Anda di halaman 1dari 34

i

PENGUKURAN PARAMETER FISIK, KIMIAWI, DAN BIOLOGI PERAIRAN


WADUK PENJALIN BREBES






Oleh :
Arbiansyah Adinegara B1J011137
Kukuh Iman Putra R. B1J010137
Tri Nurani B1J011033
Ratna Ursila B1J011012
May Rani Setiawati B1J011022
Rara Khenti B1J011163
Ikhlima P. Janaria B1J011121
Nur Amalah B1J011135
Dwiherdhiantho W. B1J011011
Arida Fauziya B1J011173
Peni Setiawati B1J011054
Annisa Dwinda F. B1J011082
Kelompok : VA
Asisten : Tyta Ajrina






LAPORAN PRAKTIKUM LIMNOLOGI






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
ii

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM LIMNOLOGI


Oleh :
Arbiansyah Adinegara B1J011137
Kukuh Iman Putra R. B1J010137
Tri Nurani B1J011033
Ratna Ursila B1J011012
May Rani Setiawati B1J011022
Rara Khenti B1J011163
Ikhlima P. Janaria B1J011121
Nur Amalah B1J011135
Dwiherdhiantho W. B1J011011
Arida Fauziya B1J011173
PeniSetiawati B1J011054
Annisa Dwinda F. B1J011082
Kelompok : VA



Dibuat untuk memenuhi persyaratan mengikuti Ujian Akhir Praktikum Limnologi
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto



Disetujui dan disahkan
Purwokerto, Juni 2014
Asisten



Tyta Ajrina
B1J010027
iii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan praktikum Mata Kuliah
Limnologi sebagai salah satu syarat mengikuti ujian responsi dan ujian akhir
Penulis menyadari dalam penyusunan laporan praktikum Limnologi tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1. Staf dosen pengajar mata kuliah Limnologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal
Soedirman.
2. Seluruh asisten praktikum Limnologi yang telah membantu pelaksanaan praktikum dan
penyusunan laporan ini.
3. Semua pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya laporan Limnologi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan Limnologi ini, untuk
itu segala saran dan kritik membangun dari para pembaca sangat diharapkan untuk
menyempurnakan laporan di masa yang akan mendatang. Akhir kata penulis berharap
semoga Laporan Praktikum ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca
umumnya.


Purwokerto, Juni 2014


Penulis

iv

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR................................................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. iv
ACARA
I. PENGUKURAN PARAMETER FISIK, KIMIAWI, DAN BIOLOGI PERAIRAN WADUK
PENJALIN BREBES .......................................................................................................... 1
DAFTAR REFERENSI ............................................................................................................... 29
1


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Waduk Penjalin merupakan salah satu waduk yang terletak di Kabupaten Brebes,
Provinsi Jawa Tengah, dibangun sekitar tahun 1930-1934. Waduk Penjalin memiliki luas
1,25 km
2
, terletak di tengah-tengah Desa Winduaji, 2,4 km arah selatan ibu kota Kecamatan
Paguyangan. Waduk Penjalin hanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi
seluas 29.000 Ha. Sumber airnya selain dari Kali Pemali juga berasal dari air hujan yang
jatuh di Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk Penjalin dan yang jatuh langsung ke waduk.
Curah hujan tahunan rata-rata di daerah ini berkisar antara 2.750 mm. Volume efektif
waduk pada awal mula beroperasi sebesar 9,5 juta m
3
(Purwati et al., 2010). Waduk
penjalin juga letaknya tidak jauh dari pemukiman warga. Warga yang berada di sekitar
waduk juga sering mengalirkan limbah rumah tangganya ke waduk Penjalin(Haque et al.,
2010).
Berkembangnya kegiatan penduduk di Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk Penjalin,
seperti bertambahnya permukiman penduduk, kegiatan industri, dan kegiatan pertanian
dapat mempengaruhi kualitas air sungai. Berbagai kegiatan disepanjang aliran
sungaimenghasilkan bahan pencemar berupa limbah organik dan anorganik. Limbah
organikdapat berasal dari industri tahu, limbah industri kacang, pertanian, ikan dari
pelabuhan, dan limbah anorganik berasal dari industri peleburan timah, solar di Pelabuhan
serta pertanian yang terbawa bersama aliran permukaan (run off), dan mengakibatkan
terjadinya gangguan serta perubahan fisik, kimia, dan biologi pada perairan tersebut dan
akhirnya menyebabkan pencemaran (Nybakken, 1988).
Pengukuran parameter fisika dan kimia hanya dapat menggambarkan kualitas
lingkungan pada waktu tertentu. Indikator biologi dapat memantau secara kontinyu dan
merupakan petunjuk yang mudah untuk memantau terjadinyapencemaran. Keberadaan
organisme perairan dapat digunakan sebagai indikator terhadap pencemaran air selain
indikator kimia dan fisika. Organisme perairan dapat digunakan sebagai indikator
pencemaran karena habitat, mobilitas, dan umurnya yang relatif lama mendiami suatu
wilayah perairan (Nontji, 1993).
Praktikum kali ini dilakukan pengukuran kualitas perairan Waduk Penjalin dengan
parameter fisik yang meliputi suhu, penetrasi cahaya, padatan tersuspensi atau TSS (Total
Suspended Solid), TDS (Total Desolved Solid), dan kedalaman, parameter kimiawi yang
meliputi derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (O
2
), karbondioksida bebas (CO
2
), BOD
2

(Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), fosfat terlarut, dan nitrat,
serta parameter biologi yang meliputi plankton dan klorofil.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kondisi atau kualitas perairan
Waduk Penjalin Brebes berdasarkan parameter fisik, kimiawi, dan biologi.

3

II. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu termometer, secchi disc atau
batu, tali rafia, label, tissue, gelas ukur, dirigen, kertas Whatman no. 41, oven, desikator
kabinet, timbangan analitik, mangkok atau cawan porselin, kertas pH universal, botol
Winkler 250 mL, erlenmeyer, buret dan statif, corong buret, pipet seukuran (1 mL), pipet
tetes, spektrofotometer, alat refluks (erlenmeyer COD 250 mL dan kondensor Liebig),
pembakar listrik, cawan petri penguap, kertas GFC, tabung reaksi, corong, kertas timah atau
alumunium foil, pompa vakum, plankton netno. 25, botol plankton, lemari pendingin, object
glass, cover glass, mikroskop, laptop,optic lab, dan buku identifikasi plankton.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu sampel air Waduk Penjalin,
akuades, MnSO
4
, KOH-KI, Na
2
S
2
O
3
, H
2
SO
4
pekat, indikator amilum, Na
2
CO
3
, indikator
phenolpthalein (pp), NaOH, reagen campuran (amin molibdate, K-antimonil, H
2
SO
4
, asam
askorbit),formalin, larutan lugol atau CuSO
4
jenuh, K
2
Cr
2
O
7
, Ag
2
SO
4
, FAS (Fero Amonium
Sulfat, indikator femantrolin fero sulfat (feroin), dan aseton 90%.
B. Metode
1. Pengukuran Parameter Fisik
a. Pengukuran Suhu Air dan Udara
1) Suhu udara diukur dengan menggantungkan termometer Celcius pada tempat
terbuka.
2) Suhu air diukur dengan cara mencelupkan termometer Celcius ke dalam perairan
selama 1 menit, kemudian data dicatat.
b. Pengukuran Kedalaman
1) Bagian ujung depth sounder ditempelkan ke permukaan air.
2) Lalu ditempel tombol on.
3) Lakukan ulangan dibeberapa tempat.
c. Pengukuran penetrasi cahaya
1) Secchi discatau batu diturunkan ke dalam badan air sampai titik tidak terlihat,
kemudian diukur kedalaman yang didapat sebagai nilai x (dalam m atau cm).
2) Secchi discatau batu diturunkan ke dalam badan air sampai tidak terlihat, kemudian
diangkat perlahan sampai mulai terlihat lagi, lalu diukur sebagai nilai y.

