Anda di halaman 1dari 6

35

TITIK PULANG BALIK (BREAK EVEN POINT)


ALAT PERAJANG KRUPUK RAMBAK MANUAL
SISTEM PENGUMPAN OTOMATIS

Heru Saptono

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang
Jl. Prof. H. Sudarto S.H., Tembalang, Kotak Pos 199/SMS, Semarang, 50275
Telp. 024-7473417, 7466420 (hunting), Fax. 024-7472396
Abstrak
Alat perajang krupuk rambak manual pengumpan otomatis hasil rancangbangun ini dapat dijadikan
alternatip investasi bagi industri rumah tangga krupuk rambak. Direkomendasikan karena selain
berkapasitas rajangan mencapai 60 buah irisan setiap menit dengan ketebalan rajangan seragam 1,5
milimeter sampai dengan 2,5 milimeter, tetapi juga dikarenakan titik pulang balik (BEP) hanya dalam waktu
maksimum 4,2 bulan, dari investasi senilai Rp. 1.525.000,- pada pendapatan sewa alat senilai Rp.
1.628.000,-. Perhitungan BEP didapat dari biaya tetap dibagi dengan total pendapatan dikurang total biaya
tidak tetap (biaya variasi).
Kata kunci : titik pulang balik, alat perajang manual, pengumpan otomatis

1. Pendahuluan
Alat perajang adonan krupuk rambak manual
sistem pengumpan (feeding) otomatis hasil
rancangbangun ini berkapasitas 60 buah irisan
setiap menit dengan tebal rajangan 1,5 2,5
milimeter (Alimah, 2005). Agar industri
rumah tangga krupuk rambak termotivasi
untuk menggunakan alat ini perlu diberi
informasi titik pulang balik alat (BEP = break
even point).
Dengan mengetahui titik pulang balik alat
perajang krupuk rambak manual sistem
pengumpan otomatis diharapkan industri
rumah tangga tertarik untuk investasi pada alat
ini. Informasi BEP sangat diperlukan industri
rumah tangga agar dapat menjadi
pertimbangan dalam alternatip pemilihan
investasi pada alat atau mesin perajang yang
harus digunakan.
Mesin perajang dengan mekanisme perajangan
menggunakan sebuah pisau pada piringan
putar digerakkan motor listrik Hp melalui
transmisi sabuk puli dan feeding masih
menggunakan dorongan tangan baru mencapai
kapasitas 100 buah setiap menit dengan tebal
rajangan 60 % yang seragam pada tebal 2 3
milimeter (Arman, 2002).
Mesin perajang manual dengan mekanisme
gerakan pisau menggunakan tenaga tangan
melalui transmisi lengan engkol dan masukan
dari gaya dorong tangan, kapasitasnya hanya
60 buah irisan setiap menit dengan tebal
rajangan bervariasi antara 1,5 3,5 milimeter
(Rofarsyam, 2003).
Mesin perjang krupuk rambak sistem pisau
berputar dengan kapasitas produksi rajangan
600 buah setiap menit dengan tebal rajangan
yang seragam 2,5 milimeter, sudah sesuai
dengan kebutuhan industri rumah tangga,
tetapi belum dapat diadopsi untuk dibuat
karena keraguan dalam investasi. (Lastomo,
2004).
Alat perajang adonan krupuk rambak manual
sistem pengumpan otomatis hasil rancang
bangun ini dapat dijadikan acuan dalam cara
penentuan titik pulang balik mesin, sehingga
industri rumah tangga tidak ada keraguan
dalam investasi karena mengetahui kapan
biaya investasi alat kembali.

2. Konsep Perhitungan Titik Pulang Balik
(BEP)
Menentukan titik pulang balik investasi
pembuatan alat perajang adonan krupuk

36
rambak manual sistem pengunpan otomatis
adalah total biaya tetap dibagi dengan total
pendapatan dikurang total biaya tidak tetap
ditunjukan persamaan 1 (Herjanto, 2007) .
) 1 ( ...
variabel Biaya Pendapatan
tetap Buaya
BEP

=

Biaya tetap meliputi : biaya penyediaan bahan
baku, biaya sewa mesin, biaya pembelian
komponen standar, biaya perakitan dan biaya
finising.

