Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Saat ini lingkungan dan ukuran bisnis entitas suatu perusahaan telah
menjadi kompleks dan rumit. Keanekaragaman jenis entitas bisnis tersebut
harus diikuti dan dipami oleh pihak yang berkepentingan, sehingga tidak
terjadi kesalahpahaman informasi terhadap suatu entitas bisnis tertentu.
Keanekaragaman cara dalam menjalankan bisnis yang bisa menimbulkan
keanekaragaman kualitas dari suatu entitas perusahaan.
Salah satu tolak ukur untuk melihat sehat atau tidaknya kualitas suatu
entitas perusahaan, publik biasanya melihat dari opini audit. Opini audit ini
dibuat oleh auditor yang tergabung dalam suatu kantor akuntan publik.
Dalam pembuatan opini terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan,
sehingga bisa menghasilkan opini yang sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Auditor dalam menjalankan profesinya, harus memahami segala bentuk
perubahan dan perkembangan terhadap entitas bisnis saat ini, maka dalam
menyikapi hal tersebut, auditor dituntut untuk terus belajar dan menggali
informasi berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan secara berkelanjutan
yang diadakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia ataupun oleh lembaga lainnya
yang terkait.
Dalam menjalankan profesinya, auditor memiliki pedoman standar yaitu
Standar Profesional Akuntan Publik yang merupakan ketentuan dan
pedoman audit yang harus dipatuhi oleh auditor. Dalam standar ini terdapat
standar audit yang terdiri dari standar umum, standar pekerjaan lapangan
dan standar pelaporan. Standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan
persyaratan seorang auditor.
Profesi Akuntan Publik merupakan suatu profesi yang jasa utamanya
adalah jasa asuransi dan hasil pekerjaannya digunakan secara luas oleh
publik sebagai salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan
keputusan. Dengan demikian, profesi Akuntan Publik memiliki peranan
yang besar dalam mendukung perekonomian nasional yang sehat dan efisien
serta meningkatkan transparansi dan mutu informasi dalam bidang
keuangan.
Akuntan Publik mempunyai peran terutama dalam peningkatan kualitas
dan kredibilitas informasi keuangan atau laporan keuangan suatu entitas.
Dalam hal ini Akuntan Publik mengemban kepercayaan masyarakat untuk
memberikan opini atas laporan keuangan suatu entitas. Dengan demikian,
tanggung jawab Akuntan Publik terletak pada opini atau pernyataan
pendapatnya atas laporan atau informasi keuangan, sedangkan penyajian
laporan atau informasi keuangan tersebut merupakan tanggung jawab
manajemen.
Sebagai salah satu profesi pendukung kegiatan dunia usaha, dalam era
globalisasi perdagangan barang dan jasa, kebutuhan pengguna jasa Akuntan
Publik akan semakin meningkat, terutama kebutuhan atas kualitas informasi
keuangan yang digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam
pengambilan keputusan. Dengan demikian, Akuntan Publik dituntut untuk
senantiasa meningkatkan kompetensi dan profesionalisme agar dapat
memenuhi kebutuhan pengguna jasa dan mengemban kepercayaan publik.
Meskipun Akuntan Publik berupaya untuk senantiasa memutakhirkan
kompetensi dan meningkatkan profesionalisme agar dapat memenuhi
kebutuhan pengguna jasa, kemungkinan terjadinya kegagalan dalam
pemberian jasa Akuntan Pubik akan tetap ada. Untuk melindungi
kepentingan masyarakat dan sekaligus melindungi profesi Kantor Akuntan
Publik, diperlukan suatu undang-undang yang mengatur profesi Akuntan
Publik. Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 2011 tentang
Akuntan Publik pasal 18 ayat (2) huruf d, mengatur tentang Sistem
Pengendalian Mutu (SPM) bagi Kantor Akuntan Publik (KAP). Pasal 18
ayat (2) huruf d, mengharuskan Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk
memiliki dan melampirkan Rancangan Sistem Pengendalian Mutu (RSPM)
KAP yang memenuhi Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang
sekurang-kurangnya mencakup aspek kebijakan atas seluruh unsur
pengendalian mutu.
Menurut Standar Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik yang
diterbitkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) per 31 Maret
2011, SPM dan KAP merupakan perumusan kebijakan dan prosedur
pengendalian yang mencakup: Independensi, Penugasan Personel,
Konsultasi, Supervisi, Pemekerjaan (Hiring), Pengembangan Profesional,
Promosi (Advancement), Penerimaan dan Keberlanjutan Klien dan Inspeksi.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk mengadakan
penelitian mengenai Hubungan Antara Penerapan Sistem Pengendalian
Mutu Pada Kantor Akuntan Publik Pada Kantor Akuntan Publik Drs.
Wayan Sunasdyana Denpasar dengan Efektivitas Perencanaan Audit.

1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya yaitu apakah penerapan sistem pengendalian
mutu Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana memiliki hubungan
dengan efektivitas perencanaan audit?

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui penerapan sistem
pengendalian mutu KAP Drs. Wayan Sunasdyana dengan efektivitas
perencanaan audit.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Bagi penulis Penelitian ini bermanfaat untuk memperoleh gambaran
umum serta pemahaman tentang penerapan Sistem Pengendalian Mutu
dengan membandingkan antara ketentuan sebagaimana diatur dalam SPAP
dan Undang-Undang Republik Indonesia dengan praktik yang
sesungguhnya dilakukan oleh Akuntan Publik
b. Bagi Kantor Akuntan Publik Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan
masukan tentang kekuatan dan kelemahan penerapan Sistem Pengendalian
Mutu pada Kantor Akuntan Publik dan memperoleh saran-saran untuk
perbaikan di masa mendatang;
c. Bagi pihak lain, Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan gambaran
tentang Sistem Pengendalian Mutu yang seharusnya dilaksanakan pada
Kantor Akuntan Publik dan pelaksanaan sesungguhnya dari Sistem
Pengendalian Mutu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Penelitian Terdahulu
1. Penelitian terdahulu dilakukan oleh Kasfiana (2004) mengenai Penerapan
Sistem Pengendalian Mutu pada Kantor Akuntan Publik PJ & Rekan.
Dari penelitian tersebut, didapatkan hasil bahwa KAP PJ & Rekan telah
menetapkan kebijakan dan prosedur SPM sebagaimana ditetapkan oleh
SPAP.
a. Kelemahan terhadap penelitian terdahulu adalah tidak dilakukannya
pengujian kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur sistem
pengendalian mutu terhadap KAP PJ & Rekan terkait dengan
penerapannya.
b. Hasil penelitian hanya berdasarkan wawancara dan hasil analisis
perbandingan antara kebijakan dan prosedur sebagaimana yang
ditetapkan oleh SPAP dengan buku pedoman sistem pengendalian
mutu yang dimiliki oleh KAP PJ & Rekan, sehingga penelitian
tersebut dianggap kurang valid dan kurang presentatifkan penerapan
sistem pengendalian mutu yang dilakukan oleh KAP PJ & Rekan.
c. Perbedaan yang dilakukan oleh peneliti dan tidak dilakukan oleh
peneliti terdahulu yaitu analisis pengujian kepatuhan KAP terhadap
prosedur SPM Kantor Akuntan Publi, landasan teori terbru yang
digunakan, ruang lingkup objek penelitian, serta teknik pengumpulan
dan pengolahan data.

