Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI AIR

ACARA II
PENGUJIAN KUALITAS AIR

Disusun oleh :








LABORATORIUM MIKROBIOLOGI AIR
JURUSAN MIKROBIOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
Nama : Lestari Wevriandini
NIM : 11/313063/PN/12277
Kelompok : 5 (lima)
Jurusan : Mikrobiologi
Asisten : Martha Retnaning Tyas
Nabila Dias F
Yudi Kusnadi

PENGUJIAN KUALITAS AIR
ABSTRAKSI
Seiring dengan berkembangnya industri, penduduk dan luasnya areal
pemukiman, ketersediaan akan air bersih yang layak diminum semakin langka.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai kelayakan/kualitas air
untuk menjadi air minum adalah jenis bakteri yang terkandung di dalamnya.
Praktikum Mikrobiologi Air Acara I yang berjudul Pengujian Kualitas Air
dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 20 Maret 2014 di Laboratorium
Mikrobiologi Air, Jurusan Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan pada praktikum,
antara lain cawan petri, tabung reaksi, erlenmeyer, bunsen, mikropipet dan tip,
sedangkan bahan yang diperlukan, antara lain berbagai sampel air (air es batu
balok, air es batu bulat, air PDAM, air sumur dan beberapa jenis air mineral
kemasan), beberapa jenis medium, yaitu NA (Nutrien Agar), Endo Agar, BGBB
(Brilliant Green Bile Broth) dan SSA (Salmonella Shigella Agar) serta air steril.
Hasil yang didapatkan adalah pada medium NA, terdapat mikroorganisme hanya
pada es batu balok yaitu sebesar 5,1 x 10
4
cfu/ml. Pada medium SSA tidak ada
mikroorganisme yang tumbuh dan pada medium Endo sampel air yang
mengandung bakteri koliform adalah air RO, es batu bulat dan es batu balok,
sehingga ketiga jenis air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.

I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan jasad hidup, salah satunya
dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yaitu sebagai air minum. Air minum
untuk sebagian besar daerah tempat tinggal dan kota diperoleh dari sumber permukaan,
seperti sungai, kali dan danau. Persediaan air alamiah semacam itu terutama kali dan
sungai kemungkinan besar tercemar oleh sampah domestik, pertanian dan industri.
Pencemaran beberapa sumber air menyebabkan air tersebut kontaminan yang mana
jenis kontaminan dapat digolongkan menjadi 3 kategori yaitu, kimia, fisik dan biologi
(hayati). Kontaminan-kontaminan tersebut dapat mempunyai pengaruh nyata terhadap
kualitas air. Akibat kontaminan-kontaminan tersebut, air dapat menjadi suatu substansia
yang mungkin membawa malapetaka, karena air dapat membawa mikroorganisme
patogen dan zat-zat kimia yang bersifat racun ketika dikonsumsi. Air mungkin saja
terlihat jernih, tak berbau dan tak berasa, tetapi tidak aman untuk diminum. Seiring
dengan berkembangnya industri, penduduk dan luasnya areal pemukiman, ketersediaan
akan air bersih yang layak diminum semakin langka. Salah satu hal yang perlu
diperhatikan dalam menilai kelayakan/kualitas air untuk menjadi air minum adalah jenis
bakteri yang terkandung di dalamnya.

