Anda di halaman 1dari 38

ASKEP KLIEN

UROLITIASIS,
INKONTINENSIA URINE
DAN STRIKTUR
URETRA
RULLY SOBUR
SAEPUL ANWAR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN OBSTRUKSI : UROLITIASIS
Definisi Urolitiasis
Batu saluran kemih (urolitiasis) adalah adanya batu pada saluran
kemih yang bersifat idiopatik, dapat menimbulkan statis dan
infeksi.Mengacu pada adanya batu (kalkuli) pada traktus urinarius.

ETIOLOGI

Urolitiasis mengacu pada adanya batu (kalkus) di traktus urinarius. Batu
terbentuk di traktus urinarius ketika konsentrasi substansi tertentu seperti
kalsium oksalat, kalsium fosgat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat
terbentuk ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, serta sitrat yang secara
normal mencegah kristalisasi dalam urine.

GAMBAR UROLITIASIS
PATOFISIOLOGI

Pembentukan batu saluran kemih memerlukan keadaan supersaturasi dalam
pembentukan batu. Inhibitor pembentuk batu dijumpai dalam air kemih normal.
Batu kalsium oksalat dengan inhibisi sitrat dan glokoprotein. Beberapa promotor
(reaktan) dapat memacu pembentukan batu seperti asam urat, memacu batu
kalsium oksalat. Aksi raektan dan inhibitor belum dikenali sepenuhnya. Ada
dugaan proses ini berperan pada pembentukan awal atau nukleasi kristal,
progresi kristal atau agregatasi kristal. Misal penambahan sitrat dalam kompleks
kalsium dapat mencegah agregatasi kristal kalsium oksalat yang mungkin dapat
mengurangi resiko agregatasi kristal dalam saluran kemih.

MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius tergantung pada adanya
obstruksi, infeksi dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine, terjadi
obstruksi menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal
serta ureter proksimal. Beberapa batu dapat menyebabkan sedikit gejala,
namun secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal, sedangkan yang
lain menyebabkan nyeri yang luar biasa dan ketidaknyamanan.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Urinalisa : warna mungkin kuning, coklat gelap, berdarah; secara umum menunjukkan SDM,
SDP, kristal (sistin, asam urat, kalsium oksolat), serpihan, mineral, bakteri, pus; pH mungkin
asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) atau alkalin (meningkatkan magnesium,
fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat).
Urine (24 jam) : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksolat atau sistin mungkin meningkat.
Kultur urine : mungkin meningkatkan ISK (Stapilococus aureus, Proteus, Klebsiela,
Pseudomonas)
Servei biokimia : peningkatan kadar kalsium, magnesium, asam urat, fosfat, protein,
elektrolit.
BUN : abnormal (tinggi pada serum/ rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu
obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.

LANJUTAN..
Kadar klorida dan bikarbonat serum : peningkatan kadar klorida dan penurunan kadar
bikarbonat menunjukkan terjadinya asidosis tubulus ginjal.
Hitung darah lengkap : SDP mungkin meningkat menunjukkan infeksi/ septikemia.
SDM : biasanya normal
Hb/ Ht : abnormal bila klien dehidrasi berat atau polisitemia terjadi (mendorong
presipitasi pemadatan) atau anemia (perdarahan, disfungsi/ gagal ginjal)
Hormon paratiroid : meningkat bila ada gagal ginjal. (PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari
tulang meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine).

MASIH LANJUTAN.
Foto rontgen KUB : menunjukkan adanya kalkuli dan atau perubahan anatomik pada daerah
ginjal dan ureter.
IVP : memberikan konfirmasi cepat urolitiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau
panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomi (distensi ueret) dan garis bentuk
kalkuli.
Sistoureterokopi : visualisasi langsug kandung kemih dan ureter dan menunjukkan batu dan
atau efek obstrukasi.
CT scan : mengidentifikasi atau menggambarkan kalkuli dan masa lain; ginjal, ureter, dan
distennsi kandung kemih.
Ultrasound ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi, lokasi batu.

PENATALAKSANAAN MEDIK

Farmako terapi.
Natrium Bikarbonat.
Asam Aksorbal.
Diuretik Thiasid.
Alloporinol.
Pengangkatan batu melalui Pembedahan.
Pielolitotomi.
Uretolitotomi.
Sistolitotomi.
Lithotripsi ultrasonic perkutan / PUL.

ASKEP UROLITIASIS
Pengkajian
a. Aktivitas istirahat
Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajang pada lingkungan bersuhu tinggi.
Keterbatasan aktivitas/immobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya (contohnya penyakit tak
sembuh, cedera spinalis).
b. Sirkulasi
Tanda : peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal jantung). Kulit hangat dan kemerahan, pucat.
c. Eliminasi
Gejala : riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya (kalkulus), penurunan haluaran urine,
kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan berkemih, diare.
Tanda : oliguria, hematuria, piuria, dan perubahan pola berkemih.

DIAGNOSA KEP.
Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan
kontraksi ureteral.
Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih
oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.
Resiko tinggi terhadap kekuranganm volume cairan berhubungan dengan
mual/muntah
Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah
interpretasi informasi.