4

3) Besar nilai penetrasi cahaya dihitung dengan rumus :
X + y
2
d. TSS
1) Kertas whatman no.41 dibilas dengan akuades, kemudian dioven pada suhu 105

C
selama 1 jam, lalu didinginkan dengan desikator selama 15 menit.
2) Kertas whatman no.41 ditimbang sebagai berat awal (x).
3) Sebanyak 50 mL sampel disaring dengan kertas Whatman no.41 yang telah
ditimbang.
4) Filtrat yang tersaring beserta kertas Whatman no.41 tersebut dioven selama 1 jam
pada suhu 105

C.
5) Kertas Whatman dimasukan ke dalam desikator selama 15 menit.
6) Kertas Whatman ditimbang sebagai berat akhir (y).
7) Kadar TSS dihitung dengan rumus berikut :


e. Pengukuran TDS
1) Mangkok porselin dioven 1 jam pada suhu 105C, kemudian didinginkan dengan
desikator 15 menit.
2) Mangkok porselin ditimbang sebagai berat awal.
3) Air yang lolos saringan dituang ke mangkok porselin 30 mL, dioven pada suhu 105C
selama 24 jam.
4) Mangkok porselin didinginkan 15 menit lalu ditimbang.
2. Pengukuran Parameter Kimia
a. Pengukuran pH
1) Kertas pH dicelupkan pada air waduk.
2) Kertas pH diamati perubahan dan dicocokan dengan pH indikator.
b. Pengukuran Oksigen Terlarut
1) Air sampel diambil dengan botol Winkler 250 mL jangan sampai ada gelembung.
Kemudian ditutup.
2) Larutan 1 mL MnSO
4
dan KOH-KI 1 mL ditambahkan kemudian botol ditutup
kembali.
3) Botol dibolak-balik atau dihomogenkan perlahan dan didiamkan 2 menit sampai
timbul endapan.
4) H
2
SO
4
1 mL ditambahkan kemudian dihomogenkan dan didiamkan sampai endapan
hilang.
5

5) Sebanyak 100 mL sampel diambil dan dituang ke dalam labu erlenmeyer.
6) Indikator amilum 3-5 tetes ditambahkan sampai berwarna biru.
7) Lakukan titrasi dengan Na
2
S
2
O
3
0,025N sampai dengan jernih.
8) Volume titran yang digunakan untuk titrasi dicatat dan dimasukan ke dalam rumus :
Oksigen terlarut = 1000 x p x q x 8
100
Keterangan :
P = jumlah atau volume Na
2
S
2
O
3
0,025N yang digunakan dalam titrasi (ml)
q = normalitas larutan (0,025 N)
8 = bobot setara dengan O
2
c. Pengukuran Karbondioksida
1) Air sampel diambil dengan botol Winkler 250 mL jangan sampai ada gelembung,
kemudian ditutup.
2) Sebanyak 100 mL sampel diambil dan dituang ke dalam labu erlenmeyer.
3) Sebanyak 3-5 tetes PP ditambahkan.
4) Lakukan titrasi dengan Na
2
CO
3
0,01N sampai dengan larutan berubah pink.
5) Volume titran yang digunakan untuk titrasi dicatat dan dimasukan ke dalam rumus :
Kadar CO
2
bebas = 1000x p x q x 22
100
Keterangan :
P = jumlah atau volume Na
2
CO
3
0,01Nyang digunakan dalam titrasi (ml)
q = normalitas larutan (0,01N)
8 = bobot setara dengan CO
2

d. Pengukuran BOD
1) Sampel 250 mL diencerkan dengan pengencer 250 mL. Dihomogenkan dan
dipindahkan dalam ke kedua botol Winkler yaitu winkler gelap dan bening.
2) Botol Winkler gelap didiamkan selama 5 hari untuk pengukuran BOD
5
. Botol
Winkler bening dilakukan pengukuran BOD
0
.
3) Larutan MnSO
4
1 mL dan KOH-KI 1 mL dimasukkan ke dalam botol BOD
0
,
dihomogenkan dan tunggu hingga ada endapan.
4) Larutan H
2
SO
4
1 mL ditambahkan kemudian dihomogenkan dan didiamkan sampai
endapan hilang.
5) Sampel 100 mL diambil dan dimasukan dalam erlenmeyer.
6) Amilum ditambahkan sebanyak 3-5 tetes.
7) Lakukan titrasi dengan Na
2
S
2
O
3
sampai jernih.
6

8) Setelah hari ke-5, sampel untuk BOD
5
dan blanko BOD
5
dilakukan tahapan titrasi
seperti BOD
0
.
9) Kadar BOD dihitung dengan rumus:
BOD = (X0-X5) (B0-B5)(1-P)
P
Keterangan :
X0 = oksigen terlarut sampel saat t : 0 (mg/L)
X5 = oksigen terlarut sampel saat t : 5 (mg/L)
B0 = oksigen terlarut blanko saat t : 0 (mg/L)
B5 = oksigen terlarut blanko saat t : 5 (mg/L)
P = faktor pengenceran
e. Pengukuran PO
4

1) Sebanyak 50 mL sampel air dimasukan ke dalam erlenmeyer.
2) Tetesi 1 tetes PP, kemudian tetes NaOH diteteskan ke dalam sampel.
3) Sebanyak 8 mL reagen campuran (amin molibdate, K-antimonil, H
2
SO
4
, asam
askorbit) dimasukan dan didiamkan selama 5 menit.
4) Kemudian dispektrofotometri dengan = 880 nm.
f. Pengukuran NO
3

1) Sebanyak 50 mL sampel dimasukan dalam erlenmeyer.
2) Sebanyak 1 mL HCl ditambahkan dan dihomogenkan.
3) Kemudian dispektrofotometri dengan = 220 nm.
3. Parameter Biologi
a. Pengukuran Klorofil
1) Sebanyak 1 L sampel dalam botol gelap disaring dengan kertas Whatman, kemudian
disaring dengan GFC.
2) Kertas GFC digerus dalam tabung reaksi.
3) Sebanyak 10 mL aseton 90% ditambahkan sedikit demi sedikit.
4) Sampel dibungkus alumunium foil dan didiamkan 24 jam.
5) Kemudian lakukan spektrofotometer dengan = 750 nm, 664 nm, 665 nm.
b. Pengamatan Plankton
1) Sampel air diambil dengan menggunakan ember sebanyak 10 kali dan disaring
dengan plankton netno. 25.
2) Sampel air dimasukan dalam botol dan ditambahkan formalin40% sebagai
pengawet sehingga kadarnya menjadi 4% dan ditambahkanlarutan lugol atau
7

