Anda di halaman 1dari 5

BATA RINGAN

A. DEFINISI BATA RINGAN


1. Bata berpori adalah bata yang memiliki berat jenis ( density ) lebih ringan dari pada bata
pada umumnya. ( Ngabdurrochman,2009 ).
2. Bata berpori disebut juga sebagai bata ringan atau beton ringan alternatif bata. Hal ini
bertujuan memudahkan pengertian dan sudah akrab bagi pemakai bahan bangunan
dinding. ( http://properti.mediatata.com/2010/01/beton-ringan-alternatif-pengganti-
bata.html )
3. Bata berpori dapat dibuat dengan berbagai cara antara lain dengan menggunakan
agregat ringan ( fly ash, batu apung, expanded polystyrene/EPS dan lain lain ),
campuran antara semen, silika, pozzolan dan lain lain yang dikenal dengan nama
aerated concrete atau semen dengan cairan kimia penghasil gelembung udara ( dikenal
dengan nama foamed concrete atau cellular concrete ).
4. Tidak seperti bata biasa, berat bata ringan dapat diatur sesuai kebutuhan. Pada
umumnya berat bata ringan berkisar antara 600-1600 kg/m3. Karena itu keunggulan
bata ringan utamanya ada pada berat, sehingga apabila digunakan pada proyek
bangunan tinggi ( high rise building ) akan dapat secara signifikan mengurangi berat
sendiri bangunan, yang selanjutnya berdampak kepada perhitungan pondasi.

B. SEJARAH BATA RINGAN
Bata berpori (ringan) atau beton ringan AAC ( Autoclaved Aerated Concrete ) ini pertama
kali dikembangkan di Swedia pada tahun 1923 sebagai alternatif material bangunan
untuk mengurangi penggundulan hutan. Bata ringan AAC ini kemudian dikembangkan
lagi oleh Joseph Hebel di Jerman pada tahun 1943. Hasilnya bata berpori (ringan) atau
beton ringan aerasi ini dianggap sempurna, termasuk material bangunan yang ramah
lingkungan, karena dibuat dari sumber daya alam yang berlimpah. Sifatnya kuat, tahan
lama, mudah dibentuk, efisien, dan berdaya guna tinggi. Di Indonesia sendiri bata
berpori ( beton ringan ) mulai dikenal sejak tahun 1995, saat didirikannya PT Hebel
Indonesia di Kerawang Timur, Jawa Barat. ( Ngabdurrochman, 2009 ).

C. JENIS-JENIS BATA RINGAN
Bata ringan atau beton ringan memiliki densitas < 1,8 gr/cm3, begitu juga dengan
kekuatannya sangat bervariasi dan sesuai dengan penggunaan dan pencampuran bahan
bakunya.
Jenis dari bata ringan (beton ringan) ada dua, yaitu
1. Bata ringan berpori ( aerated concrete )
Bata ringan berpori (beton ringan berpori) adalah bata yang dibuat agar strukturnya
terdapat banyak pori. Bata semacam ini diproduksi dengan menggunakan agregat
ringan, misalnya : batu apung (pumice), diatomite, scoria, volcanic cinders dan dicampur
dengan bahan baku dari campuran semen, pasir, gypsum, CaCO3 dan katalis aluminium.
Dengan adanya katalis Al selama terjadi reaksi hidrasi semen akan menimbulkan panas
sehingga timbul gelembung-gelembung gas H2O, CO2 dari reaksi tersebut. Akhirnya
gelembung tersebut akan menimbulkan jejak pori dalam bata yang sudah mengeras.
Semakin banyak gas yang dihasilkan akan semakin banyak pori yang terbentuk dan bata
akan semakin ringan. Berbeda dengan bata non aerated, pada bata ini ditambahkan
agregat ringan dalam pembuatannya seperti, serat sintesis dan alami, slag baja, perlite,
dan lain-lain. Pembuatan bata ringan berpori jauh lebih mahal karena menggunakan
bahan-bahan kimia tambahan dan mekanisme pengontrolan yang cukup sulit. ( Zulfikar
Syaram, 2010 ).
2. Bata ringan tidak berpori ( non aerated )

