Anda di halaman 1dari 4

INTELLECTUAL CAPITAL: SEBUAH TANTANGAN

AKUNTANSI MASA DEPAN



A. Latar Belakang
Pengertian Intellectual Capital menurut beberapa ahli antara lain:
1. Funk dan Wagnal (1997)
Intellectual capital is of or pertaining to the intellect, wealth in any form
employed in or available for the production of more wealth.
2. The Society of Management Accountant of Canada (SMAC, 1998)
Intellectual capital is in balance sheet term, intellectual assets are those
knowledge-based items, which the company owns which will produce a future stream
of benefit for the company
3. Steward (1997)
Intellectual capital is as the intellectual material that has been formalized
capture and leveraged to create wealth by producing a higher value assets
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Intellectual capital merupakan
sumber daya berupa pengetahuan yang tersedia pada perusahaan yang akhirnya
mendatangkan future economic benefit pada perusahaan tersebut.
Jadi inti dari dari keberadaan Intellectual capital adalah pengetahuan itu sendiri yang
didukung proses informasi untuk menjalin hubungan dengan pihak luar. Pengetahuan itu
sendiri dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pengetahuan Eksplisit
2. Pengetahuan Tacit (tak terungkap)

B. Indikator dan Pengukuran Intellectual Capital
Konsep-konsep penhukuran yang dikembangkan peneliti terbagi menjadi dua, yaitu
pengukuran non moneter dan monetary. Namun, menurut Sveiby (1998) menyarankan
bahwa pengukuran yang tidak moneter yang akan lebih baik. Ia menyarankan empat
ukuran untuk mengukur intellectual capital, yaitu
1. Growth
2. Renewal
3. Efficiency
4. Stability / risk dari intellectual capital
Pengukuran intellectual capital lainnya yang tidak bersifat moneter adalah Balance
Score Card, yang dikembangkan oleh kaplan dan Norton. Keduanya membagi
pengukuran intellectual capital dalam empat focus, antara lin:
1. Financial focus
2. Customer focus
3. Process focus
4. Learning focus


C. Intellectual Capital dalam Sudut Pandang Teori Akuntansi Tradisional
Klaim terhadap perlunya paradigma akuntansi baru dnegan alasan
ketidakmampuan teori akuntansi lama untuk menangkap dan menyajikan adanya proses
penciptaan nilai yang dilakukan oleh perusahaan. Intellectual capital yang merupakan
fenomena ekonomi baru juga tidak mampu dilaporkan di dalam kerangka GAAP.
Intellectual capital tidak dilaporkan sebagai aset karena tidak memenuhi definisi
pengakuan aset dalam conceptual framework.
Ini mengakibatkan tuntutan untuk melakukan perombakan pengukuran dalam
akuntansi. Seperti pendapat-pendapat dari para ahli beikut ini:
1. Sveiby (1998)
Menyarankan untuk melakukan pelaoran keuangan dengan dua bentuk, yaitu:
laporan keuangan yang lama dalam ukuran moneter
laporan khusus tentang intellectual capital dengan ukuran moneter
2. CICA
Menanggapi dengan sangat revolusioner, yaitu tuntutan untuk membuat paradigma
akuntansi baru dengan Total Value Creation.
3. Financial Accounting Series yang ditulis oleh Wayne S. Upton, Jr (2001)
Menyarankan membuat:
Paradigma baru akunatnsi
Memperkenalkan pengukuran baru yang tidak bersifat moneter
Memasukkan intellectual capital sebagai bagian dari intangible asset

D. Peranan Akuntansi dalam mencermati Fenomena Intellectual Capital
Dalam sudut pandang terjadinya intellectual capital, dan bagaimana terciptanya
intellectual capital, maka akuntan harus merubah pola pandang terhadap laporan
keuangan. Prestasi perusahaan tidak hanya dilihat dari berapa sumber daya yang tersedia
dalam neraca. Biaya yang selama ini dipandang sebagai pengorbanan ekonomis dan
dianggap tidak mempunyai manfaat ekonomi di masa mendatang harus mendapat
perhatian. Disamping itu, yang terpenting terhadap akuntan manajemen. Dimana
pengetahuan merupakan modal dasar bagi era ekonomi baru. Pengetahuan merupakan
sumber daya ekonomi sebagaimana sumber daya keuangan dan daya pengetahuan yang
ada di perusahaan, sehingga bisa menciptakan nilai bagi perusahaan.