,298 V

b. Untuk tegangan 8 V
I
tot
= I
1
=I
2

R
S
= R
1
+R
2

=100+470
=570
I
tot
=


= 0,014 A
V
tot
= I
tot
. R
S

= 0,014A . 570
55

= 7,980 V
V
1
= I
tot .
R
1

= 0,014A .100
= 1,400 V
V
2
= I
tot
. R
2

= 0,014A . 470
= 3,298 V

c. Untuk tegangan 12 V
I
tot
= I
1
=I
2

R
S
= R
1
+R
2

=100+470
=570
I
tot
=


= 0,028 A
V
tot
= I
tot
. R
S

= 0,028A . 570
= 15,960 V
V
1
= I
tot .
R
1

= 0,028A .100
= 2,800 V
V
2
= I
tot
. R
2

= 0,028A . 470
= 13,160 V

e. untuk tegangan 20V
I
tot
= I
1
=I
2

R
S
= R
1
+R
2

=100+470
56

=570
I
tot
=


= 0,035 A
V
tot
= I
tot
. R
S

= 0,028A . 570
= 19,950 V
V
1
= I
tot .
R
1

= 0,035A .100
= 3,500 V
V
2
= I
tot .
R
2

= 0,035A . 470
= 16,450V
2. Rangkaian Paralel
a. Untuk tegangan 4V
V
tot
= V
1
= V
2

Rp =


= 82,456
I
tot
=


= 0,049 A
V
tot
= I
tot
. Rp
= 0,049A . 82,456
= 4,040 V
I
1
=


= 0,04A
57

I
2
=


= 8,596.10
-3

b. Untuk tegangan 8 Volt










= 82,456


=0,097 A

= 0,097A.82,456
= 7,998 Volt


= 0,080A


= 0,017 A


58


C. Untuk tegangan 12 Volt










= 82,456


=0,146 A

= 0,146 A.82,456
= 12,039 Volt


= 0,120 A


= 0,026 A

D. Untuk tegangan 16 Volt





59






= 82,456


=0,194 A

= 0,194 A.82,456
= 15,996 Volt


= 0,160 A


= 0,034 A

E. Untuk tegangan 20 Volt










= 82,456


60



=0,243 A

= 0,243 A.82,456
= 20,037 Volt


= 0,200 A


= 0,043 A

3. Rangkaian kombinasi
a. Untuk tegangan 4 Volt










= 82,456







= 182,450
61


= 0,02192 A








0,02192 A.182,450


= 0,03999 A


= 8,51 x 10
-3
A

B. Untuk tegangan 8 Volt










62

= 82,456







= 182,450


= 0,0438 A








0,0438 A.182,450


= 0,036116 A


= 7,68 x 10
-3
A

63




C. Untuk tegangan 12 Volt










= 82,456







= 182,450


= 0,066 A








0,066 A.182,450
64



= 0,05442 A


= 0,012 A

D. Untuk tegangan 16 Volt










= 82,456







= 182,450


= 0,0877 A



65






0,0877 A.182,450


= 0,0723 A


= 0,0154 A

E. Untuk tegangan 20 Volt










= 82,456







= 182,450
66


= 0,1096 A








0,1096 A.182,450


= 0,090732 A


= 0,01923 A








67

4. Tabel
- Rangkaian seri
-Table
Tegangan (V) Itot (A) Vtot (V)
4
8
12
16
20
7,018.10
-3

0,014
0,021
0,028
0,035
4,000
7,980
11,970
15,960
19,950

-Rangkaian parallel
- Tabel
Tegangan (V) Itot (A) Vtot (V)
4
8
12
16
20
0,049
0,097
0,146
0,194
0,243
4,040
7,998
12,039
15,996
20,037

-Rangkaian kombinasi
- tabel
Tegangan (V) Itot (A) Vtot (V)
4
8
12
16
20
0,089
0,177
0,266
0,354
0,443
4,022
7,999
12,021
15,998
20,020




68

G. PEMBAHASAN
Pada pratikum kali ini bertujuan untuk mengamati arus dan tegangan listrik pada
rangkaian seri dan paralel dari resistor. Dalam hasil pengamatan didapatkan kesimpulan bahwa
arus yang melewati rangkain seri adalah sama, namun beda potensial pada ujung resistor berbeda.
Sementara pada rangkaian paralel, arus yang melewati setiap resistor berbeda, namun beda
potensial pada ujung resistor sama.
Dari analisis data pada rangkaian seri didapat yaitu: untuk V
sumber
= 4 volt (I
tot
= 7,018.10
-
3
A, V
tot
= 4,000 volt),untuk Vsumber= 8 volt (I
tot
= 0,014A,V
tot
= 7,980 volt), untuk V
sumber
= 12
volt (I
tot
= 0021A,V
tot
= 11,970 volt), untuk Vsumber= 16 volt (I
tot
= 0,028 A,V
tot
= 15,960 volt),
untuk Vsumber= 20 volt (I
tot
= 0,035 A,V
tot
= 19,950 volt). Mengamati dan membandingkan
antara hasil praktikum dan analisis data diatas diperoleh hasil yang tidak jauh berbeda , bahkan
hampir mendekati nilai sebenarnya. Jadi, untuk rangkaian seri dapat dikatakan percobaan yang
telah dilakukan telah berhasil.
Berdasarkan analisis data pada rangkaian paralel diperoleh yaitu: untuk Vsumber = 4 volt
(I
tot
= 0,049 A, V
tot
= 4,040 volt ), untuk Vsumber= 8 volt (I
tot
= 0,097A,V
tot
= 7,998 volt), untuk
V
sumber
= 12 volt (I
tot
= 0,146 A,V
tot
= 12,039 volt), untuk Vsumber= 16 volt (I
tot
= 0,149 A,V
tot
=
15,996 volt), untuk Vsumber= 20 volt (I
tot
= 243 A,V
tot
= 20,037 volt). Mengamati dan
membandingkan antara hasil pengamatan pada praktikum dan hasil analisis data, dapat dikatakan
bahwa praktikum yang dilaksanakan berhasil. Karena pada hasil pengamatan dan hasil analisis
data tidak jauh berbeda bahkan bisa dikatakan sama jika dilakukan pembulatan angka pada nilai
tersebut.