b. Tujuan
1. Mengetahui cara pengujian kualitas air secara biologi
2. Menguji secara biologi kualitas beberapa jenis sampel air di lingkungan.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Meningkatnya permintaan global untuk air minum dalam kemasan tentunya
memberikan beban yang cukup berat bagi ketersediaan sumber air minum seperti sungai
dan danau. Karenanya, solusi alternatif yang dapat diambil yaitu mengolah air bersih
dari sumber air konvensional yang bersifat sekunder. Pengolahan air yang berasal dari
air limbah sekunder dalam rangka reklmasi air limbah mulai populer digunakan sebagai
air minum dalam kemasan. Namun, penggunaan teknologi membran filter dalam
pengolahan air limbah terhambat dengan adanya fenomena kontaminasi. Air limbah
sekunder terkenal dengan kandungan bahan organik terlarut dalam limbah cair dari
industri yang dikenal dengan effluent organic matter (EfOM), EfOM inilah yang
menjadi sumber kontaminan organik. EfOM biasanya mengandung senyawa
polisakarida, protein, gula amino, asam nukleat, humus, asam fulfat, asam organik, dan
komponen sel (Ang et al., 2011).
Kebanyakan industri termasuk industri semikonduktor, farmasi, pangan dan
minuman mengalami banyak kesulitan dalam menangani kontaminasi pada ultrapure
water (UPW). Di dalam industri semikonduktor, air ultrapure digunakan pada tahap
akhir pencucian, sehingga adanya sel bakteri tunggal atau produk dari degradasi seluler
dapat menyebabkan buruknya kualitas produk akhir yang dihasilkan. Beberapa strain
bakteri yang menyebabkan kontaminasi pada UPW, antara lain R. pickettii (ditemukan
pada tahap keempat dari sistem UPW), Bradyrhizobium sp. (terdapat pada semua atau
salah satu sistem analisis UPW), Pseudomonas (ditemukan pada tahap ketiga di sistem
UPW). Bakteri-bakteri tersebut mendapat tempat yang cukup signifikan yaitu sekitar
20% dari keseluruhan jumlah strain bakteri yang diisolasi (Kulakov et al., 2002).
E.coli dan bakteri koliform lain merupakan kelas bakteri yang luas yang banyak
ditemukan di lingkungan dan juga pada feses manusia dan hewan. Bagaimanapun,
kehadiran bakteri koliform yang dalam hal ini E. coli pada air minum dapat
mengindikasi adanya penyakit yang disebabkan oleh organisme. Dengan alasan
tersebut, dengan mengetahui atau menghitung jumlah E.coli akan membantu dalam
menguji kualitas air (Boubetra et al., 2011). Bakteri koliform adalah golongan bakteri
intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Penentuan koliform fekal
menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif
dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi koliform jauh lebih murah,
cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain (Dad, 2000). Jadi,
koliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan koliform artinya
kualitas air semakin baik.
Menurut Pelczar dan Chan (1988), pada pemeriksaan mikrobiologis yang rutin
terhadap air untuk menentukan aman tidaknya untuk diminum, tidaklah cukup bila
mendasarkan uji-uji yang digunakan hanya terhadap adanya mikroorganisme patogenik
karena alasan sebagai berikut :
1. Kemungkinan besar patogen masuk ke dalam air secara sporadik, tetapi karena tidak
dapat bertahan hidup lama, maka mungkin saja tidak terdapat di dalam contoh air
yang dikirimkan ke laboratorium.
2. Bila terdapat dalam jumlah yang sedikit, maka besar kemungkinan pathogen-
patogen tersebut tidak terdeteksi oleh prosedur laboratories yang digunakan.
3. Hasil pemeriksaan laboratorium baru dapat diketahui setelah 24 jam atau lebih.
Apabila ternyata ditemukan adanya patogen, padahal pada waktu tersebut banyak
orang telah mengkonsumsi air tersebut dan telah tereksposi terhadap infeksi sebelum
dapat dilakukan usaha untuk mengatasi situasi tersebut.
Pendekatan berdasarkan metagenom digunakan untuk mengetahui hubungan
taksonomi dan fungsi potensial dari populasi mikrobia di dalam air minum yang diberi
perlakuan monokloramin (CHM) dan klorin bebas (CHL). Klorin bebas digunakan
sebagai desinfektan primer pada kebanyakan sistem distribusi air minum (DWDS).
Bagaimanapun, desinfeksi klorin dapat meningkatkan pembentukan desinfektan melalui
produk (DBPs) dan sebagai hasil, kandungan air dicoba diubah menggunakan
monokloramin untuk memastikan terjadinya regulasi pembentukan desinfektan melalui
produk. Kedua strategi desinfektan memang bertujuan untuk mengamankan air dari
patogen, namun kedua hal tersebut tidak bisa sepenuhnya membunuh mikroorganisme
di dalam DWDS (Alvarez et al., 2013).