3. Metode Perhitungan Titik Pulang Balik
Untuk perhitungan titik pulang balik
ditunjukkan pada diagram alir Gambar 1.





























Langkah pertama mengorganisir kelompok
bahan konstruksi alat sesuai hasil rancangan
yang telah dilakukan. Kemudian mentotal
biaya pengadaan berdasarkan harga sekarang.
Langkah kedua menginventaris komponen
konstruksi yang harus dimesin dengan
mengkonversikan biaya pemesinan sesuai
waktu pengerjaan perkomponen dan jenis
pemesinannya kedalam rupiah. Langkah ketiga
mengelompokkan komponen standar untuk
dapat dikonversi ke dalam rupiah. Langkah ke
empat biaya perakitan berdasarkan jumlah
waktu yang diperlukan dikalikan dengan harga
upah.































Start
TBV TP
TBT
BEP

=

Total Biaya
Pendapatan Sewa Alat
(TP)

Total
Biaya
Variabel
(TBV)
Biaya Depresi Alat
Perajang Manual
Biaya Perawatan
Alat Perajang
Manual

Total
Biaya
Tetap
(TBT)
Biaya Pengadaan Bahan
Biaya Pemesinan
Biaya Komponen
Standar
Biaya Asembling
Biaya finising
Prediksi Sewa
Pemakian Alat Rajang
Manual Sistem
Pengumpan Otomatis
Gambar 1. Diagram alir perhitungan BEP
Upah tenaga sebelum
menggunakan alat

Stop
Biaya Operator Alat
Perajang Manual
Biaya Produksi Alat
Perajang Manual

37
Langkah kelima biaya finising seperti
pengecatan yang terdiri dari jumlah cat dan
harga ditambah biaya operator. Selanjutnya
perhitungan titik pulang balik menggunakan
rumus 1, setelah memasukkan prediksi harga
sewa pemakian alat perajang adonan krupuk
rambak manual sistem pengumpan otomatis.
4. Hasil dan Pembahasan
Gambar 2 adalah foto alat perajang krupuk
rambak manual pengumpan otomatis hasil
rancangbangun (Alimah, 2005). Setelah
mengelompokkan komponen alat perajang
sesuai dengan fungsinya, kemudian
menentukan perhitungan biaya produksi.

Gambar 2. Alat Perajang Krupuk Rambak
Manual Pengumpan Otomatis
A. Biaya Tetap
Biaya tetap terdiri dari 5 variabel perhitungan,
seperti yang akan diuraikan berikut ini.
a). Biaya pengadaan bahan
Biaya pengadaan bahan berdasarkan masing-
masing berat material komponen dalam
kilogram dikalikan harga perkilogram seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 1. Penentuan
harga masing-masing komponen (H)
menggunakan rumus 2.
H = V x x Harga Rp/kg
(Herman,1986) (2)
Harga Rp/kg maksudnya adalah harga bahan
setiap kilogram, H merupakan harga masing-
masing komponen dalam rupiah (Rp),
adalah massa jenis bahan komponen kg/mm
3

