Anda di halaman 1dari 56

TIPOLOGI EKOSIMTEM PESISIR DAN LAUT

STAF PENGAJAR FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN


UNIVERSITAS BUNG HATTA
Dosen:
Ir. Arlius, MS., Ph.D

1
WILAYAH PESISIR
- Pesisir adalah wilayah yang unik, karena dalam
konteks bentang alam, wilayah pesisir merupakan
tempat bertemunya daratan dan lautan (Kay and
Alder, 1999)
- Transisi antara daratan dan lautan di wilayah
pesisir telah membentuk ekosistem yang beragam
dan sangat produktif serta memberikan nilai
ekonomi yang luar biasa terhadap manusia
Daerah peralihan (interface area) antara ekosistem darat dan laut.

Batas ke arah darat:
Ekologis: kawasan yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut seperti
pasang surut, intrusi air laut dan percikan air gelombang
Administratif: batas terluar sebelah hulu dari desa pantai atau jarak
definitif secara arbitrer (2 km, 20 km, dst dari garis pantai)
Perencanaan: bergantung pada permasalahan yang menjadi fokus
pengelolaan wilayah pesisir
a. Pencemaran dan sedimentasi: suatu kawasan darat dimana
pencemaran dan sedimentasi yang ditimbulkan di sini berdampak pada
kawasan pesisir
b. Hutan mangrove: batas terluar sebelah hulu kawasan hutan mangrove

Batas ke arah laut :
Ekologis: kawasan perairan laut yang masih dipengaruhi proses-proses
alamiah dan kegiatan manusia di daratan, seperti aliran air sungai,
limpasan air permukaan, sedimen dan bahan pencemar
Administratif: 4 mil, 12 mil, dst dari garis pantai
Perencanaan: bergantung pada permasalahan (kawasan yang masih
dipengaruhi oleh dampak pencemaran atau sedimentasi, atau proses-
proses ekologis)
Gambar 1.1. Batas Wilayah Pesisir (Parnetta & Milliman, 1995) dalam Dahuri (1998)
WILAYAH PESISIR
Antar muka
daratan-lautan
HT
LT
Lingkungan
lautan
Paparan benua
Daerah tangkapan
air
Belakang
pantai
Zona
intertidal
Lingkungan
daratan
Garis
pantai
Batas lautan
Batas daratan
Batas Wilayah Pesisir
PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN
PULAU-PULAU KECIL TERPADU
RESORCE
HUMAN
UTILIZATION
DISASTER
MITIGATION
ICM
PWP-3-K
Komponen Sistem WP-3-K
Wilayah pesisir dengan demikian adalah suatu bentang alam yang
"distinct", suatu unit terukur yang ditentukan oleh kelompok ekosistem
yang saling berinteraksi dimana kelompok ini berulang, baik dalam
skala ruang/luas maupun dalam skala temporal, proses geomorfologi
yang berulang, serta regim perubahannya (Forman and Godron,
1986) .
komponen sistem wilayah pesisir dapat ditelaah dari segi:
1) Struktur: hubungan keruangan antara ekosistem yang distinct atau
elemen-elemen yang ada. Lebih spesifik, struktur keruangan dilihat
dari distribusi energi, materi, serta spesies yang berkaitan
dengan besar, bentuk, jumlah, jenis, serta konfigurasi dari ekosistem
tersebut
2) Fungsi: interaksi antara elemen spasial yang berkaitan dengan
"aliran" energi, material, spesies, serta proses yang dipicu oleh
kegiatan manusia dalam elemen ekosistem tersebut
3) Perubahan: aksi yang menyebabkan perubahan struktur dan fungsi
mosaik ekologis sejalan dengan waktu.
A. Struktur: Organisasi ruang
Dahuri et al. (1996) dan Tomascik (1997) menjelaskan bahwa pesisir
dan laut Indonesia terdiri dari rangkaian sistem ekologi yang terkait satu
sama lain.
Rangkaian tersebut terdiri dari:
- wilayah estuaria
- wilayah mangrove,
- Wilayah Pantai
- wilayah padang lamun,
- wilayah terumbu karang.
k
B. Proses/ Fungsi:

Di wilayah pesisir terjadi beragam kegiatan yang merupakan bagian dari
sistem keruangan wilayah tersebut. Proses dan fungsi yang terjadi di
dalam struktur keruangan wilayah pesisir dapat ditinjau melalui dua
karakter utama yaitu: proses alami dan proses antropogenik (Pollnac
and Crawford, 2000) .
Masing-masing karakter kemudian akan saling
mempengaruhi. Kemudian kedua proses ini akan memicu regim
perubahan yang kemudian akan mempengaruhi komponen struktur
wilayah pesisir (Forman and Godron, 1986)



B.1. Sistem alami terdiri dari:

1) Sistem Biotik,
- Berhubungan dengan sistem biologis dan sistem ekologis di wilayah pesisir.
- Sistem kehidupan di wilayah pesisir memiliki jaring proses rantai makanan yang sangat
ketat sehingga keseimbangan alaminya sangat menentukan produktivitas keluaran
wilayah pesisir tersebut.
- Clark (1974) menjelaskan bahwa ada sebelas prinsip ekologi yang dapat mendasari fungsi
pengelolaan pesisir dan laut. Prinsip-prinsip ekologi tersebut mempengaruhi berjalannya
fungsi ekosistem yang optimal. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
Integritas ekosistem tidak ada satu bagian dari ekosistem yang berjalan sendiri
Keterkaitan Air merupakan penghubung yang penting bagi elemen-elemen daratan dan lautan dari
ekosistem pesisir dan laut
Aliran masuk volume alami, pola, serta laju aliran air tawar musiman
Sirkulasi cekungan (basin) pola alami sirkulasi air dalam cekungan
Energi aliran dan jumlah energi yang ada mengatur proses hidup dalam ekosistem pesisir
Penyimpan (storage ) kapasitas penyimpanan energi yang tinggi
Nitrogen Produktivitas perairan pesisir biasanya diatur oleh jumlah nitrogen yang tersedia
Cahaya (matahari)
Suhu
Jumlah oksigen
Salinitas
2) Sistem Abiotik: sistem yang mempengaruhi bentuk bentang alam
(landform) dari wilayah pesisir
- sistem geologi
- sistem oseanografis dan meteorologis
- sistem hidrologis di wilayah hulu.
Sistem Geologi
Sistem geologi yang berpengaruh terhadap karakteristik sumberdaya pesisir dan lautan mencakup:
a. Sistem gunung berapi.
Indonesia memiliki lebih dari 500 gunung berapi muda (Neuman van Padang 1951 dalam
Tomascik et al. 1997). Van Bemmelen (1949 dalam Tomascik 1997
menjelaskan kelompok gunung berapi aktif di Indonesia serta rangkaiannya dala
kategori sebagai berikut:
1. Busur dalam vulkanik
2. Kelompok busur dalam vulkanik sistem pegunungan Sunda (Sumatra, Jawa, Sunda Kecil, dan
Banda)
3. zona Minahasa Sangihe Ragay
4. Rangkaian Halmahera Utara Ternate Bacan
5. Busur Ruk sepanjang garis pantai utara Papua Nugini
6. Gunung berapi di bagian timur dari wilayah pegunungan di Papua Nugini
Busur luar non-vukanik :
Adaman Nicobar;
Pulau-pulau di sebelah barat Sumatra lipatan bawah laut di selatan pulau Jawa Savu Roti
Timor busur luar Banda (Tanimbar Kai Seram;
Lipatan Maju;
Bagian selatan dari Vogelkop di Papua Nugini.
Rangkaian gunung api ini berpengaruh terhadap jenis sedimentasi, bathymetri, serta deposit dasar
laut Indonesia yang kemudian berpengaruh terhadap karakter habitat hidupan pesisir dan lautnya.
b. Tektonik
Indonesia berada dalam lebih dari satu lempeng tektonik (Tomascik
et.al. 1997).
Zen (1993 dalam Tomascik et al. 1997), menjelaskan bahwa kegiatan
tektonik di bagian barat Indonesia, sangat berbeda dengan kegiatan
tektonik di wilayah timur Indonesia. Tumbukan tektonik yang
mencirikan sebelah barat Indonesia dengan zona tumbukan frontal di
