Anda di halaman 1dari 19

Memahami dan Menjelaskan Neurofisiologi Nyeri

Nyeri (sakit) merupakan mekanisme protektif yang dapat terjadi setiap saat bila ada jaringan
manapun yang mengalami kerusakan, dan melalui nyeri inilah, seorang individu akan bereaksi
dengan cara menjauhi stimulus nyeri tersebut.
Rasa nyeri dimulai dengan adanya perangsangan pada reseptor nyeri oleh stimulus nyeri. Stimulus
nyeri dapat dibagi tiga yaitu mekanik, termal, dan kimia. Mekanik, spasme otot merupakan
penyebab nyeri yang umum karena dapat mengakibatkan terhentinya aliran darah ke jaringan (
iskemia jaringan), meningkatkan metabolisme di jaringan dan juga perangsangan langsung ke
reseptor nyeri sensitif mekanik.
Termal, rasa nyeri yang ditimbulkan oleh suhu yang tinggi tidak berkorelasi dengan jumlah
kerusakan yang telah terjadi melainkan berkorelasi dengan kecepatan kerusakan jaringan yang
timbul. Hal ini juga berlaku untuk penyebab nyeri lainnya yang bukan termal seperti infeksi, iskemia
jaringan, memar jaringan, dll. Pada suhu 45 C, jaringan jaringan dalam tubuh akan mengalami
kerusakan yang didapati pada sebagian besar populasi.
Kimia, ada beberapa zat kimia yang dapat merangsang nyeri seperti bradikinin, serotonin, histamin,
ion kalium, asam, asetilkolin, dan enzim proteolitik. Dua zat lainnya yang diidentifikasi adalah
prostaglandin dan substansi P yang bekerja dengan meningkatkan sensitivitas dari free nerve
endings. Prostaglandin dan substansi P tidak langsung merangsang nyeri tersebut. Dari berbagai
zat yang telah dikemukakan, bradikinin telah dikenal sebagai penyebab utama yang menimbulkan
nyeri yang hebat dibandingkan dengan zat lain. Kadar ion kalium yang meningkat dan enzim
proteolitik lokal yang meningkat sebanding dengan intensitas nyeri yang irasakan karena kedua zat
ini dapat mengakibatkan membran plasma lebih permeabel terhadap ion. Iskemia jaringan juga
termasuk stimulus kimia karena pada keadaan iskemia terdapat penumpukan asam laktat,
bradikinin, dan enzim proteolitik.
Semua jenis reseptor nyeri pada manusia merupakan free nerve endings. Reseptor nyeri banyak
tersebar pada lapisan superfisial kulit dan juga pada jaringan internal tertentu, seperti periosteum,
dinding arteri, permukaan sendi, falx, dan tentorium. Kebanyakan jaringan internal lainnya hanya
diinervasi oleh free nerve endings yang letaknya berjauhan sehingga nyeri pada organ internal
umumnya timbul akibat penjumlahan perangsangan berbagai nerve endings dan dirasakan sebagai
slow crhonic tipe pain
Nyeri dapat dibagi atas dua yaitu fast pain dan slow pain. Fast pain, nyeri akut, merupakan nyeri
yang dirasakan dalam waktu 0,1 s setelah stimulus diberikan. Nyeri ini disebabkan oleh adanya
stimulus mekanik dan termal. Signal nyeri ini ditransmisikan dari saraf perifer menuju korda spinalis
melalui serat A capai 6 30 m/s. Neurotransmitter yang mungkin
digunakan adalah glutamat yang juga merupakan neurotransmitter eksitatorik yang banyak
digunakan pada CNS. Glutamat umumnya hanya memiliki durasi kerja selama beberapa
milliseconds. Slow pain, nyeri kronik, merupakan nyeri yang dirasakan dalam waktu lebih dari 1 detik
setelah stimulus diberikan. Nyeri ini dapat disebabkan oleh adanya stimulus mekanik, kimia dan
termal tetapi stimulus yang paling sering adalah stimulus kimia. Signal nyeri ini ditransmisikan dari
saraf perifer menuju korda spinalis melalui serat C dengan kecepatan mencapai 0,5 2 m/s.
Neurotramitter yang mungkin digunakan adalah substansi P.
Meskipun semua reseptor nyeri adalah free nerve endings, jalur yang ditempuh dapat dibagi
menjadi dua pathway yaitu fast-sharp pain pathway dan slow chronic pain pathway. Setelah
mencapai korda spinalis melalui dorsal spinalis, serat nyeri ini akan berakhir pada relay neuron pada
kornu dorsalis dan selanjutnya akan dibagi menjadi dua traktus yang selanjutnya akan menuju ke
otak. Traktus itu adalah neospinotalamikus untuk fast pain dan paleospinotalamikus untuk slow pain.