Untuk analisis data rangkaian kombinasi diperoleh yaitu: untuk Vsumber = 4 volt (I
tot
=
0,089 A, V
tot
= 4,022 volt ), untuk Vsumber= 8 volt (I
tot
= 0,177A,V
tot
= 7,999 volt), untuk
V
sumber
= 12 volt (I
tot
=0,266 A,V
tot
= 12,021 volt), untuk Vsumber= 16 volt (I
tot
= 0,354 A,V
tot
=
15,998 volt), untuk Vsumber= 20 volt (I
tot
= 0,445 A,V
tot
= 20,020 volt). Mengamati dan
membandingkan antara hasil analisis data dan hasil pengamatan pada praktikum, maka dapat
disimpulkan bahwa untuk percobaan pada rankaian kombinasi dinyatakan berhasil. Karena hasil
pada analisis data dan hasil pengamatan pada praktikum adalah sama jika dilakukan pembulatan
angka diatas.
69

Mengamati gravik hubungan antara V-I pada rangkaian seri, paralel, dan kombinasi dapat
disimpulkan bahwa semakin besar nilai aus yang mengalir pada suatu rangkaian, maka semakin
besar pula nilai beda potensialnya, jadi arus dan beda potensial berbanding lurus. Dan hal ini
berlaku jika hambatan total adalah tetap.

H. KESIMPULAN DAN SARAN
1.Kesimpulan
Arus yang melewati rangkaian seri adalah sama, tetapi beda potensial berbeda.
Arus yang melewati rangkaian paralel adalah berbeda, tetapi beda potensialnya
berbeda.
Dari hasil analisis data untuk rangkaian seri diperoleh yaitu:
Untuk V
sumber
= 4 volt (I
tot
= 7,018.10
-3
A, V
tot
= 4,000 volt),
untuk Vsumber= 8 volt (I
tot
= 0,014A,V
tot
= 7,980 volt),
untuk V
sumber
= 12 volt (I
tot
= 0021A,V
tot
= 11,970 volt),
untuk Vsumber= 16 volt (I
tot
= 0,028 A,V
tot
= 15,960 volt),
untuk Vsumber= 20 volt (I
tot
= 0,035 A,V
tot
= 19,950 volt.
Dari hasil analisis data untuk rangkaian paralel diperoleh yaitu:
untuk Vsumber = 4 volt (I
tot
= 0,049 A, V
tot
= 4,040 volt ),
untuk Vsumber= 8 volt (I
tot
= 0,097A,V
tot
= 7,998 volt),
untuk V
sumber
= 12 volt (I
tot
= 0,146 A,V
tot
= 12,039 volt),
untuk Vsumber= 16 volt (I
tot
= 0,149 A,V
tot
= 15,996 volt),
untuk Vsumber= 20 volt (I
tot
= 243 A,V
tot
= 20,037 volt).
Dari hasil analisis data untuk rangkaian kombinasi diperoleh yaitu:
untuk Vsumber = 4 volt (I
tot
= 0,089 A, V
tot
= 4,022 volt ),
untuk Vsumber= 8 volt (I
tot
= 0,177A,V
tot
= 7,999 volt),
untuk V
sumber
= 12 volt (I
tot
=0,266 A,V
tot
= 12,021 volt),
untuk Vsumber= 16 volt (I
tot
= 0,354 A,V
tot
= 15,998 volt),
untuk Vsumber= 20 volt (I
tot
= 0,445 A,V
tot
= 20,020 volt.
Berdasarkan gravik hubungan V-I pada rangkaian seri, paralel, dan kombinasi, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar nilai arus yang mengalir pada suatu
70

rangakaian, maka semakin besar pula nilai beda potensialnya, jadi nilai arus dan beda
potensialnya berbanding lurus. Jika hambatan total tetap.





























71

DAFTAR PUSTAKA
Halliday,David dan Robert Resnick. 1984. Fisika Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Sutrisno. 1997. Fisika Dasar II. Bandung : ITB.
Tippler, Paul. 2001. Fisika Untuk Universitas Jakarta : Erlangga.





































72

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. TUJUAN : - Menantukan kapasitas kapasitor yang tidak diketahui
melalui perbandingan dengan bantuan pembagian tegangan
kapasitif.
- Menentukan kapasitas kapasitor lempengan.
2. HARI/TANGGAL : KAMIS,26 MEI 2010
3. TEMPAT : Laboratorium Fisika Dasar Lantai II, FMIPA, Universitas
Mataram.

B. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
- Kabel ,10 cm ,merah (1)
- Kabel,10cm,biru (1)
- Kabel ,25 cm ,biru (1)
- Kabel ,25 cm ,merah(1)
- Kabel ,50cm ,biru (1)
- Kabel ,50 cm ,merah (1)
- Kabel ,1m ,hitam (1)
- Penguat electron (1bh)
- Power Supply 450 V (1bh)
- Voltmeter 3V (MAX ,10 V)

2.BAHAN
- Adapter 4 mm (1bh)
- Batang Penghubung (1bh)
- Kapasitor (2 bh)
- Plat Besi (29cm)



73

C. LANDASAN TEORI

Misalkan keping yang satu dihubungkan dengan kutub positip beterai dan keping lainnya
dihubungkan dengan kutub negatife baterai secara tetap , sehingga beda potensial antar kutub-
kutub baterai . Jadi beda potensial antar keping tetap , sehingga muatan yang berubah. Kapasitor
menyimpan energi listrik dalam medan listrik (Douglas,1998:201).
Kapasitas kapasitor keping sejajar adalah sebanding dengan luas keping. Sebadengan
permitivitas bahan penyekat ,dan berbanding terbalik dengan jarak pisah antar keping d. Secara
matematis yaitu (Halliday,1991:125).


Dalam banyak hal, kapasitas kapasitor terdiri dari dua plat sejajar. Hampir pada setiap alat
elektronika dapat kita jumpai kapasitor. Kapasitor dapat kita artikan sebagai suatu sistem yang
dapat menyimpan medan atau muatan listrik yang dibuat agar memiliki harga kapasitansi tertentu
Kapasitor, kadang-kadang disebut kondensator,adalah sebuah alat yang dapat menyimpan
muatan listrik, dan terdiri dari dua benda yang merupakan penghantar (biasanya pelat atau
lembaran) yang diletakkan berdekatan tetapi tidak saling menyentuh. Kapasitor banyak
digunakan pada rangkaian- rangkaian elektronika seperti contoh: sebagai cadangan energi pada
komputer jika listrik mati;kapasitor menahan limpahan muatan dan energi untuk melindungi
rangkaian. Jika kapasitor diberikan tegangan dengan menghubungkannya dengan sebuah baterai
dan akan menjadikan bermuatan. Suatu pelat mendapatkan muatan negatife, dan lainnya
bermuatan positif . untuk suatu kapasitor tertentu ,jumlah muatan Q yang didapatkan oleh setiap
pelat sebanding dengan beda potensial V :
Q = C V
Konstanta perbandingan ini disebut sebagai kapasitansi dari kaopasitor tersebut.satuan
kapasisitan adalah coulomb per volt, dan satuannya disebut farad (F). Sebagian kapasitor
memiliki kapasitansi dalam kisaran 1 pF (pikofarad=

F ) sampai F (mikro farad =

F )
hubungan ini pertama kali ditemukan oleh Volta pada abad kedelapan belas (Sutrisno,1983: 45).




74

D.PROSEDUR PERCOBAAN
1. Disusun rangkaian seperti pada gambar 1 ( Tegangan 3V dan 12V dapat diambil dari
power supply 450 V)
2. Diuji tegangan dengan cara sebagia berikut : dimasukan plug c ke dalam soket a.
Dicatat tegangan pada voltmeter (U
0
) dan kemudian plug c ke dalam soket b.
3. Percobaan 1. Dikosongkan kapasitor C
1
dengan cara mengubung singkatkan
penghubung dengan batang penghubung dengan soket pada penguat elektrometer
seperti gambar. Dilakukan hal yang sama pada C
2
dan plug tetap pada posisi bebas.
Dicatat potensial pada volmeter (U
1
).
Percobaan 2. Dilakukan seperti gambar, tetapi dengan harga capasitor yang berbeda
C
1
= 10 nF dan C
2
= 1 nF dan dicatat tegangan (U
1
)
Percobaan 3. Kapasitas kapasitir lempeng.
a. Ditempatkan sekat-sekat 1 mm pada pojok-pojok lempeng, ditempatkan pasangan
lempeng pada tepi meja dan kemudian dihubungkan kabel pada lempeng atas;
panjang 10 cm dan dihubungkan melalui adapter 4 mm.
b. Dicek tegangan U
0
seperti pada percobaan 1. Kemudiam dikosongkan kapasitor
lempeng dan kapasitor 1 nF dengan menghubung-disingkatkan dengan batang
penghubung, kemudian dimasukan kapasitor 1 nF pada posisi yang sudah ditandai.
Dicatat tegangan U
1.





















75

E. HASIL PENGAMATAN
(TERLAMPIR) .

F. ANALISIS DATA
1.Percobaan 1 kapasitas kapasitor
a. Dik :

= 10 =




= 3,02 Volt


= 0,27 volt
Dik :

= ..?
Jawab:



= 11,19.

F
= 1
b. Dik :

= 10 =




= 3,03 Volt


= 2,82 volt
Dik :

= ..?
Jawab:



= 1,07

F
= 1
2 . Kapasitor keping sejajar (Lempengan)
a.


76

= 4,95

F
= 5
C =


= 7,44.

F
= 7,5
b.


= 17,76

F
= 18
C =


= 3,72.

F
= 3,75

c.


= 8,16

F
= 8
C =


= 2,48.

F
= 2,5




77




= 7,74.

F
= 7,75
C =


= 1,86.

F
= 2

e.


= 7,55.

F
= 7,5
C =


= 1,49.