2. Wahyudiono (2000) meneliti tentang Mengevaluasi Penerapan Sistem
Pengendalian Mutu pada KAP H dan M. Di dalam penelitiannya, penulis
mengevaluasi terhadap penerapan yang dilakukan oleh KAP H dan M
terhadap sistem pengendalian mutu. Pengevaluasian tersebut dipaparkan
berdasarkan masing-masing unsur yang terjandung dalam sistem
pengendalian mutu. Proses pengevaluasian diikuti penulis sesuai dengan
prosedur penerapan sistem pengendalian mutu yang diterapkan KAP H
dan M. Sehingga hasil dari penelitian ini terdapat suatu penilaian tersendiri
dari penulis terhadap hasil penerapan sistem pengendalian mutu yang
dilakukan oleh KAP H dan M.

2.2. Landasan Teori
2.2.1 Pengertian Akuntan Publik
Akuntan publik (Auditor Independen) merupakan suatu profesi yang
diatur melalui peraturan / ketentuan dari regulator (Pemerintah) serta standar
dan kode etik profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi. KAP seperti
halnya perusahaan penyedia jasa yang memiliki SOP untuk mengatur semua
prosedur resmi tentang apa yang harus dilakukan oleh para akuntan.
Prosedur pengendalian mutu yang harus diterapkan KAP sudah sangat jelas
dimuat dalam peraturan PSPM No.1. berikut ini adalah prosedur resmi
tentang pengendaian mutu yang dilakukan KAP, yang telah ditetapkan
dalam PSPM No.1 menetapkan bahwa setiap Kantor Akuntan Publik wajib
memiliki sistem pengendalian mutu dan menjelaskan unsur-unsur
pengendalian mutu dan hal-hal yang terkait dengan implementasi secara
efektif sistem tersebut.
Pengendalian mutu Kantor Akuntan Publik (KAP)1, sebagaimana yang
dimaksud dalam Seksi ini, harus diterapkan oleh setiap KAP pada semua
jasa audit, atestasi, akuntansi dan review , dan konsultansi yang standarnya
telah ditetapkan oleh TAT dalam Standar Profesional Akuntan Publik
(SPAP). Walaupun Seksi ini dapat pula diterapkan pada divisi-divisi lain
dalam KAP, sebagai contoh, antara lain divisi yang menyediakan jasa
perpajakan atau divisi jasa konsultansi manajemen, penerapan Seksi ini
pada divisi-divisi tersebut tidak diwajibkan oleh Seksi ini, kecuali untuk
jasa-jasa yang merupakan bagian dari jasa audit, atestasi, akuntansi dan
review seperti tersebut di atas.
Dalam perikatan jasa profesional, KAP bertanggung jawab untuk
mematuhi SPAP. Dalam pemenuhan tanggung jawab tersebut, KAP wajib
mempertimbangkan integritas stafnya dalam menentukan hubungan
profesionalnya; bahwa KAP dan para stafnya akan independen terhadap
kliennya sebagaimana diatur oleh Aturan Etika Kompartemen Akuntan
Publik; dan bahwa staf KAP kompeten secara profesional, objektif, dan
akan menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
Oleh karena itu, KAP harus memiliki sistem pengendalian mutu untuk
memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan profesional
dengan SPAP.
Sistem pengendalian mutu KAP mencakup struktur organisasi, kebijakan
dan prosedur yang ditetapkan KAP untuk memberikan keyakinan memadai
tentang kesesuaian perikatan profesional dengan SPAR Sistem pengendalian
mutu harus komprehensif dan harus dirancang selaras dengan struktur
organisasi, kebijakan, dan sifat praktik KAP.
Setiap sistem pengendalian mutu memiliki keterbatasan bawaan yang
dapat berpengaruh terhadap efektivitasnya. Perbedaan kinerja antarstaf dan
pemahaman persyaratan profesional, dapat mempengaruhi tingkat
kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP, yang
kemudian mempengaruhi efektivitas sistem tersebut.
Sistem pengendalian mutu KAP harus dapat memberikan keyakinan
memadai bahwa bagian dari perikatan suatu KAP yang dilaksanakan oleh
kantor cabang, kantor afiliasi atau kantor koresponden telah dilaksanakan
sesuai dengan SPAP.
Sifat dan lingkup kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang
ditetapkan oleh KAP tergantung pada berbagai faktor, antara lain ukuran
KAP, tingkat otonomi yang diberikan kepada stafnya dan kantor-kantor
cabangnya, sifat praktik, organisasi kantornya, dan pertimbangan biaya
manfaat.
KAP wajib mempertimbangkan setiap unsur pengendalian mutu yang
dibahas berikut ini, sejauh diterapkan dalam praktiknya, dalam menetapkan
kebijakan dan prosedur pengendalian mutunya. Unsur-unsur pengendalian
mutu berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, praktik pemekerjaan KAP
mempengaruhi kebijakan pelatihannya. Praktik pelatihan mempengaruhi
kebijakan promosinya. Praktik kedua kategori tersebut mempengaruhi
kebijakan supervisi. Praktik supervisi mempengaruhi kebijakan pelatihan dan
promosi. Untuk memenuhi ketentuan yang dimaksud oleh paragraf ini, KAP
wajib membuat kebijakan dan prosedur pengendalian mutu mengenai:
a. Independensi, yang memberikan keyakinan memadai bahwa, pada setiap
lapis organisasi, semua staf profesional mempertahankan independensi
sebagaimana diatur dalam Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik.
b. Penugasan personel, yang memberikan keyakinan memadai bahwa
penugasan akan dilaksanakan oleh staf profesional yang memiliki tingkat
pelatihan dan keahlian teknis untuk penugasan tersebut. Dalam proses
penugasan personel, sifat dan lingkup supervisi harus dipertimbangkan.
Umumnya, apabila personel yang ditugaskan semakin cakap dan
berpengalaman, maka supervisi secara langsung terhadap personel
tersebut, semakin tidak diperlukan.
c. Konsultasi, yang memberikan keyakinan memadai bahwa personel akan
memperoleh informasi yang memadai sesuai yang dibutuhkan dari orang
yang memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi, pertimbangan
(judgement) yang memadai. Sifat konsultasi akan tergantung atas
beberapa faktor, antara lain ukuran KAP dan tingkat pengetahuan,
kompetensi dan pertimbangan yang dimiliki oleh staf pelaksana perikatan.
d. Supervisi, yang memberikan keyakinan memadai bahwa pelaksanaan
perikatan memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh KAP. Lingkup
supervisi danreview yang sesuai pada suatu kondisi tertentu, tergantung
atas beberapa faktor, antara lain kerumitan masalah, kualifikasi staf
pelaksana perikatan, dan lingkup konsultasi yang tersedia dan yang telah
digunakan. Tanggung jawab KAP untuk menetapkan prosedur mengenai
supervisi berbeda dengan tanggung jawab staf secara individual untuk
merencanakan dan melakukan supervisi secara memadai atas perikatan
tertentu.
e. Pemekerjaan( H i r i n g ) , yang memberikan keyakinan memadai bahwa
semua staf profesionalnya memiliki karakteristik yang tepat sehingga
memungkinkan mereka melakukan perikatan secara kompeten. Akhirnya,
mutu pekerjaan KAP tergantung kepada integritas, kompetensi dan
motivasi personel yang melaksanakan dan melakukan supervisi atas
pekerjaan. Oleh karena itu, program pemekerjaan KAP menjadi salah satu
unsur penentu untuk mempertahankan mutu pekerjaan KAP
f. Pengembangan profesional, yang memberikan keyakinan memadai bahwa
personel memiliki pengetahuan memadai sehingga memungkinkan
mereka memenuhi tanggung jawabnya. Pendidikan profesional
berkelanjutan dan pelatihan merupakan wahana bagi KAP untuk
memberikan kepada personelnya pengetahuan memadai untuk memenuhi
tanggung jawab mereka dan untuk kemajuan karier mereka di KAP.
g. Promosi (adv ancement) , yang memberikan keyakinan memadai bahwa
semua personel terseleksi untuk promosi memiliki kualifikasi seperti yang
disyaratkan untuk lapis tanggung jawab yang lebih tinggi. Praktik
promosi personel akan berakibat terhadap mutu pekerjaan KAP.
Kualifikasi personel terseleksi untuk promosi harus mencakup, tetapi
tidak terbatas pada, karakter, intelegensi, pertimbangan (judgement), dan
motivasi.
h. Penerimaan dan keberlanjutan klien, memberikan keyakinan memadai
bahwa perikatan dari klien akan diterima atau dilanjutkan untuk
meminimumkan hubungan dengan klien yang manajemennya tidak
memiliki integritas.
i. Inspeksi, KAP yang harus memiliki kebijakan maupun prosedur yang
berkaitan dengan pengujian pelaksanaan sistem pengendalian mutu
sehingga KAP dapat mengetahui apakah sistem tersebut telah memadai
dan dilaksanakan dengan baik.
2.2.2 Standar Profesional Akuntan Publik
Menetapkan prosedur dengan tujuan seperti tersebut, tidak berarti bahwa
KAP bertugas untuk menentukan integritas atau keandalan klien, dan tidak
juga berarti bahwa KAP berkewajiban kepada siapa pun, kecuali kepada
dirinya, untuk menerima, menolak atau mempertahankan kliennya. Namun,
dengan berdasarkan pada prinsip pertimbangan hati-hati, KAP disarankan
selektif dalam menentukan hubungan profesionalnya.
Inspeksi, yang memberikan keyakinan memadai bahwa prosedur yang
berhubungan dengan unsur-unsur pengendalian mutu, seperti tersebut pada
butir a sampai dengan butir h, telah diterapkan secara efektif. Prosedur
inspeksi dapat dirancang dan dilaksanakan oleh individu yang bertindak
mewakili kepentingan manajemen KAP Jenis prosedur inspeksi yang akan
digunakan tergantung kepada pengendalian yang ditetapkan oleh KAP dan
penetapan tanggung jawab di KAP untuk melaksanakan kebijakan dan
prosedur pengendalian mutunya.