Traktus neospinotalamikus untukfast pain, pada traktus ini, serat A
akibat stimulus mekanik maupun termal akan berakhir pada lamina I (lamina marginalis) dari kornu
dorsalis dan mengeksitasi second order neurons dari traktus spinotalamikus. Neuron ini memiliki
serabut saraf panjang yang menyilang menuju otak melalui kolumn anterolateral. Serat dari
neospinotalamikus akan berakhir pada: (1) area retikular dari batang otak (sebagian kecil), (2)
nukleus talamus bagian posterior (sebagian kecil), (3) kompleks ventrobasal (sebagian besar).
Traktus lemniskus medial bagian kolumn dorsalis untuk sensasi taktil juga berakhir pada daerah
ventrobasal. Adanya sensori taktil dan nyeri yang diterima akan memungkinkan otak untuk
menyadari lokasi tepat dimana rangsangan tersebut diberikan.
Traktus paleospinotalamikus untuk slow pain, traktus ini selain mentransmisikan sinyal dai serat C,
traktus ini juga mentransmisikan sedikit sinyal dari serat A
hampir seluruhnya nerakhir pada lamina II dan III yang apabila keduanya digabungkan, sering
disebut dengan substansia gelatinosa. Kebanyakan sinyal kemudian akan melalui sebuah atau
beberapa neuron pendek yang menghubungkannya dengan area lamina V lalu kemudian
kebanyakan serabut saraf ini akan bergabung dengan serabut saraf dari fast- sharp pain pathway.
Setelah itu, neuron terakhir yang panjang akan menghubungkan signal ini ke otak pada jaras
anterolateral.
Ujung dari traktus paleospinotalamikus kebanyakan berakhir pada batang otak dan hanya
sepersepuluh ataupun seperempat sinyal yang akan langsung diteruskan ke talamus. Kebanyakan
sinyal akan berakhir pada salah satu tiga area yaitu : (1) nukleus retikularis dari medulla, pons, dan
mesensefalon, (2) area tektum dari mesensefalon, (3) regio abu abu dari peraquaductus yang
mengelilingi aquaductus Silvii. Ketiga bagian ini penting untuk rasa tidak nyaman dari tipe nyeri. Dari
area batang otak ini, multipel serat pendek neuron akan meneruskan sinyal ke arah atas melalui
intralaminar dan nukleus ventrolateral dari talamus dan ke area tertentu dari hipotalamus dan bagian
basal otak.
I.2 Memahami dan Menjelaskan Neuroanatomi Nyeri
JALAN RAYA SENSORIK
Berfungsi membawa informasi sensorik baik extroseptif dan propioseptif dari reseptor ke pusat
sensorik sadar diotak.
Informasi Ekstroseptif meliputi:
o Sakit
o Suhu (panas atau dingin)
o Sentuhan
o Tekanan
Informasi Propioseptif meliputi:
o Keadaan otot sadar/otot lurik
o Keadaan sendi
o Keadaan ligamentum
Untuk bisa mencapai pusat sadar pada GYRUS POSTCENTRALIS (area brodmann 3,2,1) maka
semua informasi sensorik harus melewati sedikitnya 3 NEURON.
1. neuron orde pertama : terletak pada ganglion radix posterior s.ganglion spinale (ganglion adalah
sel saraf yg terletak diluar susunan saraf pusat) dimana dendrite dari sel saraf tersebut datang dari
reseptor, sedangkan axon-nya pergi memasuki medulla spinalis untuk bersinapsis pada neuron orde
kedua.
2. neuron orde kedua : pada cornu posterius medulla spinalis, axon-nya dapat menyilang garis
tengah atau langsung dalam columna lateralis pada sisi yang sama, selanjutnya dari medulla
spinalis naik ke atas untuk bersinapsis pada neuron orde ketiga.
3. neuron orde ketiga : pada thalamus, dimana axon-nya akan menuju pusat sensorik sadar pada
gyrus postcentralis (area pusat sensorik-area brodmann 3,2,1)
JALAN RAYA SENSORIK YANG MENGANTARKAN SENSASI SAKIT DAN SUHU
Nama jalan : TRACTUS SPINOTHALAMICUS LATERALIS
Melewati medulla spinalis medulla oblongata pons mesencephalon diencephalon
korteks cerebri
1. Axon dari neuron orde pertama (ganglion spinale) memasuki ujung cornu posterius substansia
grissea medulla spinalis dan segera bercabang 2:
Serabut yg naik
Serabut yg turun
Setelah masuk ke medulla spinalis, maka akan membentuk Traktus Posterolateral (Lissauri). Lalu
berlanjut ke neuron orde kedua yang terletak pada kelompok sel substansia gelatinosa pada cornu
posterius.