III. METODOLOGI
Praktikum Mikrobiologi Air Acara I yang berjudul Pengujian Kualitas Air
dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 20 Maret 2014 di Laboratorium Mikrobiologi
Air, Jurusan Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Alat yang digunakan pada praktikum, antara lain cawan petri, tabung
reaksi, erlenmeyer, bunsen, mikropipet dan tip, sedangkan bahan yang diperlukan,
antara lain berbagai sampel air (air es batu balok, air es batu bulat, air PDAM, air sumur
dan beberapa jenis air mineral kemasan), beberapa jenis medium, yaitu NA (Nutrien
Agar), Endo Agar, BGBB (Brilliant Green Bile Broth) dan SSA (Salmonella Shigella
Agar) serta air steril.
Adapun cara kerja yang dilakukan pertama adalah membandingkan tingkat
kekeruhan dan warna semua sampel air. Kemudian, masing-masing sampel air dituang
sebanyak 10 ml ke dalam Erlenmeyer yang telah berisi 90 ml air steril. Selanjutnya,
dibuat pengenceran hingga 10
-5
. Pada pengenceran 10
-1
s.d 10
-4
sampel diinokulasikan
ke medium ENDO dan SSA secara pour plate, kemudian diinkubasi pada suhu 37
0
C
untuk medium SSA selama 24 jam, sedangkan medium ENDO selama 48 jam. Pada
sampel dengan pengenceran 10
-3
s.d 10
-5
sampel diinokulasikan ke medium NA secara
pour plate, kemudian diinkubasi di ruangan bertemperatur 37
0
C selama 48 jam.
Selanjutnya dilakukan pengamatan dan perhitungan jumlah koloni mikrobia.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Tidak satupun makhluk hidup di
dunia ini yang tidak memerlukan dan tidak mengandung air. Sel hidup, baik tumbuhan
maupun hewan sebagian besar tersusun oleh air, seperti di dalam sel tumbuhan
terkandung lebih dari 75% atau di dalam sel hewan terkandung lebih dari 67%
(Widiyanti dan Ristiati., 2004). Karena air mengisi semua bagian dari tiap sel, air
merupakan medium tempat berlangsungnya transport nutrient, reaksi-reaksi enzimatis
metabolisme, sel dan transfer energi kimia. Oleh karena itu, semua aspek dan fungsi sel
harus beradaptasi dengan sifat-sifat fisik dan kimia air. Air bersifat stabil kimiawi, ion
H
+
dan OH
-
sangat mempengaruhi sifat berbagai komponen penting sel, seperti enzim,
protein, asam nukleat dan lipid (Lehninger, 1982).
Air digunakan untuk memasak, mencuci, mandi, dan membersihkan kotoran
yang ada di sekitar rumah. Air juga digunakan untuk keperluan industri, pertanian,
pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain. Penyakit-penyakit
yang menyerang manusia dapat juga ditularkan dan disebarkan melalui air. Kondisi
tersebut tentunya dapat menimbulkan wabah penyakit dimana-mana. Beberapa organ
tubuh manusia yang mengandung banyak air, antara lain, otak 74,5%, tulang 22%,
ginjal 82,7%, otot 75,6%, dan darah 83%. Setiap hari kurang lebih 2.272 liter darah
dibersihkan oleh ginjal dan sekitar 2,3 liter diproduksi menjadi urine. Selebihnya
diserap kembali masuk ke aliran darah. Dalam kehidupan sehari-hari, air dipergunakan
antara lain untuk keperluan minum, mandi, memasak, mencuci, membersihkan rumah,
pelarut obat, dan pembawa bahan buangan industri. Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan
masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di
masyarakat. Volume rata- rata kebutuhan air setiap individu per hari berkisar antara
150-200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung pada