2.2.3 Standar Pengendalian Mutu
Standar pengendalian mutu memberikan panduan bagi kantor akuntan
publik di dalam melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan
oleh kantornya dengan mematuhi berbagai standar yang diterbitkan oleh
dewan standar profesional akuntan publik dan aturan etika kompartemen,
akuntan publik yang diterbitkan oleh kompartemen akuntan publik, Ikatan
Akuntansi Indonesia dalam perikatan jasa profesional, kantor akuntan publik
bertanggung jawab untuk mematuhi berbagai standar relevan yang telah
diterbitkan oleh dewan dan kompartemen akuntan publik.
Dalam pemenuhan tanggung jawab tersebut, kantor akuntan publik wajib
mempertimbangkan integritas stafnya dalam menentukan hubungan
profesionalnya; bahwa kantor akuntan publik dan para stafnya akan
independen terhadap kliennya sebagaimana diatur oleh aturan etika
kompartemen akuntan publik dan bahwa staf kantor akuntan publik
kompeten, profesional dan objektif serta akan menggunakan kemahiran
profesinalnya dengan cermat dan seksama. Oleh karena itu, kantor akuntan
publik harus memiliki sistem pengendalian mutu untuk memberikan
keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan profesional dengan
berbagai standar dan aturan relevan yang berlaku.
Standar pengendalian mutu ini harus dilaksanakan dan ditaati oleh setiap
anggota profesi akuntan publik dalam pelaksanaan penugasannya dan dapat
digunakan oleh kantor akuntan publik untuk membantu dalam memenuhi
standar pemeriksaan yang diterima umum.

2.2.4 Unsur-Unsur Pengendalian Mutu
Dalam merancang kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP harus
mempertimbangkan keberadaan unsur-unsur pengendalian mutu seperti yang
tertera dalam Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (PSPM) No.1, (SPAP
2001:17000.2) adalah sebagai berikut:
Independensi
Penugasan personal
Konsultasi
Supervisi
Pengangkatan Pemeriksa
Pengembangan profesional
Promosi
Penerimaan dan pemeliharaan hubungan dengan klien
Inspeksi
Unsur-unsur tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya,
sebagai contoh:
Unsur pengangkatan pemeriksa mempengaruhi elemen pengembangan
profesional, dalam hal ini tata cara penerimaan pemeriksa akan
mempengaruhi kebijakan penyelenggaraan latihan
Unsur pengembangan profesional mempengaruhi elemen promosi.
Pengembangan profesional antara lain dilaksanakan melalui pelatihan
atau pendidikan yang telah dijalani oleh pemeriksa akan mempengaruhi
promosi pemeriksa
Unsur pengangkatan pemeriksa mempengaruhi elemen supervisi karena
pada umumnya pemeriksa yang baru diangkat atau pemeriksa yang belum
berpengalaman memerlukan supervisi yang lebih intensif dibandingkan
dengan pemeriksa yang sudah berpengalaman.