F
= 1

G.PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini,tentang kapasitas kapasitor, memiliki tujuan untuk menentukan
kapasitas kapasitor yang tidak diketaui melalui perbandingan dengan bantuan pembandingn
tegangan kapasitif dan menentukan kapasitas kapasior kapasitor lempeng. Kapasitor merupakan
suatu sistem yang dapat menyimpan muatan atau medan listrik yang dibuat agar memiliki harga
kapasitas tertentu.
Pada percobaan pertama, yaitu menentukan kapasitas kapasitor yang tidak diketahui nilainya,
disini digunakan cara yaitu melalui perbandingan tegangan kapaasitif. Maksud dari pembagian
kapasitif adalah ukuran tegangan pada saat kapasitor

dikosongkan atau dibagi dengan


ukuran tegangan yang terbaca pada multimeter setelah kapasitor

dimaksud atau
78

kemudian dikalikan dengan kapasitas kapasitor

. Didaptkan Berdasarkan hasil pengamatan


dan analisis data didapat kan bahwa nilai kapasitas kapasitor

yang belum diketahui nilainya
pada percobaan 1 adalah sebesar 1 , sedangkan nilai kapasitas kapasitor pada percobaan 2
adalah sebesar 1 , ini menunjukan bahwa meskipun kapasitor

dan

diubah ubah,
yang salah satunya menjadi kapasitor yang belum diketahui nilainya, melalui cara perbandingan
bantuan pembagian tegangan kapasitif dapat diketahui nilainyan dari kapasitas kapasitor
tersebut.
Pada kedua , yaitu menentukan kapasitas kapasitor lempeng, digunakan cara yang sama,
tetapi disini diukur nilai d dan ukuran tegangan pada multimeter. Disini

yang digunakan
adalah kapasitor lempengan , sehinggan diukur pula luas lempengan kapasitir (A). bedasarkan
hasil pengamatan dan analisis data, didaptkan bahwa nilai (V).cenderung berkurang seiring
denagn bertambahnya nilai d. Pada analisis data dengan menggunakan perbandingan kapasitif,
didapatkan nilai kapasitas kapasitor yang rata rata memliki nilai yang besar dibandingkan
dengan menggunakan perumusan kapasitas kapasitor keping sejajar yaitu
C =


Ini menunjukan bahwa pada saat melakukan praktikum terjadi kesalahan atau kurang teliti dalam
pengamatan, sehingga nilinya jauh dari harapan .

H. PENUTUP
1. KESIMPULAN
a. Untuk menentukan kapasitas kapsitor yang belum diketahui nilainya dapat digunakan
cara perbandingan dengan bantuan pembagian tegangan kapasitif.
b. Kapasitor adalah suatu sistem yang dapat menyimpan muatan atau meadan listrik yang
dibuat agar memiliki harga kapasitansi tertentu.
c. Factor yang dapat menentukan besarnya kapasitas kapasitor lempeng adalah permitivitas
bahan penyekat,luas lempeng dan jarak antar kedua lempeng.
2. SARAN
a. Dibutuhkan ketelitian yang tinggi dalam pengamatan dan percobaan.
b. Kerjasama tim dalam praktikum , dapat meningkatan kesuksesan dalam praktikum.
79


DAFTAR PUSTAKA
Sutrisno.1983. Fisika Dasar II. Bandung : ITB.
Douglas.1998. Fisika Dasar II. Jakarta : Erlangga.
Halliday, David dan Robert Resnick.1991. Fisika Jilid II. Jakarta : Erlangga.


80

OSCILOSKOP

A. PELAKSANAAN PRAKTIKKUM
1. Tujuan Praktikum : - Dapat menggunakan osciloskop dengan baik
dan benar sebagai alat untuk pengukuran
tegangan listrik dan pengamatan bentuk
sinyal tegangan.
- Menentukan beda fase antara dua input pulsa sumber
dengan pengamatan kurva Lissajous.
4. Hari/tanggal : Kamis, 26 Mei 2011
5. Tempat : Laboratorium Fisika Dasar, Lantai II, FMIPA
Universitas Mataram .

B. ALAT DAN BAHAN
1. Kabel penghubung
2. Multimeter
3. Satu set osciloskop
4. Sumber tegangan dan generator pulsa

C. LANDASAN TEORI
Osciloskop adalah alat untuk menampilkan tingkah laku besaran-besaran yang berubah
terhadap waktu yang hendak di analisis. Dimana osciloskop ini ini memiliki CRT(Cathode
Ray Tub) yaitu suatu sinar tabung katoda yang mengandung sumber yang memancarkan sinar
electron (senapan electron) ke suatu layar yang dilapisi lapisan tipis dari suatu zat yang
berpendar (zat yang mengeluarkan cahaya jika dikenai electron). Elektron dikeluarkan dari
katoda yang panas dan dipercepat ke layar dengan menggunakan anoda yang bermuatan
positif. Ciri utama osciloskop sinar katoda adalah CRT,penguat horizontal ,dan vertical serta
rangkaian sapu menghasilkan gigi gergaji yang dapat digunakan untuk memberikan defleksi
horizontal pada berkas electron sesuai dengan frekuensi yang dikehendaki. Osciloskop sinar
katoda dapat digunakan untuk mengukur pengisian fase dalam rangkaian
elektronik(Holdman,1985:215-217).
81

