Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI UNTUK DERIVATIF DAN MATA UANG ASING

Disusun Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional


Dosen Pengampu : Ahmad Samlawi, SE., M. Si.



Disusun Oleh :
Restu Winarni 11412141022
Fatwa Ruhul Fitriyah 11412141029
Dewanti Diwi 11412141034


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013



AKUNTANSI UNTUK DERIVATIF DAN MATA UANG ASING
Pada dua dekade yang lalu banyak terjadi ketidakstabilan pasar valuta asing. Pada tahun
1971 US$ mengalami devaluasi terhadap sebagian besar mata uang dunia, terutama terhadap
yen Jepang dan mark Jerman, dan hal tersebut ternyata terjadi lagi tahun 1973. Sepanjang
tahun 1970-an dolar umumnya dalam keadaan lemah, berfluktuasi kira-kira 80% - 90% dari
nilai devaluasi dolar sebelum tahun 1971.
Pada awal tahun 1980-an dolar mulai menguat. Tetapi setelah itu melemah lagi hingga
1980. Dengan demikian, tahun 80-an sampai tahun 90-an dolar mengalami berbagai periode
menguat dan melemah. Keadaan tidak pasti tersebut dapat ditemui di setiap majjor currency
British pound, mark Jerman, US dolar, dan yen Jepang di dunia. Untuk beberapa mata uang
seperti peso Meksiko, cruziero Brazil, peso Argentina, penekanannya adalah pada seberapa
jauh mata uang mereka melemah terhadapa mata uang yang lebih kuat. Sedang untuk yang
lain, seperti yen Jepang, mark Jerman, pertanyaannya adalah seberapa jauh mata uang mereka
menguat terhadap mata uang lainnya, terutama US dolar.
Untuk memahami kompleksitas lingkungan controller dan bagia keuangan MNEs, kita
harus dapat mengetahui organisasi dan dinamika pasar valas. Dalam pembahasan ini akan
dijelaskan terminologi pertukaran luar negeri, mendeskripsikan spot dan forward market, dan
menjelaskan tekanan-tekanan yang mempengaruhi tarif kurs, da juga mengenai derivatif kurs
valas.
Derivatif adalah sebuah instrumen yang diturunkan dari spot transaction dalam
pertukaran internasional (foreigh exchange). Contoh derivatif adalah forward exchange
contract, dan option. Kecepatan perubahan di pasar derivatif sangat tidak mungkin untuk
dibahas secara menyeluruh. Jadi akan difokuskan pada forward contract dan options.
Kemudian dibahas juga konsep-konsep utama dalam akuntansi untuk transaksi valas.
1. FOREIGN EXCHANGE
A. Basic Markets
Tarif kurs (exchange rate) adalah jumlah dari suatu mata uang yang harus
diberikan untuk mendapatkan satu unit mata uang lain. Jika tarif tersebut
diperhitungkan utuk transaksi yang terjadi saat ini maka disebut spot rate.
Kebanyakan transaksi mata uang terjadi di spot market. Sedanngkan the forward
market adalah transaksi yang akan diselesaikan di kemudian hari. Kebanyakan
transaksi yang ada di forward market adalah untuk jangka waktu 30 sampai 180
hari kemudian.
Forward rate adalah sebuah tarif kontraktual antara pedagang valas dengan
kliennya, yang jarang sama dengan spot rate pada hari kontrak dibuat. Forward
market mungkin saja mempunyai dampak yang sama atau bisa juga berbeda
dengan spot rate ketika forward contract diselesaikan.
B. Spot Market
Sebagian besar transaksi valas terjadi dengan pedagang asing di suatu bank.
Oleh karena itu dihitung dari perspektif pedagang tersebut. Umumnya pedagang
akan menawarkan dua perhitungan, yaitu harga jual dan harga beli untuk valas.
Contoh:
Perhitunngan untuk Pounds Inggris akan muncul $1.8285/95/
Artinya, penjual akan membeli satu pounds seharga $1.8285 dan menjual satu
pounds seharga 1.8295. selisih dari perhitungan tersebut disebut sebagai profit
margin. Permasalahan yang muncul selama ini berfokus pada tarif kurs antara
US$ dengan mata uang lainnya, karena sebagian besar transaksi valas
menggunakan US$, meskipun ketika dua mata uang lain selain dolar terlibat.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan Jerman menjual barang-barang ke perusahaan
Swiss yang mungkin mendomisili penjualannya dalam dolar. Keadaan ini
membuat para importir Swiss mengubah franc ke dolar, dan eksportir Jerman dari
dolar ke mark Jerman. Kurs antara mark Jerman dengan franc Swiss disebut
dengan cross-rate.
C. Forward Market
Seperti sudah disebutkan di depan, forward market adalah sebuah tarif
kontrak antara para pedagang valas internasional dengan kliennya. Selama periode
stabilitas nilai kurs, ada kemungkinan perbedaan yang relatif kecil antara current
spot dan forward rate. Spot dan tarif 90 untuk pounds misalnya, diperhitungkan
sebagai berikut:
Pounds Inggris
Spot $1.8285
90 hari kemudian 1.8027
Points -258