D. MATERIAL BATA RINGAN
1. Semen
Semen adalah hasil industri dari paduan bahan baku yaitu kapur/gamping sebagai bahan
utama dan lempung/tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir berupa
padatan berbentuk bubuk/bulk, tanpa memandang proses pembuatannya, yang
mengeras atau membatu pada percampuran dengan air.
2. Pasir
Batu pasir (Bahasa Inggris : Sandstone) adalah batuan endapan yang terutama terdiri
dari mineral berukuran pasir atau butiran batuan. Sebagian besar batu pasir terbentuk
oleh kuarsa atau feldspar karena mineral-mineral tersebut paling banyak terdapat di
kulit bumi. Seperti halnya pasir, batu pasir dapat memilki berbagai jenis warna, dengan
warna umum adalah coklat muda, coklat, kuning, merah, abu-abu dan putih. Karena
lapisan batu pasir sering kali membentuk karang atau bentukan topografis tinggi lainnya,
warna tertentu batu pasir dapat diidentikan dengan daerah tertentu.
3. Agregat batu apung
Batu apung mempunyai sifat vesikular yang tinggi , mengandung jumlah sel yang banyak
(berstruktur selular) akibat ekspansi buih gas alam yang terkandung di dalamnya, dan
pada umumnya Batu apung ( pumice ) adalah jenis batuan yang berwarna terang,
mengandung buih yang terbuat dari gelembung berdinding gelas, dan biasanya disebut
juga sebagai batuan gelas vulkanik silikat.
Batu apung banyak digunakan untuk membuat beton ringan dalam hal ini adalah bata
ringan dan berpori, karena kepadatannya rendah dan insulatif. Juga digunakan sebagai
bahan penggosok, seperti pelitur, penghapus pensil, pengelupas kosmetik, dan lain-lain.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Batu_apung).
4. Air
Air diperlukan pada pembuatan bata berpori untuk memicu proses kimia semen,
membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pekerjaan bata. Air yang dapat
diminum umumnya dapat digunakan sebagai campuran bata. Air yang mengandung
senyawa-senyawa yang berbahaya, yang tercemar garam, minyak, gula atau bahan kimia
lainnya, bila dipakai dalam campuran bata akan menurunkan kualitas bata, bahkan
dapat mengubah sifat-sifat bata yang dihasilkan.
Air digunakan untuk membuat adukan menjadi bubur kental dan juga sebagai bahan
untuk menimbulkan reaksi pada bahan lain untuk dapat mengeras. Oleh karena itu, air
sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan pengerjaan bahan. Tanpa air, konstruksi bahan
tidak akan terlaksana dengan baik dan sempurna.

E. CARA PEMBUATAN BATA
BATA RINGAN BERPORI (BATA AERASI)
Pembuatan bata ringan berpori (bata aerasi) ini pada prinsipnya membuat rongga udara
didalam bata. Ada tiga macam cara membuat bata aerasi, yaitu :
1. Yang paling sederhana yaitu dengan memberikan agregat/campuran isian bata
ringan. Agregat itu bisa berupa batu apung (pumice), stereofoam, batu alwa atau
abu terbang yang dijadikan batu.
2. Menghilangkan agregat halus (agregat halusnya disaring, contohnya debu/ abu
terbangnya dibersihkan)
3. Meniupkan atau mengisi gelembung udara di dalam bata. Dengan tidak memakai
pasir agar bata banyak mengandung rongga sehingga bobotnya rendah/ringan. (
Kardiyono Tjokrodimuljo, 2003 ).
Pembuatan Bata Berpori
Proses pembuatan bata berpori dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:
a. Pembuatan campuran
Agregat batu apung dibebaskan dari kotoran serat benda-benda organik lainnya,
kemudian dilanjutkan dengan pencampuran semen, pasir dan batu apung sesuai
dengan komposisi yang telah ditetapkan, dan kemudian ditambahkan air sampai
tercapai campuran setengah basah (lengas) yang merata.
b. Pencetakan
Pencetakan bata berpori dilakukan dengan menggunakan alat cetak manual. Alat
cetak diolesi dengan minyak pelumas secukupnya, kemudian campuran dimasukkan
ke dalam cetakan sedikit demi sedikit sambil dipadatkan dengan penumbukan (
sampai dicapai kepadatan optimum )
c. Pemeliharaan awal
Pembukaan cetakan dilakukan dengan hati-hati dan perlahan-lahan untuk
menghindari kerusakan-kerusakan dan ketidaksempurnaan hasil seperti retak
retak, bentuk maupun sudut-sudutnya. Bata berpori yang sudah dilepaskan dari
cetakannya dibiarkan selama 24 jam.
d. Pemeliharaan akhir
Pengeringan dilakukan selama 3 4 minggu dalam keadaan tersusun. Dan juga
pengeringan dilakukan dengan angin karena pengeringan di bawah sinar matahari
akan menyebabkan retak retak, yang dapat mengurangi kekuatan bata. ( Rusli,
Iwan Suprijanto, I B Gd Putra Budiana, 2009 )