2.2.5 Standar Atestasi
Standar ini berlaku pada akuntan publik yang melaksanakan suatu
perikatan atestasi. Suatu perikatan atestasi adalah perikatan yang di dalamnya
praktisi mengadakan perikatan untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang
menyatakan suatu simpulan tentang keandalan asersi tertulis yang menjadi
tanggung jawab pihak lain.

1. Standar Umum:
a. Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang
memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup dalam fungsi
atestasi.
b. Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih
yang memiliki pengetahuan cukup dalam bidang yang
bersangkutan dengan asersi.
c. Praktisi harus melaksanakan perikatan hanya jika ia memiliki
alasan untuk menyakinkan dirinya bahwa dua kondisi berikut ini
ada :
1) Dalam semua hal yang bersangkutan dengan perikatan, sikap
mental independen harus dipertahankan oleh praktisi.
2) Kemahiran profesional harus selalu digunakan oleh praktisi
dalam melaksanakan perikatan, mulai dari tahap perencanaan
sampai dengan pelaksanaan perikatan tersebut.
3) Asersi dapat dinilai dengan kriteria rasional, baik yang telah
ditetapkan oleh badan yang diakui atau yang dinyatakan
dalam penyajian asersi tersebut dengan cara cukup jelas dan
komprehensif bagi pembaca yang diketahui mampu
memahaminya.
4) Asersi tersebut dapat diestimasi atau diukur secara konsisten
dan rasional dengan menggunakan kriteria tersebut.Kriteria
rasional adalah kriteria yang menghasilkan informasi
bermanfaat. Manfaat informasi tergantung pada
keseimbangan memadai antara relevansi dan keandalan.

2. Standar Pekerjaan Lapangan
a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan
asisten harus disupervisi dengan semestinya.
b. Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar
rasional bagi simpulan yang dinyatakan dalam laporan.
3. Standar Pelaporan
a. Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan
menyatakan sifat perikatan atestasi yang bersangkutan.
b. Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah
asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau
kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat pengukur.
c. Laporan harus menyatakan semua keberatan praktisi yang
signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi.
d. Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang
disusun berdasarkan kriteria yang disepakati atau berdasarkan
suatu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang disepakati
harus berisi suatu pernyataan tentang keterbatasan pemakaian
laporan hanya oleh pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau
prosedur tersebut.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu menguraikan sifat karakteristik
fenomena tertentu yaitu mengumpulkan data-data dalam bentuk nilai atau
angka sesuai dengan pencatatan yang terdapat dilapangan dan
menguraikannya secara menyeluruh dan diteliti sesuai dengan pencatatan
yang terdapat dilapangan dan menguraikannya secara menyeluruh dan teliti
sesuai dengan persoalan yang akan dipecahkan (Sugiyono, 2003:11).

3.2. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Berdasarkan bentuk dan sifatnya maka jenis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian dengan memperoleh data
yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan.
(Sugiyono, 2003:14)
Penelitian kualitatif adalah data yang berbentuk kata, skema, dan
gambar. (Sugiyono, 2003:14)

2. Sumber Data
Menurut Teguh (2005:121) tentang data sekunder yaitu jenis data ini
dapat digali melalui monografi yang diterbitkan oleh masing-masing
lembaga atau perusahaan, laporan-laporan, baik mingguan, bulanan,
triwulan, maupun tahunan, buku-buku profil, literatur, majalah-majalah
dan publikasi data dari media surat kabar. Data yang diperoleh dalam
penelitian ini yaitu mengenai sistem pengendalian mutu KAP Drs.
Wayan Sunasdyana Denpasar.

3.3. Metode Pengumpulan data
Dalam melakukan penelitian pada KAP Drs. Wayan Sunasdyana, maka
metode pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Pengumpulan data dengan cara mempelajari buku-buku dan literatur
serta ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan masalah yang akan
dibahas. Dari penelitian ini akan diperoleh gambaran teoritis tentang
permasalahan yang akan dibahas.

2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Pengumpulan data dengan teknik penelitian lapangan merupakan
penelitian secara langsung pada Kantor Akuntan Publik yang menjadi
objek penelitian. Dalam penelitian lapangan ini digunakan beberapa cara
yaitu:
a. Wawancara (Interview)
Wawancara tidak hanya dilakukan kepada Partner (pimpinan) kantor
akuntan, tetapi juga pada jenjang Audit Manager, Audit Supervisor,
Senior dan Junior Auditor.

b. Kuesioner
Pengajuan daftar pertanyaan secara tertulis diberikan kepada
Manager, Supervisor, Senior Auditor dan Junior Auditor.
Penerapan sistem pengendalian mutu KAP bersifat subjektif dan
tidak bisa diukur secara langsung karena merupakan aspek mental.
Oleh karena itu, digunakan suatu skala untuk bisa mengukur
penerapan pengendalian mutu tersebut yaitu dengan cara
memberikan skor untuk setiap jenis jawaban dari kuesioner dengan
menggunakan skala Likert.

Tingkat Penerapan Skor
Tidak Tahu 0
TidakPernah 1
Jarang 2
Sering 3
Selalu 4

Untuk mengambil kesimpulan apakah penerapan setiap unsur
SPM KAP cukup baik ataupun tidak, ditentukan dari besar
persentase total jawaban positif, yakni jawaban sering (skor 3)
dan jawaban selalu (skor 4).