Perbedaan dalam pounds adalah -0,0258 atau 258 poin. Karena forward rate-
nya kurang dari spot rate, pounds dijual pada keadaan diskon 258 poin. Jika
forward rate lebih besar dari spote rate maka pounds aka dijual dalam premium di
forward market.
Premium atau diskon adalah normal diperhitungkan pada jumlah poin di
bawah atau diatas spot rate, itu juga dapat dilihat dalam presentase tahunan.
Rumus yang digunakan untuk menentukan presentase adalah sebagai berikut:
Premium (discount) =


Dimana Fo = forward rate pada saat kontrak itu terjadi
So = spot pada hari yang bersangkutan
N = jumlah bulan
100 = dipakai untuk mengubah desimal ke persentase
Contoh:
Discount =


= -5.8595%
D. Foreign Currency Swaps
Salah satu turunan dari pertukaran luar negeri yang berkembang dengan cepat
adalah swap market. Swap adalah sebuah transaksi spot dan forward yang terjadi
bersamaan (simultan). Sebagai contoh, perusahaan di US baru saja menerima
dividen dari Perancis, tetapi tidak digunakan selama 30 hari kemudian. Dividen
tersebut dapat diambil 30 hari kemudian untuk mendapatkan bunga, atau dapat
juga melalui transaksi swap. Dalam swap, perusahaan US akan menggunakan
franc tersebut ke banknya dan mengubah ke dalam US$ untuk digunakan 30 hari
kemudian di US. Pada waktu yang sama, dapat juga dimasukkan dalam forward
contract dengan pihak bank untuk mengirim dolar dalam 30 hari dan ditukar
dengan franc Prancis dengan tarif forward exchange.
E. Options
Options adalah hak dan bukan kewajiban utnuk memperdagangkan valas di
masa yang akan datang. Contoh, perusahaan US membutuhkan yen Jepang dalam
30 hari. Jika diputuskan untuk membelanjakan dangan options maka dapat
langsung menghubungi perantara di Philadelpia Exchange atau juga dengan
Investment Banker, seperti Goldman Sach, dalam over-the-counter (OTC) market.
Ada beberapa cara untuk mengetahui cara mendapatkan options, namun disini
kita akan membahas satu saja. Perusahaan US dapat memegang options seseorang
di Philadelpia Exchange; sebagai pemegang, perusahaan akan mengirimkan dolar
dalam 30 hari untuk yen Jepang. Misal, spot rate pada tanggal 1 Juni 1992 adalah
78,31/100 yen Jepang ($0,007831) untuk kontrak yen sejumlah 6.250.000 (sekitar
$48.944). Selanjutnya kita harus mengetahui perbedaan harga (strike price) untuk
kontrak yen. Strike price adalah tarif pertukaran yang akan diterima oleh
pemegang options tersebut (US company) memutuskan untuk menggunakan
options tersebut.
Selanjutnya kita harus memahami biaya call contract, dan biaya put contract.
Call contract adalah biaya pembelian valas oleh pemegang kontrak, dan put
contract adalah biaya penjualan valas oleh pemegang kontrak. Sejak ita berusaha
untuk membeli yen Jepang, kita berhadapan dengan call option.
Misal kita ingin call option yang akan habis masa berlakunya di bulan Juli
dalam strike price 77
1
/
2
pada saat spot rate 78,31. Premium cost-nya adalah 1,64
per yen ($0,000164 per yen). Jika strike price-nya 78
1
/
2
, biayanya hanya 0,97; jika
strike price-nya 82, cost-nya hanya 0,15.
Untuk premium ada juga biaya yang biasanya dikeluarkan oleh perantara
untuk mendapatkan kontrak, seperti juga untuk keluar dari kontrak tersebut. Misal
ada biaya $25,00 per kontrak. Jika kita butuh 100 juta, kita akan membutuhkan
16 kontrak @ 6.250.000 untuk mendapatkan jumlah yang tepat. Untuk strike
price 77
1
/
2
, cost setiap kontrak:

6.250.000 x $0,000164 = $1.025
Brokerage cost = 25
Total cost = 1.050
Untuk 16 kontrak total cost-nya menjadi $1.050 x 16 = $16.800

Sekarang kita telah menempatkan biaya pada masing-masing tempatnya, mari
kita lihar bagaimana option dapat digunakan. Asumsikan bahwa pada saat kontrak
tersebut berakhir, kita akan memutuskan apakah akan menggunakan option
tersebut atau tidak. Yang dibutuhkan 100 juta, dan option untuk strike price
sebesar 771/2 atau $0,007750 kepada penerbit kontrak tersebut. Jadi total cost-nya:

100.000.000 x $0,007750 = $775.000
Option cost = 16.800
Biaya penggunaan 16 kontrak @ $25 = 400
Total cost = $792.000

Itu sama saja dengan tarif pertukaran untuk $0,007920 yang berarti lebih baik
dari spot rate-nya $0,008200.
Jika spot rate pada saat option tersebut habis berlaku kurang dari $0,007750,
perusahaan tidak akan menggunakan option tersebut, jika dapat diperoleh yen
lebih murah di spot market daripada dengan menggunakan option pada strike
price.
2. TRANSAKSI VALUTA ASING
Transaksi valas adalah transaksi yang dilakukan dalam valas, bukan pelaporan
mata uang perusahaan. Pelaporan mata uang perusahaan adalah pelaporan mata uang
yang dipakai dalam laporan keuangan perusahaan. Transaksi dalam valas bisa
mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, pinjam-meminjam dana,
penerimaan atau pembayaran dividen. Berkaitan dengan transaksi valas ini
perusahaan harus memecahkan 4 masalah akuntansi: (1) pencatatan awal transaksi
yang dilakukan, (2) mencatat saldo valas pada tanggal neraca berikutnya, (3)
perlakuan rugi laba karena nilai kurs, (4) pencatatan dan pelunasan piutang kurs dan
utangnya pada saat jatuh tempo. Ada banyak kombinasi untuk memecahkan empat
masalah tersebut di atas, tapi kombinasi yang utama adalah:
Dua transaksi, mengakui gains da losses
Dua transaksi, menunda gains da losses
Satu transaksi, mengakui gains da losses
Pendekatan pertama adalah yang umum dilakukan, dan melibatkan pencatatan
equipment dan account payable pada spot rate saat tanggal transaksi. Perbedaan
antara nilai sebelumnya dan nilai spot rate yang baru adalah pengakuan rugi laba pada
periode akuntansi berjalan. Sedangkan pada pendekatan kedua, gain dan losse ditunda sampai
liability dilunasi. Gain dan losse diakui hanya pada saat tanggal penyelesaian. Pada
pendekatan ketiga, equipment dan account payable merupakan satu kesatuan. Perubahan pada
saat suatu rekening juga akan menyebabkan perubahan di rekening lain.
Contoh:
Perusahaan US mengimpor equipment dari Jerman pada 1 Maret sejumlah 1 juta DM
ketika tarif kursnya $0,5814/DM. Pembayaran dalam DM tidak dilakukan sampai 30 April.
Pada 31 Maret tarif kursnya menjadi $0,6000 dan pada bulan April $0,5958. Perusahaan tutup
buku tiap akhir bulan.