Arus listrik adalah laju aliran muatan yang melalui suatu luasan penampang melintang.
Berdasarkan konveksi arahnya dianggap sama dengan arah aliran muatan positif. Dalam
kawat penghantar, arus listrik merupakan hasil aliran lambat electron-elektron bermuatan
negative yang dipercepat oleh medan listrik dalam kawat, dan kemudian segera bertumbukan
dengan atom-atom konduktor. Biassanya kecepatan alur electron-elektron dalam kawat
memiliki orde 0,01 mm/s(Tipler,2001:200-201).
Factor geraakan, kecepatan, dan jumlah electron yang bergerak menentukan besarnya arus
listrik yang mengalir. Osciloskop ini dapat digunakan untuk mencatat arus sejalan yang tetap
atas tegangan dua arah sinusoidal. Banyak sekali bentuk gelombang yang berlainan
ditemukan dalam sirkuit elektronik. Gelombang-gelombang ini dapat ditunjukkan dengan
memakai osciloskop. Osciloskop memperlihatkan gambar variable yang sedang diukur dalam
bentuk grafik berdasarkan waktu pada layar(Wollard, 2003:345).
D. Prosedur Percobaan
1.Dilakukan kalibrasi pada osciloskop sebelum melakukan pengukuran.
2.Dihubungkan input osciloskop pada generator pulsa.
3.Diamati apa yang ditampilkan di layar osciloskop apabila jenis pulsa pada
generator diubah.
4. Dilakukan perhitungan frekuensi dengan Vpp untuk input yang berbeda,
dibandingkan jika menggunakan multimeter.
5. Ditentukan besarnya beda fase untuk 2 input yang berbeda dan beda fase Lissajous.
E.Hasil Pengamatan
a.Tegangan Bolak-balik (AC)

82

Tegangan sumbermultimeter vertikal horizontal volt/div time/div
1 5 4,5 3 4 5 5
2 10 9,4 5,8 4 5 5
3 15 14,4 20,4 4 2 5
4 20 19,5 30 4 2 5
5 22 21,8 30,4 4 2 5

b. Tegangan searah (DC)

Tegangan sumbermultimeter vertikal horizontal volt/div time/div
1 5 5,19 2 2 5 5
2 10 10,25 3,6 2 5 5
3 15 15,28 5 2 5 5
4 20 20,1 6,6 2 5 5
5 22 22,1 7,4 2 5 5


c. Kurva Lissajous
fx(Hz) X Y fy(Hz)
1 101,30 2 1 50,65
2 150,55 3 1 50,18
3 25,52 1 2 51,04
4 33,69 2 3 50,54
5 201,16 4 1 50,29


F. Analisis Data
A. Analisis Data
a. Tegangan Searah (DC)
1. V
p
p = volt/DIVxskala vertikalx2
= 5x2x2
=20 volt
Vp = Vpp 2
= 20 2
=10 volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 10 / 2
83

=7,07 volt
T =time/divx skala horizontalx 2
=0,005x2x2
=0,02 s
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz
2. V
p
p = volt/DIVxskala vertikalx2
= 5x3,6x2
= 36 volt
Vp = Vpp 2
= 36 2
=18 volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 18/ 2
=12,73 volt
T =time/divx skala horizontalx 2
=0,005x2x2
=0,02 s
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz
3. V
p
p = volt/DIVxskala vertikalx2
= 5x5x2
=50 volt
Vp = Vpp 2
= 50 2
=25 volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 25/ 2
=17,68 volt
84

T =time/divx skala horizontalx 2
=0,005x2x2
=0,02 s
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz
4. V
p
p = volt/DIVxskala vertikalx2
= 5x6,6x2
=66 volt
Vp = Vpp 2
= 66 2
=33 volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 33/ 2
=23,33 volt
T =time/divx skala horizontalx 2
=0,005x2x2
=0,02 s
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz
5. V
p
p = volt/DIVxskala vertikalx2
= 5x7,4x2
=74 volt
Vp = Vpp 2
= 74 2
=37 volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 37 / 2
=26,16 volt
T =time/divx skala horizontalx 2
85

=0,005x2x2
=0,02 s
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz

b. Tegangan Bolak-balik (AC)
1. V
p
p = volt/DIVxskala vertikal
= 5x3
=15 volt
Vp = Vpp 2
= 15 2
=7,5volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 7,5 / 2
=5,3 volt
T =time/divx skala horizontal
=5x4
=20 ms
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz
2. V
p
p = volt/DIVxskala vertikal
= 5x5,8
=29 volt
Vp = Vpp 2
= 29 2
=14,5 volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 14.5/ 2
=10,3 volt
86

T =time/divx skala horizontal
=5x4
=20 ms
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz
3. V
p
p = volt/DIVxskala vertikal
= 2x20,4
=40,8 volt
Vp = Vpp 2
= 40,8 2
=20,4 volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 20,4 / 2
=14,4 volt
T =time/divx skala horizontal
=5x4
=20 ms
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz
4. V
p
p = volt/DIVxskala vertikal
= 2x30
=60 volt
Vp = Vpp 2
= 60 2
=30volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 30 / 2
=21,2 volt
T =time/divx skala horizontal
87

=5x4
=20 ms
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz
5. V
p
p = volt/DIVxskala vertikal
= 2x30,4
=60,8 volt
Vp = Vpp 2
= 60,8 2
=30,4volt
V
ef
= V
p
/ 2
= 30,4 / 2
=21,5 volt
T =time/divx skala horizontal
=5x4
=20 ms
f =1/T
=1/0,02
=50 Hz