c. Review
Untuk menguji apakah hasil wawancara dan kuesioner telah
mencerminkan penerapan Sistem Pengendalian Mutu, penelitian juga
dilakukan dengan melakukan review atas sejumlah Audit Working
Paper, yang mencakup Audit Planning Memorandum, Audit
Program dan Audit Procedures yang dilakukan dalam pemberian
jasa profesi serta Laporan Auditor Independen.
Hasil review dimaksudkan untuk melihat apakah Sistem
Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik, terutama yang
menyangkut unsur supervisi dan konsultasi serta penugasan staf
sudah diterapkan secara memadai yang menjamin bahwa perikatan
audit telah dilakukan sesuai dengan Standar Profesional Akuntan
Publik yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia dan
Aturan Etika Akuntan Publik, serta ketentuan-ketentuan lain yang
ditetapkan oleh badan pengatur.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Penetapan Kebijakan dan Prosedur Pengendalian Mutu KAP
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari hasil pertemuan pendahuluan
antara penulis dengan pihak pimpinan KAP, ditemukan fakta bahwa KAP
telah menetapkan pengendalian intern atas operasi kantor, yang terdiri atas
pengendalian intern aspek profesional praktik akuntansi dan audit KAP; dan
aspek bisnis praktik, yang terdiri atas prosedur-prosedur akuntansi dan
keuangan perusahaan.
Pengendalian intern tersebut tercantum dalam Pedoman Operasi Kantor
Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana. Sedangkan atas profesional
praktik akuntansi dan audit tertuang dalam pedoman audit yang berisikan
kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP.
Sistem Pengendalian Mutu sebagaimana yang telah ditetapkan oleh KAP
mencakup struktur organisasi, kebijakan dan prosedur yang dimaksudkan
untuk memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan
profesional dengan Standar Profesional Akuntan Publik.
Sistem Pengendalian Mutu sebagaimana yang tersebut diatas mencakup
atas unsur: 1) Independensi, 2) Penugasan Personel, 3) Konsultasi, 4)
Supervisi, 5) Pemekerjaan, 6) Pengembangan Profesional, 7) Promosi, 8)
Penerimaan dan Keberlanjutan Klien 9) Inspeksi.
Berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil pembicaraan dengan top
manajemen Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana sebagaimana
tersebut pada bab 3, dapat disimpulkan bahwa Kantor Akuntan Publik Drs.
Wayan Sunasdyana telah memiliki dan menetapkan kebijakan dan Prosedur
Pengendalian Mutu KAP yang dimaksudkan untuk memberikan jaminan
yang memadai bahwa dalam menjalankan profesinya KAP telah memenuhi
Standar Profesional dan ketentuan yang berlaku baik yang ditetapkan oleh
IAPI dalam Standar Profesional Akuntan Publik.
Berkaitan dengan tidak ditetapkannya kebijakan dan prosedur
pengendalian mutu yang berkaitan dengan inspeksi, penulis melakukan
konfirmasi secara langsung kepada pimpinan Kantor Akuntan Publik Drs.
Wayan Sunasdyana dan diperoleh penegasan bahwa KAP memang tidak
menetapkan kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan inspeksi karena
dianggap tidak praktis dan KAP tidak membutuhkan kebijakan dan prosedur
tersebut, mengingat skala KAP masih berada pada klasifikasi menengah.
Sebagai prosedur alternatif pengganti kebijakan inspeksi, KAP menetapkan
review silang atau review langsung oleh partner atas perikatan audit tertentu
yang memiliki kekhususan tertentu atau dengan tingkat resiko diatas rata-
rata.
4.2.Pengujian Kepatuhan Terhadap Sistem Pengendalian Mutu KAP
Pengujian kepatuhan dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner
dengan 20 pertanyaan yang berkaitan dengan delapan variabel penentu
penerapan sistem pengendalian mutu pada Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan
Sunasdyana. Dengan perincian sebagai berikut:
No. Variabel Jumlah Pertanyaan
1 Independensi 2
2 Penugasan Personel 2
3 Konsultasi 2
4 Supervisi 3
5 Pemekerjaan 3
6 Pengembangan Profesional 3
7 Promosi 3
8
Penerimaan &
Keberlanjutan Klien 2
Total Pertanyaan 20

Penyebaran kuesioner dilakukan dengan mengadakan wawancara personal
dengan beberapa responden. Responden dalam penelitian ini dibatasi hanya
staf profesional auditor workshop dari tingkatan junior sampai tingkatan
manager. Kuesioner yang dibagikan sebanyak 7 set. Pada bulan yang sama
semua kuesioner telah diisi lengkap dan dikembalikan sebanyak 7 set.
4.3.Klasifikasi Penilaian Analisis Kepatuhan Staf Auditor terhadap
Prosedur Sistem Pengendalian Mutu KAP
Untuk mengetahui klasifikasi penilaian terhadap unsur pengendalian mutu
yang telah dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana,
maka penulis mengklasifikasikan penilaian dengan perincian sebagai berikut:
Tingkat Penerapan Skor Persentase Penilaian Klasifikasi Penilaian
Tidak Tahu 0 0% - 20% Sangat Buruk
Tidak Pernah 1 21% - 40% Buruk
Jarang 2 41% - 60% Kurang Baik
Sering 3 61% - 80% Cukup Baik
Selalu 4 81%-100% Baik

Penilaian terhadap unsur Sistem Pengendalian Mutu KAP tidak memiliki
standar khusus yang ditetapkan oleh badan pengatur, sehingga penetapan
persentase penilaian pada tabel diatas diklasifikasikan berdasarkan bobot skor
nilai yang ada pada opsi kuesioner sesuai dengan skala yang telah ditentukan.
Penerapan unsur SPM untuk KAP tersebut disimpulkan sudah cukup baik
apabila total jawaban positif diatas 61%. Apabila total jawaban positif kurang
dari 61%, maka penerapan SPM KAP untuk unsur terkait tersebut
disimpulkan masih kurang baik.

4.4.Analisis Kepatuhan Staf Auditor terhadap Prosedur Sistem
Pengendalian Mutu KAP
Untuk mengetahui dan menguji kesesuaian SPM Kantor Akuntan Publik
Drs. Wayan Sunasdyana dengan standar profesional dan kepatuhan personel
KAP dengan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP, penulis telah
menganalisa dan merekapitulasi hasil kuesioner dalam bentuk chart
sebagaimana berikut:
Independensi
Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Independensi

Dari pie chart independensi, dapat disimpulkan bahwa penerapan
pengendalian mutu pada Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana
ditinjau dari unsur independensi sudah diterapkan dengan baik. Hal ini terlihat
dari 66,7% responden menyatakan selalu diterapkan dan 18,5% responden
66.7%
18.5%
11.1%
3.7%
0%
Independensi
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Tidak Tahu
menyatakan sering diterapkan (85,2% responden memberikan jawaban
positif).
Hampir seluruh staf profesional KAP telah memahami akan pentingnya
sikap independensi dalam menjalankan pekerjaannya dan melakukan perikatan
audit. Partner dan Manajer Audit juga senantiasa mengingatkan para staf
profesional auditor dalam setiap kesempatan yang ada, terutama sekali pada
saat pelaksanaan supervisi dan konsultasi.
Dari hasil wawancara dengan top manajemen KAP, untuk lebih menjaga
independensi para staf profesional, penugasan para staf profesional dibatasi
dan dilakukan rotasi maksimum tiga tahun buku. Artinya para staf profesional
hanya ditugaskan pada klien yang sama maksimum tiga tahun buku secara
berturut-turut. Dari hasil wawancara dengan beberapa staf profesional auditor
yang bekerja dilapangan, tidak ada diantara mereka yang memegang klien
selama lebih dari tiga tahun.
Penugasan Personel
Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Penugasan Personel