Jurnal untuk pendekatan pertama:
1 Maret Equipment 581.400
Utang 581.400
1.000.000 x $0,5814
31 Maret Rugi 18.600
Utang 18.600
1.000.000 x ($0,5814 0,6000)
30 April Utang 600.000
Kas 595.800
Laba 4.200
1.000.000 x ($0,6000 0,5958)

Pada pendekatan kedua, rugi pada tanggal 31 Maret akan ditunda sampai 30 April. Pada
30 April, rugi bersih akan menjadi $14.400 {1 juta DM x ($0,5814 - $0,5958)}.
Pada pendekatan ketiga, pergantian $18.600 ke liability pada 31 Maret akan menaikkan nilai
equipment. Pada 30 April nilai equipment akan turun 4.200; kenaikan bersih equipment
menjadi 14.400 yang akan di-depresiasi selama umur aset.
Standar Akuntansi Internasional
Pertama kali IASC berurusan dengan masalah valas adalah dengan dikeluarkannya IAS
21, yaitu Accounting for the Effests of Change in Foreign Exchange Rate yang dikeluarkan
pada Maret 1983. IAS 21 memberikan lebih banyak alternatif untuk akuntansi valas
dibandingkan dengan SFAC 52 (Foreign Currency transaction). IAS 21 merekomendasikan
pengakuan secepatnya terhadap rugi/laba pada situasi tertentu seperti SFAC 52. Meski
demikian, IAS 21 memperbolehkan:
Laba/rugi pada monetary item valas jangka panjang (misal utang jangka panjang)
dapat ditunda dan di-write-off dengan dasar yang sistematis selama umur (hidup)
monetary item tersebut.
Laba/rugi yang dihasilkan dari devaluasi yang mempengaruhi utang yang terjadi
untuk membeli aset dapat digunakan untuk menyesuaikan nilai yang sedang berjalan
dari aset yang bersangkutan dan dicacat sepanjang kehidupan aset tersebut, selama
penyesuaiannya tidak mengakibatkan penurunan nilai pengganti atau nilai neto yang
dapat direalisasikan.