CUSO
4
jenuh sebanyak 2 tetes, kemudian sampel dimasukkan ke dalam lemari
pendingin.
3) Sampel diambil dengan pipet tetes.
4) Sampel diteteskan dalam object glass sebanyak 1 tetes dan ditutup dengan cover
glass.
5) Lakukan pengamatan di bawah mikroskop, kemudian diidentifikasi dan difoto.
8

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1. Pengukuran Parameter Fisik
Kelompok
Suhu (C) Penetrasi Cahaya
(m)
TSS (mg/L) TDS (mg/L)
Udara Air
I A 26 28 0,6 151,5 23,9
II A 26 29 2,125 10
2
2,87 x 10
3
III A 26 28 1,06 12 120
IV A 27 26 2,125 4 x 10
2
5,7 x 10
2
V A 27,5 28 1,42 4,2 60,3
VI A 26 28 1,675 3,8 83,33
VII A 26 27 1,685 7,6 x 10
3
6,33 x 10
4
I B 27,5 29 1,14 3,4 70
II B 26 28 1,35 5,6 4 x 10
2
III B 26 29 1,85 5,4 13

Tabel 2. Pengukuran Parameter Kimiawi
Kelom
pok
pH DO CO
2
BOD COD PO
4
NO
3
Klorofil
750 750
+ HCl
664 665
+ HCl
I A 8 5 2,2 3,52 56 0,014 0,3981 0,024 0,022 0,21 0,201
II A 7,5 6 0,88 14,2 56 0,0197 0,3227 0,07 0,08 0,08 0,061
III A 7 5,8 3,52 0 40 0,0075 0,3199 0,016 0,013 0,06 0,058
IV A 8 5,8 1,55 1,2 56 0,0086 0,5249 0,030 0,029 0,08 0,086
V A 8 7 1,232 0,2 12 0,0108 0,5200 0,004 0,004 0,05 0,033
VI A 8 8,7 3,52 5,4 60 0,0110 0,3255 0,068 0,068 0,17 0,141
VII A 7 11,4 0,66 3,2 13,6 0,0166 0,2901 0,011 0,009 0,12 0,104
I B 7 5 1,76 0,32 56 0,0243 0,4843 0,004 0,025 0,03 0,003
II B 8 8,7 1,32 0,02 64 0,0223 0,6626 0,002 0,007 0,05 0,045
III B 7 5,5 1 6,8 20 0,0127 0,3175 0,007 0,006 0,02 0,018

Tabel 3. Pengukuran Parameter Biologi
Nama Spesies Jumlah
Hemiaulus hauckii Grunow 4
Strialella interrupta (Ehr) Heiberg 2
Nodularia hawaiiensis Tilden 1
Oscillatoria sp. 1


9

Perhitungan
Populasi plankton per liter : 8
Populasi phytoplankton per liter : 8
Populasi zooplankton per liter : 0
Keanekaan spesies plankton : 4
Keanekaan spesies fitoplankton : 4
Keanekaan spesies zooplankton: -
Indeks Saprobik : X
A= 2
Spesies B = 0
Spesies C = 6
Spesies D = 0




Dimana:
A : Grup Ciliata menunjukkan polisaprobitas;
B : Grup Euglenophyta, menunjukkan mesosaprobitas;
C : Grup Chlorococcales + Diatomae, menunjukkan mesosaprobitas;
D : Grup Peridinae/ Chrysophyceae/ Conjugatae, menunjukkan oligosaprobitas.




X=0



10




0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
8000
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Histogram TSS
nilai TSS
0
10000
20000
30000
40000
50000
60000
70000
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Histogram TDS
TDS
25
25.5
26
26.5
27
27.5
28
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Histogram suhu udara
suhu udara
11




24.5
25
25.5
26
26.5
27
27.5
28
28.5
29
29.5
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
Kelompok
Histogram suhu air
suhu air
0
0.5
1
1.5
2
2.5
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Histogram penetrasi cahaya
penetrasi udara
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
Kelompok
Histogram NO
3

kadar nitrat
12




0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
Kelompok
Histogram PO4
PO4
6.4
6.6
6.8
7
7.2
7.4
7.6
7.8
8
8.2
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Histogram nilai pH
nilai pH
0
2
4
6
8
10
12
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Histogram nilai DO
nilai DO
13





0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
Histogram nilai CO
2

nilai CO2
0
10
20
30
40
50
60
70
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Histogram nilai COD
nilai COD
0
2
4
6
8
10
12
14
16
I A II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
A
x
i
s

T
i
t
l
e

kelompok

Histogram nilai BOD
nilai BOD
14




0
0.01
0.02
0.03
0.04
0.05
0.06
0.07
0.08
IA II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Klorofil pada 750
Klorofil pada 750
0
0.01
0.02
0.03
0.04
0.05
0.06
0.07
0.08
0.09
IA II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Klorofil pada 750 + HCl
Klorofil pada 750 + HCl
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
IA II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Klorofil pada 664
Klorofil pada 664
15




0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
IA II A III A IV A V A VI A VII A I B II B III B
kelompok
Klorofil pada 665 + HCl
Klorofil pada 665 + HCl
16

B. Pembahasan
Air adalah sumber daya alam yang dibutuhkan untuk hajat hidup orang banyak,
bahkan oleh semua makhluk hidup. Kebutuhan akan tersedianya sumber air bersih bagi
manusia merupakan kebutuhan penting yang harus terpenuhi. Permasalahan yang sering
terjadi saat ini adalah kuantitas dan kualitas air yang sesuai dengan kebutuhan manusia
sebagai faktor penting yang menentukan kesehatan hidupnya mulai berkurang.
Pengelolaan sumber daya air bertujuan menyediakan air dalam jumlah yang cukup dengan
kualitas yang sesuai dengan peruntukannya.Semakin lama jumlah air yang langsung
tersedia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin terbatas, tetapi jumlahnya
melimpah kualitasnya tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan. Kelangkaan ini
menyebabkan perlunya upaya untuk melindungi kualitas air dan memulihkan air yang
kualitasnya sudah tercemar (Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001).
Pengelolaan lingkungan perairan waduk diperlukan sebagai suatu petunjuk untuk
menilai perairan tersebut apakah masih layak digunakan sesuai dengan peruntukannya.
Mengingat kebutuhan akan air bukan saja dari segi kuantitas, tetapi juga dalam hal kualitas
harus baik. Usaha pengendalian pencemaran perairan sungai sangat diperlukan informasi
dan masukan mengenai tingkat pencemaran yang terjadi di perairan tersebut. Indeks Mutu
Lingkungan Perairan (IMLP) secara umum dapat digunakan untuk memonitor status kualitas
air secara menyeluruh sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan pengelolaan perairan di
masa yang akan datang. Beberapa karakteristik atau indikator kualitas air yang disarankan
untuk dianalisis sehubungan pemanfaatan sumberdaya air untuk berbagai keperluan antara
lain parameter fisik, kimiawi, dan biologi (Effendi 2003).
Perairan waduk yang telah diamati kualitasnya yaitu perairan Waduk Penjalin Brebes.
Parameter yang diamati yaitu parameter fisik yang meliputi suhu, penetrasi cahaya,
padatan tersuspensi atau TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total Desolved Solid), dan
kedalaman, parameter kimiawi yang meliputi derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (O
2
),
karbondioksida bebas (CO
2
), BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen
Demand), fosfat terlarut, dan nitrat, serta parameter biologi yang meliputi fitoplankton dan
klorofil.
Berikut ini merupakan penjelasan hasil dari masing-masing parameter yang diamati
di Waduk Penjalin :
1. Parameter Fisik
a. Suhu
17