Axon dari orde kedua menyilang garis tengah pada commisura anterior substansia grissea dan
substansia alba, kemudian naik ke atas pada sisi kotralateral sebagai traktus spinothalamicus
lateralis. Traktus tsb berjalan medialis dari traktus spinocerebrallis anterius. Sewaktu jalan ke atas,
serabut syaraf baru terus bertambah sesuai dengan banyaknya segmen medulla spinalis.
2. saraf berlanjut pada medulla oblongata, yaitu pada dataran lateral antara nucleus olivarius inferius
dengan Nucleus tractus spinalis N. Trigeminus. Dan nantinya bergabung dengan
Tractus spinothalamicus anterius
Tractus spinotectalis
Ketiga tractus ini bersama-sama membentuk LEMNISCUS SPINALIS.
3. berlanjut pada pons. Lemnicus spinalis naik ke atas dibagian belakang PONS.
4. berlanjut pada mesencephalon, Lemnicus spinalis jalan pada tegmentum , lateralis dari Lemnicus
medialis.
5. diencephalon, serabut syaraf traktus spino thalamicus lateralis akan bersinapsis dengan neuron
orde ketiga yaitu: Nucleus postlateral dari kelompok ventral thalamus (bagian dari nucleus lateralis
thalamus). DISINILAH TERJADI PENILAIAN KASAR SENSASI SAKIT DAN SUHU DAN REAKSI
EMOSI MULAI TIMBUL.
6. di Korteks cerebri, axon dari neuron orde ketiga memasuki Crus posterior capsula interna dan
Corona radiata untuk berakhir pad GYRUS POSTCENTRALIS (area brodmann 3,2,1) dari sini
informasi sakit dan suhu akan diteruskan ke area MOTORIK dan area asosiasi di cortex lobus
parietale.
JALAN RAYA YANG MENGATUR SENSASI SENTUHAN RINGAN DAN TEKANAN
1. Axon dari neuron orde pertama (ganglion spinale) memasuki ujung cornu posterius substansia
grissea medulla spinalis dan segera bercabang 2:
Serabut yg naik
Serabut yg turun
Setelah masuk ke medulla spinalis, maka akan membentuk Traktus Posterolateral (Lissauri). Lalu
berlanjut ke neuron orde kedua yang terletak pada kelompok sel substansia gelatinosa cornu
posterius substansia grissea.
Axon dari orde kedua menyilang garis tengah pada commisura anterior substansia grissea dan
substansia alba, kemudian naik ke atas pada sisi kotralateral sebagai traktus spinothalamicus
anterior. . Traktus tsb berjalan medialis dari traktus spinocerebrallis anterius. Sewaktu jalan ke atas,
serabut syaraf baru terus bertambah sesuai dengan banyaknya segmen medulla spinalis.
2. saraf berlanjut pada medulla oblongata, traktus spinothalamicus anterior nantinya bergabung
dengan Tractus spinothalamicus lateralis & Tractus spinotectalis. Ketiga tractus ini bersama-sama
membentuk LEMNISCUS SPINALIS.
3. Berlanjut ke PONS, MESENCEPHALON, DAN DIENCEPHALON. Lemniscus spinalis beriringan
dengan Lemnicus Medialis bersinapsis pada neoron orde ketiga yaitu: Nucleus postlateral dari
kelompok ventral thalamus (bagian dari nucleus lateralis thalamus). DISINILAH TERJADI
PENILAIAN KASAR SENTUHAN DAN TEKANAN MULAI DIINTERPRETASI.
4. Lanjut ke kortkes cerebri, axon dari neuron orde ketiga memasuki Crus posterior capsula interna
dan Corona radiata untuk berakhir pada GYRUS POSTCENTRALIS (area brodmann 3,2,1) dari sini
sensasi sentuhan dan tekanan disadari.
JALAN RAYA PEMBEDAAN SENSASI DISKRIMINASI SENTUHAN, GETARAN SENDI/OTOT
SADAR
NAMA JALAN : FASCICULUS GRACILIS DAN FASCICULUS CUNEATUS
1. Jalan dalam medula spinalis memasuki cornu posterius substansia alba sisi yang sama. Untuk
segera bercabang 2 :
CABANG TURUN
Jalan melewati beberapa segmen medulla spinalis sambil memberikan beberapa cabang collateral
dan bersinapsis dengan neuron pada cornu posterius dan neuron pada cornu anterius pada segmen
yang dilewati. Hubungan intersegmental ini berfungsi dalam refleks intersegmental.
CABANG NAIK
Serabut sarafnya lebih panjang dan sebagian akan bersinapsis dengan neuron orde kedua pada
cornu posterius dan anterius substansia grissea. Hubungan ini berperan dalam refleks
intersegmental. Sebagian besar serabut saraf yang naik berjalan dalam columna posterius
substansia alba sebagai:
o Fasciculus gracilis
o Fasciculus cutaneus
2. Jalan dalam medulla Oblongata
Axon dari neoro orde pertama jalan keatas secara ipsilateral (tidak menyilang garis tengah) dan
bersinapsis dgn neuron orde kedua : nuclei gracilis dan nuclei cuneatus.