Dari pie chart penugasan personel, dapat disimpulkan bahwa
penerapan pengendalian mutu Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan
Sunasdyana ditinjau dari segi penugasan personel sudah diterapkan dengan
cukup baik. Hal ini terlihat dari 51,85% responden menyatakan selalu
51.85%
25.93%
14.81%
7.41%
0.00%
Penugasan Personel
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Tidak Tahu
diterapkan dan 25,93% responden menyatakan sering diterapkan (77,78%
responden memberikan jawaban positif).
Penugasan personel dimaksudkan untuk memberikan keyakinan
memadai bahwa penugasan akan dilakukan oleh staf profesional yang
memiliki tingkat pelatihan dan keahlian teknis untuk penugasan tersebut.
Dari komposisi tim audit yang ditugaskan yang tercermin dalam Surat
Penugasan yang ditandatangani oleh Partner In Charge, tim audit selalu
terdiri atas seorang manajer yang bertanggung jawab atas penugasan
tersebut dan seorang supervisor yang mengawasi pelaksanaan pekerjaan di
lapangan. Sedangkan senior auditor yang sehari-hari secara penuh
bertanggung jawab atas pelaksanaan di lapangan minimum berpendidikan
formal sarjana (Strata 1) bidang akuntansi dengan kualifikasi yang
memenuhi persyaratan. Misalnya untuk melakukan audit atas perusahaan
manufaktur, senior auditor harus sudah memiliki pengalaman minimal tiga
tahun dalam melakukan audit pada perusahaan yang sejenis. Demikian
halnya untuk klien dengan jenis kegiatan karakteristik khusus seperti
entitas yang mengerahkan dana masyarakat. Selain itu, terkadang senior
auditor juga dipersyaratkan sudah mengikuti pendidikan khusus atau
pelatihan atau seminar yang diselenggarakan oleh badan pengatur.
Dari hasil wawancara dengan staf profesional auditor, didapat
keterangan bahwa dalam prakteknya terkadang tidak dilakukan identifikasi
khusus atas keahlian setiap personel terlebih dahulu dalam penugasan
audit dan penetapan person in charge nya, namun dikaitkan dengan faktor-
faktor judgement pribadi dari top manajemen KAP sendiri terhadap
karyawan tertentu. Hal ini mengidentifikasikan kurangnya pemerataan
penugasan dalam Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana.
Dalam kaitannya dengan penugasan personel, untuk menjamin
bahwa staf auditor di lapangan melakukan pekerjaan audit secara terarah,
sebelum mereka melakukan pemeriksaan lapangan, staf auditor selalu
berpedoman kepada audit program yang berisi audit objective dan audit
procedures. Selain itu mereka juga dibekali dengan audit memorandum
yang dirancang oleh supervisor. Untuk dapat tetap bekerja dalam waktu
yang sudah ditentukan, audit memorandum juga berisi skedul pelaksanaan
pekerjaan. Skedul memang selalu ditetapkan di awal penugasan, namun
dari hasil wawancara didapat keterangan bahwa sering kali terjadinya
perpanjangan waktu dalam penugasan audit.
Untuk mengawasi aktivitas auditor dalam melaksanakan pekerjaan
lapangan, auditor juga diwajibkan untuk mengisi time sheet setiap minggu,
yang menggambarkan pekerjaan lapangan yang dilakukan oleh auditor
secara rinci setiap hari.
Konsultasi
Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Konsultasi

Dari pie chart konsultasi, dapat disimpulkan bahwa penerapan
pengendalian mutu pada Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan
Sunasdyana ditinjau dari segi konsultasi sudah diterapkan dengan
cukup baik. Hal ini terlihat dari 55,56% responden menyatakan selalu
diterapkan dan 22,22% responden menyatakan sering diterapkan
(77,78% responden memberikan jawaban positif).
Dari hasil rekapitulasi kuesioner dalam kaitannya dengan apakah
konsultasi dilakukan secara berjenjang, 7,4% menyatakan tidak
55.56% 22.22%
14.81%
7.41% 0%
Konsultasi
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Tidak Tahu
pernah, 18,5% menyatakan sering dan 62,9% menyatakan selalu.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa konsultasi dalam Kantor Akuntan
Publik Drs. Wayan Sunasdyana umumnya sudah dilakukan secara
berjenjang, dalam hal auditor menghadapi masalah yang aturannya
belum jelas atau belum diatur secara jelas, baik yang menyangkut
praktik akuntansi maupun praktik auditing. Dalam konsultasi secara
tertulis, dari menelusuri arsip-arsip administratif, penulis mendapatkan
informasi bahwa Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana telah
memiliki internal memo untuk konsultasi.

Supervisi
Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Supervisi

Dari pie chart supervisi, dapat disimpulkan bahwa penerapan
pengendalian mutu pada Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan
Sunasdyana sudah diterapkan dengan cukup baik namun kurang
efektif. Hal ini terlihat dari 37,04% responden menyatakan selalu
diterapkan dan 29,63% responden menyatakan sering diterapkan
(66,67% responden memberikan jawaban positif).
Pelaksanaan penelitian atas unsur supervisi dilakukan melalui
review atas time sheet dan working paper. Uraian terinci atas
pelaksanaan supervisi disajikan pada sub bab selanjutnya yaitu Hasil
Review atas Perikatan Terpilih.
37.04%
29.63%
22.22%
11.11%
Supervisi
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Pemekerjaan (Hiring)
Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Pemekerjaan (Hiring)

Dari pie chart pemekerjaan, dapat disimpulkan bahwa penerapan
pengendalian mutu Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana
ditinjau dari unsur pemekerjaan sudah diterapkan dengan cukup baik
namun kurang efektif. Hal ini terlihat dari 48,15% responden
menyatakan selalu diterapkan dan 22,22% responden menyatakan
sering diterapkan (70,37% responden memberikan jawaban positif).
Dari hasil rekapitulasi kuesioner, didapatkan data yang berkaitan
dengan apakah KAP menyusun perencanaan kebutuhan personel,
terdapat 40,7% yang menyatakan tidak pernah; 29,6% menyatakan
jarang; 18,5% menyatakan sering; dan hanya 11,1% yang menyatakan
selalu. Dari hal ini dapat diindikasikan bahwa KAP jarang menyusun
perencanaan kebutuhan personel. Dari hasil wawancara dengan staf
auditor, didapatkan keterangan bahwa tidak dilakukannya perencanaan
kebutuhan personel tersebut menyebabkan kurangnya jumlah tenaga
auditor jika dibandingkan dengan jumlah klien yang ditangani
(komposisi auditor yang tidak sesuai dengan jumlah klien) terutama di
peak seasons. Hal ini tentunya membuat staf auditor menurun
kinerjanya, karena harus menyelesaikan pekerjaan audit untuk
beberapa klien sekaligus pada periode waktu yang sama.
48.15%
22.22%
18.52%
11.11% 0%
Pemekerjaan (Hiring)
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Tidak Tahu
Berdasarkan penelitian arsip administrasi proses rekruitmen
pegawai dilakukan secara umum telah memenuhi ketentuan yang ada.
Hal ini terlihat dari adanya kewajiban calon pegawai untuk
menyerahkan surat lamaran, menjalani test tertulis dan wawancara
untuk memastikan bahwa KAP hanya melakukan rekruitmen atas
karyawan yang memang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan oleh
KAP. Namun ditemukan pula beberapa karyawan (14,8%) yang tidak
menjalani tes tertulis tersebut dan langsung dipekerjakan.
Dalam kaitannya dengan apakah KAP melakukan program
orientasi bagi personel yang baru diterima, terdapat 11,1% yang
menyatakan tidak pernah; 18,5% yang menyatakan jarang. Hal ini
mengindikasikan bahwa di Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan
Sunasdyana, ada beberapa personel auditornya yang tidak mengalami
masa orientasi saat mulai bekerja.