PERENCANAAN ( IMPLEMENTASI )
1. NYERI AKUT BERHUBUNGAN DENGAN
PENINGKATAN FREKUENSI/DORONGAN
KONTRAKSI URETERAL.

Mandiri
Catat lokasi lamanya intensitas (skala 0-10) dan penyebaran. Perhatikan tanda non-verbal,
contoh peningkatan TD dan nadi, gelisah, merintih, menggelepar.
R/ membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus
Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke staff terhadap perubahan
kejadian/karakteristik nyeri
R/ memberikan kesempatan terhadap pemberian analgesi sesuai waktu membantu dalam
meningkatkan kemampuan koping klien dan dapat menurunkan ansietas) dan waspadakan
staf akan kemungkinan lewatnya batu/ terjadi komplikasi. Penghentian tiba-tiba nyeri
biasanya menunjukkan lewatnya batu.

LANJUTAN
KOLABORASINYA
Berikan obat sesuai indikasi :
Narktik, contohnya meperidin (demoral), morfin
R/ biasanya diberikan selama episode akut untuk menurunkan kolik uretra dan meningkatkan
relaksasi otot/ mental.
Antispasmodik, contoh flavoksat (Uripas), Oksibutin (Ditropan)
R/menurunkan refleks spasme dapat menurunkan kolik dan nyeri.
Korikosteroid
R/ mungkin digunakan untuk menurunkan edema jaringan untuk membantu gerakan batu.
Berikan kompres hangat pada punggung.
R/ menghilangkan tegangan otot dan dapat menurunkan refleksi spasme.
2. PERUBAHAN ELIMINASI URINE BERHUBUNGAN
DENGAN STIMULASI KANDUNG KEMIH OLEH
BATU, IRITASI GINJAL ATAU URETERAL.

Mandiri
Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine
R/ memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi, contoh infekasi dan
perdarahan.perdarahan dapat mengidentifiaksikan peningkatan obstruksi atau iritasi ureter.
Tentukan pola berkemih pasien dan perhatikan variasi
R/ kalkulus dapat menyebabkan eksitabilitas saraf, yang menyebabkan sensasi kebutuhan
berkemih segera. Biasanya frekuensi dan urgensi meningkat bila kalkulus
mendekatipertemuan urektrovesikal.

LANJUTAN
KOLABORASINYA
Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit, BUN, kreatinin.
R/ peninggian BUN, kreatinin, dan elektrolit mengindikasikan disfungsi ginjal.
Ambil urine untuk kultur dan sensitivitas.
R/ menentukan adanya ISK, yang menyebabkan gejala komplikasi.

EVALUASI
Menunjukkan berkurannya nyeri
Menunjukkan peningkatan perilaku sehat untuk mencegah kekambuhan
1.Mengkonsumsi masukan cairan dalam jumlah besar (10-12 gelas setiap hari)
2. Melakukan aktifitas yang sesuai
3. Mengkonsumsi diet yang diresepkan untuk mengurangi faktor predisposisi pembentuk batu.
4. Mengidentifikasi gejala yang harus dilaporkan ke tenaga kesehatan (demam, menggigil, nyeri panggul,
hematuria).
5. Memantau pH urine sesuai anjuran.
6. Mematuhi medikasi serta yang dianjurkan untuk mengurangi pembentukan batu.
Tidak adanya komplikasi.
Tidak memperlihatkan tanda sepsis dan infeksi.
1. Berkemih sebanyak 200 sampai 400 ml urine jernih tanpa mengandung sel darah merah setiap kali
berkemih.
2. Melaporkan tidak adanya disuria, frekuensi dan hesitensi.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
INKONTINENSIA URINE

Definisi
Inkontinensia urine merupakan salah satu keluhan utama pada penderita usia
lanjut. Seperti halnya dengan keluhan pada suatu penyakit bukan merupakan
suatu diagnosa sehingga perlu dicari penyebabanya. (Brocklehurst dkk, 1987)
Inkontenensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak
terkendali atau terjadi diluar keinginan. (Brunner, Sudart. 2002:1394)

ETIOLOGI
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan
fungsi organ kemih, antara lain : melemahnya otot dasar panggul akibat
kehamilan berkali-kali, kebisaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini
mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu adanya
kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun
kandung kemih baru terisi sedikit,sudah menimbulkan rasa ingin berkemih.
Penyebab inkontinensia urine antara lain terkait dengan gangguan di saluran
kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urine meningkat atau adanya
gangguan kemampuan / keinginan ke toilet.
MANIFESTASI KLINIS

Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk
atau bersin. Bisa juga disebabkan oleh kelainan diseliling daerah saluran
kencing.
Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung
kemih.
Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine
banyak dalam kandung kemih sampai kapasitas berlebih.