dan V merupakan volume masing-masing
komponen dalam mm
3
. Sehingga Biaya
pengadaan bahan jumlah total sebesar H
Tabel 1. Pengadaan Bahan Baku
No Nama Komponen Bahan Berat
(kg)
Harga
Rp/kg
Jlh H (Rp)
1 Rangka Profil L 29 5.250,- 1 152.250,-
2 Poros 1 S 30 C 3 8.000,- 2 24.000,-
3 Poros 2 S 30 C 2 8.000,- 3 16.000,-
4 Poros 3 S 30 C 2 8.000,- 4 16.000,-
5 Poros 4 S 30 C 2 8.000,- 5 16.000,-
6 Poros konveyor S 30 C 2,5 8.000,- 3 60.000,-
7 Roda gigi 1 S 35 C 7 7.000,- 1 49.000,-
8 Roda gigi 2 S 35 C 0,5 7.000,- 1 3.500,-
9 Roda gigi 3 S 35 C 6 7.000,- 1 42.000,-
10 Roda gigi 4 S 35 C 1 7.000,- 1 7.000,-
11 Roda paying S 40 C 1,25 7.000,- 2 17.500,-
12 Pisau potong Stainless
steel
0,25 40.000,- 3 10.000,-
13 Bingkai pisau PlatST 37 1,5 7.000,- 1 10.500,-
14 Roda gigi ratchet S 35 C 1 7.000,- 1 7.000,-
15 Rumah ratchet S 30 C 1,5 7.000,- 1 10.500,-
16 Pin pemutar ratchet S 30 C 0,5 7.000,- 1 3.500,-
17 Batang engkol S 30 C 1 7.000,- 1 7.000,-
18 Ratchet engkol S 30 C 1 7.000,- 2 14.000,-
19 Dudukan penahan
benda kerja
S 30 C 1,5 7.000,- 2 21.000,-
Jumlah Total (Biaya pengadaan bahan) 484.250,-
b). Biaya pemesinan
Perhitungan biaya pemesinan berdasarkan
harga sewa mesin. Harga sewa mesin
tergantung dari jenis mesin dan waktu
pemesinan.
Total biaya pemesinan adalah waktu
pemesinan dikalikan dengan sewa mesin tiap
jam. Tabel 2 menunjukkan total biaya
pemesinan dari berbagai pengerjaan komponen
alat perajang krupuk rambak manual sistem
pengumpan otomatis, dari perhitungan waktu
pemesinan pengerjaan komponen dengan
mesin bubut, frais, bor, gerinda, gergaji potong
dan las listrik semua menggunakan rumus 3.
Wm =
S
L
(Herman,1986) (3)
L adalah panjang langkah pemakanan, dan S
merupakan kecepatan potong. sedangkan biaya
operator perkalian Wm dengan harga upah tiap
jam.
Perkalian waktu pemesinan masing-masing
komponen alat perajang dengan harga sewa
mesin tiap jam ditabelkan pada Tabel 2.