Suhu merupakan faktor lingkungan yang paling mudah diukur dan seringkali
digunakan sebagai faktor pembatas dalam air.Berdasarkan hasil praktikum, suhu
perairan Waduk Penjalin yaitu antara 27-29C, sedangkan suhu udaranya yaitu antara
26-27,5C. Hal ini menunjukkan bahwa perairan Waduk Penjalin masih bisa dijadikan
sebagai tempat berkembangnya plankton.Plankton akan berkembang baik pada kisaran
suhu 25-30C.Variasi suhu pada lingkungan perairan relatif sempit dibanding dengan
lingkungan daratan (Kramadibrata, 1996).Variasi suhu di perairan tidak begitu besar jika
dibandingkan di udara, artinya untuk menaikkan 1C dalam perairan membutuhkan
panas yang lebih banyak dibandingkan di udara (Setyowati, 1976).
b. Penetrasi Cahaya
Interaksi antara kekeruhan dan kedalaman perairan akan mempengaruhi penetrasi
cahaya matahari sehingga mempengaruhikecerahan suatu perairan. Kecerahan perairan
juga banyak dipengaruhioleh bahan-bahan halus yang melayang dalam perairan, baik
berupabahan organik (plankton, jasad renik, detritus) maupun bahan anorganik(partikel,
lumpur, dan pasir).Kecerahan dipengaruhi zat-zat yang terlarut dalam perairansehingga
berhubungan dengan penetrasi sinar matahari. Akibat kekeruhan yang tinggi
dapatmengganggu sistem pernafasan dan daya lihat organisme akuatik, sertadapat
menghambat penerasi cahaya ke dalam air (Effendi, 2003).
Berdasarkan hasil praktikum, penetrasi cahaya di Waduk Penjalin berkisar antara 0,6-
2,125 m. Hal ini menunjukkan bahwa penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan
masih kurang, karena praktikum dilakukan pada pagi hari dan cuacanya mendung.
Menurut Nybakken (1988), makin tinggi kecerahan, maka intensitas cahaya yang masuk
ke dalam perairan akan semakin besar. Kecerahan perairan berlawanan dengan
kekeruhan yang juga disebabkan adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi
dan terlarut, maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan
mikrooganisme lainnya.
c. Padatan Tersuspensi atau TSS (Total Suspended Solid)
Air di suatu lingkungan dapat mencakup beragam jenis kotoran.Suspended solids
atau padatan tersuspensi adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan partikel
di dalam air.Secara partikal, mereka didefinisikan sebagai partikel yang ukurannya besar,
sehingga tidak dapat melewati filter yang digunakan untuk memisahkan mereka dari air.
Padatan tersuspensi terdapat di semua air limbah sanitasi dan berbagai jenis air limbah
industri. Ada juga sumber padatan tersuspensi yang tak bertitik, seperti erosi tanah dari
lokasi pertanian dan konstruksi (Effendi, 2003).
18

Berdasarkan hasil praktikum, jumlah padatan tersuspensi di daerah waduk adalah
151,5, 10
2
, 12, 4 x 10
2
, 4,2, 3,8, 7,6 x 10
3
, 3,4, 5,6, 5,4mg/L. Hal ini menunjukkan adanya
kegiatan masyarakat sepertikegiatan industri dan kegiatan pertanian yang
mempengaruhi kualitas air waduk. Menurut Effendi (2003), meskipun tidak bersifat
toksik, bahan tersuspensi yang berlebihan dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang
selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya ke perairan dan dapatmenghambat
fotosintesis. Meningkatnya tingkat TSS akan menurunkan kemampuan sebuah perairan
dalam menyokong keragaman organisme air. Padatan tersuspensi menyerap panas dari
cahaya matahari yang meningkatkan suhu air, sehinggamenurunkan tingkat oksigen
terlarut (perairan hangat memiliki lebih sedikit oksigen dibandingkan perairan yang lebih
dingin).Spesies yang hidup di perairan dingin bersifat sensitif terhadap perubahan
tingkat oksigen terlarut.Fotosintesis juga menurun, karena cahaya yang menembus air
lebih sedikit, sehingga menurunkan jumlah oksigen yang diproduksi tumbuhan dan alga
(Ginting, 2007). Menurut Marendy (2013), nilai TSS suatu perairan yang masih tergolong
bagus adalah < 80 mg/L.
TSS juga dapat menghancurkan habitat ikan, karena padatan tersuspensi mengendap
ke dasar perairan dan pada akhirnya dapat menyelimuti dasar perairan.Padatan
tersuspensi dapat menutupi telur-telur ikan dan serangga akuatik, dan dapat
menyebabkan larva serangga yang baru menetas mati lemas.Padatan tersuspensi juga
dapat membahayakan ikan secara langsung dengan menyumbat insang, sehingga
menurunkan laju pertumbuhan dan resistensi terhadap penyakit.Perubahan lingkungan
perairan dapat menurunkan sumber makanan dan mempersulit pencarian makanan. Hal
ini dapat mengganggu pergerakan dan migrasi alami dari populasi organisme air
(Fardiaz, 1992).
d. TDS (Total Desolved Solids)
Total Dissolved Solids (TDS) didefinisikan sebagai semua substansi anorganik dan
organik dalam air yang dapat melewati filter 2 mikron. Secara umum, TDS adalah jumlah
dari kation dan anion dalam air. Ion dan senyawa ionik yang menyusun TDS biasanya
mencakup karbonat, bikarbonat, klorida, fluorida, sulfat, fosfat, nitrat, kalsium,
magnesium, sodium, dan potassium, namun semua ion yang ada akan berkontribusi
terhadap jumlah total. Ion organik mencakup polutan, herbisida, dan hidrokarbon.Selain
itu, senyawa bahan organik di tanah seperti asam humik atau fulvik juga tercakup di
TDS.TDS mencakup semua molekul mineral dan organik yang menyediakan manfaat
seperti nutrien atau kontaminan seperti logam beracun dan polutan
organik.Berdasarkan hasil praktikum jumlah padatan terlarut di perairan waduk adalah
19