3.KURVA LISSAJOUS
1. Diketahui: f(x)= 101,30 Hz
X= 2
Y= 1
Ditanyakan ; f(y)?
Jawab :


88

f(y)=


= 50,65 Hz

Gambar


2. Diketahui: f(x)= 150,55 Hz
X= 3
Y= 1
Ditanyakan ; f(y)?
Jawab :


f(y)=


= 50,18 Hz
Gambar
89



3. Diketahui: f(x)= 25,52 Hz
X= 1
Y= 2
Ditanyakan ; f(y)?
Jawab :


f(y)=


= 51,04 Hz
Gambar

4. Diketahui: f(x)= 33,69 Hz
X= 2
Y= 3
90

Ditanyakan ; f(y)?
Jawab :


f(y)=


= 50,54 Hz

Gambar



5. Diketahui: f(x)= 201,16 Hz
X= 4
Y= 1
Ditanyakan ; f(y)?
Jawab :


f(y)=


= 50,29 Hz
91

Gambar


G. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yakni tentang alat ukur listrik (osciloskop) bertujuan untuk
dapat menggunakan osciloskop dengan baik dan benar sebagai alat untuk pengukuran
tegangan dan pengamatan bentuk sinyal tegangan serta untuk menentukan beda fase
antara dua input pulsa sumber dengan pengamatan kurva Lissajous. Dimana osciloskop
ini adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk pengukuran tegangandisertai gambaan
bentuk sinyal tegangan. Untuk mencapai dari praktikum kali ini, dilakukan 3 kali
percobaan. Percobaan pertama dan kedua yaitu menentukan besarnya tegangan dan
frekuensi dari suatu gelombang yang dihasilkan oleh suatu sumber tegangan. Dimana
sumber tegangan yang digunakan untuk percobaan pertama adalah sumber AC(arus
bolak-balik) dan untuk percobaan kedua adalah sumber DC(arus searah). Serta percobaan
ketiga yakni menentukan frekuensi sumber tegangan f(y) dengan pengamatan kurve
Lissajous. Dimana chanel 1 dihubungkan dengan sumber tegangan dan chanel 2
dihubungkan dengan generator pulsa.
Berdasarkan analisis data pada percobaan 1, yakni menentukan besarnya tegangan
frekuensi dari suatu gelombang yang dihasilkan oleh sumber tegangan AC(arus bolak-
balik). Mengamati analisis data pada percobaan 1 dan 2, dapat dilihat bahwa frekuensi
dari masing-masing sumber adalah tetap. Frekuensi untuk tegangan AC(arus bolak-balik)
adalah 50 Hz dan untuk sumber tegangan DC(arus searah) adalah 50 Hz. Sementara untuk
penentuan besarnya tegangan V sumber, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar
Vsumber, maka besarnya tegangan( Vpp,Vp, dan Vef) juga semakin besar, begitu juga
sebaliknya. Sehingga dapat dikatakan Vsumber berbanding lurus dengan besarnya
92

tegangan. Selain itu dari hasil pengamatan bentuk sinyal tegangan dari masing-masing
sumber dapat dilihat bahwa bentuk sinyal tegangan dari sumber AC dan DC berbeda.
Padas umber tegangan AC, satu gelombang terdiri dari satu bukit dan satu lembah.
Sedangkan pada sumber tegangan DC, satu gelombang terdiri dari dua bukit gelombang.
Pada percobaan ketiga, yakni penentuan frekuensi sumber tegangan f(y) dengan
menggunakan pengamatan dari kurva Lissajous. Dimana chanel 1 dihubungkan dengan
sumber tegangan, sementara chanel 2 dihubungkan dengan generator pulsa. Dalam hal ini
ditentukan (diatur) frekuensi f(x) pada generator pulsa sehingga didapatkan gambar sinyal
yang jelas pada layar osciloskop. Kemudian dihitung jumlah x dan y, dimana x mewakili
sinyal gelombang dari sumber tegangan berarah horizontal, dan y mewakili sinyal
gelombang arah vertical. Mengamati hasil analisis data, terlihat bahwa frekuensi f(y) yang
didapatkan tidak jauh berbeda dari frekuensi yang sebenarnya. Jadi, dapat dikatakan
bahwa praktikum yang dilakukan sudah hamper berhasil.
Setelah melakukan 3 percobaan tersebut berturut-turut, kita bias mengetahui fungsi
serta cara penggunaan osciloskop yang baik dan benar. Dalam percobaan ini, bias
diketahui bahwa osciloskop dapat digunakan untuk nengukur tegangan serta frekuensi
suatu gelombang. Pada osciloskop terdapat tombol chanel selaktor yanf fungsinya
untuk menentukan input mana yang ingin ditampilkan. Misalnya, yang ingin ditampilkan
pada layar adalah input dari chanel 1, maka chanelselector diarahkan menuju DUAL.
Untuk mengatur tampilan pada gambar pada osciloskop, digunakan control timebase dan
control chanel. Sama halnya seperti peta, pada osciloskop juga terdapat skala untuk
mengatur besar kecilnya gambar agar bisa atau mudah diamati. Misalnya, gambar pada
layar terlalu besar sehingga melewati batas layar sehingga menyebabkan sulit untuk
diamati, maka untuk memperkecil gambar tersebut, kita harus memperbesar skalanya,
begitu juga sebaliknya. Skalanya bisa diatur dengan tombol time/div untuk skala
horizontal dan volt/div untuk skala vertical. Dimana, skala horizontal ini dapat digunakan
untuk mengetahui periode dan frekuensi suatu gelombang, skala vertical untuk
mengetahui tegangan suatu gelombang.