Pengembangan Profesional
Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Pengembangan Profesional

Dari pie chart pengembangan profesional, dapat disimpulkan
bahwa penerapan pengendalian mutu Kantor Akuntan Publik Drs.
Wayan Sunasdyana ditinjau dari unsur pengembangan profesional
sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari 59,26% responden menyatakan
59.26%
18.50%
18.50%
3.70%
0%
Pengembangan
Profesional
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
selalu diterapkan dan 18,5% responden menyatakan sering diterapkan
(77,76% responden memberikan jawaban positif).
Dalam kaitannya dengan apakah KAP menyediakan bagi personel
literatur profesional mengenai perkembangan terkini dalam standar
profesional, dari hasil rekapitulasi kuesioner didapatkan data bahwa
3,7% menyatakan tidak pernah; 25,9% menyatakan jarang; 40,7%
menyatakan sering dan 29,6% menyatakan selalu. Dari data tersebut
dapat ditarik sebuah hipotesis bahwa KAP sudah melakukan sosialisasi
atas perkembangan terkini dalam standar profesional yang penting
sebagai sarana bagi staf profesional auditor untuk pengembangan diri
dan profesi.
Dari hasil wawancara dengan top manajemen KAP, literatur
profesional sudah disediakan dengan memadai oleh kantor, di samping
itu, KAP berlangganan cukup banyak majalah maupun tabloid profesi
yang bisa dibaca oleh setiap karyawan KAP dengan bebas.
Top manajemen juga menambahkan selain akses akan literatur
profesional, para staf profesional juga memiliki kesempatan secara
mudah untuk mengakses buku-buku (text book), panduan atau
peraturan dan perundangan yang dikeluarkan oleh badan pengatur.
Sarana buku-buku dan kumpulan peraturan sebagaimana tersebut
diatas telah dimiliki oleh KAP secara memadai.
Satu hal yang menjadi kekurangan KAP adalah KAP tidak
memiliki ruang khusus untuk kumpulan pustaka profesi KAP yang
dapat dimanfaatkan oleh staf profesional auditor untuk melakukan
studi literatur. Buku-buku dan pedoman serta peraturan dan panduan
yang dimiliki KAP disimpan dalam ruang kerja manajer dan partner
dengan susunan yang tidak teratur (tidak ada penomoran dan tindakan
inventarisir) sehingga bagi staf profesional auditor terkadang tidaklah
mudah untuk mencari buku atau literatur tertentu.
Dalam kaitannya dengan pelatihan staf profesional auditor, KAP
telah mendorong staf profesionalnya untuk melakukan pengembangan
profesional baik melalui Pendidikan Profesi Formal ataupun
Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) yang diselenggarakan oleh IAPI
dan badan pengatur lainnya.. Beberapa seminar dan workshop yang
diikuti oleh staf profesional Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan
Sunasdyana adalah sebagai berikut:
Pendidikan Profesi Akuntansi, Universitas Indonesia, pendidikan
untuk memperoleh gelar akuntan dan register negara akuntan.
Pendidikan Brevet Perpajakan A, B dan C.
Tinjauan Hukum & Penerapan Akuntansi pada Special Purpose
Vehicle di Indonesia, IAPI.
Workshop Profesi Penunjang untuk Akuntan Pasar Modal,
BAPEPAM & IAPI.
Review Materi Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP).
Berdasarkan hasil review atas berkas administrasi dan juga
wawancara dengan staf auditor mengenai Pendidikan Profesi Lanjutan
(PPL) sebagaimana tersebut diatas, didapatkan informasi bahwa PPL
tersebut sudah diikuti oleh personel profesional hampir secara merata.
Hal ini terlihat dari hampir seluruh personel profesional pernah
mengikuti PPL, bahkan ada satu orang personel yang mengikuti
seminar PPL sampai 3 kali. Hanya 3,7% saja personel profesional yang
tidak pernah mengikuti PPL.



Promosi
Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Penugasan Personel

Dari pie chart promosi, dapat disimpulkan bahwa penerapan
pengendalian mutu pada Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan
Sunasdyana ditinjau dari unsur promosi sudah cukup baik. Hal ini
dapat dilihat dari hasil kuesioner dimana 51,85% responden
memberikan jawaban selalu dan 25,93% responden memberikan
jawaban sering (77,78% responden memberikan jawaban positif).
KAP tidak melakukan promosi atas jabatan auditor baik dari junior
menjadi senior, maupun dari senior menjadi supervisor. Menurut
penjelasan dari top manajemen KAP, promosi seharusnya diadakan
setahun sekali dengan melihat dan mempertimbangkan atas aspek
aspek pengetahuan teknis, kemampuan analisis dan judgment,
kemahiran berkomunikasi, kemahiran memimpin, sikap mental pribadi
(integritas, intelegensi, motivasi) dan jumlah pengalaman kerja.
Namun tidak dilakukannya promosi atas jabatan auditor disebabkan
karena jumlah pengalaman kerja (yang diukur dalam satuan waktu)
belum ada yang memenuhi kualifikasi untuk dilakukannya promosi
jabatan.
Berdasarkan dari data hasil penelitian KAP telah melakukan
promosi atas jabatan auditor (junior auditor menjadi senior auditor).
51.85%
25.93%
14.81%
7.41% 0%
Promosi
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Tidak Tahu
Penerimaan dan Keberlanjutan Klien
Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Penerimaan & Keberlanjutan
Klien