23,9, 2,87 x 10
3
, 120, 5,7 x 10
2
, 60,3, 83,33, 6,33 x 10
4
, 70, 4 x 10
2
, 13 mg/L, hal ini
menunjukkan adanya hasil pertambangan atau perlakuan industri terhadap air.Air
dengan konsentrasi TDS lebih tinggi dari 1000 mg/Ldianggap keruh. Perubahan
konsentrasi TDS di perairan alami seringkali merupakan hasil dari limbah industri,
perubahan keseimbangan air (dengan membatasi pemasukan air, dengan peningkatan
penggunaan air atau peningkatan presipitasi), atau dengan penyusupan garam ke air
(Ginting, 2007).Menurut Marendy (2013), nilai TDS <80 mg/L masih tergolong perairan
dengan kondisi yang baik. Namun pada beberapa titik di waduk penjalin nilai TDS > 80
mg/L. Hal ini mengindikasikan waduk penjalin sudah tidak bagus lagi kondisisnya karena
banyak mengandung padatan. Padatan ini dapat berasal dari pelapukan batuan,
buangan limbah masyarakat, dan sedimentasi.
TDS tidak dianggap sebagai polutan primer terhadap berbagai pengaruh kesehatan
yang terkait pada standar air minum untuk manusia, namun TDS dianggap sebagai
indikasi karakteristik estetika dari air minum dan sebagai indikator luas terhadap
susunan kontaminan kimiawi. TDS dapat menyebabkan toksisitas melalui peningkatan
salinitas, perubahan komposisi ionic perairan dan toksisitas ion individu. Peningkatan
salinitas terbukti menyebabkan perubahan dalam komunitas biotik, membatasi
biodiversitas, menyingkirkan spesies yang kurang toleran, dan menyebabkan dampak
akut atau kronik di tahapan hidup tertentu (Effendi 2003).
e. Kedalaman
Kedalaman perairan mempengaruhi jumlah dan jenis plankton di suatu perairan.
Kedalaman air juga mempengaruhi kelimpahan dan distribusi plankton. Perairan dengan
kedalaman air yang berbeda akan dihuni oleh plankton yang berbeda pula dan terjadi
stratifikasi komunitas yang berbeda. Produktivitas perairan berkurang dan
mengakibatkan rendahnya kepadatan plankton pada perairan yang lebih dalam
dikarenakan kandungan bahan-bahan organik yang lebih sedikit atau kurang melimpah
(Tang dan Kasmawati, 1992).
Berdasarkan hasil praktikum, kedalaman perairan Waduk Penjalin yaitu 5-6 m.
Perairan yang lebih dalam mengakibatkan plankton mendapat tekanan fisiologis dan
hidrostatis yang lebih besar (Reish, 1979). Kedalaman perairan juga mempengaruhi
penetrasi sinar matahari ke dalam perairan sehingga secara tidak langsung akan
mempengaruhi kebutuhan oksigen dan pertumbuhan organisme bentik (Sukarno, 1981).
2. Parameter Kimiawi
a. Derajat Keasaman (pH)
20

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, pH Waduk Penjalin di semua
stasiun berkisar antara 7-8.Hal ini sesuai dengan pernyataan Suwardi et al. (2013) yang
menyatakan bahwa nilai pH pada banyak perairan alami berkisar 4-9. Nilai pH sangat
mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika
pH rendah. Rendahnya pH suatu perairan disebabkan karena kandungan asam sulfat
yang terkandung dalam perairan cukup tinggi.Sebaliknya, untuk tingginya pH suatu
perairan dapat disebabkan oleh tingginya kapur yang masuk ke perairan tersebut.
Sementara itu, menurut Efendi (2003), sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap
perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5. Sehingga, pH di perairan Waduk
Penjalin masih dapat mendukung bagi kehidupan organisme akuatik yang ada di
dalamnya.
b. Oksigen Terlarut (O
2
)
Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen dalam miligram yang terdapat dalam satu
liter air (ppt). Oksigen terlarut umumnya berasal dari difusi udara melalui permukaan
air, aliran air masuk, air hujan, dan hasil dari proses fotosintesis plankton atau
tumbuhan air. Oksigen terlarut merupakan parameter penting karena dapat digunakan
untuk mengetahui gerakan massa air serta merupakan indikator yang peka bagi proses-
proses kimia dan biologi .Kadar oksigen yang terlarut bervariasi tergantung pada suhu,
salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi
secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan
pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dam limbah (effluent)
yang masuk ke badan air. Selain itu, kelarutan oksigen dan gas-gas lain berkurang
dengan meningkatnya salinitas sehingga kadar oksigen di laut cenderung lebih rendah
daripada kadar oksigen di perairan tawar. Peningkatan suhu sebesar 1

C akan
meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10 (Swanson et al., 2014).
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan
tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik).Kandungan oksigen terlarut minimum ini
sudah cukup mendukung kehidupan organisme. Idealnya, kandungan oksigen terlarut
tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat
kejenuhan sebesar 70%. KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5
ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut (Swanson et al., 2014). Agar ikan
dapat hidup, air harus mengandung oksigen paling sedikit 5 mg/ liter atau 5 ppm (part
per million). Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi bakteri
yang kebutuhan oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang (Weagle
et al., 2012).
21

Hasil penghitungan DO yang kami lakukan menunjukkan kadar DO pada waduk
berada pada batas normal, yaitu di atas 5ppm. Kadar DO berkisar mulai dari 5 ppm
hingga 8,78 ppm. Hal ini mengindikasikan bahwa waduk tersebut tidak tercemar.Selain
itu, pada saat pengamatan biota perairan seperti ikan dan ganggang air tawar tumbuh
dengan baik.Apabila sungai menjadi tempat pembuangan limbah yang mengandung
bahan organik, sebagian besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob untuk
mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam bahan organik menjadi karbondioksida dan air.
Sehingga kadar oksigen terlarut akan berkurang dengan cepat dan akibatnya hewan-
hewan seperti ikan, udang dan kerang akan mati. Bau busuk dari air yang
tercemarberasal dari gas NH
3
dan H
2
S yang merupakan hasil proses penguraian bahan
organik lanjutan oleh bakteri anaerob (Weagle et al., 2012).
c. Karbondioksida Bebas (CO
2
)
Konsentrasi CO
2
dalam perairan Waduk Penjalin yang didapatkan yaitu berkisar
antara 0,66-3,52 mg/L. Menurut Pescod (1973), batas kandung CO
2
bebas untuk
perairan di daerah tropik tidak boleh melebihi 12 ppm. Selain itu, berdasarkan standar
baku mutu PP No. 82 Tahun 2001 (kelas II), tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air, batas maksimum karbondioksida untuk kegiatan
budidaya air tawar yaitu 2-9 mg/L. Rendahnya konsentrasi karbondioksida bebas di
perairan disebabkan karena letak sampel yang diambil di permukaan perairan, sehingga
karbondioksida bebas banyak dipakai untuk proses fotosintesis. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Effendi (2003) yang menyatakan bahwa kadar karbondioksida bebas di
perairan dapat mengalami pengurangan bahkan hilang akibat proses fotosintesis oleh
fitoplankton. Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat diketahui bahwa perairan
Waduk Penjalin masih tergolong baik karena konsentrasi CO
2
di bawah 12 ppm, sehingga
dapat digunakan untuk kegiatan budidaya air tawar.
d. BOD (Biological Oxygen Demand)
Tingkat pencemaran air dapat ditentukan dengan melihat oksigen terlarutnya.
Oksigen terlarut dapat dilihat melalui uji BOD dan COD. BOD atau Biochemical Oxygen
Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang
dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik
dalam kondisi aerobik. Singkatnya BOD adalah jumlah bahan organik yang mudah diurai
di perairan (Mahbud,1990).
Hasil praktikum yang telah dilakukan terhadap kandungan BOD pada waduk penjalin
yaitu IA 10,4; IIA 14,2; IIIA 0; IVA 1,2; VA 0,2; VIA 5,4; VIIA 3,6; IB 0,52; IIB 0,04, dan IIIB
1,4. Menurut Kaslan (1991), kandungan maksimal BOD 3mg/L untuk air kelas 2 dan
22