Dari orde kedua akan membentuk serabut saraf disebut sebagai : fibra arcuata interna. Kemudian
menyilang garis tengah membentuk decussiatio sensorik. Selanjutnya pergi kedua tempat
a. Ke cerebellum melelui pedunculus cerebelli inferior dan membantuk traktus cuneocerebellaris.
Serabutnya sendiri mengelompok membentuk fibra arcuata eksterna. Fungsinya untuk mengirimkan
informasi sensasi otot skelet dan sensasi ke serebellum
b. Ke pons
3. Jalan ke pons, ke mesencephalon dan diencephalon.. setelah membentuk decussatio (pada
medulla oblongata saraf jalan ke atas sebagai lemniscus medialis untuk berakhir pada neuron orde
ketiga: nuclei poterolateral dari kelompok ventral thalamus (bagian dari kelompok nuclei lateralis
thalamus).
4. Ke korteks cerebri neuron orde ketiga melewati crus posterius capsula interna dan corona radiata
menuju gyrus postcentralis. DISINI BARU KITA MENYADARI PEMBEDAAN SENSASI
DISKRIMINASI SENTUHAN DAN GETARAN DARI SENDI ATAU OTOT SADAR.
JALAN RAYA SENSASI OTOT SADAR (OTOT LURIK) DAN SENDI KE CEREBELLUM
ADA 3 JALAN :
1. TRAKTUS SPINOCEREBELLARIS POSTERIUS
Axon orde pertama memasuki medula spinalis pada collumna posterius substansia grissea untuk
bersinapsis dengan neuron orde kedua: nucleus dorsalis (Clarki) yang terletak pada basis cornu
posterius substansia grissea.
Axon orde kedua memasuki poterolateral substansia alba pada sisi yang sama untuk naik keatas
sebagai : TRAKTUS SPINOCEREBELLARIS POSTERIUS.
Traktus spinocerebellaris posterius masuk ke peduncullus cerebellaris inferior untuk menuju corteks
cerebellum
FUNGSI : membawa informasi dari otot sadar dan sendi, terutama dari reseptor Muscle spindle dan
reseptor yang ada di tendo, ligamentum dan capsula articulare dari tubuh dan anggota badan.
2. TRAKTUS SPINOCEREBELLARIS ANTERIUS
Jalan dari medulla spinalis, axon Axon orde pertama memasuki medula spinalis pada collumna
posterius substansia grissea untuk bersinapsis dengan neuron orde kedua: nucleus dorsalis (Clarki)
berlanjut menjadi traktus spinocerebellaris posterius dan masuk ke peduncullus cerebellaris superior
dan berakhir pada korteks cerebelli
FUNGSI : MEMBAWA INFORMASI DARI RESEPTOR MUSCLE SPINDLE DAN TENDO DARI
ANGGOTA BADAN ATAS DAN BAWAH
3. TRAKTUS CUNEOCEREBELLARIS
Pusatnya di nucleus cuneatus. Perjalannya mulai dengan memasuki pedunculus cerebelli inferior
menuju corteks cerbelli. Disebut juga fibra arcuata externa posterius.
FUNGSI: MENERUSKAN INFORMASI DARI MUSCLE SPINDLE DAN TENDO KE CEREBELLUM.
JALAN RAYA NAIK LAINNYA
1. TRAKTUS SPINOTECTALIS
Neuron orde pertama memasuki cornu posterius dan bersinapsis dengan neuron orde ke2 yang
letaknya pada cornu posterius.
Dari neuron orde ke2 jalan menyilang garis tengah kemudian naik ke atas pada anterolateral
substansia alba sebagai traktus spinotektalis.
Beriringan dengan traktus spinothalamicus lateralis et anterius, kemudian bersama-sama
membentuk LEMNISCUS SPINALIS dan menuju ke otak
FUNGSI : MEMBAWA INFORMASI UNTUK REFLEKS SPINOVISUAL DAN AKAN MENIMBULKAN
GERAKAN BOLA MATA DAN KEPALA YANG MENUNUJUK KE ARAH DATANGNYA SUMBER
STIMULI.
2. TRAKTUS SPINORETICULARIS
Neuron orde pertama memasuki cornu posterius dan bersinapsis dengan neuron orde ke2 yang
letaknya pada cornu posterius.
Dari neuron orde ke2 jalan menyilang garis tengah kemudian naik ke atas pada anterolateral
substansia alba dan bercampur dengan traktus spinothalamicus.