93

H. Penutup
A. Kesimpulan
1. Osciloskop merupakan alat ukur listrik yang dapat digunakan untuk mengukur
tegangan dan frekuensi suatu gelombang.
2. Untuk mengatur tampilan gambar pada osciloskop, digunakan control timebase dan
control chanel.
3. Berdasarkan analisis data didapatkan frekuensi untuk masing-masing sumber
tegangan adalah sama yaitu 50 Hz.
4. Untuk penentuan besarnya tegangan(Vpp,Vp, dan Vef) masing-masing sumber
tegangan, dapat dikatakan bahwa semakin besar sumber tegangannya, maka semakin
besar pula tegangannya, begitu juga sebaliknya atau dengan kata lain Vsumberr
berbanding lurus dengan besarnya tegangan(Vpp,Vp, dan Vef).
5. Bentuk sinyal gelombang pada sumber tegangan AC dan Dc berbeda, dimana pada
tegangan AC satu gelombang terdiri dari satu bukit dan satu lembah, dan pada sumber
tegangan DC, satu gelombang terdiri dari dua bukit.
6. Berdasarkan analisis data untuk percobaan ketiga(kurva Lissajous) diperoleh
frekuensi yang tidak jauh berbeda satu sam lainm yakni f(y)1=50,65 Hz, f(y)2=50,18
Hz, f(y)3=51,04 Hz,f(y)4=50,54 Hz dan f(y)5=50,29 Hz.
B. Saran
1.Berdoalah sebelum praktikum agar diberi kemudahan.
2.praktikan diharapkan lebih teliti lagi dalam melakukan praktikum.
3.kerja sama tim akan meningkatkan kesuksesan dalam praktikum.






94

Daftar Pustaka

Holman, J.P.1985.Metode Pengukuran Teknik.Jakarta: Erlangga.
Tipler,Paul A.2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid 2. Jakarta:Erlangga.
Wollard, Barny.2003. Elektronika Praktis. Jakarta :Pradya.




































95

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan : - Memahami dasar pengukuran nilai hambatan dengan
metode arus nol (metode Jembtan Wheatstone).
- Menentukan besar nilai hambatan suatu penghantar.
2. Hari, tanggal :kamis,5 mei 2011.
3. Tempat : Laboratorium Fisika Dasar, FMIPA, Universitas Mataram.

B. ALAT DAN BAHAN
Alat
1. Bangku jembatan wheatstone
2. Sumber tegangan
3. Kabel penghubung
4. Galvanometer
Bahan
1. Hambatan
2. Hambatan standar
3. Hambatan kawat
C. LANDASAN TEORI
Rangkaian jembatan wheatstone adalah suatu sistem rangkaian yang dapat dipakai
unutk mengukur tahanan yang tidak diketahui jika pada rangkaian R
1
, R
2
, dan R
3
diketahui sedemikian arus yang melewati galvanometer (suatu alat pengukur arus
kecil yang dapat menyimpang secara semetri terhadap titik nolnya) tetap, maka
akibatnya harus dipenuhi:
I
1
R
1
=I
2
R
x

I
1
R
2
=I
2
R
3
Jika dibagi satu sama lain, maka:


Dengan demikian R
x
dapat ditentukan. Dalam praktek untuk memudahkan pengukuran
biasanya tahanan R
1
dan R
2
dibuat dari bahan yang sama, jenis dan ukuran penampang, sehingga
96

perbandingan

dapat dinyatakan sebagai perbandingan panjang saja, sedangakan R


3
dapat
diubah-ubah sedimikian pnunjukkan arus pada galvanometer menjadi nol (Renreng, 1983: 51).
Metode jembatan wheatstone dapat digunakan untuk menentukan (mengukur secara tidak
lansung) resistansi. Jika rangkaian jembatan wheatstone dapat digunakan sebagai resistans
standar ( yang diketahui) sebagai R
3
dan R
s
dan resistan yang akan diukur diletakkan pada posisi
R
4
=R
x
(Edi, 2004: 161).
Untuk rangkaian jembatan wheatstone seperti gambar, diperoleh:


Untuk suatu konduktor homogendengan panjang l dan luas penampang A, besar hambatan
adalah:



Dengan merupakan resitivitas atau hambatan jenis (Hikam, 2005:101).
Prinsip dari jembatan wheatstone adalah untuk menyederhanakan rangkaian sehingga
susunan komponen yang semula tidak dapat disederhanakan secara seri parallel menjadi dapat
disederhanakan secara seri paralel. Prinsip jembatan wheatstone, yaitu: hasil kali dua hambatan
yang saling berhadapan sama besarnya (Karginan, 1996: 113).
D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Peralatan percobaan diset dan disiapkan seperti gambar:
R
x

R
R
I
1
I
2

97


2. salah satu hambatan dipilih sebagai hambatan standar
3. Sumber tegangan dihidupkan dan tahanan geser diatur dengan menggerakkan jarum/pointer
petunjuk pada kawat sampai memperoleh arus pada galvanometer sama dengan nol
4. Harga R
s
, l
2
, l
4
, dan R tahanan yang ditentukan nilainya dicatat dalam bentuk table
5. Percobaan diatas (tersebbut diulangi) samapai 10 kali dengan memvariasikan nilai R
s
, l
2
, dan l
4