6mg/L untuk air kelas 3. Hal tersebut menunjukkan bahwa perairan yang diuji oleh
kelompok IA dan IIA tidak tercemar, sedangkan perairan yang diuji kelompok
IIIA,IVA,VA,VIB,VIIB, IB, IIB, dan IIIB tercemar. Perairan yang tercemar diakibatakan oleh
kandungan zat yang tidak dapat larut dalam air terlalu banyak.
e. COD (Chemical Oxygen Demand)
COD adalah jumlah oksigen (mg O
2
) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat
organik yang ada dalam 1 liter sampel air. Pengoksidasi yang digunakan adalah K
2
Cr
2
O
7
sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) (Alerts danSantika, 1987 dalam Rudiyanti,
2009). Prinsip analisisnya adalah menggunakan oksidator potassium dikromat yang
berkadar asam tinggi dan dipertahankan pada temperatur tertentu. Penambahan
oksidator ini menjadikan proses oksidasi bahan organik menjadi air dan karbondioksida.
Setelah pemanasan maka sisa dikromat diukur.Pengukuran ini dengan jalan titrasi,
oksigen yang ekivalen dengan dikromat inilah yang menyatakan COD dalam satuan ppm
(Rudiyanti, 2009).
Berdasarkan hasil pengukuran, didapatkan nilai COD pada beberapa stasiun Waduk
Penjalin sebanyak 12-64 mg/L, maka air di daerah tersebut tercemar dan mutunya tidak
baik. Menurut SK Gubernur Jawa Timur no. 413 Tahun 1987, standar baku mutu limbah
cair yang ditetapkan adalah dalam batas 10-25 mg/L untuk COD dalam perairan. Nilai
COD pada perairan yang tinggi disebabkan adanya sumbangan dari bahan-bahan organik
tersuspensi berupa rantai cabang alkyl dan rantai lurus linier panjang yang merupakan
bagian hidrofod dari surfaktan.Selain itu juga berasal dari bahan-bahan tambahan untuk
pencerah, pewangi, dan zat pencegah melekatnya kembali kotoran, yang menghasilkan
residual yang juga berpengaruh terhadap tingginya nilai COD.Beberapa kandungan zat
yang terdapatdalambahantersebutmenimbulkanefeknegatifbagikesehatan (Sumetri,
1984).
Beberapa peraturan mengenai baku mutu limbah cair yaitu sebagai berikut :
1) Menurut Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No. 52 Tahun 1995 tentang Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel, kadar COD maksimal 30 mg/L.
2) Menurut Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No. 58 Tahun 1995 tentang Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit, kadar COD maksimal 100 mg/L.
3) Menurut Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No.3 Tahun 1998 Bagi Kawasan
Industri kadar COD maksimal 100 mg/L.
4) Menurut SK GubernurJawaTimur No. 413 Tahun 1987 standar baku mutu limbah cair
yang ditetapkan adalah dalam batas 10-25 mg/L untuk COD dalam air sungai.
f. Fosfat Terlarut (Ortofosfat)
23

Konsentrasi ortofosfat dalam perairan Waduk Penjalin yang didapatkan yaitu berkisar
0,0075-0,0243 mg/L. Umumnya, perairan alami memiliki kandungan fosfat terlarut
(ortofosfat) tidak lebih dari 0,1 ppm (Suwardi et al., 2013). Alaerts dan Santika (1984)
menyatakan bahwa apabila kandungan fosfat dalam air alam sangat rendah (<0,01
mg/L), pertumbuhan fitoplankton akan terhalang. Keadaan ini dinamakan oligotrof.
Apabila kadar fosfat serta nutrien lainnya tinggi, pertumbuhan fitoplankton tidak
terbatas lagi (keadaan eutrof) sehingga fitoplakton tersebut dapat menghabiskan
oksigen dalam perairan waduk pada malam hari (Kasry et al., 2009).Berdasarkan
penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa perairan Waduk Penjalin termasuk perairan
oligotrof.
g. Nitrat
Konsentrasi nitrat dalam perairan Waduk Penjalin yang didapatkan yaitu berkisar
0,2901-0,6626 mg/L. Menurut Apridayanti (2008), perairan dengan kandungan nitrat
sebesar <0,1 ppm termasuk perairan yang oligotropik, kandungan nitrat 0-0,15 ppm
termasuk perairan mesotropik dan kandungan nitrat >0,2 ppm adalah perairan eutropik.
Maka berdasarkan keterangan tersebut, perairan Waduk Penjalin termasuk perairan
eutropik.Nitrogen merupakan elemen yang melimpah pada sel makhluk hidup setelah
karbon, hidrogen, dan oksigen, yang mana nitrogen ini penting untuk sebagian besar
reaksi biokimiawi (Goldman dan Horne, 1983).Tanaman air dan fitoplankton lebih
mudah menggunakan nitrogen dalam bentuk nitrat, maka semua nitrogen baru tersedia
jika telah dalam bentuk nitrat.Pembentukan nitrat sangat tergantung pada adanya
oksigen dan bakteri Nitrobacter yang bertugas merubah nitrit menjadi nitrat secara
aerob (Arfiati, 1992). Menurut Effendi (2003), kadar nitrat-nitrogen pada perairan alami
hampir tidak pernah lebih dari 0,1 mg/L, akan tetapi jika kadar nitrat lebih besar 0,2
mg/L akan mengakibatkan eutrofikasi (pengayaan) yang selanjutnya menstimulir
pertumbuhan alga dan tumbuhan air secara pesat.
3. Parameter Biologi
a. Plankton
Plankton adalah biota yang hidup mengapung, menghanyut atau berenang sangat
lemah, artinya mereka tidak dapat melawan arus.Plankton terdiri dari fitoplankton atau
plankton tumbuh-tumbuhan dan zooplankton atau plankton hewan.Organisme
planktonik biasanya ditangkap dengan menggunakan jaring-jaring yang mempunyai
ukuran mata jaring yang berbeda, maka penggolongan plankton dapat pula dilakukan
berdasarkan ukuran plankton. Penggolongan ini tidak membedakan fitoplankton dan
zooplankton dan dengan cara ini dikenal lima golongan plankton,
24