Traktus spinoreticularis jalan pada sisi yang sama dan akan bersinapsis dengan neuron orde
ketiga: formatio retikulare dimedulla oblongata, pons, dan mesencephalon.
FUNGSI MEMBAWA INFORMASI TENTANG TINGKAT-TINGKAT KESADARAN
3. TRAKTUS SPINOOLIVARIUS
Neuron orde pertama memasuki cornu posterius dan bersinapsis dengan neuron orde ke2 yang
letaknya pada cornu posterius.
Dari neuron orde ke2 jalan menyilang garis tengah dan naik ke atas antara cornu anterius dengan
cornu laterale substansia alba sebagai TRAKTUS SPINOOLIVARIUS.
Traktus spinoolivarius bersinapsis dengan neuron ketiga : nuclei olivarius inferius. Neuron orde
ketiga menyilang garis tengah dan memasuki cerebellum melalui peduncullus cerebelli inferius untuk
pergi ke korteks cerebellum.
FUNGSI : MEMBAWA INFORMASI EXTEROSEPTIF DAN PROPRIOSEPTIF KE CEREBELLUM.
JALAN RAYA VISCERAL
Axon orde pertama dari thorax dan abdomen memasuki cornu posterius untuk bersinapsis dengan
neuron orde kedua dalam substansia grissea. Kemudian axon pada orde kedua bergabung dengan
traktus spinothalamicus untuk berakhir pada neuron orde ketiga : nuclei posterolateral dari kelompok
ventral thalami
Axon neuron ketiga diduga pergi ke gyrus postcentralis (area brodmann 3,2,1)
FUNGSI : INFORMASI PRESSORECEPTOR DARI TUNICA MUCOSA RECTUM DAN VESICA
URINARIA UNTUK KEPERLUAN DAFAECATIO DAN MIXTIO.
II. Memahami dan Menjelaskan Nyeri Kepala
Definisi dan Etiologi Nyeri Kepala
Nyeri kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang berasal dari
struktur sensitif terhadap rasa sakit.
Sakit kepala bisa disebabkan oleh kelainan: (1) vaskular, (2) jaringan saraf, (3) gigi geligi, (4)
orbita, (5) hidung dan (6) sinus paranasal, (7) jaringan lunak di kepala, kulit, jaringan subkutan, otot,
dan periosteum kepala. Selain kelainan yang telah disebutkan diatas, sakit kepala dapat disebabkan
oleh stress dan perubaha lokas (cuaca, tekanan dll).
Faktor Resiko Nyeri Kepala
Faktor resiko terjadinya sakit kepala adalah gaya hidup, kondisi penyakit, jenis kelamin, umur,
pemberian histamin atau nitrogliserin sublingual dan fakto genetik.
Klasifikasi Nyeri Kepala
Sakit kepala dapat diklasifikasikan menjadi sakit kepala primer, sakit kepala sekunder, dan neuralgia
kranial, nyeri fasial serta sakit kepala lainnya. Sakit kepala primer dapat dibagi menjadi migraine,
tension type headache, cluster headache dengan sefalgia trigeminal / autonomik, dan sakit kepala
primer lainnya. Sakit kepala sekunder dapat dibagi menjadi sakit kepala yang disebabkan oleh
karena trauma pada kepala dan leher, sakit kepala akibat kelainan vaskular kranial dan servikal,
sakit kepala yang bukan disebabkan kelainan vaskular intrakranial, sakit kepala akibat adanya zat
atau withdrawal, sakit kepala akibat infeksi, sakit kepala akibat gangguan homeostasis, sakit kepala
atau nyeri pada wajah akibat kelainan kranium, leher, telinga, hidung, dinud, gigi, mulut atau struktur
lain di kepala dan wajah, sakit kepala akibat kelainan psikiatri.
Patofisiologi Nyeri Kepala
Beberapa mekanisme umum yang tampaknya bertanggung jawab memicu nyeri kepala adalah
sebagai berikut:
(1) peregangan atau pergeseran pembuluh darah; intrakranium atau ekstrakranium,
(2) traksi pembuluh darah,
(3) kontraksi otot kepala dan leher ( kerja berlebihan otot),
(4) peregangan periosteum (nyeri lokal),
(5) degenerasi spina servikalis atas disertai kompresi pada akar nervus servikalis (misalnya, arteritis
vertebra servikalis), defisiensi enkefalin (peptida otak mirip- opiat, bahan aktif pada endorfin).
Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosa nyeri kepala seperti :
1. Foto Rongten kepala
2. EEG
3. CT-SCAN
4. Arteriografi, Brain Scan Nuklir
5. Pemeriksaan laboratorium(Tidak rutin atas indikasi)
6. Pemeriksaaan psikologi (jarang dilakukan).
Terapi Nyeri Kepala
Nyeri kepala dapat diobati dengan preparat asetilsalisilat dan jika nyeri kepala sangat berat dapat
diberikan preparat ergot (ergotamin atau dihidroergotamin). Bila perlu dapat diberikan intravena
dengan dosis 1 mg dihidroergotaminmetan sulfat atau ergotamin 0,5 mg. Preparat Cafergot (
mengandung kafein 100 mg dan 1 mg ergotamin) diberikan 2 tablet pada saat timbul serangan dan
diulangi jam berikutnya.
Pencegahan Sakit Kepala
Pencegahan sakit kepala adalah dengan mengubah pola hidup yaitu mengatur pola tidur yang sam
setiap hari, berolahraga secara rutin, makan makanan sehat dan teratur, kurangi stress,
menghindari pemicu sakit kepala yang telah diketahui.
III. Memahami dan Menjelaskan Gangguan Somatoform

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai
contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat.
Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang
bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan
sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa
faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala.
Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan
buatan.
Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
1) Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
2) Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
3) Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa
ia menderita penyakit tertentu.
4) Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan
bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
5) Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor
psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
6) Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu
diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
faktor-faktor penyebab gangguan somatoform
Faktor-faktor Biologis
Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis (biasanya pada
gangguan somatisasi).
Faktor Lingkungan Sosial
Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih bergantung, seperti peran
sakit yang dapat diekspresikan dalam bentuk gangguan somatoform
Faktor Perilaku
Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah:
Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi yang tidak
nyaman atau menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder).
Adanya perhatian untuk menampilkan peran sakit
Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan dismorfik tubuh dapat
secara sebagian membebaskan kecemasan yang diasosiasikan dengan keterpakuan pada
kekhawatiran akan kesehatan atau kerusakan fisik yang dipersepsikan.
Faktor Emosi dan Kognitif
Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi dan kognitif, penyebab ganda yang terlibat
adalah sebagai berikut:
Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau simtom fisik sebagai tanda dari adanya penyakit
serius (hipokondriasis).
Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impuls-impuls yang tidak dapat
diterima dikonversikan ke dalam simtom fisik (gangguan konversi).
Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan suatu strategis elf-
handicaping (hipokondriasis)
Kriteria diagnosis gangguan nyeri somatoform
Gangguan Somatisasi
A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode
beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang
waktu selama perjalanan gangguan:
a. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau
fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum,
selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
b. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri (misalnya
mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa
jenis makanan)
c. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri
(misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan
menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
d. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan
pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi
atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di
tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda,
kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain
pingsan).
C. Salah satu (1)atau (2):
a. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya
oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek
cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
b. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang
ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau
temuan laboratorium.
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-
pura).
Gangguan Konversi
1. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang
mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
2. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau
eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
3. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau berpura-pura).
4. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh
kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau pengalaman
yang diterima secara kultural.
5. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis.
6. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata
selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh
gangguan mental lain. Sebutkan tipe gejala atau defisit:
Dengan gejata atau defisit motorik
Dengan gejala atau defisit sensorik
Dengan kejang atau konvulsi
Dengan gambaran campuran
Hipokondriasis
1. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius
didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala-gejala tubuh.
2. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman.
3. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe
somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan
dismorfik tubuh).
4. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
5. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
6. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan
obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau gangguan
somatoform lain.
Sebutkan jika: Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode berakhir,
orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius adalah berlebihan
atau tidak beralasan.
Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh,
kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
B. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya,
ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).
Gangguan Nyeri
A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah
untuk memerlukan perhatian klinis.
B. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau
bertahannnya nyeri.
D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau berpura-pura).
E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan
psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut: Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis
dianggap memiliki peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi medis umum
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan dimasukkan untuk
mempermudah diagnosis banding.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih).
B. Salah satu (1)atau (2)
1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis
umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat,
atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial atau
pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
3. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
4. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
5. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan
somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau
gangguan psikotik).
6. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau
berpura-pura)
Penatalaksanaan gangguan nyeri somatoform
1. Gangguan somatisasi ditatalaksana dengan ikatan terapeutik, perjanjian teratur, dan intervensi
krisis.
2. Penatalaksanaan untuk gangguan konversi adalah sugesti dan persuasi dengan berbagai teknik.
Strategi penatalaksanaan pada hipokondriasis meliputi pencatatan gejala, tinjauan psikososial, dan
psikoterapi.
3. Gangguan dismorfik tubuh diterapi dengan ikatan terapeutik, penatalaksanaan stres, psikoterapi,
dan pemberian antidepresan.
4. Terapi pada gangguan nyeri mencakup ikatan terapeutik, menentukan kembali tujuan terapi, dan
pemberian antidepresan.