3. AKUNTANSI DERIVATIF VALUTA ASING
A. Akuntansi untuk Forward Contract
Berkaitan dengan akuntansi untuk forward contract ini ada empat nilai tukar
yang diketahui, yaitu: spot rate pada tanggal kontrak dibuat, nilai tukar forward
contract, nilai tukar yang diharapkan ketika kontrak dilakukan, dan nilai tukar
spot rate sesungguhnya ketika kontrak selesai. Informasi tentang nilai tukar ini
diperlukan untuk menentukan apaah akan melakukan kontrak dan evaluasi
terhadap keputusan kontrak.
Dalam mengambil keputusan untuk melakukan kontrak, seorang manajer
keuangan dapat meihat pada dua biaya yang berbeda, yaitu premi/diskon dan
opprtunity cost. Premi/diskon adalah perbedaan forward rate dan spot rate pada
saat kontrak dilakukan. Sedangkan opportunity cost adalah perbedaan antara
forward rate dan spot rate yang diharapkan. Dalam evaluasi kontrak yang sudah
ada, opportunity cost adalah perbedaan antara forward rate dan actual spot rate.
Hal yang menarik tentang perlakuan akuntansi untuk forward contract adalah
perlakuan tersebut berubah-ubah secara signifikan tergantung pada tujuan kontrak
tersebut, meskipun kontraknya sendiri tetap sama pada setiap situasi.
B. Hedging Komitmen terhadap Mata Uang Asing
Ketika sebuah perusahaan melakukan komitmen berarti perusahaan
melakukan kontrak perjanjian untuk melakukan penjualan atau pembelian dengan
delivery (pengiriman) yang akan dilakukan d masa datang. Dalam hal ini tidak ada
transaksi penjualan atau pembelian yang dicatat karena pengiriman belum
dilakukan dan pembayaran belum dilakukan, atau dengan kata lain kedua belah
pihak belum melakukan apa-apa yang telah ditetapkan dalam komitmen tersebut.
Karena kontrak yang terjadi merupakan kontrak yang melibatka komitmen
terhadap hedging (perlindungan) yang dilakukan perusahaan, maka pengakuan
adanya kerugian atau keuntungan akan ditangguhkan sampai transaksi tersebut
dicatat sebagai penyesuaian terhadap harga yang disepakati bersama.
C. Hedging Transaksi terhadap Mata Uang Asing
Transaksi mata uang asing ini dapat terjasi katena jual beli barang atau jasa,
pembayaran atau pemleian dividen, atau dapat juga pembayaran atau penerimaan
uang pokok dan bunga dari obligasi.
Statement 52 menghendaki utang/piutang mata uang asing diwujudkan pada
tarif kurs yang berlaku saat ini pada setiap tanggal neraca, dengan menghasilkan
laba/rugi yang mencerminkan pendapatan sekarang juga. Untuk forward contract
yang diadakan guna melindungi utang/piutanng mata uang asing, statement 52
menghendaki premi/diskonnya diamortisasi selama umur kontrak laba/rugi dari
kontrak tersebut dimasukkan langsung ke income.
D. Hedging Investasi Neto
Alasan ketiga untuk melakukan forward contract adalah untuk melindungi
pengungkapan posisi neraca kantor perwakilan/kantor cabang di luar negeri.
Konsep dari pengungkapan tersebut secara singkat berarti bahwa ekuivalensi dolar
terhadap mata uang asing pada rekening di neraca akan berubah bila nilai tukarnya
berubah.
E. Forward Contract untuk Tujuan Spekulasi
Dalam hal ini, alasan utama perusahaan mengadakan kontrak adalah untuk
memperoleh uang dari kontrak, bukan untuk melindungi komitmen bisnis,
transaksi, atau pengungkapan posisi neraca.
Prosedur akuntansi untuk kontrak spekulasi adalah (1) dalam pencatatan
kontrak mengabaikan premium/diskon, (2) pada setiap tanggal neraca, tandailah
nilai kontrak ke nilai pasarnya, (3) mengakui laba/rugi kontrak pada setiap tanggal
neraca. Laba/rugi yang timbul dari langkah kedua didapat dengan mengalikan
jumlah kontrak dengan selisih antara tarif forward-nya dan nilai kontrak pada saat
dicatat pada laporan keuangan sebelumnya.