F. KARAKTERISTIK BAHAN
1. Densitas
Densitas pada material didefenisikan sebagai perbandingan antara massa (m) dengan
volume (v). Setiap zat memiliki densitas yang berbeda. Dan satu zat yang sama
berapapun massanya dan volumenya, akan memiliki densitas yang sama pula. Oleh
sebab itu, dikatakan bahwa massa jenis atau densitas merupakan ciri khas suatu zat.
Densitas dinyatakan dalam gr/cm3 dan dilambangkan dengan (rho).
2. Serapan Air
Pada saat terbentuknya agregat kemungkinan ada terjadinya udara yang terjebak dalam
lapisan agregat atau terjadi karena dekomposisi mineral pembentuk akibat perubahan
cuaca, maka terbentuklah lubang atau rongga kecil di dalam butiran agregat (pori). Pori
dalam agregat mempunyai variasi yang cukup besar dan menyebar di seluruh tubuh
butiran. Pori-pori mungkin menjadi reservoir air bebas di dalam agregat. Persentase
berat air yang mampu diserap agregat di dalam air disebut serapan air.
3. Kekerasan
Kekerasan didefenisikan sebagai ketahanan bahan terhadap penetrasi pada
permukaannya. Cara pengukuran kekerasan dapat ditetapkan dengan deformasi yang
berbeda-beda, yaitu kekerasan Brinnel, Rochwell, Vickers, yaitu yang disebut Static
Hardness Tests.
Dynamic Hardness Tests contohnya Shore Scleroscope, Pendulum Hardness, Cloudburst
Test, Equotip Hardness. Alat uji kekerasan yang sering digunakan adalah Brinnel
Hardness, Rockwell dan Vickers. Ketiga alat uji ini menggunakan indentor yang
bentuknya berupa bola kecil, piramid, atau tirus. Identor berfungsi sebagai pembuat
jejak pada logam (sampel) dengan pembebanan tertentu, nilai kekerasan diperoleh
setelah diameter jejak diukur.
Pada penelitian ini digunakan alat uji kekerasan Equotip Hardness, alat uji ini
diperkenalkan pada tahun 1977, dengan satuan pengukurannya disebut Leeb Value
sesuai dengan nama penemunya Dietmar Leeb, menggunakan baterai dalam
mengoperasikan dan bekerja secara otomatis (digital), penggunaanya sangat praktis
sesuai dengan bentuknya yang kecil dan sederhana dan dapat dibawa kemanapun.
4. Kuat Tekan
Nilai kuat tekan sampel didapat melalui tata cara pengujian secara manual dengan
memberikan beban tekan bertingkat dengan peningkatan beban tertentu atas benda uji.
5. Kuat impak
Kuat Impak didefenisikan suatu kriteria penting untuk mengetahui kegetasan suatu
bahan. Kuat Impak juga merupakan nilai impak (pukul) suatau bahan yang dalam
keadaan biasa bersifat liat, namun berubah menjadi getas akibat pembebanan tiba-tiba
pada suatu kondisi tertentu dengan satuan Newton meter.
6. Gas analizer
Banyaknya presentase gas buang dari kendaraan bermotor.

.
.