Antidepresan
Golongan Mekanisme Kerja Contoh
Anti depresan trisiklik Menghambat reuptake
5-HT/NE secara tidak selektif Amitriptilin, imipramin,
desipramin, nortriptilin, klomipramin
SSRIs (selective serotonin
reuptake inhibitors Menghambat secara
selektif reuptake 5-HT Fluoksetin, paroksetin,
sertralin, fluvoksamin
Mixed DA/NE reuptake
inhibitor Menghambat reuptake
DA/NE secara tidak selektif Trazodon, nefazodon,
mirtazapin, bupropion,
maprotilin, venlafaksin
MAO inhibitors Menghambat aktivitas
enzim MAO Phenelzine, tranylcypromine
IV. Memahami dan Menjelaskan nilai perkawinan dalam Islam
Hikmah Dan Tujuan Disyariatkannya Menikah
Semua ibadah dalam Islam mengandung hikmah yang baik bagi manusia, baik yang sudah dapat
diketahui atau belum bisa diketahui. Allah lah yang menciptakan manusia, Dia lah yang mengetahui
apa yang baik dan buruk, yang sesuai atau tidak bagi manusia, maka Allah taala menurunkan
syariat ini adalah untuk kebaikan manusia. Sikap seorang mumin ketika sudah jelas datang aturan
dari Allah dan Rosul Nya adalah saminaa wa athonaa kami dengar dan kami taat, sebagaimana
Allah taala jelaskan dalam Al Quran suroh An Nuur ayat 51 :
Artinya :
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya
agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami
patuh. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
Begitupun dengan syariat pernikahan, di dalamnya mengandung hikmah dan tujuan yang baik bagi
manusia, antara lain adalah :
1. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.
Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, tidak bertentangan dengan perkara-
perkara yang asasi bagi manusia, seperti marah, malu, cinta, ini semua adalah contoh sifat fitrah
manusia, dalam Islam tidak boleh dimatikan, tetapi di atur agar menjadi ibadah kepada Allah taala,
tidak liar seperti binatang. Menikah juga merupakan fitrah manusia ( ghorizah insaniyah } yang tidak
boleh dibunuh sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada diri dan masyarakat, maka ghorizah
insaniyah/ insting manusiawi ini harus diatur dengan nikah, kalau tidak maka dia akan mencari jalan
syaithon yang menjerembabkan manusia ke lembah hitam. Oleh karena itu dalam Islam tidak ada
doktrin kerahiban, tidak menikah dan mengklaim mensucikan diri. Juga tidak dibiarkan saja
menghambur nafsu
syahwatnya tanpa aturan, sehingga menimbulkan berbagai penyakit moral dalam masyarakat,
seperti aids, spilis, free sex, perzinahan, kumpul kebo dan yang lainnya yang ini semua
menyebabkan kerusakan di dunia dan kehinaan di akhirat.
2. Untuk membentengi akhlak yang luhur
Menikah merupakan jalan yang paling bermamfaat dan paling afdhol dalam upaya merealisasikan
dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang dapat menundukan pandangannya dan
menjaga kemaluannya, sehingga tidak terjatuh dalam berbagai bentuk kemaksiyatan dan
perzinahan, dengan menikah seseorang dapat menjaga kehormatan dan akhlaknya, tidak mengikuti
nafsu syahwatnya. Maka Islam menghasung para pemuda untuk segera menikah, untuk menjaga
mereka dari berbagai macam kerusakan moral. Bersabda Rosulllah Shalallahu Alaihi Wassalam :
, :
. . ,
Artinya :
Dari Ibnu Masud RA telah bersabda Rosulullah SAW : Wahai para pemuda barang siapa diantara
kalian yang sudah mampu maka segeralah menikah, karean hal ini dapat menundukan pandangan
dan menjaga kemaluan, barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena hal
ini dapat menjadi tameng baginya. (Muttafaqun alaihi)
3. Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami
Ini merupakan salah satu tujuan pernikahan dalam Islam, yang semestinya setiap mumin
memperhatikannya. Maka Islam sedemikian rupa mengatur urusan pernikahan ini agar pasangan
suami istri dapat bekerja sama dalam merealisasikan nilai-nilai Islam dalam rumah tangganya.
4. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah taala
Pernikahan merupakan salah satu lahan yang subur bagi peribadahan dan amal sholeh disamping
amal-amal ibadah yang lain, sampai seorang suami yang melampiaskan syahwatnya kepada
istrinya disebut sebagai shodaqoh. Bersabda Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam :
.. , : , :
. ,
Artinya :
..Sesoorang diantara kalian yang bergaul dengan istrinya adalah sedekah! Mendengar sabda
Rosulullah SAW tersebut para sahabat bertanya : Wahai Rosulullah, apakah seseorang dari kita
yang melampiaskan syahwatnya terhadap istrinya akan mendapatkan pahala? Rosulullah SAW
menjawab : Bagaimana menurut kalian jika sesorang bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah
dia berdosa?, Begitu pula jika dia bersetubuh dengan istrinya maka dia akan mendapatkan pahala.