keadaan iklim, standar kehidupan, dan kebiasaan masyarakat.
Banyaknya fungsi dan manfaat air bagi kehidupan khusunya bagi tubuh, maka
kualitas dari air harus dipertimbangkan sebelm dikonsumsi atau digunakan. Kualitas air
yaitu sifat air dan kandungan mahkluk hidup, zat, energi atau komponen lain di dalam
air. Kualitas air juga merupakan istilah yang menggambarkan kesesuain atau kecocokan
air untuk penggunaan tertentu, misalnya air minum, perikanan, pengairan/irigasi,
industri, rekreasi dan sebagainya. Kualitas air dapat dibagi menjadi tiga, yaitu secara
fisik, kimia dan biologis. Kualitas fisik air meliputi kekeruhan, temperatur, warna, bau
dan rasa. Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan
anorganik yang terkandung di dalam air seperti lumpur dan bahan-bahan yang berasal
dari buangan. Kualitas kimia air berhubungan dengan ion-ion senyawa ataupun logam
yang membahayakan, di samping residu dari senyawa lainnya yang bersifat racun,
seperti residu pestisida. Dengan adanya senyawa-senyawa ini kemungkinan besar bau,
rasa dan warna air akan berubah, seperti adanya perubahan pH air dan logam berat (Hg,
Pb, Ag, Cu, Zn). Sedangkan, kualitas biologis berhubungan dengan kehadiran mikrob
patogen, pencemar dan penghasil toksin.
Untuk melihat ketiga kualitas air baik secara fisik, kimia dan biologis, maka
perlu dilakukan pengujian kualitas air., meliputi uji kimia, fisik biologi atau uji
kenampakan (bau dan warna). Uji kualitas air dapat dinyatakan dengan beberapa
parameter, yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut, bau, rasa dan
sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, COD, kadar logam, kadar N
dan P dan sebagainya) dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri dan
sebagainya) (Yuliastuti, 2011).
Pada praktikum ini uji kualitas yang dilakukan adalah uji biologis dimana diuji
ada atau tidaknya kandungan mikroorganisme indikator pada beberapa sampel air.
Menurut Pelczar dan Chan (1988), mikroorganisme indikator mengacu pada sejenis
mikroorganisme yang kehadirannya di dalam air merupakan bukti bahwa air tersebut
terpolusi oleh bahan tinja dari manusia atau hewan berdarah panas. Beberapa jenis
mikroorganisme yang termasuk ke dalam mikroorganisme indikator adalah bakteri
koliform. Koliform merupakan jenis bakteri berbentuk batang, gram negatif, tidak
membentuk spora, aerobik dan anaerobik fakultatif yang memfermentasi laktosa dengan
menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35
o
C. Bakteri koliform
dapat dibedakan menjadi 2 grup, yaitu : (1) koliform fekal misalnya E. coli dan (2)
koliform non fekal misalnya Enterobacter aerogenes (Widiyanti dan Ristianti, 2004).
Contoh lain dari anggota kelompok coliform adalah Citrobacter, Enterobacter,
Kleibsella, dan Serratia. Keberadaan mikrorganisme indikator tersebut di dalam air
perlu pengendalian dan penanganan agar dapat mencegah dampak negatif yang dapat
ditimbulkan.
Pada praktikum dilakukan beberapa pengujian dengan metode Total Plate Count
(TPC). Prinsip dari metode TPC adalah jika sel mikroorganisme masih hidup
ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroorganisme akan berkembang biak dan
membentuk koloni yang dapat lihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa
menggunakan mikroskop. Adapun pengujian yang dilakukan ada atau tidaknya
mikroorganisme pada beberapa sampel air, yaitu uji patogen (mendeteksi keberadaan
bakteri berbahaya seperti Salmonella) dimana digunakan medium selektif untuk
menumbuhkan mikroorganisme patogen spesifik dalam air seperti Salmonella dan
Shigella . Dalam pengujian tersebut digunakan medium SSA (Salmonella Shigella Agar)
yang komposisi nya terdiri atas laktosa sebagai sumber karbon, bile salts atau natrium
thiosulfat (Na
2
S
2
O
3
) yang berfungsi untuk seleksi bakteri gram negatif sehingga
pertumbuhan bakteri gram positif tidak dijumpai, kemudian terdapat juga ferric citrate,
atau neutral red yang berfungsi untuk mendiferensiasi jenis-jenis mikroorganisme yang
tumbuh dalam medium. Reaksi positif dari medium ini ditandai munculnya koloni hitam
yakni Salmonella yang mereduksi thiosulfat menjadi H
2
S yang mengakibatkan
perubahan warna serta bau yang menyengat. Selain uji patogen dilakukan juga uji
coliform atau E. coli diaman digunakan medium Endo Agar yang merupakan medium
selektif bagi Escherichia coli. Dalam medium ini terkandung peptone sebagai sumber
nitrogen dan K
2
HPO
4
yang berfungsi sebagai buffer pH sekaligus sumber P (phospat)
dan K (kalium) yang dapat menunjang kehidupan mikroorganisme. Selain itu dalam
terdapat fuchsin yang berfungsi untuk diferensiasi mikroorganisme dalam medium yang
memberi warna khas merah muda pada medium. Dalam uji ini E.coli akan tampak
sebagai koloni berwarna hijau metalik. Medium lain yang digunakan pada pengujian
yaitu medium nutrient agar (NA) yang merupakan medium umum yang mampu
menumbuhkan berbagai jenis mikroorganisme dalam spektrum yang luas. Berbagai
macam mikroorganisme baik patogen maupun bukan dapat tumbuh dalam medium ini
dikarenakan medium ini terdiri dari komponen penyusun berupa peptone 0,5% yang
berfungsi sebagai sumber penyedia nitrogen, 0,3% beef extract atau yeast exract sebagai
sumber nutrisi kompleks, 1,5% agar untuk memadatkan medium dan erakhir 0.5% NaCl
yang berfungsi sebagai penjaga tekanan osmotik agar tetap stabil dan dapat medukung
kehidupan mikroorganisme.
Pada praktikum digunakan berbagai jenis sampel berupa air es batu bulat dan es
batu balok yang berasal dari warung makan di sekitar kampus, air PDAM, air selokan
dan beberapa air mineral kemasan. Berdasarkan hasil pengujian (tabel 1) didapatkan
bahwa pada medium NA, sampel air yang di dalamnya terdapat mikroorganisme hanya
pada es batu balok yaitu sebesar 5,1 x 10
4
cfu/ml, sedangkan pada sampel air lain tidak
terdapat koloni mikroorganisme, namun jenis mikroorganisme tidak dapat dideteksi
karena medium NA adalah medium umum. Pada medium SSA tidak ada
mikroorganisme yang tumbuh pada semua sampel air yang menunjukkan bahwa tidak
adanya bakteri patogen di dalam sampel air tersebut seperti Salmonella dan Shigella.
Pada medium Endo sampel air yang mengandung bakteri koliform adalah air RO, es
batu bulat dan es batu balok.
Medium Sampel Cfu/ml
NA
RO 0
Es batu bulat 0
Es batu balok 5,1 x 10
Sumur 0
Prima 0
Aqua 0
SSA
RO 0
Es batu bulat 0
Es batu balok 0
Sumur 0
Prima 0
Aqua 0
Endo
RO 1 x 10
Es batu bulat 4 x 10
Es batu balok 2 x 10
Sumur 0
Prima 0
Aqua 0
Tabel 1. Hasil pengamatan kandungan koliform pada beberapa jenis air pada 3 jenis medium.