selatan Jawa dan tumbukan miring di sebelah barat Sumatra.
Tumbukan tektonik antara lempeng Eurasia dan Indo-Australia
mendominasi wilayah tenggara Indonesia (Zen 1993 dalam Tomascik
et.al. 1997). Karakter tektonik ini berpengaruh pada kondisi
biogeografi Indonesia. Selain berpengaruh pada kedalaman laut,
kondisi tektonik ini berperan dalam pembentukan hamparan terumbu
karang, rute migrasi biota terestrial dan penghalang migrasi biota laut,
serta hubungan bentik laut dan populasi ikan.
Sistem hidrologis
Karena lokasinya yang merupakan peralihan antara daratan
dan lautan, kondisi keseimbangan wilayah pesisir sangat
rentan terhadap perubahan di wilayah hulu. Pencemaran di
wilayah pesisir sebagian besar berasal dari aliran sungai
serta sumber pencemaran yang non-point.
sistem hidrologis dari daerah aliran sungai (watershed)
memegang peran yang penting dalam menentukan kondisi
wilayah pesisir tersebut (Volk, 2000) .
B.2.Antropogenik
Keunikan wilayah pesisir tidak hanya dari proses alami yang sangat
erat kaitan antar elemen sistemnya. Secara umum wilayah pesisir
memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi yang dapat mengahasilkan
manfaat yang besar (Delaware, 1999) .
Dengan mosaik ragam ekosistem dan sumberdayanya, wilayah
pesisir dan laut merupakan ruang yang sangat strategis secara
ekonomi dan kesejahteraan sosial populasi penduduk yang ada di
dalamnya.
Sistem Oseanografi fisis dan meteorologis
Kepulauan Indonesia membentang di katulistiwa dan secara strategis terletak di antara
Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Kepulauan Indonesia berfungsi sebagai
penghalang dan sekaligus penghubung antara ke dua samudra di atas. Melalui Arus
Lintas Indonesia, aliran arus dari samudra Pasifik ke samudra Hindia pengaruhnya sangat
besar terhadap sirkulasi laut serta iklim global.
Dalam Tomascik (1997), beberapa sumber berpendapat bahwa sifat perairan Pasifik barat
dan bagian timur samudra Hindia sangat dipengaruhi oleh Arus Lintas Indonesia, di
samping itu Arus Lintas tersebut adalah pembawa panas dari wilayah perairan hangat di
wilayah barat Pasifik ke samudra Hindia. Peralihan panas ini mempengaruhi luas perairan
hangat wilayah barat Pasifik yang kemudian akan berhubungan dengan terjadinya dan
besarnya event El Nio/Southern Oscillation (ENSO) yang sangat berpengaruh terhadap
perubahan suhu permukaan laut. Perubahan kecil saja pada suhu permukaan laut
memiliki efek yang besar dalam klimatologi.
Gelombang pasang surut terdistorsi oleh kondisi batimetri yang rumit dan bentuk pesisir
kepulauan Indonesia. Gangguan terhadap gelombang pasang surut memiliki dua efek
global, yaitu; ada sebagian besar energi planet yang terdifusikan oleh campuran
gelombang pasang surut yang berlangsung di kepulauan Indonesia yang kemudian
berpengaruh kepada perlambatan rotasi bumi dan memperpanjang waktu siang hari; serta
arus pasang surut memiliki peran penting dalam peralihan dan pencampuran karakter laut
Indonesia.
B.2.Antropogenik
Keunikan wilayah pesisir tidak hanya dari proses alami yang sangat
erat kaitan antar elemen sistemnya. Secara umum wilayah pesisir
memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi yang dapat mengahasilkan
manfaat yang besar (Delaware, 1999) .
Dengan mosaik ragam ekosistem dan sumberdayanya, wilayah
pesisir dan laut merupakan ruang yang sangat strategis secara
ekonomi dan kesejahteraan sosial populasi penduduk yang ada di
dalamnya.
c. Perubahan/Change