yaitumegaplanktonialah organisme planktonik yang besarnya lebih dari 2,0 mm, yang
berukuran antara 0,2 mm-2,0 mm termasuk golongan makroplankton, sedangkan
mikroplankton berukuran antara 20 m-0,2 mm. Ketiga golon
gan inilah yang biasanya tertangkap oleh jaring-jaring plankton baku. Dua golongan
yang lainnya yaitunanoplanktonadalah organisme planktonik yang sangat kecil, yang
berukuran 2 m-20 m, organisme planktonik yang berukuran kurang dari 2 m termasuk
golongan ultraplankton.Nanoplankton dan ultraplanktontidak dapat ditangkap oleh
jaring-jaring plankton baku. Untuk dapat menjaringnya diperlukan mata jaring yang
sangat kecil. Tetapi bila jaring demikian ditarik dalam air akan tampak bahwa air tidak
dapat melewati mata jaring. Karenanya nanoplanktondan ultraplanktonhanya dapat
diperoleh dengan menggunakan suatu sentrifusa atau dengan menyaring air melalui alat
penyaring (filter) yang sangat kecil pori-porinya, seperti filter milipor.
Menurut Odum (1983), menyatakan bahwa fitoplankton sangat penting dalam
ekosistem perairan termasuk laut yaitu berperan sebagai makanan dasar bagi kehidupan
lainnya dalam ekosistem akuatik. Dalam sistem trofik ekosistem perairan, termasuk
ekosistem laut, maka organisme plankton sangat berperan sebagai produsen dan berada
pada tingkat dasar, yaitu menentukan keberadaan organisme pada jenjang berikutnya
berupa berbagai jenis ikan.Keberadaan plankton di suatu perairan sangat berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup ikan-ikan, terutama bagi ikan-ikan pemakan plankton atau
ikan-ikan yang berada pada taraf perkembangan awal.
Keberadaan plankton sangat mempengaruhi kehidupan di perairan karena
memegang peranan penting sebagai makanan bagi berbagai organisme
perairan.Berubahnya fungsi perairan sering diakibatkan oleh adanya perubahan struktur
dan nilai nilai kuantitatif plankton.Perubahan ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor
yang berasal dari alam maupun dari aktivitas manusia.Dengan demikan, hal ini dapat
menimbulkan peningkatan nilai kuantitatif plankton melampaui batas normal yang
dapat ditolerir oleh organisme hidup lainnya, sehingga di dalam penelitian suatu
perairan, plankton (fitoplankton dan zoopalankton) dapat menentukan kualitas suatu
perairan tersebut (Hartoto, 1995).
Berdasarkan hasil praktikum, ditemukan 4 spesies plankton dari divisi Bacillariophyta,
yaitu Hemiaulus hauckii, Striatella interrupta, Nedularia hawaiiensis, dan Oscillatoria sp.
Jumlah spesies yang ditemui di masing-masing stasiun berbeda-beda. Masing-masing
Stasiun tidak semua genus yang teridentifikasi dapat ditemukan, namun sebagian besar
genus dari kelas Bacillariophyceae ditemukan dengan jumlah sel pada setiap genus lebih
tinggi dari genus-genus pada kelas lainnya. Menurut Onyema (2007) dan Zalocar et al.,
25

(2007), komposisi fitoplankton pada suatu ekosistem tidak selalu merata, pada
ekosistem tertentu sering ditemukan beberapa jenis melimpah sedangkan yang lain
tidak. Keberadaan fitoplankton sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan
yang sesuai dengan hidupnya dan dapat menunjang kehidupannya.pH asam (pH<6)
mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton, sementara dan pada kisaran pH netral akan
mendukung keanekaragaman jenis fitoplankton (Wetzel dan Likens 1979). Fitoplankton
yang hidup di air tawar terdiri dari 5 kelompok besar, yaitu Chlorophyta (ganggang
hijau), Cyanophyta (ganggang biru), Chrysophyta, Pyrrophyta, dan Euglenophyta
(Subarijanti, 1990).
Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing spesies yang ditemukan di
Waduk Penjalin :
1) Hemiaulus hauckii,
2) Striatella interrupta
3) Nedularia hawaiiensis
4) Oscillatoria sp.
Klasifikasi dari Hemiaulus hauckii menurut Sachlan (1978) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Chromista
Subkingdom : Chromobiota
Infrakingdom : Heterokonta
Phylum : Ochrophyta
Subphylum : Diatomeae
Class : Coscinodiscophyceae
Subclass : Biddulphiophycidae
Ordo : Hemiaulales
Family : Hemiaulaceae
Genus : Hemiaulus
Scientific name : Hemiaulus hauckii Grunow ex Van Heurck
Klasifikasi Striatella interrupta menurut Sachlan (1978) yaitu sebagai berikut :
Divisi : Bacillariophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Bangsa : Pennales
1Suku : Diatomaceae
Marga : Striatella
26

Spesies : Striatella interrupta
Klasifikasi Striatella interrupta menurut Sachlan (1978) yaitu sebagai berikut :
Divisi :Cyanobacteria
Kelas :Cyanophyceae
Ordo : Nostocales
Family : Nostocaceae
Genus : Nodularia
Spesies : Nodularia hawaiiensis
Klasifikasi Oscillatoria sp. yaitu sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Chyanophyta
Kelas : Chyanophyceae
Ordo : Oscillatoriales
Family : Oscillatoriaceae
Genus : Oscillatoria
Spesies : Oscillatoria sp.
Deskripsi : trikom dari Oscillatoria berbentuk silindris dan tidak bercabang. Mereka
hanya mempunyai satu membran. Trikom sering berada di massa
pelampung atau bagian mengkilap pada tanah lembab. Selnya pendek dan
lebar kecuali untuk sel ujungnya yang mungkin tertutup dan tipis.Trikom
dari Oscillatoria menunjukkan pertumbuhan meluncur, rotasi, dan gerakan
oscillatori.Reproduksi dilakukan oleh hormogonia (Sachlan, 1978).
b. Klorofil
Salah satu organisme yang hidup di ekosistem perairan pesisir adalah fitoplankton.
Fitoplankton di dalam ekosistem perairan berperan sebagai pengubah zat-zat anorganik
menjadi zat-zat organik melalui proses fotosintesis, yang kemudian dapat menentukan
produktivitas perairan. Proses fotosintesis memerlukan klorofil, sehingga kandungan
klorofil-a pada fitoplankton itu sendiri dapat dijadikan indikator tinggi rendahnya
produktivitas suatu perairan (Roshisati, 2002).
Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh kandungan klorofil di Waduk Penjalin yaitu
antara 0,002-0,21. Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan klorofil di perairan Waduk
Penjalin berbeda-beda.Kandungan klorofil di Waduk Penjalin masih dikatakan sedikit,
yang berarti bahwa biomassa fitoplankton di perairan tersebut juga sedikit.Menurut
Arifin (2009),kandungan pigmen fotosintesis atau klorofil (terutama klorofil-a) dalam air
27

sampel menggambarkan biomassa fitoplankton dalam suatu perairan. Klorofil-a
merupakan pigmen yang selalu ditemukan dalam fitoplankton serta semua organisme
autotrof dan merupakan pigmen yang terlibat langsung (pigmen aktif) dalam proses
fotosintesis. Jumlah klorofil-a pada setiap individu fitoplankton tergantung pada jenis
fitoplankton, oleh karena itu komposisi jenis fitoplankton sangat berpengaruh terhadap
kandungan klorofil-a di perairan.Dengan demikian, nilai kosentrasi atau kandungan
klorofil-a pada fitoplankton dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia perairan lainnya
serta faktor biologi.