Dalam hal kualitas air minum, pemerintah telah menetapkan standar atau
peraturan mengenai kualitas air minum itu sendiri sehingga layak untuk diminum atau
dikonsumsi. Peraturan tersebut merupakan peraturan Menurut Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 492 Tahun 2010 tentang persyaratan kualitas air minum (Tabel
2).

Tabel 2. Peraturan pemerintah mengenai kualitas air minum yang layak konsumsi

Pada peraturan tersebut menyatakan bahwa air minum yang akan dikonsumsi
masyarakat harus sesuai dengan beberapa parameter wajib yang harus diketahui.
Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa air RO, es batu bulat dan es batu
balok merupakan air yang tidak layak diminum karena di dalamnya terdapat bakteri E.
coli atau bakteri koliform lain. Jumlah bakteri koliform atau E. coli pada 100 ml sampel
air yang layak dikonsumsi adalah nol.

V. KESIMPULAN
1. Cara pengujian kualitas air secara biologi dapat dilakukan dengan metode TPC
(Total Plate Count) dan menggunakan beberapa jenis medium spesifik seperti SSA
dan Endo, sehingga bakteri yang dikehendaki dapat tumbuh.
2. Hasil pengamatan terhadap beberapa jenis sampel air menunjukkan bahwa beberapa
sampel air mengandung bakteri koliform atau E. coli, yaitu air RO, es batu balok
dan es batu bulat. Selanjutnya, tidak ada satupun sampel air yang mengandung
bakteri patogen, namun dimungkinkan terdapat jenis bakteri lain pada sampel air es
batu balok. Hal tersebut menunjukkan bahwa air RO, es batu balok dan es batu bulat
tidak layak untuk diminum atau dikonsumsi.

DAFTAR PUSTAKA
Alvarez, V. G., R. P. Revetta and J. W. S. Domingo. 2012. Metagenomic Analyses of
drinking water receiving different disinfection treatments. Applied and
Environmental Microbiology 78(17) : 6095-6102.

Ang, 1. S., N. Y. Yip, A. Tiraferri and M. Elimelech. 2011. Chemical cleaning of RO
membranes fouled by wastewater effluent: Achieving higher efficiency with dual-
step cleaning. Journal of Membrane Science 382 : 100-106.

Boubetra, A., F. L. Nestour,m C. Allaert and M. Feinberg. Validation of alternative
methods for the analysis of drinking water and their application to Escherichia
coli. Applied and Environental Microbiology 10 77 : 3360-3367.

Dad. 2000. Bacterial Chemistry and Physiology. John Wiley & Sons, Inc., New York.

Kulakov, L. A., M. B. McAlister, K. L. Ogden, M. J. Larkin and J. F. O'Hanlon. 2002.
Analysis of bacteria contaminating ultrapure water in industrial system. Applied
and Environmental Microbiology 68(4) : 1548-1555.

Lehninger, A. L. 1982. Principles of Biochemistry. Worth Publisher, Inc., New York.

Pelczar, M. J. and E.C.S. Chan. 2007. Elements of Microbiology. Mc Graw-Hill Book
Company, New York.

Widiyanti, N. L. P. M. dan N. P. Ristianti. 2004. Analisis kualitatif bakteri koliform
pada depo air minum isi ulang di kota Singaraja Bali. Jurnal Ekologi Kesehatan
3(1) : 64-73.

Yuliastuti, E. 2011. Kajian Kualitas Air Sungai Ngringo Karanganyar dalam Upaya
Pengendalian Pencemaran Air. Thesis Program Magister Ilmu Lingkungan,
Universitas Diponegoro, Semarang.



LAMPIRAN
Tabel 2. Hasil pengamatan pertumbuhan bakteri pada beberapa medium

Medium Sampel Pengenceran
Ulangan
rerata
1 2 3
NA RO 10 7 3 8 6
10 2 6 3 4
10 1 4 0 2
Es batu bulat 10 6 7 5 6
10 7 4 2 4
10 5 1 2 3
Es batu balok 10 5 5 6 5
10 2 4 2 3
10 64 18 70 51
Sumur 10 1 4 3 3
10 0 3 7 3
10 2 4 0 2
Prima 10 3 0 2 2
10 0 1 2 1
10 5 0 0 2
Aqua 10 16 4 3 8
10 6 6 3 5
10 2 2 1 2
SSA RO 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Es batu bulat 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Es batu balok 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Sumur 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Prima 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Aqua 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Endo RO 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 1 (m) 0 0 1
10 0 0 0 0
Es batu bulat 10 0 4 (m) 4 (m) 4
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Es batu balok 10 3 2 1 2
10 0 0 6 6
10 2 0 0 2
10 0 0 0 0
Sumur 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Prima 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
Aqua 10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0
10 0 0 0 0

Foto hasil pengamatan







Gambar 1. Koloni Bakteri pada medium NA





Gambar 2. Koloni pada medium Endo

Gambar 3. Koloni pada medium SSA

Gambar 4. Tingkat kekeruhan beberapa jenis sampel air