perubahan di wilayah pesisir mengalami perubahan yang disebabkan
oleh perubahan-perubahan keseimbangan komponen sistem yang
lain (Forman and Godron, 1986, Gunawan, 1994)
Sumberdaya alam yang pulih dan yang tidak pulih memiliki karakter
rentang waktu yang berbeda, dengan demikian, pemanfaatannya
harus ditangani secara berbeda pula.
sumberdaya alam yang tidak pulih, biaya eksploitasi biasanya
dimasukkan ke dalam komponen biaya yang akan dibebankan
kepada komsumen. Sedangkan sumberdaya alam yang pulih, siklus
pemulihan (recovery) dari cadangan sumberdaya harus menjadi
pertimbangan utama dalam pemanfaatan sumberdaya tersebut.
Eksploitasi (exploitation) yaitu kolonisasi dari suatu daerah yang baru saja mengalami
perubah
Konservasi (conservation) yaitu tahap dimana akumulasi serta penyimpanan energi dan
material secara perlahan berlangsung
Pelepasan (release) yang disebut pula sebagai pengrusakan kreatif (creative destruction),
yaitu tahap dimana akumulasi biomas dan nutrien yang tinggi hingga menjadi rentan
(overconnected) sampai pada akumulasi tersebut dilepaskan oleh suatu agen seperti
kebakaran hutan, badai, hama, dan sebagain
Reorganisasi (reorganization) yaitu tahap dimana setelah terjadi pelepasan (release)
ekosistem melakukan proses minimisasi hilangnya nutrien dan biomas sehingga nutrien dan
biomas tersebut siap untuk tahap eksploitasi berikutnya.
Eksploitasi (exploitation) yaitu kolonisasi dari suatu daerah yang baru
saja mengalami perubah
Konservasi (conservation) yaitu tahap dimana akumulasi serta
penyimpanan energi dan material secara perlahan berlangsung
Pelepasan (release) yang disebut pula sebagai pengrusakan kreatif
(creative destruction), yaitu tahap dimana akumulasi biomas dan
nutrien yang tinggi hingga menjadi rentan (overconnected) sampai
pada akumulasi tersebut dilepaskan oleh suatu agen seperti
kebakaran hutan, badai, hama, dan sebagain
Reorganisasi (reorganization) yaitu tahap dimana setelah terjadi
pelepasan (release) ekosistem melakukan proses minimisasi
hilangnya nutrien dan biomas sehingga nutrien dan biomas tersebut
siap untuk tahap eksploitasi berikutnya.
PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN
PULAU-PULAU KECIL TERPADU
RESORCE
HUMAN
UTILIZATION
DISASTER
MITIGATION
ICM
Peran Ekosistem Pesisir Sebagai
Penyedia Sumberdaya Alam
Peran Ekosistem Pesisir Sebagai Penyedia
Jasa Pendukung Kehidupan & Kenyamanan
KOMPLEKSITAS KEGIATAN
WILAYAH PESISIR RAWAN
KONFLIK KEPENTINGAN
KEGIATAN INDUSTRI
PERHOTELAN
PARIWISATA
PELABUHAN
PEMUKIMAN
KEGIATAN
PELAYARAN
PERTAMBANGAN
11
( DENR, 2001)
KOMPLEKSITAS PERMASALAHAN DI WILAYAH
PESISIR
penggundulan
hutan dan erosi
padat tangkap
polusi
limbah RT
limbah pertanian
kepadatan
penduduk
penambangan
pasir
pengeboman ikan
Sampah pelabuhan
peracunan ikan
rusaknya habitat
dan benih ikan
limbah budidaya ikan
penimbunan
unsur kimia dari
pertanian
operasi kapal asing di
perairan teritorial
operasi kapal asing di
perairan ZEEI
pertumbuhan
penduduk di
wilayah pesiisr
dampak
industri
reklamasi dan
pengembangan pantai
peracunan ikan
overfishing
akses terbuka
alat tangkap yg. merusak:
trawl dasar, drift nets dan
jaring halus
10
Peran Ekosistem Pesisir Dalam Mitigasi Bencana
PETA LOKASI TSUNAMI DI INDONESIA
(1960-2006)
2004
2006
2005
2005
1907
1921
1833
9
PRODUKTIVITAS HAYATI TINGGI
PUSAT KEGIATAN REKREASI, TRANSPORTASI, INDUSTRI,
PERMUKIMAN, PELABUHAN, BISNIS, DLL.
INTENSITAS PEMBANGUNAN TINGGI, BERLAKU REZIM
AKSES TERBUKA, RENTAN TERHADAP PERUBAHAN
LINGKUNGAN GLOBAL
140 JT PENDUDUK (60%) INDONESIA TINGGAL DI WILAYAH
PESISIR, 80% DI ANTARANYA BERGANTUNG PADA
PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN
KONTRIBUSI EKONOMI SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN
PADA GDP : SEBESAR 24,5 % DARI TOTAL GDP NASIONAL
51 KOTA DAN 243 KABUPATEN BERADA DI PESISIR, DARI
TOTAL 440 KAB/KOTA DI SELURUH INDONESIA. (2005)
TIDAK KURANG DARI 360 TELUK
5
APA WILAYAH PESISIR
KONFLIK PEMANFAATAN RUANG
KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR
- 80% relatif miskin dengan
tingkat pendidikan rendah
DEGRADASI EKOSISTEM DAN SDA
- 42% terumbu karang rusak
berat, 29% rusak, 23% baik
dan hanya 6% sangat baik
- Kerusakan 40% hutan
mangrove
- Berkurangnya stok
sumberdaya ikan
KERAWANAN BENCANA ALAM
- Abrasi. erosi, tsunami,
perubahan iklim, dll.
PENCEMARAN LAUT DAN PESISIR
- Akibat aktivitas di daratan
maupun di laut 6
P
E
R
M
A
S
A
L
A
H
A
N