F. Perbandingan Praktek Antarnegara
Hedging utuk komitmen mata uang asing mendapat perlakuan yang hampir
sama pada sebagian besar negara industri maju. Hal yang sama juga berlaku bagi
hedging investasi neto pada anak cabang luar negeri. Perbedaan terjadi atas
akuntansi forward contract untuk mengantisipasi transaksi-transaksi mata uang
asing atau kejadian-kejadian masa akan datang. Di AS, forward contract
cenderung bersifat spekulatif dan tidak diakui dalam aturan akuntansi hedging
untuk komitmen mata uang asing dan transaksi. Namun demikian, jika
probabilitas munculnya kejadian tersebut sangat tinggi, maka hal tersebut masih
mungkin diterapkan. Ketentuan di atas juga diterapkan di Australia, Perancis,
Italia, Jepang, dan Inggris. Akan tetapi hal ini tidak berlakku di Kanada, Jerman,
dan Belanda.
Akuntansi hadging ini bukan masalah pokok dalam IAS No. 21, akan tetapi
hedging merupakan masalah utama dalam Exposure Draft (ED) No. 44 yang
memuat ketentuan tentang The Effect of Changes in Foreign Exchange Rate.
Akan tetapi ED 44 hanya memuat hedging investasi neto, hedging moneter items,
dan hedging aset nonmoneter.
4. AKUNTANSI TRANSAKSI DAN PELAPORAN DALAM MATA UANG ASING
DI INDONESIA
A. Umum
Penggunaan mata uang Rupiah sebagai mata uang dalam pelaporan keuangan
pemerintah mengharuska pemerintah melakukan penjabaran setiap transaksi
dalam mata uang asing ke dalam mata uang rupiah. Proses penjabaran mata uang
asing ke dalam mata uang rupiah seringkali menimbulkan selisih yang dikenal
dengan selisih kurs. Secara umum selisih kurs dapat terjadi pada dua peristiwa
berikut:
Pada saat terjadinya transaksi setelah pengakuan awal yang melibatkan
penggunaan mata uang asing; dan/atau
Pada saat pelaporan pos moneter dalam mata uang asing ke dalam rupiah
Pengaturan umum akuntansi atas transaksi dalam mata uang asing diatur
dalam Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (IPSAP) yang
harus dibaca dalam konteks Paragraf 62 PSAP Nomor 02 tentang Laporan
Realisasi Anggaran. Pengaturan umum yang diberlakkuka untuk pencatatan
transaksi dalam mata uang asing adalah sebagai berikut:
Dalam hal tersedia dana dalam mata uang asing yang sama dengan yang
digunakan dalam transaksi, maka transaksi dalam mata uang asing tersebut
dicatat dengan menjabarkan ke dalam mata uang rupiah berdasarkan kurs
tengah bank sentral pada tanggal transaksi.
Dala hal tidak tersedia dana dalam mata uang asing yang digunakan dalam
transaksi dan mata uang asing tersebut dibeli dengan mata uang rupiah,
maka transaksi dengan mata uang asing tersebut dicatat dalam rupiah
berdasarkan kurs transaksi, yaitu sebesar rupiah yang digunakan untuk
memperoleh mata uang asing tersebut.
Dalam hal tidak tersedia dana dalam mata uang asing yang digunakan
untuk bertransaksi dan mata uang asing tersebut dibeli dengan mata uang
asing lainnya, maka:
o Transaksi mata uang asing ke mata uang asing lainnya dijabarkan
dengan menggunakan kurs transaksi.
o Transaksi dalam mata uang asing lainnya tersebut dicatat dalam
rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi.
B. Akuntansi Atas Transaksi Dalam Mata Uang Asing
a. Pengakuan awal transaksi dalam mata uang asing
Transaksi dalam mata uang asing adalah transaksi yang membutuhkan
penyelesaian dalam suatu mata uang asing. Termasuk transaksi dalam
mata uang asing adalah transaksi yang timbul ketika pemerintah:
Meminjam atau meminjamkan dana dalam suatu mata uang asing.
Membeli atau menjual barang atau jasa dengan menggunakan suatu
mata uang asing.
Menerima hibah dalam suatu mata uang asing.
Pengakuan awal transaksi meminjam atau meminjamkan atau membeli