38
Tabel 2. Biaya pemesinan masing-masing komponen
No Nama
Komponen
Jlh Bubut
Rp. 7.500,-
Frais Rp.6.500,- Bor
Rp.3.500,-
Las listrik
Rp. 6.500,-
Gergaji
potong Rp.
5000,-
Gerinda Rp.
5000,-
Total
Biaya
Mesin
Operator
Rp.5000,-
Tiap jam Tiap jam Tiap jam Tiap jam Tiap jam Tiap jam Tiap jam
Wm Rp Wm Rp Wm Rp Wm Rp Wm Rp Wm Rp Rp Wm Rp
Rangka 1 - - - - 0,34 1.190,- 1,18 7.670,- 0,35 1.750,- - - 10.610,- 12,77 63.850,-
2 Poros 1 2 2,78 20.580,- 0.31 2.015,- 0,131 460,- - - - - - - 23.055,- 0,7 3.500,-
3 Poros 2 3 2,97 22.275,- 0,67 4.355,- - - - - - - - - 26.630,- 0,83 4.166,-
4 Poros 3 4 2,97 22.275,- 0,67 4.355,- - - - - - - - - 26.630,- 0,83 4.166,-
5 Poros 4 5 2,99 22.425,- 0,67 4.355,- - - - - - - - - 26.780,- 0,33 1.650,-
6 Poros
konveyor
3 3,19 23.295,- 0,2 1.300,- - - - - - - - - 24.595,- 0,51 2.250,-
7 Roda gigi 1 1 2,51 18.825,- 3,25 21.125,- 0,59 2.065,- - - - - - - 42.015,- 0,47 2.350,-
8 Roda gigi 2 1 1,26 9.450,- 1,37 8.905,- - - - - - - - - 18.355,- 0,21 1.050,-
9 Roda gigi 3 1 2,50 18.750,- 3,13 20.345,- 0,59 2.065,- - - - - - - 41.160,- 0,47 2.350,-
10 Roda gigi 4 1 2,31 17.325,- 2,55 16.575,- - - - - - - - - 33.900,- 0,21 1.050,-
11 Roda paying 2 1,44 10.800,- 3,57 23.205,- - - - - - - - - 34.005,- 0,43 2.150,-
12 Pisau potong 3 - - - - 0,26 910,- - - - - 1,27 6.350,- 7.260,- 0,55 2.750,-
13 Bingkai pisau 1 - - - - 0,26 910,- 0,25 1.625,- 0,2 1.000,- - - 3.535,- 0,20 1.000,-
14 Roda gigi
ratchet
1 0,51 3.825,- 2,18 1.625,- 0,41 1.435,- - - - - - - 6.885,- 0,21 1.050,-
15 Rumah
ratchet
1 - - 2,55 3.575,- 0,49 1.715,- - - - - - - 5.290,- 0,22 1.000,-
16 Pin pemutar
ratchet
1 1,25 9.375,- - - 0,42 1.470,- - - - - - - 10.845,- 0,21 1.050,-
17 Batang
engkol
1 - - 0,27 1.755,- - - 0,25 1.625,- - - - - 3.380,- 0,27 1.350,-
18 Ratchet
engkol
2 1,40 10.500,- 1,18 1.170,- 0,48 1.680,- - - - - - - 13.350,- 0,20 1.000,-
19 Dudukan
benda kerja
2 - - - - - - 0,25 1.625,- 0,15 750,- - - 1.625,- 0,26 1.300,-
Jumlah Total 209.700,- 114.660,- - 12.710,- 12.545,- 3.500,- 6.350,- 359.465,- 91.150,-
Keterangan : untuk biaya operator = jumlah biaya operator x 125 % ( Bayu, 2000)
= Rp. 91.150,- x 125 % = Rp. 113.937,5
c). Biaya pengadaan komponen standar
Untuk kompenan-komponen standar tidak
perlu dibuat karena tersedia dipasaran. Tabel 3
menunjukkan biaya pengadaan komponen
standar.
Tabel 3. Biaya Pengadaan Komponen Standar
No Nama
komponen
Jlh Harga
Rp
Total biaya
Rp
1 Ratchet pisau 1 30.000,- 30.000,-
2 Kunci sok 17 1 2.500,- 2.500,-
3 Mur M16 4 600,- 2.400,-
4 Mur M8 4 200,- 800,-
5 Mur M8 4 500,- 2.000,-
6 Pillow block 14 22.500,- 315.000,-
7 Mur bautM12 28 1.500,- 42.000,-
8 Cyrclip 2 750,- 1.500,-
9 Ring 32 200,- 6.400,-
Jumlah Total 399.800,-

d). Biaya perakitan
Perakitan memerlukan mesin las listrik untuk
menyambung komponen tertentu, sehingga
biaya perakitan menggunakan rumus (3)
dengan rincian, harga sewa mesin listrik
ditambah sewa peralatan pelengkap ditambah
harga elektroda. Biaya perakitan alat perajang
krupuk rambak manual pengumpan otomatis
ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Biaya Perakitan
No Nama kegiatan Harga (Rp) Total biaya (Rp)
1 Elektroda 20bh x 1.000,- 20.000,-
2 Sewa mesin las 1,2jm x 5.250,- 6.300,-
3 Sewa peralatan 5.000,- 5.000,-
4 Upah operator 1,2 jm x 3.000,- 4.000,-
Jumlah Total 35.300,-

39
e). Biaya finishing
Perhitungan biaya finishing dalam rancang
bangun adalah biaya pengecatan ditunjukkan
pada Tabel 5.
Tabel 5. Biaya Perakitan
No Nama kegiatan Harga Rp Total Rp
1 Sewa mesin cat 1jm x 7.000,- 7.000,-
2 Pembelian cat 1bh x 25.000,- 25.000,-
3 Minyak cat 1 bh x 5.000,- 5.000,-
4 Upah operator 1 jm x 7.000,- 7.000,-
Jumlah Total 44.000,-