D
I

W
P
-
3
-
K

PENGELOLAAN KONSERVASI LAUT BELUM
OPTIMAL
Punahnya sejumlah spesies SDI
Eksploitasi sumber daya kurang sesuai
daya dukung lingkungan
KETIDAKPASTIAN DAN KEKOSONGAN HUKUM
- Konflik antar beberapa produk hukum
SUMBERDAYA KELAUTAN NON KONVENSIONAL
BELUM DIKELOLA SECARA OPTIMAL:
- Benda muatan kapal tenggelam, jasa
kelautan, wisata bahari, pasir laut, garam
laut, dll.
lanjutan
7
P
E
R
M
A
S
A
L
A
H
A
N

D
I

W
P
-
3
-
K



Sifat Common Property dan Rezim
Open Acces.
Kebijakan masih bersifat Sektoral.
Terbatasnya sarana dan prasarana.
Kurang Keterpaduan.
Rendahnya Sumber Daya Alam.
Lemahnya Peranan Masyarakat Adat.
PERMASALAHAN DI WILAYAH PESISIR DAN PPK
8
SEHINGGA PERLU?

PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN
PULAU-PULAU KECIL
2
UU No 27 tahun 2007: PWP-3-K
12
1. Payung hukum dalam PWP-3-K.
2. Sinergisme pentaatan dan penegakan berbagai UU
terkait PWP-3-K.
3. Kepastian berusaha dan pertumbuhan ekonomi
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
pesisir dan pulau-pulau kecil.
4. Menyelaraskan kebijakan nasional dan daerah
dalam pelaksanaan otonomi daerah di wilayah
pesisir dan mendorong peran pemda dalam PWP-3-
K secara berkelanjutan.
5. Menguatkan sistem kelembagaan yang mengelola,
menyelesaikan masalah, dan konflik di wilayah
pesisir dan PPK.
6. Menjamin akses masyarakat pesisir untuk
memanfaatkan sumberdaya pesisir dan PPK yang
telah dikelola secara lestari. 13
untuk apa ....?
melindungi, mengonservasi, merehabilitasi,
memanfaatkan, dan memperkaya Sumber Daya Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil serta sistem ekologisnya secara
berkelanjutan;.
menciptakan keharmonisan dan sinergi antara Pemerintah
dan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga
pemerintah serta mendorong inisiatif masyarakat dalam
pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
agar tercapai keadilan, keseimbangan, dan
keberkelanjutan.
meningkatkan nilai sosial, ekonomi, dan budaya
Masyarakat melalui peran serta masyarakat dalam
pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
TUJ UAN UU PWP-3-K
14
BAB II. Pasal 4
BAGAIMANA PENGATURAN
PWP-3-K?
15
BAB III. PROSES PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR

Proses Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu:
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian
dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Pengelolaan Pesisir Terpadu:
Pengelolaan Wilayah Pesisir dilakukan dengan cara mengintegrasikan
kegiatan: antara Pemerintah-Pemerintah Daerah, antar Pemerintah
Daerah, antar sektor, antara Pemerintah,dunia usaha dan masyarakat,
antara ekosistem daratan & lautan; dan antara ilmu pengetahuan dan
manajemen.


16
Pasal 5
Pasal 6
1. Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RSWP-3-K)
2. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K)
3. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K)
4. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RAPWP-3-K)
17
PERENCANAAN
Bagian tidak terpisahkan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Pemerintah Daerah
Mempertimbangkan kepentingan pusat dan daerah
Selama 20 tahun dan dapat ditinjau 5 tahun sekali
18
BAB IV. Pasal 8
1. Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan PPK
(RSWP-3-K)
PERENCANAAN

Arahan pemanfaatan SD Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil
Diserasikan, diselaraskan dan diseimbangkan
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Propinsi atau Kabupaten /Kota
Berlaku selama 20 tahun dan dapat ditinjau 5 tahun
sekali
Ditetapkan dengan Peraturan Daerah
19
BAB IV. Pasal 9
2. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan PPK
(RZWP-3-K)
PERENCANAAN
RZWP-3-K Provinsi
Pengalokasian ruang dalam Kawasan Pemanfaatan
Umum, Kawasan Konservasi, Kawasan Strategis
Nasional Tertentu, dan alur laut;
Keterkaitan antara Ekosistem darat dan Ekosistem
laut dalam suatu Bioekoregion;
Penetapan pemanfaatan ruang laut; dan
Penetapan prioritas Kawasan laut untuk tujuan
konservasi, sosial budaya, ekonomi, transportasi laut,
industri strategis, serta pertahanan dan keamanan
BAB IV. Pasal 10
20
PERENCANAAN
RZWP-3-K Kabupaten/Kota
Berisi arahan tentang:
alokasi ruang dalam Rencana Kawasan Pemanfaatan
Umum, rencana Kawasan Konservasi, rencana
Kawasan Strategis Nasional Tertentu, dan rencana alur;
keterkaitan antarekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil dalam suatu Bioekoregion.
Diwajibkan mengikuti dan memadukan rencana Pemerintah
dan Pemerintah Daerah dengan memperhatikan Kawasan,
Zona, dan/atau Alur Laut yang telah ditetapkan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
BAB IV. Pasal 11
21
PERENCANAAN
kebijakan pengaturan serta prosedur administrasi penggunaan
sumberdaya yang diijinkan dan yang dilarang.
skala prioritas pemanfaatan SD sesuai karakteristik wilayah pesisir.
terakomodasikannya pertimbangan hasil konsultasi publik
mekanisme pelaporan teratur & sistematis untuk tersedianya data
dan informasi yang akurat dan dapat diakses.
ketersediaan SDM terlatih untuk mengimplementasikan kebijakan
dan prosedurnya.
Berlaku selama 5 tahun dan ditinjau kembali sekurang-kurangnya 1 kali
22
BAB IV. Pasal 12
3. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PPK
(RPWP-3-K)
PERENCANAAN


RAPWP-3-K mengarahkan rencana pengelolaan &
rencana zonasi sebagai upaya mewujudkan rencana
strategis.
RAPWP-3-K berlaku 1 (satu) sampai dengan 3 (tiga)
tahun.
23
BAB IV. Pasal 13
4. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PPK
(RAPWP-3-K)
MEKANISME PENYUSUNAN PERENCANAAN
Usulan penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K
dilakukan oleh Pemerintah Daerah serta dunia usaha.

Mekanisme penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan
melibatkan Masyarakat.

Pemerintah Daerah berkewajiban menyebarluaskan konsep RSWP-3-K, RZWP-
3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K untuk mendapatkan masukan, tanggapan,
dan saran perbaikan.