28

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya, diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
1. Keadaan Waduk Penjalin berdasarkan parameter fisik adalah suhu air 27,5C, suhu udara
28C, penetrasi cahaya 1,42 m, TSS 4,2 mg/L, dan TDS 60,3 mg/L
2. Keadaan Waduk Penjalin berdasarkan parameter kimia adalah pH 8, DO 7, CO
2
1,232,
BOD 0,2, COD 12, PO
4
0,108, dan NO
3
0,52.
3. Keadaan Waduk Penjalin berdasarkan parameter biologi adalah kandungan klorofil pada
750 = 0,004, 750 + HCl = 0,004, 664 = 0,05, 665 + HCl = 0,033, dan plankton yang
ditemukan adalah Hemiaulus hauckii, Striatella interrupta, Nedularia hawaiiensis, dan
Oscillatoria sp.
4. Berdasarkan parameter fisik, kimiawi, dan biologi, kualitas perairan Waduk Penjalin
Brebes sedikit tercemar.

29

DAFTAR REFERENSI
Alaerts, G. dan S.S, Santika. 1984. Metode Penelitian Air. Usaha nasional, Surabaya.
Apridayanti, E. 2008.Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Perairan Waduk Lahor Kabupaten
Malang Jawa Timur.Tesis. Universitas Diponegoro, Semarang.
Arfiati, D. 1992. Survey Pendugaan Kepadatan Fitoplankton Sebagai Produktivitas Primer di
Rawa Bureng, Desa Sukosari, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa
Timur. Fakultas Perikanan.Universitas Brawijaya Malang (Tidak diterbitkan).
Arifin, R. 2009. Distribusi Spasial dan Temporal Biomassa Fitoplankton (Klorofil-a) dan
Keterkaitannya dengan Kesuburan Perairan Estuari Sungai Brantas, Jawa
Timur.Program Studi MSP.FPIK. IPB, Bogor. Skripsi (tidak dipublikasikan).
Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air : Bagi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan
Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. 258 hal.
Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Ginting, P. 2007. Mencegah dan Mengendalikan Pencemaran Industri. Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta.
Goldman, C. R. and A. J. Horne. 1983. Limnology. McGraw-Hill Book Company, United State
of America.
Hartoto, D.I., Gunawan, Badjoeri, M. 1995. Profil Sifat Limnoengineering di Perairan Darat
Pulau Siberut.Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, LIPI, hal 160-162.
Haque, A., Winardi, D. N., Wiharyanto, O. 2010. Analisis Penentuan Status Mutu Air dengan
Menggunakan Metode IndeksPencemaran (Ip) pada Musim Penghujan dan Musim
Kemarau. Teknik Lingkungan, Undip, Semarang.
Kaslan A.T. 1991. Butir-butir Tata Lingkungan. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Kasry, A., E, Sumiarsih., dan Heriyanto. 2009. Kesuburan Perairan Waduk Nagedang Ditinjau
dari Kosentrasi Klorofil-a Fitoplankton Desa Giri Sako Kecamatan Logas Tanah Darat
Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.Berkala Perikanan Terubuk, 37(2), pp. 48-
59.
Kramadibrata, I. 1996. Ekologi Hewan. ITB, Bandung.
Mahbud, B. 1990.Penilaian Pencemaran Air dengan Indeks.Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Perairan 17:10-17.
Nontji, A. 1993.Rencana Pengembangan Puslitbang Limnologi. LIPI pada Prosiding Expose
Limnologi dan Pembangunan, Bogor.
Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. Gramedia, Jakarta.
Odum, P.E. 1983. Fundamental of Ecology.3rd. Ed WB. Sounders Company, Philadelphia.
Onyema, I.C. 2007. The Phytoplankton Composition, Abundance and Temporal Variation
of A Polluted Estuarine Creek in Lagos, Nigeria. Turkish Journal of Fisheries and
Aquatic Sciences 7:89-96.
Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 Tentang Pengawasan dan Pengendalian
Kualitas Air. Kementrian Negara Lingkungan Hidup. 2001.
30

Pescod, M. B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream Standarts for Tropical
Countries. A.I.T., Bangkok.
Purwati, E., Andri, S., Haniah. 2010. Analisis Perbandingan Fluktuasi Perubahan Volume
Waduk Penjalin dengan Metode Pemeruman dan Pengukuran Elevasi Muka Air.
Fakultas Teknik, Undip, Semarang.
Reish, D.J. 1979. Bristle Worms (Annelida : Polychaeta) In Pollution Ecology ofEstuarine
Invertebrates. C. W. Hart., and Samuel L. H. F. (eds. 2). AcademicPress, New York. pp
77-121.
Roshisati, I. 2002. Distribusi Spasial Biomassa Fitoplankton (Klorofil-a) di Perairan Teluk
Lampung pada Bulan Mei, Juli, dan September 2001. Program Studi MSP. FPIK. IPB,
Bogor. 71 hal. Skripsi (tidak diplublikasikan).
Rudiyanti, Siti. 2009. Kualitas Perairan Sungai Banger Pekalongan Berdasarkan Indikator
Biologis.Jurnal Saintek Perikanan. 4(2) :46-52.
Sachlan, M. 1978. Planktonologi.Direktorat Jendral Perikanan Departemen pertanian,
Jakarta.101 hlm.
Setyowati, 1976.Sifat Fisik dan Kimiawi Pada Air. Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga.
Subarijanti, H.U. 1990. Diktat Kuliah Limnology.NUFFIC/ UNIBRAW/ LUW/ FISH. Universitas
Brawijaya, Malang.
Sukarno. 1981. Terumbu Karang Indonesia, Permasalaham dan Pengelolaannya.LON-LIPI.
Jakarta.
Sumetri, Sri. 1984. MetodePenelitian Air. Usaha Nasional, Surabaya.
Suwardi, E. Widiastuti, dan D.N, Wibowo. 2013. Model Eutrofikasi sebagai Pengaruh
Kegiatan di Daerah Atas dan Perairan Waduk Panglima Besar Soedirman
Banjarnegara, Jawa Tengah. Agronomika, 13(1), pp. 1-16.
Swanson, Danielle, Mc Cain, Angela, White, Paige, Scherneck, Samuel, dan A. Gathany,
Mark. 2014. Dissolved Oxygen Content in Cedar Lake. Cedarville University Research.
37.
Tang, U. M. dan Kasnawati.1992. Hewan Markobenthos sebagai Indikator
BiologiPencemaran Bahan Organik di Sungai.Majalah Pengembangan Ilmu-
ilmuPeternakan dan Perikanan, Fakultas Peternakan Universitas
Diponegoro,Semarang. 17 (1) : 20-23.
Weagle, Glenn., Maltman, Ron., dan Archer, Andy. 2012. Monitoring PPB Levels of
Dissolved Oxygen in SAGD Facilities. Society of Petroleum Engineers. 2. 14.
Wetzel, R. G and Likens. 1979. Limnological Analyses. W.B. Saunders Company, London.
Zalocar, D.D.Z.Y, Poi de Neiff, A.S.G. and Casco, S. L. 2007. Abundance and Diversity of
Phytoplankton in The Paran River (Argentina) 220 km Downstream of The Yacyret
reservoir. Brazillian Journal of Biology 67 (1): 53-63.