PATOFISIOLOGI

1. stress urinary incontinence terjadi apabila urine secara tidak terkontrol keluar akibat
peningkatan tekanan di dalam perut.
2. Urge incontinence timbul pada keadaan otot detrusor yang tidak stabil, diman otot ini
bereaksi secara berlebihan.
3. Total inkontinensia dimana kencing mengalir ke luar sepanjang waktu dan pada segala posisi
tubuh
4. Overflow incontinence adalah urine yang mengalir isinya yang sudah terlalu banyak di dalam
kandung kemih akibat otot detrusor yang lemah.
PENATALAKSANAAN

Yang sering dikerjakan pada penderita lanjut usia dengan incontinensia urine
adalah memasang kateter secara menetap. Untuk beberapa pertimbangan,
misalnya memantau produksi urine dan mengatur balance cairan hal ini masih
dapat diterima, tetapi sering kali pemasangan kateter ini tidak jelas dan
mengandung resiko untuk terjadinya komplikasi umumnya adalah infeksi.

KOMPLIKASI

Hipovolemia
Iritasi
Infeksi
Retensi urine
Penurunan fungsi kognitif
Delirium
Postural hipotensi

ASKEP INKONTINENSIA URINE
A. PENGKAJIAN
I. Identitas klien
II. Keluhan utama
III. Riwayat penyakit sekarang
IV. Riwayat penyakit dahulu
V. Riwayat penyakit keluarga
VI. Pola fungsional

DIAGNOSA KEP.
Gangguan konsep dari berhubungan dengan penurunan kontrol miksi
Resiko kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan iritasi
Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang penyakit

C. INTERVENSI
1. Gangguan konsep dari berhubungan dengan penurunan kontrol miksi
Intervansi :
Kaji pengetahuan klien tentang penyakit yang dialaminya
Beri informasi klien tentang penyakitnya
Dorong klien untuk menyatakan perasaan
Dorong klien untuk beraktivits dan berinteraksi dalam lingkunganya

2. RESIKO KERUSAKAN INTREGITAS KULIT
BERHUBUNGAN DENGAN IRITASI

Intervensi
Inspeksi keadaan kulit terhadap perubahan warna, turgor, perhatikan
kemerahan
Ubah posisi dengan sering
Berikan perawatan kulit
Jaga kulit agar tetap kering
Berikan pakaian dari bahan yang dapat menyerap air

3. RESIKO DEFISIT VOLUME CAIRAN
BERHUBUNGAN DENGAN KURANG
PENGETAHUAN TENTANG PENYAKIT

Intervensi
Beri informasi klien tentang penyakitnya
Kaji balace cairan
Berikan cairan sesuai indikasi
Motivasi klien untuk memenuhi kebutuhan cairan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
STRIKTUR URETRA

Pengertian
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan perut
dan kontraksi. (C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)
Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena
perbedaan panjangnya uretra. (C. Long , Barbara;1996 hal 338)

PENYEBAB

a. Kongenital
Striktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan anomali saluran kemih yang lain.
b. Didapat.
Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling, atau prosedur
sitoskopi)
Cedera akibat peregangan
Cedera akibat kecelakaan
Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
Infeksi
Spasmus otot
Tekanan dai luar misalnya pertumbuhan tumor
(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468 dan C. Long , Barbara;1996 hal 338)

MANIFESTASI KLINIS

Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang
Gejala infeksi
Retensi urinarius
Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis

PENCEGAHAN

Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan
tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus
dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat
uretral termasuk kateter.
(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)

PENATALAKSANAAN

1. Filiform bougies untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan kateter
2. Medika mentosa
Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.
Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.
3. Pembedahan

PEMERIKSANAAN PENUNJANG

Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang, penampilan keruh, pH : 7 atau lebih
besar, bakteria.
Kultur urin: adanya staphylokokus aureus. Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
BUN/kreatin : meningkat
Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya
penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi.
Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra
(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)

PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)
2. Eliminasi
Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih
dengan lengkap, dorongan dan frekurnsi berkemih
Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra
3. Makanan dan cairan
Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL
1. Nyeri b.d insisi bedah sitostomi suprapubik
Tujuan : nyeri berkurang/ hilang
Kriteria hasil:
Melaporkan penurunan nyeri
Ekspresi wajah dan posisi tubuh terlihat relaks
intervensi
Kaji sifat, intensitas, lokasi, lama dan faktor pencetus dan penghilang nyeri
Kaji tanda nonverbal nyeri ( gelisah, kening berkerut, mengatupkan rahang, peningkatan TD)
Berikan pilihan tindakan rasa nyaman

2. PERUBAHAN POLA ELIMINASI PERKEMIHAN
B.D SITOSTOMI SUPRAPUBIK

Tujuan: tidak terjadi infeksi
Hasil yang diharapkan:
Suhu tubuh pasien dalam batas normal
Insisi bedah kering, tidak terjadi infeksi
Berkemih dengan urin jernih tanpa kesulitan
Intervensi
Periksa suhu setiap 4 jam dan laporkan jikadiatas 38,5 derajat C
Perhatikan karakter urin, laporkan bila keruh dan bau busuk
Kaji luka insisi adanya nyeri, kemerahan, bengkak, adanya kebocoran urin, tiap 4 jam sekali
Ganti balutan dengan menggunakan tehnik steril
Pertahankan sistem drainase gravitas tertutup

SELESAI..