Bupati/walikota menyampaikan dokumen final perencanaan Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil kabupaten/kota kepada gubernur dan
Menteri untuk diketahui.
BAB IV. Pasal 14
24
Gubernur menyampaikan dokumen final perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
provinsi kepada Menteri dan bupati/walikota di wilayah
provinsi yang bersangkutan.

Gubernur atau Menteri memberikan tanggapan dan/atau
saran terhadap usulan dokumen final perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja.

Dalam hal tanggapan dan/atau saran tidak dipenuhi,
maka dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dimaksud diberlakukan
secara definitif.
Lanjutan ..







25
DATA DAN INFORMASI
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengelola data dan
informasi mengenai Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Pemutakhiran data dan informasi dilakukan oleh Pemerintah dan
Pemerintah Daerah secara periodik dan didokumentasikan serta
dipublikasikan secara resmi, sebagai dokumen publik, sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
Data dan informasi dapat dimanfaatkan oleh setiap Orang
dan/atau pemangku kepentingan utama dengan tetap
memperhatikan kepentingan Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Setiap Orang yang memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil wajib menyampaikan data dan informasi
kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah selambat-
lambatnya 60 (enam puluh) hari kerja sejak dimulainya
pemanfaatan.
Perubahan data dan informasi hanya dapat dilakukan dengan
seizin Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.
BAB IV. Pasal 15
26
Atlas
Bappeda
Propinsi
Rencana
Strategis
Bappeda
Propinsi &
Kabupaten
Rencana
Zonasi
Propinsi 1:250 K
Kabupaten 1:50 K
Rencana
Pengelolaan
Bappeda
Kabupaten
Rencana Aksi
Rencana
Pembangunan
Zona
Bappeda
Kabupaten
Dinas
Kabupaten
1
2
3
4
5
6
Gambar 1. Revisi Hirarki Rencana-Rencana ICZM
KETERKAITAN ANTAR DOKUMEN
PERENCANAAN
HUBUNGAN SECARA FUNGSIONAL ANTARA RENCANA ICZM
DAN PEMBANGUNAN DAERAH
ISU & ARAH
PEMBANGUNAN
RENCANA STRATEGIS
RENCANA AKSI
R
E
N
C
A
N
A
P
E
N
G
E
L
O
L
A
A
N
R
E
N
C
A
N
A

Z
O
N
A
S
I
O
R
G
A
N
I
S
A
S
I

&
A
D
M
I
N
I
S
T
R
A
S
I
P
R
O
G
R
A
M
K
E
S
E
S
U
A
I
A
N


&

P
O
T
E
N
S
I
S
U
M
B
E
R
D
A
Y
A

A
L
A
M
KEGIATAN
RENCANA TAHUNAN
DAERAH
PENGEMBANGAN
SISTEM &
PROSEDUR
PENGEMBANGAN
TEKNOLOGI
PENGEMBANGAN
SUMBERDAYA
MANUSIA
PENGEMBANGAN
INFORMASI
PENGEMBANGAN
KEBIJAKAN
PENDANAAN
PROGRAM
PENGEMBANGAN
SOSIO-EKONOMI
KEBERLANJUTAN
Pembangunan B
e
r
k
e
s
in
a
m
b
u
n
g
a
n
S
ik
lu
s
Gambar 4.6. Tahapan Penyusunan Dokumen Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil
Lampiran I. Permen No. MEN/KP/2008 tentangPEDOMAN
PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS WILAYAH PESISIR DAN PULAU-
PULAU KECIL (RSWP-3-K)
Lampiran II. Permen KP No. MEN/KP/2008 tentang
PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR, DAN
PULAU-PULAU KECIL
Lampiran III. Permen KP No. MEN /KP/2008 tentangPEDOMAN
PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR, DAN
PULAU-PULAU KECI
Lampiran IV. Permen KP No. MEN /KP/2008 tentang PEDOMAN
PENYUSUNAN RENCANA AKSI PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN
PULAU-PULAU KECIL (RAPWP-3-K)
STANDAR DOKUMEN PERENCANAAN