atau menjual barang/jasa dalam mata uang asing adalah dengan
mencatatnya menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi.
b. Pengakuan kurs pada transaksi setelah pengakuan awal
Setelah pengakuan awal, beberapa transaksi diikuti dengan transaksi
berikutnya, seperti pembayaran utang. Pemerintah mungkin saja
melakukan pembayaran utang dengan membeli mata uang asing dari
rekening rupiah pemerintah ataupun menggunakan dana yang tersedia di
dalam rekening valas pemerintah yang sama dengan mata uang asing
tersebut.
Beberapa pengaturan mengenai penggunaan kurs pada transaksi
setelah pengakuan awal adalah sebagai berikut:
Jika pemerintah membeli mata uang asing untuk membayar utang
dari rekening rupiah pemerintah, maka kurs yang digunakan adalah
kurs transaksi, yaitu kurs pembelian mata uang asing tersebut
dengan menggunakan rekening rupiah pemerintah.
Jika pemerintah membeli mata uang asing untuk membayar utang
dari rekening valas pemerintah di bank sentral, maka kurs yang
digunakan adalah kurs transaksi, yang dapat berupa kurs tengah
bank sentral pada tanggal transaksi.
Jika pemerintah membeli mata uang asing dengan menggunakan
mata uang asing lainnya maka transaksi mata uang asing ke mata
uang asing lainnya dijabarkan dengan menggunakan kurs transaksi.
Transaksi dalam mata uang asing lainnya tersebut dicatat dalam
rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi.
c. Pengakuan dan pengukuran selisih kurs
Pengakuan awal transaksi pos moneter dalam mata uang asing diukur
dan dicatat dalam rupiah dengan menggunakan kurs transaksi. Selanjutnya,
apabila terdapat transaksi setelah pengakuan awal, maka pos-pos moneter
dalam mata uang asing diukur dengan kurs pada tanggal transaksi. Dala
hal ini dimungkinkan terjadi perbedaan antara kurs transaksi pengakuan
awal dengan kurs transaksi pada akhir periode setelah pengakuan awal.
Basis akuntansi kas menuju akrual tidak mengakui keuntungan atau
kerugia akibat perbedaan selisih kurs tersebut.
Selisih kurs yang berakibat pada kenaikan/penurunan kas dan setara
kas secara nyata diakui sebagai selisih kurs yang terealisasi. Pada
penerapan akuntansi berbasisi kas sebagai pendapatan/belanja tahun
berjalan pada laporan realisasi anggaran.
C. Penyajian Selisih Kurs Yang Belum Direalisasikan Pada Laporan Keuangan
Mata uang rupiah merupakan mata uang pelaporan pemerintah. Penjabaran
pos-pos moneter dalam mata uang asing ke dalam mata uang rupiah dapat
menimbulkan selisih kurs yang tidak menambah atau mengurang saldo fisik kas
sebenarnya. Selisih kurs ini merupaka selisih kurs yang belum direalisasikan.
Selisih kurs yang belum direalisasikan yang disebabkan penjabaran pos moneter
berupa kas dan setara kas pada tanggal neraca akan mempengaruhi laporan arus
kas, leporan realisasi anggaran, dan neraca. Sementara selisih kurs yang belum
direalisasikan yang disebabkan penjabaran pos moneter selain kas akan
mempengaruhi ekuitas di neraca.
D. Pengungkapan
Dalam catatan atas laporan keuangan, entitas penerintah setidaknya harus
mengungkapkan:
Rincian pos moneter berupa kas dan setara kas dalam tiap-tiap mata uang
asing dan penjabarannya pada tangal neraca dalam mata uang rupiah.
Rincian pos moneter selain kas dan setara kas dalam tiap-tiap mata uang
asing dan penjabarannya pada tanggal neraca dalam mata uang rupiah.
Rekonsiliasi selisih kurs atas pos-pos moneter pada awal dan akhir periode.
Metode yang digunakan dalam pencatatan selisih kurs.
Informasi sehubungan dengan kebijakan entitas pemerintahan dalam
mengangani risiko mata uang asing.
Informasi yang berkenaan dengan hedging.
Penjelasan hal-hal penting yang diperlukan.