E. HASIL PENGAMATAN
No R
s
(cm) l
2
(cm) l
4
(cm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20



R
x


R
R
R
s

E
98

F.ANALISIS DATA
Pengukuran R (0)



99






G. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini menitiberatkan pada pemahaman dasar pengukuran nilai suatu
hambatan dari suatu penghantar dengan menggunakan metode jembatan wheatstone dimana
peralatan yang sudah disiapkan dan diatur sedimikian rupa kemudian dihubungkan dengan
galvanometer dan sumber tegangan. Salah satu hambatan yang tidak dketahui nilainya dengan
nilai maksimum 50 digeser untuk beberapa kali percobaan dengan bantuan hambatan lain yang
menjadi standar yakni hambatan 20 .
Pada saat pergeseran pointer galvanometer akan menunjukkan angka yang bervariasi
tergantung dimana hambatan tahanan diletakkan dan seberapa jauh pergeseran pointer, setelah
jarum galvanometer (yang sudah dikalibrasi) menunjukkan angka nol, maka akan didapat
panjang unutk l
2
dan l
4
dan dari sanalah dapat dihitung R tahanan untuk masing-masing tahanan.
Resistor yang biasa dipakai dalam peralatan elektronik ialah resistor yang berbentuk
batang yang didalamnya terdapat kumparan menyerupai kawat yang dililit pada bahan sejenis
beton sehingga nilainya tidak dapat diubah sama sekali, kecuali dirangkai secara seri dan parallel.
Berbeda dengan hambatan (rtesistor) pada praktikum ini, hambatan yang dipakai adalah
hambatan geser yang mempuynyai kapasitas antara 1-20 dan 1-50 . Prinsip kerjanya sama
dengan potensiometer. Potensiometer juga sesunguhnya merupakan resistor yang nilainya dapat
diubah antara nilai manimum samapai maksimum.
Berdasarkan pemahaman diatas, maka kita dapayt asumsikan bahwa resistor/hambatan/R
tahanan yang dicari nilainya tidak akan melampauhi 50 (batas maksimum), R tahanan yang
didapatkan berdasarkan analisis data percobaan ke-1 sampai ke-10, berturut-turut adalah:
R
1
=2,47 , R
2
=8,57 , R
3
=2,72 , R
4
=1,27 , R
5
=3,25 , R
6
=3,52 , R
7
=1,97 , R
8
=4,09 ,
R
9
=20 , R
10
=9,85 .
Hasil yang didapat pada percobaan ke-9 sampai ke-10 memang bisa dibilsng aneh karena
melebihi batas standar, namun ini merupakan bukan sebuah kesalahan merupakan suatu
kewajaran karena fungsi dari jembatan wheatstone itu sendiri menyelaraskan susunan komponen
yang tidak dapat disederhanakan menjadi bisa disederhanakan dengan rangkaian seri dan parallel.
100

Jikalau terdapat hasil yang melebihi nilai maksimal dari R tahanan yang dicari, maka itu
dikarenakan hantaran susuna yang dirancang pada saat praktikum adalh susunan seri antara
hambatan yang dicari dengan hambatan standar dan juga pengaruh dari tegangan yang dialirkan
pada hambatan tersebut.
Hasil atau nilai yang diperoleh dari percobaan ini masih bisa dikatakan meragukan karena
praktikan tidak mengecek dan mengukur bahyan yang digunakan apakah masih bagus atau tidak.
Hambatan yang digunakan seharusnya diukur dengam ohm meter sebelum digunakan karena
nilainya bisa saja terjadi apabila pernah terjadi aliran tegangan yang melebihi kapasitasnya,
karena sesungguhnya resistor juga bisa berubah nilainya karena faktor tersebut.
H. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Mencari nilai suatu hambatan dapat digunakan metode jembatan wheatstone
2. Hambatan standar yang digunakan adalah 20 , sedangkan R tahanan bernilai
maksimum sebesar 50
3. Prinsip kerja hambatan geser sama seperti potensiometer yang nilainay dapat
diubah-ubah
4. R tahanan yang didapat dari sepuluh percobaan berturut-turut sebesar: R
1
=2,47 ,
R
2
=8,57 , R
3
=2,72 , R
4
=1,27 , R
5
=3,25 , R
6
=3,52 , R
7
=1,97 , R
8
=4,09
, R
9
=20 , R
10
=9,85 .

Saran
Bimbingan yang diberikan oleh Co.ass sudah cukup baik , tapi sebaiknya alat/tahanan
yang digunakan dicek dulu sebelum digunakan. Terimakasih atas bimbingan dan
kerjasamanya.






101


DAFTAR PUSTAKA

Hikam, Muhammad.2005. Eksperimen Fisika Dasar Untuk Perguruan Tinggi.
Jakarta: Kencana.
Istiyono, Edi.2004. Sains Fisika. Klaten: Macana Jaya Cemerlang.
Kanginan, Marthen.1996.Fisika. Jakarta: Erlangga.
Renreng, Abdullah.1983. Asas-Asas Ilmu Alam Universitas. Jakarta: Bahan
Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri.






















102


RANGKAIAN SERI DAN PARALEL
PADA RESISTOR

KISI DIFRAKSI
LENSA TIPIS


JEMBATAN
WHEATSTON
REFRAKTOMETER
KOMPONEN ELEKTRONIKA
KAPASITAS KAPASITOR
OSCILOSKOP
103