(HR. Bukhori Muslim)
5. Untuk memperoleh banyak keturunan yang sholeh dan sholehah
Firman Allah taala dalam suroh An Nahl ayat 72 :
Artinya :
Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-
isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka
mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?
Melalui menikah dengan izin Allah taala- seseorang akan mendapatkan keturunan yang sholeh
sehingga menjadi asset yang sangat berharga, karena anak yang sholeh senantiasa akan
mendokan kedua orang tuanya ketika masih hidup atau sudah meninggal dunia, hal ini menjadi
amal jariyah bagi kedua orang tuanya.
Dengan banyak anak juga akan memperkuat barisan kaum muslimin. Ketika mereka di didik dengan
nilai-nilai Islam yang benar dan jihad fii Sabilillah, maka akan tumbuh generasi yang komitmen
dengan agamanya dan siap berkorban jiwa raga untuk tegaknya kalimat Allah taala. Inilah antara
lain hikmah Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menganjurkan umatnya agar menikahi wanita
yang subur dan penyayang.
,
Artinya :
Nikahilah wanita yang subur dan penyayang! Karena aku akan berbangga dengan banyaknya
umatku di hadapan para nabi pada hari kiamat. HR Ahmad dan Ibnu Hibban.
6. Untuk mendatangkan ketenangan dalam hidupnya.
Ini merupakan salah satu tujuan dalam pernikahan, yakni membentuk keluarga yang sakinah,
mawaddah wa rohmah.
Firman Allah taala dalam Al Quran suroh Ar Rum ayat 21 :
Artinya :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu
rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.
Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan beberapa indikasi keluarga sakinah,
mawaddah wa rohmah dalam sabdanya :
, , :
. , , ,
. .
Dari Anas RA, telah bersabda Rosulullah SAW : Apabila Allah taala ingin menghendaki kebaikan
pada sebuah rumah tangga, maka Allah taala akan mengkaruniakan keluarga tersebut kepahaman
terhadap agamanya, orang yang kecil dikeluarga akan menghormati yang besar, Allah taala akan
mengkaruniakan kepada mereka kemudahan dalam penghidupan mereka dan kecukupan dalam
nafkahnya, dan Allah taala akan menampakkan aib dan keburukan keluarga tersebut kemudian
mereka semua bertaubat dari keburukan tersebut. Jika Allah taala tidak menginginkan kebaikan
pada sebuah keluarga, maka Allah taala akan biarkan begitu saja keluarga tersebut (tanpa
bimbingan Nya). (HR Ad Daruquthni)
V. Memahami dan menjelaskan marital counseling dan cara membina keluarga sakinah. Mawadah,
warahmah
Ada lima faktor untuk membentuk keluarga sakinah di antaranya sebagai berikut.:
1. Dalam keluarga ada mawaddah dan rahmah.
Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang mengebu-gebu. Sedangkan rahmah adalah jenis cinta
yang lembut, siap berkorban dan melindungi yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin
kelangsungan rumah tangga. Sebaliknya, rahmah, tak cukup memeberikan garansi.
2. Hubungan antara suami istri harus atas berdasarkan saling membutuhkan.
Seperti pakaian dan yang memakainya hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna. (QS al
Baqarah:187) Kalau kita kaji lebih dalam, fungsi pakaian setidaknya ada tiga; menutup aurat,
melindungi diri dari panas dan dingin, serta sebagai perhiasan. Suami terhadap istri, juga harus
memiliki fungsi yang sama.
Jika istri mempunyai sesuatu kekurangan, suami tidak menceritakan pada orang lain. Begitu juga
sebaliknya. Jika istri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter. Begitu juga
sebaliknya. Istri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan
istri . Jangan terbalik, di luaran tampil menarik perhatian orang banyak. Tapi ketika di rumah, tampil
tak sedap dipandang mata.
3. Suami istri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (maruf),
tidak asal benar dan hak.
Waa syiruhunna bil maruf. (QS. An Nisa : 19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan
sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai maruf . Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami
istri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya.
4. Menurut hadits Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat
a) Memiliki kecendrungan kepada agama.
b) Yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.
c) Sederhana dalam belanja.
d) Santun dalam bergaul dan selalu melakukan introspeksi
5. Rasulullah juga bersabda tentang empat faktor yang menjadi sumber kebahagiaan keluarga.
a) Suami dan istri yang setia.
b) Shalih dan shalihah.
c) Anak-anak yang berbakti pada orangtuanya.
d) Lingkungan sosial yang sehat dan rezeki yang dekat.

Anda mungkin juga menyukai