Dari pie chart penerimaan & keberlanjutan klien, dapat
disimpulkan bahwa penerapan pengendalian mutu pada Kantor
Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana ditinjau dari unsur
penerimaan & keberlanjutan klien sudah diterapkan dengan baik. Hal
ini dapat diihat dari 62,96% responden menyatakan selalu diterapkan
dan 22,22 responden menyatakan sering diterapkan (85,18% - lebih
dari 75% jawaban positif).
Dari hasil penelitian terhadap arsip administrasi, diperoleh data
bahwa selama tahun 2011, KAP telah menerima tambahan penugasan
(perikatan) atas klien baru sebanyak 21 perusahaan klien dari
permintaan perikatan sebanyak 25 klien. KAP menolak perikatan atas
empat calon klien tersebut dengan alasan skedul audit yang terlalu
ketat (1 klien), audit fee yang terlalu rendah (2 klien) dan integritas
manajemen yang diragukan (1 klien). Sedangkan atas 21 perusahaan
yang diterima penugasannya, telah dilakukan prosedur evaluasi
independensi dan kemampuan KAP untuk menyediakan jasa bagi
calon klien. Dalam evalusi kemampuan KAP, telah dipertimbangkan
kebutuhan akan keahlian teknis, pengetahuan industri dan personal.
62.96%
22.22%
11.11%
3.70% 0%
Penerimaan &
Keberlanjutan Klien
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Tidak Tahu
Pertimbangan sebagaimana tersebut diatas dilakukan berdasarkan
hasil survei pendahuluan yang telah dilakukan oleh KAP. Survei
pendahuluan atau initial meeting biasanya langsung ditangani oleh
partner dan melibatkan audit manager. Untuk perusahaan yang berjenis
group, maka initial meeting juga melibatkan audit manager ataupun
supervisor. Hasil survei pendahuluan dituangkan dalam kertas kerja
survei pendahuluan yang merupakan bahan utama dalam penyusunan
audit memorandum. Hal berikutnya yang dilakukan oleh KAP adalah
menyusun audit proposal yang berisi tentang ruang lingkup penugasan,
pemisahan tanggung jawab antara auditor dengan manajemen, skedul
audit, jenis laporan, besarnya fee perikatan dan hal lain yang relevan.
Jika klien menyetujui proposal tersebut, maka proposal tersebut
berfungsi sebagai engagement letter.
Komunikasi dengan auditor terdahulu juga dilakukan dengan
secara tertulis untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang
klien dan informasi tentang kemungkinan adanya kewajiban hukum
terhadap pihak ketiga.

4.5.Hasil Review atas Perikatan Yang Dipilih
Untuk kebutuhan review akan ketaatan dalam pelaksanaan field work audit,
perikatan yang dipilih untuk menjadi objek review adalah perusahaan yang
bergerak di bidang sebagai berikut :
Audit atas perusahaan industri : 2 Klien
Audit atas perusahaan jasa : 2 Klien
Audit atas perusahaan perdagangan : 2 Klien
Audit atas yayasan : 2 Klien
Audit atas perusahaan Real Estate : 2 Klien
Objek yang di review adalah sejumlah Audit Working Paper yang
mencakup Audit Planning Memorandum, Audit Program, top schedules,
supporting schedules dan Audit Procedures yang dilakukan dalam pemberian
jasa profesi.
Beberapa kelemahan yang ditemukan dari hasil review terhadap perikatan
terpilih adalah sebagai berikut:
Tidak mencantumkan cross index pada Working Paper.
Penomoran Working Paper yang tidak konsisten.
Tidak mencantumkan nama pembuat dan tanggal pembuatan pada
supporting schedule dan top schedule.
Skedul utama yang tidak menunjukkan adanya jejak supervisi, baik oleh
supervisor ataupun manajer.
Usulan jurnal koreksi yang tidak menjelaskan dasar pertimbangan
diajukan jurnal tersebut beserta perhitungannya.
Dari hasil wawancara dengan staf auditor, didapatkan keterangan bahwa
penyebab prosedur supervisi atas working papers belum dapat diterapkan
dengan efektif terutama karena kurangnya tenaga supervisor jika
dibandingkan dengan jumlah senior auditor dan junior auditor.
Berdasarkan analisis kepatuhan staf auditor terhadap Prosedur Sistem
Pengendalian Mutu KAP, telah didapat penilaian baik terhadap unsur
independensi serta penerimaan dan keberlanjutan klien. Untuk unsur
penugasan personel, konsultasi, pengembangan profesional dan promosi,
Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana mendapat penilaian cukup
baik. Sedangkan untuk unsur pemekerjaan dan supervisi, Kantor Akuntan
Publik Drs. Wayan Sunasdyana mendapat penilaian cukup baik namun kurang
efektif.
Penilaian kurang efektif terkait unsur pemekerjaan dan supervisi dalam
penerapan sistem pengendalian mutu pada Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan
Sunasdyana didasari oleh hasil wawancara dengan staf profesional auditor
dengan pertanyaan yang diambil dari kuesioner yang memiiki nilai negatif
dengan jumlah yang signifikan.
Berdasarkan hasil penilaian atas setiap unsur diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa Kantor Akuntan Publik Drs. Wayan Sunasdyana memiliki
penilaian cukup baik atas Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik.















BAB V
PENUTUP

5.1.Kesimpulan
Berdasarkan penelitian di atas maka diambil kesimpulan bahwa:
Penerapan Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik telah
dilaksanakan dengan baik. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam setiap
penugasannya, Kantor Akuntan Publik melaksanakan Sistem
Pengendalian Mutu yang ditetapkan IAI.
Perencanaan audit oleh KAP telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini
mengindikasikan bahwa sebelum melaksanakan pemeriksaan KAP
terlebih dahulu merencanakan pemeriksaan yang akan dilakukan dengan
baik.

5.2.Saran
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya maka peneliti
memberikan saran-saran sebagai berikut:
a. Saran bagi Kantor Akuntan Publik (KAP) yaitu, Kantor Akuntan Publik
diharapkan dapat lebih baik dalam melaksanakan tugasnya.

b. Saran bagi peneliti selanjutnya yaitu, untuk peneliti lain yang tertarik
dengan permasalahan serupa, penulis memberikan saran:
1. Memperbanyak sampel penelitian untuk mendekati karakteristik
populasi sesungguhnya
2. Peneliti sebaiknya mengolah kembali pernyataan-pernyataan dalam
kuesioner agar peneliti dapat lebih dalam data-data yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2012. Auditing Edisi 4. Jakarta : Salemba Empat.
Arens, dkk. 2011. Jasa Audit dan Assurance Buku 1. Jakarta : Salemba Empat.
Mulyadi. 2002. Auditing Buku 1 Edisi 6. Jakarta : Salemba Empat.
http://asisiverry.blogspot.com/2012/02/pengendalian-mutu-kantor-akuntan-
publik.html
http://akuntansibisnis.wordpress.com/2010/06/15/standar-profesional-akuntan-
publik/
http://henrich27.blogspot.com/2013/05/standar-atestasi.html