Biaya produksi alat perajang krupuk rambak
manual hasil rancangbangun pengumpan
otomatis ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Biaya Perakitan
No Nama kegiatan Total Rp
1 Pengadaan bahan : 449.331,-
2 Pemesinan : 113.937,-
3 Komponen standar : 484.250,-
4 Perakitan dan finishing : 399.800,-
5 Upah operator : 79.300,-
Jumlah Total 1.526.618,-
B. Perhitungan Biaya Variabel
Perhitungan biaya variabel adalah biaya yang
sifatnya tidak tetap yang terdiri dari biaya
penyusutan alat (depresi) dan biaya perawatan
alat (maintenance). Perhitungan keduanya
dalam rupiah setiap jam. Pengambilan
prosentasi depresi alat sebesar 20 % setiap
tahun dari nilai biaya produksi dan
maintenance 10 % setiap tahun dari biaya
produksi. (Herjanto, 2007). Sehingga masing-
masing biaya depresi dan maintenance seperti
pada Tabel 7.
Tabel 7. Biaya Depresi dan Maintenance
No Satuan nama kegiatan Rp/jam
1 Depresi alat
=
192 x 12
1.526.618 Rp. x 20%



132,52,-
2 Perawatan alat (maintenance)
=
192 x 12
1.526.618 Rp. x 10%




66,26,-
Jumlah Total 198,78,-
Keterangan :
8 jam kerja setiap hari. Dan 192 jam setiap bulan,
sehingga jam kerja setahun 192 x 12

C. Pendapatan Sewa Alat
Prediksi sewa alat berdasarkan upah operator
perajangan manual perjam. Upah tenaga kerja
perhari Rp.16.600,- delapan jam kerja, sehinga
upah setiap jam adalah Rp. 2075,-

D. BEP (break even point) alat perajang
Dengan menggunakan rumus (1) akan
menghasilkan titik pulang balik investasi alat
perajang krupuk rambak manual pengumpan
otomatis.
BEP =
78 , 198 2075
618 . 526 . 1


BEP = 814 jam
BEP = 814 / 192 = 4,2 bulan

Gambar 3 adalah diagram analisa BEP alat
perajang krupuk rambak manual pengumpan
otomatis.











Rugi










Rugi
Pendapatan
(TP)
Biaya tetap
(TBT)

Biaya
variabel
(TBV)
Total Biaya
0,5
1,0
1,5
2,0
2,5
Juta
rp

1,2

2,2

3,2

4,2

5,2

6,2
Bulan
Gambar 3. Diagram analisa BEP

40
5. Kesimpulan
Titik pulang balik alat perajang krupuk manual
pengumpan otomatis hasil rancangbangun ini
selama 4,2 bulan pada saat pendapatan sewa
alat 1.628.000,-
Untuk menghasilkan BEP yang lebih teliti
diperlukan variable pembentuk biaya produksi
yang lebih banyak, selanjutnya analisa BEP
menggunakan grafik fungsi, sehingga angka
yang ditunjukkan grafik secara otomatis.

6. Daftar Pustaka
Alimah. 2005. Rancangbangun Alat
Perajang Krupuk Rambak Manual
Pengumpan Otomatis. Tugas Akhir
Teknik Mesin Politeknik Negeri
Semarang
Eddy Herjanto, 2007. Manajemen Operasi.
Edisi Ketiga. Garasindo Jakarta





Just.Herman dan Scharsus, Eduard, 1986.
Weatermen Tabel For The Metal
Trade. Wiley Easter Limited, New
Delhi
Lastomo, 2004. Rancang Bangun Mesin
Perajang Krupuk Rambak. Laporan
Tugas Akhir Teknik Mesin Politeknik
Negeri Semarang
Rofarsyam, 2000. Pembuatan Mesin
Perajang Krupuk Rambak Manual
Sistem Tekan Mengiris. Majalah
Teknik Mesin Universitas Diponegoro
Semarang
Taufik Rochim, 1995. Teori Dan Teknologi
Proses Pemesinan, ITB Bandung
Yusuf Arman, 2001, Rancang Bangun
Mesin Perajang Jenang Bakal Krupuk
Rambak, Program karya Alternatif
Mahasiswa Polines. Semarang